Banyak orang yang membutuhkan keheningan dalam proses menulisnya. Saya pun demikian. Suasana ketika kebanyakan orang sudah terlelap dalam tidurnya sering saya gunakan untuk menulis. Saya tahu itu tidak baik untuk kesehatan saya. Tubuh yang semestinya istirahat, tapi justru dipakai bekerja. Namun, ada saatnya saya menulis kala terbangun dari tidur. Biasanya sekitar pukul 3 sampai 4 pagi atau sebelum waktu subuh.

Anehnya, terkadang saya memerlukan musik sebagai teman menulis. Sendirian malam-malam di kamar yang sunyi cukup sering membuat saya bergidik. Kalau tiba-tiba ada bunyi aneh atau gaib entah dari mana, bisa-bisa saya gagal menulis dan beranjak tidur. Oleh karena itu, saya memilih mengelabui ketakutan itu dengan mendengarkan musik agar tetap bisa menghasilkan tulisan.

Lagu-lagu yang saya dengarkan ketika menulis biasanya adalah musik instrumental. Dari beberapa artikel yang pernah saya baca, lagu tanpa lirik konon membuat pendengarnya jadi lebih fokus, serta dapat meningkatkan kinerja otak. Saya cukup sepakat dengan pernyataan tersebut, sebab begitulah yang saya alami jika menulis sambil mendengarkan musik instrumental.



Dari sekian banyak lagu instrumental yang saya dengarkan, inilah daftar yang rutin saya putar untuk menemani saya menulis.

Read More
Sejak Desember 2017, saya terlihat semakin mengubah gaya penceritaan di blog ini. Dari yang biasanya menggunakan “gue”, lalu menjadi “saya”. Bahkan Arul dan Farih, salah dua bloger yang main ke blog saya, pernah mengomentari hal tersebut dan menanyakannya. Kira-kira beginilah komentar mereka kalau digabungkan: “Lama nggak main ke blog ini, kenapa tulisan Yoga berubah? Jadi ‘saya-saya’ gitu. Terus, dulu awal-awal masih komedi, sekarang kayaknya beda banget. Bacaan lo berubah, ya?”



Saya agak lupa kenapa awalnya memutuskan untuk mengubah gaya tulisan. Seingat saya, sih, karena suatu hari ketika asyik baca tulisan sendiri, saya ngerasa kok cuma begitu-begitu aja, ya? Kalau nggak salah, yang saya baca itu arsip tahun 2015-2016. Hampir semua tulisan selalu berbentuk curhatan yang saya berikan bumbu komedi.

Sejak era meledaknya tulisan komedi yang kebanyakan bloger berusaha “ke-Radit-Radit-an”. Kemudian, para penerbit juga mencari naskah-naskah lucu. Saya pun jadi ikut nyemplung ke dalamnya. Saya yang dari awal nggak paham menulis komedi, akhirnya mulai mempelajari strukturnya, yaitu: set up dan punchline. Dan, di blog ini saya paling sering menerapkan rule of three
Read More
Kembang Api

Aku ingin menjadi kembang api terdahsyat di tahun barumu.
Agar kelak kau selalu mengingatku.
Bagaimana tubuhku
meledak dan memusnahkan semua manusia,
kecuali engkau.

Hingga setelahnya kau akan kesepian
dan berusaha menyimpan warna-warni kebencian
terhadapku.



Read More
Hujan tidak turun malam ini, sebab malaikat sedang terpesona ketika memandangi gerimis yang jatuh dari mata seorang pelacur.

*



Sepulang dari menjual tubuhnya, seorang pelacur bernama Rani melihat seekor anjing di seberang jalan yang meringkuk sambil menjulurkan lidahnya. Anjing itu tampak sekarat dan kehausan. Sekitar 15 menit silam, sebuah mobil menabraknya hingga kakinya patah dan tubuhnya terluka. Sehingga hewan itu sudah tak sanggup lagi berjalan. Lalu Rani tidak tega dan segera menghampirinya. Ia pun duduk di sebelah anjing tersebut, kemudian membelai-belai bulunya yang halus dan berwarna cokelat. Ia mendadak begitu bersedih dan berkata, “Anjing ini mungkin tak berdosa, tapi kenapa Tuhan memberinya derita? Sedangkan aku yang jalang dan hina ini selalu sehat-sehat saja? Kenapa hidup sering tidak adil?”

Setelahnya, perempuan itu mulai mengingat-ingat kenapa dirinya memutuskan hidup sebagai seorang pelacur. Kemiskinan dan keputusasaan ialah salah dua dari sekian banyak alasan yang memaksanya untuk menukar harga diri dengan harta. Awalnya, Rani merasa jijik dengan pilihan hidupnya yang sudah keterlaluan. Namun, kalau ia berhenti dari pekerjaan ini, dari mana lagi ia dapat memperoleh uang?

Ia tak mau lagi dekat-dekat dengan kesusahan. Baginya, meskipun menjadi pelacur itu berdosa, tetapi selalu menawarkan kenikmatan dan kemudahan. Dosa memang begitu manis dan menggoda. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun ia semakin terbiasa dengan perbuatan nista. Nuraninya pun semakin tertutup oleh dosa yang menggunung.

Namun malam ini, ketika bertemu dengan seekor anjing yang hampir mati, ia tiba-tiba meratapi segala perbuatannya dan menangis hingga napasnya habis. Beberapa tahun lalu, ia juga pernah menderita sebagaimana anjing yang sekarang ini dibelaskasihani dan ditolongnya. Bedanya, dulu tak ada keluarga, teman, maupun tetangga yang sudi membantunya kala kesulitan.

Lalu secara tidak langsung, ia akhirnya memberi minum anjing itu dengan air mata penyesalan di saat-saat terakhirnya. Anjing yang meminum tangisannya pun langsung sehat seperti sedia kala. Malaikat yang terpesona memperhatikan kejadian itu telah menukar keadaan mereka berdua. Walaupun hidup pelacur itu berakhir, tapi kelak ia diberikan sebuah hadiah: surga.

--

PS: Cerita tentang pelacur yang masuk surga karena menolong anjing ini awalnya saya dengar dari suatu ceramah ketika saya masih SD. Mungkin kamu juga tidak asing dengan kisah ini. Saya mencoba untuk menuliskannya dengan sudut pandang dan gaya saya sendiri. Terlalu pendek memang, ya namanya sebuah keisengan sewaktu bosan menunggu antrean membeli nasi goreng.

Cerpen ini ditulis pada 13 Desember 2017, sedangkan gambar saya pinjam dari Pixabay.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home