Bagaimana Sebuah Cerpen Dibuat

17 comments
Aku pernah bertanya kepada Yoga Akbar, pemilik blog ini, mengenai cerpennya yang berjudul: Surat Bunuh Diri Nolan. Sebelumnya, aku telah menebak kalau ia memasukkan pengalaman pribadinya sekitar 20-40% dalam cerita itu. Sayangnya, hal itu tetap tidak dapat memuaskanku. Aku masih betul-betul penasaran, apa saja yang ia lahap sampai bisa kepikiran untuk bikin kisah seperti itu. Jadilah aku mengajaknya bertemu di Stasiun Manggarai, lalu nanti berangkat bersama-sama ke Stasiun Bogor untuk berbincang-bincang tentang tulisannya.

sumber: https://pixabay.com/id/pada-suatu-waktu-penulis-cerita-719174/



“Ish, kamu nih datengnya buru-buru amat. Nggak bisa apa ngaret sedikit aja?” ujarku, begitu aku dan Yoga bertatapan muka di peron jalur 6 Stasiun Manggarai. 

“Ya, kamu bilang, kan, ketemuannya jam sembilan,” kata Yoga. “Masa aku datengnya jam sepuluh? Lagian, santai aja sih, Ran. Aku bawa buku kumpulan cerpen, kok. Jadi tadi nunggunya juga nggak terasa lama.” 

Aku memang yang mengusulkan bertemu pada jam segitu, tapi malah aku sendiri yang sekarang protes kepadanya. Habisnya gimana ya, aku tuh malu sama Yoga yang sudah sampai di sini sejak pukul 08.42, sedangkan aku terlambat 37 menit dari jadwal yang kubuat sendiri. Apalagi ia tampak menyindirku pada kalimat “Masa aku datengnya jam sepuluh?” Meskipun aku yakin ia tidak bermaksud seperti itu. Intinya, aku ini tetap payah sekali. Aku tadi kelamaan berdandan, padahal kami bertemu juga untuk ngobrol-ngobrol biasa. Tidak datang ke acara spesial seperti pernikahan teman atau sedang kencan.

Um, tapi apakah ini bisa disebut kencan? 

Ah, aku ada-ada saja. Ia biar bagaimanapun adalah teman baikku. Ia juga pernah mengatakan sebuah kalimat kepadaku, “Rani, di antara kita jangan sampai ada yang naksir, ya. Nanti ribet urusannya.” Saat mendengar ia berkata kayak gitu, aku langsung tertawa dan tidak merasa kecewa sedikit pun. Yang mana berarti, perasaanku terhadapnya sudah pasti biasa saja. Namun, mengapa aku tadi harus repot-repot dandan, ya? Aku, kan, seringnya cuek sama penampilan. Nggak perlu bingung ketika memilih baju apa biar terlihat menarik di mata lawan jenis. Nggak mesti menyemprotkan parfum terlalu banyak ke tubuh supaya ia tetap bisa mencium wangiku dari jarak yang agak jauh. Kenapa aku mendadak jadi aneh, ya? Apakah perasaanku ini dapat berubah seiring berjalannya waktu?

sumber: https://pixabay.com/id/lipstik-lipgloss-lip-gloss-bibir-791761/


Duh, kenapa aku jadi mikir yang nggak keruan gini, sih? Fokus, Ran! Fokus! Kamu cuma mau tanya-tanya soal cerpen sama Yoga. Nggak usah mikir yang macam-macam.

“Keretanya udah dateng tuh, yuk siap-siap!”

Kalimat Yoga barusan langsung membuyarkan pikiran ngawurku. Setelah menunggu sepuluh menit, kereta yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba. Entah mengapa tadi terasa seperti 10 menit terpanjang dalam hidupku.

Begitu masuk ke salah satu gerbongnya, keadaan di dalam ternyata cukup ramai dan kami sudah tidak kebagian tempat duduk. Jadi suka tidak suka kami mesti berdiri. Keadaan seperti ini membuat kami tidak saling bicara. Aku memang kurang nyaman mengobrol dengan suasana amat ramai begini. Kurasa lebih baik ditunda nanti saja tanya-tanyanya. Sampai kami bisa duduk dengan rileks. 

Saat kereta berhenti di Stasiun Pasar Minggu Baru, sebagian penumpang di gerbong kami pada turun. Lalu yang naik hanya dua orang. Syukurlah, kami sudah siap-siap sejak tadi dan segera duduk. Baru saja pantat ini kubenamkan ke kursi, Yoga tau-tau langsung membuka percakapan, “Jadi, apa yang mau kamu tanyain soal cerpen itu, Ran?”

Aku lalu meresponsnya, “Referensi kamu sewaktu nulis itu apa aja?” 

“Di balik cerpen itu, sebenernya ada referensi yang terlihat jelas. Kamu nggak mau coba tebak?” 

Kemudian, aku menggelengkan kepala dan memilih diam sambil menunggu Yoga menjelaskannya. Sayangnya, ia tidak akan memberi tahuku kalau aku nggak mau menebaknya sama sekali. Akhirnya, aku menjawab yang sudah jelas tertera di tulisan itu. Judulnya terdapat nama Nolan, yang kurasa sudah pasti Yoga mengidolakan Christopher Nolan. Lalu ada nama Kurt Cobain yang merujuk tentang surat bunuh diri. Setelah itu, ada kalimat yang dinukil dari novel karangan Sabda Armandio yang ia tulis di akhir ceritanya.

“Itu aja, Ran?” ujar Yoga. 

Aku lalu bertopang dagu dengan tangan kanan dan mengetukkan jari telunjuk ke pipi sebelah kiri. Mungkin ini kebiasaanku ketika sedang berpikir. “Aku ngerasa kamu membangun suasana sedih dari tulisan Haruki Murakami. Novel Norwegian Wood, kan, ada tokoh yang bunuh diri juga.” 

Ia setelah itu mengucapkan banyak terima kasih untuk segala hal yang menginspirasinya saat bikin cerpen tersebut. Dari mulai film-film buatan: David Fincher, Gaspar Noe, dan Christopher Nolan. Musik bagus yang dinyanyikan vokalis hebat: Kurt Cobain dan Chester Bennington. Lalu yang tidak kalah penting, saat bikin cerpen itu Yoga lagi baca tulisan: A. S. Laksana, Agus Noor, Budi Darma, Haruki Murakami, serta Sabda Armandio. 

Aku kaget ketika mendengar nama-nama tadi. Beberapa masih asing di telingaku. Ia sendiri katanya juga heran kenapa referensi cerpennya bisa sebanyak itu. Biasanya paling hanya dari sebuah lagu atau film, lalu 2-3 penulis. Mungkin ia sedang bereksperimen.

“Terus kamu kepikiran dari mana kalau cerita itu lebih enak dibuat surat?” 

“Berawal dari tahun 2016 saat iseng membaca surat perpisahan Kurt Cobain, aku terinspirasi untuk menulis ulang surat bunuh diri itu dengan gayaku sendiri. Kebetulan waktu itu habis depresi. Setelah itu mikir, apa saja hal yang membuatku sedih, terutama di dunia kepenulisan. Keresahan itu seringnya berawal dari pikiran yang negatif. Misalnya, bagaimana ketidaksukaanku dengan orang-orang (bloger) yang gila trafik. Aku sering berpikir kayaknya ada sebagian orang yang pura-pura membaca, lalu komentar seperlunya aja demi sebuah kunjungan balik. Bagiku itu sungguh palsu. Setelah itu, kesedihan dan kesepiannya berlanjut ke trauma masa kecil yang hampir tidak memiliki teman. Hingga entah apa lagi sampai-sampai suratnya tertulis begitu saja seperti mengalir dengan sendirinya.”

“Oh, jadi surat itu emang udah lama, Yog?” tanyaku. 

“Iya, surat itu dipendam karena menurutku nggak layak baca. Atau lebih tepatnya, aku takut membawa pengaruh buruk. Emangnya ada orang yang mau membaca sekitar 700-800 kata tentang surat bunuh diri? Yang ada malah dikata-katain kurang beribadah atau apalah itu.” 

“Lalu kenapa akhirnya kamu berani ngelanjutin tulisan surat bunuh diri itu?” 

“Berani kubuka lagi karena ada berita tentang orang terkenal yang mati bunuh diri. Momennya terasa cocok, sih. Terus, sehabis dipendam begitu lama di draf, yang kira-kira hampir setahun itu, ternyata juga banyak banget kalimat yang perlu aku perbaiki. Aku kalau lagi nggak ada kerjaan emang suka ngedit tulisan-tulisan lama atau menulis ulang cerita.”

Setelah itu ia menertawakan dirinya sendiri. Aku pun memujinya bagus kayak begitu daripada males-malesan. Ia lalu malah merendah dengan bilang, waktu leyeh-leyehnya masih lebih banyak daripada waktu produktifnya. Pujianku tadi rasanya sia-sia. 

“Kamu punya pengalaman mau bunuh diri, Yog?”

Setelah pertanyaan itu kulempar, Yoga bergeming lama. Aku jadi tidak enak menanyakan hal sensitif seperti itu. Akhirnya, aku mengatakan kalau pertanyaan barusan dilupakan saja. Anehnya, ia malah berkata tidak apa-apa dan tersenyum.

“Hm, aku sendiri sejujurnya pernah kepikiran kayak gitu beberapa kali. Nggak sampai melakukan yang aneh-aneh, sih. Tapi aku pernah ngebayanginnya.” 

“Ngebayangin gimana tuh?” ujarku, memotong kalimatnya yang mungkin belum selesai. 

“Ya, gimana rasanya kalau mengiris urat nadi dengan pisau. Gimana lompat dari gedung yang lantainya sampai 30 lebih. Gimana rasanya leher tercekik karena gantung diri. Dan seterusnya. Sayangnya, aku terlalu takut. Aku juga langsung ngebayangin gimana perasaan orang-orang di sekitar kalau hal itu sampai terjadi. Ya, baguslah keinginanku untuk hidup selalu lebih besar daripada mati.”

“Kok aku mendadak takut, ya, kamu bilang pernah mau bunuh diri beberapa kali dan ngebayangin hal itu. Kamu jangan mikir kayak gitu lagi ya, Yog.”

“Udah berlalu masanya, Ran. Nggak usah takut. Lagi pula, menurutku bunuh diri masih menjadi sesuatu hal yang entah kenapa terus dilakukan sampai sekarang. Bahkan, sepertinya setiap orang pernah berpikir untuk mengakhiri hidup dengan cara itu. Ya, meskipun hanya pikiran-pikiran sekilas aja.”

Yoga lalu gantian bertanya kepadaku, apakah aku nggak pernah memikirkan cara mati seperti itu. Aku sejujurnya sudah lupa pernah punya keinginan untuk bunuh diri atau tidak. Tapi kalau pengin mati aja ketika putus cinta sewaktu SMA dulu, sih, pernah. Ya ampun, jika diingat-ingat ternyata aku dulu norak sekali. Syukurlah sekarang sudah nggak alay lagi.

Setelah kereta yang kami tumpangi ini sampai di Stasiun Bogor, aku sudah mendapatkan kesimpulan dari Yoga bagaimana ia memantapkan hati untuk menuliskan cerpen itu. Aku pun merangkumnya:

Di Twitter mulai banyak orang yang membahas tentang depresi dan bunuh diri. Mereka berlomba-lomba untuk mencegah bunuh diri itu jangan sampai terjadi lagi. Baik itu dengan membagikan artikel yang terkait bunuh diri, lalu berterima kasih kepada orang-orang yang tidak menyerah dalam hidup, hingga berusaha untuk menjadi pendengar orang-orang galau yang cenderung depresi. Lama-lama, di kepala Yoga penuh dengan frasa “bunuh diri”. Karena ia terlalu malas bikin twit yang dibatasi oleh karakter (awalnya 140, lalu kini berubah menjadi 280), akhirnya ia mulai menulis beberapa poin tulisan ketika sedang dalam perjalanan karena belum sempat menggarapnya. Ia mengaku sulit menulis kalau bukan di laptop.

Ia mencatat hal apa saja yang diingatnya tentang bunuh diri. Yang terlintas pertama kali adalah serial 13 Reasons Why yang Yoga tonton beberapa bulan lalu. Kemudian, barulah menyusul hal-hal lainnya. Seperti, apa betul orang bunuh diri karena dirinya itu yang tidak mencintai diri sendiri? Bukan karena pengaruh orang lain, atau bisa dibilang ia dibunuh secara tidak langsung oleh sesuatu?

Hal itu menjadi pertanyaan besar di kepalanya. Ketika seseorang sudah merasa dirinya nggak berguna sama sekali untuk siapa pun, pastilah ia depresi dan ada pikiran ke arah sana. Kekelaman itu pun sedikit-sedikit sudah terbangun di imajinasi, serta seperti apa gambaran tokohnya yang kelak ia ciptakan. Selanjutnya, bagaimana cara menyampaikan itu semua?


Di pintu keluar Stasiun Bogor, Yoga kemudian berjalan lebih dahulu menuju pedagang di pinggiran jalan. Aku pun mengekornya. Setelah itu, ia menyodorkan dua botol minuman kepadaku; tangan kanannya memegang air mineral, lalu tangan satunya lagi berupa teh manis. Aku lalu mengambil yang air putih, membuka tutup botolnya, dan meminumnya beberapa tegukan. Kurasa alasanku memilih bukan karena kesehatan, tapi alam bawah sadarku yang seakan-akan berpikiran kalau tangan kanan itu berarti baik.

Sehabis itu, kami berjalan tanpa tujuan. Aku tidak tahu, ia ingin membawaku ke mana. Aku hanya mengikuti langkah kakinya. Tapi arah ini ialah jalan menuju kawasan Kebun Raya Bogor. Aku pun menduga kalau ia akan mengajakku ke sana. Sayangnya, ketika di tengah jalan ia malah menyuruhku duduk di pinggiran jalan. Tempatnya, sih, menurutku sejuk sebab dipayungi pepohonan. Lalu ia bertanya kepadaku, apakah aku lapar. Di dekat kami kebetulan ada beberapa pedagang makanan, yaitu tukang ketoprak, bakso, dan cilok. Aku menggelengkan kepala. Yoga kemudian membeli aci rebus yang ditusuk itu. Aroma saus kacangnya pun mulai mengusik hidungku.

“Ngobrolnya mau lanjut di sini aja atau balik ke stasiun lagi?” tanya Yoga. 

Aku sadar, niat awal kami memang hanya mengobrol. Tapi, aku perlahan mulai berharap diajaknya ke suatu tempat. Kebun Raya Bogor yang dekat dari sini, misalnya. Cuma, ya udahlah. Begini pun rasanya sudah cukup. Balik lagi ke stasiun panas-panasan begini sungguh bikin males. Aku pun bilang kalau di sini tidak masalah dan segera melanjutkan pertanyaan, “Kenapa kamu akhirnya milih jadi cerita fiksi, bukan esai?”

“Maksud kamu curhat?” ujarnya, lalu tertawa 5-6 detik. 

“Apanya yang lucu, sih?” 

“Kalau tulisan kayak gitu dibikin curhatan pasti hasilnya jelek dan terkesan sok tahu, Ran. Aku lagi bosan dan muak sama curhat. Aku pengin belajar bikin cerpen dan main-main sama tulisanku.” 

Setelah itu, Yoga menjelaskan kepadaku kalau bingung gimana caranya bercerita dalam tulisan tersebut. Sulit rasanya menggabungkan berita yang sedang hangat-hangatnya, surat bunuh diri, alasan orang bunuh diri, dan seterusnya itu ke dalam satu cerpen. Apalagi gambaran-gambaran itu ia dapatkan saat merenung di perjalanan pas lagi naik kereta. Ia hanya bisa mempertahankan ide-ide itu jangan sampai hilang sebelum sampai di rumah. Beberapa poin yang menarik sudah ia coba tuliskan di catatan ponsel, tapi ia tetap tidak menemukan jawaban yang pas untuk cerpennya. Barulah ketika tiba di rumah ia bisa menemukan inspirasinya kembali.

Efek membaca ulang salah satu cerpen A. S. Laksana, lalu menonton film garapan Gaspar Noe, Enter The Void (yang tidak ditonton sampai habis), Yoga jadi kepikiran tentang hantu. Hal itu pun lagi-lagi membawa pengaruh ke tulisannya. Ia mendapatkan ide untuk menjadikannya seolah-olah yang menulis cerpennya itu ialah roh yang masuk ke dalam tubuhnya dan berkisah lewat tulisan. Sesudah mendapatkan bahan-bahan itu, Yoga pun tinggal menuliskannya. Ia lalu duduk di depan laptop dari habis Isya sekitar pukul 8. Semua sampah yang ada di kepalanya itu katanya dikeluarkan sekitar 2 jam.

“Kamu pas nulis itu ada istirahatnya nggak, Yog?” tanyaku. 

“Ya, setelah merasa otak dan tubuh lelah, aku meninggalkan tulisan itu dengan membeli makanan. Menurutku, nulis itu bikin cepet laper.”

“Dilanjutinnya besok berarti?” 

“Nggak, cerpennya aku terusin malam itu juga. Setelah hampir satu jam jauh dari laptop, aku mulai mengedit. Aku mengubah sudut pandangku yang awalnya seorang penulis, lalu menjadi pembaca. Setelah merasa tulisan itu oke dan layak baca, baru aku ganti lagi jadi mata editor.” 

“Hm, terus-terus?” 

“Ya, aku membaca ulang, menghapus yang kurasa nggak perlu, dan terakhir menyusunnya menjadi keseluruhan cerita. Proses membaca ulang dan sunting itu kulakukan sampai tiga kali. Pokoknya ada beberapa kalimat yang aku hapus atau tambah. Sebetulnya, aku masih belum puas. Tapi setelah merasa hal ini nggak akan pernah ada habisnya jika pengin hasil yang maksimal, maka aku mulai berhenti ketika merasakan lumayan saat dibaca sendiri.” 

“Udah diedit sebanyak itu, tapi kenapa masih panjang sih, Yog?” 

Yoga pun tertawa seraya garuk-garuk kepala belakangnya. Aku sejujurnya memang jarang baca tulisan panjang di blog. Kampretnya, Yoga ini bisa bikin aku betah dan rela membacanya sampai habis. Aku semakin penasaran apa rahasianya si Gemini bajingan ini ketika menulis. 

“Pertanyaan tadi harus kujawab, Ran?” tanya Yoga. 

“Ya, terserah kamu.” 

“Hm, aku sendiri juga sempet ngerasa begitu. Masalah kepanjangan ini muncul ketika aku melihat hasil akhirnya itu sekitar 2.500 kata lebih. Siapa yang mau membaca tulisan absurd sepanjang ini? Kemudian saat aku membaca ulang lagi cerpen itu dan berharap akan menemukan kalimat yang bisa dihapus, eh aku malah ketampar kalimatku sendiri. ‘Menulis untuk diri sendiri, soal respons pembaca nantinya mah belakangan aja.’ Pas baca kalimat itu pun aku langsung merenung, lalu bilang ke diri sendiri kalau tulisan ini udah cukup dan nggak perlu diapa-apain lagi. Nggak usah berekspektasi apa-apa. Nulis, ya nulis aja.” 

“Nggak ada keinginan untuk dibikin e-book lagi?” 

“Aku pernah kepikiran untuk bikin jadi PDF. Kira-kira nanti mau dikumpulin sama beberapa cerpen lainnya, terus jadi buku-el lagi gitu. Tapi, kalau bayar pakai twit kayaknya ngerepotin orang yang mau baca. Jadilah tulisan itu terpublikasi. Bodo amatlah mau panjang. Kalau orang emang niat dan pengin baca mah bakalan dibaca juga. Lagian, kan, itu panjangnya setara sama cerpen-cerpen yang biasanya kubaca di buku kumcer. Apa pun respons pembaca nanti, semoga tidak membuatku terlalu bahagia atau sedih. Aku ingin yang biasa saja.”

“Maksud kamu gimana?” 

“Kalau ada pujian yang masuk, alhamdulillah. Ada yang ngasih saran atau kritik, itu lebih baguslah. Dan, kalau lagi-lagi ada yang berkomentar sampah, ya udahlah. Aku nggak mau lagi terlalu memusingkan hal-hal seperti itu. Nanti juga terseleksi sendiri. Orang yang beneran mengapresiasi, dan orang yang ….” 

Yoga mendadak tertawa kencang sekali. 

“Kamu kesurupan, Yog?” 

“Bukan, aku cuma nggak tega ngelanjutinnya. Pokoknya, yang begitulah. Orang-orang yang aku sindir di cerpen itu.”

Kini, aku sudah tau kenapa diriku bisa betah baca tulisannya. Ia sepertinya menulis karena emang mau berkisah dan menuangkan keresahannya ke sebuah media. Ia nggak berharap untuk terkenal, terlalu mikirin respons orang lain, atau hal-hal semacamnya. Sialnya, aku justru suka dengan cerita-ceritanya. Aku juga jadi sadar, ternyata ada proses panjang di balik sebuah cerpen. Apalagi butuh referensi yang luas agar tulisannya itu tidak kentara hasil mempelajari siapa saja. Aku bahkan tidak akan tahu siapa itu David Fincher, Gaspar Noe, Budi Darma, dan Sabda Armandio kalau Yoga tidak menyebutkannya.

Selain tentang menulis itu, aku juga jadi sadar satu hal: perasaan yang sebatas temen ini telah berubah menjadi demen. Aku awalnya masih berusaha menyangkal akan gejolak di batin ini. Tapi saat kami berpisah tadi, sewaktu aku mau turun di Stasiun Manggarai dan ia tetap melanjutkan perjalanan sampai Stasiun Tanah Abang, ia bilang kepadaku, “Nanti kalau udah sampai di rumah kabarin ya, Ran.”

Kala itu, mendadak ada irama yang berbeda dalam detak jantungku. Yoga bangsat!
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

17 comments

  1. Ini wawancara imajinasi atau emang based true story sih? Banyak curhat colongannya. :p

    Tapi emang lebih susah nulis cerita daripada pol curhat ya, soalnya dari komposisi aja beda. Kalau cerita harus tau kadar dialog sama pendeskripsian, kalau pol curhat mah seenak jidat aja komposisi bisa saling tambal hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya coba tebak aja, ini beneran atau imajinasi atau paduan keduanya? :p

      Betul. Cerita fiksi mesti masuk akal. Sekalipun cerita yang ditulis itu ialah surealis. Porsi dialog dan deskripsi sebaiknya seimbang. Tapi kadang curhat juga sama sulitnya. Gimana bikin orang betah baca cerita sehari-hari--yang seringnya ngalor-ngidul itu.

      Delete
  2. Rani ini pasti Rani Kumbolo nama panjangnya.

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Bertiga sama kamu juga boleh kalau bersedia jadi setannya. :3

      Delete
  4. Mendadak jadi pengin ngobrol sama Rani, kayaknya cocok. Soalnya aku pendiam dan doi banyak tanya kayak host acara talkshow.

    ReplyDelete
  5. Hehh, sastrawan surealis favorit gw disebut yeay, soale gw ngefans cerpen2nya agus noor yg bole dibilang abis baca kebanyajan karyanya mendadak suka merinding, suka ada kejutan or aura magisnya soalnya, dulu gw suka mantengin tu klo cerpen agus noor di kompas minggu...selain itu kiblat fiksi gw kebanyakan ada di contoh2 cerpen n puisi majalah horizon, ga tau itu majalah sekarang masi terbit ato g

    Hmmm kok gw jd pnasaran ma cerpen yg surat bunuh diri nolan itu ya, bentar guwe kubek2 lagi apakah gw uda komen di sana


    Ahhhhh ! Kampret curhatan gw bgt tau yog yang paragraf keresahan tentang blogger yg ga baca tulus n ngarep dibewe balik, lalu gw pun merasa gw di jagad blogger ini ga punya genk, karena saat ini yg saling ngomen di beberapa tipe blogger (kebanyakan sih yg uda ibu-ibu) pada saling mengomen di khusus paid promote post doank. Trus pada ga mau maen ke blog klo ga didatengin duluan, serius ini bikin gw sedih dan ngerasa ga punya teman hiks

    Jd klo mau ngulik perkarakter di fiksi kali ini #e ini fiksi juga kali ya, sebenernya tokoh rani ini sama kyk cewek2 pd umumnya...suka lain di mulut lain di hati haha....ngakunya biasa aja tp klo diliat dari kalimat2 yg dia batinkeun sih ngarep ada hubungan yg lebih spesial. Masa iya si uda jauh2 ke bogor cyuma nikmatin kereta trus mandeg tasiun jajan cilok wkkk, pasti ini dia ngarep lebih ni haha

    Oh ya, thx yog, berkat lu, gue jg ada semangat pengen bikin cerpen yg ujungnya penuh teka teki sih. Klo ga yg gaya bahasanya sekelas cerpen kompas aaaaah, kpn bisa bikin gituan y

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kebetulan emang cari referensi penulis yang tulisannya surealis, kan. Tapi sayangnya cerita saya malah jadi begitu. Ehe. Majalah Horison itu zaman kapan, Mbak? Wqwq.

      Wah, saya baru tahu mengenai tulisan iklan yang saling komen itu. Tulisan saya yang kayak gitu pantes aja sepi. Nggak ada saling komen, sih. Haha.

      Yap, beberapa cewek yang saya perhatikan dan pas bertanya ke mereka emang jawabannya gitu. Di dalam hati mau ini-itu, tapi nggak diungkapkan. Cuma, tetep ada juga perempuan yang blak-blakan.

      Sama-sama, Mbak. Monggo dibikin dan berkreasi seasyiknya. :D

      Delete
  6. Kalo baca tulisan kamu itu, seolah2 aku dapet kado tapi ga tau apa isinya :D. Penuh kejutan.. Adaaaa aja gaya tulisan beda yg kamu bikin :). Dan seringnya aku slalu nebak2 ini kisah nyata ga sih, ini Rani itu beneran ada ga yaa, ini kalian emg ketemuan? Hahahaha.. . Dan sampe skr aku msh aja nebak2 siapa Rani :p. Oke, ga penting, abaikan..

    Tapi serius sih Yog, aku suka baca tulisan2 mu, walo panjang tapi slalu bikin betah bacanya :). Krn seringnya aku dpt ilmu baru soal menulis.

    Cara bikin tulisan yg kamu share di atas, dibaca ulang, trus baca dengan kacamata pembaca, kacamata editor, trus edit lg sampe berkali2, duuuh memang panjang kalo mau bikin tulisan bagus ya. Aku ngelakuin, tapiii ga sedetil kamu cek ulangna :p.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang kalau dapet kado biasanya suka nebak kira-kira apa, Mbak? Jadi ketebak akan dikasih hadiahnya berupa apa gitu?

      Waduh, sampai segitu penasarannya sama Rani. XD Syukurlah kalau betah bacanya. Makasih, Mbak Fanny. :D

      Saya terapin hal itu di blog biar buat latihan kalau bikin naskah beneran ngeditnya juga maksimal, Mbak. Ehehe. :)

      Delete
  7. Kalau pas tak baca sih, sepertinya ini kejadian bener-bener riil terjadi. Tapi mungkin tetep ada penambahan cerita biar feelnya makin berasa *halah bahasane susah bener* Saya sih kayaknya lebih parah dari Rani kalau masalah nama-nama tokoh yang disebutin di atas. Yang cerpenis, nggak tau sama sekali--apalagi tokoh-tokoh lainnya. Taunya cuma Chester Bennington, itupun gara-gara beritanya sempet heboh satu tahun silam.

    Ya, sayang banget itu nggak lanjut jalan ke Kebun Raya Bogor. Tinggal jalan berapa langkah lagi padahal, kan? Deket kayaknya kalau dari Stasiun Bogor itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehe. Mau nyata atau fiksi, yang penting semoga bisa terhibur~ Nggak semua hal mesti diketahui juga kok, Mas Wis. Tentunya ada hal lain yang saya dan Rani nggak ketahui dari wawasan Mas Wisnu. Soal desain, misalnya. :)

      Iya, tinggal jalan sebentar lagi dari tempat yang ada di cerita.

      Delete
  8. Nampol banget sih ini, kak. Kayak dikasih referensi bejibun yang didapat kotak harta karun. Jadi sadar kalau ternyata proses nyerpenku tuh belum ada apa-apanya xD Selain itu juga jadi penasaran sekaligus tertantang buat baca buku-buku yang penulisnya disebutkan di cerita.

    Demi apapun, satu cerita tapi kaya banget sama topik yang emang sudah lama jadi keresahan diri ini. Huhu. Mantap lah mantaaap. Mau ini based on true story atau bukan, intinya ini bagus, bacanya asik, dan kusuka ceritanyaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi referensi setiap orang, kan, beda-beda, Nur. Jadi pasti ada penulis lain yang kamu baca, terus saya belum tahu juga. Haha. Oke, semoga suka dengan referensi yang ada di tulisan ini. Selamat menikmati~ :D

      Tulisannya termasuk panjang ini, makanya ada banyak hal yang masuk. Ehe. Makasih, ya~ :)

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.