Selagi aku beres-beres lemari dan rak buku, ada salah satu buku yang saat kusentuh lalu tiba-tiba memberikan sebuah cerita. Kau tahu, kenangan mudah sekali datang. Bisa lewat sebuah lagu, benda, ataupun tempat. Lagi pula, banyak cara untuk mulai mengenang. Mungkin cara mudahnya bisa dimulai dengan membuka tumpukan kardus berisi barang-barang lama. Pilih salah satu benda secara acak, setelah itu pandangi, dan biarkan ia berkisah.

Nah, kira-kira begitulah yang terjadi denganku.

Buku yang saat ini kupegang ialah buku kumpulan cerita A. S. Laksana, Murjangkung. Aku memiliki dua buku itu. Yang satu sudah kubeli sejak lama, satunya lagi adalah pemberian seorang teman, Rani.

Aku sebetulnya memegang buku yang milikku sendiri. Namun, entah kenapa aku mendadak ingatnya justru sama Rani. Mataku pun segera mencari buku yang satunya lagi. Setelah melihatnya berada di rak sebelah kanan dan baris nomor dua dari bawah, aku mengambil buku yang masih terbungkus plastik itu. Berikut beberapa buku lainnya yang juga masih tersampul plastik. Kupandangi buku-buku itu, hingga aku dibawa ke sebuah cerita sekitar setahun yang lalu.

*

Sehari sebelum Rani berangkat ke Yogyakarta untuk meneruskan kuliah S2-nya di UGM, kami sepakat bertemu di salah satu kedai kopi di Jakarta Barat. Ia sebetulnya yang mengajakku, sih. Katanya, sebagai salam perpisahan. Sebab, ia mungkin tidak akan kembali lagi dalam 3 tahun.

Seperti biasa, aku sampai lebih dulu di kedai kopi itu. Selain karena tidak suka membuat orang menunggu, lokasinya memang lebih dekat dari rumahku. Sepuluh menit berselang, barulah Rani sampai ketika dari kejauhan tercium aroma parfumnya. Tidak menyengat, begitu segar, dan sudah kukenali.

“Kamu rajin amat, Yog, sampainya duluan mulu.”

Aku awalnya cuma tersenyum untuk memberi respons. Sampai melihat ia membawa tas punggung, barulah aku bertanya, “Bukannya masih besok berangkatnya, Ran?”

Sejauh yang kutahu, anak ini nggak pernah membawa tas punggung setiap pergi keluyuran denganku. Ia tidak mau ribet menggendong tas. Biasanya ia hanya memegang dompet, yang setelah itu dititipkan ke dalam tasku. Sekalinya bawa tas, paling cuma membawa tas selempang kecil. Yang berisi dompet dan alat rias favoritnya: bedak bayi dan lipstik.

“Oh, ini,” ujarnya sambil membuka ritsleting tas. “Ada yang mau aku kasih ke kamu.”

sumber: Pixabay

Ia pun memberikanku tiga buah buku; Murjangkung—yang kusebutkan di awal cerita, Adriana (Fajar Nugros), dan Kolam Darah (Abdullah Harahap).

“Maksudmu ngasih aku buku kayak gini apa?”
Read More
Kala sedang asyik menikmati waktu santainya, Gusi tiba-tiba terluka parah. Ia merasa dirinya habis tertusuk oleh sesuatu. Ia pun bertanya kepada sesuatu itu, si penyebab dirinya terluka, “Kau siapa? Kenapa dirimu tiba-tiba muncul, lalu menyakitiku? Apa salahku?”

Yang Gusi maksud itu ternyata sebuah geraham. Geraham Bungsu, begitulah dirinya memperkenalkan diri. Geraham Bungsu juga sebetulnya bingung, kenapa ia baru muncul saat ini. Ia merasa telat dilahirkan. Tidak seperti temannya, geraham-geraham lain yang sudah menampakkan diri sejak lama. Setelah itu, dengan polosnya Geraham Bungsu menjawab, “Aku tidak bermaksud menyakiti siapa-siapa. Maaf, kalau aku tidak sengaja membuatmu terluka.”

“Mudah sekali meminta maaf atas apa yang sudah terjadi. Lantas, gunanya dirimu itu untuk apa, sih? Sudah melukaiku, terkadang juga mengganggu geraham yang lain. Masih saja tidak tahu diri. Kau seharusnya sadar, kalau dirimu itu tidak dibutuhkan!”



Geraham Bungsu pun heran. Ia memang belum tahu apakah dirinya kelak dapat bermanfaat bagi yang lainnya atau tidak. Yang jelas, ia ingat sebuah pesan sebelum dirinya lahir, lalu naik ke permukaan dan merobek Gusi, “Segala yang terjadi dalam hidup ini, pasti ada alasannya.”

“Kenapa tidak menjawab? Kau sudah tidak berguna, sekarang tidak bisa berbicara pula. Aku akan terus protes kepadamu selama sakitnya belum kunjung hilang. Terluka seperti ini akan membuat diriku lebih cerewet.”

Geraham Bungsu membatin, apa betul aku tidak berguna?
Read More
Mengungkapkan perasaan, bagiku sungguh berbeda dengan ajakan menjalin hubungan. Saat aku menyatakan perasaan kepada seseorang, artinya aku cuma ingin bilang. Tidak lebih. Jika orang itu juga merasakan hal yang sama, kurasa sudah masuk persoalan lain.

Namun, mengutarakan perasaan seperti itu juga tidaklah mudah. Apalagi untuk perempuan sepertiku. Di negaraku ini, budaya patriarki masih dijunjung tinggi. Tidak lazim rasanya seorang perempuan bilang duluan. Tapi, aku bukan bagian dari sistem bodoh semacam itu. Aku nanti akan tetap menyampaikan sejujurnya. 

Sayangnya, entah kenapa ketika nanti sudah jujur, aku memiliki rasa takut akan penolakan. Aku takut jika orang itu tidak merasakan hal yang sama sepertiku. Apakah perasaanku ini tidak tulus? Cuma, aku juga ingin berharap supaya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Oleh karena itu, aku pun berniat curhat kepada sahabatku di kampus, Rani. Bercerita setidaknya akan membuatku lega. Tanpa berlama-lama, aku segera meneleponnya untuk datang ke indekosku.



***

“Jadi mau cerita apa?” tanya Rani, begitu dia sampai di indekosku. 

Mau tak mau, aku segera bilang dan berterus terang, “Menurutmu, kalau ada seseorang yang mengungkapkan perasaannya, lalu salah satunya tidak memiliki perasaan yang sama, apakah setelahnya mereka tetap bisa berteman baik?” 

Rani pun refleks tertawa. 

Apanya yang lucu? 
Read More
Selain menyenangkan, menulis itu juga menyebalkan. Mungkin gue selalu merasa bahagia setiap kali berhasil curhat lewat tulisan. Sebab hal itu sungguh bikin lega. Namun, sebelum bisa merasa lega begitu, pastinya ada rasa malas dan takut yang menghalanginya.

Kalau boleh jujur, gue kerap malas untuk memulai. Dari mulai membuka laptop, memikirkan kalimat pembuka yang menarik, dan menentukan judul. Kemudian, gue juga takut sama hasil tulisannya; nggak enak dibaca, yang baca sedikit, atau pembaca tidak mendapatkan manfaat dari tulisan itu. 

Kala udah nyalain laptop dan pengin buka aplikasi Microsoft Word, gue malah melirik ke shortcut Warcraft, Plant vs Zombie, atau Sally Salon (kenapa permainan feminin ini belum juga gue uninstall, sih?). Gue jadi berpikir untuk main games dulu supaya nanti nulisnya lebih rileks. Sedihnya, gue malah keterusan main dan batal menulis.

Begitu berhasil menutup games dan Microsoft Word pun sudah terbuka, gue suka bingung harus memulai cerita dari mana. Kalimat pembuka sebetulnya cuma pancingan supaya tulisan dapat mengalir hingga berhasil menuangkan gagasan atau keresahan itu. Masalahnya, kalau pembukaan udah nggak enak dibaca, kalimat-kalimat selanjutnya pun sering gue hapus lagi. Kalau merasa sayang untuk dihapus, palingan gue pindahin ke dokumen baru dengan nama “Sampah”. Berharap suatu hari sampah-sampah itu bisa didaur ulang jadi tulisan lainnya.

Terus, gue ini termasuk orang yang kesusahan menulis kalau harus membuat judul terlebih dahulu. Akhirnya, waktu gue untuk update blog pun tertunda, sebab nggak tahu harus ngasih judul apa untuk tulisan yang sudah selesai itu. Seandainya boleh nggak pakai judul, mungkin draf-draf itu nggak akan terlalu menumpuk karena gue tinggal publikasi. Tapi, kalau nggak ketemu-ketemu judulnya, gue juga takut tulisan gue itu bakalan terlalu acak ketika diedit dan dibaca ulang. Paragraf yang satu dengan paragraf lainnya bisa-bisa sama sekali nggak ada keterkaitan.

Ya, Allah ... kenapa gue ribet amat, sih, mau menulis aja? Kayaknya orang lain nggak begini-begini amatatau malah banyak yang begini juga?



O iya, kalau boleh jujur lagi, gue sebenarnya benci menulis. Sebab menulis bagi gue adalah sebuah kejujuran. Gue sering terlalu jujur di setiap curhatan. Rasanya semua terketik begitu saja di setiap tangan gue menari-nari di atas tuts laptop. Seperti sekarang misalnya, kepala gue mulai terasa penuh akan persoalan dalam menulis.
Read More
“Kenapa blog isinya jadi tulisan iklan mulu, ya?” tanya seorang bloger kepada bloger lainnya. 

Dari keresahan itulah lahir beberapa tulisan blog yang mempermasalahkan para bloger yang mulai berubah haluan menjadi pengiklan. Baik yang hanya promosi di blognya, maupun yang telah merambah ke media sosialnya. Sebenarnya, gue juga pernah meresahkan hal itu. Namun, gue juga nggak bisa protes begitu aja, ketika diri gue masih menjadi bagiannya. Bagi pegawai lepas seperti gue, pemasukan tambahan dari iklan blog begitu lumayan. Jadi, gue pikir protes semacam itu bukanlah solusi buat gue. Nanti gue juga dikatain munafik lagi.

Nah, yang menarik dari permasalahan itu ialah kenapa para bloger kurang kreatif ketika mengiklankan produk dari klien. Yang gue perhatikan dan simak dari tulisan protes itu, tulisan iklan para bloger di blognya itu kurang menarik untuk dibaca. Atau, disebut kurang menarik pun belum pantas? Entahlah, nilai saja sendiri.

Katanya, kebanyakan bloger hanya menyalin press release itu ke dalam blognya tanpa diolah menjadi gayanya sendiri. Lalu cara promosinya dalam tulisan itu juga terlalu kasar. Mereka yang dimaksud itu belum menerapkan soft selling. Gue, sih, langsung tertawa membaca bagian itu. Sebab, yang dituliskan memang benar.

Namun, masih ada kok beberapa bloger yang tulisan liputannya menarik dibaca. Dan, gue sebisa mungkin nggak pengin menertawakan diri sendiri seperti yang dimaksud dalam tulisan protes tersebut. Sejauh ini ketika menulis tulisan yang berbayar, gue pasti berusaha sehalus mungkin dan menggunakan gaya sendiri. Gue sebenarnya juga menyadari kalau tulisan iklan gue itu masih terbilang cemen. Gue butuh belajar lebih banyak lagi. Lagian, gue termasuk orang yang milih-milih dalam menerima tawaran kerja sama.

Ya, setidaknya gue masih memegang idealis. Ketika temanya sesuai, terus harga cocok, barulah gue ambil. Gue nggak mau dibayar terlalu murah untuk hal yang kurang gue suka. Masa gue udah mengorbankan blog yang isinya buat curhat, lalu diisi iklan yang nggak sesuai sama konten blog gue, tapi tetep dibayar murah? Di situlah ada pertimbangan untuk menentukan harga atau menolak tawaran kerja sama.

Beda persoalan kalau gue suka sama tema dan acaranya, bisa masuk gratis dan mendapatkan makanan aja udah seneng. Ketika menuliskan liputan acaranya juga santai dan mengalir karena gue menikmatinya. Kalau temanya nggak sesuai diri gue, barulah itu jadi problem. Nanti ribet pas menuliskannya. Rasa di dalam tulisan itu juga takut nggak dapet.

Maka, sebisa mungkin gue ngambil tawaran kerja sama yang cocok dan halal. Situs judi dan togel pernah tuh menawarkan kerja sama, lalu dengan tegas langsung gue tolak. Jadi meskipun harganya lumayan atau malah tinggi, tapi kalo nggak sreg sama diri gue buat apa? Biarlah dibilang sombong dan milih-milih atau entah apalah itu. Sebab, bagi gue integritas itu penting.

***

Permasalahan soal iklan itu pun pernah gue lempar ke grup WIRDY. Rupanya, mereka juga merasa risih. Kemudian salah satu dari mereka ada yang menjawab, “Mungkin yang protes itu blogwalking-nya kurang jauh.” Berbicara soal blogwalking yang kurang jauh, gue sendiri mulai ngerasa kalau main ke blog orang kayaknya kok itu-itu aja. Kami pun diskusi blog siapa aja yang kira-kira perlu ditambah ke “Daftar Bacaan”.

Gue entah kenapa jadi heran, kenapa keresahan iklan itu malah melebar ke persoalan blogwalking? Terus kami mulai saling curhat satu per satu seputar dunia blog. Sejujurnya, sejak awal tahun 2017, kami kadang bingung mau main ke blog mana lagi. Kami merasa, kok setiap buka “Daftar Bacaan” mulai jarang yang update.

Apalagi sekarang ini, kala jenuh sama tulisan iklan, lalu teman-teman yang biasa cerita keseharian pada ke mana lagi nih? Kami akhirnya menceritakan tentang kerinduan tulisan bloger ini dan itu. Sebelum membahas lebih jauh, terus gue tiba-tiba usul, “Kalau dijadiin proyek tulisan aja gimana?”

Gue menjelaskan untuk bikin rekomendasi blog yang menarik untuk dibaca beserta alasannya. Mereka—personel WIRDY—pun kompak menjawab iya, lalu kami sepakat membuat daftar blog favorit. Awalnya kami cuma pengin bikin daftar 5 blog, tapi ada juga yang bertanya kalau 7 boleh atau nggak? Setelah itu, gue jawab bebaslah, bahkan lebih dari itu pun boleh. Kemudian gue bertanya lagi, kalau ada daftar blog yang sama gimana dong? Jawabannya, anggap saja itu rezeki si bloger. Kami cuma pengin jujur akan kesukaan blog itu. Kalau ada daftar yang sama, berarti selera kami sama.

sumber gambar: Pixabay yang kemudian gue tambahin teks


Jadi, inilah daftar blog yang gue suka:

1. howhaw.com

Sehabis membaca tulisan Haw, respons gue langsung pengin membalik namanya menjadi: “Wah”. Ya, begitu kelar baca tulisannya—yang berbumbu fisika dan bisa-bisanya disangkutpautkan ke hal lain apalagi percintaan itu, entah kenapa pengin bilang, “Wah, anjing! Kok keren, sih?”; “Wah, bangke. Kepikiran aja ini anak buat nulisnya.”; “Wah, dibalik Haw!”

Selain suka dengan tulisan yang fisika, cerita pendek yang dilabeli “fiksingkat” itu juga mantap. Tulisan fiksi Haw sering mengejutkan gue dan bikin kesal bercampur gemas. Contohnya yang ini: Terapi Hipnotis Tidur.


2. keriba-keribo.com

Pernah ngerasa minder buat curhat dan takut nggak ada yang baca? Belajarlah dari Kresnoadi. Setiap kali baca curhatannya yang diracik dengan komedi, gue sering merasa kalau pengin curhat, ya curhat ajalah, Yog. Ngapain kebanyakan mikir segala? Gue belajar untuk mengiklan dengan halus pun dari blog Adi. Dia pernah beberapa kali memenangkan lomba blog berhadiah jutaan dengan gaya berceritanya sendiri. Karena itulah, secara nggak langsung dia telah mengajarkan gue untuk lebih percaya diri dalam curhat ataupun mengikuti lomba.

Terus kalau boleh berpendapat jujur, dari sekian banyak tulisannya yang humor, gue justru paling suka tulisannya yang serius-serius dan bikin termenung. Inilah yang gue maksud: In The Middle of The Night ... and Suddenly Thinking About Life


3. bayurohmantika.com

Setiap membaca tulisan Bayu, gue sering mendapatkan pandangan baru akan sesuatu hal. Tulisan-tulisannya itu juga seolah mengajak gue berpikir ulang tentang dunia menulis. Misalnya, di tulisan yang Menulis Kebutuhan atau Tuntutan?

Bisa dibilang Bayu nggak seperti bloger lain yang mengharuskan dirinya rajin blogwalking biar blognya ramai. Dia main ke blog orang lain pas lagi pengin aja. Yang penting kan bisa tetap menulis. Anggep aja tulisannya nanti nggak ada yang baca. Entah ramai dikunjungi atau nggak, ada yang komentar apa nggak. Bayu sesantai itu dalam ngeblog. Yang gue salut, Bayu selalu memberikan komentar yang panjang dan bukan basa-basi. Tanda kalau dia benar-benar mengapresiasi bloger itu.

Dari tulisan Bayu itu, gue juga belajar untuk nggak usah terlalu dibawa beban dalam berkarya harus begini dan begitu. Bagi Bayu, dia pengin kalau menulis itu karena kebutuhan dia buat menyampaikan keresahannya. Bukan menulis karena tuntutan. Mungkin dia nggak mau dituntut untuk terus konsisten, sedangkan dia sendiri nggak suka sama hasil tulisannya. Bayu seakan-akan mengingatkan gue kalau kualitas itu yang terutama daripada kuantitas. Lalu di akhir tulisan, biasanya Bayu juga menambahkan lagu yang menemaninya menulis. Lumayan, gue jadi dapet referensi musik baru. Makasih, Bay!


4. agrariafolks.wordpress.com

Sebelum gue membaca novel 24 Jam Bersama Gaspar buatan Mas Dio yang terbit Mei 2017 ini, gue sudah jauh lebih dulu membaca blognya pada tahun 2015. Gue lupa waktu itu mengenal tulisannya dari mana. Kalau nggak salah karena dipromosiin sama Bernard Batubara atau Aan Mansyur. 

Awalnya, sih, gue sempat bingung dan merasa nggak sampai sama tulisan-tulisan absurditas atau surealis yang dia tulis. Namun, saat gue membaca tulisannya yang berjudul Hansen, lama-kelamaan menarik juga untuk diikuti. Tulisan Mas Dio sepertinya cocok untuk pelarian gue dari dunia nyata dan masuk ke dalam dunia absurdnya. Komedi satire dalam cerpennya pun sering bikin gue tertawa seraya mengucapkan kata-kata yang kotor sebagai pujian. Sebab itulah gue memutuskan untuk membeli novel debutnya: Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya dan, akhirnya jadi menyukai gaya berceritanya.

Sayangnya, sekarang dia mulai jarang menyuguhkan cerpen di blognya. Untuk melihat cerpennya yang keren, mau nggak mau gue kudu membuka arsipnya pada tahun 2014-2016.


5. ardiwilda.com

Gue sebetulnya nggak kenal siapa Ardi Wilda—yang biasa disapa Awe di media sosialnya. Gue pun nggak mengikuti akun medsosnya. Gue pertama mengetahuinya itu, waktu nggak sengaja membaca mention-an dia dengan Mas Dio sekitar dua tahun silam. Terus, gue entah kenapa iseng melihat profil Twitter-nya. Karena tercantum alamat blognya, gue pun lanjut membaca blognya. Ternyata, tulisannya bagus!

Tulisan dia itu sering mengajak gue berkontemplasi. Contohnya, Dua Puluh Senti di Atas Bahu. Hal-hal yang sering gue lewatkan di kehidupan sehari-hari, berhasil dia ingatkan untuk gue renungkan. Tentunya dengan teknik bercerita yang ciamik. Gue jadi mendapatkan kesegaran baru setiap main ke blognya. Karena gue nggak kenal, gue pun sadar kalau setiap blogwalking ke blognya selama ini begitu tulus. Gue main hanya ingin baca tanpa perlu berkomentar. Seolah-olah gue telah menyalahi aturan yang dilakukan para bloger untuk bersilaturahmi. Tapi gue nggak peduli. Sampai sekarang, kayaknya gue nggak pernah berkomentar di blognya. Gue jadi pembaca bisu di blognya dan pengin seterusnya begitu.

*

Itulah 5 blog yang menyenangkan sekaligus menyebalkan buat gue. Menyenangkan karena blog mereka isinya bukan iklan seperti yang diresahkan beberapa bloger. Mereka berlima juga menyajikan kesegaran yang berbeda-beda. Unik dengan gayanya masing-masing. Lalu kalau soal menyebalkan, sebab gue jadi nggak bisa keseringan leyeh-leyeh lagi saat luang. Gue nggak bisa terus males-malesan, berdiam diri, dan menunda menulis. Merekalah yang menjadikan gue lebih bersemangat untuk banyak menulis dan membaca lagi. Supaya tulisan gue bisa lebih baik dari waktu ke waktu.

O iya, gue sengaja memasukkan yang seumuran atau umurnya nggak jauh-jauh amat, biar mereka jadi motivasi dan patokan buat gue dalam berkarya. Bahwa, mulailah berkreasi sejak muda. Nggak usah menunda-nunda lagi untuk menciptakan sesuatu. Yuhu!

Nah, kalau kamu siapa nih bloger favoritnya?

--

PS: Tulisan personel WIRDY lainnya menyusul, ya. Nomor dalam daftar itu gue buat secara acak, bukan berdasarkan peringkat. Bukan karena beberapa dari mereka teman gue juga. Ini murni pendapat gue seandainya nggak kenal sama mereka. Kalau gue mau promosiin temen, mending sekalian gue buat daftar personel WIRDY di tulisan ini. Titik dua kurung tutup.

Mungkin ada yang mau ikutan bikin daftar kayak tulisan ini. Ya, silakan. Mari kita ramaikan dunia blog kembali. Kalau cuma protes sama dunia blog mah gampang, tapi menurut gue itu bukanlah solusi. Mending tunjukkan kalau blog isinya nggak cuma iklan aja dengan merekomendasikan blog favoritmu. Halah!

*

Untuk baca daftar blog rekomendasi Wulan, Robby, dan Icha silakan diklik.
Read More
Novel yang bagus itu seperti apa?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, gue ingin memberi tahu kalau judulnya sengaja dibikin keliru. Yang betul adalah 24 Jam Bersama Gaspar, sebuah novel karya Sabda Armandio—setelah ini akan gue panggil Mas Dio biar lebih akrab.



Kalau memang ada yang beneran bertanya ke gue tentang novel yang bagus, gue betul-betul nggak tau harus menjawab apa dan bagaimana. Apalagi setiap orang memiliki selera bacaan yang berbeda-beda.

Namun, kalau orang itu cuma ingin meminta pendapat gue, maka jawabannya: buku yang bagus setidaknya akan membuat gue rela membuang-buang waktu untuk membaca ulang ceritanya. Dan, Mas Dio dengan gaya berceritanya yang asyik itu berhasil membuat gue menamatkan Gaspar dua kali. Itulah alasan kenapa judulnya jadi seperti itu.

Nggak banyak novel yang akhirnya gue baca ulang. Lagian kalau nggak bagus, ngapain repot-repot harus baca ulang? Jadi, gue anggap buku yang bisa memaksa pembacanya untuk membaca ulang, apalagi sampai menandai bagian-bagian yang menarik adalah buku yang bagus.

Seperti yang terlihat di gambar, gue menandai beberapa bagian novelnya dengan post it. Gue memang suka menempelkan post it pada bagian buku tententu untuk kepuasan sendiri. Bagian mana yang gue sukai, yang membuat gue tertawa, dan yang bikin merenung.

Nah, dari salah satu post it yang gue tempelkan itu, dialog pada novel 24 Jam Bersama Gaspar ini rasanya bisa menjawab pertanyaan seperti apa buku yang bagus: “Cuma penulis hebat yang bisa membuat pembacanya anteng, tak peduli berapa pun jumlah halamannya.”
Read More
Ketika gue berumur 12 tahun, gue sempat melihat mikrolet yang di kacanya tertempel tulisan “www.doaibu.com”. Pertama kali membaca itu, gue berpikir sesuatu yang pakai (dot)com, kok, keren sekali. Hingga beberapa hari setelahnya, rasanya gue pengin ikutan bikin. Namun, gue masih belum tahu ingin menggunakan nama apa untuk dijadikan stiker. Mungkin kalau benar jadi dibuat, namanya akan berupa “www.yogamantep.com” atau “www.yogagituloh.com”. 

Saat usia segitu, gue memang nggak tahu apa-apa soal www seperti itu (yang belakangan diketahui adalah domain). Gue cuma berpikir untuk membuat stiker dengan nama www(dot)com begitu, lalu nanti akan ditempelkan di pintu rumah. Jadi kalau ada teman yang main ke rumah gue, dia akan takjub melihat stiker itu.

Gue sejujurnya nggak ngerti, kenapa dulu tuh bisa begitu bodoh atau polosnya. Padahal waktu itu gue sudah mulai main online games di warnet (warung internet). Tapi ya, tetap saja nggak berpikir lebih jauh tentang (dot)com. Pikiran gue masih sebatas untuk keren-kerenan dijadikan stiker. Bisa dibilang kala itu gue masih gagap teknologi.

Hal yang gue inginkan dahulu itu akhirnya terwujud dalam bentuk lain. Angan-angan itu bukan lagi dalam bentuk stiker, melainkan berwujud blog: www.akbaryoga.com yang gue beli di Qwords. Nggak nyangka, ternyata keinginan gue pada usia 12 tahun itu malah menjadi kenyataan yang lebih baik.

Sekitar sepuluh tahun kemudian, pada Kamis, 24 Agustus 2017 Qwords berulang tahun yang ke-12. Dalam memeriahkan acaranya, Qwords turut mengundang rekan-rekan bloger di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Alhamdulillah gue termasuk bloger yang diundang di acara tersebut. Berhubung domisili gue di Jakarta, maka datanglah gue ke Gedung Cyber 1 lantai 3, di Jalan Kuningan Barat No. 8, Jakarta Selatan.

Read More
“Sebelum acaranya dimulai, gue mau nanya nih. Temen-temen udah pada tahu Brilio, kan?” tanya Mas Josie, selaku MC acara.

Saat gue perhatikan, ada yang menjawab sudah, ada yang diam saja, dan ada yang segera mengetik sesuatu di laptopnya (belakangan diketahui, ia ternyata membuka web Brilio.net). Sepertinya orang itu belum tahu dan mungkin merasa malu karena sudah datang ke acara, tapi nggak ngerti sama sekali akan Brilio itu sendiri.

Sejujurnya, gue sendiri nggak banyak tahu tentang Brilio. Satu-satunya hal yang gue ketahui ialah artikelnya yang sempat gue baca beberapa kali di Line Today. Iya, hanya itu dan gue nggak mencari tahu lebih jauh.

*

Syukurnya, pada hari Sabtu, 19 Agustus 2017 gue dan teman-teman dari Komunitas ISB mendapatkan undangan untuk main ke kantor Brilio. Kantornya berlokasi di Graha Tirtadi Lt. 3 Jalan Wolter Mongonsidi No. 71, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Berkat acara inilah gue bisa mengetahui lebih lanjut tentang Brilio.


Suasana Kantor

Seperti kantor-kantor media kreatif pada umumnya, Brilio pun memiliki tempat kerja yang asyik dan nyaman. Kantornya tidak memiliki papan tulis untuk mencatat proyek yang sedang dikerjakan atau catatan yang lain. Di kantor itu, coretan-coretannya dituliskan di kaca. Lalu, di temboknya terdapat tulisan “create”, yang seolah-olah memengaruhi alam bawah sadar untuk membuat atau menciptakan sesuatu. Lalu, ada sebuah ruangan yang kami tempati di acara itu menggunakan semacam tempat duduk yang unik dan asyik buat leyeh-leyeh, tapi gue nggak tahu apa namanya.



Read More
Setelah menyebar beberapa surat lamaran lewat surel (surat elektronik), baik yang gue dapatkan dari teman maupun JobStreet. Akhirnya, ada satu panggilan wawancara kerja. Namun, lokasinya di Gading Serpong, Tangerang, yang mana cukup jauh dari rumah. 

Kenapa gue ngelamar kerja jauh-jauh banget, ya? Gue pun berusaha mengingat-ingat tentang PT yang menghubungi gue itu, tapi tetep lupa. Entah karena saking banyaknya ngirim lamaran, apa emang gue yang udah mulai frustrasi dan jadi gampang lupa.

Setelah berselancar di internet, gue pun menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Perusahaan yang gue lamar ini, ternyata punya lebih dari satu cabang. Yang gue lamar itu alamat lainnya berada di daerah Kebon Jeruk. Oke, berarti yang di Gading Serpong itu hanya tempat wawancaranya.

Pukul 07.00 gue mulai berangkat dari rumah menuju kantor itu. Interviu yang tertera di surel sebetulnya dimulai pukul 09.00. Kalau yang gue lihat di GPS, perjalanannya sekitar 75-90 menit. Namun, gue sengaja berangkat lebih awal sebab memperkirakan macet dan beberapa hal buruk lainnya. Misalnya ban motor bocor, tersesat, atau terjadi Perang Dunia Ketiga.



Benar saja dugaan gue akan hal itu. Begitu sudah masuk area Serpong, gue nyasar seperti biasanya. Gue mengendarai motor mengikuti petunjuk di papan jalan ke arah Serpong, yang ternyata beda arahnya dengan Gading Serpong—tempat yang gue tuju. Gue mungkin kehilangan fokus saat terjebak macet di Ciledug, suatu daerah sebelum menuju arah Serpong. Mau nggak mau, gue mulai menepi dan mengecek GPS untuk kembali ke jalan yang benar. Jalan yang diridai Allah. Allahu Akbar!

Sesampainya di kawasan yang tertera di GPS, gue mulai bingung lagi. Sebelumnya, kantor yang gue tuju itu alamatnya nggak tercantum di GPS. Jadi, gue memasukkan nama jalan lain yang dekat dengan tempat itu. Nah, berarti perjalanan gue setelah ini nggak bisa lagi memanfaatkan teknologi. Gue harus nanya sama orang.

Demi berjaga-jaga salah bertanya, maka orang yang gue tanya adalah satpam. Sayangnya, ia mengatakan kalau tidak tahu percis alamatnya. Ia malah bilang lokasi yang gue cari itu mungkin dekat dengan ruko-ruko sambil menunjukkan jalannya. Gue pun mengucapkan “terima kasih”, dan melanjutkan pencarian lokasinya ke tempat yang satpam itu maksud.

Setelah 15 menit berselang, gue sudah memasuki area yang banyak rukonya. Lalu gue bertanya ke pejalan kaki yang lewat, seorang pria berkumis yang kira-kira usianya menginjak empat puluhan akhir. Bapak itu kemudian memberi tahu gue kalau nama jalan yang gue tanyakan itu udah benar dan mungkin kantor yang gue cari itu ada di depan. Cuma, Bapak itu memberi tahu gue kalau ruko-ruko yang ada di sini masih baru, sepertinya masih kosong dan belum ada kantor yang beroperasi.

Gue mulai cemas dan membatin, ini yang gue tuju jangan-jangan perusahaan fiktif?
Read More
Beberapa hari yang lalu saat libur kerja, aku memutuskan untuk bertualang. Kamu mungkin tau rasanya bekerja selama 6 hari dalam seminggu dengan semangat yang kurang itu seperti apa. Nah, bagiku itu cukup menjenuhkan. Ketika libur, lalu cuma tidur-tiduran di rumah itu malah menambah rasa bosan. Mungkin mengistirahatkan tubuh itu perlu, tapi jiwaku juga butuh sesuatu yang baru. Yang membuatku kembali menjalani hari dengan penuh kesegaran. Maka, jadilah aku pergi bertualang.


Pertualanganku ini berlangsung selama sebelas jam. Semuanya berawal ketika aku memulai perjalanan dari Stasiun Bekasi dengan tujuan Stasiun Sudimara (Tangerang Selatan) menggunakan kereta listrik (KRL) khusus area Jabodetabek. Sebetulnya aku tidak begitu suka naik kereta, tetapi kalau menggunakan motor rasanya pasti tak sanggup. Perjalanan dari ujung ke ujung dan duduk berjuang melawan macet tentunya bisa membuat pantatku menipis. Dan karena belum memiliki helikopter, maka keretalah yang jadi solusinya.

Mungkin kamu bingung apa tujuanku pergi ke Sudimara. Aku janjian bersama teman-teman bloger: Adibah dan Yoga, untuk berjumpa sembari kulineran di sana. Mereka, sih, enak jaraknya pada dekat. Yoga dari Palmerah cuma 4 stasiun, Adibah apalagi yang tinggal naik angkot.
Read More
Beberapa media saat ini begitu ramai dengan berita bunuh diri dan depresi. Yang pertama kudengar adalah tentang Oka atau Eka gitu, aku lupa namanya. Kabar burung mengatakan ia bunuh diri. Tapi aku tidak mudah percaya akan gosip murahan. Lagian, aku juga tidak kenal ia siapa. Kemudian berita selanjutnya ialah kematian Chester Bennington, vokalis Linkin Park, yang begitu menamparku. Ia bunuh diri dengan gantung diri. Aku masih tidak percaya kenapa orang-orang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu? Itu sungguh membuatku nelangsa.





Aku begitu sensitif dengan hal-hal yang berhubungan dengan bunuh diri. Aku tiba-tiba jadi ingat tentang sebuah surat bunuh diri yang kutemukan di kamarku beberapa hari yang lalu. Surat ini menurutku cukup panjang. Jadi, sembari membaca surat ini, kau lebih baik tarik napas dahulu dalam-dalam, kemudian embuskan secara perlahan. Saat membacanya, kuharap kau jangan sampai terbawa suasana. Jika sedang depresi, lebih baik tutup saja tulisan ini. Baca lagi lain waktu. Atau, baca saja tulisan-tulisan yang lain. Sebab ini memang surat bunuh diri seseorang. Aku sudah memperingatkanmu akan hal ini, ya. Baiklah kalau kau tetap ingin membacanya. Sambil menemanimu membaca, kau boleh menyediakan camilan dan kopi. Tapi kalau itu tidak ada, air putih pun tidak masalah.

Oke, inilah isi surat yang kutemukan itu.

***

Karena ditulis oleh orang goblok yang jelas-jelas lebih pantas menjadi seorang pengeluh yang lemah. Surat ini sepertinya mudah sekali untuk dimengerti.
Read More
Membaca cerita seram (kalau di Twitter sering disebut memetwit) 2 hari belakangan ini entah kenapa lumayan membuat gue bergidik. Anehnya, ketika gue takut dan punggung mulai panas, apalagi badan ikutan terasa pegal-pegal, itu justru semakin membuat gue penasaran. Gue seolah ketagihan membacanya.



Lalu saat gue merasa udah terlalu banyak energi negatif dan berusaha membuang pikiran-pikiran mistis itu, tiba-tiba gue malah mengingat kejadian hari Rabu atau Kamis (maaf gue lupa percisnya) kemarin. Pada hari itu, Nyokap sedang mencuci pakaian dari sehabis asar, dan sampai azan Magrib ternyata belum kelar. Namun, Nyokap tetap melanjutkan aktivitasnya, sedangkan gue berangkat ke masjid.

Sehabis Magriban, gue kayak biasa kembali ke kamar dan bermain ponsel sambil menyender tembok. Karena gue tidak menutup rapat pintu kamar, ruangan sebelah—kamar orang tua—ada sebuah celah. Dan, seketika itu gue melihat ada putih-putih atau mukena yang bergerak. Karena kondisinya kami di rumah berdua doang. Sore itu Bokap masih di kantor dan adek gue keluyuran. Maka gue berpikiran kalau itu Nyokap lagi jeda mencuci, untuk salat terlebih dahulu.

Ya, capek juga kali nyuci sekitar 2 jam lebih (tolong, jangan dikatain anak durhaka karena nggak bantuin). Gue pun tidak berpikiran yang aneh-aneh, lalu kembali fokus mainan ponsel untuk memperhatikan timeline Twitter. Sekitar 5-10 menit kemudian, Nyokap masuk kamar gue. Beliau pun menggelar sajadah dan bermaksud ingin salat.

Melihat hal itu, ya gue kaget bangetlah dan langsung bertanya, “Lah, ngapain salat lagi, Bu?”

Nyokap menoleh ke gue dan merespons, “Kapan Ibu salat?”

“Tadi di kamar sebelah,” jawab gue disertai kebingungan.

Kemudian Nyokap menjelaskan kalau dirinya baru kelar mencuci dan dari tadi tidak beranjak ke mana pun. Gue tetap ngotot di kamar sebelah ada yang salat. Lalu Nyokap menghindari debat itu. Beliau pun memilih salat dulu.

Begitu kelar salat, kami pun melanjutkan kembali obrolan yang tertunda itu. Gue masih ngeyel kalau tadi melihat ada yang salat di kamar sebelah. Meskipun cuma sekilas dan tidak benar-benar melihat jelas. Hingga akhirnya Nyokap menjelaskan, “Oh, itu paling penunggu rumah kita. Kakek berjubah putih.”

Terus gue nggak tau mau bilang apalagi selain mengeluarkan kata "Oh". Begitu Nyokap keluar dari kamar gue, gue sendiri tidak merasa ketakutan atau berpikiran buruk. Keadaan tetap seperti biasanya dan kayak nggak terjadi apa-apa. Habisan kami sekeluarga udah terbiasa lihat sekilas-sekilas dan "dia" pun nggak mengganggu.

*

Sebenarnya, kejadian mistis di rumah seperti tadi itu sudah terjadi sejak gue SD kelas 2 atau 3. Kala itu, gue juga melihat sekilas putih-putih. Awalnya, gue lagi jagain sambil ngajak main Sadam—adik gue, yang saat itu umurnya baru sekitar 2-3 tahunan—di kamar (yang sekarang jadi kamar gue, dulunya adalah kamar orang tua) karena Nyokap yang mau mandi sore dan salat Magrib.

Saat sedang asyik mengajak dia bercanda, tiba-tiba Sadam menangis kencang. Gue nggak tau apa yang salah dengan bercandaan gue saat itu. Gue pun bertanya, “Heh, kenapa kok nangis?”

Dia tidak menjawab dan tangisannya pun semakin keras. Saat gue sekilas mengalihkan pandangan, gue melihat Nyokap lagi berdiri salat Magrib di sebelah kasur di pojokan kamar. Namun, karena terdengar suara gebyuran air, berarti Nyokap masih berada di kamar mandi. Setelah gue lihat lagi, rupanya itu memang bukan Nyokap. Karena beberapa hari sebelumnya saat hal itu terjadi, Sadam sehabis melihat hantu bungkus—atau yang lebih dikenal pocong—di sebelah rumah. Oleh sebab itu gue berasumsi kalau putih-putih tadi adalah makluk yang sama. Gue pun hanya bisa menutupi muka dengan bantal karena nggak bisa teriak ataupun menangis.

Sejujurnya, gue lupa bagaimana wajah yang terlihat kala itu. Apakah yang membuat gue bergeming saat masih bocah itu adalah wajah yang seram atau memang refleks takut karena melihat sosok yang tidak biasa? Gue tidak mau memaksakan ingatan atau mengimajinasikannya seperti yang ada di film-film hantu. Gue justru ingin melupakan wujud itu.

Read More
Berangkat dari membaca tulisan lama di bloknot, gue kemudian menemukan catatan ide tentang proyek pertanyaan yang belum sempat tertuliskan. Gue mendapat inspirasi itu awalnya dari sebuah kutipan Mbah Sujiwo Tejo,
Lama-lama orang malas romantis, karena takut disebut galau. Malas peduli, takut disebut kepo. Malas mendetail, takut dibilang rempong. Malas berpendapat, takut dibilang curhat. Malas mengubah sudut pandang saat debat, takut dibilang labil.

Waktu itu, gue memang termenung membaca kutipannya. Lalu, saat puasa dan menjelang Lebaran kemarin banyak orang yang resah tentang pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan para saudara: “Kapan lulus?, “Kapan punya pacar?”, “Kapan nikah?”, “Kapan mati?”, dan seterusnya. Gue pun kepikiran tentang sebuah proyek pertanyaan.

Meskipun pertanyaan-pertanyaan seperti itu nggak etis, tapi gue jadi kepikiran akan suatu pertanyaan yang begitu mengganjal di kepala. Kebetulan, kemarin juga sempat dibahas ketika gue ikut kelas menulis puisi Aan Mansyur. Ternyata, gue bisa berpikiran hal yang sama seperti Aan. Nggak nyangka.

Pertanyaan gue: Kenapa orang-orang sekarang ini jadi malas bertanya, terus takut dibilang kepo?



Misalnya di sebuah kelas saat perkuliahan, ketika dosen bertanya kepada mahasiswanya, jarang banget ada mahasiswa yang mau bertanya. Biasanya saat ada yang bertanya, kita akan kesal karena jam istirahat jadi ditunda. Atau kita menganggap orang yang bertanya itu cari perhatian atau cari muka kepada dosen. Padahal, kan, belum tentu. Mungkin dia bertanya karena memang belum mengerti materinya.

Oleh karena itu, gue pun mengusulkan proyek pertanyaan kepada anggota WIRDY. Proyek ini melatih untuk berpendapat dan berani bertanya. Tiap orangnya akan gue tanya sebuah pertanyaan. Kemudian, gantian mereka yang bertanya kepada gue. Bisa dibilang ini mirip QnA gitu, sih. Bedanya, gue merahasiakan siapa yang bertanya kepada gue.

Maka, inilah pertanyaan dan jawaban itu:

Satu

T: Kalau ngelihat tren blogger sekarang, blogger yang kayak lu (blogger curhat) itu masih punya tempat nggak, sih, di dunia blogging?
Read More
Bagian Satu: Bloknot

***

Perempuan yang dipanggil “Rina” itu pun mengernyitkan dahinya dan tampak kebingungan. “Emm... maaf, Rina itu siapa?”

“Hah, aku salah orang, ya?” tanya Yoga.

Yoga bisa-bisanya salah mengenali orang. Setelah melihat perempuan ini dengan lebih jelas, ia ternyata cuma mirip kalau dilihat sekilas. Rambutnya jauh lebih hitam daripada Rina—yang berambut kemerah-merahan karena terlalu sering memakai pengering rambut. Hidungnya juga sedikit lebih mancung, meskipun masih termasuk pesek. Tubuhnya sedikit lebih kurus dan pipinya juga tidak terlalu tembam. Dan, suaranya pun terdengar lebih lembut.

“Aduh, kupikir kau itu temanku. Habisan mirip, sih. Maaf-maaf.”

Lalu, perempuan itu bilang tak masalah dan tersenyum. Lagi-lagi malah wajah Rina yang muncul. Yoga sebisa mungkin berusaha fokus dan begitu keras menghapus gambaran muka mantan kekasihnya itu.

Selagi Yoga bergeming, perempuan itu kemudian menjelaskan kalau dirinyalah yang menemukan buku catatan Yoga. Mereka pun berkenalan. Nama perempuan itu: “Rani”. Ya, nama itu mirip dan seperti sebuah anagram dari Rina. Yoga kemudian mempersilakannya duduk. Karena Rani tidak suka duduk berhadapan dengan orang yang baru dikenalnya, ia pun memilih duduk di sebelah kiri Yoga.

Sore ini Rani mengenakan kaos belang hitam putih bergaris horizontal. Dengan bawahan blue jeans dan sneakers berwarna senada. Ia menggendong tas hitam berbahan poliester, yang di dalamnya mungkin berisi bloknot milik Yoga.

Sehabis duduk bersama, awalnya mereka sama-sama canggung. Rani entah kenapa terdiam. Ia sepertinya grogi bertemu dengan seseorang yang telah menulis beberapa puisi di buku catatan yang sempat ia baca semalam. Baginya, puisi bikinan Yoga mengagumkan. Rani juga kerap membuka dan membaca tulisan di blog Yoga. Ia menyukai tulisan-tulisan curhatnya yang entah kenapa membuat dirinya merasa sudah kenal dekat. Apalagi komentar di blognya terbilang lumayan banyak. Tanda kalau tulisan-tulisannya memang memiliki pembaca setia. Rani saat ini seolah bertemu selebritas.

Akhirnya, Yoga yang memecah keheningan dengan bertanya kepada Rani ingin memesan menu apa. Setelah pesanan ditentukan, Yoga segera memanggil pramusaji. Ia memesan mi goreng jumbo tante (tanpa telur) dan es teh manis, sedangkan Rani memesan internet (indomie telur kornet) rasa soto dan es teh tawar. 

Sembari menunggu makanan itu matang, mereka mengobrol, mengobrol, dan mengobrol. Rani sebelumnya meminta maaf karena telah lancang membuka bloknot itu dan membaca isinya. Yoga pun suka tidak suka harus memakluminya. Yang penting bloknotnya itu ketemu. Setelah itu, Rani memuji beberapa puisi di buku catatan Yoga yang belum pernah ditampilkan di blog. Ya, beberapa perempuan memang lebih menyukai laki-laki yang menulis puisi dibandingkan berprofesi sebagai polisi.

Yoga malah merasa malu sebab puisi itu biasa saja baginya. Rani pun berusaha meyakinkannya kalau puisi itu jujur apa adanya dan tidak rumit—tidak perlu membuka kamus untuk mencari kata yang asing. Namun, Yoga tetap mengelak kalau tulisannya masih jauh dari kata bagus. Lagi-lagi Rani memberikan motivasi agar Yoga tidak minder. Rani bilang kalau puisi itu sudah dapat dikatakan “lumayan”. Setidaknya begitulah penilaian Rani.

Belum sempat Rani melanjutkan perkataannya soal puisi, pramusaji mengantarkan pesanan ke meja mereka. Aroma mi instan dan cabai rawit yang mulai menyeruak hidung, sontak membuat mereka segera menyantapnya terlebih dahulu dan menunda pembicaraan. Beberapa saat kemudian, entah kenapa mecin tiba-tiba membuat lidah Rani lebih luwes dalam berbicara.

Read More
Ada beberapa film Thailand yang gue suka tonton ulang dan telah menjadi favorit; di antaranya: Crazy Little Thing Called Love, Hello Stranger, May Nai Fai Rang Frer (May Who), The Billionaire, The Teacher’s Diary, dan lain-lain.

Nah, selain film-filmnya yang membuat gue terpikat, negeri Gajah Putih ini ternyata memang tak pernah kehilangan pesonanya. Daya tarik lain dari Thailand adalah pulau-pulau yang cantik dan tentunya memesona. Tempat wisata di Thailand ini bahkan beberapa di antaranya telah mendunia. Menurut gue, Thailand ini sangat tepat untuk menjadi destinasi wisata kamu (terutama para traveler) selanjutnya. Gue pun kalau punya banyak uang, rasanya pengin berlibur ke sana. Dan, berikut ini ialah beberapa pulau terbaik di Thailand yang cocok untuk dikunjungi dan mungkin juga cocok untuk kamu berelaksasi dan mengeksplorasi.


1. Koh Lanta

Koh Lanta (pixabay.com)

Merupakan kepulauan yang berlokasi di Provinsi Krabi. Koh Lan Yai atau Koh Lanta adalah pulau terbesar dalam gugusan pulau tersebut. Kamu yang begitu menyukai snorkelling atau diving, kiranya kawasan ini sangat cocok. Sebab, kamu akan menemukan gugusan koral yang masih alami, dan yang paling menarik adalah adanya paus dan pari manta yang akan menemanimu menyelam.

2. Koh Lipe

Koh Lipe dihuni oleh Gipsi Laut, atau sering juga disebut manusia perahu. Para Gipsy Laut ini hidup secara nomaden dan tinggal di atas perahu. Saat musim hujan tiba, mereka sering menepi di pulau-pulau sekitar Laut Andaman, dan Pulau Koh Lipe merupakan salah satunya. 

Koh Lipe berlokasi di Kepulauan Adang-Rawi bagian barat daya Thailand. Saking kecilnya pulau ini, kamu bisa mengelilingi pulau ini hanya dalam waktu satu jam. Namun jangan salah, di sini sudah ada penginapan yang nyaman lengkap dengan AC. Jadi, kamu gak perlu khawatir kepanasan, ya. Yuhu!

Read More
Kehilangan sesuatu yang berharga itu identik dengan sebuah penyesalan. Kau mungkin bosan mendengar kalimat seperti itu, tapi begitulah adanya. Sehabis kehilangan, kita biasanya akan merenungi sesuatu itu saat masih ada. Mengapa kita tidak bisa menjaga ataupun merawatnya dengan baik?  Namun, kehilangan sesuatu yang berharga tidak melulu tentang seseorang. Kehilangan bisa soal benda, ingatan, atau keperjakaan.

Seperti apa yang sedang dialami oleh Yoga saat ini. Dari beberapa hal di atas, Yoga baru saja mengalami kehilangan. Mungkin kau akan menebak kalau ia kehilangan keperjakaan, tapi sayangnya bukan itu. Ia kehilangan sebuah benda. Benda itu bukan ponsel canggih yang harganya mahal, ataupun dompet—berisi uang dan kartu-kartu penting. Benda itu cuma sebuah bloknot. Sebuah buku catatan yang telah menemaninya selama beberapa tahun. Bloknot itu ia beli sekitar 3 tahunan yang lalu dan sekarang tentu saja sudah banyak berisi tulisan. Buku sejenis itu memang masih dapat ia beli di pasar atau toko. Tapi isi di dalamnya adalah harta karun yang paling berharga baginya. Yang tidak mungkin bisa ia beli di mana pun.

Sejelek apa pun tulisan tangannya maupun apa yang telah tertulis di bloknot itu, Yoga tetap menghargainya. Isi buku itu ialah rekam jejak dalam hidupnya yang sangat berarti. Ia tidak rela kalau sampai ada yang menemukannya dan membacanya tanpa izin. Lebih-lebih kalau buku itu dibuang, bukan dikembalikan. Apalagi kalau sampai dijadikan bungkus gorengan.

Awalnya, ia tidak tau bloknotnya itu hilang. Kala sedang ingin melanjutkan sebuah cerpen, yang draf awalnya sudah sempat tertulis beberapa paragraf di buku catatannya, barulah ia sadar kalau bloknot itu tidak ada di dalam tasnya. Kini, Yoga jadi kebingungan dan stres sendiri. Ia sudah membongkar tasnya lebih dari sekali, tetapi bloknot itu tetap tidak ditemukan. Ia pun telah mencari-cari di seluruh isi kamarnya; rak buku, lemari, dan kolong tempat tidur. Namun, bloknot itu belum juga ia dapatkan. Bloknot itu lenyap seolah ingin mempermainkannya.



Anjing! umpatnya dalam hati.

Seingatnya, hari ini ia tidak mengeluarkan apa-apa dari dalam tas. Kalaupun tadi ia sempat keluarkan, pasti akan dimasukkan kembali begitu rampung menulis atau mencatat suatu ide. Setelah yakin kalau hari ini ia tidak membuka-buka tasnya, ia mulai mengingat hari kemarin.

Read More
Seperti Pulau Dewata Bali, Pulau Lombok juga kaya akan wisata alamnya. Meskipun didominasi oleh pantai, setiap pantai menawarkan panorama alam yang unik dan berbeda. Seperti 7 tempat wisata berikut yang pasti akan membuat liburan kamu di Lombok semakin tak terlupakan.

1. Gili Sudak

Kawasan Lombok paling terkenal dengan destinasi Gili Trawangan atau Gili Meno. Bagi yang sudah sering ke Lombok, menikmati keindahan alamnya pasti terasa biasa. Kamu perlu mendapatkan pengalaman baru yang menakjubkan di Gili Sudak. Bagaikan pulau milik pribadi, Gili Sudak masih belum banyak dikunjungi para wisatawan. Pantainya berpasir putih, dengan air laut yang tenang dan jernih. Selain itu, Gili Sudak juga menawarkan pemandangan bawah laut yang memukau, cocok nih bagi kamu yang gemar menyelam.


2. Gunung Rinjani


(sumber gambar: trekkingrinjani.com)

Mendaki gunung api tertinggi kedua di Indonesia pasti akan memberikan pengalaman seru tak terlupakan. Dengan ketinggian 3.726 mdpl, Gunung Rinjani menjadi salah satu gunung favorit para pendaki karena memiliki pemandangan alam yang sangat mengagumkan. Dari puncaknya, kamu bisa melihat indahnya danau kawah Segara Anak.


3. Pantai Senggigi

Kabarnya, Pantai Senggigi disebut sebagai surganya pariwisata oleh para wisatawan. Sebab, pantai ini memiliki air yang sangat jernih dan bermacam biota laut yang cantik. Di dekatnya, terdapat dua destinasi wisata lainnya, yaitu Batu Bolong dan Batu Layar. Pantai Senggigi biasanya digunakan sebagai lokasi transit wisatawan sebelum menuju ke Trio Gili. Tak heran ada banyak hotel murah di Lombok di sekitar destinasi ini.
Read More
Catatan 6 Juni 2017. Puisi ini diambil dari bloknot milik Hehe Darmansyah.

--


Bukan Fiksi


Kau tak pernah gengsi saat memulai komunikasi.
Itukah caramu agar kita dapat berinteraksi?
Bagiku, kau adalah puisi. Terhitung sudah banyak frekuensi.
Dan kuyakin, kita bukan fiksi. Karena waktu telah menjadi saksi.
(2015)


Read More
“Nggak terasa Lebaran tinggal 29 hari lagi.”

Lelucon kuno semacam itu ternyata masih gue temuin di Twitter ataupun status Facebook pada saat puasa hari pertama. Ya, waktu itu memang relatif. Kadang terasa begitu lama, kadang juga cepet banget. Seperti sekarang misalnya, perasaan kemarin gue baru baca kalimat soal Lebaran itu kala awal Ramadan. Eh, hari ini telah memasuki puasa minggu kedua. Anjir, beneran nggak terasa, ya. Gue jadi pengin ikutan bikin status, nggak terasa Lebaran tinggal.... Halah!

Masjid di deket rumah yang tadinya penuh banget, bahkan sampai ke halaman dan jalanan. Pada minggu kedua ini sudah mulai berkurang. Gimana nanti, ya pas minggu ketiga dan terakhir? Biasanya masjid akan semakin sepi. Terutama ibu-ibu yang sibuk membikin kue ataupun belanja baju Lebaran. Bukannya gue bermaksud menggeneralisasi kaum perempuan. Gue bisa bilang begitu, sebab nyokap gue adalah contoh yang nyata. Tadi sepulang salat Tarawih, beliau tiba-tiba masuk ke kamar gue dan bertanya, “Kamu mau nitip baju Lebaran nggak, Yog? Besok Ibu kayaknya mau ke Tanah Abang.”

Ya, Allah... ini masih minggu kedua, beliau udah repot mikirin baju Lebaran. Akhirnya, gue pun iseng meledek kenapa buru-buru amat mau Lebaran. Beliau kemudian menjelaskan kepada gue kalau nanti-nanti takut pasarnya bertambah ramai dan padat. Gue pun hanya mendengarkan sambil manggut-manggut. 

“Ya udah, terus kamu jadinya mau nitip nggak nih?”

“Nggak usah deh, Bu.”

Setelah gue jawab begitu, Nyokap keluar kamar.

***

Sehabis berbicara tentang baju Lebaran, entah kenapa gue jadi melamunkan hal itu. Sebetulnya gue masih bingung, kenapa harus disebut sebagai baju Lebaran, sih?

Karena begitu penasaran, gue pun berselancar di internet dan menemukan sedikit informasi. Jadi, di dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, tulisan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, dijelaskan kalau tradisi memakai baju baru ketika Lebaran sudah turun-temurun sejak tahun 1596. Ketika menyambut Hari Raya, mayoritas penduduk Kerajaan Banten sibuk menyiapkan baju baru. Nah, maka baju baru yang dipakai saat Idulfitri itu akhirnya dinamakan baju Lebaran.

Namun, pada masa itu baju Lebarannya ialah hasil menjahit sendiri. Masih jarang masyarakat yang membeli. Sangat berbeda sekali dengan gue yang dari kecil sudah terbiasa membeli baju Lebaran. Lebih tepatnya, tradisi keluarga gue memang beli bajunya cuma pas Hari Raya Idulfitri. Gue pun semakin tenggelam dan mengenang jauh ke masa silam.

Read More
“Aku suka BDSM: beribadah, dakwah, salat, mengaji; apalagi ketika bulan puasa.”

Kalimat itu adalah twit milik Agus Purnomo—salah satu teman sekelasku sewaktu kuliah dulu. Kubaca twit itu berulang-ulang kali. Sampai pengulangan yang kelima, aku berhenti membaca dan berpikir, apa arti sebenarnya dari BDSM?

Aku dulu sempat mendengar singkatan itu, tapi karena merasa tidak berfaedah, aku melupakannya begitu saja. Sebelum mencari tahu arti BDSM, aku mengontak Salsabila dan Canda Winarto di WhatsApp. Aku menanyakan mereka sudah sampai mana, sebab aku mulai jengah menunggu di kafe seorang diri seperti ini. Syukurnya, kafe ini menyetel musik Maher Zain yang cukup menenangkan hati.

O iya, mereka berdua juga merupakan teman kuliahku, sama seperti Agus. Rencananya kami bertiga akan reunian dan janjian di Kalisbeng Cafe untuk buka puasa bersama. Momen seperti bulan Ramadan ini memang cocok untuk silaturahmi dengan teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa.

Aku sebenarnya sudah hafal kebiasaan mereka yang sering telat kalau setiap janjian. Kami janjian pukul 16.00, tapi sudah 20 menit berlalu, mereka belum nongol juga. Kadang aku pun jadi sebal sendiri dengan diriku yang terbiasa datang tepat waktu. Karena tidak memiliki games apa pun di ponsel, maka kala sedang bosan begini, hiburanku satu-satunya adalah Twitter.

Sayangnya, sejak ada fitur “In case you missed it”, timeline mulai jadi menyebalkan. Aku merasa tidak butuh-butuh amat fitur seperti itu. Aku tidak begitu peduli soal twit-twit yang terlewat olehku. Termasuk twit Agus 22 jam lalu tentang BDSM itu, yang bisa-bisanya terbaca olehku.

Karena sudah telanjur membaca twit itu dan penasaran soal BDSM, aku pun segera mencari tahu artinya di mesin pencarian. Kuketik “arti BDSM”, lalu muncul hasil Wikipedia bahasa Indonesia di paling atas. Aku segera mengekliknya.

Sial! Ternyata arti BDSM itu mengandung unsur pornografi. Syukur saja aku tidak sampai membuka Google Image. Bisa-bisa pahala puasaku berkurang, atau mungkin malah batal. Aku jadi bingung, kenapa beberapa orang suka banget melesetin istilah mesum seperti itu? Ah, tapi kalau Agus mah memang mesum dan norak!

Merasa jengkel setelah mengetahui tentang BDSM, aku menutup web itu dan menaruh ponselku ke meja. Seketika itu, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku.

“Udah lama, Heh? Sorry, macet banget tadi.”

Tanpa menoleh, aku sudah mengenali suara itu. Suara milik Canda. Ia pun memilih duduk di hadapanku.

“Taik, ah! Ngaret mulu.”

Ia hanya menyengir mendengar keluhanku. Penampilan Canda tidak banyak berubah. Ia masih berambut gondrong sebahu seperti terakhir kali kami berjumpa pada saat wisuda, sekitar 8 bulan yang lalu. Katanya, sih, ia pengin berambut gondrong biar kayak seniman. Padahal sebutan gembel lebih pantas untuknya.
Read More
Setiap bloger biasanya akan bingung kalau ditanya, “Apa momen terbaikmu kala ngeblog?”

sumber: Pixabay (kemudian diedit sesuai kebutuhan)

Gue sendiri masih bingung dan merenungkan apa momen terbaik itu. Biasanya para bloger akan menjawab tentang pencapaian-pencapaian mereka selama ngeblog. Baik itu blognya yang dibukukan penerbit mayor, menang lomba ngeblog berhadiah uang atau produk senilai jutaan, atau bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis. Sedangkan, gue sendiri nggak pernah mendapatkan semua itu.

Tulisan di blog gue nggak pernah dijadikan buku. Belum ada penerbit yang nawarin, sih. Halah. Lagian, tulisan di blog ini, kan, kebanyakan curhatan nggak jelas. Parahnya lagi banyak yang menyerempet ke hal-hal pornografi. Jadi, menerbitkan buku dari blog itu belumlah bisa tercapai.

Lalu ketika mengikuti lomba blog, gue seperti terbiasa dengan yang namanya kekalahan. Gue sudah berusaha menulis dengan maksimal, tapi tetap saja berbuah sia-sia. Syukurnya, gue nggak pernah kenal lelah ataupun menyerah. Hingga akhirnya, pada suatu hari gue sempat merasakan juara kedua ketika mengulas karya Haris Firmansyah. Meskipun itu hanya sebatas give away atau kuis kecil-kecilan dari temen bloger, setidaknya gue bisa dikatakan menjadi pemenang. Atau mungkin jatah menang gue memang baru sampai level give away, bukan untuk lomba besar berhadiah jutaan.

Kemudian, soal traveling gratis ke luar negeri apalagi. Gue belum pernah melangkahkan kaki untuk keluar dari Pulau Jawa ini. Kayaknya diundang jalan-jalan gratis juga masih sebatas area Jabodetabek deh. Gue masih cemen untuk mencapai hal itu. Haha.

Terus apa dong pencapaian gue, ya? Sebenarnya kalau berbicara soal pencapaian gue saat ngeblog, itu mah banyak banget. Pertama kali mendapatkan job review, bagi gue itu termasuk pencapaian. Ada tulisan yang muncul di halaman pertama Google, itu juga sebuah pencapaian. Bisa punya grup kecil—bernama WIRDY—untuk berbagi tentang ngeblog atau kepenulisan (bahkan biasanya juga berbagi suka maupun duka), dan ternyata kami juga bisa membuat e-book, itu pun merupakan pencapaian. Terus gue juga pernah mendapatkan pacar dari blog... eh, apakah hal itu bisa disebut pencapaian? MUAHAHA YEKALI WOY!

Namun, itu semua bukanlah momen terbaik saat ngeblog. Momen terbaik gue ngeblog justru awalnya terjadi pada saat blog gue nggak ada tulisan baru lagi. Hmm, jadi waktu itu gue sempat vakum ngeblog sekitar 3 bulanan. Kala itu, gue banyak banget mengalami masalah dalam hidup. Gue entah kenapa bisa berpikir kalau penderitaan dalam hidup itu seolah-olah nggak ada habisnya. Yang bodohnya lagi, semangat hidup mulai meredup, hilang arah dan tujuan, dan pupus harapan.

Read More
Khawatir

“Jangan khawatir. Semua akan berjalan lancar,” kata petugas eksekusi.
“Justru itu yang kukhawatirkan,” balas si terpidana mati.

–Orlando van Bredam (Argentina)



--

Cerita sangat pendek barusan adalah salah satu cerita yang gue ambil dari buku Matinya Burung-Burung yang disusun dan diterjemahkan oleh Ronny Agustinus. Buku itu berisi kumpulan cerita sangat pendek Amerika Latin. Cerita-cerita semacam itu kemudian mengingatkan gue akan sebuah cerita sangat pendek lainnya yang hanya berjumlah enam kata, karya Ernest Hemingway.

“For sale: baby shoes. Never worn.” 

Entahlah cerita semacam itu termasuk dalam genre apa. Belakangan diketahui, cerita semacam ini sudah ada sejak abad ke-17, dan baru mulai tenar sejak awal abad ke-20. Kalau di luar negeri, cerita sangat pendek ini memiliki beberapa sebutan: ada yang menyebutnya flash fiction (fiksi kilat); cerita telapak tangan (karena ceritanya memang muat jika dituliskan di telapak tangan); cerita kartu pos; dan lain-lain.

Lalu, di Indonesia sendiri biasa disebut fiksi mini. Ternyata, di Indonesia memang sudah ramai cerita pendek sejenis itu. Misalnya komunitas Fiksimini di Twitter, yang mana biasa membuat cerita dengan menggunakan batasan 140 karakter. Ada juga bloger yang telah menerbitkan kumpulan cerita 100 kata.
Read More
Jangan memandang petani sebelah mata, tapi bukalah mata hati kita dan buat para petani itu menjadi melek keuangan. Stop complaining, and do something!

--

Selain memperingati Hari Buku Nasional, kemarin Rabu pada tanggal 17 Mei 2017, gue juga berkesempatan untuk meliput Workshop Nasional Inklusi Keuangan bertajuk “Road to a Financially Literate Generation”. Acara ini diselenggarakan oleh Citi Indonesia dan Mercy Corps Indonesia di Hotel Aston Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Dalam workshop ini, turut menghadirkan Ibu Jennifer Bielman (perwakilan Mercy Corps Indonesia), Ibu Elvera N. Makki (Country Head of Corporate Affairs for Citibank Indonesia), serta Bapak Eko Ariantoro (Direktur Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan).


Sejujurnya, gue bahagia karena bisa menjadi salah satu tamu dalam workshop ini. Sebab, workshop ini berisi tentang kegiatan yang mendukung para petani dan pengusaha mikro kecil. Sebagai orang Jakarta yang udah lama nggak pulang ke kampung halamannya, gue entah kenapa merasa rindu melihat para petani mencangkul di sawah, lalu menanam padi, kerbau yang membantu para petani itu, dan lain-lain. Boleh dibilang, workshop ini semacam mengobati rasa kangen gue akan suasana perdesaan.



Di acara ini, Citi Indonesia melalui wadah kegiatan kemasyarakatannya, Citi Peka (Peduli dan Berkarya), bekerja sama dengan Mercy Corps Indonesia menyelesaikan program Financial Education and Empowerment goes Digital and Mobile (FEED Mobile) kepada petani dan pengusaha mikro kecil di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Yang mungkin jadi pertanyaannya adalah, mengapa Indramayu?

Sebab, Kabupaten Indramayu adalah salah satu wilayah yang merupakan daerah sentra pertanian. Pertanian merupakan sektor usaha utama berdasarkan persentase jumlah penduduk, yaitu 8,8%. Lalu, Indramayu juga merupakan kabupaten terbesar di Jawa Barat yang mana telah menyumbang sekitar 43 % dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Jadi menurut gue, Kabupaten Indramayu ini adalah sasaran yang sungguh tepat.

O iya, sebelumnya, FEED Mobile ialah kegiatan pelatihan pendidikan keuangan dan pengembangan usaha bagi petani dan pelaku usaha mikro kecil dengan menggunakan metode pelatihan tatap muka dan kanal digital. Adapun aplikasi digitalnya, yaitu: Peduli Keuangan (PEKA) Android dan Peduli Keuangan (PEKA) SMS. Aplikasi ini berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi, artikel, tips, anjuran pengelolaan keuangan dan pengembangan usaha, serta sarana interaksi antar pengguna.

Program FEED Mobile ini ternyata telah berhasil menjangkau 12.950 penerima manfaat, di mana 3.477 total penerimanya yang telah dilatih dalam literasi keuangan dan pengembangan usaha dapat mengakses tabungan atau produk keuangan yang sesuai kebutuhan mereka.

Setelah menghadiri acara tersebut, gue pun menjadi merenung dan berpikir tentang petani. Ketika tinggal di perkotaan, kenapa peran para petani itu seolah terlupakan begitu saja? Saat lapar, gue (boleh juga kita, kalau ada yang ikut merasa) hanya mengingat untuk makan. Namun, cuek soal makanan itu berasal dari mana. Mungkin kalau di sini, kita membeli nasi matang di salah satu tempat makan, atau membeli beras di warung. Sayangnya, lupa akan proses para petani yang menanam padi itu.

Read More
Ini pertama kalinya kau masuk ke kamarku. Pada suatu sore yang gerimis, kala orang tuaku tidak di rumah, dan kebetulan hanya ada aku sendirian. Momen yang memang sudah kutunggu sejak lama.



Tak perlu berlama-lama, aku segera mengajakmu ke kasur dan membuka bajumu. Setelah itu, kuciumi tubuhmu dari atas hingga ke bawah. Entah parfum apa yang kaupakai hari ini. Kuhirup aromanya dalam-dalam, hingga aku memejamkan mata. Diriku seperti berada di surga. Wanginya begitu khas. Aku jadi penasaran.
Read More
Selain di rumah—yang sudah tentu nyaman, gue terkadang juga suka menulis atau membaca di kafe dan restoran cepat saji. Menurut gue, kalau di kafe itu ada saja hal-hal yang bisa dijadikan inspirasi untuk menulis. Baik itu karena suasananya yang baru, melihat suatu kejadian yang gak biasa, atau nggak sengaja menguping percakapan orang-orang yang topiknya sungguh random.

Kami tau engkau bosan dijejali rasa yang sama. Kami adalah kamu... muda, beda, dan berbahaya. 

Lagu Superman is Dead—yang biasa disingkat SID—sedang terputar mewarnai kafe yang gue sambangi ini. Speaker-nya tidak dipasang di langit-langit seperti yang ada di beberapa kafe pada umumnya. Speaker itu diletakkan di sebuah meja kosong di tengah kafe dan agak jauh posisinya dari tempat duduk gue yang memilih di pojokan dekat pintu. Tapi lagu itu tetap terdengar jelas di telinga.

Begitu lagunya selesai, potongan lirik itu masih terngiang-ngiang di telinga gue sampai secara gak sadar gue nyanyikan di dalam hati. Liriknya memiliki makna. Ya, tentu saja sebuah lagu pasti memiliki makna di dalamnya. Maksud gue, kita paham dengan makna di lirik itu. Tentang suatu kebosanan; semuanya di mata kita terasa sama dan kita menginginkan hal yang berbeda.

Setiap orang tentunya memiliki rasa jenuh terhadap sesuatu yang berulang. Seperti gue yang di awal paragraf bilang, kalau selain di rumah terkadang suka menulis di kafe. Meskipun di rumah nyaman, tapi gue membutuhkan sesuatu yang beda agar gak jenuh. Makanya gue pergi ke kafe dan menulis di sana.



Ternyata, kafe benar-benar sumber inspirasi buat gue. Saat sedang sendirian begini, gue jadi lebih banyak berpikir. Gue kadang suka merenungi hidup. Yang paling sering, sih, suka membayangkan apa saja pembicaraan orang-orang di kafe ini ketika gue tidak mendengarkan suara mereka. Hal itu biasa gue lakukan kala mendengarkan lagu menggunakan earphone dengan volume yang lumayan keras. 

Setelah itu, gue jadi ingat beberapa kejadian di kafe yang nggak tau kenapa masih terekam jelas sampai sekarang di otak. Mungkin “lupa” lagi malas melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, biarkanlah gue berkisah tentang kafe.

Satu

Kejadian ini terjadi sekitar 1,5 tahun silam. Gue saat itu sedang duduk sendiri di pojokan sedang mendengarkan lagu dengan earphone seraya memantau timeline Twitter. Bosan dengan kegiatan itu, gue pun memilih memperhatikan orang-orang di sekitar—yang entah kenapa udah jadi hobi tersendiri. Lagi asyik dengan itu, seorang perempuan tiba-tiba menghampiri meja gue.

Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home