Mengapa Kita Terjatuh?

65 comments
Sudah berulang kali gue jatuh dari motor atau kecelakaan. Hm, tetapi hal itu tidak membuat gue berhenti mengendarai motor. Mungkin sempat trauma sebentar, tapi begitu merasa baikan, gue pasti akan menaiki motor itu kembali. Sejujurnya, sih, itu terpaksa. Iya, karena gue kalau naik angkutan umum bakalan enek dan pusing. Nggak enak banget, ya, jadi orang yang mabuk kendaraan umum. Dasar lemah!

Namun, gue masih bisa kok naik kereta api dan TransJakarta. Kalo mikrolet, taksi, metromini, dan kopaja gue mending nyerah aja deh. Rasa mual gue susah banget dikendalikan. Kan nggak lucu aja gitu ketika di metromini terus gue “hoek-hoek” dan disangka hamil. Gue nggak pengin mengganggu penumpang yang lain dan membuat mereka merasa jijik. Maka, mau gak mau gue harus tetap mengendarai motor.

***

Beberapa orang sering mengeluh dan malas dengan hari Senin. Begitu pun dengan gue pada hari Senin tanggal 9 Januari 2017. Entah kenapa, hari itu gue pengin tidur aja. Padahal emang habis begadang dan baru tidur sehabis Subuhan. Sedihnya, gue lupa kalau pukul satu siang nanti harus masuk kerja. Yeh, itu mah emang gue aja yang bego. Hahaha.

Sekitar pukul 11, gue tiba-tiba kebangun dari tidur yang seolah-olah begitu singkat. Padahal udah tidur sekitar 5 jam. Entah kenapa kalau tidur pagi itu rasanya kayak nggak berasa tidur, ya? Karena masih ngantuk, gue pun memilih tidur lagi. Ah, azan Zuhur juga belum. Tidur satu jam lagi bisa ini mah, batin gue sambil memejamkan mata kembali.

Celakanya, gue kebangun pukul 12.45. Bangkai. Gue langsung lari ke kamar mandi, kemudian mandi secepatnya. Cuma, ya tetep aja nggak mungkin pukul 13.00 gue udah sampai kantor. Secepat-cepatnya palingan sekitar 13.30. Itu juga kalau nggak macet.

Inilah di saat gue merasa apes (yang artinya sial, bukan apes yang film monyet itu). Iya, karena langit tiba-tiba meneteskan air matanya. Gue yang sedang terburu-buru ini pun terpaksa menepi dan memakai jas hujan. Tapi biar bagaimanapun, gue cukup bersyukur atas hujan ini. Siang ini, lalu lintas di Jalan Gatot Subroto yang biasanya macet mendadak lancar. Gue pun melirik jam tangan di tangan kanan. Jam menunjukkan pukul 13.22. Belum telat-telat amat, pikir gue.


Di saat gue mulai menambahkan kecepatan supaya cepat sampai, tiba-tiba klakson TransJakarta malah mengagetkan gue dan motor pun sedikit oleng. Gue anaknya emang nggak bisa dikagetin. Meskipun gue anaknya nggak latah seperti orang-orang yang tiap kaget selalu refleks mengucap sesuatu seperti: “Eh, ayam-ayam”; “Aduh, copot. Eh, copot”; “Ah, kontol lu gede. Kontol lu gede”.

Ya, gue nggak latah begitu. Gue kalau kaget biasanya istigfar. Yoi, gue mengucap astagfirullah dalam hati. Anjay!

Namun, kekagetan gue hari ini ternyata membuat gue terjatuh. Sebenarnya gue nggak jatuh karena kaget mendengar klakson TransJakarta itu. Gue jatuh disebabkan oleh sebuah lubang di tengah jalan. Jadi, di tengah jalan itu ada kotakan terbuat dari besi yang ada lubang-lubang kecil untuk resapan air gitu deh. Nah, pinggirannya tuh seperti keropos dan menjadi lubang. Ban gue pun jeblos ke lubang itu. Biasanya, gue masih bisa menahan keseimbangan kalau ban motor masuk ke lubang, tapi kali ini ban motor gue malah nyangkut sehingga gue terjatuh ke kiri dan ketiban motor.

Suasana jalanan di hari ini begitu sepi. Entah gue harus merasa beruntung atau sedih. Beruntung karena nggak ada yang lihat gue terjatuh memalukan seperti ini. Sedih karena nggak ada yang bantuin.

Gue masih lemes dan nggak percaya kalau gue baru saja terjatuh. Motor Honda Spacy ini juga cukup berat untuk gue angkat. Lalu, beberapa detik kemudian ada seorang bapak-bapak yang mencoba untuk menolong gue. 

“Ada yang luka, Dek?” tanya Bapak itu sembari mengangkat motor gue.

Di kala motor itu belum berdiri sepenuhnya atau masih miring, gue malah mendadak bangun seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

“Nggak apa-apa kok, Pak,” jawab gue dan langsung menyalakan motor lagi.

“Bener nggak apa-apa? Bisa bawa motornya?”

“Bisa, Pak. Bisa. Makasih, ya,” ujar gue, meninggalkan tempat kejadian itu dengan terburu-buru.

Adrenalin itu keluar begitu saja ketika gue merasa malu karena terjatuh sendiri. Gue juga merasa nggak ada yang sakit di bagian tubuh. Gue lebih mencemaskan laptop yang gue gendong di tas ini. Takut kenapa-kenapa karena itu adalah laptop kesayangan gue (dibaca: laptop satu-satunya).

Sesampainya di parkiran kantor, gue segera membuka hape untuk menanyakan teman soal meeting yang udah mulai apa belum. Lucunya, gue malah dikabarkan terlebih dahulu sama temen satu tim lainnya yang katanya masuknya diundur jadi pukul tiga sore.

Telek pitik!

Gue udah buru-buru sampai terjatuh kayak tadi, eh ternyata brainstorming-nya diundur. Ahahaha. Lucu banget bukan? Kalo kata Yogaesce, “Ketawa dong!”.

FYI, gue bekerja sebagai freelancer di salah satu TV swasta. Begitu melangkahkan kaki keluar lift karena sudah sampai di lantai 7—tempat diskusi ide para tim kreatif—, kaki kiri gue mendadak terasa sakit.

***

Kerja sambil menahan sakit rasanya bener-bener nggak enak. Ketika para tim kreatif sedang brainstorming, tapi gue cuma diem seraya menahan kaki yang ngilu. Hari itu, perasaan gue nggak keruan. Gue bekerja begitu pasif. Sebab, pikiran gue juga keganggu. Ini kaki gue kenapa sakit banget, ya Allah? Apa baik-baik aja? 

Pulang ngantor, gue langsung mengabarkan Nyokap untuk memanggil tukang urut. Jadi, begitu sampai rumah nanti gue sudah bisa langsung urut. Namun, kenyataan berkata lain. Sesampainya di rumah, Nyokap nggak ada. Kata adik gue, beliau lagi pergi ke pasar. Begitu Nyokap pulang, gue langsung bertanya, “Bu, mana tukang urutnya? Udah sakit banget ini. Harus urut sekarang juga.”

Beliau pun langsung menjawab, “Tadi Ibu udah ke rumah tukang urutnya, tapi dia udah ada jadwal ngurut sampai jam sembilan.”

Ya, Allah. Entahlah gue harus menunggu pukul 9 malam dengan cara apa. Masa iya cuma menikmati rasa sakitnya? Dua jam bagi gue terasa begitu lama ketika sedang menderita. Akhirnya, gue memilih curhat di grup dan bertanya-tanya soal kaki yang keseleo. Nggak nyangka, ternyata ngobrol di grup chat benar-benar bikin gue lupa waktu.

Jam sudah menunjukkan pukul 9, tapi tukang urut itu belum juga datang. Akhirnya, Nyokap kembali mendatangi rumah tukang urut tersebut. Nggak lama setelah itu, kaki kiri gue udah diurut sama tukang sedot tinja. Ya, kagaklah! Tukang urutnya ibu-ibu sudah berumur sekitar 50 tahun. Beliau menjelaskan kalau engkel kaki gue uratnya muter.

Deg! Bener kan dugaan gue. Soalnya ngilu banget.

“Kamu yang dulu pernah kepeleset di gunung itu, ya?” tanya si Ibu tukang urut. “Kayaknya dulu juga pernah keseleo di bagian ini.”

“Curug, Bu,” jawab gue mengoreksi. “Iya, yang waktu itu kepeleset dan urut malem-malem juga.”

“Oh, iya. Bener berarti. Nggak kapok apa jatuh mulu? Doyan bener kayaknya jatuh.”

Gokil! Ibu ini masih inget gue. Ah, tapi kampret bener itu ngeledeknya. Siapa juga yang doyan jatuh? Anjirlah.

“Jangan tegang gitu. Rileks aja. Rileks. Nanti bahaya kalau urat kamu kaku,” ujar Ibu itu bersiap-siap memutar pergelangan kaki gue.

Karena bingung harus apa biar nggak tegang, maka gue kembali membuka WhatsApp dan nge-chat grup. Alhamdulillah, cara ini kembali berhasil. Gue malah bisa ketawa-ketawa pas lagi di urut begini. So, terima kasih teman-teman di grup.

Begitu urut selesai, tukang urutnya bilang, “Ya udah. Semoga cepet sembuh, ya. Inget, jangan buat jinjit dulu. Takut nanti uratnya balik lagi kayak sebelum di urut.”

Setelah mengucap seperti itu, tukang urut itu pun pulang. Ya, tentu saja setelah gue berikan sejumlah uang sebagai upahnya.

Padahal udah diurut, tapi gue masih takut kaki gue kenapa-kenapa. Serem aja gitu kalau udah menyangkut bagian urat. Luka yang nggak nampak memang nyeremin, sih. Lalu, ketika gue pindah ke kamar dan berbaring sambil menatap langit-langit berniat ingin tidur. Tiba-tiba pertanyaan tukang urut itu kembali mengusik gue.

“Nggak kapok jatuh mulu?”

Gue langsung pengin bertanya balik, “Mana ada, sih, orang yang nggak kapok kalau jatuh?”

Namun, begitulah tentang jatuh. Kita nggak punya pilihan lain saat jatuh selain untuk bangkit lagi. Misalnya anak kecil yang terjatuh ketika sedang berlarian. Dia mungkin awalnya menangis saat terjatuh, tapi setelah itu ibunya pasti akan bilang, “Udah nggak apa-apa. Hayo, bangun lagi. Makanya, tadi dibilangin apa? Jangan lari kenceng-kenceng! Cepet bangun lagi, nggak usah nangis. Tadi lari kenceng-kenceng bisa, masa bangun nggak bisa?”

Anak itu pun bangkit lagi dan tertawa.

Jatuh cinta pun begitu. Kita rasanya nggak akan pernah kapok untuk jatuh cinta lagi meskipun telah patah hati berulang kali. Terjatuh membuat diri kita lebih kuat. Begitu juga terjatuh dalam kehidupan ini. Kegagalan mungkin sering terjadi dalam hidup kita. Lalu, apa kita berdiam diri di situ aja? Nggak, kan? Membiarkan diri terpuruk bukanlah jawaban.

Lucunya, gue sendiri pernah depresi dan nggak tau hidup harus untuk apa lagi. Tiga bulan hidup tanpa harapan dan tujuan benar-benar menjengkelkan. Gue pengin bangkit, tapi bingung harus mulai memperbaikinya dari mana. Setelah sekian lama, akhirnya ketemu juga jalan keluar itu. Gue anaknya suka banget cerita alias curhat. Jadi, cara paling gampang untuk memulai perubahan adalah dengan menulis cerita.

Semoga gue tidak mengulangi kesalahan kemarin itu. Semoga ketika gue terjatuh lagi nanti, entah terjatuh dalam situasi seperti apa pun, gue tetap bisa bangkit kembali. Gue juga jadi teringat perkataan Thomas Wayne yang diulang kembali oleh Alfred kepada Bruce Wayne ketika rumahnya hangus terbakar di film Batman Begins.

Why do we fall?”

So, we can learn to pick ourselves up.

Sumber: KLIK


Atau bisa juga begini, “Mengapa kita terjatuh?”

Seperti di sebuah lagu Sheila On 7, tentu saja agar kita siap untuk melompat lebih tinggi.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

65 comments

  1. Sorry Yog gue ngetawain lo yang jatoh sendirian di jalan pas ujan-ujan. Hahaha. Tengsin banget itu pasti rasanya ya.

    Laptopnya gimana? Nggak papa kan? HAHAHA.

    Kenapa ujung-ujungnya galau. Hmmm.

    Jatuh itu training. Biar kita bisa ngelewatin lubang berikutnya. Termasuk jatuh cinta. Ya gitulah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan tengsin lagi. Ya, pokoknya awkward moment gitulah. Wahaha. Alhamdulillah ini masih bisa buat ngetik. :D

      Hm....

      Ehehe. Jatuh itu latihan? Gila emang si Farih filosofinya. Wqwq.

      Delete
  2. Ternyata ibu kota juga jalannya kek gitu yach? kurang adrenalin gitu.... (baca = kurang perawatan ).

    Ngomong2 soal jatuh, jadi inget nich, dulu juga gue jatuh... sama spt orang yg nulungin elu...iya, eluuu..... "ndak papa dek?"

    Cuman ngomong itu doang bapak-bapaknya ke saya... saya belom jawab, eh dia kabur duluan... asem!

    Kata orang tuh, kalau jatuh berarti hidup lu udah tinggi... #roaming

    semoga jatuh lagi kakakkkkk.... JATUH CINTA... *GARING BANGET

    btw, telek pitiknya asyik... hahahaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, begitulah, Mas. Masih banyak lubang yang harus dibenerin. :))
      Wahaha. Kalau saya, kan, itu yang kabur, Mas. :D

      Anjaaay. Hidup udah tinggi. :)

      Hidup teleq pitiq!

      Delete
  3. Kuat juga lu diurut. Gue mah gelian anaknya. Ya, sama aja kayak yang lu rasain kalo naik angkot, mungkin. Wahahaha.

    Kalo jatuh cinta mah, namanya lelaki ya tetep aja penasaran walaupun patah hati. Maklum, gejolak remaja. Umur boleh 17, tapi muka mahasiswa semester 5. Ya, emang gak nyambung sih. Muka tua makanya digodain janda kaya.

    Btw, salut lah sama tukang urut itu. Hafal aja sama kejadian lalu. Punya orang dalem kali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kuatlah ehehe. Kalo nggak urut takut kenapa-kenapa sama uratnya. Naek angkot aja yang nggak kuat. :(

      ((JANDA KAYA))

      Delete
  4. HAHAHAHAHAHAHA YAA ALLAH. PIKIRANKU UNTUK KOMENTAR, SEMUA YANG MAU TUANGKAN DI KOMENTAR INI BUYAR SEKETIKA, KETIKA IBU TUKANG URUT BILANG "NGGAK KAPOK NAPA JATUH MULU?" :'D yaa Allah bang yoga :'D sabar ya.
    btw sekarang gimana kakinya? udah baikan? sampai memar nggak itu teh bang?

    kemarin-kemarin udah lama sih, aku juga pernah jatuh dari motor. awalnya pasca itu masih trauma, apa-apa dianter, lama-kelamaan semakin baik, sih. udah berani sendiri

    berada di titik bawah mah pasti semuanya pernah di fase itu sih, cuma... iya itu, gimana kitanya.

    iya bang, jangan terjadi lagi ya yang 3 bulan itu. bismillah, semoga hari-harinya selalu baik dan ceria aamiin ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gini amat, sih, penderitaanku. :(
      Alhamdulillah sekarang sudah baikan, Ris. ^__^

      Iya, awal gue trauma dulu juga dianter, kok. Sekarang nggak usah trauma-traumaan deh. Bismillah nggak kenapa-kenapa. :))

      Aamiin. Makasih ya, Ris! :D

      Delete
  5. aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi,
    aku tenggelam dalam lautan luka dalaaam
    aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
    eeh taunya, masuk jam tigaaaa *kan bikin emosi XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dongkol banget udah buru-buru tau-taunya diundur. :(

      Delete
  6. Cepet dapet pacar KaK yaaa.. biar pas jatoohh ada yang megangin *eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus pacar yang ono mau di kemanain kalau disuruh dapet pacar lagi? :(

      Delete
  7. Baru kseleo mah masih receh yog, gue pernah sampe koma seminggu gara-gra jatoh juga.

    Gue juga suka banget sama adegan bruce wayne itu, inspiring banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. ((masih receh))
      Wanjir sampai koma? Idih, ngeri banget itu, Nap. Yoih. Film favorit gue tuh trilogi Batman. :D

      Delete
    2. Iya, coba baca post blog gue yang baru dah.

      Delete
  8. Hidup cowok yang suka pusing naek mobil!! Kita senasib kan haha.

    Aku bukan termasuk orang yang kagetan. Tapi klakson bus (apalagi yang berisik) itu emang membahayakan cees. Terutama buat pengendara motor. Soalnya pernah beberapa kali ngalamin oleng sewaktu diklaksonin bus.

    Setuju lah sama analoginya. Terjatuh itu biasa, yang jadi persoalan adalah bagaimana kita bangkit lagi. Yuhu yuhu yuhu.

    Sekarang udah baikan cederanya cees?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha. Hidup! Iya nih, orang seperti kita harus dilestarikan, cees.

      Tuh, kan? Emang klakson bus yang kenceng banget itu ngagetin. :(

      Yuhuuuu! Alhamdulillah udah mulai sembuh. Semoga semakin baik. :D

      Delete
  9. Entah kenapa seorang pria kalau jatuh dari motor, punya adrenalin buat bilang, "Iya gapapa" ya ? Gua pernah kecelakaan motor, sampe motor sama guanya jungkir balik, tetep aja bisa bilang gapapa. Aneh banget ya -_-

    Btw, seketika gue flashback scene di film Batman yang itu. Quotesnya dalem banget~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena kalau ngeluh kenapa-kenapa, agak aneh juga, sih. Nanti ngerepotin kalo dibantu atau dibawa ke rumah sakit. :|

      Ntap~

      Delete
  10. Ya siapa juga suruh jatuh, eh nggk maksudnya semoga nggk jatuh lagi ya, dari pada jatuh dari motor mendingan jatuh cinta boy haha

    ih segitunya ya latah ... lebay banget orang nggak sakit kan?
    ya udah hati-hati, eh iya bisa jadi mual-mual gejala hamil tuh haha kabur ah dari pada di pentung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak. Jatuh cinta aja, tapi nggak sama Boy juga! Udah mati, kan.

      Bukan saya yang latah. Itu kan contoh. :))

      Delete
  11. Hmm, iyasih, emg bner. Bang yoga kalo ceritanya gak sakit, ya jatoh mulu :'Dv wkwk
    Tp smga selanjutnya gak jatoh2 lg yaak.. Moga2 si jatuhnya bosen jatuhin bang yoga mulu :D

    Antara seneng dan sedih jg ya, jatoh pas lg ga ada org. Masih ujan itu ya? Gue malah ngebayangin ala2 drama gtu, ujan2 trs jatoh... Emaap, kbnyakan nntn dramkor gini nih:( Alhamdulillah ada bapak2 baik hati yaahh...

    Aku jg klo dikagetin suka latah, latahnya paling klo gak "ayam" ya "kucing" gapernah ko... *sinyal ilang*
    Apalagi di jalan gtu, diklakson motor aja aku suka kaget. Pgnnya di jalan ga ada motor ato mobil gtu. Sepi. Gmn caranya yak? Hahaa

    Kok komen gue jd absurd gini sih?:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin Lulu aja yang bacanya pas di bagian itu terus. :( Aamiin. Tapi kalo jatuh cinta jangan sampe bosen. Wqwq.

      Ya Allah ini anak terlalu banyak nonton drakor. :))

      Hm, latah yang sampe kebiasaan ngomong jorok itu gimana, sih? Gue nggak ngerti masihan. Ini Jakarta dan lu berharap nggak ada motor atau mobil? Menurut ngana gimana?

      Delete
  12. Asik! suka banget sama endingnya curhatan kali ini.
    Berasa kayak siraman rohani. Bener banget.
    Hahaha

    Pernah juga tuh aku bosen banget kerja di kantor yang sekarang.
    Udah bener bener terjatuh moodnya buat kerja, tapi masa iya mau terpuruk gitu aja.
    Yakali mau resign, dapet duit buat kuliah darimanaa..

    Akhirnya ya mau gak mau kalau lagi bosen ya buka blog. Entah nulis separagraf dua paragraf, entah blog walking. Yang jelas bangkit dulu dengan cara yang kita suka gitu kan ya.

    Eh.. tapi ada beberapa 'bangkit' yang harus berdarah darah *tsaaaaah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Curhat aja ada siraman rohaninya, ya? :3

      Nah, iya bener tuh, Da! Buat jajan kuota, makan, jalan-jalan, dll dari mana kalau nggak kerja? :')

      Tsaaahh.

      Delete
  13. Emang gak bosen jatuh mulu? Ya Allah gimana mau bosen orang gak sengaja.

    Jadi inget dulu waktu mau ke Blitar diperjalanan ngeliat kecelakaan, motornya sampe di bawah bus. Seketika lutut rasanya ikutan lemes. Prjalanan dari Malang -Blitar yang biasanya 2 jam bisa sampe 4 jam.

    Menurutku lebih baik jatuh berdarah daripada jatuh terpuruk. Kan kalo sakit fisik sudah jelas obatnya sedangkan terpuruk harus nyari solusinya. Bener-bener bukan hal yang mudah..

    Entah harus bersyukur apa gimana ternyata di undur sampe pukul 3. Semoga lekas sembuh yaa.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya. Dikira ibu tukang urutnya gue jatuh itu biar keren kali, ya? :(

      Duh. Nggak bisa bayangin kalau sampe ke kolong bus gitu. Ya Allah. Iya, betul. Keterpurukan obatnya diri sendiri gitu, sih. Prosesnya juga lebih lama dari jatuh berdarah.

      Aamiin. Makasih, Rum!

      Delete
  14. Waiki, sedihnya kalau jatoh dari motor itu bukan gagara sakitnya, tapi malunya. Kalau lagi rame malu banget, tapi kalau nggak ada yang bantuin malah jadi kijuk sendiri, nelangsa.

    Eh tapi motornya gapapa kan? Gak ada yang rusak parah? Nggak harus dibawa ke bengkel?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooh. Nelangsa banget. :(

      Masih zaman yak motor yang ditanyain lebih dulu? Wahaha. Alhamdulillah motornya nggak apa-apa. :)

      Delete
  15. Gue udah ketawa nih :))

    Emang paling ngeselin ya lubang di jalan, atau gak klakson yang suaranya ngagetin. Ngagetinnya kayak di-ukhuk-in seseorang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantap orangnya nongol.

      Ukhuk. Batuknya seseorang filsuf.

      Delete
  16. ini yg lu omongin pas meeetp kemaren ya, yog.

    emang iya sih, gue juga kadang kaget kalo tiba2 ada mobil klakson pas bawa motor.gue aja ampe minggir-minggir.

    dan emang bahaya sih kalo ksleo terus gak langsung diurut. btw, gue juga pernah diurut kek gitu, tepatnya pas kecil, tulang di dada gue, yg bawah leher itu. anjsi sakit bgt. hehe

    kok jadi curhat, he..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, curhatan kemarin kalau kaki gue baru sembuh. Haha.
      Ngeselin anjis itu yang klaksonnya ngagetin. :')

      Waduh, belum pernah sampai dada gitu, sih. Kok ngeri, ya? :(

      Delete
  17. ENdingnya keren, Yog. Itu semacam menyadarkan gue utk gak menyerah karena suatu hal yang sering terjadi sm gue.

    “Nggak kapok jatuh mulu?”
    Kalau buat gue, itu sama aja kayak sebuah pertanyaan "Kamu sakit mulu, sih?"
    Ya, sama. Gue juga gak mau sakit mulu keles.
    Kadang pertanyaan itu bikin gue mau mengutuk diri gue sendiri. "Iya, ya, kok gue sakit mulu? Payah banget, sih!"
    Lalu gue sadar, kayak gitu malah memperburuk kesehatan gue. Lebih baik koreksi diri dan jangan mengulang sesuatu yang emang gak baik untuk kesehatan. Huahaha....
    *ehmaap jadi curhats :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantap. Padahal gue cuma curhat, eh ada yang sampe bilang menyadarkan. Wqwq.
      Nah, jangan sampai down, ya! :D

      Gak apa curhat. Nggak dosa, kok. Pokoknya terus semangat ya, Nur! :))

      Delete
  18. Eh kenapa lw mual naik metromini ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak tau. Kadang ngerasa mual aja naik angkutan umum selain kereta dan busway. :(

      Delete
  19. Kata orang mah kalo mabok naik mobil itu gak cocok jadi orang kaya, Yog. Ini kata orang loh ya, gue hanya menyampaikan. Tapi kalo gue tau siapa yg ngomong gitu, pasti udah gue getok tuh palanya.

    Untuk cuman di klakson transjakarta nggak di "telolet"-in lo. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahaha. Naik angkot, ya! Mobil pribadi enggak. :p

      Lebih serem bunyi telolet uy. :(

      Delete
  20. haduuuuh, untung ga kenapa2 Yog.. baru aja jumat lalu om ku meninggal krn jatuh dr motor.. sama kayak kamu, ban nya masuk ke lubang gitu.. apesnya dia lg ngebut, jd bantingannya pas jatuh kenceng dan keras,, kepalanya lgs kena, koma sebentar, sampe rs meninggal.. sepela ya, hanya krn jalan rusak :(..

    hati2 lain kali...

    aku kalo metromini, kopaja, msh bisa naik Yog.. tapi damri, ato bus2 akap ato segala macam bus yg kursinya madep ke depan dan tertutup rapat, apalagi kalo sampe kacanya digelapin, waduuuh aku lgs sesak napas.. ga bisa samasekali.. aku mnding naik kopaja ato metromini yg pintunya dan jendela kebuka lebar.. jd ada udara masuk.. dan aku ga bisa duduk deket jendela klo naik bus2 kendaraan umum gt.. soalnya kebayang duluuu bgt prnh naik bis gitu, dan pinggiran jendelanya ketempel permen karet.. sejak itu Yog, aku jijik setengah mati naik bis apalagi dkr jendela ;p.. kebayang permen karet nth siapa, bekas liur siapa, dan bikin mual luar biasa .. :D ..gpp deh naik gojek ato taxi aja demi ga mual :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, Allah. Turut berduka cita ya, Mbak. :(

      Seharusnya jalanan yang rusak dan berlubang itu lebih cepat dibenerin tuh. Kasihan kalau sampai ada yang kecelakaan. :')

      Iya betul juga tuh. Dibanding bus besar itu, mendingan metromini atau kopaja yang ada semilir angin. Tapi tetep, aku, sih, lebih suka naik kereta, Mbak. Wahaha.

      Delete
  21. ya ampun yoga :") sekarang yoga sibuk ya, untuk perlu tahu kabarnya yog aja mesti buka blog dulu nih. next time jaga kesehatan dan fokus yaaaaa. terus aku bingung mau komen apalagi. nasehat selanjutnya di wasap cajalah ~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak sesibuk kelihatannya, kok. Wahaha. XD Oke, sudah berusaha menjaga kesehatan. :)

      Delete
  22. Ini aku udah bacanya dari lama. Baru komen sekarang. Baca lagi sih, dan pas pertama baca itu ketawa. Soalnya ada latah yang ngomongin gede-gede itu njir. Bajingak! Pas baca kedua kali ini, aku agak sedih sih. Ingat curhatan kamu tadi malam di grup :(

    Btw akhir tahun kemaren juga aku sering jatoh. Dikatain doyan jatuh juga sama kayak kamu. Ngahahahahaha. Sedih amat yak. Padahal iya, siapa juga yang mau jatuh. Apalagi jatuh cinta. Sebenarnya kita (atau aku aja kali ya) nggak mau lagi sih, tapi susah. Analoginya keren btw. Ada liriknya Sheila on 7. Bikin aku mikir... kenapa kita akhirnya berani jatuh cinta lagi padahal udah pernah patah hati? Supaya bisa memahami cinta dengan pemikiran tinggi. Hahaha. Halah.

    Oh iya, kirain yang datang itu Mak Erot, Yogs. Taunya tukang urut beneran. Hehehehehe. Hehehe. Hehe. He. H....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahaha. Sebenernya males ngetik kata jorok itu, sih. Tapi begitulah kenyataan orang yang latah. :(

      Ya, benar begitu kan. Awalnya mungkin nggak kepikiran ini-itu. Habis patah hati, terus jatuh cinta lagi pemikiran jadi lebih terbuka. :)

      Tolong, ya. Mak Erot itu udah meninggal. :(

      Delete
  23. Awalnya gua ga gituh ngerti kenapa dari buru-buru, jatoh, diurut, sampeek masalah cinta dan hidup..
    hahaha
    gara-gara jatoh, secara ajaib jadi dalem gituh postingannya..
    #kepala lo kejedot apaaaa..????#
    merupakan suatu pembelajaran yang luar biasa..
    #azeeek..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha. Tapi akhirnya bisa menyimpulkan? Kepala gue gak kejedot kok. :(

      Delete
  24. Ah, sampe sekarang ku belum punya nyali untuk mengendarai motor. hahaha.
    Laptop yang dipikirin... Iya juga, sih. Satu-satunya. Kalo desek-desekan di kereta juga mikirinnya laptop, takut kenapa-napa saking padetnya :/

    Terus sekarang gimana, Yog? Kakinya udah enak enak aja kan buat beraktivitas?

    Btw samaan! Suka mabok perjalanan. Hawa mobil, bis, taksi itu nggak enaaaakkk!Heuuu


    Terjatuh untuk melompat lebih tinggi ya? Noted!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya di laptop gue banyak banget file penting. Apalagi tulisan dan foto-foto. Alhamdulillah udah enak, Bil. Buat gowes juga udah bisa. :D

      Ternyata yang mual naik taksi itu ada lagi. Gue gak sendirian. :')

      Delete
  25. Makin sering jatuh, makin luwes buat menghadapi lika-liku jalanan ibukota. Begitu juga dengan hidup, Kak. Makin sering jatuh, makin tahu sela nya dimana biar bisa dapet momen buat naik lagi. Ganbatte, Yoga!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehe. Iya, kerasnya Ibu Kota jadi lembut kalau sudah banyak terjatuh. Halah. Makasih, Kak Dee. :D

      Delete
  26. aduh sumpah klo saya berurusan sama tukang urut yg ada nangis bombai
    btw yg penting g jadi butiran debu mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa gitu? Nggak suka diurut?

      Duh, Rumor.

      Delete
  27. Jadi inti tulisan ini tuh di bagian akhir. Tapi Yoganya muter dulu ke tanjung duren. Yoganya kudu curhat dulu biar tahu kalau jatuh itu sakit. Tapi nggak boleh ngeluh.

    Btw, kamu doyan banget jatuh sih, Yog?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha. Karena udah ciri khas blog ini untuk bercerita, tentunya dengan curhat. :)

      Biar ditanya kamu kayak gitu aja sih, Mif.

      Delete
  28. Hola Bang Yog! Duh malu banget udah lama gak mampir nih.

    I know that feel bro. Gue pernah jatoh, tapi bukan jatoh cinta sih. Semacam motor ngerem terus kepleset gitu deh gegera angkot ngerem mendadak. Terus diliatin orang! TENGSIN PASTI SIH HAHAHA. Untung prinsip gue kalau gak kenal ya stay cool aja wkwkwk.

    Sukak sama bagian penutupnya. Diakhiri dengan quotes. Jadi kayak setelah storytelling gitu, nah penutup ini inti pelajarannya. Nais.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak apa-apa. Santai aja, Man. :D

      Wakaka. Gue tetep malu, sih, biarpun nggak kenal. :(

      Padahal nggak bermaksud gitu, sih. Cuma pengin nasihatin diri sendiri aja. :D

      Delete
  29. Kok bisa sampai berulang kali, lw naik motor sambil tidur atau ngelamun jorok ????

    ReplyDelete
  30. Yoga kalau ngedarain motor kekebutan. Boncengin aku aja kekebutan. (kata Yoga, engga Syaa itu biasa aja) hahaha. Btw Alhamdulillah kalau udah baikan ya. Aku gak punya komen apa2 lagi karena komen orang2 udah banyak juga wkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebuah testimoni. Bahaha.

      Alhamdulillah. Iya, gak apa-apa. :D

      Delete
  31. Kalau jatoh tuh emang kaya gitu, pas banget selesai kejadian badan ngerasa gapapa, giliran udah sejam-2jam mulai deh bengkak atau pegel-pegel.

    Lobang di jalan juga parah banget sih, apalagi ditambah musim ujan, lobangnya makin banyak dan dalem-dalem.

    Masalah jatuh cinta, sekarang lagi males bahas cinta-cintaan, kesel mulu bawaannya. Aturan jatuh cinta mah enak ya bukan sakit?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kayak gitu deh. Lukanya baru bekerja. #DukungPemerintahBenerinLubangdiJalan

      Gak ada peraturan tertulis tentang cinta sayangnya, Nad.

      Delete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.