Hari Kamis, sekitar sehabis magrib, Asri mati. Perasaan saya seketika itu langsung kacau. Saya nggak tahu harus berbuat apa. Kabel di dalam kepala saya seolah korslet dan tidak dapat berpikir. Sebelum membahasnya lebih jauh, Asri adalah nama laptop saya. Nama itu saya pelesetkan dari mereknya: Acer.


Sehari sebelumnya, keadaan Asri terlihat sehat-sehat saja. Masih saya pakai untuk main game, mengetik di Ms. Word, dan tentu saja bersenang-senang di internet. Begitu selesai, saya matikan laptop itu dan mencabut kabel dari colokan seperti biasa. Lalu saya beranjak tidur. Saya pun tidak ingat malam itu bermimpi apa. Misalnya, saya merasakan ada tanda-tanda buruk dari mimpi kalau laptop akan bermasalah. Halah.

Pada hari Kamis, dari pagi sampai sore saya memang tidak menyalakan laptop karena ada kesibukan, yaitu menyiapkan pesanan catering. Ketika pekerjaan sudah selesai, barulah sehabis salat Magrib saya berniat untuk menyalakan laptop. Saya lagi pengin balesin komentar di blog dan gantian blogwalking.

Namun, kala kabel charger-nya sudah tertancap di laptop maupun ke colokan listrik, laptop saya ternyata nggak mau menyala. O iya, laptop saya sudah tidak menggunakan baterai, sebab baterainya telah rusak alias mudah lowbat. Saya malas menggunakan baterai kalau sebentar-sebentar harus di-charge. Oleh karena itu, dua tahun belakangan ini saya selalu copot baterai dan langsung colok aja ke listrik.

Ketika ada masalah seperti ini, saya betul-betul bingung. Karena laptop hanya bisa menyala jika dicolokkan ke listrik, ini tentu membuat saya berpikir akan dua kemungkinan: 1) yang bermasalah laptopnya; 2) adaptor charger-nya yang rusak.
Read More
Ada banyak cara untuk mencintai Indonesia, di antaranya: membeli dan menggunakan produk dalam negeri; bangga menggunakan bahasa Indonesia; berkunjung ke tempat-tempat wisata di Indonesia sekaligus merawat lingkungannya; melestarikan budaya-budaya di Indonesia, jangan sampai negara lain mengklaimnya; dan lain-lain.

Selain yang barusan saya sebutkan, Bank Indonesia saat ini sedang mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai Indonesia dengan cara lain, yakni membuat kampanye “Cinta Rupiah”. Ya, tentu saja kita bisa mencintai Indonesia lewat mata uangnya.

Sayangnya, masih ada beberapa orang yang kurang peduli terhadap rupiah, dan mungkin akan muncul berbagai pertanyaan tentang kampanye itu: “Untuk apa kita mencintai rupiah?”, “Apakah itu penting?”, “Manfaatnya untuk saya apa?”, dan seterusnya.

Selama ini yang kita tahu rupiah hanyalah mata uang, alat pembayaran, atau nilai tukar. Jadi, dengan menggunakannya saja mungkin kita sudah otomatis mencintai rupiah. Namun kalau saya coba mengubah sudut pandangnya, ternyata ada hal lain yang bisa saya temukan. Setelah saya rangkum, ada tiga manfaat dari mencintai rupiah:



1. Menguatkan Nilai Tukar Rupiah 

Kalau melihat nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing saat ini, rasanya sungguh memprihatinkan. Bisa kita lihat sekarang satu dolar sudah mencapai angka 13 ribu. Nah, supaya nilai rupiah tidak merosot lagi, rasanya kita perlu mencintai rupiah dengan cara menggunakan mata uang rupiah dalam setiap transaksinya.

Read More
Awalnya, seorang penyair dianggap sangat romantis. Kala hujan, kopi, dan senja sering bercinta di dalam puluhan puisi. Namun, lama-kelamaan banyak yang bersedih dibuatnya, bahkan hingga menangis. Di antaranya ialah benda-benda yang ada di kamar sang penyair: kasur, lampu, tas, kipas angin, sapu, lemari, dan dasi.




Mereka marah karena seolah dianggap tidak puitis. Sampai-sampai mereka bertanya ke penyair itu, “Kau mulai kehabisan kata-kata atau tidak peka? Apakah kau tidak memerlukan kami untuk mempercantik sajak-sajakmu?”

Penyair yang ditanya seperti itu pun heran. Baru kali ini dirinya digugat oleh benda mati yang iri terhadap hujan, kopi, dan senja. Setelah itu, akhirnya ia berusaha untuk merenunginya. Kenapa aku begitu jahat? Mereka padahal begitu dekat, tapi aku selalu membuat sekat.

Maka, sang penyair mulai berpikir dan mencoba menuliskan puisi yang baru. Sayangnya, sudah dua jam berlalu dan ia hanya menatap kertas kosong. Karena tidak bisa menghasilkan apa-apa, ia mendadak kesal. Kini, ia malah menulis secara asal.

*

Senja tidak ada sore ini, sebab langit menangis dan mengusir jingga pergi.
Cuma ada awan kelabu yang bernyanyi dan berelegi*).
Entah mengapa hari ini aku sangat mengantuk, tapi sedang malas bikin kopi.
Cuacanya lebih bersahabat untuk tidur.
Apalagi semangat sudah mengendur.

Tiba-tiba aku kepikiran, kenapa kipas angin begitu membenci hujan?
Apakah ia merasa bersalah dan tidak berguna ketika aku kedinginan?
Tapi saat ini, ia memang harus kumatikan.
Seketika itu, dasi yang tergantung di dinding berhenti menari-nari.
Mungkin ia kehabisan tenaga seperti yang kualami.
Kemudian, lampu kupadamkan dan berniat tidur.
Aku pun merebahkan diri di kasur.

Selagi berusaha memejamkan mata, aku memperhatikan tas yang menatap penuh kecemburuan.
Namun, ia tidak memandang ke arahku dan kasur yang tengah bermesraan.
Ia melihat sapu yang bercumbu dengan lemari di pojokan.
Tidak ingin terlibat dalam hubungan cinta mereka, aku memilih bersembunyi dari kenyataan.
Aku berkelana memasuki alam mimpi. Agar bisa mengecoh sepi.

*

Setelah membaca ulang, sang penyair sadar kalau hasilnya sungguh buruk. Tulisannya bagaikan terkena kutuk. Namun, ia telah merasa puas bisa membuat sajak dari benda-benda yang ada di kamarnya. Puisi memang tidak melulu soal hujan, kopi, dan senja. Meskipun begitu, sang penyair ingin tiga diksi puitis itu tetap hadir. Penyair juga berharap kalau mereka dapat hidup berdampingan dengan benda-benda tersebut. Sekarang, keinginan itu sudah terpenuhi dan penyair bisa tidur nyenyak di dalam cerpen iseng yang saya ciptakan.

--

PS: *) bagian itu saya ambil dari lagu Desember Efek Rumah Kaca.
Read More
“Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.” Kalimat itu bisa kamu baca percis di bawah kolom komentar pada blog saya. Sebelumnya, kalau tidak salah ingat, saya menulis: “Jangan lupa memberikan komentar setelah membaca tulisan ini. Karena sebuah komentar bisa memotivasi bloger untuk lebih giat lagi menulis.”

Pixabay

Entah apa alasan saya mengubahnya beberapa bulan silam itu. Kalimat itu akan terlihat songong dan seolah saya tidak membutuhkan komentar di blog ini. Namun, bukan itu maksud saya. Saya tidak sesombong itu. Saya hanya merasa sebal ketika membaca komentar basa-basi di blog ini. Saya tidak perlu menjelaskan atau mencontohkan seperti apa komentar tersebut, kan? Yang jelas, salah satu teman bloger pernah curhat sekaligus bertanya kepada saya, “Kenapa masih banyak bloger yang komentar kayak baca judulnya aja, ya?”

Saya hanya tertawa dan tidak menjawabnya. Sejujurnya, saya pernah menanyakan hal itu kepada diri saya sendiri. Sayangnya, setelah itu saya berpikiran kalau diri saya ini terlalu jahat kalau menduga beberapa orang yang komentar di blog itu tidak membaca tulisan saya. Lagian, saya tidak punya bukti apa-apa. Saya tau dari mana kalau mereka nggak baca? Suuzan dong saya? Ya, walaupun setelahnya saya akan tetap jahat karena mengeluh, “Ini orang komentar cuma biar blognya dikunjungi balik apa?”

Read More
Kau begitu suka menebar kebencian.
Di sisi lain, kau menganggap dirimu sumber kesucian.
Sedangkan aku ialah sosok yang membenci kebencian.
Mungkin aku adalah kebencian itu sendiri.
Jadi, untuk apa kau tabur benih-benih tubuhku?



Aku tidak perlu jawabanmu. Aku justru ingin memberitahumu.
Walau aku terlihat seperti iblis, tapi aku tetaplah pecundang. 
Aku sering merasa kalah dan mudah menyerah.
Berbeda denganmu yang pandai mencari celah.
Sewaktu kau mulai menyadari kelemahanku, kala itulah kau mencuri sajak-sajakku. 
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home