Setelah menyebar beberapa surat lamaran lewat surel (surat elektronik), baik yang gue dapatkan dari teman maupun JobStreet. Akhirnya, ada satu panggilan wawancara kerja. Namun, lokasinya di Gading Serpong, Tangerang, yang mana cukup jauh dari rumah. 

Kenapa gue ngelamar kerja jauh-jauh banget, ya? Gue pun berusaha mengingat-ingat tentang PT yang menghubungi gue itu, tapi tetep lupa. Entah karena saking banyaknya ngirim lamaran, apa emang gue yang udah mulai frustrasi dan jadi gampang lupa.

Setelah berselancar di internet, gue pun menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Perusahaan yang gue lamar ini, ternyata punya lebih dari satu cabang. Yang gue lamar itu alamat lainnya berada di daerah Kebon Jeruk. Oke, berarti yang di Gading Serpong itu hanya tempat wawancaranya.

Pukul 07.00 gue mulai berangkat dari rumah menuju kantor itu. Interviu yang tertera di surel sebetulnya dimulai pukul 09.00. Kalau yang gue lihat di GPS, perjalanannya sekitar 75-90 menit. Namun, gue sengaja berangkat lebih awal sebab memperkirakan macet dan beberapa hal buruk lainnya. Misalnya ban motor bocor, tersesat, atau terjadi Perang Dunia Ketiga.



Benar saja dugaan gue akan hal itu. Begitu sudah masuk area Serpong, gue nyasar seperti biasanya. Gue mengendarai motor mengikuti petunjuk di papan jalan ke arah Serpong, yang ternyata beda arahnya dengan Gading Serpong—tempat yang gue tuju. Gue mungkin kehilangan fokus saat terjebak macet di Ciledug, suatu daerah sebelum menuju arah Serpong. Mau nggak mau, gue mulai menepi dan mengecek GPS untuk kembali ke jalan yang benar. Jalan yang diridai Allah. Allahu Akbar!

Sesampainya di kawasan yang tertera di GPS, gue mulai bingung lagi. Sebelumnya, kantor yang gue tuju itu alamatnya nggak tercantum di GPS. Jadi, gue memasukkan nama jalan lain yang dekat dengan tempat itu. Nah, berarti perjalanan gue setelah ini nggak bisa lagi memanfaatkan teknologi. Gue harus nanya sama orang.

Demi berjaga-jaga salah bertanya, maka orang yang gue tanya adalah satpam. Sayangnya, ia mengatakan kalau tidak tahu percis alamatnya. Ia malah bilang lokasi yang gue cari itu mungkin dekat dengan ruko-ruko sambil menunjukkan jalannya. Gue pun mengucapkan “terima kasih”, dan melanjutkan pencarian lokasinya ke tempat yang satpam itu maksud.

Setelah 15 menit berselang, gue sudah memasuki area yang banyak rukonya. Lalu gue bertanya ke pejalan kaki yang lewat, seorang pria berkumis yang kira-kira usianya menginjak empat puluhan akhir. Bapak itu kemudian memberi tahu gue kalau nama jalan yang gue tanyakan itu udah benar dan mungkin kantor yang gue cari itu ada di depan. Cuma, Bapak itu memberi tahu gue kalau ruko-ruko yang ada di sini masih baru, sepertinya masih kosong dan belum ada kantor yang beroperasi.

Gue mulai cemas dan membatin, ini yang gue tuju jangan-jangan perusahaan fiktif?
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home