Lepaskanlah apa yang kaurasa. Jingga menyala warna langitnya. Saat senja, saat senja... memanjakan kita. (Fourtwnty - Diskusi Senja).

sumber: Pixabay

--

Seusai acara Indomie Goreng Kuah, gue merasa males banget untuk langsung balik ke rumah. Ada beberapa pertanyaan yang terus mengganjal di hati selama perjalanan menuju stasiun. Apa iya gue bakal begini terus?

Begini yang gue maksud adalah sebuah keresahan akan pekerjaan yang cuma menjadi seorang pegawai lepas—biasanya disebut freelancer biar terdengar lebih keren. Sore itu, hidup gue rasanya terombang-ambing.

Memikirkan gimana masa depan gue nanti yang nggak ada pemasukan tetap setahunan lebih ini. Sejujurnya, gue udah capek banget nganggur. Gue pikir, freelancer itu sebenarnya sama aja kayak nganggur. Dapat uangnya nggak tentu. Apalagi kalau bayaran dari klien sering telat. Lalu, sekalinya dapat upah yang dibayar mingguan, duitnya entah ke mana. Tau-tau habis dan nggak ada yang bisa disisihkan. Miris sekali kalau setiap gajian selalu numpang lewat gitu. Gue kangen rasanya memiliki tabungan 8 digit angka. Beli ini-itu nggak perlu mikir lagi.
Read More
Kebanyakan orang berpendapat, kalo musik sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Tanpa adanya musik, hidup akan terasa kurang berwarna. Nggak perlu dimungkiri lagi, musik memang menemani kita dalam keadaan apa pun. Baik suka maupun duka.

Di kala terjebak macet, kita biasanya akan mendengarkan musik agar nggak bete sepanjang perjalanan. Lagu-lagu bergenre rock, hardcore dan apa pun itu yang dapat menumbuhkan semangat biasanya akan diputar. Kemudian sewaktu sedang galau misalnya, kita juga akan mendengarkan musik. Lazimnya, kita akan mendengarkan musik sendu. Memasang telinga baik-baik saat mendengarkan nada-nadanya yang minor, lalu meresapi liriknya yang puitis dan melankolis. Bahkan, nggak jarang kita ikutan bernyanyi agar perasaan sedih itu dapat tersalurkan. Mellow abis.

Katanya, sih, lirik itu merupakan bagian yang cukup penting dalam sebuah lagu. Lirik adalah sebuah ekspresi seseorang mengenai suatu hal yang ingin disampaikannya. Celakanya, masih banyak lagu yang memiliki lirik terlalu panjang dan ribet. Sehingga kita malah kesulitan untuk menghafalnya. Padahal lirik yang singkat itu biasanya lebih mudah dimengerti.

sumber gambar asli: pixabay, kemudian gue tambahin teks

Berbicara soal lirik singkat, belakangan ini gue lagi suka dengerin lagu Barasuara – “Hagia”. Alasan gue sering mendengarkan lagu itu karena sebuah keresahan berbau SARA. Sumpah, gue nggak ngerti aja gitu sama orang-orang belakangan ini yang meributkan agama melulu. Nah, lagu “Hagia” ini rasanya telah menjawab kegelisahan gue di setiap ada seorang atau sekelompok yang merasa agamanya paling benar. 

Read More
Akhir-akhir ini, gue lagi keranjingan membaca tulisan sendiri beberapa tahun ke belakang. Saat membacanya, perasaan gue pun otomatis menjadi campur aduk. Kalau baca tulisan 2012-2013, tentu saja bikin ngakak dan jijik sendiri karena tulisannya masih kacau dan membuat gue bergumam, “Ya Allah, ini beneran gue yang nulis?”. Merasa nggak percaya kalau tulisan gue saat ini sudah banyak berubah jika dibandingkan dengan tulisan pada tahun itu.

Lalu, ketika membaca tulisan tahun 2014, gue merasa kalau gaya gue sok-sok motivator yang sangat berusaha memberikan nasihat kepada pembacanya. Mirisnya, pada tahun itu sedikit banget dan jarang yang komen di blog gue. Alias cuma segelintir manusia yang baca. Terus itu gue ngasih nasihat ke siapa dong? Bangkai curut!

Pada tahun 2015, gue mulai terpengaruh dan belajar untuk menulis komedi. Ya, meskipun komedi-komedi di tulisan gue itu kayaknya garing banget. Sekalipun lucu, palingan yang jokes mesum. Sampai-sampai gue malah jadi keterusan untuk memakai cara itu. Gue merasa nggak kreatif sama sekali. Berniat menghibur orang, tapi caranya kok gitu-gitu aja? Menyedihkan.

Barulah pada tahun 2016, terutama setelah mengganti nama domain dan blog menjadi: akbaryoga(com) - Mengunci Ingatan. Gue mulai menulis apa aja yang memang ada di kepala. Yang penting keresahan dan pesan gue dapat tersampaikan. Kalau ada bumbu komedi yang bisa gue selipkan di tulisan itu syukur, nggak ada juga gak jadi masalah. Toh, nggak semua orang butuh tulisan lucu. Bisa aja dia lebih butuh tutorial. Tutorial menulis lucu dengan estetika yang diremehkan, misalnya.

sumber asli: pixabay yang kemudian ditambahin teks olehku
Read More
Selain menulis, gue memiliki beberapa hobi lain. Salah duanya adalah membaca dan kumpul bareng temen-temen. Untuk menjadi seorang penulis, tentu saja gue harus banyak membaca. Kalau malas membaca, nanti tulisan akan begitu-begitu aja. Nggak ada perkembangan. Kemudian, kumpul bersama teman-teman juga sangat menyenangkan. Meskipun kumpul-kumpul itu biasanya identik dengan gibah, tapi ya jangan fokus ke hal seperti itu.

Berkumpul bersama teman-teman masih banyak kok manfaatnya. Kita bisa membahas suatu topik, kemudian mendiskusikannya bersama. Namun, usahakan jangan membahas topik-topik berat seperti politik atau agama yang menimbulkan kericuhan. Karena nggak semua orang dapat berpikiran terbuka. Alangkah baiknya berdiskusi hal-hal yang lebih ringan. Membahas buku, musik, film, dan sejenisnya.

Seperti pada tanggal 1 Februari 2017 kemarin misalnya. Gue mendapatkan undangan untuk hadir di acara Gathering TabloidKu. Pada hari Rabu siang yang hujan deras, gue sudah berada di TransJakarta sedang menuju mal Plaza Indonesia, Jakarta Pusat. Padahal, biasanya gue akan memilih berdiam diri di rumah dan tidur-tiduran kalau memang libur ngantor. Bagi gue, hujan memang lebih asyik untuk tidur. Hehe.

Gue sekarang tidak bisa lagi tidur-tiduran. Ada sebuah gathering yang harus gue datangi. Lagian, udah lama banget rasanya nggak kumpul sama temen-temen seperti ini. Terlalu sibuk sama kerjaan ternyata bikin gue lupa silaturahmi. Oleh karena itu, di sinilah gue sekarang. Tersesat di mal besar seperti ini. Oke, ini memang pertama kalinya gue main ke Plaza Indonesia.

Namun, gue harus kebingungan hanya untuk ke lantai 6. Kenapa eskalator dan liftnya begitu khusus? Untuk ke suatu lantai, ya harus lihat baik-baik nomornya. Karena ketika gue naik lift, ternyata itu mentok hanya di lantai 5. Bukan lantai 6. Mungkin ada 4-5 kali gue bertanya ke security di mana letak XXI yang katanya ada di lantai 6 itu. Setelah kepala agak pusing karena nyasar mulu, akhirnya gue pun bisa berkumpul bersama teman-teman di XXI Plaza Indonesia untuk nonton bareng gala premiere film “Surga yang Tak Dirindukan 2”.
Read More
Criticism may not be agreeable, but it is necessary. It fulfills the same function as pain in the human body. It calls attention to an unhealthy state of things.” – Winston Churchill

--

Buat yang belum tahu, gue bersama teman-teman WIRDY baru saja membuat buku-el. Kalau boleh jujur, gue deg-degan bukan main ketika karya itu dilepas ke umum. Beberapa ketakutan di dalam diri itu juga mengganggu banget. Takut nggak ada yang download; takut cuma diunduh, tapi malah nggak dibaca; dan terakhir, takut dipuji secara berlebihan.

Gue sama sekali nggak takut diberikan kritik ataupun saran. Nggak. Gue justru menyukai itu. Menurut kalian, kita—para bloger—bisa terus menulis dan konsisten sampai sejauh ini karena apa?

Pertanyaan bagus!

Apa karena bisa menghasilkan receh?

Hm, mungkin beberapa orang ada yang begitu, tapi gue nggak. Gue bisa bertahan ngeblog sekitar 4 tahunan ini karena adanya pembaca. Terlebih lagi pembaca yang mengapresiasi tulisan gue. Apalagi para pembaca yang kritis. Mereka memberi tahu tulisan itu di bagian jeleknya, lalu memberikan solusi agar tulisan gue menjadi lebih menarik.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home