Bloknot Bagian 2: Rina atau Rani?

27 comments
Bagian Satu: Bloknot

***

Perempuan yang dipanggil “Rina” itu pun mengernyitkan dahinya dan tampak kebingungan. “Emm... maaf, Rina itu siapa?”

“Hah, aku salah orang, ya?” tanya Yoga.

Yoga bisa-bisanya salah mengenali orang. Setelah melihat perempuan ini dengan lebih jelas, ia ternyata cuma mirip kalau dilihat sekilas. Rambutnya jauh lebih hitam daripada Rina—yang berambut kemerah-merahan karena terlalu sering memakai pengering rambut. Hidungnya juga sedikit lebih mancung, meskipun masih termasuk pesek. Tubuhnya sedikit lebih kurus dan pipinya juga tidak terlalu tembam. Dan, suaranya pun terdengar lebih lembut.

“Aduh, kupikir kau itu temanku. Habisan mirip, sih. Maaf-maaf.”

Lalu, perempuan itu bilang tak masalah dan tersenyum. Lagi-lagi malah wajah Rina yang muncul. Yoga sebisa mungkin berusaha fokus dan begitu keras menghapus gambaran muka mantan kekasihnya itu.

Selagi Yoga bergeming, perempuan itu kemudian menjelaskan kalau dirinyalah yang menemukan buku catatan Yoga. Mereka pun berkenalan. Nama perempuan itu: “Rani”. Ya, nama itu mirip dan seperti sebuah anagram dari Rina. Yoga kemudian mempersilakannya duduk. Karena Rani tidak suka duduk berhadapan dengan orang yang baru dikenalnya, ia pun memilih duduk di sebelah kiri Yoga.

Sore ini Rani mengenakan kaos belang hitam putih bergaris horizontal. Dengan bawahan blue jeans dan sneakers berwarna senada. Ia menggendong tas hitam berbahan poliester, yang di dalamnya mungkin berisi bloknot milik Yoga.

Sehabis duduk bersama, awalnya mereka sama-sama canggung. Rani entah kenapa terdiam. Ia sepertinya grogi bertemu dengan seseorang yang telah menulis beberapa puisi di buku catatan yang sempat ia baca semalam. Baginya, puisi bikinan Yoga mengagumkan. Rani juga kerap membuka dan membaca tulisan di blog Yoga. Ia menyukai tulisan-tulisan curhatnya yang entah kenapa membuat dirinya merasa sudah kenal dekat. Apalagi komentar di blognya terbilang lumayan banyak. Tanda kalau tulisan-tulisannya memang memiliki pembaca setia. Rani saat ini seolah bertemu selebritas.

Akhirnya, Yoga yang memecah keheningan dengan bertanya kepada Rani ingin memesan menu apa. Setelah pesanan ditentukan, Yoga segera memanggil pramusaji. Ia memesan mi goreng jumbo tante (tanpa telur) dan es teh manis, sedangkan Rani memesan internet (indomie telur kornet) rasa soto dan es teh tawar. 

Sembari menunggu makanan itu matang, mereka mengobrol, mengobrol, dan mengobrol. Rani sebelumnya meminta maaf karena telah lancang membuka bloknot itu dan membaca isinya. Yoga pun suka tidak suka harus memakluminya. Yang penting bloknotnya itu ketemu. Setelah itu, Rani memuji beberapa puisi di buku catatan Yoga yang belum pernah ditampilkan di blog. Ya, beberapa perempuan memang lebih menyukai laki-laki yang menulis puisi dibandingkan berprofesi sebagai polisi.

Yoga malah merasa malu sebab puisi itu biasa saja baginya. Rani pun berusaha meyakinkannya kalau puisi itu jujur apa adanya dan tidak rumit—tidak perlu membuka kamus untuk mencari kata yang asing. Namun, Yoga tetap mengelak kalau tulisannya masih jauh dari kata bagus. Lagi-lagi Rani memberikan motivasi agar Yoga tidak minder. Rani bilang kalau puisi itu sudah dapat dikatakan “lumayan”. Setidaknya begitulah penilaian Rani.

Belum sempat Rani melanjutkan perkataannya soal puisi, pramusaji mengantarkan pesanan ke meja mereka. Aroma mi instan dan cabai rawit yang mulai menyeruak hidung, sontak membuat mereka segera menyantapnya terlebih dahulu dan menunda pembicaraan. Beberapa saat kemudian, entah kenapa mecin tiba-tiba membuat lidah Rani lebih luwes dalam berbicara.



“Tulisan di blogmu itu bukan puisi milik Hehe Darmansyah, kan? Itu sebenarnya puisi di bloknotmu sendiri yang hilang dan akhirnya kutemukan?”

Yoga masih fokus menyantap mi gorengnya. Memutar mi dengan garpu, lalu melahapnya.

“Aku sudah baca tulisanmu yang Gadis Macan. Nama Hehe Darmansyah kamu gunakan di tulisan itu. Ia cuma tokoh fiksi. Ia tidak nyata. Betul kan, Yog?” 

Yang ditanya tidak kunjung menjawab.

“Ya udah, kalau nggak mau jawab. Berarti itu emang bikinanmu. Akuin aja apa susahnya, sih?”

Yoga mendengus, kemudian menoleh ke kiri dan berkata, “Terserah kau sajalah. Lebih baik kita habiskan dulu makanan ini, ngobrolnya nanti.”

Rani langsung cemberut dan terpaksa menyimpan pertanyaannya itu. Ia kembali melahap makanannya. Cara Rani makan mi itu mirip dengan Rina; Rani menyisakan telur dan kornet untuk dimakan terakhir. Yang membedakannya, Rina menerapkan cara makan itu ketika makan burger. Dagingnya pasti ia pisahkan dulu sementara dan memakannya nanti.

Setelah piring mereka berdua kosong, Rani lalu membahas tentang puisi lagi. 

“Yog, kok kamu bisa kepikiran kalimat ‘Mereka bilang tak ada kata terlambat. Tapi jalan menuju hatimu mulai tersumbat’? Rimanya bisa pas gitu. Ajarin aku bikin puisi dong! O iya, puisi itu untuk mantan pacarmu, kan?”

Yoga memilih diam. Ia malas membahasnya. Rani kemudian protes kenapa nggak mau jawab pertanyaannya dari tadi?

“Tolong ya, aku nggak mau bahas itu. Ngomong-ngomong, bloknotku mana?”

Rani lagi-lagi sebal karena Yoga tidak mau menjawab. Akhirnya, ia pun membuka tasnya bermaksud mengambil bloknot. Mungkin dengan memberikan bloknot itu, barulah Yoga bersedia dihujani pertanyaan dan mau menjawabnya. Setelah dilihat, ternyata buku catatan itu tidak ada di dalam tas. Bloknot itu sepertinya tertinggal di rumah. Rani menggaruk-garuk rambutnya dengan tangan kiri dan bilang, “Aduh, kayaknya bukumu ketinggalan, Yog.”

“Kau mencoba untuk mempermainkanku, ya?”

Rani mengecek tas sekali lagi dan bloknot itu tetap tidak ada. Rani pun akhirnya menjelaskan secara jujur kalau ia tadi sepertinya betul-betul sudah memasukkan buku itu ke dalam tas.

“Perasaan tadi udah aku masukin tas deh.”

“Nggak usah pakai perasaan!” suara Yoga mulai meninggi.

Rani bergidik mendengarnya. Ia pun terus berusaha meyakinkan Yoga kalau buku itu aman di kamarnya. Ia tidak bermaksud menipu atau mempermainkan Yoga. Akhirnya, ia coba melakukan penawaran dengan berkata, “Sebagai permintaan maaf, aku yang traktir kamu sekarang. Kita ketemu lagi nanti. Kamu juga punya nomorku, kan? Aku janji tidak akan ganti nomor.”

Namun, Yoga tidak mau tau dan menginginkan bloknot itu sekarang. Yoga kemudian usul untuk mengantar Rani pulang sekalian mengambil buku itu. Sayangnya, Rani tidak mau bertemu di rumahnya. Ia pun bercerita kalau ayahnya seperti singa kelaparan setiap kali mengajak laki-laki main ke rumahnya. Kalau ayahnya tidak suka, entah kenapa keberanian laki-laki itu seolah diterkamnya. Dan, jangan berharap bisa kembali berkunjung ke rumah itu. Yoga masih tetap tidak peduli. Ia cuma ingin bloknotnya kembali sekarang juga.

Lalu, Rani kembali memohon jangan bertemu di rumahnya dan memasang tampang melas. Yoga pun luluh.

“Ya udah, besok kita bertemu di Warmindo ini lagi,” ujar Yoga.
“Jangan besok. Aku ada les piano.”

“Halah, omong kosong!”

“Ya, pokoknya aku nggak bisa kalo besok. Tiga hari lagi gimana?” tawar Rani.
“Besok!”
“Lusa aja deh. Lusa.”

Akhirnya mereka sepakat untuk bertemu dua hari lagi. Setelah Rani membayar pesanan mereka, tapi mereka belum juga meninggalkan Warmindo itu. Rani masih ingin mengobrol. Yoga pun menanyakan apakah Rani tidak memakai WhatsApp? Rani menggelengkan kepalanya dan menjawab cuma pakai Line. Sedangkan Yoga malah sudah menghapus aplikasi itu, sebab waktu itu ingin menghapus ingatan tentang Rina yang selalu menggunakan stiker di setiap percakapan. Rani kemudian menyuruh Yoga untuk memasangnya lagi. Namun, Yoga berbohong ke Rani kalau memori ponselnya sudah penuh. Maka, jalan satu-satunya bagi mereka ialah komunikasi via SMS atau telepon seperti yang dilakukan orang-orang 10 tahunan yang lalu.

“Nanti ketemunya jangan di sini lagi mending, Yog.”

“Kenapa?”

“Aku nggak mau sering-sering makan mi instan. Lebih baik kita ke kafe atau...,” Rani berhenti berbicara, ia sedang berpikir tentang suatu tempat yang harganya cukup terjangkau. “Mekdi aja gimana?”

“Kau kan bisa pesan omelet atau roti bakar. Aku lagi berhemat dan belum jadi mentraktirmu nih.”

“Mekdi kan termasuk murah.”

“Kau kemarin yang minta traktir di sini.”

“Ya udah, habis dari Warmindo baru ke Mekdi. Biar ngobrolnya juga lebih nyaman. Oke?”

“Hmm bolehlah.”

***

Yoga mengantarkan Rani sampai ke halte TransJakarta Grogol yang tidak jauh dari Warmindo itu. Setelah itu, mereka pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Yang satu merasa kesal karena bloknotnya belum dapat kembali hari ini. Yang satunya lagi senang karena bisa membaca isi bloknot itu lebih banyak.

--

Gambar diambil dari: SINI
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

27 comments

  1. bloknot itu apaan ya bang, bneran gk tahu.. hhehe

    ReplyDelete
  2. Kirain judulnya bakal "Rina atau Nose?"

    Seperti biasa. Kalau blog ini sudah masuk sesi cerbung, saya bakal nebak-nebak cerita lanjutannya. Prediksi saya, mereka ketemuan di Mekdi minum segelas milkshake, ketemu Agus. Lalu Rani dan Agus bikin kisah es krim. Tolong, ya. Maaf-maaf nih kalau ternyata beneran begitu.

    Yang saya suka dari ciri khasnya Yoga ini pake "kau-kau". Nandain dialognya Yoga banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain Rina Nose ada Rina siapa lagi, sih? :|

      Yah, ketebak ya kalau pakai ide begitu. Huhuhu. :( Biar karakternya konsisten sih, Rob. Wqwq.

      Delete
  3. Kuharap perempuan yg menyukai laki2 puisi jumlahnya makin banyak dibanding yang suka ama pulisi...


    aaaahh... malah mirip doang, bukan Rina... :D ceritanya masih belom menunjukkan bakal ke arah klimaks, malah masih sekitar penjelasan terhadap komentar puisi kemaren.. ditunggu lagi sambungannya, Yog.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya, Rabb. o:)

      Kalau bener itu Rina nanti ceritanya lain. :( Tapi bisalah diubah jadi versi lain nanti. Wqwq.

      Iya yak, aturan bagian kedua udah klimaks kalau mau dikelarin di bagian ketiga. Terus gue jadi bingung mau jadi berapa bagian nih. :|

      Delete
  4. Aah masih lanjut ! Penasaran nih Bang !

    Sepertinya saat seseorang menemukan barang kita yang hilang, kemudian datang, mengembalikan, lalu kenalan, adalah cara paling indah untuk berteman. Duh~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue juga penasaran kapan kira-kira bisa kelar diedit. Iya, ya. Gue pernah berteman dengan awal seperti itu dan sungguh indah. :)

      Delete
  5. Anjir lah. Yang bagian perempuan lebih suka lelaki nulis puisi daripada lelaki berprofesi polisi itu harus dibaca sama Reyhan Ismail! Rey harus sadar dirinya tidak boleh phobia sama lelaki berseragam! Hidup Mr. gRey.

    Huahaha. Aku ngebayanginnya Yoga ini ketus-ketus gemesin. Kayak Rangga AADC gitu. Kalau Rangga kan pake "Saya," sebagai ciri khas kalau dia ngomong, nah kalau Yoga ini pake "Kau." Dan mereka berdua sama-sama suka nulis puisi. Terus si Rani ini apa perasaanku aja ya, mirip sama Cinta. Dia lebih agresif, lebih inisiatif, dan sedikit usil. Persis kayak Cinta AADC. Huehehehe. Lanjutkan, Yogs! Penasaran nih aku, apakah tragedi bloknot itu berakhir beneran di Mekdi atau di kamar hotel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. TERIMA KASIH SUDAH MENGINGATKAN ICHATASYA!
      AKU AKAN KWAT!!!

      Delete
    2. Icha: Gue juga nggak ngerti kenapa bisa ngetik kayak gitu. XD Gokil disamain sama Rangga. Aduh, dibilang mirip AADC pula. Ini cerpen belum ada apa-apanya wqwq. Tapi ternyata kalau dipikir, iya juga. Gue sendiri nggak engeh ini mirip. Padahal AADC nggak dijadiin referensi pas dapet ide dan nulisnya. Mungkin sebuah kebetulan. :)

      Ngapa jadi kamar hotel wehhh?

      Rey: Muahaha. Semangat, Rey!

      Delete
  6. Yaahh....!! Ternyata mirip aja, kirain mantan!! πŸ˜‚πŸ˜‚

    Gimana kalo sukanya sama lelaki berprofesi polisi yang suka menulis puisi. Terus puisinya tentang kegiatan di asrama dulu. Keren kali ya..

    Udah ku duga pasti itu buku bakalan ketinggalan biar bisa ketemu lagi. Dasar perempuan picik!! Eehh.. Tapi kalo gak gitu bakalan tamat ceritanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa pada berharap itu beneran mantan dah? :|

      Wuah, jadi merangkap gitu? Maruk itu namanya! :p Terus sekarang bingung gimana cara untuk mengakhirinya. :)

      Delete
  7. rambut merah rina bukan kena herdreyer itu, kayaknya kebanyakan main layangan di lapangan deh?

    "beberapa perempuan memang lebih menyukai laki-laki yang menulis puisi dibandingkan berprofesi sebagai polisi"--->ini udah ada penelitiannya kah? kalau beneran ada, harus keburu belajar bikin puisi ini saya, biar ketje badaee. idola para wanita hahaha

    Bloknot bagian 3 : Meet Up ke-2 bersama Rani di Mekdi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi, sih. :D

      Nggak sempet melakukan riset lebih dalam. Tapi 5 dari 10 perempuan yang gue kenal, nggak suka cowok berseragam. Sisanya mungkin suka. Jadi setengah-setengah, kan? Hahaha.

      Judulnya makin panjang aja. XD

      Delete
  8. Masih penasaran di Rina dan Rani itu. -_-

    ReplyDelete
  9. Lama nggak main ke sini, bah.. sekali main langsung borong baca tulisan ka Yog. Wakakak.
    Perempuan memang suka puisi, tapi kebanyakan mereka suka puisi yang nggak njelimet sih ka lebih tepatnya. Bener kata Rani.
    Ngebaca tulisan di buku catatan khusus punya orang lain emang 'saru', sih. Tapi kalo nggak dibaca, penasaran. Hehehe.
    Sepertinya kecerobohannya Rani, yang ketinggalan buku itu bagian dari modus. Tapi semoga saya salah. πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha. Makasih ya udah baca, Nur. :D

      Wih, ada yang sepakat nih sama Rani. Asyek! :) Bisa jadi, sih, dia emang sengaja ninggalin biar ketemu lagi. :p

      Delete
  10. bentar, bentar. yoga di sini. fiksi atau non fiksi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pembaca bebas menentukannya. Mungkin sebagian cerita memang nyata, terus dibuat fiksi. Atau ini emang fiksi yang dibikin seolah-olah kenyataan. Ehe. :)

      Delete
  11. Mekdi termasuk murah? Helloooow? Sunday strawberry aja sekarang uda berapa! -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu kan menurut Rani, Kak Beb. Yoga buktinya ngotot di Warmindo itu. :(

      Delete
  12. Yoga di sini cuek amat anjiiisss. Hahahahaa
    Kok gue malah bayangin rambut Rina merah karena abis dicat pake miranda yaa:(

    Ini part tiganya mana nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar keren gitu lho~
      Pengalaman ngecat rambut, ya? :D

      Ada di draf kok, tapi males ngeditnya. Wqwq.

      Delete
  13. Kamu gitu deh, suka bikin penasaran cerita2nya :D. Ini nih yg bikin ga bosen baca cerita2 di blogmu :D. Suka nebak2 sendiri jd nya, ini cerita beneran ato cm rekaan doang sih :D. ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar pembaca pada ngikutin terus, sih. Dan bertanya-tanya. :p Rekaan seolah dibuat beneran ini, tapi ya sebagiannya ada yang pengalaman. Hahaha.

      Delete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.