Ada beberapa film Thailand yang gue suka tonton ulang dan telah menjadi favorit; di antaranya: Crazy Little Thing Called Love, Hello Stranger, May Nai Fai Rang Frer (May Who), The Billionaire, The Teacher’s Diary, dan lain-lain.

Nah, selain film-filmnya yang membuat gue terpikat, negeri Gajah Putih ini ternyata memang tak pernah kehilangan pesonanya. Daya tarik lain dari Thailand adalah pulau-pulau yang cantik dan tentunya memesona. Tempat wisata di Thailand ini bahkan beberapa di antaranya telah mendunia. Menurut gue, Thailand ini sangat tepat untuk menjadi destinasi wisata kamu (terutama para traveler) selanjutnya. Gue pun kalau punya banyak uang, rasanya pengin berlibur ke sana. Dan, berikut ini ialah beberapa pulau terbaik di Thailand yang cocok untuk dikunjungi dan mungkin juga cocok untuk kamu berelaksasi dan mengeksplorasi.


1. Koh Lanta

Koh Lanta (pixabay.com)

Merupakan kepulauan yang berlokasi di Provinsi Krabi. Koh Lan Yai atau Koh Lanta adalah pulau terbesar dalam gugusan pulau tersebut. Kamu yang begitu menyukai snorkelling atau diving, kiranya kawasan ini sangat cocok. Sebab, kamu akan menemukan gugusan koral yang masih alami, dan yang paling menarik adalah adanya paus dan pari manta yang akan menemanimu menyelam.

2. Koh Lipe

Koh Lipe dihuni oleh Gipsi Laut, atau sering juga disebut manusia perahu. Para Gipsy Laut ini hidup secara nomaden dan tinggal di atas perahu. Saat musim hujan tiba, mereka sering menepi di pulau-pulau sekitar Laut Andaman, dan Pulau Koh Lipe merupakan salah satunya. 

Koh Lipe berlokasi di Kepulauan Adang-Rawi bagian barat daya Thailand. Saking kecilnya pulau ini, kamu bisa mengelilingi pulau ini hanya dalam waktu satu jam. Namun jangan salah, di sini sudah ada penginapan yang nyaman lengkap dengan AC. Jadi, kamu gak perlu khawatir kepanasan, ya. Yuhu!

Read More
Kehilangan sesuatu yang berharga itu identik dengan sebuah penyesalan. Kau mungkin bosan mendengar kalimat seperti itu, tapi begitulah adanya. Sehabis kehilangan, kita biasanya akan merenungi sesuatu itu saat masih ada. Mengapa kita tidak bisa menjaga ataupun merawatnya dengan baik?  Namun, kehilangan sesuatu yang berharga tidak melulu tentang seseorang. Kehilangan bisa soal benda, ingatan, atau keperjakaan.

Seperti apa yang sedang dialami oleh Yoga saat ini. Dari beberapa hal di atas, Yoga baru saja mengalami kehilangan. Mungkin kau akan menebak kalau ia kehilangan keperjakaan, tapi sayangnya bukan itu. Ia kehilangan sebuah benda. Benda itu bukan ponsel canggih yang harganya mahal, ataupun dompet—berisi uang dan kartu-kartu penting. Benda itu cuma sebuah bloknot. Sebuah buku catatan yang telah menemaninya selama beberapa tahun. Bloknot itu ia beli sekitar 3 tahunan yang lalu dan sekarang tentu saja sudah banyak berisi tulisan. Buku sejenis itu memang masih dapat ia beli di pasar atau toko. Tapi isi di dalamnya adalah harta karun yang paling berharga baginya. Yang tidak mungkin bisa ia beli di mana pun.

Sejelek apa pun tulisan tangannya maupun apa yang telah tertulis di bloknot itu, Yoga tetap menghargainya. Isi buku itu ialah rekam jejak dalam hidupnya yang sangat berarti. Ia tidak rela kalau sampai ada yang menemukannya dan membacanya tanpa izin. Lebih-lebih kalau buku itu dibuang, bukan dikembalikan. Apalagi kalau sampai dijadikan bungkus gorengan.

Awalnya, ia tidak tau bloknotnya itu hilang. Kala sedang ingin melanjutkan sebuah cerpen, yang draf awalnya sudah sempat tertulis beberapa paragraf di buku catatannya, barulah ia sadar kalau bloknot itu tidak ada di dalam tasnya. Kini, Yoga jadi kebingungan dan stres sendiri. Ia sudah membongkar tasnya lebih dari sekali, tetapi bloknot itu tetap tidak ditemukan. Ia pun telah mencari-cari di seluruh isi kamarnya; rak buku, lemari, dan kolong tempat tidur. Namun, bloknot itu belum juga ia dapatkan. Bloknot itu lenyap seolah ingin mempermainkannya.



Anjing! umpatnya dalam hati.

Seingatnya, hari ini ia tidak mengeluarkan apa-apa dari dalam tas. Kalaupun tadi ia sempat keluarkan, pasti akan dimasukkan kembali begitu rampung menulis atau mencatat suatu ide. Setelah yakin kalau hari ini ia tidak membuka-buka tasnya, ia mulai mengingat hari kemarin.

Read More
Seperti Pulau Dewata Bali, Pulau Lombok juga kaya akan wisata alamnya. Meskipun didominasi oleh pantai, setiap pantai menawarkan panorama alam yang unik dan berbeda. Seperti 7 tempat wisata berikut yang pasti akan membuat liburan kamu di Lombok semakin tak terlupakan.

1. Gili Sudak

Kawasan Lombok paling terkenal dengan destinasi Gili Trawangan atau Gili Meno. Bagi yang sudah sering ke Lombok, menikmati keindahan alamnya pasti terasa biasa. Kamu perlu mendapatkan pengalaman baru yang menakjubkan di Gili Sudak. Bagaikan pulau milik pribadi, Gili Sudak masih belum banyak dikunjungi para wisatawan. Pantainya berpasir putih, dengan air laut yang tenang dan jernih. Selain itu, Gili Sudak juga menawarkan pemandangan bawah laut yang memukau, cocok nih bagi kamu yang gemar menyelam.


2. Gunung Rinjani


(sumber gambar: trekkingrinjani.com)

Mendaki gunung api tertinggi kedua di Indonesia pasti akan memberikan pengalaman seru tak terlupakan. Dengan ketinggian 3.726 mdpl, Gunung Rinjani menjadi salah satu gunung favorit para pendaki karena memiliki pemandangan alam yang sangat mengagumkan. Dari puncaknya, kamu bisa melihat indahnya danau kawah Segara Anak.


3. Pantai Senggigi

Kabarnya, Pantai Senggigi disebut sebagai surganya pariwisata oleh para wisatawan. Sebab, pantai ini memiliki air yang sangat jernih dan bermacam biota laut yang cantik. Di dekatnya, terdapat dua destinasi wisata lainnya, yaitu Batu Bolong dan Batu Layar. Pantai Senggigi biasanya digunakan sebagai lokasi transit wisatawan sebelum menuju ke Trio Gili. Tak heran ada banyak hotel murah di Lombok di sekitar destinasi ini.
Read More
Catatan 6 Juni 2017. Puisi ini diambil dari bloknot milik Hehe Darmansyah.

--


Bukan Fiksi


Kau tak pernah gengsi saat memulai komunikasi.
Itukah caramu agar kita dapat berinteraksi?
Bagiku, kau adalah puisi. Terhitung sudah banyak frekuensi.
Dan kuyakin, kita bukan fiksi. Karena waktu telah menjadi saksi.
(2015)


Read More
“Nggak terasa Lebaran tinggal 29 hari lagi.”

Lelucon kuno semacam itu ternyata masih gue temuin di Twitter ataupun status Facebook pada saat puasa hari pertama. Ya, waktu itu memang relatif. Kadang terasa begitu lama, kadang juga cepet banget. Seperti sekarang misalnya, perasaan kemarin gue baru baca kalimat soal Lebaran itu kala awal Ramadan. Eh, hari ini telah memasuki puasa minggu kedua. Anjir, beneran nggak terasa, ya. Gue jadi pengin ikutan bikin status, nggak terasa Lebaran tinggal.... Halah!

Masjid di deket rumah yang tadinya penuh banget, bahkan sampai ke halaman dan jalanan. Pada minggu kedua ini sudah mulai berkurang. Gimana nanti, ya pas minggu ketiga dan terakhir? Biasanya masjid akan semakin sepi. Terutama ibu-ibu yang sibuk membikin kue ataupun belanja baju Lebaran. Bukannya gue bermaksud menggeneralisasi kaum perempuan. Gue bisa bilang begitu, sebab nyokap gue adalah contoh yang nyata. Tadi sepulang salat Tarawih, beliau tiba-tiba masuk ke kamar gue dan bertanya, “Kamu mau nitip baju Lebaran nggak, Yog? Besok Ibu kayaknya mau ke Tanah Abang.”

Ya, Allah... ini masih minggu kedua, beliau udah repot mikirin baju Lebaran. Akhirnya, gue pun iseng meledek kenapa buru-buru amat mau Lebaran. Beliau kemudian menjelaskan kepada gue kalau nanti-nanti takut pasarnya bertambah ramai dan padat. Gue pun hanya mendengarkan sambil manggut-manggut. 

“Ya udah, terus kamu jadinya mau nitip nggak nih?”

“Nggak usah deh, Bu.”

Setelah gue jawab begitu, Nyokap keluar kamar.

***

Sehabis berbicara tentang baju Lebaran, entah kenapa gue jadi melamunkan hal itu. Sebetulnya gue masih bingung, kenapa harus disebut sebagai baju Lebaran, sih?

Karena begitu penasaran, gue pun berselancar di internet dan menemukan sedikit informasi. Jadi, di dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, tulisan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, dijelaskan kalau tradisi memakai baju baru ketika Lebaran sudah turun-temurun sejak tahun 1596. Ketika menyambut Hari Raya, mayoritas penduduk Kerajaan Banten sibuk menyiapkan baju baru. Nah, maka baju baru yang dipakai saat Idulfitri itu akhirnya dinamakan baju Lebaran.

Namun, pada masa itu baju Lebarannya ialah hasil menjahit sendiri. Masih jarang masyarakat yang membeli. Sangat berbeda sekali dengan gue yang dari kecil sudah terbiasa membeli baju Lebaran. Lebih tepatnya, tradisi keluarga gue memang beli bajunya cuma pas Hari Raya Idulfitri. Gue pun semakin tenggelam dan mengenang jauh ke masa silam.

Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home