Kau baru saja pulang dari restoran cepat saji sehabis mentraktir teman-temanmu. Tidak banyak-banyak amat, sih, jumlahnya. Dengan dirimu yang juga ikut dihitung, totalnya pas 12 orang. Mereka adalah teman-teman yang kau anggap paling akrab di antara yang lain. Kau sebenarnya bingung sama kebiasaan bodoh ini. Kenapa orang yang berulang tahun harus mengeluarkan uang untuk membayar sebuah ucapan, "Selamat ultah" ?

Entah setelah kalimat itu ada lanjutan doa-doa untuk kebaikanmu, atau memang sebatas itu saja. Lucunya, ada yang mengucap lebih singkat, "HB, ya." Ucapan itu juga cuma kaudapatkan dalam bentuk pesan di aplikasi WhatsApp. Tidak ada ucapan langsung dan jabat tangan para teman yang kauterima 4 hari yang lalu.

Apalagi seorang pacar yang memberikanmu kejutan di depan pintu, dengan membawakanmu kue berhiaskan lilin yang menyala. Kemudian kau bisa meniupnya dengan perasaan terkejut campur bahagia sambil menerima kado darinya. Kamu baru saja putus 5 bulan yang lalu dan belum memiliki pacar baru. Boro-boro pacar, mencari gebetan saja belum kepikiran olehmu.

Ya, paling tidak, akhirnya kau bisa merayakan bertambahnya umurmu bersama teman-teman. Meskipun itu hanya sebatas menyantap ayam goreng krispi dan minuman bersoda. Sebuah menu yang seragam, tapi tetap menguras kantongmu. Kira-kira uang itu sebanyak jatah makanmu untuk dua minggu.

Awalnya, kau malah tidak ada niat untuk mentraktir mereka. Namun, permintaan itu, baik yang sebuah bercandaan atau memang keinginan, semakin hari terus menghantui dirimu.

"Mana nih traktirannya?"

Kamu menjawab singkat, "Nanti deh pas gajian."
Read More
Cerita Bagian Satu: Prolog

*

“Jangan membandingkan dirimu dengan siapa pun di dunia ini; jika kamu melakukannya, kamu menghina dirimu sendiri.” —Bill Gates

Gue terkadang masih suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Ya, itu berarti gue telah melakukan penghinaan terhadap diri sendiri. Semoga hal ini tidak gue ulangi kembali. Hal yang paling sering gue bandingkan dengan orang lain adalah, kenapa gue sering banget menunda sebuah tulisan? Ketika beberapa teman berusaha menulis secepatnya agar tidak lupa dan kehilangan feel tulisan itu. Sedangkan gue ini justru butuh waktu yang agak lama untuk menuliskannya sampai hal itu memang benar-benar menghantui dan mengacak-acak isi kepala gue, kecuali lagi dikejar deadline.

Ide-ide yang ada di kepala ini biasanya hanya gue catat poin-poinnya di sebuah buku atau notes hape. Gue jarang banget bisa langsung nulis ketika mendapatkan sebuah ide. Kalau kepala gue sudah sering kepikiran akan suatu tulisan, barulah gue memulai menuliskannya.

Cerita perjalanan ke Solo cepet kelarin woy!

Ingatan-ingatan soal liburan gue ke Solo muncul begitu saja tanpa diingat-ingat. Lalu, ada rasa ingin main ke sana lagi, bahkan sampai kebawa mimpi. Barulah gue tergerak untuk menulis. Contohnya seperti itu.

Sebenarnya, dari bulan Januari gue sudah menuliskannya. Tulisan ini sudah tersimpan rapi di draft. Sayangnya, saat itu memang belum selesai diedit. Memasuki bulan Februari, gue pengin ngelanjutin ceritanya, tapi entah kenapa jadi gak sreg. Bulan Maret juga sama. Gue malah semakin males buat nerusinnya. Namun, gue inget perkataan seorang filsuf, “Selesaikanlah apa yang sudah kamu mulai.”

Hm, baiklah. Meskipun ini sudah telat dan basi. Gue akan tetap mempublikasinya.

--

Hari pertama.

Satu hal yang sering gue lupakan saat menyewa penginapan; entah itu di hotel, losmen, vila, atau homestay, waktu untuk check out adalah pukul 12 siang. Peraturan itu berlaku hampir di semua tempat. Bodohnya, gue sering lupa akan hal itu. Meskipun gue semalam baru check in pukul 2 pagi, tapi bukan berarti itu akan dihitung 24 jam dan bisa keluar dari penginapan ini pada malam hari.

Maka, mau nggak mau itu membuat kami harus segera mandi dan tidak bisa leyeh-leyeh. Haris memilih untuk mandi duluan. Setelah dia selesai, barulah sekarang giliran gue. Namun, saat gue baru mulai melangkah ke kamar mandi, Haris bilang kepada gue untuk mengunci pintu terlebih dahulu. Karena dia ingin pergi bersama Ilham untuk menyewa motor—yang nantinya akan kami gunakan untuk keliling daerah Solo.

Setelah mandi, sembari menunggu mereka kembali, gue duduk di teras depan penginapan ini sambil membaca sebuah novel.


Read More
Kamu menendang segala macam benda yang ada di jalanan. Batu kerikil, botol plastik bekas, dan kotak susu yang masih tertusuk sedotannya. Kamu tiba-tiba merasa benci kepada orang-orang yang tidak mau membuang sampah pada tempatnya. Tapi kebencianmu akan orang-orang itu tidak akan pernah bisa melebihi kebencianmu terhadap diri sendiri.

Kamu masih terus menendangi sampah-sampah di jalan itu seolah-olah untuk melampiaskan emosimu. Sampai akhirnya, kamu tidak sengaja menendang aspal dan membuat jempol kaki kananmu berdarah. Terasa begitu perih. Namun, akan lebih perih lagi kalau mengingat beberapa kejadian dalam hidupmu belakangan ini.

Kamu adalah Agus, seorang laki-laki yang masih berumur 23 tahun, dan saat ini sedang kesal dengan semua masalah hidup yang tidak habis-habis. Sehingga kamu menganggap umurmu sudah menginjak usia 28 tahun karena masalah terlalu cepat mendewasakan pola pikirmu. 

Namun saat ini, hari-harimu sering dihiasi oleh kesedihan dan kedewasaanmu itu seakan tidak berguna lagi. Sumber masalahnya sebenarnya ada pada ibumu. Orang yang paling kamu sayangi di dunia ini telah pergi meninggalkanmu sekitar dua bulan yang lalu. Tanpa seorang ibu, kamu merasa tak berdaya. Kamu belum siap menerima kenyataan atas kepergian ibumu itu. Lagi pula, adakah orang yang siap dengan kehilangan? Apalagi itu hilang secara tiba-tiba.

Ibumu tidak sakit dan tidak ada tanda-tanda malaikat maut yang akan mencabut nyawanya. Tau-tau mati begitu saja. Seperti saat PLN melakukan pemadaman listrik tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Ditambah lagi kamu tidak memiliki kakak ataupun adik yang mengerti perasaan seorang anak ketika ditinggal mati ibunya. Menjadi anak tunggal begitu membosankan. Kamu hanya bisa menangisi kepergian ibumu seorang diri.

Sebenarnya masih ada ayahmu yang bisa dijadikan tempat berbagi. Tapi kamu cukup paham kalau ayahmu tidak akan menunjukkan air matanya. Ia tak ingin tampak lemah di hadapanmu. Sayangnya, beberapa minggu yang lalu ayahmu melarikan diri dari rumah. Sebulan setelah kematian istrinya, ayahmu—Pak Broto—memang sangat depresi. Apalagi bisnis batu akiknya juga bangkrut. Merasa tak sanggup menghidupimu, Pak Broto pun meninggalkanmu dan entah pergi ke mana. Kamu pun menghakiminya sebagai ayah yang tidak bertanggung jawab.

Cuma, biar bagaimanapun kamu masih menganggapnya keluarga. Kamu kemudian mencoba untuk menghubunginya, tetapi nomornya selalu tidak aktif. Belakangan diketahui, ponsel miliknya ditinggal di rumah dalam keadaan mati. Kondisi seperti ini semakin membuatmu gelisah dan resah. Kamu berpikir yang bukan-bukan tentangnya. Ayahmu mungkin telah mati bunuh diri. Ayahmu stres atau malah gila. Sekalipun dirinya saat ini berada di Rumah Sakit Jiwa, kamu tetap tidak mungkin mengecek RSJ itu satu per satu. Belum tentu juga ia benar berada di sana.

Jadi, lebih baik kamu fokus memikirkan masalah keuanganmu. Sebab, besok adalah batas waktu terakhir untuk membayar rumah kontrakan. Rumah kontrakan yang harus dibayar setiap 3 bulan sekali, tapi kamu sudah telat membayar dan saat ini kira-kira telah berjalan  di bulan keempat. Sudah mau sebulan pemilik kontrakan memberikanmu keringanan. Induk semang itu sampai bosan menagih dan mengingatkanmu tiap hari untuk melunasi bayaran 3 bulan kemarin. Oleh karena itu, besok adalah kesempatan terakhir yang ia berikan. Jangan sampai kaulupakan.
Read More
Setiap orang memiliki alasan tersendiri ketika menjadikan seseorang atau tokoh sebagai idolanya (panutan). Dari yang gue perhatikan, beberapa alasannya ialah: 1) karena fisiknya, terutama wajah atau tubuh yang menarik; 2) bakat atau kemampuannya; 3) sikap dan sifatnya.

Nggak perlu mengelak kalau kita pasti pernah mengagumi seorang idola cuma melihat wajahnya. Terutama idola yang lawan jenis. Gue sendiri pun pernah. Namun, gue termasuk tipe orang yang lebih sering mengidolakan seseorang dari pemikirannya. Terlepas dari wajahnya yang cakep, kalau isi kepalanya ngaco mah malesin banget dijadiin idola. Nah, berarti wawasan seseorang ini sepertinya lebih penting dari fisiknya. Oke, ini rada bullshit kayaknya kalau pas cari pasangan, sebab keseringan pada lihat wajahnya dulu (dibaca: semua kembali ke tampang!).

Itu bisa terbukti jelas karena banyak temen cewek yang suka ngidolain cowok-cowok ganteng Korea, terus yang cowoknya juga suka cewek-cewek menggemaskan dari idol group, bahkan sampai jadi VVOTA.

Berbicara soal idola ini, gue suka nggak ngerti sama orang-orang—biasanya remaja labil—yang begitu fanatik saat mengidolakan tokoh idolanya. Ketika para fanatik ini melihat secara langsung atau bisa bertemu idolanya itu pastik langsung jerit-jerit histeris, “KYAAAAAK! KYAAAAK!”

Nggak jarang juga para ABG itu yang sampai menuhankan idolanya. Mereka rela melakukan apa pun demi sang idola. Entahlah, gue masih nggak paham sama yang begitu. Ketika remaja, sih, alhamdulillah gue nggak pernah seperti itu. Temen gue pernah cerita, kalo ada salah satu temennya yang sampai ke luar negeri demi bisa bertemu idolanya. Menghabiskan uang berjuta-juta hanya untuk tiket pesawat dan acara “meet n greet”. Tapi ternyata, dia nggak bisa foto bareng. Untuk dapat berfoto bareng idolanya harus nambah biaya lagi, sedangkan sisa uangnya cuma untuk ongkos pulang.

Menyedihkan.

Sebetulnya, gue nggak menganggap hal seperti itu salah. Ya, asal sesuai dengan kemampuan finansial mah wajar aja. Jangan terlalu maksain diri. Katanya apa-apa yang berlebihan itu nggak baik, kan. Nge-fans boleh, terlalu fanatik jangan sampe deh.


Read More
Energi gue untuk menulis dan mengisi blog ini seolah-olah akan habis. Percis berbarengan dengan domain akbaryoga.com yang mesti diperpanjang beberapa hari lagi. Kalau mengingat setahun yang lalu, maka judul blog ini berarti belum bernama “Mengunci Ingatan”. Gue pun jadi mikir, kenapa blog ini gue namain begitu, ya?

Gue sebetulnya sudah agak lupa kenapa bisa memilih nama itu. Namun, karena ingatan itu sudah terkunci di dalam kepala ini (asyek). Oleh karena itu, gue akan mencoba untuk mengingatnya kembali. Awalnya, sih, gue lagi cari-cari nama bagus buat domain yang baru. Dulu, banyak orang yang ngeluh soal nama “yoggaas” yang katanya sulit untuk dihafal maupun dilafalkan. Beberapa orang susah mengingat huruf apa saja yang ganda. 

Keresahan itulah yang membuat gue mulai kepikiran dengan ganti domain baru. Jadi kayaknya kalau ganti domain itu juga bisa sekalian menyenangkan hati pembaca. Ya, pembaca mungkin akan merasa kalau pendapatnya didengarkan. Mereka jadi lebih nyaman deh main ke blog ini. Tentu saja kenyamanan pembaca merupakan tanggung jawab pemilik blog. Meskipun nggak semua pendapat harus didengar, tapi sepertinya mengubah domain dan branding blog ini gue cukup setuju. Dan rasanya memang perlu. 

Namun, mengubah domain dan sebuah branding tidak bisa semudah itu. Ada beberapa hal yang perlu dipikirkan secara matang. Harus siap dengan trafik yang nanti turun drastis, mau nggak mau kudu beradaptasi dengan hal baru dan meninggalkan yang lama itu, dan terlebih lagi soal menentukan nama yang rasanya susah-susah gampang. Kalau gak salah sampai berminggu-minggu kepala gue mumet cuma karena menentukan nama yang cocok untuk domain dan judul blog ini.
Read More
Setiap orang memiliki alasan tersendiri saat ikut CFD (Car Free Day) pada hari Minggu. Sayangnya, dua bulan belakangan ini gue malah belum menemukan alasan yang tepat untuk mengikutinya. Justru, adanya alasan-alasan untuk nggak ikut. Tentu saja karena cuaca sering hujan. Sekalinya nggak hujan, hawa dingin itu membuat gue memilih untuk selimutan (meski gue gak punya selimut dan hanya menggunakan sarung Wadimor) dan tidur lagi.

Sampai suatu hari, gue iseng melihat-lihat galeri foto dari tahun 2012-2015. Ada beberapa foto yang menampilkan seorang cowok memakai jaket merah klub bola Manchester United, bercelana pendek hitam, dan sedang menaiki sepeda fixie putih. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah diri gue sendiri. 



Gue masih saja memandangi foto itu. Gue mendadak rindu sama momen itu. Kalau gak salah foto itu diambil sekitar tahun 2014. Zaman gue masih bekerja di Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan, masih berambut pendek, dan tentunya masih rajin CFD-an di hari Minggu—minimal sebulan 2 kali. Sekarang, semuanya tak lagi sama. Kerjaan belum jelas karena gue masih seorang freelancer, rambut gondrong udah kayak preman (meski kalo jadi preman betulan, gue pasti yang malah dipalak karena nggak ada serem-seremnya), dan hampir nggak pernah olahraga atau ikut CFD.

Akhirnya untuk menjawab rasa kangen itu, hal sederhana yang bisa gue lakukan ada dua: 1) cukur rambut; 2) ikut CFD. Sebab, cari kerjaan tetap itu tidaklah mudah. Tetap menganggur itu baru gampang.
Read More
Berita hoax semakin merajalela. Nyokap gue pun menjadi salah satu korbannya. Pada suatu Minggu malam, ketika gue sedang lapar dan menengok meja makan yang ternyata lauknya sudah habis, Nyokap yang sedang duduk di ruang tengah tiba-tiba bilang, “Yog, jangan makan mi goreng sama samyang. Mengandung minyak babi.”

“Kata siapa?” tanya gue sok penasaran.

“Ini barusan Ibu dapet beritanya dari WA.”

“Wah, kebetulan banget Yoga mau makan mi goreng nih.”

Setelah ngomong begitu, gue beneran ke warung untuk beli Indomie Goreng. Iya, gue emang anak durhaka. Nyokap bermaksud nasihatin anaknya, tapi gue cuek gitu aja. Barulah setelah itu gue menjelaskan kepada Nyokap kalau jangan gampang percaya sama berita-berita semacam itu.

Sebetulnya jangan gampang percaya nggak hanya soal berita. Sama temen yang lama gak kontekan, tapi tiba-tiba ngabarin dan ngajak ketemu juga bisa. Sebab, pas ada temen yang kayak gitu, dia menghubungi gue bukan karena kangen. Ternyata malah ngajakin gue ikut MLM, atau nawarin asuransi, atau minjem duit, atau bisa juga kombinasi ketiganya.

Berbicara mengenai rasa tidak percaya ini, gue jadi inget beberapa hari yang lalu sehabis menonton ulang film Captain America: The Winter Soldier (2014). Di awal film, Steve Rogers atau Captain America (Chris Evans) bertugas untuk menyelamatkan para agen SHIELD yang disandera. Namun begitu tugasnya selesai, ia malah melihat Natasha alias Black Widow (Scarlett Johansson) memiliki misi lain, yaitu menyalin data-data SHIELD. Setelah itu, Steve mulai nggak percaya sama apa yang dilakukannya itu. Kenapa ada misi lainnya di balik sebuah misi? Merasa ada yang disembunyikan, maka Steve langsung protes kepada Nick Fury (Samuel L. Jackson) di kantor pusat.
Read More
Lepaskanlah apa yang kaurasa. Jingga menyala warna langitnya. Saat senja, saat senja... memanjakan kita. (Fourtwnty - Diskusi Senja).

sumber: Pixabay

--

Seusai acara Indomie Goreng Kuah, gue merasa males banget untuk langsung balik ke rumah. Ada beberapa pertanyaan yang terus mengganjal di hati selama perjalanan menuju stasiun. Apa iya gue bakal begini terus?

Begini yang gue maksud adalah sebuah keresahan akan pekerjaan yang cuma menjadi seorang pegawai lepas—biasanya disebut freelancer biar terdengar lebih keren. Sore itu, hidup gue rasanya terombang-ambing.

Memikirkan gimana masa depan gue nanti yang nggak ada pemasukan tetap setahunan lebih ini. Sejujurnya, gue udah capek banget nganggur. Gue pikir, freelancer itu sebenarnya sama aja kayak nganggur. Dapat uangnya nggak tentu. Apalagi kalau bayaran dari klien sering telat. Lalu, sekalinya dapat upah yang dibayar mingguan, duitnya entah ke mana. Tau-tau habis dan nggak ada yang bisa disisihkan. Miris sekali kalau setiap gajian selalu numpang lewat gitu. Gue kangen rasanya memiliki tabungan 8 digit angka. Beli ini-itu nggak perlu mikir lagi.
Read More
Kebanyakan orang berpendapat, kalo musik sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Tanpa adanya musik, hidup akan terasa kurang berwarna. Nggak perlu dimungkiri lagi, musik memang menemani kita dalam keadaan apa pun. Baik suka maupun duka.

Di kala terjebak macet, kita biasanya akan mendengarkan musik agar nggak bete sepanjang perjalanan. Lagu-lagu bergenre rock, hardcore dan apa pun itu yang dapat menumbuhkan semangat biasanya akan diputar. Kemudian sewaktu sedang galau misalnya, kita juga akan mendengarkan musik. Lazimnya, kita akan mendengarkan musik sendu. Memasang telinga baik-baik saat mendengarkan nada-nadanya yang minor, lalu meresapi liriknya yang puitis dan melankolis. Bahkan, nggak jarang kita ikutan bernyanyi agar perasaan sedih itu dapat tersalurkan. Mellow abis.

Katanya, sih, lirik itu merupakan bagian yang cukup penting dalam sebuah lagu. Lirik adalah sebuah ekspresi seseorang mengenai suatu hal yang ingin disampaikannya. Celakanya, masih banyak lagu yang memiliki lirik terlalu panjang dan ribet. Sehingga kita malah kesulitan untuk menghafalnya. Padahal lirik yang singkat itu biasanya lebih mudah dimengerti.

sumber gambar asli: pixabay, kemudian gue tambahin teks

Berbicara soal lirik singkat, belakangan ini gue lagi suka dengerin lagu Barasuara – “Hagia”. Alasan gue sering mendengarkan lagu itu karena sebuah keresahan berbau SARA. Sumpah, gue nggak ngerti aja gitu sama orang-orang belakangan ini yang meributkan agama melulu. Nah, lagu “Hagia” ini rasanya telah menjawab kegelisahan gue di setiap ada seorang atau sekelompok yang merasa agamanya paling benar. 

Read More
Akhir-akhir ini, gue lagi keranjingan membaca tulisan sendiri beberapa tahun ke belakang. Saat membacanya, perasaan gue pun otomatis menjadi campur aduk. Kalau baca tulisan 2012-2013, tentu saja bikin ngakak dan jijik sendiri karena tulisannya masih kacau dan membuat gue bergumam, “Ya Allah, ini beneran gue yang nulis?”. Merasa nggak percaya kalau tulisan gue saat ini sudah banyak berubah jika dibandingkan dengan tulisan pada tahun itu.

Lalu, ketika membaca tulisan tahun 2014, gue merasa kalau gaya gue sok-sok motivator yang sangat berusaha memberikan nasihat kepada pembacanya. Mirisnya, pada tahun itu sedikit banget dan jarang yang komen di blog gue. Alias cuma segelintir manusia yang baca. Terus itu gue ngasih nasihat ke siapa dong? Bangkai curut!

Pada tahun 2015, gue mulai terpengaruh dan belajar untuk menulis komedi. Ya, meskipun komedi-komedi di tulisan gue itu kayaknya garing banget. Sekalipun lucu, palingan yang jokes mesum. Sampai-sampai gue malah jadi keterusan untuk memakai cara itu. Gue merasa nggak kreatif sama sekali. Berniat menghibur orang, tapi caranya kok gitu-gitu aja? Menyedihkan.

Barulah pada tahun 2016, terutama setelah mengganti nama domain dan blog menjadi: akbaryoga(com) - Mengunci Ingatan. Gue mulai menulis apa aja yang memang ada di kepala. Yang penting keresahan dan pesan gue dapat tersampaikan. Kalau ada bumbu komedi yang bisa gue selipkan di tulisan itu syukur, nggak ada juga gak jadi masalah. Toh, nggak semua orang butuh tulisan lucu. Bisa aja dia lebih butuh tutorial. Tutorial menulis lucu dengan estetika yang diremehkan, misalnya.

sumber asli: pixabay yang kemudian ditambahin teks olehku
Read More
Selain menulis, gue memiliki beberapa hobi lain. Salah duanya adalah membaca dan kumpul bareng temen-temen. Untuk menjadi seorang penulis, tentu saja gue harus banyak membaca. Kalau malas membaca, nanti tulisan akan begitu-begitu aja. Nggak ada perkembangan. Kemudian, kumpul bersama teman-teman juga sangat menyenangkan. Meskipun kumpul-kumpul itu biasanya identik dengan gibah, tapi ya jangan fokus ke hal seperti itu.

Berkumpul bersama teman-teman masih banyak kok manfaatnya. Kita bisa membahas suatu topik, kemudian mendiskusikannya bersama. Namun, usahakan jangan membahas topik-topik berat seperti politik atau agama yang menimbulkan kericuhan. Karena nggak semua orang dapat berpikiran terbuka. Alangkah baiknya berdiskusi hal-hal yang lebih ringan. Membahas buku, musik, film, dan sejenisnya.

Seperti pada tanggal 1 Februari 2017 kemarin misalnya. Gue mendapatkan undangan untuk hadir di acara Gathering TabloidKu. Pada hari Rabu siang yang hujan deras, gue sudah berada di TransJakarta sedang menuju mal Plaza Indonesia, Jakarta Pusat. Padahal, biasanya gue akan memilih berdiam diri di rumah dan tidur-tiduran kalau memang libur ngantor. Bagi gue, hujan memang lebih asyik untuk tidur. Hehe.

Gue sekarang tidak bisa lagi tidur-tiduran. Ada sebuah gathering yang harus gue datangi. Lagian, udah lama banget rasanya nggak kumpul sama temen-temen seperti ini. Terlalu sibuk sama kerjaan ternyata bikin gue lupa silaturahmi. Oleh karena itu, di sinilah gue sekarang. Tersesat di mal besar seperti ini. Oke, ini memang pertama kalinya gue main ke Plaza Indonesia.

Namun, gue harus kebingungan hanya untuk ke lantai 6. Kenapa eskalator dan liftnya begitu khusus? Untuk ke suatu lantai, ya harus lihat baik-baik nomornya. Karena ketika gue naik lift, ternyata itu mentok hanya di lantai 5. Bukan lantai 6. Mungkin ada 4-5 kali gue bertanya ke security di mana letak XXI yang katanya ada di lantai 6 itu. Setelah kepala agak pusing karena nyasar mulu, akhirnya gue pun bisa berkumpul bersama teman-teman di XXI Plaza Indonesia untuk nonton bareng gala premiere film “Surga yang Tak Dirindukan 2”.
Read More
Criticism may not be agreeable, but it is necessary. It fulfills the same function as pain in the human body. It calls attention to an unhealthy state of things.” – Winston Churchill

--

Buat yang belum tahu, gue bersama teman-teman WIRDY baru saja membuat buku-e. Kalau boleh jujur, gue deg-degan bukan main ketika karya itu dilepas ke umum. Beberapa ketakutan di dalam diri itu juga mengganggu banget. Takut nggak ada yang download; takut cuma diunduh, tapi malah nggak dibaca; dan terakhir, takut dipuji secara berlebihan.

Gue sama sekali nggak takut diberikan kritik ataupun saran. Nggak. Gue justru menyukai itu. Menurut kalian, kita—para bloger—bisa terus menulis dan konsisten sampai sejauh ini karena apa?

Pertanyaan bagus!

Apa karena bisa menghasilkan receh?

Hm, mungkin beberapa orang ada yang begitu, tapi gue nggak. Gue bisa bertahan ngeblog sekitar 4 tahunan ini karena adanya pembaca. Terlebih lagi pembaca yang mengapresiasi tulisan gue. Apalagi para pembaca yang kritis. Mereka memberi tahu tulisan itu di bagian jeleknya, lalu memberikan solusi agar tulisan gue menjadi lebih menarik.
Read More
Sudah berulang kali gue jatuh dari motor atau kecelakaan. Hm, tetapi hal itu tidak membuat gue berhenti mengendarai motor. Mungkin sempat trauma sebentar, tapi begitu merasa baikan, gue pasti akan menaiki motor itu kembali. Sejujurnya, sih, itu terpaksa. Iya, karena gue kalau naik angkutan umum bakalan enek dan pusing. Nggak enak banget, ya, jadi orang yang mabuk kendaraan umum. Dasar lemah!

Namun, gue masih bisa kok naik kereta api dan TransJakarta. Kalo mikrolet, taksi, metromini, dan kopaja gue mending nyerah aja deh. Rasa mual gue susah banget dikendalikan. Kan nggak lucu aja gitu ketika di metromini terus gue “hoek-hoek” dan disangka hamil. Gue nggak pengin mengganggu penumpang yang lain dan membuat mereka merasa jijik. Maka, mau gak mau gue harus tetap mengendarai motor.

***

Beberapa orang sering mengeluh dan malas dengan hari Senin. Begitu pun dengan gue pada hari Senin tanggal 9 Januari 2017. Entah kenapa, hari itu gue pengin tidur aja. Padahal emang habis begadang dan baru tidur sehabis Subuhan. Sedihnya, gue lupa kalau pukul satu siang nanti harus masuk kerja. Yeh, itu mah emang gue aja yang bego. Hahaha.

Sekitar pukul 11, gue tiba-tiba kebangun dari tidur yang seolah-olah begitu singkat. Padahal udah tidur sekitar 5 jam. Entah kenapa kalau tidur pagi itu rasanya kayak nggak berasa tidur, ya? Karena masih ngantuk, gue pun memilih tidur lagi. Ah, azan Zuhur juga belum. Tidur satu jam lagi bisa ini mah, batin gue sambil memejamkan mata kembali.

Celakanya, gue kebangun pukul 12.45. Bangkai. Gue langsung lari ke kamar mandi, kemudian mandi secepatnya. Cuma, ya tetep aja nggak mungkin pukul 13.00 gue udah sampai kantor. Secepat-cepatnya palingan sekitar 13.30. Itu juga kalau nggak macet.

Inilah di saat gue merasa apes (yang artinya sial, bukan apes yang film monyet itu). Iya, karena langit tiba-tiba meneteskan air matanya. Gue yang sedang terburu-buru ini pun terpaksa menepi dan memakai jas hujan. Tapi biar bagaimanapun, gue cukup bersyukur atas hujan ini. Siang ini, lalu lintas di Jalan Gatot Subroto yang biasanya macet mendadak lancar. Gue pun melirik jam tangan di tangan kanan. Jam menunjukkan pukul 13.22. Belum telat-telat amat, pikir gue.

Read More
Solo yang berarti adalah seorang diri. Kalau duet baru berdua. Terus kalau bertiga adalah... yak, betul Trio Kwek-Kwek (tadinya malah mau ngetik threesome, tapi demi sebuah janji untuk mengurangi kemesuman di 2017, maka rule of three ini gagal). Halah! Namun, bukan itu intinya. Karena yang gue maksud di judul adalah jalan-jalan ke Surakarta (lebih dikenal dengan nama Solo) itu nggak harus sendirian. Sebab, gue pergi ke sana bersama beberapa teman grup Werewolf Telegram. Yoih!

Pertama, ada Nur Jannah—lebih dikenal dengan nama Jaimbum—yang berangkat dari Malang. Lalu, ada kami berlima; Haris, Bena, Mia, Tiwi, dan gue sendiri yang janjian kumpul di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat.




Di Sabtu sore yang cerah itu, tepatnya tanggal 19 November 2016, kereta yang akan kami naiki ini ternyata datangnya agak telat. Seharusnya keberangkatan pukul 16.00, tapi 12 menit sebelum pukul 17.00 kami berlima baru bisa duduk di gerbong. Ini PT. KAI nggak tahu apa kalau gue udah nunggu dari pukul 14.00? Mereka juga nggak tau apa kalau seorang Haris Firmansyah, seorang penulis kondang yang menerbitkan novel “3 Koplak Mengejar Cinta”, rela berangkat lebih awal dan jauh-jauh dari Cilegon? Lalu, begitu sampai di stasiun malah dibuat menunggu kereta yang terlambat? Parah! Keterlaluan banget.

Namun, kami cuma bisa bersabar. Tiket yang kami beli ini hanyalah kelas ekonomi. Lagian, ini Indonesia, Brother! Kalau nggak telat mah nggak asyik. Ngaret itu udah menjadi budaya.
Read More


Menurut gue, mengulas itu nggak segampang mengeles. Um, maksud gue bukan ngeles yang pelajaran tambahan gitu, ya. Bukan. Tapi, ngeles yang menghindar dari kesalahan. Gue nggak ngerti, sih, sama orang yang udah jelas-jelas salah, eh tetep aja ngeles dan gak mau mengakui kesalahannya. Apa susahnya, sih? Ngaku salah itu keren, kok! Ya, daripada merasa dirinya paling benar.

Halah. Pembukaan macam apa ini? Gak nyambung banget asli sama isinya.

Oke, sesuai janji kalau gue bakalan mengumumkan pemenang give away ibu di tanggal 10 Januari 2017. Gue berusaha menepatinya. Ya, walaupun telat sedikit dan udah mepet banget tengah malem. Namun, sebelum mengumumkannya, gue mencoba untuk mengulas kisah ibu para temen-temen yang udah ikutan GA ini.

***
Read More
Bertabur buih air mata yang terluka. 
Belati itu belati tebar pedih tebar perih. 
Berbunga-bunga ketika lihatmu ada. 
Menari-nari merintih redam sedih redam sedih. 

sumber: pixabay

*** 

Bulan Desember kemarin, gue sempat mengadakan give away tentang ibu. Anehnya, sampai tanggal 29 Desember 2016 belum ada satu pun yang berpartisipasi. Padahal deadline tanggal 31 Desember 2016. Tinggal dua hari lagi. Kan kacau!

Sepi amat ini dah nggak ada yang mau ikut. Kenapa, sih? Terlalu kecepetan dan gak sempet nulis? Apa lagi pada sibuk mempersiapkan tahun baruan?

Setelah mendengarkan saran dari beberapa teman untuk memperpanjang batas waktunya. Ya udah, akhirnya gue pun mengubahnya menjadi tanggal 6 Januari 2017. Eh, pas tanggal 30 dan 31 baru deh beberapa orang mulai pada ngasih tautan tulisan mereka ke gue. Parah! Kini, deadline itu udah berakhir, maka gue mulai mendata siapa aja yang ikut meramaikan. Setelah dihitung-hitung, ternyata lumayan banyak yang ikutan GA gue. Ehehe. Sungguh, ini di luar ekspektasi gue. Makasih banget ya buat kalian.
Read More
Bagiku, malam tahun baru kali ini terasa sama saja seperti malam-malam yang lain, kecuali malam lailatul qadar. Tentu saja karena malam itu malam yang terbaik dari 1.000 bulan. Malam tahun baru ini, aku tidak pergi ke mana-mana. Masih berbaring di kasur seraya memandangi langit-langit kamar. Berbeda sekali dengan tahun-tahun sebelumnya.

Aku pun mencoba mengenang jauh ke belakang.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika masih berusia 11 tahun, aku merasa semangat sekali merayakan tahun baru. Seusai salat Isya, aku langsung duduk anteng di depan televisi karena banyak acara TV yang menarik. Padahal, biasanya aku akan bermain bersama teman-teman sebaya.

Namun, kali itu tidak. Meskipun teman-teman berusaha mengajakku bermain, tapi aku tetap memilih menyaksikan acara TV sambil menunggu tanggal 1 Januari. Bahkan, kalau aku tidak salah ingat, saat itu beberapa stasiun televisi juga menampilkan band-band favoritku di masa itu: Peterpan, Iwan Fals, Slank, Nidji, dan lainnya. Aku merasa sangat nyaman menunggu tahun baru dengan cara seperti itu daripada bermain bersama teman-temanku.

Lucunya, rasa kantuk malah mengalahkanku. Begitu membuka mata, jam sudah menunjukkan pukul 05.00. Tanda hari sudah berganti. Ya, aku ketiduran. Karena saat itu kira-kira aku masih duduk di kelas 6 SD yang terbiasa tidur pukul sembilan malam. Aku rupanya telah gagal untuk menikmati detik-detik pergantian tahun.

Begitu masuk SMP, aku memiliki cara lain untuk menikmati tahun baru. Berdiam diri di rumah sambil menonton TV tidak lagi menarik buatku. Aku bersama teman-teman menikmati malam tahun baru dengan konvoi menyewa metromini atau kopaja. Seru sekali rasanya keliling Jakarta ramai-ramai naik metromini atau kopaja. Apalagi ada beberapa temanku yang sampai duduk di atapnya. Mereka tidak peduli lagi akan bahaya. Hanya kesenangan atau kebahagiaan yang ada di pikiran mereka. Sayang sekali, dulu aku terlalu cemen untuk seperti mereka.

Memasuki tingkat SMA, aku tidak lagi bersama teman-temanku. Aku malam tahun baruan bersama pacar. Naik motor berduaan ke beberapa daerah di Jakarta sampai bensin tiris. Kami berdua mengobrol tentang masa depan selama di motor. Kemudian di tengah-tengah perjalanan, aku melihat beberapa pasangan yang berhenti di trotoar fly over. Aku membatin, Cih. Norak banget mereka pacaran di fly over.

“Eh, sebentar lagi udah mau jam 12 nih. Berhenti kayak mereka aja, yuk!” ajak si pacar tiba-tiba.

“Seriusan?” tanyaku.

“Iya.”

Ini pacar ngapa ketularan alay, sih?

Daripada dia ngambek, mau nggak mau aku pun ikutan berkumpul dan melihat ledakan warna-warni kembang api di langit bersama mereka.

sumber: Pixabay

Ternyata diriku juga ikutan alay. Jijik sekali rasanya mengingat itu. Aku telah menjilat ludah sendiri.

Barulah saat kuliah aku kembali kumpul bersama teman-teman. Merayakan tahun baru dengan main PES (Pro Evolution Soccer) dan bakar-bakar. Membakar sosis, ikan, ayam, dan jagung. Begitulah caraku membakar waktu. Saat itu, aku tidak lagi bersama pacar. Karena dia telah selingkuh. Selingkuh dua kali pula. Iya, itu semua karena bisa-bisanya aku diajak balikan sama mantan yang telah berkhianat. Mudah sekali aku percaya dengan janji manisnya. Bangsat emang!

Ups, maaf emosi.

Skip aja skip.

Lalu, pada pergantian tahun 2013 menuju 2014, aku merayakan tahun baru dengan bermain poker bersama beberapa teman kantor di gerbong kereta. Yoi, kala itu aku sedang berada di perjalanan menuju Yogyakarta. Inilah momen pertama dalam hidupku, bisa malam tahun baruan di kereta.


***

Setelah mengingat beberapa peristiwa di masa lalu itu, aku masih tetap tidur-tiduran di kasur. Malas sekali rasanya beranjak dari kamar yang terasa gerah ini. Lalu, kucoba mendinginkan suhu ruangan dengan menyalakan kipas angin di tombol nomor dua.

Sejujurnya, malam ini aku benar-benar bingung mau ke mana. Aku merasa hampa sekali. Aku mendadak nggak ngerti lagi sama diriku saat ini. Semuanya terasa aneh. Kalau dipikir-pikir, di tahun 2016 banyak sekali masalah. Titik terendah selama hidupku sepertinya juga jatuh pada tahun ini. Kalau nggak salah sekitar bulan Mei sampai Juli. Terlihat jelas dari tidak adanya tulisan di blog pada bulan itu. Aku lupa betapa pentingnya menumpahkan isi kepala ke dalam tulisan. Padahal, menulis adalah terapi untuk kesehatan jiwa. Sedangkan, di kala itu jiwaku penuh dengan benci dan penyesalan.

Aku merenungi buruknya masa lalu: tahun 2012 saat pertama kali diselingkuhi pacar; lalu tahun 2013 ketika adikku meninggal; setelah itu tahun 2014 dikhianatin sama pacar (btw, ini orang yang berbeda dengan tahun 2012), dan akhirnya memilih resign dari kantor karena berbagai alasan; dan juga tahun 2015 saat melawan penyesalan telah resign karena orangtua yang terus-terusan mengungkit hal itu, apalagi aku merasa nggak siap sama krisis keuangan. Namun, kalau dipikirkan kembali, ternyata itu semua gak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tahun 2016.

Tahun inilah aku mengalami depresi berkepanjangan. Bodohnya lagi, aku salah memilih bacaan. Aku membaca buku Norwegian Wood (Haruki Murakami). Setelah membaca buku itu, hidupku semakin gak keruan. Hidup semakin kosong. Nggak tau lagi harus melakukan apa pun selain menyesalkan pilihan-pilihan yang menurutku salah. Entahlah kalau mengingat masa-masa itu rasanya hidupku buruk sekali, ataukah itu masih pantas disebut mendingan?

Memang, sih, aku berhasil bangkit dari keterpurukan. Namun, terkadang aku mengibaratkan diriku di saat itu sebagai orang gak berguna. Kalau saja sampai saat ini aku gagal menerima diri dan berdamai dengan kenyataan, aku pasti sudah menjadi sampah yang bau sekali dan membusuk.

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, malam ini memang benar-benar hampa. Gak ada jagung, sosis, ikan, atau ayam bakar yang bisa kusantap. Nggak ada minuman bersoda yang bisa kuteguk untuk sebuah perayaan. Tidak ada teman yang mengajakku keluar. Nggak ada kekasih yang menemani di sisi, sebab kami lagi LDR-an. Nggak ada acara televisi yang bisa kunikmati lagi, sebab aku memang sudah hampir gak pernah menonton televisi. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Yang ada di malam tahun baru ini hanyalah perenungan. Aku mencoba bermuhasabah. Apa yang harus kucapai pada tahun 2017? Apa saja yang harus kubenahi setelah melihat banyak kegagalan di tahun ini?

Apakah aku bisa mengurangi begadang? Apakah aku mulai bisa menghargai waktu? Me-manage waktu dengan baik dan tidak lagi menunda-nunda segala sesuatu? Bisakah perasaan yang menyesakkan rongga dadaku akhir-akhir ini hilang? Ketika aku ingin menangisi hidup, kenapa rasanya sulit sekali? Apa air mataku telah habis? Apa aku sudah gak perlu lagi merasa lemah akan kehidupan yang memang sengaja dirancang keras ini?

Sumpah, aku tak mengerti. Aku hanya berharap malam ini segera berlalu. Aku lelah. Aku ingin tidur. Aku ingin besok kembali segar dan dapat terbangun dengan kobaran api semangat yang takkan pernah padam.

Melihat jam yang masih menunjukkan pukul 23.05, aku berusaha menikmati malam tahun baru ini dengan membuka Youtube. Aku mengetikkan “Rusa Militan – Black Sun”, lalu kuputar videonya. Hmm, tapi aku hanya mendengarkan musiknya tanpa menonton video itu. Aku memejamkan mata. Di dalam gelap itu, aku justru melihat sebuah jalan yang terang. Tentang banyaknya impian yang ingin kuwujudkan. Kupikir, tahun depan masih bisa melakukan banyak hal. Aku dapat memperbaikinya. Harapan akan selalu ada. Hope is never lost. Lalu, aku mencoba membuka mata. Sambil menikmati alunan musik itu, aku mencoba menuliskan segala keresahanku ini.

Selamat tinggal, 2016. Terima kasih atas segalanya. :)

PS: Maaf, tulisan ini tidak ada kolom komentarnya. Kenapa? Pikirkan sendiri! Ehehe. Bercanda, kok. Aku cuma ingin menulis tanpa perlu dikomentari. Sekali lagi, maaf untuk keputusan ini. Ukhuk.

Diketik pada 31 Desember 2016, di kamarku tercinta dengan lampu yang sengaja kupadamkan.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home