Menjernihkan Pikiran

45 comments
—Untuk WIRDY

*

Pukul sembilan pagi, Darma Haryanto baru saja selesai sarapan bubur ayam. Hanya bubur putih polos plus ayam suwir yang dibelikan ibunya setengah jam yang lalu. Tidak seperti bubur ayam biasanya yang ia pesan; yaitu memakai kecap, kuah kuning, cakwe, seledri, bawang goreng, kerupuk, dan lain-lain. Ia mau tidak mau mesti memakan bubur ala kadarnya itu, sebab tubuhnya sedang sakit dan mulutnya terasa sangat pahit. 

Sekitar lima belas menit sesudah meneguk air putih, ia bermaksud untuk tidur lagi agar kesehatannya cepat pulih. Saat ia baru saja berusaha memejamkan mata, masuklah satu pesan WhatsApp di ponselnya. Ia pun segera mengecek pesan itu, yang ternyata dari Nisa Wulandari. Ia ialah salah satu temannya yang kenal dari dunia maya sekitar 2 tahunan lalu dan masih akrab sampai sekarang, bahkan dapat dibilang mereka bersahabat. Pesan itu berupa: “Kamu udah sebulan lebih nggak ngeblog. Aku kangen baca tulisanmu. Keadaanmu baik-baik aja kan, Dar?” 



Darma Haryanto sebetulnya tidak ingin ada yang tahu kalau dalam tiga hari ini dirinya kurang sehat, tapi ia entah mengapa sulit berbohong kepada Nisa Wulandari. Ia selalu teringat akan janji yang pernah Nisa Wulandari bilang: Jangan pernah ada kebohongan di antara kita. Selagi mengingat kalimat omong kosong dalam pertemanan seperti itu, sekonyong-konyong ingin membuatnya muntah. Namun, berkata jujur tentu tidak ada salahnya. Toh, siapa tahu nanti mendapatkan doa dari temannya itu dan bisa membantu kesembuhannya. Oleh karena itu, Darma Haryanto membalas dengan sejujurnya, “Proyek kerjaan lepasku bulan kemarin lagi banyak-banyaknya, Nis. Belum sempet nulis lagi. Terus di akhir proyek aku terlalu kecapekan, jadi sakit deh sekarang.” 

Setelah itu, Nisa Wulandari langsung ceramah betapa pentingnya menjaga kesehatan, jangan lupa minum multivitamin ketika kerjaan sedang padat, istirahat yang cukup, dan seterusnya, dan sebagainya. Mereka pun saling balas-balasan pesan dan berujung Nisa Wulandari akan datang menjenguknya nanti sepulang dari kantor. Darma Haryanto kemudian meletakkan ponselnya ke meja di dekat kasurnya dan kembali untuk beristirahat. 

Pukul tiga sore Darma Haryanto terbangun dari tidur. Ketika sedang sakit begini, ia entah mengapa malas memainkan ponsel. Ia justru bermaksud mengambil salah satu buku yang ada di raknya. Ia sebenarnya bingung ingin membaca buku apa. Jika dalam keadaan lemah begini, untuk membaca yang berat-berat seperti buku filsafat atau esai politik rasanya pasti ia tidak sanggup. Novel-novel sudah semua ia tamatkan. Kumpulan cerpen sedang kurang berminat. Jadilah ia mengambil buku puisi Aan Mansyur, Melihat Api Bekerja

Darma Haryanto terkagum-kagum dengan puisi yang berjudul “Masa Kecil Langit”, ia lalu membacakannya dengan suara yang dibuat-buat dan penuh gaya. 

“Besok pagi, ketika kau bangun dan menemukan langit di depan jendelamu. Lupakan seluruh jadwal kerja yang menguras jiwamu dan jadilah bunga-bunga. Biarkan ia mewarnaimu. Ajak ia menyusuri jalan menuju masa kecilmu dan biarkan ia pergi ketika kau sudah sampai. Ia tidak tahu membuatmu kehilangan. Ia tidak bisa melupakan jalan menuju tempat tidurmu.” 

Lalu ia tersenyum bermaksud memuji dirinya sendiri. Ia membaca lagi halaman demi halaman, lalu kembali terpikat dengan puisi berjudul “Memimpikan Hari Libur”, terutama di bagian: 

Aku bangun seperti hujan yang pulang ke langit. 
Kepalaku tidak berada di tempat yang tepat. 
Aku berjalan ke kamar mandi bersama potongan-potongan mimpi. 

Mentang-mentang baru bangun tidur, Darma Haryanto berpikir kalau puisi-puisi yang terdapat kata “bangun” begitu cocok untuk menghibur dirinya yang sedang sakit ini. Setelah merasa lebih baik, ia berjalan ke ruang tengah dan melihat masakan ibunya. Ia harus makan agar tubuhnya semakin membaik. Di meja tersedia sayur bening bayam dan tempe goreng. Lalu ia menyiapkan nasi beserta sayur dan lauk. Tidak lupa segelas besar air putih. Kemudian, ia membawa piring dan gelas tersebut ke kamarnya.

Sebelum makan, Darma Haryanto menyalakan laptopnya dan memutar film animasi Gintama. Akhir-akhir ini, ia ketagihan akan anime yang direkomendasikan salah satu teman kerja lepasnya kemarinan itu. Kini, ia menonton film animasi itu sambil makan. Begitu kelar makan, ia tidak langsung menaruh piringnya ke cucian piring. Ia sudah nyaman dengan posisinya dan terhanyut akan tontonan. 


Beberapa jam kemudian, tepat pukul delapan malam, ada yang mengetuk pintu rumah Darma Haryanto dan mengucapkan salam. Darma Haryanto dapat mendengarnya samar-samar. Ia menebak kalau itu suara Nisa Wulandari. Di rumahnya, ia hanya bersama ibunya, Bu Rahayu. Ayahnya belum pulang bekerja, sedangkan adik perempuannya yang SMP katanya lagi mengerjakan tugas kelompok sekolahnya di rumah teman dan pulangnya nanti pukul sembilan. 

Darma Haryanto mendengar ibunya membukakan pintu dan menyuruh masuk. Mempersilakan Nisa Wulandari segera ke kamar saja. Bu Rahayu sudah mengenal Nisa Wulandari, sebab ia memang sudah beberapa kali main ke rumah. Sesampainya di kamar Darma Haryanto, Nisa Wulandari rupanya membawa plastik yang berisi dua kaleng susu beruang dan sebungkus roti tawar. Nisa Wulandari duduk di pinggiran kasurnya. 

“Kamu kenapa segala bawa tentengan, sih? tanya Darma Haryanto. 

“Kamu sendiri kenapa bisa sakit?” balas Nisa Wulandari. 

Keduanya tertawa bersamaan. Awalnya Darma Haryanto menceritakan asal muasal tentang sakitnya itu. Ia dalam sebulan belakangan ini memang sedang mengambil kerjaan lepas untuk menjadi penulis konten dan mengurus admin media sosial salah satu start up di Jakarta Pusat. Ia diminta untuk menggantikan salah satu pegawainya yang lagi fokus mengerjakan tesis. 

Seminggu pertama, sih, betul-betul terasa menyenangkan dan menantang. Tapi hari-hari berikutnya ia berpikir kalau bekerja di tempat semacam itu sungguh membuatnya stres. Ia jadi selalu pulang tengah malam. Masuk pukul 9 pagi, pulangnya bisa pukul 9 atau 10 malam. Pokoknya kalau ada lemburan, ia bisa bekerja 12 jam atau lebih. Sayangnya, hampir setiap hari ia mesti lembur. Lembur atau tidak lembur sudah tidak ada bedanya lagi di kantor tersebut. Seolah kantor itu menyalahi aturan pekerjaan yang mestinya hanya 8 jam bekerja. Mana upah lemburnya juga terlalu murah, bahkan kadang nggak dibayar.

Ide-ide di kepalanya terkuras habis untuk pekerjaan kampret itu dan tidak sempat lagi mengisi blognya sendiri. Lebih-lebih di akhir bulan ini sangat memeras tenaga dan pikirannya. Akhirnya, ia pun tumbang. Menurut penjelasan dokter di salah satu klinik yang ia datangi, dirinya terserang gejala tifus.

Setelah terkena sakit begitu, betapa kesalnya Darma Haryanto dengan pekerjaan yang merangkap-rangkap dan ada tambahan di luar dari tugasnya itu. Awalnya, pekerjaan Darma Haryanto itu hanya bikin lima puluh artikel dalam sebulan dan bantu-bantu brainstorming. Lalu, tiba-tiba atasannya memberikan tugas tambahan untuk memegang salah satu akun media sosial karena karyawan yang bertugas sebagai admin media sosialnya mulai keteteran.

Lebih konyolnya lagi, kadang ia juga mesti membantu desain semenjak atasannya mengecek akun Instagram-nya yang terdapat beberapa gambar desain. Darma Haryanto tentu hanya iseng mendesain untuk pelariannya sewaktu jenuh menulis. Namun, atasannya itu berkata kalau desainnya cukup ciamik. Kala Darma Haryanto berusaha menolak, Pak Bos segera memakai kalimat ampuh yang sulit ditolak, “Hasil desainnya nanti juga bisa untuk portofolio kamu, kan?” 

Berengsek betul. Ia merasa Pak Bos mulai memanfaatkannya. Tapi pekerjaan sudah kadung ia ambil. Seorang Darma Haryanto kudu melakukan pekerjaannya dengan profesional. Sebetulnya, ia agak menyesal juga kalau tahu akan begini jadinya. Jika saja sedang tidak benar-benar butuh uang tambahan saat itu, mungkin tawaran kerja sebulan penuh itu tidak akan ia terima. Toh, ujung-ujungnya sebagian gajinya malah habis untuk berobat, serta membeli susu beruang dan pil cacing. Sama saja menukar kesehatan dengan uang, pikirnya. Baguslah sekarang pekerjaan itu telah selesai dan ia tidak perlu repot-repot masuk kerja dalam keadaan loyo setengah mampus. 

Sehabis Darma Haryanto curhat, mereka berdua pun terus lanjut mengobrol dari ini sampai itu. Sampai-sampai Darma Haryanto mengeluhkan kalau hari ini sudah terlalu banyak tidur-tiduran maupun tidur betulan. Dan, malam ini pasti jadi sulit untuk tidur. Saat itulah, Nisa Wulandari tiba-tiba bilang kalau dirinya dapat membantunya untuk tidur pulas. 

“Gimana caranya, Nis?”

Nisa Wulandari tidak menjawab dan segera memulai metodenya. Ia menyembunyikan tangan kanannya ke balik selimut yang Darma Haryanto kenakan untuk menghangatkan badannya yang menggigil itu. Tangan Nisa Wulandari kemudian masuk ke celana pendek Darma Haryanto, masuk lagi ke celana dalamnya, dan berakhir menemukan sesuatu yang memang ia cari-cari. Setelah itu, Nisa Wulandari mengelus tongkat saktinya. Ia pun mengocoknya perlahan-lahan. 

“Nis, kamu ngapain? Kamu gila, ya! Kalau ibuku tahu gimana?” 

“Ngomongnya jangan kenceng-kenceng, tolol! Lagian tenang aja, sih, ibumu sedang fokus menonton sinetron Jodoh Wasiat Ayah tadi.” 

“Tapi kita nggak wajar melakukan—“ 

“Kamu tapi suka, kan? Ini buktinya tegang,” ujar Nisa Wulandari, lalu menyeringai. “Palingan kamu kalo susah tidur juga biasanya kayak gini dengan tanganmu sendiri. Iya, kan?” 

Darma Haryanto tidak menjawab dan merasa malu. 

“Udah, pokoknya nikmatin aja. Sesekali aku bantuin pakai tanganku. Kamu tiduran aja deh biar semakin rileks.” 

Darma Haryanto pun tiduran sembari menatap wajah Nisa Wulandari yang manis dan menggemaskan itu. Lalu memperhatikan rambut lurus hitamnya yang sebahu. Menurut Darma Haryanto, bentuk wajah Nisa Wulandari sangat cocok dengan rambut seperti itu. Kemudian tatapannya turun lagi ke lehernya yang putih. Lalu turun lagi ke gunung kembarnya. Darma Haryanto pun tau-tau membayangkan hal yang jauh lebih dari ini. Ia benar-benar sadar kalau hal ini tidak benar. Apalagi membayangkan kalau Nisa Wulandari akan berbuat yang lebih gila. 

Darma Haryanto berusaha mengingatkan Nisa Wulandari untuk berhenti, tapi ia sendiri tidak dapat membuang pikiran-pikiran kotornya. Tubuhnya pun sulit sekali menolak kenikmatan itu. Kali ini gantian hatinya berkata, kalau apa yang tengah mereka lakukan saat ini tidak benar. 

“Nis, kenapa kamu jadi kayak gini ke aku? Kita nggak berada dalam cerpen Haruki Murakami, kan?” 

“Kamu kebanyakan baca dan nulis fiksi, Dar. Udah diem aja dan nikmatin.” 

“Tapi kenapa harus kayak gini?” 

“Anggap saja ini bentuk rasa sayangku ke kamu.” 

“Hah?” 

Darma Haryanto jelas tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Ia sekali lagi ingin menyudahi perbuatan bodoh ini, tapi semakin lama berahinya juga semakin susah untuk dikendalikan. Akhirnya, cairan itu pun keluar banyak sekali. Nisa Wulandari langsung membersihkan tangannya yang lengket itu dengan mengusapnya ke celana dalam Darma Haryanto. Tubuh Darma Haryanto seketika itu langsung lemas dan Nisa Wulandari pamit pulang. 

“Makasih, ya,” ujar Darma Haryanto lirih. 

Nisa Wulandari cuma tersenyum dan keluar dari kamar Darma Haryanto. Kamar yang penuh dosa. Mata Darma Haryanto kala itu otomatis terpejam, tapi ia masih mendengar suara saat Nisa Wulandari berpamitan pulang kepada ibunya. Setelah itu, ia tidak mendengar apa-apa lagi dan kesadarannya pun hilang. Ia tidur sangat nyenyak malam itu. 


Darma Haryanto terbangun pukul 05.10 karena alarmnya berbunyi. Bangun-bangun, ia langsung mempertanyakan kejadian semalam. Apakah itu nyata atau mimpi? Namun, ia betul-betul merasa itu bukanlah mimpi. Untuk memastikannya, ia mengecek pesan dari Nisa Wulandari yang dikirimkan pukul tujuh malam. 

“Aku mendadak ada lemburan sampai jam sembilan nih. Mungkin baru sampai tempatmu jam 10 atau setengah 11. Takut kemaleman. Besok aja kali, ya? Maaf banget.” 

Jadi, yang semalam itu mimpi? 

Darma Haryanto sebetulnya tidak akan menyangka kalau hal gila semalam tersebut betul-betul terjadi secara nyata. Ia pun merasa bersyukur. Sejauh ini, ia tidak pernah macam-macam dengan perempuan, kecuali memeluk atau cium pipi. Seraya membuang gambaran kotor di mimpinya, Darma Haryanto lalu mengabari Nisa Wulandari jika lebih baik bertemunya hari Sabtu pagi saja di sebuah taman dekat rumahnya. Hari Jumat ini, ia sudah merasa agak baikan dan tak perlu dijenguk. Ia mulai berani mandi. Ya, meskipun menggunakan air hangat. Lagi pula, ia terpaksa mandi sebab mimpi basah semalam. Hari Jumat ini, ia tidak banyak kegiatan. Setelah Jumatan, ia pun memilih untuk tidur lagi. Pokoknya hari ini mesti fokus beristirahat demi besok semakin pulih dan dapat menepati janji untuk bertemu Nisa Wulandari. 


Keeseokan harinya pada pukul 10 pagi, Darma Haryanto sudah berada di taman tempat mereka janjian untuk berjumpa. Nama taman ini ialah “Taman Gemini”. Entah mengapa nama taman ini bajingan banget, pikirnya. Hanya karena taman ini terbentuknya pada awal bulan Juni, kenapa harus diberikan nama zodiak? Kayak nggak ada nama lain aja. Tapi, apakah sebuah taman juga memiliki zodiak? Kelamaan menunggu seperti ini terkadang membuat pikirannya ngawur. 



Lalu ia duduk di salah satu bangku panjang di taman itu yang dekat dengan pintu masuk. Taman Gemini ini terdapat belasan bangku panjang yang berjumlah antara 16 atau 18. Darma Haryanto sudah lupa jumlah tepatnya. Ia pun sedang malas menghitung ulang. Ia kemudian melupakan persoalan jumlah bangku di taman ini dengan memperhatikan salah satu bagian taman yang memanjakan matanya. Ia memandangi warna hijau, yang sudah pasti adalah rumputnya; kuning, yang merupakan bunga legistrum; dan ungu, entah apa nama bunganya sebab ia memang tidak banyak tahu nama-nama bunga. Ia berpikir, beberapa taman di Jakarta biasanya akan selalu ada bagian taman yang dihias dengan tiga warna itu. Bentuk rumput dan bunganya pun selalu sama. 

Tak lama setelah itu, Nisa Wulandari datang menyapanya dan duduk di sebelah kanannya. Ia mengenakan kaos lengan panjang berwarna biru telur asin. Ia menutupi kaki indahnya dengan celana denim hitam dan sepatu Converse putih. Tercium aroma parfum menyegarkan. Nisa Wulandari pernah berkata kalau wangi parfumnya itu ialah paduan antara bunga anyelir dan lili putih.

“Maaf ya, aku telat datang. Tadi sama ibuku disuruh beres-beres dulu baru boleh pergi.” 

Darma Haryanto hanya terdiam. Nisa Wulandari pun menganggap kalau Darma Haryanto bete kelamaan menunggu. Ia melihat jam tangannya, terlambat 40 menit dari jadwal yang telah mereka sepakati. Ia meminta maaf sekali lagi. Darma Haryanto masih bergeming. Sudah tiga kali meminta maaf dan tidak mendapatkan respons, Nisa Wulandari pun menyerah. Akhirnya, keheningan mulai menyelimuti mereka.

“Aku beneran kaget diriku masih bisa ngerasain sakit,” kata Darma Haryanto membuka percakapan. 

Mendengar kalimat nggak jelas dari mulut temannya itu, Nisa Wulandari langsung kesal. Rasa jengkel karena tadi dicuekin itu juga cukup menambah kemarahannya, lalu ia bilang, “Kamu ini tolol ya, Dar? Semua manusia jelas bisa sakitlah. Emang kamu itu dewa? Malaikat? Sendok? Kertas? Bantal?”

“Guling,” potong Darma Haryanto. 

“Eh, aku tadi juga mau bilang itu!” 

Keduanya pun tertawa bersamaan. Darma Haryanto lalu bercerita kalau dirinya sudah berbulan-bulan sebelumnya tidak pernah sakit. Baru kali ini ia sakit kembali. Cukup parah pula sampai terkena gejala tifus. Kemudian Nisa Wulandari coba mengaitkan hal itu tentang kebiasaan Darma Haryanto yang sebelum-sebelumnya selalu rajin menumpahkan perasaannya ke dalam tulisan. Membuang pikiran-pikirannya dari hal buruk konon bisa menjauhkan dari penyakit. Nisa Wulandari lalu mengutip salah satu artikel yang pernah ia baca, “Menulis itu merupakan terapi jiwa. Segala sakit awalnya berasal dari pikiran kita sendiri. Dengan menulis, pikiran kita bisa jernih. Pikiran dan jiwa yang sehat tentu bikin tubuh tidak gampang terkena penyakit.” 

“Iya, ya. Kalau dipikir-pikir betul juga,” ujar Darma Haryanto. 

“Makanya kamu nulis lagi dong, Dar. Menulis yang memang untuk diri sendiri, bukan nulis untuk pekerjaan.” 

“Aku bingung mulainya, Nis. Udah coba nulis, tapi hasilnya jelek mulu. Mau curhat aja rasanya kaku.” 

“Ya, kayak yang pernah kamu bilang waktu itu aja. Menulis dari keresahanmu.” 

Darma Haryanto lalu menjelaskan tentang dunia blog yang semakin sepi, yang memberikan komentar sedikit, trafik menurun parah, dan seterusnya. Kelamaan menunda untuk menuliskan sesuatu ternyata bikin dirinya sulit memulai kembali.

“Udah tulis aja dulu. Jelek, kan, nanti bisa diedit. Aku akan selalu menjadi pembaca setia tulisanmu. Baik nantinya memberi komentar di blog, japri di WhatsApp, ngomong langsung, maupun cukup membacanya saja.” 

“Kamu kurang kerjaan, Nis.” 

“Aku justru butuh pelarian dari pekerjaanku itu dengan membaca. Aku nggak mungkin, kan, baca buku pas kerja?” 

Darma Haryanto mengangguk. “Iya, lalu?” 

“Aku palingan cuma bisa curi-curi waktu baca satu-dua artikel blog. Dan, biasanya tulisan-tulisanmu di blog itulah yang entah kenapa selalu bisa membuatku rileks lagi dalam bekerja. Tulisanmu menghilangkan jenuh.”

“Kamu berlebihan.”

“Aku sungguh-sungguh memuji tau. Hm, tapi aku ngomong kayak gitu nggak ada maksud apa-apa, ya. Kamu jangan ge’er atau gimana-gimana.” 

Darma Haryanto lalu diam saja. Ia teringat mimpinya pada malam itu dan ingin memberi tahu Nisa Wulandari kalau dirinya sempat mengatakan tentang bentuk rasa sayang yang disampaikan lewat perbuatan kacau itu. Namun setelah ia pikir-pikir lagi, mungkin lebih baik untuk merahasiakannya. Biarkan hal itu tersimpan menjadi mimpi paling indah sekaligus aneh.

Lagian, tidak mungkin Nisa Wulandari suka kepadanya. Karena ia memang hanya sebatas sahabat. Darma Haryanto pun merasa tidak ada perasaan lebih dari itu, sebab kalau dari awal berniat untuk bersahabat, ya pastilah bisa sahabatan. Walaupun beberapa orang suka bilang jika perasaan bisa tumbuh dalam persahabatan. 

Ia pun menyingkirkan pikiran sahabat jadi cinta itu sejauh mungkin, tapi gambaran ketika tangan Nisa Wulandari membuatnya enak dan perkataan “Anggap saja itu bentuk rasa sayangku ke kamu” muncul kembali. Mimpi bajingan itu betul-betul mengganggu pikirannya. 

Cuaca pukul sebelas siang semakin panas, bagusnya tempat mereka duduk dipayungi beberapa pohon palem segitiga. Pohon itu lumayan memberikan hawa sejuk. Tapi Nisa Wulandari mulai mengeluhkan gerah dan mengajak Darma Haryanto membeli es krim. Di dekat tempat mereka duduk memang terdapat beberapa penjual makanan; pedagang mi ayam, pedagang cilok, pedagang otak-otak, dan pedagang es krim. 

Nisa Wulandari memilih es krim Magnum, sedangkan Darma Haryanto es krim dalam cangkir kecil rasa cokelat dan vanila. Mereka kembali duduk di bangku panjang tempat duduknya semula dan menyantap es krim itu. Kemudian Nisa Wulandari bertanya, “Pulang dari taman ini kamu bakalan menulis lagi, Dar?” 

“Mungkin kupikir begitu.” 

“Entah kamu tetep bertahan untuk vakum berapa lama lagi. Tapi aku mau mengingatkan satu hal: meskipun blog lagi sepi, bukankah kamu bisa jadi salah satu yang rajin? Jangan malah ikut-ikutan males.”

“Dibilang aku beneran bingung harus mulai dari mana, Nis.”

“Saat udah lama nggak nulis, mulailah dari tulisan yang sederhana. Yang singkat-singkat saja untuk sebuah permulaan.”

“Eh, kalimatmu barusan seperti twit ...,” kata Darma Haryanto berusaha memikirkan siapa orang yang pernah menulis kalimat sok tahu seperti itu. 

“Hayo, siapa?” 

“Hm, Akbar Yoga Sulaeman, bukan?” 

Nisa Wulandari mengangguk. Mereka berdua kemudian membicarakan si bloger yang terkenal hobi curhat dan cuek cenderung masa bodoh setiap menulis tersebut. Bloger yang berkali-kali ikut lomba, tapi belum juga mendapatkan kemenangan dalam setahun terakhir ini. Bodohnya, ia masih terus menulis dan mempelajari tulisan-tulisan para pemenang lomba itu agar suatu hari juga bisa menang. Ia sudah lama nggak dapet tawaran kerja sama pula, tapi ia tetap gigih ngeblog dengan sepenuh hati karena ngeblog bukan perkara uang. Yang terpenting dirinya puas dan bahagia setiap selesai menulis. Hal itu sudah lebih dari cukup baginya. Akhirnya, Darma Haryanto mendadak merasakan api semangatnya berkobar kembali. Pulang dari taman ini ia tahu harus melakukan apa untuk menjernihkan pikiran.

--

Gambar saya pinjam dari Pixabay.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

45 comments

  1. Wah enak banget y
    Hmmm sayang cuma mimpi
    Coba kalo kenyataan
    Menang banyak tuh dia
    Semoga suatu hari nanti si Otong bisa mewujudkan mimpinya itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenyataan di dalam cerita fiksi apakah enak juga, Nik? Semoga, ya~

      Delete
  2. si blogger ini memang inspiratif :)

    ReplyDelete
  3. *Ingin berkata kasar*

    4 blogpost dalam sebulan aja saya masih kembang kempis, lah sih Darma jobdesknya bikin 50 artikel. Sejujurnya kalau udah dapet tawaran kerjaan yang diluar jobdesk kita, males juga. Tapi ketika ada embel-embel gaji lah, buat portofolio lah, demi loyalitas ke perusahaan lah, mau tidak mau ya akhirnya bakalan dikerjain juga-__-

    Kok ini yang masuk ke cerita cuma 3 orang? WIRDY kan membernya 5, bukan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wqwq. Silakan berkata kasar~

      Begitulah pekerjaan, Mas Wis. Kadang Pak Bos meminta lebih dari kesanggupan kita. Padahal Tuhan saja memberikan cobaan yang sesuai kemampuan. :)

      Kalau diperhatikan kembali, nama-nama mereka itu digabungkan.

      Delete
    2. bukan hanya di cerita fiksi aja. dikehidupan nyatapun banyak kan ya.. bekerja di luar jobdesk.. bekerja diluar jam dengan uang lembur dibawah standar.

      terlebih kerja sebagai conten writing/copywriting.. butuh energi yang sangat banyak.. dipaksa memunculkan ide2 soalx..

      meskipun fiksi
      tapi banyak yg kita ambil dari postingan ini.
      termasuk semi-nya.. #EH


      Delete
    3. Iya, terkadang menulis masih dianggap remeh. Tapi, banyak juga kok perusahaan yang berani membayar mahal. :)

      Astagfirullah. Bagian itu apa bagusnya, sih? XD

      Delete
  4. Hmm, ngeblog selain uang juga menyalurkan isi hati we. Kalau aku sih gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyiklah, yang suka menyalurkan isi hati~ Wqwq.

      Delete
  5. Walaupun hanya dalam mimpi, Nisa Wulandari sangat ahli dalam melakukan gerakan tangan itu ya.

    BANGSYAATT AKBAR YOGA SULAEMAN :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah jika dua ciwik atraktif seperti kita (Nisa, Wulan) dipersatukan.

      Delete
    2. Tapi aku masih ga terima. Karena nama Nisa terlalu sholehah untuk tokoh yang handal dalam gerakan tangan:(
      Lebih cocok pake nama Ichakhai:(

      Delete
    3. Oh, jelas~ Dia itu sudah khatam tentang hal sejenis itu. Bahaha.

      ((Ichakai))

      Delete
    4. Hahaha pas blognya, terus baca komentarnya, gue balik lagi baca blognya untuk memastikan tadi bener ga sih Nisa atau Rahayu yang gue lihat padahal penyebutan namanya sudah lengkap wkwk :D

      Delete
    5. HAHAHAHAHHAHAHAHAHAHHAHAHAHHAHAHA.

      Delete
  6. Bangke bener hahahahak. Nisa Wulandari anjir. Teguran, himbauan, ajakan untuk tetap menulis meskipun dunia blog tetap sepi yang sangat bajingak.

    JODOH WASIAT AYAH PALING TAIK SIH. MEMANG TONTONAN BUIBU SIK ITU, DITAMBAH SAMA SINETRON ORANG KETIGA HAHAHHAHAK.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepi justru bisa bikin menulis lebih luwes. Semakin sedikit yang baca, semakin percaya diri dan nggak mikirin segala keruwetan dalam ngeblog.

      Kamu salah satu penontonnya ya, Cha?

      Delete
    2. Apa cuma saya nggak paham apa itu jodoh wasiat bapak? :(

      Delete
  7. Kalau kerjaan yang dikasih udah nggak sesuai dengan isi moU ya harusnya jangan mau lah. Penyiksaan diri itu namanya. Kecuali tiap lembur ada Nisa Wulandari versi mimpi yang menemani, nggak papa. :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mestinya begitu, Man. Mungkin Darma Haryanto sudah telanjur menyanggupi. Biar sekalian buat portofolio. Yeh, mau-maunya ditemenin lembur (lemesin burung) Mbak Nisa. Dasar~ Haha.

      Delete
  8. Lagi asyik-asyik baca, eh.. di tengah-tengah ada adegan porno.
    Syukur cuma mimpi.
    Mimpi dalam kisah fiksi. ๐Ÿ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu nggak porno, Mas. Mimpi basah kan hal yang lumrah.

      Delete
  9. ketika ada kerjaan di luar jobdesk biasanya aku hanya ingin menjadi siluman laba-laba
    okelah, seminggu makan bubur itu gak enak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tiga hari berturut aja udah enek dan bosen. :(

      Delete
  10. Dan itulah blogger yang keren :)

    ReplyDelete
  11. Yasalm, ampuni hamba baca cuplikan porno begitu Tuhan. Hahaha
    Eh itu si darma haryanto kok malah beli es krim sih, nanti tifusnya kambuh loh, ckckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setahu saya es krim nggak bikin kambuh deh. Lagian, Darma masih gejala tifus, kok. Ahaha.

      Delete
  12. Wuidiih bagus ini. Huahahaha. Untung cuma fiksi. Eh tapi bisa jadi nggak fiksi sih. Siapa yang tahu aja kan orang yang namanya darma2 itu beneran mimpi... pengen jadi blogger yang rajin apdet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entahlah, si Darma dalam dunia nyata ini masih pengin ngeblog atau nggak. Dia pindah media ke Tumblr, sih. Ehehe.

      Delete
  13. Ia selalu teringat akan janji yang pernah Nisa Wulandari bilang: Jangan pernah ada kebohongan di antara kita...

    SUmpah yog , ngakak pas disini :D

    ReplyDelete
  14. di part akhir ada Narsis Terselip wkwkwkwkkwwkwkkwkwkwkw

    Awesome story
    Btw kalo aku boleh saran nama tokoh nya kayaknya gak perlu melulu ditulisin nama lengkap gitu deh. agak aneh. Coba mungkin disebutin sekali aja di awal, terus berikutnya jadi Darma dan Nisa aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, nama itu mesti ada dong. Wahaha. Iya, Ul. Saya sadar kalau itu kepanjangan dan kurang enak pas dibaca. Namun, khusus di cerpen ini saya memang pengin pakai nama lengkap sampai akhir, sebab tulisan ini didedikasikan buat temen-temen yang namanya saya gabung itu.

      Delete
  15. Njir namanya Nisa Wulandari hahahaha
    Jungkir balik banget itu nama sama khayalan tingkat tinggi saya wkwkwkwk
    Tapi pas, buat menjernihkan pikiran hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kagak cocok sama kelakuan di dalam cerita gitu? Padahal itu gabungan dari nama temen saya. :)

      Delete
  16. Replies
    1. NAMPOL BENER ANJER INI MAYANG HAHAHAHAHAHAHAHAK

      Delete
    2. Saya nggak bilang insyaf, saya cuma pernah menuliskan kalau ingin mengurangi hal-hal kayak gitu. Tapi, cerita ini memang butuh bumbu mesum. :)

      Delete
  17. Anjayy, cerita semi :v , untung cuma mimpi yakk... kalo beneran gawat noh... nambah ;omg

    ReplyDelete
  18. Aku bangun seperti hujan yang pulang ke langit.

    Paling suka kalimat ini, dan indah bngat perumpamaannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalimat Mas Aan Mansyur memang unik. :)

      Delete
  19. Hahahaha ๐Ÿ˜ƒ
    Cerita bagian tengahnya ....Lucu

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.