Kala kukirimkan pesan tentang hujan rinduku terhadapmu yang jatuh terlalu deras, apakah kau akan menganggap diriku sedang memburas? Aku lantas mengira-ngira jawabanmu yang hanya menghamburkan tawa, atau kau akan balik bertanya, “Tapi bagaimana kau bisa merasakan kangen jika tidak mengingat parasnya?”

Saat itulah kukisahkan dongeng lama tentang dunia virtual yang kumainkan. Aku tak pernah tahu tentang lawan bicaraku. Apakah ia pria atau wanita, apakah ia sudah tua atau masih muda, apakah ia jujur atau dusta. Aku pernah menolong seseorang dari api maut yang disemburkan Naga Emas, raja dari segala hewan. Lalu kami bersatu untuk melawan, hingga kami menjadi kawan. 

“Jangan berbelit-belit, apa inti kalimatnya?” tanyamu. 

“Kita bisa berbuat baik kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Begitu pula kangen. Kita bisa merindukan siapa saja, walaupun belum sempat ada temu.” 

“Seperti cinta dan rindu kepada Tuhan?” 

“Tentu saja mencintai manusia tidak dapat disamakan dengan Sang Maha Esa. Meski begitu, sepertinya aku agak mengerti maksudmu. Sejujurnya, aku tidak terlalu paham soal cinta digital atau semacam itu, tapi kita memang bisa merindukan seseorang tanpa perlu mengetahui wujudnya.”

“Alah, omong kosong. Kau pasti memiliki keinginan untuk menemuinya lagi, kan? Kau pasti ingin melihat bentuk fisik, terutama wajahnya.”

“Bagaimana ya, perasaan semacam itu hadir tanpa bisa dicegah. Seperti hasrat ingin menggaruk ketika ada bagian tubuh yang gatal. Sewaktu kita rindu terhadap Tuhan, misalnya, kita juga akan menemuinya lewat ibadah, bukan? Kita mencoba berkomunikasi kepada-Nya. Terlepas dari kalimatku tadi, aku entah mengapa sangat percaya kalau kau itu memang manis. Semanis kata-katamu.” 

“Analogimu boleh juga. Tapi kenapa kau bisa kangen dan sangat ingin berjumpa denganku? Benarkah kau mengira aku manis? Apakah menurutmu aku ini pribadi yang baik? Kau kan belum mengenalku. Lalu, bagaimana jika ternyata kau nanti kecewa dengan kenyataan yang tidak sesuai khayalanmu itu?”

“Kita kan pernah berjumpa dua tahunan lalu. Jika memoriku tidak berkhianat, kau memanglah manis. Jika soal kepribadian, aku hanya bisa menebak-nebak dari caramu tersenyum, berbicara, dan berjalan. Bagiku, kau tampak kalem dan elegan. Aku tak tahu bakal kecewa atau tidak sebelum kita kembali bertemu. Lagi pula aku tidak berharap imajinasiku mesti akurat. Daripada menjawab pertanyaanmu lebih jauh, boleh aku bertanya?” 

“Kalimatmu yang barusan itu juga sebuah pertanyaan, Bodoh. Tapi tak apa, silakan bertanya lagi.” 

“Seandainya kau kelak bertemu dengan Tuhan, lalu melihat bentuknya yang jauh dari gambaranmu, apakah kau juga akan kecewa?”

“Pertanyaanmu sinting! Apa kau sendiri pernah membayangkan wujud Tuhan?” 

“Sewaktu kecil, sebelum aku mengetahui bahwa Tuhan tidak memiliki jenis kelamin, aku mengira Dia serupa kakek-kakek berambut panjang dan berjenggot lebat yang tubuhnya tegap, tatapannya meneduhkan, serta auranya penuh kebijaksanaan.” 

“Ternyata imajinasimu tentang Tuhan seperti para sufi yang sudah tua atau serupa dengan para filsuf Yunani terkenal itu, ya?” 

“Bisa dikatakan demikian.” 

“Kalau aku justru mengira Ia sesosok bocah sebagaimana tokoh ‘Beliau’ di novel Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, Semua Ikan di Langit. Sebelum membaca buku itu, aku juga sudah berpikiran ke arah sana.”

“Tunggu, kau kok bisa hafal nama Ziggy? Aku terkesan.”

“Nama belakangnya tinggal dipecah jadi empat. Zezsya-zeo-vienna-zabrizkie. Dengan begitu akan lebih mudah dihafal.”

“Cara kita sama berarti. Kalau soal Tuhan itu seperti bocah, aku juga hampir berpikir begitu, sih. Bedanya, aku membayangkan wujud Tuhan kayak bayi. Sebab terkadang aku bingung membedakan mana laki-laki, mana perempuan, ketika bayi tersebut memakai baju tanpa motif. Lalu, bayi tidak memiliki dosa. Wajah mereka menggemaskan, membuat setiap orang ingin memandanginya berlama-lama. Bayi juga tubuhnya harum. Air kencingnya bahkan belum terhitung najis.”

“Ada-ada saja pikiranmu.”

“Pikiran memang suka liar dan tak terkendali. Jadi bagaimana? Kapan kita bisa bertemu lagi?” 

“Berkomunikasi saja belum, tiba-tiba sudah ingin berjumpa. Pelan-pelan, Sayangku, lakukan selangkah demi selangkah.” 

“Apa maksud kalimatmu?”

“Apa kau tidak sadar? Sedari tadi kita tidak benar-benar mengobrol. Kita hanya berdialog di dalam kepalamu. Semua nonsens ini cuma sebatas khayalan menyedihkanmu.”

“Maaf, aku mendadak lupa. Aku terhanyut ke dalam cerita. Oh iya, aku mau mengaku: meskipun kisah kita ini tidak nyata, setidaknya perasaan tentang rindu dan diriku ini benar-benar menyukaimu itu merupakan fakta.”

“Sampaikan langsung ke orangnya. Mengatakannya kepadaku tidak akan mengubah apa-apa.” 

“Bagaimana caranya? Aku saja tidak tahu nama dan akun media sosialmu. Aku sudah mencarimu ke segala platform, kenapa hasilnya tetap nihil? Tapi ya sudahlah, aku juga mulai capek. Setidaknya, dengan berakhirnya cerita ini aku bisa merasa puas. Siapa tahu saja kau –yang sebenarnya– suatu hari diam-diam akan membacanya.”



--

PS: Jika kamu (Mbak Manis Kemeja Kuning) yang saya maksud ini membacanya, apakah kamu sudi meninggalkan komentar, atau menghubungi saya lewat surel maupun media sosial?

Maaf, ya, jika gambarnya ada simbol hati dan terlihat norak. Tapi kali ini saya memang ingin seperti manusia yang baru mengenal kasmaran. Segala hal tentangmu mungkin juga akan terus membuat saya menjadi norak.
Read More
It’s weird to feel like you miss someone you’re not even sure you know.” —D. F. W.

--

Aljabar tidak lolos dalam sepuluh besar Kompetisi Matematika tingkat provinsi Jakarta, lalu mencoba peruntungannya lewat lomba puisi yang tenggatnya tersisa dua hari lagi. Meskipun dia awalnya sempat sadar bahwa kegagalannya itu karena dirinya kurang tidur dan tidak fokus mengerjakan soal, tapi penyebab utamanya pastilah gadis manis itu. Seorang siswi SMA berambut sebahu yang mengenakan bando kuning. Sosoknya telah menghantui Aljabar dalam satu bulan ini. 



Semua bermula ketika Aljabar terlambat datang ke SMA 78 untuk mengikuti Kompetisi Matematika tingkat kota madya Jakarta Barat. Aljabar terpilih sebagai perwakilan dari sekolahnya, SMA 16, dalam bidang Matematika. Selain Aljabar, ada dua teman lainnya yang berpartisipasi mewakilkan sekolah, yakni Gina dalam bidang IPA dan Agus dalam bidang IPS. Kompetisi ini selalu menjadi ajang tahunan yang mengasyikkan khusus bagi para siswa dan siswi kelas 11. Terlepas dari manfaatnya yang bisa mengharumkan nama sekolah dan dipandang sebagai murid berprestasi, terkadang kompetisi semacam ini juga dapat menjadi momen silaturahmi sekaligus menambah relasi. 

Aljabar sendiri pun sudah berniat untuk cuci mata memandangi siswi-siswi aduhai dari sekolah lain. Syukur-syukur bisa berkenalan, lalu menjadi pacar. Lantaran niat busuk itulah dia akhirnya jadi bangun agak telat pada hari pembukaan kompetisi di SMA 78. Ketika Aljabar sampai di sekolah itu, para peserta lomba sudah berbaris dengan rapi seakan-akan sedang mengikuti upacara untuk mendengarkan sambutan dari Menteri Pendidikan maupun kepala sekolah setempat. 

Dari kejauhan, Aljabar menemukan Gina dan Agus di dalam barisan. Dia merasa bersyukur. Setidaknya ada kawan lain yang mendengarkan pidato itu. Seandainya ada hal yang penting, dia tinggal bertanya kepada mereka. Berdasarkan informasi yang dia ketahui, kompetisinya baru akan dimulai pada pukul setengah 8. Berarti masih ada waktu sekitar 20 menit lagi sebelum masuk ke kelas dan mengerjakan soal-soal. Saat itulah Aljabar memutuskan pergi ke kantin dan mencari sarapan. 

Kondisi kantin sangatlah sepi karena saat ini juga sedang proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Selain para pedagang, dia hanya melihat 6 siswa dan 2 siswi. Mungkin itu murid-murid badung, pikirnya. Aljabar pun berusaha tidak memedulikan mereka, lantas membeli nasi goreng dalam kotak mika dan sebotol air mineral dingin. Seusai makan, Aljabar baru sadar bahwa salah satu dari dua siswi itu tampak anggun di matanya. Aljabar memang belum memperhatikannya dari jarak dekat. Tapi seakan-akan gadis itu bagaikan memiliki aura pemikat.

Dia pun jadi penasaran dengan perempuan tersebut. Sayangnya, gadis itu langsung pergi meninggalkan kantin lewat arah yang berlawanan dari tempat duduknya. Dia cuma bisa menatap siswi itu dari belakang. Beberapa hal yang dapat Aljabar ingat untuk terakhir kalinya: tubuh cewek itu sama kurus seperti dirinya, berambut lurus sebahu, dan di kepalanya terdapat bando dengan hiasan pita berwarna kuning. 


Aljabar sudah rampung mengerjakan 50 soal Matematika yang terasa mudah dalam waktu 40 menit. Masih ada sisa 80 menit lagi sebelum waktu berakhir. Dia mencoba mengoreksi kembali jawabannya dalam waktu 15 menit, lalu setelahnya memilih memperhatikan cewek-cewek di ruangan itu. Dari 25 murid yang berada di kelas ini, entah mengapa dominan berkelamin sama dengannya. Ada 17 laki-laki dan 8 perempuan. Dari 8 siswi itu, yang terbilang lumayan cuma seperempatnya alias 2 orang. Indira dan Nadia. Belakangan diketahui, lewat daftar nama dan foto yang tertempel di jendela kelas, Indira berasal dari SMA 65 dan Nadia dari SMA 85. 

Namun, mereka berdua ternyata tidak lolos ke tahap selanjutnya. Aljabar kurang berminat dengan perempuan yang langsung gagal pada ronde pertama. Dengan kata lain, mereka kurang cerdas buat seorang Aljabar. Dia pun mulai berharap semoga di kelas selanjutnya bisa menemukan perempuan yang memukau. 


Aljabar berhasil lolos sampai tahap ketiga. Kini adalah hari penentuan, apakah dia akan sukses melaju hingga tahap keempat, yaitu sepuluh besar. Kompetisi tahap pertama diikuti oleh 100 sekolah, selanjutnya mengecil jadi 50 sekolah, kemudian berkurang lagi jadi 25 sekolah, dan terakhir 10 sekolah. Tinggal satu langkah lagi dia bisa membawa nama baik buat sekolahnya. Sebetulnya masih ada harapan lain, yakni Gina yang juga bisa lolos sampai sejauh ini. Tapi Aljabar tidak ingin bergantung kepada orang lain. 


“Anak IPS di sekolah kita tuh emang bego-bego ya, Bar?” ujar Gina kepada Aljabar sewaktu mereka lagi menyantap bakso di kantin. Mereka baru saja melihat hasil ujian tahap kedua. Nama Agus tidak muncul pada kompetisi berikutnya. 

“Jangan gitulah, Gin. Mungkin aja emang lawan-lawannya berat.” 

“Berat apaan? Kamu enggak lihat tadi nilai si Agus cuma 6? Dia ada di urutan 49. Dua dari terakhir. Beda banget sama kita yang hasilnya sembilan. Kita selalu jadi sepuluh teratas.” 

“Ya udah, semoga besok kita bisa tetap mempertahankannya.” 

“Kamu jangan ngecewain aku ya, Bar. Malu sama namamu kalau sampai gagal. Pokoknya kita harus bisa lolos sampai tingkat provinsi Jakarta.” 

Kalimat Gina barusan membuat Aljabar berpikir dan merenung. Apakah Aljabar pada namanya itu memang dimaksudkan oleh orang tuanya untuk unsur matematika? Atau Al Jabar dalam unsur islami yang berarti Mahaperkasa? Dia sungguh penasaran, tapi entah kenapa tak ingin mencari tahu lebih lanjut ataupun bertanya kepada kedua orang tuanya. Yang terang baginya saat ini, kedua makna dalam namanya itu sama bagusnya. Toh, cerdas dalam bidang Matematika bukanlah sesuatu yang buruk. 


Aljabar dan Gina sama-sama lolos ke tingkat provinsi Jakarta. Aljabar tentu masih tidak percaya ketika dia melihat daftar 10 perwakilan sekolah asal Jakarta Barat yang berhasil maju ke jenjang selanjutnya. Di antara sekolah-sekolah andalan seperti SMA 2, SMA 33, SMA 78, dan SMA 112, rupanya terdapat SMA 16. Aljabar langsung tersenyum lebar. Dia gembira bukan main berhasil memperbaiki citra sekolahnya yang dalam 5 tahun terakhir ini sering gagal pada tahap pertama atau kedua. 

Kesepuluh sekolah yang lolos itu nanti akan bertemu dengan 10 sekolah lain dari masing-masing kota madya (Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur). Totalnya berarti ada 50 sekolah yang mengikuti kompetisi tingkat provinsi Jakarta. Dalam kompetisi ini sistemnya masih tetap sama sebagaimana kota madya. Mengerucutkan angka dari 50 menjadi 25 dan akhirnya 10. Barulah kesepuluh besar itu diuji kembali hingga kelak terpilih tiga besar. 


Kini, Aljabar mesti bertamu ke SMA 8, Jakarta Selatan, yang menjadi tuan rumah kompetisi. Kali ini dia tidak mau mengulangi kecerobohannya datang telat pada hari pertama. Karena lokasinya jauh dari rumah, Aljabar bahkan rela berangkat dari rumah pukul 05.30 agar tidak terjebak macet dan bisa sampai tepat waktu. 

Aljabar tiba di SMA 8 pada pukul 06.07. Masih tersisa 23 menit lagi sebelum upacara berlangsung. Dia lalu mencoba mengirim WhatsApp kepada Gina. Apakah dia juga sudah berada di lokasi? 

“Belum, masih di jalan. Macet banget. Kayaknya aku sampainya bakalan mepet nih, Bar.” 

Aljabar kemudian jalan ke kantin, terus membeli dua buah Choki-Choki. Dia sadar bahwa nanti saingannya bakal semakin berat. Ada SMA 1, SMA 14, SMA 49, SMA 70, SMA Labschool, serta tuan rumah itu sendiri. Dia ingin membuat dirinya rileks sementara ini dengan menyantap cokelat. Dia juga mencolok earphone ke ponsel dan mengaitkannya ke telinga buat mendengarkan lagu-lagu Beethoven dan Mozart. Konon musik klasik itu dapat meningkatkan konsentrasi. 

Konyolnya, fokus Aljabar mendadak buyar ketika dia melihat seorang siswi berbando dengan hiasan pita kuning yang beberapa minggu lalu juga berada di kantin saat pembukaan kompetisi. Bedanya, dia saat itu ada di SMA 78. Kenapa Aljabar kini baru teringat lagi dengan gadis aduhai yang sempat bikin dia terpesona itu? Apakah gadis itu juga seorang peserta dalam kompetisi ini? Mungkin dia mengikuti lomba di bidang lain, entah itu IPA atau IPS, bukan Matematika sepertinya. Kenapa aku selama ini tidak kepikiran dan mencari tahunya, sih? 

Sekarang semuanya tampak lebih jelas. Cewek itu memang manis baik dilihat dari jauh maupun dekat. Aljabar rasanya langsung ingin mengajaknya berkenalan. Tapi senyuman gadis itu sewaktu mengucapkan terima kasih kepada pedagang di kantin entah mengapa justru membuat dengkul Aljabar lemas seketika. Dia gemetaran. Jantungnya berdebar tidak keruan. Dia tidak sanggup beranjak dari tempat duduknya. 

Ya Allah, kenapa aku sepengecut ini? Ayolah bangkit dan ajak dia kenalan! 

Tapi jeritan hatinya itu tidak berdampak apa-apa terhadap tubuhnya. Aljabar masih bergeming. Sampai sosok perempuan itu menghilang dari pandangannya, barulah dia dapat berdiri. Dia pun ingin mengejar gadis itu. Sayangnya, bel tanda masuk sudah berbunyi. Itu berarti dia harus ikut upacara pembukaan kompetisi, sebab Gina hari ini kira-kira datang terlambat. Jangan sampai di lapangan itu tidak ada satu pun perwakilan dari sekolahnya. Sial. Waktu belum berpihak kepadanya. Setidaknya, pikir Aljabar, nanti sekelarnya ujian dia akan menelusuri peserta kompetisi ini satu per satu. Semoga gadis itu dapat ditemukan. 

Aljabar kini kesulitan saat mengerjakan soal-soalnya. Ketika dia sedang fokus menggarap soal pertidaksamaan linear dua variabel yang terasa lumayan sulit, paras manis gadis itu mengacaukan pikirannya. Sehingga dia perlu menghitungnya lagi dari awal. Begitu pula saat dia menghadapi soal deret geometri, matriks, dan integral. Hal yang tadinya terasa mudah, kini malah berubah susah. Apakah tidak ada waktu lain buat memikirkan perempuan itu? Akhirnya, Aljabar berhasil menyelesaikan seluruh soal, tapi dia tak sempat mengoreksinya kembali lantaran kehabisan waktu. 

Seusai tes, Aljabar segera mencari informasi tentang 100 peserta di bidang IPA dan IPS. Menelusurinya sendirian tentu terasa berat, oleh sebab itulah Aljabar meminta bantuan kepada Gina. Kala pertama kali mereka berjumpa, Aljabar langsung bertanya, “Gin, apa di ruanganmu ada cewek yang pakai bando kuning?” 

Gina tampak kaget disodorkan pertanyaan semacam itu. Dia kemudian berpikir sejenak dan menggeleng. “Kenapa sih, Bar?” 

“Aku naksir cewek itu.” 

“Ya ampun, kamu ketemu dia di mana?” 

Aljabar lalu menceritakan pertemuannya tadi pagi, juga saat pertama kali terpikat oleh gadis itu. Karena kelas Gina tidak termasuk, mereka lantas memelototi 75 daftar peserta yang tertempel di papan informasi. Tapi tetap tak ada satu pun perempuan yang fotonya memakai bando. 

“Wajahnya kayak gimana, Bar?” ujar Gina. “Enggak akan bisa ketemu ini kalau patokannya dia cuma pakai bando. Apa di mukanya ada tahi lalat?” 

Aljabar baru sadar akan hal itu. Apakah sebegini bodohnya orang yang lagi kasmaran? 

“Enggak ada. Mukanya bersih. Intinya, kamu nilai aja coba yang menurutmu cantik, Gin. Nanti baru aku cek sendiri yang kamu tandain.” 

Gina menyebutkan nama Farsya, Kayla, Sekar, Tania, dan Vina. Namun, di antara itu semua tetap tak ada sosok yang Aljabar cari. Hasil penelusuran mereka nihil. Aljabar pun mendengus, lalu mengusap-usap wajah dengan kedua telapak tangannya seperti orang frustrasi. 

“Mungkin aja dia siswi biasa. Enggak ikut kompetisi,” ujar Gina. 

“Kalau emang begitu, kenapa dia ada di sini dan juga di SMA 78?” Aljabar lalu meneruskan kalimatnya dengan menganalisis tentang gadis itu. Seandainya dia siswi SMA 78 dan bukan peserta kompetisi, kenapa hari ini dia datang ke sini? Jika dia murid sekolah ini, kenapa hari itu dia juga berada di SMA 78—yang mana merupakan wilayah Jakarta Barat. SMA 8 tidak mungkin hadir dalam kompetisi tingkat kota madya. Hal itu sungguh membingungkan dirinya. 

“Gimana kalau dia hantu penunggu kantin, Bar?” 

Ngaco kamu, Gin!” 

Mereka berdua pun tertawa bersamaan. 


Dua hari kemudian, pengumuman tentang nilai kompetisi itu keluar dan Aljabar mendapatkan nilai 7,8. Dia berada di urutan ke-25 dari 50 peserta. Walaupun akhirnya tetap lolos ke tahap kedua, dia cuma bagaikan orang yang beruntung. Kala itulah Gina (yang hasil nilainya selalu bikin dia bertahan di sepuluh besar) memarahi Aljabar habis-habisan. 

“Bar, aku tahu fokusmu terganggu karena mikirin cewek itu. Tapi kenapa nilai Matematika kamu malah turun begini? Syukur aja kamu enggak jadi gagal di tahap pertama.” 

“Sori, Gin. Mungkin emang kemampuan aku cuma segitu.” 

“Enggak, aku yakin kamu mampu mendapatkan nilai lebih. Pokoknya besok jangan sampai dapat hasil buruk lagi ya. Kamu fokus dulu aja sama kompetisinya. Nanti kalau masuk sepuluh besar lagi dan menang, kamu juga bakal jadi pujaan cewek-cewek di sekolah kita, kok.” 

Aljabar sesungguhnya sudah tahu fakta itu. Menjadi pemenang kompetisi akan membuat dirinya digandrungi lawan jenis. Namun, dia sudah telanjur terpikat oleh gadis berbando kuning. Dia tak butuh perempuan lain. Sekalipun suatu hari Gina yang cerdas dan tergolong cantik, lebih-lebih berkacamata (kriteria idaman Aljabar), menyatakan cinta kepadanya, pastilah akan menjadi biasa saja bagi Aljabar yang sekarang. Dia cuma menginginkan perempuan berbando kuning itu. 


Aljabar masih belum bisa menghapus sosok gadis itu dari benaknya, padahal lima menit lagi tesnya akan dimulai. Dia tak tahu hasilnya nanti akan bagaimana jika terus-terusan begini. Apalagi Aljabar merasa dipandang rendah oleh siswa dan siswi di ruangannya. Setiap kali ada yang tertawa, entah itu mereka sedang bercanda atau menonton video atau apalah, Aljabar entah kenapa berpikir mereka sedang mentertawakan kebodohannya karena berada di urutan terakhir. Menjadi murid dengan nilai terburuk di kelas itu menjadi tekanan tersendiri baginya.

Biarpun demikian, syukurlah Aljabar berhasil menyelesaikan soal-soal itu pada 30 menit terakhir. Gangguan dari bayang-bayang gadis itu ataupun menurunnya tingkat kepercayaan diri dapat teratasi dengan jurus andalannya: meditasi. Menurutnya, memejamkan mata lalu menghela dan mengembuskan napas berulang-ulang kali merupakan metode paling ampuh untuk mengusir grogi dan melatih fokus. 

Gina sukses melangkah ke tahap selanjutnya dengan menempati urutan ketujuh, sedangkan Aljabar gagal karena berada di angka 13. Mengetahui info itu, Gina refleks meneteskan air mata dan memeluk Aljabar.  Aljabar sebetulnya terkejut dengan sikap itu. Tapi entah kenapa dia cukup menikmatinya. Payudara lembut Gina yang menekan tubuhnya seakan-akan menjadi sebuah pelipur lara. 

“Itu makna angka kita pas banget, ya?” ujar Aljabar. “Kamu meraih peringkat ketujuh, Gin. Angka keberuntungan. Kalau aku dapatnya angka sial. Sori banget ya, aku gagal.” 

Gina melepaskan pelukannya. Menghapus air matanya. “Kamu enggak gagal, Bar. Kamu berhasil memperbaiki nilai tesmu. Kamu dapat delapan koma lima. Itu bagus, tahu. Tapi mau gimana lagi, yang sepuluh besar malah dapat sembilan koma semua. Lawan kita yang sulit. Makasih sudah berjuang sejauh ini ya, Bar.” 

Aljabar tersenyum. Dari jarak sedekat itu, dia kini semakin sadar bahwa Gina itu seorang gadis jelita dan bagaikan pelita. Tapi sayang hatinya sudah telanjur sreg kepada perempuan asing entah siapa. Jika dia sudah kehilangan harapan, mungkin dia bisa mencoba membuka hatinya buat Gina. Itu pun kalau Gina bersedia. 


Pertandingan final akan diselenggarakan dua minggu lagi. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang jaraknya hanya hitungan hari dan seakan-akan tidak ada istirahatnya. Kini para siswa yang masuk kesepuluh besar bisa merehatkan pikirannya. 

Di tengah-tengah masa istirahat itulah Gina justru memberi tahu Aljabar akan hadirnya kompetisi susulan, yaitu lomba karya tulis ilmiah dan puisi dalam tingkat kota madya. 

“Aku mana bisa bikin karya ilmiah, Gin,” tulis Aljabar di WhatsApp. 

“Tenang aja, nanti aku bantuin risetnya.” 

“Sori, Gin, aku lagi malas ikut-ikutan lomba lagi. Mending kamu cari orang lain.” 

“Kamu masih trauma karena kekalahan kemarin itu? Maaf ya, Bar. Aku habisnya enggak tahu mau menyuruh siapa lagi. Seenggaknya itu biar sekolah kita bisa ikut berpartisipasi aja. Kamu enggak usah terbebani harus menang.” 

“Meski kamu bilang begitu, aku tetap enggak bisa.” 

“Oh, ya udah deh. Seandainya nanti kamu berubah pikiran, aku cuma mau bilang kalau deadline setor tulisannya tinggal seminggu lagi, Bar.” 


Aljabar mengecek daftar peserta lomba karya tulis ilmiah dan puisi. Di antara keduanya, tidak ada satu pun murid dari sekolahnya yang berpartisipasi. Padahal tiap sekolah diberikan jatah maksimal mengirimkan tiga tulisan untuk setiap kategori. 

Tenggat tersisa dua hari lagi dan tetap belum ada karya yang masuk mewakilkan sekolahnya. Aljabar ingin menghubungi Gina, tetapi dia sadar bahwa membuat karya tulis setidaknya membutuhkan waktu sedikitnya tiga hari demi hasil yang memuaskan. Kala itulah muncul inspirasi baru di kepalanya. Kenapa dia tidak ikutan saja lomba satunya, yaitu puisi? Namun, apakah Aljabar dapat menyusun kata-kata? Selama ini dia hanya jago perihal angka. Nilai bahasa Indonesianya pun pas-pasan. Tapi perasaan rindu yang menggebu-gebu akan sosok gadis manis itu semestinya bisa dia olah menjadi sajak, bukan? Kala itulah dia tidak peduli lagi dengan baik maupun buruknya. Dia cuma ingin menumpahkan perasaan di hatinya itu menjadi sebuah teks. 

Pada hari terakhir penyetoran karya, Aljabar akhirnya mengirimkan puisi berikut ini:

Rindu


1.

Memang setiap rindu yang tak berbalas itu menyakitkan. Tapi, harus aku kirim ke manakah rindu itu? Meski aku tahu gadis yang kutuju, tetap saja belum ada satu pun akses untuk menyampaikannya. Aku seperti hidup di zaman manusia belum mengenal internet dan telepon. Aku bagaikan Magrib yang menginginkan mentari terbit.

Rindu bukan sebuah barang yang bisa kutitipkan lewat kurir. Rindu bahkan tidak selalu memiliki alamat. Rindu adalah anagram dari rudin. Seperti kondisi sebenarnya akan informasi tentangmu yang tak kalah miskin. Rindu juga anagram dari duri tanpa huruf N. Rindu berarti juga dapat melukai. 

Rindu merupakan lindu bagi orang cadel. Itu tandanya rindu bisa pula membuat manusia pusing. Dan kepalaku malam ini kelewat pening. Karena seolah-olah telah kehabisan cara untuk mencari dan mencuri. Maka, dengan metode apa lagi aku harus menemukanmu, Manis?

Aku tak tahu namamu. Di mana tempatmu menuntut ilmu. Di mana habitatmu. Kini ingatanku akan parasmu pun mulai samar-samar. Sehingga hatiku mendadak memar.

2.

Memang cara ampuh mengobati rindu adalah bertemu. Namun, rumah sakit mana yang dokternya itu kamu? Aku rela berkunjung ke sana setiap hari walaupun diriku benci rumah sakit. Sebab jika sudah satu bulan tidak melihatmu dari dekat, aku pasti sangat jauh dari kata sehat.

Aku pikir sajak ini tidak boleh lagi mengucap rindu. Karena aku takut ia akan berevolusi menjadi sendu. Atau tumbuh menjadi pohon randu. Yang sekilas terlihat sedang menurunkan salju. Tetesan air mata penyesalan yang lupa caranya berhenti. Ia tidak akan mengering sebelum aku mati atau kita berjumpa nanti.


“Selain pintar menghitung angka, kamu diam-diam jago meracik kata ya, Bar,” ujar Gina setelah mengucapkan selamat atas kemenangan Aljabar dalam lomba puisi. Mereka hari ini sedang berada di SMA 78 untuk penerimaan hadiah. Gina sendiri meraih juara kedua kompetisi IPA tingkat provinsi Jakarta tempo lalu.

“Ah, itu iseng-iseng aja, Gin. Lagian, aku juga cuma juara tiga. Aku bahkan enggak paham kenapa puisiku dengan tema cinta itu bisa menang. Yang juara 1 dan 2 kan tentang ‘kritik sosial’ dan ‘ibu’. Tema mereka lebih berbobot. Mungkin karena yang ikutan sedikit kali, ya?” 

“Menang tetaplah menang, Bar. Mau juara berapa pun. Mau yang ikutan sedikit ataupun banyak. Meski puisimu cinta-cintaan, pilihan katamu itu rasanya ajaib, tahu. Masa dari kata rindu bisa jadi pelesetan ke rudin dan randu. Itu kan pasti perlu memutar otak.”

“Ya, mungkin begitulah cinta bekerja, Gin. Perasaan bedebah ini justru bisa menjadi inspirasiku buat menulis sajak.”

“Terus cewek mana tuh yang beruntung sampai jadi inspirasi kamu bikin puisi? Masih cewek tanpa nama itu?”

“Pokoknya ada deh.” 

“Ah, enggak asyik nih!” 

Aljabar cengengesan. 

“O iya, Bar, teman SMP aku ada yang mau kenalan sekalian minta foto bareng. Dia sekolah di sini. Dia penggemar berat hal-hal yang berbau puisi. Tapi dia malu buat bilang sendiri, makanya minta tolong sama aku.” 

“Hah, siapa?” 

“Namanya Rani.” 

“Terus mana orangnya?” 

Tangan Gina menunjuk ke arah toilet putri di dekat kantin. “Nah, itu dia yang lagi ngintip.” 

Saat mata mereka bertabrakan, Aljabar langsung sadar bahwa teman Gina yang mau berkenalan dan meminta foto bareng itu rupanya seseorang yang selama ini dia cari-cari. Aljabar mungkin sempat lupa dengan wajahnya, tapi begitu melihat paras gadis itu lagi otaknya pun berkata cocok. Toh, hal itu juga sangat kentara sebab Rani juga memakai bando kuning sebagaimana pertemuan-pertemuan sebelumnya. Ternyata sebuah puisi tentang rindu dapat mempertemukan mereka. Apa jadinya jika Aljabar tidak ikut berpartisipasi? Dia pun membuang pertanyaan tolol itu dan segera melangkahkan kakinya mendekati Rani. 


--

Lindu dalam bahasa Jawa artinya gempa bumi.

Sumber gambar: Pixabay dan Blibli.
Read More
/0/

Rasa kehilangan bisa berwujud ponsel iPhone 4 yang telah bertahan sekuat tenaga selama 5 tahun penuh dan kini mendadak mati saat baterainya 60%, serta fakta tentangnya bahwa tahun depan kau tak bisa lagi menggunakan WhatsApp, juga memori akan 4 perempuan yang pernah memanggilmu “sayang”.

Satu per satu gambaran itu muncul dan mengubrak-abrik kenangan yang mulanya sudah kausembunyikan dengan rapi di lemari otakmu. 


/1/



Datanglah momen ketika kau menulis pesan terakhir kepadanya, “Semoga kamu suka sama kadonya,” sehabis dirimu gagal mengajaknya rujuk kembali karena dia lebih memilih minggat bersama laki-laki lain. 

“Terima kasih. Pas sekali jaketnya dan aku suka warna merah. Tumben kali ini tak ada tulisan selamat atau rangkaian kata puitis kayak kado-kado sebelumnya?” 

Pertanyaan itu ingin sekali kaujawab, tak ada lagi cerita maupun puisi untukmu setelah dirimu memutuskan pergi, Manisku. Namun, teks itu akhirnya kauhapus seluruhnya sembari diam-diam berharap agar bisa juga menghapus perasaan sayang yang masih tersisa. 


/2/

Lalu, bagaimana kau juga gemar menatap layar dan rela telingamu terasa terbakar sewaktu teleponan selama berjam-jam demi memangkas jarak dan rindu yang tak terbendung lagi. 

Bagimu pacaran jarak jauh adalah kisahmu yang paling gagal sebab kangen sering mendatangkan gigil. Tapi yang lebih kausadari, kau rupanya tidak benar-benar mencintainya. Kau hanya merasa tidak enak untuk menolak ketika dia jujur soal isi hatinya lewat rekaman lagu yang dia kirimkan pada tengah malam menjelang kau tidur. 



Kau tak tahu apa alasan sebenarnya sewaktu menerimanya. Apakah karena kau tertipu oleh sikap manis yang belum ternodai oleh rasa pahit kala kalian bertemu? Atau itu hanya salah satu upaya mengobati kesepianmu? 


/3/

Masih ingatkah kau tentang hari pada saat kau dan dia gemar berfoto sebanyak belasan kali dengan pose yang nyaris tak ada bedanya? Kalian tidak peduli akan hal semacam itu, yang penting momen bahagia mesti diabadikan seakan-akan tak ada lagi hari esok. 



Hari esok yang mendatangkan cerah memang tidak pernah ada. Sisanya hanya langit gelap, guntur yang mengacaukan gendang telinga dan mematahkan relung hati, serta hujan yang tiada habisnya. 

Sebab dia tidak pernah paham, atau mungkin kesulitan menerjemahkan pandangan matamu yang menatapnya dengan penuh welas asih. Kau terlalu takut berbicara. Kau berpikir kelewat pusing bagaimana menjelaskan persahabatanmu yang tidak lagi murni saat pertahananmu runtuh mendengar ucapan “sayang” keluar dari mulutnya. Kau tidak pernah tahu, bentuk sayang dia terhadapmu cuma sebatas seorang sahabat atau lebih dari itu. Yang terang di antara kalian berdua, kebersamaan itu akhirnya sirna. 


/4/

Lantas yang tidak kalah penting, bagaimana kau mengetik dua buah puisi sebagai pertanyaan soal cinta yang memudar dan salam perpisahan sekaligus permintaan maaf telah melanggar janji untuk selalu kuat dari hari ke hari, dari hati ke hati. 

Kau masih bingung siapakah yang benar-benar salah antara kau dan dia. Apakah betul setiap kali mendongeng kau menyemburkan racun, sampai-sampai dia tertular virus negatif? Atau dia yang kelewat jenuh dengan kekurangan dirimu, sebab telah menemukan harta karun pada diri orang lain? 



Daripada mencari tahu jawaban tersebut, bukankah lebih baik merenung bahwa kalian berdua sungguh bajingan yang tak punya kesadaran diri? Kau kelewat berisik untuk menjadi seorang pencerita, lalu dianggap tak punya kemampuan untuk mendengarkan; sedangkan dia mempertahankan sifat cuek dengan segala omong kosong yang dipendam sendirian, lantaran selalu merasa payah dalam urusan berbagi ataupun bertutur. 


/5/

Sebagaimana alat itu perlahan-lahan rusak, kau kadang ingin kenangan tentang mereka juga musnah dari kepalamu.  Kau sadar kalau kangen terhadap masa lalu itu merupakan luka dan duka yang paling menjengkelkan. Kau sanggup berpisah dengan mereka, tapi sampai kapan pun tak akan pernah bisa kabur dari kejaran ingatan manis yang sempat membekas di hati. 

Adakah cara lain selain membiarkannya, menikmati sesaknya, hingga sakit itu perlahan-lahan lenyap sendiri? Lalu kau pun dapat berkelana sebebas-bebasnya tanpa repot-repot memikirkan batasan waktu, sampai akhirnya bisa menemukan orang lain yang cocok. Kau pun berniat mengukir kisah baru yang nantinya tidak ada lagi perpisahan selain kematian. Kemudian, dari bisikan hati yang tersembunyi, kau juga masih berharap suatu hari kelak dialah perempuan manis yang menjadi kekasih paling awet tanpa campuran boraks dan formalin.



--

Tulisan ini pernah saya muat di blog lainnya. Saya sengaja mengisinya lagi di sini karena bulan Oktober blog ini akan khusus membahas tentang cinta. Lalu, nanti tanggal 5, saya dan beberapa kawan bloger ingin melupakan persoalan negara yang genting ini sejenak dengan bikin tulisan bertema romansa remaja (masalahnya yang remeh-remeh, seperti baru sebatas cemburu atau tidak berani mengungkapkan perasaan atau orang yang kita taksir juga disukai oleh teman sendiri, sebagaimana yang bisa kalian temukan di buku-buku teenlit). Selengkapnya bisa cek di kicauan Haw. Mungkin ada yang mau ikut meramaikan.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home