Surat Bunuh Diri Nolan

61 comments
Beberapa media saat ini begitu ramai dengan berita bunuh diri dan depresi. Yang pertama kudengar adalah tentang Oka atau Eka gitu, aku lupa namanya. Kabar burung mengatakan ia bunuh diri. Tapi aku tidak mudah percaya akan gosip murahan. Lagian, aku juga tidak kenal ia siapa. Kemudian berita selanjutnya ialah kematian Chester Bennington, vokalis Linkin Park, yang begitu menamparku. Ia bunuh diri dengan gantung diri. Aku masih tidak percaya kenapa orang-orang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu? Itu sungguh membuatku nelangsa.





Aku begitu sensitif dengan hal-hal yang berhubungan dengan bunuh diri. Aku tiba-tiba jadi ingat tentang sebuah surat bunuh diri yang kutemukan di kamarku beberapa hari yang lalu. Surat ini menurutku cukup panjang. Jadi, sembari membaca surat ini, kau lebih baik tarik napas dahulu dalam-dalam, kemudian embuskan secara perlahan. Saat membacanya, kuharap kau jangan sampai terbawa suasana. Jika sedang depresi, lebih baik tutup saja tulisan ini. Baca lagi lain waktu. Atau, baca saja tulisan-tulisan yang lain. Sebab ini memang surat bunuh diri seseorang. Aku sudah memperingatkanmu akan hal ini, ya. Baiklah kalau kau tetap ingin membacanya. Sambil menemanimu membaca, kau boleh menyediakan camilan dan kopi. Tapi kalau itu tidak ada, air putih pun tidak masalah.

Oke, inilah isi surat yang kutemukan itu.

***

Karena ditulis oleh orang goblok yang jelas-jelas lebih pantas menjadi seorang pengeluh yang lemah. Surat ini sepertinya mudah sekali untuk dimengerti.

Semua cerita ini berawal dari kesukaan menulis yang telah kulakukan selama bertahun-tahun. Awalnya, aku menulis cuma untuk diriku sendiri. Untuk mengobati patah hati karena dikhianati kekasih. Kala itu, aku hanya ingin mengeluarkan energi negatif di dalam diri dan kepala yang begitu menyiksa. Ternyata, menulis membuat kepalaku menjadi lebih ringan, serta hatiku juga lebih plong. Sebagai manusia yang jarang memiliki teman, atau boleh dibilang jarang yang mau mendengarkan, maka curhat lewat tulisan memang cocok untuk diriku ini.

Pada tahun-tahun awal aku menulis, aku hanya curhat di blog ketika mau saja. Tentunya, tidak ada yang mengunjungi blogku, apalagi berkomentar. Aku, sih, baik-baik saja dengan hal itu. Toh, niatku menulis memang untuk terapi jiwa dan pelampiasan akan keresahanku. Namun, lambat laun aku mulai berubah. Aku ingin blogku ada yang membacanya, dan berharap mereka yang baca untuk memberikan komentar. Niat utama menulis untuk diri sendiri seolah hilang begitu saja. Aku mulai ingin dikenal orang lain. 

Akhirnya, aku mulai mencari-cari komunitas. Setelah perkenalan pertamaku dengan salah satu komunitas blogger yang berpusat di Jabodetabek, aku jadi memiliki banyak teman baru. Tapi, yang paling penting aku jadi belajar lebih banyak hal soal dunia blog. Ternyata komunitas blogger terbukti sangat tepat dalam membantuku belajar di bidang kepenulisan ini. Aku jadi belajar EBI (Ejaan Bahasa Indonesia); bisa membedakan mana “di” untuk kata depan, mana yang awalan. Aku juga jadi tahu kalau setiap penulis pasti ada ciri khasnya. Ya, mereka membangun citra dan membuat ciri khas ingin dikenal sebagai apa. Lalu, aku juga diberitahu bagaimana caranya menghasilkan uang lewat blog.

Di dalam komunitas, kami semua saling mengunjungi blog satu sama lain dan berkomentar. Kami berbagi pengalaman dan ilmu. Rasanya sungguh menyenangkan. Apalagi blogku tampak lebih hidup. Tidak sesepi dulu lagi. Mereka yang baca tulisanku pasti jadi ikutan curhat, lalu memberikan pujian, dan yang terpenting mengasih kritik atau saran. Tulisanku pun mulai berkembang seiring berjalannya waktu. Lalu, ketika aku tidak ngeblog, entah kenapa juga ada yang bertanya, “Kok belum ada tulisan baru, sih?”

Hal itu membuatku berpikir seperti memiliki pembaca setia. Meskipun hanya satu atau dua orang, tapi mereka sungguh loyal. Ini sangat membuatku bahagia. Namun, saat ini aku rasanya sudah terlalu lama tidak lagi merasakan kesenangan atau kebahagiaan dalam menulis. Tak bisa digambarkan lagi betapa merasa bersalahnya aku atas hal tersebut.

Contohnya, setiap kali aku menulis skrip komedi situasi—yang lebih dikenal sitcom. Sejujurnya, aku memang masih baru dalam hal ini. Tapi, kenapa ideku selalu bertentangan dengan mereka, terutama produser TV swasta itu? Aku benar-benar nggak mengerti, aku yang terlalu idealis dan memilih berbeda, atau mereka yang begitu main aman dengan selera pasar? Bukankah Efek Rumah Kaca sudah membuat lagu Pasar Bisa Diciptakan? Bukti kalau dalam setiap hal, kita selalu bisa menemukan celah. Ah, entahlah. Lagian aku sepertinya kurang cocok untuk menulis skrip. Aku lebih bahagia menulis cerpen.

Lalu, ketika mendapatkan tugas dari beberapa klien untuk me-review produk mereka. Kemudian pembaca pun bilang kalau tulisanku itu bagus dan halus. Tidak terasa seperti sebuah review. Tapi ternyata, hal itu tetap tidak memengaruhi kesenanganku. Bahkan, ketika tulisan curhatanku yang kadang dibumbui komedi itu ada yang bilang bermanfaat; ada yang mengatakan tulisannya menginspirasi, dan ada pula yang mengatakan tulisannya menghibur. Sayangnya hal seperti itu pun tak cukup membahagiakanku.

Apa yang salah sebenarnya denganku? Kenapa begini?

Masalah yang sebenarnya, aku memang tak bisa membohongi kalian semuanya begitu saja. Itu tidak adil bagi kalian, maupun bagiku. Kejahatan terbesar yang pernah kulakukan adalah menipu kalian dengan memalsukan kenyataan dan berpura-pura bahwa aku tampak begitu menikmati saat-saat menulis dan membuat cerita.

Kadang aku merasa bahwa aku harus terpaksa untuk terus menulis bagus, terutama lucu dan menginspirasi. Aku sudah mencoba sekuat tenaga untuk menghargai keterpaksaan itu demi para pembaca yang berkunjung ke blog ini. Tapi percayalah, kalau aku sungguh-sungguh berkunjung balik dan gantian membaca cerita kalian itu dengan tulus. Bukan semata-mata karena tidak enakan.

Sialnya, ternyata itu masih belum cukup memuaskanku.

Aku masih suka sedih melihat  orang-orang yang mengunjungi blogku, tapi tidak membaca tulisanku. Mereka cuma ingin meninggalkan komentar sebagai sebuah jejak. Tujuan mereka sepertinya agar aku mengunjungi balik blognya. Kenapa, sih, mereka begitu? Kenapa mereka melakukannya dengan niat hina seperti itu? Katanya blogwalking itu silaturahmi ke sesama blogger, tapi kok begitu? Kenapa mereka tidak membaca karena ingin membacanya, bukan demi dikunjungi balik?

Habisnya, aku tidak bisa melakukan itu. Rasanya pasti berdosa. Jadi, aku selalu membaca tulisan orang lain karena aku suka membaca. Soal urusan dikunjungi balik atau tidak, itu sebenarnya bukanlah masalah bagiku. Kan tujuanku memang ingin membaca. Walaupun tulisannya buruk, ya aku tetap berusaha menyelesaikannya sampai habis. Aku dulu juga pernah berada di fase itu. Kalaupun tetap tidak bisa melanjutkannya sebab tulisannya kelewat hancur, aku pasti langsung menutup halaman itu, dan tidak meninggalkan komentar. Aku tidak mau menipu pura-pura membaca cuma biar mereka gantian membaca tulisanku. Itu menjijikkan.

Ah, aku dari tadi menulis apa, sih? Kok aku jadi bingung sendiri begini?

Yang jelas, aku harus menerima kenyataan bahwa tulisanku dari dulu hingga sekarang mungkin telah memengaruhi beberapa orang. Entah itu baik ataupun buruk. Namun, sejatinya aku tetaplah hanya seorang pria yang egois dan terlalu banyak berpikir. Aku mungkin juga terlalu peka akan sesuatu. Aku butuh sedikit rasa untuk lebih cuek akan sesuatu yang buruk. Aku juga ingin bisa merasakan kembali kesenangan yang kumiliki ketika kecil.

Aku pun berusaha menemukan hal itu dengan membaca ulang tulisanku dan komentar pembaca yang benar-benar mengapresiasiku. Dalam beberapa tulisan terakhir, aku mendapatkan komentar dan respons bagus dari orang-orang. Mungkin saking cintanya mereka dan mengapresiasi tulisanku, hal itu malah membuatku merasa sangat sedih. Sebab, aku belum sebaik itu. Aku juga rasanya palsu. Karena banyak sekali tulisan berisi pesan yang kubuat untuk diriku sendiri, tapi belum semua bisa aku terapkan di dalam hidupku.

Aku adalah Hamba Allah yang tidak taat-taat amat, seorang Gemini bajingan, tidak tahu terima kasih, dan menyedihkan. Kenapa aku nggak bisa menikmati semua ini begitu saja? Aku pun nggak tahu. 

Aku punya pacar yang baik yang penuh kasih sayang dan sangat pengertian. Serta seorang sahabat yang setia. Teman-teman, baik di dunia nyata maupun maya, yang menyenangkan. Mereka seakan-akan mengingatkanku akan diriku sendiri di masa lalu. Hal itu membuatku ketakutan sampai-sampai aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi setelah ini.

Aku tidak bisa membayangkan kalau nanti sudah menikah, lalu anakku akan tumbuh dan ikutan menjadi seorang penulis busuk yang suka menghancurkan diri sendiri dan menyedihkan seperti aku sekarang. 

Aku sebenarnya bisa menerima penderitaan ini dengan baik. Sangat baik. Dan, aku pun masih mencoba untuk terus bersyukur. Namun, aku juga tidak bisa membohongi diri ini lebih lama lagi. Aku betul-betul kesepian dan menderita sejak dulu. Kesepian yang bercampur dengan kesedihan. Hal itu benar-benar telah melekat dalam diriku. Semakin aku mencoba untuk melepaskannya, aku justru semakin terjerat.

Harus kuakui, kalau diriku ini sudah membenci semua orang sejak masih berumur enam tahun, atau saat kelas 1 SD. Hal itu kulakukan hanya karena melihat mereka yang begitu mudah bergaul dan dapat bermain bersama-sama dengan penuh riang gembira. Sedangkan aku kesulitan memiliki teman. Kala aku mencoba untuk berbaur, mereka malah menjauhiku. Aku merasa tidak pantas berteman dengan mereka. Dengan siapa pun.

Ya, kupikir itu disebabkan karena perasaanku yang terlalu besar untuk memedulikan orang lain. Aku ingin menjadi teman mereka. Ingin menjadi orang yang baik dalam hidup mereka. Tapi aku juga harus sadar, kalau mereka belum tentu mau berteman denganku. Apalagi mesti peduli kepadaku. Terlebih lagi, di negara ini terbukti banyak orang yang menderita seperti yang aku rasakan. Aku tidak bisa membantu mereka keluar dari penderitaannya, sebab aku pun masih sulit mengatasi masalahku sendiri. Dan aku jadi begitu kecewa.

Aku masih terus berusaha menahan kekecewaan itu. Tapi penderitaan ini memang tidak akan pernah berakhir, bukan? Sepertinya manusia memang sudah terbiasa disakiti atau menyakiti manusia lain. Beberapa dari manusia ini juga tidak bisa melawan balik. Lalu, manusia lainnya yang melihat orang lain yang tertindas itu pun banyak yang memilih diam. Aku betul-betul tidak kuat menyaksikan itu semua. Aku tak tahan lagi.

Maka, dari relung hati terdalam yang terasa hampa ini, aku ucapkan terima kasih atas surat perpisahan dan perhatian kalian selama ini. Teruntuk orang-orang yang rela meluangkan waktunya untuk membaca surat yang entah apa namanya.

Sekali lagi, aku sadar kalau diri ini hanyalah seorang pecundang. Tampaknya dalam diriku ini sudah tidak ada semangat yang tersisa. Jadi ingatlah hal ini baik-baik, lebih baik terbakar habis kemudian lenyap, daripada tetap menyala tapi malah membakar orang lain.

Selamat tinggal.

***

Kau sudah membaca keseluruhan surat itu? Bagaimana menurutmu? Mirip seperti surat bunuh diri Kurt Cobain, dan ini ialah versi panjangnya? Apa pun komentarmu setelah membaca itu, tolonglah tahan dahulu. Biarkan aku bercerita lagi.

Kau mungkin tau serial film 13 Reasons Why, tentang Hannah Baker yang mati bunuh diri dan meninggalkan 7 kaset. Yang di dalamnya terdapat 13 rekaman yang ditujukan untuk didengarkan oleh para pelaku. Di kaset itu, Hannah bercerita apa alasan yang membuat ia memilih untuk mengakhiri hidupnya. Dari 13 rekaman itu, aku pun jadi menyimpulkan kalau sebenarnya Hannah Baker tidak bunuh diri. Bisa dibilang, ia dibunuh oleh teman-temannya yang suka merundungnya itu.

Kemudian, kau mungkin juga pernah membaca atau mendengar berita tentang kematian siswa-siswi yang bunuh diri karena tidak siap atau gagal UN. Apakah menurutmu mereka betul bunuh diri?

Menurutku, murid itu sebenarnya juga tidak benar-benar bunuh diri. Secara tidak langsung, negaralah yang membunuhnya.*)

Kau mengerti maksudku tidak? Kalau tidak, oke jadi begini.

Surat yang kaubaca tadi itu adalah surat bunuh diriku setahun yang lalu. Nah, aku juga ingin dianggap kalau aku tidak betul-betul bunuh diri. Aku dibunuh oleh sesuatu, yang entah apa itu namanya. Kau boleh bilang kalau aku itu cuma mengelak. Baiklah, tak apa-apa. Itu, kan, hakmu dalam menilai. 

Kau mungkin ingin tau dan sudah bertanya-tanya dengan cara apa aku bunuh diri setelah membaca tulisan panjang ini. Aku tidak mati gantung diri seperti Chester, tidak seperti Kurt Cobain yang menembakkan kepalanya sendiri dengan shotgun, juga tidak menyilet tangan seperti Hannah Baker. 

Kala itu, aku memilih mati dengan meminum racun. Aku memang bukan aktivis—yang matinya karena diracun. Tapi sepertinya, memang negara inilah yang telah membunuhku. Aku muak dengan negara ini. Banyak ketidakadilan di mana-mana. Hukum selalu tajam dan runcing ke bawah, tapi tumpul ke atas. Manusia selalu meributkan hal-hal yang sepele dan kemudian dijadikannya bertambah besar dan rumit. Mengaku Pancasila, tapi cuma omong kosong. Merasa dirinya paling beda, tapi tidak bisa menghargai apa itu perbedaan. Tahi kambing! Aku sebenarnya bisa saja pindah ke negara lain. Namun, aku sadar diri kalau masih terlalu miskin. Jadinya, aku pun memilih lenyap dengan cara itu.

Sebetulnya aku tidak langsung menenggak racun itu begitu saja. Aku tahu rasanya pasti akan pahit. Aku juga masih takut akan keputusanku ini benar atau salah. Oleh karena itu, aku mencoba menikmati saat-saat terakhir itu dengan sesuatu yang membuatku bahagia. Nah, hal yang paling sederhana dalam membuatku bahagia adalah dengan meminum es teh manis. Aku kemudian membuat es teh manis itu. Dan, tentu saja mencampurkannya dengan racun. Aku memilih meminum es teh manis itu dengan sedotan supaya bisa dinikmati pelan-pelan seolah sedang berada di kafe mahal. Aku menikmati saat-saat terakhirku dengan meminum minuman favorit sambil mendengarkan lagu Linkin Park In The End dengan earphone.

When I tried so hard
And got so far
But in the end
It doesn't even matter

I had to fall
To lose it all
But in the end
It doesn't even matter


Setelah lagu itu habis, racunnya langsung bekerja di dalam tubuhku. Kerongkonganku rasanya terbakar, dan dadaku pun sangat panas. Aku seolah habis menelan timah cair dari neraka. Bodohnya lagi, aku tetap menghabiskan es teh manis itu hingga tetes terakhir. Rasa manisnya sudah berubah menjadi pahit. Sehabis itu, aku tidak ingat apa-apa lagi. Semuanya menjadi redup dan akhirnya gelap. Maaf, kalau aku tidak bisa menggambarkan kematian lebih dari ini.

***

Saat tersadar, aku masih berada di tempat yang sama. Di kamarku. Aku melihat tubuhku tergeletak di lantai dengan hidung yang mengeluarkan darah. Aku juga melihat sebuah surat yang kutulis sebelum memilih bunuh diri di samping buku Norwegian Wood (Haruki Murakami). Beberapa menit setelah itu, barulah tubuhku ditemukan oleh ibuku. Ibuku berteriak kencang melihatku terbujur kaku seperti itu, dan tak lama langsung jatuh pingsan. Ayahku yang mendengar teriakan itu pun langsung berlari ke kamar. Ayah mengecek hidungku masih mengeluarkan napas atau tidak, lalu juga menekan urat nadi di pergelangan tangan kiriku. Ayahku meneteskan air matanya. Ya, aku ditemukan sudah tidak bernyawa.

Beberapa hari setelah itu, aku sangat menyesal membuat kedua orang tuaku merasakan nestapa karena kehilangan anak pertamanya yang masih muda. Terlebih lagi kesedihannya ditambah ketika para tetangga yang suka berkomentar seenak jidat tanpa tahu apa-apa tentangku. Ingin rasanya aku mendatangi mereka satu per satu pada malam hari. Menunjukkan ke mereka wajah marahku kalau aku tidak suka dibicarakan seperti itu, dan kemudian teriak di depan mukanya mereka, “KAMU TAU APA SOAL?” 

Tapi rasanya itu percuma. Kami sudah berbeda dimensi.

Berbicara soal dimensi, aku jadi ingin marah. Setelah memilih mati dengan cara begini aku entah kenapa malah terjebak di dimensi lain. Kupikir, itu cuma berlangsung selama 40 hari, sayangnya tidak. Aku juga menunggu sampai 100 hari, dan ternyata aku juga tetap berada di sini. Sudah setahunan aku hidup di dimensi yang sama, bedanya aku tidak bisa berkomunikasi dengan mereka yang masih hidup. Dan, aku juga sendirian di dimensi ini. Sepertinya dimensiku berbeda dengan hantu-hantu yang sering disebut berada di dimensi lain. Mungkin itu hukuman untukku yang mempercepat takdir. Mungkin ini akan berlangsung lama sampai takdir yang sebenarnya—kapan aku mati kelak. Mungkin di usia sekitar 60-an seperti wafatnya Rasulullah. Ah, entahlah. Wallahu A'lam.

Aku mati, tapi seperti tak mati. Aku juga hidup, tapi seperti tak hidup. Apakah namanya ini? Yang jelas aku seperti makhluk abadi yang kesepian. Dan yang kulakukan selama merasa kesepian ini ialah dengan membaca buku dan menulis. Sayangnya, semua yang kutulis tentunya tidak bisa dibaca oleh siapa pun, kecuali diriku.

Ngomong-ngomong soal menulis, mungkin kau akan kebingungan membaca tulisan panjang ini dari tadi. Kau boleh percaya atau tidak, tapi semua ini bukanlah tulisan Yoga Akbar Sholihin. Ia saat ini lagi bingung ide mana yang harus ditulis duluan. Tulisan bloknot saja belum sempat ia lanjutkan kembali. Padahal ia tinggal membuka file itu dan mengeditnya. Ah, dasar anak pemalas!

Lagian, saat ini ia juga sedang malas membuka blog. Sebab dirinya seolah memiliki utang blogwalking ke pembaca yang sudah mampir ke blognya. Baik itu yang niatnya memang tulus membaca dan berkomentar, atau cuma biar dikunjungi balik. Melihat keadaannya seperti itu, aku tiba-tiba merasa deja vu.

Pertama kali melihat anak ini, aku seperti melihat diriku yang dulu. Semangat menulisnya masih sama seperti awal-awal aku memilih untuk bermimpi menjadi seorang penulis. Sayang, aku tidak sempat mewujudkan hal itu karena kebodohanku sendiri meminum racun. Aku jadi berharap suatu hari nanti Yoga bisa menjadi penulis. Meskipun ia sudah mengeluarkan karya berbentuk buku-el bersama grup WIRDY, tapi menurutku ia belum pantas disebut sebagai penulis. Ia menulis itu beramai-ramai. Ia masih harus menerbitkan bukunya sendiri.

Ketika ia sedang melamun begitu, aku pun memilih masuk ke dalam tubuhnya. Entah bagaimana, ia langsung menyalakan laptop, membuka aplikasi Ms. Word, lalu menyusun kalimat demi kalimat sampai kalimat yang sedang kaubaca saat ini. Sekali lagi, bukan Yoga yang menulis ini semua. Akulah yang secara tidak langsung menuliskan cerita ini. Aku meminjam jari-jarinya untuk mengetik semua hal yang aku resahkan selama masih hidup. Umm, maksudku ketika benar-benar masih hidup sebelum meminum racun sialan itu.

Kau mungkin masih tidak percaya dengan ini semua. Tapi aku akan memberitahumu satu hal. Kau pernah membaca tulisannya yang “Jangan Mati Dulu”? Kalau belum, coba bacalah terlebih dahulu. Kalau boleh jujur, itu sebenarnya juga bukan Yoga yang menulis. Aku kala itu juga masuk ke tubuhnya. Itulah pertama kalinya aku merasuki tubuhnya. Yoga semacam jadi perantaraku yang saat itu bermaksud untuk menyampaikan pesan kalau bunuh diri itu bukanlah jalan keluar. Seburuk apa pun penderitaanmu, jangan menyerah. Pokoknya selama kau masih mengembuskan napas, teruslah berjuang. Beberapa respons dari tulisan itu cukup bagus. Aku bahagia bisa menuliskan itu.

Karena sepertinya sudah terlalu panjang, kupikir sudah cukup meminjam tubuh Yoga hari ini. Dan sebelum mengakhiri cerita ini, akan kuberi tahu kalau namaku adalah Nolan. Seorang laki-laki 24 tahun yang sangat menyesal telah memilih bunuh diri. Kuharap keluarga, pacar, teman-teman, dan pembaca blogku dulu bisa ikut membaca tulisan ini. Aku sangat minta maaf atas keputusanku waktu itu. Aku tidak bisa menghargai hidup yang kejam sekaligus indah ini. Wajar, kalau orang sepertiku dihukum seperti ini dimensi lain dan malah bertambah kesepian.

Jadi, setelah membaca tulisan ini sampai habis, kuharap kalian telah memaafkan kesalahanku. Mungkin dengan itu, aku bisa berada di dimensi yang sebenarnya. Di dimensi seperti orang-orang yang telah mati sesuai takdirnya. Dan terakhir, terima kasih kuucapkan kepada Yoga, yang telah meminjamkanku tubuh untuk bercerita. Semoga tulisan ini dapat berguna untukmu, atau mungkin pembacamu.

--

Gambar asli diambil dari Pixabay.

*)Sebagian kalimat tentang UN itu dikutip dari novel Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya (Sabda Armandio) halaman 305.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

61 comments

  1. Nolan ini nama panjangnya.... Christopher Nolan, Yogs?

    Hmm. Soal bunuh diri bunuh diri ini nampaknya emang lagi hangat diperbincangkan yak. Dan itu surat bunuh dirinya... aku senyam-senyum sih bacany pas di awal-awal. Dulu kamu kalau nggak salah pernah bilang pengen nyampein keresahanmu soal blog. Soal blogwalking. Tapi entah males keliatan sotoy atau gimana. Dan akhirnya kamu bisa nyampein itu dengan surat bunuh diri ini.

    Terus aku sedih juga sih bacanya. TAPII..... KATA GEMINI BAJINGAN ITU MERUSAKNYA. Aku langsung ngakak fak. Keingat Yogaesce juga. Taeeeek. Kalimat "Tau apa kamu soal?" Itu aku malah keingat Mas Don. Terus malah nambahin tanda ~ gitu. Hadeh imajinasiku :(

    Nolan bunuh diri. Tapi Yoga jangan yaaaaaaaa :(((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak, Nolan aja udah cukup. :)

      Bahahaha. Gemini kenapa selalu membuatmu tertawa? :/ Itu yang pertama kali bikin si Mas Don emang, Cha? Lucu habisnya kalimat itu. :3

      Delete
    2. Iya, sangkanya juga dari tadi kayak gitu.

      13 Reason Why, Hannah Baker adalah sebuah contoh kekerasan mental. Saya sangat suka cara penyampaian film itu. Beberapa kali saya mengumpat karena saking gregetnya.

      Surat ini juga menjadi rujukan dari Nolan bahwa bunuh diri itu bukan jalan keluar. Saya merasa terpukul saat Nolan mengatakan menulis komentar tanpa di baca, sebab, dosa itu pernah saya lakukan. Nolan telah memberi saya pencerahan. Thx Nolan~

      Delete
    3. Rahul: Terus terinspirasi juga buat bikin 13 RR, ya? Hayo, dilanjutin. :D
      Nggak apa-apa, semua orang pernah berbuat salah. Semoga tidak diulangi lagi ke depannya.

      Sama-sama ya, Rahul.

      Tertanda: Nolan~

      Delete
  2. Hy Nolan

    Gimana rasanya masukin tubuhnya si yoga?
    Trus si yoganya kesurupan kagak?
    Teriak teriak sambil marah kagak?
    Daripada kesepian di dimensi lain mending ajak si yoga gih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasa saja kok, Niki. Aku nggak perlu marah-marah, aku cuma menulis. Kau mau coba kurasuki? Kenapa tidak kau saja yang menemaniku? :))

      -Nolan

      Delete
  3. JANGAN BILANG NOLAN ADALAH ORANG YANG NGANTERIN GUE KE HALTE GROGOL. :(

    Inget bunuh diri, ya cuma taunya tokoh Kizuki. Mati bunuh dirinya nggak serem, nggak ketebak mau bunuh diri. Padahal Kizuki cocok sama Naoko. Ini yang nggak paham gue ngomong Kizuki-Naoko maafin yak. Semoga dijelasin apa itu Kizuki-Naoko sama Nolan. Hehehe.

    Jabat tangan dulu sama Nolan, kemudian ayo kita minum kratingdeng. Soal blogwalking itu hehehe deh rasanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini lucu kalimat awalnya :))

      Delete
    2. yes, setuju. pas baca awal emang nolan. tapi kok ke bawah2 ga inget nolan. malah inget yang nulis. yoga. hahaha

      Delete
    3. Robby: Kagak tau deh, Rob. Coba tanya sendiri sama Nolan. Hmm, ingetnya Norwegian Wood banget, ya. :) Yang penting jangan kapok blogwalking~

      Bena: Ehehe. :D

      Vanisa: Hmm, jadi yang nulis siapa dong, Mbak Sha? :/

      Delete
    4. setuju sama bena, ngakak juga gw XD hahaha robb, robb..

      Delete
  4. GILA YAA OTAK GUA YANG DANGKAL APA GIMANA BACA GINI AJA PUYENG. TAPI KEREN SIII PARAH!!

    Hahahaah
    baruu mau bikin feature berita ttg bunuh diri, eh dapet referensi keren disini.Hamdalah rejeki #AdibahSholehah2017

    Yaaa, bunuh diri kadang dianggap jadi jalan keluar buat segala persoalan yang dohadapi seorang individu, gua rasa semua orang pernah berpikiran untuk bunuh diri, tapi ada yg benar-benar merealisasikannya, ada yang "YAKALE ANJER GUA BUNUH DIRI BENERAN". HHH

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue juga puyeng, sih, bacanya. Mana panjang lagi. Ini Nolan keterlaluan, ya. :(

      Semoga berguna, ya~ :D

      Yaps, sedikitnya pasti ada pikiran untuk bunuh diri. Hahaha. Semoga kita semua di sini bukan termasuk bagian yang melakukan itu, ya. :)

      Delete
  5. Replies
    1. Biar gak panjang, dibaca aja coba, Mas Mirwan Choky :)
      Pasti nantinya tak terasa, ambil aja posisi nyaman. Tahu-tahu nanti kebablasan sampe baca komen2 :D

      Delete
  6. Please yog, saya lagi mendalami kata demi kata, kenapa kalimat "tau apa kamu soal?" Itu mendadak muncul? Dikepslok lagi.

    Ini baca surat bunuh dirinya kayak baca perjalanan hidup diri saya sendiri. Diremehkan, direndahkan, merusak diri sendiri. Lah semuanya juga saya alami. Bahkan masa kecil pun begitu, nggak ada yg mau main sama saya. Lemah dan gapunya uang. Untuk nonton mereka main videi game (nintendo) saja saya harus nepelin muka di jendela rumah mereka karena gadikasi masuk. :')

    Perkara blogwalking, kehebohannya mesti udah lewat sejak kejadian pikrimaulana yg baru mampir suka ama tulisannya itu. Karna dia, banyak blogger yg membuat postingan etika blogwalking dan sejenisnya.

    Saya pribadi gakmensyaratkan diri buat ngomentarin balik, tapi balas berkunjung itu pasti. Syukur kalo tulisannya bagus, bakal dirutinkan datang.

    Begitu pun saat berkomentar, empunya mau balas berkunjung silakan, nggak juga silakan.

    Apalagi ya... ee.. maaf, kamu ngerasuki yoganya pas lagi nulis aja kan? Nggak pas nganterin seseorang ke stasiun tn abang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. tau apa soal? haha singkat tapi dalem ya. ini apah. ables2in komentar di blog orang LOL.

      ku juga bw, tulus. tapi kadang sukak bingung mau komen apah. hahaha soal pikrimaulana ini. kok sha gatau ya, ketinggalan jaman

      Delete
    2. Haw: Jangan tanya ke gue, Haw. Coba tanya ke Nolan langsung. :|
      Waduh, ada yang ngerasa surat perjalanan hidupnya sendiri. Berarti apa yang Nolan tulis itu mewakilkan keresahan beberapa orang, ya. Pantas dia nggak tega melihat penderitaan itu pada orang lain. :(
      Gue jadi inget dulu pernah diboongin temen gitu pas main nintendo. Gue dikasih stik 2-nya, tapi ternyata dia cuma main 1 player. Aduh, gue terlalu polos atau bego waktu itu. Huhuhu.
      Gue juga sedang menerapkan hal itu, Haw. BW secara tulus aja. :)

      Vanisa: Pikrimaulana itu legenda, Mbak. Sekitar 2014-2015 apa. XD

      Delete
  7. seperti biasa puanjangggggggggg bgt postingannya? otaknya gak panas mikir buat nulis sepanjang ini?
    eh tapi gw baca dr awal sampai akhir kok, walaupun ada beberapa paragraf yang di loncati. hahahahhaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak, sih, Mas. Kan ini juga sebelumnya draf lama yang ditambah-tambahin karena ada berita yang terkait.

      Jujur amat, sih~ Hahaha. Ya, nggak apa-apa. Terima kasih sudah baca. :D

      Delete
  8. pas baca suratnya mulai mikir ini jangan2 yang nulis ya yang nulis narasinya juga, soalnya gaya berceritanya sama, gak ada bedanya. ternyata bener. :))

    jadi, sekarang namanya nolan akbar sholihin nih? baguslah, biar agk samaan lagi nama kita. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah, kirain ini dulu satu orang yang sama lho gegara sama-sama yoga hahaha

      Delete
    2. Joga: Wahaha. Mungkin menurut Nolan biar sekalian aja itu, sih. Jadi nggak usah mendalami karakter lainnya. Lah, kan di tulisannya tercantum Nolan doang. Nggak pakai "Akbar Sholihin". Nggak mau banget dah sama. :(

      Wisnu: Beda euuyyy! XD

      Delete
  9. sayangnya hari ini puasa sunnah senin - kamis, jadi pas baca surat bunuh diri ini ngga bisa sambil nyediain cemilan, kopi, bahkan segelas air putih pun tidak. *sok-sok'an, padahal kagak puasa juga ini anak XD*

    kalau kemaren-kemaren tentang masalah konten blog, sekarang dapet nasehat baru lagi nih masalah BW, hehe. bener juga sih, BW ternyata ngga cuma sekedar ninggalin komentar di post'an orang. bener emang, ketika dapet komentar dari blogger lain kita seneng. tapi pas tahu isi komen-nya semacam "formalitas" biar keliatan kalau "saya udah BW balik" itu rasanya nyesek. nyesek banget

    betewe-betewe, tulisan sepanjang ini ngedraftnya berapa lama bang? XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saleh sekali lu ya, Wis. Sampai puasa sunah. Nggak sekalian puasa Syawal? :p
      Anjir nasihat. Padahal mah apaan. XD Jangan nyesek-nyesek amat ya~ Nikmati saja suka-duka dunia blog. Hahaha.

      Coba tanya si Nolan aja, Wis. Wqwq. Dicampur-campur, sih. Ada yang pas 2016, ada yang awal tahun, ada juga yang baru. Hmm, aneh ya pas dibaca? :|

      Delete
  10. Di bagian tengahnya, bikin otak berpikir hati merenung.

    Terima kasih atas wejangannya entah itu nolan atau siapapun, sekali lagi terima kasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena merenung itu memang ada gunanya. Sama-sama ya, Mas Asep. :)

      -Nolan

      Delete
  11. Paling berasa 'kena' pas lo bilang ada timah panas cair yang masuk ke mulut. Itu gue langsung beneran bayangin dan keknya perih, panas, ngilu udah campur jadi satu ya.

    Ini sampai sebulan topik para blogger yang pengin narik crowd pasti bahas chester sama oka.

    Biar apa?

    Biar bisa melebarkan sayap dong.

    Jawab gue.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan dibayangin, San. Serem. :(

      Yoi dong~ Harus mulai menarik crowd. Biar nggak gini-gini aja. Kan juga bisa nambah premis-premis baru. :3

      Delete
  12. Waktu Chester Bennington meninggal, itu heboh banget beritanya.
    Btw, gue baru BW lagi dan cuma postingan lo yang bikin gue baca dan ngabisin 2 mangkok mie rebus. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampai minggu ini juga masih ada beritanya. Itu mah lu laper, Rin. Jadi makan sambil baca. :|

      Delete
  13. serem, pake acara kerasukan segala.

    menurutku hidup itu terlalu berharga untuk diakhiri dgn bunuh diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi lumayan blog ini jadi ada tulisan baru. :3

      Iya betul, tapi kan orang yang memilih bunuh diri pasti susah mikir kayak gitu saat depresi. :/

      Delete
  14. 1. iya aku juga males klo komen BW done, duhhh
    2. sejak kecil aku kena bully mas, jadi males bergaul dengan lingkungan sekitar klo blm kenal betul. Sama. aku juga pingin bisa masuk ke pergaulan orang2 sekitar. Tapi, ya gimana lagi, sing penting happy
    3. pernah juga kepikiran bunuh diri tapi wedi mben ndek akhirat yokopo
    4. nulis bareng iku tetep diapresiasi mas, aku juga masih nulis bareng . percaya, suatu saat pasti namamu ada di rak buku Gramed, sendirian (setelah kulihat tulisan2mu)
    5. duh komenku selalu panjang, haha. wassalam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang masa kecilnya di-bully, semoga nggak menyimpan dendam, ya. :(
      Iya, mikir di akhiratnya gimana. Ehehe semoga suatu hari bukuku beneran nongol di toko buku. Aamiin. :D

      Waalaikumsalam.

      Delete
  15. Buka postingan ini lagi, mau lihat balesan Sholihin ke komentarku tempo hari.

    Bingung, kok komenku nggak ada.

    Kayaknya kemarin pas klik publish, ilang sinyal. T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, emang komentar apaan? Dari kemarin nggak ada komenmu, Do. Hampir nggak pernah juga ngapusin komentar. :(

      Delete
  16. ((BALASAN SURAT UNTUK NOLAN))

    Kau ternyata sudah menyesali, beberapa perubahan yg mungkin tidak kau terima selama masih hidup, itulah alasan kenapa engkau menyerah. Seharusnya, kau masih hidup, memperbaiki yg dirasa menykiti, dan ataupun ikut ke dalam perubahan itu sendiri. Apa kau tau soal? sebab karena perubahan adalah sunah kehidupan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga orang-orang yang masih hidup membaca tulisan ini ya. :p

      ((perubahan adalah sunah kehidupan)) Oke~

      Delete
  17. Sedih ya.. Kenapa harus memilih bunuh diri? Sangat disayangkan. Banyak orang sakit ingin bertahan hidup yang sehat malah ingin mengakhiri hidupnya...

    Kalo aku malah seringnya baca di blog orang dan gak ninggalin komentar. Soalnya sering komentarnya gak di bales. Kan jadinya males kayak di cuekin gitu. Sering ninggalin komen sama orang yang sering balesin aja. Atau lagi pengen sih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita tidak pernah benar-benar tau, Rum. Mungkin yang kamu maksud sehat itu tubuhnya aja, kan. Kalau ternyata jiwanya sakit gimana? :(

      Mungkin bukan dicuekin, tapi belum sempat membalas. Dia ada kesibukan lain. Hahaha. :p

      Delete
  18. "No, Lan. Please. No," kata Yoga pada Wulan. Now I know who Nolan is.

    ReplyDelete
  19. penuh kritik. kritik asal komen biar kunjungi balik sampai yang anjur ada kritik soal munir :)

    surat bunuh diri yang isinya curcol sih. kerennya embaca diajak mikir eh kok gini, eh yoga peulis surat bunuh diri teryata lagi kesurupan Nolan.
    ntap, kritik dapet, kaget dapet, beloknya dapet.
    anju udah sok komen kaya paham aja, Tom, TAU APA QM SOAL HEM? HEM?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngomongin racun emang ingetnya ke Munir, ya. :) Bahaha, dibilang penuh kritik lagi. Padahal gue aja nggak tau itu si Nolan nulis apa. XD

      Delete
  20. Aku tuh slalu nyediain waktu khusus untuk baca blogmu. Ntah itu sebelum tidur, ato pas istirahat kantor. Karena tulisanmu ga bisa dibaca sekedar baca :p. Selain alurnya menarik, isi ceritanya jg kdg unik.. Cara penulisannya, diambil dr sudut pandang mana.... Makanya aku ga mau buru2 kalo baca blog mu yog :) .. Slalu banyak yg bisa dipelajari dr sini :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, aku merasa terharu jadinya nih, Mbak Fanny. :')
      Ehehe lagi suka bereksperimen nulis yang aneh-aneh emang, sih. Anyway, terima kasih sudah selalu meluangkan waktu khusus untuk baca, ya! Semoga aku bisa menulis lebih baik lagi. :D

      Delete
  21. Hmmm gue kok mencium alibi di surat bunuh dirinya ya biar cuma dibilang fiksi. Hmmmmmmm. Biar masyarakat yang menilai..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, pembaca bebas menilai apa pun soal tulisan ini. Hoho.

      Delete
  22. Hemmm, dari mulai baca awal sampe akhir bener bener pengalamanku juga.... kenapa ya banyak sekali seperti itu tidak membaca keseluruhan dari artikel yang kita baca sendiri.. entah mereka berkomentar mungkin hanya copy paste dari blog lain lalu submitkan, yahh memang saya juga tidak terlalu mempermasalahkan itu, karena niat saya ingin membantu mereka yang mungkin membutuhkan perotolongan, makanya saya membuat sebuah tutorial di blog dari sepengetahuan yang saya miliki.

    dan juga niat saya dalam hal menulis sebagai hobbi yang saya lakukan sampai saat ini, makanya menulis di blog itu hal yang menyenangkan,karena menulis bisa berbagi ke banyak orang kan.. Tapi gak ada salah sih, itu juga tergantung dari pembaca juga ingin berkomentar apa tentang tulisan yang kita buat toh, jadi kita sendiri juga tidak menyalahkan hal itu..

    kalo soal bunuh diri juga pernah ada kejadian di kampus ku, ia seperti nya bukan bunuh diri, dia cuma seperti diperlakukan tidak adil, dia diberikan tugas yang sangat berat sekali dan yang lainnya mudah, bayangkan saja dia dsuruh mengahapal coding hampir ribuaan, dan teman temannya hanya berapa puluh saja, saya diceritakan oleh teman yang dekat dengan dia soal itu..

    ada juga kampus kampus lain baik di dunia ataupun di wilayah kita masing masing, bebas. Saya juga sempat diceritakan oleh teman saya yang ingin mendaftar di kampus kampus tertentu, dia ingin masuk tapi tidak keterima karena uang sumbangan sangat dikit, tapi prestasi yang dia miliki luar biasa Nasional semua coi, sedangkan dia memiliki teman yang yahhh tidak ada prestasi tapi bedanya sumbangan yang diberikan besar dan keterima. Apakah adil seperti ini? Saya sedih sekali mendengar hal itu, kejam!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, saya juga bingung sama masalah itu. Tapi ya tetep, pembaca bebas berkomentar apa saja. Penulis juga bisa menghapusnya kalau tidak suka. :)

      Kok bisa sampai diperlakukan nggak adil, sih? Emang dia salah apa sebelumnya? Keterlaluan. :(

      Terus kalau yang soal daftar kampus dan nggak diterima cuma karena sumbangan itu, ya kejam banget. Sedangkan yang nyumbang banyak bisa masuk. Tapi bukannya kalau cerdas bisa pakai beasiswa, ya? Hmm.

      Delete
  23. Membaca beberapa artikel di blog km itu sangat asik.
    Cara penyampaian yang sangat pas.
    Aku suka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah menyukai artikel saya. Semoga beneran suka, bukan basa-basi. :D

      Delete
  24. Semenjak berita Chester Bennington meninggal, sampae sekarang malahan, masih heboh ya. Band ini lagu-lagunya suka nemenin disaat goyangin jemari.

    Beberapa terakhir ini sering nemuin orang bunuh diri karena depresi. Memang susah untuk berfikir dan inginya menyendiri. Aku pribadi setiap ada masalah berusaha diceritakan sama orangtua, aku percaya beliau bisa membantu jln keluarnya.

    Bisa juga sama guru kita, guru ngaji or yang lainnya. Semoga kejadian bunuh diri bisa jadi pelajaran buat kita semua. Jangan sampe putus asa memilih bunuh diri, seberat apapun masalahnya, kita masih punya Allah Swt..

    ***

    Memang begitu yang aku rasa juga, Mas, semakin kita sering menulis semakin rasa plong, enteng gitu. Yang ada dalam pikiran terasa hilang tercurahkan dalam tulisan. Terlebih banyak orang yang nanggepin/komen. Rasanya semangat bercerita terus ada.

    Tulisan ini hampir sama plek seperti apa yang aku rasakan. Saat ini aku merasakan banyak teman blog, meskipun belum berjumpa. Tapi dengan saling mengunjungi dan membaca membuatku senang, begitupun sebaliknya ketika berkunjung balik..

    Nah, itu aku juga sering temuin orang yang tiba-tiba komen cuma sekilas gitu. Satu kata dua kata, dan terlihat sekali tulisan follback gitu. Besoknya dia dah gak tau kemana, sempat aku terus kunjungi setiap dia ada tulisan baru, tapi dia tak pernah main lagi. Seolah cuma minta di follback aja.

    Memang, aku suka minta follback juga, tujuannya biar saling tahu aja ada tulisan baru. Gak asal pergi gitu aja.

    Tapi aku paling suka kalau lagi santai, terus ada postingan baru. Selalu ada aja yang dapat aku ambil dari cerita atau tulisan yang aku baca. Ya, seperti ini nih, aku lagi baca. Rasanya ada yang kurang kalau belum berkunjung sama blog yang sering nangkring di komen blogku..

    ***

    Saat ini aku baca tulisan mas Yoga karena gara-gara mati lampu. Di kost mati lampu tepat pukul 00.07, secara otomatis internetnya mati. Aku pergi ke kostkku yang gak mati lampu, numpang cas sekalian numpang internet, mau baca, udah lama gak main, dan memang baru sempet post juga setelah dua minggu terakhir gak, karena ada kesibukan lain..he

    Sampe lampunya nyala, tulisan ini menemaniku..he
    Istirahat dulu, besok mampir lagi sembari nunggu dibales.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, komentarmu panjang banget, Mas Andi. Bisa sampai jadi curhatan sendiri. Apalagi bacanya pas listrik padam. Haha. Nuhun, ya~

      Iya, Mas. Curhat itu penting banget. Entah ke orang tua, guru, sahabat, dan lain-lain. Yang penting nggak salah berbagi cerita sama orang. Sebab, suka ada temen yang pas kita curhatin, eh malah menghakimi ini-itu. Nggak memberikan solusi sama sekali. Padahal kita cuma butuh didengar aja itu udah bikin lega.

      Jadi main ke blog cuma biar di-follback dan dapet kunjungan balik, ya. Huhuhu. Parah. :( Padahal kan blogwalking buat ajang silaturahmi, ya. Saling menghargai sesama bloger. Dengan baca tulisannya, dan ya memberikan komentar yang baik. Nggak mesti panjang sebetulnya oke aja. Asal relevan sama tulisan. Nggak tau-tau komentar, padahal cuma baca judul atau malah langsung komen tanpa baca sama sekali. :'(

      Ya, kalau lagi sibuk santai aja aturan mah. Tidak perlu memaksakan diri untuk berkunjung balik. :D

      Delete
    2. Iya ya, panjang..hehe
      Tapi kalau udah baca selalu ada yang muncul dalam kepala, padahal niat pendek aja komennya, tapi yang mengalir di otak, membuat tangan ini terus nulis..hehe

      Delete
  25. Isi suratnya relateable sama kondisiku saat ini; dulu, aku menulis karena hanya ingin curhat dan nulis tanpa iming-imping dibaca atau pun dikomentari, karena tujuan utamaku adalah untuk mengurangi beban pikiran dan keresahan aja. Sekarang justru sebaliknya, aku sering berharap tulisanku dibaca orang, berharap ada yang berkomentar untuk sekadar memberi saran dan pendapat tentang tulisanku. Huhu

    Beberapa bagian dari isi surat Nolan juga berhasil menampar aku, nih. Di bagian "Kejahatan terbesar yang pernah kulakukan adalah menipu kalian dengan memalsukan kenyataan dan berpura-pura bahwa aku tampak begitu menikmati saat-saat menulis dan membuat cerita." Harapan agar tulisan dapat dibaca orang kadang bikin aku [pengen] memanipulasi keadaan, aku menulis dengan keterpaksaan (bukan menulis dari hati), jadi terkadang tulisan tersebut gak mengalir seperti curhatan aku yang dulu. Hiks. Untungnya beberapa hari ini, aku udah mulai merenung lagi, merenung tentang tujuan utamaku menulis, aku pengen nulis kayak dulu lagi.

    "Aku masih suka sedih melihat orang-orang yang mengunjungi blogku, tapi tidak membaca tulisanku. Mereka cuma ingin meninggalkan komentar sebagai sebuah jejak. Tujuan mereka sepertinya agar aku mengunjungi balik blognya." IKUTAN SEDIH BACA INI! Beberapa hari terakhir ini aku jarang blogwalking, jarangr komen-komenan juga, kalaupun bewe, kadang cuma baca-baca tanpa ninggalin jejak. Dari situ, aku merasa salut sama mereka yang konsisten ngeblog, rajin BW, dan memberi komentar di banyak blog padahal blog yang sering dikunjungi itu jarang berkunjung balik, termasuk aku sepertinya. Hiks, maapkan:(

    Terlepas dari isi surat yang beberapa bagiannya relate sama aku, tulisan ini keren! Saat baca, aku mikir, kalau ini bukan Yogga yang nulis berati ini Alter-Ego-nya si Yogga, kali ya, sama kayak Icha yang punya Alter-Ego, yang beberapa tulisannya juga ditulis pake sudut padang si Alter-ego. Eh, ternyata ini tulisannya Nolan yang memnijam tubuhnya Yogga. Membahas soal bunuh diri yang sekarang makin menjamur, banyak tulisan yang menyampaikan tentang bunuh diri, dan cara penyampaiannya biasa dan terkesan membosankan, kalau dikemas kayak gini justru bikin orang makin mikir tentang akibat dari bunuh diri, tentang tindakan rangorang sekitar untuk meniminalizir tidakadan bunuh diri, dll. apa lagi ada penggambaran tentang kehidupan setelah bunuh dirinya Nolan yang hidup di dimensi berbeda. Ini nice banget, menurutku, Yog. \:D/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm, tapi kalau kupikir-pikir setiap penulis pasti butuh pembaca dan tukang komentar yang ngasih kritik dan saran gitu. Semacam dapat apresiasi, kan. :D

      Semoga nggak menipu diri lagi dan bisa menulis seperti semula ya, Nov. Yang penting mah bisa terus nulis. :)

      Hahaha. Aku, sih, blogwalking karena emang pengin baca dan sekalian silaturahmi. Orang mau gantian berkunjung itu hak mereka. Nggak berharap biar dikunjungin balik kayak gitu. Makanya kadang sebel, kan, lihat orang yang komentar tapi kok kayak nggak baca dan cuma ngasih tanda udah main ke blog kita aja. :|

      Wahahaha alter ego. Ya, bisa-bisa. XD Tapi Icha udah nggak pernah nulis pakai sudut pandang Alzhema itu deh. Udah lama banget kayaknya masa itu. Iya, kebanyakan orang yang nulis tentang bunuh diri itu terlalu serius, ya. Jadinya ngebosenin. Uhuy dibilang keren. Nuhun! Padahal aku lagi coba-coba bereksperimen dalam menulis nih. :D

      Sekali lagi, makasih sudah komentar panjang kali lebar begini ya, Nov. Ehehe.

      Delete
  26. Sukak sedih, beneran deh, sama orang-orang yang memutuskan untuk bunuh diri. Itu saking depresinya dan ngerasa gak punya kawan buat ngobrol. :(

    Yah memang susah sik, apalagi di zaman ini, banyakan orang mau jadi kawan buat seneng-seneng aja. Sedihnya? Jangan harap. Huhuhu.

    Semoga ke depannya gak ada pemikiran kek gitu lagi ya, Yog. Hidup terlalu manis untuk diakhiri. :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Butuh banget yang namanya curhat. :) Sebetulnya masih ada, kok. Cuma ya gitu, jarang~

      Loh, itu kan si Nolan bukan gue. :p

      Delete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.