Setiap kali menulis, membaca, dan mendengar kata “musik”, pikiran Hendri tidak pernah sama lagi. Ia kini selalu teringat akan sosok perempuan berambut poni kucir kuda plus berkacamata dengan pakaian khas wanita karier yang berjoget diiringi lagu latar “jadi pengin-jadi pengin” dalam sebuah video iklan rokok versi gagal tayang.



Hendri mendapatkan informasi tentang video itu dari Agus—kawan dekat di kantornya—empat hari yang lalu. Semua bermula ketika Hendri tampak cemberut dan tidak beranjak dari kubikel, padahal sudah jam istirahat. Melihat ada yang tidak beres di raut muka temannya itu, Agus pun berinisiatif untuk menghampiri sekaligus menghiburnya. Cara pertama: menawarkan diri buat mentraktir makan siang. Cara kedua: siap mendengarkan permasalahan Hendri.

Seusai menyantap ayam geprek, Hendri bercerita selama 15 menit, diselingi beberapa pertanyaan oleh Agus, dan akhirnya obrolan itu melahirkan kesimpulan bahwa Hendri sedang bernasib sangat sial dan membutuhkan uang buat akhir bulan nanti. 

Read More
Surat elektronik berikut ini adalah kiriman dari Budi Setyadi, sebuah pesan tembusan dari Dimas Junaidi. Meskipun mereka berdua teman saya, tapi saya betul-betul heran akan kelakuannya, sebab baru kali ini kami berkomunikasi via surel. Gila, habis kesambet apa mereka jadi mendadak formal begitu? Biasanya mah kalau ada apa-apa langsung WhatsApp. Yang bikin saya tambah bingung, kenapa Dimas enggak langsung mengirimkannya kepada kami berdua? Sampai-sampai Budi harus meneruskannya ke saya? 

Sehabis saya buka surat itu, barulah saya mengerti apa alasan Budi mengirimkannya. Di kalimat pembuka nama saya langsung disebut oleh Dimas, sehingga saya memutuskan untuk membacanya sampai tuntas. Kampret, ternyata si Dimas sempat-sempatnya mengejek kami, saya dan Budi, lewat tutorial sialan semacam itu. 


-- 

Halo, Budi. 

Kemarin aku habis ketemu dan ngobrol bareng Yoga Akbar sepulang salat Tarawih. Di sela-sela perbincangan kami soal puasa, pekerjaan, buku, musik, film, dan lain-lain, dia sempat menyenggol permasalahanmu. Kata Yoga, kau sedang mengalami insomnia dalam dua bulan terakhir. Benarkah itu, Bud? 

Seandainya betul, aku tak habis pikir denganmu. Kenapa kau repot-repot cerita persoalanmu ke makhluk nokturnal sepertinya, padahal kita sama-sama tahu bahwa pola tidur dia selalu kacau. Sekalipun Yoga bisa menjadi pendengar yang baik, dia tak akan bisa memberikanmu solusi. Aku yakin kau bercerita tentang itu karena butuh pertolongan. Kau ingin memperbaiki hidupmu yang bagai kalong itu, kan? Kau seharusnya bertanya kepadaku. Apa kau tidak yakin dengan kemampuanku mengatasi masalah? Jangankan cuma memberikanmu kiat-kiat supaya cepat tidur pulas, Bud, kubikin kau tak bangun-bangun lagi pun aku sanggup. 

Daripada terlalu lama basa-basi dan ucapanku semakin menyimpang, mending aku langsung menyodorkanmu taktik keren versiku biar kau cepat tidur nyenyak. 

sumber: https://unsplash.com/photos/uy5t-CJuIK4

Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home