Menghargai Pemberian

54 comments
Selagi aku beres-beres lemari dan rak buku, ada salah satu buku yang saat kusentuh lalu tiba-tiba memberikan sebuah cerita. Kau tahu, kenangan mudah sekali datang. Bisa lewat sebuah lagu, benda, ataupun tempat. Lagi pula, banyak cara untuk mulai mengenang. Mungkin cara mudahnya bisa dimulai dengan membuka tumpukan kardus berisi barang-barang lama. Pilih salah satu benda secara acak, setelah itu pandangi, dan biarkan ia berkisah.

Nah, kira-kira begitulah yang terjadi denganku.

Buku yang saat ini kupegang ialah buku kumpulan cerita A. S. Laksana, Murjangkung. Aku memiliki dua buku itu. Yang satu sudah kubeli sejak lama, satunya lagi adalah pemberian seorang teman, Rani.

Aku sebetulnya memegang buku yang milikku sendiri. Namun, entah kenapa aku mendadak ingatnya justru sama Rani. Mataku pun segera mencari buku yang satunya lagi. Setelah melihatnya berada di rak sebelah kanan dan baris nomor dua dari bawah, aku mengambil buku yang masih terbungkus plastik itu. Berikut beberapa buku lainnya yang juga masih tersampul plastik. Kupandangi buku-buku itu, hingga aku dibawa ke sebuah cerita sekitar setahun yang lalu.

*

Sehari sebelum Rani berangkat ke Yogyakarta untuk meneruskan kuliah S2-nya di UGM, kami sepakat bertemu di salah satu kedai kopi di Jakarta Barat. Ia sebetulnya yang mengajakku, sih. Katanya, sebagai salam perpisahan. Sebab, ia mungkin tidak akan kembali lagi dalam 3 tahun.

Seperti biasa, aku sampai lebih dulu di kedai kopi itu. Selain karena tidak suka membuat orang menunggu, lokasinya memang lebih dekat dari rumahku. Sepuluh menit berselang, barulah Rani sampai ketika dari kejauhan tercium aroma parfumnya. Tidak menyengat, begitu segar, dan sudah kukenali.

“Kamu rajin amat, Yog, sampainya duluan mulu.”

Aku awalnya cuma tersenyum untuk memberi respons. Sampai melihat ia membawa tas punggung, barulah aku bertanya, “Bukannya masih besok berangkatnya, Ran?”

Sejauh yang kutahu, anak ini nggak pernah membawa tas punggung setiap pergi keluyuran denganku. Ia tidak mau ribet menggendong tas. Biasanya ia hanya memegang dompet, yang setelah itu dititipkan ke dalam tasku. Sekalinya bawa tas, paling cuma membawa tas selempang kecil. Yang berisi dompet dan alat rias favoritnya: bedak bayi dan lipstik.

“Oh, ini,” ujarnya sambil membuka ritsleting tas. “Ada yang mau aku kasih ke kamu.”

sumber: Pixabay

Ia pun memberikanku tiga buah buku; Murjangkung—yang kusebutkan di awal cerita, Adriana (Fajar Nugros), dan Kolam Darah (Abdullah Harahap).

“Maksudmu ngasih aku buku kayak gini apa?”

“Kita, kan, kenalan awalnya dari buku. Aku entah kenapa merasa berutang buku kepadamu. Masih inget hari itu, kan?”

Tahun 2015 pada bulan Mei dan bertepatan dengan Hari Pendidikan, aku masih ingat betul hari itu. Kami bertemu dengan tidak sengaja di sebuah bazar buku. Awalnya aku dari jauh memperhatikan sebuah buku yang sebelumnya kukenali. Aku pernah ikut kuis yang hadiahnya buku itu, tapi sayangnya belum bernasib baik. Lalu begitu menemukan buku itu lagi di tumpukan buku yang diobral di sebuah bazar, mendadak muncul hasrat untuk membelinya.

Bodohnya, aku tidak menyadari keadaan di sekitarku. Begitu sudah dekat dengan buku itu, ternyata ada seorang perempuan yang sudah terlebih dahulu mengambil bukunya. Rupanya, kami melihat satu buku yang sama: Draf 1 Taktik Menulis Fiksi Pertamamu.

Aku pun berdiri mematung, masih tidak percaya kalau gagal Iagi memperoleh buku itu. Ia tiba-tiba menoleh ke arahku. Aku pun salah tingkah, refleks garuk-garuk belakang kepala dan tersenyum. Ia kemudian membalas senyumku. Manis sekali. Seperti melihat kue brownies. Brownies yang memiliki bibir, mata agak sipit, dan rambut sebahu. Tak lama, ia malah berjalan menghampiriku. Baiklah, sekarang ia brownies yang dapat berjalan. Aku membalikkan badan, pergi ke arah tumpukan buku yang lain.

“Kamu tadi mau ngambil buku ini juga?”

Aku menoleh, lalu menunjuk diriku sendiri.

“Iya, kamu barusan sepertinya mau ngambil buku ini,” ujarnya sambil memperlihatkan buku itu kepadaku. “Tapi malah aku yang ambil duluan.”

“Oh, nggak apa. Itu buat kamu aja. Nanti aku cari yang lainnya. Mungkin masih ada stoknya.”

“Aku bantuin cari kalau gitu.”

Aku udah bilang kalau hal itu akan merepotkannya, tapi ia tetap membantuku mencari buku itu. Ya, nggak ada salahnya juga sih, pikirku. Setelah 15 menit berusaha mencari-cari buku yang sama, tapi tidak juga membuahkan hasil.

“Sepertinya tinggal satu yang kuambil ini. Maaf, ya, nggak ketemu lagi bukunya,” katanya begitu pasrah.

Mungkin ia mulai lelah mencari dan ada urusan lain yang lebih penting. Jadilah, aku mengatakan untuk tidak perlu membantuku lagi dalam menemukan bukunya. Aku juga bilang kalau telah memiliki buku panduan menulis lain, yakni Creative Writing (A.S. Laksana).

“O iya, Yoga Akbar,” ujarku menyodorkan tangan kanan untuk bersalaman. “Panggil aja ‘Yoga’, karena kalau ‘Akbar’ nggak cocok sama badanku.”

Ia tertawa kecil mendengarku berkelakar semacam itu. Setelah itu, ia menjabat tanganku. Melihat tangannya, aku merasa agak aneh. Sebab, jarang sekali warna kulit tanganku lebih putih dari seorang perempuan. Jarang memakai sarung tangan setiap mengendarai motor membuat kulit tanganku belang. Namun, aku baru menyadari kalau kulit perempuan ini sawo matang. Karena saat melihat wajahnya tadi, ia tampak cerah. Mungkin mukanya sering dibasuh air wudu. 

“Tirani Meliyana. Boleh panggil apa saja.”

Aku membatin, panggil perempuan-sialan-yang-tiba-tiba-merebut-buku-dariku boleh?

Lalu aku tertawa sendiri dengan lelucon itu.

“Kenapa? Namaku ada yang aneh?”

“Di kamus, Tirani kalau nggak salah artinya: kekuasaan yang seenaknya sendiri,” aku sengaja memberi jawaban yang berbeda dari yang aku tertawakan sebelumnya.

“Wah, egois sekali. Aku bahkan nggak tahu sebelumnya.”

“Semoga kamu bukan orang seperti itu.”

Ia tertawa lagi. “Soal nama panggilan tadi, sebenarnya temen-temenku, sih, biasa memanggil ‘Tira’ atau ‘Meli’. Kamu boleh memilih salah satunya.”

Alih-alih memilih kedua pilihan tersebut, aku malah bilang, “Lebih enak memanggilmu Rani.”

“Kok?”

Alasanku memanggilnya “Rani” dan kejadian setelahnya, aku betul-betul lupa. Yang aku ingat justru sebelum kami berpisah, aku mengatakan untuk bertukar kontak. Mungkin kalau besok-besok ada bazar lagi, nanti bisa janjian datang dan mencari buku bersama. Begitulah caraku meminta nomornya. Yang lucunya, ia berikan begitu saja dan mengetikkan nomornya di ponselku. Yang lebih tidak kusangka, begitu sampai rumah dan ingin mengontaknya, aku baru sadar ternyata diberikan nomor sedot WC. Jamban! Aku dikerjain. Kenapa nggak sekalian nomor telepon badut sulap?

*

“Udah bengongnya? Nggak usah segitunya kali mengenang pertemuan kita,” kata Rani, membuyarkan kenangan yang sedang kunikmati pelan-pelan itu. “Mau pesen apa? Udah laper nih.”

Setelah itu, akhirnya aku protes kepadanya karena mengganggu hobi aneh sekaligus favoritku: melamun. Begitu Rani mengeluh lapar lagi, barulah aku memanggil pramusaji. Rani memesan machiatto dingin dan, karena kurang suka kopi, aku memilih es teh leci. Makanan yang kami pesan sama: roti panggang telur kornet.

Soal bagaimana kami bisa berteman, karena beberapa hari setelah pertemuan itu, Rani ternyata menemukan blogku dan mengirimkan surel. Surat yang berupa permintaan maaf dan nomornya yang asli. Sejak itu, kami jadi sering berburu buku bersama dan mendiskusikan buku-buku yang habis dibeli itu.

“O iya, soal buku yang kamu kasih ini, sebetulnya aku udah punya,” aku membuka obrolan sembari menunggu pesanan.

“Serius?” tanya Rani, yang tiba-tiba cemberut.

Aku mengangguk.

“Yah, telat ngasih berarti aku. Padahal lumayan susah tuh dapetin A. S. Laksana yang Murjangkung. Kamu, kan, kayaknya suka banget sama cerpen-cerpennya beliau. Makanya, waktu itu aku sengaja beli dua pas ada bazar. Kebetulan juga sisa segitu, sih. Pas kubaca, ternyata emang seru bukunya. Humornya Pak Sulak (panggilan untuk A. S. Laksana) keterlaluan kerennya.”

“Terus gimana nih?” tanyaku, kebingungan karena dikasih buku yang sudah kumiliki.

“Emang udah punya semua?”

“Cuma Kolam Darah yang belum pernah baca. Baru tahu juga soal penulisnya.”

“Baca deh tulisan Abdullah Harahap itu. Meskipun horor, menurutku ada sisi lucunya.”

“Oke, Ran. Dua buku yang lain berarti kukembaliin nih?”

“Yeh, nggak usah. Aku, kan, juga udah punya.”

“Terus?”

“Jual aja,” ujar Rani, setelah itu cekikikan sendiri.

Selagi bingung menanggapi perkataannya barusan, syukurnya pramusaji datang untuk mengantarkan pesanan kami. Aroma roti panggang itu menggodaku untuk segera menggasaknya. Suasana pun mendadak hening, sebab Rani tidak suka berbicara sambil makan. Baguslah. Aku pun bisa memikirkan kalimat ketidaksetujuanku akan pernyataannya tadi. Begitu makanan yang di meja sudah dilahap habis, barulah aku tahu untuk merespons apa.

Aku kemudian protes kalau menjual pemberian orang lain, itu berarti nggak menghargai perasaan orang yang sudah memberikan hadiah.

“Kok kamu bisa bilang begitu?”

Aku mengaduk-aduk es teh leci, lalu memperhatikan dua buah leci yang berputar itu seraya mengingat sesuatu. Setelah ingat akan suatu hal, aku pun bercerita kalau pernah diberikan pacarku—yang kini sudah jadi mantan—sebuah jam.

Karena setiap melihat jam pemberian dari mantanku itu dadaku rasanya sesak, aku pun menyimpannya di kardus bersama benda-benda yang sudah jarang dan tidak terpakai. Sampailah ketika aku dan mantan pacarku itu tidak sengaja bertemu di lorong kampus. Awalnya kami bertukar kabar dan mengobrol baik-baik. Nah, begitu ia melihat pergelangan tangan kananku yang tidak mengenakan jam yang dihadiahkannya. Ia bertanya, kenapa jam yang ia berikan itu tidak dipakai?

Aku mengatakan kepadanya kalau jam itu hilang. Ia langsung marah-marah. Aku pun menirukan perkataan mantanku saat itu, “Bohong! Kamu pasti menjualnya, kan? Sumpah, kamu jahat. Jahat banget! Itulah hal yang paling kubenci darimu, Yog. Kamu nggak pernah bisa menghargai pemberianku. Kamu nggak ngertiin perasaanku.”

Setelah ngamuk kayak gitu, ia pergi begitu saja.

“Drama banget,” ujar Rani, lalu tertawa terbahak-bahak sampai lupa tempat kalau suaranya itu bisa mengganggu pengunjung lain. Namun, aku pun jadi ikutan tertawa mengingat hal bodoh itu. Menertawakan diri sendiri seperti ini, kupikir asyik juga.

“Tapi bukannya dia yang ninggalin kamu untuk laki-laki lain, ya? Kok masih peduli gitu?”

Aku menjawab entahlah dan mencoba untuk mengalihkan topik. Sungguh, aku mulai malas mengingatnya lagi. Apalagi membicarakannya. Sialnya, Rani malah terus meledekku. Hingga ia pun bertanya, “Lantas, bagaimana denganmu yang kehilangan dia, ya? Apa dia nggak memikirkan perasaanmu?”

“Mungkin aku juga tidak memikirkan perasaannya.”

“Kok?”

“Ya, dengan menjawab seenaknya kalau jam itu hilang. Mungkin aku bisa bilang kalau ada di rumah dan lupa memakainya. Kupikir, responsnya pasti berbeda. Akhirnya, jam yang ia kasih itu pun belum lama ini hilang betulan ketika aku sedang merapikan kardus-kardus itu. Aku jadi menyesal sudah bilang begitu dan benar-benar menghilangkan jam pemberiannya.”

“Kenapa kamu mendadak jadi merasa bersalah?” Rani bertanya dengan suara yang tidak biasa. Seperti ikut bersedih dan memberikan simpati kepadaku.

“Seperti katamu, mungkin bisa dijual. Lumayan, kan, uangnya?”

“Dih, sialan! Yoga emang berengsek!”

Aku gantian cekikikan melihat wajahnya yang berubah cemberut. Tak lama, ia pun ikut tertawa. Mungkin menertawakan dirinya sendiri yang sudah memasang tampang serius, ketika berharap akan mendengar curhatanku yang menyedihkan. Namun, aku malah meledeknya dengan pernyataan dia sendiri.

“Lalu, kenapa kamu tadi malah menyuruhku menjualnya kalau aku sudah punya buku itu? Apakah nanti aku sama saja tidak menghargai pemberianmu itu? Seperti yang pernah dikatakan mantan pacarku?”

“Aku tidak berpikir sejauh itu, Yog,” kata Rani, lalu meminum machiatto-nya. Setelah itu ia terdiam dan mengetukkan jarinya ke meja seperti sedang berpikir. Aku masih menunggu jawabannya.

“Aku cuma ingin memberikanmu hadiah. Kalau ada orang yang bilang, menjual barang pemberian orang lain itu salah dan bisa membuat orang itu kecewa, rasanya bukan urusanku. Lagian, aku yang menyuruhmu untuk menjualnya, kan? Daripada kamu membuangnya?”

“Aku nggak akan pernah membuang buku. Tapi nanti pemberianmu sia-sia dong kalau kujual?”

“Tidak ada yang sia-sia menurutku. Menerima pemberian, menurutku juga sudah bentuk menghargai. Bukannya kalau dijual nanti kamu jadi dapat uang?”

Rani memang kurang ajar! Entah kenapa, anak ini sering betul menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

“Hmm, kalau kamu bingung jawabnya, begini deh,” ucap Rani, kemudian menghela napas dan mendengus. “Kamu ketika jatuh cinta dan menjalin hubungan pasti menitipkan atau memberi hatimu untuk orang lain, kan?”

“Lalu apa hubungannya?”

“Untuk urusan hati saja, manusia banyak yang tidak menghargainya. Saat aku memberikan hati kepada seseorang pria yang kucinta, tapi suatu hari dia merusak seenaknya. Membohongiku dan memilih perempuan lain. Meninggalkan luka. Itu jauh lebih keji daripada menjual barang pemberian.”

“Kayaknya sekarang kamu mulai berpikir terlalu jauh, Ran.”

“Eh ... iya juga, ya? Jadi curhat pula.”

Kami tertawa bersamaan. Kemudian aku memprotes kalau hati nggak bisa disamakan dengan buku atau barang pemberian lainnya. Rani kemudian menyangkal kalau bukan itu poin yang dia maksud. Akhirnya kami terus berdebat soal menghargai pemberian itu baiknya harus bagaimana. Mungkin kami punya pandangan yang berbeda tentang itu. Makanya nggak akan ketemu jalan tengah.

“Intinya gini deh,” ujar Rani, memotong pembicaraanku yang ngotot nggak mau menjual buku pemberiannya. “Kamu pokoknya udah aku kasih hadiah tiga buku itu. Nah, selanjutnya urusanmu. Kamu mau simpan, buang, atau jual. Semua keputusan itu ada padamu.”

“Yang aku belum punya, udah pasti dibaca terus simpan. Karena suatu hari bisa kubaca ulang.”

“Ya udah, baguslah kalau gitu.”

“Buku yang lain gimana?”

“Dih, ini anak nyebelin! Aku, kan, tadi udah bilang terserah!”

Aku lagi-lagi cekikikan.

“Kalau boleh memberikanmu saran, kamu mungkin bisa menjual buku itu, lalu nanti dibelikan buku lagi yang bakalan kamu simpan dan nggak akan pernah dijual. Mungkin buku itu bisa untuk mengenang. Maka, nanti carilah buku yang betul-betul mengingatkanmu padaku. Carilah buku yang bagus. Jadi ingatanmu padaku pun sama bagusnya.”

“Hah?” aku terkejut sama perkataannya barusan. Perempuan ini memang nggak bisa ditebak. Idenya ada-ada saja. Aku kemudian bilang, “Tanpa buku pun, kamu akan selalu kuingat.”

“Semoga itu bukan bualan.”

Aku tersenyum, kalimatnya terasa getir. Pertemuan itu pun malah berakhir kurang baik. Dan, kami belum berjumpa lagi sampai saat ini. Sebab Rani tidak sekali pun pulang ke Jakarta, atau aku yang belum bisa berkunjung ke Yogyakarta.

Ternyata, ucapanku pada waktu itu memang sebuah bualan. Aku sempat lupa mempunyai teman sepertinya. Kalau bukan karena buku Murjangkung itu, mungkin aku betulan lupa, bahwa ada seseorang bernama Tirani Meliyana. Seorang teman yang membeli buku panduan menulis fiksi, tapi sampai sekarang aku nggak pernah membaca tulisannya. Aku nggak tahu apakah dirinya mempunyai blog.

Tahun ini, kami juga sudah jarang sekali bertukar kabar. Sibuk dengan kehidupan masing-masing. Aku nggak tahu bagaimana keadaannya di sana. Sebab, aku nggak bisa mengintip aktivitasnya di media sosial. Sedari pertama berteman, kami memang cuma kontakan lewat WhatsApp. Tidak ada saling mengikuti akun medsos. Katanya, ia tidak suka bersenang-senang di kehidupan maya.

Jadi, ia tidak membuat satu pun akun seperti Facebook, Twitter, atau Instagram. Aku baru sadar, rupanya di zaman digital seperti ini, masih ada orang yang betul-betul tidak bisa diakses ketika mengetikkan namanya di pencarian Google. Wajahnya pun mulai samar-samar di ingatanku.

Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. Rani ini betul-betul sialan. Sambil tetap memegang buku pemberiannya itu, aku masih berusaha untuk terus mengenangnya. Namun, aku sudah tidak banyak mengingat hari-hari bersamanya. Cuma cerita tadi yang bisa kutuliskan.

Pilihanku selama ini untuk terus menyimpan buku yang ia kasihkan itu, ternyata dapat berguna. Sayangnya, pemikiran bisa berubah seiring waktu bergerak. Mungkin apa yang Rani bilang kala itu benar. Menerima pemberian juga sudah bentuk menghargai. Aku sudah menghargainya dengan menerima buku itu dan menyimpannya sampai saat ini. Sekarang, aku ingin menjualnya. Mungkin aku akan dianggap jahat kayak Laurentius Rando yang menjual barang pemberian penggemarnya.

Namun, Rani sendiri yang menyuruhku untuk menjual buku yang sudah kumiliki itu. Maka, aku pun ingin menjual sebagian buku-bukuku yang ada di rak. Alasannya, karena aku memiliki buku itu lebih dari satu, dan sedang membutuhkan buku bacaan baru dengan menukarnya dengan buku lama. Nanti, buku yang terjual itu akan kubelikan buku bagus lainnya untuk mengenang Rani, seperti yang pernah ia bilang. Lalu, maukah kamu membantuku? Caranya dengan membeli buku-buku yang di antaranya adalah pemberian Rani.

Aku membuatnya menjadi dua paket:

Paket Pertama, Grasindo, harga: Rp32.000. (terjual)



Terdiri dari buku; Retak (Syeren Wijaya), Cancut Marut (Edotz Herjunot), Follow Your Passion Be a Writer (Dr. Saifur Rohman). 

Paket Kedua, campuran, harga: Rp125.000. (terjual)


Past and Curious (Agung Satriawan), Rp23.000 harga asli 55.000
Murjangkung (A. S. Laksana) masih disampul plastik, Rp29.000 harga asli 49.000
The Not So Amazing Life of @aMrazing (Alexander Thian) masih segel Rp21.000 harga asli 43.000
Adriana (Fajar Nugros) masih terbungkus plastik, Rp18.000 harga asli Rp45.000
Tamasya Bola (Darmanto Simaepa), Rp41.000 harga asli Rp85.000 


Untuk paket pertama tidak aku jual satuan, sedangkan paket kedua boleh dibeli satuan, dengan syarat: yang membeli paketan akan tetap diutamakan. Jika sudah ada yang mengontakku untuk beli satuan, lalu dalam 24 jam tidak ada yang menginginkan beli sepaket, barulah buku itu akan dijual satuan kepada pembeli pertama yang telah mengontakku itu. Dan, akan kuberi tahu secepatnya untuk transfer. Menunggu sehari nggak lama-lama amat kan, ya?

Bagi yang berminat, silakan kontak ke Line: yoggaas atau email ke: ketikyoga@gmail.com

--

PS: Harga belum termasuk ongkos kirim.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

54 comments

  1. "meninggalkan luka lebih keji daripada menjual barang pemberian"

    kalau dipikir-pikir, iya juga. pasangan yang baru putus kebanyakan hanya berpikir "how to get rid off the things given" tanpa berpikir sakitnya patah hati yang baru dialami.

    aku setuju sama rani sih di poin yang kita ngasih sesuatu ke orang, kan sesuatu itu udah hak miliknya. mau diapain juga terserah yang punya. menerima pemberian sudah mencerminkan bahwa kita menghargai pemberiannya. KEREN. tulisannya manis sekali, Yogs. mengaduk-aduk hatiku yang habis baca review film horornya icha.

    aku baru tahu kamu pernah ditinggal pacar demi orang lain, Yogs. pedih ya? kok aku yang baca jadi ikutan ngerasa pedih. kamu nyisipin jampi-jampi ke dalam postingan apa gimana nih? sial.

    ReplyDelete
    Replies
    1. btw buku murjangkung keren banget dah.

      Delete
    2. Wakakakak. Malah setuju? Itu Rani kalau ngomong asal kayaknya. Padahal buat beberapa orang, jual barang pemberian juga bisa bikin yang ngasih kecewa, kan? Siapa tahu meninggalkan luka di hati juga. :p

      Ini ujung-ujungnya jualan masih tetep dibilang manis. Aduh, jadi enak. :)

      Pedih kayaknya waktu itu. Udah lupa rasanya. Nggak ada jampinya, kok. Blog ini jauh dari ilmu mistis. Gue cuma menorehkan isi hati dan kepala ke sebuah tulisan. Wqwq.

      Delete
  2. Hahaha, dikasih nomor sedot WC!

    Untung ya dia nemu blogmu, Yog. Kayaknya dia takut namanya bakal dicurhatin juga di blog makanya langsung inisiatif minta maaf dan ngontak lewat email. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cerita beneran ini mah. Enggak kayak kisah hidup kalian berdua, yang sarat akan kepalsuan. Hih!

      #NoPlaceForKangRido
      #SaveIchaHaris

      Delete
    2. OH INI TOH CINLOKAN-NYA ICHA?

      Delete
    3. Rido: Lumayan kalau nanti WC rumah mampet. :) Wuahahaha. Di blog ini tokoh-tokohnya jarang banget pakai nama asli kok, Do.

      Haris: Hayo, beneran apa fiksi?

      Agia: Cees ini komentarnya emang bangke. Wqwq.

      Mayang: Telat.

      Delete
  3. Bisa aja nih Gemini bajingak, nyamain cewek manis kayak brownies yang punya bibir dan bisa berjalan. Maut~

    Rani ini sahabat cewek yang baik dan menyenangkan. Hmmm... karena ini pake kata ganti "Aku," aku jadi bingung ini fiksi beneran apa murni curhatan sih? Soalnya kayaknya Yoga kan lagi kangen sama sahabat ciwiknya kan. Kayaknya ya. Hohoho. Btw jokes nomor sedot WC dan badut sulap itu bangkay. Ngakak keras anjir!

    ReplyDelete
    Replies
    1. cha, akhirnya aku tahu yang dimaksud Haw.

      Delete
    2. Emang kenapa dengan kata ganti "aku"? Kalau naratornya pakai "gue", bakalan dianggep curhatan? Fiksi atau murni curhatan itu biar pembaca yang menilai, Cha. Tugas gue hanya sebagai pencerita~

      Padahal itu leluconnya pernah ada di tulisan lama gue deh. Kalo nggak salah pas 2015 sempet pakai itu. Wqwq.

      Delete
  4. detail banget percakapannya T.T

    aku udah lama ga beli buku baru ini, tapi ya waktu bacanya ga ada hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terlalu detail? Seharusnya gimana, Mas? Mohon kritik tulisanku supaya dialognya bisa lebih baik. Makasih. :D

      Sebetulnya waktu untuk membaca selalu ada. Itu semua soal kemauan. Buktinya baca blog juga bisa, kan? Ehe~

      Delete
    2. maksudnya mas, detail itu dalam arti baik.. detail sehingga tergambar itu situasi dan suasana obrolannya seperti apa.. hihihi

      betul sih, baca blog bisa, karena sedikit mas.. ga tebel gitu wkwkwk

      Delete
  5. Kreatif amat, jualan buku dibentengi dengan cerpen. Yah, his name is also an effort. (Namanya juga usaha)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekalian buat belajar menulis cerpen dan iklan secara halus, Mas Haris. Ya, buat gue aneh juga kalau tau-tau jualan buku gitu. Kalau ternyata pakai cara begini nggak laku, terpaksa nanti pindah lapak jualan.

      Delete
  6. Suka banget bukunya AS Laksana
    apalagi yang tentang kepenulisan

    Hmmmm good luck, semoga laris manis.
    maaf aku belum bisa bantu, lagi banyak pengeluaran juga bulan ini hiksss
    #SavaAnakKos

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara nggak langsung, beliau mentorku dalam menulis haha. Waktu 2013 dan baru belajar nulis, bukunya berguna banget sumpah. Dibaca ulang pun masih mengasyikkan~

      Aamiin. Tidak apa-apa. Makanya dibikin cerita, jadi pembaca yang nggak beli pun masih bisa bersenang-senang dengan membaca cerpennya. :)

      Delete
  7. tertarik sama murjangkung nya nih, tapi ya begitu. hehe

    ReplyDelete
  8. Yang nomer sedot WC itu, beneran? Atau cuma "fiktif" belaka, bang?
    Kalau beneran, ckckck hebat bener dah si Rani, hapal nomer sedot WC.
    *langganan kayaknya dia* Hahaha

    Bisa ya, soft selling gini. Hehe
    Orang ngga bakal nyangka kalau di ending tulisan bakal ada "produk" yang dijual :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pikirkan sendiri, Mas Wisnu. :p Mungkin punya saudara yang kerja jadi tukang sedot WC. Wqwq.

      Ehehe. Bisa-bisa aja, Mas. Para copywriter di luar sana pasti tulisanya bikin lebih nggak nyangka. Ini juga masih belajar. Halah.

      Delete
  9. gila mas yog
    gokil ah.... aku tak bisa berkata2
    aku pengen retak, cuma lagi bokis
    duh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti mungkin bisa mampir lagi pas gajian, Mas~ Siapa tahu masih tersedia.

      Delete
  10. Ini cara jualan yang bisaan-banget-dah-ah. Mantep, mantep, sampe hampir lupa alur ceritanya gara-gara ngelihat harga-harga buku yang menggiurkan ini. Hmmm, tapi biaya print masih terus-terusan ada di daftar pengeluaran. Ah, semoga Yoga mau ngejual semua bukunya dengan harga miring. xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisaan sama kurang kerjaan beda tipis kayaknya. Hahaha. Coba lihat ketika buku-buku bacaan di rak sudah bertambah lagi nanti. Buku mana yang kira-kira bisa dijual kayak gini. :D

      Delete
    2. Mendukung aspirasi Robby mudah2an harganya dimiringkan, kalo perlu divertikalkan.

      Alurnya suka, cetitanya apalagi. Tentang sebuah renungan gitu macam nonton slice of life~

      Delete
    3. Vertikalnya ini ke atas apa ke bawah? Kalau ke atas, mahal dong? :) Wah, aku malah belum nonton film itu, Hul.

      Delete
  11. Nggak tau ini fiksi apa asli. mungkin sebagian fiksi, tapi sebagian lagi asli kenyataan. tapi yg manapun itu, saya yakin, Yoga masih belum bisa melupakan kejadian diselingkuhi mantan pacarnya itu. dua kali lagi.

    Teknik jualan yg apik ini mah. kenapa dijualnya jadi kerasa banget, nggak asal rak penuh atau gimana.. jangan lupa ditokopediain kayak bg Haris juga, Yog. Sapatahu ada yg mau beli paketannya lengkap.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebab, banyak yang bilang kalau memaafkan tidak berarti harus melupakan. Selama belum hilang ingatan, setiap hal tentu masih tersimpan di memori. Wqwq.

      Ehehe, lumayan bisa buat belajar ngiklan. :D Aku lupa password akun Tokped. Nanti deh, belum juga ada seminggu tulisan ini. Masih berharap laku di sini. :(

      Delete
  12. Ini tulisan fiksi atau non fiksi dah, ikutan baper.
    Abisnya nyangkutin ke mantan -.-
    Ketemu orang dan kenalan dari hobi emang asik sih, jadi kalo sekali ketemu bisa sharing tentang kegiatan hobi kesamaan. Akkk.

    Btw beneran dah ads nya mengecoh banget, nggak kebayang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayo, fiksi apa nonfiksi? Wahaha. Anggaplah paduan keduanya. Yang disangkutpautkan ke mantan emang bikin baper, ya? Beberapa orang bapernya ke hubungan pertemanan itu, sih. :(

      Ehehe. Semoga tetap bisa menikmati ceritanya meski akhirnya jualan. :D

      Delete
  13. Yog, aku mau dong yg paket kedua. Udh laku blm? Aku email yaaa

    ReplyDelete
  14. Enak ya bang, gara-gara mau ngambil buku aja jadi punya temen. Kalo saya mah disenyumin doang terus langsung dijauhin, dia takut kalo saya ini copet *halah

    Yang dikasih nomor palsu juga pernah tuh, sama mantan, aseli itu antara ga teliti sama bodoh jadi beda beda tipis, tapi wajar sih ya orang lagi jatuh cinta mah, ya gitu-gitu dah wkwk.

    Seru ceritanya, semoga dipertemukan lagi sama Rani, bang :D btw, semua judul buku yang diatas saya baru pertama kali tau. Akibatnya jarang ke toko buku dan kudet sama buku. Boleh juga hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seserem itu apa, sampai dikira copet? Jadi, masih cinta sama mantan terus minta nomor barunya atau gimana? :))

      Kebanyakan buku lama itu sih, Sep. Ehe.

      Delete
  15. Hai, Mas Yoga. Pie kabare?

    Betul, Mas, kenangan itu mudah datang dengan mudahnya..
    Iya, sih enakan Rani, aku juga gitu mikirnya..he

    Haha.. sekalian nawarin kerjaan sedot WC kayaknya itu, Mas.. haha
    #JambanBadai :D

    Kalau bukunya bang Edotz aku udah punya, Mas.
    Semoga laris semua ya, Mas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah baik dan sudah laris semua, Mas~

      Delete
  16. Yog, lu mau jual buku aja premisnya kayak gini. Keren!

    Btw, gue menyetujui perkataan Rani sih. Ketika kita memberikan sesuatu hadiah ke orang lain, hadiah itu akan jadi sepenuhnya hak dia. Terserah dia mau diapain. Tapi ini berlaku buat benda aja ya, nggak berlaku buat hati hahaha.

    Dan ada satu barang yang coxok dijadiin hadiah bagi gue: buku. Karena ada seseorang yang bilang ke gue kalo hadiah buku itu lebih punya banyak manfaat. Soalnya bisa dipinjemnin ke orang lain, jadi ilmunya lebih bisa kesebar. Gitu wkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah dibilang keren. :D Ya, makanya tokoh aku protes kalau barang nggak bisa disamakan dengan hati gitu. :) Hmm, begitu. Berarti terus mengalir bagaikan amal jariyah dong?

      Delete
  17. panjang bener... akhirnya tuntas baca dengan sedikit air mata. biasanya baca komik banyak gambar sedikit tulisan. jadi butuh pengorbanan hahahah... salam kenal. btw sampek sekarang saya juga masih galau mau buang sayang, di jual gak enak akhirnya numpuk di gudang. hahah... ni cewek asik banget ya penuh misteri, kalau di tanya jawab pakek pertanyaan. giliran di curhati enteng banget jawabnya. "drama banget" keren dech..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sayangnya tulisan-tulisan di blog ini sedikit sekali gambar dan banyak teks. Salam kenal, Mbak. :) Rani memang seperti itu. Sulit ditebak~

      Delete
  18. wkwkwk bole juga ni ngerjain pas kenalan kasi nomor sedot wc XD hahaha
    tertarik sama past & curious. tapi buku yang gue beli dari kapan tau aja blm kelar2 bacanya XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh banget. Hafalin dulu nomornya, Lam. Wqwq. Kebetulan udah laku juga, sih. :)

      Delete
  19. telat bacanyaaaaaaaaaaa.
    mau itu bukunya A.S Laksana padahal...

    jadi sekarang gak kontakan sama rani yog? DAN RANI SAMA SEKALI GAK PUNYA SOSIAL MEDIA???? OMG luar biasa orang kaya gitu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah sudah laku ehehe. Enggak, Cup. Rani memang misterius~

      Delete
  20. Jadi sebenernya cerpen ini ada promonya? Hmm. Cerdas uga. :v

    Btw, kalok aku pribadi sik barang pemberian mantan uda kubuang atau kujual aja semua. Wkwkwk. 😂😂😂

    Ngapain disimpen, males kalok ada kenangannya. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, makasih~ Aku dibilang cerdas. Wqwq. Mantap dijual-jualin. Sayangnya, Rani ini teman baik, bukan mantan. :D

      Delete
  21. si akbar emang konsisten nulis ya, gue terakhir posting bulan agustus, bener-bener jadi blogger murtad nih, kasih tips dong biar gue bisa rajin nulis lagi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nulis mah nulis aja pas lagi resah. Nggak pernah pakai tips gue, Win. Mungkin udah terbiasa rutin seminggu update blog. Jadi, kebiasaan itu susah hilang. :)

      Delete
  22. Huwahahahahha xDDDDDDD
    aduh ngakak dulu bang xDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDD

    Beneran ngakak ini tapi sambil jaga sopan santun karena di kosan lagi banyak yang belajar UTS XDDDD

    I get the point dari tulisan ini bang.

    Tapi point ngakak itu titikbaliknya ada di para komenan xDDDDD

    Aduh ._.

    Terberkahilan artikel ini dengan daftar komenan dari para blogger yang komennya gak out of the topic, tapi nyeleneh banget xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngakak di bagian mana, ya? Yang komentar di sini emang suka gitu, Zah. Pada nyeleneh atau ngawur. :(
      Setidaknya, bersyukur masih ada yang mau repot-repot ninggalin komentar karena keinginan mereka sendiri~ Hahaha.

      Delete
  23. “Lantas, bagaimana denganmu yang kehilangan dia, ya? Apa dia nggak memikirkan perasaanmu?”- perkara berat ini mah. dan kamu memang double sialan, kak. Sialan karena udah bikin tulisan-tulisan yang bikin cenat-cenut orang yang membacanya. Unsur humornya dapat, dan yang terpenting maknanya sampai pada pembaca. Nice

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih untuk pujiannya. Jarang-jarang gue mendapatkan pujian yang pakai sialan. Biasanya kalau udah pakai makian gitu, bagusnya cukup membekas di hati atau pikiran pembaca. Jadi semangat buat belajar bikin fiksi lagi. :D

      Delete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.