Di saat rasa cemas datang dan melanda di hati, terbayang senyuman yang kurindukan. –Lagu pembuka film animasi Let's and Go (Tamiya) versi bahasa Indonesia. 



--

Semburat Kuning 




Kau menambahkan warna kuning dalam hidupku yang mulanya cuma hitam dan putih. Kuning mengingatkanku akan warna yang selalu kupilih untuk melukis mentari –yang terapit dua gunung– pada pelajaran menggambar ketika sekolah dasar. Seumpama matahari, apakah artinya kau tak akan mungkin bisa kujangkau sebab dirimu terlalu panas, serta jarak yang memisahkan kita sudah melampaui batas?

Meski mendekatimu itu mustahil, aku tak punya pilihan lain selain tetap menerima sinar ataupun binar matamu dari kejauhan untuk mencerahkan hari-hariku. Apalagi senyumanmu merupakan vitamin D yang bagus untuk tulang-tulangku. Agar aku sanggup memikul nestapa dan penderitaan hidup yang semakin hampa.

Mulanya, kupikir kuning itu buruk dan sangat identik dengan tai. Selain itu, ada gigi kuning, bahkan sakit kuning yang jauh lebih jahanam. Aku tak suka pisang—kulit dan buahnya berwarna kuning. Aku juga benci dengan durian yang sama kuningnya. Aromanya pun mirip pesing dan bikin pusing.

Namun sejak berjumpa denganmu, kuning di benakku tentu mengalami pergeseran makna. Kuning bisa berupa lemon yang mengandung vitamin C. Kuning dapat pula berwujud bunga alamanda, baik nama maupun bentuknya teramat cantik serupa wajahmu.

Kini, warna kuning mulai menjelma sebuah kecupan. Bukan di pipi, apalagi di bibir, melainkan di kening. Kecupan tulus penuh kasih sayang tanpa ada campuran nafsu. Lalu, senyum dan semburat kuningmu pun seakan-akan menjadi momen hening yang ampuh membasmi pening.


Museum Kenangan 




Aku ingin membangun museum kenangan di kepalaku. Nanti museum itu akan kuisi dengan beberapa hal: kemeja kuning, ransel hitam khas perempuan, jaket denim, kacamata berbingkai bulat, gelang karet biru bertuliskan “blogger day”, potret dirimu yang tampak dari belakang, fotomu dari samping yang wajahnya blur, lembaran kertas berisi cerpen maupun puisi yang berkisah tentangmu, senyum manismu, serta air mataku.


Tiket masuk museumnya gratis—khusus buat kamu. Pengunjung lain harus bayar Rp18.022.017. Kenapa mahal sekali? Aku hanya memilih angka spesial, yaitu tanggal pertama kali—atau bisa juga dikatakan terakhir—kita berjumpa. 

Mau bagaimana lagi, itu satu-satunya momen tentangmu yang aku punya. Tapi jika suatu hari kita bersua kembali, aku berjanji akan meralat kalimatnya. Benda-benda di museum itu pun bakal aku tambah lagi dengan semua barang favoritmu.

Aku ingin bertanya, apakah doa itu masih layak untuk orang-orang kurang bersyukur? Sebab aku malu saat merapalkannya. Aku takut harapanku ditertawakan karena meminta sesuatu hal yang sulit (supaya dipertemukan lagi denganmu), padahal aku sendiri sama susahnya setiap kali bertemu dengan Tuhan.

Aku berniat menyusun sajak, tapi yang tercipta justru ocehan sok bijak. Aku ingin mata terpejam, tapi di kegelapan itu malah hadir parasmu yang buram. Bukan kantuk yang kudapat melainkan dada mulai terasa sesak. Karena terus dipaksa masuk oleh barisan rindu yang semakin mendesak. 

Bagaimana cara mengakhiri puisi? Lihat, tanda tanya itu, batas antara yang nyata dan ilusi untuk menemukan afeksi1. 

--

1) Larik terakhir, khususnya di bagian “lihat, tanda tanya itu”, saya modifikasi dari puisi Aan Mansyur berjudul ‘Batas’ pada buku Tidak Ada New York Hari Ini. Bentuk aslinya: Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.
Read More

--



Sampai hari ini saya mungkin masih memikul beban penyesalan karena tidak berani mengajak berkenalan Mbak Manis Kemeja Kuning. Terlebih lagi sewaktu melihat potongan gambar dari video yang Dian rekam. Kalimat karena momen gak bisa diulang, betul-betul menjotos hati saya hingga terasa sesak.



Paling tidak, jika saya hari itu mencoba menghargai perasaan si pacar dan takut kenalan, saya kan tetap bisa mencari tahu siapa namanya lewat meja registrasi ataupun bertanya sama temannya yang berjilbab itu. Cukup dengan sebuah nama, saya pasti dapat mengakses beberapa hal tentang orang itu lewat penelusuran Google. Meskipun ada sebagian manusia yang menggunakan fitur privasi agar tak dapat ditemukan, minimal di zaman digital seperti ini informasi tentang dia pernah sekolah atau kuliah di mana pasti bakalan ketemu. Lalu, buat orang-orang yang gemar berkata “apalah arti sebuah nama”, mereka mungkin belum paham akan kesulitan menelusuri seseorang cuma karena tidak tahu namanya. Seperti yang tengah saya alami saat ini. 

Saya mulai lelah dengan rasa penyesalan terkutuk itu, lalu mencoba menghibur diri dengan membaca buku digital Essays and Aphorisms, Arthur Schopenhauer. Pada salah satu kepingannya, Schopenhauer menyampaikan sesuatu hal yang seakan-akan mewakilkan perasaan saya saat ini (diterjemahankan secara serampangan): “Kejadian dalam hidup kita serupa gambar mosaik kasar. Mereka tidak efektif dari dekat, dan harus dilihat dari jarak jauh jika ingin tampak indah. Itulah sebabnya untuk mencapai sesuatu keinginan, kita malah menemukan betapa sia-sianya hal tersebut; dan kenapa, meski kita telah menjalani seluruh hidup dengan harapan akan hal-hal yang lebih baik, kita tetap sering menyesali apa yang telah berlalu.” 

Pada suatu malam menjelang tidur, saya pernah berpikir kalau saja hari itu saya berkenalan dengan gadis kemeja kuning dan memilih putus dengan si pacar, mungkinkah kisah percintaan saya hari ini akan terasa lebih manis? Namun, ketika itu saya justru berpikir sebaliknya: apakah kehadiran perempuan manis berkemeja kuning ini adalah suatu godaan buat saya yang sedang dilema—mau putus atau bertahan dengan hubungan beracun?

Entah pilihan saya hari itu tepat atau tidak, seenggaknya setelah Februari berakhir saya dan pacar sedikit-sedikit mulai belajar dari konflik-konflik tersebut. Kami berdua mungkin sama-sama keras kepala, sehingga salah satunya perlu mengalah—khususnya saya yang harus lebih menahan diri supaya tidak mengeluarkan kalimat-kalimat ambigu saat lagi marah karena ketikan saya bakal berantakan. Misalnya, kala saya mengetik, “Udahlah, aku lama-lama capek begini terus!” Maksud saya sebenarnya: Udah dong, Sayang, enggak usah ribut-ribut lagi. Aku tuh betul-betul capek bertengkar cuma karena hal sepele begini; sedangkan dia menafsirkannya bahwa saya sudah lelah sama hubungan itu dan ingin mengajak putus. 

Biarpun saya dan pacar akhirnya putus-putus juga pada caturwulan pertama 2018, intinya kan tetap ada hal-hal manis yang pernah terjadi di antara kami. Saya tak perlu menyesali pilihan kenapa kami memilih bubar jika memang sudah melewati banyak suka-duka bersama selama 1,5 tahun; ataupun mengapa saya enggak putus saja dari Februari 2017 itu, agar bisa berkenalan dengan Mbak Manis Kemeja Kuning, bahkan siapa tau saja menjalin hubungan.

Sebagaimana yang telah saya sampaikan tentang dia mungkin malah menjadi suatu godaan pada saat saya memiliki pacar, kini ketika saya sudah putus dan tidak terikat hubungan apa pun dengan seseorang dan bisa bebas mencari sosoknya di media sosial, datanglah godaan baru: Tasya—perempuan manis yang mengenakan sweter kuning di Warunk Upnormal. 


“Yog, itu ternyata betulan si Tasya,” ujar Haw begitu dia kembali dari musala sehabis salat Magrib. “Tadi aku dengar temannya manggil dia kayak begitu.” 

Saya masih tak percaya jika belum mendengarnya dari kuping sendiri. Mungkin saja Haw sedang berkelakar sekaligus ingin membuat saya senang bisa dipertemukan dengan orang yang saya kagumi prestasinya di media sosial belakangan ini. Sepuluh menit setelahnya, ketika saya dan Dian menuju musala, kami ternyata bertemu juga dengan seorang gadis—yang diduga mirip Tasya—bersama rombongannya di depan wastafel samping toilet. Mereka lagi asyik becermin dan bercakap-cakap. 

Kami lalu mencopot sepatu di bangku yang tersedia di depan musala. Kala itulah saya tak sengaja menguping kawannya menyebut nama cewek itu dengan panggilan “Sya”. Saya refleks menoleh ke Dian, saya mendapati dia langsung menyengir. Sebuah isyarat kalau saya tidak salah mendengar nama itu. Baiklah, saya kali ini amat yakin bahwa gadis ini bukan lagi mirip dengan Tasya, tapi memang dialah orangnya. Maaf, Haw, saya sempat meragukan kalimatmu dan mengira cuma lagi bercanda. 


Begitu kembali ke meja untuk bergabung lagi bersama kawan-kawan yang lain, mungkin wajah saya sesudah salat Magrib terlihat lebih semringah. Selain karena terbasuh air wudu dan tak sengaja melihat beberapa perempuan berwajah meneduhkan di musala (yang kerap disertai pujian: mukanya adem bener kayak ubin masjid), tentu saya merasa gembira bisa kebetulan bertemu langsung dengan Tasya. Saya pun mulai merenung, mungkinkah pertemuan ini semata-mata kebetulan atau memang ada yang mengatur?

Tapi, lagi-lagi saya memilih tak mau mengajaknya berkenalan. Urusan sama Mbak Manis Kemeja Kuning aja belum rampung, kok sudah belaga menargetkan perempuan baru yang seolah-olah merasa jodohnya. Hal ini pun mengingatkan diri saya pada saat remaja. Saya pernah memarkir motor sebelahan sama cewek yang cantiknya kebangetan serta penampilannya modis di mal Taman Anggrek. Ketika itu saya bisa-bisanya berpikir seraya berharap dialah jodoh saya. Betapa tololnya saya hari itu yang mungkin lagi kekurangan afeksi. Barangkali di luaran sana juga ada cowok-cowok yang berpikiran goblok semacam saya. Contohnya, kalau nomor absensinya di perkuliahan bisa atas dan bawah sama seorang gadis manis, bisa jadi mereka akan menganggap dialah jodohnya. 

Maaf, saya malah melantur. 

Lagi pula, saya dan Tasya baru dua kali bersua secara tidak sengaja. Apa sih yang spesial dari hal itu? Enggak ada, kan? Biasa saja. Kebetulan-kebetulan sejenis itu juga lazim terjadi di dunia nyata. Kalau kami sudah berjumpa sebanyak tiga kali, barulah saya percaya Tuhan telah merancang garis pertemuan itu. Lantas, saya akan berjanji sama diri sendiri bakal menyapanya atau mengajaknya berkenalan. Namun dari kejadian yang sudah-sudah, biasanya setelah janji itu terucap dalam hati, saya enggak akan ketemu lagi sama cewek itu. Jadi, mari lihat saja nantinya bakal bagaimana. 


Berkat video maupun screenshot dari Dian tentang gadis berkemeja kuning yang mulai menumbuhkan sedikit harapan buat saya dan meyakinkan mbaknya benar-benar manis, sepulang dari kafe itu saya kembali mencoba menyusuri sosoknya di media sosial. Saran dari Haw pun saya terapkan buat mencari teman di sebelahnya yang berjilbab itu. Maka, pencarian Mbak Manis Kemeja Kuning secara serius pun dimulai. 


Pencarian pertama, 9 September 2019 

Saya menelusuri ulang tagar acara Blogger Day di Instagram beserta foto-foto yang menandai akun Sun Life Indonesia. Saya memfilternya dengan langsung memilih para perempuan berkerudung. Saya perhatikan secara cermat satu per satu foto tersebut. Sayangnya, tetap tak ada satu pun wajah yang mirip dengan cewek di sebelah gadis berkemeja kuning. Pada saat itu pula, Haw memberi tahu saya tentang foto mbaknya yang terpampang pada akun Sun Life di Twitter. “Yah, yang ini juga kelihatan belakangnya doang, Yog,” katanya. 



Walaupun di foto itu belum terlihat juga wajah manisnya, seenggaknya pencarian ini sedikit-sedikit membuahkan hasil. Saya diam-diam meyakini sembari berdoa bahwa pencarian ini nantinya tidak akan sia-sia. Nanti pas betul-betul luang saya bakal mencarinya kembali. 


Saya tak sanggup menahan godaan buat melihat-lihat foto Tasya di Instagram (saya mulai mengikuti akunnya sejak pulang dari kafe itu). Saya juga tumben banget sampai ikhlas menonton setiap cuplikan-cuplikan hidupnya di InstaStory yang terlalu sering memakai fitur Boomerang. Padahal sebelumnya saya nyaris enggak pernah menonton punya siapa pun, termasuk kawan-kawan sendiri.

Kenapa si Tasya lucu dan manis banget, sih? Gila, begini amat godaan hidup. Saya kan jadi sedikit lupa tentang Mbak Manis Kemeja Kuning itu. Terus, di kepala saya malah muncul sebuah gagasan: Lupakan mbak manis kemeja kuning, mending pilih si sweter kuning yang sosoknya ada di depan mata dan nyata. Mau bagaimana lagi, senyum manis Tasya yang memesona itu sungguhlah racun pikiran. Memang ya, kalau lagi enggak punya pacar kita bisa bebas mengagumi ataupun naksir siapa pun tanpa rasa bersalah. 

Ah, tai, masa iya saya selemah itu? Meskipun ini juga sah-sah saja karena baru ketertarikan pada fisik yang baru sebatas kagum, tapi tolong jangan gampang menyerah dulu, Yog. Perasaan saya untuk mbaknya, biarpun kami cuma punya momen manis sebentar, tentu kenangannya sudah lama melekat di ingatan. Saya pun terbawa pada hari membahagiakan itu. 

Mata kami bertabrakan kala saya dan perempuan berkemeja kuning itu berpapasan di dekat meja registrasi acara Blogger Day. Saya baru saja datang untuk mendaftar sebagai peserta, sedangkan dia kayaknya sudah datang terlebih dahulu dan berjalan menuju toilet. Selama memandanginya, mata saya seakan-akan tak bisa lepas dari parasnya yang manis itu, sampai-sampai tersenyum kikuk. Entah bagaimana, dia justru meresponsnya dengan senyuman yang tak kalah manis. Ya Tuhan, saya mendapatkan hadiah berupa senyum dari ciptaan-Mu yang aduhai, sehingga langsung merasa suka pada pandangan dan senyuman pertama.

Bicara soal pertama, ini juga baru pencarian pertama, bukan? Artinya masih ada harapan. Saya pun kini kembali meneguhkan hati buat fokus sama mbaknya.

Kalau bisa kuulangi cerita, aku tak akan berada di tempat pertama kita berjumpa. Ku di sini dan mencari. Kau di sana menunggu untuk ditemukan. Untuk ditemukan. 


Pencarian kedua, 12 September 2019 

Berhubung saya tidak tahu namanya, patokan untuk mencari mbaknya tentu bakal keterlaluan sulit jika saya cuma mengandalkan fotonya saat dia mengenakan kemeja kuning, serta temannya yang berjilbab itu dengan baju kembang-kembangnya. Saya pun mencoba menganalisis, kalau dia bukanlah bloger ataupun buzzer dan hanya seorang mahasiswi biasa, kenapa dia rela datang ke acara itu? Hal yang paling masuk akal buat saya: dia ingin menikmati acaranya sebab pengisi acaranya menarik, yakni idberry alias Om Ded (pembuat konten video, khususnya mainan Lego), Arbain Rambey (fotografer), dan Endah n Rhesa (musisi yang tampil sebagai penutup acara). 

Saya pun membuka akun Om Ded, lalu melihat foto-foto yang menandai dirinya. Dari puluhan foto itu, saya akhirnya menemukan satu perempuan berjilbab pada acara Blogger Day. Saya inisiatif mengecek foto-fotonya yang lain. Sialnya, tidak ada satu pun foto lainnya, apalagi yang berdua dengan mbaknya, pada acara itu. Sepertinya saya salah orang. 

Saya lantas beralih ke akun Arbain Rambey. Jumlah orang yang menandai akunnya jelas berkali-kali lipat ketimbang Om Ded. Tapi atas nama rasa suka, saya rela meluangkan waktu buat menjelajahinya. Setelah jempol saya lumayan pegal efek kebanyakan menggulir layar, tibalah saya pada foto-foto acara tersebut. Kebanyakan fotonya bersama bloger yang sebagian saya kenali karena pernah bareng dalam suatu acara lain. Kemudian, saya pun menemukan satu foto gadis manis. Yang setelah saya perbesar, rupanya dia berwajah oriental. Jelas itu bukan mbaknya. Lagian bajunya dia kan merah, bukan kuning. Goblok banget ini si Yoga segala salah fokus dan di-zoom mentang-mentang cewek itu tampangnya lumayan ketika dilihat dari jauh.

Baiklah, dugaan terakhir saya, dia memang penggemar Endah n Rhesa. Tapi saya sudah tak sanggup lagi buat mencarinya hari ini. Saya akhirnya memilih rehat. Lebih baik melanjutkannya besok. 


Pencarian ketiga, 13 September 2019 

Mencari seseorang lewat foto yang menandai akun Arbain Rambey mungkin sudah amat melelahkan bagi saya. Namun, itu jelas belum ada apa-apanya dibandingkan dengan foto-foto di akun Endah n Rhesa yang jauh lebih gila. Instagram saya bahkan sampai macet alias berhenti bekerja dan langsung kembali ke menu utama ponsel, padahal penelusuran saya sudah sampai bulan Mei 2017. Tiga bulan lagi itu Februari, tahu! Tai banteng. Sontoloyo. Sobat gurun. Minyak jelantah. Berak siluman. Asli, saya jengkel bukan main.

Seandainya Instagram juga bisa melakukan pencarian lewat Twitter yang tinggal memasukkan kata kunci, pasti enggak akan sesusah ini. Sudahlah, saya capek buat scroll-scroll dari awal lagi. Kurang kerjaan banget. Mending baca buku yang jelas-jelas bermanfaat daripada melakukan hal bodoh begini.

Lucunya, sembilan jam berselang, saya kembali berusaha menemukan Mbak Manis Kemeja Kuning itu di foto-foto yang menandai Endah n Rhesa. Bagusnya, kali ini saya berhasil sampai ke bulan Februari 2017. Mungkin karena saya mencarinya via iPhone 4—yang mana belum ada fitur InstaStory, Boomerang, Live, dan sebagainya—sehingga terasa lebih enteng. Beberapa perempuan berhijab yang menandai Endah n Rhesa pada acara itu, memotret penampilan konser mereka dari pinggir sebelah kiri di bagian depan. Seingat saya, posisi duduk mbaknya itu di deretan belakang dan agak ke tengah. Jadilah saya menyimpulkan itu bukan teman mbaknya.

Hingga akhirnya, saya mulai menemukan satu foto konser yang dipotret dari tengah. Begitu saya klik pada nama akunnya, perempuan ini tampak manis. Saya membatin, mungkinkah ini mbaknya? Kalau dilihat dari foto profilnya, sih, bisa dibilang cewek ini lumayan mirip. Dia berambut lurus dan panjangnya sebahu lebih sedikit. Saya pun menggulir layar ke bawah. Pada sembilan foto pertama, jantung saya langsung berdebar tidak keruan selama memandangi foto-fotonya yang menampilkan pernikahan.

Anjing, masa iya dia udah menikah? Enggak mungkin, ah. Seingat saya tuh wajah dia pada 2017 masih kayak mahasiswi semester awal atau pertengahan. Setelah dua tahun berlalu sejak acara itu, kemungkinannya palingan sekarang-sekarang ini dia lagi menggarap skripsi atau baru lulus. Apa iya dia lulus kuliah langsung menikah? Please, akun ini bukan mbaknya. Ya Allah, semoga bukan dia. Memang saya akui diri ini kurang taat beribadah, tapi kali ini saja tolonglah kabulkan doa hamba-Mu yang sedang bersedih. Aamiin.

Pada foto-foto berikutnya, saya akhirnya langsung sadar bahwa dia jelas-jelas bukan mbaknya, sebab perempuan ini memiliki tahi lalat di wajah. Di memori saya, paras Mbak Manis Kemeja Kuning tidak ada nodanya sedikit pun. Mukanya betul-betul mulus.

Menengok jam di ponsel yang sudah menandakan hari telah berganti, saya pun menyudahi kegiatan melelahkan itu dan beranjak tidur. Pencarian panjang ini mungkin seakan-akan tidak membuahkan hasil. Tapi buat saya pribadi justru ada. Saya semakin yakin kalau mbaknya masih muda dan belum menikah. Seburuk-buruknya probabilitas, paling-paling dia baru sebatas punya pacar. Lagi pula, saya enggak berniat merebutnya seandainya dia sudah memiliki pacar. Saya hanya ingin memberi tahunya tentang cerita-cerita pencarian goblok ini jika bisa menemukan atau dipertemukan suatu hari nanti. Terlepas dari apa respons dia nantinya (mengira saya aneh, tidak mau mengenal saya lagi, lebih-lebih menuduh saya psikopat, mengumumkan pada khalayak ada orang sinting, atau apalah) saya pokoknya sudah siap dengan kemungkinan paling pahit itu. 


Pencarian terakhir, 26 September 2019 

Bosan dengan pencarian di Instagram yang belum juga ada perkembangan, saya memutuskan pindah ke Twitter. Saya lagi-lagi menelusuri tagar acara itu. Sudah pasti kali ini saya mencarinya dengan lebih teliti. Saya bahkan memperhatikan siapa saja orang-orang yang memencet tombol suka dan retwit di setiap twit dari akun Sun Life Indonesia. Saya pun menemukan seorang perempuan yang postur tubuh dan kurusnya sama sebagaimana mbaknya. Namanya Sandra. Jenis rambutnya juga mirip. Apakah Sandra adalah orangnya? Wajahnya juga oke, sih (enggak jelek). Tapi, saya ragu itu bukan mbaknya karena foto profilnya tampak kurang manis. Dia ternyata juga seorang buzzer saat saya simak dari beberapa twit terakhirnya.

Namun, daripada terus-menerus penasaran, saya akhirnya mengeklik pilihan media, lalu memperhatikan satu per satu fotonya. Saya enggak sreg melihat setiap gayanya saat berfoto. Saya masih ingat betul kalau Mbak Manis Kemeja Kuning tidak seekspresif dan lebay seperti orang ini dalam berfoto. Mbaknya sungguh kalem dan elegan sewaktu saya perhatikan sepanjang acara itu. 

Saya pun terus mencoba meneruskan penelusurannya hingga Februari 2017. Muncul gambar saat dia memotret Endah n Rhesa dari bagian tengah. Saya lagi-lagi berharap Sandra bukanlah orang yang saya cari selama ini. Apakah ini berarti saya mulai kecewa seandainya Mbak Manis Kemeja Kuning ini tidak semanis di ingatan atau jauh dari gambaran saya? Syukurlah ketakutan itu terjawab dengan foto berikut.



Sandra pasti bukanlah orangnya. Buktinya, dia lagi memotret seseorang yang sedang bertanya kepada sang pembicara. Kebetulan sekali mbaknya masuk ke dalam foto itu. Ini tandanya Sandra cuma duduk di sebelah kanan mbaknya. Saya pun tiba-tiba jadi ingin bertanya sama dia, apakah kenal dengan gadis di sebelahnya? Tapi sesaat kemudian, saya mendadak malas dan sudah yakin sekali dia tidak mungkin kenal sama mbaknya. Teman mbaknya hanya perempuan berjilbab itu.

Masalahnya, sampai hari ini saya juga belum mampu menemukan mereka di media sosial. Apakah mereka berdua, mbaknya dan si jilbab, memproteksi semua akun medsosnya? Jika benar begitu, berarti harapan saya itu nihil untuk mencarinya di media sosial. Jadi, saya tak perlu mencarinya lagi sehabis ini. Bisa melihat wajahnya yang dari samping, entah mengapa sudah lebih dari cukup buat saya saat ini. Mungkin mukanya juga tampak biasa saja ketika tidak dilihat dari depan, yang penting saya masih percaya dialah Mbak Manis Kemeja Kuning yang sebulan terakhir ini sering hadir dalam mimpi. Saya pernah bermimpi bertemu dengannya. Dia juga memberi tahu namanya. Berhubung itu cuma bunga tidur, saya tidak memikirkannya lebih lanjut. Saya juga pasti bakal langsung lupa siapa namanya begitu terbangun. Berkat gambaran manis itu, saya kini juga sudah bahagia bisa berjumpa dengannya walaupun cuma di alam mimpi.

Sebetulnya masih ada satu cara lagi, yaitu menggunakan Twitter, please do your magic, dengan kata lain meminta bantuan sama netizen. Siapa tahu twit saya bisa sampai kepada orangnya. Bagusnya, saya bukan tipe manusia yang menghalalkan segala cara demi mencari seseorang. Saya malas merepotkan banyak orang. Saya tak ingin cerita ini tersebar ke khalayak. Biarlah kisah ini cukup diketahui oleh segelintir orang, terutama para teman bloger. Saya pun enggak peduli bakalan dihina, atau diledek, bahkan dianggap mengerikan oleh orang-orang di sekitar saya lantaran mengisahkan hal semacam ini.

Kalaupun kamu berpikiran saya orangnya obsesif, itu adalah hak kamu. Saya tak bisa melarangnya. Setiap orang bebas menilai. Syukurlah, saya sungguh mengerti bahwa diri ini enggak terobsesi sama mbaknya. Perasaan ini masih jenis suka yang wajar. Saya belum segila penggemar K-Pop yang fanatik itu, kok. Saya juga masih punya kesadaran buat menjalani hidup normal. Pencarian mbaknya ini tuh mungkin bagaikan suatu penyesalan telah menjatuhkan sebuah benda—yang bagi saya berharga, lalu berusaha memungutnya kembali. Itu saja. Jika kamu tidak suka dengan cerita ini, tak perlulah membacanya. Ya, sesimpel itu. Toh, saya sudah berjanji pada diri sendiri akan berhenti mencari, mulai mengandalkan doa, dan tawakal. Sekarang, setelah menuliskan segala cerita ini beserta teks-teks pendukung (berupa ocehan tolol, cerpen, dan puisi) yang telah saya jadwalkan selama bulan Oktober, saya akan memasrahkan diri. 

Jika kita bertemu di sudut sesak itu, lihatlah di wajahku dan temukanlah wajahmu. Kutatap ke matamu dan ketemukan mataku. Dan kerumunan melindungimu, mengenakan wajah dan namamu. Kerumunan menjadi batu yang melesat dan menghancurkan. 


Seumpama kami ditakdirkan bertemu kembali pada suatu hari, saya berupaya supaya tidak mengulang kesalahan yang sama, apalagi menyia-nyiakan kesempatan itu. Saya mesti berkenalan dan mengobrol lebih banyak, mencari tahu beberapa hal tentang dirinya, mengisahkan cerita-cerita penelusuran saya. Sekalipun dia sudah punya pacar, seperti yang sempat saya tulis di atas, saya tak perlu menyesal pula. Bisa jadi justru nanti sayalah yang sudah menemukan kekasih baru. Setidaknya, tulisan ini akan menjadi sebuah bukti bahwa saya pernah menjadi pengagum rahasianya. 

Mungkin kau tak akan pernah tahu, betapa mudahnya kau untuk dikagumi. Karena hanya dengan perasaan rinduku yang dalam padamu, ku pertahankan hidup. 

-- 

Kalimat-kalimat yang ditulis dengan miring itu merupakan lirik lagu dari: 

Pee Wee Gaskins – Sebuah Rahasia 
Melancholic Bitch – Noktah pada Kerumunan 
Sheila On Seven – Pemuja Rahasia

sumber gambar: https://pixabay.com/photos/yellow-wall-girl-woman-people-926728/
Read More
Mungkin sebagian pembaca ada yang bingung tentang Mbak Manis Kemeja Kuning di cerpen saya sebelumnya, Obrolan Mengenai Paras, Tuhan, dan Nonsens yang Menyedihkan. Itu murni keteledoran saya yang luput untuk menuliskan cerita pengantarnya di blog. Saya baru pernah mengisahkannya di media sosial. Jadi, semoga tulisan berikut ini bisa sedikit menjawab pertanyaan itu.

 --

Apa yang pernah terekam di otak, suatu hari pasti bisa muncul lagi ke permukaan, sedalam apa pun saya mengubur kenangan itu. Saya mulai teringat kembali dengan memori Mbak Manis Kemeja Kuning kala sedang mencari seorang gadis (dia saya nilai manis juga karena memiliki lesung pipi di bawah mata) yang saya lihat saat acara bazar buku.



Saya mengeluh kepada Haw, teman yang datang bersama saya ke acara tersebut, tentang ingatan saya pada wajah cewek itu yang mulai samar-samar. Satu jam sebelumnya, ketika saya sedang menuju zona kalaptempat buku-buku yang mendapatkan diskon 50-70%, saya melewati panggung acara dan tak sengaja melihat seorang perempuan yang mengenakan sweter merah di belakang panggung. Dia sedang melihat hasil foto di kamera DSLR yang dipegang oleh kawan di sebelahnya. 

Saya refleks mengucapkan manis banget ya, Allah

“Yang mana, Yog?” ujar Haw. 

Saya pun memberitahunya. Respons Haw: biasa aja, ah. Saya tak mengerti, apakah selera kami dalam menentukan manis atau tidaknya wajah seorang perempuan itu berbeda, atau dia salah melihat orang, atau dia belum benar-benar memperhatikannya dengan jelas? Selesai membeli buku, kami tentu melewati panggung itu lagi, dan kali ini Haw meralat penilaiannya. 

“Betulan manis ternyata, Yog,” katanya. “Kamu cepat, ya, lihat yang bening-bening.” 

Saya tertawa. Saya hanya tak sengaja melihatnya. Kebetulan wajahnya itu juga punya pesona yang bikin saya ingin terus memandanginya. Bukan jenis tampang yang sewaktu saya lihat muncul perkataan di dalam hati, iya, dia cakep, tapi ya udah. Mungkin gadis itu sekilas terlihat sama saja sebagaimana perempuan-perempuan cantik ala selebgram yang mukanya glowing. Tapi jika diperhatikan lebih detail, saya menilai cakepnya itu termasuk natural. Bukan karena riasan wajah. Paras dia itu kayaknya cuma bisa dimiliki oleh perempuan yang sudah cantik sekaligus tajir mampus sejak lahir.

Apakah saat itu saya ada keinginan untuk berkenalan? Oh, tentu. Namun, saya termasuk orang yang sadar diri karena status sosial kami berbeda. Perempuan seperti itu tak akan terjangkau buat saya hari ini. Meski begitu, di dalam diri saya ada suatu perasaan ingin tetap mengaguminya dari jauh. Oleh sebab itulah, di jalan pulang saya dan Haw masih terus membahasnya. Lalu, kami mentertawakan payahnya memori otak buat mengingat wajah cewek itu dengan jelas. Gambaran mukanya mulai blur di ingatan.

“Nanti pas sampai di rumah coba aja cari di Instagram, Yog,” kata Haw. “Siapa tau dia update kegiatannya hari ini.” 

Saya memasukkan kata kunci tentang acara itu di pencarian Instagram. Tak ada satu pun wajah yang cocok dengan ingatan saya. Saya lantas pindah ke Twitter. Hasilnya ternyata sama saja. Karena tidak ketemu juga setelah mencarinya, terbitlah tiga kemungkinan di benak saya: 1) dia bukan tipe orang yang sedikit-sedikit pengin menunjukkan eksistensinya di media sosial; 2) dia lebih suka menampilkan foto secara telat alias latepost; 3) akun dia diproteksi. 

Pada keesokan harinya, ketika saya sudah malas menelusurinya lagi, lucunya Haw justru mengirimkan saya beberapa foto akun Instagram dengan pertanyaan, “Yang ini bukan?” Saat melihatnya tidak muncul kecocokan di otak, sehingga saya menjawab bukan. Tapi dari beberapa foto dan akun yang dia sodorkan, ada satu perempuan yang tak kalah manis (yang belakangan diketahui, kami juga sempat melihatnya di acara bazar buku) dan justru membuat saya terpikat hingga mengetik begini: “Jenis cantiknya mulai sesuai nih di memori. Tapi kok lesung pipinya hilang, ya?” 

Pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya sebab perempuan yang sedang kami cari itu bukanlah bagian dari kegiatan acara di panggung seperti cewek aduhai yang tak sengaja kami temukan.

“Susah ya cari orang di medsos tanpa tahu namanya. Mana ingatan akan wajahnya juga samar-samar. Apalagi clue-nya ini cuma dia pakai sweter merah,” tulis saya. 

Setelah mengetik begitu, tiba-tiba di kepala saya muncul memori tentang Mbak Manis Kemeja Kuning yang pernah saya temui dua tahun silam, tepatnya pada 18 Februari 2017 di acara “Blogger Day: Sun Life Future Plan”. Saya baru ingat pernah berjuang keras mencari seseorang di media sosial seperti hari ini dan hasilnya nihil lantaran tidak tahu namanya. Apa yang bisa saya ingat darinya hanyalah dia memakai kemeja kuning, lalu paras dan senyumnya manis. Tapi saya tentu sudah lupa, itu jenis manis yang bagaimana.

Walaupun pencarian sweter merah ini tidak mendapatkan hasil, setidaknya penelusuran kali ini bagi saya masih terasa lebih baik karena saya bisa menemukan banyak cewek yang memamerkan keseruan acara itu dan wajah-wajahnya juga tampak jelas. Berbeda sekali dengan Mbak Manis Kemeja Kuning. Selama dua tahun ini saya tak berhasil mendapatkan satu pun informasi tentangnya selain dia bukanlah seorang bloger. Sebab sewaktu saya menelusuri tagar acaranya di Twitter, tak ada satu pun twit darinya. Minimal kan para bloger ini pasti membuat 1-2 twit tentang acaranya. Saya pun pindah ke Instagram menggunakan tagar yang sama, tetapi hasilnya tidak berubah. 

Jika tak salah ingat, acara itu memang terbagi menjadi dua pengunjung; satu untuk bloger, lainnya buat mahasiswa atau umum. Mungkin dia memang bukan bloger. Dia cuma mahasiswi biasa. Bagi saya sangatlah sulit mencari seseorang yang tidak meninggalkan rekam jejak digital seperti para bloger. Lebih-lebih ketika saya sadar bahwa satu-satunya petunjuk tentangnya hanyalah potretnya yang membelakangi kamera. Apa yang bisa diharapkan dari gambar semacam itu? Akhirnya saya menyerah. 




Kini, saya berusaha mencari Mbak Manis Kemeja Kuning kembali karena terpicu oleh gadis bersweter merah, yang entah mengapa justru memunculkan rasa penyesalan. Kenapa saya menyesali hal yang sudah lewat dua tahun itu? Bisa dibilang karena saya tak bisa membohongi diri bahwa perjumpaan tak sengaja bersamanya itu merupakan momen manis yang rasa-rasanya tak ingin saya lupakan seumur hidup. Buktinya, dia betul-betul masih menetap di ingatan, padahal kejadiannya sudah jauh berlalu. Saya pun jadi mengutuk diri, betapa pengecutnya saya hari itu lantaran tak sanggup mengajaknya berkenalan. Sebab kalau Mbak Manis Kemeja Kuning ini saya masih cukup yakin buat bisa menjangkaunya.


Dua hari kemudian, saya ada kopdar bersama teman-teman bloger di Perpustakaan Nasional. Kami janjian pada pukul satu siang. Berhubung ada kawan bloger yang belum sempat hadir dan katanya juga ada yang ingin menyusul, sedangkan Perpusnas hanya buka sampai pukul empat sore, kami pun memutuskan pindah ke Warunk Upnormal Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat. Di sana saya malah tak sengaja bertemu dengan perempuan yang saya bilang memikat saat mencari gadis bersweter merah itu. Untuk memudahkan penceritaan, anggaplah namanya Tasya. 

Mulanya, Haw memanggil saya dan memberi tahu rombongan pengunjung yang baru datang. Kebetulan kami hari itu duduk di dekat pintu masuk. Haw bilang salah satunya mirip sama Tasya. Saya otomatis langsung mengecek ponsel, membuka akun Instagram, dan memandangi fotonya. Memang mirip sih, tapi apakah mungkin semesta langsung mempertemukan begini? 

Melihat Tasya memakai kaos putih yang dilapisi dengan sweter kuning, lagi-lagi memicu saya pada Mbak Manis Berkemeja Kuning. Sebetulnya, ada apa dengan warna kuning dalam hidup saya, sih? Tai, oh tai, mungkinkah ini suatu pertanda Tasya jodoh saya? Oke, itu harapan yang terlalu tolol. Lagi pula, belum tentu itu Tasya yang Haw dan saya temukan di Instagram. 

“Bukan ah, Haw,” ujar saya. “Mirip doang kali.” 

Pikiran saya sudah kadung terusik oleh Mbak Manis Kemeja Kuning dan jadi mau membahasnya kembali. Syukurlah kali ini ada saksi yang juga sempat melihatnya pada dua tahun silam, yakni Dian Hendrianto. 




Pada acara Blogger Day, saya masih ingat dengan jelas kalau duduk di barisan depan sebelah kanan. Di sebelah kiri saya terdapat Reza Andrian, dan di sebelahnya lagi ada si Dian. Saya sesekali mencuri-curi kesempatan untuk menoleh demi bisa memperhatikan Mbak Manis Kemeja Kuning yang duduknya di belakang bagian kiri, percisnya berada di arah jam delapan saya. Saat itulah Reza memergoki tingkah laku saya yang mencurigakan.

“Lagi ngelihatin siapa sih, Bang?” tanya Reza.

“Itu cewek yang pakai kemeja kuning,” ujar saya. 

Tak disangka tiba-tiba muncul sebuah pujian dari mulut seorang jahanam—yang tidak lain tidak bukan adalah Dian: “Manis juga.” 


“Yan, lu masih ingat cewek pas acara Blogger Day di Kokas ini, kan?” ujar saya seraya menunjukkan foto mbaknya yang menghadap ke belakang itu. 

Dian melihat fotonya selama 3-5 detik. Dia mengerutkan dahinya, lantas berkata, “Kayaknya gue punya videonya dah, Yog. Ada di arsip Instagram.” 

“Serius? Coba lihat dong.” 

Dian mengutak-atik ponselnya agak lama, lalu menyodorkan kepada saya sebuah screenshot. 



Meski gambarnya blur, di foto itu dia memang tampak manis sama halnya kayak di memori saya ketika kami berjumpa dua tahun silam. 

“Tolong tampilin lagi dong videonya, Yan. Gue mau tonton,” kata saya. 

“Udah tuh. Udah gue kirim juga SS-nya ke WA lu.” 

Beberapa kawan, termasuk Haw, kemudian ikutan menontonnya. Lalu begitu selesai, Haw memberi komentar, “Kamu enggak coba cari temannya yang berjilbab itu, Yog? Nanti kalau ketemu kan bisa tanya-tanya.”

Anjing, kenapa saya dulu enggak kepikiran sama sekali, ya? Apakah saya terlalu mudah menyerah untuk menemukan seseorang? Sepertinya enggak juga. Mungkin alasan saya dulu tidak mencari tahunya lebih lanjut dan takut mengajaknya berkenalan, sesungguhnya karena saya berpikir tidak etis dengan status hubungan saya. Bisa dikatakan saat itu saya masih punya pacar. Oke, silakan nilai saya bajingan, berengsek, Gemini terkutuk, playboy, softboy, atau apalah makian lainnya. Saya enggak terlalu peduli.

Namun, izinkan saya bercerita beberapa hal tentang hubungan saya dengan si pacar yang membuat saya kepengin berkenalan dengan perempuan lain yang jelita. Ketika itu saya lagi malas-malasnya sama pacar yang berulang kali memberikan omong kosong kepada saya. Dia telah berjanji akan suatu hal, tapi mengingkarinya seenak jidat. Lagi dan lagi. Saya mulai muak dengan permintaan maafnya. Kami bahkan nyaris putus pada akhir Januari karena dia salah paham dengan kalimat saya. 

Januari dan Februari 2017 dapat dikatakan bulan terburuk kami selama pacaran yang usianya baru berjalan 5-6 bulan itu. Apalagi ketika saya mengingat momen terkutuk pada suatu Minggu malam pada awal Februari. Setiap hari Minggu dia punya jadwal mengajar anak-anak dari pagi sampai siang di Bogor. Dia tergabung dalam sebuah komunitas guru relawan. Biasanya, sore sehabis Asar kami menyempatkan diri untuk bertemu sekaligus kencan. Dia pun menyanggupi pada hari itu. Tapi entah kenapa dia tidak ada kabar hingga azan Magrib berkumandang. Saya cemas. Firasat buruk dan pikiran-pikiran aneh pun muncul tanpa bisa saya cegah. 

Sekitar Isya, barulah dia bilang maaf telah membatalkan janji terhadap saya karena enggak enak menolak acara kumpul-kumpul sekalian makan-makan bersama para teman di komunitasnya tersebut. 

“Yoga jangan marah,” tulisnya di WhatsApp. 

“Marah buat apa?”

Awalnya, saya memang cuma membaca pesan-pesannya itu. Saya malas membalas pesannya karena masih ada rasa gondok telah menunggunya sejak sore tanpa kejelasan.

“Marah karena aku enggak ngabarin. Terus tadi aku juga dikasih kado sama temanku. Aku enggak enak buat nolak.” 

“Cowok?” 

“Cowok.” 

“Siapa?” 

Dia menyebutkan sebuah nama. Saya ingat sekali namanya. Itu cowok yang gemar menghujani komentar di beberapa foto Instagram pacar saya. Salah satunya berbunyi begini: “Duh, senyumnya mengajak berumah tangga. *emoji mata love*” 

Seketika membacanya, saya langsung pengin balas komentar tersebut, “Kontol.” Apa dia tahunya kalau pacar saya itu statusnya lajang? Enggak mungkin, ah. Pacar saya pernah memajang foto kami berdua. Itu sudah cukup jelas. Apakah emang cowoknya aja yang kurang ajar? Tidak tahu diri? Tapi pada akhirnya saya cuma bisa menahan diri. Saya malas ribut-ribut selama pacar saya tidak pernah menanggapinya. Pengabaian pun buat saya jauh lebih menyakitkan daripada hinaan. Namun, malam itu, pikiran saya tidak bisa jernih. Siapa yang tahu apa yang terjadi di belakang saya? Saya juga tak pernah tahu seandainya mereka diam-diam rajin bertukar pesan. Itu mungkin saja, bukan? 

Dia lalu mengirimi saya gambar kado dari cowok itu. Sebuah desain foto pacar saya setengah badan yang dibingkai dalam ukuran A3. Desainnya pun lebih bagus daripada bikinan saya. Setan. Saya jengkel banget.

“Terus, kadonya aku balikin apa gimana nih?” tanyanya.

Mendapatkan pertanyaan itu, saya bingung sendiri. Memang agak sulit menjadi orang yang tidak enakan. Mungkin jika saya yang ada di posisinya, saya juga sulit buat menolak pemberian seseorang. Tapi, kenapa seakan-akan dia ini enak-enak saja membatalkan janji sama saya dan telat menghubungi? Rasanya kan kayak enggak dihargai sama sekali. Dia malah bersenang-senang makan bareng dan menerima kado dari cowok lain. Bedebah!

Saya pun merenung. Jika dipikir-pikir ulang soal kado itu, anggaplah saya juga salah karena belum sempat memberikan kado apa pun untuknya selain editan foto yang cuma versi digital, sehingga ada laki-laki lain yang lebih dulu menyuguhkannya hadiah dalam wujud nyata. Jadilah saya menjawab, “Itu hak kamu.” 

Dia lalu berusaha membuat saya percaya kepadanya. Dia malahan bersumpah bahwa tidak menyukai cowok itu sama sekali. Sikapnya biasa saja selayaknya teman. Singkat cerita, kami pun berbaikan. Sayangnya, damai itu hanya berumur singkat. Kami lagi-lagi berantem dan saya juga sulit buat menghapus momen pertengkaran terkutuk Minggu malam itu. 


Saya gembira bukan main saat datang ke acara Blogger Day dan bisa berjumpa dengan kawan-kawan bloger yang dapat menghibur diri dari kondisi hubungan gawat itu. Selama seminggu terakhir kami masih sering bertengkar hebat. Pada hari saya ingin berkenalan dengan Mbak Manis Kemeja Kuning, saya dan pacar bahkan semacam berada di fase saling introspeksi. Mempertanyakan bagaimana hubungan kami selanjutnya, apakah tetap lanjut atau harus berakhir? Orang-orang mungkin menyebutnya dengan istilah break. Saya kala itu sebenarnya masih menyayangi si pacar, tentu saja. Toh, terbukti kami masih bertahan hingga setahun berikutnya. Akhirnya, saya jadi segan buat mengajak Mbak Manis Kemeja Kuning itu berkenalan. Mungkin seakan-akan ada perasaan bersalah di dalam diri. Statusnya masih punya pacar, kok berani-beraninya berkenalan dengan perempuan lain. Barangkali saya juga memercayai sebuah nasihat: sesuatu yang baru dan terlihat lebih menarik, belum tentu lebih baik dari yang telah kita miliki. Jadilah saya membuang gagasan untuk berkenalan. 

Sebelum memutuskan pulang ke rumah sekelarnya acara tersebut, saya dan gadis kemeja kuning itu ternyata masih berjumpa lagi di spot untuk berfoto. Dia percis berada di depan saya saat kami lagi mengantre di salah satu spot. Gila, jarak kami sudah sedekat ini. Parfumnya yang beraroma segar bahkan sampai tercium dengan jelas di hidung saya. Apakah ini tandanya saya memang perlu berkenalan? Jantung saya pun berdebar tidak keruan. Saya terlalu gugup. Tapi saya tak ingin mati menanggung penyesalan hanya karena takut dan tidak sempat mengajaknya berkenalan. Saya harus memberanikan diri. Saya tak mau jadi pecundang.

Saya lantas memejamkan mata sejenak, menghela napas, serta mengembuskannya perlahan-lahan. Sesaat sebelum saya membuka mata, muncul wajah si pacar. Tai anjing. Keberanian saya pun mendadak luntur. Jadi, untuk terakhir kalinya, saya berusaha menyempatkan diri buat memotretnya dari belakang. Saya hanya ingin mengenangnya, bahwa dia bukanlah perempuan khayalan tolol saya. Dia bukan fiksi. Dia itu nyata. Walaupun saya mengerti, sangat mengerti, dia kelak mungkin cuma hidup sebatas di memori saya.
Read More
Kala kukirimkan pesan tentang hujan rinduku terhadapmu yang jatuh terlalu deras, apakah kau akan menganggap diriku sedang memburas? Aku lantas mengira-ngira jawabanmu yang hanya menghamburkan tawa, atau kau akan balik bertanya, “Tapi bagaimana kau bisa merasakan kangen jika tidak mengingat parasnya?”

Saat itulah kukisahkan dongeng lama tentang dunia virtual yang kumainkan. Aku tak pernah tahu tentang lawan bicaraku. Apakah ia pria atau wanita, apakah ia sudah tua atau masih muda, apakah ia jujur atau dusta. Aku pernah menolong seseorang dari api maut yang disemburkan Naga Emas, raja dari segala hewan. Lalu kami bersatu untuk melawan, hingga kami menjadi kawan. 

“Jangan berbelit-belit, apa inti kalimatnya?” tanyamu. 

“Kita bisa berbuat baik kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Begitu pula kangen. Kita bisa merindukan siapa saja, walaupun belum sempat ada temu.” 

“Seperti cinta dan rindu kepada Tuhan?” 

“Tentu saja mencintai manusia tidak dapat disamakan dengan Sang Maha Esa. Meski begitu, sepertinya aku agak mengerti maksudmu. Sejujurnya, aku tidak terlalu paham soal cinta digital atau semacam itu, tapi kita memang bisa merindukan seseorang tanpa perlu mengetahui wujudnya.”

“Alah, omong kosong. Kau pasti memiliki keinginan untuk menemuinya lagi, kan? Kau pasti ingin melihat bentuk fisik, terutama wajahnya.”

“Bagaimana ya, perasaan semacam itu hadir tanpa bisa dicegah. Seperti hasrat ingin menggaruk ketika ada bagian tubuh yang gatal. Sewaktu kita rindu terhadap Tuhan, misalnya, kita juga akan menemuinya lewat ibadah, bukan? Kita mencoba berkomunikasi kepada-Nya. Terlepas dari kalimatku tadi, aku entah mengapa sangat percaya kalau kau itu memang manis. Semanis kata-katamu.” 

“Analogimu boleh juga. Tapi kenapa kau bisa kangen dan sangat ingin berjumpa denganku? Benarkah kau mengira aku manis? Apakah menurutmu aku ini pribadi yang baik? Kau kan belum mengenalku. Lalu, bagaimana jika ternyata kau nanti kecewa dengan kenyataan yang tidak sesuai khayalanmu itu?”

“Kita kan pernah berjumpa dua tahunan lalu. Jika memoriku tidak berkhianat, kau memanglah manis. Jika soal kepribadian, aku hanya bisa menebak-nebak dari caramu tersenyum, berbicara, dan berjalan. Bagiku, kau tampak kalem dan elegan. Aku tak tahu bakal kecewa atau tidak sebelum kita kembali bertemu. Lagi pula aku tidak berharap imajinasiku mesti akurat. Daripada menjawab pertanyaanmu lebih jauh, boleh aku bertanya?” 

“Kalimatmu yang barusan itu juga sebuah pertanyaan, Bodoh. Tapi tak apa, silakan bertanya lagi.” 

“Seandainya kau kelak bertemu dengan Tuhan, lalu melihat bentuknya yang jauh dari gambaranmu, apakah kau juga akan kecewa?”

“Pertanyaanmu sinting! Apa kau sendiri pernah membayangkan wujud Tuhan?” 

“Sewaktu kecil, sebelum aku mengetahui bahwa Tuhan tidak memiliki jenis kelamin, aku mengira Dia serupa kakek-kakek berambut panjang dan berjenggot lebat yang tubuhnya tegap, tatapannya meneduhkan, serta auranya penuh kebijaksanaan.” 

“Ternyata imajinasimu tentang Tuhan seperti para sufi yang sudah tua atau serupa dengan para filsuf Yunani terkenal itu, ya?” 

“Bisa dikatakan demikian.” 

“Kalau aku justru mengira Ia sesosok bocah sebagaimana tokoh ‘Beliau’ di novel Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, Semua Ikan di Langit. Sebelum membaca buku itu, aku juga sudah berpikiran ke arah sana.”

“Tunggu, kau kok bisa hafal nama Ziggy? Aku terkesan.”

“Nama belakangnya tinggal dipecah jadi empat. Zezsya-zeo-vienna-zabrizkie. Dengan begitu akan lebih mudah dihafal.”

“Cara kita sama berarti. Kalau soal Tuhan itu seperti bocah, aku juga hampir berpikir begitu, sih. Bedanya, aku membayangkan wujud Tuhan kayak bayi. Sebab terkadang aku bingung membedakan mana laki-laki, mana perempuan, ketika bayi tersebut memakai baju tanpa motif. Lalu, bayi tidak memiliki dosa. Wajah mereka menggemaskan, membuat setiap orang ingin memandanginya berlama-lama. Bayi juga tubuhnya harum. Air kencingnya bahkan belum terhitung najis.”

“Ada-ada saja pikiranmu.”

“Pikiran memang suka liar dan tak terkendali. Jadi bagaimana? Kapan kita bisa bertemu lagi?” 

“Berkomunikasi saja belum, tiba-tiba sudah ingin berjumpa. Pelan-pelan, Sayangku, lakukan selangkah demi selangkah.” 

“Apa maksud kalimatmu?”

“Apa kau tidak sadar? Sedari tadi kita tidak benar-benar mengobrol. Kita hanya berdialog di dalam kepalamu. Semua nonsens ini cuma sebatas khayalan menyedihkanmu.”

“Maaf, aku mendadak lupa. Aku terhanyut ke dalam cerita. Oh iya, aku mau mengaku: meskipun kisah kita ini tidak nyata, setidaknya perasaan tentang rindu dan diriku ini benar-benar menyukaimu itu merupakan fakta.”

“Sampaikan langsung ke orangnya. Mengatakannya kepadaku tidak akan mengubah apa-apa.” 

“Bagaimana caranya? Aku saja tidak tahu nama dan akun media sosialmu. Aku sudah mencarimu ke segala platform, kenapa hasilnya tetap nihil? Tapi ya sudahlah, aku juga mulai capek. Setidaknya, dengan berakhirnya cerita ini aku bisa merasa puas. Siapa tahu saja kau –yang sebenarnya– suatu hari diam-diam akan membacanya.”



--

PS: Jika kamu (Mbak Manis Kemeja Kuning) yang saya maksud ini membacanya, apakah kamu sudi meninggalkan komentar, atau menghubungi saya lewat surel maupun media sosial?

Maaf, ya, jika gambarnya ada simbol hati dan terlihat norak. Tapi kali ini saya memang ingin seperti manusia yang baru mengenal kasmaran. Segala hal tentangmu mungkin juga akan terus membuat saya menjadi norak.
Read More
It’s weird to feel like you miss someone you’re not even sure you know.” —D. F. W.

--

Aljabar tidak lolos dalam sepuluh besar Kompetisi Matematika tingkat provinsi Jakarta, lalu mencoba peruntungannya lewat lomba puisi yang tenggatnya tersisa dua hari lagi. Meskipun dia awalnya sempat sadar bahwa kegagalannya itu karena dirinya kurang tidur dan tidak fokus mengerjakan soal, tapi penyebab utamanya pastilah gadis manis itu. Seorang siswi SMA berambut sebahu yang mengenakan bando kuning. Sosoknya telah menghantui Aljabar dalam satu bulan ini. 



Semua bermula ketika Aljabar terlambat datang ke SMA 78 untuk mengikuti Kompetisi Matematika tingkat kota madya Jakarta Barat. Aljabar terpilih sebagai perwakilan dari sekolahnya, SMA 16, dalam bidang Matematika. Selain Aljabar, ada dua teman lainnya yang berpartisipasi mewakilkan sekolah, yakni Gina dalam bidang IPA dan Agus dalam bidang IPS. Kompetisi ini selalu menjadi ajang tahunan yang mengasyikkan khusus bagi para siswa dan siswi kelas 11. Terlepas dari manfaatnya yang bisa mengharumkan nama sekolah dan dipandang sebagai murid berprestasi, terkadang kompetisi semacam ini juga dapat menjadi momen silaturahmi sekaligus menambah relasi. 

Aljabar sendiri pun sudah berniat untuk cuci mata memandangi siswi-siswi aduhai dari sekolah lain. Syukur-syukur bisa berkenalan, lalu menjadi pacar. Lantaran niat busuk itulah dia akhirnya jadi bangun agak telat pada hari pembukaan kompetisi di SMA 78. Ketika Aljabar sampai di sekolah itu, para peserta lomba sudah berbaris dengan rapi seakan-akan sedang mengikuti upacara untuk mendengarkan sambutan dari Menteri Pendidikan maupun kepala sekolah setempat. 

Dari kejauhan, Aljabar menemukan Gina dan Agus di dalam barisan. Dia merasa bersyukur. Setidaknya ada kawan lain yang mendengarkan pidato itu. Seandainya ada hal yang penting, dia tinggal bertanya kepada mereka. Berdasarkan informasi yang dia ketahui, kompetisinya baru akan dimulai pada pukul setengah 8. Berarti masih ada waktu sekitar 20 menit lagi sebelum masuk ke kelas dan mengerjakan soal-soal. Saat itulah Aljabar memutuskan pergi ke kantin dan mencari sarapan. 

Kondisi kantin sangatlah sepi karena saat ini juga sedang proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Selain para pedagang, dia hanya melihat 6 siswa dan 2 siswi. Mungkin itu murid-murid badung, pikirnya. Aljabar pun berusaha tidak memedulikan mereka, lantas membeli nasi goreng dalam kotak mika dan sebotol air mineral dingin. Seusai makan, Aljabar baru sadar bahwa salah satu dari dua siswi itu tampak anggun di matanya. Aljabar memang belum memperhatikannya dari jarak dekat. Tapi seakan-akan gadis itu bagaikan memiliki aura pemikat.

Dia pun jadi penasaran dengan perempuan tersebut. Sayangnya, gadis itu langsung pergi meninggalkan kantin lewat arah yang berlawanan dari tempat duduknya. Dia cuma bisa menatap siswi itu dari belakang. Beberapa hal yang dapat Aljabar ingat untuk terakhir kalinya: tubuh cewek itu sama kurus seperti dirinya, berambut lurus sebahu, dan di kepalanya terdapat bando dengan hiasan pita berwarna kuning. 


Aljabar sudah rampung mengerjakan 50 soal Matematika yang terasa mudah dalam waktu 40 menit. Masih ada sisa 80 menit lagi sebelum waktu berakhir. Dia mencoba mengoreksi kembali jawabannya dalam waktu 15 menit, lalu setelahnya memilih memperhatikan cewek-cewek di ruangan itu. Dari 25 murid yang berada di kelas ini, entah mengapa dominan berkelamin sama dengannya. Ada 17 laki-laki dan 8 perempuan. Dari 8 siswi itu, yang terbilang lumayan cuma seperempatnya alias 2 orang. Indira dan Nadia. Belakangan diketahui, lewat daftar nama dan foto yang tertempel di jendela kelas, Indira berasal dari SMA 65 dan Nadia dari SMA 85. 

Namun, mereka berdua ternyata tidak lolos ke tahap selanjutnya. Aljabar kurang berminat dengan perempuan yang langsung gagal pada ronde pertama. Dengan kata lain, mereka kurang cerdas buat seorang Aljabar. Dia pun mulai berharap semoga di kelas selanjutnya bisa menemukan perempuan yang memukau. 


Aljabar berhasil lolos sampai tahap ketiga. Kini adalah hari penentuan, apakah dia akan sukses melaju hingga tahap keempat, yaitu sepuluh besar. Kompetisi tahap pertama diikuti oleh 100 sekolah, selanjutnya mengecil jadi 50 sekolah, kemudian berkurang lagi jadi 25 sekolah, dan terakhir 10 sekolah. Tinggal satu langkah lagi dia bisa membawa nama baik buat sekolahnya. Sebetulnya masih ada harapan lain, yakni Gina yang juga bisa lolos sampai sejauh ini. Tapi Aljabar tidak ingin bergantung kepada orang lain. 


“Anak IPS di sekolah kita tuh emang bego-bego ya, Bar?” ujar Gina kepada Aljabar sewaktu mereka lagi menyantap bakso di kantin. Mereka baru saja melihat hasil ujian tahap kedua. Nama Agus tidak muncul pada kompetisi berikutnya. 

“Jangan gitulah, Gin. Mungkin aja emang lawan-lawannya berat.” 

“Berat apaan? Kamu enggak lihat tadi nilai si Agus cuma 6? Dia ada di urutan 49. Dua dari terakhir. Beda banget sama kita yang hasilnya sembilan. Kita selalu jadi sepuluh teratas.” 

“Ya udah, semoga besok kita bisa tetap mempertahankannya.” 

“Kamu jangan ngecewain aku ya, Bar. Malu sama namamu kalau sampai gagal. Pokoknya kita harus bisa lolos sampai tingkat provinsi Jakarta.” 

Kalimat Gina barusan membuat Aljabar berpikir dan merenung. Apakah Aljabar pada namanya itu memang dimaksudkan oleh orang tuanya untuk unsur matematika? Atau Al Jabar dalam unsur islami yang berarti Mahaperkasa? Dia sungguh penasaran, tapi entah kenapa tak ingin mencari tahu lebih lanjut ataupun bertanya kepada kedua orang tuanya. Yang terang baginya saat ini, kedua makna dalam namanya itu sama bagusnya. Toh, cerdas dalam bidang Matematika bukanlah sesuatu yang buruk. 


Aljabar dan Gina sama-sama lolos ke tingkat provinsi Jakarta. Aljabar tentu masih tidak percaya ketika dia melihat daftar 10 perwakilan sekolah asal Jakarta Barat yang berhasil maju ke jenjang selanjutnya. Di antara sekolah-sekolah andalan seperti SMA 2, SMA 33, SMA 78, dan SMA 112, rupanya terdapat SMA 16. Aljabar langsung tersenyum lebar. Dia gembira bukan main berhasil memperbaiki citra sekolahnya yang dalam 5 tahun terakhir ini sering gagal pada tahap pertama atau kedua. 

Kesepuluh sekolah yang lolos itu nanti akan bertemu dengan 10 sekolah lain dari masing-masing kota madya (Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur). Totalnya berarti ada 50 sekolah yang mengikuti kompetisi tingkat provinsi Jakarta. Dalam kompetisi ini sistemnya masih tetap sama sebagaimana kota madya. Mengerucutkan angka dari 50 menjadi 25 dan akhirnya 10. Barulah kesepuluh besar itu diuji kembali hingga kelak terpilih tiga besar. 


Kini, Aljabar mesti bertamu ke SMA 8, Jakarta Selatan, yang menjadi tuan rumah kompetisi. Kali ini dia tidak mau mengulangi kecerobohannya datang telat pada hari pertama. Karena lokasinya jauh dari rumah, Aljabar bahkan rela berangkat dari rumah pukul 05.30 agar tidak terjebak macet dan bisa sampai tepat waktu. 

Aljabar tiba di SMA 8 pada pukul 06.07. Masih tersisa 23 menit lagi sebelum upacara berlangsung. Dia lalu mencoba mengirim WhatsApp kepada Gina. Apakah dia juga sudah berada di lokasi? 

“Belum, masih di jalan. Macet banget. Kayaknya aku sampainya bakalan mepet nih, Bar.” 

Aljabar kemudian jalan ke kantin, terus membeli dua buah Choki-Choki. Dia sadar bahwa nanti saingannya bakal semakin berat. Ada SMA 1, SMA 14, SMA 49, SMA 70, SMA Labschool, serta tuan rumah itu sendiri. Dia ingin membuat dirinya rileks sementara ini dengan menyantap cokelat. Dia juga mencolok earphone ke ponsel dan mengaitkannya ke telinga buat mendengarkan lagu-lagu Beethoven dan Mozart. Konon musik klasik itu dapat meningkatkan konsentrasi. 

Konyolnya, fokus Aljabar mendadak buyar ketika dia melihat seorang siswi berbando dengan hiasan pita kuning yang beberapa minggu lalu juga berada di kantin saat pembukaan kompetisi. Bedanya, dia saat itu ada di SMA 78. Kenapa Aljabar kini baru teringat lagi dengan gadis aduhai yang sempat bikin dia terpesona itu? Apakah gadis itu juga seorang peserta dalam kompetisi ini? Mungkin dia mengikuti lomba di bidang lain, entah itu IPA atau IPS, bukan Matematika sepertinya. Kenapa aku selama ini tidak kepikiran dan mencari tahunya, sih? 

Sekarang semuanya tampak lebih jelas. Cewek itu memang manis baik dilihat dari jauh maupun dekat. Aljabar rasanya langsung ingin mengajaknya berkenalan. Tapi senyuman gadis itu sewaktu mengucapkan terima kasih kepada pedagang di kantin entah mengapa justru membuat dengkul Aljabar lemas seketika. Dia gemetaran. Jantungnya berdebar tidak keruan. Dia tidak sanggup beranjak dari tempat duduknya. 

Ya Allah, kenapa aku sepengecut ini? Ayolah bangkit dan ajak dia kenalan! 

Tapi jeritan hatinya itu tidak berdampak apa-apa terhadap tubuhnya. Aljabar masih bergeming. Sampai sosok perempuan itu menghilang dari pandangannya, barulah dia dapat berdiri. Dia pun ingin mengejar gadis itu. Sayangnya, bel tanda masuk sudah berbunyi. Itu berarti dia harus ikut upacara pembukaan kompetisi, sebab Gina hari ini kira-kira datang terlambat. Jangan sampai di lapangan itu tidak ada satu pun perwakilan dari sekolahnya. Sial. Waktu belum berpihak kepadanya. Setidaknya, pikir Aljabar, nanti sekelarnya ujian dia akan menelusuri peserta kompetisi ini satu per satu. Semoga gadis itu dapat ditemukan. 

Aljabar kini kesulitan saat mengerjakan soal-soalnya. Ketika dia sedang fokus menggarap soal pertidaksamaan linear dua variabel yang terasa lumayan sulit, paras manis gadis itu mengacaukan pikirannya. Sehingga dia perlu menghitungnya lagi dari awal. Begitu pula saat dia menghadapi soal deret geometri, matriks, dan integral. Hal yang tadinya terasa mudah, kini malah berubah susah. Apakah tidak ada waktu lain buat memikirkan perempuan itu? Akhirnya, Aljabar berhasil menyelesaikan seluruh soal, tapi dia tak sempat mengoreksinya kembali lantaran kehabisan waktu. 

Seusai tes, Aljabar segera mencari informasi tentang 100 peserta di bidang IPA dan IPS. Menelusurinya sendirian tentu terasa berat, oleh sebab itulah Aljabar meminta bantuan kepada Gina. Kala pertama kali mereka berjumpa, Aljabar langsung bertanya, “Gin, apa di ruanganmu ada cewek yang pakai bando kuning?” 

Gina tampak kaget disodorkan pertanyaan semacam itu. Dia kemudian berpikir sejenak dan menggeleng. “Kenapa sih, Bar?” 

“Aku naksir cewek itu.” 

“Ya ampun, kamu ketemu dia di mana?” 

Aljabar lalu menceritakan pertemuannya tadi pagi, juga saat pertama kali terpikat oleh gadis itu. Karena kelas Gina tidak termasuk, mereka lantas memelototi 75 daftar peserta yang tertempel di papan informasi. Tapi tetap tak ada satu pun perempuan yang fotonya memakai bando. 

“Wajahnya kayak gimana, Bar?” ujar Gina. “Enggak akan bisa ketemu ini kalau patokannya dia cuma pakai bando. Apa di mukanya ada tahi lalat?” 

Aljabar baru sadar akan hal itu. Apakah sebegini bodohnya orang yang lagi kasmaran? 

“Enggak ada. Mukanya bersih. Intinya, kamu nilai aja coba yang menurutmu cantik, Gin. Nanti baru aku cek sendiri yang kamu tandain.” 

Gina menyebutkan nama Farsya, Kayla, Sekar, Tania, dan Vina. Namun, di antara itu semua tetap tak ada sosok yang Aljabar cari. Hasil penelusuran mereka nihil. Aljabar pun mendengus, lalu mengusap-usap wajah dengan kedua telapak tangannya seperti orang frustrasi. 

“Mungkin aja dia siswi biasa. Enggak ikut kompetisi,” ujar Gina. 

“Kalau emang begitu, kenapa dia ada di sini dan juga di SMA 78?” Aljabar lalu meneruskan kalimatnya dengan menganalisis tentang gadis itu. Seandainya dia siswi SMA 78 dan bukan peserta kompetisi, kenapa hari ini dia datang ke sini? Jika dia murid sekolah ini, kenapa hari itu dia juga berada di SMA 78—yang mana merupakan wilayah Jakarta Barat. SMA 8 tidak mungkin hadir dalam kompetisi tingkat kota madya. Hal itu sungguh membingungkan dirinya. 

“Gimana kalau dia hantu penunggu kantin, Bar?” 

Ngaco kamu, Gin!” 

Mereka berdua pun tertawa bersamaan. 


Dua hari kemudian, pengumuman tentang nilai kompetisi itu keluar dan Aljabar mendapatkan nilai 7,8. Dia berada di urutan ke-25 dari 50 peserta. Walaupun akhirnya tetap lolos ke tahap kedua, dia cuma bagaikan orang yang beruntung. Kala itulah Gina (yang hasil nilainya selalu bikin dia bertahan di sepuluh besar) memarahi Aljabar habis-habisan. 

“Bar, aku tahu fokusmu terganggu karena mikirin cewek itu. Tapi kenapa nilai Matematika kamu malah turun begini? Syukur aja kamu enggak jadi gagal di tahap pertama.” 

“Sori, Gin. Mungkin emang kemampuan aku cuma segitu.” 

“Enggak, aku yakin kamu mampu mendapatkan nilai lebih. Pokoknya besok jangan sampai dapat hasil buruk lagi ya. Kamu fokus dulu aja sama kompetisinya. Nanti kalau masuk sepuluh besar lagi dan menang, kamu juga bakal jadi pujaan cewek-cewek di sekolah kita, kok.” 

Aljabar sesungguhnya sudah tahu fakta itu. Menjadi pemenang kompetisi akan membuat dirinya digandrungi lawan jenis. Namun, dia sudah telanjur terpikat oleh gadis berbando kuning. Dia tak butuh perempuan lain. Sekalipun suatu hari Gina yang cerdas dan tergolong cantik, lebih-lebih berkacamata (kriteria idaman Aljabar), menyatakan cinta kepadanya, pastilah akan menjadi biasa saja bagi Aljabar yang sekarang. Dia cuma menginginkan perempuan berbando kuning itu. 


Aljabar masih belum bisa menghapus sosok gadis itu dari benaknya, padahal lima menit lagi tesnya akan dimulai. Dia tak tahu hasilnya nanti akan bagaimana jika terus-terusan begini. Apalagi Aljabar merasa dipandang rendah oleh siswa dan siswi di ruangannya. Setiap kali ada yang tertawa, entah itu mereka sedang bercanda atau menonton video atau apalah, Aljabar entah kenapa berpikir mereka sedang mentertawakan kebodohannya karena berada di urutan terakhir. Menjadi murid dengan nilai terburuk di kelas itu menjadi tekanan tersendiri baginya.

Biarpun demikian, syukurlah Aljabar berhasil menyelesaikan soal-soal itu pada 30 menit terakhir. Gangguan dari bayang-bayang gadis itu ataupun menurunnya tingkat kepercayaan diri dapat teratasi dengan jurus andalannya: meditasi. Menurutnya, memejamkan mata lalu menghela dan mengembuskan napas berulang-ulang kali merupakan metode paling ampuh untuk mengusir grogi dan melatih fokus. 

Gina sukses melangkah ke tahap selanjutnya dengan menempati urutan ketujuh, sedangkan Aljabar gagal karena berada di angka 13. Mengetahui info itu, Gina refleks meneteskan air mata dan memeluk Aljabar.  Aljabar sebetulnya terkejut dengan sikap itu. Tapi entah kenapa dia cukup menikmatinya. Payudara lembut Gina yang menekan tubuhnya seakan-akan menjadi sebuah pelipur lara. 

“Itu makna angka kita pas banget, ya?” ujar Aljabar. “Kamu meraih peringkat ketujuh, Gin. Angka keberuntungan. Kalau aku dapatnya angka sial. Sori banget ya, aku gagal.” 

Gina melepaskan pelukannya. Menghapus air matanya. “Kamu enggak gagal, Bar. Kamu berhasil memperbaiki nilai tesmu. Kamu dapat delapan koma lima. Itu bagus, tahu. Tapi mau gimana lagi, yang sepuluh besar malah dapat sembilan koma semua. Lawan kita yang sulit. Makasih sudah berjuang sejauh ini ya, Bar.” 

Aljabar tersenyum. Dari jarak sedekat itu, dia kini semakin sadar bahwa Gina itu seorang gadis jelita dan bagaikan pelita. Tapi sayang hatinya sudah telanjur sreg kepada perempuan asing entah siapa. Jika dia sudah kehilangan harapan, mungkin dia bisa mencoba membuka hatinya buat Gina. Itu pun kalau Gina bersedia. 


Pertandingan final akan diselenggarakan dua minggu lagi. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang jaraknya hanya hitungan hari dan seakan-akan tidak ada istirahatnya. Kini para siswa yang masuk kesepuluh besar bisa merehatkan pikirannya. 

Di tengah-tengah masa istirahat itulah Gina justru memberi tahu Aljabar akan hadirnya kompetisi susulan, yaitu lomba karya tulis ilmiah dan puisi dalam tingkat kota madya. 

“Aku mana bisa bikin karya ilmiah, Gin,” tulis Aljabar di WhatsApp. 

“Tenang aja, nanti aku bantuin risetnya.” 

“Sori, Gin, aku lagi malas ikut-ikutan lomba lagi. Mending kamu cari orang lain.” 

“Kamu masih trauma karena kekalahan kemarin itu? Maaf ya, Bar. Aku habisnya enggak tahu mau menyuruh siapa lagi. Seenggaknya itu biar sekolah kita bisa ikut berpartisipasi aja. Kamu enggak usah terbebani harus menang.” 

“Meski kamu bilang begitu, aku tetap enggak bisa.” 

“Oh, ya udah deh. Seandainya nanti kamu berubah pikiran, aku cuma mau bilang kalau deadline setor tulisannya tinggal seminggu lagi, Bar.” 


Aljabar mengecek daftar peserta lomba karya tulis ilmiah dan puisi. Di antara keduanya, tidak ada satu pun murid dari sekolahnya yang berpartisipasi. Padahal tiap sekolah diberikan jatah maksimal mengirimkan tiga tulisan untuk setiap kategori. 

Tenggat tersisa dua hari lagi dan tetap belum ada karya yang masuk mewakilkan sekolahnya. Aljabar ingin menghubungi Gina, tetapi dia sadar bahwa membuat karya tulis setidaknya membutuhkan waktu sedikitnya tiga hari demi hasil yang memuaskan. Kala itulah muncul inspirasi baru di kepalanya. Kenapa dia tidak ikutan saja lomba satunya, yaitu puisi? Namun, apakah Aljabar dapat menyusun kata-kata? Selama ini dia hanya jago perihal angka. Nilai bahasa Indonesianya pun pas-pasan. Tapi perasaan rindu yang menggebu-gebu akan sosok gadis manis itu semestinya bisa dia olah menjadi sajak, bukan? Kala itulah dia tidak peduli lagi dengan baik maupun buruknya. Dia cuma ingin menumpahkan perasaan di hatinya itu menjadi sebuah teks. 

Pada hari terakhir penyetoran karya, Aljabar akhirnya mengirimkan puisi berikut ini:

Rindu


1.

Memang setiap rindu yang tak berbalas itu menyakitkan. Tapi, harus aku kirim ke manakah rindu itu? Meski aku tahu gadis yang kutuju, tetap saja belum ada satu pun akses untuk menyampaikannya. Aku seperti hidup di zaman manusia belum mengenal internet dan telepon. Aku bagaikan Magrib yang menginginkan mentari terbit.

Rindu bukan sebuah barang yang bisa kutitipkan lewat kurir. Rindu bahkan tidak selalu memiliki alamat. Rindu adalah anagram dari rudin. Seperti kondisi sebenarnya akan informasi tentangmu yang tak kalah miskin. Rindu juga anagram dari duri tanpa huruf N. Rindu berarti juga dapat melukai. 

Rindu merupakan lindu bagi orang cadel. Itu tandanya rindu bisa pula membuat manusia pusing. Dan kepalaku malam ini kelewat pening. Karena seolah-olah telah kehabisan cara untuk mencari dan mencuri. Maka, dengan metode apa lagi aku harus menemukanmu, Manis?

Aku tak tahu namamu. Di mana tempatmu menuntut ilmu. Di mana habitatmu. Kini ingatanku akan parasmu pun mulai samar-samar. Sehingga hatiku mendadak memar.

2.

Memang cara ampuh mengobati rindu adalah bertemu. Namun, rumah sakit mana yang dokternya itu kamu? Aku rela berkunjung ke sana setiap hari walaupun diriku benci rumah sakit. Sebab jika sudah satu bulan tidak melihatmu dari dekat, aku pasti sangat jauh dari kata sehat.

Aku pikir sajak ini tidak boleh lagi mengucap rindu. Karena aku takut ia akan berevolusi menjadi sendu. Atau tumbuh menjadi pohon randu. Yang sekilas terlihat sedang menurunkan salju. Tetesan air mata penyesalan yang lupa caranya berhenti. Ia tidak akan mengering sebelum aku mati atau kita berjumpa nanti.


“Selain pintar menghitung angka, kamu diam-diam jago meracik kata ya, Bar,” ujar Gina setelah mengucapkan selamat atas kemenangan Aljabar dalam lomba puisi. Mereka hari ini sedang berada di SMA 78 untuk penerimaan hadiah. Gina sendiri meraih juara kedua kompetisi IPA tingkat provinsi Jakarta tempo lalu.

“Ah, itu iseng-iseng aja, Gin. Lagian, aku juga cuma juara tiga. Aku bahkan enggak paham kenapa puisiku dengan tema cinta itu bisa menang. Yang juara 1 dan 2 kan tentang ‘kritik sosial’ dan ‘ibu’. Tema mereka lebih berbobot. Mungkin karena yang ikutan sedikit kali, ya?” 

“Menang tetaplah menang, Bar. Mau juara berapa pun. Mau yang ikutan sedikit ataupun banyak. Meski puisimu cinta-cintaan, pilihan katamu itu rasanya ajaib, tahu. Masa dari kata rindu bisa jadi pelesetan ke rudin dan randu. Itu kan pasti perlu memutar otak.”

“Ya, mungkin begitulah cinta bekerja, Gin. Perasaan bedebah ini justru bisa menjadi inspirasiku buat menulis sajak.”

“Terus cewek mana tuh yang beruntung sampai jadi inspirasi kamu bikin puisi? Masih cewek tanpa nama itu?”

“Pokoknya ada deh.” 

“Ah, enggak asyik nih!” 

Aljabar cengengesan. 

“O iya, Bar, teman SMP aku ada yang mau kenalan sekalian minta foto bareng. Dia sekolah di sini. Dia penggemar berat hal-hal yang berbau puisi. Tapi dia malu buat bilang sendiri, makanya minta tolong sama aku.” 

“Hah, siapa?” 

“Namanya Rani.” 

“Terus mana orangnya?” 

Tangan Gina menunjuk ke arah toilet putri di dekat kantin. “Nah, itu dia yang lagi ngintip.” 

Saat mata mereka bertabrakan, Aljabar langsung sadar bahwa teman Gina yang mau berkenalan dan meminta foto bareng itu rupanya seseorang yang selama ini dia cari-cari. Aljabar mungkin sempat lupa dengan wajahnya, tapi begitu melihat paras gadis itu lagi otaknya pun berkata cocok. Toh, hal itu juga sangat kentara sebab Rani juga memakai bando kuning sebagaimana pertemuan-pertemuan sebelumnya. Ternyata sebuah puisi tentang rindu dapat mempertemukan mereka. Apa jadinya jika Aljabar tidak ikut berpartisipasi? Dia pun membuang pertanyaan tolol itu dan segera melangkahkan kakinya mendekati Rani. 


--

Lindu dalam bahasa Jawa artinya gempa bumi.

Sumber gambar: Pixabay dan Blibli.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home