Beberapa hari yang lalu saat libur kerja, aku memutuskan untuk bertualang. Kamu mungkin tau rasanya bekerja selama 6 hari dalam seminggu dengan semangat yang kurang itu seperti apa. Nah, bagiku itu cukup menjenuhkan. Ketika libur, lalu cuma tidur-tiduran di rumah itu malah menambah rasa bosan. Mungkin mengistirahatkan tubuh itu perlu, tapi jiwaku juga butuh sesuatu yang baru. Yang membuatku kembali menjalani hari dengan penuh kesegaran. Maka, jadilah aku pergi bertualang.


Pertualanganku ini berlangsung selama sebelas jam. Semuanya berawal ketika aku memulai perjalanan dari Stasiun Bekasi dengan tujuan Stasiun Sudimara (Tangerang Selatan) menggunakan kereta listrik (KRL) khusus area Jabodetabek. Sebetulnya aku tidak begitu suka naik kereta, tetapi kalau menggunakan motor rasanya pasti tak sanggup. Perjalanan dari ujung ke ujung dan duduk berjuang melawan macet tentunya bisa membuat pantatku menipis. Dan karena belum memiliki helikopter, maka keretalah yang jadi solusinya.

Mungkin kamu bingung apa tujuanku pergi ke Sudimara. Aku janjian bersama teman-teman bloger: Adibah dan Yoga, untuk berjumpa sembari kulineran di sana. Mereka, sih, enak jaraknya pada dekat. Yoga dari Palmerah cuma 4 stasiun, Adibah apalagi yang tinggal naik angkot.
Read More
Berangkat dari membaca tulisan lama di bloknot, gue kemudian menemukan catatan ide tentang proyek pertanyaan yang belum sempat tertuliskan. Gue mendapat inspirasi itu awalnya dari sebuah kutipan Mbah Sujiwo Tejo,
Lama-lama orang malas romantis, karena takut disebut galau. Malas peduli, takut disebut kepo. Malas mendetail, takut dibilang rempong. Malas berpendapat, takut dibilang curhat. Malas mengubah sudut pandang saat debat, takut dibilang labil.

Waktu itu, gue memang termenung membaca kutipannya. Lalu, saat puasa dan menjelang Lebaran kemarin banyak orang yang resah tentang pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan para saudara: “Kapan lulus?, “Kapan punya pacar?”, “Kapan nikah?”, “Kapan mati?”, dan seterusnya. Gue pun kepikiran tentang sebuah proyek pertanyaan.

Meskipun pertanyaan-pertanyaan seperti itu nggak etis, tapi gue jadi kepikiran akan suatu pertanyaan yang begitu mengganjal di kepala. Kebetulan, kemarin juga sempat dibahas ketika gue ikut kelas menulis puisi Aan Mansyur. Ternyata, gue bisa berpikiran hal yang sama seperti Aan. Nggak nyangka.

Pertanyaan gue: Kenapa orang-orang sekarang ini jadi malas bertanya, terus takut dibilang kepo?



Misalnya di sebuah kelas saat perkuliahan, ketika dosen bertanya kepada mahasiswanya, jarang banget ada mahasiswa yang mau bertanya. Biasanya saat ada yang bertanya, kita akan kesal karena jam istirahat jadi ditunda. Atau kita menganggap orang yang bertanya itu cari perhatian atau cari muka kepada dosen. Padahal, kan, belum tentu. Mungkin dia bertanya karena memang belum mengerti materinya.

Oleh karena itu, gue pun mengusulkan proyek pertanyaan kepada anggota WIRDY. Proyek ini melatih untuk berpendapat dan berani bertanya. Tiap orangnya akan gue tanya sebuah pertanyaan. Kemudian, gantian mereka yang bertanya kepada gue. Bisa dibilang ini mirip QnA gitu, sih. Bedanya, gue merahasiakan siapa yang bertanya kepada gue.

Maka, inilah pertanyaan dan jawaban itu:

Satu

T: Kalau ngelihat tren blogger sekarang, blogger yang kayak lu (blogger curhat) itu masih punya tempat nggak, sih, di dunia blogging?
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home