—Desember 2016



Jika bukan Bang Arif—guru mengajimu sewaktu SD—yang memintamu untuk menjadi panitia acara peringatan maulid, kau tentu sudah mencari-cari alasan untuk menolaknya. Kau sulit mengabaikan permintaan tolong dari seseorang yang kau hormati. Namun, kenapa kau tiba-tiba merasa ingin mengundurkan diri, padahal acaranya tinggal dua hari lagi? Apakah itu karena kau mulai muak mendengar berbagai ocehan Faisal—selaku ketua pelaksana—yang gemar menggurui anggotanya? Khususnya tentang peristiwa rapat semalam.



Setelah rapat berakhir, Faisal menyuruh Vina—yang bertugas sebagai bendahara—melaporkan hasil uang yang kalian dapatkan dari meminta donasi kepada para tetangga setempat. Belum ada satu menit membaca buku laporan keuangan itu, Faisal tiba-tiba melontarkan protes, “Ini serius RT 3 cuma dapat uang sumbangan segini?”

Kau kaget mendengar RT-mu disebut.

“Ini siapa yang bertugas meminta dananya?” katanya lagi.

Vina lantas menengok ke arahmu. Kau dan Kiki—teman yang menemani berkeliling meminta donasi dan merangkap sahabat—pun segera mengangkat tangan kanan.

“Ini kalian udah setor semua uangnya, kan?” tanya Faisal.

“Udah semua, Bang,” katamu. “Itu totalnya 1.460.000, kan?”

“Iya, tapi kok sedikit amat?”

“Memangnya kami harus dapat berapa, Bang?” ujar Kiki. “Apa ada syarat minimalnya?”

“Ya, enggak ada patokan, sih. Cuma kok bedanya lumayan jauh sama RT 1 dan 2. Ini uangnya enggak kalian simpan sebagian, kan?” Faisal berkata begitu sambil tertawa.

Enggak lucu!

Kau dan Kiki sempat merasa malu saat mengetahui jumlah donasi RT lain bisa menyentuh angka dua juta, sedangkan RT-mu satu setengah juta saja belum sampai. Namun, memang itulah kenyataannya. Kau dan Kiki tidak mengambil jatah sedikit pun dari hasil pencarian donasi tersebut. Bahkan, tidak ada pikiran buruk sama sekali saat memegang uang sebanyak itu. Bagi remaja seusiamu yang belum pernah memegang uang dalam jumlah besar, biasanya akan ada bercandaan antarkawan seperti, “Duit segini buat main Playstation bisa sewa berapa jam, ya?” atau “Kalau ini duitnya dibelikan kuota internet, kira-kira bakal dapat berapa GB nih?” Tapi kau sendiri biasa saja dan tidak norak begitu. Kiki pun sama.

Belum sempat kau membela diri atas kalimat yang mungkin cuma kelakar itu, Faisal mulai membuka mulutnya lagi dan seakan-akan sedang menceramahimu beserta Kiki, “Saya enggak bermaksud menuduh kalian. Yang barusan juga cuma bercanda. Tapi saya sebenarnya mau menjelaskan kalau ini uang buat kepentingan bersama. Demi memperingati hari besar Nabi Muhammad. Jangan berani-beraninya kalian mengambil sepeser pun. Sebab Allah Maha Melihat.”

Itu mah anak SD juga tahu, katamu dalam hati.

“Sumpah demi Allah, saya dan Rudi enggak berbuat macam-macam, Bang,” ujar Kiki secara tiba-tiba. Kalimatnya betul-betul mengagetkanmu.

“Iya, Bang. Demi Allah,” katamu ikut-ikutan.

Suasana rapat di pelataran masjid yang mulanya sejuk itu mendadak berubah jadi panas sekali.

Menurutmu, kau dan Kiki sebenarnya tidak perlu bersumpah seperti itu. Kau malas membawa-bawa nama Tuhan untuk urusan salah paham begini. Lagi pula, kau memang tidak berbohong sama sekali. Sejujurnya, kau juga tak sudi memanggilnya “Bang” walaupun usia dia lebih tua tiga tahun darimu. Kau merasa kalian semestinya sepantaran karena Faisal yang sudah berumur 20 dan seorang mahasiswa, tetapi pola pikirnya masih labil sebagaimana anak SMA.

Memang, sejak awal rapat dan pembentukan panitia dia cukup sering mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan terlihat dewasa ketika berbicara di depan para anggota. Tapi kau menebak-nebak kalau dia sebetulnya hanya sok bijak dan doyan mencari muka. Lebih-lebih mencari perhatian di depan Vina. Sebagai sesama lelaki, kau tahu betul bahwa Faisal menyukai Vina dari gelagatnya. Lalu, malam ini sikap bijak dan wibawanya telah lenyap di matamu lantaran dia blunder. Dugaanmu akan kepalsuannya itu pun terbongkar dengan sendirinya.

“Sori, saya enggak bermaksud menuduh dan bikin Rudi maupun Kiki bersumpah kayak begitu. Itu tadi saya hanya bermaksud memberikan sedikit nasihat. Jadi kalimat saya berlaku juga buat RT lain yang bertugas meminta donasi. Bekal buat kalian semua ke depannya.”

Enggak bermaksud menuduh? Lantas yang tadi itu namanya apa? Mendakwa? Jika memang niat awal Faisal itu melemparkan lelucon, semestinya dia juga tidak perlu protes sejak awal kala mengetahui hasil donasi RT 3 yang lebih sedikit ketimbang RT lain. Kau langsung benci setengah mampus dituduh korupsi olehnya. Pengalaman itu rasanya tidak ingin kau lupakan sampai kapan pun.

Bicara soal lupa, kau kemudian jadi terkenang sewaktu menghitung uang hasil donasi itu yang ternyata jumlahnya kurang 30 ribu saat dicocokkan dengan laporan yang tertulis. Mau tidak mau, suka tidak suka, kau mesti menggantinya dengan uang milikmu. Kau mengambil uang dari dompetmu dan memindahkannya ke buku laporan keuangan sembari membatin, udah berusaha berhemat karena sekolah libur dan enggak dapat jatah jajan, eh malah mesti nombok begini. Asu!

Setelah seluruh uang hasil donasi itu kausetorkan ke bendahara, kau segera merebahkan diri di kasur dan menghibur dirimu dengan mendengarkan lagu-lagu rock di ponselmu menggunakan earphone. Kau pun ikut menyanyikan lagu itu dengan suara sedikit berteriak. Saat itulah kau mendadak tersadar bahwa Kiki sempat salah tulis pada salah satu jumlah uang yang ditulisnya pada buku laporan.

“Rud, itu tadi Pak Nanang cuma menyumbang 20 ribu, terus aku salah tulis jadi gocap,” ujar Kiki. “Gimana dong nih?”

Kau berkata tak masalah. Angkanya tidak perlu dicoret ataupun dihapus pakai tipe-x. Takutnya nanti malah menimbulkan curiga. Lebih baik nanti ketika ada yang menyetor sebesar 50 ribu, barulah ditulis menjadi 20 ribu. Semacam pertukaran untuk menggantikan yang salah tulis itu. Sayangnya, sampai kalian selesai meminta donasi sekaligus menyebarkan undangan (tentang acara peringatan maulid) pada semua rumah di wilayahmu, kau justru terlupa akan kejadian Kiki salah tulis. Begitu mengingatnya lagi sekarang, kau pun mengutuk kebodohanmu yang satu itu.

Tapi hingga jadwal rapat tiba pada malam ini, kau memilih untuk tidak menceritakan bagian tersebut kepada Kiki. Lalu, kini kau bisa-bisanya dituduh menggelapkan uang. Betapa teganya si Faisal keparat itu.

*

Kau teramat jengkel mengingat bagian yang satu itu hingga terlintas di benakmu untuk berhenti dari panitia acara peringatan maulid. Kalau saja malam itu Bang Arif tidak segera datang bermaksud mengecek situasi rapat yang belum usai juga padahal malam semakin larut, kemudian menengahkan permasalahannya, mungkin kau juga sudah menorehkan kebencianmu itu terhadap Faisal dan mengundurkan diri saat itu juga.

Namun, alasan apa yang sekarang bisa kau berikan kepada Faisal ataupun Bang Arif untuk berhenti menjadi panitia? Lagi banyak tugas sekolah? Kau tidak dapat berbohong dengan membawa-bawa perihal sekolah. Dua minggu silam kau habis mengikuti UAS (Ujian Akhir Sekolah) semester ganjil dan setelahnya tidak ada lagi kegiatan belajar-mengajar. Pihak sekolah telah membebaskan murid-muridnya, boleh masuk ataupun tidak, sebab kehadirannya sudah tak dihitung lagi karena sebentar lagi pembagian rapor. Belajar untuk persiapan UN (Ujian Nasional)? Waktunya kurang lebih masih empat bulan lagi. Sebentar lagi pun waktunya liburan sekolah. Bukankah sekarang-sekarang ini adalah masa santai bagi para siswa? Sepertinya tidak ada satu pun alasan yang bisa kau jadikan senjata ampuh. Toh, sekalipun kau kelak berhasil menemukan alasan dan tidak lagi menjadi panitia, bukankah itu berarti kau lepas dari tanggung jawab? Kau sangat tak ingin dianggap sebagai pengecut.

Kau pun berusaha menguatkan diri. Kau mencoba bertahan sebab ada Kiki—kawan baikmu—yang masih tetap ikut serta dalam acara ini. Kau tahu Kiki yang awalnya bersikap biasa saja, akhirnya juga ikutan jengkel dengan sosok Faisal setelah kejadian malam itu. Kau lalu berpikir, jika beban dan kesulitan itu ditanggung bersama pasti akan terasa lebih enteng. 

*

Kau sedang membagi-bagikan kotak—yang berisi tiga macam kudapan dan air mineral gelas—kepada para tamu yang hadir di Masjid Al-Barokah. Acara peringatan maulid itu akhirnya tiba juga setelah kau jenuh dengan jadwal rapat yang nyaris selalu ada pada setiap malam. Meski penutupan acaranya masih sekitar 3 atau 4 jam lagi, kau berkata kepada dirimu sendiri bahwa acaranya sebentar lagi akan selesai. Bersabarlah, Rud.

Begitu selesai membagikan penganan itu, kau menghampiri Kiki, yang sedang menjalankan tugasnya sebagai seksi dokumentasi—memotret para hadirin dan acara yang sebentar lagi akan berlangsung.

“Ini nanti kalau acara maulidnya udah selesai dan sukses, pasti yang dapat pujian dari Bang Arif si Faisal kunyuk,” ujarmu kepadanya dengan setengah berbisik.

Kiki pun berhenti memotret, mengalungkan DSLR-nya, menoleh kepadamu, serta menimpali kalimatmu, “Emang kau juga pengin dapat pujian, Rud? Kalau kerja yang ikhlas, kek.”

“Bukan begitu. Tapi dia tuh enak banget jadi ketua. Kerjanya santai. Bisanya cuma nyuruh-nyuruh anggotanya.”

Dari arah kiri, terdengar seseorang memangil-manggil namamu. Suaranya tidak asing di telingamu. Kau lalu menoleh dan mendapatkan Faisal yang sedang melambaikan tangan.

“Kau sih segala ngomongin dia, Rud. Datang kan tuh orangnya.”

Mau nyuruh apaan lagi sih ini orang?

Kau pun dengan terpaksa menghampirinya.

Faisal ternyata menyuruhmu ikutan mendokumentasikan acara bersama Kiki agar bisa menghasilkan foto yang lebih banyak.

“Kenapa enggak kau sendiri yang memotret, Bang?”

Bukannya menjawab pertanyaan itu, Faisal justru balik bertanya, “Memangnya kau enggak bisa memotret?”

“Kurang jago.”

Akhirnya, Faisal pun menjelaskan bahwa Gani yang bertugas sebagai MC belum juga datang dan entah sedang ke mana karena saat dihubungi nomornya tidak aktif. Barangkali dia melarikan diri, batinmu. Oleh sebab itulah, Faisal kudu menggantikan perannya.

“Kalau kau enggak bersedia, saya cari orang lain lagi nih,” ujarnya.

Tak ingin diremehkan olehnya begitu saja, kau pun menyanggupinya.

Dia kemudian berusaha mengajarkanmu tentang cara mengoperasikan kameranya. Kau sesungguhnya sudah paham tanpa perlu diajari lagi, tetapi rasa isengmu tiba-tiba terbit dan kau penasaran kalimat apa saja yang bakal dia lontarkan.


“Wih, kau disuruh motret juga, Rud?” tanya Kiki begitu kau berjalan mendekatinya.

“Iya, tapi aku enggak sudi pakai kameranya. Tukeran dong, Ki.”

Kiki terkekeh dan geleng-geleng kepala.

Sebelum kalian berpisah untuk menempati spot masing-masing dan menemukan sudut pandang yang berbeda, kau mengisahkan tentang Faisal yang mengajarkanmu cara memotret.

“Konyol juga si Faisal, orang yang pernah menang lomba fotografi di sekolah masih diajarin motret,” ujar Kiki, lalu tertawa.

Kau menempelkan telunjukmu ke bibir dan mengeluarkan bunyi “sssttt”. Sikapmu barusan sangatlah ambigu. Entah itu untuk menyuruh Kiki agar tidak tertawa karena acara maulidnya sudah dimulai atau jangan membahas soal prestasimu di sekolah.


Faisal membuka acaranya dengan salam dan mengajak hadirin membaca Alfatihah, lalu begitu selesai langsung mempersilakan Bang Arif memberikan kata sambutan. Acara sesudahnya pembacaan ayat-ayat suci Alquran dan selawat Nabi Muhammad saw. Saat momen ini, kau memilih berhenti memotret dan memejamkan mata. Kau bermaksud melupakan aktivitas itu sejenak untuk menikmati suara riuh para hadirin yang sedang melantunkan selawat. Hatimu terasa tenang dibuatnya.

Kau kembali memotret ketika selawatan itu telah beralih menjadi ceramah yang disampaikan oleh K. H. Ishak—ayah dari Bang Arif. Beliau mengisahkan perjalanan Nabi Muhammad dari lahir hingga wafat secara ringkas dengan gaya mendongeng. Kau entah mengapa sedih mendengar ulang cerita tentang bagaimana Rasulullah sudah menderita sejak kecil. Dia telah menjadi anak yatim sejak dirinya dilahirkan, lalu pada usia enam tahun tahun juga ditinggal wafat oleh ibunya (Siti Aminah), sehingga harus menjadi yatim piatu. Bahkan dua tahun kemudian, dia mesti kehilangan kakeknya (Abdul Mutholib) pula. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Sebelum acara peringatan maulid ini ditutup, penampilan marawis yang sangat ditunggu-tunggu oleh bocah-bocah SD dan SMP pun semakin memeriahkan acaranya. Kau terharu melihat wajah-wajah gembira para bocah itu, terutama saat mereka ikut menyanyikan lagu Annabi.

Annabi Shallu ‘Alaih
Sholawatullahi’alaih
Wayyana lul barokah
Kulluman sholla ‘alaih

Perpaduan bunyi vokal, marawis, tamtam, dan tamborin itu merdu sekali di kupingmu. Kau pun memotret para pemain marawis tersebut beberapa kali. Kau kemudian mengalihkan pandanganmu dan langsung terkejut dengan pemandangan indah yang spontan membuat matamu berkaca-kaca. Dimas—salah seorang tetanggamu yang baru duduk di kelas dua SD dan telah menjadi anak yatim—sedang bertepuk tangan mengikuti permainan marawis. Kau lantas teringat kembali dengan masa kecil Rasulullah.

Sebelum momen bagus dan langka itu lenyap, kau segera membidik kameramu ke arah Dimas. Kau memperbesar jarak pandang kamera itu hingga hanya menampilkan wajah dan setengah badannya. Kau membuat orang-orang di sekitar Dimas blur. Kau tidak terlalu peduli lagi dengan permainan marawisnya. Biarlah itu menjadi tugas Kiki yang membekukan momennya. Kini, yang terpenting bagimu adalah senyuman dan tepuk tangan Dimas. Kau rasanya ingin mengabadikan momen aduhai itu sebanyak-banyaknya. Sekelarnya memotret, kau mencoba melihat hasil jepretanmu. Air matamu yang sedari tadi berusaha ditahan-tahan itu akhirnya menetes juga.

Dalam kondisi sedih bercampur bahagia begini, kau terkenang pula bagaimana Rasulullah wafat dan kata-kata yang diucapkannya: “Umatku” sebanyak tiga kali. Hatimu rasanya bergetar mengingat bagian itu. Bagaimana mungkin, kau yang berusaha memperingati maulid dan berusaha meneladani sifat-sifatnya itu, tetapi masih sering bersikap egois. Kau kembali mengingat kebencian-kebencianmu terhadap Faisal. Sebetulnya, atas dasar apa kau sangat tidak menyukai sosoknya? Apakah hanya lantaran cemburu karena kau merasa tidak percaya diri saat mendekati Vina? Bisa jadi begitu. Kau kini berusaha untuk tidak menyangkal perasaanmu bahwa kau juga menyukainya. Kau lalu berusaha mencari Vina di antara kerumunan.

Selama satu menit pencarian, kau berhasil menemukannya. Dia terlihat paling muda dan bersinar di antara ibu-ibu dan nenek-nenek. Dia juga manis sekali dan cocok mengenakan jilbab biru dongker, baju muslim warna merah jambu, dan bawahan rok hitam. Kau pun diam-diam memotretnya. Sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan, Vina langsung menoleh ke arahmu. Kau memindahkan kamera yang menutupi parasmu, memegangnya sejajar dengan dada, dan tersenyum kepadanya. Vina membalas senyumanmu.


Acara peringatan maulid itu pun rampung juga. Para panitia acara lalu berbagi tugas untuk membersihkan area masjid. Tiga puluh menit berselang, tugas kalian akhirnya sudah betul-betul selesai. Tapi sebelum melangkahkan kaki keluar masjid, kau rupanya masih sempat kena protes oleh Faisal karena tadi yang mengembalikan kamera miliknya bukanlah dirimu, melainkan Kiki. Kau tanpa merasa jengkel—sebagaimana kejadian sebelum-sebelumnya—langsung meminta maaf, memberikan alasan, dan menampilkan senyum terbaikmu.

Di perjalanan pulang menuju ke rumah, Kiki bertanya kepadamu, “Apa, sih, yang membuatmu cengar-cengir begitu, Rud?”

“Enggak ada apa-apa.”

Seandainya di dekatmu saat ini ada cermin, kau rasanya ingin sekali mengaca dan melihat wajahmu sendiri. Kau bertanya-tanya, seperti apa rupamu kala sedang berbahagia?

“Tadi waktu diceramahi si Faisal kau juga tampak santai,” ujar Kiki. “Kau lagi kenapa sih, Rud? Pasti ada yang kau sembunyikan, ya?”

Kali ini, akhirnya kau berani menjawab: “Alasan dan rahasiaku tiba-tiba jadi seperti ini, semua ada di kameramu.”

Saking penasarannya, Kiki langsung menyalakan kameranya dan bermaksud melihat galerinya. Foto apa saja yang telah kaupotret. Kau meneruskan langkahmu dan meninggalkan Kiki yang masih berdiri mematung dan tengah sibuk dengan kameranya itu. Sebelas detik kemudian, kau menoleh ke belakang dan melihat Kiki yang posisinya semakin jauh denganmu. Saat itu pula kau berusaha kilas balik semua momen maulid barusan. Kau pun bersyukur bisa menjadi panitia acara peringatan maulid, sebab kegiatan itu seakan-akan telah menggeser cara pandangmu dalam melihat dunia di sekitarmu.

--

PS: Kurang lebih dua minggu silam ada sayembara menulis cerpen dengan tema maulid atau cinta Rasulullah. Penyelenggara itu berniat menjadikannya buku antologi buat sepuluh cerpen terbaik dengan hadiah senilai dua juta rupiah bagi setiap pemenang. Mengetahui informasi itu, salah seorang penulis medioker (sebetulnya disebut medioker saja belum pantas) yang saldo tabungannya kian menipis lantas nekat mengikuti perlombaannya karena tergiur dengan ganjaran uangnya sekalipun dia tidak menguasai tema. Apalagi dia sebelumnya juga tak pernah menulis dengan tema islami. Namun, dia seakan-akan dapat melihat probabilitas kemenangan yang cukup besar dari sedikitnya respons di unggahan lomba tersebut. Lebih-lebih tenggatnya juga terlalu mepet. Paling-paling yang ikutan tidak sampai 50 orang, pikirnya. Belakangan diketahui, total pesertanya nyaris 400 orang, bahkan para senior yang sudah menerbitkan buku juga tak segan-segan mengikutinya hingga menjadi pemenang.

Siapa coba yang tidak tergoda dengan angka segitu? Walaupun sudah memiliki banyak karya, kalau urusan uang mah tetap hantam terus. Peduli setan membiarkan penulis-penulis pemula berunjuk gigi. Meminjam kalimat Eka Kurniawan, mereka adalah raja-raja kecil yang tak mau turun dari singgasananya. Tapi daripada jengkel dengan pemenangnya, bukankah lebih baik penulis medioker itu becermin? Saking terfokus dengan uang, dia sampai-sampai lupa menghasilkan cerita yang asyik dan segar. Dia berharap memenangkan lomba dengan persiapan yang tidak memadai. Berani-beraninya dia baru mulai mengirimkan tulisan saat empat jam sebelum batas pengumpulan. Itu pun dia sempat merasa bersyukur bisa menyelesaikan tulisannya, lalu akhirnya berpartisipasi. Menggarap cerpen dengan terburu-buru lantaran baru mengetahui informasi itu pada hari terakhir dan bermimpi menjadi pemenangnya adalah setolol-tololnya perbuatan.

Tak usah diragukan lagi betapa bodohnya penulis medioker itu. Dia ingin menang dengan mengandalkan keberuntungan saja. Memang, kadang-kadang hal ini dapat terjadi. Tapi seandainya dia betulan menang dan mendapatkan uangnya, dapat dipastikan dia akan menyesal pada kemudian hari, dan mungkin bunuh diri, karena teramat malu karya bobrok semacam itu mendapatkan tempat.

Penulis medioker itu tadinya ingin menghapus cerpen yang gagal dan tidak layak disebut sebagai karya, tapi kini dia sengaja memajang cerpen sampahnya di blog—ditampilkan apa adanya sebagaimana sewaktu dia mengirimkannya tanpa ada penyuntingan lagi. Dia bermaksud mengingatkan dirinya kelak, jangan sampai besarnya hadiah maupun jumlah uang menjadikannya tumpul sehingga menciptakan yang semacam itu lagi. Sebab cerpen yang bagus dan cerpen yang memenangkan perlombaan itu jelas-jelas dua hal yang berbeda.
Read More
Sesuai janjiku di tulisan sebelumnya, berikut kulampirkan obrolan antara Wawan Kusmondar (W) alias aku sendiri dengan Yoga Akbar (Y). 

-- 



W: Aku kan sempat lihat twitmu yang tampak marah dengan cerpen bertema romansa remaja (menulis bareng teman-teman bloger), terus jadi mempermasalahkan komentar pembaca yang salah fokus dengan bagian mesumnya, hingga berujung diskusi soal kemesuman pada tulisan. Nah, apa sebetulnya yang memicu kemarahanmu, Yog?

Y: Saya sejujurnya udah lupa waktu itu marah karena apa. Bisa jadi mood saya lagi buruk. Tapi kemungkinan besarnya sih saya habis membaca tulisan orang yang keterlaluan bagusnya, lalu mulai membandingkannya dengan tulisan sendiri. Itu penyebab utama saya sering marah sama diri sendiri. Kalau enggak salah, saya habis baca novel Vegetarian, Han Kang. Novel itu lumayan oke, meski bukan favorit saya. Kebetulan di dalam kisah itu ada unsur mesumnya. Saya lantas berpikir bahwa hal kayak begitu sah-sah aja dimasukkan ke dalam cerita dan orang-orang juga dapat menerimanya. Jika novel itu bisa meraih penghargaan dan tandanya banyak pula yang suka dengan bumbu mesum, lalu kenapa ketika saya cuma sedikit memasukkan bagian mesum (cuma tentang adegan pelukan dan merasakan kelembutan payudara), tapi tetap ada yang mempermasalahkannya? 

Saya menduga, sih, kemampuan menulis saya ini yang masih payah buat mengisahkan adegan-adegan menjurus mesum. Saya kayaknya perlu sadar diri juga kalau cerpen-cerpen bikinan saya itu jelek, apalagi cerpen Aljabar. Sumpah, tulisan itu jelek banget. Saya marah sama hasilnya, berharap ada yang kritik, lalu tololnya malah semakin marah karena citra mesum dalam diri yang belum terlepas sepenuhnya di mata sebagian orang. 

W: Sayangnya, aku belum baca novel itu. Jadi enggak bisa komentar apa-apa. Aku cuma mau menebak, palingan di novel itu ada bagian vulgar seperti di buku Eka, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, ya? (sori, referensiku tentang tulisan vulgar baru sebatas itu). Kalau kau berasumsi novel sejenis itu banyak yang menerimanya dan suka, mungkin kau lupa sama fakta ini: apa pun yang kau lakukan (dalam hal ini menulis), toh tetap ada orang-orang yang bakalan enggak suka dan membenci. Bedanya, Eka memilih buat enggak peduli. 

Kau ini selalu keras banget dalam menilai karya sendiri, Yog? Itu cerpen Aljabar buat aku udah lumayan, kok. Kau seenggaknya tuh paham sama apa yang mau disampaikan. Kau cukup bisa membangun narasinya. Bagaimana kau juga bisa membungkus romansanya dengan perlombaan biar enggak cinta-cintaan doang. Tapi ya, masalah cerpenmu itu kepanjangan. Juga ada beberapa lubang yang saat kelar membaca masih menimbulkan pertanyaan di kepala pembaca. Ada bagian-bagian yang kudu dijelaskan lagi. 


Y: Sebetulnya saya enggak lupa sama hal itu. Saya cuma sempat teringat dengan seorang teman (perempuan) yang seakan-akan memasang standar ganda. Dia bisa memuji habis-habisan karya Eka, Agus Noor, Haruki Murakami, atau siapalah yang sudah punya nama dan di dalam tulisannya ada unsur mesum. Sedangkan dia tuh jijik banget sama tulisan saya dan beberapa kawan yang mesumnya cuma sepotong-sepotong atau buat lelucon. Terus, tainya lagi tuh dia menuduh saya menuliskannya berdasarkan pengalaman pribadi—merujuk cerpen Es Krim Spesial yang kini sudah dihapus.

Seakan-akan di matanya dia yang boleh menulis mesum hanyalah penulis-penulis besar atau orang-orang yang sudah menikah. Jika belum kawin dan membuat tulisan vulgar, otomatis telah berhubungan seks di luar pernikahan. Anjing banget, kan? Apa dia lupa sama yang namanya imajinasi? Tapi itu jelas cuma dugaan saya aja karena berburuk sangka sama dia. Kemungkinan yang paling bisa diterima: cara saya menulis masih sangat buruk. Ini buat saya dosa besar bagi seorang penulis. Jangan sampai menyuguhkan tulisan-tulisan busuk. Sekalipun saya tahu ada pula dosa lain—seperti penulis yang meniduri pembacanya, saya mencoba buat enggak terlalu peduli. Berhubung saya juga bukan tipe kayak gitu, saya mending lebih fokus sama dosa menciptakan tulisan buruk. Saya enggak mau terus-menerus berdosa kepada pembaca. Salah satunya: memilih berhenti membuat lelucon maupun cerita mesum jika cara mengemasnya masih payah. 

Berkat diskusi bareng Haw di Twitter itu, saya pun jadi semakin yakin kalau cara menulis saya memang perlu perbaikan. Terutama pada susunan kata dan kalimatnya, seperti diksi “menikmati” yang bikin tokohnya jadi terlihat mesum. Terus terang aja, waktu itu di kepala saya tuh hanya si protagonis terkejut mendapatkan pelukan. Dipeluk pas lagi sedih-sedihnya itu kan buat saya nikmat banget. Bisa menjadi pelipur lara. Nah, kata “menikmatinya” ini mestinya tentang pelukan. Bukan menikmati kelembutan payudara orang yang memeluk. Jika ada pembaca yang salah paham, kayaknya saya gagal mendeskripsikan adegan tersebut. Tapi seandainya sudah tepat, berarti kepala pembaca itu sendiri yang bermasalah. Lagian, saya juga enggak bisa mengatur pembaca mau berpikir dan berkomentar apa akan tulisan saya. 

Buat penulis culun macam saya kan komentar pembaca itu penting banget. Saya masih butuh masukan dan kritik. Tololnya, kadang saya menelan begitu aja komentar yang masuk. Kayak kasus dikomentari tokohnya atau ceritanya yang mesum itu. Lebih-lebih pas tahun 2015-2016 saat sering mendapat ejekan. Padahal kalau saya pikir ulang, ya udahlah kalau dinilai mesum sama orang lain. Mengapa harus repot? Jika kenyataannya diri saya enggak begitu, kenapa saya mesti risih? Orang yang kenal baik sama saya, pasti tahu hal itu cuma citra—yang kini sudah dibuang juga.

Semoga sih ke depannya saya betul-betul bisa bersikap cuek sama perkataan orang-orang yang enggak relevan. 

Iya, saya sadar cerpen itu berlubang. Tapi jika saya tambah lagi kalimatnya buat menjelaskan, pasti bakal semakin panjang. Jadi, tolong jangan bahas cerpen itu lagi, Wan. Saya malu dan malas buat mengingatnya. Soal keras banget menilai—atau tepatnya mengkritik—diri sendiri ini sebenarnya biar nanti ketika saya memperoleh kritik dari orang lain, saya bakal sudah siap dan enggak terpuruk karena muncul pikiran begini: ah, masih lebih jahat komentar saya pada diri sendiri. Ini seolah-olah kayak saya gemar menyakiti diri sendiri atau masokis, ya? 


W: Wah, aku baru sadar kalau cerpen kontroversial itu dihapus (barusan langsung aku cek). Aku pikir sih karena sebelum-sebelumnya kau terbiasa menceritakan keseharian, jadi pembaca otomatis mengira kau menuliskannya berdasarkan pengalaman juga. Jika memang bukan begitu, kau menulis mesum tuh pengaruhnya dari mana? Itu pun jika kau berkenan.

Soal masokis, itu kau sendiri yang bilang, lho. Hahaha. Aku mah cuma bisa mengiyakan saja. Tapi mesti diakui, kau itu termasuk gila dalam menulis. Terlalu jahat sama tulisan sendiri.


Y: Saya coba cerita runut dari awal aja, ya? Kayaknya saya belum pernah menceritakan hal ini ke media apa pun. Dulu waktu kelas 3 SMP, tepatnya pas saya lagi main ke rumah salah satu temen yang anaknya kutu buku banget, saya berkenalan dengan komik hentai gitu. Rumahnya dia mewah banget khas anak orang tajir dan punya dua rak buku gede. Koleksi bacaan dia tuh kebanyakan komik. Nah, di sanalah saya bisa menemukan komik mesum seperti Love Junkies dan Golden Boy. Jadi setiap main ke rumahnya, saya diam-diam membaca komik itu (meski sekarang udah lupa ceritanya kayak apa). Terus, zaman SMK saya juga sempet ikut-ikutan temen baca kisah dewasa di internet. Kalau dua tahun terakhir ini palingan efek baca buku Eka Kurniawan atau Paman Yusi—terkhusus di novel Raden Mandasia bab ‘Rumah Dadu Nyai Manggis’. Mungkin aja pengalaman membaca cerita erotis sejak SMP hingga sekarang, walaupun porsinya sedikit, itu tetap menempel di kepala sehingga ada keinginan dalam diri buat ikutan mengekspresikannya lewat tulisan.

W: Waduh, enggak nyangka seorang Yoga pernah baca komik sejenis itu. Aku baru dengar judulnya (habis ini mau coba cari, ah). Eh iya, bukannya kau pembaca Duo Murakami? Kalau enggak salah kau pernah  bilang terpengaruh Haruki, lalu menerjemahkan cerpen Ryu? Kok kini mereka enggak disebut? Apakah tulisan mereka enggak berpengaruh lagi? Kau lebih suka mana di antara mereka berdua?

Y: Iya, saya membaca buku-buku mereka. Jika pertanyaannya lebih suka yang mana, saya sejujurnya gandrung ke tulisan Ryu. Anehnya, saya justru baru baca empat bukunya—tiga novel (In the Miso Soup, 69, Coin Locker Babies) dan satu kumcernya (Tokyo Decadences). Kalau si Haruki malah dua kali lipatnya. Saya udah baca novelnya: Norwegian Wood, Dunia Kafka, Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya, Hear the Wind Sing, Sputnik Sweetheart, The Wind-Up Bird Chronicle; terus kumcernya: Blind Willow, Sleeping Woman; dan terakhir nonfiksinya: What I Talk About When I Talk About Running

Mungkin karena saya terlambat dua tahun mengenal Ryu, jadi Haruki mencuri start dalam daftar bacaan saya.

Entah kenapa sekarang ini saya agak bingung kalau ditanya soal pengaruh mesum mereka ke dalam tulisan. Saya malah lebih terpengaruh sama unsur kelam dari tulisan Haruki. Terus gaya berceritanya yang sering bertele-tele itu. Saya yakin ini terpengaruh banget sama Haruki. Soalnya sejak setahun terakhir saya enggak membaca tulisannya lagi, kebiasaan melantur di tulisan saya perlahan-lahan berkurang ketika sedang iseng mengevaluasi beberapa tulisan. Entah kalau di mata pembaca kayak gimana. Biarkan mereka menilainya sendiri. 

Dari tulisan Ryu, saya juga lebih terpengaruh dalam penggalian sisi psikologis tokohnya. Walaupun saya belum mahir menerapkannya alias masih cetek, sih. Saya juga belajar bikin monolog interior lewat tulisan-tulisannya. Jadi, porsi mesum yang berefek ke tulisan saya nyaris enggak ada ketika membaca karya mereka. Mungkin karena saya coba menerapkan ambil baiknya, tinggalkan buruknya. Oke, si Yoga sok iye banget. 


W: Mendinglah itu kau udah baca empat karya Ryu. Aku baru satu: Sup Miso versi terjemahan. Haruki juga baru Norwegian Wood, Dunia Kafka, sama Dengarlah Nyanyian Angin. Pokoknya aku cuma sanggup mencerna yang bahasa Indonesia. Kemampuan bahasa Inggrisku buruk banget. Belum berani baca versi selain terjemahan. Lalu, apakah kau pernah baca buku stensilan karya Enny Arrow atau Freddy S.?


Y: Freddy S. pernah sekali, lupa judul yang mana. Enny Arrow kayaknya belum. Saya dulu lebih sering baca komik Tatang S. Cerita dia juga ada beberapa yang menjurus mesum, kan? Seingat saya, sih, sewaktu setannya berwujud Kolor Ijo dan sesosok perempuan sejenis kuntilanak yang suka menjilati darah haid di celana dalam para gadis. Itu kan termasuk vulgar banget buat anak SMP. 

Kalau boleh kasih saran, terserah mau dipakai atau enggak, coba paksa aja baca versi Inggrisnya, Wan. Kemampuan saya juga masih amburadul, bahkan terlalu pasif. Dari keempat elemen linguistik—membaca, mendengarkan, menulis, berbicara; jika harus kasih nilai 1-10 untuk kecakapan bahasa Inggris, saya merasa yang nilainya di atas 6 cuma membaca. Toh, sekalipun pusing duluan saat melihat teks-teksnya, kita masih bisa cek kamus ketika enggak tahu artinya, kan? Seandainya mau yang lebih praktis, pakai Terjemahan Google. Enggak usah malu. Saya sesekali juga masih pakai itu. Namanya buat belajar. Asalkan enggak ketergantungan nantinya. Terus yang lebih penting: selalu baca ulang atau cocokin lagi, mana alih bahasa dari sistem itu yang masih ngawur. 

W: Gila, sampai dikasih saran begini. Makasih banget, Yog. Ini dua pertanyaan terakhirku, apakah kau sempat menyesal telah membangun citra mesum? Untuk ke depannya, kau bakalan tetap memasukkan unsur itu ke dalam tulisan, atau tak mau memakainya lagi?

Y: Rasa sesal tentu ada. Misalnya, dari sekian banyak citra yang dulu bisa saya buat, kenapa harus memilih mesum? Capek sumpah mengecek satu per satu tulisan di blog buat mengembalikannya ke draf atau menghapusnya. Ada rasa berdosa juga menggunakan metode curang buat mencari trafik. Zaman 2015-2016 itu soalnya banyak banget pengunjung tolol yang terjebak dengan kata kunci mesum di blog saya. Hahaha. Saya pun sempat risih sama penilaian pembaca yang lawan jenis. Ini pikiran enggak penting sih, tapi barangkali ada beberapa perempuan manis yang tadinya suka sama tulisan saya, lantas mendadak jijik begitu menemukan bagian mesumnya. Siapa tahu salah satunya ada calon pacar saya, kan? Aduh, lucu amat khayalan menyedihkan ini. Sekarang sih alhamdulillah udah lebih santai. Saya enggak takut lagi dapat cap mesum maupun kehilangan pembaca. 

Gimana ya, tergantung kebutuhan cerita, sih. Saya memang telah berjanji sama diri sendiri buat enggak memakainya secara sembarangan dan berlebihan. Lagian, bahan menulis dan gagasan itu sebetulnya kan melimpah, terus untuk apa saya bikin cerita yang menjurus ke mesum? Namun di satu sisi, jika saya pikir bagian mesum dalam kisah itu penting—saat dihilangkan rasa di dalam tulisannya justru melemah, saya pasti akan tetap menempatkannya sesuai porsi. Apalagi kalau saya udah jago buat menuturkannya. Kalau masalah saya sekarang, kan, bagaimana saya bisa bikin pembaca terangsang tanpa harus membuatnya risih, bosan, dan mual? 

Saya bingung harus kasih referensi apa buatmu selain novel Raden Mandasia garapan Paman Yusi. Bagian Nyai Manggis itu aduhai dan bisa dijadikan contoh. Tapi kayaknya kamu belum baca buku itu. Mengingat kamu juga pembaca Haruki, ada satu hal yang paling berkesan buat saya dari tulisan mesumnya: “Aku mengangkat kaos Sakura lantas memainkan payudaranya yang lembut. Aku meremas putingnya seakan tengah mencari saluran radio. Penisku yang sekeras batu kembali menyentuh bagian belakang pahanya, namun dia tidak bersuara dan nafasnya masih tetap sama. Aku rasa dia pasti tertidur sangat pulas.” 

Sekiranya kamu lupa, adegan mesum itu ada di novel Dunia Kafka. Anjinglah, saat membaca bagian itu saya justru mengakak. Unsur mesumnya secara tak langsung berubah jadi lelucon. Penuturan tokohnya juga sangat natural. Saya perlu belajar lebih banyak buat bikin yang seperti itu. Intinya, saya akan berani menulis mesum lagi jika kemampuan menggarap kisah-kisah keseharian yang remeh sudah di atas standar.

*

Percakapan kami telah berakhir. Aku kini mendapatkan sudut pandang baru seusai berbalas surat dengan Yoga. Apakah kamu juga mulai memandang sosoknya secara berbeda dan muncul rasa suka? Namun, aku yakin hal itu tidak akan berdampak apa-apa baginya. Sebanyak apa pun apresiasi yang kamu hadiahkan kepadanya, aku kira dia akan tetap membenci diri sendiri dan tulisan-tulisannya.

--

Sumber foto: https://pixabay.com/photos/business-internet-browser-inbox-3070472/
Read More
Tulisan berikut ini pertama kali tayang di blog Wawan Kusmondar (salah seorang bloger yang cuma terkenal di kalangannya sendiri), lalu  empat hari silam blognya tahu-tahu dihapus entah karena alasan apa. Saya kemudian meminta izin kepadanya buat menerbitkan ulang di sini. Dia ternyata tidak keberatan, selama saya enggak menyebut akun media sosialnya. Mungkin dengan membaca cerita berikut, kamu bakal sedikit mengerti apa alasan dia menghapus blognya.

--

Bagaimana cara melepaskan citra buruk yang pernah melekat pada dirimu? Pertanyaan itu hinggap di kepalaku ketika aku baru saja menerima surel dari seorang pembaca. Dia bilang, tulisanku masih saja tidak berubah. Selalu ada mesumnya. Dia bahkan sampai berkata: isi kepalaku harus segera dibersihkan pakai penyedot debu saking kotornya. Omong-omong, pengirimnya perempuan berjilbab. Barangkali di matanya itu aku juga merupakan manusia yang penuh dosa sebab gemar bermaksiat lewat tulisan. 

Aku tahan mendapat hinaan bangsat, bajingan, berengsek, biadab, dst., dsb. oleh kawan-kawan yang sudah mengenalku, khususnya yang laki-laki. Saling meledek begitu memang sudah lazim terjadi di antara kaum kami. Namun, jika dinilai buruk oleh perempuan, lebih-lebih dia orang asing, entah mengapa menjadi masalah tersendiri buatku. Sampai-sampai aku jadi kepikiran terus. 



Apakah karena tulisan-tulisanku yang terkesan jahat dan mesum itu membuat para perempuan jadi takut dan jijik mengenalku? Pantas saja dalam setahun terakhir ini tak ada satu pun perempuan yang terlihat ingin mendekatiku. Mungkin merancang citra semacam itu sudah tak cocok lagi di era yang penuh kepalsuan ini. 

Empat tahun silam, aku sungguh ceroboh menciptakan citra diri mesum. Aku tak tahu kenapa dulu berbuat seperti itu. Mungkin di kepalaku saat itu bisa dinilai nakal sangatlah keren. Berdasarkan artikel-artikel yang pernah kubaca, mayoritas cewek konon lebih menyukai cowok bajingan ketimbang yang baik-baik dan culun. 

Dengan merancang sosok bajingan, ditambah lagi aku berzodiak Gemini—yang kerap mendapatkan cap bangsat karena hobi merayu lawan jenis, pada hari-hari itu memang terbukti membuat diriku lebih luwes mendekati beberapa perempuan. Aku tak terlalu peduli dengan penilaian siapa pun yang mencemooh, terutama laki-laki yang tampak iri.

Ketika cewek-cewek itu dengan sendirinya tersadar bahwa aku tak seburuk yang mereka pikirkan sebelumnya, kepercayaan diriku tiba-tiba meningkat drastis. Aku sangat menikmati hal itu. Tuduhan-tuduhan sialan yang tidak sesuai dengan diriku seolah-olah menjadi sebuah kemenangan. Aku pun kian ketagihan menyelipkan lelucon-lelucon mesum di tulisanku. Aku lantas tumbuh menjadi mahasiswa yang terkenal dengan kemesumannya di area kampus, khususnya jurusanku Sastra Indonesia. Yang tidak kusangka, aku sampai mendapat julukan: Wawan Omes—singkatan otak mesum. 

Jika ada seseorang di kampus yang bingung mendeskripsikan aku orangnya seperti apa, alih-alih menggambarkanku bertubuh kurus, rambut ikal gondrong, pakai kacamata, sering mengenakan kemeja flanel, dan ciri lainnya yang melibatkan penampilan, mereka cukup menyebut “Wawan Omes” atau “pokoknya Wawan yang tulisan di blognya mesum”, dan mereka bakalan langsung paham bahwa akulah yang sedang dimaksud. Luar biasa. Ternyata julukan itu bikin aku jadi lebih mudah dikenal orang-orang.

Sayangnya, kebanggaanku terhadap citra mesum itu tak bisa lagi kunikmati dalam dua tahun terakhir. Pada suatu pertengahan 2016, aku mulai tersadar kalau mesum yang cuma citra itu tidak melulu bekerja pada setiap orang. Semua bermula ketika aku dan beberapa bloger Jakarta sedang main ke Bandung, lalu janjian bertemu di Bukit Moko bersama beberapa bloger setempat. Selain bloger, aku juga sempat mengajak Rani, seorang perempuan manis yang kukenal lewat Twitter.

Rani bertanya kepadaku siapa saja yang ikut. Walaupun aku tidak yakin dia bakal mengenal teman-temanku, aku pun menyebutkannya: Agus, Asep, Fasya, Fendi, Ihsan, Ujang, dan diriku sendiri. 

“Ceweknya cuma satu yang ikut?” tanyanya. 

“Iya, sama kamu nanti jadi dua. Kamu boleh ajak teman kamu juga kok, Ran.” 

Pesan itu tidak ada balasan lagi hingga hari keberangkatan. Barulah ketika aku pulang dari sana, dia membalas, “Sori deh, aku enggak jadi ikut. Aku takut kalau cuma satu ceweknya.” 

Aku tak paham dengan jalan pikirannya. Apa yang dia takutkan? Apakah karena ceweknya lebih sedikit daripada cowoknya, terus kami bakal berbuat semena-mena kepada mereka? Lalu kami merasa lebih hebat dari perempuan? Pikiranku tak sekolot itu. Aku lantas menceritakan hal ini kepada Fendi—teman bloger yang paling akrab denganku—saat kami berada di kereta dalam perjalanan pulang ke Jakarta. 

“Kau lagian di blog dan Twitter terlalu sering bikin lelucon mesum sih, Wan,” ujar Fendi. “Cewek diajak ketemu sama orang sepertimu, apalagi di pertemuan itu banyak cowoknya, pasti ada rasa takutlah.” 

“Takut kenapa, sih? Aku enggak terlalu paham.” 

“Takut di-gangbang, misalnya.” 

“Anjing! Ngewe satu lawan satu aja belum pernah.”

Tawa Fendi meletus beberapa saat. “Ingat, kita ini lagi di tempat umum. Jaga bicaramu, Wan,” katanya sembari menepuk bahuku. Aku membalas bahwa dialah yang mesti menjaga suara ketawanya. Tawa rombeng itu amat menyakitkan telinga—bagi siapa pun yang mendengarnya. Fendi tak menghiraukan ejekanku dan justru menimpaliku agar diriku tidak terlalu jujur jadi orang. Dia lalu menutup kalimatnya dengan hinaan secara berbisik-bisik: “Jangan-jangan kau juga belum pernah berciuman ya, Wan?”

Tai, dia tampak bahagia sekali menghinaku seperti itu. Mentang-mentang dia tahu tentang diriku yang cuma berani mesum di tulisan, tapi tidak pada kenyataannya ini, sungguhlah menjadi gangguan buatku.

Apa kau tidak percaya kalau mesumku itu cuma citra yang dibuat-buat? Baiklah, akan kuberi tahu rahasia ini. Semua cerita-cerita di blogku yang mengandung unsur mesum itu memang bukan dari pengalamanku sendiri. Aku hanya mempelajarinya lewat buku-buku Duo Murakami (Haruki dan Ryu), Eka Kurniawan, dan Enny Arrow. Aku juga sempat terinspirasi oleh lagu-lagu Kungpow Chicken yang liriknya liar dan vulgar. Sesekali aku pun mencoba membuat deskripsi cerita lewat video bokep Jepang yang pernah kutonton. 

Lalu untuk merespons pernyataan Fendi itu, dalam empat tahun terakhir ini aku mau tak mau mesti mengakui kalau belum pernah lagi melakukannya. Sialan, aku sampai sudah lupa seperti apa rasanya berciuman. Tapi bukan berarti aku tak punya pengalaman soal itu. Bisa dibilang pengalamanku hanyalah sedikit. Setidaknya, saat SMA aku pernah melakukannya dengan pacarku. Alasan kenapa aku belum melakukannya lagi, tentu saja bukan karena tak punya kekasih semenjak lulus SMA. Saat ini aku memang tak punya pacar, tapi satu tahun silam aku masih memilikinya, kok. Dia meninggalkanku dan lebih memilih teman kantornya sebab aku tak kunjung lulus, padahal sudah kuliah 10 semester—dua bulan lagi malah 11. Penyebab kenapa aku belum lulus: tugas akhirku menggarap sebuah novel tidak rampung-rampung juga lantaran kerap revisi. Dosen pembimbingku memarahiku habis-habisan karena tulisanku terlalu banyak adegan cabulnya. Entah sudah berapa banyak aku menghabiskan duit orang tuaku demi tugas akhir biadab itu. Jika semester depan aku tidak lulus juga, mungkin mereka enggan membiayai kuliahku lagi.

Bicara soal banyak, aku baru sadar diriku juga terlalu banyak membuka rahasia kepadamu. Ah, masa bodohlah. Sudah telanjur. Kau boleh mentertawakanku mengenai hal itu, apalagi akan fakta berikut: aku bersikap demikian (tak mau lagi berciuman) karena berusaha menerapkan cinta platonik kepada pacar-pacarku sejak memasuki bangku kuliah. Aku ingin menegaskan kepada diriku sendiri, bahwa tanpa adanya hubungan fisik (selain berpelukan) rasa cintaku terhadap pasangan bisa tetap kuat. Bahkan tidak akan layu sedikit pun jika komunikasi kami berjalan lancar. Makanya aku heran dengan gagasan-gagasan tolol yang bilang supaya pacarnya setia dan tidak pindah ke lain hati, mereka harus melakukan hubungan seks. Jelas-jelas seks itu bagian dari hawa nafsu, sedangkan cinta itu murni dari hati. Masa begitu saja mereka tidak mengerti? 


“Kau lagi melamun jorok ya, Wan?” ujar Fendi mengusik perenunganku. 

“Kau jangan asal bacot, Fen. Aku lagi berpikir, tahu.” 

Mikirin Rani yang enggak mau diajak ketemu?” 

“Bukan. Tapi kalau soal Rani itu, menurutku sih enggak adil kalau diriku ini langsung dinilai buruk cuma karena tulisan. Aku jadi heran dengan perempuan sepertinya.”

“Heran kenapa?” 

“Ya, kenapa dia enggak mau ketemu sama aku karena takut banyak cowoknya? Itu si Fasya buktinya biasa aja sama kita, kan? Toh, kita aslinya juga anak baik-baik. Orang kita niatnya piknik, kok dianggap yang aneh-aneh.”

“Fasya mah beda, Wan. Dia udah biasa berteman sama cowok-cowok. Kalau menurutku malah yang normal tuh memang perlu waspada kayak gebetanmu itu. Kau mungkin memang anaknya enggak aneh-aneh, makanya bisa bilang begitu dengan entengnya. Tapi pada kenyataannya, enggak semua orang yang kita kenal dari dunia maya juga bisa dipercaya.” 

Aku mencoba mencerna kalimat Fendi yang tiba-tiba mencerocos begitu. Belum sempat aku merespons, dia sudah berbicara lagi. 

“Apa kau juga lupa dengan kasus penculikan dan pemerkosaan yang awalnya kenal dari Facebook? Itu akibat dari terlalu percaya sama orang di dunia maya loh, Wan.”

Sial, aku lupa melihat dari sudut pandang lain. Perkataan Fendi ada benarnya juga. Setiap hal tentu ada kemungkinan buruknya.

Tak lama dari kejadian batal berjumpa itu, Rani lalu menghapusku dari daftar mengikuti. Aku mengetahuinya ketika sedang mengecek akunnya, dan tulisan “Mengikuti Anda” telah hilang dari profilnya. Aku pun ikutan menghapus dirinya dalam hidupku.

Aku tak menyangka, ternyata datang juga hari di mana ada seorang perempuan yang dapat mematahkan pemahamanku tentang citra mesum. Sampai-sampai membuatku ingin introspeksi diri.

Jika dipikir-pikir lagi, sebelum bisa bertatap muka dan mengenal baik seseorang, sebagian orang tentu cuma bisa menilai diri orang lain dari apa yang mereka lihat di media sosial dan blognya. Oleh sebab itu, kini aku tak bisa melarang siapa pun untuk menilai atau menghakimi tentang gambaran diriku yang mesum. Itu murni salahku sendiri yang menampilkan citra buruk kepada khalayak.

Maka sejak hari itu, apalagi setelah lelah berkutat dengan revisi dosen pembimbingku, aku tak mau lagi menyulitkan diriku dalam persoalan menulis mesum. Aku perlu mengontrol diriku sewaktu menulis. Bagian mesum cuma boleh dimasukkan buat kebutuhan cerita, bukan lagi untuk gaya-gayaan, terlebih lagi untuk membangun citra. 

Selagi merenung tentang tulisan mesum begini, aku entah kenapa jadi teringat dengan obrolan Yoga Akbar bersama temannya di Twitter sebulan yang lalu. Aku sempat menyimaknya. Mereka waktu itu sedang membahas perihal mesum yang kini menjadi masalahku lagi. Aku jadi sungguh penasaran, kenapa Yoga membela tokoh dalam cerpennya sampai seperti itu? Apakah dia masih takut dinilai bahwa itu cerminan dari dirinya sendiri? Lalu, bagaimana dia memandang dirinya yang dulu sempat membuat citra mesum dan kini memilih untuk melenyapkannya? 

Otomatis muncul gagasan di kepalaku untuk mengirimkan surel kepadanya agar dapat bertanya lebih lanjut soal itu. Di bagian pembuka, aku memperkenalkan diriku sebagai pembaca blognya yang tak pernah meninggalkan komentar. Pada bagian tengah, aku menjelaskan maksud suratku. Aku ceritakan pula bagaimana diriku pernah memiliki persoalan citra mesum sebagaimana dirinya dan berniat berubah. Lalu baru-baru ini ada yang mempermasalahkannya lagi, padahal aku sudah berusaha segigih mungkin untuk melenyapkan unsur buruk tersebut. Aku bahkan bercerita hal tak penting mengenai zodiak kami yang kebetulan sama. Di penutup surat, aku lantas bertanya apakah aku boleh mengajaknya wawancara tentang citra maupun tulisan mesum. 

Satu jam setelahnya, Yoga membalas suratku. 


Hai, Wan, 

Salam kenal, ya. Terima kasih sudah membaca blog saya. Haha, kampret banget ya kalau kita udah berusaha keras mengubah gaya tulisan lama, tapi masih ada beberapa pembaca yang mempermasalahkan kemesumannya itu. Rasanya berat juga dibayang-bayangi keburukan masa lalu. 

Wih, seriusan zodiak kita sama? Kamu Gemini bulan Mei atau Juni? Ah, pokoknya hidup Gemini! 

Wawancara? Saya berasa orang penting aja segala diwawancara. Terasa aneh dengan sebutan itu. Kayaknya lebih enak pakai sebutan ngobrol-ngobrol dibanding wawancara deh, gimana? Saya lagi sensitif juga sih sama kata “wawancara”. Soalnya akhir-akhir ini lagi gagal terus pas cari kerja. Aduh, saya malah curcol. Sori-sori. Ya, intinya boleh kalau kamu mau tanya-tanya perihal itu. Silakan.

Tabik,

Yoga Akbar S. 


Membaca balasan surelnya, aku spontan tertawa. Entah bagian mananya yang lucu. Aku kemudian membaca ulang pesannya dan jadi menyimpulkan bahwa Yoga selalu punya celah buat curhat. Bahkan sama orang asing sepertiku. Apakah hal itu yang membuatku tertawa? Bisa jadi demikian. Meskipun yang jadi curhatannya itu permasalahan umum, tapi mungkin saja dia betulan sensitif dengan kata “wawancara”. Sekarang aku ingin menyiapkan beberapa pertanyaan agar bisa mengobrol dengannya lewat surel. Pada tulisan berikutnya, aku berjanji kepadamu untuk melampirkan percakapan kami. Itu pun jika kamu bersedia membacanya.

--

Gambar diambil dari: https://pixabay.com/photos/tombstone-old-grave-stones-cemetery-2254373/
Read More
Bagaimana jika kau suka menulis, kau ingin menjadi seorang penulis, tetapi kau tidak merasa bahwa ada sesuatu yang cukup monumental telah terjadi kepadamu? Artinya, tentang hal cukup penting yang layak untuk ditulis? Vonnegut memiliki beberapa pendapat tentang hal itu. 

“Kesabaran.”

Seorang perempuan muda yang belajar kepadaku Kepenulisan Kreatif di CCNY tahun lalu, mengaku kepadaku dengan agak malu, seolah-olah hal ini dapat menjadikannya penulis yang benar-benar kreatif, bahwa dia belum pernah menyaksikan orang meninggal. 

Aku meletakkan tanganku di bahunya, dan berkata, “Seseorang harus bersabar.” 



Itu sepenggal nasihat dari Kurt. Ini yang lainnya: 

Ketika kota (Dresden) dihancurkan, aku tidak tahu skala benda itu. Aku tidak memiliki perbandingan kecuali untuk apa yang kulihat di film. Saat aku sampai di rumah (aku adalah seorang penulis sejak berada di Cornell Sun, kecuali sejauh itulah tulisanku), aku berpikir untuk menulis kisah perangku juga. Semua temanku berada di rumah; mereka juga memiliki petualangan yang luar biasa. Aku pergi ke kantor surat kabar, Indianapolis News, dan mencari tahu apa yang mereka miliki tentang Dresden. 

Ada barang yang panjangnya kira-kira setengah inci, yang mengatakan pesawat kami sudah melewati Dresden dan ada dua yang menghilang. Jadi kupikir, ini adalah detail paling kecil dalam Perang Dunia II. Yang lain punya banyak hal untuk ditulis. Aku mengingat rasa iri pada Andy Rooney, yang mencetak pada saat itu; aku tidak mengenalnya, tetapi kupikir dia adalah orang pertama yang menerbitkan kisah perangnya seusai perang; itu dinamai Air Gunner

Sialan, aku tidak pernah mengalami pertualangan yang berkelas seperti itu. Namun, sering kali aku bertemu orang Eropa dan kami akan berbicara tentang perang dan aku akan mengatakan bahwa diriku berada di Dresden; dia heran bahwa aku pernah ke sana, dan dia selalu ingin tahu lebih banyak. Kemudian sebuah buku karya David Irving diterbitkan tentang Dresden, mengatakan hal itu adalah pembantaian terbesar dalam sejarah Eropa. Aku berkata, Ya Tuhan, akhirnya aku melihat sesuatu!

Mungkin kau juga pernah melihat sesuatu. Mungkin apa yang cuma kau saksikan di halaman belakang rumahmu adalah sesuatu. Henry David Thoreau tinggal di Concord, Massachusetts, dan dia mengatakan ini: “Saya telah bepergian dan meninjau secara luas di Concord.” Vonnegut menggunakannya sebagai epigraf untuk kumpulan nonfiksi pertamanya, Wampeters, Foma, and Granfalloons. Dia menjelaskan: 

Kutipan itu mungkin pertama kali menarik perhatianku menurut salah satu guru yang menakjubkan di SMA. Thoreau, kini aku merasakan, menulis dengan suara seorang anak, sebagaimana yang kulakukan. Dan apa yang dia katakan tentang Concord adalah apa yang dirasakan setiap anak, apa dugaan yang mesti dirasakan setiap anak, tentang tempat kelahirannya. Pasti ada hal mengagumkan yang lebih dari cukup dalam seumur hidup, tidak peduli di mana pun anak itu dilahirkan.

Kastil? Indianapolis penuh dengan mereka. 

*

Kau tidak harus mengalami kematian atau kehancuran atau penderitaan untuk menulis. Kau hanya perlu peduli tentang sesuatu. Mungkin yang kau pedulikan itu kebahagiaan. 

Di Workshop Iowa Writers, dalam kelas Ragam Fiksi (kelas sastra wajib yang diarahkan untuk memeriksa fiksi dari sudut pandang seorang penulis, yang terdiri dari sekitar 80 siswa), Kurt mengajarkan cerita Chekhov. Aku tidak ingat namanya. Aku tidak mengerti maksudnya, karena tidak banyak yang terjadi. Seorang gadis remaja jatuh cinta pada bocah lelaki ini dan lelaki itu dan lainnya. Dia menunjuk seekor anjing kecil, seingatku, atau mungkin sesuatu yang lain, dan tertawa. 

Itu saja. Tidak ada konflik, tidak ada titik balik dramatis atau perubahan. Kurt menunjukkan bahwa dia tidak memiliki kata-kata untuk kegembiraan semata-mata karena telah matang dengan kehidupan, kesegarannya sendiri, bakat akan romansa. Perasaannya yang tidak jelas mentertawakan sesuatu yang tak berbahaya. Itulah yang terjadi dalam cerita. Kebahagiaan mutlaknya dalam kegembiraan gadis itu yang terasa sangat hidup begitu mendorong kesenangan. Pesona Kurt mengajariku bahwa kisah-kisah semacam itu tak perlu dipandang rendah. Mereka layak diceritakan.


-- 

Saya mungkin lagi iseng atau kurang kerjaan atau bingung harus mengisi blog ini dengan tulisan apa, sampai-sampai memutuskan buat menerjemahkan secara serampangan sebagian nasihat dari Kurt Vonnegut untuk penulis tidak sabaran, dan menampilkannya di sini. Saya bisa jadi termasuk salah satu penulis terburu-buru itu. Akhir-akhir ini, setiap kali menulis saya ingin lekas rampung. Jika biasanya saya berusaha membaca ulang dan menyunting rancangan naskah sebanyak tiga kali atau lebih, kini palingan cuma 1-2 kali dan langsung cepat puas.

Tapi itu jelas soal lain. Pada bulan ini, selain tulisan yang sudah terpublikasi, saya telah berhasil menorehkan empat draf mentah cerpen maupun artikel yang malas saya edit dan lanjutkan lagi, sebab tiba-tiba merasa bahwa kisah beserta gagasannya itu hanya begitu-begitu saja, bahkan terlalu remeh. 

Sebuah nasihat baik, walaupun itu terlontar dari mulut orang sinting, bukankah tetap pantas buat diikuti? Kalau yang seperti itu saja layak dicoba, bagaimana dengan nasihat Vonnegut soal kepenulisan barusan? Saya entah mengapa langsung tersindir karena telah meremehkan cerita milik sendiri. Jika dipikir ulang, barangkali kisah yang saya anggap begitu doang bisa tampak keren dan mengandung makna berharga di mata sebagian pembaca, selama saya dapat mengolahnya dengan ciamik. 

Saya lantas menengok tulisan sebelumnya, Peristiwa 6 November. Bagi saya, ide kisah itu pun biasa saja. Cuma mengenai seorang tokoh yang merasa hidupnya sial dan menyedihkan, lalu bisa berubah bahagia lantaran hal sederhana—memenangkan kuis berhadiah buku. Protagonis pun menyimpulkan itu hari baiknya, segera melihat tanggal, dan mencatatnya. Dari situ cerita bergerak menuju kilas balik dan perenungan tentang tanggal tersebut. Yang ternyata malah membuat dirinya sedih dan jengkel. Dia bingung mengapa kondisi hatinya bisa berubah secepat itu, padahal sebelumnya sedang gembira. Apakah porsi kebahagiaan dalam hidupnya itu memang ditakdirkan berumur singkat? Dia pun akhirnya berputus asa lagi. Kala itulah bantuan datang dari arah yang tak terduga. Sebuah klip video aduhai dari seorang kawan yang membuatnya tertawa, bahkan terpingkal-pingkal. Hal itu dalam sekejap dapat memusnahkan kenestapaan hidupnya. 


Saya tak berani menyatakan teks itu bagus. Saya juga tidak mau menjelaskan mana yang fiksi, mana yang nyata. Itu terserah kesimpulan pembaca saja. Yang jelas, saya telah berupaya mengisahkan cerita itu dengan cara lain. Kalau biasanya curahan hati dituturkan dengan sudut pandang orang pertama agar perasaannya teramat kuat (lazimnya pembaca akan mudah membayangkan dirinya sebagai karakter itu), saya sengaja memilih menjaga jarak kepada pembaca—supaya mereka ragu terhadap cerita itu—dengan mengambil sudut pandang orang ketiga yang fokus terhadap satu karakter.

Permainan sudut penceritaan seperti itu mungkin bisa menciptakan kisah-kisah baru yang menyegarkan. Seingat saya, A. S. Laksana pernah menyampaikan dalam buku panduan menulisnya, Creative Writing, tentang latihan memainkan sudut pandang, yakni dengan mengisahkan ulang cerita Cinderella lewat sudut pandang kakak tirinya. Bakal seperti apa jalan ceritanya? Akankah pandangan kita berubah, lalu jadi membenci Cinderella—yang dengan beruntungnya memperoleh bantuan dari Ibu Peri?

Seandainya saya ingin mengambil sudut pandang baru dari cerita kemarin itu, saya pun masih bisa membuat beberapa tulisan lagi. Misalnya, dari sudut pandang Novi, Agia, atau malah buku hadiah kuis—memakai majas personifikasi. Saya bisa mengarang cerita dengan pertanyaan begini: mengapa Novi menetapkan pilihan untuk putus dengan Yoga dan memilih cowok lain?; bagaimana proses Agia menciptakan video itu dan menentukan lagu yang cocok?; bagaimana perasaan kedua buku itu menempati rumah barunya, apakah lebih bahagia di tempat yang sekarang atau tetap berada di rak toko buku? 

Konklusi saya sehabis menerjemahkan artikel di Lithub dan mengetik sampai paragraf ini: berarti seremeh dan seklise apa pun sebuah ide, selama bisa menuturkannya dengan asyik, itu tetaplah layak menjadi cerita dan dibaca orang-orang. 

Dalam tulisan lain (saya sudah lupa tautannya), Vonnegut juga pernah menyampaikan nasihat saat menulis sebuah cerpen: setiap karakter harus menginginkan sesuatu, meskipun itu cuma segelas air putih. Ketika pertama kali membacanya, saya sempat ragu dan mempertanyakan, apakah anjuran itu serius? Saya pikir tujuan si tokoh itu terlalu dangkal jika hanya ingin meminum air putih. Namun begitu saya coba bayangkan lagi, rupanya kisah itu bisa menjadi panjang dan penting saat tokohnya diberikan banyak hambatan.

Protagonis terbangun dalam tidurnya dan merasa sangat kehausan, tetapi persediaan air minum di rumahnya telah habis. Hari sudah kelewat malam, sehingga sewaktu mau pesan air galon lewat abang-abang langganan sudah tidak bisa, atau warung-warung di dekat rumahnya juga sudah tutup. Sewaktu dia ingin meminta air sama tetangga, tentu ada rasa malu dan takutnya mengganggu mereka yang sudah pada tidur. Mau pergi ke toko swalayan 24 jam, jarak tempuhnya yang paling dekat itu sekitar 30 menit. Akankah dia rela keluyuran tengah malam demi segelas air atau memilih tidur lagi? Dan seterusnya, dan sebagainya.

Berkat nasihat-nasihat sejenis itu, saya kini jadi semangat lagi buat melanjutkan draf-draf yang tertunda akibat perasaan cemas maupun takut tulisannya dibilang jelek dan kacangan. Toh, saya sadar kalau menulis di blog ini buat menyenangkan diri sendiri, melarikan diri dari realitas, dan tentu saja sebagai tempat berlatih demi suatu hari bisa terbit di media lain. 

Omong-omong soal media lain, saya masih tak menyangka beberapa cerpen di blog ini dalam rentang 2015-2017, kini bisa termuat di Loop.co.id. Pada masa-masa menggarap cerpen itu, saya memang belum gemar menebarkan teror (mengirimkan esai, cerpen, dan puisi) ke beberapa media. Sebab saya dulu berpikir bahwa tulisan-tulisan saya tak layak mendapatkan tempat selain di blog ini. Pada kemudian hari, ternyata ada pihak yang tertarik dan memberikan harga lumayan. Alhamdulillah. Terlepas bagaimana saya memandangnya hari ini, saya tetap tak bisa mencegah kegembiraan dalam diri ketika melihat respons para pembaca.




Maka sejak itu saya mulai lebih giat membaca dan bikin cerpen supaya bisa menghasilkan tulisan yang lebih bagus, lalu memberanikan diri buat mengirimkannya ke media ataupun ikutan lomba. Meski sejauh ini saya kerap mendapatkan penolakan, tapi secara tak langsung itu justru menguatkan mental saya. Bisa dibilang ada gunanya juga latihan menulis di sini, terus mendapatkan berbagai komentar pembaca—entah berupa pujian ataupun kritikan. Walaupun saya sadar orangnya itu-itu saja, bahkan jumlahnya kian menipis, yang penting tetap ada pembaca yang sudi mengapresiasi tulisan-tulisan saya. Ada satu orang saja yang menyukai ceritanya—selain diri sendiri, saya kira itu sudah lebih dari cukup.

--

Sumber gambar: https://www.theatlantic.com/entertainment/archive/2019/03/why-slaughterhouse-five-resonates-50-years-later/586180/
Read More
Sesampainya Yoga di rumah pada pukul 6 sore, sehabis pergi keluar untuk urusan tak penting, dia melihat bingkisan cokelat yang terbungkus plastik merah tembus pandang di meja laptopnya sesaat memasuki kamar. Tanpa perlu menebak-nebak, dia sudah tahu isi paket itu: dua buah novel. Itu hadiah dari suatu kuis yang dia ikuti satu bulan silam. Dari sekian banyak usaha yang telah dia coba lakukan dalam enam bulan belakangan ini (melamar pekerjaan; mengirimkan puisi, cerpen, dan esainya ke suatu media; ikut sayembara menulis cerpen, lomba mengulas buku, dll.), rupanya yang berbuah manis justru kuis iseng-iseng di Twitter.



Dia mulanya berpikir bahwa tahun ini merupakan tahun terburuknya sepanjang menjalani hidup. Dia juga mulai muak sama hidup lantaran berulang kali mengalami apes dan kegagalan. Namun menjelang tutup tahun begini, ternyata masih ada keberuntungan yang sudi menghampirinya. Cara pandangnya terhadap hidup dan tahun 2019 pun mulai bergeser sedikit. Hari ini sepertinya pantas buat dirayakan, pikirnya. Sekalipun hadiahnya paling-paling hanya senilai seratus ribu, tapi dia tetap ingin sekali mengingat tanggal hari ini. Siapa tahu ke depannya selalu bisa menjadi hari baik baginya. Dia lantas mengecek tanggal di ponselnya: 6 November.

Ketika sebuah hadiah, atau bisa dibilang juga suatu keberuntungan, datang kepadanya pada tanggal tersebut, apakah ada peristiwa penting lain yang terjadi di luaran sana? Dua menit berselang, rasa iseng di dalam dirinya mendadak terbit. Oleh sebab itulah, kini dia mengetik “6 November” di pencarian Google dan mengeklik tautan Wikipedia. 

Ririn Dwi Ariyanti, aktris yang pernah dia idolakan belasan tahun silam, lahir pada 6 November 1985. Pada tahun 1908, Cut Nyak Dhien—Pahlawan Nasional Indonesia asal Aceh yang sosoknya pernah menghiasi uang sepuluh ribu emisi 1998—meninggal dunia. Mundur jauh ke era Kerajaan Hindu-Buddha, pada tahun 1157, Empu Panuluh dan Empu Sedah berhasil merampungkan kitab Kakawin Bharatayuddha (berisikan perang antara Kurawa dan Pandawa) atas perintah Prabu Jayabaya. Pada 2011, Hari Raya Iduladha 1432 Hijriah jatuh pada 6 November. 

Yoga lalu membatin, banyak juga peristiwa menarik pada tanggal itu. Terus, apakah ada hal penting lain yang terjadi dalam hidupnya? Dia pun mencoba menelusuri kejadian-kejadian 6 November dalam sewindu terakhir. 


Sejauh yang dapat Yoga ingat, 6 November merupakan momen penting saat dia sedang mempersiapkan kado maupun kue ulang tahun untuk seseorang yang sekarang ini telah menjadi mantan kekasihnya. Novi Devitasari, pacar yang merangkap teman sekelasnya di kampus, lahir pada 7 November. Pada tahun 2013, Yoga meminta tolong kepada Winda (teman sekelasnya juga) untuk menemaninya mencari kue ulang tahun. Yoga sengaja mengajak Winda sebab dia merupakan teman baik Novi. Selain itu, rumahnya pun termasuk yang paling dekat dengan rumah Novi, sehingga dia juga bisa menitipkan kue itu di kulkas Winda. 

Yoga hanya memiliki uang 150 ribu di dompetnya. Dia bingung, apakah nanti ada kue yang harganya sekitaran segitu—atau kalau bisa di bawah itu? Dia begitu dongkol mengetahui kenyataan bahwa tanggal gajiannya masih sehari lagi. Dia gajian pada tanggal 7 setiap bulannya. Tapi jika tanggal 7 jatuh pada hari Sabtu atau Minggu, gajian itu akan dipercepat menjadi tanggal 5 atau 6. Sayangnya, pada bulan itu tanggal 7 bukanlah hari libur. Sialan, umpatnya dalam hati. Sebetulnya, sih, dia bisa saja membeli kue ataupun kadonya secara dadakan sepulangnya bekerja. Namun, dia tipe orang yang tidak suka tergesa-gesa dan takutnya kejutan itu malah jadi berantakan. Dia lebih suka dengan hal-hal yang dipersiapkan terlebih dahulu, minimal sehari sebelumnya. 

“Lu tahu toko kue ultah lain yang enak dan harganya seratus ribuan dekat-dekat sini, Win?” ujar Yoga kepada Winda begitu dia gagal mendapatkan kue karena kehabisan di salah satu toko di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. 

“Kalau di dekat-dekat sini setahu gue mah enggak ada lagi, Yog. Adanya di sekitaran Jombang.” 

“Lumayan jauh, ya. Gue enggak tahu jalan pula.” 

“Tenang aja, gue kan tahu.” 

“Tapi nanti kita baliknya kemalaman apa enggak, Win? Ini udah jam sembilan, masalahnya. Gue jadi enggak enak nih ngerepotin lu begini.” 

“Yeh, santai aja kali.” 


Setengah jam setelah itu, Yoga berhasil mendapatkan kue ulang tahun rasa tiramisu seharga 110 ribu, lalu ditambah dengan pisau pemotongnya serta lilin menjadi 120 ribu. Sisa uangnya pun dia belikan bingkai foto ukuran kecil dan biaya cetak foto (foto Novi berdua dengan dirinya). Pada keesokan harinya, acara mengejutkan sang pacar pun sukses besar.



Yoga sudah putus dengan Novi pada setahun berikutnya. Anehnya, dia saat itu masih tetap berusaha memberikan mantannya sebuah kado. Dia baru saja selesai membungkus jaket timnas Spanyol warna merah—warna kesukaan Novi.

Selagi Yoga bingung memikirkan kata-kata sebagai pengantar ucapan ulang tahun, muncul seseorang di dalam dirinya yang mengamuk dan berkata, “Hei, buat apa kamu pusing-pusing menuliskan kalimat indah untuk cewek kayak dia? Ini kamu mau kasih kado aja udah kelewatan begonya, tahu. Ingat, Yog, ingat! Dia telah memilih cowok lain ketimbang dirimu. Eh, kamu sendiri kok masih terus-menerus berharap pengin balikan sama dia. Jangan mengasihani diri sendiri begitulah.” 

Sebenarnya, Yoga membeli jaket itu lantaran Evan (teman kantornya) memintanya buat menemaninya datang ke distro khusus atribut bola. Begitu jam kantor berakhir, Evan bertanya kepada Yoga, apakah nanti sekitar habis Isya dia tidak ada acara ataupun kesibukan? 

“Enggak ada, Van. Kenapa?” ujar Yoga. 

Temenin gue beli jersey di daerah Joglo, yuk! Gue males pergi sendirian.” 

“Oh, ya udah, nanti berkabar aja.” 

“Sip, nanti kita ketemuan di Rawabelong.” 


Evan memilih satu jersey Real Madrid putih beserta jaketnya yang berwarna hijau toska. Ketika sudah siap membayar, Evan menggoda Yoga dengan bilang, “Lu enggak mau beli, Yog? Cuma nemenin gue aja nih?” 

“Jaket MU (Manchester United) gue kan udah ada dua. Jersey malah ada tiga. Itu aja udah jarang gue pake, Van.” 

“Beli buat adek lu atau siapa gitu. Bisa juga kan buat kado. Lu pilih aja tuh yang lagi diskon. Lumayan kan 50%.” 

Mendengar kata kado, Yoga otomatis teringat besok hari ulang tahun mantannya. Dan begitulah akhirnya dia terjebak rayuan Evan dan membeli jaket Spanyol itu.


“Ciyeee, dikasih kado sama mantan. Udahlah, mending kalian balikan lagi,” kata beberapa kawan kuliah Yoga yang melihat Novi sedang membuka bungkusan kado.

Pipi Novi berubah merah sebagaimana warna jaket yang lagi dia coba kenakan, dan Yoga sendiri juga merasa malu bukan main menerima ejekan-ejekan tersebut. Meskipun di dalam hatinya Yoga masih menginginkan hal yang menjadi ledekan teman-temannya itu, atau dengan kata lain: dia tak mau membohongi perasaannya, tapi dia cukup sadar diri akan seseorang yang sudah memilih pergi sebaiknya tak perlu diharapkan untuk kembali lagi. Terlebih lagi Yoga tiba-tiba terkenang kejadian berengsek suatu sore sepulang kuliah, ketika dia melihat Novi sedang memeluk gebetan atau pacar barunya di motor, padahal Yoga dan Novi baru putus sekitar satu minggu. Sudah berapa lama mereka dekat? Jika saja waktu itu kondisinya tidak macet, Yoga ingin sekali menabrak mereka dari belakang. Jadi, daripada balikan sama mantan, kata Yoga dalam hati, mending gue makan tai luwak—tentu dalam bentuk kopi. 


Setan. Setan. Setan. Yoga memaki ingatannya yang bisa-bisanya mengajak dirinya kilas balik tentang Novi. Kenapa dua momen 6 November itu justru berkaitan dengan mantannya yang satu itu? Memang, dari semua mantan baru dialah seseorang yang membuat Yoga merasa lebih dekat dengan keluarga si pacar. Yoga seakan-akan merasa sudah diterima oleh keluarganya, khususnya akrab banget dengan adiknya Novi karena setiap mengapel sering main PlayStation bareng. 

Tapi dari sekian banyak memori pada 6 November, apakah ada hal lain yang tidak bersentuhan sama sekali dengan percintaan?

Yoga mulai teringat akan kejadian konyol satu tahun lalu. Dia lagi sangat frustrasi dengan keadaan baterai laptopnya yang soak kala tengah menggarap proyek kumpulan cerpen. Laptopnya harus selalu dicolok pengecas. Tersenggol sedikit saja kabelnya, pengisi daya itu langsung tidak bekerja dan laptopnya mendadak mati. Lalu, kemarahan pada kondisi laptopnya itu entah mengapa malah berimbas pada penghapusan sebagian cerpen di folder laptopnya. Sebelum menghapus beberapa naskahnya itu, Yoga tengah asyik membaca ulang cerpen-cerpennya dalam rentang 2015-2017. Awalnya sih tidak ada kendala sewaktu dia membuka folder 2017 dan 2016. Tapi begitu dia pindah ke folder 2015, ada lebih dari 5 cerpen yang membuat dirinya melontarkan sumpah serapah saking keterlaluan jeleknya. Setidaknya, dia bersyukur telah menghapus sampah yang tak pantas lagi untuk dibaca ulang, apalagi didaur ulang. Toh, berkat hal itu dirinya bisa lebih fokus memperbaiki gaya menulisnya pada kemudian hari tanpa perlu mengingat-ingat cerita busuk macam apa yang pernah dia ciptakan. 


Ayolah, apa lagi peristiwa 6 November? Masa cuma itu? 

Berhubung ingatannya tak sanggup lagi menggali lebih dalam, dia mencoba memancingnya dengan menyusuri twit-twitnya menggunakan berbagai kata kunci. Tak ada hal menarik dalam pencarian itu. Dia lalu menengok tulisan-tulisan di blognya. Akhirnya, dia berhasil menemukan sebuah tulisan yang termuat pada 6 November 2015, bertajuk Yang Kedua. Sebuah cerita sedih ketika dia mengenang adik bungsunya yang meninggal dalam kandungan Ibu. 

Walaupun di tulisan itu Yoga tetap memasukkan lelucon dan bisa tersenyum sedikit, tapi kesedihan telanjur menyelimuti dirinya. Baru saja beberapa menit yang lalu dia merasa gembira karena hadiah berwujud buku. Lalu, mengapa rasa nelangsa bisa mengambil alih dirinya secepat itu? Dia butuh sekali pertolongan. Dia perlu mencari eskapisme. Kala itulah di ponselnya terdapat notifikasi Twitter. Yoga membuka kunci dan melihat ada mention dari Agia Aprilian, kawannya yang tinggal di Bandung. Agia melampirkan sebuah klip. Yoga lantas mengambil earphone, mencolok kabel ke ponsel dan memasang alat pendengar ke kedua kupingnya, kemudian memutarnya.


Sepuluh detik pertama, Yoga langsung terbahak-bahak sembari memukul-mukul kasur. Bahkan sampai video itu berakhir, dia masih cengengesan dan sulit menghentikan tawanya. Yoga lalu mengucapkan terima kasih kepada kawannya. 

Biarpun niat awal Agia mendedikasikan klip video itu mungkin supaya Yoga bisa terhibur dan tak perlu lagi ripuh mengenang memori singkatnya bersama perempuan manis berkemeja kuning (pada bulan Oktober, Yoga mengkhususkan blognya cuma diisi untuk segala hal tentang Mbak Manis Kemeja Kuning), tapi ternyata klip tersebut juga bisa menjadi sebuah pelipur lara dalam kondisi dan situasi apa pun. 

Bisa dibilang pilihan lagu Agia itu juga amatlah unik dan menarik. Lagu lawas itu dulu pernah diputar oleh orang tua Yoga saat dirinya masih bocah dan seolah-olah memiliki nilai istimewa di hatinya. Walaupun dulu dia tak tahu apa arti dari lagu itu, yang penting nadanya terdengar riang gembira. Lagu maupun klip itu pun membuatnya lupa dengan rasa sedih. Kini, dia jadi merasa malu dengan usianya yang kurang cocok lagi disebut muda, tetapi masih saja menjalani persoalan cinta-cintaan sejenis itu, apalagi harus bersedih karenanya. 

Yoga lalu merenung, rupanya bantuan-bantuan dalam hidup bisa datang dari mana saja, bahkan dari arah yang tak terduga. Seraya merebahkan diri di kasur, Yoga menyimpulkan kalau tanggal 6 November sepertinya bisa menjadi tanggal yang baik untuknya pada kemudian hari. Entah apa yang akan terjadi setahun setelahnya. Apakah dia berhasil melupakan sosok perempuan berkemeja kuning itu, atau malah dipertemukan dengannya? Atau bisa jadi dia sudah tak peduli lagi sebab kepincut perempuan lain yang lebih aduhai? 

Sambil tetap menerawang jauh ke depan, mungkinkah itu tanggal perkawinan Yoga kelak? Atau menjadi tanggal saat dirinya memenangkan sayembara menulis? Atau hari di mana dia berhasil menerbitkan sebuah buku? Apa pun itu, semoga 6 November tidak berubah 180 derajat dan menjadi hari paling celaka untuknya.
Read More
Mana aku tahu kalau jadwal acara pernikahan Widya Sari bertepatan dengan agenda Kampanye Putih. Aku tidak berhubungan dengan kegiatan politik itu, tetapi lokasi resepsi pernikahannya yang dekat dengan Senayan tentu akan terkena imbasnya: macet. Apalagi acaranya hari Sabtu pukul 19.00-21.00 WIB yang berarti malam Minggu. Ini mah bakalan padat merayap.



Saat aku coba mengeceknya di Google Maps, dugaanku ternyata benar. Jalur yang akan kulewati nanti hampir semuanya berwarna oranye dan merah. Jarak tempuh yang semestinya hanya 25 menit berubah menjadi 1 jam 4 menit. Tiba-tiba di kepalaku melintas sebuah pikiran, apakah aku tidak perlu datang ke perkawinannya?

Aku mengingat ketika sebulan silam teman kuliahku—yang hampir tiga tahun tidak bertemu—itu mengabarkanku tentang pernikahannya. Baru kali itu ada teman yang mau repot-repot memberikanku pilihan dalam menerima undangan; mau dikirim ke rumah via ojek daring, ketemuan di suatu tempat, atau lewat digital. Dari pengalaman yang sudah-sudah, mayoritas dari mereka biasanya hanya mengirimkan undangannya lewat WhatsApp atau pesan medsos, bahkan ada pula yang cukup menyebar undangan itu ke sebuah grup karena malas atau sibuk.

Berhubung aku sok memahami tentang persiapan menikah yang pasti dibuat pusing akan banyak hal, aku tak mau menambah bebannya. Jadi, aku pun mengatakan kirim via digital sudah cukup. 

Beneran enggak apa nih?” tanya Widya. 

Mungkin ada banyak orang yang enggan datang jika undangan itu tidak ada bentuk fisiknya, sehingga Widya sampai bertanya demikian. Aku menjawab santai aja. Selama aku sehat dan waktuku sedang luang, aku akan berusaha datang.

Kalimat “Tiada kesan tanpa kehadiranmu”—sebagaimana ucapan di undangan ulang tahun saat aku masih bocah—dari Widya menutup pembicaraan kami. Secara tak langsung dia betulan mengharap kedatanganku. Baiklah, aku siap menerjang kemacetan. 


Gilang Kodimangsu, penulis romansa yang baru menerbitkan satu kumpulan cerpen, Cinta Itu Ketololan Tak Berujung, dan kini memutuskan berhenti menulis lantaran bukunya hanya terjual 29 eksemplar dalam setahun, pernah berujar, “Datang kondangan sendirian dan malam Minggu adalah kombinasi terburuk nomor dua setelah tersesat dan terjebak macet.” 

Bisa kau bayangkan bagaimana aku mengalami keduanya sekaligus? Kenekatanku tetap berangkat kondangan tanpa mengajak partner sebetulnya sudah lumrah. Namun, terjebak macet dan buta arah jelas bikin aku mengutuk kesendirian ini. Memiliki teman seperjalanan yang dapat membantuku melihat aplikasi penunjuk jalan atau buat teman mengobrol jelas lebih menggembirakan. Tapi, walaupun sendirian begini serta banyaknya menit yang terbuang dalam perjalanan, setidaknya untuk pertama kalinya dalam hidup aku jadi punya waktu melimpah memikirkan beberapa hal terkait kondangan. 

Aku tidak mengerti kenapa lampu merah durasinya bisa sampai 120 detik, sedangkan hijau cuma 20 detik—yang bikin aku sampai tiga kali merasakan lampu merah saking kacaunya kondisi lalu lintas. Sehabis memaki keadaan macet sialan ini, aku malah tersadar kalau hal ini masih mending daripada sewaktu kondangan naik kereta komuter. Aku pernah melakukannya dua kali. Ketika kondangan ke Citayam dan Tangerang. 

Aku hanya akan bercerita tentang perjalanan kondangan ke Tangerang yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Jalur kereta dari Stasiun Palmerah menuju Stasiun Tangerang amatlah gila. Dari awal perjalanan, mau tak mau aku sedikit-sedikit kudu transit. Dari Palmerah ke Tanah Abang aku cuma melewati satu stasiun, lalu aku mesti pindah jalur. Dari Tanah Abang ke Duri begitu juga. Barulah nantinya aku bisa menuju stasiun akhir—Tangerang—tanpa perlu pindah-pindah kereta lagi. Meski begitu, tetap saja kereta di jalur ini sangatlah terbatas. Berbeda sekali dengan jalur-jalur menuju stasiun lain yang setiap 15 menit sekali pasti ada jadwal keberangkatan kereta. Jika aku perkirakan, khusus untuk jalur Stasiun Duri ke Stasiun Tangerang para penumpang harus menunggu selama dua kali lipat dari jadwal biasanya.

Sayangnya, sebelum sampai ke tahap itu, aku masih harus menanti kereta di Stasiun Tanah Abang. Lebih-lebih pada waktu sehabis Zuhur yang rasanya menjengkelkan sekali. Orang-orang yang habis berbelanja ke Pasar Tanah Abang selalu berjubel memenuhi stasiun. Hawa gerah dan serangan bau ketiak di tengah kerumunan itu pun seakan-akan membuat neraka pindah ke Bumi. Belum nanti di dalam keretanya yang tambah berdesak-desakan. Kau enggak usah berpikir akan mendapatkan tempat duduk, bisa leluasa bergerak dan terhindar dari penumpang beraroma kecut mungkin rasanya sudah lebih dari cukup.

Akibat momen jahanam dalam perjalanan ke Tangerang itu, aku kini akan berpikir ulang kalau suatu hari nanti bakal pergi kondangan naik kereta komuter lagi. Berangkat dari rumah dengan pakaian rapi dan wangi, terus begitu sampai tujuan aku harus mampir ke masjid terdekat dan menumpang di toiletnya untuk membenahi penampilan sekaligus menyemprotkan parfum. Penderitaan berangkat kondangan sendirian saat naik motor begini malah terasa tidak ada apa-apanya. 


Aku sudah sampai di gedung resepsi pernikahan Widya Sari. Perjalananku rupanya memakan waktu 56 menit. Tidak buruk-buruk amat. Agak percis dengan perkiraan di aplikasi penunjuk jalan itu.

Aku menulis namaku di buku tamu, kemudian mengeluarkan amplop dari saku kemeja batikku. Selagi aku memasukkan amplop ke dalam kotak yang tersedia, aku jadi terkenang pertanyaan Ivan, salah seorang kawan dekatku: ”Kondangan segini wajar enggak, sih?”

Segini yang Ivan maksud senilai dengan dua paket Panas Mekdi. Aku sebenarnya juga pernah mempertanyakan hal itu. Kala UMR Jakarta semakin bertambah setiap tahunnya, apakah uang segini masih layak sebagai angpau? Dalam tiga tahun terakhir ini aku masih sering mengisi amplop dengan jumlah segitu.

Beberapa dari temanku menjawab itu tergantung lokasi resepsinya. Kalau di rumah mungkin wajar, sedangkan di gedung kayaknya sedikit. Biaya mereka menyewa tempat dan katering itu perlu diperhitungkan. 

“Ah, kalo si Rudi mah enggak apa-apa kayaknya sekalipun itu acaranya di gedung. Dia aja jarang makan setiap kondangan,” ujar Herman (temanku yang lain) saat kami sedang berdiskusi perihal amplop kondangan. 

Pernilaian Herman terhadapku mungkin ada benarnya. Aku nyaris tidak pernah menyantap hidangan utama setiap kali kondangan di gedung. Aku palingan hanya mencicipi dua jenis makanan seperti bakso dan sate ayam (somay buat alternatif jika pilihan barusan tidak ada). Itu saja biasanya sudah cukup mengenyangkanku. Segala hal yang berhubungan dengan kambing jelas bukanlah pilihanku. Aku paling enggak doyan, sehingga tak perlu mengurangi jatah para penikmat daging kambing. 

Omong-omong soal jatah, aku sering tidak mengerti dengan beberapa temanku yang ingin mencoba semua menunya. Selain bakso, sate ayam, dan somay, mereka masih siap menggasak kambing guling, soto betawi, empal gentong, spageti, dan zuppa soup. Belum lagi hidangan penutup seperti buah-buahan, puding, dan es krim. Dari ketiga makanan pencuci mulut itu, palingan aku cuma akan memilih satu, yakni es krim.

Itu semua bukan karena aku tidak doyan makan, tapi kebiasaanku mengisi perut dari rumah sebelum bepergian ini memang sulit hilang. Mulanya, itu cuma buat jaga-jaga seandainya sampai di sana makanannya sudah pada habis. Entah kenapa kebiasaan ini malah terus berlanjut. Sebab aku tak mau kejadian bedebah yang sering terjadi 3-4 tahun silam itu terulang kembali. 

Dulu, sepertinya ada sekitar belasan kali aku kondangan di gedung dan enggak menyantap apa-apa. Akibat telat sampai di lokasi acara, aku hanya meminum air putih. Semua stan makanan sudah dibereskan dan mau tutup. Hidangan utama yang jelas bukan pilihanku pun nyaris tak bersisa. Ke manakah perginya nasi goreng, ayam goreng, gurame saus asam manis, rendang, dan sambal goreng kentang? Di meja makan cuma tersedia nasi putih, kuah sop, dan kerupuk. Baru melihatnya saja langsung enggak sreg, terlebih memakannya. 

Herman yang suatu waktu ikut terkena apes bersamaku pernah bilang, “Malu kalau makan koretan. Mending makan gengsi.”

“Emang kenyang?” tanyaku. 

“Yang penting harga diri tetap terjaga. Kita masih mampu makan di luar, kan?” 

Sepulang kondangan kami lantas segera menghibur diri dengan mampir ke restoran cepat saji terdekat. Maka, sejak momen kampret itu, persiapan mengisi perut dari rumah pun muncul begitu saja. Tak perlu sampai kenyang, yang penting bisa mengganjal lapar kalau nanti kehabisan makanan. 

Selain persoalan makanan, aku juga entah mengapa jarang mengambil suvenirnya. Mungkin karena lupa atau terlalu malas buat membawanya. Kebiasaan memberikan suvenir pada saat tamu baru datang ini lumayan merepotkan buatku. Satu tanganku tentu jadi terpakai untuk memegangnya. Oleh sebab itu, aku memilih buat menitipkannya saja. Nanti pulangnya baru aku ambil. Dan begitulah akhirnya aku bisa sampai terlupa dengan suvenir. Aku sejujurnya lebih suka yang konsepnya diberikan kertas semacam kupon, barulah nanti sewaktu pulang ditukarkan dengan barangnya. Syukurlah perkawinan Widya Sari menerapkan apa yang aku maksud. 

Aku memasukkan kupon itu ke kantong celana belakang seraya bertanya-tanya, apakah nanti aku sempat bertemu seseorang yang kukenal—selain kedua mempelai—di acara pernikahan ini? Aku tak ingin benar-benar sendirian dan merasa terasing di gedung ini. Baguslah pertanyaan itu pun langsung terjawab ketika aku baru berjalan sepuluh langkah. Aku bertemu Lena (teman sekelasku selama semester 1-4) bersama suaminya. Awalnya kami bertukar kabar dan basa-basi sekadarnya, lalu dia otomatis bercerita datang ke sini dengan naik Zrap Car. Berangkat dari Depok habis Asar dan baru tiba Magrib tadi. Perjalanan yang lumayan jauh. Demi menghadiri perkawinan teman baik zaman kuliah, rupanya ada banyak waktu dan biaya yang dia korbankan. Hal itu pun lantas membawaku pada kejadian kondangan-sialan-di-Tangerang-menggunakan-kereta-komuter itu lagi. 


Aku rasa diriku telah banyak mengorbankan waktu, biaya, dan tenaga di perjalanan tersebut. Jarak tempuh yang kutebak setelat-telatnya hanya satu jam setengah, ternyata malah mencapai tiga jam lebih. Menunggu kereta di Stasiun Tanah Abang dan Duri menghabiskan hampir dua jam. Perjalanan kereta dari Duri ke Tangerang sekitar 45 menit. Sisanya barulah dari stasiun ke lokasi pernikahan. 

Yang aku heran, kenapa aku bisa-bisanya percaya begitu saja dengan informasi dari sang mempelai kalau letak rumahnya dekat dengan Stasiun Tangerang? Jarak ini kan relatif. Apakah enam koma sembilan kilometer itu termasuk dekat?

Dari Stasiun Tangerang aku mesti naik kendaraan lain. Aku bertanya kepada bapak-bapak di sekitaran stasiun tentang alamat itu. Dia memberitahuku supaya naik angkot T 03. Katanya, dari situ sudah dekat. Aku sempat ragu mengingat perkataan temanku sebelumnya. Aku lalu mencoba memastikannya lagi, “Betulan dekat nih, Pak?” 

“Habis turun angkot langsung sampai ke kompleks itu, Dek. Nanti dari pertama naik langsung bilang aja sama abangnya supaya enggak kelewatan.” 

Nada suara bapak itu sungguh mantap. Sorot matanya juga menyiratkan ketegasan. Suatu bukti kalau itu bukan jawaban sembarangan. Kali ini aku mencoba buat percaya. Aku pun naik angkot dan turun di depan gapura bertuliskan “Perumahan Damai Permai”. 

Aku melihat aplikasi peta. Benar ini tempatnya. Yang tidak kusadari adalah RT dan RW-nya. Lokasi acara pernikahan temanku ternyata masih masuk ke dalam lagi. Dari pintu masuk kompleks ini ternyata aku harus jalan kaki lagi sekitar 1,3 km. Efek kelamaan berdiri di kereta membuat kakiku tak sanggup berjalan lebih jauh. Jika tahu begini, kenapa dari awal aku tidak terpikir sedikit pun untuk memilih layanan ojek daring, ya? Celakanya, saat baru ingin membuka aplikasi layanan ojek daring, ponselku sudah sekarat. Bodoh, penglihatanku bisa-bisanya luput untuk mengecek ikon baterai. Empat persen tidak akan cukup buat memesan dan menunggu kedatangan si pengemudi. Aku takut nanti dia akan bingung mencariku jika ponselku mati dan tak bisa lagi dihubungi. Aku tidak ingin merepotkan orang lain atas kecerobohanku sendiri.

Berengsek, kenapa niat baik untuk datang kondangan ke acara teman justru jadi terlalu ribet begini, sih? 

Aku akhirnya tak punya pilihan lain selain memesan ojek pangkalan di dekat situ. Yang lupa aku perhitungkan, abangnya mematok harga kelewat tinggi. Aku berusaha menawar sejago mungkin, tapi hasilnya cuma berkurang 3.000. Bermaksud ingin berangkat kondangan dengan cara hemat, aku malah buntung. Ongkos transportasi pergi-pulang kondangan justru bisa dua kali lipat dari isi amplopku. Luar biasa.

Lantaran kondangan terkutuk itu, aku tiba-tiba jadi ingat nasihat ibuku. Beliau bilang, “Kalau ndak akrab-akrab banget dan lokasinya kejauhan, mending kamu ndak usah datang. Seandainya merasa sungkan, kamu kan masih bisa titip amplop ke teman yang lain.” 

Aku pun jadi memikirkan hal ini: mana sih yang lebih penting antara kehadiran dan isi amplop? 

Tanggal 27 pada enam bulan yang lalu, Aldo—teman sebangku saat SMA yang merangkap sahabat—melangsungkan pernikahannya. Mungkin buat sebagian orang yang sudah menerima gaji pada tanggal 25 itu adalah tanggal muda. Sayangnya, gajianku jatuh pada tanggal 1. Kondisi keuanganku hari itu lagi krisis-krisisnya. Bulan itu pengeluaran entah kenapa sedang banyak-banyaknya. Ayah masuk rumah sakit dua kali, adikku harus bayar darmawisata sekolahnya, dan aku sendiri mesti perpanjang SIM C sekaligus baru saja servis motor ke bengkel. Uang di rekening tersisa 5 digit dan tentu tidak bisa diambil, sedangkan duit di dompet hanya cukup buat makan dan transport sampai tanggal gajian datang.

Sebesar-besarnya aku palingan cuma mampu mengamplopi uang segini yang Ivan katakan tempo itu. Terus aku bercerita kepada Ibu, “Apa ini amplopnya perlu dikasih nama? Aku malu kondangan cuma segini, Bu.” 

Ibuku lalu berkata, “Apa temanmu tahu kondisi keuanganmu, Rud? Melihat kamu datang mungkin sudah lebih dari cukup. Mending kamu doakan aja yang terbaik buat kehidupan mereka kelak. Semoga temanmu bisa mengerti.” 

Aku akhirnya berusaha untuk selalu menulis nama di amplop sekalipun cuma kondangan dalam jumlah segini. Aku juga tak mau memaksakan diri buat selalu datang jika keadaan memang tidak memungkinkan; hujan, sakit, aksesnya sulit, dan bokek. 


“Kau datang sendirian?” tanya Andi, teman kuliahku yang lain, membuyarkan lamunanku tentang hal itu. Lena dan suaminya ternyata sudah tidak berada di dekatku. Sepertinya aku terlalu banyak bengong. Sampai-sampai tidak sadar, sejak kapan mereka lenyap? Tapi, ya sudahlah. Sekarang sudah ada Andi. Aku pun menjawab iya, lalu bertanya balik kepadanya. 

“Enggak, aku datang sama istri dan anakku. Tapi anakku dari tadi nangis terus. Jadi istriku pilih di mobil aja. Takut berisik kalau ikut masuk ke gedung.”

“Kau udah makan, Ndi?” 

Andi menggelengkan kepala dan mengajak aku mengantre bakso. 

Ketika sedang mengantre bakso, aku melihat perempuan berambut ikal di stan seberang. Lalu, kalimat “aku datang sama istri dan anak” terlintas kembali di benakku. Kedua hal itu otomatis mengajakku ke acara perkawinan lainnya. Aku berasa deja vu

Aku lagi mengantre bakso dan melihat seorang perempuan berambut ikal yang wajahnya terasa familiar sedang menyantap somay. Aku mencoba mengingat-ingat dia itu siapa, hingga akhirnya muncul sebuah nama: Selvi. Sepuluh tahun silam dia adalah gebetanku saat kelas satu SMA. Kebanyakan teman SMA-ku kini terlihat aneh semenjak mengenal kosmetik. Tapi dandanan Selvi tampak natural. Kecantikannya tidak memudar sedikit pun. Justru bagiku kian memukau. Ditambah lagi hari itu dia mengenakan dress terusan merangkap rok berwarna merah marun dan flat shoes hitam. Warnanya kontras sekali dengan kulitnya yang putih. Penampilan simpel tapi tetap elegan itu pun membuatku semakin terpesona.

Mungkinkah perjumpaan hari ini adalah sebuah takdir dari Tuhan? Aku kini dipertemukan lagi dengan Selvi setelah terpisah enam tahunan tanpa kabar sedikit pun? Apakah jodoh memang tidak akan ke mana-mana? Baiklah, nanti sekelarnya mengantre aku berniat untuk menyapanya. 

Tangan kiriku sudah memegang semangkuk bakso. Tangan kananku siap untuk mengajak Selvi salaman. Baru saja aku ingin mendekat ke arahnya, datang seorang pria berambut klimis dan bertubuh jangkung bersama seorang bocah kisaran dua tahun. Anak kecil itu berlari menghampiri Selvi.

Selvi pun refleks menaruh piring yang sedang dipegangnya ke meja terdekat dan langsung menggendong anak tersebut. Aku sangat mengerti tatapan itu. Tatapan seorang ibu. Aku tidak jadi meneruskan langkahku. Aku segera memutar balik sambil kilas balik kenanganku bersamanya. Tepatnya, saat sepuluh tahun silam Selvi menolakku begitu kunyatakan cinta.

“Aku udah punya pacar, Rud,” kata Selvi. “Lagian kamu itu udah aku anggap teman baikku dari SMP. Sejujurnya, aku kaget banget kalau kamu punya perasaan sama aku.” 

Aku mengutuk ketololanku akan kenyataan itu. Aku sama sekali tidak tahu dia memiliki kekasih. Kami berteman dari SMP kelas dua karena sekelas, kemudian kelas tiga kami sekelas lagi, dan berlanjut sampai kami masuk SMA yang sama. Aku sempat berpikir bahwa pertemuan kami itu adalah takdir. Namun, hari ini realitas menggampar segala harapan yang dulu pernah kususun itu. Kalimat “Aku udah punya pacar” telah berevolusi menjadi “Aku udah punya suami dan anak.” 

Mampuslah sudah. 


“Rud, maju. Kau bengong aja dari tadi,” ujar Andi. 

Perkataan Andi itu membuatku linglung. Haruskah aku maju? Tapi maju ke mana dan untuk apa? Aku tidak tahu sedang berada di mana sekarang. Di sekelilingku tidak ada seorang pun. Hanya ada suara Andi dan kegaduhan lain entah berasal dari mana. Aku juga tak bisa menatap ke depan. Di sana sepertinya tak ada apa-apa. Semuanya terlihat gelap. Jika aku melangkah, mungkinkah di depanku ada lubang keterpurukan? Aku takut terjatuh. 

“Maju, Goblok. Kau kenapa sih, Rud? Ini enggak enak sama orang yang ada di belakang kita. Kalau masih enggak mau maju juga, kusiram pakai kuah bakso kau, ya!” 

Bakso? Oh iya, aku sedang mengantre di stan makanan. Aku memperhatikan sekeliling. Aku berada di perkawinan Widya Sari. Tidak ada Selvi. Perempuan yang tadi sempat kulihat sekilas tentu saja orang asing. Oke, aku telah kembali ke masa sekarang. 

Aku sekonyong-konyong jadi berpikir sembari merenung, apakah selama ini aku selalu diam di tempat sembari sesekali menengok ke belakang kayak tadi? Benarkah aku kerap ragu-ragu dalam melangkah dan menentukan pilihan? Aku teramat bingung untuk menjawab pertanyaanku sendiri. Di ruangan ber-AC ini aku merasa tubuhku berkeringat. Sepertinya aku grogi dan pori-poriku mengeluarkan banyak keringat dingin dalam sekejap kala memikirkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

Antrean selesai. Aku dan Andi mencari tempat duduk di sebelah kanan ruangan. Sial, sudah tidak ada lagi kursi kosong. Kami terpaksa makan sambil berdiri. Andi mulai menyantap bakso itu dengan sangat lahap. Anehnya, bakso yang kukunyah dan kuahnya kok terasa hambar? Aku memang lupa memberikan saus, kecap, dan sambal, tetapi kenapa lidahku seakan-akan mati rasa begini? 

Mengingat kejadian Charlie Brown—tokoh utama dalam komik strip Peanuts garapan Charles M. Schulz—yang memfavoritkan selai kacang dan kehilangan rasanya itu akibat cinta bertepuk sebelah tangan, aku jadi menyimpulkan ini semua pasti karena otakku terlalu banyak mengenang momen buruk saat kondangan sendirian. Barangkali momen malam ini merupakan isyarat bahwa aku butuh mencari partner. Selain sebagai teman kondangan, tentu agar aku punya lawan ataupun kawan bicara yang asyik, terus aku tidak perlu lagi terjebak kenangan masa lalu, atau bahkan aku memang kudu serius dalam memperbaiki persoalan asmaraku yang sebelum-sebelumnya kerap mengalami kegagalan.


April 2019

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/people-couple-man-guy-woman-2595862/
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home