Hujan, Kopi, dan Senja

21 comments
Awalnya, seorang penyair dianggap sangat romantis. Kala hujan, kopi, dan senja sering bercinta di dalam puluhan puisi. Namun, lama-kelamaan banyak yang bersedih dibuatnya, bahkan hingga menangis. Di antaranya ialah benda-benda yang ada di kamar sang penyair: kasur, lampu, tas, kipas angin, sapu, lemari, dan dasi.




Mereka marah karena seolah dianggap tidak puitis. Sampai-sampai mereka bertanya ke penyair itu, “Kau mulai kehabisan kata-kata atau tidak peka? Apakah kau tidak memerlukan kami untuk mempercantik sajak-sajakmu?”

Penyair yang ditanya seperti itu pun heran. Baru kali ini dirinya digugat oleh benda mati yang iri terhadap hujan, kopi, dan senja. Setelah itu, akhirnya ia berusaha untuk merenunginya. Kenapa aku begitu jahat? Mereka padahal begitu dekat, tapi aku selalu membuat sekat.

Maka, sang penyair mulai berpikir dan mencoba menuliskan puisi yang baru. Sayangnya, sudah dua jam berlalu dan ia hanya menatap kertas kosong. Karena tidak bisa menghasilkan apa-apa, ia mendadak kesal. Kini, ia malah menulis secara asal.

*

Senja tidak ada sore ini, sebab langit menangis dan mengusir jingga pergi.
Cuma ada awan kelabu yang bernyanyi dan berelegi*).
Entah mengapa hari ini aku sangat mengantuk, tapi sedang malas bikin kopi.
Cuacanya lebih bersahabat untuk tidur.
Apalagi semangat sudah mengendur.

Tiba-tiba aku kepikiran, kenapa kipas angin begitu membenci hujan?
Apakah ia merasa bersalah dan tidak berguna ketika aku kedinginan?
Tapi saat ini, ia memang harus kumatikan.
Seketika itu, dasi yang tergantung di dinding berhenti menari-nari.
Mungkin ia kehabisan tenaga seperti yang kualami.
Kemudian, lampu kupadamkan dan berniat tidur.
Aku pun merebahkan diri di kasur.

Selagi berusaha memejamkan mata, aku memperhatikan tas yang menatap penuh kecemburuan.
Namun, ia tidak memandang ke arahku dan kasur yang tengah bermesraan.
Ia melihat sapu yang bercumbu dengan lemari di pojokan.
Tidak ingin terlibat dalam hubungan cinta mereka, aku memilih bersembunyi dari kenyataan.
Aku berkelana memasuki alam mimpi. Agar bisa mengecoh sepi.

*

Setelah membaca ulang, sang penyair sadar kalau hasilnya sungguh buruk. Tulisannya bagaikan terkena kutuk. Namun, ia telah merasa puas bisa membuat sajak dari benda-benda yang ada di kamarnya. Puisi memang tidak melulu soal hujan, kopi, dan senja. Meskipun begitu, sang penyair ingin tiga diksi puitis itu tetap hadir. Penyair juga berharap kalau mereka dapat hidup berdampingan dengan benda-benda tersebut. Sekarang, keinginan itu sudah terpenuhi dan penyair bisa tidur nyenyak di dalam cerpen iseng yang saya ciptakan.

--

PS: *) bagian itu saya ambil dari lagu Desember Efek Rumah Kaca.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

21 comments

  1. Bagus.


    hajar terus Yog agar kopi hujan senjanya gajadi pemeran utama mulu.

    ReplyDelete
  2. Hujan, kopi, senja dan indomie pake telor dua biji.

    Bagus kak. Btw, aku bacanya sambil ngebayangin suasana kamarnya. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa harus dua biji, Lan? Apakah satu kurang? Main-mainlah ke kamar saya, nggak usah dibayangin segala. Wq.

      Delete
  3. Iya sih ya. Mungkin kalo kasur, bantal, kunci kosan bisa ngomong, mereka bakal iri kenapa juga yang sering bikin bahan kegalauan cuma kopi dkk itu.

    Btw, kipas juga iri sama AC.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal bantal bisa juga jadi tempat tumpahnya air mata. :( Karena di rumah masih pakai kipas angin, saya belum pernah denger dia protes soal AC, sih. Wqwq.

      Delete
  4. Bacanya kok, pas ya. Jogja lagi hujan, tinggal satu yang kurang, kopi mana kopi :D
    kalau di kamarku, sapu bercumbu dengan jendela, seakan terkena udara terus baru terus disetiap paginya..

    Btw, disitu hujan nggak, Mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bercumbu sama jendela, tapi kadang diselingkuhi sama angin? :| Cerita ini saya bikin ketika hujan dan hawanya enak buat tidur, Mas.

      Delete
  5. gue pikir, saya dan si penyair itu orang yang sama. ternyata 'sang penyair' adalah tokoh yang diciptakan oleh 'saya'. tambahin satu diksi lagi yog, banjir :D hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah lama nggak banjir rumah saya, Lam. Bingung nulisnya. Halah.

      Delete
    2. Ya salam. Sungguh imajinasimu kemana-mana.

      Delete
  6. Ahahaha komennya Salam taik. Bawa-bawa banjir segala, anjir.

    Jadi inget kamarku ada novel yang dibeli kayak cuma buat ditumpuk di sudut ranjang doang. Si pemilik kamarnya lebih sering gerayangin laptop sama hape buat nonton film. Novel-novel itu kayaknya juga iri deh :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya, mereka nggak bisa protes betulan. Itu cuma ada dalam khayalan. :(

      Delete
  7. Hujan dan senja okelah. Tapi kalau kopi, entah kenapa walau hanya kopi luwak, men, yang sachetan itu, saya tetap nggak bisa minum. Anjir lemah banget lambung saya :'(

    Biasanya diksi mesra begini akan lebih gokil kalau ada kata "semesta". Wkwk. Benar-benar kontemplasi yang luar biasa untuk menggalau di sore hari. Mantap solihin puisinya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga udah mulai enek kalau minum kopi. Auk tuh kenapa jadi gini. Hm. Wqwq, oh iya semesta juga tuh sering banget jadi diksi favorit para penyair dadakan~

      Delete
  8. kasiaan teh di lemari mulai merasa resah dan cemburu, mengapa tidak pernah di anggap
    begitupun dengan indomie di atas meja mulai menunjukkan kadaluarsa
    bahkan buavitapun ikut cemburu di balik dinginnya pintu kulkas yang selalu menjadi penjaga mereka agar tetap segar
    sunlight yang merasa jengah karena hanya menjadi bagian tukang bersih gelas setelah terkena kopi.
    telor di kulkas pun begitu merasa ingin pecah dan lompat ke penggorengan..

    "ah aku hanyalah bagian kecil untuk menambah rasa dari makanan, meski aku manis tapi tak pernah masuk dalam peran utama" ungkap sang kecap bangau di sudut meja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini kenapa jadi semua benda disebutin? Ahaha. Bahkan Sunlight ikut-ikutan marah karena tugasnya cuma buat bersihin ampas kopi. XD

      Delete
    2. Ini saya mewakili keresahan semua benda yg ada di dapur mas yoga
      saya merasakan apa yg mereka rasakan ketika di duakan dan hanya menjadi pelengkap saja hahaha XD

      Delete
  9. Hujan, kopi, dan senja. Adalah sesuatu yang identik dengan 'menikmati waktu'. Sama ketika jongkok di wese, makanya kenapa itulah waktu yang tempat untuk kontemplasi. Ehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ya. Boker itu termasuk keheningan bermakna.

      Delete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.