Bloknot

42 comments
Kehilangan sesuatu yang berharga itu identik dengan sebuah penyesalan. Kau mungkin bosan mendengar kalimat seperti itu, tapi begitulah adanya. Sehabis kehilangan, kita biasanya akan merenungi sesuatu itu saat masih ada. Mengapa kita tidak bisa menjaga ataupun merawatnya dengan baik?  Namun, kehilangan sesuatu yang berharga tidak melulu tentang seseorang. Kehilangan bisa soal benda, ingatan, atau keperjakaan.

Seperti apa yang sedang dialami oleh Yoga saat ini. Dari beberapa hal di atas, Yoga baru saja mengalami kehilangan. Mungkin kau akan menebak kalau ia kehilangan keperjakaan, tapi sayangnya bukan itu. Ia kehilangan sebuah benda. Benda itu bukan ponsel canggih yang harganya mahal, ataupun dompet—berisi uang dan kartu-kartu penting. Benda itu cuma sebuah bloknot. Sebuah buku catatan yang telah menemaninya selama beberapa tahun. Bloknot itu ia beli sekitar 3 tahunan yang lalu dan sekarang tentu saja sudah banyak berisi tulisan. Buku sejenis itu memang masih dapat ia beli di pasar atau toko. Tapi isi di dalamnya adalah harta karun yang paling berharga baginya. Yang tidak mungkin bisa ia beli di mana pun.

Sejelek apa pun tulisan tangannya maupun apa yang telah tertulis di bloknot itu, Yoga tetap menghargainya. Isi buku itu ialah rekam jejak dalam hidupnya yang sangat berarti. Ia tidak rela kalau sampai ada yang menemukannya dan membacanya tanpa izin. Lebih-lebih kalau buku itu dibuang, bukan dikembalikan. Apalagi kalau sampai dijadikan bungkus gorengan.

Awalnya, ia tidak tau bloknotnya itu hilang. Kala sedang ingin melanjutkan sebuah cerpen, yang draf awalnya sudah sempat tertulis beberapa paragraf di buku catatannya, barulah ia sadar kalau bloknot itu tidak ada di dalam tasnya. Kini, Yoga jadi kebingungan dan stres sendiri. Ia sudah membongkar tasnya lebih dari sekali, tetapi bloknot itu tetap tidak ditemukan. Ia pun telah mencari-cari di seluruh isi kamarnya; rak buku, lemari, dan kolong tempat tidur. Namun, bloknot itu belum juga ia dapatkan. Bloknot itu lenyap seolah ingin mempermainkannya.



Anjing! umpatnya dalam hati.

Seingatnya, hari ini ia tidak mengeluarkan apa-apa dari dalam tas. Kalaupun tadi ia sempat keluarkan, pasti akan dimasukkan kembali begitu rampung menulis atau mencatat suatu ide. Setelah yakin kalau hari ini ia tidak membuka-buka tasnya, ia mulai mengingat hari kemarin.


Kemarin malam, sepulang dari kantor, di perjalanan menuju rumah Yoga merasa perutnya butuh diisi. Ia tidak kuat lagi menahan lapar sehabis terjebak macet. Akhirnya, ia memutuskan untuk menunda kepulangannya dan belok ke sebuah Warmindo (Warung Makan Indomie). Sambil menunggu kondisi lalu lintas lebih lancar, pikirnya. Warmindo ini tidak begitu luas. Cuma ada 9 meja yang disejajarkan menjadi 3 baris. Yang mana satu mejanya untuk 4 orang. Lalu, ia duduk di meja paling pojok agar bisa menyender ke tembok. Ia memesan mi goreng dua porsi dan es teh manis.

Begitu selesai makan, sembari menunggu makanan itu tercerna, ia mengeluarkan bloknot dari dalam tas untuk mencatat kerangka tulisan untuk cerpen. Menurutnya, makan mi instan bisa menghasilkan banyak ide. Kandungan mecin dalam mi itu entah kenapa suka membuatnya lancar dalam menulis.

Sekitar 15 menit menulis, ia telah membuat catatan sebanyak 4 paragraf dan beberapa poin yang belum sempat dijabarkan. Untuk draf awal sepertinya ini cukup, pikirnya. Kala itulah perutnya mendadak sakit. Potongan cabe rawit di mi instan yang ia santap tadi sepertinya mulai bereaksi. Celakanya, toilet Warmindo ini sedang rusak dan tidak bisa digunakan untuk buang air besar. Yoga pun tergesa-gesa membayar pesanannya itu dan pulang ke rumah.

***

“Kayaknya bener ketinggalan deh kemarin,” Yoga bermonolog.

Ia kemudian mengambil kunci motor yang tergeletak di rak buku paling atas, tepat di samping novel 24 Jam Bersama Gaspar karya Sabda Armandio, dan bergegas keluar rumah lalu menyalakan motor.

Sesampainya Yoga di Warmindo, ternyata warung itu sudah tutup. Ia melihat arloji di tangan kanannya, pukul 22.35. Warung itu tutup pukul 22.00, kecuali pada hari Sabtu dan Minggu yang buka 24 jam. Yoga kembali mengumpat dalam hati, Sialan! Ia terlalu ceroboh sampai lupa memperhatikan waktu dan tanggal. Setelah sadar kalau warung ini baru akan buka besok pagi, ia memutuskan kembali ke rumah dengan perasaan hampa. Rasanya seperti sia-sia. Sudah memutuskan pergi jauh-jauh, tapi tidak mendapatkan apa yang dicarinya.

Begitu tiba di kamar, ia langsung merebahkan diri ke kasur sambil berkhayal sekaligus berharap kalau ada seorang perempuan yang akan menemukan dan mengembalikan bloknotnya itu. Tidak ada salahnya, kan, membuat angan-angan seperti itu ketika status lajang?

Namun, pikirannya yang lain tidak rela kalau buku kesayangannya itu sampai dibaca orang lain. Ia takut ide-ide beserta tulisannya itu dicolong. Tapi untuk mencari tahu informasi kontak, orang yang menemukannya haruslah membuka bloknot itu. Ya, Yoga memang sudah berjaga-jaga kalau suatu waktu buku itu ketinggalan, makanya ia menuliskan nama blog, email, dan nomor HP di lembaran pertama. Yoga pun hanya bisa pasrah dan semoga tulisannya tidak dicuri.

Masalahnya, adakah orang yang mau mencuri tulisan-tulisan anehnya itu?

Selagi pusing memikirkan nasib bloknotnya, ponsel Yoga tiba-tiba berdering. Ia kenal bunyi itu, tanda sebuah SMS masuk. Tapi, siapakah tengah malam begini mengirimkan SMS? Ia berpikir kalau itu palingan operator kurang kerjaan yang memberitahukan soal promo. Biasanya berisi bonus internetan dengan syarat menelepon sekian menit atau cukup melakukan isi ulang pulsa minimal Rp50.000. Jadi, Yoga pun tidak menghiraukannya dan tetap fokus memikirkan bloknot itu.

Ia kemudian sadar, barangkali itu adalah orang yang menemukan bloknotnya. Yoga segera mengambil ponsel yang tergeletak di samping laptopnya. Terdapat sebuah SMS dari nomor tidak dikenal: “ Kalau mau buku catatanmu kembali, silakan kirimkan pulsa 200.000 ke nomor ini.”

“Bangsat! Orang ini ingin memerasku,” ujar Yoga, kemudian langsung melakukan panggilan ke nomor itu.

Tiga kali menelepon, tetapi tidak ada jawaban. Saat menelepon keempat kalinya, barulah telepon itu diangkat. Belum sempat orang yang dihubunginya itu mengeluarkan suara, panggilan kemudian terputus. Yoga pun langsung menelepon lagi, kemudian suara operator mewartakan kalau pulsa tidak mencukupi. Karena berbeda provider, pulsa Yoga entah kenapa langsung habis begitu saja.

Ia pun memilih menyimpan nomor asing itu ke kontak. Yoga berniat untuk menghubunginya via WhatsApp. Ia juga bisa sekalian mencari tahu siapa orang yang menemukan bloknotnya itu. Apakah orang itu perempuan atau laki-laki? (tentunya ia berharap perempuan). Sudah tua atau masih muda? (ia pun berharap semoga usianya itu tidak jauh dengannya, cuma beda sekitar 2-3 tahun). Rasa penasaran benar-benar menguasai kepala Yoga. Sedihnya, tidak ada kontak WhatsApp yang muncul setelah nomor itu disimpan.

Yoga lalu berpikir, apakah zaman sekarang masih ada yang nggak pakai WA?

Tidak lama setelah itu, SMS kembali masuk: “Pulsamu habis, ya? Hahaha. Kalau begitu, kamu nggak perlu kirimin aku pulsa. Lebih baik kamu beli pulsa buat dirimu sendiri. Aku juga bercanda, kok. Sebagai tanda terima kasih karena telah menemukannya, kamu traktir aku makan di Warmindo deh. Tempat aku nemuin bukumu itu. Kita besok ketemu pukul 16.16, ya! PS: Jangan lupa beli pulsa :p”

Dan, Yoga pun semakin bertanya-tanya siapakah penemu bloknot itu?

***

For i can't help falling in love with you
For i can't help falling in love with you

Setelah lagu Fleet Foxes – Can't Help Falling in Love (cover Elvis Presley) selesai terputar di ponsel, kini gantian The Corrs - Radio yang mengalun sambil menemani Yoga menunggu kedatangan seseorang—yang menemukan bloknot miliknya.

It's late at night
And I'm feeling down
There're couples standing on the street
Sharing summer kisses and silly sounds

Sudah pukul 16.30, tapi orang yang ditunggunya belum juga datang. Ia bingung, kenapa orang-orang sering mengingkari janjinya sendiri. Kemudian ia cuma berharap kalau orang itu segera datang dan tidak sedang mengerjainya. 

But you're just in my head
Swimming forever in my head
Not lying in my bed
Just swimming forever

Setelah mendengarkan seraya bernyanyi pelan di lirik itu, Yoga mendadak ingat kenangan bersama mantan pacarnya, Rina. Seseorang yang memilih pergi karena sebuah kesalahpahaman. Yoga tidak mengerti, kenapa tiba-tiba Rina berenang dan menyelam di kolam pikirannya saat ini? Padahal lagu itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan mantannya. Bahkan, sepertinya Rina tidak tau lagu tersebut. Namun, kisah masa lalu—yang sepertinya belum selesai—itu pun mulai mengganggu kepalanya. Membuat dirinya tak nyaman.

Supaya pikiran tentang mantan pacarnya teralihkan, Yoga kemudian berusaha kembali ke masa sekarang dengan melepas earphone. Setelah itu, ia mematikan lagu dan mengetik pesan ke nomor asing semalam itu, “Kau di mana? Aku sudah sampai dari tadi.”

Tak lama, pesan itu langsung terbalas, “Aku juga sudah sampai, kok.”

Yoga begitu penasaran dan mencari-cari siapa orang yang akan ditemuinya itu. Yoga saat ini tidak lagi duduk di pojok. Ia memilih meja nomor 5, percis di tengah-tengah dan duduk membelakangi pintu masuk. Ia melihat sekeliling, ada 4 orang selain dirinya di Warmindo itu. Di meja nomor 9 (tempat ia pertama kali berkunjung), ada sepasang kekasih, yang sudah pasti bukan. Meja nomor 4, ada mas-mas berpenampilan lusuh, kayaknya juga bukan. Meja nomor 3, seorang perempuan berambut lurus sebahu yang hanya terlihat dari belakang. Namun, perempuan itu sepertinya juga bukan orang yang Yoga tunggu.

Seolah merasa ada yang memperhatikan, perempuan itu tiba-tiba menoleh ke arah Yoga. Dari samping wajahnya agak begitu familier. Perempuan itu tampak seperti aktris yang sesekali pernah Yoga lihat di FTV. Yoga pun salah tingkah dan segera membuang muka. Dugaan Yoga sepertinya betul. Perempuan itu juga bukan. Agak mustahil memang kalau perempuan itu yang menemukan bloknotnya, sebab hal itu cuma khayalannya semalam.

Lalu, saat membuang muka dan pandangannya tertuju ke arah pintu masuk. Ia melihat ada yang baru datang. Seorang pria bertubuh tambun, berambut keriting, berkumis tebal, dan berumur sekitar 35 tahun. Semoga bukan gadun ini, batinnya. Lucu sekali kalau bloknotnya ditemukan om-om. Tulisan-tulisannya, apalagi puisinya dibaca pria matang seperti itu rasanya sungguh menggelikan. Selagi Yoga membayangkan yang bukan-bukan, seseorang menepuk bahu kirinya.

“Yoga, ya?”

Yoga memutar kepalanya ke arah suara itu, dan terkejut bukan main dengan seorang perempuan di hadapannya ini. Ternyata ia perempuan yang tadi duduk di meja nomor 3. Dan, ternyata ia tampak begitu mirip dengan mantan kekasihnya.

“Rina?”

--

Gambar diambil dari sini: https://pixabay.com/id/buku-catatan-catatan-pena-menulis-1840276/
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

42 comments

  1. Iya bang, bukan dari apa itu bloknot-nya, tapi sentimental value yg ada di bloknot itu. Kenangan yg mungkin tercatat dalam sebuah bloknot~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm, ya begitulah, Rahul. Bukan dari harga bloknotnya, tapi harga isinya yang entah berapa mahalnya. Haha. :D

      Delete
  2. Eh serius ini ceritanya Yog? Eh apa gimana sik? Kok berasa kayak sinetron. Gue senyum-senyum bayanginnya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ((sinetron)) Karena bersambung gitu? XD

      Tergantung pembaca yang menilainya aja. Boleh mikir ini fiksi, boleh serius cerita gue. :p

      Delete
  3. Catatan kecil memang sungguh ada nilainya. Dan saya juga sering membuat catatan kecil untuk nanti saya jabarkan di blog. Tanpa catatan kecil, daya ingat kita lemah. Walau tampaknya hal kuno cara tersebut.
    Kemana saya pergi, senantiasa ditemani bolpen dan buku kecil, mirip tukang kriditlah.
    Ah salam buat itu yang mirip sang mantan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul itu, bg. Mencatat lewat manual (kertas dan pena) bikin daya ingat semakin tajam, kan. Dibandingkan mencatat di ponsel. :D

      Delete
  4. bersambung yah...
    yah kayak sinetron dong. penasaran gue saya tuh cewek tadi. manis gak yah atau jomblo gak yah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha udah 2 orang yang bilang ini sinetron. Cerpenku sepertinya menye-menye. Wqwq. Habisnya udah kepanjangan sih, Mas. :(

      Delete
  5. Kok Rina, sih? kan mantan kekasihnya Yoga itu kan *i*a :P

    ini bakal dibuat sambungannya kagak, Yog? aku ngehubunginnya ama sebagian isi bloknot yg puisi kemaren itu, jadi kepingan cerita yg bagus. tinggal nunggu penyelesaiannya aja... penyelesaian kenapa mereka pisah, kenapa rinanya mau datang lagi, tulisan dalam bloknot mana yg membuat rina yakin... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangkai sekali ini bawa-bawa mantan asli!

      Cerpen ini sebetulnya tercipta lebih dulu dari tulisan puisi itu. Cuma kemaren rasanya masih butuh diedit gitu. Hahaha. Doakan aja semoga ada lanjutannya (padahal emang udah ada). :D

      Ini malah jadi lu yang bikin ide-ide baru buat cerita lanjutannya. Wqwq. XD

      Delete
    2. bukan ngasi ide.. itu pertanyaan2 yg muncul karena penasaran ketika baca ceritamu ini.. mumpung udah ada kelanjutannya, ngeluncur ke sana dulu~

      Delete
    3. Iya, sih. Gue juga suka nebak-nebak sendiri gitu tiap baca cerbung. :D
      Semoga yang kedua tidak mengecewakan, ya. Bingung pas menggal ceritanya. :)

      Delete
  6. Mantan dan blocknote yg sama2 ilang ya wkwk
    Mantan juga punya sentimental value yg gede jugaa sepertinya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap orang memiliki nilai sentimental tersendiri, sih. :|

      Delete
  7. Yah gak jadi deket ama tang kumis tebel.. #kecewa

    ReplyDelete
  8. Itu Rina siapa idih! Rina mana wajahnya? Rina Nose yak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anjir Rina Nose. XD Bisa jadi, Jung. Wqwq.

      Delete
  9. Seneng bacanya. Tapi sebel. Napa mantan dah yang ditemuin... ._.
    Iya ih, terkadang tulisan sendiri kalo dibaca sama orang serasa canggung. Bisi dibilang lebay lah apalah ��
    Ini pasti fiksi kan yaaaa, kalo nyata... Duh, ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang yakin itu mantannya? :p Nah, kan. Ada rasa malu campur canggung. Hahaha. Hayo, ini fiksi apa nyata? :)

      Delete
  10. Ini crta nyata yg dbkin fiksi atau fiksi yg dibikin seolah nyata? Yauda anggep aja kduanya lah ya. Wkwk. Yg pnting menarik, jd nebak2 sapa yg nmuin :D kirain bapak2 brtubuh tambun td yg nemuin bloknotnya, kalo smpe bgtu zonk bgt yaak.. Bhahaha

    Ftv abs coyy bkunya dtmuin ma ceweee! Etapi ini mantan deng, klo ftv mah cewe asing-kenalan-jadian. Sdgkan ini mantan, lalu dipertemukan kmbli lwt bloknot. Apakah mrka akan (kembali) jdian?? Tunggu stlah pesan2 brikut ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba disimpulkan sendiri, Lu. Anggap keduanya juga boleh. :p
      Rasanya pasti awkward kalau sama gadun itu. :|

      Emang betul itu mantannya si tokoh? Wqwq. Kan ceweknya belum konfirmasi. :)

      Delete
  11. Dua hal yang menjadi tempat banyaknya kenangan bermuara itu datang kembali secara bersamaan? Kebahagiaan porsi double seperti mie goreng yang kau makan di meja nomor sembilan itu nyata.

    Ini kenapa aing jadi ikut-ikutan bikin cerpen di sini hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makan mi goreng double aja bahagia, ya. Bahagia begitu sederhana. Ehehe.

      Maka buatlah cerpen di blogmu sendiri, Ndra. :p

      Delete
  12. Replies
    1. Kan ini cuma cerpen, yang belum tentu nyata. :p

      Delete
  13. Taek lah kenapa namanya Rina. Udah bosan sama nama Rani ya, Yogs? Atau jangan-jangan ini plesetan dari nama mantan yang sebenarnya kayak yang Haw duga? Huahahahaha.

    Dan taek dah bawa-bawa gadun. Kalau aku yang jadi tokoh utama di cerpen ini, mungkin aku berharapnya gadun itu sih yang nemuin dan ngembaliin bloknotku. Huehehehe. Eh tapi serem sih. Candaan di smsnya pasti bukan minta kirimin pulsa, tapi kayaknya bakal jadi, "Kalau mau buku catatanmu kembali, kamu harus tidur dengan saya semalam.” SEREEEEEEEM :((((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak bosan, Cha. Nanti juga ada lagi di cerpen yang lain. :p Sayangnya, bukan pelesetan. Dia nggak ada hubungannya. :D

      Astagfirullah. Demi bloknot sampai harus menjual harga diri. Etapi bisa tuh jadi cerita baru. Wqwq. Bikin cerpen versi Kak Icha, dong. :v

      Delete
  14. Ini Yoga yang sukanya ngomong bangsat, berarti Yoga yang di Jakarta Undercover. Nggak salah lagi.

    Ini bersambung ya? Cerita selanjutnya judulnya "Blokwalking" bukan, nih? Ketemuan sama Rina di sesi blogwalking.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Yoga yang karakternya kuat dan menempel tuh. :) Penginnya, sih, ada lanjutannya. Tapi lagi rada males buat update.

      Delete
  15. Ehehe mantan.. ehehe
    Lebaran kmrn udah silahturahmi ke rumah mantan belum, bang? :))

    ReplyDelete
  16. Gue pikir perempuan mirip artis ftv itu kadek devi #halu
    Heuuuuu...ternyata sang mantan
    Btw gue ngedadak pengen mie nihhhhh warmindo ceplus rawit ugh la la ~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wqwq. Aduh si, Mbak. Itu kebetulan "Devi" nama mantanku juga. :(

      Mantap! Padahal di cerpen belum sempet deskripsiin lezatnya mi~

      Delete
  17. Tadi aku mikirnya yg temuin bloknotnya adalah anak yg punya warung yang ternyata sangat cantique dan single. trus kalian kenalan, pacaran dan yoga makan mie gratis seumur hidup. happy ending~

    ReplyDelete
    Replies
    1. FTV banget kalau kayak gitu, ya? Terus mabok mi instan dong si Yoga? Wahaha. XD

      Delete
  18. Nah. Si Yoga baru makan mi aja dapet banyak inspirasi. Terbaik memang mi instan!!

    Tapi mungkin gegara makan mi jadi ceroboh juga. Bloknot ketinggalan segala.

    Kalo yang nemuin cakep dan mau ngembaliin ntar nih si Yoga bakalan sengaja ninggalin bloknot terus nih!! Tapi ini yang nemuin mirip mantan duh. Eh. Mirip atau emang mantan yak?! 😅😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo, makan mi instan! Wqwq. Iya, itu karena terlalu banyak mecin kayaknya. Jadi lupa. XD

      Mirip doang, kok. Kan udah baca di bagian kedua. :p

      Delete
  19. warmindo di jakarta ada tolietnya? di solo ngga ada :(

    mungkin ini balesan beberapa waktu lalu pas dirimu nemu bloknot di cafe mall bang?
    *eh ada kan ya blogpost yg cerita nemu bloknot cewe di cafe? agak lupa aku hehe*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada cuma buat karyawan gitu, Wis. Itu juga kan nggak dikasih, dengan alasan toiletnya rusak. :)

      Delete
  20. Sumpah yog, kirain bloknot lu beneran ilang deh. Hahahahaa ternyata fiksi yak.
    Ini tulisannya bakal dibikin jadi 3 part ga si?

    Pertanyaan gue sama kayak bang haw. Kenapa Rina? Harusnya kan *i*a?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehe, nggak dong. Sengaja itu fiksi. Kayaknya bakalan lebih dah. Iya-iya, terserah kalian. Rina kan anagram dari Rani. :(

      Delete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan.
Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.