Beberapa hari yang lalu saat libur kerja, aku memutuskan untuk bertualang. Kamu mungkin tau rasanya bekerja selama 6 hari dalam seminggu dengan semangat yang kurang itu seperti apa. Nah, bagiku itu cukup menjenuhkan. Ketika libur, lalu cuma tidur-tiduran di rumah itu malah menambah rasa bosan. Mungkin mengistirahatkan tubuh itu perlu, tapi jiwaku juga butuh sesuatu yang baru. Yang membuatku kembali menjalani hari dengan penuh kesegaran. Maka, jadilah aku pergi bertualang.


Pertualanganku ini berlangsung selama sebelas jam. Semuanya berawal ketika aku memulai perjalanan dari Stasiun Bekasi dengan tujuan Stasiun Sudimara (Tangerang Selatan) menggunakan kereta listrik (KRL) khusus area Jabodetabek. Sebetulnya aku tidak begitu suka naik kereta, tetapi kalau menggunakan motor rasanya pasti tak sanggup. Perjalanan dari ujung ke ujung dan duduk berjuang melawan macet tentunya bisa membuat pantatku menipis. Dan karena belum memiliki helikopter, maka keretalah yang jadi solusinya.

Mungkin kamu bingung apa tujuanku pergi ke Sudimara. Aku janjian bersama teman-teman bloger: Adibah dan Yoga, untuk berjumpa sembari kulineran di sana. Mereka, sih, enak jaraknya pada dekat. Yoga dari Palmerah cuma 4 stasiun, Adibah apalagi yang tinggal naik angkot.
Read More
Beberapa media saat ini begitu ramai dengan berita bunuh diri dan depresi. Yang pertama kudengar adalah tentang Oka atau Eka gitu, aku lupa namanya. Kabar burung mengatakan ia bunuh diri. Tapi aku tidak mudah percaya akan gosip murahan. Lagian, aku juga tidak kenal ia siapa. Kemudian berita selanjutnya ialah kematian Chester Bennington, vokalis Linkin Park, yang begitu menamparku. Ia bunuh diri dengan gantung diri. Aku masih tidak percaya kenapa orang-orang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu? Itu sungguh membuatku nelangsa.





Aku begitu sensitif dengan hal-hal yang berhubungan dengan bunuh diri. Aku tiba-tiba jadi ingat tentang sebuah surat bunuh diri yang kutemukan di kamarku beberapa hari yang lalu. Surat ini menurutku cukup panjang. Jadi, sembari membaca surat ini, kau lebih baik tarik napas dahulu dalam-dalam, kemudian embuskan secara perlahan. Saat membacanya, kuharap kau jangan sampai terbawa suasana. Jika sedang depresi, lebih baik tutup saja tulisan ini. Baca lagi lain waktu. Atau, baca saja tulisan-tulisan yang lain. Sebab ini memang surat bunuh diri seseorang. Aku sudah memperingatkanmu akan hal ini, ya. Baiklah kalau kau tetap ingin membacanya. Sambil menemanimu membaca, kau boleh menyediakan camilan dan kopi. Tapi kalau itu tidak ada, air putih pun tidak masalah.

Oke, inilah isi surat yang kutemukan itu.

***

Karena ditulis oleh orang goblok yang jelas-jelas lebih pantas menjadi seorang pengeluh yang lemah. Surat ini sepertinya mudah sekali untuk dimengerti.
Read More
Membaca cerita seram (kalau di Twitter sering disebut memetwit) 2 hari belakangan ini entah kenapa lumayan membuat gue bergidik. Anehnya, ketika gue takut dan punggung mulai panas, apalagi badan ikutan terasa pegal-pegal, itu justru semakin membuat gue penasaran. Gue seolah ketagihan membacanya.



Lalu saat gue merasa udah terlalu banyak energi negatif dan berusaha membuang pikiran-pikiran mistis itu, tiba-tiba gue malah mengingat kejadian hari Rabu atau Kamis (maaf gue lupa percisnya) kemarin. Pada hari itu, Nyokap sedang mencuci pakaian dari sehabis asar, dan sampai azan Magrib ternyata belum kelar. Namun, Nyokap tetap melanjutkan aktivitasnya, sedangkan gue berangkat ke masjid.

Sehabis Magriban, gue kayak biasa kembali ke kamar dan bermain ponsel sambil menyender tembok. Karena gue tidak menutup rapat pintu kamar, ruangan sebelah—kamar orang tua—ada sebuah celah. Dan, seketika itu gue melihat ada putih-putih atau mukena yang bergerak. Karena kondisinya kami di rumah berdua doang. Sore itu Bokap masih di kantor dan adek gue keluyuran. Maka gue berpikiran kalau itu Nyokap lagi jeda mencuci, untuk salat terlebih dahulu.

Ya, capek juga kali nyuci sekitar 2 jam lebih (tolong, jangan dikatain anak durhaka karena nggak bantuin). Gue pun tidak berpikiran yang aneh-aneh, lalu kembali fokus mainan ponsel untuk memperhatikan timeline Twitter. Sekitar 5-10 menit kemudian, Nyokap masuk kamar gue. Beliau pun menggelar sajadah dan bermaksud ingin salat.

Melihat hal itu, ya gue kaget bangetlah dan langsung bertanya, “Lah, ngapain salat lagi, Bu?”

Nyokap menoleh ke gue dan merespons, “Kapan Ibu salat?”

“Tadi di kamar sebelah,” jawab gue disertai kebingungan.

Kemudian Nyokap menjelaskan kalau dirinya baru kelar mencuci dan dari tadi tidak beranjak ke mana pun. Gue tetap ngotot di kamar sebelah ada yang salat. Lalu Nyokap menghindari debat itu. Beliau pun memilih salat dulu.

Begitu kelar salat, kami pun melanjutkan kembali obrolan yang tertunda itu. Gue masih ngeyel kalau tadi melihat ada yang salat di kamar sebelah. Meskipun cuma sekilas dan tidak benar-benar melihat jelas. Hingga akhirnya Nyokap menjelaskan, “Oh, itu paling penunggu rumah kita. Kakek berjubah putih.”

Terus gue nggak tau mau bilang apalagi selain mengeluarkan kata "Oh". Begitu Nyokap keluar dari kamar gue, gue sendiri tidak merasa ketakutan atau berpikiran buruk. Keadaan tetap seperti biasanya dan kayak nggak terjadi apa-apa. Habisan kami sekeluarga udah terbiasa lihat sekilas-sekilas dan "dia" pun nggak mengganggu.

*

Sebenarnya, kejadian mistis di rumah seperti tadi itu sudah terjadi sejak gue SD kelas 2 atau 3. Kala itu, gue juga melihat sekilas putih-putih. Awalnya, gue lagi jagain sambil ngajak main Sadam—adik gue, yang saat itu umurnya baru sekitar 2-3 tahunan—di kamar (yang sekarang jadi kamar gue, dulunya adalah kamar orang tua) karena Nyokap yang mau mandi sore dan salat Magrib.

Saat sedang asyik mengajak dia bercanda, tiba-tiba Sadam menangis kencang. Gue nggak tau apa yang salah dengan bercandaan gue saat itu. Gue pun bertanya, “Heh, kenapa kok nangis?”

Dia tidak menjawab dan tangisannya pun semakin keras. Saat gue sekilas mengalihkan pandangan, gue melihat Nyokap lagi berdiri salat Magrib di sebelah kasur di pojokan kamar. Namun, karena terdengar suara gebyuran air, berarti Nyokap masih berada di kamar mandi. Setelah gue lihat lagi, rupanya itu memang bukan Nyokap. Karena beberapa hari sebelumnya saat hal itu terjadi, Sadam sehabis melihat hantu bungkus—atau yang lebih dikenal pocong—di sebelah rumah. Oleh sebab itu gue berasumsi kalau putih-putih tadi adalah makluk yang sama. Gue pun hanya bisa menutupi muka dengan bantal karena nggak bisa teriak ataupun menangis.

Sejujurnya, gue lupa bagaimana wajah yang terlihat kala itu. Apakah yang membuat gue bergeming saat masih bocah itu adalah wajah yang seram atau memang refleks takut karena melihat sosok yang tidak biasa? Gue tidak mau memaksakan ingatan atau mengimajinasikannya seperti yang ada di film-film hantu. Gue justru ingin melupakan wujud itu.

Read More
Berangkat dari membaca tulisan lama di bloknot, gue kemudian menemukan catatan ide tentang proyek pertanyaan yang belum sempat tertuliskan. Gue mendapat inspirasi itu awalnya dari sebuah kutipan Mbah Sujiwo Tejo,
Lama-lama orang malas romantis, karena takut disebut galau. Malas peduli, takut disebut kepo. Malas mendetail, takut dibilang rempong. Malas berpendapat, takut dibilang curhat. Malas mengubah sudut pandang saat debat, takut dibilang labil.

Waktu itu, gue memang termenung membaca kutipannya. Lalu, saat puasa dan menjelang Lebaran kemarin banyak orang yang resah tentang pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan para saudara: “Kapan lulus?, “Kapan punya pacar?”, “Kapan nikah?”, “Kapan mati?”, dan seterusnya. Gue pun kepikiran tentang sebuah proyek pertanyaan.

Meskipun pertanyaan-pertanyaan seperti itu nggak etis, tapi gue jadi kepikiran akan suatu pertanyaan yang begitu mengganjal di kepala. Kebetulan, kemarin juga sempat dibahas ketika gue ikut kelas menulis puisi Aan Mansyur. Ternyata, gue bisa berpikiran hal yang sama seperti Aan. Nggak nyangka.

Pertanyaan gue: Kenapa orang-orang sekarang ini jadi malas bertanya, terus takut dibilang kepo?



Misalnya di sebuah kelas saat perkuliahan, ketika dosen bertanya kepada mahasiswanya, jarang banget ada mahasiswa yang mau bertanya. Biasanya saat ada yang bertanya, kita akan kesal karena jam istirahat jadi ditunda. Atau kita menganggap orang yang bertanya itu cari perhatian atau cari muka kepada dosen. Padahal, kan, belum tentu. Mungkin dia bertanya karena memang belum mengerti materinya.

Oleh karena itu, gue pun mengusulkan proyek pertanyaan kepada anggota WIRDY. Proyek ini melatih untuk berpendapat dan berani bertanya. Tiap orangnya akan gue tanya sebuah pertanyaan. Kemudian, gantian mereka yang bertanya kepada gue. Bisa dibilang ini mirip QnA gitu, sih. Bedanya, gue merahasiakan siapa yang bertanya kepada gue.

Maka, inilah pertanyaan dan jawaban itu:

Satu

T: Kalau ngelihat tren blogger sekarang, blogger yang kayak lu (blogger curhat) itu masih punya tempat nggak, sih, di dunia blogging?
Read More
Bagian Satu: Bloknot

***

Perempuan yang dipanggil “Rina” itu pun mengernyitkan dahinya dan tampak kebingungan. “Emm... maaf, Rina itu siapa?”

“Hah, aku salah orang, ya?” tanya Yoga.

Yoga bisa-bisanya salah mengenali orang. Setelah melihat perempuan ini dengan lebih jelas, ia ternyata cuma mirip kalau dilihat sekilas. Rambutnya jauh lebih hitam daripada Rina—yang berambut kemerah-merahan karena terlalu sering memakai pengering rambut. Hidungnya juga sedikit lebih mancung, meskipun masih termasuk pesek. Tubuhnya sedikit lebih kurus dan pipinya juga tidak terlalu tembam. Dan, suaranya pun terdengar lebih lembut.

“Aduh, kupikir kau itu temanku. Habisan mirip, sih. Maaf-maaf.”

Lalu, perempuan itu bilang tak masalah dan tersenyum. Lagi-lagi malah wajah Rina yang muncul. Yoga sebisa mungkin berusaha fokus dan begitu keras menghapus gambaran muka mantan kekasihnya itu.

Selagi Yoga bergeming, perempuan itu kemudian menjelaskan kalau dirinyalah yang menemukan buku catatan Yoga. Mereka pun berkenalan. Nama perempuan itu: “Rani”. Ya, nama itu mirip dan seperti sebuah anagram dari Rina. Yoga kemudian mempersilakannya duduk. Karena Rani tidak suka duduk berhadapan dengan orang yang baru dikenalnya, ia pun memilih duduk di sebelah kiri Yoga.

Sore ini Rani mengenakan kaos belang hitam putih bergaris horizontal. Dengan bawahan blue jeans dan sneakers berwarna senada. Ia menggendong tas hitam berbahan poliester, yang di dalamnya mungkin berisi bloknot milik Yoga.

Sehabis duduk bersama, awalnya mereka sama-sama canggung. Rani entah kenapa terdiam. Ia sepertinya grogi bertemu dengan seseorang yang telah menulis beberapa puisi di buku catatan yang sempat ia baca semalam. Baginya, puisi bikinan Yoga mengagumkan. Rani juga kerap membuka dan membaca tulisan di blog Yoga. Ia menyukai tulisan-tulisan curhatnya yang entah kenapa membuat dirinya merasa sudah kenal dekat. Apalagi komentar di blognya terbilang lumayan banyak. Tanda kalau tulisan-tulisannya memang memiliki pembaca setia. Rani saat ini seolah bertemu selebritas.

Akhirnya, Yoga yang memecah keheningan dengan bertanya kepada Rani ingin memesan menu apa. Setelah pesanan ditentukan, Yoga segera memanggil pramusaji. Ia memesan mi goreng jumbo tante (tanpa telur) dan es teh manis, sedangkan Rani memesan internet (indomie telur kornet) rasa soto dan es teh tawar. 

Sembari menunggu makanan itu matang, mereka mengobrol, mengobrol, dan mengobrol. Rani sebelumnya meminta maaf karena telah lancang membuka bloknot itu dan membaca isinya. Yoga pun suka tidak suka harus memakluminya. Yang penting bloknotnya itu ketemu. Setelah itu, Rani memuji beberapa puisi di buku catatan Yoga yang belum pernah ditampilkan di blog. Ya, beberapa perempuan memang lebih menyukai laki-laki yang menulis puisi dibandingkan berprofesi sebagai polisi.

Yoga malah merasa malu sebab puisi itu biasa saja baginya. Rani pun berusaha meyakinkannya kalau puisi itu jujur apa adanya dan tidak rumit—tidak perlu membuka kamus untuk mencari kata yang asing. Namun, Yoga tetap mengelak kalau tulisannya masih jauh dari kata bagus. Lagi-lagi Rani memberikan motivasi agar Yoga tidak minder. Rani bilang kalau puisi itu sudah dapat dikatakan “lumayan”. Setidaknya begitulah penilaian Rani.

Belum sempat Rani melanjutkan perkataannya soal puisi, pramusaji mengantarkan pesanan ke meja mereka. Aroma mi instan dan cabai rawit yang mulai menyeruak hidung, sontak membuat mereka segera menyantapnya terlebih dahulu dan menunda pembicaraan. Beberapa saat kemudian, entah kenapa mecin tiba-tiba membuat lidah Rani lebih luwes dalam berbicara.

Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home