48 Jam Bersama Gaspar

43 comments
Novel yang bagus itu seperti apa?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, gue ingin memberi tahu kalau judulnya sengaja dibikin keliru. Yang betul adalah 24 Jam Bersama Gaspar, sebuah novel karya Sabda Armandio—setelah ini akan gue panggil Mas Dio biar lebih akrab.



Kalau memang ada yang beneran bertanya ke gue tentang novel yang bagus, gue betul-betul nggak tau harus menjawab apa dan bagaimana. Apalagi setiap orang memiliki selera bacaan yang berbeda-beda.

Namun, kalau orang itu cuma ingin meminta pendapat gue, maka jawabannya: buku yang bagus setidaknya akan membuat gue rela membuang-buang waktu untuk membaca ulang ceritanya. Dan, Mas Dio dengan gaya berceritanya yang asyik itu berhasil membuat gue menamatkan Gaspar dua kali. Itulah alasan kenapa judulnya jadi seperti itu.

Nggak banyak novel yang akhirnya gue baca ulang. Lagian kalau nggak bagus, ngapain repot-repot harus baca ulang? Jadi, gue anggap buku yang bisa memaksa pembacanya untuk membaca ulang, apalagi sampai menandai bagian-bagian yang menarik adalah buku yang bagus.

Seperti yang terlihat di gambar, gue menandai beberapa bagian novelnya dengan post it. Gue memang suka menempelkan post it pada bagian buku tententu untuk kepuasan sendiri. Bagian mana yang gue sukai, yang membuat gue tertawa, dan yang bikin merenung.

Nah, dari salah satu post it yang gue tempelkan itu, dialog pada novel 24 Jam Bersama Gaspar ini rasanya bisa menjawab pertanyaan seperti apa buku yang bagus: “Cuma penulis hebat yang bisa membuat pembacanya anteng, tak peduli berapa pun jumlah halamannya.”

Bolehkah gue katakan kalau Mas Dio termasuk penulis hebat? Sebab gue beneran dibuat anteng untuk mengikuti alurnya. Sebelumnya, alur novel ini dibagi menjadi dua bagian; yang pertama seperti novel pada umumnya yang diceritakan lewat narasi, yang kedua adalah sebuah wawancara seorang polisi dengan seorang nenek-nenek cerewet.

Gue pernah beberapa kali membaca novel detektif, tapi Gaspar merupakan sesuatu yang berbeda dari cerita-cerita detektif yang pernah gue baca. Rasanya kepala gue malah segar, bukannya pusing seperti membaca novel detektif pada lazimnya. Mas Dio seolah mendobrak sistem akan suatu cerita detektif. Oleh karena itu, kisah Gaspar jadi sungguh baru dan unik buat gue. Karena keunikannya ini, menurut gue Gaspar memang layak menjadi pemenang unggulan Sayembara Novel DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) 2016.

Entah kenapa, gue begitu menikmati jalan ceritanya tanpa memikirkan dan menebak-nebak kisah akhirnya. Lalu ketika sampai di halaman terakhir, gue masih nggak percaya kalau bukunya sudah selesai dibaca. Rasanya masih butuh beberapa lembar lagi. Namun, cerita sudah berakhir dan tidak ada penjelasan lebih.

Kenapa kisah akhirnya itu masih meninggalkan pertanyaan buat gue? Apakah ini sengaja dirancang agar pembaca bebas menjawabnya dalam hati masing-masing? Sepertinya, sih, begitu. Berarti novel ini adalah sebuah cerita detektif, di mana pembaca yang menjadi detektifnya. Setelah sampai di bagian akhir, gue dibuat berpikir untuk menyimpulkan potongan-potongan cerita yang terdiri dari 8 bab dan 224 halaman itu.

Setelah mencerna baik-baik dan membaca ulang kalimat demi kalimat di akhir cerita, barulah gue mulai engah apa yang terjadi. Dan akhirnya, Gaspar membuat gue berpikir ulang apa itu baik dan jahat. Banyak hal jahat yang sering nggak gue sadari sebelumnya. Seperti yang kita tahu, orang-orang sering melakukan kejahatan demi kebaikan. Dan, mereka sering mencari pembenaran atas apa yang telah dilakukannya. Gue kemudian menutup buku tersebut sambil berpikir ulang beberapa hal tentang baik dan jahat. Ditambah lagi ada sebuah nasihat pada kata pengantar buku ini:

Ingat, Sahabat, tiada yang lebih berbahaya selain cerita yang memaksamu percaya bahwa kebaikan selalu mengalahkan kejahatan, sebab ia akan membuatmu tumpul dan zalim.
Saat lagi asyik merenung sambil memegang novel itu, gue melihat tulisan di sampul belakangnya: Tiga lelaki, tiga perempuan, dan satu motor berencana merampok toko emas. Semua karena sebuah kotak hitam. 

Gue baru menyadari satu hal; kali ini gue langsung membaca novel tanpa membaca blurb-nya. O iya, jadi di cerita ini Gaspar memang merampok toko emas untuk mendapatkan kotak hitam. Gaspar berencana melakukan kejahatan, yakni merampok selama 24 jam. Untuk membantu niat jahatnya itu, ia pun mengajak 5 orang yang dipilih secara suka-suka. Karena tokohnya yang tidak terlalu banyak, gue merasa novel ini cocok menggunakan sudut pandang orang pertama: aku. Gue jadi bisa fokus sama tokoh utama, terus tokoh lainnya pun terasa hidup.

Namun, Gaspar sungguh berbeda dengan kisah Robin Hood atau Ken Arok—yang merampok orang-orang kaya sekaligus serakah, lalu membagikannya ke orang miskin atas nama kebaikan. Gaspar sadar betul perbuatannya itu sebuah kejahatan. Pokoknya kalau jahat, ya jahat saja. Nggak usah bawa-bawa nama kebaikan segala. Di novel ini, Mas Dio lewat tokohnya Gaspar menyuguhkan sarkasme yang pas tentang pemakluman dan pembenaran sebuah kejahatan.

Jadi, bagi gue hal yang paling dekat dengan keseharian akan hal tersebut adalah berbohong demi kebaikan. Sedihnya, gue sendiri pun pernah melakukan hal seperti itu. Sewaktu masih kelas 1 SMK, ketika sekolah libur karena ruangannya dipakai ujian kelas 3, gue sering pamit berangkat sekolah demi bisa mendapatkan uang jajan. Gue menghabiskan uang jajan itu untuk bermain online games di warnet. Kala itu, gue menganggap apa yang telah gue lakukan itu benar. Gue pun menyangkal dengan kalimat, “Hm, daripada waktunya sekolah, tapi malah bolos? Mendingan libur, terus masuk. Berarti gue rajin banget, kan?”

Mungkin kalian juga pernah melakukan hal semacam itu saat masih sekolah. Atau, menambah harga buku paket atau LKS sebab uang jajan yang diberikan orang tua terasa kurang. Atau bisa juga, ketika ingin pergi liburan ke suatu tempat, tapi tidak mendapatkan izin dari orang tua, lalu akhirnya berbohong—yang katanya demi kebaikan. Kebaikan siapa?

Berbohong seperti itu bukannya juga termasuk kejahatan? Meskipun itu hal yang remeh, tetap saja dosa. Jadi, aneh juga dipikir-pikir kalau ada kebohongan yang dilakukan demi kebaikan. Lucu sekali mengingat gue pernah berbohong demi kebaikan. Padahal itu kebaikan bagi diri sendiri. Kesinisan dan kalimat satirenya Mas Dio pun berhasil membuat gue menertawakan hal-hal macam begini.

Sebelum mengakhiri tulisan nggak jelas ini, kemarinan temen gue sempat berkomentar tentang novel Gaspar, “Ini tulisan Armandio kayak minta dipahami banget. Dia asyik sendiri berimajinasi.”

Gue pun tersenyum akan responsnya. Pendapat dia itu betul sekali. Namun, di sisi lain gue mengingat potongan lirik lagu Efek Rumah Kaca – Pasar Bisa Diciptakan.

Kami hanya akan mencipta segala apa yang kami cinta. Bahagia~

Menurut gue, Mas Dio itu menulis emang bersenang-senang buat dirinya sendiri. Kayaknya dia nggak berusaha memikat pembaca, tapi berengseknya hal seperti itu yang malah jadi pemikat. Setidaknya, itulah yang gue rasakan.

Berarti, bisa dibilang Mas Dio betul-betul mencipta segala apa yang dia cinta. Bukankah konyol kalau menulis untuk kesenangan pembacanya, tapi penulisnya sendiri nggak bahagia? Toh, setiap tulisan juga ada pembacanya masing-masing, kan? Setiap orang bebas menjawab buku yang bagus itu seperti apa dan bagaimana. Nggak perlulah memaksakan selera. Bagus untuk gue, belum tentu bagus untuk orang lain. Begitu pun sebaliknya.

*

Sebenarnya gue takut mengulas sebuah buku. Entah kenapa pasti ada rasa cemas kalau bagusnya itu nanti malah dirusak oleh gue yang sok tahu ini. Gue juga nggak bisa me-review seperti para kritikus buku. Jadi, ya beginilah tulisan gue kalau membicarakan buku. Gue malas bercerita banyak akan kisah di dalamnya. Apalagi nanti ada yang komentar kalau gue spoiler. Maaf kalau tulisan ini lebih cocok disebut curhatan. Yang penting gue senang saat menulis ulasannya. Peduli setan dengan standar mengulas buku.

--

PS: Temen gue, Robby Haryanto, sedang mengadakan give away tentang buku, untuk ikutan bisa dicek di: Mau ngeblog dapet buku?
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

43 comments

  1. Pengen baca. :D Kayanya keren.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga suka ya kalau nanti pas baca. Kalau nggak cocok, mungkin bukan selera. :D

      Delete
  2. Judulnya jadi antimainstream.Justru kalau salah kan orang jadi bertanya2. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi udah gue kasih tau alasannya kenapa dibikin gitu judulnya. :D

      Delete
  3. bener banget tuh mas setiap tulisan pasti ada pembacanya masing-masing, ada yang seneng ada yang suka, ada juga yang berkomentar negatif. sama kayak kejadian yang di youtube itu, ada yang merasa lucu, ada juga yang merasa gak lucu, karena ya pembacanya atau pendengarnya beda..

    Nah gimana tuh untuk mengatasi hal itu, kalo dari penulis?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penulis tetep menulis yang dia suka aja. Pro dan kontra selalu ada, kok. Cuma kalau dapat kritikan dan itu bagus untuk dirinya, ya coba dipikirkan dan diterima. Nggak ada salahnya menerima kritik dan saran. :D

      Delete
  4. Waaaw Yoga ngulas buku favoritnya. Yuhuuu~

    Setuju sama pendapat kalau setiap bacaan punya pembacanya sendiri-sendiri. Kalau nulis tujuannya buat memuaskan pembaca sedangkan diri sendiri nggak merasa puas, malah jadi beban sih. Terus yang soal kejahatan dalam bentuk berbohong demi kebaikan itu.... MHUAHAAHA. Pas jaman sekolah, aku pernah bohong gitu demi jalan sama temen atau sekedar ngumpul doang di rumah temen. Bilangnya lagi kerja kelompok, padahal mah jalan. Huhuhuhu. Waktu udah gede gini sempat bohong juga sih. Pake senjata nginap di rumah temen or kakak sepupu biar bisa jalan yang pulangnya larut malam. Tapi kalau dipikir-pikir ya capek juga kayak gitu terus. Akhirnya kemarin pas mau ke Balikpapan dan pake acara bermalam di sana, aku ijin aja apa adanya. Awalnya nggak dibolehin sih, tapi lama kelamaan Mamaku luluh juga. Ternyata nggak selamanya harus berbohong buat bisa jalan lebih dari sekedar pulang jam 10 malam. Itu jadi suatu kebanggaan buat anak rumahan polos nan lugu plus norak kayak aku~ Wkakakaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekalian ikutan give away Robby. Hahaha. :D

      Iya, konyol banget kalau terlalu mikirin pembacanya, terus sampai lupa mikirin diri sendiri. Menulis jadi nggak menyenangkan lagi. XD

      Ya, bohong demi kebaikan itu kita pasti pernah melakukannya. :| Asyek, akhirnya pas jujur diizinin. Alhamdulillah~

      Delete
  5. Ini semacam surat terbuka untuk Haris Firmansyah, ya? Bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dibilang begitu. Emang pengin ngulas, sekalian ikutan give away, dan sedikit bahas soal Haris. Wahaha.

      Delete
  6. Udah beli juga setelah liat postingan benard batubara. Tapi masihbbelum baca karena dipinjam hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum baca, tapi udah dipinjem temen? Baik sekali~ :))

      Delete
  7. diprospek temen guru yang ngajar bahasa indo, katanya tugas muridnya ada yang bikin resensi buku ini dan terpelatuk untuk membeli, tapi minggu lalu udah ngobok2 gramedia nggak nemu bukunya. *sigh*

    btw, aku setuju pake banget kalau buku yang bener-bener bagus adalah buku yang bisa membuat kita membacanya kembali, entah dua kali, tiga kali, sampai tak terhingga. siapa sih yang mau buang-buang waktu untuk membaca kembali buku yang nggak bagus? :')

    renungan yang "berbohong untuk kebaikan" leh uga nih. cukup menohok karena selama ini banyak orang gembar-gembor "bohong gapapa, asal untuk kebaikan". dan pertanyaannya adalah, kebaikan siapa? diri sendiri?

    tengkyu, rekomendasinya, Yog. aku mau gencar nyari lagi buku ini sampe dapet. muehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba beli online aja, May. Kadang di Gramedia emang nggak ada buku-buku terbitan Mojok. Ehehe. Dan baca ulangnya karena betul-betul pengin baca, bukan karena nggak ada stok buku yang mau dibaca lagi. :p

      Ya, kebanyakan yang begitu emang buat kebaikan diri sendiri. :( Semoga segera dapat ya, May. :D

      Delete
  8. Gue suka yg cerita detektif2 gitu sih, kayaknya ini buku berikutnya yg harus dibaca.

    *Tulisannya bagus.

    ReplyDelete
  9. Inget, sahabat, tiada yang lebih berbahaya, ketika menikung doi sahabat sendiri dibanding menikung doi cowok lain.

    Kira-kira itu udah bisa dijadiin bahan investigasi oleh gaspar belom ya?

    Berbohong demi kebaikan, ehm berbohong untuk menutupi aib orang lain boleh ga ya?

    Tapi kayanya emang seru nih novel btw makasih bang atas tips memakaipost itnya, patut dicoba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terlalu biasa permasalahannya, sih, kalau soal tikung-menikung pacar temen. Sudah banyak terjadi. :)

      Menutupi aib orang lain mungkin sebuah pengecualian. Ehe.

      Delete
  10. sek waiting list
    belum baca, heuheu

    ReplyDelete
  11. Ya, ini salah satu buku yang dari dulu nggak kesampaian beli dan bacanya kapan. Masih inget Sabtu Bersama Bapak? Nah, itu juga belum baca. :(

    Bohong-bohong anak sekolah begitu pernah juga pas SMP. Dari rumah niatnya suci, mau ke masjid ikut Rohani Islam. Akhirnya jalannya bablas ke rental PS. Bener sih, akhirnya ke masjid siangnya. Tapi dari rumah izinnya nggak ditambahin "ke PS, dulu..."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi Sabtu Bersama Bapak, kan, udah nonton filmnya, Rob. :D

      O iya, pamitnya berangkat ngaji, tapi mampir ke rental PS. Pernah juga. :')

      Delete
  12. Walaupun g seperti ulasan para reviewer, tapi enak dibaca kok yoga. Dan buat aku (yang masih belajar untuk mencintai buku), memberikan komentar untuk hasil ulasan ini g pake bingung, soalnya dibuat sesantai mungkin supaya kami pembacanya g terpaku doang sama bukunya, lebih ke pengalamanmu selama membaca buku ini.

    Seperti bisa dimasukkan list buku 24 jam bersama gaspar, suka sekali sama ulasanmu dibagian kejahatan. Aku baru sadar setelah kamu menjelaskan tentang cerita robin hood atau sejenisnya yang mencuri dan orang kaya serakah dan hasil curiannya untuk orang miskin. Nyatanya yang namanya mencuri itu emang bener g baik dan tidak dibenarkan, kenapa harus mencari pembenaran dengan mengatakan ini untuk kebaikan bersama? Nampol banget bagian ini. Sampai hal kecil kayak ngelebihin duit buat beli LKS, bukannya udah ngajarin jadi koruptor kalau keadaan itu sudah biasa dilakukan?

    Mantap Yog, jempol deh buat ulasannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Habisan nggak bisa nulis kayak para reviewer gitu. Penginnya pakai gaya sendiri yang dicampurin curhatan. Ehe. Makasih ya, Pit. :D

      Iya, gue bermaksud mengaitkan ke beberapa kejahatan yang bawa-bawa kebaikan segala. Termasuk pengalaman pribadi zaman sekolah. Yang syukurnya sudah nggak dilakukan lagi. Mulai sadar kalau itu bibit-bibit korupsi. :')

      Delete
  13. Udah baca. Kisah Gaspar sangat menyenangkan. Punya karakter yang suka-suka membuat segalanya menjadi ajaib. Prinsipnya yang beda membuatnya unik. Salah satu novel terbaik yang saya baca tahun ini.

    Berbohong kayak gitu waktu SMP sering. Beli buku LKS terus ditambah-tambahin untuk tambahan uang jajan. Dan merasa itu kebaikan. Hmm~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi dah selera kita sama. Mantap euy jadi novel terbaik yang dibaca. :D

      Hmm, renungkanlah~

      Delete
  14. saya belom pernah mencicipi buku2nya sabda armandio, apalagi review 24 jam bersama gaspar ini banyak yang mengomentari dengan positif. jadi pengin baca juga. hahaha

    kamu ngereviewnya kayak ngereview film malah YOg. xD bukan masalah jelek atau nggak, jadi bisa ngebayangin maksudnya. kalo kata bang Haris, Bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekiranya gaya tulisannya Mas Dio cocok, mungkin udah saatnya memulai untuk baca bukunya, Haw. :)
      Woahaha, padahal yang suka review film Icha. Gue mah review acara palingan. XD

      Delete
  15. Pernah liat buku ini di gramed, pas kalian di grup lagi ngomongin buku ini juga. Liat blurbnya, takut otak gue gak nyampe akhirnya batal beli wkwk.

    Kalo soal bohong ala anak sekolah itu kayaknya udah umum. "Apakah cuma gue di sini yang gak pernah bohongin orang tua pas sekolah?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba dulu aja, Yog. Kagak berat, kok, menurut gue. Rahul yang masih SMA pun kelar bacanya. :D

      Wih, nggak pernah bohongin orang tua? Salut!

      Delete
  16. Halo Kak Yoga, apa kabar? :)

    Ternyata Kak Yoga kek Mas Dio ya. Sama-sama bikin tertarik padahal buat bikin senang diri sendiri. Tulisannya loh maksudnya :D

    Aku penasaran deh perasaan banyak yang seneng sama buku ini, tapi untuk beli pun, aku takut nggak punya waktu (ah bilang saja kamu malas, Ris!) buat bacanya. Huhuhu.

    Btw kebohongan buat kebaikan yang Kak Yoga ceritain bikin aku inget sama diri aku sendiri. Aku juga pernah ngelakuin itu :'D apalagi yang suka minta uang lebih dari dasar karena buat kesenangan diri sendiri. Maafkan aku yaa rabb :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Btw ganti nama domain ya? Kenapa namanya ryoga, Kak? :'D

      Delete
    2. Halo, Ris! Alhamdulillah baik nih.

      Wahaha. Kalau nggak senang sama tulisan sendiri mah kebangetan. Kan tujuan gue nulis itu yang diutamakan diri sendiri dulu. :D Waktu mah sebenernya selalu ada. Tinggal kemauan buat bacanya aja. :)

      Beberapa orang pernah, itu juga contohnya pengalaman gue sekolah dulu. Yang penting sekarang perbuatan itu nggak diulangi lagi.

      Nama domain masih tetep akbaryoga, kok. Berubah dari mananya? Salah baca apa? :|

      Delete
  17. ini berarti buku yang bertemakan cerita detektif gitu ya, yog? gue blom pernah baca buku tentang detektif. msih ada di toko buku ga ya?
    ada sih beberapa buku yg smpet gue baca ulang lagi. yah, walaupun dianggap biasa aja sama orang lain, tapi smasa bodo amat lah. tapi itu beneran lu tandain smuanya kayak gitu yog? gue cuman diapalin doang sih, klo skiranya ada jokes yang lucu gitu. dan berakhir apa yg gue apalin itu hilang. mngkin nnti gue bisa coba bikin catatan di halamannya juga. kyaknya seru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya masih deh. Tapi beli online aja biar nggak usah repot-repot ngecek toko buku. :p

      Beberapa bagian buku seringnya gue tandain gitu, Zi. Seru emang buat kepuasan diri sendiri~ :D

      Delete
  18. Sama yog, buatku, buku yg bagus itu jg buku yg bisa bikin aku berkali2 baca dan ttp ga bosen :p. Pokoknya kalo di antara koleksi bukuku ada yg udh buluk, percayalah, itu buku yg paling menarik berarti :p.

    Jd pengen baca buku ini :p. Apalagi ini cerita Ttg detektid begitu yaaa.. Dari kecil, buku yg srg aku baca yaa ttg detektif :p. Makanya kalo udah menyangkut misteri, kejahatan, aku semangat deh bacanya , dan susah berenti sebelum tamat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukuku nggak ada yang buluk. Tapi ada yang lebih dari lima kali baca ulang. :| Anaknya sok ngerawat buku gitu, sih. Hahaha.

      Cuma, bukunya agak beda sama buku detektif kebanyakan, Mbak. :D

      Delete
  19. Tau buku ini gara-gara lihat postingannya Bang Bara dan Komunitas Pecandu Buku. Awalnya gue agak takut kalau bukunya bakal ngecewain, meski reviewnya bagus-bagus. Tapi setelah membeli dan membaca, sama seperti lo, gue juga tertarik membacanya sampai dua kali. Ceritanya ringan. Nggak seberat cerita detektif pada umumnya. Mungkin itu yang jadi daya tarik dari cerita Gaspar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beberapa pada tahu dari Bara, ya. Besar juga pengaruh ulasan dia. :D Gue tahu karena emang udah ngikutin si Mas Dio dari lama, sih.

      Wohoho, Gaspar memang mantap~

      Delete
  20. Ini novel tercepat yang gua tamatin Yog, karena saking mengalirnya dan bukan tipikal cerita detektif yg bikin pusing. Bahkan gua udah coba baca untuk kedua kalinya tapi baru bab pembuka udah dipinjem temen duluan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya gue juga. Selain baca memoar komedi zaman suka baca Gagas/Bukune, buku ini gue bacanya mengalir betul. Tau-tau habis.

      Waduh, gue malah nggak berani minjemin ke temen lagi, selain temen yang betul-betul bisa dipercaya bakal balikin. Wahaha.

      Delete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.