Hari Kamis, sekitar sehabis magrib, Asri mati. Perasaan saya seketika itu langsung kacau. Saya nggak tahu harus berbuat apa. Kabel di dalam kepala saya seolah korslet dan tidak dapat berpikir. Sebelum membahasnya lebih jauh, Asri adalah nama laptop saya. Nama itu saya pelesetkan dari mereknya: Acer.


Sehari sebelumnya, keadaan Asri terlihat sehat-sehat saja. Masih saya pakai untuk main game, mengetik di Ms. Word, dan tentu saja bersenang-senang di internet. Begitu selesai, saya matikan laptop itu dan mencabut kabel dari colokan seperti biasa. Lalu saya beranjak tidur. Saya pun tidak ingat malam itu bermimpi apa. Misalnya, saya merasakan ada tanda-tanda buruk dari mimpi kalau laptop akan bermasalah. Halah.

Pada hari Kamis, dari pagi sampai sore saya memang tidak menyalakan laptop karena ada kesibukan, yaitu menyiapkan pesanan catering. Ketika pekerjaan sudah selesai, barulah sehabis salat Magrib saya berniat untuk menyalakan laptop. Saya lagi pengin balesin komentar di blog dan gantian blogwalking.

Namun, kala kabel charger-nya sudah tertancap di laptop maupun ke colokan listrik, laptop saya ternyata nggak mau menyala. O iya, laptop saya sudah tidak menggunakan baterai, sebab baterainya telah rusak alias mudah lowbat. Saya malas menggunakan baterai kalau sebentar-sebentar harus di-charge. Oleh karena itu, dua tahun belakangan ini saya selalu copot baterai dan langsung colok aja ke listrik.

Ketika ada masalah seperti ini, saya betul-betul bingung. Karena laptop hanya bisa menyala jika dicolokkan ke listrik, ini tentu membuat saya berpikir akan dua kemungkinan: 1) yang bermasalah laptopnya; 2) adaptor charger-nya yang rusak.
Read More
Ada banyak cara untuk mencintai Indonesia, di antaranya: membeli dan menggunakan produk dalam negeri; bangga menggunakan bahasa Indonesia; berkunjung ke tempat-tempat wisata di Indonesia sekaligus merawat lingkungannya; melestarikan budaya-budaya di Indonesia, jangan sampai negara lain mengklaimnya; dan lain-lain.

Selain yang barusan saya sebutkan, Bank Indonesia saat ini sedang mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai Indonesia dengan cara lain, yakni membuat kampanye “Cinta Rupiah”. Ya, tentu saja kita bisa mencintai Indonesia lewat mata uangnya.

Sayangnya, masih ada beberapa orang yang kurang peduli terhadap rupiah, dan mungkin akan muncul berbagai pertanyaan tentang kampanye itu: “Untuk apa kita mencintai rupiah?”, “Apakah itu penting?”, “Manfaatnya untuk saya apa?”, dan seterusnya.

Selama ini yang kita tahu rupiah hanyalah mata uang, alat pembayaran, atau nilai tukar. Jadi, dengan menggunakannya saja mungkin kita sudah otomatis mencintai rupiah. Namun kalau saya coba mengubah sudut pandangnya, ternyata ada hal lain yang bisa saya temukan. Setelah saya rangkum, ada tiga manfaat dari mencintai rupiah:



1. Menguatkan Nilai Tukar Rupiah 

Kalau melihat nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing saat ini, rasanya sungguh memprihatinkan. Bisa kita lihat sekarang satu dolar sudah mencapai angka 13 ribu. Nah, supaya nilai rupiah tidak merosot lagi, rasanya kita perlu mencintai rupiah dengan cara menggunakan mata uang rupiah dalam setiap transaksinya.

Read More
Awalnya, seorang penyair dianggap sangat romantis. Kala hujan, kopi, dan senja sering bercinta di dalam puluhan puisi. Namun, lama-kelamaan banyak yang bersedih dibuatnya, bahkan hingga menangis. Di antaranya ialah benda-benda yang ada di kamar sang penyair: kasur, lampu, tas, kipas angin, sapu, lemari, dan dasi.




Mereka marah karena seolah dianggap tidak puitis. Sampai-sampai mereka bertanya ke penyair itu, “Kau mulai kehabisan kata-kata atau tidak peka? Apakah kau tidak memerlukan kami untuk mempercantik sajak-sajakmu?”

Penyair yang ditanya seperti itu pun heran. Baru kali ini dirinya digugat oleh benda mati yang iri terhadap hujan, kopi, dan senja. Setelah itu, akhirnya ia berusaha untuk merenunginya. Kenapa aku begitu jahat? Mereka padahal begitu dekat, tapi aku selalu membuat sekat.

Maka, sang penyair mulai berpikir dan mencoba menuliskan puisi yang baru. Sayangnya, sudah dua jam berlalu dan ia hanya menatap kertas kosong. Karena tidak bisa menghasilkan apa-apa, ia mendadak kesal. Kini, ia malah menulis secara asal.

*

Senja tidak ada sore ini, sebab langit menangis dan mengusir jingga pergi.
Cuma ada awan kelabu yang bernyanyi dan berelegi*).
Entah mengapa hari ini aku sangat mengantuk, tapi sedang malas bikin kopi.
Cuacanya lebih bersahabat untuk tidur.
Apalagi semangat sudah mengendur.

Tiba-tiba aku kepikiran, kenapa kipas angin begitu membenci hujan?
Apakah ia merasa bersalah dan tidak berguna ketika aku kedinginan?
Tapi saat ini, ia memang harus kumatikan.
Seketika itu, dasi yang tergantung di dinding berhenti menari-nari.
Mungkin ia kehabisan tenaga seperti yang kualami.
Kemudian, lampu kupadamkan dan berniat tidur.
Aku pun merebahkan diri di kasur.

Selagi berusaha memejamkan mata, aku memperhatikan tas yang menatap penuh kecemburuan.
Namun, ia tidak memandang ke arahku dan kasur yang tengah bermesraan.
Ia melihat sapu yang bercumbu dengan lemari di pojokan.
Tidak ingin terlibat dalam hubungan cinta mereka, aku memilih bersembunyi dari kenyataan.
Aku berkelana memasuki alam mimpi. Agar bisa mengecoh sepi.

*

Setelah membaca ulang, sang penyair sadar kalau hasilnya sungguh buruk. Tulisannya bagaikan terkena kutuk. Namun, ia telah merasa puas bisa membuat sajak dari benda-benda yang ada di kamarnya. Puisi memang tidak melulu soal hujan, kopi, dan senja. Meskipun begitu, sang penyair ingin tiga diksi puitis itu tetap hadir. Penyair juga berharap kalau mereka dapat hidup berdampingan dengan benda-benda tersebut. Sekarang, keinginan itu sudah terpenuhi dan penyair bisa tidur nyenyak di dalam cerpen iseng yang saya ciptakan.

--

PS: *) bagian itu saya ambil dari lagu Desember Efek Rumah Kaca.
Read More
“Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.” Kalimat itu bisa kamu baca percis di bawah kolom komentar pada blog saya. Sebelumnya, kalau tidak salah ingat, saya menulis: “Jangan lupa memberikan komentar setelah membaca tulisan ini. Karena sebuah komentar bisa memotivasi bloger untuk lebih giat lagi menulis.”

Pixabay

Entah apa alasan saya mengubahnya beberapa bulan silam itu. Kalimat itu akan terlihat songong dan seolah saya tidak membutuhkan komentar di blog ini. Namun, bukan itu maksud saya. Saya tidak sesombong itu. Saya hanya merasa sebal ketika membaca komentar basa-basi di blog ini. Saya tidak perlu menjelaskan atau mencontohkan seperti apa komentar tersebut, kan? Yang jelas, salah satu teman bloger pernah curhat sekaligus bertanya kepada saya, “Kenapa masih banyak bloger yang komentar kayak baca judulnya aja, ya?”

Saya hanya tertawa dan tidak menjawabnya. Sejujurnya, saya pernah menanyakan hal itu kepada diri saya sendiri. Sayangnya, setelah itu saya berpikiran kalau diri saya ini terlalu jahat kalau menduga beberapa orang yang komentar di blog itu tidak membaca tulisan saya. Lagian, saya tidak punya bukti apa-apa. Saya tau dari mana kalau mereka nggak baca? Suuzan dong saya? Ya, walaupun setelahnya saya akan tetap jahat karena mengeluh, “Ini orang komentar cuma biar blognya dikunjungi balik apa?”

Read More
Kau begitu suka menebar kebencian.
Di sisi lain, kau menganggap dirimu sumber kesucian.
Sedangkan aku ialah sosok yang membenci kebencian.
Mungkin aku adalah kebencian itu sendiri.
Jadi, untuk apa kau tabur benih-benih tubuhku?



Aku tidak perlu jawabanmu. Aku justru ingin memberitahumu.
Walau aku terlihat seperti iblis, tapi aku tetaplah pecundang. 
Aku sering merasa kalah dan mudah menyerah.
Berbeda denganmu yang pandai mencari celah.
Sewaktu kau mulai menyadari kelemahanku, kala itulah kau mencuri sajak-sajakku. 
Read More
Saya terkadang benci perayaan, tapi hari ini saya ingin bersyukur atas dua tahun WIRDY—sebuah grup yang saya cetuskan secara iseng-iseng. Mengingat prestasi saya dalam suatu hubungan percintaan sering berjalan kurang baik, yakni paling lama pacaran cuma sampai satu setengah tahun. Entah mengapa saya merasa bahagia bisa bertahan atau mempertahankan grup ini selama dua tahun. Ternyata saya ini setia, ya?

Meskipun banyak yang bilang kalau Gemini itu tidak setia dalam sebuah hubungan. Toh, nggak semua Gemini seperti itu. Kita memang nggak boleh pukul rata begitu saja. Kandasnya hubungan percintaan saya yang dulu-dulu itu, sesungguhnya juga bukan ulah saya.

Sejujurnya saya bingung, ini saya Gemini gadungan atau gimana, sih? Habisnya yang selingkuh atau memilih pergi demi orang lain itu justru pasangan saya. Mungkin Gemini sejati (yang betul-betul bajingan) akan tertawa kalau membaca cerita saya barusan yang malah jadi korban. Bisa juga dia akan bilang kepada saya, “Gemini macam apa kamu ini? Pindah zodiak aja sana!”

Oleh karena itu, jangan semudah itu menilai Gemini. Mudah percaya kok sama zodiak, percaya itu kepada Tuhan dong. Allahu Akbar!

Terlepas dari segala citra buruk Gemini yang pernah saya dengar itu, suatu hari saya sempat membaca salah satu kelebihannya: Gemini mampu memikirkan ide brilian untuk berbagai proyek. Saya pun merenungi hal itu. Apakah saya termasuk? Saya akhirnya mulai menengok beberapa kejadian ke belakang.




*

Dua tahun silam, ketika saya, Darma, Icha, dan Wulan sedang akrab-akrabnya di blog dan Twitter, saya mengajak mereka untuk bikin grup. Biar lebih mudah komunikasinya, pikir saya kala itu. Namun begitu grup Line terbuat dan kami mulai berinteraksi, beberapa hari setelahnya saya kepikiran hal lain. Saya nggak pengin grup itu hanya buat ngobrol-ngobrol kurang jelas. Saya ajak mereka untuk diskusi soal dunia blog atau menulis agar lebih berfaedah. Syukurnya, mereka langsung setuju. Saya pun mulai menamai grup itu: WIDY. Namanya saya bikin dari inisial kami berempat.

Sekitar sebulan kemudian, kami bikin proyekan cerbung (cerita bersambung). Sayangnya, proyek itu terhenti karena beberapa alasan. Padahal, kami sudah membuatnya hingga 12 bagian dan hampir tamat. Sumpah, saya sebetulnya merasa sedih karena nggak bisa menyelesaikan apa yang telah dimulai. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, saya merasa bahagia sebab dapat menyatukan isi kepala empat orang yang tentunya berbeda-beda. Menurut saya, itu bukan hal yang gampang.

Sehabis proyek itu berhenti, grup kami ternyata juga ikut-ikutan mandek. Mungkin saat itu memang butuh yang namanya vakum. Entah untuk menyelesaikan urusan masing-masing ataupun introspeksi. Lucunya, baru mau kembali meramaikan dunia blog, grup kami kembali bermasalah. Saya waktu itu bercandain Icha kelewat batas dan dia sampai keluar grup.

Awalnya saya mengira dia hanya cari perhatian, tapi lama-lama saya resah dan merasa bertanggung jawab. Saya tanyakan baik-baik dengan meneleponnya. Ternyata, saya sudah melukai hati seorang teman tanpa kesadaran. Saya pun minta maaf kepadanya. Tapi, dia sudah telanjur kecewa dan marah atas sikap saya sebelumnya.

Ketika itu, saya otomatis jadi ikut marah. Saya tidak marah kepada Icha, melainkan kepada diri sendiri. Betapa bodohnya saya yang tidak bisa memahami keadaan anggota grup. Saya gagal menjadi seorang penggagas grup. Lalu saya pun emosi dan menyuruh sisa anggota (Darma dan Wulan) biar sekalian keluar dari grup. Saya mungkin tidak cocok bikin grup-grup begini segala. Apalagi jadi seorang pemimpin.

Bagusnya, Darma dan Wulan tidak memilih keluar. Mereka diam saja mendengar ocehan saya. Saya mengeluhkan betapa susahnya untuk cocok dalam berteman. Saya pikir, grup ini yang paling sesuai untuk saya. Namun, setelah Icha keluar saya merasa hal itu tidak sama lagi. Kenapa saya malah merusak grup yang dulu pernah saya cetuskan ini?

Rasanya saya perlu introspeksi diri dan merenung. Setelah bisa berdamai dengan diri sendiri, barulah saya banyak sadar. Mungkin memang saya yang menggagas grup itu, tapi bukan berarti saya egois dan merasa jadi pemimpin. Kalau bercanda di grup, saya akan lebih memperhatikan situasi dan kondisi. Tidak semua hal yang kita maksud bercandaan, dapat selamanya ditertawakan. Bisa saja malah menoreh luka. Terus dalam mengusulkan ide-ide, saya perlu lebih banyak musyawarah. Bagaimanapun juga, mereka itu bukan anak buah. Mereka sahabat saya.

Kemudian, beberapa hari setelahnya Icha pun mengontak saya dan gantian minta maaf atas sikapnya. Saya merasa bahagia kalau masalah kemarin tidak berakhir buruk. Ia pun saya masukkan kembali dalam grup. Ya, dalam setiap grup pasti ada kendalanya. Hubungan pertemanan memang tidak selalu berjalan semulus paha personel SNSD atau Blackpink (terus habis ini diprotes netizen sexual harassment). Yang terpenting setelahnya kami bisa kembali baikan, berhasil bangkit, dan merekrut anggota baru: Robby.

Sejak Robby bergabung, otomatis grup ini membutuhkan nama baru. Namun, kalau ditambahin R di belakang dan jadi WIDYR pasti nggak enak dibaca. Melafalkannya pun susah. Oleh karena itu, terpilihlah nama WIRDY. Setelah muncul dengan nama baru, akhirnya kami mulai mengeluarkan proyekan lagi. Bahkan pada awal tahun 2017, kami juga sempat membuat karya berbentuk buku-el. Walaupun karya kami itu masih banyak kekurangan. Setidaknya buat pemula seperti kami ini, kami sudah berani memulai. Kami tentunya bisa belajar dan bertumbuh dari situ. Kami nanti akan memperbaikinya di karya yang selanjutnya.

Setelah menuliskan perjalanan grup barusan, berarti kesimpulan saya akan Gemini yang mempunyai ide brilian dalam bikin proyekan ada benarnya. WIRDY adalah ide terhebat yang pernah saya buat. Ehe. Kemudian setelah berjalan selama dua tahun ini, saya jadi ingin menuliskan kesan dan pesan untuk grup WIRDY.

*

Kesan

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kebersamaannya selama dua tahun ini. Berkat grup ini, saya belajar memahami banyak perbedaan. Meskipun usia kami tidak sama, tapi berteman tidak harus dengan yang seumuran, kan? Walaupun kami tinggal di kota yang berbeda, tapi jarak tidak menghalangi kami untuk tetap berteman. Toh, kami tetap Indonesia. Bhinneka tunggal ika.

Selain hal itu, saya pun banyak berkembang dalam ngeblog. Saya jadi lebih berani dalam melempar ide-ide untuk sebuah tulisan. Saya juga semakin percaya diri dalam menulis fiksi. Terbukti dalam beberapa kali proyekan, ketika yang lain menuliskan curhatan, saya malah berbeda sendiri. Ya, saya bikin cerpen. Tanpa adanya grup ini, mungkin saya akan menulis yang begitu-begitu saja. Curhat melulu dan bumbu komedinya mesum. Sekarang, saya lebih berani untuk bereksperimen. Mencoba berbagai macam gaya menulis itu menyenangkan sekali. Ah, saya juga ingin mengucapkan terima kasih untuk mereka satu per satu. 

1. Untuk Wulan, terima kasih sudah mengajarkan saya untuk mengolah sebuah aib menjadi sebuah kisah yang bisa ditertawakan oleh pembaca. Entah kenapa, hal ini mengingatkan kepada saya untuk menulis dan bercerita apa adanya. Nggak harus terbebani untuk selalu menuliskan yang bermanfaat atau menginspirasi pembaca. Lagian, menghibur orang lain juga sebuah manfaat, kan?

2. Untuk Icha, terima kasih atas ulasan film-filmnya. Berkat tulisanmu saya jadi punya banyak referensi. Lalu, saya juga belajar dari gaya menulismu. Untuk menulis apa yang memang kita suka atau cintai, tanpa peduli komentar negatif orang lain yang sok tahu dalam menilai.

3. Untuk Robby, terima kasih karena menjadi yang termuda di grup ini. Semangat menulismu itu patut dicontoh. Secara nggak langsung sudah mengajarkan saya betapa pentingnya berkarya sejak dini.

4. Untuk Darma, terima kasih karena sudah menuntut ilmu ke luar negeri. Kalau bukan karenamu yang sedang belajar ke Turki, mungkin grup ini tidak memiliki pencapaian bisa go international. Halah. Pokoknya, saya jadi belajar untuk lebih melampaui batas dan berani mengambil risiko.


Pesan

Yang namanya perselisihan dalam setiap kelompok memang selalu ada. Namun, hal seperti itu bukanlah penghalang untuk terus bersatu. Kami pasti sanggup menghadapinya. Kalau ada apa-apa yang pengin disampaikan, ya omongin. Berkomunikasilah untuk merespons masalah itu, jujurlah apa adanya, lalu mencari jalan keluar bersama, dan seterusnya, dan sebagainya.

Santai aja dalam mengusulkan ide proyek. Kalau ada ide yang pengin disampaikan, lebih baik segera lempar ke grup. Tidak perlu menunggu saya. Mungkin sebagai penggagas memang harus lebih aktif. Tapi ingatlah satu hal: WIRDY itu berlima. Jadi, nggak usah sungkan dan malu-malu. Terus kalau memang belum bisa ikut proyekan, nggak perlu lagi merasa nggak enakan. Jangan memaksakan diri. Utamakan dulu yang menjadi prioritas hidup. Menulislah karena ingin~

Semoga kami bisa lebih kompak lagi ke depannya. Apa pun yang terjadi nanti dengan grup ini, semoga kami bisa tetap bersahabat. Kapan-kapan kami berlima mungkin perlu kopi darat. Pertemuan yang awalnya maya ini, semoga bisa dijadikan nyata. Aamiin. Dan terakhir, teruslah berkarya.

--

Tulisan Robby bisa baca di: Teman yang Jauh Jaraknya
Icha: Kami Bukan One Direction
Wulan: Jauh di Mata, Dekat di WIRDY
Darma: Lagi sibuk mengikuti pelajaran di Turki dan nggak bisa ikutan, katanya.

O iya, baru-baru ini saya dapat singkatan WIRDY yang baru selain inisial nama kami: write, inspire, read, dreamer, young. Apakah cocok untuk menggambarkan grup ini?
Read More
Sudah berhari-hari, kepala saya masih dipenuhi berita mengenai Rina Nose yang melepaskan jilbabnya. Awalnya, semua itu terjadi karena saat menjadi trending topic, saya iseng memperhatikan komentar-komentar netizen pada balasan twit salah satu akun berita. Komentarnya sungguh beragam; dari yang mengingatkan Rina Nose secara baik-baik untuk kembali berjilbab, lalu sampai ada yang repot-repot mengutip ayat Alquran (yang mungkin hasil nyontek dari Google), hingga yang berkomentar: “Neraka menantimu, Pesek.”

Apakah orang yang berkomentar seperti itu memiliki indra keenam? Lalu, ia benar-benar tahu rahasia Tuhan akan daftar manusia yang kelak masuk neraka? Akankah saya termasuk di dalamnya? Astagfirullah. Rasanya saya langsung ingin bertanya kepada orang yang berkomentar soal neraka itu, “Nah, Mas sendiri pasti masuk surga? Punya orang dalem ya, Mas?”

Saya otomatis tertawa membayangkan hal tersebut.

Saya sendiri termasuk netizen yang memilih diam saja, soalnya saya memang nggak suka mengomentari kehidupan para selebritas. Memangnya apa, sih, manfaatnya untuk saya? Bahkan, sewaktu Asmirandah—aktris yang pernah saya puja-puja kecantikannya dulu—memilih pindah agama, saya juga tidak berkoar-koar. Keputusannya untuk pindah agama sama sekali tidak mengurangi kecantikannya di mata saya. Meskipun harus saya akui, kalau dia berjilbab akan lebih menyejukkan hati.



Kembali ke persoalan Rina Nose yang melepas jilbab itu, tiba-tiba hal ini mengingatkan saya pada kejadian tahun 2012. Saat itu, perempuan yang memakai jilbab belum sebanyak sekarang. Bisa saya ambil contoh dari lingkungan saya sendiri, yaitu di sekolah. Kebetulan pada tahun 2012 saya masih kelas 3 SMK. Dari 20 murid perempuan di kelas, palingan hanya 3-4 orang yang memilih berhijab. Itu kalau nggak salah juga karena mereka sebelumnya berasal dari sekolah madrasah.

Teman-teman perempuan yang lain, hanya memakai jilbab pada hari yang terdapat pelajaran Agama Islam atau hari Jumat. Nah, jilbabnya ini pun dipakai pas jadwal Agama Islam saja. Pokoknya berjilbab hanya karena peraturan. Sebelum atau sesudah pelajaran agama, biasanya teman-teman saya yang pada hari biasa tidak berjilbab, akan langsung melepaskan jilbabnya. Habisnya gerah, kata salah satu teman saya ketika ditanya oleh seorang guru.
Read More
Hampir keseluruhan cerita pendek ini hanya akan dikisahkan lewat percakapan. Tulisan ini mungkin tidak bermanfaat. Jadi, lebih baik tidak usah membacanya. Kalau masih tetap memaksa, itu di luar tanggung jawab saya. Pokoknya, saya sudah memperingatkanmu.

--

sumber: Pixabay


(22/12/12, 21.14) Amelia Putri:
Gue bulan depan pindah rumah, Gas.

(23/12/12, 05.03) Bagas Putranto:
Sori, gue semalem udah tidur. Seriusan, kenapa deh? Yah, jadi jarang main bareng lagi dong kita nanti?

(23/12/12, 07.10) Amelia Putri:
Berlebihan lu mah! Gue pindahnya juga nggak jauh-jauh dari rumah lama, kok.

(23/12/12, 08.21) Bagas Putranto:
Oh, kirain jauh. Masih di Jakarta Barat berarti nih?

(23/12/12, 08.32) Amelia Putri:
Iya, kita masih bisa ketemu kali. Gak usah merasa kehilangan gue gitu deh. Wkwkwk.

(23/12/12, 05.03) Bagas Putranto:
Hahaha. Kampret lu!
Read More
“KAU yang panas di kening. Kau yang dingin di kenang.”

Aku baru saja membaca buku puisi karya Aan Mansyur, Tidak Ada New York Hari Ini. Entahlah, kenapa aku begitu suka dengan puisi-puisi yang diciptakan Mas Aan itu. Apalagi di bagian “Kau yang dingin di kenang.” Hm ... rasa dingin itu. Ya, buatku kenangan memang terasa dingin. Apalagi kenangan bersama seorang perempuan. Perempuan yang ... ah, nanti sajalah aku ceritanya.

Ada yang lebih dingin dari sebuah kenangan tentang perempuan itu. Tahukah kau apa itu? Kutub Utara dan Kutub Selatan? Ya, tentu saja hal itu benar. Namun, bukanlah itu jawabannya. Lagian, aku masih belum percaya kalau di sana dingin. Aku belum pernah merasakannya secara langsung. Sebab, aku pikir, Turki juga lebih dingin dari kenangan bersama perempuan itu.



Sudah hampir tiga bulan aku berada di Turki. Nggak terasa waktu berlari begitu cepat. Aku sendiri tidak sanggup mengejarnya. Aku masih merasa begini-begini saja. Aku bahkan masih sulit melupakan perempuan itu. Uh, lagi-lagi perempuan itu. Maaf, aku khilaf. Lupakan sejenak soal dia. Mari kembali bicarakan Turki.

Pertama kali aku datang ke sini, aku merasa Turki lebih dingin dari Puncak Bogor, Jawa Barat. Jaket merah marun yang kukenakan ini rasanya masih kurang tebal. Angin Desember begitu menusuk dan masuk ke tulang-tulangku. Di saat itu, aku langsung melihat ponsel untuk mengecek suhunya. Aku melihat angka 19 dengan huruf C di sampingnya. Yang berarti itu adalah 19 derajat Celcius. Jujur, aku nggak begitu suka udara dingin. Terlebih lagi nggak ada yang bisa kupeluk saat ini. Menyebalkan sekali!

Lalu, pada malam harinya cuaca di sini bahkan mencapai 14 derajat Celcius. Yang artinya: dingin banget, bangsat! Entahlah, kenapa aku bisa merasakan dingin sebegitu dahsyatnya. Padahal, di Turki nggak ada alay-alay yang suka menari “cuci-jemur-cuci-jemur” yang dahsyat sekali itu di setiap pagi.

Hari-hariku selama di Turki sebenarnya sangat indah kalau dibandingkan dengan Indonesia. Di sini, aku tidak lagi melihat kemacetan yang tak berkesudahan setiap jam-jam berangkat dan pulang kerja seperti di Jakarta. Lalu lintas di Turki begitu lancar. Selain itu, banyak hal baru yang bisa aku lakukan di sini. Aku bisa bertemu teman-teman baru, aku bisa mencicipi aneka makanan baru, dan aku bisa menemukan perempuan ....

Ah, sial! Ternyata aku masih sulit melupakan perempuan itu. Aku tidak bisa menemukan perempuan baru di sini. Hatiku tidak dapat berdusta. Aku masih mencintainya. Meski aku sudah berusaha melupakannya, tapi tetap saja dia—perempuan itu—begitu dingin di kenang.

Sekali lagi maaf kalau aku tidak fokus dan malah membahas perempuan itu lagi. Aku akan berjanji menceritakannya nanti. Sekarang, aku ingin bercerita mengenai keadaan di Turki saja.

Malam pertama, aku menginap di asrama daerah Kardelen. Suasana asramanya tidak begitu berbeda dengan asrama yang ada di Rawamangun, Jakarta Timur—asrama yang aku tinggali selama kuliah di Jakarta. Semua itu karena beberapa temanku dari Jakarta (yang juga terpilih dalam program belajar ke Turki) menginap bersamaku. Yang membedakan hanyalah di sini ada tambahan orang-orang Turki dan negara lain entah apa, kasurnya sedikit lebih besar, serta udaranya lebih dingin. Itu saja. Tidak ada yang spesial.

Atau itu hanya perasaan sementaraku saja? Sebab, aku belum terbiasa dengan keadaan di Turki? Makanya, aku sama sekali tidak bisa melihat hal yang spesial di sini? Lalu cuma bisa membanding-bandingkan keadaannya dengan negara Indonesia?
Read More
Dari ketujuh puisingkat ini, mana yang kamu suka?

Gue rasanya langsung pengin jawab sendiri, “Sumpah deh, nggak ada. Ehehe.”

*

/1/ 
“Tujuanmu membaca buku untuk apa?” tanyamu kepadaku suatu hari. 
Aku menjawab santai, “Untuk menyelamatkanku dari pertanyaan yang kauberi.”

/2/
Kau mengaku menjadi penyembah Tuhan. Juga penyembuh di Bumi. Tapi kau membakar hutan, serta memicu datangnya tsunami.

/3/
Kenapa mereka mulai protes, kala darah sudah telanjur menetes? Tidak ada lagi setitik cahaya. Yang ada hanyalah bahaya.

/4/
Tolong rapalkan mantra-mantra saktimu. Yang paling ampuh untuk menghilangkan sakitku.


Read More
Gue pernah beberapa kali mendengar pertanyaan, “Lebih baik ketinggalan ponsel atau dompet?”

Mungkin kamu juga pernah mendengarnya, lalu mana kira-kira yang akan kamu pilih? Gue sendiri, tentunya lebih baik ketinggalan ponsel. Gue masih ingat betul, kala gue merasa nggak bawa dompet di perjalanan saat mau berangkat ke kampus. Waktu sadar kalau dompet gue nggak ada di kantong celana, awalnya gue berpikir kalau dompet itu ketinggalan di rumah.

Nah, ketika itu entah kenapa gue langsung balik lagi ke rumah untuk mengambilnya. Gue memang cukup panik kalau nggak bawa dompet waktu bepergian. Belakangan diketahui, ternyata dompet gue nggak ketinggalan di rumah. Gue menebak kalau dompet itu terjatuh di jalan. Gue bukan lagi mengalami ketinggalan dompet, tapi kehilangan dompet. Gue pun galau bukan main. Gue entah kenapa mendadak alim pada hari itu dengan banyak berdoa. Pas kena musibah baru tobat. Hadeh. Sorenya, ternyata ada orang baik yang mengembalikan dompet tersebut. Alhamdulillah. Masih rezeki gue.

Gue pun pernah ketinggalan ponsel ketika diajak nongkrong sama temen ke suatu kafe. Bagusnya, gue bukan tipe orang yang kecanduan gadget. Yang saat main ke kafe harus update location, InstaStory, atau apa pun itulah yang bikin tangan selalu memegang erat ponsel. Main ke kafe ini niatnya mau ngobrol atau mau pamer?

Berdasarkan pengalaman itu, gue menyimpulkan kalau dompet buat gue lebih penting daripada ponsel. Selain uang, di dalam dompet pastinya ada KTP, SIM, STNK, kartu ATM, dan beberapa kartu lainnya. Kalau lagi bepergian mengendarai motor, terus nggak bawa dompet, gue langsung merasa was-was. Takut kalau ada razia kendaraan bermotor. Kemudian, misalnya pergi ke suatu tempat makan, gue butuh dompet untuk membayarnya (baik dengan bayar uang tunai atau debit). Apalagi untuk bayar parkir. Masa pakai debit? Gue selalu menaruh uang di dompet, soalnya kalau dikantongin nanti uangnya lecek.

Jadi, jawaban dari pertanyaan pada paragraf pembuka itu masih tetap sama sampai sekarang: gue lebih memilih ketinggalan ponsel daripada dompet. Sebab, banyak yang lebih gue butuhkan di dompet daripada di ponsel. Kalau urusan menulis atau kerjaan, sepertinya masih bisa menggunakan laptop. Lagian, untuk komunikasi masih bisa menggunakan email. Bahkan, chatting-an seperti WhatsApp atau Line juga sudah bisa menggunakan laptop, kan?

Berbicara tentang ketinggalan dompet atau ponsel ini, gue jadi inget kejadian beberapa minggu lalu.

*

Pada suatu sore, gue, Agus, dan Salsa sedang kumpul di restoran cepat saji yang letaknya dekat dari rumah gue, yakni Kemanggisan. Ketika itu, gue dan Agus yang kebagian tugas buat memesan makanan di lantai 1, sedangkan Salsa menunggu di lantai 2 sekalian menjaga tas kami. Kala sudah menentukan pesanan dan kasirnya menyebutkan harga yang harus dibayar, Agus tiba-tiba bilang kepada gue, “Pakai duit lu dulu ya, Yog. Nanti gue ganti.”

Gue udah bosan sama teman yang mendadak ketinggalan dompet kalau mau bayar sesuatu. Maka, gue pun langsung menatap Agus yang kira-kira berarti: “Beneran lu ganti nggak nih?”

Agus yang sepertinya mengerti maksud gue itu segera merespons, “Tenang, dompet gue di tas, kok. Pas di atas langsung gue bayar.”

Tidak ingin berlama-lama di depan kasir dan takut membuat kesal kasir tersebut ataupun orang yang mengantre di belakang, gue pun mengeluarkan dompet dan membayarnya. Sembari membawa makanan itu ke lantai 2, Agus malah meledek dompet gue yang katanya udah kuno dan gembel. Gue tidak menanggapinya dan terus menuju ke meja—di mana Salsa menunggu. Saat gue sudah duduk dan hendak makan, Agus kemudian membuka tasnya seraya mengeluarkan dompet bergambar kamera. Ia menyerahkan uang kepada gue. Agus menepati janjinya. Nanti gue ganti bukan lagi omong kosong kayak kejadian yang lazimnya terjadi ketika teman meminjam uang.

“Itu dompet?” tanya gue heran.

Sontak, Salsa menoleh dan berujar, “Ih, unyu! Beli di mana?”

Agus merespons sekenanya pertanyaan gue dan Salsa. Katanya, lebih baik kami memutuskan untuk menyantap makanan terlebih dahulu. Sebab, ngobrolnya, kan, bisa entar seusai makan. Benar juga yang Agus bilang. Aroma ayam goreng yang khas ini juga sudah menusuk hidung gue dari tadi. Potongan sayap itu sungguh menggoda, seolah meminta untuk segera ditelan.

Sehabis melahap makanan di meja, kami tentu saja mengobrol. Dari mulai bertukar cerita selama 3 bulan belakangan ini, karena itulah waktu terakhir kami berjumpa sebelum pertemuan ini. Hingga Salsa kembali bertanya soal dompet lucu milik Agus.

Kini, gue dan Salsa sedang memperhatikan dompet Agus yang begitu dipegang rupanya terbuat dari kertas. Saat kami tanya-tanya, Agus awalnya hanya menjelaskan secara singkat dan menyuruh kami membuka Instagram @littlebigpaper untuk melihat-lihat koleksinya. Salsa mudah sekali tergoda dengan barang yang lucu-lucu, maka ia pun sekarang sedang menunduk dan menatap ponselnya. Gue pikir, ia pasti mengecek akun Instagram yang Agus bilang tadi.

Karena ponsel gue ketinggalan, gue jadinya tetap minta penjelasan lebih sama Agus. Nggak lama, Agus meneteskan minumannya ke dompet kertas miliknya itu dengan sedotan. Tahan air dan tidak mudah sobek, ujarnya penuh rasa percaya diri.

Pertemuan itu pun berakhir ketika Agus tiba-tiba mendapatkan telepon dari pacarnya. Agus lupa kalau ada janji nonton bioskop pada malam itu. Ia buru-buru pamit kepada gue dan Salsa. Akhirnya, Salsa juga memilih pulang karena ada kerjaan kantor yang belum beres. Gue mau nggak mau jadi ikutan balik ke rumah.

*

Sesampainya di rumah, barulah gue mengambil ponsel yang tumben banget bisa ketinggalan saat keluar rumah. Lalu, gue coba melihat-lihat koleksi dompet kertas itu. Gue sejujurnya suka sama dompet berdesain kamera seperti kepunyaan Agus. Namun, aneh kalau harus samaan begitu. Oleh karena itu, pilihan gue jatuh ke dompet bermotif kaset.


Sumber: Pixabay
Read More
“Terjadi kebakaran di Pasar Palhijau, Jakarta Barat, pada Minggu (22/10/2017) sekitar pukul 03.15 WIB,” tulis berita di koran yang sedang kubaca.



Padahal, dua hari yang lalu aku baru saja ke sana menemani temanku, Agus, yang sedang mencari sebuah kemeja, celana bahan hitam, dan pantofel untuk dipakainya minggu depan. Sebab Agus baru saja diterima kerja. Aku masih ingat betul hari ketika kami ke pasar itu. Apalagi sempat ada kejadian konyol yang menimpa kami. Aku pun berusaha mengumpulkan gambaran demi gambaran pada hari itu.

*

Begitu sudah selesai berbelanja, kami segera memutuskan untuk pulang. Sesampainya di tempat parkir, Agus langsung berjalan ke arah motornya dan menyalakan motor, sedangkan aku menyerahkan selembar uang dua ribuan kepada tukang parkir.

“Parkir dari jam berapa?” tanya Abang Tukang Parkir itu.

“Dari tadi sore sekitar habis magrib,” jawabku, sejujurnya.

“Tambahin dong duitnya. Udah kemaleman banget nih pasar sampai sepi.”

Aku melihat jam di pergelangan tangan kananku, waktu menunjukkan pukul 22.21. Tidak terasa sudah sekitar 4 jam kami parkir. Aku kemudian merogoh kantong celana kanan dan kiri mencari uang untuk menambah ongkos parkir itu. Sebab, uang di dompetku—yang kutaruh tas—hanya selembar uang 50 ribu. Aku tidak akan memecah uang itu cuma untuk bayar parkir. Akhirnya, aku menemukan sekeping uang logam bernilai seribu di kantong jaket dan memberikannya kepada tukang parkir. Setelah itu, aku pun segera naik ke motor untuk membonceng di belakang Agus.

“Loh, kenapa cuma segini? Aturan dua ribu lagi,” protes Abang Tukang Parkir dan bermaksud mengembalikan uang seribuan logam itu kepadaku.

Sayangnya, aku tidak mau mengambil uang itu lagi. Apa yang sudah kuberikan, pantang rasanya menerimanya kembali. Apalagi menambahkannya menjadi dua ribu. Sungguh, aku tidak sudi. Aku sudah biasa parkir di sini ketika menemani ibuku berbelanja sayuran. Entah itu sebentar atau lama, upah parkirnya selalu dua ribu rupiah. Tidak pernah lebih.

“Emang sekarang di sini bayarnya per jam, Bang?” tanya Agus. “Kok udah ditambahin masih bilang kurang?”
Read More
Selagi aku beres-beres lemari dan rak buku, ada salah satu buku yang saat kusentuh lalu tiba-tiba memberikan sebuah cerita. Kau tahu, kenangan mudah sekali datang. Bisa lewat sebuah lagu, benda, ataupun tempat. Lagi pula, banyak cara untuk mulai mengenang. Mungkin cara mudahnya bisa dimulai dengan membuka tumpukan kardus berisi barang-barang lama. Pilih salah satu benda secara acak, setelah itu pandangi, dan biarkan ia berkisah.

Nah, kira-kira begitulah yang terjadi denganku.

Buku yang saat ini kupegang ialah buku kumpulan cerita A. S. Laksana, Murjangkung. Aku memiliki dua buku itu. Yang satu sudah kubeli sejak lama, satunya lagi adalah pemberian seorang teman, Rani.

Aku sebetulnya memegang buku yang milikku sendiri. Namun, entah kenapa aku mendadak ingatnya justru sama Rani. Mataku pun segera mencari buku yang satunya lagi. Setelah melihatnya berada di rak sebelah kanan dan baris nomor dua dari bawah, aku mengambil buku yang masih terbungkus plastik itu. Berikut beberapa buku lainnya yang juga masih tersampul plastik. Kupandangi buku-buku itu, hingga aku dibawa ke sebuah cerita sekitar setahun yang lalu.

*

Sehari sebelum Rani berangkat ke Yogyakarta untuk meneruskan kuliah S2-nya di UGM, kami sepakat bertemu di salah satu kedai kopi di Jakarta Barat. Ia sebetulnya yang mengajakku, sih. Katanya, sebagai salam perpisahan. Sebab, ia mungkin tidak akan kembali lagi dalam 3 tahun.

Seperti biasa, aku sampai lebih dulu di kedai kopi itu. Selain karena tidak suka membuat orang menunggu, lokasinya memang lebih dekat dari rumahku. Sepuluh menit berselang, barulah Rani sampai ketika dari kejauhan tercium aroma parfumnya. Tidak menyengat, begitu segar, dan sudah kukenali.

“Kamu rajin amat, Yog, sampainya duluan mulu.”

Aku awalnya cuma tersenyum untuk memberi respons. Sampai melihat ia membawa tas punggung, barulah aku bertanya, “Bukannya masih besok berangkatnya, Ran?”

Sejauh yang kutahu, anak ini nggak pernah membawa tas punggung setiap pergi keluyuran denganku. Ia tidak mau ribet menggendong tas. Biasanya ia hanya memegang dompet, yang setelah itu dititipkan ke dalam tasku. Sekalinya bawa tas, paling cuma membawa tas selempang kecil. Yang berisi dompet dan alat rias favoritnya: bedak bayi dan lipstik.

“Oh, ini,” ujarnya sambil membuka ritsleting tas. “Ada yang mau aku kasih ke kamu.”

sumber: Pixabay

Ia pun memberikanku tiga buah buku; Murjangkung—yang kusebutkan di awal cerita, Adriana (Fajar Nugros), dan Kolam Darah (Abdullah Harahap).

“Maksudmu ngasih aku buku kayak gini apa?”
Read More
Kala sedang asyik menikmati waktu santainya, Gusi tiba-tiba terluka parah. Ia merasa dirinya habis tertusuk oleh sesuatu. Ia pun bertanya kepada sesuatu itu, si penyebab dirinya terluka, “Kau siapa? Kenapa dirimu tiba-tiba muncul, lalu menyakitiku? Apa salahku?”

Yang Gusi maksud itu ternyata sebuah geraham. Geraham Bungsu, begitulah dirinya memperkenalkan diri. Geraham Bungsu juga sebetulnya bingung, kenapa ia baru muncul saat ini. Ia merasa telat dilahirkan. Tidak seperti temannya, geraham-geraham lain yang sudah menampakkan diri sejak lama. Setelah itu, dengan polosnya Geraham Bungsu menjawab, “Aku tidak bermaksud menyakiti siapa-siapa. Maaf, kalau aku tidak sengaja membuatmu terluka.”

“Mudah sekali meminta maaf atas apa yang sudah terjadi. Lantas, gunanya dirimu itu untuk apa, sih? Sudah melukaiku, terkadang juga mengganggu geraham yang lain. Masih saja tidak tahu diri. Kau seharusnya sadar, kalau dirimu itu tidak dibutuhkan!”



Geraham Bungsu pun heran. Ia memang belum tahu apakah dirinya kelak dapat bermanfaat bagi yang lainnya atau tidak. Yang jelas, ia ingat sebuah pesan sebelum dirinya lahir, lalu naik ke permukaan dan merobek Gusi, “Segala yang terjadi dalam hidup ini, pasti ada alasannya.”

“Kenapa tidak menjawab? Kau sudah tidak berguna, sekarang tidak bisa berbicara pula. Aku akan terus protes kepadamu selama sakitnya belum kunjung hilang. Terluka seperti ini akan membuat diriku lebih cerewet.”

Geraham Bungsu membatin, apa betul aku tidak berguna?
Read More
Mengungkapkan perasaan, bagiku sungguh berbeda dengan ajakan menjalin hubungan. Saat aku menyatakan perasaan kepada seseorang, artinya aku cuma ingin bilang. Tidak lebih. Jika orang itu juga merasakan hal yang sama, kurasa sudah masuk persoalan lain.

Namun, mengutarakan perasaan seperti itu juga tidaklah mudah. Apalagi untuk perempuan sepertiku. Di negaraku ini, budaya patriarki masih dijunjung tinggi. Tidak lazim rasanya seorang perempuan bilang duluan. Tapi, aku bukan bagian dari sistem bodoh semacam itu. Aku nanti akan tetap menyampaikan sejujurnya. 

Sayangnya, entah kenapa ketika nanti sudah jujur, aku memiliki rasa takut akan penolakan. Aku takut jika orang itu tidak merasakan hal yang sama sepertiku. Apakah perasaanku ini tidak tulus? Cuma, aku juga ingin berharap supaya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Oleh karena itu, aku pun berniat curhat kepada sahabatku di kampus, Rani. Bercerita setidaknya akan membuatku lega. Tanpa berlama-lama, aku segera meneleponnya untuk datang ke indekosku.



***

“Jadi mau cerita apa?” tanya Rani, begitu dia sampai di indekosku. 

Mau tak mau, aku segera bilang dan berterus terang, “Menurutmu, kalau ada seseorang yang mengungkapkan perasaannya, lalu salah satunya tidak memiliki perasaan yang sama, apakah setelahnya mereka tetap bisa berteman baik?” 

Rani pun refleks tertawa. 

Apanya yang lucu? 
Read More
Selain menyenangkan, menulis itu juga menyebalkan. Mungkin gue selalu merasa bahagia setiap kali berhasil curhat lewat tulisan. Sebab hal itu sungguh bikin lega. Namun, sebelum bisa merasa lega begitu, pastinya ada rasa malas dan takut yang menghalanginya.

Kalau boleh jujur, gue kerap malas untuk memulai. Dari mulai membuka laptop, memikirkan kalimat pembuka yang menarik, dan menentukan judul. Kemudian, gue juga takut sama hasil tulisannya; nggak enak dibaca, yang baca sedikit, atau pembaca tidak mendapatkan manfaat dari tulisan itu. 

Kala udah nyalain laptop dan pengin buka aplikasi Microsoft Word, gue malah melirik ke shortcut Warcraft, Plant vs Zombie, atau Sally Salon (kenapa permainan feminin ini belum juga gue uninstall, sih?). Gue jadi berpikir untuk main games dulu supaya nanti nulisnya lebih rileks. Sedihnya, gue malah keterusan main dan batal menulis.

Begitu berhasil menutup games dan Microsoft Word pun sudah terbuka, gue suka bingung harus memulai cerita dari mana. Kalimat pembuka sebetulnya cuma pancingan supaya tulisan dapat mengalir hingga berhasil menuangkan gagasan atau keresahan itu. Masalahnya, kalau pembukaan udah nggak enak dibaca, kalimat-kalimat selanjutnya pun sering gue hapus lagi. Kalau merasa sayang untuk dihapus, palingan gue pindahin ke dokumen baru dengan nama “Sampah”. Berharap suatu hari sampah-sampah itu bisa didaur ulang jadi tulisan lainnya.

Terus, gue ini termasuk orang yang kesusahan menulis kalau harus membuat judul terlebih dahulu. Akhirnya, waktu gue untuk update blog pun tertunda, sebab nggak tahu harus ngasih judul apa untuk tulisan yang sudah selesai itu. Seandainya boleh nggak pakai judul, mungkin draf-draf itu nggak akan terlalu menumpuk karena gue tinggal publikasi. Tapi, kalau nggak ketemu-ketemu judulnya, gue juga takut tulisan gue itu bakalan terlalu acak ketika diedit dan dibaca ulang. Paragraf yang satu dengan paragraf lainnya bisa-bisa sama sekali nggak ada keterkaitan.

Ya, Allah ... kenapa gue ribet amat, sih, mau menulis aja? Kayaknya orang lain nggak begini-begini amatatau malah banyak yang begini juga?



O iya, kalau boleh jujur lagi, gue sebenarnya benci menulis. Sebab menulis bagi gue adalah sebuah kejujuran. Gue sering terlalu jujur di setiap curhatan. Rasanya semua terketik begitu saja di setiap tangan gue menari-nari di atas tuts laptop. Seperti sekarang misalnya, kepala gue mulai terasa penuh akan persoalan dalam menulis.
Read More
“Kenapa blog isinya jadi tulisan iklan mulu, ya?” tanya seorang bloger kepada bloger lainnya. 

Dari keresahan itulah lahir beberapa tulisan blog yang mempermasalahkan para bloger yang mulai berubah haluan menjadi pengiklan. Baik yang hanya promosi di blognya, maupun yang telah merambah ke media sosialnya. Sebenarnya, gue juga pernah meresahkan hal itu. Namun, gue juga nggak bisa protes begitu aja, ketika diri gue masih menjadi bagiannya. Bagi pegawai lepas seperti gue, pemasukan tambahan dari iklan blog begitu lumayan. Jadi, gue pikir protes semacam itu bukanlah solusi buat gue. Nanti gue juga dikatain munafik lagi.

Nah, yang menarik dari permasalahan itu ialah kenapa para bloger kurang kreatif ketika mengiklankan produk dari klien. Yang gue perhatikan dan simak dari tulisan protes itu, tulisan iklan para bloger di blognya itu kurang menarik untuk dibaca. Atau, disebut kurang menarik pun belum pantas? Entahlah, nilai saja sendiri.

Katanya, kebanyakan bloger hanya menyalin press release itu ke dalam blognya tanpa diolah menjadi gayanya sendiri. Lalu cara promosinya dalam tulisan itu juga terlalu kasar. Mereka yang dimaksud itu belum menerapkan soft selling. Gue, sih, langsung tertawa membaca bagian itu. Sebab, yang dituliskan memang benar.

Namun, masih ada kok beberapa bloger yang tulisan liputannya menarik dibaca. Dan, gue sebisa mungkin nggak pengin menertawakan diri sendiri seperti yang dimaksud dalam tulisan protes tersebut. Sejauh ini ketika menulis tulisan yang berbayar, gue pasti berusaha sehalus mungkin dan menggunakan gaya sendiri. Gue sebenarnya juga menyadari kalau tulisan iklan gue itu masih terbilang cemen. Gue butuh belajar lebih banyak lagi. Lagian, gue termasuk orang yang milih-milih dalam menerima tawaran kerja sama.

Ya, setidaknya gue masih memegang idealis. Ketika temanya sesuai, terus harga cocok, barulah gue ambil. Gue nggak mau dibayar terlalu murah untuk hal yang kurang gue suka. Masa gue udah mengorbankan blog yang isinya buat curhat, lalu diisi iklan yang nggak sesuai sama konten blog gue, tapi tetep dibayar murah? Di situlah ada pertimbangan untuk menentukan harga atau menolak tawaran kerja sama.

Beda persoalan kalau gue suka sama tema dan acaranya, bisa masuk gratis dan mendapatkan makanan aja udah seneng. Ketika menuliskan liputan acaranya juga santai dan mengalir karena gue menikmatinya. Kalau temanya nggak sesuai diri gue, barulah itu jadi problem. Nanti ribet pas menuliskannya. Rasa di dalam tulisan itu juga takut nggak dapet.

Read More
Novel yang bagus itu seperti apa?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, gue ingin memberi tahu kalau judulnya sengaja dibikin keliru. Yang betul adalah 24 Jam Bersama Gaspar, sebuah novel karya Sabda Armandio—setelah ini akan gue panggil Mas Dio biar lebih akrab.



Kalau memang ada yang beneran bertanya ke gue tentang novel yang bagus, gue betul-betul nggak tau harus menjawab apa dan bagaimana. Apalagi setiap orang memiliki selera bacaan yang berbeda-beda.

Namun, kalau orang itu cuma ingin meminta pendapat gue, maka jawabannya: buku yang bagus setidaknya akan membuat gue rela membuang-buang waktu untuk membaca ulang ceritanya. Dan, Mas Dio dengan gaya berceritanya yang asyik itu berhasil membuat gue menamatkan Gaspar dua kali. Itulah alasan kenapa judulnya jadi seperti itu.

Nggak banyak novel yang akhirnya gue baca ulang. Lagian kalau nggak bagus, ngapain repot-repot harus baca ulang? Jadi, gue anggap buku yang bisa memaksa pembacanya untuk membaca ulang, apalagi sampai menandai bagian-bagian yang menarik adalah buku yang bagus.

Seperti yang terlihat di gambar, gue menandai beberapa bagian novelnya dengan post it. Gue memang suka menempelkan post it pada bagian buku tententu untuk kepuasan sendiri. Bagian mana yang gue sukai, yang membuat gue tertawa, dan yang bikin merenung.

Nah, dari salah satu post it yang gue tempelkan itu, dialog pada novel 24 Jam Bersama Gaspar ini rasanya bisa menjawab pertanyaan seperti apa buku yang bagus: “Cuma penulis hebat yang bisa membuat pembacanya anteng, tak peduli berapa pun jumlah halamannya.”
Read More
Ketika gue berumur 12 tahun, gue sempat melihat mikrolet yang di kacanya tertempel tulisan “www.doaibu.com”. Pertama kali membaca itu, gue berpikir sesuatu yang pakai (dot)com, kok, keren sekali. Hingga beberapa hari setelahnya, rasanya gue pengin ikutan bikin. Namun, gue masih belum tahu ingin menggunakan nama apa untuk dijadikan stiker. Mungkin kalau benar jadi dibuat, namanya akan berupa “www.yogamantep.com” atau “www.yogagituloh.com”. 

Saat usia segitu, gue memang nggak tahu apa-apa soal www seperti itu (yang belakangan diketahui adalah domain). Gue cuma berpikir untuk membuat stiker dengan nama www(dot)com begitu, lalu nanti akan ditempelkan di pintu rumah. Jadi kalau ada teman yang main ke rumah gue, dia akan takjub melihat stiker itu.

Gue sejujurnya nggak ngerti, kenapa dulu tuh bisa begitu bodoh atau polosnya. Padahal waktu itu gue sudah mulai main online games di warnet (warung internet). Tapi ya, tetap saja nggak berpikir lebih jauh tentang (dot)com. Pikiran gue masih sebatas untuk keren-kerenan dijadikan stiker. Bisa dibilang kala itu gue masih gagap teknologi.

Hal yang gue inginkan dahulu itu akhirnya terwujud dalam bentuk lain. Angan-angan itu bukan lagi dalam bentuk stiker, melainkan berwujud blog: www.akbaryoga.com yang gue beli di Qwords. Nggak nyangka, ternyata keinginan gue pada usia 12 tahun itu malah menjadi kenyataan yang lebih baik.

Sekitar sepuluh tahun kemudian, pada Kamis, 24 Agustus 2017 Qwords berulang tahun yang ke-12. Dalam memeriahkan acaranya, Qwords turut mengundang rekan-rekan bloger di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Alhamdulillah gue termasuk bloger yang diundang di acara tersebut. Berhubung domisili gue di Jakarta, maka datanglah gue ke Gedung Cyber 1 lantai 3, di Jalan Kuningan Barat No. 8, Jakarta Selatan.

Read More
“Sebelum acaranya dimulai, gue mau nanya nih. Temen-temen udah pada tahu Brilio, kan?” tanya Mas Josie, selaku MC acara.

Saat gue perhatikan, ada yang menjawab sudah, ada yang diam saja, dan ada yang segera mengetik sesuatu di laptopnya (belakangan diketahui, ia ternyata membuka web Brilio.net). Sepertinya orang itu belum tahu dan mungkin merasa malu karena sudah datang ke acara, tapi nggak ngerti sama sekali akan Brilio itu sendiri.

Sejujurnya, gue sendiri nggak banyak tahu tentang Brilio. Satu-satunya hal yang gue ketahui ialah artikelnya yang sempat gue baca beberapa kali di Line Today. Iya, hanya itu dan gue nggak mencari tahu lebih jauh.

*

Syukurnya, pada hari Sabtu, 19 Agustus 2017 gue dan teman-teman dari Komunitas ISB mendapatkan undangan untuk main ke kantor Brilio. Kantornya berlokasi di Graha Tirtadi Lt. 3 Jalan Wolter Mongonsidi No. 71, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Berkat acara inilah gue bisa mengetahui lebih lanjut tentang Brilio.


Suasana Kantor

Seperti kantor-kantor media kreatif pada umumnya, Brilio pun memiliki tempat kerja yang asyik dan nyaman. Kantornya tidak memiliki papan tulis untuk mencatat proyek yang sedang dikerjakan atau catatan yang lain. Di kantor itu, coretan-coretannya dituliskan di kaca. Lalu, di temboknya terdapat tulisan “create”, yang seolah-olah memengaruhi alam bawah sadar untuk membuat atau menciptakan sesuatu. Lalu, ada sebuah ruangan yang kami tempati di acara itu menggunakan semacam tempat duduk yang unik dan asyik buat leyeh-leyeh, tapi gue nggak tahu apa namanya.



Read More
Setelah menyebar beberapa surat lamaran lewat surel (surat elektronik), baik yang gue dapatkan dari teman maupun JobStreet. Akhirnya, ada satu panggilan wawancara kerja. Namun, lokasinya di Gading Serpong, Tangerang, yang mana cukup jauh dari rumah. 

Kenapa gue ngelamar kerja jauh-jauh banget, ya? Gue pun berusaha mengingat-ingat tentang PT yang menghubungi gue itu, tapi tetep lupa. Entah karena saking banyaknya ngirim lamaran, apa emang gue yang udah mulai frustrasi dan jadi gampang lupa.

Setelah berselancar di internet, gue pun menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Perusahaan yang gue lamar ini, ternyata punya lebih dari satu cabang. Yang gue lamar itu alamat lainnya berada di daerah Kebon Jeruk. Oke, berarti yang di Gading Serpong itu hanya tempat wawancaranya.

Pukul 07.00 gue mulai berangkat dari rumah menuju kantor itu. Interviu yang tertera di surel sebetulnya dimulai pukul 09.00. Kalau yang gue lihat di GPS, perjalanannya sekitar 75-90 menit. Namun, gue sengaja berangkat lebih awal sebab memperkirakan macet dan beberapa hal buruk lainnya. Misalnya ban motor bocor, tersesat, atau terjadi Perang Dunia Ketiga.



Benar saja dugaan gue akan hal itu. Begitu sudah masuk area Serpong, gue nyasar seperti biasanya. Gue mengendarai motor mengikuti petunjuk di papan jalan ke arah Serpong, yang ternyata beda arahnya dengan Gading Serpong—tempat yang gue tuju. Gue mungkin kehilangan fokus saat terjebak macet di Ciledug, suatu daerah sebelum menuju arah Serpong. Mau nggak mau, gue mulai menepi dan mengecek GPS untuk kembali ke jalan yang benar. Jalan yang diridai Allah. Allahu Akbar!

Sesampainya di kawasan yang tertera di GPS, gue mulai bingung lagi. Sebelumnya, kantor yang gue tuju itu alamatnya nggak tercantum di GPS. Jadi, gue memasukkan nama jalan lain yang dekat dengan tempat itu. Nah, berarti perjalanan gue setelah ini nggak bisa lagi memanfaatkan teknologi. Gue harus nanya sama orang.

Demi berjaga-jaga salah bertanya, maka orang yang gue tanya adalah satpam. Sayangnya, ia mengatakan kalau tidak tahu percis alamatnya. Ia malah bilang lokasi yang gue cari itu mungkin dekat dengan ruko-ruko sambil menunjukkan jalannya. Gue pun mengucapkan “terima kasih”, dan melanjutkan pencarian lokasinya ke tempat yang satpam itu maksud.

Setelah 15 menit berselang, gue sudah memasuki area yang banyak rukonya. Lalu gue bertanya ke pejalan kaki yang lewat, seorang pria berkumis yang kira-kira usianya menginjak empat puluhan akhir. Bapak itu kemudian memberi tahu gue kalau nama jalan yang gue tanyakan itu udah benar dan mungkin kantor yang gue cari itu ada di depan. Cuma, Bapak itu memberi tahu gue kalau ruko-ruko yang ada di sini masih baru, sepertinya masih kosong dan belum ada kantor yang beroperasi.

Gue mulai cemas dan membatin, ini yang gue tuju jangan-jangan perusahaan fiktif?
Read More
Beberapa hari yang lalu saat libur kerja, aku memutuskan untuk bertualang. Kamu mungkin tau rasanya bekerja selama 6 hari dalam seminggu dengan semangat yang kurang itu seperti apa. Nah, bagiku itu cukup menjenuhkan. Ketika libur, lalu cuma tidur-tiduran di rumah itu malah menambah rasa bosan. Mungkin mengistirahatkan tubuh itu perlu, tapi jiwaku juga butuh sesuatu yang baru. Yang membuatku kembali menjalani hari dengan penuh kesegaran. Maka, jadilah aku pergi bertualang.


Pertualanganku ini berlangsung selama sebelas jam. Semuanya berawal ketika aku memulai perjalanan dari Stasiun Bekasi dengan tujuan Stasiun Sudimara (Tangerang Selatan) menggunakan kereta listrik (KRL) khusus area Jabodetabek. Sebetulnya aku tidak begitu suka naik kereta, tetapi kalau menggunakan motor rasanya pasti tak sanggup. Perjalanan dari ujung ke ujung dan duduk berjuang melawan macet tentunya bisa membuat pantatku menipis. Dan karena belum memiliki helikopter, maka keretalah yang jadi solusinya.

Mungkin kamu bingung apa tujuanku pergi ke Sudimara. Aku janjian bersama teman-teman bloger: Adibah dan Yoga, untuk berjumpa sembari kulineran di sana. Mereka, sih, enak jaraknya pada dekat. Yoga dari Palmerah cuma 4 stasiun, Adibah apalagi yang tinggal naik angkot.
Read More
Beberapa media saat ini begitu ramai dengan berita bunuh diri dan depresi. Yang pertama kudengar adalah tentang Oka atau Eka gitu, aku lupa namanya. Kabar burung mengatakan ia bunuh diri. Tapi aku tidak mudah percaya akan gosip murahan. Lagian, aku juga tidak kenal ia siapa. Kemudian berita selanjutnya ialah kematian Chester Bennington, vokalis Linkin Park, yang begitu menamparku. Ia bunuh diri dengan gantung diri. Aku masih tidak percaya kenapa orang-orang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu? Itu sungguh membuatku nelangsa.





Aku begitu sensitif dengan hal-hal yang berhubungan dengan bunuh diri. Aku tiba-tiba jadi ingat tentang sebuah surat bunuh diri yang kutemukan di kamarku beberapa hari yang lalu. Surat ini menurutku cukup panjang. Jadi, sembari membaca surat ini, kau lebih baik tarik napas dahulu dalam-dalam, kemudian embuskan secara perlahan. Saat membacanya, kuharap kau jangan sampai terbawa suasana. Jika sedang depresi, lebih baik tutup saja tulisan ini. Baca lagi lain waktu. Atau, baca saja tulisan-tulisan yang lain. Sebab ini memang surat bunuh diri seseorang. Aku sudah memperingatkanmu akan hal ini, ya. Baiklah kalau kau tetap ingin membacanya. Sambil menemanimu membaca, kau boleh menyediakan camilan dan kopi. Tapi kalau itu tidak ada, air putih pun tidak masalah.

Oke, inilah isi surat yang kutemukan itu.

***

Karena ditulis oleh orang goblok yang jelas-jelas lebih pantas menjadi seorang pengeluh yang lemah. Surat ini sepertinya mudah sekali untuk dimengerti.
Read More
Berangkat dari membaca tulisan lama di bloknot, gue kemudian menemukan catatan ide tentang proyek pertanyaan yang belum sempat tertuliskan. Gue mendapat inspirasi itu awalnya dari sebuah kutipan Mbah Sujiwo Tejo,
Lama-lama orang malas romantis, karena takut disebut galau. Malas peduli, takut disebut kepo. Malas mendetail, takut dibilang rempong. Malas berpendapat, takut dibilang curhat. Malas mengubah sudut pandang saat debat, takut dibilang labil.

Waktu itu, gue memang termenung membaca kutipannya. Lalu, saat puasa dan menjelang Lebaran kemarin banyak orang yang resah tentang pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan para saudara: “Kapan lulus?, “Kapan punya pacar?”, “Kapan nikah?”, “Kapan mati?”, dan seterusnya. Gue pun kepikiran tentang sebuah proyek pertanyaan.

Meskipun pertanyaan-pertanyaan seperti itu nggak etis, tapi gue jadi kepikiran akan suatu pertanyaan yang begitu mengganjal di kepala. Kebetulan, kemarin juga sempat dibahas ketika gue ikut kelas menulis puisi Aan Mansyur. Ternyata, gue bisa berpikiran hal yang sama seperti Aan. Nggak nyangka.

Pertanyaan gue: Kenapa orang-orang sekarang ini jadi malas bertanya, terus takut dibilang kepo?



Misalnya di sebuah kelas saat perkuliahan, ketika dosen bertanya kepada mahasiswanya, jarang banget ada mahasiswa yang mau bertanya. Biasanya saat ada yang bertanya, kita akan kesal karena jam istirahat jadi ditunda. Atau kita menganggap orang yang bertanya itu cari perhatian atau cari muka kepada dosen. Padahal, kan, belum tentu. Mungkin dia bertanya karena memang belum mengerti materinya.

Oleh karena itu, gue pun mengusulkan proyek pertanyaan kepada anggota WIRDY. Proyek ini melatih untuk berpendapat dan berani bertanya. Tiap orangnya akan gue tanya sebuah pertanyaan. Kemudian, gantian mereka yang bertanya kepada gue. Bisa dibilang ini mirip QnA gitu, sih. Bedanya, gue merahasiakan siapa yang bertanya kepada gue.

Maka, inilah pertanyaan dan jawaban itu:

Satu

T: Kalau ngelihat tren blogger sekarang, blogger yang kayak lu (blogger curhat) itu masih punya tempat nggak, sih, di dunia blogging?
Read More
Bagian Satu: Bloknot

***

Perempuan yang dipanggil “Rina” itu pun mengernyitkan dahinya dan tampak kebingungan. “Emm... maaf, Rina itu siapa?”

“Hah, aku salah orang, ya?” tanya Yoga.

Yoga bisa-bisanya salah mengenali orang. Setelah melihat perempuan ini dengan lebih jelas, ia ternyata cuma mirip kalau dilihat sekilas. Rambutnya jauh lebih hitam daripada Rina—yang berambut kemerah-merahan karena terlalu sering memakai pengering rambut. Hidungnya juga sedikit lebih mancung, meskipun masih termasuk pesek. Tubuhnya sedikit lebih kurus dan pipinya juga tidak terlalu tembam. Dan, suaranya pun terdengar lebih lembut.

“Aduh, kupikir kau itu temanku. Habisan mirip, sih. Maaf-maaf.”

Lalu, perempuan itu bilang tak masalah dan tersenyum. Lagi-lagi malah wajah Rina yang muncul. Yoga sebisa mungkin berusaha fokus dan begitu keras menghapus gambaran muka mantan kekasihnya itu.

Selagi Yoga bergeming, perempuan itu kemudian menjelaskan kalau dirinyalah yang menemukan buku catatan Yoga. Mereka pun berkenalan. Nama perempuan itu: “Rani”. Ya, nama itu mirip dan seperti sebuah anagram dari Rina. Yoga kemudian mempersilakannya duduk. Karena Rani tidak suka duduk berhadapan dengan orang yang baru dikenalnya, ia pun memilih duduk di sebelah kiri Yoga.

Sore ini Rani mengenakan kaos belang hitam putih bergaris horizontal. Dengan bawahan blue jeans dan sneakers berwarna senada. Ia menggendong tas hitam berbahan poliester, yang di dalamnya mungkin berisi bloknot milik Yoga.

Sehabis duduk bersama, awalnya mereka sama-sama canggung. Rani entah kenapa terdiam. Ia sepertinya grogi bertemu dengan seseorang yang telah menulis beberapa puisi di buku catatan yang sempat ia baca semalam. Baginya, puisi bikinan Yoga mengagumkan. Rani juga kerap membuka dan membaca tulisan di blog Yoga. Ia menyukai tulisan-tulisan curhatnya yang entah kenapa membuat dirinya merasa sudah kenal dekat. Apalagi komentar di blognya terbilang lumayan banyak. Tanda kalau tulisan-tulisannya memang memiliki pembaca setia. Rani saat ini seolah bertemu selebritas.

Akhirnya, Yoga yang memecah keheningan dengan bertanya kepada Rani ingin memesan menu apa. Setelah pesanan ditentukan, Yoga segera memanggil pramusaji. Ia memesan mi goreng jumbo tante (tanpa telur) dan es teh manis, sedangkan Rani memesan internet (indomie telur kornet) rasa soto dan es teh tawar. 

Sembari menunggu makanan itu matang, mereka mengobrol, mengobrol, dan mengobrol. Rani sebelumnya meminta maaf karena telah lancang membuka bloknot itu dan membaca isinya. Yoga pun suka tidak suka harus memakluminya. Yang penting bloknotnya itu ketemu. Setelah itu, Rani memuji beberapa puisi di buku catatan Yoga yang belum pernah ditampilkan di blog. Ya, beberapa perempuan memang lebih menyukai laki-laki yang menulis puisi dibandingkan berprofesi sebagai polisi.

Yoga malah merasa malu sebab puisi itu biasa saja baginya. Rani pun berusaha meyakinkannya kalau puisi itu jujur apa adanya dan tidak rumit—tidak perlu membuka kamus untuk mencari kata yang asing. Namun, Yoga tetap mengelak kalau tulisannya masih jauh dari kata bagus. Lagi-lagi Rani memberikan motivasi agar Yoga tidak minder. Rani bilang kalau puisi itu sudah dapat dikatakan “lumayan”. Setidaknya begitulah penilaian Rani.

Belum sempat Rani melanjutkan perkataannya soal puisi, pramusaji mengantarkan pesanan ke meja mereka. Aroma mi instan dan cabai rawit yang mulai menyeruak hidung, sontak membuat mereka segera menyantapnya terlebih dahulu dan menunda pembicaraan. Beberapa saat kemudian, entah kenapa mecin tiba-tiba membuat lidah Rani lebih luwes dalam berbicara.

Read More
Ada beberapa film Thailand yang gue suka tonton ulang dan telah menjadi favorit; di antaranya: Crazy Little Thing Called Love, Hello Stranger, May Nai Fai Rang Frer (May Who), The Billionaire, The Teacher’s Diary, dan lain-lain.

Nah, selain film-filmnya yang membuat gue terpikat, negeri Gajah Putih ini ternyata memang tak pernah kehilangan pesonanya. Daya tarik lain dari Thailand adalah pulau-pulau yang cantik dan tentunya memesona. Tempat wisata di Thailand ini bahkan beberapa di antaranya telah mendunia. Menurut gue, Thailand ini sangat tepat untuk menjadi destinasi wisata kamu (terutama para traveler) selanjutnya. Gue pun kalau punya banyak uang, rasanya pengin berlibur ke sana. Dan, berikut ini ialah beberapa pulau terbaik di Thailand yang cocok untuk dikunjungi dan mungkin juga cocok untuk kamu berelaksasi dan mengeksplorasi.


1. Koh Lanta

Koh Lanta (pixabay.com)

Merupakan kepulauan yang berlokasi di Provinsi Krabi. Koh Lan Yai atau Koh Lanta adalah pulau terbesar dalam gugusan pulau tersebut. Kamu yang begitu menyukai snorkelling atau diving, kiranya kawasan ini sangat cocok. Sebab, kamu akan menemukan gugusan koral yang masih alami, dan yang paling menarik adalah adanya paus dan pari manta yang akan menemanimu menyelam.

2. Koh Lipe

Koh Lipe dihuni oleh Gipsi Laut, atau sering juga disebut manusia perahu. Para Gipsy Laut ini hidup secara nomaden dan tinggal di atas perahu. Saat musim hujan tiba, mereka sering menepi di pulau-pulau sekitar Laut Andaman, dan Pulau Koh Lipe merupakan salah satunya. 

Koh Lipe berlokasi di Kepulauan Adang-Rawi bagian barat daya Thailand. Saking kecilnya pulau ini, kamu bisa mengelilingi pulau ini hanya dalam waktu satu jam. Namun jangan salah, di sini sudah ada penginapan yang nyaman lengkap dengan AC. Jadi, kamu gak perlu khawatir kepanasan, ya. Yuhu!

Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home