Sesampainya Yoga di rumah pada pukul 6 sore, sehabis pergi keluar untuk urusan tak penting, dia melihat bingkisan cokelat yang terbungkus plastik merah tembus pandang di meja laptopnya sesaat memasuki kamar. Tanpa perlu menebak-nebak, dia sudah tahu isi paket itu: dua buah novel. Itu hadiah dari suatu kuis yang dia ikuti satu bulan silam. Dari sekian banyak usaha yang telah dia coba lakukan dalam enam bulan belakangan ini (melamar pekerjaan; mengirimkan puisi, cerpen, dan esainya ke suatu media; ikut sayembara menulis cerpen, lomba mengulas buku, dll.), rupanya yang berbuah manis justru kuis iseng-iseng di Twitter.



Dia mulanya berpikir bahwa tahun ini merupakan tahun terburuknya sepanjang menjalani hidup. Dia juga mulai muak sama hidup lantaran berulang kali mengalami apes dan kegagalan. Namun menjelang tutup tahun begini, ternyata masih ada keberuntungan yang sudi menghampirinya. Cara pandangnya terhadap hidup dan tahun 2019 pun mulai bergeser sedikit. Hari ini sepertinya pantas buat dirayakan, pikirnya. Sekalipun hadiahnya paling-paling hanya senilai seratus ribu, tapi dia tetap ingin sekali mengingat tanggal hari ini. Siapa tahu ke depannya selalu bisa menjadi hari baik baginya. Dia lantas mengecek tanggal di ponselnya: 6 November.

Ketika sebuah hadiah, atau bisa dibilang juga suatu keberuntungan, datang kepadanya pada tanggal tersebut, apakah ada peristiwa penting lain yang terjadi di luaran sana? Dua menit berselang, rasa iseng di dalam dirinya mendadak terbit. Oleh sebab itulah, kini dia mengetik “6 November” di pencarian Google dan mengeklik tautan Wikipedia. 

Ririn Dwi Ariyanti, aktris yang pernah dia idolakan belasan tahun silam, lahir pada 6 November 1985. Pada tahun 1908, Cut Nyak Dhien—Pahlawan Nasional Indonesia asal Aceh yang sosoknya pernah menghiasi uang sepuluh ribu emisi 1998—meninggal dunia. Mundur jauh ke era Kerajaan Hindu-Buddha, pada tahun 1157, Empu Panuluh dan Empu Sedah berhasil merampungkan kitab Kakawin Bharatayuddha (berisikan perang antara Kurawa dan Pandawa) atas perintah Prabu Jayabaya. Pada 2011, Hari Raya Iduladha 1432 Hijriah jatuh pada 6 November. 

Yoga lalu membatin, banyak juga peristiwa menarik pada tanggal itu. Terus, apakah ada hal penting lain yang terjadi dalam hidupnya? Dia pun mencoba menelusuri kejadian-kejadian 6 November dalam sewindu terakhir. 


Sejauh yang dapat Yoga ingat, 6 November merupakan momen penting saat dia sedang mempersiapkan kado maupun kue ulang tahun untuk seseorang yang sekarang ini telah menjadi mantan kekasihnya. Novi Devitasari, pacar yang merangkap teman sekelasnya di kampus, lahir pada 7 November. Pada tahun 2013, Yoga meminta tolong kepada Winda (teman sekelasnya juga) untuk menemaninya mencari kue ulang tahun. Yoga sengaja mengajak Winda sebab dia merupakan teman baik Novi. Selain itu, rumahnya pun termasuk yang paling dekat dengan rumah Novi, sehingga dia juga bisa menitipkan kue itu di kulkas Winda. 

Yoga hanya memiliki uang 150 ribu di dompetnya. Dia bingung, apakah nanti ada kue yang harganya sekitaran segitu—atau kalau bisa di bawah itu? Dia begitu dongkol mengetahui kenyataan bahwa tanggal gajiannya masih sehari lagi. Dia gajian pada tanggal 7 setiap bulannya. Tapi jika tanggal 7 jatuh pada hari Sabtu atau Minggu, gajian itu akan dipercepat menjadi tanggal 5 atau 6. Sayangnya, pada bulan itu tanggal 7 bukanlah hari libur. Sialan, umpatnya dalam hati. Sebetulnya, sih, dia bisa saja membeli kue ataupun kadonya secara dadakan sepulangnya bekerja. Namun, dia tipe orang yang tidak suka tergesa-gesa dan takutnya kejutan itu malah jadi berantakan. Dia lebih suka dengan hal-hal yang dipersiapkan terlebih dahulu, minimal sehari sebelumnya. 

“Lu tahu toko kue ultah lain yang enak dan harganya seratus ribuan dekat-dekat sini, Win?” ujar Yoga kepada Winda begitu dia gagal mendapatkan kue karena kehabisan di salah satu toko di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. 

“Kalau di dekat-dekat sini setahu gue mah enggak ada lagi, Yog. Adanya di sekitaran Jombang.” 

“Lumayan jauh, ya. Gue enggak tahu jalan pula.” 

“Tenang aja, gue kan tahu.” 

“Tapi nanti kita baliknya kemalaman apa enggak, Win? Ini udah jam sembilan, masalahnya. Gue jadi enggak enak nih ngerepotin lu begini.” 

“Yeh, santai aja kali.” 


Setengah jam setelah itu, Yoga berhasil mendapatkan kue ulang tahun rasa tiramisu seharga 110 ribu, lalu ditambah dengan pisau pemotongnya serta lilin menjadi 120 ribu. Sisa uangnya pun dia belikan bingkai foto ukuran kecil dan biaya cetak foto (foto Novi berdua dengan dirinya). Pada keesokan harinya, acara mengejutkan sang pacar pun sukses besar.



Yoga sudah putus dengan Novi pada setahun berikutnya. Anehnya, dia saat itu masih tetap berusaha memberikan mantannya sebuah kado. Dia baru saja selesai membungkus jaket timnas Spanyol warna merah—warna kesukaan Novi.

Selagi Yoga bingung memikirkan kata-kata sebagai pengantar ucapan ulang tahun, muncul seseorang di dalam dirinya yang mengamuk dan berkata, “Hei, buat apa kamu pusing-pusing menuliskan kalimat indah untuk cewek kayak dia? Ini kamu mau kasih kado aja udah kelewatan begonya, tahu. Ingat, Yog, ingat! Dia telah memilih cowok lain ketimbang dirimu. Eh, kamu sendiri kok masih terus-menerus berharap pengin balikan sama dia. Jangan mengasihani diri sendiri begitulah.” 

Sebenarnya, Yoga membeli jaket itu lantaran Evan (teman kantornya) memintanya buat menemaninya datang ke distro khusus atribut bola. Begitu jam kantor berakhir, Evan bertanya kepada Yoga, apakah nanti sekitar habis Isya dia tidak ada acara ataupun kesibukan? 

“Enggak ada, Van. Kenapa?” ujar Yoga. 

Temenin gue beli jersey di daerah Joglo, yuk! Gue males pergi sendirian.” 

“Oh, ya udah, nanti berkabar aja.” 

“Sip, nanti kita ketemuan di Rawabelong.” 


Evan memilih satu jersey Real Madrid putih beserta jaketnya yang berwarna hijau toska. Ketika sudah siap membayar, Evan menggoda Yoga dengan bilang, “Lu enggak mau beli, Yog? Cuma nemenin gue aja nih?” 

“Jaket MU (Manchester United) gue kan udah ada dua. Jersey malah ada tiga. Itu aja udah jarang gue pake, Van.” 

“Beli buat adek lu atau siapa gitu. Bisa juga kan buat kado. Lu pilih aja tuh yang lagi diskon. Lumayan kan 50%.” 

Mendengar kata kado, Yoga otomatis teringat besok hari ulang tahun mantannya. Dan begitulah akhirnya dia terjebak rayuan Evan dan membeli jaket Spanyol itu.


“Ciyeee, dikasih kado sama mantan. Udahlah, mending kalian balikan lagi,” kata beberapa kawan kuliah Yoga yang melihat Novi sedang membuka bungkusan kado.

Pipi Novi berubah merah sebagaimana warna jaket yang lagi dia coba kenakan, dan Yoga sendiri juga merasa malu bukan main menerima ejekan-ejekan tersebut. Meskipun di dalam hatinya Yoga masih menginginkan hal yang menjadi ledekan teman-temannya itu, atau dengan kata lain: dia tak mau membohongi perasaannya, tapi dia cukup sadar diri akan seseorang yang sudah memilih pergi sebaiknya tak perlu diharapkan untuk kembali lagi. Terlebih lagi Yoga tiba-tiba terkenang kejadian berengsek suatu sore sepulang kuliah, ketika dia melihat Novi sedang memeluk gebetan atau pacar barunya di motor, padahal Yoga dan Novi baru putus sekitar satu minggu. Sudah berapa lama mereka dekat? Jika saja waktu itu kondisinya tidak macet, Yoga ingin sekali menabrak mereka dari belakang. Jadi, daripada balikan sama mantan, kata Yoga dalam hati, mending gue makan tai luwak—tentu dalam bentuk kopi. 


Setan. Setan. Setan. Yoga memaki ingatannya yang bisa-bisanya mengajak dirinya kilas balik tentang Novi. Kenapa dua momen 6 November itu justru berkaitan dengan mantannya yang satu itu? Memang, dari semua mantan baru dialah seseorang yang membuat Yoga merasa lebih dekat dengan keluarga si pacar. Yoga seakan-akan merasa sudah diterima oleh keluarganya, khususnya akrab banget dengan adiknya Novi karena setiap mengapel sering main PlayStation bareng. 

Tapi dari sekian banyak memori pada 6 November, apakah ada hal lain yang tidak bersentuhan sama sekali dengan percintaan?

Yoga mulai teringat akan kejadian konyol satu tahun lalu. Dia lagi sangat frustrasi dengan keadaan baterai laptopnya yang soak kala tengah menggarap proyek kumpulan cerpen. Laptopnya harus selalu dicolok pengecas. Tersenggol sedikit saja kabelnya, pengisi daya itu langsung tidak bekerja dan laptopnya mendadak mati. Lalu, kemarahan pada kondisi laptopnya itu entah mengapa malah berimbas pada penghapusan sebagian cerpen di folder laptopnya. Sebelum menghapus beberapa naskahnya itu, Yoga tengah asyik membaca ulang cerpen-cerpennya dalam rentang 2015-2017. Awalnya sih tidak ada kendala sewaktu dia membuka folder 2017 dan 2016. Tapi begitu dia pindah ke folder 2015, ada lebih dari 5 cerpen yang membuat dirinya melontarkan sumpah serapah saking keterlaluan jeleknya. Setidaknya, dia bersyukur telah menghapus sampah yang tak pantas lagi untuk dibaca ulang, apalagi didaur ulang. Toh, berkat hal itu dirinya bisa lebih fokus memperbaiki gaya menulisnya pada kemudian hari tanpa perlu mengingat-ingat cerita busuk macam apa yang pernah dia ciptakan. 


Ayolah, apa lagi peristiwa 6 November? Masa cuma itu? 

Berhubung ingatannya tak sanggup lagi menggali lebih dalam, dia mencoba memancingnya dengan menyusuri twit-twitnya menggunakan berbagai kata kunci. Tak ada hal menarik dalam pencarian itu. Dia lalu menengok tulisan-tulisan di blognya. Akhirnya, dia berhasil menemukan sebuah tulisan yang termuat pada 6 November 2015, bertajuk Yang Kedua. Sebuah cerita sedih ketika dia mengenang adik bungsunya yang meninggal dalam kandungan Ibu. 

Walaupun di tulisan itu Yoga tetap memasukkan lelucon dan bisa tersenyum sedikit, tapi kesedihan telanjur menyelimuti dirinya. Baru saja beberapa menit yang lalu dia merasa gembira karena hadiah berwujud buku. Lalu, mengapa rasa nelangsa bisa mengambil alih dirinya secepat itu? Dia butuh sekali pertolongan. Dia perlu mencari eskapisme. Kala itulah di ponselnya terdapat notifikasi Twitter. Yoga membuka kunci dan melihat ada mention dari Agia Aprilian, kawannya yang tinggal di Bandung. Agia melampirkan sebuah klip. Yoga lantas mengambil earphone, mencolok kabel ke ponsel dan memasang alat pendengar ke kedua kupingnya, kemudian memutarnya.


Sepuluh detik pertama, Yoga langsung terbahak-bahak sembari memukul-mukul kasur. Bahkan sampai video itu berakhir, dia masih cengengesan dan sulit menghentikan tawanya. Yoga lalu mengucapkan terima kasih kepada kawannya. 

Biarpun niat awal Agia mendedikasikan klip video itu mungkin supaya Yoga bisa terhibur dan tak perlu lagi ripuh mengenang memori singkatnya bersama perempuan manis berkemeja kuning (pada bulan Oktober, Yoga mengkhususkan blognya cuma diisi untuk segala hal tentang Mbak Manis Kemeja Kuning), tapi ternyata klip tersebut juga bisa menjadi sebuah pelipur lara dalam kondisi dan situasi apa pun. 

Bisa dibilang pilihan lagu Agia itu juga amatlah unik dan menarik. Lagu lawas itu dulu pernah diputar oleh orang tua Yoga saat dirinya masih bocah dan seolah-olah memiliki nilai istimewa di hatinya. Walaupun dulu dia tak tahu apa arti dari lagu itu, yang penting nadanya terdengar riang gembira. Lagu maupun klip itu pun membuatnya lupa dengan rasa sedih. Kini, dia jadi merasa malu dengan usianya yang kurang cocok lagi disebut muda, tetapi masih saja menjalani persoalan cinta-cintaan sejenis itu, apalagi harus bersedih karenanya. 

Yoga lalu merenung, rupanya bantuan-bantuan dalam hidup bisa datang dari mana saja, bahkan dari arah yang tak terduga. Seraya merebahkan diri di kasur, Yoga menyimpulkan kalau tanggal 6 November sepertinya bisa menjadi tanggal yang baik untuknya pada kemudian hari. Entah apa yang akan terjadi setahun setelahnya. Apakah dia berhasil melupakan sosok perempuan berkemeja kuning itu, atau malah dipertemukan dengannya? Atau bisa jadi dia sudah tak peduli lagi sebab kepincut perempuan lain yang lebih aduhai? 

Sambil tetap menerawang jauh ke depan, mungkinkah itu tanggal perkawinan Yoga kelak? Atau menjadi tanggal saat dirinya memenangkan sayembara menulis? Atau hari di mana dia berhasil menerbitkan sebuah buku? Apa pun itu, semoga 6 November tidak berubah 180 derajat dan menjadi hari paling celaka untuknya.
Read More
Mana aku tahu kalau jadwal acara pernikahan Widya Sari bertepatan dengan agenda Kampanye Putih. Aku tidak berhubungan dengan kegiatan politik itu, tetapi lokasi resepsi pernikahannya yang dekat dengan Senayan tentu akan terkena imbasnya: macet. Apalagi acaranya hari Sabtu pukul 19.00-21.00 WIB yang berarti malam Minggu. Ini mah bakalan padat merayap.



Saat aku coba mengeceknya di Google Maps, dugaanku ternyata benar. Jalur yang akan kulewati nanti hampir semuanya berwarna oranye dan merah. Jarak tempuh yang semestinya hanya 25 menit berubah menjadi 1 jam 4 menit. Tiba-tiba di kepalaku melintas sebuah pikiran, apakah aku tidak perlu datang ke perkawinannya?

Aku mengingat ketika sebulan silam teman kuliahku—yang hampir tiga tahun tidak bertemu—itu mengabarkanku tentang pernikahannya. Baru kali itu ada teman yang mau repot-repot memberikanku pilihan dalam menerima undangan; mau dikirim ke rumah via ojek daring, ketemuan di suatu tempat, atau lewat digital. Dari pengalaman yang sudah-sudah, mayoritas dari mereka biasanya hanya mengirimkan undangannya lewat WhatsApp atau pesan medsos, bahkan ada pula yang cukup menyebar undangan itu ke sebuah grup karena malas atau sibuk.

Berhubung aku sok memahami tentang persiapan menikah yang pasti dibuat pusing akan banyak hal, aku tak mau menambah bebannya. Jadi, aku pun mengatakan kirim via digital sudah cukup. 

Beneran enggak apa nih?” tanya Widya. 

Mungkin ada banyak orang yang enggan datang jika undangan itu tidak ada bentuk fisiknya, sehingga Widya sampai bertanya demikian. Aku menjawab santai aja. Selama aku sehat dan waktuku sedang luang, aku akan berusaha datang.

Kalimat “Tiada kesan tanpa kehadiranmu”—sebagaimana ucapan di undangan ulang tahun saat aku masih bocah—dari Widya menutup pembicaraan kami. Secara tak langsung dia betulan mengharap kedatanganku. Baiklah, aku siap menerjang kemacetan. 


Gilang Kodimangsu, penulis romansa yang baru menerbitkan satu kumpulan cerpen, Cinta Itu Ketololan Tak Berujung, dan kini memutuskan berhenti menulis lantaran bukunya hanya terjual 29 eksemplar dalam setahun, pernah berujar, “Datang kondangan sendirian dan malam Minggu adalah kombinasi terburuk nomor dua setelah tersesat dan terjebak macet.” 

Bisa kau bayangkan bagaimana aku mengalami keduanya sekaligus? Kenekatanku tetap berangkat kondangan tanpa mengajak partner sebetulnya sudah lumrah. Namun, terjebak macet dan buta arah jelas bikin aku mengutuk kesendirian ini. Memiliki teman seperjalanan yang dapat membantuku melihat aplikasi penunjuk jalan atau buat teman mengobrol jelas lebih menggembirakan. Tapi, walaupun sendirian begini serta banyaknya menit yang terbuang dalam perjalanan, setidaknya untuk pertama kalinya dalam hidup aku jadi punya waktu melimpah memikirkan beberapa hal terkait kondangan. 

Aku tidak mengerti kenapa lampu merah durasinya bisa sampai 120 detik, sedangkan hijau cuma 20 detik—yang bikin aku sampai tiga kali merasakan lampu merah saking kacaunya kondisi lalu lintas. Sehabis memaki keadaan macet sialan ini, aku malah tersadar kalau hal ini masih mending daripada sewaktu kondangan naik kereta komuter. Aku pernah melakukannya dua kali. Ketika kondangan ke Citayam dan Tangerang. 

Aku hanya akan bercerita tentang perjalanan kondangan ke Tangerang yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Jalur kereta dari Stasiun Palmerah menuju Stasiun Tangerang amatlah gila. Dari awal perjalanan, mau tak mau aku sedikit-sedikit kudu transit. Dari Palmerah ke Tanah Abang aku cuma melewati satu stasiun, lalu aku mesti pindah jalur. Dari Tanah Abang ke Duri begitu juga. Barulah nantinya aku bisa menuju stasiun akhir—Tangerang—tanpa perlu pindah-pindah kereta lagi. Meski begitu, tetap saja kereta di jalur ini sangatlah terbatas. Berbeda sekali dengan jalur-jalur menuju stasiun lain yang setiap 15 menit sekali pasti ada jadwal keberangkatan kereta. Jika aku perkirakan, khusus untuk jalur Stasiun Duri ke Stasiun Tangerang para penumpang harus menunggu selama dua kali lipat dari jadwal biasanya.

Sayangnya, sebelum sampai ke tahap itu, aku masih harus menanti kereta di Stasiun Tanah Abang. Lebih-lebih pada waktu sehabis Zuhur yang rasanya menjengkelkan sekali. Orang-orang yang habis berbelanja ke Pasar Tanah Abang selalu berjubel memenuhi stasiun. Hawa gerah dan serangan bau ketiak di tengah kerumunan itu pun seakan-akan membuat neraka pindah ke Bumi. Belum nanti di dalam keretanya yang tambah berdesak-desakan. Kau enggak usah berpikir akan mendapatkan tempat duduk, bisa leluasa bergerak dan terhindar dari penumpang beraroma kecut mungkin rasanya sudah lebih dari cukup.

Akibat momen jahanam dalam perjalanan ke Tangerang itu, aku kini akan berpikir ulang kalau suatu hari nanti bakal pergi kondangan naik kereta komuter lagi. Berangkat dari rumah dengan pakaian rapi dan wangi, terus begitu sampai tujuan aku harus mampir ke masjid terdekat dan menumpang di toiletnya untuk membenahi penampilan sekaligus menyemprotkan parfum. Penderitaan berangkat kondangan sendirian saat naik motor begini malah terasa tidak ada apa-apanya. 


Aku sudah sampai di gedung resepsi pernikahan Widya Sari. Perjalananku rupanya memakan waktu 56 menit. Tidak buruk-buruk amat. Agak percis dengan perkiraan di aplikasi penunjuk jalan itu.

Aku menulis namaku di buku tamu, kemudian mengeluarkan amplop dari saku kemeja batikku. Selagi aku memasukkan amplop ke dalam kotak yang tersedia, aku jadi terkenang pertanyaan Ivan, salah seorang kawan dekatku: ”Kondangan segini wajar enggak, sih?”

Segini yang Ivan maksud senilai dengan dua paket Panas Mekdi. Aku sebenarnya juga pernah mempertanyakan hal itu. Kala UMR Jakarta semakin bertambah setiap tahunnya, apakah uang segini masih layak sebagai angpau? Dalam tiga tahun terakhir ini aku masih sering mengisi amplop dengan jumlah segitu.

Beberapa dari temanku menjawab itu tergantung lokasi resepsinya. Kalau di rumah mungkin wajar, sedangkan di gedung kayaknya sedikit. Biaya mereka menyewa tempat dan katering itu perlu diperhitungkan. 

“Ah, kalo si Rudi mah enggak apa-apa kayaknya sekalipun itu acaranya di gedung. Dia aja jarang makan setiap kondangan,” ujar Herman (temanku yang lain) saat kami sedang berdiskusi perihal amplop kondangan. 

Pernilaian Herman terhadapku mungkin ada benarnya. Aku nyaris tidak pernah menyantap hidangan utama setiap kali kondangan di gedung. Aku palingan hanya mencicipi dua jenis makanan seperti bakso dan sate ayam (somay buat alternatif jika pilihan barusan tidak ada). Itu saja biasanya sudah cukup mengenyangkanku. Segala hal yang berhubungan dengan kambing jelas bukanlah pilihanku. Aku paling enggak doyan, sehingga tak perlu mengurangi jatah para penikmat daging kambing. 

Omong-omong soal jatah, aku sering tidak mengerti dengan beberapa temanku yang ingin mencoba semua menunya. Selain bakso, sate ayam, dan somay, mereka masih siap menggasak kambing guling, soto betawi, empal gentong, spageti, dan zuppa soup. Belum lagi hidangan penutup seperti buah-buahan, puding, dan es krim. Dari ketiga makanan pencuci mulut itu, palingan aku cuma akan memilih satu, yakni es krim.

Itu semua bukan karena aku tidak doyan makan, tapi kebiasaanku mengisi perut dari rumah sebelum bepergian ini memang sulit hilang. Mulanya, itu cuma buat jaga-jaga seandainya sampai di sana makanannya sudah pada habis. Entah kenapa kebiasaan ini malah terus berlanjut. Sebab aku tak mau kejadian bedebah yang sering terjadi 3-4 tahun silam itu terulang kembali. 

Dulu, sepertinya ada sekitar belasan kali aku kondangan di gedung dan enggak menyantap apa-apa. Akibat telat sampai di lokasi acara, aku hanya meminum air putih. Semua stan makanan sudah dibereskan dan mau tutup. Hidangan utama yang jelas bukan pilihanku pun nyaris tak bersisa. Ke manakah perginya nasi goreng, ayam goreng, gurame saus asam manis, rendang, dan sambal goreng kentang? Di meja makan cuma tersedia nasi putih, kuah sop, dan kerupuk. Baru melihatnya saja langsung enggak sreg, terlebih memakannya. 

Herman yang suatu waktu ikut terkena apes bersamaku pernah bilang, “Malu kalau makan koretan. Mending makan gengsi.”

“Emang kenyang?” tanyaku. 

“Yang penting harga diri tetap terjaga. Kita masih mampu makan di luar, kan?” 

Sepulang kondangan kami lantas segera menghibur diri dengan mampir ke restoran cepat saji terdekat. Maka, sejak momen kampret itu, persiapan mengisi perut dari rumah pun muncul begitu saja. Tak perlu sampai kenyang, yang penting bisa mengganjal lapar kalau nanti kehabisan makanan. 

Selain persoalan makanan, aku juga entah mengapa jarang mengambil suvenirnya. Mungkin karena lupa atau terlalu malas buat membawanya. Kebiasaan memberikan suvenir pada saat tamu baru datang ini lumayan merepotkan buatku. Satu tanganku tentu jadi terpakai untuk memegangnya. Oleh sebab itu, aku memilih buat menitipkannya saja. Nanti pulangnya baru aku ambil. Dan begitulah akhirnya aku bisa sampai terlupa dengan suvenir. Aku sejujurnya lebih suka yang konsepnya diberikan kertas semacam kupon, barulah nanti sewaktu pulang ditukarkan dengan barangnya. Syukurlah perkawinan Widya Sari menerapkan apa yang aku maksud. 

Aku memasukkan kupon itu ke kantong celana belakang seraya bertanya-tanya, apakah nanti aku sempat bertemu seseorang yang kukenal—selain kedua mempelai—di acara pernikahan ini? Aku tak ingin benar-benar sendirian dan merasa terasing di gedung ini. Baguslah pertanyaan itu pun langsung terjawab ketika aku baru berjalan sepuluh langkah. Aku bertemu Lena (teman sekelasku selama semester 1-4) bersama suaminya. Awalnya kami bertukar kabar dan basa-basi sekadarnya, lalu dia otomatis bercerita datang ke sini dengan naik Zrap Car. Berangkat dari Depok habis Asar dan baru tiba Magrib tadi. Perjalanan yang lumayan jauh. Demi menghadiri perkawinan teman baik zaman kuliah, rupanya ada banyak waktu dan biaya yang dia korbankan. Hal itu pun lantas membawaku pada kejadian kondangan-sialan-di-Tangerang-menggunakan-kereta-komuter itu lagi. 


Aku rasa diriku telah banyak mengorbankan waktu, biaya, dan tenaga di perjalanan tersebut. Jarak tempuh yang kutebak setelat-telatnya hanya satu jam setengah, ternyata malah mencapai tiga jam lebih. Menunggu kereta di Stasiun Tanah Abang dan Duri menghabiskan hampir dua jam. Perjalanan kereta dari Duri ke Tangerang sekitar 45 menit. Sisanya barulah dari stasiun ke lokasi pernikahan. 

Yang aku heran, kenapa aku bisa-bisanya percaya begitu saja dengan informasi dari sang mempelai kalau letak rumahnya dekat dengan Stasiun Tangerang? Jarak ini kan relatif. Apakah enam koma sembilan kilometer itu termasuk dekat?

Dari Stasiun Tangerang aku mesti naik kendaraan lain. Aku bertanya kepada bapak-bapak di sekitaran stasiun tentang alamat itu. Dia memberitahuku supaya naik angkot T 03. Katanya, dari situ sudah dekat. Aku sempat ragu mengingat perkataan temanku sebelumnya. Aku lalu mencoba memastikannya lagi, “Betulan dekat nih, Pak?” 

“Habis turun angkot langsung sampai ke kompleks itu, Dek. Nanti dari pertama naik langsung bilang aja sama abangnya supaya enggak kelewatan.” 

Nada suara bapak itu sungguh mantap. Sorot matanya juga menyiratkan ketegasan. Suatu bukti kalau itu bukan jawaban sembarangan. Kali ini aku mencoba buat percaya. Aku pun naik angkot dan turun di depan gapura bertuliskan “Perumahan Damai Permai”. 

Aku melihat aplikasi peta. Benar ini tempatnya. Yang tidak kusadari adalah RT dan RW-nya. Lokasi acara pernikahan temanku ternyata masih masuk ke dalam lagi. Dari pintu masuk kompleks ini ternyata aku harus jalan kaki lagi sekitar 1,3 km. Efek kelamaan berdiri di kereta membuat kakiku tak sanggup berjalan lebih jauh. Jika tahu begini, kenapa dari awal aku tidak terpikir sedikit pun untuk memilih layanan ojek daring, ya? Celakanya, saat baru ingin membuka aplikasi layanan ojek daring, ponselku sudah sekarat. Bodoh, penglihatanku bisa-bisanya luput untuk mengecek ikon baterai. Empat persen tidak akan cukup buat memesan dan menunggu kedatangan si pengemudi. Aku takut nanti dia akan bingung mencariku jika ponselku mati dan tak bisa lagi dihubungi. Aku tidak ingin merepotkan orang lain atas kecerobohanku sendiri.

Berengsek, kenapa niat baik untuk datang kondangan ke acara teman justru jadi terlalu ribet begini, sih? 

Aku akhirnya tak punya pilihan lain selain memesan ojek pangkalan di dekat situ. Yang lupa aku perhitungkan, abangnya mematok harga kelewat tinggi. Aku berusaha menawar sejago mungkin, tapi hasilnya cuma berkurang 3.000. Bermaksud ingin berangkat kondangan dengan cara hemat, aku malah buntung. Ongkos transportasi pergi-pulang kondangan justru bisa dua kali lipat dari isi amplopku. Luar biasa.

Lantaran kondangan terkutuk itu, aku tiba-tiba jadi ingat nasihat ibuku. Beliau bilang, “Kalau ndak akrab-akrab banget dan lokasinya kejauhan, mending kamu ndak usah datang. Seandainya merasa sungkan, kamu kan masih bisa titip amplop ke teman yang lain.” 

Aku pun jadi memikirkan hal ini: mana sih yang lebih penting antara kehadiran dan isi amplop? 

Tanggal 27 pada enam bulan yang lalu, Aldo—teman sebangku saat SMA yang merangkap sahabat—melangsungkan pernikahannya. Mungkin buat sebagian orang yang sudah menerima gaji pada tanggal 25 itu adalah tanggal muda. Sayangnya, gajianku jatuh pada tanggal 1. Kondisi keuanganku hari itu lagi krisis-krisisnya. Bulan itu pengeluaran entah kenapa sedang banyak-banyaknya. Ayah masuk rumah sakit dua kali, adikku harus bayar darmawisata sekolahnya, dan aku sendiri mesti perpanjang SIM C sekaligus baru saja servis motor ke bengkel. Uang di rekening tersisa 5 digit dan tentu tidak bisa diambil, sedangkan duit di dompet hanya cukup buat makan dan transport sampai tanggal gajian datang.

Sebesar-besarnya aku palingan cuma mampu mengamplopi uang segini yang Ivan katakan tempo itu. Terus aku bercerita kepada Ibu, “Apa ini amplopnya perlu dikasih nama? Aku malu kondangan cuma segini, Bu.” 

Ibuku lalu berkata, “Apa temanmu tahu kondisi keuanganmu, Rud? Melihat kamu datang mungkin sudah lebih dari cukup. Mending kamu doakan aja yang terbaik buat kehidupan mereka kelak. Semoga temanmu bisa mengerti.” 

Aku akhirnya berusaha untuk selalu menulis nama di amplop sekalipun cuma kondangan dalam jumlah segini. Aku juga tak mau memaksakan diri buat selalu datang jika keadaan memang tidak memungkinkan; hujan, sakit, aksesnya sulit, dan bokek. 


“Kau datang sendirian?” tanya Andi, teman kuliahku yang lain, membuyarkan lamunanku tentang hal itu. Lena dan suaminya ternyata sudah tidak berada di dekatku. Sepertinya aku terlalu banyak bengong. Sampai-sampai tidak sadar, sejak kapan mereka lenyap? Tapi, ya sudahlah. Sekarang sudah ada Andi. Aku pun menjawab iya, lalu bertanya balik kepadanya. 

“Enggak, aku datang sama istri dan anakku. Tapi anakku dari tadi nangis terus. Jadi istriku pilih di mobil aja. Takut berisik kalau ikut masuk ke gedung.”

“Kau udah makan, Ndi?” 

Andi menggelengkan kepala dan mengajak aku mengantre bakso. 

Ketika sedang mengantre bakso, aku melihat perempuan berambut ikal di stan seberang. Lalu, kalimat “aku datang sama istri dan anak” terlintas kembali di benakku. Kedua hal itu otomatis mengajakku ke acara perkawinan lainnya. Aku berasa deja vu

Aku lagi mengantre bakso dan melihat seorang perempuan berambut ikal yang wajahnya terasa familiar sedang menyantap somay. Aku mencoba mengingat-ingat dia itu siapa, hingga akhirnya muncul sebuah nama: Selvi. Sepuluh tahun silam dia adalah gebetanku saat kelas satu SMA. Kebanyakan teman SMA-ku kini terlihat aneh semenjak mengenal kosmetik. Tapi dandanan Selvi tampak natural. Kecantikannya tidak memudar sedikit pun. Justru bagiku kian memukau. Ditambah lagi hari itu dia mengenakan dress terusan merangkap rok berwarna merah marun dan flat shoes hitam. Warnanya kontras sekali dengan kulitnya yang putih. Penampilan simpel tapi tetap elegan itu pun membuatku semakin terpesona.

Mungkinkah perjumpaan hari ini adalah sebuah takdir dari Tuhan? Aku kini dipertemukan lagi dengan Selvi setelah terpisah enam tahunan tanpa kabar sedikit pun? Apakah jodoh memang tidak akan ke mana-mana? Baiklah, nanti sekelarnya mengantre aku berniat untuk menyapanya. 

Tangan kiriku sudah memegang semangkuk bakso. Tangan kananku siap untuk mengajak Selvi salaman. Baru saja aku ingin mendekat ke arahnya, datang seorang pria berambut klimis dan bertubuh jangkung bersama seorang bocah kisaran dua tahun. Anak kecil itu berlari menghampiri Selvi.

Selvi pun refleks menaruh piring yang sedang dipegangnya ke meja terdekat dan langsung menggendong anak tersebut. Aku sangat mengerti tatapan itu. Tatapan seorang ibu. Aku tidak jadi meneruskan langkahku. Aku segera memutar balik sambil kilas balik kenanganku bersamanya. Tepatnya, saat sepuluh tahun silam Selvi menolakku begitu kunyatakan cinta.

“Aku udah punya pacar, Rud,” kata Selvi. “Lagian kamu itu udah aku anggap teman baikku dari SMP. Sejujurnya, aku kaget banget kalau kamu punya perasaan sama aku.” 

Aku mengutuk ketololanku akan kenyataan itu. Aku sama sekali tidak tahu dia memiliki kekasih. Kami berteman dari SMP kelas dua karena sekelas, kemudian kelas tiga kami sekelas lagi, dan berlanjut sampai kami masuk SMA yang sama. Aku sempat berpikir bahwa pertemuan kami itu adalah takdir. Namun, hari ini realitas menggampar segala harapan yang dulu pernah kususun itu. Kalimat “Aku udah punya pacar” telah berevolusi menjadi “Aku udah punya suami dan anak.” 

Mampuslah sudah. 


“Rud, maju. Kau bengong aja dari tadi,” ujar Andi. 

Perkataan Andi itu membuatku linglung. Haruskah aku maju? Tapi maju ke mana dan untuk apa? Aku tidak tahu sedang berada di mana sekarang. Di sekelilingku tidak ada seorang pun. Hanya ada suara Andi dan kegaduhan lain entah berasal dari mana. Aku juga tak bisa menatap ke depan. Di sana sepertinya tak ada apa-apa. Semuanya terlihat gelap. Jika aku melangkah, mungkinkah di depanku ada lubang keterpurukan? Aku takut terjatuh. 

“Maju, Goblok. Kau kenapa sih, Rud? Ini enggak enak sama orang yang ada di belakang kita. Kalau masih enggak mau maju juga, kusiram pakai kuah bakso kau, ya!” 

Bakso? Oh iya, aku sedang mengantre di stan makanan. Aku memperhatikan sekeliling. Aku berada di perkawinan Widya Sari. Tidak ada Selvi. Perempuan yang tadi sempat kulihat sekilas tentu saja orang asing. Oke, aku telah kembali ke masa sekarang. 

Aku sekonyong-konyong jadi berpikir sembari merenung, apakah selama ini aku selalu diam di tempat sembari sesekali menengok ke belakang kayak tadi? Benarkah aku kerap ragu-ragu dalam melangkah dan menentukan pilihan? Aku teramat bingung untuk menjawab pertanyaanku sendiri. Di ruangan ber-AC ini aku merasa tubuhku berkeringat. Sepertinya aku grogi dan pori-poriku mengeluarkan banyak keringat dingin dalam sekejap kala memikirkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

Antrean selesai. Aku dan Andi mencari tempat duduk di sebelah kanan ruangan. Sial, sudah tidak ada lagi kursi kosong. Kami terpaksa makan sambil berdiri. Andi mulai menyantap bakso itu dengan sangat lahap. Anehnya, bakso yang kukunyah dan kuahnya kok terasa hambar? Aku memang lupa memberikan saus, kecap, dan sambal, tetapi kenapa lidahku seakan-akan mati rasa begini? 

Mengingat kejadian Charlie Brown—tokoh utama dalam komik strip Peanuts garapan Charles M. Schulz—yang memfavoritkan selai kacang dan kehilangan rasanya itu akibat cinta bertepuk sebelah tangan, aku jadi menyimpulkan ini semua pasti karena otakku terlalu banyak mengenang momen buruk saat kondangan sendirian. Barangkali momen malam ini merupakan isyarat bahwa aku butuh mencari partner. Selain sebagai teman kondangan, tentu agar aku punya lawan ataupun kawan bicara yang asyik, terus aku tidak perlu lagi terjebak kenangan masa lalu, atau bahkan aku memang kudu serius dalam memperbaiki persoalan asmaraku yang sebelum-sebelumnya kerap mengalami kegagalan.


April 2019

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/people-couple-man-guy-woman-2595862/
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home