Tidak tercium wangi kehidupan di kamar ini.
Hanya bisa kauhidu bau penderitaan
dari tiga kaleng susu beruang yang tandas.
Dari gumpalan tisu penuh air duka.
Dari setiap tetes embun pagi
yang mengalir di tubuh.



Tidak tercium wangi kehidupan di kamar ini.
Hanya bisa kauhirup aroma kesedihan
dari biskuit yang getir di mulut.
Dari semangkuk sayur
tanpa cinta dan air mata.
Dari kipas angin yang dihukum
tidak boleh berputar
sampai seminggu atau mungkin lebih.

Tidak tercium wangi kehidupan di kamar ini.
Hanya ada bau kesepian dari buku-buku di rak paling atas;
ditaruh paling tinggi, tapi justru paling jarang dibaca.
Dari laptop yang tidak lagi mengetikkan kata,
kalimat, paragraf, dan seterusnya menjadi cerita.
Dari doa yang diam-diam dirapalkan,
semoga dapat menggugurkan dosa.

Tidak tercium wangi kehidupan di kamar ini.
Sejak dulu, pemiliknya malas menggunakan pengharum ruangan.
Katanya, ia bingung aroma apa yang paling cocok
untuk menghidupkan dan menghirup kamar.
Tapi sekarang, ia mulai menyemprotkan wangi puisi.

--

Jakarta, 21 Maret 2018. Gambar dicomot dari Pixabay.
Read More
Cerita sebelumnya: Pesta Netizen

*

“Blogmu yang mana, Bang?” tanya Lukman. 

“Pokoknya yang header-nya gambar otak dan kunci, terus ada tulisan ‘Mengunci Ingatan’ deh,” jawab saya mantap.

Namun, gambar-gambar yang ditampilkan itu ternyata sudah selesai. Hanya ada tiga blog. Nggak ada blog saya di salah satunya. Saya sejujurnya sedikit merasa sedih. Tapi entah mengapa sekaligus merasa begitu lega setelah sadar saya nggak menang. Saya pun refleks tertawa. Mungkin sedang menertawakan nasib ini. 


“Kenapa, Bang?” 

“Blog gue kagak muncul.” 

Ia lalu menepuk pundak kiri saya dua kali dan bilang, “Sabar, Bang. Yang penting jangan nyerah. Suatu hari pasti menang.” 

“Iya, nggak apa-apa.” 

Saya nggak tahu mesti merespons apa selain kalimat itu dan cuma bisa mengamini dalam hati. Pengumuman juara 1-3 pun dibacakan secara dramatis. Saya tetap menyimaknya dengan tenang. Saya tadi merasa lega mungkin karena jantung nggak perlu lagi berdebar nggak keruan. Seenggaknya ini termasuk pencapaian bagi saya, sebab seumur-umur ikut lomba baru kali ini terpilih menjadi finalisnya. Toh, saya juga telah menang melawan diri sendiri. Mengalahkan rasa takut kala mencoba sesuatu.

Jadi, nanti kalau ikut lomba lagi saya bisa lebih santai. Nggak usah terbawa beban seperti yang sudah-sudah kalau saya harus menang. Karena belum bisa memenangkan perlombaan pun ternyata tidak apa-apa. Lalu pengumuman pun berlanjut ke lomba vlog dan film pendek. Para pemenang kemudian diajak foto bersama-sama. 

Sesudah itu, acara berakhir dengan meriah. Kami diberikan kejutan dengan penampilan band Kahitna sebagai penutupan. Saya pun langsung merasa nostalgia. Ya, meskipun saya mesti mengakui jika sudah banyak lupa akan lagu-lagunya. Beberapa orang langsung mengeluarkan ponselnya untuk foto-foto ataupun merekam video. Namun, sebelah kiri saya tidak melakukan itu. Ia menikmati acaranya cukup dengan menyimpannya di dalam otak. Saya kemudian berkata, “Ini mah bukan nonton konser, ya. Nontonin tangan orang-orang.”

Ia lalu tertawa. Menyampaikan pendapatnya kalau momen seperti ini seolah memang sudah wajib untuk direkam, lalu pamerkan ke InstaStory. Apalagi bagi teman-teman sepantarannya. Kala saya bertanya mengapa ia tidak melakukan itu, ia kemudian memberikan jawaban yang sama dalam pikiran saya. Nggak semua hal yang terjadi dalam hidup ini mesti dipertontonkan ke orang banyak. Jika sedikit-sedikit bikin InstaStory, terus di mana letak privasi dan kebahagiaan hakikinya? 

Sehabis kami membicarakan hal sok tahu itu, suasana di panggung semakin memanas. Beberapa orang mulai berdiri dari kursinya dan mendekati panggung. Para vokalis Kahitna juga mengajak para penonton menyanyi bersama. Lukman pun akhirnya pamit untuk bergabung dengan teman-temannya. Jadilah saya duduk sendirian. Nggak tau harus tetap duduk atau ikut bergabung bersama yang lain. Namun, sejujurnya saya ini juga nggak terlalu menyukai jenis musiknya. Tiba-tiba saya merasa asing berada di tempat ini. Saya berniat ingin pulang. Apalagi ketika melihat jam tangan, waktu terasa sudah kemalaman dan saya takut ketinggalan kereta. Saya kemudian bangkit dari tempat duduk dan berjalan meninggalkan area panggung. Di deretan bangku paling belakang, saya melihat Herland dengan temannya sedang asyik ngopi. 

“Lu mau balik?” tanya Herland. “Sertifikat sama uang transport baru bisa diambilnya pas selesai acara.” 

Bangsat. Saya baru ingat kalau para finalis nanti akan mendapatkan sertifikat dari Bank Indonesia. Terus lumayan juga, sih, dapat uang pengganti transport. Lalu akhirnya saya berbohong dan bilang, “Nggak, mau ngambil teh ini.”

Saya kemudian berjalan ke meja prasmanan yang menyediakan kopi dan teh. Kembalinya dari meja itu dengan membawa secangkir teh manis hangat, saya pun duduk di samping temannya Herland. 

“O iya, ini temen gue yang finalis film pendek juga,” kata Herland. 

Kemudian kami berkenalan. Saya kembali menjelaskan kalau saya finalis lomba blog. Ia bertanya, apakah menulis itu hobi saya? Saya pun menceritakan sedikit tentang awal mula menulis dan apa saja isi blog saya. Setelah itu keheningan menyelimuti kami. 

“Kira-kira berapa lagu lagi nih?” tanya saya kepada Herland. 

“Kurang tau juga. Semoga aja ini lagu terakhir.” 

Tebakannya tidak meleset jauh. Lagu yang sedang dinyanyikan adalah lagu sebelum terakhir. Seusai acara, kami bertiga pun bergegas mencari-cari di mana tempat mengambil uang transport dan sertifikatnya. Kami betul-betul dibikin kebingungan hanya demi mendapatkan lembaran kertas bernilai itu. Baik itu sertifikat, maupun rupiahnya (oh, ini mah jelas karena kami cinta rupiah). Apalagi pihak panitianya tidak membalas ketika dihubungi. Setelah keluar masuk gedung dua kali dan sekali bertanya kepada finalis lain, kami akhirnya berhasil menemukan tempat yang dicari-cari. 

Selesai menuliskan nama dan paraf di kertas yang disediakan, saya menerima secarik amplop berisi sejumlah uang yang kira-kira cukuplah untuk makan sebulan. Makan kuaci tapi. Lalu sesudahnya saya pun bermaksud mengambil sertifikat yang sudah dipisah-pisahkan sesuai abjad. 

“Punya saya kok nggak ada ya, Mbak?” tanya saya kepada salah seorang panitia yang mengurusi bagian administrasi ini. 

Ia lalu bertanya siapa nama saya dan mulai membantu mencari-cari sertifikat dengan nama “Yoga”. Bingung karena nama saya tetap nggak ada, Mbak Panitia itu pun menanyakan kepada saya apakah sudah mengirimkan data diri pada bulan Februari? Saya kemudian menjelaskan tentang email yang telat masuk itu. Sehingga saya pun terlambat mengirimkan datanya. 

“Ya udah, ini saya kasih sertifikat yang namanya kosong. Mas tulis aja sendiri namanya. Maaf ya, sebelumnya.” 

“Oh, nggak apa-apa, Mbak. Makasih.” 

Sekali lagi, saya mengucapkan tidak apa-apa. Padahal dalam hati ini saya agak kecewa. Atau mungkin bukan agak lagi, tapi memang kecewa. Cuma, ya sudahlah. Entar di sertifikat, kan, saya bisa mengisi sendiri dengan nama sesukanya: “Yoga Akbar Sholihin (Bloger Ganteng Idaman yang Belum Bisa Memenangkan Lomba. Fak Perlombaan!)” 

Saya terus cengengesan sendiri membayangkan hal itu. Tapi kalau saya pikir-pikir lagi, kayaknya nama itu nggak muat deh. 

Di pintu keluar, saya berpisah dengan Herland dan temannya. Mereka berdua membawa kendaraan pribadi. Saya sendiri kudu berjuang melawan letih dengan naik kereta komuter. Di sepanjang perjalanan, saya tiba-tiba menertawakan nasib konyol ini. Dari yang awalnya mendapatkan pengumuman menjadi finalis lomba yang infonya terlambat. Sehingga data diri yang saya kirim tersebut berakhir dengan sia-sia, sebab tidak ada nama saya di daftar sertifikat itu.

Saya turun di Stasiun Manggarai. Dengan cepat saya segera bertanya kepada salah seorang petugas kereta api, apakah kereta yang melintasi Stasiun Palmerah pada pukul setengah dua belas malam ini masih ada? Ia menjawab kereta pada jam terakhir itu tujuan akhirnya ialah Stasiun Tangerang. Saya nanti bisa turun di Stasiun Tanah Abang. Kalau kereta ke arah Serpong—yang juga melewati Palmerah—sepertinya sudah nggak ada. 

Di stasiun itu, jadilah saya pasrah menunggu kereta terakhir dan nantinya turun di Stasiun Tanah Abang. Saya lalu mencoba menelepon orang rumah untuk menjemput di Tanah Abang. Tidak ada jawaban sama sekali. Mungkin sudah pada tidur. Kereta terakhir itu pun telah tiba, saya langsung menaikinya.

Begitu keluar dari Stasiun Tanah Abang, saya melihat jam tangan yang jarumnya menunjukkan kalau waktu hampir berganti hari. Keadaan trotoarnya masih cukup ramai. Terdiri dari beberapa pedagang, bapak-bapak nongkrong, dan pelacur. Ada sedikit rasa ngeri ketika berjalan tengah malam sendirian begini. Saya terus memandang ke depan dengan langkah cepat tanpa melirik ke arah mereka. 

Saya terus berjalan sampai ke jalanan yang biasanya dilalui angkot. Saya sudah hampir sepuluh menit menunggu, tapi saya belum juga melihat angkot dari kejauhan. Saya pun memutuskan berjalan kaki lagi. Tak lama setelah itu, saya mulai mendengar suara kendaraan. Saya menoleh. Sesuatu yang saya tunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Saya lalu naik angkot. Turun di tempat yang sudah cukup dekat dengan rumah, terus berjalan kaki lagi. Sesampainya di rumah, saat saya membuka tas dan ingin mengeluarkan isinya. Saya melihat sertifikat yang sudut-sudutnya terlipat dan lumayan lecek. Ya ampun. Haruskah saya bilang tidak apa-apa kali ini? Saya pun ingin menertawakan nasib lagi.

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/mengapa-tanda-tanya-unknown-2028047/
Read More
“Kamu nggak akan pernah tahu sampai kamu mencobanya.” 

Begitulah kalimat yang tertera di buku tulis SIDU (Sinar Dunia). Sayangnya, walaupun sudah paham betapa pentingnya berani mencoba, saya terkadang tetap saja ketakutan ketika mencoba sesuatu. Terutama dalam mengikuti perlombaan besar. Belum apa-apa saya udah jiper duluan. Mental saya seolah masih belum kuat, atau memang anaknya gampang pesimis. 

Namun pada akhir tahun kemarin hingga awal tahun ini, saya lagi getol-getolnya mencari info perlombaan dan ikut meramaikannya. Saya ingin lebih berani dan nggak mau terus-terusan cemen. Lalu di antara beberapa lomba yang saya ikuti tersebut, saya sangat menunggu pengumuman lomba “Cinta Rupiah” yang digelar oleh Bank Indonesia—yang bekerja sama dengan Netmedia. 



Saat saya mengecek website cintarupiah.id, saya justru baru tahu kalau lombanya diperpanjang. Kemudian saya lihat jumlah peserta yang mengikuti lomba blog itu: kurang lebih berjumlah enam ratus. Waduh, banyak banget. Hadiah untuk juaranya padahal hanya tiga; juara 1 sebanyak 12 juta, juara 2 sebesar 8 juta, dan juara 3 senilai 4 juta. Dari pengalaman yang sudah-sudah, saya belum sekali pun meraih kemenangan dalam lomba besar. Apalagi lomba ini yang pesertanya keterlaluan banyak. Kemungkinan menangnya pasti tipis sekali.
Read More
A proverb said that life is just a game, so we should play it. Yet, we know that every human being is a creator of its game to fulfill their life. Usually, we will play a game when we have a leisure time or even we are in saturated condition. It is known that there are many kinds of game, either traditional game: petak umpet, kelereng, congklak, and gobak sodor; or modern game such as Nintendo, PlayStation, Mobile Game, and Computer Game. I’ve been playing both games since I was elementary school, indeed modern games.

source: Pixabay

At that time, I used to play Mario Bros, a plumber man in Nintendo; Harvest Moon Back to Nature, CTR (Crash Team Racing), Tekken 3 and many more in PlayStation 1. Time by time, with the increase of technology, I have been starting to play a game through my cellphone. Snake and Space Impact for instance, those are the game that I used to play in Nokia 3310. Back then, I just knew that the function of cellphone is just for texting and calling until the rise of cellphone that has been designed to play a game, that was N-Gage. It was a prove that many people like to play a game. 

As time goes by, internet started to dominate and support us to play a game. From mobile game that could be freely download in Waptrick, until games which are really popular now, such as Get Rich, Clash of Clans, Mobile Legends, and so on. So do game that has been been designed for computer. 

Read More
Pada bulan Januari lalu, saya perhatikan banyak yang membuat tulisan “30 Hari Bercerita”. Baik itu ia yang menuliskannya di blog, maupun di caption Instagram. Ketika itu, saya sendiri justru memilih tidak membuka aplikasi Instagram selama sebulan. Alasannya, sih, karena lagi irit kuota dan berusaha mengurangi kegiatan membuka media sosial. Lalu sebagai gantinya, saya juga mesti bikin tiga puluh tulisan. Ya, saya berusaha mencoba menerima tantangan itu.



Bedanya, tulisannya itu saya pendam sendiri saja dan tidak dipublikasikan. Saya sangat sadar kalau diri saya nggak bisa menulis langsung jadi. Entah mengapa, saya memiliki kebiasaan untuk mengendapkannya beberapa lama. Barulah setelah itu saya baca ulang, edit, baca ulang lagi, edit lagi, begitu terus berulang-ulang sampai saya sreg. Bagi saya ini terasa bodoh, sebab untuk betul-betul menarik dibaca pasti memakan banyak waktu dalam menyuntingnya. 

Namun, banyak yang berpendapat kalau mengedit memang jauh lebih lama daripada menulis itu sendiri. Menulis draf awal, kan, yang penting bisa membuang segala kata-kata yang ada di kepala tersebut. Urusan kalimatnya bagus, enak dibaca, dan tersusun rapi belakangan saja. Saya pun sepakat dalam hal ini. Oleh sebab itu, saya nggak pengin terburu-buru menyajikan tulisan yang masih terasa mentah.

Mungkin yang akan jadi pertanyaan ialah, terus di mana tantangannya kalau tulisanmu nggak ditampilkan? Bisa dibilang, saya merasa tertantang karena ingin mengalahkan diri saya sendiri. Bukan sebagai bukti kepada pembaca bahwa saya rajin atau pujian apalah itu. Toh, yang penting saya tetap menulis sehari sekali dalam bulan Januari. Biar diri saya sendiri saja yang tahu. 

Sesudah itu, datanglah persoalan lain, yakni jenis tulisan apa yang ingin saya buat? Kalau terlalu acak dan tidak memiliki tema itu kok kurang menantang. Kalau kayak begitu, ya setiap hari saya juga sudah sering menuliskannya di catatan ponsel atau bloknot. Lalu, terpilihlah salah satu tema: musik. Awalnya, saya memang pengin menuliskan lagu-lagu yang belakangan ini sedang saya sukai. Saya juga mau belajar mengulas. Saya pun telah menyiapkan beberapa daftar lagu untuk ditulis. Sayangnya, ternyata cukup banyak orang yang telah membahas lagu pada hari pertama itu. Saya kemudian membatalkannya begitu saja. Saya merasa cemen banget. Banyak alasan. Sok beda. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Tanggal 1 Januari sudah memasuki waktu malam, tapi saya belum tahu harus mencari tema lain dan dalam keadaan bingung untuk menulis. Syukurnya, pada pukul 23.00 atau menjelang tidur saya kepikiran untuk membuat puisi. Sajak itu cukup pendek dan nggak sampai sepuluh baris. Begitu kelar, tiba-tiba tercetuslah ide untuk bikin puisi dalam sebulan ini. Ya, meskipun sebenarnya saya sempat kepikiran pengin menulis cerpen atau fiksi kilat sehari satu. Tapi pas saya pikir-pikir ulang, sepertinya gagasan itu terlalu berat. Mungkin lain waktu deh. Lagian, dalam urusan menulis saya termasuk orang yang paling kesulitan saat menciptakan puisi ketimbang cerpen. Ini bisa menjadi tantangan sekaligus cara belajar buat saya. Pilihan pun telah ditentukan. Mantap.

Jadilah saya bikin puisi setiap hari. Seminggu pertama lancar banget. Bahkan, tiga puisi awal sempat saya unggah ke blog ini dengan judul Sajak Tahun Baru. Minggu kedua saya mulai tersendat. Bingung rasanya mau bikin puisi apa dan bagaimana biar bagus, sebab biasanya inspirasi untuk menulis sajak datangnya pas saya lagi sedih banget atau terlalu bahagia. Pokoknya dalam keadaan yang nggak wajar. Jika kondisinya lagi biasa-biasa saja, sungguh susah banget taik.

Terus, kebanyakan puisi yang saya buat pasti 1-2 bait aja. Jarang banget saya bisa bikin tiga bait atau lebih. Minggu ketiga saya semakin merangkai kata yang ala kadarnya. Asalkan ada rimanya, saya anggap itu udah bagus. Asli, itu pemikiran yang tolol sekali. Akhirnya, puisi-puisi saya seragam. Kurang eksperimen. Nggak ada perubahan dan terlalu mengandalkan rima. Menulis karena dipaksakan begitu menyebalkan juga, ya.

Sejak merasa jengkel akan puisi tersebut, bukannya berhenti mengikuti tantangannya, saya malah mulai mencari-cari referensi di internet. Entah mengapa saya merasa begitu bodoh atau udah kadung ikutan dan nggak mau menyerah. Sebelumnya, saya telah membaca dan memiliki buku-buku puisi Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, Aan Mansyur, dan Adimas Immanuel. Lalu berkat internet, saya menemukan puisi yang tidak mengandalkan rima. Ada beberapa penyair yang akhirnya saya suka puisi-puisinya. Tapi dari semua itu, saya paling naksir sama puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo. Terutama dua sajak berikut ini. 

DEWA TELAH MATI 

Tak ada dewa di rawa-rawa ini 
Hanya gagak yang mengakak malam hari 
Dan siang terbang mengitari bangkai 
pertapa yang terbunuh dekat kuil. 

Dewa telah mati di tepi-tepi ini 
Hanya ular yang mendesir dekat sumber 
Lalu minum dari mulut 
pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri. 

Bumi ini perempuan jalang 
yang menarik laki-laki jantan dan pertapa 
ke rawa-rawa mesum ini 
dan membunuhnya pagi hari. 


LAHIR SAJAK

Malam yang hamil oleh benihku 
Mencampakkan anak sembilan bulan 
ke lantai bumi. Anak haram tanpa ibu 
membawa dosa pertama di keningnya. 

Tangisnya akan memberitakan 
kelaparan dan rinduku, sakit dan matiku. 
Ciumlah tanah 
yang menerbitkan derita.
Dia  adalah nyawamu. 


Setelah membaca beragam puisi yang tidak melulu ketergantungan akan bunyinya, saya pun dapat lebih luwes menuliskan puisi sampai Januari berakhir. Saya juga nggak menyangka kalau belasan puisi saya itu, kelak saya pilihkan yang terbaik, saya revisi, saya minta tolong kepada teman-teman WIRDY untuk memberikan penilaian, dan saya kirim ke salah satu media. Walaupun sepertinya puisi saya itu ditolak, seenggaknya saya telah berhasil menantang diri saya lebih dari yang saya kira. 

Bermula dari iseng-iseng ikut tantangan “30 Hari Menulis”, eh saya malah punya stok puisi dan ide tulisan. Tulisan saya yang membahas musik itu pun akhirnya saya lanjutkan kembali. Lalu jadilah tulisan Musik sebagai Teman Menulis dan Musik sebagai Teman Membaca. Ada gunanya juga tantangan kayak gitu. Mungkin ke depannya saya pengin menantang diri lagi seperti pada bulan Januari. Apa kira-kira yang akan terjadi nantinya? Melahirkan buku kumpulan cerita barangkali? Siapa yang tahu? Semoga saja nggak malas.

Dan, untuk menutup tulisan ini, lebih baik saya tampilkan dua buah puisi sisaan bulan Januari lalu deh. Itu pun kalau masih pantas disebut puisi. Mau gimana lagi, puisi-puisi terbaiknya (tentu saja penilaian menurut saya sendiri) sudah saya kirimkan ke media itu. Jadi adanya hanya remah-remah begini. 

Kenapa Menulis Puisi? 

“Kenapa kau menulis puisi?” tanyamu, ketika kita sedang berdiskusi. 
Aku pun bergeming cukup lama. 
Hingga akhirnya menjawab, “Aku suka menciptakan rima.” 

“Tapi puisi tak hanya soal itu,” katamu tidak puas. 
“Apa jawabanku harus lebih jelas?” 

Kau mengangguk dan menanti kejujuran
yang keluar dari mulutku. 
Tapi lidahku malah mendadak beku. 

“Kalau kau tidak ingin menjawabnya, tak apa-apa.” 
“Karena puisi bisa mengisi pikiran dan jiwaku yang hampa.”


Di Ujung Lidah 

Di ujung lidahku 
tak akan ada kata yang terucap. 
Ia telah dibawa pergi kuda berpacu. 

Di ujung lidahmu 
tak akan ada makna yang terbaca. 
Ia telah dibungkam oleh penyanyi layar kaca. 

Di ujung lidah kita 
keheningan akhirnya bertemu. 
Menjadi ciuman ganas yang mendangkalkan ilmu. 

--

Gambar saya pinjam dari https://pixabay.com/id/model-tahun-kesedihan-sedih-depresi-2373083/
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home