Awalnya, seorang penyair dianggap sangat romantis. Kala hujan, kopi, dan senja sering bercinta di dalam puluhan puisi. Namun, lama-kelamaan banyak yang bersedih dibuatnya, bahkan hingga menangis. Di antaranya ialah benda-benda yang ada di kamar sang penyair: kasur, lampu, tas, kipas angin, sapu, lemari, dan dasi.




Mereka marah karena seolah dianggap tidak puitis. Sampai-sampai mereka bertanya ke penyair itu, “Kau mulai kehabisan kata-kata atau tidak peka? Apakah kau tidak memerlukan kami untuk mempercantik sajak-sajakmu?”

Penyair yang ditanya seperti itu pun heran. Baru kali ini dirinya digugat oleh benda mati yang iri terhadap hujan, kopi, dan senja. Setelah itu, akhirnya ia berusaha untuk merenunginya. Kenapa aku begitu jahat? Mereka padahal begitu dekat, tapi aku selalu membuat sekat.

Maka, sang penyair mulai berpikir dan mencoba menuliskan puisi yang baru. Sayangnya, sudah dua jam berlalu dan ia hanya menatap kertas kosong. Karena tidak bisa menghasilkan apa-apa, ia mendadak kesal. Kini, ia malah menulis secara asal.

*

Senja tidak ada sore ini, sebab langit menangis dan mengusir jingga pergi.
Cuma ada awan kelabu yang bernyanyi dan berelegi*).
Entah mengapa hari ini aku sangat mengantuk, tapi sedang malas bikin kopi.
Cuacanya lebih bersahabat untuk tidur.
Apalagi semangat sudah mengendur.

Tiba-tiba aku kepikiran, kenapa kipas angin begitu membenci hujan?
Apakah ia merasa bersalah dan tidak berguna ketika aku kedinginan?
Tapi saat ini, ia memang harus kumatikan.
Seketika itu, dasi yang tergantung di dinding berhenti menari-nari.
Mungkin ia kehabisan tenaga seperti yang kualami.
Kemudian, lampu kupadamkan dan berniat tidur.
Aku pun merebahkan diri di kasur.

Selagi berusaha memejamkan mata, aku memperhatikan tas yang menatap penuh kecemburuan.
Namun, ia tidak memandang ke arahku dan kasur yang tengah bermesraan.
Ia melihat sapu yang bercumbu dengan lemari di pojokan.
Tidak ingin terlibat dalam hubungan cinta mereka, aku memilih bersembunyi dari kenyataan.
Aku berkelana memasuki alam mimpi. Agar bisa mengecoh sepi.

*

Setelah membaca ulang, sang penyair sadar kalau hasilnya sungguh buruk. Tulisannya bagaikan terkena kutuk. Namun, ia telah merasa puas bisa membuat sajak dari benda-benda yang ada di kamarnya. Puisi memang tidak melulu soal hujan, kopi, dan senja. Meskipun begitu, sang penyair ingin tiga diksi puitis itu tetap hadir. Penyair juga berharap kalau mereka dapat hidup berdampingan dengan benda-benda tersebut. Sekarang, keinginan itu sudah terpenuhi dan penyair bisa tidur nyenyak di dalam cerpen iseng yang saya ciptakan.

--

PS: *) bagian itu saya ambil dari lagu Desember Efek Rumah Kaca.
Read More
“Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.” Kalimat itu bisa kamu baca percis di bawah kolom komentar pada blog saya. Sebelumnya, kalau tidak salah ingat, saya menulis: “Jangan lupa memberikan komentar setelah membaca tulisan ini. Karena sebuah komentar bisa memotivasi bloger untuk lebih giat lagi menulis.”

Pixabay

Entah apa alasan saya mengubahnya beberapa bulan silam itu. Kalimat itu akan terlihat songong dan seolah saya tidak membutuhkan komentar di blog ini. Namun, bukan itu maksud saya. Saya tidak sesombong itu. Saya hanya merasa sebal ketika membaca komentar basa-basi di blog ini. Saya tidak perlu menjelaskan atau mencontohkan seperti apa komentar tersebut, kan? Yang jelas, salah satu teman bloger pernah curhat sekaligus bertanya kepada saya, “Kenapa masih banyak bloger yang komentar kayak baca judulnya aja, ya?”

Saya hanya tertawa dan tidak menjawabnya. Sejujurnya, saya pernah menanyakan hal itu kepada diri saya sendiri. Sayangnya, setelah itu saya berpikiran kalau diri saya ini terlalu jahat kalau menduga beberapa orang yang komentar di blog itu tidak membaca tulisan saya. Lagian, saya tidak punya bukti apa-apa. Saya tau dari mana kalau mereka nggak baca? Suuzan dong saya? Ya, walaupun setelahnya saya akan tetap jahat karena mengeluh, “Ini orang komentar cuma biar blognya dikunjungi balik apa?”

Read More
Kau begitu suka menebar kebencian.
Di sisi lain, kau menganggap dirimu sumber kesucian.
Sedangkan aku ialah sosok yang membenci kebencian.
Mungkin aku adalah kebencian itu sendiri.
Jadi, untuk apa kau tabur benih-benih tubuhku?


Aku tidak perlu jawabanmu. Aku justru ingin memberitahumu.
Walau aku terlihat seperti iblis, tapi aku tetaplah pecundang. 
Aku sering merasa kalah dan mudah menyerah.
Berbeda denganmu yang pandai mencari celah.
Sewaktu kau mulai menyadari kelemahanku, kala itulah kau mencuri sajak-sajakku. 
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home