Saya kerap mendengar pertanyaan dari teman yang bingung ketika melihat saya selalu menggunakan tas kala bepergian. Pertanyaan itu bisa berupa: “Lu mau ke mana deh segala bawa tas?”; “Lu habis dari mana emang, Yog?”; atau bisa juga “Mau minggat lu?”.

Saya memang keseringan menggendong tas ransel, baik itu yang perginya jauh ataupun dekat dari rumah. Alasan saya melakukannya ialah, saya perlu membawa buku saat ke luar rumah. Tentu saja saya kurang nyaman kalau hanya menentengnya ke mana-mana. Saya juga takut jika buku itu akan rusak nantinya, kehujanan misal. Jadi, akan lebih mudah dan aman jika saya menyimpannya di dalam tas. 

Bagi saya, membaca buku merupakan satu-satunya cara membunuh waktu dan mengusir bosan paling ampuh. Selagi menanti kereta di stasiun, saya bisa sambil membaca buku. Terus yang paling sering terjadi, yakni menunggu teman di suatu tempat sewaktu janjian bertemu. Saya termasuk orang yang tepat waktu saat janjian, sedangkan teman-teman saya entah mengapa hobi datang telat. Nah sembari menanti teman saya yang terlambat datang, alangkah baiknya saya menghilangkan kejengkelan itu dengan membaca buku.

sumber: Pixabay (lalu diedit sesukanya)


Sebetulnya, saya bisa saja memainkan permainan di ponsel, tetapi kondisi ponsel saya kurang cocok untuk hal tersebut karena keterbatasan memori. Jika memang cuma ingin membaca, saya juga sebenarnya dapat membaca artikel di blog ataupun e-book. Bahkan, kadang ada beberapa teman yang aneh melihat saya repot-repot membawa buku lalu membacanya alih-alih memainkan ponsel. Ia pun memprotes atau meledek, “Zaman udah canggih juga. Lu, kan, bisa baca di hape.” 

Biasanya saya diam saja atau tersenyum untuk merespons kalimat kayak gitu. Namun, saya juga kadang ingin menjawab, “Kenikmatan membaca buku fisik itu sulit tergantikan. Bau kertasnya itu, loh.” Setelah itu, saya akan gantian meledek teman saya dengan mendekati buku yang sedang saya pegang itu ke wajah. Hidung pun mengambil tugasnya untuk menghirup aroma surga tersebut.
Read More
Aku bertanya kepadamu, ini mimpi atau nyata? 

Kau tidak menjawab pertanyaanku. Aku mengulang pertanyaan itu dengan suara lebih keras dari sebelumnya. Kau begitu datar dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka mulut. Aku kesal sekali diabaikan. Kali ini aku bertanya dengan agak membentak. Kau masih tetap bergeming. Aku pun langsung memukul wajah dan mendorongmu sampai kau terjatuh. Kau masih belum menjawabnya, bahkan wajahmu tidak berekspresi sama sekali. Aku menduduki tubuhmu tepat di bagian dada dan menghajar wajahmu lagi. Kulakukan berulang kali hingga kau mau menjawabnya. 

Namun, kau masih diam saja. Menatapku tajam dan dingin. Tanpa merasakan sedikit pun sakit. Aku pun jadi lelah sendiri dan menghentikan tonjokan itu. Sambil mengatur napas hingga dapat bernapas dengan normal, aku kembali bertanya kepadamu, “Ini mimpi atau nyata?” 



Celakanya, kau masih saja bisu. Jantung memompa darah lebih cepat ke seluruh tubuh dan berkumpul paling banyak di bagian kepala dan kedua tanganku. Lagi-lagi pukulan mendarat di wajahmu berkali-kali sampai kau babak belur. Seraya menghancurkan wajahmu, aku terus menanyakan hal itu kepadamu, ini mimpi atau nyata? 

Kemudian aku tiba-tiba menangis karena merasa hampa. Aku telah menyakiti orang lain. Tapi, aku seakan-akan sedang menyakiti diriku sendiri. Tanganku perih sekali. Dan, yang lebih tidak bisa kupahami, mengapa rongga dadaku terasa sesak? Mungkin sakit yang kuterima justru lebih mengerikan daripada apa yang kulakukan terhadapmu. 
Read More
Pada masanya, saya pernah bodoh dalam membedakan mana itu novel, mana buku kumcer (kumpulan cerita). Jika saat itu Rani—teman yang ingin meminjam buku—tidak bertanya, “Koleksi novel lu ada apa aja, Yog?”. Mungkin saya akan semakin terlambat mengetahuinya. Kala itu saya menyebutkan koleksi saya yang memang sedikit, yaitu novel-novel Andrea Hirata, Adhitya Mulya, Raditya Dika, dan Alitt Susanto.

Rani pun bertanya, apakah Raditya Dika punya karya berbentuk novel? Terus, Alitt Susanto itu siapa? Saya dengan penuh rasa percaya diri langsung menjawab buku-bukunya yang bertema binatang. Saya juga memberi tahunya kalau buku Alitt tidak jauh berbeda dengan Radit. Kemudian Rani tertawa dan memberitahu saya, “Itu mah kumpulan cerita, bukan novel, Yog. Jangan disamain.” Ia mulai menjelaskan kalau novel ceritanya panjang dan utuh dari awal sampai akhir, sedangkan buku-buku yang tiap bab berbeda kisahnya bukanlah novel. Setelah itu ia menambahkan, “Katanya mau jadi penulis, tapi bedain gitu aja nggak bisa.”

Ya, Allah. Rasa-rasanya saya langsung ingin mengubur mimpi menjadi seorang penulis. Lebih baik pindah haluan jadi tukang gali kubur saja. Tentunya, saya tidak mengubur manusia, tapi tukang mengubur mimpi. Atau, saya jadi direktur di PT Mencari Cinta Sejati. Setidaknya, saya berpikir itu lebih baik daripada penulis, sebab sudah telanjur malu dengan ledekan Rani. Oleh karena itulah, saya sampai saat ini belum menerbitkan satu pun buku. Ya, mencari-cari alasan kayak gini memang enak betul.

Kembali ke persoalan Rani yang ingin meminjam novel, akhirnya kami saling tukaran dalam pinjam-meminjam buku. Saya meminjamkannya novel Jomblo karya Adhitya Mulya, sedangkan Rani memberikan buku kumpulan cerita Pidi Baiq, Drunken Molen.

Sekarang, ketika saya sedang membereskan rak buku sembari mengingat kejadian itu, saya mulai memperhatikan koleksi buku-buku saya. Rupanya, di rak kebanyakan buku kumcer dan sejak dulu saya lebih menyukai jenis buku tersebut. Saya pikir, baca kumcer tidak memerlukan keterikatan. Saya bisa bebas membaca ceritanya yang mana saja. Beda dengan novel yang kudu urut dari awal, serta mesti meluangkan banyak waktu.



Namun, pada tahun 2017 saya mulai membiasakan diri untuk lebih banyak baca novel. Siapa tahu suatu hari saya juga pengin menulis novel. Saya pun dapat belajar dari novel-novel yang telah saya baca itu. Ya, biarpun pada akhirnya jumlah kumcer yang saya baca tetap jauh lebih banyak dari novel. Intinya, inilah daftar novel yang saya baca di tahun 2017.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home