Saya mendusin karena ingin buang air kecil. Saat menengok ke arah jam dinding, awalnya saya mengira sudah ganti hari, ternyata masih pukul 23.20. Begitu saya keluar dari toilet dan ingin kembali ke kamar, saya mendengar suara berisik dari kamar Dio Kurniawan, anak pertama saya. Saya pun penasaran, lalu mengetuk pintu kamarnya. “Dio belum tidur?” 

“Belum, Yah, kan besok libur.” 

Besok bukannya masih hari Rabu? Ah, saya baru ingat. Siang tadi saya habis menemui Pak Bambang, guru BP (Bimbingan Penyuluhan) di sekolah Dio. Anak itu bikin ulah lagi, sehingga pihak sekolah harus menskorsnya. 


Ini ketiga kalinya saya mendapat panggilan dari guru BP atas kelakukan Dio di sekolah. Pertama, dia belakangan ini sering pergi ke kantin saat jam pelajaran berlangsung; kedua, dia ketahuan merokok di toilet guru; kali ini, dia menulis kalimat “Apa gunanya sekolah jika tidak bisa menjamin masa depanmu?” di papan tulis kelasnya. 

Selama di ruang BP, Dio terlihat risih mendengarkan khotbah Pak Bambang. Saya sebetulnya juga sama malasnya, bahkan saya ingin berkata, “Banyak bacot kau, Anjing!” Namun, kenyataan adalah sesuatu yang mencegah saya melakukan perbuatan itu. Bisa-bisa saya ikut kena damprat, lalu Pak Bambang akan membuat konklusi: Tabiat bapak dan anak sama busuknya.

“Saya tahu Dio sebenarnya anak yang cerdas,” ujar Pak Bambang. 

Saya melirik Dio. Dia tampak biasa saja mendengar pernyataan itu. 

“Saya perhatikan Dio itu dari kelas satu anaknya kalem dan sopan. Tapi kenapa belakangan ini dia mendadak badung, Pak? Saya benar-benar tak menyangka.” 

Belum sempat saya menjawab pertanyaan itu, Dio tiba-tiba bilang, “Saya boleh izin ke toilet, Pak? Kebelet banget.” 

Pak Bambang mempersilakannya. 

Begitu Dio keluar ruangan, saya bercerita soal kematian ibunya Dio alias istri saya sekitar dua bulan lalu. Mungkin Pak Bambang lupa atau tidak mengetahui informasi itu. Saya menjelaskan barangkali itu yang menjadi penyebab, mengapa Dio melakukan hal-hal yang tidak biasanya. Dio nakal karena ingin mencari perhatian orang-orang di sekitarnya. 

Pak Bambang mengucapkan maaf dan belasungkawa kepada saya. 

“Saya berharap Pak Bambang bisa memaklumi kondisi hati Dio yang sedang tidak stabil.” 

Sudah sepuluh menit berselang, Dio tidak kembali lagi ke ruangan. 

Pak Bambang meneruskan khotbahnya. Katanya, meskipun demikian, bukan berarti Dio bebas berbuat seenaknya. Saya harus lebih memperhatikan Dio. Memberikan kasih sayang berlebih untuk menggantikan cinta yang berkurang dari sosok ibunya—yang telah tiada. 

Dibandingkan dengan ceramahnya, sejujurnya saya lebih terganggu dengan penampilan Pak Bambang. Saya selalu berusaha menahan tawa setiap kali melihat model rambutnya yang belah tengah itu. Apalagi mengingat usianya yang kira-kira sepuluh tahun lebih tua daripada saya (usia saya 43), dia jelas tidak cocok tampil tanpa kumis. Saya penasaran, apakah dia berpikir kalau mencukur kumis itu dapat membuat dirinya tampak lebih muda? Tampak tolol sepertinya lebih tepat. 

Pak Bambang akhirnya menutup perbincangan hari itu dengan bilang begini, “Sebentar lagi kan mau UN, Pak. Lulus tinggal hitungan bulan, terus persiapan masuk SMA. Tolong nanti di rumah anaknya benar-benar dikasih tahu dan dinasihati, ya. Kalau Dio terus-terusan seperti itu, kami bisa mengambil tindakan untuk mengeluarkan anak Bapak dari sekolah. Untuk langkah awal dan menegaskan perkataan saya ini tidak main-main, saya akan menskors Dio selama tiga hari. Semoga keputusan itu tepat dan dapat mengubah perilaku Dio.” 

Saya mengiyakan ucapan guru BP itu dan meminta maaf lagi atas perbuatan Dio, lalu pulang. 

sumber: https://pixabay.com/photos/silhouette-father-and-son-sundown-1082129/
Read More
Mencari menu sarapan pada minggu pertama Lebaran sama susahnya seperti menggemukkan badan. Setidaknya, begitulah yang dirasakan oleh Yogi Pratama. Selama dua puluh lima tahun hidup di dunia, tak pernah sekali pun ia masuk ke dalam kategori tubuh ideal. Berat badannya belum pernah menyentuh angka 50 kg. Empat puluh delapan adalah hasil tertinggi yang pernah ia raih. Itu pun Yogi masih kurang 10 kg lagi untuk terlepas dari penilaian kurus—berdasarkan rumus menghitung berat badan ideal yang pernah ia baca di sebuah artikel. 

Membuka kisah dengan membahas berat badan mungkin membuat sebagian orang sensitif. Apalagi kalau bagian itu tidak ada hubungannya dengan alur cerita. Tapi, memang hanya hal itu yang selalu terlintas saat aku memikirkan makanan. Ketika paragraf ini kuketik, barulah aku menemukan perbandingan yang lebih cocok. Seharusnya aku tadi membandingkan kesulitannya itu dengan memilih kalimat pembuka. Pendapatku cukup benar, bukan? Seandainya menuliskan kalimat pembuka yang memikat itu mudah, aku pasti tak perlu bertele-tele begini. 

Untuk mempersingkat waktu, sebaiknya aku sudahi omong kosong barusan dan segera melanjutkan cerpen busuk ini. 



Pada hari ketiga setelah Lebaran, Yogi mulai bosan menyantap ketupat dan opor ayam, rendang, bakso, serta mi instan. Ia ingin menu lainnya. Sialnya, semua penjual makanan di dekat rumahnya masih pada mudik. Kini, ia jadi repot dan kebingungan harus mencari sarapan ke mana. 

Yogi sudah berjalan kaki lima belas menit dari rumahnya ke arah Pasar Palmerah, tapi belum juga menemukan seorang pedagang makanan yang menggugah selera. Ia sebetulnya tadi sempat berpapasan dengan tukang bubur ayam. Sayangnya, ia berpikiran itu makanan buat orang sakit. Lagi pula bubur juga tidak bikin kenyang, pikirnya, nanti dua jam kemudian bakal lapar lagi. Yogi melihat tukang kembang tahu dan soto mi di seberang jalan, tetapi ia tak menyukainya. Ia memang terlalu pemilih dalam urusan makanan. Sambil terus melangkahkan kaki, ia bertanya sekaligus mengeluh, kenapa tak ada satu pun penjual nasi uduk? 
Read More
“Sebelum cahaya berubah bencana, ia hanya api kecil di sudut ruang keluarga.” –Melancholic Bitch, Cahaya, Harga 

--

Puasa tinggal dua hari lagi. Kebanyakan orang sudah malas sahur, termasuk keluarga Pak Agus. Meskipun demikian, bukan berarti mereka tak mau menyantap makanan sama sekali. Mereka tetap ingin mengisi perut sekalipun buat beranjak dari kasur saja ogah-ogahan. Sayangnya, pikiran dan ucapan buruk bisa menjadi doa yang terkabulkan. Seperti yang terjadi hari ini, misalnya. 


Kakak baru benar-benar bangun dari tidur pada pukul empat pagi, padahal sekitar 15 menit sebelumnya Ibu telah meneriaki para anggota keluarga dari dapur. Dengan mata masih sepet, Kakak mengambil piring, membuka pengukus nasi, dan bermaksud menciduk nasi ke piring. Matanya langsung melotot ketika nasi yang dia lihat masih berwujud beras dan air. Kakak menggeser pandangannya ke lampu alat penanak nasi yang tidak menyala. 

“Lah, ini tempat nasi dari tadi enggak dicolok?” kata Kakak setengah berteriak. 

Ibu menyahut dari dapur, “Kok bisa? Tadi yang masak si Adik.” 

Sembari menggoreng tempe, Ibu memarahi Adik habis-habisan. Ibu lalu menjelaskan hal-hal yang telah mereka ketahui tentang menanak nasi: sebelum ditinggal pergi tuh lampunya diperhatikan lagi, sudah menyala atau belum; tombol juga jangan lupa dipencet. 

Adik berteriak dari kamarnya, “Tadi lampunya udah nyala, kok. Sebelumnya emang susah, enggak mau nyala. Aku coba utak-atik, eh bisa. Ya udah, aku tinggal ke kamar.” 

Kakak memperhatikan colokan yang menancap ke stopkontak. Kabelnya menyambung. Dia akhirnya sadar, jika kabel yang berada di pengukus nasilah yang bermasalah. Kabel itu hanya menempel, tapi tidak benar-benar tercolok. 

“Mungkin kabelnya udah kendor, terus ada yang nyenggol kali,” ujar Adik. Dia tak mau disalahkan begitu saja. 

Pertanyaannya, siapa yang menyenggol? 

Bapak masih tidur dan baru terbangun ketika mendengar keributan yang terjadi. Kakak berada di ruang tengah belum lama ini. Lalu, apakah pelakunya Ibu? Mengingat Ibu yang dari tadi sibuk di dapur, kayaknya bukan juga. 

sumber gambar: https://pixabay.com/photos/korean-cuisine-food-shrimp-1991580/

Ibu membawa masakan yang sudah matang ke meja makan di ruang tengah satu per satu. Terong balado, tempe goreng, dan udang goreng tepung. Aromanya sangat mengusik hidung Kakak dan Bapak.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home