Ada beberapa film Thailand yang gue suka tonton ulang dan telah menjadi favorit; di antaranya: Crazy Little Thing Called Love, Hello Stranger, May Nai Fai Rang Frer (May Who), The Billionaire, The Teacher’s Diary, dan lain-lain.

Nah, selain film-filmnya yang membuat gue terpikat, negeri Gajah Putih ini ternyata memang tak pernah kehilangan pesonanya. Daya tarik lain dari Thailand adalah pulau-pulau yang cantik dan tentunya memesona. Tempat wisata di Thailand ini bahkan beberapa di antaranya telah mendunia. Menurut gue, Thailand ini sangat tepat untuk menjadi destinasi wisata kamu (terutama para traveler) selanjutnya. Gue pun kalau punya banyak uang, rasanya pengin berlibur ke sana. Dan, berikut ini ialah beberapa pulau terbaik di Thailand yang cocok untuk dikunjungi dan mungkin juga cocok untuk kamu berelaksasi dan mengeksplorasi.


1. Koh Lanta

Koh Lanta (pixabay.com)

Merupakan kepulauan yang berlokasi di Provinsi Krabi. Koh Lan Yai atau Koh Lanta adalah pulau terbesar dalam gugusan pulau tersebut. Kamu yang begitu menyukai snorkelling atau diving, kiranya kawasan ini sangat cocok. Sebab, kamu akan menemukan gugusan koral yang masih alami, dan yang paling menarik adalah adanya paus dan pari manta yang akan menemanimu menyelam.

2. Koh Lipe

Koh Lipe dihuni oleh Gipsi Laut, atau sering juga disebut manusia perahu. Para Gipsy Laut ini hidup secara nomaden dan tinggal di atas perahu. Saat musim hujan tiba, mereka sering menepi di pulau-pulau sekitar Laut Andaman, dan Pulau Koh Lipe merupakan salah satunya. 

Koh Lipe berlokasi di Kepulauan Adang-Rawi bagian barat daya Thailand. Saking kecilnya pulau ini, kamu bisa mengelilingi pulau ini hanya dalam waktu satu jam. Namun jangan salah, di sini sudah ada penginapan yang nyaman lengkap dengan AC. Jadi, kamu gak perlu khawatir kepanasan, ya. Yuhu!

Read More
Kehilangan sesuatu yang berharga itu identik dengan sebuah penyesalan. Kau mungkin bosan mendengar kalimat seperti itu, tapi begitulah adanya. Sehabis kehilangan, kita biasanya akan merenungi sesuatu itu saat masih ada. Mengapa kita tidak bisa menjaga ataupun merawatnya dengan baik?  Namun, kehilangan sesuatu yang berharga tidak melulu tentang seseorang. Kehilangan bisa soal benda, ingatan, atau keperjakaan.

Seperti apa yang sedang dialami oleh Yoga saat ini. Dari beberapa hal di atas, Yoga baru saja mengalami kehilangan. Mungkin kau akan menebak kalau ia kehilangan keperjakaan, tapi sayangnya bukan itu. Ia kehilangan sebuah benda. Benda itu bukan ponsel canggih yang harganya mahal, ataupun dompet—berisi uang dan kartu-kartu penting. Benda itu cuma sebuah bloknot. Sebuah buku catatan yang telah menemaninya selama beberapa tahun. Bloknot itu ia beli sekitar 3 tahunan yang lalu dan sekarang tentu saja sudah banyak berisi tulisan. Buku sejenis itu memang masih dapat ia beli di pasar atau toko. Tapi isi di dalamnya adalah harta karun yang paling berharga baginya. Yang tidak mungkin bisa ia beli di mana pun.

Sejelek apa pun tulisan tangannya maupun apa yang telah tertulis di bloknot itu, Yoga tetap menghargainya. Isi buku itu ialah rekam jejak dalam hidupnya yang sangat berarti. Ia tidak rela kalau sampai ada yang menemukannya dan membacanya tanpa izin. Lebih-lebih kalau buku itu dibuang, bukan dikembalikan. Apalagi kalau sampai dijadikan bungkus gorengan.

Awalnya, ia tidak tau bloknotnya itu hilang. Kala sedang ingin melanjutkan sebuah cerpen, yang draf awalnya sudah sempat tertulis beberapa paragraf di buku catatannya, barulah ia sadar kalau bloknot itu tidak ada di dalam tasnya. Kini, Yoga jadi kebingungan dan stres sendiri. Ia sudah membongkar tasnya lebih dari sekali, tetapi bloknot itu tetap tidak ditemukan. Ia pun telah mencari-cari di seluruh isi kamarnya; rak buku, lemari, dan kolong tempat tidur. Namun, bloknot itu belum juga ia dapatkan. Bloknot itu lenyap seolah ingin mempermainkannya.



Anjing! umpatnya dalam hati.

Seingatnya, hari ini ia tidak mengeluarkan apa-apa dari dalam tas. Kalaupun tadi ia sempat keluarkan, pasti akan dimasukkan kembali begitu rampung menulis atau mencatat suatu ide. Setelah yakin kalau hari ini ia tidak membuka-buka tasnya, ia mulai mengingat hari kemarin.

Read More
Seperti Pulau Dewata Bali, Pulau Lombok juga kaya akan wisata alamnya. Meskipun didominasi oleh pantai, setiap pantai menawarkan panorama alam yang unik dan berbeda. Seperti 7 tempat wisata berikut yang pasti akan membuat liburan kamu di Lombok semakin tak terlupakan.

1. Gili Sudak

Kawasan Lombok paling terkenal dengan destinasi Gili Trawangan atau Gili Meno. Bagi yang sudah sering ke Lombok, menikmati keindahan alamnya pasti terasa biasa. Kamu perlu mendapatkan pengalaman baru yang menakjubkan di Gili Sudak. Bagaikan pulau milik pribadi, Gili Sudak masih belum banyak dikunjungi para wisatawan. Pantainya berpasir putih, dengan air laut yang tenang dan jernih. Selain itu, Gili Sudak juga menawarkan pemandangan bawah laut yang memukau, cocok nih bagi kamu yang gemar menyelam.


2. Gunung Rinjani


(sumber gambar: trekkingrinjani.com)

Mendaki gunung api tertinggi kedua di Indonesia pasti akan memberikan pengalaman seru tak terlupakan. Dengan ketinggian 3.726 mdpl, Gunung Rinjani menjadi salah satu gunung favorit para pendaki karena memiliki pemandangan alam yang sangat mengagumkan. Dari puncaknya, kamu bisa melihat indahnya danau kawah Segara Anak.


3. Pantai Senggigi

Kabarnya, Pantai Senggigi disebut sebagai surganya pariwisata oleh para wisatawan. Sebab, pantai ini memiliki air yang sangat jernih dan bermacam biota laut yang cantik. Di dekatnya, terdapat dua destinasi wisata lainnya, yaitu Batu Bolong dan Batu Layar. Pantai Senggigi biasanya digunakan sebagai lokasi transit wisatawan sebelum menuju ke Trio Gili. Tak heran ada banyak hotel murah di Lombok di sekitar destinasi ini.
Read More
Catatan 6 Juni 2017. Puisi ini diambil dari bloknot milik Hehe Darmansyah.

--


Bukan Fiksi


Kau tak pernah gengsi saat memulai komunikasi.
Itukah caramu agar kita dapat berinteraksi?
Bagiku, kau adalah puisi. Terhitung sudah banyak frekuensi.
Dan kuyakin, kita bukan fiksi. Karena waktu telah menjadi saksi.
(2015)


Read More
“Nggak terasa Lebaran tinggal 29 hari lagi.”

Lelucon kuno semacam itu ternyata masih gue temuin di Twitter ataupun status Facebook pada saat puasa hari pertama. Ya, waktu itu memang relatif. Kadang terasa begitu lama, kadang juga cepet banget. Seperti sekarang misalnya, perasaan kemarin gue baru baca kalimat soal Lebaran itu kala awal Ramadan. Eh, hari ini telah memasuki puasa minggu kedua. Anjir, beneran nggak terasa, ya. Gue jadi pengin ikutan bikin status, nggak terasa Lebaran tinggal.... Halah!

Masjid di deket rumah yang tadinya penuh banget, bahkan sampai ke halaman dan jalanan. Pada minggu kedua ini sudah mulai berkurang. Gimana nanti, ya pas minggu ketiga dan terakhir? Biasanya masjid akan semakin sepi. Terutama ibu-ibu yang sibuk membikin kue ataupun belanja baju Lebaran. Bukannya gue bermaksud menggeneralisasi kaum perempuan. Gue bisa bilang begitu, sebab nyokap gue adalah contoh yang nyata. Tadi sepulang salat Tarawih, beliau tiba-tiba masuk ke kamar gue dan bertanya, “Kamu mau nitip baju Lebaran nggak, Yog? Besok Ibu kayaknya mau ke Tanah Abang.”

Ya, Allah... ini masih minggu kedua, beliau udah repot mikirin baju Lebaran. Akhirnya, gue pun iseng meledek kenapa buru-buru amat mau Lebaran. Beliau kemudian menjelaskan kepada gue kalau nanti-nanti takut pasarnya bertambah ramai dan padat. Gue pun hanya mendengarkan sambil manggut-manggut. 

“Ya udah, terus kamu jadinya mau nitip nggak nih?”

“Nggak usah deh, Bu.”

Setelah gue jawab begitu, Nyokap keluar kamar.

***

Sehabis berbicara tentang baju Lebaran, entah kenapa gue jadi melamunkan hal itu. Sebetulnya gue masih bingung, kenapa harus disebut sebagai baju Lebaran, sih?

Karena begitu penasaran, gue pun berselancar di internet dan menemukan sedikit informasi. Jadi, di dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, tulisan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, dijelaskan kalau tradisi memakai baju baru ketika Lebaran sudah turun-temurun sejak tahun 1596. Ketika menyambut Hari Raya, mayoritas penduduk Kerajaan Banten sibuk menyiapkan baju baru. Nah, maka baju baru yang dipakai saat Idulfitri itu akhirnya dinamakan baju Lebaran.

Namun, pada masa itu baju Lebarannya ialah hasil menjahit sendiri. Masih jarang masyarakat yang membeli. Sangat berbeda sekali dengan gue yang dari kecil sudah terbiasa membeli baju Lebaran. Lebih tepatnya, tradisi keluarga gue memang beli bajunya cuma pas Hari Raya Idulfitri. Gue pun semakin tenggelam dan mengenang jauh ke masa silam.

Read More
“Aku suka BDSM: beribadah, dakwah, salat, mengaji; apalagi ketika bulan puasa.”

Kalimat itu adalah twit milik Agus Purnomo—salah satu teman sekelasku sewaktu kuliah dulu. Kubaca twit itu berulang-ulang kali. Sampai pengulangan yang kelima, aku berhenti membaca dan berpikir, apa arti sebenarnya dari BDSM?

Aku dulu sempat mendengar singkatan itu, tapi karena merasa tidak berfaedah, aku melupakannya begitu saja. Sebelum mencari tahu arti BDSM, aku mengontak Salsabila dan Canda Winarto di WhatsApp. Aku menanyakan mereka sudah sampai mana, sebab aku mulai jengah menunggu di kafe seorang diri seperti ini. Syukurnya, kafe ini menyetel musik Maher Zain yang cukup menenangkan hati.

O iya, mereka berdua juga merupakan teman kuliahku, sama seperti Agus. Rencananya kami bertiga akan reunian dan janjian di Kalisbeng Cafe untuk buka puasa bersama. Momen seperti bulan Ramadan ini memang cocok untuk silaturahmi dengan teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa.

Aku sebenarnya sudah hafal kebiasaan mereka yang sering telat kalau setiap janjian. Kami janjian pukul 16.00, tapi sudah 20 menit berlalu, mereka belum nongol juga. Kadang aku pun jadi sebal sendiri dengan diriku yang terbiasa datang tepat waktu. Karena tidak memiliki games apa pun di ponsel, maka kala sedang bosan begini, hiburanku satu-satunya adalah Twitter.

Sayangnya, sejak ada fitur “In case you missed it”, timeline mulai jadi menyebalkan. Aku merasa tidak butuh-butuh amat fitur seperti itu. Aku tidak begitu peduli soal twit-twit yang terlewat olehku. Termasuk twit Agus 22 jam lalu tentang BDSM itu, yang bisa-bisanya terbaca olehku.

Karena sudah telanjur membaca twit itu dan penasaran soal BDSM, aku pun segera mencari tahu artinya di mesin pencarian. Kuketik “arti BDSM”, lalu muncul hasil Wikipedia bahasa Indonesia di paling atas. Aku segera mengekliknya.

Sial! Ternyata arti BDSM itu mengandung unsur pornografi. Syukur saja aku tidak sampai membuka Google Image. Bisa-bisa pahala puasaku berkurang, atau mungkin malah batal. Aku jadi bingung, kenapa beberapa orang suka banget melesetin istilah mesum seperti itu? Ah, tapi kalau Agus mah memang mesum dan norak!

Merasa jengkel setelah mengetahui tentang BDSM, aku menutup web itu dan menaruh ponselku ke meja. Seketika itu, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku.

“Udah lama, Heh? Sorry, macet banget tadi.”

Tanpa menoleh, aku sudah mengenali suara itu. Suara milik Canda. Ia pun memilih duduk di hadapanku.

“Taik, ah! Ngaret mulu.”

Ia hanya menyengir mendengar keluhanku. Penampilan Canda tidak banyak berubah. Ia masih berambut gondrong sebahu seperti terakhir kali kami berjumpa pada saat wisuda, sekitar 8 bulan yang lalu. Katanya, sih, ia pengin berambut gondrong biar kayak seniman. Padahal sebutan gembel lebih pantas untuknya.
Read More
Setiap bloger biasanya akan bingung kalau ditanya, “Apa momen terbaikmu kala ngeblog?”

sumber: Pixabay (kemudian diedit sesuai kebutuhan)

Gue sendiri masih bingung dan merenungkan apa momen terbaik itu. Biasanya para bloger akan menjawab tentang pencapaian-pencapaian mereka selama ngeblog. Baik itu blognya yang dibukukan penerbit mayor, menang lomba ngeblog berhadiah uang atau produk senilai jutaan, atau bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis. Sedangkan, gue sendiri nggak pernah mendapatkan semua itu.

Tulisan di blog gue nggak pernah dijadikan buku. Belum ada penerbit yang nawarin, sih. Halah. Lagian, tulisan di blog ini, kan, kebanyakan curhatan nggak jelas. Parahnya lagi banyak yang menyerempet ke hal-hal pornografi. Jadi, menerbitkan buku dari blog itu belumlah bisa tercapai.

Lalu ketika mengikuti lomba blog, gue seperti terbiasa dengan yang namanya kekalahan. Gue sudah berusaha menulis dengan maksimal, tapi tetap saja berbuah sia-sia. Syukurnya, gue nggak pernah kenal lelah ataupun menyerah. Hingga akhirnya, pada suatu hari gue sempat merasakan juara kedua ketika mengulas karya Haris Firmansyah. Meskipun itu hanya sebatas give away atau kuis kecil-kecilan dari temen bloger, setidaknya gue bisa dikatakan menjadi pemenang. Atau mungkin jatah menang gue memang baru sampai level give away, bukan untuk lomba besar berhadiah jutaan.

Kemudian, soal traveling gratis ke luar negeri apalagi. Gue belum pernah melangkahkan kaki untuk keluar dari Pulau Jawa ini. Kayaknya diundang jalan-jalan gratis juga masih sebatas area Jabodetabek deh. Gue masih cemen untuk mencapai hal itu. Haha.

Terus apa dong pencapaian gue, ya? Sebenarnya kalau berbicara soal pencapaian gue saat ngeblog, itu mah banyak banget. Pertama kali mendapatkan job review, bagi gue itu termasuk pencapaian. Ada tulisan yang muncul di halaman pertama Google, itu juga sebuah pencapaian. Bisa punya grup kecil—bernama WIRDY—untuk berbagi tentang ngeblog atau kepenulisan (bahkan biasanya juga berbagi suka maupun duka), dan ternyata kami juga bisa membuat e-book, itu pun merupakan pencapaian. Terus gue juga pernah mendapatkan pacar dari blog... eh, apakah hal itu bisa disebut pencapaian? MUAHAHA YEKALI WOY!

Namun, itu semua bukanlah momen terbaik saat ngeblog. Momen terbaik gue ngeblog justru awalnya terjadi pada saat blog gue nggak ada tulisan baru lagi. Hmm, jadi waktu itu gue sempat vakum ngeblog sekitar 3 bulanan. Kala itu, gue banyak banget mengalami masalah dalam hidup. Gue entah kenapa bisa berpikir kalau penderitaan dalam hidup itu seolah-olah nggak ada habisnya. Yang bodohnya lagi, semangat hidup mulai meredup, hilang arah dan tujuan, dan pupus harapan.

Read More
Khawatir

“Jangan khawatir. Semua akan berjalan lancar,” kata petugas eksekusi.
“Justru itu yang kukhawatirkan,” balas si terpidana mati.

–Orlando van Bredam (Argentina)



--

Cerita sangat pendek barusan adalah salah satu cerita yang gue ambil dari buku Matinya Burung-Burung yang disusun dan diterjemahkan oleh Ronny Agustinus. Buku itu berisi kumpulan cerita sangat pendek Amerika Latin. Cerita-cerita semacam itu kemudian mengingatkan gue akan sebuah cerita sangat pendek lainnya yang hanya berjumlah enam kata, karya Ernest Hemingway.

“For sale: baby shoes. Never worn.” 

Entahlah cerita semacam itu termasuk dalam genre apa. Belakangan diketahui, cerita semacam ini sudah ada sejak abad ke-17, dan baru mulai tenar sejak awal abad ke-20. Kalau di luar negeri, cerita sangat pendek ini memiliki beberapa sebutan: ada yang menyebutnya flash fiction (fiksi kilat); cerita telapak tangan (karena ceritanya memang muat jika dituliskan di telapak tangan); cerita kartu pos; dan lain-lain.

Lalu, di Indonesia sendiri biasa disebut fiksi mini. Ternyata, di Indonesia memang sudah ramai cerita pendek sejenis itu. Misalnya komunitas Fiksimini di Twitter, yang mana biasa membuat cerita dengan menggunakan batasan 140 karakter. Ada juga bloger yang telah menerbitkan kumpulan cerita 100 kata.
Read More
Jangan memandang petani sebelah mata, tapi bukalah mata hati kita dan buat para petani itu menjadi melek keuangan. Stop complaining, and do something!

--

Selain memperingati Hari Buku Nasional, kemarin Rabu pada tanggal 17 Mei 2017, gue juga berkesempatan untuk meliput Workshop Nasional Inklusi Keuangan bertajuk “Road to a Financially Literate Generation”. Acara ini diselenggarakan oleh Citi Indonesia dan Mercy Corps Indonesia di Hotel Aston Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Dalam workshop ini, turut menghadirkan Ibu Jennifer Bielman (perwakilan Mercy Corps Indonesia), Ibu Elvera N. Makki (Country Head of Corporate Affairs for Citibank Indonesia), serta Bapak Eko Ariantoro (Direktur Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan).


Sejujurnya, gue bahagia karena bisa menjadi salah satu tamu dalam workshop ini. Sebab, workshop ini berisi tentang kegiatan yang mendukung para petani dan pengusaha mikro kecil. Sebagai orang Jakarta yang udah lama nggak pulang ke kampung halamannya, gue entah kenapa merasa rindu melihat para petani mencangkul di sawah, lalu menanam padi, kerbau yang membantu para petani itu, dan lain-lain. Boleh dibilang, workshop ini semacam mengobati rasa kangen gue akan suasana perdesaan.



Di acara ini, Citi Indonesia melalui wadah kegiatan kemasyarakatannya, Citi Peka (Peduli dan Berkarya), bekerja sama dengan Mercy Corps Indonesia menyelesaikan program Financial Education and Empowerment goes Digital and Mobile (FEED Mobile) kepada petani dan pengusaha mikro kecil di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Yang mungkin jadi pertanyaannya adalah, mengapa Indramayu?

Sebab, Kabupaten Indramayu adalah salah satu wilayah yang merupakan daerah sentra pertanian. Pertanian merupakan sektor usaha utama berdasarkan persentase jumlah penduduk, yaitu 8,8%. Lalu, Indramayu juga merupakan kabupaten terbesar di Jawa Barat yang mana telah menyumbang sekitar 43 % dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Jadi menurut gue, Kabupaten Indramayu ini adalah sasaran yang sungguh tepat.

O iya, sebelumnya, FEED Mobile ialah kegiatan pelatihan pendidikan keuangan dan pengembangan usaha bagi petani dan pelaku usaha mikro kecil dengan menggunakan metode pelatihan tatap muka dan kanal digital. Adapun aplikasi digitalnya, yaitu: Peduli Keuangan (PEKA) Android dan Peduli Keuangan (PEKA) SMS. Aplikasi ini berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi, artikel, tips, anjuran pengelolaan keuangan dan pengembangan usaha, serta sarana interaksi antar pengguna.

Program FEED Mobile ini ternyata telah berhasil menjangkau 12.950 penerima manfaat, di mana 3.477 total penerimanya yang telah dilatih dalam literasi keuangan dan pengembangan usaha dapat mengakses tabungan atau produk keuangan yang sesuai kebutuhan mereka.

Setelah menghadiri acara tersebut, gue pun menjadi merenung dan berpikir tentang petani. Ketika tinggal di perkotaan, kenapa peran para petani itu seolah terlupakan begitu saja? Saat lapar, gue (boleh juga kita, kalau ada yang ikut merasa) hanya mengingat untuk makan. Namun, cuek soal makanan itu berasal dari mana. Mungkin kalau di sini, kita membeli nasi matang di salah satu tempat makan, atau membeli beras di warung. Sayangnya, lupa akan proses para petani yang menanam padi itu.

Read More
Ini pertama kalinya kau masuk ke kamarku. Pada suatu sore yang gerimis, kala orang tuaku tidak di rumah, dan kebetulan hanya ada aku sendirian. Momen yang memang sudah kutunggu sejak lama.



Tak perlu berlama-lama, aku segera mengajakmu ke kasur dan membuka bajumu. Setelah itu, kuciumi tubuhmu dari atas hingga ke bawah. Entah parfum apa yang kaupakai hari ini. Kuhirup aromanya dalam-dalam, hingga aku memejamkan mata. Diriku seperti berada di surga. Wanginya begitu khas. Aku jadi penasaran.
Read More
Selain di rumah—yang sudah tentu nyaman, gue terkadang juga suka menulis atau membaca di kafe dan restoran cepat saji. Menurut gue, kalau di kafe itu ada saja hal-hal yang bisa dijadikan inspirasi untuk menulis. Baik itu karena suasananya yang baru, melihat suatu kejadian yang gak biasa, atau nggak sengaja menguping percakapan orang-orang yang topiknya sungguh random.

Kami tau engkau bosan dijejali rasa yang sama. Kami adalah kamu... muda, beda, dan berbahaya. 

Lagu Superman is Dead—yang biasa disingkat SID—sedang terputar mewarnai kafe yang gue sambangi ini. Speaker-nya tidak dipasang di langit-langit seperti yang ada di beberapa kafe pada umumnya. Speaker itu diletakkan di sebuah meja kosong di tengah kafe dan agak jauh posisinya dari tempat duduk gue yang memilih di pojokan dekat pintu. Tapi lagu itu tetap terdengar jelas di telinga.

Begitu lagunya selesai, potongan lirik itu masih terngiang-ngiang di telinga gue sampai secara gak sadar gue nyanyikan di dalam hati. Liriknya memiliki makna. Ya, tentu saja sebuah lagu pasti memiliki makna di dalamnya. Maksud gue, kita paham dengan makna di lirik itu. Tentang suatu kebosanan; semuanya di mata kita terasa sama dan kita menginginkan hal yang berbeda.

Setiap orang tentunya memiliki rasa jenuh terhadap sesuatu yang berulang. Seperti gue yang di awal paragraf bilang, kalau selain di rumah terkadang suka menulis di kafe. Meskipun di rumah nyaman, tapi gue membutuhkan sesuatu yang beda agar gak jenuh. Makanya gue pergi ke kafe dan menulis di sana.



Ternyata, kafe benar-benar sumber inspirasi buat gue. Saat sedang sendirian begini, gue jadi lebih banyak berpikir. Gue kadang suka merenungi hidup. Yang paling sering, sih, suka membayangkan apa saja pembicaraan orang-orang di kafe ini ketika gue tidak mendengarkan suara mereka. Hal itu biasa gue lakukan kala mendengarkan lagu menggunakan earphone dengan volume yang lumayan keras. 

Setelah itu, gue jadi ingat beberapa kejadian di kafe yang nggak tau kenapa masih terekam jelas sampai sekarang di otak. Mungkin “lupa” lagi malas melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, biarkanlah gue berkisah tentang kafe.

Satu

Kejadian ini terjadi sekitar 1,5 tahun silam. Gue saat itu sedang duduk sendiri di pojokan sedang mendengarkan lagu dengan earphone seraya memantau timeline Twitter. Bosan dengan kegiatan itu, gue pun memilih memperhatikan orang-orang di sekitar—yang entah kenapa udah jadi hobi tersendiri. Lagi asyik dengan itu, seorang perempuan tiba-tiba menghampiri meja gue.

Read More
Sebelum membaca ini, boleh simak tulisan Bagian Pertama dan Bagian Kedua.


Hari Ketiga


“Tempat wisata pada jauh dari sini, Yog. Yang deket cuma Keraton Solo,” ujar Ilham pada hari sebelumnya.

Jawaban itu pun membuat gue bingung. Tujuan gue ke sini tuh ngapain, sih? Gue sebagai orang yang memang jarang bepergian ke luar area Jabodetabek. Sekalinya memilih pergi, pasti niatnya untuk jalan-jalan ke tempat wisata yang terdapat di daerah yang gue tuju itu. Namun, di kota yang gue jadikan tempat liburan ini ternyata malah jauh dari tempat-tempat wisata. Jauh dari pantai, curug (air terjun), maupun Menara Eiffel (bodo amat anjis!).

Tapi serius deh, gue masih nggak ngerti apa sebenarnya maksud dan tujuan gue pergi liburan ke Solo ini? Apakah benar untuk bisa bertemu teman-teman yang ada di grup WWF (Werewolf Telegram), sekadar menghilangkan rasa penat di Jakarta, atau merayakan selesainya proyek kerja part time pada seminggu sebelum liburan? Hm, atau gabungan dari ketiganya? Kok gue jadi kelihatan maruk, ya?

Apa jangan-jangan bukan itu semua? Apa niat gue cuma buat makan atau kulineran di sini? Sebab di awal sebelum keberangkatan, gue memang sudah diberi tahu kalau di sana jarang tempat wisata. Di Solo itu lebih ke kulinernya yang murah-murah—kalau dibandingkan dengan harga makanan di Jakarta. Ah, entahlah! Gue sudah berada di sini. Nggak peduli lagi apa pun tujuan awal gue itu. Jadi, pada hari terakhir, satu-satunya tempat yang bisa gue tuju adalah Keraton Solo.

***

Kami telah membeli tiket Keraton Solo seharga Rp10.000,00 per orang. Lalu, jika ingin memotret menggunakan kamera selain handphone, akan dikenakan tarif tambahan Rp3.500,00. Jika kamu mau mendengarkan cerita dan mengerti sejarah, bisa pakai jasa tour guide senilai Rp30.000,00. Namun, kami sudah ada Hana dan Ilham yang nanti bisa menjelaskan soal isi keraton ini. O iya, waktu kunjungan ke Keraton Solo ini, yaitu: Senin-Jumat pukul 09.00-14.00 WIB, sedangkan pada Sabtu-Minggu pukul 09.00-15.00 WIB.



Adapun beberapa ketentuan di Keraton Solo, tapi yang gue ingat hanyalah:

1. Nggak boleh memakai alas kaki, kecuali sepatu. Jadi, sendal yang kakinya kelihatan itu gak boleh;
2. Nggak boleh memakai topi dan kacamata hitam;
3. Nggak boleh memakai celana atau rok pendek;
4. Nggak boleh membawa pulang pasir di dalam Keraton;
5. Nggak boleh menyentuh patung atau karya seni lainnya yang ada di dalam museum.

Saat gue sedang melihat gambar peraturan yang berisi larangan itu, ada seorang bapak penjaga Keraton Solo yang kemudian berbicara kepada gue tentang sejarah Keraton (yang sekarang ini udah lupa). Yang gue ingat malah ketika ia bertanya dari mana gue berasal. Gue pun menjawab jujur datang dari Jakarta.

“Untuk masuk ke sini, kita harus sopan. Sama seperti Adek yang dari Jakarta ini kalau dateng ke kantornya dan ikut rapat pasti pada rapi, kan. Nah, di sini juga harus begitu.”

Gue cuma bisa mengangguk tanda setuju.
Read More
Kau baru saja pulang dari restoran cepat saji sehabis mentraktir teman-temanmu. Tidak banyak-banyak amat, sih, jumlahnya. Dengan dirimu yang juga ikut dihitung, totalnya pas 12 orang. Mereka adalah teman-teman yang kau anggap paling akrab di antara yang lain. Kau sebenarnya bingung sama kebiasaan bodoh ini. Kenapa orang yang berulang tahun harus mengeluarkan uang untuk membayar sebuah ucapan, "Selamat ultah"?

Entah setelah kalimat itu ada lanjutan doa-doa untuk kebaikanmu, atau memang sebatas itu saja. Lucunya, ada yang mengucap lebih singkat, "HB, ya." Ucapan itu juga cuma kaudapatkan dalam bentuk pesan di aplikasi WhatsApp. Tidak ada ucapan langsung dan jabat tangan para teman yang kauterima 4 hari yang lalu.

Apalagi seorang pacar yang memberikanmu kejutan di depan pintu, dengan membawakanmu kue berhiaskan lilin yang menyala. Kemudian kau bisa meniupnya dengan perasaan terkejut campur bahagia sambil menerima kado darinya. Kamu baru saja putus 5 bulan yang lalu dan belum memiliki pacar baru. Jangankan pacar, mencari gebetan saja belum kepikiran olehmu.

Ya, paling tidak, akhirnya kau bisa merayakan bertambahnya umurmu bersama teman-teman. Meskipun itu hanya sebatas menyantap ayam goreng krispi dan minuman bersoda. Sebuah menu yang seragam, tapi tetap menguras kantongmu. Kira-kira uang itu sebanyak jatah makanmu untuk dua minggu.

Awalnya, kau malah tidak ada niat untuk mentraktir mereka. Namun, permintaan itu, baik yang sebuah bercandaan atau memang keinginan, semakin hari terus menghantui dirimu.

"Mana nih traktirannya?"

Kamu menjawab singkat, "Nanti deh pas gajian."
Read More
Cerita Bagian Satu: Prolog

*

“Jangan membandingkan dirimu dengan siapa pun di dunia ini; jika kamu melakukannya, kamu menghina dirimu sendiri.” —Bill Gates

Gue terkadang masih suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Ya, itu berarti gue telah melakukan penghinaan terhadap diri sendiri. Semoga hal ini tidak gue ulangi kembali. Hal yang paling sering gue bandingkan dengan orang lain adalah, kenapa gue sering banget menunda sebuah tulisan? Ketika beberapa teman berusaha menulis secepatnya agar tidak lupa dan kehilangan feel tulisan itu. Sedangkan gue ini justru butuh waktu yang agak lama untuk menuliskannya sampai hal itu memang benar-benar menghantui dan mengacak-acak isi kepala gue, kecuali lagi dikejar deadline.

Ide-ide yang ada di kepala ini biasanya hanya gue catat poin-poinnya di sebuah buku atau notes hape. Gue jarang banget bisa langsung nulis ketika mendapatkan sebuah ide. Kalau kepala gue sudah sering kepikiran akan suatu tulisan, barulah gue memulai menuliskannya.

Cerita perjalanan ke Solo cepet kelarin woy!

Ingatan-ingatan soal liburan gue ke Solo muncul begitu saja tanpa diingat-ingat. Lalu, ada rasa ingin main ke sana lagi, bahkan sampai kebawa mimpi. Barulah gue tergerak untuk menulis. Contohnya seperti itu.

Sebenarnya, dari bulan Januari gue sudah menuliskannya. Tulisan ini sudah tersimpan rapi di draft. Sayangnya, saat itu memang belum selesai diedit. Memasuki bulan Februari, gue pengin ngelanjutin ceritanya, tapi entah kenapa jadi gak sreg. Bulan Maret juga sama. Gue malah semakin males buat nerusinnya. Namun, gue inget perkataan seorang filsuf, “Selesaikanlah apa yang sudah kamu mulai.”

Hm, baiklah. Meskipun ini sudah telat dan basi. Gue akan tetap mempublikasinya.

--

Hari pertama.

Satu hal yang sering gue lupakan saat menyewa penginapan; entah itu di hotel, losmen, vila, atau homestay, waktu untuk check out adalah pukul 12 siang. Peraturan itu berlaku hampir di semua tempat. Bodohnya, gue sering lupa akan hal itu. Meskipun gue semalam baru check in pukul 2 pagi, tapi bukan berarti itu akan dihitung 24 jam dan bisa keluar dari penginapan ini pada malam hari.

Maka, mau nggak mau itu membuat kami harus segera mandi dan tidak bisa leyeh-leyeh. Haris memilih untuk mandi duluan. Setelah dia selesai, barulah sekarang giliran gue. Namun, saat gue baru mulai melangkah ke kamar mandi, Haris bilang kepada gue untuk mengunci pintu terlebih dahulu. Karena dia ingin pergi bersama Ilham untuk menyewa motor—yang nantinya akan kami gunakan untuk keliling daerah Solo.

Setelah mandi, sembari menunggu mereka kembali, gue duduk di teras depan penginapan ini sambil membaca sebuah novel.


Read More
Kamu menendang segala macam benda yang ada di jalanan. Batu kerikil, botol plastik bekas, dan kotak susu yang masih tertusuk sedotannya. Kamu tiba-tiba merasa benci kepada orang-orang yang tidak mau membuang sampah pada tempatnya. Tapi kebencianmu akan orang-orang itu tidak akan pernah bisa melebihi kebencianmu terhadap diri sendiri.

Kamu masih terus menendangi sampah-sampah di jalan itu seolah-olah untuk melampiaskan emosimu. Sampai akhirnya, kamu tidak sengaja menendang aspal dan membuat jempol kaki kananmu berdarah. Terasa begitu perih. Namun, akan lebih perih lagi kalau mengingat beberapa kejadian dalam hidupmu belakangan ini.

Kamu adalah Agus, seorang laki-laki yang masih berumur 23 tahun, dan saat ini sedang kesal dengan semua masalah hidup yang tidak habis-habis. Sehingga kamu menganggap umurmu sudah menginjak usia 28 tahun karena masalah terlalu cepat mendewasakan pola pikirmu. 

Namun saat ini, hari-harimu sering dihiasi oleh kesedihan dan kedewasaanmu itu seakan tidak berguna lagi. Sumber masalahnya sebenarnya ada pada ibumu. Orang yang paling kamu sayangi di dunia ini telah pergi meninggalkanmu sekitar dua bulan yang lalu. Tanpa seorang ibu, kamu merasa tak berdaya. Kamu belum siap menerima kenyataan atas kepergian ibumu itu. Lagi pula, adakah orang yang siap dengan kehilangan? Apalagi itu hilang secara tiba-tiba.

Ibumu tidak sakit dan tidak ada tanda-tanda malaikat maut yang akan mencabut nyawanya. Tau-tau mati begitu saja. Seperti saat PLN melakukan pemadaman listrik tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Ditambah lagi kamu tidak memiliki kakak ataupun adik yang mengerti perasaan seorang anak ketika ditinggal mati ibunya. Menjadi anak tunggal begitu membosankan. Kamu hanya bisa menangisi kepergian ibumu seorang diri.

Sebenarnya masih ada ayahmu yang bisa dijadikan tempat berbagi. Tapi kamu cukup paham kalau ayahmu tidak akan menunjukkan air matanya. Ia tak ingin tampak lemah di hadapanmu. Sayangnya, beberapa minggu yang lalu ayahmu melarikan diri dari rumah. Sebulan setelah kematian istrinya, ayahmu—Pak Broto—memang sangat depresi. Apalagi bisnis batu akiknya juga bangkrut. Merasa tak sanggup menghidupimu, Pak Broto pun meninggalkanmu dan entah pergi ke mana. Kamu pun menghakiminya sebagai ayah yang tidak bertanggung jawab.

Cuma, biar bagaimanapun kamu masih menganggapnya keluarga. Kamu kemudian mencoba untuk menghubunginya, tetapi nomornya selalu tidak aktif. Belakangan diketahui, ponsel miliknya ditinggal di rumah dalam keadaan mati. Kondisi seperti ini semakin membuatmu gelisah dan resah. Kamu berpikir yang bukan-bukan tentangnya. Ayahmu mungkin telah mati bunuh diri. Ayahmu stres atau malah gila. Sekalipun dirinya saat ini berada di Rumah Sakit Jiwa, kamu tetap tidak mungkin mengecek RSJ itu satu per satu. Belum tentu juga ia benar berada di sana.

Jadi, lebih baik kamu fokus memikirkan masalah keuanganmu. Sebab, besok adalah batas waktu terakhir untuk membayar rumah kontrakan. Rumah kontrakan yang harus dibayar setiap 3 bulan sekali, tapi kamu sudah telat membayar dan saat ini kira-kira telah berjalan  di bulan keempat. Sudah mau sebulan pemilik kontrakan memberikanmu keringanan. Induk semang itu sampai bosan menagih dan mengingatkanmu tiap hari untuk melunasi bayaran 3 bulan kemarin. Oleh karena itu, besok adalah kesempatan terakhir yang ia berikan. Jangan sampai kaulupakan.
Read More
Setiap orang memiliki alasan tersendiri ketika menjadikan seseorang atau tokoh sebagai idolanya (panutan). Dari yang gue perhatikan, beberapa alasannya ialah: 1) karena fisiknya, terutama wajah atau tubuh yang menarik; 2) bakat atau kemampuannya; 3) sikap dan sifatnya.

Nggak perlu mengelak kalau kita pasti pernah mengagumi seorang idola cuma melihat wajahnya. Terutama idola yang lawan jenis. Gue sendiri pun pernah. Namun, gue termasuk tipe orang yang lebih sering mengidolakan seseorang dari pemikirannya. Terlepas dari wajahnya yang cakep, kalau isi kepalanya ngaco mah malesin banget dijadiin idola. Nah, berarti wawasan seseorang ini sepertinya lebih penting dari fisiknya. Oke, ini rada bullshit kayaknya kalau pas cari pasangan, sebab keseringan pada lihat wajahnya dulu (dibaca: semua kembali ke tampang!).

Itu bisa terbukti jelas karena banyak temen cewek yang suka ngidolain cowok-cowok ganteng Korea, terus yang cowoknya juga suka cewek-cewek menggemaskan dari idol group, bahkan sampai jadi VVOTA.

Berbicara soal idola ini, gue suka nggak ngerti sama orang-orang—biasanya remaja labil—yang begitu fanatik saat mengidolakan tokoh idolanya. Ketika para fanatik ini melihat secara langsung atau bisa bertemu idolanya itu pastik langsung jerit-jerit histeris, “KYAAAAAK! KYAAAAK!”

Nggak jarang juga para ABG itu yang sampai menuhankan idolanya. Mereka rela melakukan apa pun demi sang idola. Entahlah, gue masih nggak paham sama yang begitu. Ketika remaja, sih, alhamdulillah gue nggak pernah seperti itu. Temen gue pernah cerita, kalo ada salah satu temennya yang sampai ke luar negeri demi bisa bertemu idolanya. Menghabiskan uang berjuta-juta hanya untuk tiket pesawat dan acara “meet n greet”. Tapi ternyata, dia nggak bisa foto bareng. Untuk dapat berfoto bareng idolanya harus nambah biaya lagi, sedangkan sisa uangnya cuma untuk ongkos pulang.

Menyedihkan.

Sebetulnya, gue nggak menganggap hal seperti itu salah. Ya, asal sesuai dengan kemampuan finansial mah wajar aja. Jangan terlalu maksain diri. Katanya apa-apa yang berlebihan itu nggak baik, kan. Nge-fans boleh, terlalu fanatik jangan sampe deh.


Read More
Energi gue untuk menulis dan mengisi blog ini seolah-olah akan habis. Percis berbarengan dengan domain akbaryoga.com yang mesti diperpanjang beberapa hari lagi. Kalau mengingat setahun yang lalu, maka judul blog ini berarti belum bernama “Mengunci Ingatan”. Gue pun jadi mikir, kenapa blog ini gue namain begitu, ya?

Gue sebetulnya sudah agak lupa kenapa bisa memilih nama itu. Namun, karena ingatan itu sudah terkunci di dalam kepala ini (asyek). Oleh karena itu, gue akan mencoba untuk mengingatnya kembali. Awalnya, sih, gue lagi cari-cari nama bagus buat domain yang baru. Dulu, banyak orang yang ngeluh soal nama “yoggaas” yang katanya sulit untuk dihafal maupun dilafalkan. Beberapa orang susah mengingat huruf apa saja yang ganda. 

Keresahan itulah yang membuat gue mulai kepikiran dengan ganti domain baru. Jadi kayaknya kalau ganti domain itu juga bisa sekalian menyenangkan hati pembaca. Ya, pembaca mungkin akan merasa kalau pendapatnya didengarkan. Mereka jadi lebih nyaman deh main ke blog ini. Tentu saja kenyamanan pembaca merupakan tanggung jawab pemilik blog. Meskipun nggak semua pendapat harus didengar, tapi sepertinya mengubah domain dan branding blog ini gue cukup setuju. Dan rasanya memang perlu. 

Namun, mengubah domain dan sebuah branding tidak bisa semudah itu. Ada beberapa hal yang perlu dipikirkan secara matang. Harus siap dengan trafik yang nanti turun drastis, mau nggak mau kudu beradaptasi dengan hal baru dan meninggalkan yang lama itu, dan terlebih lagi soal menentukan nama yang rasanya susah-susah gampang. Kalau gak salah sampai berminggu-minggu kepala gue mumet cuma karena menentukan nama yang cocok untuk domain dan judul blog ini.
Read More
Setiap orang memiliki alasan tersendiri saat ikut CFD (Car Free Day) pada hari Minggu. Sayangnya, dua bulan belakangan ini gue malah belum menemukan alasan yang tepat untuk mengikutinya. Justru, adanya alasan-alasan untuk nggak ikut. Tentu saja karena cuaca sering hujan. Sekalinya nggak hujan, hawa dingin itu membuat gue memilih untuk selimutan (meski gue gak punya selimut dan hanya menggunakan sarung Wadimor) dan tidur lagi.

Sampai suatu hari, gue iseng melihat-lihat galeri foto dari tahun 2012-2015. Ada beberapa foto yang menampilkan seorang cowok memakai jaket merah klub bola Manchester United, bercelana pendek hitam, dan sedang menaiki sepeda fixie putih. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah diri gue sendiri. 



Gue masih saja memandangi foto itu. Gue mendadak rindu sama momen itu. Kalau gak salah foto itu diambil sekitar tahun 2014. Zaman gue masih bekerja di Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan, masih berambut pendek, dan tentunya masih rajin CFD-an di hari Minggu—minimal sebulan 2 kali. Sekarang, semuanya tak lagi sama. Kerjaan belum jelas karena gue masih seorang freelancer, rambut gondrong udah kayak preman (meski kalo jadi preman betulan, gue pasti yang malah dipalak karena nggak ada serem-seremnya), dan hampir nggak pernah olahraga atau ikut CFD.

Akhirnya untuk menjawab rasa kangen itu, hal sederhana yang bisa gue lakukan ada dua: 1) cukur rambut; 2) ikut CFD. Sebab, cari kerjaan tetap itu tidaklah mudah. Tetap menganggur itu baru gampang.
Read More
Berita hoax semakin merajalela. Nyokap gue pun menjadi salah satu korbannya. Pada suatu Minggu malam, ketika gue sedang lapar dan menengok meja makan yang ternyata lauknya sudah habis, Nyokap yang sedang duduk di ruang tengah tiba-tiba bilang, “Yog, jangan makan mi goreng sama samyang. Mengandung minyak babi.”

“Kata siapa?” tanya gue sok penasaran.

“Ini barusan Ibu dapet beritanya dari WA.”

“Wah, kebetulan banget Yoga mau makan mi goreng nih.”

Setelah ngomong begitu, gue beneran ke warung untuk beli Indomie Goreng. Iya, gue emang anak durhaka. Nyokap bermaksud nasihatin anaknya, tapi gue cuek gitu aja. Barulah setelah itu gue menjelaskan kepada Nyokap kalau jangan gampang percaya sama berita-berita semacam itu.

Sebetulnya jangan gampang percaya nggak hanya soal berita. Sama temen yang lama gak kontekan, tapi tiba-tiba ngabarin dan ngajak ketemu juga bisa. Sebab, pas ada temen yang kayak gitu, dia menghubungi gue bukan karena kangen. Ternyata malah ngajakin gue ikut MLM, atau nawarin asuransi, atau minjem duit, atau bisa juga kombinasi ketiganya.

Berbicara mengenai rasa tidak percaya ini, gue jadi inget beberapa hari yang lalu sehabis menonton ulang film Captain America: The Winter Soldier (2014). Di awal film, Steve Rogers atau Captain America (Chris Evans) bertugas untuk menyelamatkan para agen SHIELD yang disandera. Namun begitu tugasnya selesai, ia malah melihat Natasha alias Black Widow (Scarlett Johansson) memiliki misi lain, yaitu menyalin data-data SHIELD. Setelah itu, Steve mulai nggak percaya sama apa yang dilakukannya itu. Kenapa ada misi lainnya di balik sebuah misi? Merasa ada yang disembunyikan, maka Steve langsung protes kepada Nick Fury (Samuel L. Jackson) di kantor pusat.
Read More
Lepaskanlah apa yang kaurasa. Jingga menyala warna langitnya. Saat senja, saat senja... memanjakan kita. (Fourtwnty - Diskusi Senja).

sumber: Pixabay

--

Seusai acara Indomie Goreng Kuah, gue merasa males banget untuk langsung balik ke rumah. Ada beberapa pertanyaan yang terus mengganjal di hati selama perjalanan menuju stasiun. Apa iya gue bakal begini terus?

Begini yang gue maksud adalah sebuah keresahan akan pekerjaan yang cuma menjadi seorang pegawai lepas—biasanya disebut freelancer biar terdengar lebih keren. Sore itu, hidup gue rasanya terombang-ambing.

Memikirkan gimana masa depan gue nanti yang nggak ada pemasukan tetap setahunan lebih ini. Sejujurnya, gue udah capek banget nganggur. Gue pikir, freelancer itu sebenarnya sama aja kayak nganggur. Dapat uangnya nggak tentu. Apalagi kalau bayaran dari klien sering telat. Lalu, sekalinya dapat upah yang dibayar mingguan, duitnya entah ke mana. Tau-tau habis dan nggak ada yang bisa disisihkan. Miris sekali kalau setiap gajian selalu numpang lewat gitu. Gue kangen rasanya memiliki tabungan 8 digit angka. Beli ini-itu nggak perlu mikir lagi.
Read More
Kebanyakan orang berpendapat, kalo musik sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Tanpa adanya musik, hidup akan terasa kurang berwarna. Nggak perlu dimungkiri lagi, musik memang menemani kita dalam keadaan apa pun. Baik suka maupun duka.

Di kala terjebak macet, kita biasanya akan mendengarkan musik agar nggak bete sepanjang perjalanan. Lagu-lagu bergenre rock, hardcore dan apa pun itu yang dapat menumbuhkan semangat biasanya akan diputar. Kemudian sewaktu sedang galau misalnya, kita juga akan mendengarkan musik. Lazimnya, kita akan mendengarkan musik sendu. Memasang telinga baik-baik saat mendengarkan nada-nadanya yang minor, lalu meresapi liriknya yang puitis dan melankolis. Bahkan, nggak jarang kita ikutan bernyanyi agar perasaan sedih itu dapat tersalurkan. Mellow abis.

Katanya, sih, lirik itu merupakan bagian yang cukup penting dalam sebuah lagu. Lirik adalah sebuah ekspresi seseorang mengenai suatu hal yang ingin disampaikannya. Celakanya, masih banyak lagu yang memiliki lirik terlalu panjang dan ribet. Sehingga kita malah kesulitan untuk menghafalnya. Padahal lirik yang singkat itu biasanya lebih mudah dimengerti.

sumber gambar asli: pixabay, kemudian gue tambahin teks

Berbicara soal lirik singkat, belakangan ini gue lagi suka dengerin lagu Barasuara – “Hagia”. Alasan gue sering mendengarkan lagu itu karena sebuah keresahan berbau SARA. Sumpah, gue nggak ngerti aja gitu sama orang-orang belakangan ini yang meributkan agama melulu. Nah, lagu “Hagia” ini rasanya telah menjawab kegelisahan gue di setiap ada seorang atau sekelompok yang merasa agamanya paling benar. 

Read More
Akhir-akhir ini, gue lagi keranjingan membaca tulisan sendiri beberapa tahun ke belakang. Saat membacanya, perasaan gue pun otomatis menjadi campur aduk. Kalau baca tulisan 2012-2013, tentu saja bikin ngakak dan jijik sendiri karena tulisannya masih kacau dan membuat gue bergumam, “Ya Allah, ini beneran gue yang nulis?”. Merasa nggak percaya kalau tulisan gue saat ini sudah banyak berubah jika dibandingkan dengan tulisan pada tahun itu.

Lalu, ketika membaca tulisan tahun 2014, gue merasa kalau gaya gue sok-sok motivator yang sangat berusaha memberikan nasihat kepada pembacanya. Mirisnya, pada tahun itu sedikit banget dan jarang yang komen di blog gue. Alias cuma segelintir manusia yang baca. Terus itu gue ngasih nasihat ke siapa dong? Bangkai curut!

Pada tahun 2015, gue mulai terpengaruh dan belajar untuk menulis komedi. Ya, meskipun komedi-komedi di tulisan gue itu kayaknya garing banget. Sekalipun lucu, palingan yang jokes mesum. Sampai-sampai gue malah jadi keterusan untuk memakai cara itu. Gue merasa nggak kreatif sama sekali. Berniat menghibur orang, tapi caranya kok gitu-gitu aja? Menyedihkan.

Barulah pada tahun 2016, terutama setelah mengganti nama domain dan blog menjadi: akbaryoga(com) - Mengunci Ingatan. Gue mulai menulis apa aja yang memang ada di kepala. Yang penting keresahan dan pesan gue dapat tersampaikan. Kalau ada bumbu komedi yang bisa gue selipkan di tulisan itu syukur, nggak ada juga gak jadi masalah. Toh, nggak semua orang butuh tulisan lucu. Bisa aja dia lebih butuh tutorial. Tutorial menulis lucu dengan estetika yang diremehkan, misalnya.

sumber asli: pixabay yang kemudian ditambahin teks olehku
Read More
Selain menulis, gue memiliki beberapa hobi lain. Salah duanya adalah membaca dan kumpul bareng temen-temen. Untuk menjadi seorang penulis, tentu saja gue harus banyak membaca. Kalau malas membaca, nanti tulisan akan begitu-begitu aja. Nggak ada perkembangan. Kemudian, kumpul bersama teman-teman juga sangat menyenangkan. Meskipun kumpul-kumpul itu biasanya identik dengan gibah, tapi ya jangan fokus ke hal seperti itu.

Berkumpul bersama teman-teman masih banyak kok manfaatnya. Kita bisa membahas suatu topik, kemudian mendiskusikannya bersama. Namun, usahakan jangan membahas topik-topik berat seperti politik atau agama yang menimbulkan kericuhan. Karena nggak semua orang dapat berpikiran terbuka. Alangkah baiknya berdiskusi hal-hal yang lebih ringan. Membahas buku, musik, film, dan sejenisnya.

Seperti pada tanggal 1 Februari 2017 kemarin misalnya. Gue mendapatkan undangan untuk hadir di acara Gathering TabloidKu. Pada hari Rabu siang yang hujan deras, gue sudah berada di TransJakarta sedang menuju mal Plaza Indonesia, Jakarta Pusat. Padahal, biasanya gue akan memilih berdiam diri di rumah dan tidur-tiduran kalau memang libur ngantor. Bagi gue, hujan memang lebih asyik untuk tidur. Hehe.

Gue sekarang tidak bisa lagi tidur-tiduran. Ada sebuah gathering yang harus gue datangi. Lagian, udah lama banget rasanya nggak kumpul sama temen-temen seperti ini. Terlalu sibuk sama kerjaan ternyata bikin gue lupa silaturahmi. Oleh karena itu, di sinilah gue sekarang. Tersesat di mal besar seperti ini. Oke, ini memang pertama kalinya gue main ke Plaza Indonesia.

Namun, gue harus kebingungan hanya untuk ke lantai 6. Kenapa eskalator dan liftnya begitu khusus? Untuk ke suatu lantai, ya harus lihat baik-baik nomornya. Karena ketika gue naik lift, ternyata itu mentok hanya di lantai 5. Bukan lantai 6. Mungkin ada 4-5 kali gue bertanya ke security di mana letak XXI yang katanya ada di lantai 6 itu. Setelah kepala agak pusing karena nyasar mulu, akhirnya gue pun bisa berkumpul bersama teman-teman di XXI Plaza Indonesia untuk nonton bareng gala premiere film “Surga yang Tak Dirindukan 2”.
Read More
Criticism may not be agreeable, but it is necessary. It fulfills the same function as pain in the human body. It calls attention to an unhealthy state of things.” – Winston Churchill

--

Buat yang belum tahu, gue bersama teman-teman WIRDY baru saja membuat buku-e. Kalau boleh jujur, gue deg-degan bukan main ketika karya itu dilepas ke umum. Beberapa ketakutan di dalam diri itu juga mengganggu banget. Takut nggak ada yang download; takut cuma diunduh, tapi malah nggak dibaca; dan terakhir, takut dipuji secara berlebihan.

Gue sama sekali nggak takut diberikan kritik ataupun saran. Nggak. Gue justru menyukai itu. Menurut kalian, kita—para bloger—bisa terus menulis dan konsisten sampai sejauh ini karena apa?

Pertanyaan bagus!

Apa karena bisa menghasilkan receh?

Hm, mungkin beberapa orang ada yang begitu, tapi gue nggak. Gue bisa bertahan ngeblog sekitar 4 tahunan ini karena adanya pembaca. Terlebih lagi pembaca yang mengapresiasi tulisan gue. Apalagi para pembaca yang kritis. Mereka memberi tahu tulisan itu di bagian jeleknya, lalu memberikan solusi agar tulisan gue menjadi lebih menarik.
Read More
Sudah berulang kali gue jatuh dari motor atau kecelakaan. Hm, tetapi hal itu tidak membuat gue berhenti mengendarai motor. Mungkin sempat trauma sebentar, tapi begitu merasa baikan, gue pasti akan menaiki motor itu kembali. Sejujurnya, sih, itu terpaksa. Iya, karena gue kalau naik angkutan umum bakalan enek dan pusing. Nggak enak banget, ya, jadi orang yang mabuk kendaraan umum. Dasar lemah!

Namun, gue masih bisa kok naik kereta api dan TransJakarta. Kalo mikrolet, taksi, metromini, dan kopaja gue mending nyerah aja deh. Rasa mual gue susah banget dikendalikan. Kan nggak lucu aja gitu ketika di metromini terus gue “hoek-hoek” dan disangka hamil. Gue nggak pengin mengganggu penumpang yang lain dan membuat mereka merasa jijik. Maka, mau gak mau gue harus tetap mengendarai motor.

***

Beberapa orang sering mengeluh dan malas dengan hari Senin. Begitu pun dengan gue pada hari Senin tanggal 9 Januari 2017. Entah kenapa, hari itu gue pengin tidur aja. Padahal emang habis begadang dan baru tidur sehabis Subuhan. Sedihnya, gue lupa kalau pukul satu siang nanti harus masuk kerja. Yeh, itu mah emang gue aja yang bego. Hahaha.

Sekitar pukul 11, gue tiba-tiba kebangun dari tidur yang seolah-olah begitu singkat. Padahal udah tidur sekitar 5 jam. Entah kenapa kalau tidur pagi itu rasanya kayak nggak berasa tidur, ya? Karena masih ngantuk, gue pun memilih tidur lagi. Ah, azan Zuhur juga belum. Tidur satu jam lagi bisa ini mah, batin gue sambil memejamkan mata kembali.

Celakanya, gue kebangun pukul 12.45. Bangkai. Gue langsung lari ke kamar mandi, kemudian mandi secepatnya. Cuma, ya tetep aja nggak mungkin pukul 13.00 gue udah sampai kantor. Secepat-cepatnya palingan sekitar 13.30. Itu juga kalau nggak macet.

Inilah di saat gue merasa apes (yang artinya sial, bukan apes yang film monyet itu). Iya, karena langit tiba-tiba meneteskan air matanya. Gue yang sedang terburu-buru ini pun terpaksa menepi dan memakai jas hujan. Tapi biar bagaimanapun, gue cukup bersyukur atas hujan ini. Siang ini, lalu lintas di Jalan Gatot Subroto yang biasanya macet mendadak lancar. Gue pun melirik jam tangan di tangan kanan. Jam menunjukkan pukul 13.22. Belum telat-telat amat, pikir gue.

Read More
Solo yang berarti adalah seorang diri. Kalau duet baru berdua. Terus kalau bertiga adalah... yak, betul Trio Kwek-Kwek (tadinya malah mau ngetik threesome, tapi demi sebuah janji untuk mengurangi kemesuman di 2017, maka rule of three ini gagal). Halah! Namun, bukan itu intinya. Karena yang gue maksud di judul adalah jalan-jalan ke Surakarta (lebih dikenal dengan nama Solo) itu nggak harus sendirian. Sebab, gue pergi ke sana bersama beberapa teman grup Werewolf Telegram. Yoih!

Pertama, ada Nur Jannah—lebih dikenal dengan nama Jaimbum—yang berangkat dari Malang. Lalu, ada kami berlima; Haris, Bena, Mia, Tiwi, dan gue sendiri yang janjian kumpul di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat.




Di Sabtu sore yang cerah itu, tepatnya tanggal 19 November 2016, kereta yang akan kami naiki ini ternyata datangnya agak telat. Seharusnya keberangkatan pukul 16.00, tapi 12 menit sebelum pukul 17.00 kami berlima baru bisa duduk di gerbong. Ini PT. KAI nggak tahu apa kalau gue udah nunggu dari pukul 14.00? Mereka juga nggak tau apa kalau seorang Haris Firmansyah, seorang penulis kondang yang menerbitkan novel “3 Koplak Mengejar Cinta”, rela berangkat lebih awal dan jauh-jauh dari Cilegon? Lalu, begitu sampai di stasiun malah dibuat menunggu kereta yang terlambat? Parah! Keterlaluan banget.

Namun, kami cuma bisa bersabar. Tiket yang kami beli ini hanyalah kelas ekonomi. Lagian, ini Indonesia, Brother! Kalau nggak telat mah nggak asyik. Ngaret itu udah menjadi budaya.
Read More


Menurut gue, mengulas itu nggak segampang mengeles. Um, maksud gue bukan ngeles yang pelajaran tambahan gitu, ya. Bukan. Tapi, ngeles yang menghindar dari kesalahan. Gue nggak ngerti, sih, sama orang yang udah jelas-jelas salah, eh tetep aja ngeles dan gak mau mengakui kesalahannya. Apa susahnya, sih? Ngaku salah itu keren, kok! Ya, daripada merasa dirinya paling benar.

Halah. Pembukaan macam apa ini? Gak nyambung banget asli sama isinya.

Oke, sesuai janji kalau gue bakalan mengumumkan pemenang give away ibu di tanggal 10 Januari 2017. Gue berusaha menepatinya. Ya, walaupun telat sedikit dan udah mepet banget tengah malem. Namun, sebelum mengumumkannya, gue mencoba untuk mengulas kisah ibu para temen-temen yang udah ikutan GA ini.

***
Read More
Bertabur buih air mata yang terluka. 
Belati itu belati tebar pedih tebar perih. 
Berbunga-bunga ketika lihatmu ada. 
Menari-nari merintih redam sedih redam sedih. 

sumber: pixabay

*** 

Bulan Desember kemarin, gue sempat mengadakan give away tentang ibu. Anehnya, sampai tanggal 29 Desember 2016 belum ada satu pun yang berpartisipasi. Padahal deadline tanggal 31 Desember 2016. Tinggal dua hari lagi. Kan kacau!

Sepi amat ini dah nggak ada yang mau ikut. Kenapa, sih? Terlalu kecepetan dan gak sempet nulis? Apa lagi pada sibuk mempersiapkan tahun baruan?

Setelah mendengarkan saran dari beberapa teman untuk memperpanjang batas waktunya. Ya udah, akhirnya gue pun mengubahnya menjadi tanggal 6 Januari 2017. Eh, pas tanggal 30 dan 31 baru deh beberapa orang mulai pada ngasih tautan tulisan mereka ke gue. Parah! Kini, deadline itu udah berakhir, maka gue mulai mendata siapa aja yang ikut meramaikan. Setelah dihitung-hitung, ternyata lumayan banyak yang ikutan GA gue. Ehehe. Sungguh, ini di luar ekspektasi gue. Makasih banget ya buat kalian.
Read More
Bagiku, malam tahun baru kali ini terasa sama saja seperti malam-malam yang lain, kecuali malam lailatul qadar. Tentu saja karena malam itu malam yang terbaik dari 1.000 bulan. Malam tahun baru ini, aku tidak pergi ke mana-mana. Masih berbaring di kasur seraya memandangi langit-langit kamar. Berbeda sekali dengan tahun-tahun sebelumnya.

Aku pun mencoba mengenang jauh ke belakang.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika masih berusia 11 tahun, aku merasa semangat sekali merayakan tahun baru. Seusai salat Isya, aku langsung duduk anteng di depan televisi karena banyak acara TV yang menarik. Padahal, biasanya aku akan bermain bersama teman-teman sebaya.

Namun, kali itu tidak. Meskipun teman-teman berusaha mengajakku bermain, tapi aku tetap memilih menyaksikan acara TV sambil menunggu tanggal 1 Januari. Bahkan, kalau aku tidak salah ingat, saat itu beberapa stasiun televisi juga menampilkan band-band favoritku di masa itu: Peterpan, Iwan Fals, Slank, Nidji, dan lainnya. Aku merasa sangat nyaman menunggu tahun baru dengan cara seperti itu daripada bermain bersama teman-temanku.

Lucunya, rasa kantuk malah mengalahkanku. Begitu membuka mata, jam sudah menunjukkan pukul 05.00. Tanda hari sudah berganti. Ya, aku ketiduran. Karena saat itu kira-kira aku masih duduk di kelas 6 SD yang terbiasa tidur pukul sembilan malam. Aku rupanya telah gagal untuk menikmati detik-detik pergantian tahun.

Begitu masuk SMP, aku memiliki cara lain untuk menikmati tahun baru. Berdiam diri di rumah sambil menonton TV tidak lagi menarik buatku. Aku bersama teman-teman menikmati malam tahun baru dengan konvoi menyewa metromini atau kopaja. Seru sekali rasanya keliling Jakarta ramai-ramai naik metromini atau kopaja. Apalagi ada beberapa temanku yang sampai duduk di atapnya. Mereka tidak peduli lagi akan bahaya. Hanya kesenangan atau kebahagiaan yang ada di pikiran mereka. Sayang sekali, dulu aku terlalu cemen untuk seperti mereka.

Memasuki tingkat SMA, aku tidak lagi bersama teman-temanku. Aku malam tahun baruan bersama pacar. Naik motor berduaan ke beberapa daerah di Jakarta sampai bensin tiris. Kami berdua mengobrol tentang masa depan selama di motor. Kemudian di tengah-tengah perjalanan, aku melihat beberapa pasangan yang berhenti di trotoar fly over. Aku membatin, Cih. Norak banget mereka pacaran di fly over.

“Eh, sebentar lagi udah mau jam 12 nih. Berhenti kayak mereka aja, yuk!” ajak si pacar tiba-tiba.

“Seriusan?” tanyaku.

“Iya.”

Ini pacar ngapa ketularan alay, sih?

Daripada dia ngambek, mau nggak mau aku pun ikutan berkumpul dan melihat ledakan warna-warni kembang api di langit bersama mereka.

sumber: Pixabay

Ternyata diriku juga ikutan alay. Jijik sekali rasanya mengingat itu. Aku telah menjilat ludah sendiri.

Barulah saat kuliah aku kembali kumpul bersama teman-teman. Merayakan tahun baru dengan main PES (Pro Evolution Soccer) dan bakar-bakar. Membakar sosis, ikan, ayam, dan jagung. Begitulah caraku membakar waktu. Saat itu, aku tidak lagi bersama pacar. Karena dia telah selingkuh. Selingkuh dua kali pula. Iya, itu semua karena bisa-bisanya aku diajak balikan sama mantan yang telah berkhianat. Mudah sekali aku percaya dengan janji manisnya. Bangsat emang!

Ups, maaf emosi.

Skip aja skip.

Lalu, pada pergantian tahun 2013 menuju 2014, aku merayakan tahun baru dengan bermain poker bersama beberapa teman kantor di gerbong kereta. Yoi, kala itu aku sedang berada di perjalanan menuju Yogyakarta. Inilah momen pertama dalam hidupku, bisa malam tahun baruan di kereta.


***

Setelah mengingat beberapa peristiwa di masa lalu itu, aku masih tetap tidur-tiduran di kasur. Malas sekali rasanya beranjak dari kamar yang terasa gerah ini. Lalu, kucoba mendinginkan suhu ruangan dengan menyalakan kipas angin di tombol nomor dua.

Sejujurnya, malam ini aku benar-benar bingung mau ke mana. Aku merasa hampa sekali. Aku mendadak nggak ngerti lagi sama diriku saat ini. Semuanya terasa aneh. Kalau dipikir-pikir, di tahun 2016 banyak sekali masalah. Titik terendah selama hidupku sepertinya juga jatuh pada tahun ini. Kalau nggak salah sekitar bulan Mei sampai Juli. Terlihat jelas dari tidak adanya tulisan di blog pada bulan itu. Aku lupa betapa pentingnya menumpahkan isi kepala ke dalam tulisan. Padahal, menulis adalah terapi untuk kesehatan jiwa. Sedangkan, di kala itu jiwaku penuh dengan benci dan penyesalan.

Aku merenungi buruknya masa lalu: tahun 2012 saat pertama kali diselingkuhi pacar; lalu tahun 2013 ketika adikku meninggal; setelah itu tahun 2014 dikhianatin sama pacar (btw, ini orang yang berbeda dengan tahun 2012), dan akhirnya memilih resign dari kantor karena berbagai alasan; dan juga tahun 2015 saat melawan penyesalan telah resign karena orangtua yang terus-terusan mengungkit hal itu, apalagi aku merasa nggak siap sama krisis keuangan. Namun, kalau dipikirkan kembali, ternyata itu semua gak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tahun 2016.

Tahun inilah aku mengalami depresi berkepanjangan. Bodohnya lagi, aku salah memilih bacaan. Aku membaca buku Norwegian Wood (Haruki Murakami). Setelah membaca buku itu, hidupku semakin gak keruan. Hidup semakin kosong. Nggak tau lagi harus melakukan apa pun selain menyesalkan pilihan-pilihan yang menurutku salah. Entahlah kalau mengingat masa-masa itu rasanya hidupku buruk sekali, ataukah itu masih pantas disebut mendingan?

Memang, sih, aku berhasil bangkit dari keterpurukan. Namun, terkadang aku mengibaratkan diriku di saat itu sebagai orang gak berguna. Kalau saja sampai saat ini aku gagal menerima diri dan berdamai dengan kenyataan, aku pasti sudah menjadi sampah yang bau sekali dan membusuk.

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, malam ini memang benar-benar hampa. Gak ada jagung, sosis, ikan, atau ayam bakar yang bisa kusantap. Nggak ada minuman bersoda yang bisa kuteguk untuk sebuah perayaan. Tidak ada teman yang mengajakku keluar. Nggak ada kekasih yang menemani di sisi, sebab kami lagi LDR-an. Nggak ada acara televisi yang bisa kunikmati lagi, sebab aku memang sudah hampir gak pernah menonton televisi. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Yang ada di malam tahun baru ini hanyalah perenungan. Aku mencoba bermuhasabah. Apa yang harus kucapai pada tahun 2017? Apa saja yang harus kubenahi setelah melihat banyak kegagalan di tahun ini?

Apakah aku bisa mengurangi begadang? Apakah aku mulai bisa menghargai waktu? Me-manage waktu dengan baik dan tidak lagi menunda-nunda segala sesuatu? Bisakah perasaan yang menyesakkan rongga dadaku akhir-akhir ini hilang? Ketika aku ingin menangisi hidup, kenapa rasanya sulit sekali? Apa air mataku telah habis? Apa aku sudah gak perlu lagi merasa lemah akan kehidupan yang memang sengaja dirancang keras ini?

Sumpah, aku tak mengerti. Aku hanya berharap malam ini segera berlalu. Aku lelah. Aku ingin tidur. Aku ingin besok kembali segar dan dapat terbangun dengan kobaran api semangat yang takkan pernah padam.

Melihat jam yang masih menunjukkan pukul 23.05, aku berusaha menikmati malam tahun baru ini dengan membuka Youtube. Aku mengetikkan “Rusa Militan – Black Sun”, lalu kuputar videonya. Hmm, tapi aku hanya mendengarkan musiknya tanpa menonton video itu. Aku memejamkan mata. Di dalam gelap itu, aku justru melihat sebuah jalan yang terang. Tentang banyaknya impian yang ingin kuwujudkan. Kupikir, tahun depan masih bisa melakukan banyak hal. Aku dapat memperbaikinya. Harapan akan selalu ada. Hope is never lost. Lalu, aku mencoba membuka mata. Sambil menikmati alunan musik itu, aku mencoba menuliskan segala keresahanku ini.

Selamat tinggal, 2016. Terima kasih atas segalanya. :)

PS: Maaf, tulisan ini tidak ada kolom komentarnya. Kenapa? Pikirkan sendiri! Ehehe. Bercanda, kok. Aku cuma ingin menulis tanpa perlu dikomentari. Sekali lagi, maaf untuk keputusan ini. Ukhuk.

Diketik pada 31 Desember 2016, di kamarku tercinta dengan lampu yang sengaja kupadamkan.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home