Kau baru saja pulang dari restoran cepat saji sehabis mentraktir teman-temanmu. Tidak banyak-banyak amat, sih, jumlahnya. Dengan dirimu yang juga ikut dihitung, totalnya pas 12 orang. Mereka adalah teman-teman yang kau anggap paling akrab di antara yang lain. Kau sebenarnya bingung sama kebiasaan bodoh ini. Kenapa orang yang berulang tahun harus mengeluarkan uang untuk membayar sebuah ucapan, "Selamat ultah" ?

Entah setelah kalimat itu ada lanjutan doa-doa untuk kebaikanmu, atau memang sebatas itu saja. Lucunya, ada yang mengucap lebih singkat, "HB, ya." Ucapan itu juga cuma kaudapatkan dalam bentuk pesan di aplikasi WhatsApp. Tidak ada ucapan langsung dan jabat tangan para teman yang kauterima 4 hari yang lalu.

Apalagi seorang pacar yang memberikanmu kejutan di depan pintu, dengan membawakanmu kue berhiaskan lilin yang menyala. Kemudian kau bisa meniupnya dengan perasaan terkejut campur bahagia sambil menerima kado darinya. Kamu baru saja putus 5 bulan yang lalu dan belum memiliki pacar baru. Boro-boro pacar, mencari gebetan saja belum kepikiran olehmu.

Ya, paling tidak, akhirnya kau bisa merayakan bertambahnya umurmu bersama teman-teman. Meskipun itu hanya sebatas menyantap ayam goreng krispi dan minuman bersoda. Sebuah menu yang seragam, tapi tetap menguras kantongmu. Kira-kira uang itu sebanyak jatah makanmu untuk dua minggu.

Awalnya, kau malah tidak ada niat untuk mentraktir mereka. Namun, permintaan itu, baik yang sebuah bercandaan atau memang keinginan, semakin hari terus menghantui dirimu.

"Mana nih traktirannya?"

Kamu menjawab singkat, "Nanti deh pas gajian."
Read More
Cerita Bagian Satu: Prolog

*

“Jangan membandingkan dirimu dengan siapa pun di dunia ini; jika kamu melakukannya, kamu menghina dirimu sendiri.” —Bill Gates

Gue terkadang masih suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Ya, itu berarti gue telah melakukan penghinaan terhadap diri sendiri. Semoga hal ini tidak gue ulangi kembali. Hal yang paling sering gue bandingkan dengan orang lain adalah, kenapa gue sering banget menunda sebuah tulisan? Ketika beberapa teman berusaha menulis secepatnya agar tidak lupa dan kehilangan feel tulisan itu. Sedangkan gue ini justru butuh waktu yang agak lama untuk menuliskannya sampai hal itu memang benar-benar menghantui dan mengacak-acak isi kepala gue, kecuali lagi dikejar deadline.

Ide-ide yang ada di kepala ini biasanya hanya gue catat poin-poinnya di sebuah buku atau notes hape. Gue jarang banget bisa langsung nulis ketika mendapatkan sebuah ide. Kalau kepala gue sudah sering kepikiran akan suatu tulisan, barulah gue memulai menuliskannya.

Cerita perjalanan ke Solo cepet kelarin woy!

Ingatan-ingatan soal liburan gue ke Solo muncul begitu saja tanpa diingat-ingat. Lalu, ada rasa ingin main ke sana lagi, bahkan sampai kebawa mimpi. Barulah gue tergerak untuk menulis. Contohnya seperti itu.

Sebenarnya, dari bulan Januari gue sudah menuliskannya. Tulisan ini sudah tersimpan rapi di draft. Sayangnya, saat itu memang belum selesai diedit. Memasuki bulan Februari, gue pengin ngelanjutin ceritanya, tapi entah kenapa jadi gak sreg. Bulan Maret juga sama. Gue malah semakin males buat nerusinnya. Namun, gue inget perkataan seorang filsuf, “Selesaikanlah apa yang sudah kamu mulai.”

Hm, baiklah. Meskipun ini sudah telat dan basi. Gue akan tetap mempublikasinya.

--

Hari pertama.

Satu hal yang sering gue lupakan saat menyewa penginapan; entah itu di hotel, losmen, vila, atau homestay, waktu untuk check out adalah pukul 12 siang. Peraturan itu berlaku hampir di semua tempat. Bodohnya, gue sering lupa akan hal itu. Meskipun gue semalam baru check in pukul 2 pagi, tapi bukan berarti itu akan dihitung 24 jam dan bisa keluar dari penginapan ini pada malam hari.

Maka, mau nggak mau itu membuat kami harus segera mandi dan tidak bisa leyeh-leyeh. Haris memilih untuk mandi duluan. Setelah dia selesai, barulah sekarang giliran gue. Namun, saat gue baru mulai melangkah ke kamar mandi, Haris bilang kepada gue untuk mengunci pintu terlebih dahulu. Karena dia ingin pergi bersama Ilham untuk menyewa motor—yang nantinya akan kami gunakan untuk keliling daerah Solo.

Setelah mandi, sembari menunggu mereka kembali, gue duduk di teras depan penginapan ini sambil membaca sebuah novel.


Read More
Kamu menendang segala macam benda yang ada di jalanan. Batu kerikil, botol plastik bekas, dan kotak susu yang masih tertusuk sedotannya. Kamu tiba-tiba merasa benci kepada orang-orang yang tidak mau membuang sampah pada tempatnya. Tapi kebencianmu akan orang-orang itu tidak akan pernah bisa melebihi kebencianmu terhadap diri sendiri.

Kamu masih terus menendangi sampah-sampah di jalan itu seolah-olah untuk melampiaskan emosimu. Sampai akhirnya, kamu tidak sengaja menendang aspal dan membuat jempol kaki kananmu berdarah. Terasa begitu perih. Namun, akan lebih perih lagi kalau mengingat beberapa kejadian dalam hidupmu belakangan ini.

Kamu adalah Agus, seorang laki-laki yang masih berumur 23 tahun, dan saat ini sedang kesal dengan semua masalah hidup yang tidak habis-habis. Sehingga kamu menganggap umurmu sudah menginjak usia 28 tahun karena masalah terlalu cepat mendewasakan pola pikirmu. 

Namun saat ini, hari-harimu sering dihiasi oleh kesedihan dan kedewasaanmu itu seakan tidak berguna lagi. Sumber masalahnya sebenarnya ada pada ibumu. Orang yang paling kamu sayangi di dunia ini telah pergi meninggalkanmu sekitar dua bulan yang lalu. Tanpa seorang ibu, kamu merasa tak berdaya. Kamu belum siap menerima kenyataan atas kepergian ibumu itu. Lagi pula, adakah orang yang siap dengan kehilangan? Apalagi itu hilang secara tiba-tiba.

Ibumu tidak sakit dan tidak ada tanda-tanda malaikat maut yang akan mencabut nyawanya. Tau-tau mati begitu saja. Seperti saat PLN melakukan pemadaman listrik tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Ditambah lagi kamu tidak memiliki kakak ataupun adik yang mengerti perasaan seorang anak ketika ditinggal mati ibunya. Menjadi anak tunggal begitu membosankan. Kamu hanya bisa menangisi kepergian ibumu seorang diri.

Sebenarnya masih ada ayahmu yang bisa dijadikan tempat berbagi. Tapi kamu cukup paham kalau ayahmu tidak akan menunjukkan air matanya. Ia tak ingin tampak lemah di hadapanmu. Sayangnya, beberapa minggu yang lalu ayahmu melarikan diri dari rumah. Sebulan setelah kematian istrinya, ayahmu—Pak Broto—memang sangat depresi. Apalagi bisnis batu akiknya juga bangkrut. Merasa tak sanggup menghidupimu, Pak Broto pun meninggalkanmu dan entah pergi ke mana. Kamu pun menghakiminya sebagai ayah yang tidak bertanggung jawab.

Cuma, biar bagaimanapun kamu masih menganggapnya keluarga. Kamu kemudian mencoba untuk menghubunginya, tetapi nomornya selalu tidak aktif. Belakangan diketahui, ponsel miliknya ditinggal di rumah dalam keadaan mati. Kondisi seperti ini semakin membuatmu gelisah dan resah. Kamu berpikir yang bukan-bukan tentangnya. Ayahmu mungkin telah mati bunuh diri. Ayahmu stres atau malah gila. Sekalipun dirinya saat ini berada di Rumah Sakit Jiwa, kamu tetap tidak mungkin mengecek RSJ itu satu per satu. Belum tentu juga ia benar berada di sana.

Jadi, lebih baik kamu fokus memikirkan masalah keuanganmu. Sebab, besok adalah batas waktu terakhir untuk membayar rumah kontrakan. Rumah kontrakan yang harus dibayar setiap 3 bulan sekali, tapi kamu sudah telat membayar dan saat ini kira-kira telah berjalan  di bulan keempat. Sudah mau sebulan pemilik kontrakan memberikanmu keringanan. Induk semang itu sampai bosan menagih dan mengingatkanmu tiap hari untuk melunasi bayaran 3 bulan kemarin. Oleh karena itu, besok adalah kesempatan terakhir yang ia berikan. Jangan sampai kaulupakan.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home