Kala saya duduk di bangku SD, sekitar tahun 2000-2006, musik-musik yang biasa saya dengarkan adalah Slank, Iwan Fals, Peterpan (yang kini telah berganti nama menjadi Noah), Dewa, Sheila on 7, dan lain-lain. Saya cuma bisa menikmati lagu-lagu lokal. Saat itu, saya memang tidak tahu mengenai musik-musik luar negeri atau yang berbahasa Inggris, sebab dulu referensi saya sangat terbatas. Saya hanya bisa mengenal musik dari televisi atau radio. Pada zaman itu, internet masih cukup langka. Warnet-warnet pun kalau tidak salah baru menyediakan permainan Counter Strike. Jarang sekali yang sudah ada online games.

Syukurnya, saat memasuki SMP saya dijejali banyak lagu luar oleh teman-teman di kelas. Saya tidak tahu mereka mengetahui lagu-lagu tersebut dari mana. Entah karena mereka terbiasa membaca majalah musik, sudah mengenal internet, atau mungkin saya saja yang memang kurang pergaulan. Terlepas dari hal itu, yang penting saya jadi berkenalan dengan musik-musik baru. Saya mulai mengetahui Linkin Park (yang sebelumnya ternyata sudah saya dengarkan ketika bermain Winning Eleven di PlayStation 1), Blink 182, Green Day, My Chemical Romance, Thirty Seconds to Mars, dan seterusnya, dan sebagainya. 



Read More
Robby Haryanto membagikan sebuah tautan yang mewartakan tentang diskonan buku di Gramedia Matraman, Jakarta Timur, ke grup WhatsApp WIRDY. Sebagai orang yang hobi membaca buku, saya tentu saja langsung tergiur. Namun awal tahun ini keuangan saya sedang kurang baik, sebab bulan lalu baru saja membeli charger laptop agar Asri kembali menyala. Ditambah lagi, upah kerja lepas minggu lalu masih saja belum turun. Akhirnya, saya cuma bisa menjawab miskin :(.


via: Pixabay (yang kemudian saya edit sesuka hati)

Beberapa hari setelah itu, syukurnya honor dijanjikan akan turun. Saya pun menanyakan kepada Robby, itu diskonannya sampai kapan dan masih tertarik untuk datang nggak? Ia merespons saya dengan antusias. Ayo-ayo aja, mumpung lagi libur kuliah dan males di rumah. Mantap. Kami pun sepakat bertemu di sana pada hari yang dijanjikan.

Pada hari yang telah kami sepakati dan saya sudah dalam perjalanan sembari mencari pom bensin, tiba-tiba terdengar bunyi ringtone aurora dari kantong celana kiri saya. Sebuah notifikasi personal chat WhatsApp. Karena pom bensin sudah cukup dekat, saya pun mengabaikannya untuk sementara. Tak lama, suara yang sama terdengar kembali. 

Begitu tiba di pom bensin, saya tidak langsung mengantre dan memilih untuk mengecek ponsel dahulu. Terdapat pesan dari Robby yang menanyakan saya sudah berangkat apa belum. Pesan berikutnya, ia bilang kalau lupa turun di Matraman. Saya refleks membalasnya dengan emoji tertawa yang keluar air mata. Lalu saya mulai bertanya, sekarang di mana dan enaknya bagaimana?

Kemudian, ia menjawab kalau sedang di Halte Tosari dan menyuruh saya untuk ketemuan di Bunderan HI (Hotel Indonesia) aja. Saya pun mengingatkannya kalau wilayah itu motor tidak dapat melintas. Kami mau tak mau harus kembali ke rencana awal: bertemu di Matraman.

*

“Harganya masih termasuk mahal, Rob. Terakhir lu ke sini, emang kayak gini?” tanya saya kepada Robby.

“Iya, buku-bukunya juga nggak jauh beda sama yang bazar kemarinan.”

Pertama kali mendatangi diskonan di Matraman, seingat saya banyak buku-buku yang diobral dengan harga 5.000-10.000. Sedangkan saat ini, bukunya kebanyakan seharga 20 ribu atau lebih. Akhirnya, saya dan Robby belum mengambil satu pun buku. Kami berdua rasanya agak malas kalau harganya segitu. Mending buat makan, pikir saya. Mungkin kalau di dalam pikiran Robby, lebih baik buat mengisi saldo kartu TransJakarta. Secara dia, kan, rajin banget naik TransJakarta. Kalau dia rajin naik Gojek, mungkin untuk mengisi saldo Gopay. Jika dia rajin naik buraq, ya mungkin buat beli makanan buraq.

Lelah karena tidak mendapatkan buku yang paling murah, saya kemudian memainkan ponsel dan membuka Twitter. Rupanya, terdapat mention dari Haw (bloger Pontianak) yang memberi tahu saya kalau dirinya sedang berada di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dalam seminggu ini, ia memang sedang berkunjung ke rumah kerabatnya di Bogor. Saya pun bersahut-sahutan di dunia maya untuk menyuruhnya menyusul. Namun, dia sedang ada urusan dan akan berkabar lagi jika keperluannya sudah usai. Asyik, nggak nyangka nanti bisa sekalian kopdar sama bloger lainnya.

Saya kembali melihat-lihat buku seraya menanti kabar dari Haw. Tidak ingin pulang dengan tangan hampa, maka saya pun mencomot dua buah novel yang harganya Rp15.000. Lumayanlah, setidaknya nilai satu buku itu belum mencapai angka kepala dua. Kalau Robby, sih, masih berusaha mencari buku yang harganya sepuluh ribu.

Meskipun sudah malas dengan buku-buku diskon yang dijual, anehnya mata saya masih terus mencari-cari harta karun tersembunyi. Siapa tahu, saya bisa mendapatkan buku bagus di antara tumpukan buku seperti 2 tahun silam—saat saya menemukan buku kumcer Murjangkung, A.S. Laksana.

Akhirnya, Robby mengambil satu buah buku (saya lupa apa judulnya) seharga Rp10.000. Sebuah pencarian yang tidak sia-sia. Tak lama, saya juga menemukan sebuah buku yang sebelumnya pernah saya incar sewaktu datang ke BBW (Big Bad Wolf) pada April 2017. Namun karena waktu itu saya tidak ingin terlalu boros, saya menunda untuk membelinya. Sedihnya, sekarang harganya sudah tidak sama lagi. Waktu itu seingat saya cuma Rp18.000, saat ini malah jadi Rp25.000. Bedebah. Kalau tahu akan begini, ketika itu mah mending saya beli dan tidak perlu banyak berpikir.

Alih-alih langsung mencomot buku itu, saya kembali ragu-ragu untuk membelinya. Entah mengapa, saya masih gondok akan kenaikan harganya. Bagaimana bisa sebuah pergantian tahun mendadak bikin harga buku melonjak naik tujuh ribu. Sebagai alumni mahasiswa ekonomi, saya tentu sangat perhitungan akan harga yang tidak wajar begini.

Apalagi itu uangnya, kan, dapat saya gunakan buat beli mi instan di Warmindo. Ya, beberapa orang pasti akan mementingkan beli makanan daripada beli buku. Wahai Pemerintah, tolonglah turunkan harga buku! Bagaimana mau mencerdaskan kehidupan bangsa kalau begini caranya? Tapi, protes seperti itu rasanya tak berguna. Saya pun segera mengambil buku tersebut dan membawanya ke kasir tanpa berpikir macam-macam lagi. Belum tentu bukunya kelak tersedia kembali dan harga bisa saja semakin tinggi.

Sehabis membayar, saya dan Robby iseng melihat-lihat buku-buku lagi. Bedanya, ini bukan buku yang diskon, melainkan buku yang terdapat di toko bukunya. Kami awalnya mampir ke rak novel romansa, lalu membicarakan bagaimana tema percintaan selalu laku di pasaran. Karena kami berdua adalah tipe bloger yang dominan menuliskan cerita sehari-hari di blog, timbul suatu pertanyaan: “Kenapa buku kumpulan cerita keseharian semakin langka, ya?”

Pertanyaan tersebut kami lontarkan tanpa jawaban. Di dalam hati masing-masing, mungkin kami menjawabnya. Dan di dalam hati ini, saya merasa kalau buku kayak gitu sudah bukan masanya lagi. Lagian, saya perlu bercermin. Memangnya saya siapa? Untuk apa orang-orang membaca kisah hidup saya? Saya begitu sadar kalau curhatan itu tidak semuanya berguna. Nggak semua orang pengin tahu kehidupan personal orang lain. 

Kami berdua sejujurnya masih ada keinginan untuk menerbitkan buku. Namun, apakah kami perlu mengikuti selera pasar untuk sebuah  buku debut? Terlebih lagi novel yang asalnya dari Wattpad dan telah dibaca jutaan kali. Memandangi buku yang sudah dicetak ulang lebih dari lima kali itu benar-benar menggoda. Mungkin tidak menjadi diri sendiri itu nggak apa-apa kali, ya. Nanti kalau udah punya pasar, baru deh keluarin idealisnya.

Ah, sayangnya itu cuma pikiran sekadar lewat saja. Hal macam begitu hanya menunjukkan bagaimana kami berdua iri melihat penulis yang umurnya lebih muda, tetapi sudah menerbitkan buku. Robby, sih, usianya tidak terpaut jauh. Saya nih yang seperti dipecundangi. Hadeh. Saya pun berusaha membuang pikiran-pikiran buruk tentang menjadi penulis itu jauh-jauh. Kalau suatu hari saya emang pengin nerbitin buku, saya tentu akan tetap menerbitkannya dengan menjadi diri sendiri. Saya kemudian iseng membaca beberapa buku kumpulan puisi yang sampulnya sudah terbuka. Hitung-hitung buat belajar menulis sajak.

Saya kembali mengecek ponsel, Haw belum juga memberikan kabar lebih lanjut sejak tadi. Lalu, saya pun berinisiatif menanyakan kabarnya lagi untuk jadi menyusul atau nggak. Beberapa saat setelah itu, Haw memberi tahu kalau dirinya sedang berada di Wisma 77, Slipi, Jakarta Barat. Suasana lalu lintasnya macet banget gila, aku pusing lihatnya nih, keluhnya.

Membaca pesan itu, saya langsung kaget karena tempatnya sungguh dekat dengan rumah saya. Saya terus terang saja sudah tidak peduli lagi akan macet, sebab begitulah keadaan Jakarta. Jadi nggak perlu terkejut. Kemudian saya pun bertanya kepada Robby baiknya gimana, mau samperin ke sana atau pulang aja? Mumpung sedang liburan, Robby bersedia main-main dulu dan tidak langsung pulang. Setelah urusan di toko buku dan salat Magrib selesai, saya dan Robby pun segera menuju Slipi. Pertualangan pun dimulai.

**

Kala saya dan Robby sudah memasuki daerah Tanah Abang—yang jaraknya sudah dekat dengan Slipi—lalu lintas mendadak padat merayap. Tentang macet yang Haw bilang tadi, ternyata betul-betul di luar dugaan saya. Ini mah bukan macet yang biasa saya rasakan. Ini jauh lebih gila lagi. Saya entah mengapa langsung berkhayal ingin menabung banyak uang untuk membeli helikopter. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Jakarta pada tahun 2020 kalau tetap memilih bepergian naik motor. Walaupun saya juga belum tahu nanti mau parkir helikopternya di mana. Ya, namanya juga mengkhayal.

Tangan saya sudah keterlaluan pegalnya karena sedikit-sedikit mengerem. Lalu kerongkongan terasa sangat kering. Bau asap kendaraan membuat kepala saya pening, padahal saya sudah menggunakan masker. Wajah-wajah gusar para pengendara motor lainnya juga tidak sedap dipandang. Kombinasi semacam itu sungguh membuat saya jengkel dan ingin mengeluarkan jurus edo tensei. Saya mau membangkitkan Hokage Keempat biar bisa langsung sampai tujuan dengan jurus teleportasinya.

Syukur saja khayalan tolol itu tidak perlu lagi, sebab 10 menit kemudian saya sudah sampai di Wisma 77, Slipi. Saya segera menepi dan mengontak Haw. Tidak ada balasan apa pun dalam 5 menit, saya akhirnya mengajak Robby untuk mampir ke angkringan pinggir jalan seraya menunggu kabar dari Haw. Kami memesan dua gelas es teh. Minuman yang begitu menyegarkan tenggorokan.

Saya dan Robby mengira kalau Haw mungkin sudah pulang karena tidak kunjung membalas pesannya. Mungkin pertemuan kami memang belum direstui oleh Tuhan. Besok-besok lagi bisa deh ketemuannya. Akhirnya, sekalian saja saya duduk lebih lama dan tangan mulai mencomot tempe goreng dan sate usus. Lumayanlah untuk mengganjal perut. Melihat saya makan, Robby jadi ikutan mengambil tahu goreng. Kami pun makan dengan iringan bunyi mesin dan klakson kendaraan.

Saat sedang asyiknya menyantap makanan, ponsel saya berbunyi. Haw mengabarkan kalau dirinya diajak oleh temannya ke Central Park Mall. Sebelum beranjak, saya bertanya dahulu di sana masih lama atau cuma sebentar? Saya tidak mau sesampainya di sana, ia kelak sudah pulang dan tidak jadi bertemu. Syukurnya Haw menjawab, “Ayoklah ketemu. Kasih tau aja kalo udah sampe.” Maka, saya dan Robby langsung bergegas ke Central Park Mall. Dan, tidak lupa untuk membayar atas makanan dan minuman yang kami santap tadi.

***



“Ketemu di taman yang Pohon Natal, ya,” tulis saya kepada Haw begitu tiba di Central Park Mall.

Sambil berjalan menuju tempat itu, Robby berujar kalau dirinya baru pertama kali masuk mal ini. Kemudian, ia terlihat begitu takjub memperhatikan lampu warna-warni di taman. Saya pun entah kenapa jadi menceritakan pengalaman pertama kalinya main ke mal ini. Mengingat diri saya dulu sangat norak karena setiap melihat spot bagus langsung berfoto.



Kala kami sudah sampai di area Pohon Natal, saya langsung mengeluarkan ponsel dari kantong celana dan berniat memberi tahu Haw. Baru saja ingin mengirim pesan, ternyata Bolt saya mati. Saya tidak ada koneksi internet selain dari mi-fi itu. Ketika mengecek isi tas, saya hanya membawa power bank-nya saja dan kabelnya ketinggalan di rumah. Bermaksud meminjam kabel sama Robby, tapi ia juga tak membawanya. Mana ponsel Robby dalam keadaan mati. Saya ingin SMS, tetapi tidak tahu nomor Haw yang baru. Nomor yang lama sudah tidak dapat dihubungi. Saya dan Haw sejak tadi padahal bertukar pesan lewat DM Twitter, bodohnya saya lupa menanyakan nomornya.

Saya lalu coba menyalakan Bolt itu. Berhasil menyala, tapi baterainya kedap-kedip. Dengan cepat jari saya langsung mengetik dan bilang kepada Haw kalau Bolt saya mati dan cepetan ke sini, karena takut ribet nantinya saling cari-carian. Sewaktu saya ingin mengabarkan untuk SMS-an dan memberikan nomor ponsel kepadanya, Bolt sudah mati kembali. Saya dan Robby pun panik. Masa iya nggak jadi ketemu lagi? Rasanya pertemuan ini ada-ada saja kendalanya. Berengsek betul.

Saya memperhatikan sekeliling untuk menemukan cowok berkacamata yang mungkin juga sedang mencari-cari kami. Namun, wujud Haw tidak juga tampak. Saya awalnya sudah sempat berpikir untuk meminjam kabel kepada orang lain di taman ini. Bagusnya Robby segera bilang, “Gue coba nyalain hape deh. Masih sisa 5%, sih, kayaknya tadi.”

Yeh, ini anak bukan dari tadi. Saya pikir emang mati total. Ketika ponsel Robby menyala, baterainya sudah dalam keadaan 3%. Saya kembali deg-degan. 

“Duh, keburu nggak nih, ya?” tanya Robby.

“Pokoknya buruan ketik nomor gue terus kirim ke Haw, Rob,” ujar saya.

“Waduh, dua persen.”

Berak macan. Saya betul-betul jadi geregetan.

Alhamdulillah pesan telah terkirim dan nggak lama setelah itu Haw mengirimkan SMS ke nomor saya. Ia menuliskan kalau baru mau jalan ke taman, soalnya tadi mampir ke toilet dulu. Kutu kupret. Nggak tahu apa saya dan Robby nungguin dengan cemas.

Tak lama setelah itu, Haw berjalan bersama seorang perempuan berjilbab dan menghampiri tempat kami duduk. Saya dan Robby sepertinya sama-sama terkejut melihat temannya Haw itu. Kami berdua tentu saja dari awal mengira Haw main ke mal ini sama kerabatnya atau bersama teman sedang ada urusan pekerjaan, pokoknya sama laki-laki deh. Rupanya, ia ketemuan sama seorang bloger. Perempuan pula.

“Hayo, pada kenal nggak?” tanya Haw.

Robby langsung menggelengkan kepala. Saya mengernyitkan dahi sambil berusaha mengingat-ingat siapa bloger ini, sebab memang belum pernah bertemu sebelumnya. Namun, saya yakin pernah blogwalking ke blognya. Kala di ingatan muncul sebuah nama, dengan refleks saya mengatakan, “Dwi?”

Perempuan tersebut mengangguk dan tersenyum. Lalu Haw dan Dwi pun ikut duduk di sebelah kami. Kami berempat duduk-duduk sambil membicarakan dunia blog yang semakin sunyi. Beberapa teman yang dulu rusuh di kolom komentar, kini sudah banyak yang vakum. Arman Zega dan Renggo salah duanya. Haw bilang, Arman mungkin sudah terlalu sibuk dengan pekerjaannya menjadi penulis konten, sehingga nggak sempat lagi untuk menulis di blog. Sedangkan Renggo katanya tidak memperpanjang masa aktif domainnya. Kini, Renggonesia dan Renggostarr sudah tinggal kenangan.

Lalu Haw bercerita dirinya semakin jarang mendapatkan uang dari blog. Ia mengatakan kalau sekarang banyak bloger yang murahan. Padahal cuma dibayar 50-75 ribu untuk content placement, tapi langsung banyak yang mau. Berbeda sekali dengan kami yang seminimalnya harus 200 ribu. Kami memang sok jual mahal. Muahaha. Kemudian, Dwi malah belum pernah sekali pun menerima tawaran kerja sama, baik itu content placement ataupun job review.

“Dwi blognya masih bersih tuh. Keren deh nggak mau ada iklan.”

Saya tidak tahu kebenarannya karena jarang main ke blognya. Jadi, saya manggut-manggut saja. Beralih dari dunia maya, kini kami membicarakan dunia nyata. Haw bertanya kepada saya dan Robby tentang kesibukan kami di kehidupan nyata. Bagaimana kuliah Robby dan apa kerjaan saya sekarang? Seusai Robby menjawab tentang perkuliahannya yang baru selesai UAS, lalu saya merespons sekenanya tentang pekerjaan lepas dan belum juga mendapatkan kerja tetap. Haw bertanya kembali tentang pekerjaan saya dulu di sebuah media yang telah saya tinggalkan. Saya lagi-lagi menjawab sekadarnya. Setelah itu gantian Haw menceritakan dirinya yang sekarang bekerja jadi seorang reporter.

“Reporter? Wah, keren!” kata saya memuji.

“Reporter di Twitter tapi, Yog.”

“Hah? Maksud lu gimana?” tanya saya.

“Kalo lihat twit konflik politik, aku report. Ada yang menyulut kebencian, aku report.”

Saya, Robby, dan Dwi pun tertawa. Bangkai, Haw masih sempat saja berkelakar.

“Ya, itu report-er, kan?”

Bodo amat!

Setelah itu, obrolan bertambah seru dan random membicarakan berbagai topik (yang rasanya tidak perlu saya tampilkan di blog ini). Sayangnya, hari sudah semakin malam. Melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 21, Haw takut tidak mendapatkan kereta dan nggak bisa pulang. Saya menawarkan kalau nanti kemalaman, bisa menginap di rumah saya. Haw menolak ajakan itu dengan halus karena besok pagi juga masih ada urusan. Akhirnya, Dwi memberi tahu kalau kereta terakhir itu masih pukul 23. Bincang-bincang pun dilanjutkan kembali.

Sebelum pulang, seingat saya Haw curhat kalau merindukan tulisan-tulisan bloger yang personal. Ditambah niche bloger sekarang kebanyakan kalau nggak perjalanan, kuliner, ya palingan tutorial. Terus cewek-ceweknya jadi fashion/beauty blogger.

Ia pun menanyakan kepada saya, kenapa udah jarang bikin tulisan curhatan lagi. Saya awalnya bilang kalau lagi belajar menulis fiksi dan sedang getol-getolnya ngirim ke media. Ya, walaupun ditolak terus. Lalu, ia mengeluhkan hal yang sama. Sering sekali ditolak.

“Kayaknya kalau medianya udah besar itu emang susah, Yog. Mending aku kirimnya ke koran-koran lokal deh. Lebih memungkinkan.”

Kemudian, pembahasan kembali beralih mengenai tulisan curhat yang sudah jarang itu. Apalagi Robby menyatakan dirinya yang pengin vakum ngeblog. Sedangkan saya saat ini nggak pengin kehidupan pribadi saya yang kurang penting itu dibaca oleh banyak orang. Terlebih kalau menyangkut masalah percintaan. Lucu mengingat bagaimana dulu pernah pacaran sama bloger kemudian dipamerkan dalam bentuk cerita di blog. Setelah putus, di kolom komentar isinya ledekan-ledekan dari bloger lain. Intinya, saya bilang ke Haw kalau kurang sreg lagi buat curhat.

“Tempat curhatnya udah di Tumblr sih, ya,” ujar Haw.

“Loh, kok tau?” kata saya sangat terkejut.

“Kan kamu dulu sewaktu memfiksikan pakai Tumblr. Pernah kamu share link-nya. Terus sekarang ke mana Tumblr-mu? Aku cari ilang masa.”

Saya pun tertawa dan menjelaskan kalau tulisan-tulisan di Tumblr itu banyak sampahnya, ngapain segala dibaca? Tumblr itu sedang saya sembunyikan sementara sambil memilah tulisan-tulisan yang sekiranya bisa didaur ulang.

“Menurutku, tulisan-tulisanmu itu tetep layak ditampilin di blog, Yog,” kata Haw. “Cuma itu versi kelamnya kamu, ya. Makanya nggak pengin dibaca orang. Padahal, kisahmu nggak jauh beda sama kehidupanku.”

Suasana pun mendadak melankolis. Saya tidak begitu ingat apa saja obrolan selanjutnya. Tak lama, kami memutuskan untuk pulang. Kami pun berpisah di taman itu. Haw dan Dwi menuju arah jembatan penyeberangan untuk naik TransJakarta atau metromini atau taksi online entahlah, sedangkan saya dan Robby menuju parkiran. Sehabis mengantarkan Robby sampai ke Halte Grogol, saya pengin buru-buru rebahan di kasur. Macet-macetan sehabis magrib tadi sungguh bikin punggung saya pegal-pegal.

Sesampainya di rumah, anehnya saya tidak langsung rebahan. Saya justru menuliskan catatan-catatan tentang pertemuan tersebut. Entah bagaimana, pertemuan barusan menyadarkan saya akan tulisan curhat. Kalau melihat tulisan-tulisan di blog ini, rasanya saya udah lama sekali nggak menuliskan cerita kopdar. Saya pun merenungi kembali kalimat yang sempat saya pikirkan di toko buku.

Untuk apa orang-orang membaca kisah hidup saya? Saya begitu sadar kalau curhatan itu tidak semuanya berguna. Nggak semua orang pengin tahu kehidupan personal orang lain.
Namun kalau saya pikir-pikir lagi, tak ada salahnya kembali curhat di blog ini. Mungkin saja masih ada bloger yang kangen baca tulisan-tulisan personal. Sebagaimana yang Haw bilang kepada saya kalau pengin baca tulisan curhatan lagi. Beberapa temen bloger pun mengaku memang lebih suka tulisan curhatan, sebab hubungan penulis dengan pembacanya terasa dekat. Dan, yang lebih penting bagi saya adalah, saya suatu hari nanti bisa membaca curhatan itu untuk mengenang. Pas dibaca-baca ulang bisa memberikan saya berbagai macam perasaan yang bikin campur aduk.

Jadi, inilah tulisan curhat saya. Saya tujukan untuk kamu yang rindu baca keseharian saya yang panjang-panjang dan nggak jelas begini. Mungkin tulisan ini bisa juga didedikasikan kepada Haw yang sudah datang ke Jakarta jauh-jauh dari Pontianak, tapi saya tidak menyambutnya dengan baik.

--

PS: Saya baru sadar kalau kami berempat lupa berfoto karena keasyikan ngobrol di dunia nyata. Mungkin niat kami bertemu memang untuk silaturahmi, bukan untuk pamer. Biarlah kenangan itu tersimpan di memori otak kami. Bukan di galeri ponsel ataupun Instagram.

Bagi yang nggak suka tulisan panjang, saya sarankan tidak perlu membaca tulisan ini. Lebih baik tonton saja Youtube-nya Bang Rando biar hidupnya termotivasi.
Read More
Banyak orang yang membutuhkan keheningan dalam proses menulisnya. Saya pun demikian. Suasana ketika kebanyakan orang sudah terlelap dalam tidurnya sering saya gunakan untuk menulis. Saya tahu itu tidak baik untuk kesehatan saya. Tubuh yang semestinya istirahat, tapi justru dipakai bekerja. Namun, ada saatnya saya menulis kala terbangun dari tidur. Biasanya sekitar pukul 3 sampai 4 pagi atau sebelum waktu subuh.

Anehnya, terkadang saya memerlukan musik sebagai teman menulis. Sendirian malam-malam di kamar yang sunyi cukup sering membuat saya bergidik. Kalau tiba-tiba ada bunyi aneh atau gaib entah dari mana, bisa-bisa saya gagal menulis dan beranjak tidur. Oleh karena itu, saya memilih mengelabui ketakutan itu dengan mendengarkan musik agar tetap bisa menghasilkan tulisan.

Lagu-lagu yang saya dengarkan ketika menulis biasanya adalah musik instrumental. Dari beberapa artikel yang pernah saya baca, lagu tanpa lirik konon membuat pendengarnya jadi lebih fokus, serta dapat meningkatkan kinerja otak. Saya cukup sepakat dengan pernyataan tersebut, sebab begitulah yang saya alami jika menulis sambil mendengarkan musik instrumental.



Dari sekian banyak lagu instrumental yang saya dengarkan, inilah daftar yang rutin saya putar untuk menemani saya menulis.

Read More
Sejak Desember 2017, saya terlihat semakin mengubah gaya penceritaan di blog ini. Dari yang biasanya menggunakan “gue”, lalu menjadi “saya”. Bahkan Arul dan Farih, salah dua bloger yang main ke blog saya, pernah mengomentari hal tersebut dan menanyakannya. Kira-kira beginilah komentar mereka kalau digabungkan: “Lama nggak main ke blog ini, kenapa tulisan Yoga berubah? Jadi ‘saya-saya’ gitu. Terus, dulu awal-awal masih komedi, sekarang kayaknya beda banget. Bacaan lo berubah, ya?”



Saya agak lupa kenapa awalnya memutuskan untuk mengubah gaya tulisan. Seingat saya, sih, karena suatu hari ketika asyik baca tulisan sendiri, saya ngerasa kok cuma begitu-begitu aja, ya? Kalau nggak salah, yang saya baca itu arsip tahun 2015-2016. Hampir semua tulisan selalu berbentuk curhatan yang saya berikan bumbu komedi.

Sejak era meledaknya tulisan komedi yang kebanyakan bloger berusaha “ke-Radit-Radit-an”. Kemudian, para penerbit juga mencari naskah-naskah lucu. Saya pun jadi ikut nyemplung ke dalamnya. Saya yang dari awal nggak paham menulis komedi, akhirnya mulai mempelajari strukturnya, yaitu: set up dan punchline. Dan, di blog ini saya paling sering menerapkan rule of three
Read More
Kembang Api

Aku ingin menjadi kembang api terdahsyat di tahun barumu.
Agar kelak kau selalu mengingatku.
Bagaimana tubuhku
meledak dan memusnahkan semua manusia,
kecuali engkau.

Hingga setelahnya kau akan kesepian
dan berusaha menyimpan warna-warni kebencian
terhadapku.



Read More
Hujan tidak turun malam ini, sebab malaikat sedang terpesona ketika memandangi gerimis yang jatuh dari mata seorang pelacur.

*



Sepulang dari menjual tubuhnya, seorang pelacur bernama Rani melihat seekor anjing di seberang jalan yang meringkuk sambil menjulurkan lidahnya. Anjing itu tampak sekarat dan kehausan. Sekitar 15 menit silam, sebuah mobil menabraknya hingga kakinya patah dan tubuhnya terluka. Sehingga hewan itu sudah tak sanggup lagi berjalan. Lalu Rani tidak tega dan segera menghampirinya. Ia pun duduk di sebelah anjing tersebut, kemudian membelai-belai bulunya yang halus dan berwarna cokelat. Ia mendadak begitu bersedih dan berkata, “Anjing ini mungkin tak berdosa, tapi kenapa Tuhan memberinya derita? Sedangkan aku yang jalang dan hina ini selalu sehat-sehat saja? Kenapa hidup sering tidak adil?”

Setelahnya, perempuan itu mulai mengingat-ingat kenapa dirinya memutuskan hidup sebagai seorang pelacur. Kemiskinan dan keputusasaan ialah salah dua dari sekian banyak alasan yang memaksanya untuk menukar harga diri dengan harta. Awalnya, Rani merasa jijik dengan pilihan hidupnya yang sudah keterlaluan. Namun, kalau ia berhenti dari pekerjaan ini, dari mana lagi ia dapat memperoleh uang?

Ia tak mau lagi dekat-dekat dengan kesusahan. Baginya, meskipun menjadi pelacur itu berdosa, tetapi selalu menawarkan kenikmatan dan kemudahan. Dosa memang begitu manis dan menggoda. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun ia semakin terbiasa dengan perbuatan nista. Nuraninya pun semakin tertutup oleh dosa yang menggunung.

Namun malam ini, ketika bertemu dengan seekor anjing yang hampir mati, ia tiba-tiba meratapi segala perbuatannya dan menangis hingga napasnya habis. Beberapa tahun lalu, ia juga pernah menderita sebagaimana anjing yang sekarang ini dibelaskasihani dan ditolongnya. Bedanya, dulu tak ada keluarga, teman, maupun tetangga yang sudi membantunya kala kesulitan.

Lalu secara tidak langsung, ia akhirnya memberi minum anjing itu dengan air mata penyesalan di saat-saat terakhirnya. Anjing yang meminum tangisannya pun langsung sehat seperti sedia kala. Malaikat yang terpesona memperhatikan kejadian itu telah menukar keadaan mereka berdua. Walaupun hidup pelacur itu berakhir, tapi kelak ia diberikan sebuah hadiah: surga.

--

PS: Cerita tentang pelacur yang masuk surga karena menolong anjing ini awalnya saya dengar dari suatu ceramah ketika saya masih SD. Mungkin kamu juga tidak asing dengan kisah ini. Saya mencoba untuk menuliskannya dengan sudut pandang dan gaya saya sendiri. Terlalu pendek memang, ya namanya sebuah keisengan sewaktu bosan menunggu antrean membeli nasi goreng.

Cerpen ini ditulis pada 13 Desember 2017, sedangkan gambar saya pinjam dari Pixabay.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home