Setelah ini aku akan hilang. Entah untuk berapa lama. Yang jelas, aku ditelan sebuah puisi. Kau tidak perlu lagi melihatku di mana pun. Kau tidak usah lagi membaca omong kosongku. Kau akan terbebas sepenuhnya dari aku, manusia yang hampir memudar.

Aku harap puisi tidak tambah menghancurkanku. Aku pun sebenarnya takut akan kehancuran. Maka, satu-satunya cara agar tidak hancur adalah bertahan hidup dengan harapan. Lalu bagaimana aku bisa kembali kalau puisi sudah telanjur menelanku? Aku tahu, ia belum sempat mengunyahku dan aku hanya perlu mencari cara bagaimana menemukan jalan keluar dari tubuh puisi keparat itu. Dan yang menjadi pertanyaanku: apakah aku sanggup bertahan? Sampai berapa lama?

sumber: Pixabay

Read More
Tentang mati yang menghantuimu.
Tentang mati yang tak bisa lepas 
dari bayang semu.



Tentang mati yang kehadirannya semakin dekat. 
Tentang mati yang terasa jahat.

Tentang mati yang membuat energinya meredup. 
Tentang mati yang takut hidup.

Tentang mati yang tidak lagi bermakna apa-apa. 
Tentang mati yang bingung mencari siapa.

Tentang mati yang menjadi pertanyaan kenapa,
manusia hidup, lalu dijemput maut, lalu dibangkitkan lagi? 
Tentang mati yang menyihirmu abadi. 

/2017

Read More
Julukan “Kecil-Kecil Cabe Rawit” pernah melekat kala saya kelas enam SD. Alasan teman-teman sekelas memanggil saya seperti itu karena tubuh saya yang kecil, tapi sering mendapatkan prestasi di sekolah dari kelas satu. Mungkin seolah-olah saya ini terasa pedas bagi mereka. Saya, sih, cukup bahagia bisa menutupi kekurangan pada fisik saya itu dengan kecerdasan. Tapi entah mengapa ketika itu saya tetap terganggu pada hal negatifnya: “kecil-kecil” alias bertubuh kurus dan pendek.

Saya iri kepada teman-teman lainnya yang pertumbuhannya cepat. Apalagi saya termasuk tiga murid paling pendek di kelas. Saat itulah muncul hasrat untuk bertambah tinggi. Beberapa metode supaya badan bertambah tinggi pun mulai saya coba. Dari yang awalnya rutin minum susu, tapi merasa belum ada perubahan. Lalu mengonsumi minyak ikan, tapi tetap nggak ada perkembangan yang kentara. Kemudian mencoba bermain basket, tetapi wajah saya malah sering disikut teman dan mendadak malas main basket lagi. 

Setelah itu, akhirnya ada salah seorang teman yang menyarankan saya tips paling ampuh, yaitu berenang. Masalahnya, saya nggak tau cara berenang dan takut tenggelam. Terlebih lagi, saya agak trauma karena pernah terpeleset dan tercebur ke dalam empang sewaktu kelas empat SD, saat menemani ayah saya memancing. Tragedi menelan air empang itu telah membuat saya khawatir akan kedalaman air lalu kelelep. Oleh sebab itu, saya jadi nggak berani berenang hingga kelas enam SD.


sumber: galeri pribadi
Read More
Tidak tercium wangi kehidupan di kamar ini.
Hanya bisa kauhidu bau penderitaan
dari tiga kaleng susu beruang yang tandas.
Dari gumpalan tisu penuh air duka.
Dari setiap tetes embun pagi
yang mengalir di tubuh.



Tidak tercium wangi kehidupan di kamar ini.
Hanya bisa kauhirup aroma kesedihan
dari biskuit yang getir di mulut.
Dari semangkuk sayur
tanpa cinta dan air mata.
Dari kipas angin yang dihukum
tidak boleh berputar
sampai seminggu atau mungkin lebih.

Tidak tercium wangi kehidupan di kamar ini.
Hanya ada bau kesepian dari buku-buku di rak paling atas;
ditaruh paling tinggi, tapi justru paling jarang dibaca.
Dari laptop yang tidak lagi mengetikkan kata,
kalimat, paragraf, dan seterusnya menjadi cerita.
Dari doa yang diam-diam dirapalkan,
semoga dapat menggugurkan dosa.

Tidak tercium wangi kehidupan di kamar ini.
Sejak dulu, pemiliknya malas menggunakan pengharum ruangan.
Katanya, ia bingung aroma apa yang paling cocok
untuk menghidupkan dan menghirup kamar.
Tapi sekarang, ia mulai menyemprotkan wangi puisi.

--

Jakarta, 21 Maret 2018. Gambar dicomot dari Pixabay.
Read More
Cerita sebelumnya: Pesta Netizen

*

“Blogmu yang mana, Bang?” tanya Lukman. 

“Pokoknya yang header-nya gambar otak dan kunci, terus ada tulisan ‘Mengunci Ingatan’ deh,” jawab saya mantap.

Namun, gambar-gambar yang ditampilkan itu ternyata sudah selesai. Hanya ada tiga blog. Nggak ada blog saya di salah satunya. Saya sejujurnya sedikit merasa sedih. Tapi entah mengapa sekaligus merasa begitu lega setelah sadar saya nggak menang. Saya pun refleks tertawa. Mungkin sedang menertawakan nasib ini. 


“Kenapa, Bang?” 

“Blog gue kagak muncul.” 

Ia lalu menepuk pundak kiri saya dua kali dan bilang, “Sabar, Bang. Yang penting jangan nyerah. Suatu hari pasti menang.” 

“Iya, nggak apa-apa.” 

Saya nggak tahu mesti merespons apa selain kalimat itu dan cuma bisa mengamini dalam hati. Pengumuman juara 1-3 pun dibacakan secara dramatis. Saya tetap menyimaknya dengan tenang. Saya tadi merasa lega mungkin karena jantung nggak perlu lagi berdebar nggak keruan. Seenggaknya ini termasuk pencapaian bagi saya, sebab seumur-umur ikut lomba baru kali ini terpilih menjadi finalisnya. Toh, saya juga telah menang melawan diri sendiri. Mengalahkan rasa takut kala mencoba sesuatu.

Jadi, nanti kalau ikut lomba lagi saya bisa lebih santai. Nggak usah terbawa beban seperti yang sudah-sudah kalau saya harus menang. Karena belum bisa memenangkan perlombaan pun ternyata tidak apa-apa. Lalu pengumuman pun berlanjut ke lomba vlog dan film pendek. Para pemenang kemudian diajak foto bersama-sama. 

Sesudah itu, acara berakhir dengan meriah. Kami diberikan kejutan dengan penampilan band Kahitna sebagai penutupan. Saya pun langsung merasa nostalgia. Ya, meskipun saya mesti mengakui jika sudah banyak lupa akan lagu-lagunya. Beberapa orang langsung mengeluarkan ponselnya untuk foto-foto ataupun merekam video. Namun, sebelah kiri saya tidak melakukan itu. Ia menikmati acaranya cukup dengan menyimpannya di dalam otak. Saya kemudian berkata, “Ini mah bukan nonton konser, ya. Nontonin tangan orang-orang.”

Ia lalu tertawa. Menyampaikan pendapatnya kalau momen seperti ini seolah memang sudah wajib untuk direkam, lalu pamerkan ke InstaStory. Apalagi bagi teman-teman sepantarannya. Kala saya bertanya mengapa ia tidak melakukan itu, ia kemudian memberikan jawaban yang sama dalam pikiran saya. Nggak semua hal yang terjadi dalam hidup ini mesti dipertontonkan ke orang banyak. Jika sedikit-sedikit bikin InstaStory, terus di mana letak privasi dan kebahagiaan hakikinya? 

Sehabis kami membicarakan hal sok tahu itu, suasana di panggung semakin memanas. Beberapa orang mulai berdiri dari kursinya dan mendekati panggung. Para vokalis Kahitna juga mengajak para penonton menyanyi bersama. Lukman pun akhirnya pamit untuk bergabung dengan teman-temannya. Jadilah saya duduk sendirian. Nggak tau harus tetap duduk atau ikut bergabung bersama yang lain. Namun, sejujurnya saya ini juga nggak terlalu menyukai jenis musiknya. Tiba-tiba saya merasa asing berada di tempat ini. Saya berniat ingin pulang. Apalagi ketika melihat jam tangan, waktu terasa sudah kemalaman dan saya takut ketinggalan kereta. Saya kemudian bangkit dari tempat duduk dan berjalan meninggalkan area panggung. Di deretan bangku paling belakang, saya melihat Herland dengan temannya sedang asyik ngopi. 

“Lu mau balik?” tanya Herland. “Sertifikat sama uang transport baru bisa diambilnya pas selesai acara.” 

Bangsat. Saya baru ingat kalau para finalis nanti akan mendapatkan sertifikat dari Bank Indonesia. Terus lumayan juga, sih, dapat uang pengganti transport. Lalu akhirnya saya berbohong dan bilang, “Nggak, mau ngambil teh ini.”

Saya kemudian berjalan ke meja prasmanan yang menyediakan kopi dan teh. Kembalinya dari meja itu dengan membawa secangkir teh manis hangat, saya pun duduk di samping temannya Herland. 

“O iya, ini temen gue yang finalis film pendek juga,” kata Herland. 

Kemudian kami berkenalan. Saya kembali menjelaskan kalau saya finalis lomba blog. Ia bertanya, apakah menulis itu hobi saya? Saya pun menceritakan sedikit tentang awal mula menulis dan apa saja isi blog saya. Setelah itu keheningan menyelimuti kami. 

“Kira-kira berapa lagu lagi nih?” tanya saya kepada Herland. 

“Kurang tau juga. Semoga aja ini lagu terakhir.” 

Tebakannya tidak meleset jauh. Lagu yang sedang dinyanyikan adalah lagu sebelum terakhir. Seusai acara, kami bertiga pun bergegas mencari-cari di mana tempat mengambil uang transport dan sertifikatnya. Kami betul-betul dibikin kebingungan hanya demi mendapatkan lembaran kertas bernilai itu. Baik itu sertifikat, maupun rupiahnya (oh, ini mah jelas karena kami cinta rupiah). Apalagi pihak panitianya tidak membalas ketika dihubungi. Setelah keluar masuk gedung dua kali dan sekali bertanya kepada finalis lain, kami akhirnya berhasil menemukan tempat yang dicari-cari. 

Selesai menuliskan nama dan paraf di kertas yang disediakan, saya menerima secarik amplop berisi sejumlah uang yang kira-kira cukuplah untuk makan sebulan. Makan kuaci tapi. Lalu sesudahnya saya pun bermaksud mengambil sertifikat yang sudah dipisah-pisahkan sesuai abjad. 

“Punya saya kok nggak ada ya, Mbak?” tanya saya kepada salah seorang panitia yang mengurusi bagian administrasi ini. 

Ia lalu bertanya siapa nama saya dan mulai membantu mencari-cari sertifikat dengan nama “Yoga”. Bingung karena nama saya tetap nggak ada, Mbak Panitia itu pun menanyakan kepada saya apakah sudah mengirimkan data diri pada bulan Februari? Saya kemudian menjelaskan tentang email yang telat masuk itu. Sehingga saya pun terlambat mengirimkan datanya. 

“Ya udah, ini saya kasih sertifikat yang namanya kosong. Mas tulis aja sendiri namanya. Maaf ya, sebelumnya.” 

“Oh, nggak apa-apa, Mbak. Makasih.” 

Sekali lagi, saya mengucapkan tidak apa-apa. Padahal dalam hati ini saya agak kecewa. Atau mungkin bukan agak lagi, tapi memang kecewa. Cuma, ya sudahlah. Entar di sertifikat, kan, saya bisa mengisi sendiri dengan nama sesukanya: “Yoga Akbar Sholihin (Bloger Ganteng Idaman yang Belum Bisa Memenangkan Lomba. Fak Perlombaan!)” 

Saya terus cengengesan sendiri membayangkan hal itu. Tapi kalau saya pikir-pikir lagi, kayaknya nama itu nggak muat deh. 

Di pintu keluar, saya berpisah dengan Herland dan temannya. Mereka berdua membawa kendaraan pribadi. Saya sendiri kudu berjuang melawan letih dengan naik kereta komuter. Di sepanjang perjalanan, saya tiba-tiba menertawakan nasib konyol ini. Dari yang awalnya mendapatkan pengumuman menjadi finalis lomba yang infonya terlambat. Sehingga data diri yang saya kirim tersebut berakhir dengan sia-sia, sebab tidak ada nama saya di daftar sertifikat itu.

Saya turun di Stasiun Manggarai. Dengan cepat saya segera bertanya kepada salah seorang petugas kereta api, apakah kereta yang melintasi Stasiun Palmerah pada pukul setengah dua belas malam ini masih ada? Ia menjawab kereta pada jam terakhir itu tujuan akhirnya ialah Stasiun Tangerang. Saya nanti bisa turun di Stasiun Tanah Abang. Kalau kereta ke arah Serpong—yang juga melewati Palmerah—sepertinya sudah nggak ada. 

Di stasiun itu, jadilah saya pasrah menunggu kereta terakhir dan nantinya turun di Stasiun Tanah Abang. Saya lalu mencoba menelepon orang rumah untuk menjemput di Tanah Abang. Tidak ada jawaban sama sekali. Mungkin sudah pada tidur. Kereta terakhir itu pun telah tiba, saya langsung menaikinya.

Begitu keluar dari Stasiun Tanah Abang, saya melihat jam tangan yang jarumnya menunjukkan kalau waktu hampir berganti hari. Keadaan trotoarnya masih cukup ramai. Terdiri dari beberapa pedagang, bapak-bapak nongkrong, dan pelacur. Ada sedikit rasa ngeri ketika berjalan tengah malam sendirian begini. Saya terus memandang ke depan dengan langkah cepat tanpa melirik ke arah mereka. 

Saya terus berjalan sampai ke jalanan yang biasanya dilalui angkot. Saya sudah hampir sepuluh menit menunggu, tapi saya belum juga melihat angkot dari kejauhan. Saya pun memutuskan berjalan kaki lagi. Tak lama setelah itu, saya mulai mendengar suara kendaraan. Saya menoleh. Sesuatu yang saya tunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Saya lalu naik angkot. Turun di tempat yang sudah cukup dekat dengan rumah, terus berjalan kaki lagi. Sesampainya di rumah, saat saya membuka tas dan ingin mengeluarkan isinya. Saya melihat sertifikat yang sudut-sudutnya terlipat dan lumayan lecek. Ya ampun. Haruskah saya bilang tidak apa-apa kali ini? Saya pun ingin menertawakan nasib lagi.

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/mengapa-tanda-tanya-unknown-2028047/
Read More
“Kamu nggak akan pernah tahu sampai kamu mencobanya.” 

Begitulah kalimat yang tertera di buku tulis SIDU (Sinar Dunia). Sayangnya, walaupun sudah paham betapa pentingnya berani mencoba, saya terkadang tetap saja ketakutan ketika mencoba sesuatu. Terutama dalam mengikuti perlombaan besar. Belum apa-apa saya udah jiper duluan. Mental saya seolah masih belum kuat, atau memang anaknya gampang pesimis. 

Namun pada akhir tahun kemarin hingga awal tahun ini, saya lagi getol-getolnya mencari info perlombaan dan ikut meramaikannya. Saya ingin lebih berani dan nggak mau terus-terusan cemen. Lalu di antara beberapa lomba yang saya ikuti tersebut, saya sangat menunggu pengumuman lomba “Cinta Rupiah” yang digelar oleh Bank Indonesia—yang bekerja sama dengan Netmedia. 



Saat saya mengecek website cintarupiah.id, saya justru baru tahu kalau lombanya diperpanjang. Kemudian saya lihat jumlah peserta yang mengikuti lomba blog itu: kurang lebih berjumlah enam ratus. Waduh, banyak banget. Hadiah untuk juaranya padahal hanya tiga; juara 1 sebanyak 12 juta, juara 2 sebesar 8 juta, dan juara 3 senilai 4 juta. Dari pengalaman yang sudah-sudah, saya belum sekali pun meraih kemenangan dalam lomba besar. Apalagi lomba ini yang pesertanya keterlaluan banyak. Kemungkinan menangnya pasti tipis sekali.
Read More
A proverb said that life is just a game, so we should play it. Yet, we know that every human being is a creator of its game to fulfill their life. Usually, we will play a game when we have a leisure time or even we are in saturated condition. It is known that there are many kinds of game, either traditional game: petak umpet, kelereng, congklak, and gobak sodor; or modern game such as Nintendo, PlayStation, Mobile Game, and Computer Game. I’ve been playing both games since I was elementary school, indeed modern games.

source: Pixabay

At that time, I used to play Mario Bros, a plumber man in Nintendo; Harvest Moon Back to Nature, CTR (Crash Team Racing), Tekken 3 and many more in PlayStation 1. Time by time, with the increase of technology, I have been starting to play a game through my cellphone. Snake and Space Impact for instance, those are the game that I used to play in Nokia 3310. Back then, I just knew that the function of cellphone is just for texting and calling until the rise of cellphone that has been designed to play a game, that was N-Gage. It was a prove that many people like to play a game. 

As time goes by, internet started to dominate and support us to play a game. From mobile game that could be freely download in Waptrick, until games which are really popular now, such as Get Rich, Clash of Clans, Mobile Legends, and so on. So do game that has been been designed for computer. 

Read More
Pada bulan Januari lalu, saya perhatikan banyak yang membuat tulisan “30 Hari Bercerita”. Baik itu ia yang menuliskannya di blog, maupun di caption Instagram. Ketika itu, saya sendiri justru memilih tidak membuka aplikasi Instagram selama sebulan. Alasannya, sih, karena lagi irit kuota dan berusaha mengurangi kegiatan membuka media sosial. Lalu sebagai gantinya, saya juga mesti bikin tiga puluh tulisan. Ya, saya berusaha mencoba menerima tantangan itu.



Bedanya, tulisannya itu saya pendam sendiri saja dan tidak dipublikasikan. Saya sangat sadar kalau diri saya nggak bisa menulis langsung jadi. Entah mengapa, saya memiliki kebiasaan untuk mengendapkannya beberapa lama. Barulah setelah itu saya baca ulang, edit, baca ulang lagi, edit lagi, begitu terus berulang-ulang sampai saya sreg. Bagi saya ini terasa bodoh, sebab untuk betul-betul menarik dibaca pasti memakan banyak waktu dalam menyuntingnya. 

Namun, banyak yang berpendapat kalau mengedit memang jauh lebih lama daripada menulis itu sendiri. Menulis draf awal, kan, yang penting bisa membuang segala kata-kata yang ada di kepala tersebut. Urusan kalimatnya bagus, enak dibaca, dan tersusun rapi belakangan saja. Saya pun sepakat dalam hal ini. Oleh sebab itu, saya nggak pengin terburu-buru menyajikan tulisan yang masih terasa mentah.

Mungkin yang akan jadi pertanyaan ialah, terus di mana tantangannya kalau tulisanmu nggak ditampilkan? Bisa dibilang, saya merasa tertantang karena ingin mengalahkan diri saya sendiri. Bukan sebagai bukti kepada pembaca bahwa saya rajin atau pujian apalah itu. Toh, yang penting saya tetap menulis sehari sekali dalam bulan Januari. Biar diri saya sendiri saja yang tahu. 

Sesudah itu, datanglah persoalan lain, yakni jenis tulisan apa yang ingin saya buat? Kalau terlalu acak dan tidak memiliki tema itu kok kurang menantang. Kalau kayak begitu, ya setiap hari saya juga sudah sering menuliskannya di catatan ponsel atau bloknot. Lalu, terpilihlah salah satu tema: musik. Awalnya, saya memang pengin menuliskan lagu-lagu yang belakangan ini sedang saya sukai. Saya juga mau belajar mengulas. Saya pun telah menyiapkan beberapa daftar lagu untuk ditulis. Sayangnya, ternyata cukup banyak orang yang telah membahas lagu pada hari pertama itu. Saya kemudian membatalkannya begitu saja. Saya merasa cemen banget. Banyak alasan. Sok beda. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Tanggal 1 Januari sudah memasuki waktu malam, tapi saya belum tahu harus mencari tema lain dan dalam keadaan bingung untuk menulis. Syukurnya, pada pukul 23.00 atau menjelang tidur saya kepikiran untuk membuat puisi. Sajak itu cukup pendek dan nggak sampai sepuluh baris. Begitu kelar, tiba-tiba tercetuslah ide untuk bikin puisi dalam sebulan ini. Ya, meskipun sebenarnya saya sempat kepikiran pengin menulis cerpen atau fiksi kilat sehari satu. Tapi pas saya pikir-pikir ulang, sepertinya gagasan itu terlalu berat. Mungkin lain waktu deh. Lagian, dalam urusan menulis saya termasuk orang yang paling kesulitan saat menciptakan puisi ketimbang cerpen. Ini bisa menjadi tantangan sekaligus cara belajar buat saya. Pilihan pun telah ditentukan. Mantap.

Jadilah saya bikin puisi setiap hari. Seminggu pertama lancar banget. Bahkan, tiga puisi awal sempat saya unggah ke blog ini dengan judul Sajak Tahun Baru. Minggu kedua saya mulai tersendat. Bingung rasanya mau bikin puisi apa dan bagaimana biar bagus, sebab biasanya inspirasi untuk menulis sajak datangnya pas saya lagi sedih banget atau terlalu bahagia. Pokoknya dalam keadaan yang nggak wajar. Jika kondisinya lagi biasa-biasa saja, sungguh susah banget taik.

Terus, kebanyakan puisi yang saya buat pasti 1-2 bait aja. Jarang banget saya bisa bikin tiga bait atau lebih. Minggu ketiga saya semakin merangkai kata yang ala kadarnya. Asalkan ada rimanya, saya anggap itu udah bagus. Asli, itu pemikiran yang tolol sekali. Akhirnya, puisi-puisi saya seragam. Kurang eksperimen. Nggak ada perubahan dan terlalu mengandalkan rima. Menulis karena dipaksakan begitu menyebalkan juga, ya.

Sejak merasa jengkel akan puisi tersebut, bukannya berhenti mengikuti tantangannya, saya malah mulai mencari-cari referensi di internet. Entah mengapa saya merasa begitu bodoh atau udah kadung ikutan dan nggak mau menyerah. Sebelumnya, saya telah membaca dan memiliki buku-buku puisi Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, Aan Mansyur, dan Adimas Immanuel. Lalu berkat internet, saya menemukan puisi yang tidak mengandalkan rima. Ada beberapa penyair yang akhirnya saya suka puisi-puisinya. Tapi dari semua itu, saya paling naksir sama puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo. Terutama dua sajak berikut ini. 

DEWA TELAH MATI 

Tak ada dewa di rawa-rawa ini 
Hanya gagak yang mengakak malam hari 
Dan siang terbang mengitari bangkai 
pertapa yang terbunuh dekat kuil. 

Dewa telah mati di tepi-tepi ini 
Hanya ular yang mendesir dekat sumber 
Lalu minum dari mulut 
pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri. 

Bumi ini perempuan jalang 
yang menarik laki-laki jantan dan pertapa 
ke rawa-rawa mesum ini 
dan membunuhnya pagi hari. 


LAHIR SAJAK

Malam yang hamil oleh benihku 
Mencampakkan anak sembilan bulan 
ke lantai bumi. Anak haram tanpa ibu 
membawa dosa pertama di keningnya. 

Tangisnya akan memberitakan 
kelaparan dan rinduku, sakit dan matiku. 
Ciumlah tanah 
yang menerbitkan derita.
Dia  adalah nyawamu. 


Setelah membaca beragam puisi yang tidak melulu ketergantungan akan bunyinya, saya pun dapat lebih luwes menuliskan puisi sampai Januari berakhir. Saya juga nggak menyangka kalau belasan puisi saya itu, kelak saya pilihkan yang terbaik, saya revisi, saya minta tolong kepada teman-teman WIRDY untuk memberikan penilaian, dan saya kirim ke salah satu media. Walaupun sepertinya puisi saya itu ditolak, seenggaknya saya telah berhasil menantang diri saya lebih dari yang saya kira. 

Bermula dari iseng-iseng ikut tantangan “30 Hari Menulis”, eh saya malah punya stok puisi dan ide tulisan. Tulisan saya yang membahas musik itu pun akhirnya saya lanjutkan kembali. Lalu jadilah tulisan Musik sebagai Teman Menulis dan Musik sebagai Teman Membaca. Ada gunanya juga tantangan kayak gitu. Mungkin ke depannya saya pengin menantang diri lagi seperti pada bulan Januari. Apa kira-kira yang akan terjadi nantinya? Melahirkan buku kumpulan cerita barangkali? Siapa yang tahu? Semoga saja nggak malas.

Dan, untuk menutup tulisan ini, lebih baik saya tampilkan dua buah puisi sisaan bulan Januari lalu deh. Itu pun kalau masih pantas disebut puisi. Mau gimana lagi, puisi-puisi terbaiknya (tentu saja penilaian menurut saya sendiri) sudah saya kirimkan ke media itu. Jadi adanya hanya remah-remah begini. 

Kenapa Menulis Puisi? 

“Kenapa kau menulis puisi?” tanyamu, ketika kita sedang berdiskusi. 
Aku pun bergeming cukup lama. 
Hingga akhirnya menjawab, “Aku suka menciptakan rima.” 

“Tapi puisi tak hanya soal itu,” katamu tidak puas. 
“Apa jawabanku harus lebih jelas?” 

Kau mengangguk dan menanti kejujuran
yang keluar dari mulutku. 
Tapi lidahku malah mendadak beku. 

“Kalau kau tidak ingin menjawabnya, tak apa-apa.” 
“Karena puisi bisa mengisi pikiran dan jiwaku yang hampa.”


Di Ujung Lidah 

Di ujung lidahku 
tak akan ada kata yang terucap. 
Ia telah dibawa pergi kuda berpacu. 

Di ujung lidahmu 
tak akan ada makna yang terbaca. 
Ia telah dibungkam oleh penyanyi layar kaca. 

Di ujung lidah kita 
keheningan akhirnya bertemu. 
Menjadi ciuman ganas yang mendangkalkan ilmu. 

--

Gambar saya pinjam dari https://pixabay.com/id/model-tahun-kesedihan-sedih-depresi-2373083/
Read More
—Untuk WIRDY

*

Pukul sembilan pagi, Darma Haryanto baru saja selesai sarapan bubur ayam. Hanya bubur putih polos plus ayam suwir yang dibelikan ibunya setengah jam yang lalu. Tidak seperti bubur ayam biasanya yang ia pesan; yaitu memakai kecap, kuah kuning, cakwe, seledri, bawang goreng, kerupuk, dan lain-lain. Ia mau tidak mau mesti memakan bubur ala kadarnya itu, sebab tubuhnya sedang sakit dan mulutnya terasa sangat pahit. 

Sekitar lima belas menit sesudah meneguk air putih, ia bermaksud untuk tidur lagi agar kesehatannya cepat pulih. Saat ia baru saja berusaha memejamkan mata, masuklah satu pesan WhatsApp di ponselnya. Ia pun segera mengecek pesan itu, yang ternyata dari Nisa Wulandari. Ia ialah salah satu temannya yang kenal dari dunia maya sekitar 2 tahunan lalu dan masih akrab sampai sekarang, bahkan dapat dibilang mereka bersahabat. Pesan itu berupa: “Kamu udah sebulan lebih nggak ngeblog. Aku kangen baca tulisanmu. Keadaanmu baik-baik aja kan, Dar?” 



Darma Haryanto sebetulnya tidak ingin ada yang tahu kalau dalam tiga hari ini dirinya kurang sehat, tapi ia entah mengapa sulit berbohong kepada Nisa Wulandari. Ia selalu teringat akan janji yang pernah Nisa Wulandari bilang: Jangan pernah ada kebohongan di antara kita. Selagi mengingat kalimat omong kosong dalam pertemanan seperti itu, sekonyong-konyong ingin membuatnya muntah. Namun, berkata jujur tentu tidak ada salahnya. Toh, siapa tahu nanti mendapatkan doa dari temannya itu dan bisa membantu kesembuhannya. Oleh karena itu, Darma Haryanto membalas dengan sejujurnya, “Proyek kerjaan lepasku bulan kemarin lagi banyak-banyaknya, Nis. Belum sempet nulis lagi. Terus di akhir proyek aku terlalu kecapekan, jadi sakit deh sekarang.” 

Setelah itu, Nisa Wulandari langsung ceramah betapa pentingnya menjaga kesehatan, jangan lupa minum multivitamin ketika kerjaan sedang padat, istirahat yang cukup, dan seterusnya, dan sebagainya. Mereka pun saling balas-balasan pesan dan berujung Nisa Wulandari akan datang menjenguknya nanti sepulang dari kantor. Darma Haryanto kemudian meletakkan ponselnya ke meja di dekat kasurnya dan kembali untuk beristirahat. 

Pukul tiga sore Darma Haryanto terbangun dari tidur. Ketika sedang sakit begini, ia entah mengapa malas memainkan ponsel. Ia justru bermaksud mengambil salah satu buku yang ada di raknya. Ia sebenarnya bingung ingin membaca buku apa. Jika dalam keadaan lemah begini, untuk membaca yang berat-berat seperti buku filsafat atau esai politik rasanya pasti ia tidak sanggup. Novel-novel sudah semua ia tamatkan. Kumpulan cerpen sedang kurang berminat. Jadilah ia mengambil buku puisi Aan Mansyur, Melihat Api Bekerja

Darma Haryanto terkagum-kagum dengan puisi yang berjudul “Masa Kecil Langit”, ia lalu membacakannya dengan suara yang dibuat-buat dan penuh gaya. 

“Besok pagi, ketika kau bangun dan menemukan langit di depan jendelamu. Lupakan seluruh jadwal kerja yang menguras jiwamu dan jadilah bunga-bunga. Biarkan ia mewarnaimu. Ajak ia menyusuri jalan menuju masa kecilmu dan biarkan ia pergi ketika kau sudah sampai. Ia tidak tahu membuatmu kehilangan. Ia tidak bisa melupakan jalan menuju tempat tidurmu.” 

Lalu ia tersenyum bermaksud memuji dirinya sendiri. Ia membaca lagi halaman demi halaman, lalu kembali terpikat dengan puisi berjudul “Memimpikan Hari Libur”, terutama di bagian: 

Aku bangun seperti hujan yang pulang ke langit. 
Kepalaku tidak berada di tempat yang tepat. 
Aku berjalan ke kamar mandi bersama potongan-potongan mimpi. 

Mentang-mentang baru bangun tidur, Darma Haryanto berpikir kalau puisi-puisi yang terdapat kata “bangun” begitu cocok untuk menghibur dirinya yang sedang sakit ini. Setelah merasa lebih baik, ia berjalan ke ruang tengah dan melihat masakan ibunya. Ia harus makan agar tubuhnya semakin membaik. Di meja tersedia sayur bening bayam dan tempe goreng. Lalu ia menyiapkan nasi beserta sayur dan lauk. Tidak lupa segelas besar air putih. Kemudian, ia membawa piring dan gelas tersebut ke kamarnya.

Sebelum makan, Darma Haryanto menyalakan laptopnya dan memutar film animasi Gintama. Akhir-akhir ini, ia ketagihan akan anime yang direkomendasikan salah satu teman kerja lepasnya kemarinan itu. Kini, ia menonton film animasi itu sambil makan. Begitu kelar makan, ia tidak langsung menaruh piringnya ke cucian piring. Ia sudah nyaman dengan posisinya dan terhanyut akan tontonan. 


Beberapa jam kemudian, tepat pukul delapan malam, ada yang mengetuk pintu rumah Darma Haryanto dan mengucapkan salam. Darma Haryanto dapat mendengarnya samar-samar. Ia menebak kalau itu suara Nisa Wulandari. Di rumahnya, ia hanya bersama ibunya, Bu Rahayu. Ayahnya belum pulang bekerja, sedangkan adik perempuannya yang SMP katanya lagi mengerjakan tugas kelompok sekolahnya di rumah teman dan pulangnya nanti pukul sembilan. 

Darma Haryanto mendengar ibunya membukakan pintu dan menyuruh masuk. Mempersilakan Nisa Wulandari segera ke kamar saja. Bu Rahayu sudah mengenal Nisa Wulandari, sebab ia memang sudah beberapa kali main ke rumah. Sesampainya di kamar Darma Haryanto, Nisa Wulandari rupanya membawa plastik yang berisi dua kaleng susu beruang dan sebungkus roti tawar. Nisa Wulandari duduk di pinggiran kasurnya. 

“Kamu kenapa segala bawa tentengan, sih? tanya Darma Haryanto. 

“Kamu sendiri kenapa bisa sakit?” balas Nisa Wulandari. 

Keduanya tertawa bersamaan. Awalnya Darma Haryanto menceritakan asal muasal tentang sakitnya itu. Ia dalam sebulan belakangan ini memang sedang mengambil kerjaan lepas untuk menjadi penulis konten dan mengurus admin media sosial salah satu start up di Jakarta Pusat. Ia diminta untuk menggantikan salah satu pegawainya yang lagi fokus mengerjakan tesis. 

Seminggu pertama, sih, betul-betul terasa menyenangkan dan menantang. Tapi hari-hari berikutnya ia berpikir kalau bekerja di tempat semacam itu sungguh membuatnya stres. Ia jadi selalu pulang tengah malam. Masuk pukul 9 pagi, pulangnya bisa pukul 9 atau 10 malam. Pokoknya kalau ada lemburan, ia bisa bekerja 12 jam atau lebih. Sayangnya, hampir setiap hari ia mesti lembur. Lembur atau tidak lembur sudah tidak ada bedanya lagi di kantor tersebut. Seolah kantor itu menyalahi aturan pekerjaan yang mestinya hanya 8 jam bekerja. Mana upah lemburnya juga terlalu murah, bahkan kadang nggak dibayar.

Ide-ide di kepalanya terkuras habis untuk pekerjaan kampret itu dan tidak sempat lagi mengisi blognya sendiri. Lebih-lebih di akhir bulan ini sangat memeras tenaga dan pikirannya. Akhirnya, ia pun tumbang. Menurut penjelasan dokter di salah satu klinik yang ia datangi, dirinya terserang gejala tifus.

Setelah terkena sakit begitu, betapa kesalnya Darma Haryanto dengan pekerjaan yang merangkap-rangkap dan ada tambahan di luar dari tugasnya itu. Awalnya, pekerjaan Darma Haryanto itu hanya bikin lima puluh artikel dalam sebulan dan bantu-bantu brainstorming. Lalu, tiba-tiba atasannya memberikan tugas tambahan untuk memegang salah satu akun media sosial karena karyawan yang bertugas sebagai admin media sosialnya mulai keteteran.

Lebih konyolnya lagi, kadang ia juga mesti membantu desain semenjak atasannya mengecek akun Instagram-nya yang terdapat beberapa gambar desain. Darma Haryanto tentu hanya iseng mendesain untuk pelariannya sewaktu jenuh menulis. Namun, atasannya itu berkata kalau desainnya cukup ciamik. Kala Darma Haryanto berusaha menolak, Pak Bos segera memakai kalimat ampuh yang sulit ditolak, “Hasil desainnya nanti juga bisa untuk portofolio kamu, kan?” 

Berengsek betul. Ia merasa Pak Bos mulai memanfaatkannya. Tapi pekerjaan sudah kadung ia ambil. Seorang Darma Haryanto kudu melakukan pekerjaannya dengan profesional. Sebetulnya, ia agak menyesal juga kalau tahu akan begini jadinya. Jika saja sedang tidak benar-benar butuh uang tambahan saat itu, mungkin tawaran kerja sebulan penuh itu tidak akan ia terima. Toh, ujung-ujungnya sebagian gajinya malah habis untuk berobat, serta membeli susu beruang dan pil cacing. Sama saja menukar kesehatan dengan uang, pikirnya. Baguslah sekarang pekerjaan itu telah selesai dan ia tidak perlu repot-repot masuk kerja dalam keadaan loyo setengah mampus. 

Sehabis Darma Haryanto curhat, mereka berdua pun terus lanjut mengobrol dari ini sampai itu. Sampai-sampai Darma Haryanto mengeluhkan kalau hari ini sudah terlalu banyak tidur-tiduran maupun tidur betulan. Dan, malam ini pasti jadi sulit untuk tidur. Saat itulah, Nisa Wulandari tiba-tiba bilang kalau dirinya dapat membantunya untuk tidur pulas. 

“Gimana caranya, Nis?”

Nisa Wulandari tidak menjawab dan segera memulai metodenya. Ia menyembunyikan tangan kanannya ke balik selimut yang Darma Haryanto kenakan untuk menghangatkan badannya yang menggigil itu. Tangan Nisa Wulandari kemudian masuk ke celana pendek Darma Haryanto, masuk lagi ke celana dalamnya, dan berakhir menemukan sesuatu yang memang ia cari-cari. Setelah itu, Nisa Wulandari mengelus tongkat saktinya. Ia pun mengocoknya perlahan-lahan. 

“Nis, kamu ngapain? Kamu gila, ya! Kalau ibuku tahu gimana?” 

“Ngomongnya jangan kenceng-kenceng, tolol! Lagian tenang aja, sih, ibumu sedang fokus menonton sinetron Jodoh Wasiat Ayah tadi.” 

“Tapi kita nggak wajar melakukan—“ 

“Kamu tapi suka, kan? Ini buktinya tegang,” ujar Nisa Wulandari, lalu menyeringai. “Palingan kamu kalo susah tidur juga biasanya kayak gini dengan tanganmu sendiri. Iya, kan?” 

Darma Haryanto tidak menjawab dan merasa malu. 

“Udah, pokoknya nikmatin aja. Sesekali aku bantuin pakai tanganku. Kamu tiduran aja deh biar semakin rileks.” 

Darma Haryanto pun tiduran sembari menatap wajah Nisa Wulandari yang manis dan menggemaskan itu. Lalu memperhatikan rambut lurus hitamnya yang sebahu. Menurut Darma Haryanto, bentuk wajah Nisa Wulandari sangat cocok dengan rambut seperti itu. Kemudian tatapannya turun lagi ke lehernya yang putih. Lalu turun lagi ke gunung kembarnya. Darma Haryanto pun tau-tau membayangkan hal yang jauh lebih dari ini. Ia benar-benar sadar kalau hal ini tidak benar. Apalagi membayangkan kalau Nisa Wulandari akan berbuat yang lebih gila. 

Darma Haryanto berusaha mengingatkan Nisa Wulandari untuk berhenti, tapi ia sendiri tidak dapat membuang pikiran-pikiran kotornya. Tubuhnya pun sulit sekali menolak kenikmatan itu. Kali ini gantian hatinya berkata, kalau apa yang tengah mereka lakukan saat ini tidak benar. 

“Nis, kenapa kamu jadi kayak gini ke aku? Kita nggak berada dalam cerpen Haruki Murakami, kan?” 

“Kamu kebanyakan baca dan nulis fiksi, Dar. Udah diem aja dan nikmatin.” 

“Tapi kenapa harus kayak gini?” 

“Anggap saja ini bentuk rasa sayangku ke kamu.” 

“Hah?” 

Darma Haryanto jelas tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Ia sekali lagi ingin menyudahi perbuatan bodoh ini, tapi semakin lama berahinya juga semakin susah untuk dikendalikan. Akhirnya, cairan itu pun keluar banyak sekali. Nisa Wulandari langsung membersihkan tangannya yang lengket itu dengan mengusapnya ke celana dalam Darma Haryanto. Tubuh Darma Haryanto seketika itu langsung lemas dan Nisa Wulandari pamit pulang. 

“Makasih, ya,” ujar Darma Haryanto lirih. 

Nisa Wulandari cuma tersenyum dan keluar dari kamar Darma Haryanto. Kamar yang penuh dosa. Mata Darma Haryanto kala itu otomatis terpejam, tapi ia masih mendengar suara saat Nisa Wulandari berpamitan pulang kepada ibunya. Setelah itu, ia tidak mendengar apa-apa lagi dan kesadarannya pun hilang. Ia tidur sangat nyenyak malam itu. 


Darma Haryanto terbangun pukul 05.10 karena alarmnya berbunyi. Bangun-bangun, ia langsung mempertanyakan kejadian semalam. Apakah itu nyata atau mimpi? Namun, ia betul-betul merasa itu bukanlah mimpi. Untuk memastikannya, ia mengecek pesan dari Nisa Wulandari yang dikirimkan pukul tujuh malam. 

“Aku mendadak ada lemburan sampai jam sembilan nih. Mungkin baru sampai tempatmu jam 10 atau setengah 11. Takut kemaleman. Besok aja kali, ya? Maaf banget.” 

Jadi, yang semalam itu mimpi? 

Darma Haryanto sebetulnya tidak akan menyangka kalau hal gila semalam tersebut betul-betul terjadi secara nyata. Ia pun merasa bersyukur. Sejauh ini, ia tidak pernah macam-macam dengan perempuan, kecuali memeluk atau cium pipi. Seraya membuang gambaran kotor di mimpinya, Darma Haryanto lalu mengabari Nisa Wulandari jika lebih baik bertemunya hari Sabtu pagi saja di sebuah taman dekat rumahnya. Hari Jumat ini, ia sudah merasa agak baikan dan tak perlu dijenguk. Ia mulai berani mandi. Ya, meskipun menggunakan air hangat. Lagi pula, ia terpaksa mandi sebab mimpi basah semalam. Hari Jumat ini, ia tidak banyak kegiatan. Setelah Jumatan, ia pun memilih untuk tidur lagi. Pokoknya hari ini mesti fokus beristirahat demi besok semakin pulih dan dapat menepati janji untuk bertemu Nisa Wulandari. 


Keeseokan harinya pada pukul 10 pagi, Darma Haryanto sudah berada di taman tempat mereka janjian untuk berjumpa. Nama taman ini ialah “Taman Gemini”. Entah mengapa nama taman ini bajingan banget, pikirnya. Hanya karena taman ini terbentuknya pada awal bulan Juni, kenapa harus diberikan nama zodiak? Kayak nggak ada nama lain aja. Tapi, apakah sebuah taman juga memiliki zodiak? Kelamaan menunggu seperti ini terkadang membuat pikirannya ngawur. 



Lalu ia duduk di salah satu bangku panjang di taman itu yang dekat dengan pintu masuk. Taman Gemini ini terdapat belasan bangku panjang yang berjumlah antara 16 atau 18. Darma Haryanto sudah lupa jumlah tepatnya. Ia pun sedang malas menghitung ulang. Ia kemudian melupakan persoalan jumlah bangku di taman ini dengan memperhatikan salah satu bagian taman yang memanjakan matanya. Ia memandangi warna hijau, yang sudah pasti adalah rumputnya; kuning, yang merupakan bunga legistrum; dan ungu, entah apa nama bunganya sebab ia memang tidak banyak tahu nama-nama bunga. Ia berpikir, beberapa taman di Jakarta biasanya akan selalu ada bagian taman yang dihias dengan tiga warna itu. Bentuk rumput dan bunganya pun selalu sama. 

Tak lama setelah itu, Nisa Wulandari datang menyapanya dan duduk di sebelah kanannya. Ia mengenakan kaos lengan panjang berwarna biru telur asin. Ia menutupi kaki indahnya dengan celana denim hitam dan sepatu Converse putih. Tercium aroma parfum menyegarkan. Nisa Wulandari pernah berkata kalau wangi parfumnya itu ialah paduan antara bunga anyelir dan lili putih.

“Maaf ya, aku telat datang. Tadi sama ibuku disuruh beres-beres dulu baru boleh pergi.” 

Darma Haryanto hanya terdiam. Nisa Wulandari pun menganggap kalau Darma Haryanto bete kelamaan menunggu. Ia melihat jam tangannya, terlambat 40 menit dari jadwal yang telah mereka sepakati. Ia meminta maaf sekali lagi. Darma Haryanto masih bergeming. Sudah tiga kali meminta maaf dan tidak mendapatkan respons, Nisa Wulandari pun menyerah. Akhirnya, keheningan mulai menyelimuti mereka.

“Aku beneran kaget diriku masih bisa ngerasain sakit,” kata Darma Haryanto membuka percakapan. 

Mendengar kalimat nggak jelas dari mulut temannya itu, Nisa Wulandari langsung kesal. Rasa jengkel karena tadi dicuekin itu juga cukup menambah kemarahannya, lalu ia bilang, “Kamu ini tolol ya, Dar? Semua manusia jelas bisa sakitlah. Emang kamu itu dewa? Malaikat? Sendok? Kertas? Bantal?”

“Guling,” potong Darma Haryanto. 

“Eh, aku tadi juga mau bilang itu!” 

Keduanya pun tertawa bersamaan. Darma Haryanto lalu bercerita kalau dirinya sudah berbulan-bulan sebelumnya tidak pernah sakit. Baru kali ini ia sakit kembali. Cukup parah pula sampai terkena gejala tifus. Kemudian Nisa Wulandari coba mengaitkan hal itu tentang kebiasaan Darma Haryanto yang sebelum-sebelumnya selalu rajin menumpahkan perasaannya ke dalam tulisan. Membuang pikiran-pikirannya dari hal buruk konon bisa menjauhkan dari penyakit. Nisa Wulandari lalu mengutip salah satu artikel yang pernah ia baca, “Menulis itu merupakan terapi jiwa. Segala sakit awalnya berasal dari pikiran kita sendiri. Dengan menulis, pikiran kita bisa jernih. Pikiran dan jiwa yang sehat tentu bikin tubuh tidak gampang terkena penyakit.” 

“Iya, ya. Kalau dipikir-pikir betul juga,” ujar Darma Haryanto. 

“Makanya kamu nulis lagi dong, Dar. Menulis yang memang untuk diri sendiri, bukan nulis untuk pekerjaan.” 

“Aku bingung mulainya, Nis. Udah coba nulis, tapi hasilnya jelek mulu. Mau curhat aja rasanya kaku.” 

“Ya, kayak yang pernah kamu bilang waktu itu aja. Menulis dari keresahanmu.” 

Darma Haryanto lalu menjelaskan tentang dunia blog yang semakin sepi, yang memberikan komentar sedikit, trafik menurun parah, dan seterusnya. Kelamaan menunda untuk menuliskan sesuatu ternyata bikin dirinya sulit memulai kembali.

“Udah tulis aja dulu. Jelek, kan, nanti bisa diedit. Aku akan selalu menjadi pembaca setia tulisanmu. Baik nantinya memberi komentar di blog, japri di WhatsApp, ngomong langsung, maupun cukup membacanya saja.” 

“Kamu kurang kerjaan, Nis.” 

“Aku justru butuh pelarian dari pekerjaanku itu dengan membaca. Aku nggak mungkin, kan, baca buku pas kerja?” 

Darma Haryanto mengangguk. “Iya, lalu?” 

“Aku palingan cuma bisa curi-curi waktu baca satu-dua artikel blog. Dan, biasanya tulisan-tulisanmu di blog itulah yang entah kenapa selalu bisa membuatku rileks lagi dalam bekerja. Tulisanmu menghilangkan jenuh.”

“Kamu berlebihan.”

“Aku sungguh-sungguh memuji tau. Hm, tapi aku ngomong kayak gitu nggak ada maksud apa-apa, ya. Kamu jangan ge’er atau gimana-gimana.” 

Darma Haryanto lalu diam saja. Ia teringat mimpinya pada malam itu dan ingin memberi tahu Nisa Wulandari kalau dirinya sempat mengatakan tentang bentuk rasa sayang yang disampaikan lewat perbuatan kacau itu. Namun setelah ia pikir-pikir lagi, mungkin lebih baik untuk merahasiakannya. Biarkan hal itu tersimpan menjadi mimpi paling indah sekaligus aneh.

Lagian, tidak mungkin Nisa Wulandari suka kepadanya. Karena ia memang hanya sebatas sahabat. Darma Haryanto pun merasa tidak ada perasaan lebih dari itu, sebab kalau dari awal berniat untuk bersahabat, ya pastilah bisa sahabatan. Walaupun beberapa orang suka bilang jika perasaan bisa tumbuh dalam persahabatan. 

Ia pun menyingkirkan pikiran sahabat jadi cinta itu sejauh mungkin, tapi gambaran ketika tangan Nisa Wulandari membuatnya enak dan perkataan “Anggap saja itu bentuk rasa sayangku ke kamu” muncul kembali. Mimpi bajingan itu betul-betul mengganggu pikirannya. 

Cuaca pukul sebelas siang semakin panas, bagusnya tempat mereka duduk dipayungi beberapa pohon palem segitiga. Pohon itu lumayan memberikan hawa sejuk. Tapi Nisa Wulandari mulai mengeluhkan gerah dan mengajak Darma Haryanto membeli es krim. Di dekat tempat mereka duduk memang terdapat beberapa penjual makanan; pedagang mi ayam, pedagang cilok, pedagang otak-otak, dan pedagang es krim. 

Nisa Wulandari memilih es krim Magnum, sedangkan Darma Haryanto es krim dalam cangkir kecil rasa cokelat dan vanila. Mereka kembali duduk di bangku panjang tempat duduknya semula dan menyantap es krim itu. Kemudian Nisa Wulandari bertanya, “Pulang dari taman ini kamu bakalan menulis lagi, Dar?” 

“Mungkin kupikir begitu.” 

“Entah kamu tetep bertahan untuk vakum berapa lama lagi. Tapi aku mau mengingatkan satu hal: meskipun blog lagi sepi, bukankah kamu bisa jadi salah satu yang rajin? Jangan malah ikut-ikutan males.”

“Dibilang aku beneran bingung harus mulai dari mana, Nis.”

“Saat udah lama nggak nulis, mulailah dari tulisan yang sederhana. Yang singkat-singkat saja untuk sebuah permulaan.”

“Eh, kalimatmu barusan seperti twit ...,” kata Darma Haryanto berusaha memikirkan siapa orang yang pernah menulis kalimat sok tahu seperti itu. 

“Hayo, siapa?” 

“Hm, Akbar Yoga Sulaeman, bukan?” 

Nisa Wulandari mengangguk. Mereka berdua kemudian membicarakan si bloger yang terkenal hobi curhat dan cuek cenderung masa bodoh setiap menulis tersebut. Bloger yang berkali-kali ikut lomba, tapi belum juga mendapatkan kemenangan dalam setahun terakhir ini. Bodohnya, ia masih terus menulis dan mempelajari tulisan-tulisan para pemenang lomba itu agar suatu hari juga bisa menang. Ia sudah lama nggak dapet tawaran kerja sama pula, tapi ia tetap gigih ngeblog dengan sepenuh hati karena ngeblog bukan perkara uang. Yang terpenting dirinya puas dan bahagia setiap selesai menulis. Hal itu sudah lebih dari cukup baginya. Akhirnya, Darma Haryanto mendadak merasakan api semangatnya berkobar kembali. Pulang dari taman ini ia tahu harus melakukan apa untuk menjernihkan pikiran.

--

Gambar saya pinjam dari Pixabay.
Read More
Saya kerap mendengar pertanyaan dari teman yang bingung ketika melihat saya selalu menggunakan tas kala bepergian. Pertanyaan itu bisa berupa: “Lu mau ke mana deh segala bawa tas?”; “Lu habis dari mana emang, Yog?”; atau bisa juga “Mau minggat lu?”.

Saya memang keseringan menggendong tas ransel, baik itu yang perginya jauh ataupun dekat dari rumah. Alasan saya melakukannya ialah, saya perlu membawa buku saat ke luar rumah. Tentu saja saya kurang nyaman kalau hanya menentengnya ke mana-mana. Saya juga takut jika buku itu akan rusak nantinya, kehujanan misal. Jadi, akan lebih mudah dan aman jika saya menyimpannya di dalam tas. 

Bagi saya, membaca buku merupakan satu-satunya cara membunuh waktu dan mengusir bosan paling ampuh. Selagi menanti kereta di stasiun, saya bisa sambil membaca buku. Terus yang paling sering terjadi, yakni menunggu teman di suatu tempat sewaktu janjian bertemu. Saya termasuk orang yang tepat waktu saat janjian, sedangkan teman-teman saya entah mengapa hobi datang telat. Nah sembari menanti teman saya yang terlambat datang, alangkah baiknya saya menghilangkan kejengkelan itu dengan membaca buku.

sumber: Pixabay (lalu diedit sesukanya)


Sebetulnya, saya bisa saja memainkan permainan di ponsel, tetapi kondisi ponsel saya kurang cocok untuk hal tersebut karena keterbatasan memori. Jika memang cuma ingin membaca, saya juga sebenarnya dapat membaca artikel di blog ataupun e-book. Bahkan, kadang ada beberapa teman yang aneh melihat saya repot-repot membawa buku lalu membacanya alih-alih memainkan ponsel. Ia pun memprotes atau meledek, “Zaman udah canggih juga. Lu, kan, bisa baca di hape.” 

Biasanya saya diam saja atau tersenyum untuk merespons kalimat kayak gitu. Namun, saya juga kadang ingin menjawab, “Kenikmatan membaca buku fisik itu sulit tergantikan. Bau kertasnya itu, loh.” Setelah itu, saya akan gantian meledek teman saya dengan mendekati buku yang sedang saya pegang itu ke wajah. Hidung pun mengambil tugasnya untuk menghirup aroma surga tersebut.
Read More
Aku bertanya kepadamu, ini mimpi atau nyata? 

Kau tidak menjawab pertanyaanku. Aku mengulang pertanyaan itu dengan suara lebih keras dari sebelumnya. Kau begitu datar dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka mulut. Aku kesal sekali diabaikan. Kali ini aku bertanya dengan agak membentak. Kau masih tetap bergeming. Aku pun langsung memukul wajah dan mendorongmu sampai kau terjatuh. Kau masih belum menjawabnya, bahkan wajahmu tidak berekspresi sama sekali. Aku menduduki tubuhmu tepat di bagian dada dan menghajar wajahmu lagi. Kulakukan berulang kali hingga kau mau menjawabnya. 

Namun, kau masih diam saja. Menatapku tajam dan dingin. Tanpa merasakan sedikit pun sakit. Aku pun jadi lelah sendiri dan menghentikan tonjokan itu. Sambil mengatur napas hingga dapat bernapas dengan normal, aku kembali bertanya kepadamu, “Ini mimpi atau nyata?” 



Celakanya, kau masih saja bisu. Jantung memompa darah lebih cepat ke seluruh tubuh dan berkumpul paling banyak di bagian kepala dan kedua tanganku. Lagi-lagi pukulan mendarat di wajahmu berkali-kali sampai kau babak belur. Seraya menghancurkan wajahmu, aku terus menanyakan hal itu kepadamu, ini mimpi atau nyata? 

Kemudian aku tiba-tiba menangis karena merasa hampa. Aku telah menyakiti orang lain. Tapi, aku seakan-akan sedang menyakiti diriku sendiri. Tanganku perih sekali. Dan, yang lebih tidak bisa kupahami, mengapa rongga dadaku terasa sesak? Mungkin sakit yang kuterima justru lebih mengerikan daripada apa yang kulakukan terhadapmu. 
Read More
Pada masanya, saya pernah bodoh dalam membedakan mana itu novel, mana buku kumcer (kumpulan cerita). Jika saat itu Rani—teman yang ingin meminjam buku—tidak bertanya, “Koleksi novel lu ada apa aja, Yog?”. Mungkin saya akan semakin terlambat mengetahuinya. Kala itu saya menyebutkan koleksi saya yang memang sedikit, yaitu novel-novel Andrea Hirata, Adhitya Mulya, Raditya Dika, dan Alitt Susanto.

Rani pun bertanya, apakah Raditya Dika punya karya berbentuk novel? Terus, Alitt Susanto itu siapa? Saya dengan penuh rasa percaya diri langsung menjawab buku-bukunya yang bertema binatang. Saya juga memberi tahunya kalau buku Alitt tidak jauh berbeda dengan Radit. Kemudian Rani tertawa dan memberitahu saya, “Itu mah kumpulan cerita, bukan novel, Yog. Jangan disamain.” Ia mulai menjelaskan kalau novel ceritanya panjang dan utuh dari awal sampai akhir, sedangkan buku-buku yang tiap bab berbeda kisahnya bukanlah novel. Setelah itu ia menambahkan, “Katanya mau jadi penulis, tapi bedain gitu aja nggak bisa.”

Ya, Allah. Rasa-rasanya saya langsung ingin mengubur mimpi menjadi seorang penulis. Lebih baik pindah haluan jadi tukang gali kubur saja. Tentunya, saya tidak mengubur manusia, tapi tukang mengubur mimpi. Atau, saya jadi direktur di PT Mencari Cinta Sejati. Setidaknya, saya berpikir itu lebih baik daripada penulis, sebab sudah telanjur malu dengan ledekan Rani. Oleh karena itulah, saya sampai saat ini belum menerbitkan satu pun buku. Ya, mencari-cari alasan kayak gini memang enak betul.

Kembali ke persoalan Rani yang ingin meminjam novel, akhirnya kami saling tukaran dalam pinjam-meminjam buku. Saya meminjamkannya novel Jomblo karya Adhitya Mulya, sedangkan Rani memberikan buku kumpulan cerita Pidi Baiq, Drunken Molen.

Sekarang, ketika saya sedang membereskan rak buku sembari mengingat kejadian itu, saya mulai memperhatikan koleksi buku-buku saya. Rupanya, di rak kebanyakan buku kumcer dan sejak dulu saya lebih menyukai jenis buku tersebut. Saya pikir, baca kumcer tidak memerlukan keterikatan. Saya bisa bebas membaca ceritanya yang mana saja. Beda dengan novel yang kudu urut dari awal, serta mesti meluangkan banyak waktu.



Namun, pada tahun 2017 saya mulai membiasakan diri untuk lebih banyak baca novel. Siapa tahu suatu hari saya juga pengin menulis novel. Saya pun dapat belajar dari novel-novel yang telah saya baca itu. Ya, biarpun pada akhirnya jumlah kumcer yang saya baca tetap jauh lebih banyak dari novel. Intinya, inilah daftar novel yang saya baca di tahun 2017.
Read More
Kala saya duduk di bangku SD, sekitar tahun 2000-2006, musik-musik yang biasa saya dengarkan adalah Slank, Iwan Fals, Peterpan (yang kini telah berganti nama menjadi Noah), Dewa, Sheila on 7, dan lain-lain. Saya cuma bisa menikmati lagu-lagu lokal. Saat itu, saya memang tidak tahu mengenai musik-musik luar negeri atau yang berbahasa Inggris, sebab dulu referensi saya sangat terbatas. Saya hanya bisa mengenal musik dari televisi atau radio. Pada zaman itu, internet masih cukup langka. Warnet-warnet pun kalau tidak salah baru menyediakan permainan Counter Strike. Jarang sekali yang sudah ada online games.

Syukurnya, saat memasuki SMP saya dijejali banyak lagu luar oleh teman-teman di kelas. Saya tidak tahu mereka mengetahui lagu-lagu tersebut dari mana. Entah karena mereka terbiasa membaca majalah musik, sudah mengenal internet, atau mungkin saya saja yang memang kurang pergaulan. Terlepas dari hal itu, yang penting saya jadi berkenalan dengan musik-musik baru. Saya mulai mengetahui Linkin Park (yang sebelumnya ternyata sudah saya dengarkan ketika bermain Winning Eleven di PlayStation 1), Blink 182, Green Day, My Chemical Romance, Thirty Seconds to Mars, dan seterusnya, dan sebagainya. 



Read More
Robby Haryanto membagikan sebuah tautan yang mewartakan tentang diskonan buku di Gramedia Matraman, Jakarta Timur, ke grup WhatsApp WIRDY. Sebagai orang yang hobi membaca buku, saya tentu saja langsung tergiur. Namun awal tahun ini keuangan saya sedang kurang baik, sebab bulan lalu baru saja membeli charger laptop agar Asri kembali menyala. Ditambah lagi, upah kerja lepas minggu lalu masih saja belum turun. Akhirnya, saya cuma bisa menjawab miskin :(.


via: Pixabay (yang kemudian saya edit sesuka hati)

Beberapa hari setelah itu, syukurnya honor dijanjikan akan turun. Saya pun menanyakan kepada Robby, itu diskonannya sampai kapan dan masih tertarik untuk datang nggak? Ia merespons saya dengan antusias. Ayo-ayo aja, mumpung lagi libur kuliah dan males di rumah. Mantap. Kami pun sepakat bertemu di sana pada hari yang dijanjikan.

Pada hari yang telah kami sepakati dan saya sudah dalam perjalanan sembari mencari pom bensin, tiba-tiba terdengar bunyi ringtone aurora dari kantong celana kiri saya. Sebuah notifikasi personal chat WhatsApp. Karena pom bensin sudah cukup dekat, saya pun mengabaikannya untuk sementara. Tak lama, suara yang sama terdengar kembali. 

Begitu tiba di pom bensin, saya tidak langsung mengantre dan memilih untuk mengecek ponsel dahulu. Terdapat pesan dari Robby yang menanyakan saya sudah berangkat apa belum. Pesan berikutnya, ia bilang kalau lupa turun di Matraman. Saya refleks membalasnya dengan emoji tertawa yang keluar air mata. Lalu saya mulai bertanya, sekarang di mana dan enaknya bagaimana?

Kemudian, ia menjawab kalau sedang di Halte Tosari dan menyuruh saya untuk ketemuan di Bunderan HI (Hotel Indonesia) aja. Saya pun mengingatkannya kalau wilayah itu motor tidak dapat melintas. Kami mau tak mau harus kembali ke rencana awal: bertemu di Matraman.

*

“Harganya masih termasuk mahal, Rob. Terakhir lu ke sini, emang kayak gini?” tanya saya kepada Robby.

“Iya, buku-bukunya juga nggak jauh beda sama yang bazar kemarinan.”

Pertama kali mendatangi diskonan di Matraman, seingat saya banyak buku-buku yang diobral dengan harga 5.000-10.000. Sedangkan saat ini, bukunya kebanyakan seharga 20 ribu atau lebih. Akhirnya, saya dan Robby belum mengambil satu pun buku. Kami berdua rasanya agak malas kalau harganya segitu. Mending buat makan, pikir saya. Mungkin kalau di dalam pikiran Robby, lebih baik buat mengisi saldo kartu TransJakarta. Secara dia, kan, rajin banget naik TransJakarta. Kalau dia rajin naik Gojek, mungkin untuk mengisi saldo Gopay. Jika dia rajin naik buraq, ya mungkin buat beli makanan buraq.

Lelah karena tidak mendapatkan buku yang paling murah, saya kemudian memainkan ponsel dan membuka Twitter. Rupanya, terdapat mention dari Haw (bloger Pontianak) yang memberi tahu saya kalau dirinya sedang berada di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dalam seminggu ini, ia memang sedang berkunjung ke rumah kerabatnya di Bogor. Saya pun bersahut-sahutan di dunia maya untuk menyuruhnya menyusul. Namun, dia sedang ada urusan dan akan berkabar lagi jika keperluannya sudah usai. Asyik, nggak nyangka nanti bisa sekalian kopdar sama bloger lainnya.

Saya kembali melihat-lihat buku seraya menanti kabar dari Haw. Tidak ingin pulang dengan tangan hampa, maka saya pun mencomot dua buah novel yang harganya Rp15.000. Lumayanlah, setidaknya nilai satu buku itu belum mencapai angka kepala dua. Kalau Robby, sih, masih berusaha mencari buku yang harganya sepuluh ribu.

Meskipun sudah malas dengan buku-buku diskon yang dijual, anehnya mata saya masih terus mencari-cari harta karun tersembunyi. Siapa tahu, saya bisa mendapatkan buku bagus di antara tumpukan buku seperti 2 tahun silam—saat saya menemukan buku kumcer Murjangkung, A.S. Laksana.

Akhirnya, Robby mengambil satu buah buku (saya lupa apa judulnya) seharga Rp10.000. Sebuah pencarian yang tidak sia-sia. Tak lama, saya juga menemukan sebuah buku yang sebelumnya pernah saya incar sewaktu datang ke BBW (Big Bad Wolf) pada April 2017. Namun karena waktu itu saya tidak ingin terlalu boros, saya menunda untuk membelinya. Sedihnya, sekarang harganya sudah tidak sama lagi. Waktu itu seingat saya cuma Rp18.000, saat ini malah jadi Rp25.000. Bedebah. Kalau tahu akan begini, ketika itu mah mending saya beli dan tidak perlu banyak berpikir.

Alih-alih langsung mencomot buku itu, saya kembali ragu-ragu untuk membelinya. Entah mengapa, saya masih gondok akan kenaikan harganya. Bagaimana bisa sebuah pergantian tahun mendadak bikin harga buku melonjak naik tujuh ribu. Sebagai alumni mahasiswa ekonomi, saya tentu sangat perhitungan akan harga yang tidak wajar begini.

Apalagi itu uangnya, kan, dapat saya gunakan buat beli mi instan di Warmindo. Ya, beberapa orang pasti akan mementingkan beli makanan daripada beli buku. Wahai Pemerintah, tolonglah turunkan harga buku! Bagaimana mau mencerdaskan kehidupan bangsa kalau begini caranya? Tapi, protes seperti itu rasanya tak berguna. Saya pun segera mengambil buku tersebut dan membawanya ke kasir tanpa berpikir macam-macam lagi. Belum tentu bukunya kelak tersedia kembali dan harga bisa saja semakin tinggi.

Sehabis membayar, saya dan Robby iseng melihat-lihat buku-buku lagi. Bedanya, ini bukan buku yang diskon, melainkan buku yang terdapat di toko bukunya. Kami awalnya mampir ke rak novel romansa, lalu membicarakan bagaimana tema percintaan selalu laku di pasaran. Karena kami berdua adalah tipe bloger yang dominan menuliskan cerita sehari-hari di blog, timbul suatu pertanyaan: “Kenapa buku kumpulan cerita keseharian semakin langka, ya?”

Pertanyaan tersebut kami lontarkan tanpa jawaban. Di dalam hati masing-masing, mungkin kami menjawabnya. Dan di dalam hati ini, saya merasa kalau buku kayak gitu sudah bukan masanya lagi. Lagian, saya perlu bercermin. Memangnya saya siapa? Untuk apa orang-orang membaca kisah hidup saya? Saya begitu sadar kalau curhatan itu tidak semuanya berguna. Nggak semua orang pengin tahu kehidupan personal orang lain. 

Kami berdua sejujurnya masih ada keinginan untuk menerbitkan buku. Namun, apakah kami perlu mengikuti selera pasar untuk sebuah  buku debut? Terlebih lagi novel yang asalnya dari Wattpad dan telah dibaca jutaan kali. Memandangi buku yang sudah dicetak ulang lebih dari lima kali itu benar-benar menggoda. Mungkin tidak menjadi diri sendiri itu nggak apa-apa kali, ya. Nanti kalau udah punya pasar, baru deh keluarin idealisnya.

Ah, sayangnya itu cuma pikiran sekadar lewat saja. Hal macam begitu hanya menunjukkan bagaimana kami berdua iri melihat penulis yang umurnya lebih muda, tetapi sudah menerbitkan buku. Robby, sih, usianya tidak terpaut jauh. Saya nih yang seperti dipecundangi. Hadeh. Saya pun berusaha membuang pikiran-pikiran buruk tentang menjadi penulis itu jauh-jauh. Kalau suatu hari saya emang pengin nerbitin buku, saya tentu akan tetap menerbitkannya dengan menjadi diri sendiri. Saya kemudian iseng membaca beberapa buku kumpulan puisi yang sampulnya sudah terbuka. Hitung-hitung buat belajar menulis sajak.

Saya kembali mengecek ponsel, Haw belum juga memberikan kabar lebih lanjut sejak tadi. Lalu, saya pun berinisiatif menanyakan kabarnya lagi untuk jadi menyusul atau nggak. Beberapa saat setelah itu, Haw memberi tahu kalau dirinya sedang berada di Wisma 77, Slipi, Jakarta Barat. Suasana lalu lintasnya macet banget gila, aku pusing lihatnya nih, keluhnya.

Membaca pesan itu, saya langsung kaget karena tempatnya sungguh dekat dengan rumah saya. Saya terus terang saja sudah tidak peduli lagi akan macet, sebab begitulah keadaan Jakarta. Jadi nggak perlu terkejut. Kemudian saya pun bertanya kepada Robby baiknya gimana, mau samperin ke sana atau pulang aja? Mumpung sedang liburan, Robby bersedia main-main dulu dan tidak langsung pulang. Setelah urusan di toko buku dan salat Magrib selesai, saya dan Robby pun segera menuju Slipi. Pertualangan pun dimulai.

**

Kala saya dan Robby sudah memasuki daerah Tanah Abang—yang jaraknya sudah dekat dengan Slipi—lalu lintas mendadak padat merayap. Tentang macet yang Haw bilang tadi, ternyata betul-betul di luar dugaan saya. Ini mah bukan macet yang biasa saya rasakan. Ini jauh lebih gila lagi. Saya entah mengapa langsung berkhayal ingin menabung banyak uang untuk membeli helikopter. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Jakarta pada tahun 2020 kalau tetap memilih bepergian naik motor. Walaupun saya juga belum tahu nanti mau parkir helikopternya di mana. Ya, namanya juga mengkhayal.

Tangan saya sudah keterlaluan pegalnya karena sedikit-sedikit mengerem. Lalu kerongkongan terasa sangat kering. Bau asap kendaraan membuat kepala saya pening, padahal saya sudah menggunakan masker. Wajah-wajah gusar para pengendara motor lainnya juga tidak sedap dipandang. Kombinasi semacam itu sungguh membuat saya jengkel dan ingin mengeluarkan jurus edo tensei. Saya mau membangkitkan Hokage Keempat biar bisa langsung sampai tujuan dengan jurus teleportasinya.

Syukur saja khayalan tolol itu tidak perlu lagi, sebab 10 menit kemudian saya sudah sampai di Wisma 77, Slipi. Saya segera menepi dan mengontak Haw. Tidak ada balasan apa pun dalam 5 menit, saya akhirnya mengajak Robby untuk mampir ke angkringan pinggir jalan seraya menunggu kabar dari Haw. Kami memesan dua gelas es teh. Minuman yang begitu menyegarkan tenggorokan.

Saya dan Robby mengira kalau Haw mungkin sudah pulang karena tidak kunjung membalas pesannya. Mungkin pertemuan kami memang belum direstui oleh Tuhan. Besok-besok lagi bisa deh ketemuannya. Akhirnya, sekalian saja saya duduk lebih lama dan tangan mulai mencomot tempe goreng dan sate usus. Lumayanlah untuk mengganjal perut. Melihat saya makan, Robby jadi ikutan mengambil tahu goreng. Kami pun makan dengan iringan bunyi mesin dan klakson kendaraan.

Saat sedang asyiknya menyantap makanan, ponsel saya berbunyi. Haw mengabarkan kalau dirinya diajak oleh temannya ke Central Park Mall. Sebelum beranjak, saya bertanya dahulu di sana masih lama atau cuma sebentar? Saya tidak mau sesampainya di sana, ia kelak sudah pulang dan tidak jadi bertemu. Syukurnya Haw menjawab, “Ayoklah ketemu. Kasih tau aja kalo udah sampe.” Maka, saya dan Robby langsung bergegas ke Central Park Mall. Dan, tidak lupa untuk membayar atas makanan dan minuman yang kami santap tadi.

***



“Ketemu di taman yang Pohon Natal, ya,” tulis saya kepada Haw begitu tiba di Central Park Mall.

Sambil berjalan menuju tempat itu, Robby berujar kalau dirinya baru pertama kali masuk mal ini. Kemudian, ia terlihat begitu takjub memperhatikan lampu warna-warni di taman. Saya pun entah kenapa jadi menceritakan pengalaman pertama kalinya main ke mal ini. Mengingat diri saya dulu sangat norak karena setiap melihat spot bagus langsung berfoto.



Kala kami sudah sampai di area Pohon Natal, saya langsung mengeluarkan ponsel dari kantong celana dan berniat memberi tahu Haw. Baru saja ingin mengirim pesan, ternyata Bolt saya mati. Saya tidak ada koneksi internet selain dari mi-fi itu. Ketika mengecek isi tas, saya hanya membawa power bank-nya saja dan kabelnya ketinggalan di rumah. Bermaksud meminjam kabel sama Robby, tapi ia juga tak membawanya. Mana ponsel Robby dalam keadaan mati. Saya ingin SMS, tetapi tidak tahu nomor Haw yang baru. Nomor yang lama sudah tidak dapat dihubungi. Saya dan Haw sejak tadi padahal bertukar pesan lewat DM Twitter, bodohnya saya lupa menanyakan nomornya.

Saya lalu coba menyalakan Bolt itu. Berhasil menyala, tapi baterainya kedap-kedip. Dengan cepat jari saya langsung mengetik dan bilang kepada Haw kalau Bolt saya mati dan cepetan ke sini, karena takut ribet nantinya saling cari-carian. Sewaktu saya ingin mengabarkan untuk SMS-an dan memberikan nomor ponsel kepadanya, Bolt sudah mati kembali. Saya dan Robby pun panik. Masa iya nggak jadi ketemu lagi? Rasanya pertemuan ini ada-ada saja kendalanya. Berengsek betul.

Saya memperhatikan sekeliling untuk menemukan cowok berkacamata yang mungkin juga sedang mencari-cari kami. Namun, wujud Haw tidak juga tampak. Saya awalnya sudah sempat berpikir untuk meminjam kabel kepada orang lain di taman ini. Bagusnya Robby segera bilang, “Gue coba nyalain hape deh. Masih sisa 5%, sih, kayaknya tadi.”

Yeh, ini anak bukan dari tadi. Saya pikir emang mati total. Ketika ponsel Robby menyala, baterainya sudah dalam keadaan 3%. Saya kembali deg-degan. 

“Duh, keburu nggak nih, ya?” tanya Robby.

“Pokoknya buruan ketik nomor gue terus kirim ke Haw, Rob,” ujar saya.

“Waduh, dua persen.”

Berak macan. Saya betul-betul jadi geregetan.

Alhamdulillah pesan telah terkirim dan nggak lama setelah itu Haw mengirimkan SMS ke nomor saya. Ia menuliskan kalau baru mau jalan ke taman, soalnya tadi mampir ke toilet dulu. Kutu kupret. Nggak tahu apa saya dan Robby nungguin dengan cemas.

Tak lama setelah itu, Haw berjalan bersama seorang perempuan berjilbab dan menghampiri tempat kami duduk. Saya dan Robby sepertinya sama-sama terkejut melihat temannya Haw itu. Kami berdua tentu saja dari awal mengira Haw main ke mal ini sama kerabatnya atau bersama teman sedang ada urusan pekerjaan, pokoknya sama laki-laki deh. Rupanya, ia ketemuan sama seorang bloger. Perempuan pula.

“Hayo, pada kenal nggak?” tanya Haw.

Robby langsung menggelengkan kepala. Saya mengernyitkan dahi sambil berusaha mengingat-ingat siapa bloger ini, sebab memang belum pernah bertemu sebelumnya. Namun, saya yakin pernah blogwalking ke blognya. Kala di ingatan muncul sebuah nama, dengan refleks saya mengatakan, “Dwi?”

Perempuan tersebut mengangguk dan tersenyum. Lalu Haw dan Dwi pun ikut duduk di sebelah kami. Kami berempat duduk-duduk sambil membicarakan dunia blog yang semakin sunyi. Beberapa teman yang dulu rusuh di kolom komentar, kini sudah banyak yang vakum. Arman Zega dan Renggo salah duanya. Haw bilang, Arman mungkin sudah terlalu sibuk dengan pekerjaannya menjadi penulis konten, sehingga nggak sempat lagi untuk menulis di blog. Sedangkan Renggo katanya tidak memperpanjang masa aktif domainnya. Kini, Renggonesia dan Renggostarr sudah tinggal kenangan.

Lalu Haw bercerita dirinya semakin jarang mendapatkan uang dari blog. Ia mengatakan kalau sekarang banyak bloger yang murahan. Padahal cuma dibayar 50-75 ribu untuk content placement, tapi langsung banyak yang mau. Berbeda sekali dengan kami yang seminimalnya harus 200 ribu. Kami memang sok jual mahal. Muahaha. Kemudian, Dwi malah belum pernah sekali pun menerima tawaran kerja sama, baik itu content placement ataupun job review.

“Dwi blognya masih bersih tuh. Keren deh nggak mau ada iklan.”

Saya tidak tahu kebenarannya karena jarang main ke blognya. Jadi, saya manggut-manggut saja. Beralih dari dunia maya, kini kami membicarakan dunia nyata. Haw bertanya kepada saya dan Robby tentang kesibukan kami di kehidupan nyata. Bagaimana kuliah Robby dan apa kerjaan saya sekarang? Seusai Robby menjawab tentang perkuliahannya yang baru selesai UAS, lalu saya merespons sekenanya tentang pekerjaan lepas dan belum juga mendapatkan kerja tetap. Haw bertanya kembali tentang pekerjaan saya dulu di sebuah media yang telah saya tinggalkan. Saya lagi-lagi menjawab sekadarnya. Setelah itu gantian Haw menceritakan dirinya yang sekarang bekerja jadi seorang reporter.

“Reporter? Wah, keren!” kata saya memuji.

“Reporter di Twitter tapi, Yog.”

“Hah? Maksud lu gimana?” tanya saya.

“Kalo lihat twit konflik politik, aku report. Ada yang menyulut kebencian, aku report.”

Saya, Robby, dan Dwi pun tertawa. Bangkai, Haw masih sempat saja berkelakar.

“Ya, itu report-er, kan?”

Bodo amat!

Setelah itu, obrolan bertambah seru dan random membicarakan berbagai topik (yang rasanya tidak perlu saya tampilkan di blog ini). Sayangnya, hari sudah semakin malam. Melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 21, Haw takut tidak mendapatkan kereta dan nggak bisa pulang. Saya menawarkan kalau nanti kemalaman, bisa menginap di rumah saya. Haw menolak ajakan itu dengan halus karena besok pagi juga masih ada urusan. Akhirnya, Dwi memberi tahu kalau kereta terakhir itu masih pukul 23. Bincang-bincang pun dilanjutkan kembali.

Sebelum pulang, seingat saya Haw curhat kalau merindukan tulisan-tulisan bloger yang personal. Ditambah niche bloger sekarang kebanyakan kalau nggak perjalanan, kuliner, ya palingan tutorial. Terus cewek-ceweknya jadi fashion/beauty blogger.

Ia pun menanyakan kepada saya, kenapa udah jarang bikin tulisan curhatan lagi. Saya awalnya bilang kalau lagi belajar menulis fiksi dan sedang getol-getolnya ngirim ke media. Ya, walaupun ditolak terus. Lalu, ia mengeluhkan hal yang sama. Sering sekali ditolak.

“Kayaknya kalau medianya udah besar itu emang susah, Yog. Mending aku kirimnya ke koran-koran lokal deh. Lebih memungkinkan.”

Kemudian, pembahasan kembali beralih mengenai tulisan curhat yang sudah jarang itu. Apalagi Robby menyatakan dirinya yang pengin vakum ngeblog. Sedangkan saya saat ini nggak pengin kehidupan pribadi saya yang kurang penting itu dibaca oleh banyak orang. Terlebih kalau menyangkut masalah percintaan. Lucu mengingat bagaimana dulu pernah pacaran sama bloger kemudian dipamerkan dalam bentuk cerita di blog. Setelah putus, di kolom komentar isinya ledekan-ledekan dari bloger lain. Intinya, saya bilang ke Haw kalau kurang sreg lagi buat curhat.

“Tempat curhatnya udah di Tumblr sih, ya,” ujar Haw.

“Loh, kok tau?” kata saya sangat terkejut.

“Kan kamu dulu sewaktu memfiksikan pakai Tumblr. Pernah kamu share link-nya. Terus sekarang ke mana Tumblr-mu? Aku cari ilang masa.”

Saya pun tertawa dan menjelaskan kalau tulisan-tulisan di Tumblr itu banyak sampahnya, ngapain segala dibaca? Tumblr itu sedang saya sembunyikan sementara sambil memilah tulisan-tulisan yang sekiranya bisa didaur ulang.

“Menurutku, tulisan-tulisanmu itu tetep layak ditampilin di blog, Yog,” kata Haw. “Cuma itu versi kelamnya kamu, ya. Makanya nggak pengin dibaca orang. Padahal, kisahmu nggak jauh beda sama kehidupanku.”

Suasana pun mendadak melankolis. Saya tidak begitu ingat apa saja obrolan selanjutnya. Tak lama, kami memutuskan untuk pulang. Kami pun berpisah di taman itu. Haw dan Dwi menuju arah jembatan penyeberangan untuk naik TransJakarta atau metromini atau taksi online entahlah, sedangkan saya dan Robby menuju parkiran. Sehabis mengantarkan Robby sampai ke Halte Grogol, saya pengin buru-buru rebahan di kasur. Macet-macetan sehabis magrib tadi sungguh bikin punggung saya pegal-pegal.

Sesampainya di rumah, anehnya saya tidak langsung rebahan. Saya justru menuliskan catatan-catatan tentang pertemuan tersebut. Entah bagaimana, pertemuan barusan menyadarkan saya akan tulisan curhat. Kalau melihat tulisan-tulisan di blog ini, rasanya saya udah lama sekali nggak menuliskan cerita kopdar. Saya pun merenungi kembali kalimat yang sempat saya pikirkan di toko buku.

Untuk apa orang-orang membaca kisah hidup saya? Saya begitu sadar kalau curhatan itu tidak semuanya berguna. Nggak semua orang pengin tahu kehidupan personal orang lain.
Namun kalau saya pikir-pikir lagi, tak ada salahnya kembali curhat di blog ini. Mungkin saja masih ada bloger yang kangen baca tulisan-tulisan personal. Sebagaimana yang Haw bilang kepada saya kalau pengin baca tulisan curhatan lagi. Beberapa temen bloger pun mengaku memang lebih suka tulisan curhatan, sebab hubungan penulis dengan pembacanya terasa dekat. Dan, yang lebih penting bagi saya adalah, saya suatu hari nanti bisa membaca curhatan itu untuk mengenang. Pas dibaca-baca ulang bisa memberikan saya berbagai macam perasaan yang bikin campur aduk.

Jadi, inilah tulisan curhat saya. Saya tujukan untuk kamu yang rindu baca keseharian saya yang panjang-panjang dan nggak jelas begini. Mungkin tulisan ini bisa juga didedikasikan kepada Haw yang sudah datang ke Jakarta jauh-jauh dari Pontianak, tapi saya tidak menyambutnya dengan baik.

--

PS: Saya baru sadar kalau kami berempat lupa berfoto karena keasyikan ngobrol di dunia nyata. Mungkin niat kami bertemu memang untuk silaturahmi, bukan untuk pamer. Biarlah kenangan itu tersimpan di memori otak kami. Bukan di galeri ponsel ataupun Instagram.

Bagi yang nggak suka tulisan panjang, saya sarankan tidak perlu membaca tulisan ini. Lebih baik tonton saja Youtube-nya Bang Rando biar hidupnya termotivasi.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home