Dalam seminggu terakhir, hidup saya di dunia maya sepertinya ada saja masalahnya. Sebetulnya sih karena keteledoran saya sendiri yang sulit menahan diri untuk tidak bacot. Jika waktu itu saya memilih kalem, pastilah kondisinya akan jauh berbeda. Tapi jagung telah menjadi popcorn dan meletup-letup. Saya bisa apa selain menghabiskannya atau menyuguhkannya kepada para penonton? 

Setelah merasa puas membuang segala energi negatif di dalam diri, saya pun mulai berniat untuk rehat sejenak atau semacam berpuasa membuka media sosial. Namun, niat baik tidak melulu berjalan dengan baik. Mau tak mau saya perlu kembali berisik untuk meluapkan emosi sehabis terpicu oleh sesuatu.



Hal ini bermula saat saya baru pulang salat Jumat, lalu mengecek ponsel. Terdapat pesan di Instagram dari seorang perempuan yang menyapa saya dengan salam khas muslim. Begitu saya menjawabnya, dia langsung bertanya soal diri saya, khususnya mengenai akun Facebook. 

Saya katakan bahwa akun Facebook saya cuma satu: facebook.com/yogayr. Dia membalas sempat menemukan akun lain yang memakai foto saya. Kami lantas membahas tentang akun palsu—yang dengan jahanamnya lagi-lagi menggunakan foto saya seenak udel. Saya pun memberi sedikit nasihat supaya lebih berhati-hati di internet. Jangan sampai mudah dibohongi oleh orang asing di dunia maya. Rupanya, dia melapor begitu lantaran sudah tertipu. Saya jelas terkejut. Berikut saya lampirkan bukti sebagian percakapan kami dan profil Instagram si pemalsu.







Foto nomor 5 dipotret ketika saya berada di Alive Museum Ancol, Jakarta, sedangkan nomor 6 sewaktu saya main ke Candi Ratu Boko, Yogyakarta. Keduanya pernah saya publikasi di Instagram. Anehnya, dia memakai foto profil yang belum pernah saya pasang di akun media sosial mana pun. Terus, dia dapat dari mana foto itu? Saya pun mengubrak-abrik arsip di otak dan berhasil menemukan potongan memori akan foto tersebut. Bisa-bisanya dia mencuri foto saya dari tulisan Dian Hendrianto sewaktu kami lagi mengadakan kopdar bloger di Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat. Ini kan berarti dia tidak hanya menelusuri tentang saya, tapi juga akun teman-teman saya. Bedebah betul manusia di balik akun itu.


Pada masanya, sekitar 2015-2016, tulisan saya di blog yang berjudul “Pose Cowok Foto” sempat masuk ke halaman satu Google. Di dalam tulisan itu terdapat belasan foto saya dengan berbagai gaya. Kala pertama kali tercetus ide konyol itu, saya tak punya niat apa-apa selain buat iseng dan seru-seruan. Lalu yang akhirnya terjadi, ternyata foto saya digunakan oleh beberapa oknum. Ada yang berpura-pura menjadi saya; ada yang memakai nama lain, tetapi fotonya wajah saya (menurut beberapa sumber, dia menggunakan akunnya buat menggoda cewek-cewek); mungkin ada juga yang menjadi buzzer politik. Omong-omong soal merayu cewek, saya mendadak terkenang pernah juga membahas hal ini dengan perempuan lain, salah satu pembaca blog saya.





Mulanya saya mencoba bersikap biasa saja dengan persoalan itu selama tidak merugikan diri saya. Tapi begitu saya sudah menerima tiga laporan (melalui surel, pesan Facebook, dan Twitter) tentang pencurian foto ini, lama-kelamaan muncul pikiran-pikiran buruk akan penyalahgunaan foto tersebut. Saya sudah muak, kelewat jengkel, dan berusaha menelusuri semua akun Facebook yang memakai nama saya, kemudian melaporkannya pada sistem. Syukurlah sejak hari itu tidak ada lagi pengaduan dari orang lain. Saya akhirnya bisa merasa tenang.

Demi mengantisipasi agar kejadian bedebah semacam itu tidak terulang kembali, saya pun mulai mengurangi foto diri di Instagram. Saya menyiasatinya dengan menyuguhkan foto pemandangan, makanan, mainan, dan sesekali desain amatiran. Saya berharap sekaligus berdoa supaya tidak ada yang tertipu lagi. 



Hingga datanglah hari Jumat silam, ketika perempuan itu mengadu kepada saya. Saya tak habis pikir, kenapa masih ada yang tertipu lagi dengan kepalsuan tolol kayak begitu? Lebih-lebih dia telah berkomunikasi selama kurang-lebih tiga tahun. Apakah beberapa manusia digital ini lupa untuk berhati-hati di internet? Apakah sebelumnya tidak kepikiran buat memverifikasinya? Apakah masih banyak yang belum paham tentang fitur “telusuri Google untuk gambar”?

Kesimpulan saya dari kejadian hari itu: Sepertinya karena diri saya enggak terkenal, sehingga tidak banyak yang tahu apakah seorang Yoga Akbar S. ini ada di muka bumi. Artinya, para oknum yang bersembunyi di balik wajah orang lain untuk menggaet lawan jenis itu tidak melulu berdasarkan fisiknya yang cakep. Misalnya, saya sendiri sudah sadar diri kalau kurang ganteng—hal ini tertulis dengan jelas di kolom About Me: “Seorang bloger. Tadinya mau jadi playboy, tapi masih kurang ganteng. Kalau bloger enggak ada syarat ganteng.” Namun, kenapa foto paras saya yang apa adanya itu masih saja dipakai berulang-ulang kali? Ini kan berarti faktor saya yang kurang terkenal, sehingga ada sebagian manusia yang memanfaatkannya demi suatu tujuan entah apalah itu. Atau bisa jadi ada orang yang diam-diam membenci saya, lalu tega melakukan perbuatan pengecut semacam itu agar citra diri saya yang pernah bajingan ini semakin memburuk.

Jadi, jika suatu hari ada oknum—entah siapa pun itu—yang memakai wajah saya sebagai foto profilnya lagi, bisa dipastikan orang-orang juga tidak akan sadar bahwa itu akun gadungan. Intinya, jangan mudah percaya dengan yang kita temukan di internet sebelum benar-benar membuktikannya. Lalu buat siapa pun yang pernah menjadi korban atas pemalsuan identitas menggunakan nama maupun foto saya ini, saya cuma bisa memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga kejadian busuk ini tidak terjadi lagi.

--

PS: Mulai hari ini, saya membenci foto-foto diri yang termuat di halaman pertama Google. Memang, sih, satu tulisan itu bisa menyumbang trafik terbanyak, yakni 150.000 penayangan lebih, tapi kalau pada akhirnya justru merugikan diri saya mah buat apa? Lagi pula, saya tidak memasang adsense, saya juga tidak kepengin menjadi pesohor. Maka, angka-angka laknat itu tidak ada artinya lagi bagi saya. Seandainya kamu ingin menyumbangkan ide untuk menghapus tulisan itu karena saya tidak memedulikan trafik, saya akan menjelaskan kalau gagasan goblok itu sudah sejak lama menempel di kepala. Tapi apa yang sudah tertanam di internet pasti akan sulit, bahkan mustahil menghilang. Daripada saya melenyapkannya, bukankah lebih baik saya mempertahankannya sebab itu bisa menjadi sumber utama alias bukti bahwa sayalah pemilik asli foto-foto tersebut?

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/security-protection-anti-virus-265130/
Read More
“Selama masih ada manusia, benci juga akan tetap ada.” –Uzumaki Nagato 

--

Saya berniat menahan diri untuk tidak sering-sering membuka Twitter dan berkicau mulai 1 September 2019. Daripada banyak bacot, saya pikir lebih asyik memperbanyak baca buku. Sayangnya, novel yang sedang saya baca—Seribu Burung Bangau, karangan Yasunari Kawabata—itu kisahnya justru mengharukan. Saya perlu mengalihkan kesedihan dengan mencari hiburan di Twitter. Biasanya di sana terdapat video-video lucu. Belum ada satu menit menyimak lini masa, bukannya terhibur saya malah jengkel bukan main. Saya terpicu oleh sebuah utas yang pernyataan-pernyataannya tampak tolol, sehingga saya menyempatkan diri untuk membalas opininya. Sikap bergeming saya yang sudah berjalan lima hari itu pun akhirnya gagal pada hari keenam. 



Kesimpulan dari utas itu begini: 

1. Ada seorang bloger bernama Sobat Gurun bertanya, apakah bisa sesama bloger saling mendukung dengan cara saling mengikuti media sosial meskipun tidak saling mengenal, juga belum pernah bertemu? 

2. Tapi pada kalimat berikutnya, dia sendiri justru meragukannya. Lalu, dia dengan cerobohnya juga menilai para bloger ternama enggak akan mau mengikuti balik bloger pemula karena mereka sudah punya banyak pengikut, sudah memiliki banyak tulisan di blognya, dan namanya terkenal di lingkungan bloger. 

3. Sobat Gurun bahkan juga berasumsi bahwa para bloger senior—khususnya yang telah memiliki banyak prestasi—alergi sama bloger yang baru mengenal dunia blog.

4. Ketika Sobat Gurun mendapatkan jawaban dari beberapa bloger tentang saling mengikuti medsos yang tergantung dari konten dan minat masing-masing, dia tampak begitu kecewa sebab tadinya mengira anak bloger tuh asyik semua.

5. Dia tidak setuju dengan pertemanan yang pilih-pilih. 

Kelima poin itu pun bisa dibuat lebih simpel lagi: Sobat Gurun ingin punya banyak teman bloger (dalam konteks pertemanan yang saling mengikuti media sosial), apalagi kalau bisa akrab sama bloger senior yang sudah terkenal.

Lantaran hal itu, saya langsung berspekulasi bahwa ia sebenarnya kepengin mencari pengikut sebanyak-banyaknya dengan tujuan menjadi buzzer atau bloger yang mendapatkan bayaran dari mengiklan di blog maupun medsos. Biasanya kan untuk menjadi buzzer membutuhkan syarat minimal pengikut—harus menyentuh angka 1.000, misalnya. Jadilah saya menjawab pernyataan dia tersebut: 

Bisalah, Sob. Beberapa teman bloger saya hari ini, pas zaman 2014-2016 rata-rata belum pernah ketemu langsung. Sebelum follow di medsos, kami saling mendukung dengan meramaikan kolom komentar. Kami gantian blogwalking (dengan tulus, bukan cari trafik). Jadi, enggak ada masalah soal pemula.

Sekarang pertanyaannya, kau cari followers buat apa? Menggenapkan syarat minimal menjadi buzzer? Live twit? Mengiklankan produk? Kalau itu tujuannya, biasanya saya malas banget buat mengikuti balik akunnya.

Beberapa kawan saya kini ada yang memilih jalan itu. Saya tidak keberatan. Karena sebelumnya sudah bertemu dan kenal. Saya mencoba menghargai pilihannya. Lalu, jika itu orang asing dan yang saya dapatkan di medsosnya hanya iklan, iklan, dan iklan. Interaksi juga tidak ada. Terus buat apa? 

Hitungan hari telah berganti menjadi minggu sejak saya melempar kalimat itu, tapi Sobat Gurun belum juga merespons pertanyaan saya. Mungkin tuduhan saya itu ada benarnya. 

Saya sih masih tak habis pikir dengan Sobat Gurun yang bisa-bisanya berpendapat bahwa anak bloger itu asyik semua. Dia sepertinya belum tahu kalau beberapa bloger pada tukang gibah. Namanya hidup kan punya dua sisi. Ada yang baik, ada yang kayak tai. Nah, saya termasuk bagian buruknya. Setidaknya, saya masih berusaha jadi tai yang nantinya bisa diolah jadi pupuk kompos. Entah kapan bermanfaatnya, yang penting saya masih mau berproses menjadi lebih baik.

Saya juga tak tahu apakah Sobat Gurun itu termasuk anak baru yang bermain Twitter atau baru hijrah dari Facebook (saya tak ingin repot-repot menyelidikinya), sebab kebanyakan orang sudah tahu bahwa Twitter itu fungsinya buat mengikuti akun-akun yang menarik minat kita. Bukan mengikuti akun teman sebagaimana Facebook yang membutuhkan persetujuan dan akhirnya menjadi mutual. Jadi, jika ada seorang teman yang mengikuti akun saya, lalu saya tidak tertarik dengan isi medsosnya, kemungkinan besar tidak akan saya ikuti balik. Seandainya ada rasa tidak enakan, palingan saya tekan “follow”, terus langsung pilih “mute”. Bagi saya, hal itu sah-sah saja. Lagian, kita memang punya hak buat memilih teman, bukan?


Poin kelima dari pernyataan Sobat Gurun ini masih lucu sekali. Setiap manusia berhak mau memilih makan pakai lauk apa, membaca buku jenis apa, menonton film genre apa, kuliah di mana, kerja di mana, pacaran sama siapa, menikah sama siapa, dan sebagainya. Begitu juga dengan memilih teman, Sob. Kalaupun dikasih uang satu juta, saya tetap enggak akan pernah mau berteman sama Sobat Gurun. Kalau seratus miliar mungkin saya baru mau, tapi itu jelas pengandaian yang tidak mungkin. Intinya, saya tetap tidak sudi berkawan dengannya.

Dari kalimatnya yang terlihat sangat ingin adanya saling mengikuti akun sesama bloger, saya pikir dia sungguh-sungguh berusaha memaksakan standarnya itu kepada semua bloger. 

Saya jadi ingin bercerita sedikit kepadanya. Saya sudah ngeblog dari 2012 (pertama kali bikin), terus mulai aktif 2015, tapi sampai hari ini pengikut saya di medsos masih segitu-segitu aja. Tidak ada yang mencapai seribu. Mungkin karena saya tidak mengikuti balik mereka, terus sebagian dari mereka akhirnya menekan kembali tombol unfollow. Mungkin juga karena saya akhir-akhir ini sungguh sinis dan menyebalkan. Toh, saya memang tak berharap punya banyak teman ketika bermain medsos. 

Sobat Gurun kemudian memberikan alasan bahwa mengikuti akun medsos sesama bloger itu merupakan bentuk dukungan. Oh, ayolah, kau tak usah mengucapkan kalimat munafik kayak begitu. Kau membutuhkan banyak pengikut buat syarat menjadi buzzer, kan? Kau kan tahu zaman sekarang sudah banyak penjual followers, keluarkan modal sedikit apa susahnya, sih? Atau kau tidak suka dengan kepalsuan semacam itu? Lantas, teman-teman yang hanya sekadar angka tanpa interaksi itu bukankah juga bentuk kepalsuan? 

Namun, jika niatmu itu benar-benar ingin saling mendukung sesama bloger, saya pikir kau ialah manusia yang begitu mulia sekaligus goblok. Saya dan beberapa kawan sepertinya tak butuh dukunganmu. Meskipun tidak mendapatkan dukungan atau saling support—kata Sobat Gurun itu, alhamdulillah saya sejauh ini bisa tetap mendukung diri sendiri. Apalah artinya didukung orang lain, Sob, kalau dirimu sendiri itu pada dasarnya makhluk pemalas? Tapi tenang saja, saya juga termasuk pemalas, kok. Makanya hobinya cuma leyeh-leyeh membaca buku sembari sesekali menulis di blog buat menghibur diri sendiri.

Mulanya saya berpikir masalah tentang Sobat Gurun itu sudah kelar sehabis banyak bloger yang tidak sependapat dengannya. Nyatanya, dia justru mempertegas gagasan bodohnya tersebut lewat tulisan blog bertajuk “Bloger: Fenomena Berteman Sebatas Konten.” Lalu, Teh Fasya, teman bloger yang tidak setuju dengan opini Sobat Gurun, membuat antitesisnya: Berteman (Tidak) Sebatas Konten. Sepertinya apa yang Fasya sampaikan sudah cukup mewakilkan saya. Saya tak perlu membahasnya lebih jauh. Saya palingan hanya menambahkan sedikit. 

Wahai Sobat Gurun, sebelum kau menerbitkan tulisan di blog, tolong jangan malas menyunting. Cek kembali susunan kalimatnya. Baru baca paragraf pertamanya saja saya sudah mual bukan main lantaran kebanyakan tertawa. Dia menyuguhkan kalimat supaya pembacanya lapangan dada dan berpikiran terbuka. Lapangan dada itu apa? Saya tahunya lapangan sepak bola, lapangan basket, atau lapangan pekerjaan. Oh, apa maksudmu itu berlapang dada? Tapi, boleh jadi diksi lapangan dada itu memang ada. Kemampuan kosakata saya mungkin yang keterlaluan payah. 

Saya lantas kembali mengakak membaca kalimat berikut ini: “Yang membuat aku bingung, sejak kapan anak bloger membuat dan menyebarkan konten negatif, porno dan ujar kebencian? (saya langsung salin tempel dari blognya tanpa memperbaiki kalimatnya). 

Sepertinya Sobat Gurun memang belum menjelajahi dunia blog terlalu jauh. Dia pasti tak tahu, pada masanya—sekitar 2015-2016—saya pernah mengisi blog ini dengan kejahatan yang dia sebutkan (pembaca lama blog saya pasti tahu saya lumayan sering menghadirkan cerita mesum). Syukurlah saya sekarang sudah berhijrah. Toh, selain hal mesum, gesekan-gesekan di dunia blog juga lumayan banyak. Masa sih dia belum pernah menemukan tulisan bloger yang lagi menyindir bloger lain—bahkan komunitas lain? Seandainya belum, tulisan Fasya tadi bisa menjadi contoh. Teks-teks yang saya susun dengan penuh kebencian ini juga bisa menjadi bukti. 

Yang paling menggelikan dari kalimat Sobat Gurun sepertinya yang ini: 



Kenapa sih kau terlalu memaksa bloger buat saling meretwit, Sob? Sepenting itukah sebuah engagement? Sejauh yang saya tahu tentang tetek bengek ngeblog itu begini: Jika tulisanmu bagus, orang-orang bakal mencarinya. Menunggu-nunggu kapan terbit tulisan baru. Mereka pun rela berkunjung balik lagi dan lagi. Kalau memaksa dan mengemis retwit mah kayak orang yang enggak memiliki integritas.

Sebetulnya saya sudah tidak tega menjotos sobat gurun dengan kalimat-kalimat sinis semacam ini. Apalagi hantaman bloger lain di media sosial sudah cukup bikin dirinya bonyok. Tapi untuk terakhir kalinya, saya sangat ingin berkata kepadanya—meminjam jurus maut yang saya pelajari dari seseorang di bagian penerbitan: “Tulisanmu masuk kategori jelek aja belum.” Dengan kata lain, masih di bawahnya jelek. Sori ralat, di bawahnya-bawahnya-bawahnya jelek. 


Saya mencoba melupakan persoalan Sobat Gurun dengan mengejek diri sendiri lewat gambar ini. 


Caption: Baru sadar kalau foto profil saya tuh illuminati. Bisa pas gitu kaosnya terlipat menjadi mata satu. Hmm. 

Agia tiba-tiba mengingatkan saya untuk berhati-hati karena foto itu rentan menjadi bahan meme. Saya pun meresponsnya tidak apa-apa, asalkan tidak semenyedihkan meme Dian Hendrianto.



Rupanya, sikap tidak keberatan saya tersebut langsung menjadi bahan iseng Agia seperti berikut. 



Saya otomatis terbahak-bahak. Baru sadar bahwa posisi foto saya dan Sobat Gurun itu sama-sama menengok ke samping dan bisa dibikin saling bertatapan. Mungkin Agia—yang seolah-olah menjadi wasit di antara saya dan Sobat Gurun—tampak bosan dan gemas melihat Sobat Gurun cuma terdiam menerima pukulan-pukulan saya tanpa adanya serangan balasan. 

Saya tidak akan ambil pusing dengan diamnya itu. Saya justru dapat belajar sesuatu hal dari bergemingnya Sobat Gurun—yang entah tak mampu memukul balik atau memang tidak suka memperkeruh suasana: Adakalanya kita lebih baik diam daripada memperdebatkan gagasan yang jelas-jelas berseberangan.

Hingga nanti hari kiamat datang, mungkin Sobat Gurun akan terus berpikir bahwa setiap bloger bisa saling mendukung satu sama lain, sedangkan saya juga berpegang teguh dengan keyakinan Pain alias Uzumaki Nagato, “Selama masih ada manusia, benci juga akan tetap ada.” Dan saya benci orang yang gagasannya setolol itu.


Mumpung jiwa iseng dan hasrat bacot saya lagi menggebu-gebu, saya akhirnya gantian bikin meme buat Agia yang foto aibnya pernah tersebar. Inspirasi meme ini saya ambil dari situs rujukan: Agia, asisten dosen termuda di UIN Bandung




Ini sebuah kehormatan bagi saya bisa membalas meme Agia—si tukang mengejek paling asyik. Meski begitu, saya cuma berharap bercandaan-bercandaan itu tidak pernah melukai hati kawan-kawan saya. Sebagaimana saya tertawa ketika diledek, walaupun saya tahu sensitivitas setiap manusia itu berbeda-beda, saya hanya ingin mereka juga bersikap demikian. 

Sebab terakhir kali saya berkata sesuatu hal seenak jidat kepada penulis koplak-koplak itu, dirinya sempat marah terhadap saya. Entah kemarahannya itu masih berlanjut atau enggak, saya tak peduli. Saya sih berprinsip, ketika kau berani memarodikan dan meledek seseorang atau sesuatu hal, kau juga harus siap dibalas. Perang meme itu buat saya bagaikan saling mengejek antarteman di tongkrongan suatu warkop. Tapi ketika ada yang tampak sakit hati, ya udah. Biasanya beberapa teman akan mencoba mengerti, terus dia enggak akan disenggol-senggol lagi. 


Berbicara soal mengejek, sewaktu menjelang tengah malam—masih pada hari yang sama ketika lini masa saya dan beberapa kawan dipenuhi topik Sobat Gurun, ternyata ada seseorang yang diam-diam membicarakan kesinisan antarbloger tersebut. 





Saya tahu tentang hal itu agak terlambat. Jika seorang kawan tidak mengirimkan screenshot dengan pertanyaan, “Twit dia tuh buat kita, ya?”, mungkin saya juga tidak akan pernah mengetahuinya. 

Saya tadinya tidak ingin kepedean. Tapi ketika coba menganalisis twitnya yang hanya berbeda empat menit, lalu gaya ngetwitnya yang dibumbui “wkwkwkwk” (biar terkesan lucu, padahal tidak sama sekali) juga serupa, bisa disimpulkan itu tertuju buat saya dan beberapa kawan. Apakah ada bloger lain yang sinis? Setahu saya, cuma kami yang sinisnya kelewatan terhadap Sobat Gurun. 

Saya mulanya juga sempat merasa malu jika keributan itu menjadi bahan tertawaan orang di sekitar. Namun, karena saya anaknya kurang peduli dengan komentar orang lain, saya cuek saja setiap kali mengetwit—baik itu buat mengeluh, bercerita tentang kesibukan dalam sehari, ataupun membahas persoalan cinta; saya akhirnya merenung dan menyimpulkan: bukankah itu asyik buat kalian, khususnya Iqbal (orang yang bikin twit itu), bisa mendapatkan hiburan secara gratis? Karena ada orang-orang yang perlu membayar ratusan ribu terlebih dahulu buat menonton Stand Up Comedy demi mencari suatu hiburan.

Lagi pula, kenapa dia seakan-akan kaget dan baru tahu hal semacam itu, ya? Sejak dulu masalah di dunia bloger yang sejenis kan sepertinya sudah cukup banyak. Jika ada silang pendapat, terus berdebat, dan bahkan musuhan, itu lazim terjadi. Sama kayak di dunia tulis-menulis, saling kritik, saling ejek. Idrus pun pernah mengomentari Pramoedya Ananta Toer: “Pram, kamu itu tidak menulis. Kamu berak!” 

Kalau dia memang merasa lucu ketika melihat bloger sinis dengan bloger lainnya, lantas kenapa dia ujung-ujungnya ikutan sinis? Mana di kalimatnya itu dia menggeneralisasi satu lingkaran pula. Saya sih cuma membayangkan kalau dia betulan enggak suka sama pertemanan kami (atau lingkaran siapalah yang dimaksud), lalu menyenggol begitu, nanti bakalan ada yang gantian membalas, “Kau pikir dirimu asyik, hah? Becerminlah. Apakah ngatain ‘SJW tai’ itu enggak sok rebel?” 

Seandainya hal ini termasuk salah paham, saya tetap akan memegang prinsip yang sempat saya katakan di atas, “Ketika kau berani meledek seseorang atau sesuatu hal, kau juga harus siap dibalas—entah oleh siapa pun itu.”

Saya pun menganalogikan kejadian tersebut begini: 

Saya dan beberapa kawan lagi asyik membaca buku di sebuah taman. Lalu saya mendengar ada seseorang berteriak di dekat situ. Berhubung saya memakai earphone, saya tidak mendengar dengan jelas kalimatnya ataupun siapa yang mengeluarkan suara. Agus, kawan yang duduk di sebelah saya, pun memberi tahu saya sembari menunjuk orangnya, “Dia tadi teriak, ‘Lucu melihat orang-orang baca buku di taman’, terus dia juga mengejek kita sok kutu buku, Yog.” 

“Dia emang bermaksud mengejek kita atau orang lain, Gus?” tanya saya. 

“Mungkin emang buat kita. Ini perlu kita balas atau didiamkan aja?” 

Saya malas berkeliling taman untuk memastikan siapa orang yang dia ledek itu. Saya tadinya juga sudah ingin menahan diri, tapi entah mengapa mendadak terkenang ucapan Gaspar di akhir bab satu novel 24 Jam Bersama Gaspar—versi modifikasi, “Kalau kau menjadi temanku, aku siap untuk mengejek semua musuhmu. Kau cuma perlu menaati satu peraturan: jangan pernah menusukku dari belakang alias berkhianat.” Dan begitulah kisah bergulir hingga saya gantian mengejeknya. 

Jika ada seseorang yang melihat perseteruan kami kemudian berkomentar, “Sesama cowok kok bisanya adu bacot. Langsung ketemuan dan baku hantam dong.” Saya akan menjawab, maaf ya, cara kekerasan seperti itu buat saya sudah kuno. Apakah itu jawaban dari seorang manusia yang bisanya cuma cari-cari alasan? Baiklah, saya akan mengaku bahwa diri ini payah dalam bertarung. Fisik saya tidak mumpuni buat berkelahi. Saya bahkan sudah lupa rasanya memukul orang—terakhir kali bertengkar fisik sudah 8-9 tahun silam saat SMK. Saya memang tak suka perkelahian semacam itu. Sebagai seorang bloger, senjata saya adalah tulisan. Jadi, saya pikir sebuah tulisan mestinya juga dibalas dengan tulisan. Gagasan dibalas dengan gagasan. Esai dibalas dengan esai. Kritik dibalas dengan kritik. Ejekan dibalas dengan ejekan. Maka, sesudah ini siapa pun boleh menyerang saya dengan kalimat-kalimat keji seandainya ada yang tidak terima atau keberatan dengan tulisan ini.

Namun, sekalipun saya bebas mengutarakan apa saja di dalam tulisan, sebisa mungkin saya berusaha agar tidak menghina fisik seseorang. Saya memilih menyerang pemikirannya yang sok tahu itu dengan argumen saya yang tak kalah sotoy

Saya sampai hari ini masih heran dengan kalimat-kalimat yang gemar menyerang lingkaran orang lain semacam itu. Selama situasinya berada di tempat umum (dalam artian platform di dunia maya), kau kan bisa pindah ke tempat lain jika tidak menyukainya. Kau pun bisa berhenti melihat atau mendengarnya. Dia yang risih, kok jadi kami yang repot dan disuruh diam. Maka, buat Iqbal atau siapa pun yang tidak suka dengan lingkaran orang lain, bahkan bisa juga untuk mengingatkan diri sendiri, saya rasanya ingin meminjam kalimat dari Yasu di film animasi Nana, “Jika kau punya banyak waktu luang buat merusak kebun orang lain, cobalah tanam bunga di kebun milikmu sendiri.”


Waktu itu saya pernah berharap agar dunia blog dapat ramai lagi. Tapi yang jelas bukan dengan drama tai kuda semacam ini. Saya tak tahu kenapa belakangan ini begitu berisik di dunia maya. Mungkin jiwa sinis saya sedang meluap-luapnya. Kalau kau tidak menyukai setiap twit dan caption saya, berhentilah mengikuti akun media sosial saya. Jika tidak suka juga dengan tulisan-tulisan saya, kau juga tidak perlu membaca blog ini. Seandainya sikap songong yang seperti ini membuat saya tidak memiliki teman lagi, saya akan berusaha menerimanya. Lirik Aku Adalah Aku dari ThirteenJkt berikut ini sepertinya mewakilkan diri saya: “Maafkan aku bila terkesan sombong, tapi aku bahagia hidup tanpa pembohong. Maafkan aku bila merendahkan mereka.” 

Saya palingan setelah ini akan kembali berkawan dengan buku-buku saja sebab, mengutip novel Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya garapan Sabda Armandio, buku enggak akan menyakiti pembaca seperti manusia menyakiti manusia lain.

--

PS: Kalimat asli Gaspar di dalam novelnya, “Kalau kau menjadi temanku, aku tak segan-segan menghancurkan hidup musuh-musuhmu. Kau cuma perlu menaati satu peraturan: jangan pernah menyentuhku dari belakang.

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/animal-forest-wood-bird-wild-birds-4365856/
Read More
Pilihlah salah satu menu puisi berikut ini yang sesuai dengan seleramu. Jika tidak ada satu pun yang membuatmu suka, kamu bisa membuat menu sendiri di kotak yang tersedia.


Membuat Donat di Tubuhmu 



Pecahkan empat butir telur, buanglah tangisannya, dan masukkan mata cerahnya ke dalam hatimu. Ambil dua genggam pasir manis, lalu campurkan dengan segelas penuh penderitaan. Aduk searah jarum jam, kemudian minumlah.

Tuang seplastik terigu ke dalam baskom, juga bubuk ragi sebelum datangnya pagi. Muntahkan semua air yang tadi kauminum. Biarkan segalanya tercampur dan bawalah ke dapur. Diamkan selama lima menit. Jika sudah, balurkan di sekujur tubuhmu. Tidurlah, bermimpilah. Biarkan dirimu menjadi adonan. Jika sudah terbangun dari nyenyak, seraplah pengetahuan yang banyak. Dengan bekal itu, kau perlahan-lahan dapat menjalani kehidupan sembari belajar lebih luas lagi.

Kejamnya kenyataan dan takdir hidup akan membanting tubuhmu itu sampai teksturnya pas. Kedengarannya memang bengis, tapi kau mesti kuat dan tak perlu sering-sering menangis. Nanti dengan sendirinya karaktermu akan mengembang.

Seraya menunggu tubuhmu mekar, kau dapat memanaskan bakat dengan semangatmu itu. Gorenglah dengan sedikit amarahmu hingga kecokelatan dan matang. Tapi sebelum sampai ke titik itu, mungkin kau akan terjatuh dan gagal berkali-kali. Tak apa, begitulah proses bekerja. Jika sudah puas menikmatinya, angkat dirimu dari keterpurukan, lalu tiriskan segala kesedihan. Setelahnya kau bisa menambahkan butiran salju atau meses atau apa pun sesuai selera. Kini, tubuh donatmu pun sudah tampak istimewa.

/2017 


Wedang 



Ketika aku berkunjung ke rumahmu, 
kau menyuguhkanku secangkir wedang. 

Sebagai tanda terima kasih, 
aku pun membuatkanmu puisi 
sambil menunggu panasnya surut. 

Tapi saat wedang itu ingin kuminum, 
ada seekor lalat yang asyik berenang. 
Lantas, keluarlah bangsat dari dalam mulut. 

/2017


Tidak Enak 




Tidur adalah kepingan yang kutabung di dalam kaleng-kaleng biskuit. Ketika nanti kubuka, isinya tidak akan memberikan apa dan siapa yang kurapalkan dalam doa. Namun, garing dan pahitnya itu ternyata masih dapat kukunyah. Hingga tidak enak pun telah menjadi rasa mewah di lidah.

/2017


Masakan Ayah




Sejak kematian Ibu
Ayah memiliki peran yang banyak
Terutama dalam tugas memasak.

Ayah mulai belajar merebus sepiring cinta
Menggoreng sepotong gembira
Menumis seikat bahagia
Untuk dirinya, aku, dan adikku.

Tapi, Ayah selalu punya resep sendiri
Misalnya, sayur asem menjadi manis
Sayur gudeg menjadi asin
Ikan asin berubah pahit.

Suatu hari, tetanggaku pernah bertanya:
“Apakah ayahmu tidak mau kawin lagi
untuk mengisi hatinya yang kosong?”

Ah, tetanggaku sepertinya memang tidak tahu
Bahwa Ayah sudah sering berbulan madu
dengan masakan-masakan gosong
ketika dirinya sedang bengong.


/2017


Air Senyum



Jari-jari tanganku masih menempel aroma tubuhmu:
Bumbu khas nasi padang yang kubeli tadi siang.

Kuhirup dalam-dalam sebagaimana oksigen
Yang kupuja menjelang petang.

Bagaimana aku selalu mengingat
Sekumpulan udara yang telah tercampur
Dengan keringat para pekerja
Yang letih menangkap bintang.

Mereka ingin selalu bersinar
Tapi kilaunya justru meredup
pada malam hari.

Hanya tersisa puing-puing luka
Yang ia bawa pulang dengan tangan terbuka.

Niatnya untuk diberikan kepada anak dan istri
Tapi setiap hari di apartemen itu
Tak ada seorang pun yang menyambutnya.

Cuma ada cangkir bergambar muka
Yang berisi air senyum duka dan murka.

/2018

--

Sumber gambar:

https://pixabay.com/photos/donut-american-doughnuts-pastries-3448210/
https://pixabay.com/photos/ginger-ginger-tea-hot-drink-drink-3966502/
https://pixabay.com/photos/cookies-baked-goods-fresh-chocolate-1372607/
https://pixabay.com/photos/meat-wood-burned-spare-ribs-own-2231339/

https://www.tokopedia.com/gtainone/cangkir-ajaib-cangkir-suhu-2-warna-magic-mug-motif-senyum-y-03
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home