Setelah menyebar beberapa surat lamaran lewat surel (surat elektronik), baik yang gue dapatkan dari teman maupun JobStreet. Akhirnya, ada satu panggilan wawancara kerja. Namun, lokasinya di Gading Serpong, Tangerang, yang mana cukup jauh dari rumah. 

Kenapa gue ngelamar kerja jauh-jauh banget, ya? Gue pun berusaha mengingat-ingat tentang PT yang menghubungi gue itu, tapi tetep lupa. Entah karena saking banyaknya ngirim lamaran, apa emang gue yang udah mulai frustrasi dan jadi gampang lupa.

Setelah berselancar di internet, gue pun menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Perusahaan yang gue lamar ini, ternyata punya lebih dari satu cabang. Yang gue lamar itu alamat lainnya berada di daerah Kebon Jeruk. Oke, berarti yang di Gading Serpong itu hanya tempat wawancaranya.

Pukul 07.00 gue mulai berangkat dari rumah menuju kantor itu. Interviu yang tertera di surel sebetulnya dimulai pukul 09.00. Kalau yang gue lihat di GPS, perjalanannya sekitar 75-90 menit. Namun, gue sengaja berangkat lebih awal sebab memperkirakan macet dan beberapa hal buruk lainnya. Misalnya ban motor bocor, tersesat, atau terjadi Perang Dunia Ketiga.



Benar saja dugaan gue akan hal itu. Begitu sudah masuk area Serpong, gue nyasar seperti biasanya. Gue mengendarai motor mengikuti petunjuk di papan jalan ke arah Serpong, yang ternyata beda arahnya dengan Gading Serpong—tempat yang gue tuju. Gue mungkin kehilangan fokus saat terjebak macet di Ciledug, suatu daerah sebelum menuju arah Serpong. Mau nggak mau, gue mulai menepi dan mengecek GPS untuk kembali ke jalan yang benar. Jalan yang diridai Allah. Allahu Akbar!

Sesampainya di kawasan yang tertera di GPS, gue mulai bingung lagi. Sebelumnya, kantor yang gue tuju itu alamatnya nggak tercantum di GPS. Jadi, gue memasukkan nama jalan lain yang dekat dengan tempat itu. Nah, berarti perjalanan gue setelah ini nggak bisa lagi memanfaatkan teknologi. Gue harus nanya sama orang.

Demi berjaga-jaga salah bertanya, maka orang yang gue tanya adalah satpam. Sayangnya, ia mengatakan kalau tidak tahu percis alamatnya. Ia malah bilang lokasi yang gue cari itu mungkin dekat dengan ruko-ruko sambil menunjukkan jalannya. Gue pun mengucapkan “terima kasih”, dan melanjutkan pencarian lokasinya ke tempat yang satpam itu maksud.

Setelah 15 menit berselang, gue sudah memasuki area yang banyak rukonya. Lalu gue bertanya ke pejalan kaki yang lewat, seorang pria berkumis yang kira-kira usianya menginjak empat puluhan akhir. Bapak itu kemudian memberi tahu gue kalau nama jalan yang gue tanyakan itu udah benar dan mungkin kantor yang gue cari itu ada di depan. Cuma, Bapak itu memberi tahu gue kalau ruko-ruko yang ada di sini masih baru, sepertinya masih kosong dan belum ada kantor yang beroperasi.

Gue mulai cemas dan membatin, ini yang gue tuju jangan-jangan perusahaan fiktif?
Read More
Beberapa hari yang lalu saat libur kerja, aku memutuskan untuk bertualang. Kamu mungkin tau rasanya bekerja selama 6 hari dalam seminggu dengan semangat yang kurang itu seperti apa. Nah, bagiku itu cukup menjenuhkan. Ketika libur, lalu cuma tidur-tiduran di rumah itu malah menambah rasa bosan. Mungkin mengistirahatkan tubuh itu perlu, tapi jiwaku juga butuh sesuatu yang baru. Yang membuatku kembali menjalani hari dengan penuh kesegaran. Maka, pergilah aku bertualang.


Pertualanganku ini berlangsung selama sebelas jam. Semuanya berawal ketika aku memulai perjalanan dari Stasiun Bekasi dengan tujuan Stasiun Sudimara (Tangerang Selatan) menggunakan kereta listrik (KRL) khusus area Jabodetabek. Sebetulnya aku tidak begitu suka naik kereta, tetapi kalau menggunakan motor rasanya pasti tak sanggup. Perjalanan dari ujung ke ujung dan duduk berjuang melawan macet tentunya bisa membuat pantatku menipis. Dan karena belum memiliki helikopter, maka keretalah yang jadi solusinya.

Mungkin kamu bingung apa tujuanku pergi ke Sudimara. Aku janjian bersama teman-teman bloger: Adibah dan Yoga, untuk berjumpa sembari kulineran di sana. Mereka, sih, enak jaraknya pada dekat. Yoga dari Palmerah cuma 4 stasiun, Adibah apalagi yang tinggal naik angkot.
Read More
Beberapa media saat ini begitu ramai dengan berita bunuh diri dan depresi. Yang pertama kudengar adalah tentang Oka atau Eka gitu, aku lupa namanya. Kabar burung mengatakan ia bunuh diri. Tapi aku tidak mudah percaya akan gosip murahan. Lagian, aku juga tidak kenal ia siapa. Kemudian berita selanjutnya ialah kematian Chester Bennington, vokalis Linkin Park, yang begitu menamparku. Ia bunuh diri dengan gantung diri. Aku masih tidak percaya kenapa orang-orang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu? Itu sungguh membuatku nelangsa.





Aku begitu sensitif dengan hal-hal yang berhubungan dengan bunuh diri. Aku tiba-tiba jadi ingat tentang sebuah surat bunuh diri yang kutemukan di kamarku beberapa hari yang lalu. Surat ini menurutku cukup panjang. Jadi, sembari membaca surat ini, kau lebih baik tarik napas dahulu dalam-dalam, kemudian embuskan secara perlahan. Saat membacanya, kuharap kau jangan sampai terbawa suasana. Jika sedang depresi, lebih baik tutup saja tulisan ini. Baca lagi lain waktu. Atau, baca saja tulisan-tulisan yang lain. Sebab ini memang surat bunuh diri seseorang. Aku sudah memperingatkanmu akan hal ini, ya. Baiklah kalau kau tetap ingin membacanya. Sambil menemanimu membaca, kau boleh menyediakan camilan dan kopi. Tapi kalau itu tidak ada, air putih pun tidak masalah.

Oke, inilah isi surat yang kutemukan itu.

***

Karena ditulis oleh orang goblok yang jelas-jelas lebih pantas menjadi seorang pengeluh yang lemah. Surat ini sepertinya mudah sekali untuk dimengerti.
Read More
Membaca cerita seram (kalau di Twitter sering disebut memetwit) 2 hari belakangan ini entah kenapa lumayan membuat gue bergidik. Anehnya, ketika gue takut dan punggung mulai panas, apalagi badan ikutan terasa pegal-pegal, itu justru semakin membuat gue penasaran. Gue seolah ketagihan membacanya.



Lalu saat gue merasa udah terlalu banyak energi negatif dan berusaha membuang pikiran-pikiran mistis itu, tiba-tiba gue malah mengingat kejadian hari Rabu atau Kamis (maaf gue lupa percisnya) kemarin. Pada hari itu, Nyokap sedang mencuci pakaian dari sehabis asar, dan sampai azan Magrib ternyata belum kelar. Namun, Nyokap tetap melanjutkan aktivitasnya, sedangkan gue berangkat ke masjid.

Sehabis Magriban, gue kayak biasa kembali ke kamar dan bermain ponsel sambil menyender tembok. Karena gue tidak menutup rapat pintu kamar, ruangan sebelah—kamar orang tua—ada sebuah celah. Dan, seketika itu gue melihat ada putih-putih atau mukena yang bergerak. Karena kondisinya kami di rumah berdua doang. Sore itu Bokap masih di kantor dan adek gue keluyuran. Maka gue berpikiran kalau itu Nyokap lagi jeda mencuci, untuk salat terlebih dahulu.

Ya, capek juga kali nyuci sekitar 2 jam lebih (tolong, jangan dikatain anak durhaka karena nggak bantuin). Gue pun tidak berpikiran yang aneh-aneh, lalu kembali fokus mainan ponsel untuk memperhatikan timeline Twitter. Sekitar 5-10 menit kemudian, Nyokap masuk kamar gue. Beliau pun menggelar sajadah dan bermaksud ingin salat.

Melihat hal itu, ya gue kaget bangetlah dan langsung bertanya, “Lah, ngapain salat lagi, Bu?”

Nyokap menoleh ke gue dan merespons, “Kapan Ibu salat?”

“Tadi di kamar sebelah,” jawab gue disertai kebingungan.

Kemudian Nyokap menjelaskan kalau dirinya baru kelar mencuci dan dari tadi tidak beranjak ke mana pun. Gue tetap ngotot di kamar sebelah ada yang salat. Lalu Nyokap menghindari debat itu. Beliau pun memilih salat dulu.

Begitu kelar salat, kami pun melanjutkan kembali obrolan yang tertunda itu. Gue masih ngeyel kalau tadi melihat ada yang salat di kamar sebelah. Meskipun cuma sekilas dan tidak benar-benar melihat jelas. Hingga akhirnya Nyokap menjelaskan, “Oh, itu paling penunggu rumah kita. Kakek berjubah putih.”

Terus gue nggak tau mau bilang apalagi selain mengeluarkan kata "Oh". Begitu Nyokap keluar dari kamar gue, gue sendiri tidak merasa ketakutan atau berpikiran buruk. Keadaan tetap seperti biasanya dan kayak nggak terjadi apa-apa. Habisan kami sekeluarga udah terbiasa lihat sekilas-sekilas dan "dia" pun nggak mengganggu.

*

Sebenarnya, kejadian mistis di rumah seperti tadi itu sudah terjadi sejak gue SD kelas 2 atau 3. Kala itu, gue juga melihat sekilas putih-putih. Awalnya, gue lagi jagain sambil ngajak main Sadam—adik gue, yang saat itu umurnya baru sekitar 2-3 tahunan—di kamar (yang sekarang jadi kamar gue, dulunya adalah kamar orang tua) karena Nyokap yang mau mandi sore dan salat Magrib.

Saat sedang asyik mengajak dia bercanda, tiba-tiba Sadam menangis kencang. Gue nggak tau apa yang salah dengan bercandaan gue saat itu. Gue pun bertanya, “Heh, kenapa kok nangis?”

Dia tidak menjawab dan tangisannya pun semakin keras. Saat gue sekilas mengalihkan pandangan, gue melihat Nyokap lagi berdiri salat Magrib di sebelah kasur di pojokan kamar. Namun, karena terdengar suara gebyuran air, berarti Nyokap masih berada di kamar mandi. Setelah gue lihat lagi, rupanya itu memang bukan Nyokap. Karena beberapa hari sebelumnya saat hal itu terjadi, Sadam sehabis melihat hantu bungkus—atau yang lebih dikenal pocong—di sebelah rumah. Oleh sebab itu gue berasumsi kalau putih-putih tadi adalah makluk yang sama. Gue pun hanya bisa menutupi muka dengan bantal karena nggak bisa teriak ataupun menangis.

Sejujurnya, gue lupa bagaimana wajah yang terlihat kala itu. Apakah yang membuat gue bergeming saat masih bocah itu adalah wajah yang seram atau memang refleks takut karena melihat sosok yang tidak biasa? Gue tidak mau memaksakan ingatan atau mengimajinasikannya seperti yang ada di film-film hantu. Gue justru ingin melupakan wujud itu.

Read More
Berangkat dari membaca tulisan lama di bloknot, gue kemudian menemukan catatan ide tentang proyek pertanyaan yang belum sempat tertuliskan. Gue mendapat inspirasi itu awalnya dari sebuah kutipan Mbah Sujiwo Tejo,
Lama-lama orang malas romantis, karena takut disebut galau. Malas peduli, takut disebut kepo. Malas mendetail, takut dibilang rempong. Malas berpendapat, takut dibilang curhat. Malas mengubah sudut pandang saat debat, takut dibilang labil.

Waktu itu, gue memang termenung membaca kutipannya. Lalu, saat puasa dan menjelang Lebaran kemarin banyak orang yang resah tentang pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan para saudara: “Kapan lulus?, “Kapan punya pacar?”, “Kapan nikah?”, “Kapan mati?”, dan seterusnya. Gue pun kepikiran tentang sebuah proyek pertanyaan.

Meskipun pertanyaan-pertanyaan seperti itu nggak etis, tapi gue jadi kepikiran akan suatu pertanyaan yang begitu mengganjal di kepala. Kebetulan, kemarin juga sempat dibahas ketika gue ikut kelas menulis puisi Aan Mansyur. Ternyata, gue bisa berpikiran hal yang sama seperti Aan. Nggak nyangka.

Pertanyaan gue: Kenapa orang-orang sekarang ini jadi malas bertanya, terus takut dibilang kepo?



Misalnya di sebuah kelas saat perkuliahan, ketika dosen bertanya kepada mahasiswanya, jarang banget ada mahasiswa yang mau bertanya. Biasanya saat ada yang bertanya, kita akan kesal karena jam istirahat jadi ditunda. Atau kita menganggap orang yang bertanya itu cari perhatian atau cari muka kepada dosen. Padahal, kan, belum tentu. Mungkin dia bertanya karena memang belum mengerti materinya.

Oleh karena itu, gue pun mengusulkan proyek pertanyaan kepada anggota WIRDY. Proyek ini melatih untuk berpendapat dan berani bertanya. Tiap orangnya akan gue tanya sebuah pertanyaan. Kemudian, gantian mereka yang bertanya kepada gue. Bisa dibilang ini mirip QnA gitu, sih. Bedanya, gue merahasiakan siapa yang bertanya kepada gue.

Maka, inilah pertanyaan dan jawaban itu:

Satu

T: Kalau ngelihat tren blogger sekarang, blogger yang kayak lu (blogger curhat) itu masih punya tempat nggak, sih, di dunia blogging?
Read More
Bagian Satu: Bloknot

***

Perempuan yang dipanggil “Rina” itu pun mengernyitkan dahinya dan tampak kebingungan. “Emm... maaf, Rina itu siapa?”

“Hah, aku salah orang, ya?” tanya Yoga.

Yoga bisa-bisanya salah mengenali orang. Setelah melihat perempuan ini dengan lebih jelas, ia ternyata cuma mirip kalau dilihat sekilas. Rambutnya jauh lebih hitam daripada Rina—yang berambut kemerah-merahan karena terlalu sering memakai pengering rambut. Hidungnya juga sedikit lebih mancung, meskipun masih termasuk pesek. Tubuhnya sedikit lebih kurus dan pipinya juga tidak terlalu tembam. Dan, suaranya pun terdengar lebih lembut.

“Aduh, kupikir kau itu temanku. Habisan mirip, sih. Maaf-maaf.”

Lalu, perempuan itu bilang tak masalah dan tersenyum. Lagi-lagi malah wajah Rina yang muncul. Yoga sebisa mungkin berusaha fokus dan begitu keras menghapus gambaran muka mantan kekasihnya itu.

Selagi Yoga bergeming, perempuan itu kemudian menjelaskan kalau dirinyalah yang menemukan buku catatan Yoga. Mereka pun berkenalan. Nama perempuan itu: “Rani”. Ya, nama itu mirip dan seperti sebuah anagram dari Rina. Yoga kemudian mempersilakannya duduk. Karena Rani tidak suka duduk berhadapan dengan orang yang baru dikenalnya, ia pun memilih duduk di sebelah kiri Yoga.

Sore ini Rani mengenakan kaos belang hitam putih bergaris horizontal. Dengan bawahan blue jeans dan sneakers berwarna senada. Ia menggendong tas hitam berbahan poliester, yang di dalamnya mungkin berisi bloknot milik Yoga.

Sehabis duduk bersama, awalnya mereka sama-sama canggung. Rani entah kenapa terdiam. Ia sepertinya grogi bertemu dengan seseorang yang telah menulis beberapa puisi di buku catatan yang sempat ia baca semalam. Baginya, puisi bikinan Yoga mengagumkan. Rani juga kerap membuka dan membaca tulisan di blog Yoga. Ia menyukai tulisan-tulisan curhatnya yang entah kenapa membuat dirinya merasa sudah kenal dekat. Apalagi komentar di blognya terbilang lumayan banyak. Tanda kalau tulisan-tulisannya memang memiliki pembaca setia. Rani saat ini seolah bertemu selebritas.

Akhirnya, Yoga yang memecah keheningan dengan bertanya kepada Rani ingin memesan menu apa. Setelah pesanan ditentukan, Yoga segera memanggil pramusaji. Ia memesan mi goreng jumbo tante (tanpa telur) dan es teh manis, sedangkan Rani memesan internet (indomie telur kornet) rasa soto dan es teh tawar. 

Sembari menunggu makanan itu matang, mereka mengobrol, mengobrol, dan mengobrol. Rani sebelumnya meminta maaf karena telah lancang membuka bloknot itu dan membaca isinya. Yoga pun suka tidak suka harus memakluminya. Yang penting bloknotnya itu ketemu. Setelah itu, Rani memuji beberapa puisi di buku catatan Yoga yang belum pernah ditampilkan di blog. Ya, beberapa perempuan memang lebih menyukai laki-laki yang menulis puisi dibandingkan berprofesi sebagai polisi.

Yoga malah merasa malu sebab puisi itu biasa saja baginya. Rani pun berusaha meyakinkannya kalau puisi itu jujur apa adanya dan tidak rumit—tidak perlu membuka kamus untuk mencari kata yang asing. Namun, Yoga tetap mengelak kalau tulisannya masih jauh dari kata bagus. Lagi-lagi Rani memberikan motivasi agar Yoga tidak minder. Rani bilang kalau puisi itu sudah dapat dikatakan “lumayan”. Setidaknya begitulah penilaian Rani.

Belum sempat Rani melanjutkan perkataannya soal puisi, pramusaji mengantarkan pesanan ke meja mereka. Aroma mi instan dan cabai rawit yang mulai menyeruak hidung, sontak membuat mereka segera menyantapnya terlebih dahulu dan menunda pembicaraan. Beberapa saat kemudian, entah kenapa mecin tiba-tiba membuat lidah Rani lebih luwes dalam berbicara.

Read More
Ada beberapa film Thailand yang gue suka tonton ulang dan telah menjadi favorit; di antaranya: Crazy Little Thing Called Love, Hello Stranger, May Nai Fai Rang Frer (May Who), The Billionaire, The Teacher’s Diary, dan lain-lain.

Nah, selain film-filmnya yang membuat gue terpikat, negeri Gajah Putih ini ternyata memang tak pernah kehilangan pesonanya. Daya tarik lain dari Thailand adalah pulau-pulau yang cantik dan tentunya memesona. Tempat wisata di Thailand ini bahkan beberapa di antaranya telah mendunia. Menurut gue, Thailand ini sangat tepat untuk menjadi destinasi wisata kamu (terutama para traveler) selanjutnya. Gue pun kalau punya banyak uang, rasanya pengin berlibur ke sana. Dan, berikut ini ialah beberapa pulau terbaik di Thailand yang cocok untuk dikunjungi dan mungkin juga cocok untuk kamu berelaksasi dan mengeksplorasi.


1. Koh Lanta

Koh Lanta (pixabay.com)

Merupakan kepulauan yang berlokasi di Provinsi Krabi. Koh Lan Yai atau Koh Lanta adalah pulau terbesar dalam gugusan pulau tersebut. Kamu yang begitu menyukai snorkelling atau diving, kiranya kawasan ini sangat cocok. Sebab, kamu akan menemukan gugusan koral yang masih alami, dan yang paling menarik adalah adanya paus dan pari manta yang akan menemanimu menyelam.

2. Koh Lipe

Koh Lipe dihuni oleh Gipsi Laut, atau sering juga disebut manusia perahu. Para Gipsy Laut ini hidup secara nomaden dan tinggal di atas perahu. Saat musim hujan tiba, mereka sering menepi di pulau-pulau sekitar Laut Andaman, dan Pulau Koh Lipe merupakan salah satunya. 

Koh Lipe berlokasi di Kepulauan Adang-Rawi bagian barat daya Thailand. Saking kecilnya pulau ini, kamu bisa mengelilingi pulau ini hanya dalam waktu satu jam. Namun jangan salah, di sini sudah ada penginapan yang nyaman lengkap dengan AC. Jadi, kamu gak perlu khawatir kepanasan, ya. Yuhu!

Read More
Kehilangan sesuatu yang berharga itu identik dengan sebuah penyesalan. Kau mungkin bosan mendengar kalimat seperti itu, tapi begitulah adanya. Sehabis kehilangan, kita biasanya akan merenungi sesuatu itu saat masih ada. Mengapa kita tidak bisa menjaga ataupun merawatnya dengan baik?  Namun, kehilangan sesuatu yang berharga tidak melulu tentang seseorang. Kehilangan bisa soal benda, ingatan, atau keperjakaan.

Seperti apa yang sedang dialami oleh Yoga saat ini. Dari beberapa hal di atas, Yoga baru saja mengalami kehilangan. Mungkin kau akan menebak kalau ia kehilangan keperjakaan, tapi sayangnya bukan itu. Ia kehilangan sebuah benda. Benda itu bukan ponsel canggih yang harganya mahal, ataupun dompet—berisi uang dan kartu-kartu penting. Benda itu cuma sebuah bloknot. Sebuah buku catatan yang telah menemaninya selama beberapa tahun. Bloknot itu ia beli sekitar 3 tahunan yang lalu dan sekarang tentu saja sudah banyak berisi tulisan. Buku sejenis itu memang masih dapat ia beli di pasar atau toko. Tapi isi di dalamnya adalah harta karun yang paling berharga baginya. Yang tidak mungkin bisa ia beli di mana pun.

Sejelek apa pun tulisan tangannya maupun apa yang telah tertulis di bloknot itu, Yoga tetap menghargainya. Isi buku itu ialah rekam jejak dalam hidupnya yang sangat berarti. Ia tidak rela kalau sampai ada yang menemukannya dan membacanya tanpa izin. Lebih-lebih kalau buku itu dibuang, bukan dikembalikan. Apalagi kalau sampai dijadikan bungkus gorengan.

Awalnya, ia tidak tau bloknotnya itu hilang. Kala sedang ingin melanjutkan sebuah cerpen, yang draf awalnya sudah sempat tertulis beberapa paragraf di buku catatannya, barulah ia sadar kalau bloknot itu tidak ada di dalam tasnya. Kini, Yoga jadi kebingungan dan stres sendiri. Ia sudah membongkar tasnya lebih dari sekali, tetapi bloknot itu tetap tidak ditemukan. Ia pun telah mencari-cari di seluruh isi kamarnya; rak buku, lemari, dan kolong tempat tidur. Namun, bloknot itu belum juga ia dapatkan. Bloknot itu lenyap seolah ingin mempermainkannya.



Anjing! umpatnya dalam hati.

Seingatnya, hari ini ia tidak mengeluarkan apa-apa dari dalam tas. Kalaupun tadi ia sempat keluarkan, pasti akan dimasukkan kembali begitu rampung menulis atau mencatat suatu ide. Setelah yakin kalau hari ini ia tidak membuka-buka tasnya, ia mulai mengingat hari kemarin.

Read More
Seperti Pulau Dewata Bali, Pulau Lombok juga kaya akan wisata alamnya. Meskipun didominasi oleh pantai, setiap pantai menawarkan panorama alam yang unik dan berbeda. Seperti 7 tempat wisata berikut yang pasti akan membuat liburan kamu di Lombok semakin tak terlupakan.

1. Gili Sudak

Kawasan Lombok paling terkenal dengan destinasi Gili Trawangan atau Gili Meno. Bagi yang sudah sering ke Lombok, menikmati keindahan alamnya pasti terasa biasa. Kamu perlu mendapatkan pengalaman baru yang menakjubkan di Gili Sudak. Bagaikan pulau milik pribadi, Gili Sudak masih belum banyak dikunjungi para wisatawan. Pantainya berpasir putih, dengan air laut yang tenang dan jernih. Selain itu, Gili Sudak juga menawarkan pemandangan bawah laut yang memukau, cocok nih bagi kamu yang gemar menyelam.


2. Gunung Rinjani


(sumber gambar: trekkingrinjani.com)

Mendaki gunung api tertinggi kedua di Indonesia pasti akan memberikan pengalaman seru tak terlupakan. Dengan ketinggian 3.726 mdpl, Gunung Rinjani menjadi salah satu gunung favorit para pendaki karena memiliki pemandangan alam yang sangat mengagumkan. Dari puncaknya, kamu bisa melihat indahnya danau kawah Segara Anak.


3. Pantai Senggigi

Kabarnya, Pantai Senggigi disebut sebagai surganya pariwisata oleh para wisatawan. Sebab, pantai ini memiliki air yang sangat jernih dan bermacam biota laut yang cantik. Di dekatnya, terdapat dua destinasi wisata lainnya, yaitu Batu Bolong dan Batu Layar. Pantai Senggigi biasanya digunakan sebagai lokasi transit wisatawan sebelum menuju ke Trio Gili. Tak heran ada banyak hotel murah di Lombok di sekitar destinasi ini.
Read More
Catatan 6 Juni 2017. Puisi ini diambil dari bloknot milik Hehe Darmansyah.

--


Bukan Fiksi


Kau tak pernah gengsi saat memulai komunikasi.
Itukah caramu agar kita dapat berinteraksi?
Bagiku, kau adalah puisi. Terhitung sudah banyak frekuensi.
Dan kuyakin, kita bukan fiksi. Karena waktu telah menjadi saksi.
(2015)


Read More
“Nggak terasa Lebaran tinggal 29 hari lagi.”

Lelucon kuno semacam itu ternyata masih gue temuin di Twitter ataupun status Facebook pada saat puasa hari pertama. Ya, waktu itu memang relatif. Kadang terasa begitu lama, kadang juga cepet banget. Seperti sekarang misalnya, perasaan kemarin gue baru baca kalimat soal Lebaran itu kala awal Ramadan. Eh, hari ini telah memasuki puasa minggu kedua. Anjir, beneran nggak terasa, ya. Gue jadi pengin ikutan bikin status, nggak terasa Lebaran tinggal.... Halah!

Masjid di deket rumah yang tadinya penuh banget, bahkan sampai ke halaman dan jalanan. Pada minggu kedua ini sudah mulai berkurang. Gimana nanti, ya pas minggu ketiga dan terakhir? Biasanya masjid akan semakin sepi. Terutama ibu-ibu yang sibuk membikin kue ataupun belanja baju Lebaran. Bukannya gue bermaksud menggeneralisasi kaum perempuan. Gue bisa bilang begitu, sebab nyokap gue adalah contoh yang nyata. Tadi sepulang salat Tarawih, beliau tiba-tiba masuk ke kamar gue dan bertanya, “Kamu mau nitip baju Lebaran nggak, Yog? Besok Ibu kayaknya mau ke Tanah Abang.”

Ya, Allah... ini masih minggu kedua, beliau udah repot mikirin baju Lebaran. Akhirnya, gue pun iseng meledek kenapa buru-buru amat mau Lebaran. Beliau kemudian menjelaskan kepada gue kalau nanti-nanti takut pasarnya bertambah ramai dan padat. Gue pun hanya mendengarkan sambil manggut-manggut. 

“Ya udah, terus kamu jadinya mau nitip nggak nih?”

“Nggak usah deh, Bu.”

Setelah gue jawab begitu, Nyokap keluar kamar.

***

Sehabis berbicara tentang baju Lebaran, entah kenapa gue jadi melamunkan hal itu. Sebetulnya gue masih bingung, kenapa harus disebut sebagai baju Lebaran, sih?

Karena begitu penasaran, gue pun berselancar di internet dan menemukan sedikit informasi. Jadi, di dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, tulisan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, dijelaskan kalau tradisi memakai baju baru ketika Lebaran sudah turun-temurun sejak tahun 1596. Ketika menyambut Hari Raya, mayoritas penduduk Kerajaan Banten sibuk menyiapkan baju baru. Nah, maka baju baru yang dipakai saat Idulfitri itu akhirnya dinamakan baju Lebaran.

Namun, pada masa itu baju Lebarannya ialah hasil menjahit sendiri. Masih jarang masyarakat yang membeli. Sangat berbeda sekali dengan gue yang dari kecil sudah terbiasa membeli baju Lebaran. Lebih tepatnya, tradisi keluarga gue memang beli bajunya cuma pas Hari Raya Idulfitri. Gue pun semakin tenggelam dan mengenang jauh ke masa silam.

Read More
“Aku suka BDSM: beribadah, dakwah, salat, mengaji; apalagi ketika bulan puasa.”

Kalimat itu adalah twit milik Agus Purnomo—salah satu teman sekelasku sewaktu kuliah dulu. Kubaca twit itu berulang-ulang kali. Sampai pengulangan yang kelima, aku berhenti membaca dan berpikir, apa arti sebenarnya dari BDSM?

Aku dulu sempat mendengar singkatan itu, tapi karena merasa tidak berfaedah, aku melupakannya begitu saja. Sebelum mencari tahu arti BDSM, aku mengontak Salsabila dan Canda Winarto di WhatsApp. Aku menanyakan mereka sudah sampai mana, sebab aku mulai jengah menunggu di kafe seorang diri seperti ini. Syukurnya, kafe ini menyetel musik Maher Zain yang cukup menenangkan hati.

O iya, mereka berdua juga merupakan teman kuliahku, sama seperti Agus. Rencananya kami bertiga akan reunian dan janjian di Kalisbeng Cafe untuk buka puasa bersama. Momen seperti bulan Ramadan ini memang cocok untuk silaturahmi dengan teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa.

Aku sebenarnya sudah hafal kebiasaan mereka yang sering telat kalau setiap janjian. Kami janjian pukul 16.00, tapi sudah 20 menit berlalu, mereka belum nongol juga. Kadang aku pun jadi sebal sendiri dengan diriku yang terbiasa datang tepat waktu. Karena tidak memiliki games apa pun di ponsel, maka kala sedang bosan begini, hiburanku satu-satunya adalah Twitter.

Sayangnya, sejak ada fitur “In case you missed it”, timeline mulai jadi menyebalkan. Aku merasa tidak butuh-butuh amat fitur seperti itu. Aku tidak begitu peduli soal twit-twit yang terlewat olehku. Termasuk twit Agus 22 jam lalu tentang BDSM itu, yang bisa-bisanya terbaca olehku.

Karena sudah telanjur membaca twit itu dan penasaran soal BDSM, aku pun segera mencari tahu artinya di mesin pencarian. Kuketik “arti BDSM”, lalu muncul hasil Wikipedia bahasa Indonesia di paling atas. Aku segera mengekliknya.

Sial! Ternyata arti BDSM itu mengandung unsur pornografi. Syukur saja aku tidak sampai membuka Google Image. Bisa-bisa pahala puasaku berkurang, atau mungkin malah batal. Aku jadi bingung, kenapa beberapa orang suka banget melesetin istilah mesum seperti itu? Ah, tapi kalau Agus mah memang mesum dan norak!

Merasa jengkel setelah mengetahui tentang BDSM, aku menutup web itu dan menaruh ponselku ke meja. Seketika itu, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku.

“Udah lama, Heh? Sorry, macet banget tadi.”

Tanpa menoleh, aku sudah mengenali suara itu. Suara milik Canda. Ia pun memilih duduk di hadapanku.

“Taik, ah! Ngaret mulu.”

Ia hanya menyengir mendengar keluhanku. Penampilan Canda tidak banyak berubah. Ia masih berambut gondrong sebahu seperti terakhir kali kami berjumpa pada saat wisuda, sekitar 8 bulan yang lalu. Katanya, sih, ia pengin berambut gondrong biar kayak seniman. Padahal sebutan gembel lebih pantas untuknya.
Read More
Setiap bloger biasanya akan bingung kalau ditanya, “Apa momen terbaikmu kala ngeblog?”

sumber: Pixabay (kemudian diedit sesuai kebutuhan)

Gue sendiri masih bingung dan merenungkan apa momen terbaik itu. Biasanya para bloger akan menjawab tentang pencapaian-pencapaian mereka selama ngeblog. Baik itu blognya yang dibukukan penerbit mayor, menang lomba ngeblog berhadiah uang atau produk senilai jutaan, atau bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis. Sedangkan, gue sendiri nggak pernah mendapatkan semua itu.

Tulisan di blog gue nggak pernah dijadikan buku. Belum ada penerbit yang nawarin, sih. Halah. Lagian, tulisan di blog ini, kan, kebanyakan curhatan nggak jelas. Parahnya lagi banyak yang menyerempet ke hal-hal pornografi. Jadi, menerbitkan buku dari blog itu belumlah bisa tercapai.

Lalu ketika mengikuti lomba blog, gue seperti terbiasa dengan yang namanya kekalahan. Gue sudah berusaha menulis dengan maksimal, tapi tetap saja berbuah sia-sia. Syukurnya, gue nggak pernah kenal lelah ataupun menyerah. Hingga akhirnya, pada suatu hari gue sempat merasakan juara kedua ketika mengulas karya Haris Firmansyah. Meskipun itu hanya sebatas give away atau kuis kecil-kecilan dari temen bloger, setidaknya gue bisa dikatakan menjadi pemenang. Atau mungkin jatah menang gue memang baru sampai level give away, bukan untuk lomba besar berhadiah jutaan.

Kemudian, soal traveling gratis ke luar negeri apalagi. Gue belum pernah melangkahkan kaki untuk keluar dari Pulau Jawa ini. Kayaknya diundang jalan-jalan gratis juga masih sebatas area Jabodetabek deh. Gue masih cemen untuk mencapai hal itu. Haha.

Terus apa dong pencapaian gue, ya? Sebenarnya kalau berbicara soal pencapaian gue saat ngeblog, itu mah banyak banget. Pertama kali mendapatkan job review, bagi gue itu termasuk pencapaian. Ada tulisan yang muncul di halaman pertama Google, itu juga sebuah pencapaian. Bisa punya grup kecil—bernama WIRDY—untuk berbagi tentang ngeblog atau kepenulisan (bahkan biasanya juga berbagi suka maupun duka), dan ternyata kami juga bisa membuat e-book, itu pun merupakan pencapaian. Terus gue juga pernah mendapatkan pacar dari blog... eh, apakah hal itu bisa disebut pencapaian? MUAHAHA YEKALI WOY!

Namun, itu semua bukanlah momen terbaik saat ngeblog. Momen terbaik gue ngeblog justru awalnya terjadi pada saat blog gue nggak ada tulisan baru lagi. Hmm, jadi waktu itu gue sempat vakum ngeblog sekitar 3 bulanan. Kala itu, gue banyak banget mengalami masalah dalam hidup. Gue entah kenapa bisa berpikir kalau penderitaan dalam hidup itu seolah-olah nggak ada habisnya. Yang bodohnya lagi, semangat hidup mulai meredup, hilang arah dan tujuan, dan pupus harapan.

Read More
Khawatir

“Jangan khawatir. Semua akan berjalan lancar,” kata petugas eksekusi.
“Justru itu yang kukhawatirkan,” balas si terpidana mati.

–Orlando van Bredam (Argentina)



--

Cerita sangat pendek barusan adalah salah satu cerita yang gue ambil dari buku Matinya Burung-Burung yang disusun dan diterjemahkan oleh Ronny Agustinus. Buku itu berisi kumpulan cerita sangat pendek Amerika Latin. Cerita-cerita semacam itu kemudian mengingatkan gue akan sebuah cerita sangat pendek lainnya yang hanya berjumlah enam kata, karya Ernest Hemingway.

“For sale: baby shoes. Never worn.” 

Entahlah cerita semacam itu termasuk dalam genre apa. Belakangan diketahui, cerita semacam ini sudah ada sejak abad ke-17, dan baru mulai tenar sejak awal abad ke-20. Kalau di luar negeri, cerita sangat pendek ini memiliki beberapa sebutan: ada yang menyebutnya flash fiction (fiksi kilat); cerita telapak tangan (karena ceritanya memang muat jika dituliskan di telapak tangan); cerita kartu pos; dan lain-lain.

Lalu, di Indonesia sendiri biasa disebut fiksi mini. Ternyata, di Indonesia memang sudah ramai cerita pendek sejenis itu. Misalnya komunitas Fiksimini di Twitter, yang mana biasa membuat cerita dengan menggunakan batasan 140 karakter. Ada juga bloger yang telah menerbitkan kumpulan cerita 100 kata.
Read More
Jangan memandang petani sebelah mata, tapi bukalah mata hati kita dan buat para petani itu menjadi melek keuangan. Stop complaining, and do something!

--

Selain memperingati Hari Buku Nasional, kemarin Rabu pada tanggal 17 Mei 2017, gue juga berkesempatan untuk meliput Workshop Nasional Inklusi Keuangan bertajuk “Road to a Financially Literate Generation”. Acara ini diselenggarakan oleh Citi Indonesia dan Mercy Corps Indonesia di Hotel Aston Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Dalam workshop ini, turut menghadirkan Ibu Jennifer Bielman (perwakilan Mercy Corps Indonesia), Ibu Elvera N. Makki (Country Head of Corporate Affairs for Citibank Indonesia), serta Bapak Eko Ariantoro (Direktur Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan).


Sejujurnya, gue bahagia karena bisa menjadi salah satu tamu dalam workshop ini. Sebab, workshop ini berisi tentang kegiatan yang mendukung para petani dan pengusaha mikro kecil. Sebagai orang Jakarta yang udah lama nggak pulang ke kampung halamannya, gue entah kenapa merasa rindu melihat para petani mencangkul di sawah, lalu menanam padi, kerbau yang membantu para petani itu, dan lain-lain. Boleh dibilang, workshop ini semacam mengobati rasa kangen gue akan suasana perdesaan.



Di acara ini, Citi Indonesia melalui wadah kegiatan kemasyarakatannya, Citi Peka (Peduli dan Berkarya), bekerja sama dengan Mercy Corps Indonesia menyelesaikan program Financial Education and Empowerment goes Digital and Mobile (FEED Mobile) kepada petani dan pengusaha mikro kecil di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Yang mungkin jadi pertanyaannya adalah, mengapa Indramayu?

Sebab, Kabupaten Indramayu adalah salah satu wilayah yang merupakan daerah sentra pertanian. Pertanian merupakan sektor usaha utama berdasarkan persentase jumlah penduduk, yaitu 8,8%. Lalu, Indramayu juga merupakan kabupaten terbesar di Jawa Barat yang mana telah menyumbang sekitar 43 % dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Jadi menurut gue, Kabupaten Indramayu ini adalah sasaran yang sungguh tepat.

O iya, sebelumnya, FEED Mobile ialah kegiatan pelatihan pendidikan keuangan dan pengembangan usaha bagi petani dan pelaku usaha mikro kecil dengan menggunakan metode pelatihan tatap muka dan kanal digital. Adapun aplikasi digitalnya, yaitu: Peduli Keuangan (PEKA) Android dan Peduli Keuangan (PEKA) SMS. Aplikasi ini berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi, artikel, tips, anjuran pengelolaan keuangan dan pengembangan usaha, serta sarana interaksi antar pengguna.

Program FEED Mobile ini ternyata telah berhasil menjangkau 12.950 penerima manfaat, di mana 3.477 total penerimanya yang telah dilatih dalam literasi keuangan dan pengembangan usaha dapat mengakses tabungan atau produk keuangan yang sesuai kebutuhan mereka.

Setelah menghadiri acara tersebut, gue pun menjadi merenung dan berpikir tentang petani. Ketika tinggal di perkotaan, kenapa peran para petani itu seolah terlupakan begitu saja? Saat lapar, gue (boleh juga kita, kalau ada yang ikut merasa) hanya mengingat untuk makan. Namun, cuek soal makanan itu berasal dari mana. Mungkin kalau di sini, kita membeli nasi matang di salah satu tempat makan, atau membeli beras di warung. Sayangnya, lupa akan proses para petani yang menanam padi itu.

Read More
Ini pertama kalinya kau masuk ke kamarku. Pada suatu sore yang gerimis, kala orang tuaku tidak di rumah, dan kebetulan hanya ada aku sendirian. Momen yang memang sudah kutunggu sejak lama.



Tak perlu berlama-lama, aku segera mengajakmu ke kasur dan membuka bajumu. Setelah itu, kuciumi tubuhmu dari atas hingga ke bawah. Entah parfum apa yang kaupakai hari ini. Kuhirup aromanya dalam-dalam, hingga aku memejamkan mata. Diriku seperti berada di surga. Wanginya begitu khas. Aku jadi penasaran.
Read More
Selain di rumah—yang sudah tentu nyaman, gue terkadang juga suka menulis atau membaca di kafe dan restoran cepat saji. Menurut gue, kalau di kafe itu ada saja hal-hal yang bisa dijadikan inspirasi untuk menulis. Baik itu karena suasananya yang baru, melihat suatu kejadian yang gak biasa, atau nggak sengaja menguping percakapan orang-orang yang topiknya sungguh random.

Kami tau engkau bosan dijejali rasa yang sama. Kami adalah kamu... muda, beda, dan berbahaya. 

Lagu Superman is Dead—yang biasa disingkat SID—sedang terputar mewarnai kafe yang gue sambangi ini. Speaker-nya tidak dipasang di langit-langit seperti yang ada di beberapa kafe pada umumnya. Speaker itu diletakkan di sebuah meja kosong di tengah kafe dan agak jauh posisinya dari tempat duduk gue yang memilih di pojokan dekat pintu. Tapi lagu itu tetap terdengar jelas di telinga.

Begitu lagunya selesai, potongan lirik itu masih terngiang-ngiang di telinga gue sampai secara gak sadar gue nyanyikan di dalam hati. Liriknya memiliki makna. Ya, tentu saja sebuah lagu pasti memiliki makna di dalamnya. Maksud gue, kita paham dengan makna di lirik itu. Tentang suatu kebosanan; semuanya di mata kita terasa sama dan kita menginginkan hal yang berbeda.

Setiap orang tentunya memiliki rasa jenuh terhadap sesuatu yang berulang. Seperti gue yang di awal paragraf bilang, kalau selain di rumah terkadang suka menulis di kafe. Meskipun di rumah nyaman, tapi gue membutuhkan sesuatu yang beda agar gak jenuh. Makanya gue pergi ke kafe dan menulis di sana.



Ternyata, kafe benar-benar sumber inspirasi buat gue. Saat sedang sendirian begini, gue jadi lebih banyak berpikir. Gue kadang suka merenungi hidup. Yang paling sering, sih, suka membayangkan apa saja pembicaraan orang-orang di kafe ini ketika gue tidak mendengarkan suara mereka. Hal itu biasa gue lakukan kala mendengarkan lagu menggunakan earphone dengan volume yang lumayan keras. 

Setelah itu, gue jadi ingat beberapa kejadian di kafe yang nggak tau kenapa masih terekam jelas sampai sekarang di otak. Mungkin “lupa” lagi malas melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, biarkanlah gue berkisah tentang kafe.

Satu

Kejadian ini terjadi sekitar 1,5 tahun silam. Gue saat itu sedang duduk sendiri di pojokan sedang mendengarkan lagu dengan earphone seraya memantau timeline Twitter. Bosan dengan kegiatan itu, gue pun memilih memperhatikan orang-orang di sekitar—yang entah kenapa udah jadi hobi tersendiri. Lagi asyik dengan itu, seorang perempuan tiba-tiba menghampiri meja gue.

Read More
Sebelum membaca ini, boleh simak tulisan Bagian Pertama dan Bagian Kedua.


Hari Ketiga


“Tempat wisata pada jauh dari sini, Yog. Yang deket cuma Keraton Solo,” ujar Ilham pada hari sebelumnya.

Jawaban itu pun membuat gue bingung. Tujuan gue ke sini tuh ngapain, sih? Gue sebagai orang yang memang jarang bepergian ke luar area Jabodetabek. Sekalinya memilih pergi, pasti niatnya untuk jalan-jalan ke tempat wisata yang terdapat di daerah yang gue tuju itu. Namun, di kota yang gue jadikan tempat liburan ini ternyata malah jauh dari tempat-tempat wisata. Jauh dari pantai, curug (air terjun), maupun Menara Eiffel (bodo amat anjis!).

Tapi serius deh, gue masih nggak ngerti apa sebenarnya maksud dan tujuan gue pergi liburan ke Solo ini? Apakah benar untuk bisa bertemu teman-teman yang ada di grup WWF (Werewolf Telegram), sekadar menghilangkan rasa penat di Jakarta, atau merayakan selesainya proyek kerja part time pada seminggu sebelum liburan? Hm, atau gabungan dari ketiganya? Kok gue jadi kelihatan maruk, ya?

Apa jangan-jangan bukan itu semua? Apa niat gue cuma buat makan atau kulineran di sini? Sebab di awal sebelum keberangkatan, gue memang sudah diberi tahu kalau di sana jarang tempat wisata. Di Solo itu lebih ke kulinernya yang murah-murah—kalau dibandingkan dengan harga makanan di Jakarta. Ah, entahlah! Gue sudah berada di sini. Nggak peduli lagi apa pun tujuan awal gue itu. Jadi, pada hari terakhir, satu-satunya tempat yang bisa gue tuju adalah Keraton Solo.

***

Kami telah membeli tiket Keraton Solo seharga Rp10.000,00 per orang. Lalu, jika ingin memotret menggunakan kamera selain handphone, akan dikenakan tarif tambahan Rp3.500,00. Jika kamu mau mendengarkan cerita dan mengerti sejarah, bisa pakai jasa tour guide senilai Rp30.000,00. Namun, kami sudah ada Hana dan Ilham yang nanti bisa menjelaskan soal isi keraton ini. O iya, waktu kunjungan ke Keraton Solo ini, yaitu: Senin-Jumat pukul 09.00-14.00 WIB, sedangkan pada Sabtu-Minggu pukul 09.00-15.00 WIB.



Adapun beberapa ketentuan di Keraton Solo, tapi yang gue ingat hanyalah:

1. Nggak boleh memakai alas kaki, kecuali sepatu. Jadi, sendal yang kakinya kelihatan itu gak boleh;
2. Nggak boleh memakai topi dan kacamata hitam;
3. Nggak boleh memakai celana atau rok pendek;
4. Nggak boleh membawa pulang pasir di dalam Keraton;
5. Nggak boleh menyentuh patung atau karya seni lainnya yang ada di dalam museum.

Saat gue sedang melihat gambar peraturan yang berisi larangan itu, ada seorang bapak penjaga Keraton Solo yang kemudian berbicara kepada gue tentang sejarah Keraton (yang sekarang ini udah lupa). Yang gue ingat malah ketika ia bertanya dari mana gue berasal. Gue pun menjawab jujur datang dari Jakarta.

“Untuk masuk ke sini, kita harus sopan. Sama seperti Adek yang dari Jakarta ini kalau dateng ke kantornya dan ikut rapat pasti pada rapi, kan. Nah, di sini juga harus begitu.”

Gue cuma bisa mengangguk tanda setuju.
Read More
Kau baru saja pulang dari restoran cepat saji sehabis mentraktir teman-temanmu. Tidak banyak-banyak amat, sih, jumlahnya. Dengan dirimu yang juga ikut dihitung, totalnya pas 12 orang. Mereka adalah teman-teman yang kau anggap paling akrab di antara yang lain. Kau sebenarnya bingung sama kebiasaan bodoh ini. Kenapa orang yang berulang tahun harus mengeluarkan uang untuk membayar sebuah ucapan, "Selamat ultah"?

Entah setelah kalimat itu ada lanjutan doa-doa untuk kebaikanmu, atau memang sebatas itu saja. Lucunya, ada yang mengucap lebih singkat, "HB, ya." Ucapan itu juga cuma kaudapatkan dalam bentuk pesan di aplikasi WhatsApp. Tidak ada ucapan langsung dan jabat tangan para teman yang kauterima 4 hari yang lalu.

Apalagi seorang pacar yang memberikanmu kejutan di depan pintu, dengan membawakanmu kue berhiaskan lilin yang menyala. Kemudian kau bisa meniupnya dengan perasaan terkejut campur bahagia sambil menerima kado darinya. Kamu baru saja putus 5 bulan yang lalu dan belum memiliki pacar baru. Jangankan pacar, mencari gebetan saja belum kepikiran olehmu.

Ya, paling tidak, akhirnya kau bisa merayakan bertambahnya umurmu bersama teman-teman. Meskipun itu hanya sebatas menyantap ayam goreng krispi dan minuman bersoda. Sebuah menu yang seragam, tapi tetap menguras kantongmu. Kira-kira uang itu sebanyak jatah makanmu untuk dua minggu.

Awalnya, kau malah tidak ada niat untuk mentraktir mereka. Namun, permintaan itu, baik yang sebuah bercandaan atau memang keinginan, semakin hari terus menghantui dirimu.

"Mana nih traktirannya?"

Kamu menjawab singkat, "Nanti deh pas gajian."
Read More
Cerita Bagian Satu: Prolog

*

“Jangan membandingkan dirimu dengan siapa pun di dunia ini; jika kamu melakukannya, kamu menghina dirimu sendiri.” —Bill Gates

Gue terkadang masih suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Ya, itu berarti gue telah melakukan penghinaan terhadap diri sendiri. Semoga hal ini tidak gue ulangi kembali. Hal yang paling sering gue bandingkan dengan orang lain adalah, kenapa gue sering banget menunda sebuah tulisan? Ketika beberapa teman berusaha menulis secepatnya agar tidak lupa dan kehilangan feel tulisan itu. Sedangkan gue ini justru butuh waktu yang agak lama untuk menuliskannya sampai hal itu memang benar-benar menghantui dan mengacak-acak isi kepala gue, kecuali lagi dikejar deadline.

Ide-ide yang ada di kepala ini biasanya hanya gue catat poin-poinnya di sebuah buku atau notes hape. Gue jarang banget bisa langsung nulis ketika mendapatkan sebuah ide. Kalau kepala gue sudah sering kepikiran akan suatu tulisan, barulah gue memulai menuliskannya.

Cerita perjalanan ke Solo cepet kelarin woy!

Ingatan-ingatan soal liburan gue ke Solo muncul begitu saja tanpa diingat-ingat. Lalu, ada rasa ingin main ke sana lagi, bahkan sampai kebawa mimpi. Barulah gue tergerak untuk menulis. Contohnya seperti itu.

Sebenarnya, dari bulan Januari gue sudah menuliskannya. Tulisan ini sudah tersimpan rapi di draft. Sayangnya, saat itu memang belum selesai diedit. Memasuki bulan Februari, gue pengin ngelanjutin ceritanya, tapi entah kenapa jadi gak sreg. Bulan Maret juga sama. Gue malah semakin males buat nerusinnya. Namun, gue inget perkataan seorang filsuf, “Selesaikanlah apa yang sudah kamu mulai.”

Hm, baiklah. Meskipun ini sudah telat dan basi. Gue akan tetap mempublikasinya.

--

Hari pertama.

Satu hal yang sering gue lupakan saat menyewa penginapan; entah itu di hotel, losmen, vila, atau homestay, waktu untuk check out adalah pukul 12 siang. Peraturan itu berlaku hampir di semua tempat. Bodohnya, gue sering lupa akan hal itu. Meskipun gue semalam baru check in pukul 2 pagi, tapi bukan berarti itu akan dihitung 24 jam dan bisa keluar dari penginapan ini pada malam hari.

Maka, mau nggak mau itu membuat kami harus segera mandi dan tidak bisa leyeh-leyeh. Haris memilih untuk mandi duluan. Setelah dia selesai, barulah sekarang giliran gue. Namun, saat gue baru mulai melangkah ke kamar mandi, Haris bilang kepada gue untuk mengunci pintu terlebih dahulu. Karena dia ingin pergi bersama Ilham untuk menyewa motor—yang nantinya akan kami gunakan untuk keliling daerah Solo.

Setelah mandi, sembari menunggu mereka kembali, gue duduk di teras depan penginapan ini sambil membaca sebuah novel.


Read More
Kamu menendang segala macam benda yang ada di jalanan. Batu kerikil, botol plastik bekas, dan kotak susu yang masih tertusuk sedotannya. Kamu tiba-tiba merasa benci kepada orang-orang yang tidak mau membuang sampah pada tempatnya. Tapi kebencianmu akan orang-orang itu tidak akan pernah bisa melebihi kebencianmu terhadap diri sendiri.

Kamu masih terus menendangi sampah-sampah di jalan itu seolah-olah untuk melampiaskan emosimu. Sampai akhirnya, kamu tidak sengaja menendang aspal dan membuat jempol kaki kananmu berdarah. Terasa begitu perih. Namun, akan lebih perih lagi kalau mengingat beberapa kejadian dalam hidupmu belakangan ini.

Kamu adalah Agus, seorang laki-laki yang masih berumur 23 tahun, dan saat ini sedang kesal dengan semua masalah hidup yang tidak habis-habis. Sehingga kamu menganggap umurmu sudah menginjak usia 28 tahun karena masalah terlalu cepat mendewasakan pola pikirmu. 

Namun saat ini, hari-harimu sering dihiasi oleh kesedihan dan kedewasaanmu itu seakan tidak berguna lagi. Sumber masalahnya sebenarnya ada pada ibumu. Orang yang paling kamu sayangi di dunia ini telah pergi meninggalkanmu sekitar dua bulan yang lalu. Tanpa seorang ibu, kamu merasa tak berdaya. Kamu belum siap menerima kenyataan atas kepergian ibumu itu. Lagi pula, adakah orang yang siap dengan kehilangan? Apalagi itu hilang secara tiba-tiba.

Ibumu tidak sakit dan tidak ada tanda-tanda malaikat maut yang akan mencabut nyawanya. Tau-tau mati begitu saja. Seperti saat PLN melakukan pemadaman listrik tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Ditambah lagi kamu tidak memiliki kakak ataupun adik yang mengerti perasaan seorang anak ketika ditinggal mati ibunya. Menjadi anak tunggal begitu membosankan. Kamu hanya bisa menangisi kepergian ibumu seorang diri.

Sebenarnya masih ada ayahmu yang bisa dijadikan tempat berbagi. Tapi kamu cukup paham kalau ayahmu tidak akan menunjukkan air matanya. Ia tak ingin tampak lemah di hadapanmu. Sayangnya, beberapa minggu yang lalu ayahmu melarikan diri dari rumah. Sebulan setelah kematian istrinya, ayahmu—Pak Broto—memang sangat depresi. Apalagi bisnis batu akiknya juga bangkrut. Merasa tak sanggup menghidupimu, Pak Broto pun meninggalkanmu dan entah pergi ke mana. Kamu pun menghakiminya sebagai ayah yang tidak bertanggung jawab.

Cuma, biar bagaimanapun kamu masih menganggapnya keluarga. Kamu kemudian mencoba untuk menghubunginya, tetapi nomornya selalu tidak aktif. Belakangan diketahui, ponsel miliknya ditinggal di rumah dalam keadaan mati. Kondisi seperti ini semakin membuatmu gelisah dan resah. Kamu berpikir yang bukan-bukan tentangnya. Ayahmu mungkin telah mati bunuh diri. Ayahmu stres atau malah gila. Sekalipun dirinya saat ini berada di Rumah Sakit Jiwa, kamu tetap tidak mungkin mengecek RSJ itu satu per satu. Belum tentu juga ia benar berada di sana.

Jadi, lebih baik kamu fokus memikirkan masalah keuanganmu. Sebab, besok adalah batas waktu terakhir untuk membayar rumah kontrakan. Rumah kontrakan yang harus dibayar setiap 3 bulan sekali, tapi kamu sudah telat membayar dan saat ini kira-kira telah berjalan  di bulan keempat. Sudah mau sebulan pemilik kontrakan memberikanmu keringanan. Induk semang itu sampai bosan menagih dan mengingatkanmu tiap hari untuk melunasi bayaran 3 bulan kemarin. Oleh karena itu, besok adalah kesempatan terakhir yang ia berikan. Jangan sampai kaulupakan.
Read More
Setiap orang memiliki alasan tersendiri ketika menjadikan seseorang atau tokoh sebagai idolanya (panutan). Dari yang gue perhatikan, beberapa alasannya ialah: 1) karena fisiknya, terutama wajah atau tubuh yang menarik; 2) bakat atau kemampuannya; 3) sikap dan sifatnya.

Nggak perlu mengelak kalau kita pasti pernah mengagumi seorang idola cuma melihat wajahnya. Terutama idola yang lawan jenis. Gue sendiri pun pernah. Namun, gue termasuk tipe orang yang lebih sering mengidolakan seseorang dari pemikirannya. Terlepas dari wajahnya yang cakep, kalau isi kepalanya ngaco mah malesin banget dijadiin idola. Nah, berarti wawasan seseorang ini sepertinya lebih penting dari fisiknya. Oke, ini rada bullshit kayaknya kalau pas cari pasangan, sebab keseringan pada lihat wajahnya dulu (dibaca: semua kembali ke tampang!).

Itu bisa terbukti jelas karena banyak temen cewek yang suka ngidolain cowok-cowok ganteng Korea, terus yang cowoknya juga suka cewek-cewek menggemaskan dari idol group, bahkan sampai jadi VVOTA.

Berbicara soal idola ini, gue suka nggak ngerti sama orang-orang—biasanya remaja labil—yang begitu fanatik saat mengidolakan tokoh idolanya. Ketika para fanatik ini melihat secara langsung atau bisa bertemu idolanya itu pastik langsung jerit-jerit histeris, “KYAAAAAK! KYAAAAK!”

Nggak jarang juga para ABG itu yang sampai menuhankan idolanya. Mereka rela melakukan apa pun demi sang idola. Entahlah, gue masih nggak paham sama yang begitu. Ketika remaja, sih, alhamdulillah gue nggak pernah seperti itu. Temen gue pernah cerita, kalo ada salah satu temennya yang sampai ke luar negeri demi bisa bertemu idolanya. Menghabiskan uang berjuta-juta hanya untuk tiket pesawat dan acara “meet n greet”. Tapi ternyata, dia nggak bisa foto bareng. Untuk dapat berfoto bareng idolanya harus nambah biaya lagi, sedangkan sisa uangnya cuma untuk ongkos pulang.

Menyedihkan.

Sebetulnya, gue nggak menganggap hal seperti itu salah. Ya, asal sesuai dengan kemampuan finansial mah wajar aja. Jangan terlalu maksain diri. Katanya apa-apa yang berlebihan itu nggak baik, kan. Nge-fans boleh, terlalu fanatik jangan sampe deh.


Read More
Energi gue untuk menulis dan mengisi blog ini seolah-olah akan habis. Percis berbarengan dengan domain akbaryoga.com yang mesti diperpanjang beberapa hari lagi. Kalau mengingat setahun yang lalu, maka judul blog ini berarti belum bernama “Mengunci Ingatan”. Gue pun jadi mikir, kenapa blog ini gue namain begitu, ya?

Gue sebetulnya sudah agak lupa kenapa bisa memilih nama itu. Namun, karena ingatan itu sudah terkunci di dalam kepala ini (asyek). Oleh karena itu, gue akan mencoba untuk mengingatnya kembali. Awalnya, sih, gue lagi cari-cari nama bagus buat domain yang baru. Dulu, banyak orang yang ngeluh soal nama “yoggaas” yang katanya sulit untuk dihafal maupun dilafalkan. Beberapa orang susah mengingat huruf apa saja yang ganda. 

Keresahan itulah yang membuat gue mulai kepikiran dengan ganti domain baru. Jadi kayaknya kalau ganti domain itu juga bisa sekalian menyenangkan hati pembaca. Ya, pembaca mungkin akan merasa kalau pendapatnya didengarkan. Mereka jadi lebih nyaman deh main ke blog ini. Tentu saja kenyamanan pembaca merupakan tanggung jawab pemilik blog. Meskipun nggak semua pendapat harus didengar, tapi sepertinya mengubah domain dan branding blog ini gue cukup setuju. Dan rasanya memang perlu. 

Namun, mengubah domain dan sebuah branding tidak bisa semudah itu. Ada beberapa hal yang perlu dipikirkan secara matang. Harus siap dengan trafik yang nanti turun drastis, mau nggak mau kudu beradaptasi dengan hal baru dan meninggalkan yang lama itu, dan terlebih lagi soal menentukan nama yang rasanya susah-susah gampang. Kalau gak salah sampai berminggu-minggu kepala gue mumet cuma karena menentukan nama yang cocok untuk domain dan judul blog ini.
Read More
Setiap orang memiliki alasan tersendiri saat ikut CFD (Car Free Day) pada hari Minggu. Sayangnya, dua bulan belakangan ini gue malah belum menemukan alasan yang tepat untuk mengikutinya. Justru, adanya alasan-alasan untuk nggak ikut. Tentu saja karena cuaca sering hujan. Sekalinya nggak hujan, hawa dingin itu membuat gue memilih untuk selimutan (meski gue gak punya selimut dan hanya menggunakan sarung Wadimor) dan tidur lagi.

Sampai suatu hari, gue iseng melihat-lihat galeri foto dari tahun 2012-2015. Ada beberapa foto yang menampilkan seorang cowok memakai jaket merah klub bola Manchester United, bercelana pendek hitam, dan sedang menaiki sepeda fixie putih. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah diri gue sendiri. 



Gue masih saja memandangi foto itu. Gue mendadak rindu sama momen itu. Kalau gak salah foto itu diambil sekitar tahun 2014. Zaman gue masih bekerja di Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan, masih berambut pendek, dan tentunya masih rajin CFD-an di hari Minggu—minimal sebulan 2 kali. Sekarang, semuanya tak lagi sama. Kerjaan belum jelas karena gue masih seorang freelancer, rambut gondrong udah kayak preman (meski kalo jadi preman betulan, gue pasti yang malah dipalak karena nggak ada serem-seremnya), dan hampir nggak pernah olahraga atau ikut CFD.

Akhirnya untuk menjawab rasa kangen itu, hal sederhana yang bisa gue lakukan ada dua: 1) cukur rambut; 2) ikut CFD. Sebab, cari kerjaan tetap itu tidaklah mudah. Tetap menganggur itu baru gampang.
Read More
Berita hoax semakin merajalela. Nyokap gue pun menjadi salah satu korbannya. Pada suatu Minggu malam, ketika gue sedang lapar dan menengok meja makan yang ternyata lauknya sudah habis, Nyokap yang sedang duduk di ruang tengah tiba-tiba bilang, “Yog, jangan makan mi goreng sama samyang. Mengandung minyak babi.”

“Kata siapa?” tanya gue sok penasaran.

“Ini barusan Ibu dapet beritanya dari WA.”

“Wah, kebetulan banget Yoga mau makan mi goreng nih.”

Setelah ngomong begitu, gue beneran ke warung untuk beli Indomie Goreng. Iya, gue emang anak durhaka. Nyokap bermaksud nasihatin anaknya, tapi gue cuek gitu aja. Barulah setelah itu gue menjelaskan kepada Nyokap kalau jangan gampang percaya sama berita-berita semacam itu.

Sebetulnya jangan gampang percaya nggak hanya soal berita. Sama temen yang lama gak kontekan, tapi tiba-tiba ngabarin dan ngajak ketemu juga bisa. Sebab, pas ada temen yang kayak gitu, dia menghubungi gue bukan karena kangen. Ternyata malah ngajakin gue ikut MLM, atau nawarin asuransi, atau minjem duit, atau bisa juga kombinasi ketiganya.

Berbicara mengenai rasa tidak percaya ini, gue jadi inget beberapa hari yang lalu sehabis menonton ulang film Captain America: The Winter Soldier (2014). Di awal film, Steve Rogers atau Captain America (Chris Evans) bertugas untuk menyelamatkan para agen SHIELD yang disandera. Namun begitu tugasnya selesai, ia malah melihat Natasha alias Black Widow (Scarlett Johansson) memiliki misi lain, yaitu menyalin data-data SHIELD. Setelah itu, Steve mulai nggak percaya sama apa yang dilakukannya itu. Kenapa ada misi lainnya di balik sebuah misi? Merasa ada yang disembunyikan, maka Steve langsung protes kepada Nick Fury (Samuel L. Jackson) di kantor pusat.
Read More
Lepaskanlah apa yang kaurasa. Jingga menyala warna langitnya. Saat senja, saat senja... memanjakan kita. (Fourtwnty - Diskusi Senja).

sumber: Pixabay

--

Seusai acara Indomie Goreng Kuah, gue merasa males banget untuk langsung balik ke rumah. Ada beberapa pertanyaan yang terus mengganjal di hati selama perjalanan menuju stasiun. Apa iya gue bakal begini terus?

Begini yang gue maksud adalah sebuah keresahan akan pekerjaan yang cuma menjadi seorang pegawai lepas—biasanya disebut freelancer biar terdengar lebih keren. Sore itu, hidup gue rasanya terombang-ambing.

Memikirkan gimana masa depan gue nanti yang nggak ada pemasukan tetap setahunan lebih ini. Sejujurnya, gue udah capek banget nganggur. Gue pikir, freelancer itu sebenarnya sama aja kayak nganggur. Dapat uangnya nggak tentu. Apalagi kalau bayaran dari klien sering telat. Lalu, sekalinya dapat upah yang dibayar mingguan, duitnya entah ke mana. Tau-tau habis dan nggak ada yang bisa disisihkan. Miris sekali kalau setiap gajian selalu numpang lewat gitu. Gue kangen rasanya memiliki tabungan 8 digit angka. Beli ini-itu nggak perlu mikir lagi.
Read More
Kebanyakan orang berpendapat, kalo musik sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Tanpa adanya musik, hidup akan terasa kurang berwarna. Nggak perlu dimungkiri lagi, musik memang menemani kita dalam keadaan apa pun. Baik suka maupun duka.

Di kala terjebak macet, kita biasanya akan mendengarkan musik agar nggak bete sepanjang perjalanan. Lagu-lagu bergenre rock, hardcore dan apa pun itu yang dapat menumbuhkan semangat biasanya akan diputar. Kemudian sewaktu sedang galau misalnya, kita juga akan mendengarkan musik. Lazimnya, kita akan mendengarkan musik sendu. Memasang telinga baik-baik saat mendengarkan nada-nadanya yang minor, lalu meresapi liriknya yang puitis dan melankolis. Bahkan, nggak jarang kita ikutan bernyanyi agar perasaan sedih itu dapat tersalurkan. Mellow abis.

Katanya, sih, lirik itu merupakan bagian yang cukup penting dalam sebuah lagu. Lirik adalah sebuah ekspresi seseorang mengenai suatu hal yang ingin disampaikannya. Celakanya, masih banyak lagu yang memiliki lirik terlalu panjang dan ribet. Sehingga kita malah kesulitan untuk menghafalnya. Padahal lirik yang singkat itu biasanya lebih mudah dimengerti.

sumber gambar asli: pixabay, kemudian gue tambahin teks

Berbicara soal lirik singkat, belakangan ini gue lagi suka dengerin lagu Barasuara – “Hagia”. Alasan gue sering mendengarkan lagu itu karena sebuah keresahan berbau SARA. Sumpah, gue nggak ngerti aja gitu sama orang-orang belakangan ini yang meributkan agama melulu. Nah, lagu “Hagia” ini rasanya telah menjawab kegelisahan gue di setiap ada seorang atau sekelompok yang merasa agamanya paling benar. 

Read More
Akhir-akhir ini, gue lagi keranjingan membaca tulisan sendiri beberapa tahun ke belakang. Saat membacanya, perasaan gue pun otomatis menjadi campur aduk. Kalau baca tulisan 2012-2013, tentu saja bikin ngakak dan jijik sendiri karena tulisannya masih kacau dan membuat gue bergumam, “Ya Allah, ini beneran gue yang nulis?”. Merasa nggak percaya kalau tulisan gue saat ini sudah banyak berubah jika dibandingkan dengan tulisan pada tahun itu.

Lalu, ketika membaca tulisan tahun 2014, gue merasa kalau gaya gue sok-sok motivator yang sangat berusaha memberikan nasihat kepada pembacanya. Mirisnya, pada tahun itu sedikit banget dan jarang yang komen di blog gue. Alias cuma segelintir manusia yang baca. Terus itu gue ngasih nasihat ke siapa dong? Bangkai curut!

Pada tahun 2015, gue mulai terpengaruh dan belajar untuk menulis komedi. Ya, meskipun komedi-komedi di tulisan gue itu kayaknya garing banget. Sekalipun lucu, palingan yang jokes mesum. Sampai-sampai gue malah jadi keterusan untuk memakai cara itu. Gue merasa nggak kreatif sama sekali. Berniat menghibur orang, tapi caranya kok gitu-gitu aja? Menyedihkan.

Barulah pada tahun 2016, terutama setelah mengganti nama domain dan blog menjadi: akbaryoga(com) - Mengunci Ingatan. Gue mulai menulis apa aja yang memang ada di kepala. Yang penting keresahan dan pesan gue dapat tersampaikan. Kalau ada bumbu komedi yang bisa gue selipkan di tulisan itu syukur, nggak ada juga gak jadi masalah. Toh, nggak semua orang butuh tulisan lucu. Bisa aja dia lebih butuh tutorial. Tutorial menulis lucu dengan estetika yang diremehkan, misalnya.

sumber asli: pixabay yang kemudian ditambahin teks olehku
Read More
Selain menulis, gue memiliki beberapa hobi lain. Salah duanya adalah membaca dan kumpul bareng temen-temen. Untuk menjadi seorang penulis, tentu saja gue harus banyak membaca. Kalau malas membaca, nanti tulisan akan begitu-begitu aja. Nggak ada perkembangan. Kemudian, kumpul bersama teman-teman juga sangat menyenangkan. Meskipun kumpul-kumpul itu biasanya identik dengan gibah, tapi ya jangan fokus ke hal seperti itu.

Berkumpul bersama teman-teman masih banyak kok manfaatnya. Kita bisa membahas suatu topik, kemudian mendiskusikannya bersama. Namun, usahakan jangan membahas topik-topik berat seperti politik atau agama yang menimbulkan kericuhan. Karena nggak semua orang dapat berpikiran terbuka. Alangkah baiknya berdiskusi hal-hal yang lebih ringan. Membahas buku, musik, film, dan sejenisnya.

Seperti pada tanggal 1 Februari 2017 kemarin misalnya. Gue mendapatkan undangan untuk hadir di acara Gathering TabloidKu. Pada hari Rabu siang yang hujan deras, gue sudah berada di TransJakarta sedang menuju mal Plaza Indonesia, Jakarta Pusat. Padahal, biasanya gue akan memilih berdiam diri di rumah dan tidur-tiduran kalau memang libur ngantor. Bagi gue, hujan memang lebih asyik untuk tidur. Hehe.

Gue sekarang tidak bisa lagi tidur-tiduran. Ada sebuah gathering yang harus gue datangi. Lagian, udah lama banget rasanya nggak kumpul sama temen-temen seperti ini. Terlalu sibuk sama kerjaan ternyata bikin gue lupa silaturahmi. Oleh karena itu, di sinilah gue sekarang. Tersesat di mal besar seperti ini. Oke, ini memang pertama kalinya gue main ke Plaza Indonesia.

Namun, gue harus kebingungan hanya untuk ke lantai 6. Kenapa eskalator dan liftnya begitu khusus? Untuk ke suatu lantai, ya harus lihat baik-baik nomornya. Karena ketika gue naik lift, ternyata itu mentok hanya di lantai 5. Bukan lantai 6. Mungkin ada 4-5 kali gue bertanya ke security di mana letak XXI yang katanya ada di lantai 6 itu. Setelah kepala agak pusing karena nyasar mulu, akhirnya gue pun bisa berkumpul bersama teman-teman di XXI Plaza Indonesia untuk nonton bareng gala premiere film “Surga yang Tak Dirindukan 2”.
Read More
Criticism may not be agreeable, but it is necessary. It fulfills the same function as pain in the human body. It calls attention to an unhealthy state of things.” – Winston Churchill

--

Buat yang belum tahu, gue bersama teman-teman WIRDY baru saja membuat buku-e. Kalau boleh jujur, gue deg-degan bukan main ketika karya itu dilepas ke umum. Beberapa ketakutan di dalam diri itu juga mengganggu banget. Takut nggak ada yang download; takut cuma diunduh, tapi malah nggak dibaca; dan terakhir, takut dipuji secara berlebihan.

Gue sama sekali nggak takut diberikan kritik ataupun saran. Nggak. Gue justru menyukai itu. Menurut kalian, kita—para bloger—bisa terus menulis dan konsisten sampai sejauh ini karena apa?

Pertanyaan bagus!

Apa karena bisa menghasilkan receh?

Hm, mungkin beberapa orang ada yang begitu, tapi gue nggak. Gue bisa bertahan ngeblog sekitar 4 tahunan ini karena adanya pembaca. Terlebih lagi pembaca yang mengapresiasi tulisan gue. Apalagi para pembaca yang kritis. Mereka memberi tahu tulisan itu di bagian jeleknya, lalu memberikan solusi agar tulisan gue menjadi lebih menarik.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home