Dian berteriak meminta saya menepi ketika kami berada di kawasan Tanah Abang. Kala itu saya tengah memikirkan perkataan Haw dua jam sebelumnya, “Kenapa kalian enggak jadian aja, sih?” Haw tentu tidak menyuruh saya jadian dengan Dian, sebab dia bukan seorang perempuan. Dia laki-laki yang kebetulan namanya uniseks. Toh, saya sangat normal dan tidak memiliki kelainan seksual. Yang Haw maksud adalah perempuan bernama Tania yang sempat saya ceritakan di KFC. 

“Yog, berhenti dulu dah,” ujar Dian. 

Saya masih memacu kendaraan. Dian berteriak sekali lagi. Akhirnya, saya memperlambat kendaraan dan setop di pinggiran Jalan Kebon Sirih. Saya lantas bertanya kenapa dia mendadak menyuruh berhenti.

“Gue mau ke Cileungsi, emang lewat sini?” tanyanya. 

Saya betul-betul enggak tahu di mana letak daerah yang Dian sebutkan itu. Saya mengira Dian masih melewati jalan yang biasanya, arah Pasar Senen, sebagaimana dia dulu tinggal di sekitaran Bekasi. Dian segera mengeluarkan ponsel untuk mengecek aplikasi peta. Dian mengeluhkan salah arah dan betapa jauh tujuannya itu dari tempat kami saat ini. 

Saya bertanya kepada Dian di mana patokannya kalau mau ke arah Cileungsi. Dian menjawab Patung Dirgantara. Namanya tidak asing, tapi saya entah kenapa bisa-bisanya lupa akan hal itu. Saya mencoba mengingat-ingat nama patung tersebut.

“Pancoran, Yog,” kata Dian. “Lu tau?” 

Nah, misteri pun terpecahkan. Patung Dirgantara memang lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran.

“Oh, gue tau. Ayo muter balik dulu di depan, Yan.” 

Saya putar balik ke arah Tanah Abang. Saya bermaksud mengantarkan Dian ke kawasan Bundaran Slipi sekalian nanti saya pulang. Dari sana Dian bisa ke arah Semanggi dan tinggal lurus terus sampai Pancoran.

Ketika kami sudah berada di Jalan Jati Baru, Dian tiba-tiba berteriak lagi, “Yog, kok malah tambah jauh, ya? Mending gue lihat maps aja deh.” 

Motor saya tetap melaju. Saya tidak menggubris perkataannya. Dian mengulang kalimatnya, kali ini suaranya terdengar seperti hendak menangis. Saya pun mengingat kesialan Dian hari ini. Ponsel Dian—iPhone 5S—sempat terjatuh hingga layarnya retak ketika kami ketemuan siang tadi. Lalu sekarang saya bikin dia tersesat. Saya mendadak merasa bersalah. Kata “mendadak” kemudian membawa saya ke pertemuan kami hari ini yang juga serba dadakan.


Sekitar sepuluh jam sebelumnya, saat saya sedang siap-siap berangkat Jumatan, Dian mengontak saya—bertanya apakah hari ini saya sibuk. Saya menjawab apa adanya: mau salat Jumat. Dian mengetik tidak jelas. Saya mencoba memahami maksud kalimatnya: mengajak bermain seusai Jumatan. Saya bertanya untuk memastikan maksudnya itu. 

“Iya, gue lagi di Rawamangun,” tulis Dian.

Ngapain? Nemuin Darma?” 

Saya menyebutkan salah seorang kawan yang baru saja pulang menuntut ilmu dari Turki beberapa hari lalu. 

“Habis ngelamar kerja.” 

Saya bilang kepada Dian bahwa jadwal hari ini kosong, nanti saya kasih kabar lagi sesudah Jumatan. Saya jelas berbohong. Sejak pagi saya sudah berniat main ke Blok M untuk mencari buku Gempa Waktu karangan Kurt Vonnegut. Tapi karena urusan itu tidak penting-penting amat, saya memilih menemui kawan bloger yang jarang berjumpa ini. 

Begitu Jumatan kelar, cuaca yang tadinya sangat panas langsung berganti menjadi hujan deras. Saya mengabarkan Dian tentang kondisi di daerah saya. Jawaban Dian ternyata sama: di sini (Rawamangun) juga hujan. Sembari menunggu reda, saya mengontak Haw untuk ikut main. Saya juga menyuruh Dian supaya mengajak teman bloger lainnya.

“Ini niatnya mau main ke mana?” tanya saya. 

“Gue mau makan dulu. Laper. Gampanglah nanti main ke mana laginya.” 

Kami awalnya bingung mau makan di daerah mana. Saya tidak banyak tahu tempat makan di kawasan Rawamangun. Apalagi si Dian. Daripada terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berpikir, saya akhirnya menyuruh Dian ke daerah Binus, Jakarta Barat. Saya lumayan tahu tempat makan enak dan terjangkau di dekat rumah. 


“Udah di mana, Yan?” tanya saya. 

Dian menjawab pom bensin dekat Binus. Saya mulanya bertanya apakah itu yang di dekat Batusari, tapi mengingat Dian tidak tahu daerah sini, saya pun mengetik lagi dan menyuruhnya mengirim titik koordinat biar lebih gampang. Dian mengirimkan posisinya di daerah Slipi. 

Saya membatin, pom bensin dekat Binus? Matamu, Yan! 

Namun, daripada energi saya habis cuma untuk memberi tahunya, lebih baik saya segera menuju tempat Dian berada. Sepuluh menit kemudian saya sudah sampai tujuan. Saya memperhatikan tiap-tiap wajah yang berada di SPBU, tetapi tidak ada satu pun yang berwujud Dian. Apakah kami berbeda pom bensin? Saya kembali bertanya kepada Dian, ada apa di dekat situ. 

“Gedung Citicon.” 

Lah, itu di mana? Seingat saya di dekat pom bensin sini tidak ada gedung-gedung. 

“Itu Pertamina atau Shell, sih?”

“Pertamina.” 

Saya langsung mengecek GPS buat memastikannya. Ternyata saya salah alamat. Saya bingung Dian sekarang berada di mana. Setahu saya, pom bensin di daerah Slipi itu cuma di sini dan di seberangnya. Tapi daripada saya terus bertanya-tanya, mendingan saya mengikuti petunjuk jalan di aplikasi. Saya diarahkan ke sebuah jalan yang entah mengapa justru semakin jauh karena mesti mengikuti jalan di pinggiran tol. Kala itulah saya melihat gedung yang Dian sebutkan tadi. Saya langsung menepi dan mengontak Dian, “Oke, gue tau. Gue puter balik dulu. Anjirlah, seberang gue tol.”

“Si anjir.” 

Saya bingung kenapa Dian bisa-bisanya mengisi bensin di SPBU pinggir tol. Kayak enggak ada tempat lain aja. Untuk putar balik ke tempat Dian, saya kudu menyusuri jalanan ini hingga bertemu pintu keluar tol (tempat memutar arahnya dekat dari situ). Saya melihat kondisi jalanan yang macet. Saya mau tak mau harus mencari jalan lain.

Setelah sekian lama, ini pertama kalinya saya melawan arah lagi di jalan raya demi si Dian Kunyuk agar dia tidak kelamaan menunggu. Saya berhasil menemuinya dalam waktu sembilan menit. Jika tadi saya tetap mengikuti petunjuk jalan, bisa-bisa akan mencapai 20 menit atau lebih. 

Saat kami bersua, hal yang pertama kali Dian ucapkan adalah, “HP gue jatoh, Yog.” 

“Serius lu?”

Dian merogoh kantong celana dan memperlihatkan ponselnya yang layarnya retak. Saya geleng-geleng kepala. Kelakuan manusia satu ini ada-ada saja. Meskipun begitu, entah mengapa ada rasa tidak enak di hati saya, seolah-olah hari itu saya habis berkata “Ah” kepada orang tua sebanyak tiga kali. 

“Tapi masih bisa, kan?” tanya saya. 

“Bisa, kok. Bisa.” 

Kami pun segera menjemput Haw di daerah Tanjung Duren. 


Saya menawarkan kepada Dian dan Haw apakah mau makan steak. Mereka pun manut saja. Sayangnya, begitu sampai di lokasi warung makan itu justru tutup. Di pintunya tertulis informasi: minggu depan baru akan kembali buka. Mungkin pemilik dan pegawainya masih pada mudik. Saya segera memutar otak dan mencari alternatif, yakni ayam bakar. Mereka lagi-lagi menyetujui ajakan saya. 


Saya mengajak Dian, Haw, dan Darma main ke rumah saya. Sesampainya di rumah saya, pintunya malah terkunci. Sepertinya ibu saya sedang pergi keluar. Saya jadi kepikiran akan lelucon yang sempat saya lempar saat berada di warung makan Ayam Bakar Kambal tadi. Saya bilang kepada mereka, bahwa nanti ibu saya akan kaget mendapati seorang Yoga memiliki teman sebanyak ini hingga berujar, “Ya, Allah, ada juga yang mau berteman sama anak saya. Ibu kira temannya Yoga cuma laptop dan buku-buku.”

Kala mendengar kelakar itu, Haw dan Dian tertawa, sedangkan Darma tidak. Kau mungkin berpikir gurauan semacam itu tidak lucu buat seorang Darma atau ada masalah gawat di otaknya, tetapi sungguh bukan itu. Saya pikir Darma hanya kelaparan bercampur cemas, mengapa makanan yang dia pesan lama sekali tersajinya.

Omong-omong, mungkin kau penasaran bagaimana Darma tiba-tiba bisa bergabung bersama kami. Saya tadi sengaja melompati alurnya demi menghindari alur yang monoton. Baiklah, sekarang akan saya ceritakan dari awal. 

Saat saya menunggu kabar dari Dian yang katanya sudah dalam perjalanan ke Binus, saya sedang kontakan bersama Haw. Dalam obrolan itu, si Haw sempat bertanya kepada saya, apakah si Darma ikut? Itulah yang bikin saya mengirimkan Darma pesan, “Dar, si Dian udah ngabarin lu ngajak main?”

Darma bilang tidak ada ajakan dari siapa-siapa, bahkan tidak tahu nomor Dian. Maka, sayalah yang akhirnya mengajak Darma. Karena Darma bilang kebetulan sedang main ke Blok M Square dan tidak ada kesibukan lagi, dia pun menerima ajakan saya. 

“Lu sendirian apa gimana?” tanya saya. 

Jawaban Darma sangatlah mengejutkan: Iya, sendirian. Dengan hati yang hampa. 

Saya jadi tak habis pikir, Darma selama di Turki sebetulnya belajar apaan, sih? Belajar filsafat dan Zen, kah? Sampai-sampai dia salah langkah, lalu terjebak di dalam kekosongan? Singkat cerita, Darma bilang mau cari makan dulu. Nanti ketika sudah sampai di Palmerah dia akan memberi kabar. 

Namun, kenapa kabar dari Darma datang ketika saya baru saja duduk di warung makan bersama Dian dan Haw? Mau tak mau saya jadi menunda menggasak ayam bakar itu dan langsung menjemput Darma di Halte Palmerah.

Darma tidak jauh berbeda dengan perawakannya tiga tahun lalu. Masih tetap kurus. Sesuatu yang tampak berbeda dari dirinya hanyalah bentuk kumisnya. Kini bulu-bulu itu jadi bertambah lebat. Memberikan kesan sangar. Tapi Darma tetaplah seorang Darma. Buktinya, hal yang pertama kali dia ucapkan saat bertemu saya ialah kalimat “mohon maaf lahir dan batin”. 

Setelah penantian panjang, akhirnya paket ayam bakar pesanan Darma tiba di meja. Aromanya sungguh menggandakan rasa laparmu. Tapi rasa senang Darma tidak berlangsung lama, sebab kali ini gantian minumnya, es teh manis, yang tak kunjung sampai. Seraya menunggu minuman itu datang, Darma memuji rasa ayam bakarnya yang mantap. Bumbunya meresap hingga ke dalam. Sangat berbeda dengan ayam bakar yang dia santap di Turki: hambar. Sehambar kisah cintanya mungkin?

Haw meminta Darma bercerita tentang kegiatannya selama di Turki. Darma mengisahkan soal tempat bernaungnya selama di Turki yang tidak jauh berbeda dengan asrama di Rawamangun—tempat tinggalnya selama kuliah dulu. Sistem belajarnya juga mirip pesantren. Dengan kata lain, Darma selama ini mondok di luar negeri. 

Begitu perut kami sudah terisi penuh, saya mengajak mereka main ke rumah saya. Dan begitulah cerita bergulir sampai rumah saya terkunci karena penghuni lainnya sedang pergi entah ke mana.

Syukurlah saya tadi berinisiatif membawa kunci kamar saya—yang letaknya di depan rumah, sehingga sering dianggap rumah tetangga. Saya membuka kunci dan menyuruh mereka masuk ke kamar.

“Enak banget kalo habis pergi-pergi bisa langsung masuk ke kamar, Yog,” kata Haw. 

“Wah, bisa ini mah,” kata Dian. 

Saya sebetulnya mengerti maksud kata bisa yang Dian lontarkan, tapi saya pura-pura tidak paham dan memilih bertanya, “Bisa apaan?” 

“Bisa bawa ceweklah.” 

“Oh, bisa,” kata saya. “Bisa dibunuh gue sama Nyokap.” 

Mereka tertawa. 

Saya jelas tidak sebejat itu. Saya tak pernah punya niat menyelundupkan perempuan ke kamar untuk hal yang bukan-bukan. 

Saya pergi ke ruang tengah untuk mengambil beberapa camilan dan botol minuman. Mereka mulai mencicipinya satu per satu. Lalu Haw mengomentari tulisan rengginang yang tertera di sebuah kaleng wafer. Saya menceritakan makanan itu yang paling cepat habis, padahal puasa baru masuk minggu ketiga. Hidangan yang niatnya buat Lebaran itu justru jadi santapan Ramadan. 



“Tapi aturan enggak usah ditulis begini, Yog,” ujar Dian. “Kalo gini, kan, jadi enggak ada kejutannya lagi.” 

“Itu kerjaan bokap gue,” kata saya. 

Haw mengeluarkan ponsel dan memotretnya. 



Darma memberikan kami oleh-oleh berupa penganan yang ketika dikunyah mirip Yupi. Selain itu, Darma juga membawakan kami gantungan kunci. Ada yang berbentuk masjid, tulisan Turkey, tulisan Istanbul, dan kunci. Darma menyuruh kami mengambil masing-masing satu. Lalu kami bertiga sepakat memilih yang bentuknya kunci. Mungkin diam-diam kami berharap itu adalah kunci surga. 




Selagi mulut kami sibuk mengunyah, kami juga membicarakan teman-teman blog yang vakum. Kami pun memikirkan gimana caranya agar mereka kembali menulis (padahal kami sendiri sama malasnya). Lama-lama obrolan mulai berkelok ke arah gibah—yang tak perlu dikisahkan di sini—tanpa kami sadari. 

Waktu pun semakin bergeser sampai langit menangis sebagaimana siang tadi. Saya mengajak mereka pindah ke ruang tengah karena atap kamar saya bocor. 

Di depan kami lanjut mengobrol. Saking asyiknya berbincang, kami jadi lupa menunaikan salat Asar. Kami pun salat Asar dengan waktu yang mepet, lalu melanjutkan Magrib, dan setelahnya memutuskan pindah ke tempat lain.

Dian mengabarkan Reza, mahasiswa Binus merangkap anak blog yang ngekos di dekat kampus tersebut. Ketika Dian mendapatkan respons positif, dia langsung menelepon Reza, dan memberikan ponselnya kepada saya. Saya bertanya kepada Reza tempat mana yang asyik buat nongkrong serta harganya murah. Reza hanya berdeham, belum juga meluncurkan jawaban. 

Itu mah termasuk mahal, jawab Reza ketika saya menyebutkan sebuah nama kafe. 

“Terus di mana dong?”

“Gue sejujurnya jarang nongkrong sih, Bang,” kata Reza. “Lebih suka di kosan.” 

Saya paham hidup anak kos yang mesti hemat, tapi masa iya tak tahu satu pun tempat yang murah meriah di dekat kampus? Biasanya kan mereka bakal mencoba tempat-tempat semacam itu kala uang kiriman dari orang tua baru tiba. Tapi ketimbang menyalahkan orang lain, bukankah saya lebih baik menengok diri sendiri yang sebetulnya sama parahnya? Sudah dua puluhan tahun hidup di Jakarta Barat, kok masih miskin referensi tempat nongkrong di sekitar sini. Maklum, selama ini saya lebih senang main ke warkop. Es teh manisnya cuma 3.000. Beda dengan kafe-kafe yang harganya pasti lebih dari goceng. 

“KFC aja apa?” tanya saya. Hanya tempat itu yang muncul di benak saya. 

“Oh, ya udah itu aja. Yang di mana nih?”

Saya menjawab di Binus supaya dekat dari tempat Reza dan dia tidak perlu repot-repot mengeluarkan biaya untuk naik angkot atau ojek daring. 

Meskipun ujung-ujungnya KFC lagi (kami sudah keseringan kopdar di sini), setidaknya saya tahu bahwa kualitas suatu pertemuan tidak dinilai dari tempatnya. Melainkan siapa orangnya dan topik obrolannya. 



Sayangnya, obrolan kami para bloger busuk ini paling-paling tidak jauh dari dunia blog dan tulis-menulis. Darma sempat bilang ingin balik menulis lagi, tapi bingung apa yang hendak diceritakan dan lupa cara menulis. Saya, Dian, dan Haw membicarakan tentang rasa malas mengikuti event bloger, baik itu berbayar maupun tidak.

“Gue lagi cari-cari info lomba blog nih,” kata saya. “Belum ada yang hadiahnya menarik lagi apa, ya?” 

“Gue malah udah males banget sama lomba-lomba gitu, Bang,” ujar Reza. 

“Lu bukannya pernah menang lomba, Za?” tanya Haw. 

“Iya, itu juga ikutnya males-malesan karena disuruh temen.” 

“Anjing, males aja bisa dapet laptop,” kata saya. “Laptop belasan juta lagi.” 

Saya lantas mengisahkan pengalaman lomba yang gagal terus. Sebesar-besarnya hadiah mentok di angka 500 ribu. Ketika sudah girang bukan main karena terpilih sebagai 100 finalis Lomba Blog Bank Indonesia dengan tema Cinta Rupiah, saya tentu berharap bakal meraih juara pertama sebab saat menuliskannya penuh antusias. Namun, itu hanyalah khayalan tolol saya. Nama saya tidak tercantum di antara tiga besar itu.

“Terus terakhir kali ikut lomba akhir tahun lalu, gue juga udah yakin banget menang,” kata saya. “Eh, nyatanya tetep kalah. Sialan, enggak jadi dah dapet duit 10 juta.” 

“Yang penting kan sekarang udah dapet HP,” kata Haw. 

Saya tertawa. Alhamdulillah, belum lama ini saya mendapatkan bayaran menulis berupa ponsel seharga dua jutaan. Keinginan saya sejak lama buat mengganti ponsel iPhone 4 yang sudah usang itu rupanya malah terkabul secara gratis. Saya akhirnya berpendapat bahwa rezeki saya dari menulis memang baru datangnya sekarang. Atau mungkin saya diam-diam telah mengamini sebuah mitos, bahwa saat serius banget mengikuti perlombaan biasanya akan berujung kecewa, sedangkan ketika iseng-iseng bakalan memperoleh hadiahnya. Simpelnya: saya tidak perlu memasang ekspektasi terlalu tinggi. Ikutan semampunya, lalu lupakan atau tak perlu dipikirkan lagi. Nanti kalau menang syukur, kalah biasa saja.

Tak lama, obrolan pun mendadak berenang ke topik pernahkah kita dekat atau bahkan mendapatkan pacar dari blog. Darma dengan gadis Pekanbaru-nya. Haw hanya diam, entah tidak ada atau ingin memendam kisahnya. Saya sedikit menyenggol kisah Dian bersama perempuan berjilbab, tapi dia langsung mengalihkannya ke cerita saya yang teramat banyak mendekati anak-anak di grup bloger ketika masih sok-sok bajingan empat tahunan silam. Saya juga sempat LDR-an sama seorang bloger. Saya bilang, semenjak itu saya kapok dekat sama bloger lagi. Saya malas kalau kisahnya diketahui oleh khalayak. Apalagi sampai jadi bahan ledekan.

“Sekarang mah udah sama Tania kan, Yog?” tanya Dian. 

“Kenapa kalian mikir gue jadian sama dia, sih?” kata saya. 

“Enggak, aku enggak mikir gitu, Yog. Aku mah taunya kalian cuma lagi deket,” ujar Haw. “Tapi kenapa kalian enggak jadian aja, sih?” 

Saya terkejut ditanya seperti itu. Jika ingatan saya tidak berkhianat, saya belum pernah kepikiran ke arah sana. Saya lantas menceritakan hubungan saya dengan Tania yang sebatas teman dekat. Tidak ada yang spesial. Meskipun saya mesti mengakui bahwa dia memang manis. Di tengah perasaan aneh yang tak terduga lantaran pertanyaan tersebut, Reza bertanya, “Kok gue belum pernah kayak gitu, ya?”

Reza lalu menceritakan dirinya belum pernah sama sekali mendapatkan gebetan dari blog. 

“Belum waktunya kali, Za,” kata saya. “Itu gue juga dulu doang. Zaman umur masih dua puluh.”

“Lah, sekarang gue udah 21.”

“Enggak usah cari anak bloger. Binus banyak yang cantik kok, Za,” ujar saya. 

Mereka tertawa. 

Alur percintaan setiap orang tentu berbeda-beda. Hanya karena kamu seorang bloger, bukan berarti pengin punya pacar yang bloger juga. Saya rasa mencari kekasih yang satu lingkaran itu hanya mempersempit peluang.

“Eh, nanti jam sembilan gue balik, ya,” kata Darma. “Takut enggak kebagian TJ (TransJakarta). 

“Wah, iya. Gue juga harus balik,” kata Dian. 

Saya bertanya kepada Dian apakah dia besok bekerja, dia menjawab iya dengan malu-malu. Sial, saya kira besok Sabtu pada libur. 

Pukul sembilan malam saya pun mengantarkan mereka pulang satu per satu. Saya bonceng tiga bersama Haw dan Reza, sedangkan Dian bersama Darma. Saya menurunkan Reza di dekat indekosnya. Kami berempat kemudian menuju Halte Palmerah untuk mengantar Darma. 

Sesampainya di sana, Darma takut kalau busnya sudah tidak lewat lagi. Saya pun menyarankan Darma naik kereta kalau tujuannya Jurangmangu, sebab komuter masih tersedia sampai pukul 11. Kebetulan juga haltenya sangat berdekatan dengan stasiun. 

Setelah Darma berjalan menuju Stasiun Palmerah, saya bertanya kepada Dian, “Enaknya gimana nih, Yan? Lu mau langsung cabut atau ikut nganterin Haw?” 

Dian memberikan jawaban dengan mengekor motor saya sampai indekos Haw.


Tak tega mengingat semua penderitaan Dian hari ini, saya pun berhenti. Dian menyetop motornya di sebelah saya, lalu berkata, “Udah, Yog, enggak apa-apa. Gue mending lihat maps aja.” 

Mungkin Dian tahu saya terkenal sering nyasar, terus ingin mencari jalan sendiri mengandalkan aplikasi sialan yang terkadang juga bikin tersesat itu. Tapi saya tetap mesti bertanggung jawab akan kesalahan saya.

“Arah lu Pancoran, kan?” ujar saya. “Gue beneran tau. Lu tinggal ikutin gue. Gue juga sekalian balik.”

“Ini di maps malah makin jauh.” 

Saya pun meminta maaf. Saya lalu menjelaskan persoalan jalan pulang ini. Seharusnya tadi sehabis mengantar Darma, Dian langsung saya antarkan ke jalan yang mengarahkan dia pulang. Itu sudah dekat dari Stasiun Palmerah. Tapi akibat keteledoran saya yang tahunya Dian balik ke arah Senen, jadinya malah membuang-buang waktu dan segalanya menjadi fatal. 

“Coba cek di peta, lu pasti nanti ngelewatin Semanggi.” 

Dian memperhatikan ponselnya. 

“O iya, Yog, bener.” 

“Nah, ya udah. Ayo jalan lagi.” 

Tak sampai tujuh menit, saya sudah mengantarkan Dian ke jalan yang saya maksud. Saya menyuruh Dian mendekat dengan gestur tangan. Dian menghampiri motor saya. Tangan saya lalu menunjuk ke sebuah jalan, bermaksud memberitahunya supaya naik ke arah fly over dan bilang setelahnya tinggal lurus terus. Untuk terakhir kalinya, saya meminta maaf lagi.

“Iya, enggak apa-apa. Thank you, Yog.” 

Saya mengucapkan hati-hati, lalu kami berpisah.

Sepuluh menit kemudian saya sudah rebahan di kasur. Saya mengontak Darma dan Haw, mengatakan terima kasih buat hari ini sembari menceritakan problem bersama Dian tadi.

Darma dan Haw membalas, “Semoga selamat tuh anak. Aamiin.” 

Saya mengamininya dalam hati. Saya mulanya berniat ingin langsung tidur karena hari sebelumnya cuma tidur dua jam, tapi entah mengapa muncul rasa bersalah di dalam diri ini. Saya seakan-akan perlu bertanggung jawab akan keselamatan Dian. Saya mau tak mau kudu menunggu satu jam. Estimasi waktu Dian bisa sampai ke indekosnya. Sembari menunggu waktu bergerak, saya terkenang pertanyaan Haw di KFC tadi. 

Kenapa kalian enggak jadian aja, sih? 

Setahu saya, untuk jadian harus sama-sama memiliki rasa, bukan? Saya enggak tahu apakah Tania punya perasaaan terhadap saya. Mengingat kami pernah intens berkomunikasi, kami pernah bertemu beberapa kali, berdiskusi soal film Thailand, saling bertukar kisah, saya pernah memberikannya hadiah remeh beberapa kali, mungkin saja Tania sempat terbawa perasaan. Lantas, bagaimana dengan saya sendiri? Saya jelas tertarik melihat fisiknya. Dia manis seperti yang sudah saya singgung di bagian cerita KFC. Mungkin juga saya sempat naksir kepadanya karena kami cukup nyambung saat mengobrol. Anehnya, saya tak pernah berharap maupun kepikiran untuk pacaran sama dia. Tapi terlepas dari hal itu, apakah perasaan saya pernah lebih jauh dari itu?

Waktu satu jam telah berlalu. Saya mengambil ponsel yang tergeletak di meja laptop, membuka WhatsApp, memilih kontak Dian Hendrianto, dan mengetik, “Udah sampe, Yan?” 

“Udah, Yog. Baru sampe.” 

Baiklah, tugas saya buat memastikan semuanya pulang dengan selamat sudah selesai. Tinggal satu tugas lagi, menjawab pertanyaan Haw. Mau bagaimana lagi, saya sudah kadung memikirkannya sejak tadi. Sebelum memejamkan mata, saya bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya pernah menyayangi Tania?”

Semakin saya memikirkannya, saya justru semakin mengantuk dan jatuh tertidur. Entah itu efek tubuh saya yang memang sudah terlalu letih atau hati saya lagi capek sama urusan cinta-cintaan.
Read More
Saya mendusin karena ingin buang air kecil. Saat menengok ke arah jam dinding, awalnya saya mengira sudah ganti hari, ternyata masih pukul 23.20. Begitu saya keluar dari toilet dan ingin kembali ke kamar, saya mendengar suara berisik dari kamar Dio Kurniawan, anak pertama saya. Saya pun penasaran, lalu mengetuk pintu kamarnya. “Dio belum tidur?” 

“Belum, Yah, kan besok libur.” 

Besok bukannya masih hari Rabu? Ah, saya baru ingat. Siang tadi saya habis menemui Pak Bambang, guru BP (Bimbingan Penyuluhan) di sekolah Dio. Anak itu bikin ulah lagi, sehingga pihak sekolah harus menskorsnya. 


Ini ketiga kalinya saya mendapat panggilan dari guru BP atas kelakukan Dio di sekolah. Pertama, dia belakangan ini sering pergi ke kantin saat jam pelajaran berlangsung; kedua, dia ketahuan merokok di toilet guru; kali ini, dia menulis kalimat “Apa gunanya sekolah jika tidak bisa menjamin masa depanmu?” di papan tulis kelasnya. 

Selama di ruang BP, Dio terlihat risih mendengarkan khotbah Pak Bambang. Saya sebetulnya juga sama malasnya, bahkan saya ingin berkata, “Banyak bacot kau, Anjing!” Namun, kenyataan adalah sesuatu yang mencegah saya melakukan perbuatan itu. Bisa-bisa saya ikut kena damprat, lalu Pak Bambang akan membuat konklusi: Tabiat bapak dan anak sama busuknya.

“Saya tahu Dio sebenarnya anak yang cerdas,” ujar Pak Bambang. 

Saya melirik Dio. Dia tampak biasa saja mendengar pernyataan itu. 

“Saya perhatikan Dio itu dari kelas satu anaknya kalem dan sopan. Tapi kenapa belakangan ini dia mendadak badung, Pak? Saya benar-benar tak menyangka.” 

Belum sempat saya menjawab pertanyaan itu, Dio tiba-tiba bilang, “Saya boleh izin ke toilet, Pak? Kebelet banget.” 

Pak Bambang mempersilakannya. 

Begitu Dio keluar ruangan, saya bercerita soal kematian ibunya Dio alias istri saya sekitar dua bulan lalu. Mungkin Pak Bambang lupa atau tidak mengetahui informasi itu. Saya menjelaskan barangkali itu yang menjadi penyebab, mengapa Dio melakukan hal-hal yang tidak biasanya. Dio nakal karena ingin mencari perhatian orang-orang di sekitarnya. 

Pak Bambang mengucapkan maaf dan belasungkawa kepada saya. 

“Saya berharap Pak Bambang bisa memaklumi kondisi hati Dio yang sedang tidak stabil.” 

Sudah sepuluh menit berselang, Dio tidak kembali lagi ke ruangan. 

Pak Bambang meneruskan khotbahnya. Katanya, meskipun demikian, bukan berarti Dio bebas berbuat seenaknya. Saya harus lebih memperhatikan Dio. Memberikan kasih sayang berlebih untuk menggantikan cinta yang berkurang dari sosok ibunya—yang telah tiada. 

Dibandingkan dengan ceramahnya, sejujurnya saya lebih terganggu dengan penampilan Pak Bambang. Saya selalu berusaha menahan tawa setiap kali melihat model rambutnya yang belah tengah itu. Apalagi mengingat usianya yang kira-kira sepuluh tahun lebih tua daripada saya (usia saya 43), dia jelas tidak cocok tampil tanpa kumis. Saya penasaran, apakah dia berpikir kalau mencukur kumis itu dapat membuat dirinya tampak lebih muda? Tampak tolol sepertinya lebih tepat. 

Pak Bambang akhirnya menutup perbincangan hari itu dengan bilang begini, “Sebentar lagi kan mau UN, Pak. Lulus tinggal hitungan bulan, terus persiapan masuk SMA. Tolong nanti di rumah anaknya benar-benar dikasih tahu dan dinasihati, ya. Kalau Dio terus-terusan seperti itu, kami bisa mengambil tindakan untuk mengeluarkan anak Bapak dari sekolah. Untuk langkah awal dan menegaskan perkataan saya ini tidak main-main, saya akan menskors Dio selama tiga hari. Semoga keputusan itu tepat dan dapat mengubah perilaku Dio.” 

Saya mengiyakan ucapan guru BP itu dan meminta maaf lagi atas perbuatan Dio, lalu pulang. 

sumber: https://pixabay.com/photos/silhouette-father-and-son-sundown-1082129/
Read More
Mencari menu sarapan pada minggu pertama Lebaran sama susahnya seperti menggemukkan badan. Setidaknya, begitulah yang dirasakan oleh Yogi Pratama. Selama dua puluh lima tahun hidup di dunia, tak pernah sekali pun ia masuk ke dalam kategori tubuh ideal. Berat badannya belum pernah menyentuh angka 50 kg. Empat puluh delapan adalah hasil tertinggi yang pernah ia raih. Itu pun Yogi masih kurang 10 kg lagi untuk terlepas dari penilaian kurus—berdasarkan rumus menghitung berat badan ideal yang pernah ia baca di sebuah artikel. 

Membuka kisah dengan membahas berat badan mungkin membuat sebagian orang sensitif. Apalagi kalau bagian itu tidak ada hubungannya dengan alur cerita. Tapi, memang hanya hal itu yang selalu terlintas saat aku memikirkan makanan. Ketika paragraf ini kuketik, barulah aku menemukan perbandingan yang lebih cocok. Seharusnya aku tadi membandingkan kesulitannya itu dengan memilih kalimat pembuka. Pendapatku cukup benar, bukan? Seandainya menuliskan kalimat pembuka yang memikat itu mudah, aku pasti tak perlu bertele-tele begini. 

Untuk mempersingkat waktu, sebaiknya aku sudahi omong kosong barusan dan segera melanjutkan cerpen busuk ini. 



Pada hari ketiga setelah Lebaran, Yogi mulai bosan menyantap ketupat dan opor ayam, rendang, bakso, serta mi instan. Ia ingin menu lainnya. Sialnya, semua penjual makanan di dekat rumahnya masih pada mudik. Kini, ia jadi repot dan kebingungan harus mencari sarapan ke mana. 

Yogi sudah berjalan kaki lima belas menit dari rumahnya ke arah Pasar Palmerah, tapi belum juga menemukan seorang pedagang makanan yang menggugah selera. Ia sebetulnya tadi sempat berpapasan dengan tukang bubur ayam. Sayangnya, ia berpikiran itu makanan buat orang sakit. Lagi pula bubur juga tidak bikin kenyang, pikirnya, nanti dua jam kemudian bakal lapar lagi. Yogi melihat tukang kembang tahu dan soto mi di seberang jalan, tetapi ia tak menyukainya. Ia memang terlalu pemilih dalam urusan makanan. Sambil terus melangkahkan kaki, ia bertanya sekaligus mengeluh, kenapa tak ada satu pun penjual nasi uduk? 
Read More
“Sebelum cahaya berubah bencana, ia hanya api kecil di sudut ruang keluarga.” –Melancholic Bitch, Cahaya, Harga 

--

Puasa tinggal dua hari lagi. Kebanyakan orang sudah malas sahur, termasuk keluarga Pak Agus. Meskipun demikian, bukan berarti mereka tak mau menyantap makanan sama sekali. Mereka tetap ingin mengisi perut sekalipun buat beranjak dari kasur saja ogah-ogahan. Sayangnya, pikiran dan ucapan buruk bisa menjadi doa yang terkabulkan. Seperti yang terjadi hari ini, misalnya. 


Kakak baru benar-benar bangun dari tidur pada pukul empat pagi, padahal sekitar 15 menit sebelumnya Ibu telah meneriaki para anggota keluarga dari dapur. Dengan mata masih sepet, Kakak mengambil piring, membuka pengukus nasi, dan bermaksud menciduk nasi ke piring. Matanya langsung melotot ketika nasi yang dia lihat masih berwujud beras dan air. Kakak menggeser pandangannya ke lampu alat penanak nasi yang tidak menyala. 

“Lah, ini tempat nasi dari tadi enggak dicolok?” kata Kakak setengah berteriak. 

Ibu menyahut dari dapur, “Kok bisa? Tadi yang masak si Adik.” 

Sembari menggoreng tempe, Ibu memarahi Adik habis-habisan. Ibu lalu menjelaskan hal-hal yang telah mereka ketahui tentang menanak nasi: sebelum ditinggal pergi tuh lampunya diperhatikan lagi, sudah menyala atau belum; tombol juga jangan lupa dipencet. 

Adik berteriak dari kamarnya, “Tadi lampunya udah nyala, kok. Sebelumnya emang susah, enggak mau nyala. Aku coba utak-atik, eh bisa. Ya udah, aku tinggal ke kamar.” 

Kakak memperhatikan colokan yang menancap ke stopkontak. Kabelnya menyambung. Dia akhirnya sadar, jika kabel yang berada di pengukus nasilah yang bermasalah. Kabel itu hanya menempel, tapi tidak benar-benar tercolok. 

“Mungkin kabelnya udah kendor, terus ada yang nyenggol kali,” ujar Adik. Dia tak mau disalahkan begitu saja. 

Pertanyaannya, siapa yang menyenggol? 

Bapak masih tidur dan baru terbangun ketika mendengar keributan yang terjadi. Kakak berada di ruang tengah belum lama ini. Lalu, apakah pelakunya Ibu? Mengingat Ibu yang dari tadi sibuk di dapur, kayaknya bukan juga. 

sumber gambar: https://pixabay.com/photos/korean-cuisine-food-shrimp-1991580/

Ibu membawa masakan yang sudah matang ke meja makan di ruang tengah satu per satu. Terong balado, tempe goreng, dan udang goreng tepung. Aromanya sangat mengusik hidung Kakak dan Bapak.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home