Kumpulan Cerpen, Kenyataan, dan Jeda

8 comments
Semestinya saya sadar, bahwa menulis secara spontan dapat membuat saya bercerita banyak hal. Suara-suara di kepala saya itu seolah-olah bisa langsung tertulis begitu saja, bahkan kesedihan yang selama ini terpendam juga ikut keluar tanpa perlu menggalinya lebih jauh. Namun, pada akhirnya saya harus menghapus hal-hal lain yang suka keluar seenaknya itu, atau memindahkannya ke dokumen baru—yang kelak saya kumpulkan dalam satu folder bernama: Belum Selesai

Saya memilih fokus untuk mengerjakan tulisan yang sejak awal saya niatkan akan selesai. Biasanya, jenis tulisan ini merupakan keresahan yang mengganggu kepala saya selama berhari-hari atau lebih. Saya tidak bisa menunda-nunda lagi dan harus menggarapnya terlebih dahulu, sebab jika dibiarkan terlalu lama pasti semakin membusuk. Sebisa mungkin saya berusaha menghindari, jangan sampai bagian penting dan rasa dalam tulisan itu lenyap.



Begitu tulisan itu telah selesai, barulah saya bebas melanjutkan ide-ide yang kerap muncul secara tiba-tiba itu. Mau leyeh-leyeh lagi juga terserah, sih. Sialnya, saat saya sedang luang dan kebetulan tidak malas, saya tentu lebih senang membuka folder itu. Lalu, saya membaca satu per satu failnya, sampai saya menemukan tulisan yang mungkin bisa dikembangkan. 

Kebanyakan berkas itu berbentuk ide mentah cerpen yang baru ditulis poin-poinnya. Dari sekian banyak ide itu, akhirnya ada yang berhasil saya selesaikan, lalu saya unggah ke blog ini. Dua tahun belakangan ini, buku-buku yang saya baca memanglah berupa fiksi. Konon, apa yang kita produksi ialah cerminan dari apa yang kita konsumsi. Barangkali itulah yang menyebabkan blog ini berganti atau bertambah fungsinya; dari yang sekadar untuk jurnal alias curhat, lalu jadi tempat latihan membuat cerpen. 

Ketika pertama kali bikin cerpen-cerpen itu, saya sesungguhnya tidak pernah berharap banyak agar pembaca blog ini menyukainya. Saat proses menuliskannya pun, saya hanya berpikir kalau perlu menuangkannya ke sebuah wadah. Saya enggak mau susah tidur karena kisah-kisah itu selalu hadir di kepala, lebih-lebih sampai datang ke alam mimpi dan menghantui saya. Ujung-ujungnya, tidur saya jadi tidak nyenyak atau sedikit-sedikit terbangun. 

Di balik kekesalan saya akan pola tidur yang kacau itu, saya tentu senang mengetahui sebagian pembaca blog ini menyukai ceritanya dan memberikan respons baik di kolom komentar. Apalagi yang repot-repot mengirim surel, DM di Twitter, dan mengontak saya di Line atau WhatsApp. Baik yang sekadar untuk mengapresiasi secara lebih intim, maupun yang memberi masukan dan kritik. 

Omong-omong soal cerpen, saya jadi ingat pernah punya niat untuk bikin buku kumpulan cerita. Sekitar tahun 2013-2015, di mana buku-buku nonfiksi komedi (lebih dikenal dengan nama personal literature) masih banyak animonya. Saya waktu itu pernah membuatnya. Kalau tidak salah juga sempat mengirimkannya ke satu penerbit, tapi tidak ada jawaban.

Setahun setelah itu, saya membaca cerita seorang kawan mengenai kerasnya dunia penerbitan di sebuah grup. Nama dan judul buku dia tertera dalam daftar finalis suatu perlombaan, tetapi kemudian bukunya gagal terbit karena beberapa alasan. Saya lalu berusaha memosisikan diri seandainya hal itu terjadi kepada saya. Kesedihan pun mendadak datang, hingga dada saya mulai terasa sesak. 

Kemudian, entah karena topiknya menarik atau yang membaca cerita itu pada jengkel, beberapa anggota grup pun ikut membahas topik itu. Salah satu dari mereka lalu mengirimkan sebuah SS twit seseorang mengenai keresahan menerbitkan buku: kenapa ada penerbit yang mensyaratkan seorang penulis harus punya pengikut sekian ribu di media sosial, agar proses menerbitkan bukunya lebih gampang? 

Saya pun mendadak marah dan melampiaskannya di Twitter. Lalu, dari beberapa twit kekesalan saya—yang pada kemudian hari saya sesali—itu, ternyata ada seorang teman yang malah me-retweet-nya, sehingga terbaca oleh seorang penulis yang juga menjadi bagian dari sebuah penerbitan. Penulis itu pun menanggapinya dan bertanya beberapa hal; tolong sebut nama penerbitnya, memang apa yang sedang saya tulis, sudah coba kirim ke penerbit berapa kali.

Saya sebetulnya bisa saja cuek dengan respons penulis itu. Namun, saya harus bisa bertanggung jawab dengan apa yang telah saya lontarkan itu. Tapi begitu diladeni, persoalan justru semakin panjang dan merembet. Menurut saya, semestinya urusan itu tidak perlu melebar jauh. Toh, twit-twit itu keluar dari jari-jari saya yang khilaf karena sok tahu, pengalaman pribadi soal penerbitan cuma sedikit, dan hanya mendengar kisah-kisah orang lain. Penulis itu pun bisa saja cuek karena menganggap saya orang yang cuma cari perhatian.

Fokus saya waktu itu sebenarnya tulisan personal literature, tapi entah mengapa dia mungkin salah baca atau menganggapnya tulisan secara universal. Syukurnya, selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Berkat masalah itu, saya jadi becermin dan mengevaluasi tulisan-tulisan saya. Apa cerita-cerita saya sudah cukup bagus untuk dibaca orang lain? Kenapa saya terlalu cepat mengeluh, padahal baru sedikit mencoba? Semoga ke depannya saya bisa mengurangi protes, lebih banyak membaca buku, dan menulis.

Sayangnya, kemarahan itu masih tersisa. Berhubung waktu itu saya belajar dari kesalahan, maka saya pun mencoba menyalurkannya ke hal positif, yaitu lahirnya sebuah ide untuk membuat buku-el bersama WIRDY. Keinginan bikin buku, walaupun formatnya digital, akhirnya bisa terwujud. Namun, 2-3 bulan sesudah itu, saya merasa malu sama hasilnya ketika membaca ulang. Proses menciptakannya bisa dibilang termasuk buru-buru. 

Mengingat karya pertama itu biasanya jelek, saya pun perlahan-lahan memakluminya. Setelahnya kan saya bisa belajar dari situ. Tapi, apakah karya keroyokan itu pantas disebut buku debut saya? Rasanya masih belum dan saya harus bikin buku sendiri. Anehnya, saya malah kembali mengubur impian untuk menerbitkan buku—baik berupa fisik maupun digital. Saya butuh jeda atau memberikan jarak kalau ingin menggarap proyek baru. Saya pun perlu lebih banyak referensi demi memperbaiki kualitas tulisan saya itu. 

Tololnya, gagasan menulis buku ini mendadak muncul lagi pada Oktober 2017, padahal sebulan sebelumnya saya pernah ingin sekali berhenti menulis. Mungkin waktu sekitar enam bulan sudah cukup meningkatkan kualitas tulisan saya. Lalu, saya mencoba memberikan tenggat dua bulan agar naskah itu dapat kelar dengan hasil yang mantap. Setelat-telatnya, Januari 2018 proyek itu sudah rampung. Sehabis itu, saya tinggal mencari penerbit, atau mengumpulkan modal untuk menerbitkannya secara independen, atau semurah-murahnya dijadikan buku-el—nanti saya sediakan versi gratis dan berbayarnya. Namun, menjelang akhir tahun laptop saya bermasalah. Kenyataan justru menghantam niat baik saya.

Bodohnya, begitu sudah saya belikan charger, minat untuk menyelesaikan kumpulan cerita itu sudah lenyap. Barulah setelah berulang tahun yang kedua-puluh-tiga pada Mei 2018, saya kembali bertanya kepada diri sendiri: kamu sudah semakin tua, tapi masih gini-gini aja? Enggak pengin meneruskan niat waktu itu? Masa kalah terus sama rasa malas? Dan seterusnya, dan sebagainya. 

Mulailah saya membaca beberapa kumpulan cerpen dan bereksperimen bikin cerpen lagi. Konyolnya, ketika baru terkumpul lima cerita, entah mengapa salah satu tokohnya itu seakan-akan minta hadir atau pengin segera muncul di hadapan pembaca. Oleh sebab itu, saya memutuskan untuk menerbitkannya satu per satu di blog. 

Saya sebetulnya masih bingung, sih, cerita-cerita semacam itu layak untuk dikumpulkan dalam satu buku atau enggak, lebih-lebih dijual. Namun, saya sudah telanjur ingin membuatnya di media yang lebih besar. Beberapa cerpen di blog ini pun telah saya hapus untuk direvisi atau ditulis ulang. 

Lalu, cerpen yang telah terkumpul dalam satu folder itu justru bikin saya bertambah gelisah. Seandainya nanti selesai, mau saya bagaimanakan lagi? Saya belum percaya diri untuk mengirimkan naskah ke penerbit, sebab saat mengirimkan cerpen ke media daring pun masih ditolak. Tanda bahwa saya mesti belajar lagi. Saya pada tahun 2017 sempat kepikiran untuk bikin buku-el atau menerbitkannya secara indie, tapi kini kedua hal itu jelas menguras pikiran, waktu, dan biaya. Aduh, belum dikerjakan, tapi saya sudah mikir yang enggak-enggak. Apakah ini efek dari kelamaan menunda? Masa bodohlah. Mengingat saat ini kondisi saya terbatas, jadilah saya niatkan dulu saja. Kalau tidak malas, semoga cerita-cerita itu bisa kamu nikmati dalam bentuk yang lebih baik pada waktu yang tepat.

Untuk itu, saya mungkin tidak akan serajin dulu lagi. Ada beberapa hal yang perlu saya lakukan di dunia nyata. Sejenak saya akan meninggalkan blog ini. Entah sampai kapan. Saya hanya ingin berterima kasih kepada siapa pun kamu yang sudah tulus mengunjungi blog ini, membaca cerita-ceritanya, meninggalkan komentar, memberikan kritik maupun saran, dan yang tidak kalah penting: menjadi teman saya (baik yang sudah bertemu maupun yang belum).

Berkat blog ini saya mendapatkan banyak hal. Baik itu berupa kepuasan pribadi, perasaan lega dan bahagia setiap berhasil menyelesaikan tulisan; ilmu tentang SEO dan menulis; pertemanan; bahkan pacar—yang tentu saja sudah mantan. Saya juga tidak pernah menduga kalau media ini bisa menjadi tempat menghasilkan uang (meskipun saya tidak memfokuskannya), lumayan untuk menambah-nambah pemasukan saya yang cuma seorang pekerja lepas.

Lalu, saya memiliki grup kecil yang ternyata bisa membuat buku-el. Walaupun hasilnya masih butuh banyak perbaikan dan pembelajaran lagi, saya tetap merasa gembira ketika ada yang membaca, mengapresiasi, dan memberikan kritik. Tanpa grup itu, saya tidak akan pernah memulai apa-apa. Kemudian, berhubung grupnya juga lagi vakum, saya pun jadi lebih gampang ikutan beristirahat.

Saya enggak tahu harus menulis apa lagi, pokoknya saya cuma ingin segera mengaso dari dunia bloger ini. Namun, saya akan tetap berusaha memperpanjang domain ini, sekalipun nanti belum sempat mengisinya kembali.

Dadah. 



—Agustus 2018. 


Draf itu sudah berlalu sekitar tiga bulan di blog ini tanpa pernah saya berani tampilkan. Saya berulang kali ingin vakum mengisi blog, tapi saya takut enggak bisa mencegah hasrat menulis yang menyala-nyala itu. Selain itu, saya juga khawatir kalau kumpulan cerita itu tidak akan selesai pada tahun ini. Jadilah saya memilih untuk memendam tulisan tersebut daripada menanggung malu.

Saya mungkin terlalu cemas dengan proyek-proyek semacam itu. Keresahan itu pun pernah saya tuangkan di blog satunya: Apakah Judul pada Tulisan Lebih Penting daripada Isinya? dan Bisakah Produktif? 

Sekarang sudah November, berarti pergantian tahun tinggal satu bulanan lagi. Masalahnya, kumpulan cerita itu masih belum selesai-selesai seperti yang saya khawatirkan saat itu. Tulisan-tulisan yang ingin saya edit ada di laptop semua, tetapi keadaannya kurang memungkinkan untuk sering-sering digunakan. Apa saya mesti mengerjakannya di ponsel? Namun, itu artinya saya kudu membuat cerita-cerita baru. Lagian, mengetik dengan jempol itu mudah sekali terjadi salah ketik. Saya pun lebih sreg menggarapnya di laptop.

Terlepas dari hal itu, saya betul-betul heran mengapa dalam dua tahun belakangan ini setiap menjelang akhir tahun laptop saya bermasalah. Waktunya cocok banget pula ketika saya lagi bikin proyekan yang cukup serius. Tahun lalu charger rusak, sekarang baterai, dan baru-baru ini di layar muncul garis horizontal. Niat baik saya memang jarang mulus. Leyeh-leyeh sudah yang paling benar kali, ya?

Proyekan tahun lalu niatnya mau ditunda buat tahun berikutnya alias tahun 2018. Eh, tahun ini ujung-ujungnya juga enggak bikin apa-apa. Kesalahan yang sama pada akhirnya terulang kembali. Ulangi begitu terus setiap tahun. Anjing! Tapi, ya udahlah. Niat baik memang kerap kali tidak berjalan dengan kenyataan. Daripada saya malah memaksakannya dan jelek. Boleh jadi, inilah pilihan yang paling benar. Kamu pun boleh menganggap saya cuma mencari-cari alasan. Terserah orang-orang mau menilai apa. Toh, cari-cari alasan saya akui emang paling asyik. Lagi pula, saya sudah tidak begitu peduli.

Sejujurnya, saya pun sudah tidak banyak berharap soal naskah itu. Saya cuma butuh rehat sekarang ini, sebagaimana yang sudah saya sampaikan di tulisan terpendam—yang akhirnya saat ini saya tampilkan. Saya harap kelak dapat pencerahan dan bisa menulis luwes kembali untuk teman-teman dekat saat bikin tulisan di blog kayak sebelum-sebelumnya. Saya ingin bisa tetap seperti itu supaya tidak terbebani apa-apa. Saya tidak perlu memusingkan gimana caranya agar disukai banyak orang lagi. Penggemar itu biasanya sering menuntut, sedangkan teman dapat memaklumi dan mengerti. Namun, pada akhirnya saya memang butuh jeda.

Maaf dan terima kasih.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

8 comments

  1. Terus terang gue agak bingung sama arah postingan lo ini yog. Jadi, dadah apa maafin nih? Coba lo baca-baca dan cari tahu tentang Gary Vaynerchuck deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dua-duanya, Di. Itu yang bosnya Pinot kan, ya? Sebelumnya udah ngikutin dan baca-baca blognya juga. Tapi berhubung kondisi beda, sulit buat termotivasi bisa produktif kayak dia. Wqwq.

      Delete
  2. pasang surut keinginan buat nulis itu pasti pernah dialami sama semua penulis. termasuk aku yang dulu punya jadwal ngaret bahkan jadi mandul karena nggak pernah nulis sampai satu tahun. mandul artian nggak menelurkan satu karya pun entah itu cerpen, flashfiction atau puisi pendek. sampai sekarang pun aku masih belum bisa secara konsisten menyelesaikan sebuah naskah yang aku buat. tapi itu sih, emang tantangan terbesar buat para penulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama-lamanya saya enggak nulis, kayaknya baru pernah tiga bulan. Belum sampai setahun.

      Iya, tantangan. Menyelesaikannya saja kalau dipikir-pikir sudah sulit. Apalagi menghasilkan yang betul-betul bagus. Tentu akan sulit sekali. :))

      Delete
  3. Kayak aku dong, gak ada ijin gak ada permisi mau nulis ya nulis gak ya udah. Datang dan pergi sesuka hati. Kok kesannya gak sopan ya.. Hmm..

    Sama nah, laptopku juga bermasalah. Kali ini sama batrenya, drop. Gegara udah penuh tapi sering masih di colok. *kok curhat?

    Gpp. Nyari alasan masih jauh lebih bagus daripada nyari masalah! Meskipun seringkali jadi masalah buat diri sendiri. Hmm.. *duh nyindir diri sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semestinya emang begitu, Rum. Setidaknya buat saya. Buat apa segala bikin pengumuman mau vakum. Toh, pembaca blog ini juga tidak banyak. Kayak ada yang nyariin aja. Haha.

      Ini karena udah telanjur, sih. Sayang cuma mendem di blog terus-terusan. Daripada semakin busuk, mending dipublikasi. Lumayan juga nambah tulisan sekalian buat pengingat diri suatu hari kelak. Jangan kebanyakan menunda lagi, biar enggak perlu repot menyalahkan kondisi laptop atau hal lain yang bisa dijadikan alasan. :)

      Delete
  4. Ide menulis buku tadi sempat aku singgung di komen posmu sebelumnya.
    Aku sangat menikmati tulisanmu. Enak bacanya. Kalo kamu nulis buku, barkabar, nanti aku ngantri paling depan. Iya, serius. I don't know how to describe it, I just like it. I really enjoy reading your writings. Word by word. Balik lagi ke soal pemilihan kata2 yg menurut aku enak utk dibaca. Eh, tentu aja ini tentang gaya penulisanmu... gayamu menceritakan yg buat tulisanmu jadi enak dibaca. Nah, iya itu tuh!! Yah, Yoga, semoga nanti ada jalanmu untuk menulis buku, untuk jadi penulis yg lebih hebat lagi. Siapa yg tau masa depan?

    ReplyDelete
  5. Semangat, Yoga! Ku tahu kau pasti bisa. Insya Allah nanti anak-anak blogger Jabodetabek siap jadi panitia acara atau ya setidaknya dateng ke launching buku lo, dan nggak lupa bantuin promosiin!

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.