Saya menyebutkan film garapan David Fincher: Se7en (1995), The Game (1997), Fight Club (1999); film adaptasi novel Stephen King: Carrie (1976), Misery (1991), The Shawshank Redemption (1994); film animasi: The Land Before Time (1988), Toy Story 1 & 2 (1995 & 1999); dan serial God of Gamblers alias dewa judi. 

“Apa lagi? Masa itu doang, Yog?” ujar Dimas. 



Seandainya permintaan kawan saya buat memberikan daftar tontonan ini tidak tergantung tahun rilisnya—yang sebelum tahun 2000, mungkin saya bisa lebih lancar dan tak perlu berpikir keras begini. Pertama, entah kenapa saya rada sulit menghafal nama, kecuali sesuatu itu emang berkesan sekali bagi saya; kedua, saya juga sering masa bodoh sama tahun rilisnya suatu film. 

Untuk melontarkan judul The Silence of the Lambs (1991), misalnya, saya perlu bertanya terlebih dahulu kepada Dimas, “Yang Hannibal Lecter itu judulnya apaan dah?” Sekalipun film yang saya tonton saat SD ini alur ceritanya masih cukup menempel sampai sekarang, tapi saya jelas lebih mengingat nama tokohnya daripada judul film tersebut.

Lantaran nama tokoh itu, barulah muncul ingatan tentang Rocky (1976), satu-satunya film tentang tinju yang saya tonton, dan Annie Hall (1977), satu-satunya film Woody Allen yang sanggup saya habiskan karena gagal menyelesaikan Manhattan maupun Love and Death dan belum tertarik meneruskannya. 

“Udah?” tanya Dimas. 

Man on the Moon (1999), film komedi yang justru bikin saya sedih, ialah judul terakhir yang bisa saya coba ingat. 

Dimas lantas mempertanyakan, kenapa dari semua itu enggak ada satu pun film Quentin Tarantino. Katanya, sebagai orang yang suka menulis, saya semestinya mencicipi teknik bercerita Tarantino. 

“Emang filmnya kenapa, sih?” tanya saya. 

“Dia tuh jago ngacak-ngacak alur cerita. Coba aja tonton Pulp Fiction.” 

Selain merekomendasikan film Tarantino itu, Dimas sempat salut saat mengomentari saya yang ternyata menonton film adaptasi karya Stephen King. Sayangnya, dia bingung kenapa saya malah belum menonton The Green Mile, padahal menurutnya itu bagus banget. Sayang buat dilewatkan. Saya waktu itu cuma iya-iya aja dan berjanji akan menonton. 

Kini sudah enam bulan berlalu sejak obrolan bersama Dimas. Saya telah berusaha menepati janji, walaupun baru mengikuti sarannya untuk menonton Pulp Fiction menjelang tahun baru 2019. Demi menebus perasaan bersalah yang sebetulnya tidak perlu ini, saya malah berniat bikin daftar tontonan ciamik sebelum tahun 2000 yang saya saksikan enam bulan terakhir ini. 


Pulp Fiction (1994) 

Tiga puluh menit pertama saya menonton film ini, rasanya pengin mengumpat dan berpendapat bahwa filmnya enggak jelas. Menjelang akhir film, tepatnya ketika semua alur cerita bertemu pada satu titik, saya langsung menarik semua kalimat sebelumnya. Anjing (oh, saya tetap mengumpat), ternyata filmnya lucu dan keren banget.

Karakter-karakter di film ini dibuat keluar dari pakem. Bagaimana mungkin seorang penjahat selalu membacakan salah satu potongan ayat Injil sebelum membunuh korbannya. Bos mafia yang seharusnya disegani oleh anak buah dan musuhnya, justru diperlakukan konyol dalam suatu adegan. Gambaran-gambaran tentang mafia yang selama ini kejam seakan-akan langsung runtuh di benak saya. Mengingat bagian yang satu itu pun selalu berhasil bikin saya ngakak. 

Terus, ada adegan yang saya duga akan berakhir di ranjang, tapi nyatanya malah disajikan dengan lebih kacau. Perkiraan-perkiraan saya mengenai adegan selanjutnya kayaknya selalu dipatahkan oleh Tarantino. Mau tak mau, saya pun sepakat sama Dimas soal alur acak yang bisa dipelajari ini. Boleh-boleh aja kok mengerjai penonton selama penggarapannya oke. Membuat cerita juga tidak melulu harus lempeng. Jadi, cobalah bermain-main sama plot.

Saya mau melantur sedikit. Sejujurnya, Pulp Fiction bukanlah film Tarantino yang pertama saya nikmati. Saya mencoba bersikap nakal dengan melanggar aturan Dimas, yakni memilih Kill Bill Vol. 1 & 2 terlebih dahulu—yang rilisnya setelah tahun 2000. Ingatan saya ketika menonton volume pertama mendadak tergali kembali sebab cerita ini terasa tidak asing. Jauh sebelum saya mengerti film, konsep penceritaan, sutradara, dan tetek bengek lainnya; saat SD saya telah berkenalan dengan film Tarantino. Ini berarti film Kill Bill jalan ceritanya lumayan membekas di kepala seorang bocah polos, atau dengan kata lain: kebagusan karyanya tidak luntur. Begitu pula Pulp Fiction yang sudah berusia dua puluhan ini. Keasyikannya tetap tidak termakan usia.


The Green Mile (1999) 

Ada beberapa film dengan latar penjara yang pernah saya tonton, tapi baru Miracle in Cell No. 7 (2013) saja yang berhasil membuat air mata saya menetes. Setelah menyaksikan The Green Mile, rupanya gerimis itu turun juga. Sialan. Mereka sama-sama menyuguhkan keajaiban. Kalau tahu filmnya akan semenakjubkan ini, semestinya saya tidak usah menunda-nunda sejak membaca tulisan Rido Arbain, rekomendasi film dengan latar penjara, pada dua tahun silam. 

Namun sebagaimana perkataan orang-orang: “Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali”, saya sangat bersyukur memiliki kesempatan menonton filmnya. Seandainya saya adalah seorang terpidana mati seperti di The Green Mile, permintaan terakhir saya pastilah menonton ulang film ini. Durasinya yang tiga jam ini pun sama sekali tidak membosankan. Adegan demi adegan tersusun dengan amat ciamik.

Mengingat ini hasil adaptasi karya Stephen King, rasanya saya langsung minder buat baca novel-novelnya. Bukan apa-apa, takutnya saya bakal frustrasi karena kemampuan menulis selama ini tak ada apa-apanya dibandingkan Sang Raja. 


SLC Punk (1998) 

Agia Aprilian—ce’es asal Rancaekek, Bandung—secara enggak langsung pernah merekomendasikan saya film ini. Kala itu, dia ngetwit soal film SLC Punk yang selalu dijagokannya setiap kali ada yang minta referensi, tapi kebanyakan orang pada enggak mau nonton karena keterbatasan subtitle bahasa Indonesia. 

Berhubung sedang luang, saya penasaran (sebagus apa, sih?) dan pengin menjajalnya—sekaligus mengukur kemampuan bahasa Inggris saya. Rupanya saya sanggup mengikuti jalan ceritanya. Ini berarti bahasa Inggris saya enggak buruk-buruk amat. 

Sejauh ini film-film yang mendobrak dinding keempat selalu membuahkan kesan keren buat saya. Contohnya: Annie Hall, High Fidelity, Wolf of Wall Street, dan Deadpool. Nah, SLC Punk ini pun saya akui harus masuk ke dalam daftar itu.

Walaupun rada susah dan kesal mengikuti kecerewetan Stevo—sang protagonis, toh saya tetap terpukau dengan pemikiran-pemikirannya yang cukup relevan. Mungkin karena saya seakan-akan melihat diri saya dulu yang sok memberontak. Syukurnya, saya yang sekarang sudah mengalami perubahan dalam memandang segala sesuatu. Sampai-sampai saya sempat menyimpulkan filmnya begini:

Dia membenci sistem, lalu menjadi punk supaya hidupnya bebas. Selama menjalani kehidupan anarki itu, dia jadi melihat dan mengalami beberapa kejadian kacau sekaligus konyol yang akhirnya bikin dirinya berpikir, bahwa hidup seperti itu juga enggak bebas-bebas banget. Hingga lama-lama membawa dia pada kekosongan. Ujung-ujungnya dia pun mengikuti sistem. 

Bicara soal sistem, ini mengingatkan saya saat Brandy—pasangan kencan buta Stevo—mengkritik dirinya, “Kau berpenampilan seperti itu, rambut mohawk, dicat biru, pakai kaos hitam atau band, bukankah itu terlihat kayak seragam? Itu bukan pemberontakan, itu fesyen. Pemberontakan terjadi di dalam pikiran.” 

Aduh, saya jadi ingin menyapa para kawan yang gemar memakai sweter Anti Social-Social Club. Apa kabar, ya, teman-teman saya dulu yang juga memakai jaket Straight Edge, padahal diam-diam masih merokok dan mabuk-mabukan?
Read More
Brian Hugh Warner alias Marilyn Manson—seorang vokalis grup musik asal Amerika Serikat—memiliki ritual khas sebelum manggung. Salah satunya: memakan permen karet rasa pop corn. Phil Jones, pemain belakang Manchester United, juga punya kebiasaan khusus sebelum bertanding. Jika bermain di kandang, dia akan memakai kaos kaki sebelah kanan terlebih dulu; sedangkan di tandang, dia mengenakan yang sebelah kiri terlebih dulu. 

Ritual semacam itu mungkin hanya sebuah sugesti agar mereka dapat memberikan performa terbaiknya. Saya pun segera menengok diri sendiri. Apakah saya memiliki ritual terkait dengan kegiatan menulis demi terciptanya karya yang bagus? Kayaknya saya setiap pengin nulis mah langsung tulis aja. Hm, atau saya belum engah sama ritual saya sendiri? Baiklah, saya akan coba mengingat-ingatnya.

Sembari memikirkan hal itu, saya lantas teringat akan suatu artikel tentang Asma Nadia, penulis kondang novel religi, yang konon terbiasa berwudu sebelum menulis supaya prosesnya lebih lancar. Lalu ada pula ritual penyair sebelum menciptakan sajak-sajaknya. Agar tidak buntu dalam menyusun diksi, sebagian dari mereka membutuhkan kopi dan rokok sebelum menulis. Salah seorang kawan saya, Diana, juga memiliki kebiasaan serupa. Dia gemar menghirup aroma kertas dari buku-bukunya yang ada di rak. “Buat penyemangat gitu, biar tulisanku bisa sebagus buku yang lagi kucium,” katanya. 


Read More
Ada semacam ketakutan saat ingin mengeklik tautan cerpen saya yang dimuat di Loop. Doni Jaelani alias Dijeh mengirimkan pesan mengenai hal itu kepada saya. Selagi rasa ragu bercampur ngeri menyelimuti saya, mendadak muncul pikiran begini: dari sepuluh teks yang saya kirimkan untuk mereka seleksi, kenapa malah itu yang pertama kali terbit?


sumber:https://pixabay.com/photos/ice-cream-dessert-cold-sweet-50402/

Jauh sebelum saya mendapatkan cap mesum, lebih-lebih lantaran membuat cerpen Es Krim Spesial (yang kini sudah dihapus), saya mengawali tulisan bertema es krim itu dengan kisah renungan sekaligus motivasi yang bertajuk Es Krim Rasa Cinta. Niatnya, sih, cuma untuk menegur atau mengingatkan diri sendiri.

Saya menceritakan pengalaman itu sebelum era twit berutas dan please do your magic yang sering saya jumpai belakangan ini. Bedanya, saya melakukannya tanpa ada tujuan mendapatkan engagement yang berujung mengajak mutualan. Saya juga tidak terang-terangan menyuruh siapa pun untuk membeli dagangan nenek penjual es krim itu. Twitter cuma semacam tempat alternatif untuk menumpahkan ide cerita, sebagai pengganti catatan di ponsel maupun bloknot, sebelum nanti dikembangkan menjadi artikel di blog.

Namun, kisah es krim itu langsung saya salin dari Twitter tanpa perbaikan lagi di blog. Oh, betapa malasnya diri saya dulu. Sebagian yang pernah membacanya, mungkin sudah lupa bahwa cerita itu pernah ada. Hal negatif memang lebih mudah melekat di ingatan, sehingga kisah itu tersingkir dengan sendirinya oleh cerpen vulgar yang konon merusak generasi muda. Cerita tentang nenek penjual es krim itu sekarang hadir kembali dalam bentuk yang lain, dan termuat di media lain selain blog ini.


Pada November 2012, selepas lulus SMK dan baru bekerja sekitar tiga bulanan, saya sedang membaca salah satu buku RD. Efek dari membaca buku yang judulnya bertemakan binatang itu, entah bagaimana memunculkan sebuah keinginan atau boleh juga disebut impian: menjadi seorang penulis—yang suatu hari tulisannya bisa terbit menjadi buku. 

Sebagai seorang penggemar yang ingin mengikuti jejak idolanya, saya memulai langkah awal dengan bikin blog ini. Kala itu sebetulnya saya enggak tahu apa-apa tentang menulis (di pikiran saya dulu, menulis itu cukup dengan mencurahkan isi hati lewat teks), tapi diam-diam berharap bisa menempuh kesuksesan yang sama. Seenggaknya, saya ada kehendak buat belajar menulis.

Sibuk akan pekerjaan bikin saya tidak sempat mengisi blog. Keinginan belajar menulis itu pun menguap terpanggang realita. Hingga suatu sore sepulang ngantor, saya bertemu Julia—seorang kakak kelas di SMK yang pernah saya taksir dan kemudian malah menjadi teman dekat dan ujung-ujungnya menjauh juga—di pusat jajanan dekat rumah. Mulanya kami hanya bertukar kabar, sampai tiba-tiba dia menanyakan kenapa saya enggak pernah ngeblog lagi. Saya memberikan alasan yang sangat klise: pulang kerja capek, bawaannya pengin langsung rebahan, dan enggak sempat buka laptop lagi.

“Kan bisa nulis pas libur, Yog,” katanya. 

Saya meresponsnya dengan tawa. Tidak bermaksud menyetujui maupun membantah. Bakso bakar dan jus alpukat yang dia pesan sudah jadi. Dia pamit duluan, lalu kami berpisah. Saya memikirkan kembali perkataannya. Mengetahui blog saya ternyata memiliki pembaca, hasrat menulis itu pun muncul. Malam itu juga saya akhirnya memutuskan untuk bercerita lagi di blog. 

Jika seseorang malas atau bahkan enggak pernah membaca, ketika menggarap tulisan pasti hasilnya akan jelek dan mentok begitu melulu. Saya tidak tahu apakah pada 2012-2014 sudah punya pemikiran seperti itu. Yang jelas, saya ingin sekali belajar menulis secara sungguh-sungguh pada tahun berikutnya.

Husein, salah seorang kawan kuliah, menyarankan saya untuk ikut komunitas bloger. Saya pun bergabung dengan komunitas KK dan JB. Dari sanalah saya mengenal istilah blogwalking. Berkat jalan-jalan ke beberapa blog anggota komunitas, saya lalu mengenal tata bahasa. Saya juga mendapatkan referensi bacaan dari mereka. Saya lantas membeli buku panduan menulis dan, tentu saja, mencoba menerapkan kiat-kiatnya.


Tahun 2015 adalah pertama kalinya saya memberanikan diri bikin cerpen. Tahun itu pula terlahir Memfiksikan—sebuah lingkaran kecil untuk belajar menulis fiksi; cerpen, fiksi kilat, dan puisi. Animo bloger bikin buku masih lumayan tinggi pada saat itu. Saya termasuk salah satu yang berusaha mengumpulkan cerita-cerita itu.

Menyunting naskah ialah pekerjaan paling susah buat penulis. Banyak waktu yang terbuang untuk mengedit tulisan itu dibandingkan dengan proses menulisnya sendiri. Mengingat sifat manusia yang tidak ada puasnya, sekalipun sudah sepuluh kali revisi, boleh jadi mereka juga belum sreg untuk menganggapnya selesai dan layak terbit. Biarpun merasa telah memolesnya berulang kali, saya pikir penulis akan menilainya dengan sangat subjektif. Makanya penulis tetap membutuhkan orang lain sebagai editor.

Sementara itu, yang paling gampang tentu menelantarkan naskah. Tak perlu jauh-jauh mengambil contoh. Saya adalah orang yang paling tepat untuk menggambarkan sosok itu. Saya telah mengumpulkan cerita sejak akhir 2015, tapi sampai hari ini tidak ada satu pun yang terhimpun menjadi buku.

Setelah menceburkan diri ke kolam tulis-menulis selama dua tahunan (2015-2017), saya pernah memikirkan ulang: apakah jalan yang saya lalui ini benar? Semakin membaca buku-buku bagus, alih-alih memantik semangat, keberanian untuk bikin buku kumpulan cerita itu justru rontok. Akhirnya, saya hanya memendamnya di diska laptop. Saya pun ingin berhenti menulis. Lebih baik jadi seorang pembaca saja.

Namun, bagaimana kalau menulis itu buat saya bagaikan bernapas? Jika tidak melakukannya, berarti saya akan mati? Baiklah, saya tetap menulis di blog, tapi enggak perlu bikin buku. Konyolnya, suatu hari impian itu datang kembali sehabis membaca kumcer seseorang, lalu tak lama kikis lagi dengan sendirinya. Proses ini terus berulang entah sampai kapan. Hingga lama-lama saya mempersempit keinginan itu. Tulisan saya, apa pun jenisnya, kelak dapat terpampang di media lain—selain blog ini ataupun platform sejenis.

Saya telah mengirimkan tulisan ke beberapa media. Hasilnya nihil. Pada akhirnya, sebagian teks yang ditolak itu saya taruh lagi ke blog ini. Mungkin belum waktunya. Mending belajar lagi. Saya pun memendam keinginan itu.


Pak Agus—salah seorang perwakilan dari Loop—bertanya kepada saya, apakah ada pertanyaan atau hal-hal yang masih kurang jelas saat kami sedang membicarakan perihal kerja sama proyek cerpen. 

“Habis ini berarti saya tinggal bikin cerpen setiap seminggu sekali, ya?” tanya saya. 

“Mas Yoga enggak perlu bikin cerita baru. Cukup setor cerpen yang pernah Mas Yoga buat aja. Pihak kami nanti yang menerbitkannya seminggu sekali.” 

Rupanya terdapat kesalahpahaman di sini. Mengingat pembicaraan sebelumnya hanya via WhatsApp, saya memaklumi ketololan diri sendiri.

Sekitar sebulan silam, tatkala saya sedang menyibukkan diri dengan bacaan gratis di iPusnas, datang sebuah penawaran untuk mewujudkan keinginan yang sempat saya coba kubur itu. Loop membutuhkan penulis cerpen untuk proyek terbaru mereka.

Saya mengirimkan dua tautan cerpen di blog sebagai contoh. Tidak ada komplain. Saya kemudian menyetorkan enam cerpen yang siap tayang sesuai yang mereka minta. Obrolan pun berlanjut hingga membawa saya ke pertemuan ini. 

“Intinya, kami mencari orang yang sudah menulis. Bukan baru mau menulis karena kami ajak,” ujar Pak Agus. 

“Jadi cukup cerpen yang kemarin?” 

“Iya. Memangnya Mas Yoga punya cerpen lain?”


Kesimpulan dari rapat itu, Loop mencari penulis cerpen yang usianya kisaran remaja sampai dewasa muda. Begitu pun dengan target pembacanya. Entah ini keberuntungan atau bukan, umur saya pas banget di batas maksimal persyaratannya. Apalagi domisili saya juga di Jakarta, yang mana satu wilayah dengan kantornya.

Loop berniat agar proyek ini bisa membuat para pembacanya terinspirasi dan ikutan menulis. Singkatnya, dapat melahirkan penulis-penulis baru. Jujur aja, saya sangat minder ketika terpilih dalam proyek ini. Selama ini cerpen-cerpen bikinan saya lebih ke bermain-main dan tidak mengikuti tradisi sebagaimana cerpen yang termuat di koran. Tapi, bukankah ini yang tadinya saya mau? Bisa terbit di media lain? Saya pun mengambil kesempatan itu, apa pun risikonya. Saya bahkan menyanggupi menambah empat cerpen lagi supaya Loop memiliki pilihan dan bisa menyaring mana yang layak.

Sesampainya di rumah, saya baru sadar kalau cerpen di blog itu banyak yang menabrak batas wajar. Kayaknya enggak cocok buat target pembaca. Syukurlah saya masih punya cadangan di laptop. Saya membuka folder Cerpen yang berisi belasan naskah. Saya girang seakan-akan menemukan harta karun. Gila, apa aja yang pernah saya tulis di situ, ya? Saya mengeceknya satu per satu. Saat dibuka, hasilnya malah lebih kacau dari yang ada di blog. Mampuslah.

Mengubek-ubek arsip untuk mencari cerita yang mendingan dan berusaha memolesnya, terkadang lebih melelahkan daripada bikin cerpen baru. Saya menengok lagi setiap fail yang ada di folder lain. Banyak yang belum selesai. Dengan pelbagai pertimbangan, akhirnya saya memilih sepuluh cerpen dalam rentang 2015-2017.

Saya membayangkan cerpen-cerpen itu dibaca oleh para remaja sampai dewasa muda yang mungkin masih ragu-ragu memamerkan karyanya. Percis kala saya menggarap cerpen-cerpen tersebut. Kira-kira ketika mereka membaca tulisan itu, terbit pemikiran begini: “Oh, kayak gitu termasuk cerpen, ya? Ah, gue mah juga bisa bikin. Malah lebih bagus.”


Saya kerap membaca banyak cerpen yang rilisnya belasan hingga puluhan tahun lalu, tapi anehnya kekerenannya tidak luntur. Saat saya membaca ulang cerpen sendiri, mata langsung mendadak gatal. Seandainya tulisan itu bisa ngomong, ia pasti bakalan menjerit-jerit, “Tolong revisi aku dong, Sayang! Tolong!” Meskipun itu menandakan ada progres dalam perjalanan saya, kecemasan akan kisahnya yang barangkali cuma terasa bagus pada zaman saya menuliskannya, sangatlah mengganggu. 

Itulah alasan saya takut buat membaca ulang cerpen dalam proyek ini, khususnya cerpen es krim yang tertulis pada Juni 2015. Hampir empat tahun telah berlalu. Jelas banyak yang berubah dalam cara pandang saya menilai suatu tulisan. Saya deg-degan bukan main.

Mau tak mau, saya pun memberanikan diri melihat cerpen itu lagi. Opini saya ketika membaca ulang: Awalnya berbentuk autobiografi atau jurnal atau memoar, atau apa pun itu sebutannya, lalu berubah menjadi versi cerpen dengan sudut pandang orang ketiga. Saya bingung kenapa nekat membuat keputusan seperti itu, padahal jalan ceritanya sangat singkat. Walaupun mau tetap memakai gagasannya, kayaknya lebih cocok orang pertama yang bertutur. Aduh, mana kritiknya kasar amat. Deskripsinya juga masih kurang. Penilaian ini akan terus berlanjut dan tidak akan ada habisnya. 

Meminjam kalimat Stephen King, “Penulis biasanya menjadi juri terburuk untuk menilai hasil tulisan mereka.” Jadi, seharusnya saya cukup menyerahkan penilaian itu kepada pembaca. Membiarkan diri saya babak belur dihantam berbagai komentar dan kritik. Yang penting sesudahnya luka saya sembuh, mampu memperbaiki diri, dan giat berlatih agar cerpen-cerpen saya berikutnya bisa gantian menjotos hati mereka.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home