Saya terkadang benci perayaan, tapi hari ini saya ingin bersyukur atas dua tahun WIRDY—sebuah grup yang saya cetuskan secara iseng-iseng. Mengingat prestasi saya dalam suatu hubungan percintaan sering berjalan kurang baik, yakni paling lama pacaran cuma sampai satu setengah tahun. Entah mengapa saya merasa bahagia bisa bertahan atau mempertahankan grup ini selama dua tahun. Ternyata saya ini setia, ya?

Meskipun banyak yang bilang kalau Gemini itu tidak setia dalam sebuah hubungan. Toh, nggak semua Gemini seperti itu. Kita memang nggak boleh pukul rata begitu saja. Kandasnya hubungan percintaan saya yang dulu-dulu itu, sesungguhnya juga bukan ulah saya.

Sejujurnya saya bingung, ini saya Gemini gadungan atau gimana, sih? Habisnya yang selingkuh atau memilih pergi demi orang lain itu justru pasangan saya. Mungkin Gemini sejati (yang betul-betul bajingan) akan tertawa kalau membaca cerita saya barusan yang malah jadi korban. Bisa juga dia akan bilang kepada saya, “Gemini macam apa kamu ini? Pindah zodiak aja sana!”

Oleh karena itu, jangan semudah itu menilai Gemini. Mudah percaya kok sama zodiak, percaya itu kepada Tuhan dong. Allahu Akbar!

Terlepas dari segala citra buruk Gemini yang pernah saya dengar itu, suatu hari saya sempat membaca salah satu kelebihannya: Gemini mampu memikirkan ide brilian untuk berbagai proyek. Saya pun merenungi hal itu. Apakah saya termasuk? Saya akhirnya mulai menengok beberapa kejadian ke belakang.




*

Dua tahun silam, ketika saya, Darma, Icha, dan Wulan sedang akrab-akrabnya di blog dan Twitter, saya mengajak mereka untuk bikin grup. Biar lebih mudah komunikasinya, pikir saya kala itu. Namun begitu grup Line terbuat dan kami mulai berinteraksi, beberapa hari setelahnya saya kepikiran hal lain. Saya nggak pengin grup itu hanya buat ngobrol-ngobrol kurang jelas. Saya ajak mereka untuk diskusi soal dunia blog atau menulis agar lebih berfaedah. Syukurnya, mereka langsung setuju. Saya pun mulai menamai grup itu: WIDY. Namanya saya bikin dari inisial kami berempat.

Sekitar sebulan kemudian, kami bikin proyekan cerbung (cerita bersambung). Sayangnya, proyek itu terhenti karena beberapa alasan. Padahal, kami sudah membuatnya hingga 12 bagian dan hampir tamat. Sumpah, saya sebetulnya merasa sedih karena nggak bisa menyelesaikan apa yang telah dimulai. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, saya merasa bahagia sebab dapat menyatukan isi kepala empat orang yang tentunya berbeda-beda. Menurut saya, itu bukan hal yang gampang.

Sehabis proyek itu berhenti, grup kami ternyata juga ikut-ikutan mandek. Mungkin saat itu memang butuh yang namanya vakum. Entah untuk menyelesaikan urusan masing-masing ataupun introspeksi. Lucunya, baru mau kembali meramaikan dunia blog, grup kami kembali bermasalah. Saya waktu itu bercandain Icha kelewat batas dan dia sampai keluar grup.

Awalnya saya mengira dia hanya cari perhatian, tapi lama-lama saya resah dan merasa bertanggung jawab. Saya tanyakan baik-baik dengan meneleponnya. Ternyata, saya sudah melukai hati seorang teman tanpa kesadaran. Saya pun minta maaf kepadanya. Tapi, dia sudah telanjur kecewa dan marah atas sikap saya sebelumnya.

Ketika itu, saya otomatis jadi ikut marah. Saya tidak marah kepada Icha, melainkan kepada diri sendiri. Betapa bodohnya saya yang tidak bisa memahami keadaan anggota grup. Saya gagal menjadi seorang penggagas grup. Lalu saya pun emosi dan menyuruh sisa anggota (Darma dan Wulan) biar sekalian keluar dari grup. Saya mungkin tidak cocok bikin grup-grup begini segala. Apalagi jadi seorang pemimpin.

Bagusnya, Darma dan Wulan tidak memilih keluar. Mereka diam saja mendengar ocehan saya. Saya mengeluhkan betapa susahnya untuk cocok dalam berteman. Saya pikir, grup ini yang paling sesuai untuk saya. Namun, setelah Icha keluar saya merasa hal itu tidak sama lagi. Kenapa saya malah merusak grup yang dulu pernah saya cetuskan ini?

Rasanya saya perlu introspeksi diri dan merenung. Setelah bisa berdamai dengan diri sendiri, barulah saya banyak sadar. Mungkin memang saya yang menggagas grup itu, tapi bukan berarti saya egois dan merasa jadi pemimpin. Kalau bercanda di grup, saya akan lebih memperhatikan situasi dan kondisi. Tidak semua hal yang kita maksud bercandaan, dapat selamanya ditertawakan. Bisa saja malah menoreh luka. Terus dalam mengusulkan ide-ide, saya perlu lebih banyak musyawarah. Bagaimanapun juga, mereka itu bukan anak buah. Mereka sahabat saya.

Kemudian, beberapa hari setelahnya Icha pun mengontak saya dan gantian minta maaf atas sikapnya. Saya merasa bahagia kalau masalah kemarin tidak berakhir buruk. Ia pun saya masukkan kembali dalam grup. Ya, dalam setiap grup pasti ada kendalanya. Hubungan pertemanan memang tidak selalu berjalan semulus paha personel SNSD atau Blackpink (terus habis ini diprotes netizen sexual harassment). Yang terpenting setelahnya kami bisa kembali baikan, berhasil bangkit, dan merekrut anggota baru: Robby.

Sejak Robby bergabung, otomatis grup ini membutuhkan nama baru. Namun, kalau ditambahin R di belakang dan jadi WIDYR pasti nggak enak dibaca. Melafalkannya pun susah. Oleh karena itu, terpilihlah nama WIRDY. Setelah muncul dengan nama baru, akhirnya kami mulai mengeluarkan proyekan lagi. Bahkan pada awal tahun 2017, kami juga sempat membuat karya berbentuk buku-el. Walaupun karya kami itu masih banyak kekurangan. Setidaknya buat pemula seperti kami ini, kami sudah berani memulai. Kami tentunya bisa belajar dan bertumbuh dari situ. Kami nanti akan memperbaikinya di karya yang selanjutnya.

Setelah menuliskan perjalanan grup barusan, berarti kesimpulan saya akan Gemini yang mempunyai ide brilian dalam bikin proyekan ada benarnya. WIRDY adalah ide terhebat yang pernah saya buat. Ehe. Kemudian setelah berjalan selama dua tahun ini, saya jadi ingin menuliskan kesan dan pesan untuk grup WIRDY.

*

Kesan

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kebersamaannya selama dua tahun ini. Berkat grup ini, saya belajar memahami banyak perbedaan. Meskipun usia kami tidak sama, tapi berteman tidak harus dengan yang seumuran, kan? Walaupun kami tinggal di kota yang berbeda, tapi jarak tidak menghalangi kami untuk tetap berteman. Toh, kami tetap Indonesia. Bhinneka tunggal ika.

Selain hal itu, saya pun banyak berkembang dalam ngeblog. Saya jadi lebih berani dalam melempar ide-ide untuk sebuah tulisan. Saya juga semakin percaya diri dalam menulis fiksi. Terbukti dalam beberapa kali proyekan, ketika yang lain menuliskan curhatan, saya malah berbeda sendiri. Ya, saya bikin cerpen. Tanpa adanya grup ini, mungkin saya akan menulis yang begitu-begitu saja. Curhat melulu dan bumbu komedinya mesum. Sekarang, saya lebih berani untuk bereksperimen. Mencoba berbagai macam gaya menulis itu menyenangkan sekali. Ah, saya juga ingin mengucapkan terima kasih untuk mereka satu per satu. 

1. Untuk Wulan, terima kasih sudah mengajarkan saya untuk mengolah sebuah aib menjadi sebuah kisah yang bisa ditertawakan oleh pembaca. Entah kenapa, hal ini mengingatkan kepada saya untuk menulis dan bercerita apa adanya. Nggak harus terbebani untuk selalu menuliskan yang bermanfaat atau menginspirasi pembaca. Lagian, menghibur orang lain juga sebuah manfaat, kan?

2. Untuk Icha, terima kasih atas ulasan film-filmnya. Berkat tulisanmu saya jadi punya banyak referensi. Lalu, saya juga belajar dari gaya menulismu. Untuk menulis apa yang memang kita suka atau cintai, tanpa peduli komentar negatif orang lain yang sok tahu dalam menilai.

3. Untuk Robby, terima kasih karena menjadi yang termuda di grup ini. Semangat menulismu itu patut dicontoh. Secara nggak langsung sudah mengajarkan saya betapa pentingnya berkarya sejak dini.

4. Untuk Darma, terima kasih karena sudah menuntut ilmu ke luar negeri. Kalau bukan karenamu yang sedang belajar ke Turki, mungkin grup ini tidak memiliki pencapaian bisa go international. Halah. Pokoknya, saya jadi belajar untuk lebih melampaui batas dan berani mengambil risiko.


Pesan

Yang namanya perselisihan dalam setiap kelompok memang selalu ada. Namun, hal seperti itu bukanlah penghalang untuk terus bersatu. Kami pasti sanggup menghadapinya. Kalau ada apa-apa yang pengin disampaikan, ya omongin. Berkomunikasilah untuk merespons masalah itu, jujurlah apa adanya, lalu mencari jalan keluar bersama, dan seterusnya, dan sebagainya.

Santai aja dalam mengusulkan ide proyek. Kalau ada ide yang pengin disampaikan, lebih baik segera lempar ke grup. Tidak perlu menunggu saya. Mungkin sebagai penggagas memang harus lebih aktif. Tapi ingatlah satu hal: WIRDY itu berlima. Jadi, nggak usah sungkan dan malu-malu. Terus kalau memang belum bisa ikut proyekan, nggak perlu lagi merasa nggak enakan. Jangan memaksakan diri. Utamakan dulu yang menjadi prioritas hidup. Menulislah karena ingin~

Semoga kami bisa lebih kompak lagi ke depannya. Apa pun yang terjadi nanti dengan grup ini, semoga kami bisa tetap bersahabat. Kapan-kapan kami berlima mungkin perlu kopi darat. Pertemuan yang awalnya maya ini, semoga bisa dijadikan nyata. Aamiin. Dan terakhir, teruslah berkarya.

--

Tulisan Robby bisa baca di: Teman yang Jauh Jaraknya
Icha: Kami Bukan One Direction
Wulan: Jauh di Mata, Dekat di WIRDY
Darma: Lagi sibuk mengikuti pelajaran di Turki dan nggak bisa ikutan, katanya.

O iya, baru-baru ini saya dapat singkatan WIRDY yang baru selain inisial nama kami: write, inspire, read, dreamer, young. Apakah cocok untuk menggambarkan grup ini?
Read More
Sudah berhari-hari, kepala saya masih dipenuhi berita mengenai Rina Nose yang melepaskan jilbabnya. Awalnya, semua itu terjadi karena saat menjadi trending topic, saya iseng memperhatikan komentar-komentar netizen pada balasan twit salah satu akun berita. Komentarnya sungguh beragam; dari yang mengingatkan Rina Nose secara baik-baik untuk kembali berjilbab, lalu sampai ada yang repot-repot mengutip ayat Alquran (yang mungkin hasil nyontek dari Google), hingga yang berkomentar: “Neraka menantimu, Pesek.”

Apakah orang yang berkomentar seperti itu memiliki indra keenam? Lalu, ia benar-benar tahu rahasia Tuhan akan daftar manusia yang kelak masuk neraka? Akankah saya termasuk di dalamnya? Astagfirullah. Rasanya saya langsung ingin bertanya kepada orang yang berkomentar soal neraka itu, “Nah, Mas sendiri pasti masuk surga? Punya orang dalem ya, Mas?”

Saya otomatis tertawa membayangkan hal tersebut.

Saya sendiri termasuk netizen yang memilih diam saja, soalnya saya memang nggak suka mengomentari kehidupan para selebritas. Memangnya apa, sih, manfaatnya untuk saya? Bahkan, sewaktu Asmirandah—aktris yang pernah saya puja-puja kecantikannya dulu—memilih pindah agama, saya juga tidak berkoar-koar. Keputusannya untuk pindah agama sama sekali tidak mengurangi kecantikannya di mata saya. Meskipun harus saya akui, kalau dia berjilbab akan lebih menyejukkan hati.



Kembali ke persoalan Rina Nose yang melepas jilbab itu, tiba-tiba hal ini mengingatkan saya pada kejadian tahun 2012. Saat itu, perempuan yang memakai jilbab belum sebanyak sekarang. Bisa saya ambil contoh dari lingkungan saya sendiri, yaitu di sekolah. Kebetulan pada tahun 2012 saya masih kelas 3 SMK. Dari 20 murid perempuan di kelas, palingan hanya 3-4 orang yang memilih berhijab. Itu kalau nggak salah juga karena mereka sebelumnya berasal dari sekolah madrasah.

Teman-teman perempuan yang lain, hanya memakai jilbab pada hari yang terdapat pelajaran Agama Islam atau hari Jumat. Nah, jilbabnya ini pun dipakai pas jadwal Agama Islam saja. Pokoknya berjilbab hanya karena peraturan. Sebelum atau sesudah pelajaran agama, biasanya teman-teman saya yang pada hari biasa tidak berjilbab, akan langsung melepaskan jilbabnya. Habisnya gerah, kata salah satu teman saya ketika ditanya oleh seorang guru.
Read More
Hampir keseluruhan cerita pendek ini hanya akan dikisahkan lewat percakapan. Tulisan ini mungkin tidak bermanfaat. Jadi, lebih baik tidak usah membacanya. Kalau masih tetap memaksa, itu di luar tanggung jawab saya. Pokoknya, saya sudah memperingatkanmu.

--

sumber: Pixabay


(22/12/12, 21.14) Amelia Putri:
Gue bulan depan pindah rumah, Gas.

(23/12/12, 05.03) Bagas Putranto:
Sori, gue semalem udah tidur. Seriusan, kenapa deh? Yah, jadi jarang main bareng lagi dong kita nanti?

(23/12/12, 07.10) Amelia Putri:
Berlebihan lu mah! Gue pindahnya juga nggak jauh-jauh dari rumah lama, kok.

(23/12/12, 08.21) Bagas Putranto:
Oh, kirain jauh. Masih di Jakarta Barat berarti nih?

(23/12/12, 08.32) Amelia Putri:
Iya, kita masih bisa ketemu kali. Gak usah merasa kehilangan gue gitu deh. Wkwkwk.

(23/12/12, 05.03) Bagas Putranto:
Hahaha. Kampret lu!
Read More
“KAU yang panas di kening. Kau yang dingin di kenang.”

Aku baru saja membaca buku puisi karya Aan Mansyur, Tidak Ada New York Hari Ini. Entahlah, kenapa aku begitu suka dengan puisi-puisi yang diciptakan Mas Aan itu. Apalagi di bagian “Kau yang dingin di kenang.” Hm ... rasa dingin itu. Ya, buatku kenangan memang terasa dingin. Apalagi kenangan bersama seorang perempuan. Perempuan yang ... ah, nanti sajalah aku ceritanya.

Ada yang lebih dingin dari sebuah kenangan tentang perempuan itu. Tahukah kau apa itu? Kutub Utara dan Kutub Selatan? Ya, tentu saja hal itu benar. Namun, bukanlah itu jawabannya. Lagian, aku masih belum percaya kalau di sana dingin. Aku belum pernah merasakannya secara langsung. Sebab, aku pikir, Turki juga lebih dingin dari kenangan bersama perempuan itu.



Sudah hampir tiga bulan aku berada di Turki. Nggak terasa waktu berlari begitu cepat. Aku sendiri tidak sanggup mengejarnya. Aku masih merasa begini-begini saja. Aku bahkan masih sulit melupakan perempuan itu. Uh, lagi-lagi perempuan itu. Maaf, aku khilaf. Lupakan sejenak soal dia. Mari kembali bicarakan Turki.

Pertama kali aku datang ke sini, aku merasa Turki lebih dingin dari Puncak Bogor, Jawa Barat. Jaket merah marun yang kukenakan ini rasanya masih kurang tebal. Angin Desember begitu menusuk dan masuk ke tulang-tulangku. Di saat itu, aku langsung melihat ponsel untuk mengecek suhunya. Aku melihat angka 19 dengan huruf C di sampingnya. Yang berarti itu adalah 19 derajat Celcius. Jujur, aku nggak begitu suka udara dingin. Terlebih lagi nggak ada yang bisa kupeluk saat ini. Menyebalkan sekali!

Lalu, pada malam harinya cuaca di sini bahkan mencapai 14 derajat Celcius. Yang artinya: dingin banget, bangsat! Entahlah, kenapa aku bisa merasakan dingin sebegitu dahsyatnya. Padahal, di Turki nggak ada alay-alay yang suka menari “cuci-jemur-cuci-jemur” yang dahsyat sekali itu di setiap pagi.

Hari-hariku selama di Turki sebenarnya sangat indah kalau dibandingkan dengan Indonesia. Di sini, aku tidak lagi melihat kemacetan yang tak berkesudahan setiap jam-jam berangkat dan pulang kerja seperti di Jakarta. Lalu lintas di Turki begitu lancar. Selain itu, banyak hal baru yang bisa aku lakukan di sini. Aku bisa bertemu teman-teman baru, aku bisa mencicipi aneka makanan baru, dan aku bisa menemukan perempuan ....

Ah, sial! Ternyata aku masih sulit melupakan perempuan itu. Aku tidak bisa menemukan perempuan baru di sini. Hatiku tidak dapat berdusta. Aku masih mencintainya. Meski aku sudah berusaha melupakannya, tapi tetap saja dia—perempuan itu—begitu dingin di kenang.

Sekali lagi maaf kalau aku tidak fokus dan malah membahas perempuan itu lagi. Aku akan berjanji menceritakannya nanti. Sekarang, aku ingin bercerita mengenai keadaan di Turki saja.

Malam pertama, aku menginap di asrama daerah Kardelen. Suasana asramanya tidak begitu berbeda dengan asrama yang ada di Rawamangun, Jakarta Timur—asrama yang aku tinggali selama kuliah di Jakarta. Semua itu karena beberapa temanku dari Jakarta (yang juga terpilih dalam program belajar ke Turki) menginap bersamaku. Yang membedakan hanyalah di sini ada tambahan orang-orang Turki dan negara lain entah apa, kasurnya sedikit lebih besar, serta udaranya lebih dingin. Itu saja. Tidak ada yang spesial.

Atau itu hanya perasaan sementaraku saja? Sebab, aku belum terbiasa dengan keadaan di Turki? Makanya, aku sama sekali tidak bisa melihat hal yang spesial di sini? Lalu cuma bisa membanding-bandingkan keadaannya dengan negara Indonesia?
Read More
Dari ketujuh puisingkat ini, mana yang kamu suka?

Gue rasanya langsung pengin jawab sendiri, “Sumpah deh, nggak ada. Ehehe.”

*

/1/ 
“Tujuanmu membaca buku untuk apa?” tanyamu kepadaku suatu hari. 
Aku menjawab santai, “Untuk menyelamatkanku dari pertanyaan yang kauberi.”

/2/
Kau mengaku menjadi penyembah Tuhan. Juga penyembuh di Bumi. Tapi kau membakar hutan, serta memicu datangnya tsunami.

/3/
Kenapa mereka mulai protes, kala darah sudah telanjur menetes? Tidak ada lagi setitik cahaya. Yang ada hanyalah bahaya.

/4/
Tolong rapalkan mantra-mantra saktimu. Yang paling ampuh untuk menghilangkan sakitku.


Read More
Gue pernah beberapa kali mendengar pertanyaan, “Lebih baik ketinggalan ponsel atau dompet?”

Mungkin kamu juga pernah mendengarnya, lalu mana kira-kira yang akan kamu pilih? Gue sendiri, tentunya lebih baik ketinggalan ponsel. Gue masih ingat betul, kala gue merasa nggak bawa dompet di perjalanan saat mau berangkat ke kampus. Waktu sadar kalau dompet gue nggak ada di kantong celana, awalnya gue berpikir kalau dompet itu ketinggalan di rumah.

Nah, ketika itu entah kenapa gue langsung balik lagi ke rumah untuk mengambilnya. Gue memang cukup panik kalau nggak bawa dompet waktu bepergian. Belakangan diketahui, ternyata dompet gue nggak ketinggalan di rumah. Gue menebak kalau dompet itu terjatuh di jalan. Gue bukan lagi mengalami ketinggalan dompet, tapi kehilangan dompet. Gue pun galau bukan main. Gue entah kenapa mendadak alim pada hari itu dengan banyak berdoa. Pas kena musibah baru tobat. Hadeh. Sorenya, ternyata ada orang baik yang mengembalikan dompet tersebut. Alhamdulillah. Masih rezeki gue.

Gue pun pernah ketinggalan ponsel ketika diajak nongkrong sama temen ke suatu kafe. Bagusnya, gue bukan tipe orang yang kecanduan gadget. Yang saat main ke kafe harus update location, InstaStory, atau apa pun itulah yang bikin tangan selalu memegang erat ponsel. Main ke kafe ini niatnya mau ngobrol atau mau pamer?

Berdasarkan pengalaman itu, gue menyimpulkan kalau dompet buat gue lebih penting daripada ponsel. Selain uang, di dalam dompet pastinya ada KTP, SIM, STNK, kartu ATM, dan beberapa kartu lainnya. Kalau lagi bepergian mengendarai motor, terus nggak bawa dompet, gue langsung merasa was-was. Takut kalau ada razia kendaraan bermotor. Kemudian, misalnya pergi ke suatu tempat makan, gue butuh dompet untuk membayarnya (baik dengan bayar uang tunai atau debit). Apalagi untuk bayar parkir. Masa pakai debit? Gue selalu menaruh uang di dompet, soalnya kalau dikantongin nanti uangnya lecek.

Jadi, jawaban dari pertanyaan pada paragraf pembuka itu masih tetap sama sampai sekarang: gue lebih memilih ketinggalan ponsel daripada dompet. Sebab, banyak yang lebih gue butuhkan di dompet daripada di ponsel. Kalau urusan menulis atau kerjaan, sepertinya masih bisa menggunakan laptop. Lagian, untuk komunikasi masih bisa menggunakan email. Bahkan, chatting-an seperti WhatsApp atau Line juga sudah bisa menggunakan laptop, kan?

Berbicara tentang ketinggalan dompet atau ponsel ini, gue jadi inget kejadian beberapa minggu lalu.

*

Pada suatu sore, gue, Agus, dan Salsa sedang kumpul di restoran cepat saji yang letaknya dekat dari rumah gue, yakni Kemanggisan. Ketika itu, gue dan Agus yang kebagian tugas buat memesan makanan di lantai 1, sedangkan Salsa menunggu di lantai 2 sekalian menjaga tas kami. Kala sudah menentukan pesanan dan kasirnya menyebutkan harga yang harus dibayar, Agus tiba-tiba bilang kepada gue, “Pakai duit lu dulu ya, Yog. Nanti gue ganti.”

Gue udah bosan sama teman yang mendadak ketinggalan dompet kalau mau bayar sesuatu. Maka, gue pun langsung menatap Agus yang kira-kira berarti: “Beneran lu ganti nggak nih?”

Agus yang sepertinya mengerti maksud gue itu segera merespons, “Tenang, dompet gue di tas, kok. Pas di atas langsung gue bayar.”

Tidak ingin berlama-lama di depan kasir dan takut membuat kesal kasir tersebut ataupun orang yang mengantre di belakang, gue pun mengeluarkan dompet dan membayarnya. Sembari membawa makanan itu ke lantai 2, Agus malah meledek dompet gue yang katanya udah kuno dan gembel. Gue tidak menanggapinya dan terus menuju ke meja—di mana Salsa menunggu. Saat gue sudah duduk dan hendak makan, Agus kemudian membuka tasnya seraya mengeluarkan dompet bergambar kamera. Ia menyerahkan uang kepada gue. Agus menepati janjinya. Nanti gue ganti bukan lagi omong kosong kayak kejadian yang lazimnya terjadi ketika teman meminjam uang.

“Itu dompet?” tanya gue heran.

Sontak, Salsa menoleh dan berujar, “Ih, unyu! Beli di mana?”

Agus merespons sekenanya pertanyaan gue dan Salsa. Katanya, lebih baik kami memutuskan untuk menyantap makanan terlebih dahulu. Sebab, ngobrolnya, kan, bisa entar seusai makan. Benar juga yang Agus bilang. Aroma ayam goreng yang khas ini juga sudah menusuk hidung gue dari tadi. Potongan sayap itu sungguh menggoda, seolah meminta untuk segera ditelan.

Sehabis melahap makanan di meja, kami tentu saja mengobrol. Dari mulai bertukar cerita selama 3 bulan belakangan ini, karena itulah waktu terakhir kami berjumpa sebelum pertemuan ini. Hingga Salsa kembali bertanya soal dompet lucu milik Agus.

Kini, gue dan Salsa sedang memperhatikan dompet Agus yang begitu dipegang rupanya terbuat dari kertas. Saat kami tanya-tanya, Agus awalnya hanya menjelaskan secara singkat dan menyuruh kami membuka Instagram @littlebigpaper untuk melihat-lihat koleksinya. Salsa mudah sekali tergoda dengan barang yang lucu-lucu, maka ia pun sekarang sedang menunduk dan menatap ponselnya. Gue pikir, ia pasti mengecek akun Instagram yang Agus bilang tadi.

Karena ponsel gue ketinggalan, gue jadinya tetap minta penjelasan lebih sama Agus. Nggak lama, Agus meneteskan minumannya ke dompet kertas miliknya itu dengan sedotan. Tahan air dan tidak mudah sobek, ujarnya penuh rasa percaya diri.

Pertemuan itu pun berakhir ketika Agus tiba-tiba mendapatkan telepon dari pacarnya. Agus lupa kalau ada janji nonton bioskop pada malam itu. Ia buru-buru pamit kepada gue dan Salsa. Akhirnya, Salsa juga memilih pulang karena ada kerjaan kantor yang belum beres. Gue mau nggak mau jadi ikutan balik ke rumah.

*

Sesampainya di rumah, barulah gue mengambil ponsel yang tumben banget bisa ketinggalan saat keluar rumah. Lalu, gue coba melihat-lihat koleksi dompet kertas itu. Gue sejujurnya suka sama dompet berdesain kamera seperti kepunyaan Agus. Namun, aneh kalau harus samaan begitu. Oleh karena itu, pilihan gue jatuh ke dompet bermotif kaset.


Sumber: Pixabay
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home