“Jangan katakan kau ingin mati.”

“Jangan menyerah pada hidup.” 

Meskipun berbicara hal yang benar, betapa tololnya lagu dengan lirik seperti itu. Sesungguhnya, aku tidak keberatan jika diriku sendiri yang mati. Tapi, aku bakal sedih kalau orang di sekitarku yang mati.

“Aku tak mau itu terjadi,” yang bilang begitu adalah ego. 

Peduli setan dengan hidup orang lain. Membenci seseorang telah menjadi fesyen. Walaupun begitu, kau malah mengatakan, “Mari hidup damai.” Indah sekali, bukan? 

Seseorang tewas di layar yang sedang kaulihat. Lalu seorang yang lain meratapinya dan menyanyikan sebuah lagu. Seorang anak terpengaruh dan berlari sambil menggenggam sebilah pisau. 

Kita dibenci oleh kehidupan itu sendiri. Kita memaksakan nilai dan ego. Dengan mudahnya kita menyebarkan lagu tentang kematian. Kita dengan entengnya mengucapkan ingin mati. Dengan gampangnya meremehkan kehidupan. 



Karena tak punya uang, dalam seharian ini aku pun bermalas-malasan sembari menyanyikan lagu-lagu seperti orang bodoh. Tanpa dapat menemukan arti hidup, aku bernapas dengan kesadaran akan hidupku yang sia-sia. Bolehkah aku mengekspresikan luka ini dengan sepatah kata, “Aku kesepian”? Dengan pikiran angkuh seperti itu, hari ini pun aku terlelap sendirian di kasur. 

Kita yang dulu anak-anak, suatu hari akan tumbuh menjadi remaja. Kita menjadi tua dan suatu hari nanti membusuk tanpa diketahui oleh siapa pun seperti dedaunan layu. Aku mengkhayal tentang situasi fiksi ilmiah. Di mana kita bisa memperoleh tubuh yang abadi dan hidup selamanya tanpa harus mengalami kematian? 

Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home