Jangan Mati Dulu

44 comments
Kamu menendang segala macam benda yang ada di jalanan. Batu kerikil, botol plastik bekas, dan kotak susu yang masih tertusuk sedotannya. Kamu tiba-tiba merasa benci kepada orang-orang yang tidak mau membuang sampah pada tempatnya. Tapi kebencianmu akan orang-orang itu tidak akan pernah bisa melebihi kebencianmu terhadap diri sendiri.

Kamu masih terus menendangi sampah-sampah di jalan itu seolah-olah untuk melampiaskan emosimu. Sampai akhirnya, kamu tidak sengaja menendang aspal dan membuat jempol kaki kananmu berdarah. Terasa begitu perih. Namun, akan lebih perih lagi kalau mengingat beberapa kejadian dalam hidupmu belakangan ini.

Kamu adalah Agus, seorang laki-laki yang masih berumur 23 tahun, dan saat ini sedang kesal dengan semua masalah hidup yang tidak habis-habis. Sehingga kamu menganggap umurmu sudah menginjak usia 28 tahun karena masalah terlalu cepat mendewasakan pola pikirmu. 

Namun saat ini, hari-harimu sering dihiasi oleh kesedihan dan kedewasaanmu itu seakan tidak berguna lagi. Sumber masalahnya sebenarnya ada pada ibumu. Orang yang paling kamu sayangi di dunia ini telah pergi meninggalkanmu sekitar dua bulan yang lalu. Tanpa seorang ibu, kamu merasa tak berdaya. Kamu belum siap menerima kenyataan atas kepergian ibumu itu. Lagi pula, adakah orang yang siap dengan kehilangan? Apalagi itu hilang secara tiba-tiba.

Ibumu tidak sakit dan tidak ada tanda-tanda malaikat maut yang akan mencabut nyawanya. Tau-tau mati begitu saja. Seperti saat PLN melakukan pemadaman listrik tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Ditambah lagi kamu tidak memiliki kakak ataupun adik yang mengerti perasaan seorang anak ketika ditinggal mati ibunya. Menjadi anak tunggal begitu membosankan. Kamu hanya bisa menangisi kepergian ibumu seorang diri.

Sebenarnya masih ada ayahmu yang bisa dijadikan tempat berbagi. Tapi kamu cukup paham kalau ayahmu tidak akan menunjukkan air matanya. Ia tak ingin tampak lemah di hadapanmu. Sayangnya, beberapa minggu yang lalu ayahmu melarikan diri dari rumah. Sebulan setelah kematian istrinya, ayahmu—Pak Broto—memang sangat depresi. Apalagi bisnis batu akiknya juga bangkrut. Merasa tak sanggup menghidupimu, Pak Broto pun meninggalkanmu dan entah pergi ke mana. Kamu pun menghakiminya sebagai ayah yang tidak bertanggung jawab.

Cuma, biar bagaimanapun kamu masih menganggapnya keluarga. Kamu kemudian mencoba untuk menghubunginya, tetapi nomornya selalu tidak aktif. Belakangan diketahui, ponsel miliknya ditinggal di rumah dalam keadaan mati. Kondisi seperti ini semakin membuatmu gelisah dan resah. Kamu berpikir yang bukan-bukan tentangnya. Ayahmu mungkin telah mati bunuh diri. Ayahmu stres atau malah gila. Sekalipun dirinya saat ini berada di Rumah Sakit Jiwa, kamu tetap tidak mungkin mengecek RSJ itu satu per satu. Belum tentu juga ia benar berada di sana.

Jadi, lebih baik kamu fokus memikirkan masalah keuanganmu. Sebab, besok adalah batas waktu terakhir untuk membayar rumah kontrakan. Rumah kontrakan yang harus dibayar setiap 3 bulan sekali, tapi kamu sudah telat membayar dan saat ini kira-kira telah berjalan  di bulan keempat. Sudah mau sebulan pemilik kontrakan memberikanmu keringanan. Induk semang itu sampai bosan menagih dan mengingatkanmu tiap hari untuk melunasi bayaran 3 bulan kemarin. Oleh karena itu, besok adalah kesempatan terakhir yang ia berikan. Jangan sampai kaulupakan.

Mirisnya, gajimu bulan kemarin sudah hampir habis. Kamu tidak memiliki tabungan sama sekali karena semua uangnya sudah digunakan untuk mengurus pemakaman ibumu dan hal-hal lain. Seminggu yang lalu kamu juga dikeluarkan dari kantor karena tidak becus bekerja. Manajer sebetulnya sudah mencoba memaklumi keadaanmu. Namun, peraturan tetaplah peraturan. Perusahaan tidak bisa terus-terusan memanjakan karyawannya yang kerjanya berantakan. Kinerjamu menurun drastis dan target tidak tercapai. Manajer itu pun semakin yakin dan menilai kalau dirimu tidak layak bekerja di perusahan itu. Yang artinya adalah dirimu tidak ada pemasukan sama sekali karena batal gajian. Bahkan, dirimu juga tidak mendapatkan pesangon. Sisa uang di dompetmu sekarang hanya cukup untuk makan tiga hari ke depan.

Kamu masih terus kebingungan soal biaya kontrakan. Kamu tidak mempunyai satu pun saudara di kota tempat tinggalmu. Kalaupun ada, kamu pasti mengerti keadaan mereka yang sama susahnya. Justru mereka jauh lebih sulit. Kamu juga merasa tidak bisa meminta bantuan kepada siapa-siapa. Kamu sadar kalau tidak memiliki banyak teman.

Lagian, kamu juga sudah mengerti tabiat teman-temanmu. Meminjam uang ke mereka? Boro-boro diberikan. Mereka hanya ada ketika kamu bisa untuk dimanfaatkan. Namun, apa yang bisa mereka lakukan ketika kamu sedang kesusahan seperti ini atau sebelum-sebelumnya? Menertawai nasibmu? Itu cukup menyakitkan. Tidak menjawab pesanmu atau menghilang adalah pilihan yang tepat. Meskipun itu juga cukup membuat rongga dadamu penuh sesak.

Bagusnya, kamu masih memiliki seorang pacar yang setia. Meskipun belakangan ini kalian sering bertengkar. Tapi, sudah setahun lebih kamu menjalani hubungan dengan Rani. Pertengkaran seperti itu bukanlah apa-apa. Lagian, ia adalah teman sekelasmu waktu kuliah dulu yang sudah paham akan sifatmu. Walaupun wajahnya tidak cantik-cantik amat, tapi kamu tidak peduli akan hal itu. Memilih pacar kan tidak melulu soal fisik. Pokoknya ia orang yang baik dan sanggup bertahan denganmu sampai sejauh ini.

Kamu pun berpikir, satu-satunya orang yang bisa mendengarkan cerita itu ialah Rani. Mungkin ia juga bisa membantumu dalam masalah keuangan. Sebelum menuju indekos Rani, kamu mencari warung terdekat untuk membeli Hansaplast. Kamu bermaksud untuk mengobati luka di jempol kaki atas kecerobohanmu tadi menendang benda-benda di jalanan. Setelah luka itu terbalut plester, kamu pun bergegas menuju indekos Rani. Kamu nantinya juga akan berniat minta maaf akan sikapmu akhir-akhir ini. Seperti biasanya, kamu nanti akan memeluknya. Barulah menceritakan masalah-masalahmu. Sebab, peluk itu memang ampuh dalam mengobati pelik.

***

Sesampainya di sana, kamu langsung masuk seperti biasa. Melewati gerbang yang dibiarkan terbuka dan langsung menuju indekos nomor 9 yang terletak di paling pojok. Di indekos ini peraturannya tidak ketat, bahkan bisa dibilang cukup bebas. Meskipun indekos perempuan, tetapi laki-laki boleh masuk tanpa perlu izin kepada pemilik indekos. Tidak ada jam malam pula. Kalaupun ada, saat ini masih pukul setengah sembilan malam. Biasanya indekos akan tutup pukul 10 atau 11 malam.

Kali ini, kamu tidak perlu mengetuk pintu karena pintunya sedikit terbuka—untuk dilalui tikus. Kamu memutar kenop pintu dan langsung masuk. Begitu pintu terbuka lebih lebar, kamu malah mendapatkan kejutan. Kamu menyaksikan pemandangan lelaki dan perempuan sedang berciuman. Kamu memperhatikan dengan jelas tangan kanan lelaki itu sedang merangkul pundak si perempuan, sedangkan tangan kirinya sedang bersembunyi di balik kaos putih perempuan itu. Kamu menelan ludah saat melihat kaos putih yang tersingkap ke atas itu. Itu pertama kalinya kamu melihat daging kenyal secara jelas. Suara desahan “hmmppphhh” juga terdengar begitu menjijikkan di telingamu.

“Ra—Rani?” ujarmu terbata-bata.

Mereka berdua menengok bersamaan dan terkejut akan kehadiranmu. Perempuan itu benar Rani. Lalu, lelaki itu adalah Reza, teman sekantormu yang dulunya teman SMA Rani. Lelaki dan perempuan itu pun segera menyudahi perbuatan maksiatnya. Rani tidak dapat berkata-kata dan matanya terbelalak melihatmu, sedangkan Reza hanya menunduk dan tidak tau harus berbuat apa. Entah karena malu atau memiliki rasa bersalah. Kamu sendiri benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan kaulihat. Pacar yang selama ini kaupikir adalah perempuan setia, tapi ternyata selingkuh. Dan entah sejak kapan kamu sudah dikhianati oleh kekasihmu itu.

Kamu sebenarnya ingin marah dan menghajar Reza, tapi kamu tidak sanggup memperlihatkan tangismu. Kamu memilih meninggalkan mereka berdua dan segera berlari tanpa tahu harus ke mana. Mungkin tepatnya lari dari kenyataan. Air mata itu pun tumpah. Kesedihan yang selama ini terpendam telah keluar semuanya tanpa harus bercerita. Harapan satu-satunya dan yang tadinya ingin kamu jadikan tempat bercerita malah semakin membuatmu menderita. Kamu pun terpuruk.

***

sumber gambar: Pixabay

Saat ini kamu tidak bisa berpikir dengan baik. Merasa sudah tidak berguna lagi berada di dunia ini. Kamu memutuskan untuk menyudahi hidupmu yang kelam. Kini, kamu sedang siap-siap terjun dari atas fly over yang di bawahnya terdapat sungai atau kali. Kamu berniat untuk bunuh diri.

Lompat, Gus! Mati aja mendingan. Hidup udah nggak ada gunanya lagi.

Jangan, Gus. Setiap masalah ada jalan keluarnya.

Malaikat dan setan saling berdebat di dalam kepalamu. Terlalu lama tidak beribadah membuat dirimu kosong. Anehnya dan entah kenapa, kamu masih sedikit mengingat kalau bunuh diri itu dosa. Kamu pun ragu-ragu.

Bohong, Gus! Jalan keluarnya adalah kematian.

Hidupmu belum berakhir, kamu masih bisa memperbaikinya.

Namun, kamu mengingat-ingat lagi kejadian di indekos barusan. Rani yang kamu kenal baik itu kenapa bisa setega itu? Kamu selama pacaran sama sekali tidak pernah menciumnya, tapi cowok keparat itu bisa-bisanya mencicipi bibirnya. Apalagi tangan Reza yang bersembunyi di balik kaos Rani. Hal itu benar-benar membuatmu sesak. Tidak ada lagi yang perlu diperbaiki. Di dalam pikiranmu saat ini, lebih baik mati dan menyusul ibumu.

Semuanya udah hancur. Nggak ada yang bisa diperbaiki. Ayo, loncat aja!

Kini, sudah tidak ada lagi keraguan di dalam dirimu. Setanlah yang kemudian menjadi pemenangnya. Setelah yakin dengan pilihanmu ini, kamu mulai memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan, lalu menjatuhkan dirimu ke kali.

Byurrr.

Kepalamu sepertinya terhantam batu, kemudian kamu pun tidak sadarkan diri dan terhanyut oleh derasnya arus kali.

***

Kamu membuka mata. Kepalamu terasa pusing sekali. Kamu berpikir semalam itu adalah mimpi buruk, tapi ternyata bukan. Kamu saat ini tidak berada di kasur kontrakanmu. Kamu juga mulai mengira kalau dirimu sudah berada di alam lain. Tapi, begitu kamu memandangi keadaan sekitar... ternyata kamu masih hidup dan berada di pinggiran kali. Badanmu basah, bau kecut, dan di bajumu terdapat sampah-sampah dedaunan. Ya, sepertinya kamu memang belum mati. Kamu telah gagal bunuh diri. Cara bunuh dirimu semalam itu rasanya sangatlah sia-sia. Meskipun loncat dari ketinggian, tapi terjun ke air seperti itu tidak akan bisa membuatmu mati.

Kamu tiba-tiba tertawa. Kamu menertawai kekonyolan semalam itu. Kamu pun mengurungkan niat untuk bunuh diri. Kamu sepertinya sudah tersadar, tidak selamanya hidup itu buruk. Semua hanya soal sudut pandang. Saat duduk di bantaran kali sambil mendengar suara bising kendaraan—tanda orang-orang yang mulai berangkat kerja, tiba-tiba kamu teringat kutipan Jack Sparrow di film Pirates of the Caribbean, “Masalahnya itu bukan terletak pada masalahnya. Masalahnya terdapat pada sikapmu akan masalah itu.”

Setelah kaupikir dan renungkan kembali, bunuh diri ternyata tidak akan mengubah kenyataan yang ada. Seandainya kamu memang semalam berhasil mati, apakah di dunia setelah kematian itu semuanya dapat berubah? Sepertinya dirimu malah akan semakin tersiksa.

Ibumu akan sedih melihat dirimu yang menyusul kematiannya dengan cara seperti itu. Ayahmu juga belum tentu bisa kautemukan di alam sana. Apalagi tidak bisa mengubah kenyataan pahit kalau kekasihmu itu berselingkuh dan malah menjadi penyebab dirimu memilih mati bunuh diri. Dan uang di dompetmu tetap tidak bisa membayar kontrakan hari ini. Mati dengan meninggalkan utang itu sungguh tidak baik. Bagaimanapun juga, itu adalah kewajibanmu dan harus ada yang membayarnya.

Akhirnya, kamu sekarang tidak mempertimbangkan diri untuk bunuh diri lagi. Yang penting bukan soal saat ini kamu pernah mencoba bunuh diri lalu gagal atau tidak, hidupmu berantakan atau tidak, melainkan kamu harus tetap melunasi utangmu. Masih ada kesempatan untuk mewujudkan mimpimu. Memperbaiki hidupmu yang kacau. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Paling tidak hidup itu selalu memberikan harapan. Kamu pun tidak bisa membohongi hati kecilmu yang sebenarnya masih memiliki tujuan hidup. Entah apa pun itu. Jadi, pokoknya kamu jangan mati dulu.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

44 comments

  1. Cerita ini ngingatin aku sama tetanggaku yang juga saudara sepersusuan. Dia meninggal bunuh diri gegara pacarnya selingkuh. Terus pacarnya datang di acara pemakamannya sama selingkuhannya itu.

    Iya, jangan memaksa mati kalo belum waktunya. Karena kalo dipikir, pertanggung jawaban di akhirat lebih menyeramkan daripada dunia ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok sedih, ya. Karena diselingkuhin sampai bunuh diri. :')
      Hooh, Rum. Buktinya tokoh kamu ini masih dikasih hidup. :))

      Delete
  2. Udah serius baca dan malah ngakak ketika si Agus gagal bunuh diri dan langsung ingat bunih diri dosa dan gak boleh mati dg ninggalin hutang T.T

    Pelajaran moralnya cakep ga, apalagi sekarang lg banyak kasus bunuh diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Atau lebih tepatnya lagi banyak orang yg ngutang.

      Delete
    2. Feby: Orang gagal bunuh diri masa diketawain? :p
      Wahaha. Padahal nggak kepikiran buat pelajaran moral-moral gitu. Ngalir aja nulisnya. Idenya emang dari kasus bunuh diri yang marak belakangan ini. XD

      Dian: Nah, banyak juga yang ngutang gak bayar-bayar nih. Klien juga. Eh.

      Delete
  3. Ah, Rani. Kemaren di blog gue dia sama Roni. Sekarang sama Reza. Brengsek emang.

    Kadang ada sebagian orang yg memilih mati daripada melanjutkan hidup, gak tau sependek apa pemikirannya. Jadi inget yg bunuh diri sambil live pesbuk.

    Tapi kayaknya si Agus ini gak punya pesbuk yah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Reza apa Rani yang berengsek? :| Namanya orang galau mah pikirannya butek, Yan. Agus emang gak mainan Pesbuk, Yan. Pesbuk dia di-hack buat mainan Zynga Poker.

      Delete
  4. coba bunuh dirinya nyemplung ke laut. atau dari gedung tinggi. atau aku bantu sini :v

    ceritanya bagus. ngingetin biar gak gampang nyerah dengan masalah yang ada. meski keluarga, teman, sahabat, atau pacar gak bisa membantu dengan alasan mereka masing", tetep fighting!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau dibantuin gimana nih? Yoeh. Kudu bisa survive!

      Delete
  5. mantap, Yogs. ((Yogs :D)
    sudut pandang "kamu", jarang bangat gue baca sudut pandang ini. namanya apa gue lupa haha, padahal dulu pernah ngajar ini. orang pertama serba tau apa yak? pakai "kamu" tapi bisa tau kaya, kau pikir, kau renungkan, kamu masih sedikit mengingat dosa.
    wah perlu buka buku bahasa indonesia lagi nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sudut pandang orang kedua, Tom. :) Kalau sekiranya keliru, mohon dikoreksi. :D

      Delete
    2. sama nih, gue kayaknya baru kali ini baca dari sudut pandang kedua, yogs

      Delete
  6. sedih bacanya, sedikit ngebayangin misal kalau ini bener-bener kejadian, tapi jangan sampai lah amit-amit *ketok jidat*

    kirain pas bagian habis bunuh diri itu, si agus ngimpi. ternyata beneran bunuh diri tapi masih selamet *tak terduga* hehe . ngomong-ngomong kost'an rani di jalan apa? gang apa? rt/rw berapa bang? XD XD XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amit-amit, ya. :(

      Tadinya juga pengin dibuat mimpi. Cuma kok bosen gitu mulu ceritanya. Emang mau ngapain deh? Tolong, lebih fokus yaaa. Itu fiksi. Wakakak. XD

      Delete
    2. Mampir ke kostanya lah. yah tapi udah "bekas" ding...ngga jadi
      *astaga astaga komen macam apa ini, rusuh sekali XD

      Delete
  7. cerita ngena banget sih. bagaimanapun juga, kalau ngebayangin di posisinya si agus sih, ya gimana ya. berat juga uy, tapi gue selalu inget, bahwa Allah nggak akan ngasih ujian diluar kemampuan hambanya.
    ditinggal nyokap, bokap juga ikut''an ngilang. sedih sih.
    apalagi si mbak pacarnya selingkuh, pdahal blom pernah dicium. anjir lah, ngenes banget si agus.
    coba main sosmed aja lah udah. gabung grup di mana kek, line/wa/apa gitu. biar hidupnya kebal, karena kan biasanya kalo di grup itu secara ga langsung ngelatih mental. di hina'' itu, termasuk ngelatih mental bukan sih?
    hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah tuh gue lagi kenapa pas nulis. Bisa-bisanya jahat banget bikin tokoh ini menderita berturut-turut. Wahahaha. Di-bully di medsos juga menyakitkan, sih, emang. Mungkin bisa dibilang melatih mental biar kuat, ya. XD

      Delete
  8. Kirain sama kayak tiwi yog, lagi ceritain tentang bunuh diri terus pake sudut pandang kedua. Well, emang berat kalau lagi ada masapah bertubi-tubi. Udah jatuh ketimpa tangga. Tapi masalah lebih ke il kalau kita ngadepinnya dengN lapang dada :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalnya emang mau ceritain alasan-alasan, atau masalah apa, atau kenapa orang sampai kepikiran buat bunuh diri gitu, sih. Terus setelah ditulis, ngalir gitu aja. :D

      Iya, Lia. Kudu lapang dada ngadepin masalah. :)

      Delete
  9. jangan mati dulu mas
    bakso masih enak. haha

    ReplyDelete
  10. Kok kurang familiar dengan kata ganti sudut pandangnya :')
    pertanda gue kurang baca nih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak juga kok, Vir. Emang jarang banget digunain sudut pandang begini. Ini lagi coba-coba, sih. :D

      Delete
  11. Bangkai! Kayak bukan tulisan yoga.. Keren banget!
    Penuturannya asik, pesan moralnya apa lagi.
    Ditunggu karya selanjutnya yog~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh, jadi cengengesan dipuji gini. Bahaha. Makasih, Ta! :D

      Udah lama gak bikin fiksi dan keseringan curhat emang, sih. Terus sekalinya publikasi cerpen tulisannya kelihatan beda gitu, ya? Wqwq.

      Oke-oke. :)

      Delete
  12. Kalo kolom komentar bisa insert foto, boleh masukin foto cewek yang ngancem bunuh di Facebook nggak? Yang nempelin piso di tangan itu. :))

    Magisnya sudut pandang kamu itu masih kerasa. Pernah baca ebook yang sudut pandangnya kamu ngerasa hidup, ini juga. Berasa lagi dikendaliin. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anjir. Masih inget aja cewek freak itu. Wahaha. XD

      Terus gimana tuh perasaannya pas lu selamat dari bunuh diri? :)

      Delete
  13. Dibalik cerpen, terselip syurhatan Yoga hahaha tapi tetep ketje dooong. Ngomong2 bunuh diri, beberapa hari lalu temenku meninggal karena diduga bunuh diri :( dia polisi dan beritanya pun ada dimana2, sedih ya Allah :(

    (lah syurhat jugak)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagian mananya yang curhat, ya? Wqwq. Karena curhat adalah koentji.

      Ya, Allah. Kasihan amat kalau berita buruk gitu tersebar. Emang udah pasti bunuh diri, ya? Turut berduka, Teh. :(

      Delete
  14. Sependapat sama Tomi. Penggunaan sudut pandang "kamu" itu juga jarang aku temuin, dan jelas ini keren!

    Terkandung banyak pesan moral ya, Yogs. Nggak cuma satu menurutku. Yaitu jangan bunuh diri, jangan meninggalkan utang, dan jangan selingkuh di tempat yang berpotensi bisa kepergok sama pacar, di kosan gitu misalnya. Huahaha. Oke, yang terakhir itu ngaco. Intinya jangan menodai hidup, dan kalau hidupnya udah terlanjur 'ternoda' alias dapat banyak masalah, jangan 'membersihkannya' dengan mengakhiri hidupnya itu. Semuanya masih bisa diperbaiki gitu kan. :)

    Btw yang Agus gagal bunuh diri, itu ngingatin aku sama film Korea judulnya Castaway On The Moon, rekomendasinya Kang Rido. Tokoh utamanya coba buat bunuh diri, ngelompat dari jembatan kalau nggak salah, eh tapi dia malah terdampar di pulau tak berpenghuni. Dan jadinya yang nonton ngakak gitu. Aku jadi ngebayangin Agus itu penampilan fisiknya kayak yang di Castaway On The Moon. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kerennya karena jarang? :|
      Padahal gak direncanain nulis yang ada pesan moral gitu. Ngalir aja ini. Wqwq. Yang terakhir itu emang passion-mu, Cha. Gak apa. Gue memakluminya, kok. ^__^

      Belum pernah nonton itu. Wahaha. Kocak juga, ya. Coba bunuh diri, tapi emang takdir berkata lain. Dia tetep hidup kayak Agus di cerpen ini. Bolehlah nanti ditonton. :D

      Delete
  15. Hadeuh..bunuh dirinya GAGAL!

    Gak jadi tahlilan deh gue... mbahhahaaaaa....

    ReplyDelete
  16. kalo menurut gue orang yang bunuh diri, apalagi gara2 cinta itu bego :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue pernah niat kayak gitu nih. Ya, baru sebatas niat, sih. Bego berarti, ya. :')

      Delete
  17. kok gue kesal banget yah sama agus, pengen di gampar gitu. Bukannya menghadapi masalah tapi lari dan pengen bunuh diri. Syukur deh di epilognya dah tobat. Ini pertama kalinya gue ngerasa seperti masuk dalam cerita, ngebayangin gimana reza sama ani gituan di kamar dengan asyiknya. Untung aja agus datang bubarin tuh acara maksiat. dan kenapa si agus gak tonjok aja tuh reza malah pilih lari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar, Mas. Sabar. Yang penting Agus udah tobat. Wih, seriusan masuk ke dalam cerita? Wahaha. Sudut pandang orang kedua kan emang gitu. :D Hmm, dia tuh malu kalau nangis di hadapan Rani dan selingkuhannya. :|

      Delete
  18. aku jadi inget bapak bapak yang bunuh diri live di facebook..

    wkwkkwkwww


    *aku nulisnya ini malem malem dan malah takut sendiri*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya, emang terinspirasi dari kasus itu. :) Yailah, takut kenapa deh? :p

      Delete
  19. Gus, jadi berondong Tante aja. Aku punya nomor Tante-Tante baik, cantik dan gak pelit loh..

    ReplyDelete
  20. ini kok kasian banget sih nama Rani selalu dipake jadi tokoh antagonis tiap masuk ceritamu ;p . ada masalah pribadi ama yg namanya rani ya Yog ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena emang udah males cari nama samaran lain, Mbak. Wqwq. Nggak ada masalah sama sekali dengan yang namanya Rani, kok. :D

      Delete
  21. Karena Gagal, Mari Kita Pergi Liburan Biar Freshhh ....
    wkwkwkkw

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.