1/



Aku sesosok bidadari asal kahyangan yang ingin tau suasana di bawah sana. Tapi, kedua malaikat melarangku turun ke jalan karena kondisinya terlalu kacau. Mereka risau dan takut aku akan terluka, sedangkan aku tidak mau cuma berdiam diri dan berduka. Aku berjanji hanya datang untuk membantu urusan logistik, kemudian kembali ke langit mistik. 

Aku menyamar menjadi mahasiswi yang membagikan botol-botol air suci supaya bisa mengurangi caci atau mengobati benci. Di sana, aku mendapat kalimat-kalimat godaan dari sebagian mahasiswa tentang betapa montoknya tubuh. Hingga dengan melihatku saja tanpa menyentuh, keimanan mereka seakan-akan langsung rubuh. 



Lantas, tidakkah mereka paham apa yang sedang kawan-kawannya ini perjuangkan? Ada tujuh desakan. Salah satunya: Agar budaya patriarki mati. Supaya kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual, apa pun bentuknya, dapat lenyap. Sehingga para perempuan tidak perlu takut lagi tampil sesuai keinginan mereka. 

Perempuan-perempuan itu bisa santai memakai baju seksi tanpa takut diganggu lelaki yang menuhankan nafsu dan gampang ereksi. Perempuan-perempuan bercadar juga dapat beredar di jalan-jalan, lalu terlepas dari ejekan penampilan yang dianggap tidak sesuai standar. Mereka tak perlu lagi merasa miris sebab dituduh teroris. 


2/ 

Aku seorang kakak yang menerima kritik dari adiknya lewat sepenggal sajak Wiji Thukul, ”Apa guna banyak baca buku, kalau mulutmu bungkam melulu?” Aku pun tiba-tiba ikut terjun ke jalanan bersama mahasiswa lain untuk memprotes DPR goblok yang tak punya lagi rasa malu. Namun sesampainya di lokasi, aku mendadak pilu mendengar sebagian mahasiswa bersiul dan merayu seorang gadis yang membagikan kami air mineral. Penampilannya yang manis itu bagaikan sebuah oasis di padang pasir. Membuat siapa pun yang melihatnya bakal langsung naksir

Aku memberanikan diri menghampirinya, lalu meminta maaf kepada mahasiswi itu atas kelakuan teman-temanku. Mungkin aku juga sebenarnya ingin minta maaf buat diri sendiri. Pada masa silam, aku juga gemar melemparkan lelucon soal tubuh wanita. Aku kini sudah tersadar, sebab setiap kali mengingat dosa busuk itu akan menerbitkan derita. 

Tapi aku tetaplah pecundang tolol yang tidak mampu membela kehormatan wanita ataupun menegur oknum-oknum yang menjadikan para perempuan sebagai objek dan bahan ejek. Yang aku bisa hanya menahan diri dari godaan setan supaya tidak lagi ikut-ikutan. 


3/ 

Aku gambar kontol yang dilukis oleh seorang mahasiswa di suatu tembok untuk menunjukkan betapa muaknya masyarakat atas kinerja pemerintah. Aku burung tanpa sayap yang tidak mampu membela kejantanannya sendiri. Aku tidak sudi disamakan dengan bajingan-bajingan tengik di gedung-gedung itu. Jika aku bisa terbang, aku ingin kabur dari sangkar pemiliknya—para DPR yang bikin RUU untuk mengatur urusan selangkangan rakyatnya, padahal mereka sendiri tidak dapat mengontrol berahi. Adakah kata yang lebih laknat dari munafik untuk menggambarkan orang-orang seperti mereka? 


4/ 

Aku anak STM yang diremehkan dan disuruh pulang oleh sebagian pekerja kantoran. Katanya, daripada berbuat rusuh lebih baik kami belajar yang benar biar otak cerdas. Tapi, apa lagi yang harus kami pelajari di sekolahan? Di bangku sekolah, kami sudah banyak tertindas. Kehidupan telah mengajarkan banyak hal kepada kami. Orang tua kami susah payah mencari duit untuk biaya SPP, tapi banyak guru yang lupa atau sengaja tidak masuk ke kelas karena konon percuma mendidik orang-orang udik. Kami mau menggugat keadilan. Kami bukan menuntut adanya anarki. Kami cuma ingin sistem yang bobrok diperbaiki.


5/ 

Aku adalah polisi yang pada empat bulan silam, Mei 2019, menerima banyak puja dan puji. Namun, roda dunia mulai berputar, sehingga yang kami terima saat ini berubah menjadi hinaan keji. Mungkin kau tidak akan percaya bahwa masih ada polisi yang baik selain polisi tidur. Jumlah polisi baik memang sangatlah langka. Setidaknya, percayalah kepadaku ketika diriku ini tidak tega melihat kawananku menendangi tubuh beberapa mahasiswa. Memukul kepala mereka dengan pentungan. Mengeroyok pejuang keadilan itu bagaikan maling. Padahal, pencuri sebenarnya ialah bos-bos kami yang mendapat julukan tikus berdasi. Tapi kami terlalu bodoh dan hanya bisa patuh. Demi menutupi kesalahan itu, kami seperti biasanya akan mencari pembenaran terhadap apa pun, lalu berdalih, “Kami hanya menjalankan tugas.” Walaupun tugas itu sendiri malah membuat pohon kejujuran menjadi cepat ranggas.


6/ 

Aku seorang jurnalis yang dilarang untuk merekam fakta. Ponselku dirampas dari tangan, dibanting, dan akhirnya disita. Apakah polisi-polisi keparat itu tidak mau kejahatannya terlihat? Mungkin mereka takut citra mengayomi berevolusi menjadi menzalimi.


7/ 

Aku rakyat kecil yang tidak pernah percaya kepada aparat sejak masih muda. Sewaktu SD, aku sempat terserempet motor yang ditunggangi seorang polisi. Ia memang tidak kabur sebagaimana penjahat-penjahat tabrak-lari. Namun, tindakannya sungguh lebih biadab. Ia berusaha mencari celah, meyakinkan warga penolong bahwa akulah yang salah. Katanya, aku menyeberang jalan dengan tidak berhati-hati. Tapi apalah arti hati-hati, jika sosok pelindung masyarakat itu justru apati? Aku berpikir lebih baik hari itu aku mati. Karena tidak mampu memberikan bukti. 

Pada kemudian hari, benciku terhadap mereka semakin menjadi-jadi. Ayahku kehilangan motornya dan mengurus ke kantor polisi. Tapi kami tak sanggup membayar retribusi agar mereka lekas menangani kasusnya. Apa yang bisa orang miskin lakukan dalam hal ini? Kami seumur hidup berada di golongan bawah, tetapi polisi itu selalu memasang biaya penyelidikan yang terlalu mewah. Lebih baik kami ikhlaskan motor yang telah hilang, kemudian pulang dan menerima nasib malang. Sejak hari itu, kami tak pernah percaya lagi kepada para polisi. Mereka merupakan manusia-manusia palsu. Yang lebih pantas dijuluki asu.


8/ 

Aku sebuah tabung gas air mata basi yang ditemukan salah seorang saksi. Aku diperintahkan untuk membuat gerombolan mahasiswa itu menangis. Tapi pada akhirnya, akulah yang justru meneteskan air mata. Mengapa aku tetap dijadikan senjata oleh polisi-polisi bengis untuk menghukum para mahasiswa? Bukankah lebih baik mereka menembakkanku ke tempat pejabat-pejabat pendusta? 


9/ 

Aku sebutir peluru yang meraung-raung kala ditembakkan untuk mengusir para demonstran. Aku sadar kalau jeritanku tidak akan pernah terdengar oleh siapa pun. Meski begitu, aku tetap berteriak dan bilang “awas”. Lalu usahaku itu akhirnya malah sia-sia. Aku telah menabrak dada seorang mahasiswa hingga dirinya tewas. Aku sebelumnya sudah membujuk para polisi itu agar tidak perlu berubah ganas. Tapi, suaraku tidak akan mereka hiraukan karena situasi berubah semakin panas. Mereka hanya peduli perintah atasan untuk menegakkan tirani. Sampai-sampai melupakan betapa pentingnya nurani.


10/ 

Aku sehimpun puisi yang dirangkai secara terburu-buru untuk merangkum aksi demo masa kini. Aku tampil di sini tanpa memperhatikan rima dan estetika. Sebab penulisnya berkata, “Untuk melawan penguasa-penguasa jahaham, kita tidak lagi memerlukan keindahan dan etika.”

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/demonstration-hamburg-g20-human-2477988/
Read More
Pertanyaan

Belum ada satu pun orang yang saya kenali di pernikahan Wahyu Hermanto dan Irma Anjani selain sang mempelai perempuan itu sendiri. Irma adalah teman kuliah saya. Kami sempat sekelas saat semester 1-4. Berhubung saya ini anaknya malas kalau langsung salaman kepada pengantinnya, lebih-lebih sendirian begini, saya pun memilih berjalan ke stan sate ayam, kemudian makan di dekat situ seraya memperhatikan tamu-tamu yang hadir. Barangkali ada kawan kuliah yang datang pada jam-jam awal seperti saya. Ini bukan karena saya tak ingin kehabisan makanan di gedung yang jadwalnya hanya dua jam—dari pukul 11 sampai 1 siang, tapi saya sengaja datang lebih cepat sebab setelah ini masih ada acara lain.

Seusai memakan sate, saya mulai mengantre bakso. Saya kurang berminat menyantap menu utama. Saya lebih suka makanan tanpa nasi setiap kali pergi kondangan. Ketika antrean tinggal dua orang lagi, lalu ada seseorang yang menepuk bahu saya. Tercium aroma parfum menyegarkan dan terdengar suara perempuan yang tidak asing di telinga. “Lu kondangan kok segala bawa tas, Yog? Habis ini sekalian berangkat kerja?” 

Saya menoleh dan mendapati sosok Farah Kinanti—teman sekelas saya juga seperti Irma. Dia memakai dress panjang berlengan pendek berwarna biru admiral, sepatu kets putih, dan di bahunya tersampir tas selempang hitam khas wanita. Saya lantas menjelaskan kepada Kinan (saya lebih senang memanggilnya begitu ketimbang “Farah”) tentang ada urusan lagi sesudah kondangan. Saya pikir daripada bolak-balik ke rumah, toh lokasi pernikahannya searah dengan tempat yang saya tuju kelak, mendingan saya sekalian pergi membawa barang-barang yang dibutuhkan dan menyimpannya ke dalam tas. 

Kami menggasak bakso seraya bertukar kabar dan bertanya kenapa datang sendirian. Saya seperti biasa menjawab basa-basi soal keadaan yang alhamdulillah baik sekalipun pada kenyataannya masalah hidup belakangan ini muncul bagai tak habis-habis, serta belum punya partner lagi yang bisa menemani sejak setahun silam; sedangkan Kinan mulanya juga menjawab baik, tapi kemudian bercerita sedikit kalau dia baru putus tiga bulan lalu sama cowoknya.

Sadar bahwa pembahasan ini kurang asyik dan mungkin bisa mendatangkan kesedihan, Kinan tiba-tiba mengalihkan topik dengan bertanya, “Eh iya, lu belum ganti-ganti tas apa, Yog? Terakhir kali kita ketemu, lu bukannya pakai tas yang itu juga?” 



Masalah 

Sekitar tiga tahun lalu, pada awal Oktober 2016, saya tak sengaja berjumpa dengan Kinan di acara bazar buku yang berlokasi di JCC Senayan, Jakarta Pusat. Saya melihatnya dari kejauhan ketika dia lagi memilih-milih buku di salah satu stan. Saya lantas menghampiri Kinan sekaligus menyapanya. 

“Tuh, kan, betulan Yoga,” ujarnya. 

“Hah, maksud lu?” 

“Tadi gue udah sempat lihat lu pas lagi bayar buku di kasir. Tapi karena ragu, gue enggak jadi nyamperin. Habisnya tampang lu beda banget kalau gondrong. Gue kira orang lain.” 

Saya otomatis tertawa. Tawa Kinan pun menyusul. 

“Lu udah beli buku apa aja, Yog?” 

Saya memperlihatkan isi tas yang terdapat buku kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara, A. S. Laksana; novel Norwegian Wood, Haruki Murakami; dan buku puisi Di Hadapan Rahasia, Adimas Immanuel.

“Lu belum berubah ternyata. Masih aja hobinya beli buku-buku fiksi. Dasar calon penulis!” 

Saya cengengesan sembari mengamininya dalam hati, lalu gantian bertanya tentang buku yang dia beli.

“Gue baru dapat ini,” ujarnya sambil memperlihatkan buku Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar dan The Power of Habit

“Lu emang lebih suka buku-buku motivasi kayak gitu, ya?” 

“Enggak juga sih, Yog. Gue niatnya lagi cari buku-buku Manajemen SDM (Sumber Daya Manusia) buat skripsi. Eh, malah ketemu dua buku ini. Mumpung diskonnya gede.” 

Saya sudah lupa apa saja judul buku Manajemen SDM yang Kinan beli setelahnya. Saya hanya bisa mengingat Kinan sempat menitipkan buku-buku itu ke dalam tas saya. Kala itulah saya merasa bawaan jadi lumayan berat dan agak terganggu akan kondisi tas yang seolah-olah miring. Saya pun memastikannya dengan bertanya kepada Kinan, apakah tas saya betulan miring?

“Iya, miring. Itu kan tinggal diatur aja talinya, Yog.” 



Jawaban Kinan membuat saya sadar bahwa kondisi tas tersebut memanglah kurang baik. Lima bulan sebelumnya, buckle alias gesper tas saya ada yang patah lantaran keberatan beban. Tapi berhubung saya masih menyukai tas itu, biarpun sudah tidak bisa diatur lagi panjang-pendeknya, saya memilih menyiasatinya dengan mengikatnya saja. Pokoknya tas itu masih bisa berfungsi dengan baik untuk menyimpan berbagai macam benda. 

Begitu saya beri tahu masalahnya, Kinan segera menyarankan saya untuk mencari tas baru. Saya dengan entengnya menjawab lagi bokek. Buat sementara pakai yang ada saja. Nanti kalau ada rezeki berlebih, barulah membeli yang baru.

“Makanya duitnya ditabung, Yog, jangan boros beli buku melulu,” ujar Kinan. 


Pilihan 

“Enak aja. Gue udah sempat beli, tau,” kata saya kepada Kinan. “Tasnya ada di rumah. Tapi rusaknya lebih parah dari yang ini. Jadi, mending gue pakai yang ini lagi.” 

Tidak lama sehabis mendengar ledekan dari Kinan pada acara bazar buku, saya langsung memutuskan untuk membeli tas di salah satu ITC seharga 130 ribu. Sebuah tas ransel berwarna abu-abu yang mereknya tidak saya ketahui. Saya entah kenapa tergoda karena suka modelnya dan kebetulan lagi diskon dari harga awalnya: 250 ribu. Sialnya, baru memakainya sekitar 10 bulan, ritsleting tas itu justru rusak. Ternyata masih lebih kuat tas lama saya yang umurnya bisa mencapai tahunan.

“Betah ya lu pakai tas itu hampir empat tahun,” kata Kinan. “Enggak merasa bosan apa?” 

Saya meralatnya bahwa tas itu sudah menemani saya selama lima tahun terakhir. Saya bukan tipe orang yang gampang bosan sama barang-barang fesyen, bahkan kemeja hitam yang saya kenakan saat kondangan hari ini juga berumur sama dengan tas tersebut. Ada bagusnya juga punya badan yang konsisten kurus. Saya jadi tidak perlu boros membeli pakaian sebagaimana orang-orang yang tubuhnya gampang melar. 

“Lah, berarti tas itu udah lu beli dari semester 2? Gila, lama banget. Gue ingatnya semester 3 atau 4 gitu.” 

“Nan, lu daripada komentar terus, mending kasih gue saran gitu beli tas yang bagus di mana.” 

Mendengar kalimat barusan, Kinan entah mengapa tampak seperti bocah yang sedang ditawari es krim oleh ibunya. Dia pun langsung menyebutkan nama-nama toko online, salah satunya Urban Icon. Karena saya baru mendengar nama itu, saya pun bertanya apa kelebihannya. 

“Yang pasti mah barang-barangnya original, Yog. Banyak brand ternama. Setiap bulannya juga pasti ada produk terbaru.”

“Terus?”

“Bisa bayar pakai kartu kredit dan cicilannya nol persen.”

“Lu kan tau gue orangnya enggak suka pakai kartu kredit. Sampai sekarang ini belum punya juga, sih.” 

“Teman gue yang satu ini masih belum berubah, ya,” ujarnya. Kinan lalu tertawa dengan menutupi mulutnya. 

Entah tawa Kinan itu sebagai bentuk pujian atas diri saya ini termasuk tipe manusia yang suka berhemat, atau sebuah ledekan sebab hemat itu beda tipis dengan pelit. Daripada pusing memikirkannya, saya memilih ikutan tertawa. 

“Yang penting di sana ada diskonnya kan, Nan?” tanya saya.

“Tenang aja, setiap bulan pasti ada diskon. Terus gratis ongkos kirim dan ada garansinya juga. Lu mending langsung cek sendiri di webnya dah, Yog.” 

Saya pun mengucapkan terima kasih. 


Singkat cerita, pada pukul 12 saya memutuskan pergi dari pesta pernikahan itu, lalu menjemput salah seorang kawan, dan menuju ke Perpustakaan Nasional—yang ternyata acaranya malah berlanjut dan pindah ke sebuah kafe di sekitaran sana hingga malam hari. 



Dalam perjalanan menjemput teman, saya kembali mengingat percakapan bersama Kinan sebelum berpisah. Kami saling mengejek siapa yang berikutnya menikah. Apakah Kinan atau saya duluan?  Saat itulah saya iseng berkata, “Gimana kalau ternyata kita barengan nikahnya, Nan? 

“Kita bakal jadi suami-istri maksud lu? Enggak, ya! Jangan ngarep!” 

Saya langsung terbahak-bahak. Walaupun kalimat yang saya lempar itu murni lelucon, saya akui Kinan sebetulnya manis juga. 

“Udah sana pergi, katanya lu ada acara lagi, Yog. Nanti pas kita ketemu lagi, awas aja lu kalau masih pakai tas yang itu.” 

“Iya-iya, Nan, ini gue udah mau cabut kali. Habis ini gue bakal cari tas baru juga. O iya, kalau lu kangen nanti WhatsApp aja.”

Kinan menjulurkan lidahnya bermaksud meledek saya atau dengan kata lain: amit-amit dah gue kangen sama Yoga. 

Sepulang dari acara kumpul-kumpul bersama kawan, saya mulai membuka laptop dan menelusuri web yang Kinan sarankan tadi untuk mencari tas backpack baru. Pada salah satu tas yang saya taksir modelnya, saya terkejut dengan harganya sembari mengucap, “Wow, tas doang harganya tiga juta nih?” 



Sadam—adik saya—yang berada di kamar sebelah mendengar kalimat itu, lalu menanggapinya, “Norak dah lu, Mas. Harga segitu wajar kali. Apalagi kalau tas original dan mereknya terkenal.”

Ada benarnya juga sih perkataannya. Lagi pula, mahal atau murah kan tergantung siapa yang menilai. Bisa jadi sayalah yang terlalu miskin. Tapi daripada saya berdebat soal harga, alangkah baiknya saya bertanya kepada Sadam yang lumayan paham mengenai merek-merek bagus dan tidak pasaran. 

“Coba lu cari ‘Fjallraven Kanken’.”

Saya baru mengetahui merek yang disebutkannya itu. Saya mencoba mengetiknya di pencarian. Kelihatannya tas branded itu oke juga. Harganya juga lebih murah ketimbang yang tadi. Tidak apa-apa harga sedikit lebih tinggi dari harga tas biasanya, yang penting kan barangnya awet dan tepercaya. Jika tas yang diledek Kinan ini dulu saya beli seharga hampir 400 ribu dan kuat selama lima tahunan, paling tidak saya memperkirakan tas ini bisa bertahan sampai sewindu atau lebih. 



Baiklah, pilihan sudah ditetapkan. Berarti tugas saya tinggal mencari proyek-proyek pekerjaan lepas dan mengumpulkan uang semaksimal mungkin sambil menabung demi bisa membelinya tanpa mengutak-atik simpanan utama. Seandainya nanti saya kembali bertemu dengan Kinan, semoga dengan menggendong tas itu tingkat kekerenan saya bakal meningkat di matanya.
Read More
Dalam seminggu terakhir, hidup saya di dunia maya sepertinya ada saja masalahnya. Sebetulnya sih karena keteledoran saya sendiri yang sulit menahan diri untuk tidak bacot. Jika waktu itu saya memilih kalem, pastilah kondisinya akan jauh berbeda. Tapi jagung telah menjadi popcorn dan meletup-letup. Saya bisa apa selain menghabiskannya atau menyuguhkannya kepada para penonton? 

Setelah merasa puas membuang segala energi negatif di dalam diri, saya pun mulai berniat untuk rehat sejenak atau semacam berpuasa membuka media sosial. Namun, niat baik tidak melulu berjalan dengan baik. Mau tak mau saya perlu kembali berisik untuk meluapkan emosi sehabis terpicu oleh sesuatu.



Hal ini bermula saat saya baru pulang salat Jumat, lalu mengecek ponsel. Terdapat pesan di Instagram dari seorang perempuan yang menyapa saya dengan salam khas muslim. Begitu saya menjawabnya, dia langsung bertanya soal diri saya, khususnya mengenai akun Facebook. 

Saya katakan bahwa akun Facebook saya cuma satu: facebook.com/yogayr. Dia membalas sempat menemukan akun lain yang memakai foto saya. Kami lantas membahas tentang akun palsu—yang dengan jahanamnya lagi-lagi menggunakan foto saya seenak udel. Saya pun memberi sedikit nasihat supaya lebih berhati-hati di internet. Jangan sampai mudah dibohongi oleh orang asing di dunia maya. Rupanya, dia melapor begitu lantaran sudah tertipu. Saya jelas terkejut. Berikut saya lampirkan bukti sebagian percakapan kami dan profil Instagram si pemalsu.







Foto nomor 5 dipotret ketika saya berada di Alive Museum Ancol, Jakarta, sedangkan nomor 6 sewaktu saya main ke Candi Ratu Boko, Yogyakarta. Keduanya pernah saya publikasi di Instagram. Anehnya, dia memakai foto profil yang belum pernah saya pasang di akun media sosial mana pun. Terus, dia dapat dari mana foto itu? Saya pun mengubrak-abrik arsip di otak dan berhasil menemukan potongan memori akan foto tersebut. Bisa-bisanya dia mencuri foto saya dari tulisan Dian Hendrianto sewaktu kami lagi mengadakan kopdar bloger di Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat. Ini kan berarti dia tidak hanya menelusuri tentang saya, tapi juga akun teman-teman saya. Bedebah betul manusia di balik akun itu.


Pada masanya, sekitar 2015-2016, tulisan saya di blog yang berjudul “Pose Cowok Foto” sempat masuk ke halaman satu Google. Di dalam tulisan itu terdapat belasan foto saya dengan berbagai gaya. Kala pertama kali tercetus ide konyol itu, saya tak punya niat apa-apa selain buat iseng dan seru-seruan. Lalu yang akhirnya terjadi, ternyata foto saya digunakan oleh beberapa oknum. Ada yang berpura-pura menjadi saya; ada yang memakai nama lain, tetapi fotonya wajah saya (menurut beberapa sumber, dia menggunakan akunnya buat menggoda cewek-cewek); mungkin ada juga yang menjadi buzzer politik. Omong-omong soal merayu cewek, saya mendadak terkenang pernah juga membahas hal ini dengan perempuan lain, salah satu pembaca blog saya.





Mulanya saya mencoba bersikap biasa saja dengan persoalan itu selama tidak merugikan diri saya. Tapi begitu saya sudah menerima tiga laporan (melalui surel, pesan Facebook, dan Twitter) tentang pencurian foto ini, lama-kelamaan muncul pikiran-pikiran buruk akan penyalahgunaan foto tersebut. Saya sudah muak, kelewat jengkel, dan berusaha menelusuri semua akun Facebook yang memakai nama saya, kemudian melaporkannya pada sistem. Syukurlah sejak hari itu tidak ada lagi pengaduan dari orang lain. Saya akhirnya bisa merasa tenang.

Demi mengantisipasi agar kejadian bedebah semacam itu tidak terulang kembali, saya pun mulai mengurangi foto diri di Instagram. Saya menyiasatinya dengan menyuguhkan foto pemandangan, makanan, mainan, dan sesekali desain amatiran. Saya berharap sekaligus berdoa supaya tidak ada yang tertipu lagi. 



Hingga datanglah hari Jumat silam, ketika perempuan itu mengadu kepada saya. Saya tak habis pikir, kenapa masih ada yang tertipu lagi dengan kepalsuan tolol kayak begitu? Lebih-lebih dia telah berkomunikasi selama kurang-lebih tiga tahun. Apakah beberapa manusia digital ini lupa untuk berhati-hati di internet? Apakah sebelumnya tidak kepikiran buat memverifikasinya? Apakah masih banyak yang belum paham tentang fitur “telusuri Google untuk gambar”?

Kesimpulan saya dari kejadian hari itu: Sepertinya karena diri saya enggak terkenal, sehingga tidak banyak yang tahu apakah seorang Yoga Akbar S. ini ada di muka bumi. Artinya, para oknum yang bersembunyi di balik wajah orang lain untuk menggaet lawan jenis itu tidak melulu berdasarkan fisiknya yang cakep. Misalnya, saya sendiri sudah sadar diri kalau kurang ganteng—hal ini tertulis dengan jelas di kolom About Me: “Seorang bloger. Tadinya mau jadi playboy, tapi masih kurang ganteng. Kalau bloger enggak ada syarat ganteng.” Namun, kenapa foto paras saya yang apa adanya itu masih saja dipakai berulang-ulang kali? Ini kan berarti faktor saya yang kurang terkenal, sehingga ada sebagian manusia yang memanfaatkannya demi suatu tujuan entah apalah itu. Atau bisa jadi ada orang yang diam-diam membenci saya, lalu tega melakukan perbuatan pengecut semacam itu agar citra diri saya yang pernah bajingan ini semakin memburuk.

Jadi, jika suatu hari ada oknum—entah siapa pun itu—yang memakai wajah saya sebagai foto profilnya lagi, bisa dipastikan orang-orang juga tidak akan sadar bahwa itu akun gadungan. Intinya, jangan mudah percaya dengan yang kita temukan di internet sebelum benar-benar membuktikannya. Lalu buat siapa pun yang pernah menjadi korban atas pemalsuan identitas menggunakan nama maupun foto saya ini, saya cuma bisa memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga kejadian busuk ini tidak terjadi lagi.

--

PS: Mulai hari ini, saya membenci foto-foto diri yang termuat di halaman pertama Google. Memang, sih, satu tulisan itu bisa menyumbang trafik terbanyak, yakni 150.000 penayangan lebih, tapi kalau pada akhirnya justru merugikan diri saya mah buat apa? Lagi pula, saya tidak memasang adsense, saya juga tidak kepengin menjadi pesohor. Maka, angka-angka laknat itu tidak ada artinya lagi bagi saya. Seandainya kamu ingin menyumbangkan ide untuk menghapus tulisan itu karena saya tidak memedulikan trafik, saya akan menjelaskan kalau gagasan goblok itu sudah sejak lama menempel di kepala. Tapi apa yang sudah tertanam di internet pasti akan sulit, bahkan mustahil menghilang. Daripada saya melenyapkannya, bukankah lebih baik saya mempertahankannya sebab itu bisa menjadi sumber utama alias bukti bahwa sayalah pemilik asli foto-foto tersebut?

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/security-protection-anti-virus-265130/
Read More
“Selama masih ada manusia, benci juga akan tetap ada.” –Uzumaki Nagato 

--

Saya berniat menahan diri untuk tidak sering-sering membuka Twitter dan berkicau mulai 1 September 2019. Daripada banyak bacot, saya pikir lebih asyik memperbanyak baca buku. Sayangnya, novel yang sedang saya baca—Seribu Burung Bangau, karangan Yasunari Kawabata—itu kisahnya justru mengharukan. Saya perlu mengalihkan kesedihan dengan mencari hiburan di Twitter. Biasanya di sana terdapat video-video lucu. Belum ada satu menit menyimak lini masa, bukannya terhibur saya malah jengkel bukan main. Saya terpicu oleh sebuah utas yang pernyataan-pernyataannya tampak tolol, sehingga saya menyempatkan diri untuk membalas opininya. Sikap bergeming saya yang sudah berjalan lima hari itu pun akhirnya gagal pada hari keenam. 



Kesimpulan dari utas itu begini: 

1. Ada seorang bloger bernama Sobat Gurun bertanya, apakah bisa sesama bloger saling mendukung dengan cara saling mengikuti media sosial meskipun tidak saling mengenal, juga belum pernah bertemu? 

2. Tapi pada kalimat berikutnya, dia sendiri justru meragukannya. Lalu, dia dengan cerobohnya juga menilai para bloger ternama enggak akan mau mengikuti balik bloger pemula karena mereka sudah punya banyak pengikut, sudah memiliki banyak tulisan di blognya, dan namanya terkenal di lingkungan bloger. 

3. Sobat Gurun bahkan juga berasumsi bahwa para bloger senior—khususnya yang telah memiliki banyak prestasi—alergi sama bloger yang baru mengenal dunia blog.

4. Ketika Sobat Gurun mendapatkan jawaban dari beberapa bloger tentang saling mengikuti medsos yang tergantung dari konten dan minat masing-masing, dia tampak begitu kecewa sebab tadinya mengira anak bloger tuh asyik semua.

5. Dia tidak setuju dengan pertemanan yang pilih-pilih. 

Kelima poin itu pun bisa dibuat lebih simpel lagi: Sobat Gurun ingin punya banyak teman bloger (dalam konteks pertemanan yang saling mengikuti media sosial), apalagi kalau bisa akrab sama bloger senior yang sudah terkenal.

Lantaran hal itu, saya langsung berspekulasi bahwa ia sebenarnya kepengin mencari pengikut sebanyak-banyaknya dengan tujuan menjadi buzzer atau bloger yang mendapatkan bayaran dari mengiklan di blog maupun medsos. Biasanya kan untuk menjadi buzzer membutuhkan syarat minimal pengikut—harus menyentuh angka 1.000, misalnya. Jadilah saya menjawab pernyataan dia tersebut: 

Bisalah, Sob. Beberapa teman bloger saya hari ini, pas zaman 2014-2016 rata-rata belum pernah ketemu langsung. Sebelum follow di medsos, kami saling mendukung dengan meramaikan kolom komentar. Kami gantian blogwalking (dengan tulus, bukan cari trafik). Jadi, enggak ada masalah soal pemula.

Sekarang pertanyaannya, kau cari followers buat apa? Menggenapkan syarat minimal menjadi buzzer? Live twit? Mengiklankan produk? Kalau itu tujuannya, biasanya saya malas banget buat mengikuti balik akunnya.

Beberapa kawan saya kini ada yang memilih jalan itu. Saya tidak keberatan. Karena sebelumnya sudah bertemu dan kenal. Saya mencoba menghargai pilihannya. Lalu, jika itu orang asing dan yang saya dapatkan di medsosnya hanya iklan, iklan, dan iklan. Interaksi juga tidak ada. Terus buat apa? 

Hitungan hari telah berganti menjadi minggu sejak saya melempar kalimat itu, tapi Sobat Gurun belum juga merespons pertanyaan saya. Mungkin tuduhan saya itu ada benarnya. 

Saya sih masih tak habis pikir dengan Sobat Gurun yang bisa-bisanya berpendapat bahwa anak bloger itu asyik semua. Dia sepertinya belum tahu kalau beberapa bloger pada tukang gibah. Namanya hidup kan punya dua sisi. Ada yang baik, ada yang kayak tai. Nah, saya termasuk bagian buruknya. Setidaknya, saya masih berusaha jadi tai yang nantinya bisa diolah jadi pupuk kompos. Entah kapan bermanfaatnya, yang penting saya masih mau berproses menjadi lebih baik.

Saya juga tak tahu apakah Sobat Gurun itu termasuk anak baru yang bermain Twitter atau baru hijrah dari Facebook (saya tak ingin repot-repot menyelidikinya), sebab kebanyakan orang sudah tahu bahwa Twitter itu fungsinya buat mengikuti akun-akun yang menarik minat kita. Bukan mengikuti akun teman sebagaimana Facebook yang membutuhkan persetujuan dan akhirnya menjadi mutual. Jadi, jika ada seorang teman yang mengikuti akun saya, lalu saya tidak tertarik dengan isi medsosnya, kemungkinan besar tidak akan saya ikuti balik. Seandainya ada rasa tidak enakan, palingan saya tekan “follow”, terus langsung pilih “mute”. Bagi saya, hal itu sah-sah saja. Lagian, kita memang punya hak buat memilih teman, bukan?


Poin kelima dari pernyataan Sobat Gurun ini masih lucu sekali. Setiap manusia berhak mau memilih makan pakai lauk apa, membaca buku jenis apa, menonton film genre apa, kuliah di mana, kerja di mana, pacaran sama siapa, menikah sama siapa, dan sebagainya. Begitu juga dengan memilih teman, Sob. Kalaupun dikasih uang satu juta, saya tetap enggak akan pernah mau berteman sama Sobat Gurun. Kalau seratus miliar mungkin saya baru mau, tapi itu jelas pengandaian yang tidak mungkin. Intinya, saya tetap tidak sudi berkawan dengannya.

Dari kalimatnya yang terlihat sangat ingin adanya saling mengikuti akun sesama bloger, saya pikir dia sungguh-sungguh berusaha memaksakan standarnya itu kepada semua bloger. 

Saya jadi ingin bercerita sedikit kepadanya. Saya sudah ngeblog dari 2012 (pertama kali bikin), terus mulai aktif 2015, tapi sampai hari ini pengikut saya di medsos masih segitu-segitu aja. Tidak ada yang mencapai seribu. Mungkin karena saya tidak mengikuti balik mereka, terus sebagian dari mereka akhirnya menekan kembali tombol unfollow. Mungkin juga karena saya akhir-akhir ini sungguh sinis dan menyebalkan. Toh, saya memang tak berharap punya banyak teman ketika bermain medsos. 

Sobat Gurun kemudian memberikan alasan bahwa mengikuti akun medsos sesama bloger itu merupakan bentuk dukungan. Oh, ayolah, kau tak usah mengucapkan kalimat munafik kayak begitu. Kau membutuhkan banyak pengikut buat syarat menjadi buzzer, kan? Kau kan tahu zaman sekarang sudah banyak penjual followers, keluarkan modal sedikit apa susahnya, sih? Atau kau tidak suka dengan kepalsuan semacam itu? Lantas, teman-teman yang hanya sekadar angka tanpa interaksi itu bukankah juga bentuk kepalsuan? 

Namun, jika niatmu itu benar-benar ingin saling mendukung sesama bloger, saya pikir kau ialah manusia yang begitu mulia sekaligus goblok. Saya dan beberapa kawan sepertinya tak butuh dukunganmu. Meskipun tidak mendapatkan dukungan atau saling support—kata Sobat Gurun itu, alhamdulillah saya sejauh ini bisa tetap mendukung diri sendiri. Apalah artinya didukung orang lain, Sob, kalau dirimu sendiri itu pada dasarnya makhluk pemalas? Tapi tenang saja, saya juga termasuk pemalas, kok. Makanya hobinya cuma leyeh-leyeh membaca buku sembari sesekali menulis di blog buat menghibur diri sendiri.

Mulanya saya berpikir masalah tentang Sobat Gurun itu sudah kelar sehabis banyak bloger yang tidak sependapat dengannya. Nyatanya, dia justru mempertegas gagasan bodohnya tersebut lewat tulisan blog bertajuk “Bloger: Fenomena Berteman Sebatas Konten.” Lalu, Teh Fasya, teman bloger yang tidak setuju dengan opini Sobat Gurun, membuat antitesisnya: Berteman (Tidak) Sebatas Konten. Sepertinya apa yang Fasya sampaikan sudah cukup mewakilkan saya. Saya tak perlu membahasnya lebih jauh. Saya palingan hanya menambahkan sedikit. 

Wahai Sobat Gurun, sebelum kau menerbitkan tulisan di blog, tolong jangan malas menyunting. Cek kembali susunan kalimatnya. Baru baca paragraf pertamanya saja saya sudah mual bukan main lantaran kebanyakan tertawa. Dia menyuguhkan kalimat supaya pembacanya lapangan dada dan berpikiran terbuka. Lapangan dada itu apa? Saya tahunya lapangan sepak bola, lapangan basket, atau lapangan pekerjaan. Oh, apa maksudmu itu berlapang dada? Tapi, boleh jadi diksi lapangan dada itu memang ada. Kemampuan kosakata saya mungkin yang keterlaluan payah. 

Saya lantas kembali mengakak membaca kalimat berikut ini: “Yang membuat aku bingung, sejak kapan anak bloger membuat dan menyebarkan konten negatif, porno dan ujar kebencian? (saya langsung salin tempel dari blognya tanpa memperbaiki kalimatnya). 

Sepertinya Sobat Gurun memang belum menjelajahi dunia blog terlalu jauh. Dia pasti tak tahu, pada masanya—sekitar 2015-2016—saya pernah mengisi blog ini dengan kejahatan yang dia sebutkan (pembaca lama blog saya pasti tahu saya lumayan sering menghadirkan cerita mesum). Syukurlah saya sekarang sudah berhijrah. Toh, selain hal mesum, gesekan-gesekan di dunia blog juga lumayan banyak. Masa sih dia belum pernah menemukan tulisan bloger yang lagi menyindir bloger lain—bahkan komunitas lain? Seandainya belum, tulisan Fasya tadi bisa menjadi contoh. Teks-teks yang saya susun dengan penuh kebencian ini juga bisa menjadi bukti. 

Yang paling menggelikan dari kalimat Sobat Gurun sepertinya yang ini: 



Kenapa sih kau terlalu memaksa bloger buat saling meretwit, Sob? Sepenting itukah sebuah engagement? Sejauh yang saya tahu tentang tetek bengek ngeblog itu begini: Jika tulisanmu bagus, orang-orang bakal mencarinya. Menunggu-nunggu kapan terbit tulisan baru. Mereka pun rela berkunjung balik lagi dan lagi. Kalau memaksa dan mengemis retwit mah kayak orang yang enggak memiliki integritas.

Sebetulnya saya sudah tidak tega menjotos sobat gurun dengan kalimat-kalimat sinis semacam ini. Apalagi hantaman bloger lain di media sosial sudah cukup bikin dirinya bonyok. Tapi untuk terakhir kalinya, saya sangat ingin berkata kepadanya—meminjam jurus maut yang saya pelajari dari seseorang di bagian penerbitan: “Tulisanmu masuk kategori jelek aja belum.” Dengan kata lain, masih di bawahnya jelek. Sori ralat, di bawahnya-bawahnya-bawahnya jelek. 


Saya mencoba melupakan persoalan Sobat Gurun dengan mengejek diri sendiri lewat gambar ini. 


Caption: Baru sadar kalau foto profil saya tuh illuminati. Bisa pas gitu kaosnya terlipat menjadi mata satu. Hmm. 

Agia tiba-tiba mengingatkan saya untuk berhati-hati karena foto itu rentan menjadi bahan meme. Saya pun meresponsnya tidak apa-apa, asalkan tidak semenyedihkan meme Dian Hendrianto.



Rupanya, sikap tidak keberatan saya tersebut langsung menjadi bahan iseng Agia seperti berikut. 



Saya otomatis terbahak-bahak. Baru sadar bahwa posisi foto saya dan Sobat Gurun itu sama-sama menengok ke samping dan bisa dibikin saling bertatapan. Mungkin Agia—yang seolah-olah menjadi wasit di antara saya dan Sobat Gurun—tampak bosan dan gemas melihat Sobat Gurun cuma terdiam menerima pukulan-pukulan saya tanpa adanya serangan balasan. 

Saya tidak akan ambil pusing dengan diamnya itu. Saya justru dapat belajar sesuatu hal dari bergemingnya Sobat Gurun—yang entah tak mampu memukul balik atau memang tidak suka memperkeruh suasana: Adakalanya kita lebih baik diam daripada memperdebatkan gagasan yang jelas-jelas berseberangan.

Hingga nanti hari kiamat datang, mungkin Sobat Gurun akan terus berpikir bahwa setiap bloger bisa saling mendukung satu sama lain, sedangkan saya juga berpegang teguh dengan keyakinan Pain alias Uzumaki Nagato, “Selama masih ada manusia, benci juga akan tetap ada.” Dan saya benci orang yang gagasannya setolol itu.


Mumpung jiwa iseng dan hasrat bacot saya lagi menggebu-gebu, saya akhirnya gantian bikin meme buat Agia yang foto aibnya pernah tersebar. Inspirasi meme ini saya ambil dari situs rujukan: Agia, asisten dosen termuda di UIN Bandung




Ini sebuah kehormatan bagi saya bisa membalas meme Agia—si tukang mengejek paling asyik. Meski begitu, saya cuma berharap bercandaan-bercandaan itu tidak pernah melukai hati kawan-kawan saya. Sebagaimana saya tertawa ketika diledek, walaupun saya tahu sensitivitas setiap manusia itu berbeda-beda, saya hanya ingin mereka juga bersikap demikian. 

Sebab terakhir kali saya berkata sesuatu hal seenak jidat kepada penulis koplak-koplak itu, dirinya sempat marah terhadap saya. Entah kemarahannya itu masih berlanjut atau enggak, saya tak peduli. Saya sih berprinsip, ketika kau berani memarodikan dan meledek seseorang atau sesuatu hal, kau juga harus siap dibalas. Perang meme itu buat saya bagaikan saling mengejek antarteman di tongkrongan suatu warkop. Tapi ketika ada yang tampak sakit hati, ya udah. Biasanya beberapa teman akan mencoba mengerti, terus dia enggak akan disenggol-senggol lagi. 


Berbicara soal mengejek, sewaktu menjelang tengah malam—masih pada hari yang sama ketika lini masa saya dan beberapa kawan dipenuhi topik Sobat Gurun, ternyata ada seseorang yang diam-diam membicarakan kesinisan antarbloger tersebut. 





Saya tahu tentang hal itu agak terlambat. Jika seorang kawan tidak mengirimkan screenshot dengan pertanyaan, “Twit dia tuh buat kita, ya?”, mungkin saya juga tidak akan pernah mengetahuinya. 

Saya tadinya tidak ingin kepedean. Tapi ketika coba menganalisis twitnya yang hanya berbeda empat menit, lalu gaya ngetwitnya yang dibumbui “wkwkwkwk” (biar terkesan lucu, padahal tidak sama sekali) juga serupa, bisa disimpulkan itu tertuju buat saya dan beberapa kawan. Apakah ada bloger lain yang sinis? Setahu saya, cuma kami yang sinisnya kelewatan terhadap Sobat Gurun. 

Saya mulanya juga sempat merasa malu jika keributan itu menjadi bahan tertawaan orang di sekitar. Namun, karena saya anaknya kurang peduli dengan komentar orang lain, saya cuek saja setiap kali mengetwit—baik itu buat mengeluh, bercerita tentang kesibukan dalam sehari, ataupun membahas persoalan cinta; saya akhirnya merenung dan menyimpulkan: bukankah itu asyik buat kalian, khususnya Iqbal (orang yang bikin twit itu), bisa mendapatkan hiburan secara gratis? Karena ada orang-orang yang perlu membayar ratusan ribu terlebih dahulu buat menonton Stand Up Comedy demi mencari suatu hiburan.

Lagi pula, kenapa dia seakan-akan kaget dan baru tahu hal semacam itu, ya? Sejak dulu masalah di dunia bloger yang sejenis kan sepertinya sudah cukup banyak. Jika ada silang pendapat, terus berdebat, dan bahkan musuhan, itu lazim terjadi. Sama kayak di dunia tulis-menulis, saling kritik, saling ejek. Idrus pun pernah mengomentari Pramoedya Ananta Toer: “Pram, kamu itu tidak menulis. Kamu berak!” 

Kalau dia memang merasa lucu ketika melihat bloger sinis dengan bloger lainnya, lantas kenapa dia ujung-ujungnya ikutan sinis? Mana di kalimatnya itu dia menggeneralisasi satu lingkaran pula. Saya sih cuma membayangkan kalau dia betulan enggak suka sama pertemanan kami (atau lingkaran siapalah yang dimaksud), lalu menyenggol begitu, nanti bakalan ada yang gantian membalas, “Kau pikir dirimu asyik, hah? Becerminlah. Apakah ngatain ‘SJW tai’ itu enggak sok rebel?” 

Seandainya hal ini termasuk salah paham, saya tetap akan memegang prinsip yang sempat saya katakan di atas, “Ketika kau berani meledek seseorang atau sesuatu hal, kau juga harus siap dibalas—entah oleh siapa pun itu.”

Saya pun menganalogikan kejadian tersebut begini: 

Saya dan beberapa kawan lagi asyik membaca buku di sebuah taman. Lalu saya mendengar ada seseorang berteriak di dekat situ. Berhubung saya memakai earphone, saya tidak mendengar dengan jelas kalimatnya ataupun siapa yang mengeluarkan suara. Agus, kawan yang duduk di sebelah saya, pun memberi tahu saya sembari menunjuk orangnya, “Dia tadi teriak, ‘Lucu melihat orang-orang baca buku di taman’, terus dia juga mengejek kita sok kutu buku, Yog.” 

“Dia emang bermaksud mengejek kita atau orang lain, Gus?” tanya saya. 

“Mungkin emang buat kita. Ini perlu kita balas atau didiamkan aja?” 

Saya malas berkeliling taman untuk memastikan siapa orang yang dia ledek itu. Saya tadinya juga sudah ingin menahan diri, tapi entah mengapa mendadak terkenang ucapan Gaspar di akhir bab satu novel 24 Jam Bersama Gaspar—versi modifikasi, “Kalau kau menjadi temanku, aku siap untuk mengejek semua musuhmu. Kau cuma perlu menaati satu peraturan: jangan pernah menusukku dari belakang alias berkhianat.” Dan begitulah kisah bergulir hingga saya gantian mengejeknya. 

Jika ada seseorang yang melihat perseteruan kami kemudian berkomentar, “Sesama cowok kok bisanya adu bacot. Langsung ketemuan dan baku hantam dong.” Saya akan menjawab, maaf ya, cara kekerasan seperti itu buat saya sudah kuno. Apakah itu jawaban dari seorang manusia yang bisanya cuma cari-cari alasan? Baiklah, saya akan mengaku bahwa diri ini payah dalam bertarung. Fisik saya tidak mumpuni buat berkelahi. Saya bahkan sudah lupa rasanya memukul orang—terakhir kali bertengkar fisik sudah 8-9 tahun silam saat SMK. Saya memang tak suka perkelahian semacam itu. Sebagai seorang bloger, senjata saya adalah tulisan. Jadi, saya pikir sebuah tulisan mestinya juga dibalas dengan tulisan. Gagasan dibalas dengan gagasan. Esai dibalas dengan esai. Kritik dibalas dengan kritik. Ejekan dibalas dengan ejekan. Maka, sesudah ini siapa pun boleh menyerang saya dengan kalimat-kalimat keji seandainya ada yang tidak terima atau keberatan dengan tulisan ini.

Namun, sekalipun saya bebas mengutarakan apa saja di dalam tulisan, sebisa mungkin saya berusaha agar tidak menghina fisik seseorang. Saya memilih menyerang pemikirannya yang sok tahu itu dengan argumen saya yang tak kalah sotoy

Saya sampai hari ini masih heran dengan kalimat-kalimat yang gemar menyerang lingkaran orang lain semacam itu. Selama situasinya berada di tempat umum (dalam artian platform di dunia maya), kau kan bisa pindah ke tempat lain jika tidak menyukainya. Kau pun bisa berhenti melihat atau mendengarnya. Dia yang risih, kok jadi kami yang repot dan disuruh diam. Maka, buat Iqbal atau siapa pun yang tidak suka dengan lingkaran orang lain, bahkan bisa juga untuk mengingatkan diri sendiri, saya rasanya ingin meminjam kalimat dari Yasu di film animasi Nana, “Jika kau punya banyak waktu luang buat merusak kebun orang lain, cobalah tanam bunga di kebun milikmu sendiri.”


Waktu itu saya pernah berharap agar dunia blog dapat ramai lagi. Tapi yang jelas bukan dengan drama tai kuda semacam ini. Saya tak tahu kenapa belakangan ini begitu berisik di dunia maya. Mungkin jiwa sinis saya sedang meluap-luapnya. Kalau kau tidak menyukai setiap twit dan caption saya, berhentilah mengikuti akun media sosial saya. Jika tidak suka juga dengan tulisan-tulisan saya, kau juga tidak perlu membaca blog ini. Seandainya sikap songong yang seperti ini membuat saya tidak memiliki teman lagi, saya akan berusaha menerimanya. Lirik Aku Adalah Aku dari ThirteenJkt berikut ini sepertinya mewakilkan diri saya: “Maafkan aku bila terkesan sombong, tapi aku bahagia hidup tanpa pembohong. Maafkan aku bila merendahkan mereka.” 

Saya palingan setelah ini akan kembali berkawan dengan buku-buku saja sebab, mengutip novel Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya garapan Sabda Armandio, buku enggak akan menyakiti pembaca seperti manusia menyakiti manusia lain.

--

PS: Kalimat asli Gaspar di dalam novelnya, “Kalau kau menjadi temanku, aku tak segan-segan menghancurkan hidup musuh-musuhmu. Kau cuma perlu menaati satu peraturan: jangan pernah menyentuhku dari belakang.

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/animal-forest-wood-bird-wild-birds-4365856/
Read More
Pilihlah salah satu menu puisi berikut ini yang sesuai dengan seleramu. Jika tidak ada satu pun yang membuatmu suka, kamu bisa membuat menu sendiri di kotak yang tersedia.


Membuat Donat di Tubuhmu 



Pecahkan empat butir telur, buanglah tangisannya, dan masukkan mata cerahnya ke dalam hatimu. Ambil dua genggam pasir manis, lalu campurkan dengan segelas penuh penderitaan. Aduk searah jarum jam, kemudian minumlah.

Tuang seplastik terigu ke dalam baskom, juga bubuk ragi sebelum datangnya pagi. Muntahkan semua air yang tadi kauminum. Biarkan segalanya tercampur dan bawalah ke dapur. Diamkan selama lima menit. Jika sudah, balurkan di sekujur tubuhmu. Tidurlah, bermimpilah. Biarkan dirimu menjadi adonan. Jika sudah terbangun dari nyenyak, seraplah pengetahuan yang banyak. Dengan bekal itu, kau perlahan-lahan dapat menjalani kehidupan sembari belajar lebih luas lagi.

Kejamnya kenyataan dan takdir hidup akan membanting tubuhmu itu sampai teksturnya pas. Kedengarannya memang bengis, tapi kau mesti kuat dan tak perlu sering-sering menangis. Nanti dengan sendirinya karaktermu akan mengembang.

Seraya menunggu tubuhmu mekar, kau dapat memanaskan bakat dengan semangatmu itu. Gorenglah dengan sedikit amarahmu hingga kecokelatan dan matang. Tapi sebelum sampai ke titik itu, mungkin kau akan terjatuh dan gagal berkali-kali. Tak apa, begitulah proses bekerja. Jika sudah puas menikmatinya, angkat dirimu dari keterpurukan, lalu tiriskan segala kesedihan. Setelahnya kau bisa menambahkan butiran salju atau meses atau apa pun sesuai selera. Kini, tubuh donatmu pun sudah tampak istimewa.

/2017 


Wedang 



Ketika aku berkunjung ke rumahmu, 
kau menyuguhkanku secangkir wedang. 

Sebagai tanda terima kasih, 
aku pun membuatkanmu puisi 
sambil menunggu panasnya surut. 

Tapi saat wedang itu ingin kuminum, 
ada seekor lalat yang asyik berenang. 
Lantas, keluarlah bangsat dari dalam mulut. 

/2017


Tidak Enak 




Tidur adalah kepingan yang kutabung di dalam kaleng-kaleng biskuit. Ketika nanti kubuka, isinya tidak akan memberikan apa dan siapa yang kurapalkan dalam doa. Namun, garing dan pahitnya itu ternyata masih dapat kukunyah. Hingga tidak enak pun telah menjadi rasa mewah di lidah.

/2017


Masakan Ayah




Sejak kematian Ibu
Ayah memiliki peran yang banyak
Terutama dalam tugas memasak.

Ayah mulai belajar merebus sepiring cinta
Menggoreng sepotong gembira
Menumis seikat bahagia
Untuk dirinya, aku, dan adikku.

Tapi, Ayah selalu punya resep sendiri
Misalnya, sayur asem menjadi manis
Sayur gudeg menjadi asin
Ikan asin berubah pahit.

Suatu hari, tetanggaku pernah bertanya:
“Apakah ayahmu tidak mau kawin lagi
untuk mengisi hatinya yang kosong?”

Ah, tetanggaku sepertinya memang tidak tahu
Bahwa Ayah sudah sering berbulan madu
dengan masakan-masakan gosong
ketika dirinya sedang bengong.


/2017


Air Senyum



Jari-jari tanganku masih menempel aroma tubuhmu:
Bumbu khas nasi padang yang kubeli tadi siang.

Kuhirup dalam-dalam sebagaimana oksigen
Yang kupuja menjelang petang.

Bagaimana aku selalu mengingat
Sekumpulan udara yang telah tercampur
Dengan keringat para pekerja
Yang letih menangkap bintang.

Mereka ingin selalu bersinar
Tapi kilaunya justru meredup
pada malam hari.

Hanya tersisa puing-puing luka
Yang ia bawa pulang dengan tangan terbuka.

Niatnya untuk diberikan kepada anak dan istri
Tapi setiap hari di apartemen itu
Tak ada seorang pun yang menyambutnya.

Cuma ada cangkir bergambar muka
Yang berisi air senyum duka dan murka.

/2018

--

Sumber gambar:

https://pixabay.com/photos/donut-american-doughnuts-pastries-3448210/
https://pixabay.com/photos/ginger-ginger-tea-hot-drink-drink-3966502/
https://pixabay.com/photos/cookies-baked-goods-fresh-chocolate-1372607/
https://pixabay.com/photos/meat-wood-burned-spare-ribs-own-2231339/

https://www.tokopedia.com/gtainone/cangkir-ajaib-cangkir-suhu-2-warna-magic-mug-motif-senyum-y-03
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home