Tersesat

52 comments
Setelah menyebar beberapa surat lamaran lewat surel (surat elektronik), baik yang gue dapatkan dari teman maupun JobStreet. Akhirnya, ada satu panggilan wawancara kerja. Namun, lokasinya di Gading Serpong, Tangerang, yang mana cukup jauh dari rumah. 

Kenapa gue ngelamar kerja jauh-jauh banget, ya? Gue pun berusaha mengingat-ingat tentang PT yang menghubungi gue itu, tapi tetep lupa. Entah karena saking banyaknya ngirim lamaran, apa emang gue yang udah mulai frustrasi dan jadi gampang lupa.

Setelah berselancar di internet, gue pun menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Perusahaan yang gue lamar ini, ternyata punya lebih dari satu cabang. Yang gue lamar itu alamat lainnya berada di daerah Kebon Jeruk. Oke, berarti yang di Gading Serpong itu hanya tempat wawancaranya.

Pukul 07.00 gue mulai berangkat dari rumah menuju kantor itu. Interviu yang tertera di surel sebetulnya dimulai pukul 09.00. Kalau yang gue lihat di GPS, perjalanannya sekitar 75-90 menit. Namun, gue sengaja berangkat lebih awal sebab memperkirakan macet dan beberapa hal buruk lainnya. Misalnya ban motor bocor, tersesat, atau terjadi Perang Dunia Ketiga.



Benar saja dugaan gue akan hal itu. Begitu sudah masuk area Serpong, gue nyasar seperti biasanya. Gue mengendarai motor mengikuti petunjuk di papan jalan ke arah Serpong, yang ternyata beda arahnya dengan Gading Serpong—tempat yang gue tuju. Gue mungkin kehilangan fokus saat terjebak macet di Ciledug, suatu daerah sebelum menuju arah Serpong. Mau nggak mau, gue mulai menepi dan mengecek GPS untuk kembali ke jalan yang benar. Jalan yang diridai Allah. Allahu Akbar!

Sesampainya di kawasan yang tertera di GPS, gue mulai bingung lagi. Sebelumnya, kantor yang gue tuju itu alamatnya nggak tercantum di GPS. Jadi, gue memasukkan nama jalan lain yang dekat dengan tempat itu. Nah, berarti perjalanan gue setelah ini nggak bisa lagi memanfaatkan teknologi. Gue harus nanya sama orang.

Demi berjaga-jaga salah bertanya, maka orang yang gue tanya adalah satpam. Sayangnya, ia mengatakan kalau tidak tahu percis alamatnya. Ia malah bilang lokasi yang gue cari itu mungkin dekat dengan ruko-ruko sambil menunjukkan jalannya. Gue pun mengucapkan “terima kasih”, dan melanjutkan pencarian lokasinya ke tempat yang satpam itu maksud.

Setelah 15 menit berselang, gue sudah memasuki area yang banyak rukonya. Lalu gue bertanya ke pejalan kaki yang lewat, seorang pria berkumis yang kira-kira usianya menginjak empat puluhan akhir. Bapak itu kemudian memberi tahu gue kalau nama jalan yang gue tanyakan itu udah benar dan mungkin kantor yang gue cari itu ada di depan. Cuma, Bapak itu memberi tahu gue kalau ruko-ruko yang ada di sini masih baru, sepertinya masih kosong dan belum ada kantor yang beroperasi.

Gue mulai cemas dan membatin, ini yang gue tuju jangan-jangan perusahaan fiktif?

Namun, perjalanan gue ini udah lumayan jauh. Lagian beberapa hari sebelumnya gue udah bertanya ke teman, kalau panggilan dari JobStreet mah jarang yang penipuan. Soalnya diseleksi ketat gitu. Maka, pikiran negatif itu gue buang jauh-jauh. Gue memperhatikan jam tangan, pukul 08.30. Waduh, udah 90 menit berjalan, tapi gue belum sampai tempat wawancaranya. Terus, gue coba mengendarai motor dan mencari satpam lagi di area dekat-dekat sini untuk bertanya lebih jelas.

Sekitar 50 meter dari tempat tadi, gue melihat ke seberang jalan ada satu satpam yang mengenakan topi dan sedang duduk di pintu masuk ruko-ruko. Gue menghampirinya dan kembali bertanya tentang alamat itu.

“Betul, kok, ini jalannya. Cuma kalau yang nomor tiga saya nggak tau. Ini yang nomor satu. Saya juga masih baru kerja di sini. Coba ke ruko-ruko yang depanan lagi,” jawab Satpam Bertopi.

Atas petunjuk Satpam Bertopi itu, gue pun bergegas ke area ruko lainnya. Sesampainya di ruko yang Satpam Bertopi itu maksud, gue tidak menemukan satu pun satpam yang berjaga. Gue akhirnya nekat memasukinya. Tapi sayang, rukonya juga masih kosong. Apalagi setelah melihat nomor “2” di pintu masuk ruko yang telat gue sadari. Oh, berarti nomor 3 ada di depan lagi.

Gue sudah membuang-buang waktu sekitar 3 menit di area ruko nomor 2 itu, sekarang gue mulai menambah kecepatan. Namun, semakin gue mengendarai motor lebih jauh. Gue mulai merasa aneh. Kok ruko-rukonya nggak ada lagi, ya? pikir gue. Kanan dan kiri jalan masih berupa lahan kosong. Tadi perasaan jaraknya dari kawasan ruko yang satu ke kawasan lainnya nggak sampai 50 meter pasti ada ruko lagi. Sudah pukul 08.45 sekarang, dan gue belum juga sampai.

Suram.

Gue mulai cek GPS lagi, ini sebenarnya gue lagi di jalan apa. Ternyata jalan yang sekarang udah masuk ke wilayah BSD (Bumi Serpong Damai), bukan lagi Gading Serpong. Pantesan rukonya nggak terlihat lagi. Gue segera putar balik dan kembali ke area ruko yang pertama. Gue memandangi ruko itu, lalu melihat Satpam Bertopi yang tadi gue tanya. Merasa diperhatikan, ia pun memperhatikan gue yang masih mencari alamat dan belum kunjung ketemu ini. Mungkin Satpam Bertopi itu diam-diam menyanyikan lagu Ayu Tingting Alamat Palsu.

Ke mana... ke mana... ke mana?
Ku harus mencari ke mana?

Ketika mengalihkan pandangan ke seberang jalan. Gue baru engah ada ruko-ruko juga. Dan melihat nomor di pintu masuk area ruko itu. Nomor tiga. Nah, inilah yang gue cari-cari sejak tadi. Ya, Tuhan. Kok tadi nggak kelihatan, ya?

Tanpa berlama-lama, gue segera memasuki area ruko itu. Betul seperti yang Bapak Berkumis bilang tadi, ruko-ruko ini kebanyakan masih kosong. Di area “Ruko 3” ini, baru ada 4 kantor yang buka. Dan salah satunya adalah kantor yang gue datangi. Alhamdulillah bukan perusahaan fiktif.

Kala memasuki kantor itu, gue segera disambut resepsionis. Ia seorang perempuan berambut lurus setengah punggung. Kulitnya putih bersih dan bertubuh cenderung ideal, tidak terlalu kurus dan tidak gemuk. Gue mengira-ngira ia masih seumuran dengan gue. Gue segera bilang keperluan gue untuk wawancara, dan ia menyuruh gue untuk menuliskannya di buku tamu. Setelah itu, ia meminta gue untuk duduk menunggu sampai 09.00 di sebuah kursi yang juga terdapat meja—yang jaraknya dekat dari meja resepsionis.

Di tempat duduk itu, entah kenapa gue rasanya pengin memejamkan mata sebentar aja. Sayangnya 5 menit kemudian sudah pukul 09.00, dan seorang perempuan berpenampilan khas wanita karier keluar dari sebuah ruangan dan memberikan gue beberapa lembaran kertas. Pas gue lihat, itu adalah soal psikotes dan lembar jawabannya. Baru lihat soal psikotesnya yang sekitar 100 soal itu gue mendadak mabuk. Ditambah wangi parfum yang cukup menyengat dan tidak cocok di hidung gue dari wanita itu—yang gue pikir adalah HRD atau asisten HRD-nya. Ia mengatakan kalau jawabannya nanti dikumpulkan 15 menit sebelum jam makan siang, setelah itu barulah ke proses wawancara. 

Entah kenapa, gue seperti sulit berpikir untuk menjawab soal-soal ini. Jumlah soal yang gue dapat lumayan banyak, pusing akan wangi parfum, dan kurang tidur. Mungkin ini efek tersesat tadi juga kali.

Belum apa-apa gue jadi males duluan karena sebelumnya sudah pusing dan capek mencari lokasi. Berangkat pukul 07.00 dan gue sampai kantornya pukul 08.54. Perjalanan yang sungguh melelahkan. Gue merasa diri ini memang pintar mengestimasi waktu sehingga tidak telat, tapi terlalu bodoh mencari alamat dan gampang tersesat.

*

Satu jam telah berlalu, dan gue berhasil menyelesaikan semua soal psikotes tersebut. Tes sinonim dan antonim tadi rasanya cukup mudah. Analogi sedikit membingungkan. Deret angka mulai pusing. Lalu entah-itu-termasuk-kategori-soal-apa-namanya, pokoknya bikin stres. 

Maka, sekarang giliran membuat artikel minimal 500 kata dengan tulis tangan yang mengharuskan gue untuk memasukkan 10 kata kunci. Semua kata kuncinya berhubungan dengan teknologi. Seingat gue, gue melamar kerja sebagai penulis konten. Namun, kok ini kontennya yang teknologi, ya? Gue sebelumnya nggak cari tahu banyak tentang perusahaan yang gue lamar jadi begini deh. Yang penting lamarannya penulis konten, terus gue langsung kirim CV aja. Sebuah kecerobohan yang berakibat seperti sekarang ini.

Sumpah, rasanya baru kali ini gue bingung banget ketika disuruh menulis. Biasanya mah lancar-lancar aja. Gue ingin mengeluarkan ponsel untuk mencari contoh artikel teknologi yang SEO itu seperti apa, tapi takut dianggap curang. Oleh karena itu, gue tulislah sebisa gue. Setidaknya gue jujur akan kemampuan gue ini.

Gue lihat jam tangan, saat ini sudah hampir pukul 11, dan gue belum juga selesai menulis. Gue lama menulis sebab sibuk menghitung kata yang sudah gue tulis itu berapa banyak. Sekarang baru 300-an kata. Kurang 200 lagi.

Saat selesai pada pukul 11.15, gue membaca ulang dan mengoreksi jawaban-jawaban itu. Kemudian entah bagaimana bisa teledor lagi saat membaca soal. Gue juga disuruh nulis artikel 500 kata itu dalam bentuk bahasa Inggris. Gokil! (dibaca: mampus ajalah, Yog!)

Waktunya tinggal 30 menit lagi nih. Sebetulnya nggak masalah, sih, sebab artikel bahasa Indonesia-nya udah selesai dan tinggal alih bahasa. Masalahnya, kemampuan bahasa Inggris gue itu termasuk cemen. Ah, tapi nggak apalah. Hitung-hitung buat belajar dan menguji kemampuan gue ini. Gue mulai berhasil menerjemahkan 2 kalimat. Sebuah awal yang baik. Tapi setelah itu, ada kata yang gue nggak tau apa bahasa Inggris-nya. Karena bingung, gue pun pengin ngecek kamus elektronik di ponsel. Cuma, gue takut nanti dianggap curang.

Alhasil, gue pun bertanya ke resepsionis itu, “Mbak, ini disuruh nulis artikel pakai bahasa Inggris. Ada beberapa kata yang saya nggak tahu artinya. Boleh pakai kamus, kan?”

“Saya nggak tau. Mau saya tanyain HRD-nya dulu?”

“Yah, waktunya tapi udah mepet nih, Mbak. Takutnya HRD lagi sibuk, kan.”

“Ya udah, anggap aja boleh.”

Wuahahaha. Mbak Resepsionis mengerti gue banget.

Sudah pukul 11.35 dan gue belum kelar juga. Kacau! Tinggal 10 menit lagi ini. Lalu, entah bagaimana, jari-jari gue bergerak dengan sendirinya dan membuka web Google Translate.

*

Sekarang gue sedang duduk di hadapan HRD yang berbeda dengan sebelumnya. Mungkin wanita tadi betul asistennya. HRD yang sekarang seorang pria bertubuh tinggi dan besar, usianya sekitar 40-an awal, dan berambut cepak. Ya, seperti penampilan HRD pada umumnya.

Mengintip dari lembaran yang dipegang HRD itu, gue melihat nilai psikotes yang lumayan. Ia membolak-balikkan kertas itu dan tertawa membaca tulisan gue. Sepertinya tulisan tangan gue itu terlalu jelek dan sulit dibaca.

“Artikel kamu yang bahasa Inggris ini hasil Google Translate, ya?” tanya HRD.

Oh, ternyata yang jelek bukan tulisan tangan gue, tapi tulisan bahasa Inggris gue. Dan yang terpenting, mampuslah ini gue ketahuan!

“Emm, awalnya coba buka kamus di HP tadi, Pak. Terus lama-lama nggak keburu waktunya, ya udah saya Google Translate aja deh. Cuma saya benerin lagi kalimatnya yang menurut saya salah.”

Duh, kenapa gue jujur banget sih, ya Allah?

“Bahasa Indonesia-nya juga masih kurang menurut saya.”

Wow, HRD-nya lebih jujur dari gue. Tapi kalau artikelnya bisa gue baca ulang sekarang, itu pasti jelek, sih. Gue pun menjelaskan kalau teknologi itu bukan hal yang biasa gue tulis.

HRD itu kemudian bertanya, “Loh, terus blog kamu itu isinya apa?”

Lah, ini HRD ngecek blog gue sebelumnya kagak, sih? Kok sekarang nanya lagi.

“Cerita keseharian seringnya. Kadang ada cerpen, puisi, dan review acara,” jawab gue.

“Pantes, gaya tulisan artikel itu kayak cerpen.”

Gue kemudian tertawa kecil.

HRD itu selanjutnya bertanya lagi akan pengalaman gue yang pernah bekerja sebagai data entry selama 2 tahun. Beliau bilang, kalau sekiranya nggak cocok sebagai penulis konten, gue akan ditawarkan posisi yang lain. Setelah itu, HRD itu menyodorkan netbook yang sudah terbuka sebuah web untuk tes kecepatan mengetik.

“Coba kamu ketik itu.”

Gue mulai mengetik dengan cepat, tapi nggak tau kenapa apa yang gue ketik sering salah. Gue baru engeh, jarak antar tombol di tuts netbook dan laptop sungguh berbeda. Gue jadi lama sebab membetulkan typo. Begitu kelar, hasil tes mengetik itu sungguh mengecewakan buat gue.

HRD itu juga mengatakan ketikan gue masih kayak orang rata-rata, belum termasuk cepat. Gue pun menyangkal kalau biasanya mengetik menggunakan laptop, bukan netbook yang terlalu kecil itu. Jadi jari-jari gue belum terbiasa.

Selanjutnya, HRD itu percaya akan kemampuan gue, terlebih gue juga ada pengalaman 2 tahun yang lumayan membantu penilaiannya. Kemudian, beliau bertanya seandainya gue diterima kerja terus bagaimana, dan beberapa pertanyaan lain. Gue menjawab apa yang gue tau, lalu ikut gantian bertanya, apa nanti ditempatkan di kantor yang Gading Serpong ini?

Sebab, gue waktu ngelamar di JobStreet alamat kantornya yang tertera itu di Kebon Jeruk—jaraknya lebih dekat dan cuma 20 menit paling dari rumah. Gue bilang penginnya di situ kalau misalnya diterima.

“Di kantor yang itu sayangnya udah penuh. Jadi sebenarnya masalah kamu ini lebih ke jarak yang kejauhan, ya?”

Gue menjawab apa adanya dan sekalian curhat tadi berangkatnya aja nyasar. Setelah pukul 12 lewat 5, ia menyudahi wawancara itu. Terakhir, HRD itu bilang kalau nanti gue bakal dihubungi lewat telepon kira-kira kurang dari seminggu. Katanya bisa juga sekalian buat memikirkan gimana baiknya keputusan yang nanti gue ambil.

Ya, sayangnya gue udah nggak terlalu mikirin. Gue udah pasrah dan yakin nggak akan bekerja di kantor cabang yang ini. Tujuan gue saat ini hanya sederhana: bisa cepat sampai rumah, makan, dan tidur.

*

Keluar dari kantor itu, gue langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana dan membuka GPS—mengarahkan tujuan ke arah rumah. Gue mau langsung pulang dan nggak mampir-mampir dulu. Pokoknya pengin cepat-cepat mengistirahatkan tubuh dan pikiran. Sedihnya, dalam perjalanan pulang MiFi gue mati. Gue juga nggak bawa power bank. Tanpa adanya koneksi internet, sekarang gue kudu bertanya sama orang karena betul-betul lupa jalan yang tadi pagi udah gue lalui.

Beberapa orang yang gue tanya, kebanyakan kurang paham dengan rute ke daerah rumah gue: Palmerah, Jakarta Barat. Oleh karena itu, gue pun memilih bertanya daerah Ciledug—yang udah gue hafal rutenya dan kemungkinan orang-orang di sekitar sini tau. Setelah mendapatkan informasi akan arah jalan pulang, gue begitu senang. Beberapa jalan yang gue lalui tadi pagi, samar-samar mulai teringat. Alhamdulillah, akhirnya perjalanan pulang ini lancar.

Namun, ketika bertemu pertigaaan, gue sekonyong-konyong lupa kalau arah pulang itu belok kanan apa kiri. Petunjuk jalan di wilayah komplek nggak ada. Pejalan kaki juga nggak terlihat satu pun. Setelah itu, gue akhirnya nekat memilih belok kanan dan mengikuti intuisi.

Setelah 10 menit berkendara, gue merasa jalan ini berbeda dengan jalan yang tadi pagi gue lewatin. Daripada tambah kacau, ya mending gue putar balik. Lucunya, pas putar balik kok jalannya semakin aneh. Gue jadi bimbang dan berpikir, tadi betul lewat jalan ini nggak, sih?

Gue betul-betul tersesat kali ini.

Di depan sebelah kiri jalan, gue melihat ada masjid. Merasa pikiran udah nggak fokus, gue memutuskan untuk mampir ke masjid itu. Sepertinya gue perlu salat dulu biar tenang. Di sebelah masjid itu, gue melihat alamat dan nomor rumah yang tertempel di atas pintu. Gue masih di area Serpong ternyata. Gue memarkirkan motor di pelataran masjid, berjalan ke tempat wudu, dan salat.

Selesainya salat Zuhur, kebetulan di seberang masjid itu ada Warung Bakso dan Mie Ayam. Ya, sekalian makan siang deh biar tambah fokus. Mungkin nyasar ini juga akibat dari menahan lapar. Gue kemudian memesan mie ayam pakai bakso 2 buah dan minumnya 2 gelas air mineral.

Berbicara mengenai makanan, biasanya banyak orang yang bilang, kalau laper bego dan kenyang dongo. Tapi siang itu, gue tidak. Pas kenyang gue banyak berpikir. Karena masih pengin duduk seraya menurunkan makanan, gue memesan lagi es teh manis dan mulai merenung.

Padahal tadi maksud gue ingin hemat dan makannya nanti di rumah aja, sebab lagi cari kerja gini. Eh, ini malah jajan dan tetep boros.Pikiran untuk langsung pulang rupanya gagal. Gue malah berlama-lama di tempat asing ini. Terus, kenapa, sih, gue ini sering banget nyasar ketika mengunjungi atau mencari suatu lokasi di wilayah yang baru buat gue?

Gue benci akan kebodohan yang menghabiskan waktu seperti itu. Emang, sih, gue jarang telat karena mempersiapkan diri untuk datang lebih awal dan menghargai waktu. Namun, kalau salah jalan mulu begitu, apakah wajar? Selagi memikirkan kenapa gue sering banget tersesat, gue mendadak kepikiran juga akan jalan hidup yang gue pilih ini.

Apa jalan hidup yang gue lakukan ini sudah berada di jalur yang tepat? Gue sekarang nggak salah jalan? Atau gue sudah tahu tujuan itu, tapi sekarang entah kenapa malah jadi tersesat? Gue masih benar-benar bingung. Kalaupun gue memang lagi tersesat dalam hidup ini, semoga bisa segera kembali ke jalan yang benar itu. Aamiin.

*

Sudah seminggu lewat tidak ada panggilan dari kantor itu. Ya, mungkin HRD itu hanya basa-basi saja. Lebih tepatnya memang belum rezeki gue. Lagian, gue ngerasa nggak sreg juga kalau kerja yang jaraknya terlalu jauh. Gue paling males tua di jalan. Gue pun jadi inget sama kutipan di salah satu cerpen Seno Gumira Ajidarma:

Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.

Intinya, sih, gue nggak akan menyerah dengan gagalnya melamar kerja. Gue akan lebih maksimal lagi berusaha, dan berharap setelah ini segera menemukan pekerjaan yang cocok dan lokasinya cukup dekat dari rumah. Semoga tidak gampang tersesat lagi. Dan, yang terpenting gue bisa selalu berada di jalan yang benar. Jalan yang diridai Allah. Allahu Akbar!

--

Sumber gambar: Pixabay
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

52 comments

  1. Ternyata g cuma saya yg lemah perihal kemampuan mengingat jalan
    Cuma ngandelin GPS itu juga kalo sinyalnya g ilang
    Kalo sinyalnya ilang y berhentiin motor
    Kayak barusan masuk perumahan citra garden, jalan pulang sama masuk beda
    Untungnya j g berapa lama Nemu jalan raya
    Akhirnya bisa pulang
    Coba bayangin kalo Niki g pulang ke rumah
    Apa kata dunia

    .
    Wah ternyata g cuma saya yg bahasa Inggrisnya lemah
    Kalo Nemu soal MTK pake bahasa Inggris
    waduh
    Kudu nanya dlu sama kamus berjalan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kata Dunia, "Baguslah manusia nyebelin ini lenyap." Wakakaka. :p

      Huhuhu. Ternyata suka nyasar dan lemah bahasa Inggris ada temennya. Ayo, cari orang lain yang sejenis, Nik. :(

      Delete
  2. Blogger yang namanya Yoga lagi sibuk tes kerja.

    Eh kok saya baca cerita kamu ikut sedih ya? Semangat, Yog.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak usah ikutan sedih, Ris. Kesedihanmu nanti bertambah banyak. Wqwq.

      Thanks!

      Delete
  3. Walah, GPS buat nemuin jalan yang diridoi Allah wkwkwk saya juga mau.

    Tua di jalan, saya juga pernah ngalamin dan cuma bertahan 6 bulan, karna pas kerja jadi agak capek dan siangnya bawaannya ngantuk sehabis makan, faktor berangkat pagi banget pulang malem banget.

    Btw, bang yoga tersesat mulu? Apa punya hubungan darah sama Zoro? Ehm... Tetap Semangat, Bang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Tau, kan, GPS untuk menemukan jalan itu? :p Berangkat nggak ketemu matahari, pulang juga demikian. :(

      ((hubungan darah)) padahal Zoro punya haki, ya? Kok masih tersesat gitu. :')

      Delete
  4. Lama enggak blogging dan postingan yang pertama aku baca adalah milik Yoga, di blog Yoga, dan lumayan nyesek. Pas lagi ngeplay lagu Iwan Fals yang Sarjana Muda. Seketika merasa nelangsa, Yog :')

    Meskipun begitu, aku setuju sama quote terakhirnya. Sangat disayangkan kalau menikmati hidup dengan kerja ikut kantor orang, acet dan tua di jalan, sedangkan hasil yang didapatkan belum tentu memuaskan. Semoga lekas dapet kerjaan, Yog. Jangan nyerah walaupun karena GPS dan janji manis HRD doang.

    Juga, semoga ada jalan pekerjaan yang tepat dan setimpal kualitasnya untuk penulis freelance berkualitas seperti kamu. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, merasa terharu gini blog gue dikunjungi sama orang yang habis vakum ngeblog. :')

      Aamiin ya, Rabb. Makasih ya, May!

      Delete
    2. ini berusaha supaya tidak vakum lagi, kangen kaliaaan. kangen mesum mesumnya. wkwkwk.

      Delete
  5. Lagi sibuk tes kerja rupanya. Semoga Cepat dapat kerjaan yang gajinya dan kerjanya sesuai dan juga deket rumah, aamiin ya Robb!!

    Aku juga gitu susah inget jalan. Butuh 2 Sampai 3 kali lewat situ baru ingat. Tapi kalo jalan balik banyakan inget kok.

    Tua dijalan?? Itu seakan nyindir aku banget huhuu.. tapi aku kadang di jalan sambil ngedraft di blog atau sekedar BW. Sedikit bermanfaat lah ya.. ehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Matursuwun, Rum. :D

      Hahaha. Kudu dilakukan berulang paling nggak seminggu kalau gue malah. Tiga hari kadang suka masih lupa.

      Iya, di jalan bisa juga sambil baca buku, kok. ((asal jadi penumpang dan nggak nyetir atau mengendarai)). :D

      Delete
  6. Akhirnya sempet berkunjung ke sini. Ceritanya menarik dan santai. Lebih mirip ke daily story sih ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks sudah berkunjung~ Iya, emang curhatan model tulisannya. :)

      Delete
  7. Yoga yang lahir, dan gede di sana aja bingung. Apalagi gue. Yang namanya tersesat di Jakarta udah bukan hal baru lagi. Tapi pasti kesel sih pas nyasar waktu lagi ada perlu gitu. Pasti dada rasanya panas kan yog?

    Harusnya lo jangan pake Google Translate, pake transtool aja harusnya yog. biar mantab. Semangat lahhh. Yosh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeh, yang tinggal di Jakarta juga kayaknya belum menjelajahi tiap daerahnya. Panas gimana, San? Dongkol gitu? :|

      Wanjir transtool. Wqwq.

      Delete
  8. Sama aja mah yog sama gue. Lemah kalo urusan menghapal jalan.
    Ini interview nya di Serpongg?? Anjirrrr jauhnyaaaaa. Palmerah - Serpong mah sama dengan pantat panas. Gue mah mending naik kereta deh. Gak kuat naik motor jauh-jauh.

    Lagi nyari-nyari kerja toh, Yog. Semangattttt...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha bukan pantat panas lagi, gue berasa nggak punya pantat pas sampai rumah. :| Masalahnya jauh dari stasiun juga, Cup. :(

      Iya, ngerasa capek kalau freelance terus. Makasih~ :)

      Delete
  9. Pas bagian ngga nemu-nemu alamat kantor yang ruko no 3, tak kira bakalan jadi perusahaan yang macam penge-lem-an teh itu. Wkwk. Gaji gede, e pas disamperin ke alamat yang ada, kok katanya pada ngga nemu kantornya.

    Bingung emang kalau belom punya penghasilan tetap lagi ya? Niatnya mau maen kesana-kesini, etapi duit tinggal cukup buat makan sama beli kuota doang *miris*. Aku habis resign juga kemaren-kemaren cuma ngandelin uang tabungan yang semakin menipis & nyoba ikutan lomba blog (yang banyak kalahnya) itu. Nyoba daftar CPNS yang kemenkumham aja bang, biar aku ada temen misal besok kepanggil tes di Jekardaa. Haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengeleman teh itu apaan, Wis? Nggak tau malah. Taunya yang perusahaan fiktif, nanti minta uang di awal katanya buat biaya seminar dan tes kesehatan. :D

      Iya, bingung. Penghasilan freelancer, kan, begitu. Apalagi aku anaknya kalau baru gajian, suka khilaf. :(
      Mungkin caranya untuk ikutan banyak lomba itu bisa kucontoh. Aku kurang percaya diri anaknya. Oh, yang itu? Tau kok tau infonya. Tapi suka bertanya sama diri sendiri, "Tujuanku jadi PNS apakah betul-betul ingin mengabdi ke masyarakat?"

      Hmm.

      Delete
  10. Lika-liku cari kerja kayak gini yah. Hmm, semangat aja deh bang Yog. Kutipannya sangat nyantol, suka..

    Gue juga masih berpikir mau lanjut kemana, intinya, gue masih butuh bertanya untuk tahu arah tujuan hidup gue. Mangats~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, salah satunya begini. Ada lagi yang ditipu perusahaan palsu. :)

      Tidak semua kutipan perlu diikuti, kok. Hahaha. Itu karena ngerasa relevan aja sama pengalamanku yang habis tes kerja jarak kantornya jauh. Sekalian buat nyenengin diri. :p

      Thanks, ya. Semangat juga menggapai mimpimu, Rahul~

      Delete
  11. bener sih yog, artikelnya di blog rasanya kayak cerpen :D tapi tetap semangat buat melamar kerjanya ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin pengaruh bacaan belakangan ini. Emang lagi seringnya baca cerpen. :)

      Delete
  12. semangat mas! ini bahasa indonesianya udah sangat baik kok di blognya. mudah dimengerti dan detail. Itu tujuannya bahasa kan? hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin belum SEO tulisanku pas di tes itu. Iya, tujuannya pesan itu dapat tersampaikan. :)

      Delete
  13. berat jeng
    tapi tetep semangat kan mas ?
    btw tulisan gaya cerpen itu lebih asyik sih daripada gaya disertasi (apaan coba?)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah semangat aja tetep gagal, apalagi nggak semangat, Mas? Hahaha. Jadi, semangat terus ajalah. Mungkin belum rezeki. :)

      Wanjer, disertasi mah berat euy!

      Delete
  14. Ini yang pernah kamu ceritakan di grup beberapa waktu lalu kan, Yogs. Dijadikan tulisan juga. Yuhuuuuu.

    Baca ini udah lama dari kapan gitu, terus bingung mau komen apa. Dada rasanya nyesek bacanya, Yogs. Sekaligus terharu. Ini tulisan yang memotivasi. Kamu tegar banget. Tetap semangat ya cari kerjanya! Nggak papa suka tersesat di jalan, yang penting kamu nggak menyesatkan teman-temanmu ke hal-hal yang buruk~ Mhuehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehe. Udah lama nggak curhat juga soalnya. Sekalinya cerita lagi jadi panjang gini. :(

      Nggak dikomentarin pun nggak apa sebetulnya, Cha. Atau komentarnya di grup juga boleh. :p Iya, kalau nyesatin orang itu jangan sampai deh. :|

      Delete
  15. Semangat mas Yoga. Saya menikmati alur tulisan mas Yoga dari awal hingga akhir. Mungkin yang itu memang belum rezeki. Semoga bisa segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan sangat cocok untuk mas Yoga. Aamiin ya Allah o:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woaaah, terhanyut dalam ceritaku? :p Aamiin ya, Allah. Makasih ya, Mas Bayu. :D

      Delete
    2. Iya bisa dibilang begitu hehe :D
      Terima kasih kembali

      Delete
  16. Kupernah kejadian juga ttg begini, kemaren pas baca pertama kali jadi keinget ama wawancara yg mana menuju kantornya muter2 dulu. Kirain kantornya kayak ruko gitu, eh pas dapet alamatnya malah rumah tinggal biasa. nggak ada plangnya lagi. xD untung ketemu karyawannya yg lagi berbenah di luar rumahnya dan kutanyain. tapi yaitu, jauuuuuuuhhhh... emang bukan nasibnya kerja di sana.

    kalo di jobstreet juga ada pembelokan sih (gak penipuan), misal ditulisnya mencari pekerja jurusan ini dan itu, pas sampe sana ternyata dijadiin sales. banyak yg ngalami begitu. terakhir saya pas dapat panggilan wawancara dari honda bagian arsitektur, kupikir buat ngelayout ruang pamerannya, eh, sama aja diminta jadi sales.

    masalah nyasarmu itu mah gaperlu dipikirin lah. namanya juga ke tempat baru. selalu semangat, Yog... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rumah yang dijadiin kantor udah mulai banyak, ya? Kadang kalau kejauhan lokasinya malah bersyukur. Aneh. Hahaha.

      Oh, jadi lowongan kerjanya beda? Lah, baru tahu di JobStreet ada yang kayak gitu. Pernah juga waktu itu, tapi bukan dari situs ngelamar kerja. Info dari temen. Gue ngelamar admin, pas datang wawancara disuruh jadi broker emas batangan gitu, yang sekali investasi kudu cari orang yang mau inves sebesar 50 juta. :|

      Iya, tapi yang akhirnya direnungi lebih ke tersesat dalam pilihan hidup. XD

      Delete
  17. semangat mas,, mungkin belum rejekinya disana.
    Sebarin terus Cv ke lowongan lagi mas...
    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Anggun. Mbaknya semangat juga~

      Delete
  18. Semoga cepet dapet yang emang rejekinya yog! \(w)/

    ReplyDelete
  19. Lah bukannya cowok itu jago ngingat jalan yah?

    Gw mah kalo udah sekali lewat pasti apal jalan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kata siapa? Temenku ada juga yang suka nyasar. Pas boncengan sama temen yang itu jadinya suram. Sama-sama suka nyasar.

      Delete
  20. Nyasar itu emang nyebelin, bisa bikin panik juga.
    Masalahnya semakin panik bisa makin nyasar pula.
    Tapi tetap semangat mas, semoga gpsnya selalu menunjukkan arah jalan yang benar, jalan yang diridhoi. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, jadi kalau nyasar lebih santai aja gitu? Nggak usah panik. Ehe.

      Aamiin. GPS-nya harus dilabeli halal sama MUI nggak nih?

      Delete
  21. Aku pernah ngejawab soal bahasa inggris pake bahasa indonesia, terus jelas2 lah aku gak diterima wkkk. Dan sama banget, lokasinya jauh dr rumahku. Ya gak sampe 90 menit dan nyasar sih, tapi untuk ukuran bandung, perjalanan 60 menit aja udah jauh banget hahaha.

    Yoga tetep semangat ya, semoga Allah membukakan jalannya buat kamu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Bandung 60 menit aja udah termasuk jauh, ya. Wqwq. Ya, sebetulnya di sini juga jauh, sih. Cuma misalnya diterima kerja yang jaraknya segitu masih maulah. Kalau lebih dari itu baru pikir-pikir. Ehe. :D

      Aamiin. Makasih, Sya~ Sukses juga buatmu. o:)

      Delete
  22. Yaampun yog eyke aja yg warga tangerang klo disuruh ucul di serpong uda kayak ulet ga tau lor kidul jln hahaaaaaaaaa
    Tapi ya bgitu deh lika liku dunia perlamaran kerja, patah satu tumbuh seribu yog,
    Itu perusahaan berbasis apa emang kok ada job pnulis konten? Media ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, yang orang Tangerang aja nggak tahu gini. Wahaha.

      Berbasis teknologi gitu, sih. Cuma mungkin mengikuti perkembangan zaman, jadi tetep butuh penulis kontennya buat web mereka. :D

      Delete
  23. Sekarang gue lagi magang di Serpong. Senin-Jum'at pulang pergi Bekasi-Serpong. Capek bgt emang. Parah. Jadi begitu di rumah tuh udah bawaannya mau tidur aja. Malah di kantor setres mulu sama pekerjaannya. Kaga enjoy bet idup. Haha.

    Yoga butuh petanya Dora nih kayanya biar nggak tersesat mulu.

    Yog, semangat ya! Insya Allah bakal dikasih yg terbaik sama Allah. Semangat semangat semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus pernah kecapekan di jalan, eh di transportasi umumnya ketiduran?
      Tapi ketiduran itu nikmat, sih. Bersyukur karena banyak orang susah tidur. :p

      Petanya Dora udah dicuri Sweeper. :(

      Aamiin. Nuhun, ya. Semangat juga magangnya, Bil!

      Delete
  24. Nyari kerja nich ye..
    Sama banget nih. Apalagi alau baru lulus gini pengennya cepet dapet kerja. Tapi ya gitu penyakitnya fresh graduate mah belum ada pengalaman.

    Kalau GPS beneran bisa nunjukin jalan ug diridhai allah saya juga mau dong. Masih ngerasa nyasar, nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum ada pengalaman, tapi songong pengin kerja yang langsung enak dan gaji tinggi. Iya gak, sih? Hahaha. :)

      Gue juga belum menemukan jalan yang lurus. Mau-mau aja!

      Delete
  25. SemangaaaT Yog :D. Berarti memang bukan di sana rezekinya.. Akupun dulu, pontang panting ngelamar kesana sini. Sempet down, tp alhamdulillah akhirnya dapet, setelah keseringan tes dan interview :D. Banyakin sedekah ama doa juga yog :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semakin banyak gagal, semakin mendekati keberhasilan ya, Mbak? :p

      Iya nih sedang diusahakan untuk lebih banyak sedekah. Haha. Lagi berusaha memperbaiki diri juga. XD

      Delete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.