Tidak Seram

24 comments
Membaca cerita seram (kalau di Twitter sering disebut memetwit) 2 hari belakangan ini entah kenapa lumayan membuat gue bergidik. Anehnya, ketika gue takut dan punggung mulai panas, apalagi badan ikutan terasa pegal-pegal, itu justru semakin membuat gue penasaran. Gue seolah ketagihan membacanya.



Lalu saat gue merasa udah terlalu banyak energi negatif dan berusaha membuang pikiran-pikiran mistis itu, tiba-tiba gue malah mengingat kejadian hari Rabu atau Kamis (maaf gue lupa percisnya) kemarin. Pada hari itu, Nyokap sedang mencuci pakaian dari sehabis asar, dan sampai azan Magrib ternyata belum kelar. Namun, Nyokap tetap melanjutkan aktivitasnya, sedangkan gue berangkat ke masjid.

Sehabis Magriban, gue kayak biasa kembali ke kamar dan bermain ponsel sambil menyender tembok. Karena gue tidak menutup rapat pintu kamar, ruangan sebelah—kamar orang tua—ada sebuah celah. Dan, seketika itu gue melihat ada putih-putih atau mukena yang bergerak. Karena kondisinya kami di rumah berdua doang. Sore itu Bokap masih di kantor dan adek gue keluyuran. Maka gue berpikiran kalau itu Nyokap lagi jeda mencuci, untuk salat terlebih dahulu.

Ya, capek juga kali nyuci sekitar 2 jam lebih (tolong, jangan dikatain anak durhaka karena nggak bantuin). Gue pun tidak berpikiran yang aneh-aneh, lalu kembali fokus mainan ponsel untuk memperhatikan timeline Twitter. Sekitar 5-10 menit kemudian, Nyokap masuk kamar gue. Beliau pun menggelar sajadah dan bermaksud ingin salat.

Melihat hal itu, ya gue kaget bangetlah dan langsung bertanya, “Lah, ngapain salat lagi, Bu?”

Nyokap menoleh ke gue dan merespons, “Kapan Ibu salat?”

“Tadi di kamar sebelah,” jawab gue disertai kebingungan.

Kemudian Nyokap menjelaskan kalau dirinya baru kelar mencuci dan dari tadi tidak beranjak ke mana pun. Gue tetap ngotot di kamar sebelah ada yang salat. Lalu Nyokap menghindari debat itu. Beliau pun memilih salat dulu.

Begitu kelar salat, kami pun melanjutkan kembali obrolan yang tertunda itu. Gue masih ngeyel kalau tadi melihat ada yang salat di kamar sebelah. Meskipun cuma sekilas dan tidak benar-benar melihat jelas. Hingga akhirnya Nyokap menjelaskan, “Oh, itu paling penunggu rumah kita. Kakek berjubah putih.”

Terus gue nggak tau mau bilang apalagi selain mengeluarkan kata "Oh". Begitu Nyokap keluar dari kamar gue, gue sendiri tidak merasa ketakutan atau berpikiran buruk. Keadaan tetap seperti biasanya dan kayak nggak terjadi apa-apa. Habisan kami sekeluarga udah terbiasa lihat sekilas-sekilas dan "dia" pun nggak mengganggu.

*

Sebenarnya, kejadian mistis di rumah seperti tadi itu sudah terjadi sejak gue SD kelas 2 atau 3. Kala itu, gue juga melihat sekilas putih-putih. Awalnya, gue lagi jagain sambil ngajak main Sadam—adik gue, yang saat itu umurnya baru sekitar 2-3 tahunan—di kamar (yang sekarang jadi kamar gue, dulunya adalah kamar orang tua) karena Nyokap yang mau mandi sore dan salat Magrib.

Saat sedang asyik mengajak dia bercanda, tiba-tiba Sadam menangis kencang. Gue nggak tau apa yang salah dengan bercandaan gue saat itu. Gue pun bertanya, “Heh, kenapa kok nangis?”

Dia tidak menjawab dan tangisannya pun semakin keras. Saat gue sekilas mengalihkan pandangan, gue melihat Nyokap lagi berdiri salat Magrib di sebelah kasur di pojokan kamar. Namun, karena terdengar suara gebyuran air, berarti Nyokap masih berada di kamar mandi. Setelah gue lihat lagi, rupanya itu memang bukan Nyokap. Karena beberapa hari sebelumnya saat hal itu terjadi, Sadam sehabis melihat hantu bungkus—atau yang lebih dikenal pocong—di sebelah rumah. Oleh sebab itu gue berasumsi kalau putih-putih tadi adalah makluk yang sama. Gue pun hanya bisa menutupi muka dengan bantal karena nggak bisa teriak ataupun menangis.

Sejujurnya, gue lupa bagaimana wajah yang terlihat kala itu. Apakah yang membuat gue bergeming saat masih bocah itu adalah wajah yang seram atau memang refleks takut karena melihat sosok yang tidak biasa? Gue tidak mau memaksakan ingatan atau mengimajinasikannya seperti yang ada di film-film hantu. Gue justru ingin melupakan wujud itu.



Gue percaya “mereka” ada, sebab itu tertulis di Alquran. Namun, gue tetap tidak ingin melihat hal-hal tersebut. Tidak ingin mengganggu “mereka”, dan berharap mereka juga tidak mengganggu gue. Ngomong-ngomong, ini yang gue maksud jin-jin yang menyerupai wujud seram begitu, yak. Bukan setan yang memang ditugaskan untuk menggoda manusia.

Sehabis kejadian itu, seingat gue nggak ada lagi kejadian-kejadian yang aneh selama SD. Sampai pas kelas 3 SMP (sekitar tahun 2008 atau 2009 gitu gue lupa tepatnya), hal aneh ini pun terjadi kembali di rumah. Sedihnya, yang pertama kali merasakannya adalah gue. Ketika itu, sekitar pukul 10 malam, gue sedang berusaha untuk tidur. Lalu saat gue baru merem sebentar, mendadak merasakan kasur yang goyang-goyang. Gue yang sedang tidur sendirian itu pun terbangun dan panik. Gue beranjak dari kasur dan segera lari ke ruangan depan, dan tentunya sambil berteriak, “GEMPA-GEMPA!”

Nenek yang sudah tertidur di kamar sebelah (yang sekarang jadi kamar orang tua), langsung memarahi gue karena mengagetkannya dan membuatnya terbangun. O iya, sebelumnya pas gue SMP di rumah kami memang tinggal bersama Nenek (adik ipar dari kakek—ayah Bokap gue). Beliau meninggal pas bulan Januari tahun 2012.

Nyokap dan adik gue sudah tertidur di ruangan depan, Bokap masih menonton TV. Gue lupa itu acara apa, entah bioskop Trans TV atau mungkin Komedi Ayam Jago. Sebelumnya, rumah kami memang terbagi menjadi 2 bagian dan juga 2 pintu. Berikut denah rumah gue biar nggak bingung:





Ketika berteriak seperti itu, bagusnya Nyokap dan Sadam yang tadi tidur di depan nggak kebangun. Bokap pun memarahi gue yang bikin beliau kaget. Ternyata, malam itu memang tidak terjadi gempa. Bokap mengatakan gue habis mimpi buruk. Padahal goncangan di kasur itu terasa begitu jelas.

Setelah itu, gue kembali ke kamar dan tidur. Dan, goyangan itu terulang kembali. Gue udah berpikir bahwa ada yang nggak beres. Namun, karena rasa ngantuk lebih kuat dari rasa takut, maka nyenyaklah gue malam itu. Besok malamnya, barulah gue memilih tidur di depan. Nggak mau lagi tidur di kamar itu. Jadilah Bokap, Nyokap, atau adik gue yang menempati kamar itu secara bergantian. Baik sendiri, berdua, maupun bertiga.

Saat 1-2 hari setelah kejadian kasur goyang itu memang tidak terjadi apa-apa. Tapi setelah 3-4 hari, barulah gantian orang tua gue yang mengalami kejadian seperti yang gue ceritakan. Awalnya Nyokap bilang ke gue kalau beliau pas tidur juga seperti ada yang menggoyang-goyangkan kasur. Sadam pun demikian. Akhirnya, Nyokap dan Sadam jadi ikut-ikutan takut kayak gue dan males tidur di kamar.

Berarti cuma Bokap yang masih tetap tidak percaya keganjilan itu, sebab beliau belum mengalaminya sendiri. Lalu, minggu depannya barulah Bokap merasa kalau kasur itu suka digoyang-goyangin pas beliau tidur. Kami sekeluarga akhirnya sadar kalau di kamar itu ada makhluk yang suka iseng.

Sejak kejadian itu, kami sekeluarga cukup ngeri untuk menempati kamar. Namun, pas Nyokap cerita entah ke tetangga atau siapa gitu, ada yang bilang kalau kamar dikosongin nantinya semakin seram. Ya, betul juga, sih. “Mereka” akan semakin suka menempati ruangan yang kosong. Maka, jadilah kami berganti-gantian menempati kamar itu. Tentu saja kasur masih suka goyang-goyang sendiri ketika kami sedang tidur-tiduran atau ingin memejam mata. Namun karena itu sudah keseringan, lama-kelamaan kami cuek dan menganggapnya hal yang biasa. Dan, goncangan itu pun menghilang begitu saja.

Keanehan itu nggak pernah muncul lagi. Hingga ketika gue SMK kelas 2, gue waktu itu ketiduran dari habis Magrib karena kecapekan PKL (Praktik Kerja Lapangan). Kira-kira gue kebangun sekitar pukul 1 atau 2 dini hari. Kala itu, gue melihat ada yang masuk ke kamar. Gue yang setengah sadar mengira itu Bokap ingin salat Tahajud. Entah kenapa, gue pun ketiduran lagi. Pas keesokan paginya, barulah gue bertanya ke Bokap, sayangnya beliau menjawab kalau semalam tidur pulas dan nggak salat. Dan gue pun kembali malas untuk tidur di kamar lagi.

Beberapa minggu atau bulan setelah itu, Bokap gantian bertanya ke gue, “Semalem kamu bangunin Ayah ya, Yog?”

Gue pun gantian menjawab kalau gue sudah tertidur pulas dan nggak sama sekali terjaga. Bokap pun merasa kalau dirinya dibangunin seorang laki-laki. Tapi karena beliau juga setengah sadar, ya dia mengira itu gue. Entah sudah malas berpikiran yang negatif atau gimana, Bokap kemudian bilang ke gue kalau dirinya mungkin semalam sengaja dibangunin, sebab beliau memang belum salat Isya. Mungkin sosok itu bermaksud mengingatkan hal yang baik. Terus gue jadi bingung, dulu yang suka iseng membuat kasur tergoncang sendiri itu makhluk yang sama atau berbeda? Ah, entahlah.

*

Setelah Nenek meninggal pada awal tahun 2012, kamar orang tua terus pindah ke kamar sebelah yang tadinya ditempati Nenek. Gue juga ikut pindah menempati kamar orang tua yang kosong itu bersama Sadam. Sekitar setahun kemudian, Nyokap lahiran, tapi adik gue meninggal saat itu. Setelah itu, nggak tau kenapa Sadam memilih tidur di depan. Mungkin setelah ada 2 keluarga di rumah yang meninggal, rumah seperti ada hawa seramnya. Gue pun jadi menempati kamar itu sendirian.

Sampai sekarang, nggak pernah ada hal-hal yang aneh dan mengganggu lagi di rumah. Ya, palingan seperti cerita di paragraf pembuka tadi. Ketika gue mengira Nyokap salat di ruangan sebelah, terus gue cuma merespons kejadian itu dengan “Oh”. Sebab rasanya sudah terbiasa melihat bayangan putih sekilas. Ketika mau keluar dari kamar saat pintu dalam keadaan terbuka, kadang juga ada angin yang menggeser pintu kamar dan membuatnya sedikit tertutup. Atau terkadang bayangan putih itu lewat dari arah dapur menuju ruangan kosong semacam gudang.

Awalnya mah gue lumayan takut, bahkan sempet berpikiran untuk tidak tidur di kamar lagi kayak zaman SMP yang kasur goyang itu. Tapi, lama-kelamaan gue tersadar dan mulai membiasakan hal itu. Sebab kita di dunia ini, kan, nggak cuma manusia; ada juga hewan, tumbuhan, dan makhluk lainnya seperti yang gue ceritakan barusan—makhluk gaib. Semoga para makhluk yang hidup di dunia ini bisa sama-sama saling menghargai. Gue mulai menghargai keberadaan mereka yang tidak terlihat ini. Setidaknya kita berusaha untuk nggak mengganggu mereka, sehingga mereka juga tidak menggangu kita.

Gue sebetulnya masih pengin bercerita hal-hal mistis yang pernah terjadi dalam hidup gue, apalagi saat depresi waktu itu. Tapi kayaknya ini udah kepanjangan. Sebelumnya maaf kalau tidak seram. Ini sebetulnya memang bukan cerita seram, gue seperti biasa hanya ingin bercerita. Terus gue juga bingung ingin menutup tulisan ini seperti apa. Sampai akhirnya gue ingat beberapa kalimat dari sekian banyak memetwit yang pernah gue baca:

Karena kita terlalu sibuk mengurusi yang "tampak", mereka yang “tak tampak” ini kayak tersisih begitu saja. Padahal hantu, seperti makhluk hidup lainnya, juga punya habitat. Di pohon, hutan, sungai, laut, gunung, dan lain-lain. Sayangnya, manusia sering merusak semua tempat itu. Jangankan “mereka” yang tidak terlihat, coba bagaimana nasib para hewan dan tumbuhan ketika habitatnya itu rusak? Mereka pasti protes dan marah. Jadi, kalau kita saja tidak bisa menghargai mereka yang tampak, bagaimana kita bisa menghargai mereka yang tidak tampak?*

--

*)Paragraf itu adalah beberapa twit milik Mas Gelar Prakosa yang gue edit sesuai kebutuhan.

Sumber gambar: Pixabay (yang kemudian ditambah teks Tidak Seram oleh gue).
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

24 comments

  1. jadi aku masih penasaran sebenarnya kasurnya yang berhantu atau kamarnya? atau mungkin memang kamarnya dan hantunya itu merasuki kasur, atau itu adalah hantu yang kehilangan anaknya dan kasur itu adalah kasur yang dulu di tempati anaknya, dan ia ingin menidurkan anaknya dengan menggoyang-goyangkan kasur itu, jadi setiap kali ada orang di sana sang hantu mengira itu adalah anaknya.
    emang agak enggak serem bacanya, mungkin itu karena kamu nulisnya kayak nyeritain pengalaman, mungkin kalau dibikin cerita model cerita pendek... ya seperti dengan deskripsi dan lain-lain gitu jadi serem nantinya.
    tapi masa ini beneran sih rumah ada hantunya, aku sekali ngelihat hantu, dalam wujud api terbang mengambang dan... tamat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya setiap tempat ya pasti ada makhluk seperti itu, Man. :) Hahaha, tebakanmu itu lama-lama absurd sekali, ya. :D

      Masalahnya, saya nggak pengin pas baca ulang terus ketakutan, Man. Wqwq. Jadi nggak mau deskripsiin sekaligus membayangkan yang aneh-aneh. :|

      Itu gimana dah? Malah belum pernah lihat yang sejelas itu. Dan semoga jangan. :)

      Delete
  2. Pesannya ngena banget ya. Jadi pesan itu lebih ke gimana menjaga lingkungan. Nggak cuma ngasih pesan untuk nggak mengusik "mereka".

    Yang rame-rame kemarin itu di grup WhatsApp dan Twitter, gue nggak ngikutin. Bukannya takut, melainkan ragu. Ya, namanya juga nggak pernah ngalamin, pasti banyak keraguannya. Hehehe. Tapi kalau udah dijelasin di Alquran mereka itu ada, ya gue percaya. Kalau boleh mah, jangan dikasih liat sekalian deh. Takut kepikiran terus dan nggak fokus ngerjain apa-apa. Takutnya diisengin melulu. Misalnya, udah ngetik dapat 5.000 kata tiba-tiba di-close dan nggak ke-save. Ini ngetik komen panjang-panjang juga nanti pas di-publish koneksi internetnya dimatiin. Kan serem. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa sih pesannya begitu, Rob? :|

      Yang gue heran itu banyak cerita yang ngaruh ke teknologi juga, ya. Ya, kayak misal lampu tiba-tiba mati, laptop juga, atau hape tau-tau gambarnya pada kehapus atau nggak bisa kebuka. Gitulah. Serem, iyak. Makanya ini dibuat tulisan yang tidak seram.

      Delete
  3. alkhamdulillah sampai saat ini belum pernah yang namanya dikasih liat hal-hal macam ini *dan semoga jangan, takut ngga berani ke kamar mandi sendiri ntar wkwk

    ini rumah kuno kah? kok horor ya ada kakek berjubah putihnya segala. mungkin bisa bang dibacain al-qur'an buat ngusir (yaelah ngusir juga bahasanya, kasar bet) kakek penunggu. ngga ngusir juga ding, biar ngga ganggu aja maksudnya. misal buat penghuni aslinya mungkin udah biasa ya. takutnya ada tamu yang nginep, terus baru liat pertama kali, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakakak. Emang kenapa kamar mandimu, Wis?

      Nggak kuno, kok. Kayak biasa rumah-rumah di Jakarta aja. Hehehe, dia kan emang yang jaga rumah sepertinya. Kenapa harus diusir? Nggak ganggu juga kok sebenarnya. Mungkin yang soal ganggu itu beda lagi. Entahlah. :)

      Beberapa tamu yang nginep nggak pernah diisengin, sih. Nggak pernah ngeluh macam-macam juga.

      Delete
  4. Dibilang serem, toh kata mas Yoga gak serem..hehe
    Aku pribadi alhamdulilah belum pernah lihat yang semacam itu, kalau ngerasain di kamar pernah, tapi tak lihat..

    Mas itu denah rumah ko kamar mas aja yang ada pintunya..hehe

    Ternyata sering juga lihat hal yang semacam gitu ya, Mas. Jadi sampe sekarang sudah agak biasa gak kaget gtu ya, Mas..

    Semoga bisa saling menghargani ya, Mas. Dan asalkan gak mengganggu aku rasa gpp ya ..

    Mas pernah gak sih kalau orang baru masuk ke rumah itu suka mengalami hal yang sama?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, tergantung penilaian pembaca saja. Hahaha. :D
      Pintu buat keluar rumah aja, sih, itu maksudku. Kalau ke ruangan sebelah nggak perlu digambarin. Lagian entah itu gambah denah apa. Jelek. XD

      Kalo ngerasain kan emang bisa tanpa melihat. Toh, itu saya juga cuma sekilas. Jangan sampai beneran lihat jelas.

      Kayaknya nggak pernah, sih. Mungkin karena emang niatku cuma main biasa dan nggak ada niat buruk, ya? :|

      Delete
  5. Kalau pocong itu disebut hantu bungkus.
    Kuntilanak apa ? hantu syariah

    Cerita tentang kasur yang goyang-goyang sendiri mungkin karena ada hantu bungkus yang ketindihan jadi goyang-goyang begitu hehe

    Alhamdulillah belum pernah lihat secara langsung tapi pernah ngobrol waktu ada teman yang kesurupan. Di daerah Kuningan, Jawa Barat sana kalau ada pengganggu di rumah biasanya dengan sengaja nyuruh penggaggu itu masuk ke seseorang terus di tanya-tanya kenapa gangguin rumah itu. Masih ada sekarang juga. Serem juga zaman sekarang masih ada yang kaya begituan apalagi kalau sampe di taksir sama hantunya tapi gapapa kalo hantunya lawan jenis. Kalau hantunya LGBT. Makin serem aja HAHA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah deh. Hahaha.

      Waduh, nggak mau menebak-nebak ah, Mas. :p

      Wih, serem juga ya sampai dirasuki begitu. Anjir, lawan jenis aja itu udah nggak normal karena beda dunia. Ini LGBT. Wqwq.

      Delete
  6. Makhluk tak tampak tapi kok isengnya luar biasa ya..

    Dari cara menampakkan wujud kayaknya beda beda makhluk yang goyang goyangin kasur sama yang penampakan orang shalat itu. Pernah denger kalo orangnya takut, maka makhluk gaib itu semakin dapet energi negatif dan membuatnya semakin kuat buat nampakin, gitu.

    Di asrama, kosan sampe di rumah juga banyak cerita horor tapi entah kenapa aku juga jarang merasa takut. Takutnya kalo abis nonton horor. Aku jarang di isengin yang sampai segitunya. Pernah di kosan kebuka pintu dan barang jatuh padahal gak ada angin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak tau juga gue, Rum. :|

      Dugaanku, sih, juga beda sepertinya. Entahlah~ Oh, gitu yak. Berarti kudu berani aja, ya? Ehehe. Dan berusaha untuk menghindari energi-energi negatif. :)

      Iya, biasanya cerita temen-temen juga kayak gitu aja. Belum sampai lihat langsung. :D

      Delete
  7. Wah saya juga pernah tuh tapi cuma denger suara hihihi, alhamdulillah kalo melihat atau digoyang-goyang belom pernah.

    Btw denah rumahnya hampir sama dan dulu ruangan paling horror tuh bagian kamar mandi, ya kata emak sih, makhluk berbungkus gitu dan akhirnya kami pindah rumah.

    Semoga kita semakin cinta dengan alam, untuk menjaga keseimbangan dunia. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya, Mas. Semoga enggak. :D Kenapa harus pindah, Mas? Nggak kuat?

      Aamiin ya, Rabb. o:)

      Delete
  8. ((kasur goyang)) kok agak nganu ya. :))

    Gue gak suka beginian. Penakut soalnya. Hahaha. Temen gue pas SMP dulu malah demen banget sebel abis. Jadinya ngikut ke gue. :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan mikir jorok, Di. Haha. XD

      Sebenarnya juga males baca yang nakut-nakutin gitu. Nonton apalagi. Ngaruh banget jaid sering mimpi buruk. Makanya cerita ini dibuat tidak seram deh. :|

      Delete
  9. Menurutku... Ini seram. Kata siapa tidak seram, ah. :( KIrain emg ga serem, udh baca ampe abis. Eh, serem. Seremnya pas bagian "Kamar yg kosong itu biasanya makin serem" soalnya kamar gue gak pernah gue tempatin. Gue tkut tdur sndiri, lebih tenang kalo tdur d kamar nenek. Klo sndiri suka kebayang yg enggak2, trs parno sndiri. Biarpun kmar gue gak gue tempatin (tidurin lah) tp gue usahain slalu sholat atau ngaji dstu, biar gak serem2 amat.
    Dan isengnya mereka tuh sbnernya cuma mau ksh tau kalau mreka itu ada kali ya?

    Emg stiap rmh org psti ada lah.. Tp caranya mghargai mreka itu gimana ya? Diajak ngobrol gtu? Aku tdak mngerti...
    Gue jd keinget cerita behind the scene nya danur deh, yg diceritain teh risa.. Ada di yutub lah pokoknya. Wkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, itu mah namanya masih diisi dan nggak bener-bener ditinggalin. Baguslah kalau begitu, Lu. :D

      Nggak harus ngajak ngobrol gitu juga, sih. Berusaha untuk tidak mengganggu aja. Misal kalau lagi ke tempat mana, nggak kencing sembarangan. Nggak merusak tempat itu. De el el. :|
      Belum nonton film itu gue. Wqwq.

      Delete
  10. kasurnya mungkin abis beli dari taman fantasi atau abis belajar dnagdut, jadi bisa goyang2.
    tapi serem banget itu njiiirrrr.. apaan lagi enak baring tiba2 kasur goyang begituuuu... aku kayaknya perlu waktu tiga part untuk bisa tidur di kasur itu lagi.

    aku juga pernah sih ngalamin hal hal mistis gitu, tapi gamau diinget lagi. tapi ada yg paling membekas, saat main petak umpet ama anak2 kampung, mainnya selepas magrib, karena mainnya sistem kelompok, jadi satu kelompok smebunyi, satu kelompok nyari, harus ketemu semua, dan kelompok harus sembunyinya berdekatan demi keselamatan bersama. nah, pas giliran kami yg nyari, aku berenti, karena liat anak kecil di atas pohon, terus nanya di mana temennya. padahal kami gatau itu anak siapa.. pas beberapa langkah baru sadar, dan kami langsung lari sampe ada yg nangis. yang sembunyi pun langsung ikutan lari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tiga part itu kira-kira berapa hari, Haw? :|

      Gila, horor banget itu siapa si bocah yang nangkring di pohon? :( Jadi inget cerita temen gue juga yang pernah main petak umpet malem-malem. Terus malah dia yang diumpetin hantu. Temen-temennya nggak ada yang bisa ngelihat dia. Dia bisa lihat temennya lagi nyariin, tapi nggak bisa denger suara temennya. Tau-tau ketiduran, dan ketemu keesokan paginya. :|

      Delete
  11. karena memetwit di twitter cuma 140 karakter maka yoga mengalihkannya ke sini. sungguh inspirasi~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Males habisnya terbatas karakter gitu. :(

      Delete
  12. Yg serem sih ya itu yg dilihat Sadam. Hantu bungkus :))
    Yawlaaaa nyeremin banget si ah

    Kasur goyang. Hmm jadi agak nganu. Wqwq
    Alhamdulillah di rumah gue aman-aman aja. Gapernah ngeliat apapun. Yg serem mah di tempat kerja gue ini.
    HAHAHAA INI GUE NGETIKNYA SENDIRIAN DI KANTOR LOH.

    OKE. TENGS. BAI.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di kantor gue dulu juga pernah, sih. Gue pas boker, terus di sebelah kayak ada suara air ngucur, suara air disiram, dll. Pas gue kelar, pintu kebuka dan ternyata nggak ada orang. :|

      Lah, dia malah yang takut. Wqwqwq.

      Delete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan.
Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.