Waktu bergulir begitu cepat. Gak terasa saat ini sudah di penghujung bulan Januari. Namun, itu tak menjadi masalah dan tak jadi beban pikiran. Kera sakti....

Lah, malah jadi lagu. Sorry-sorry... Jek, kami bukan cewek murahan. Ini apa lagi coba? Malah lagu Keong Racun.

Maaf. Gue memang sering ngaco dalam kalimat pembuka. Oke, langsung aja.

Gue merasa waktu memang begitu cepat berlalu. Kenapa Januari ingin segera pergi? Ah, tapi rasanya sungguh membahagiakan di akhir Januari ini. Itu semua karena di tanggal 29 Januari 2016, gue dan beberapa temen-temen blogger diundang ke acara Anniversary Huawei Indonesia yang ke-15. Asoy!

Kue Ultah Huawei

Ngomong-ngomong, ternyata Huawei ini masih remaja, ya. Tuaan gue 6 tahun. Halah. Sok tua lu, Yog!
Read More
“Gue tunggu cerita kalian di blog masing-masing, ya!”

Parah!

Gue baru inget, kalo ada sebuah cerita di akhir bulan Desember yang belum sempat ditulis. Parah. Sumpah, ini parah. Masa sekarang udah akhir Januari. Gak terasa banget udah sebulan berlalu.
Mungkin kalau gue menuliskan cerita ini rasanya sungguh telat. Tapi, sesuai janji—dengan teman-teman yang lain—untuk menuliskan cerita kopdar di blog masing-masing, maka izinkanlah gue untuk tetap bercerita. Dan maafkanlah kalau gue baru sempat posting sekarang.


Di antara kalian masih ada yang ingat long weekend dari tanggal 23-27 Desember 2015?

Nah, di liburan itu seorang Yoga nggak ada rencana pergi ke mana-mana.

Iya, ngenes banget emang hidup gue. Udah pengangguran, gak punya duit pula (emang ada pengangguran banyak duit?). Nggak bisa liburan, kan.

Liburan gue menjadi hampa.
Read More
Sebuah kesibukan itu bisa membuat dirimu lupa akan banyak hal. Termasuk lupa kalau kamu habis putus atau patah hati. Eaakkk.

Namun, gue tidak ingin membahas tentang putus, patah hati, ataupun cinta-cintaan. Udah keseringan menuliskan tentang itu. Hidup tidak hanya soal itu melulu. Masih banyak hal-hal menarik lainnya. Asyek.

Jadi, yang akan gue tulis ialah....



Etapi mendingan kalian baca aja deh. Ehehe. Terus simpulkan sendiri, gue kali ini membahas apa.

***

“Yog, gue lihat tugas Ekonomi Makro, dong.”
Sebuah pesan WhatsApp dari Arief—temen sekelas di kampus—benar-benar mengagetkan gue.
Kemudian gue segera membalas, “Emang ada? Tugas yang mana deh?”

Read More
Nggak terasa, cerita bersambung proyek menulis WIDY sudah sampai bagian keempat. Nah, bagi kalian yang ketinggalan, alangkah lebih baiknya membaca cerita sebelumnya supaya nyambung.

Bagian pertama di blog Wulan: Potongan Pertama
Bagian kedua di blog Icha: Potongan Kedua
Bagian ketiga di blog Darma: Potongan Ketiga

Udah baca?

Belum, ya? Duh... baca dong teman-teman. Kalo baca nanti dapet pahala, loh. Muahaha. Maaf ngaco.
Sudah baca atau belum, itu hak kalian.  Jadi, langsung aja mari baca cerita bersambung bagian keempat.

***


Agus dan Mei telah tiba di dalam cafe. Agus pun langsung menuju posisi duduk favoritnya, sedikit mojok yang tidak terlalu pojok. Agus memilih posisi duduknya ini agar ia bisa dengan leluasa melihat jalanan yang macet sembari menunggu waktunya untuk pulang. Di mana pemandangan sebuah jalanan macet ini selalu menarik di mata Agus. Sudut pandang Agus memang aneh.

“Oh iya, kenapa lu milih jurusan PLB, Mei?” tanya Agus tanpa berani menolehkan wajah pada lawan bicaranya. Iya, Agus masih sedikit grogi di dekat perempuan.

“Gue juga nggak ngerti awalnya gimana bisa milih jurusan itu,” jawab Mei menolehkan kepalanya dengan mantap, sambil menatap mata Agus. Kini Agus tidak bisa berbuat apa-apa. Mata sipit dan senyuman Mei yang manis itu seolah menahannya untuk membuang muka lagi.
Read More
“Bisnis apaan?” tanya gue, ketika si Agus tiba-tiba mengajak gue untuk berbisnis.
“Tapi lu beneran mau?”
“Mau-mau aja, sih... tapi,” kata gue berjeda.
“Nggak punya modalnya, ya?” potong Agus.

“Iya, tapi bukan itu aja. Ada lagi.”

“Apaan?” Agus menunggu respons gue.

“Gue nggak yakin kalo berbisnis sama lu,” kata gue, terlalu jujur.

Agus pun ngomel-ngomel tidak terima gue bilang seperti itu. Namun, gue memang sudah mengenal Agus sejak lama. Dia adalah teman SMK gue. Agus ini orang yang banyak wacana. Sudah capek gue mendengarkan omong kosongnya.
Read More
Sebelum mulai membaca tulisan ini, kalian boleh membaca bagian yang WIDY terlebih dahulu. Itu pun jika kalian bersedia, kalau tidak... ya gapapa. Santai. Nggak dosa, kok. Paling gue cuma bete aja.
Halah.

Di antara kalian mungkin udah ada yang nungguin (oke, ini gue ngetiknya pede banget, kayak beneran ada yang nungguin aja), gimana jalan cerita atau kelanjutan dari proyek menulis cerita bersambung WIDY ini.



Alhamdulillah. Akhirnya bagian pertama sudah dipublikasikan di blog Wulan: Sepotong Hati di Segelas Milkshake Cokelat.

Sebelum mengunjungi link itu, gue ingin menjelaskan ke kalian kalau project ini dalam setiap ceritanya dikerjakan secara bersama-sama. Bukan per bagian.

Hm... kalian ngerti maksud gue nggak?
Read More
Perasaan gue beberapa hari yang lalu masih 2015, kok sekarang tiba-tiba udah 2016, ya?
Ah, pembukaan macam apa ini? Klise banget.

sok desain dan edit gambar sendiri, sumber foto asli klik aja.

Namun, ini memang benar adanya. Banyak orang yang suka merasa waktu berjalan cepat sekali. Dan anehnya, ada pula yang justru merasa kalau waktu itu sangat lambat.
Hm... waktu. Relatif, sih, memang. Itu tergantung bagaimana orang tersebut menjalani aktivitasnya.

Nah, gue sendiri termasuk orang yang merasa kalau waktu ini sangat cepat sekali. Ya, sepertinya mungkin itu karena banyak resolusi yang belum tercapai.

Jadi, seolah-olah waktu gue selama 2015 kemarin terbuang habis begitu saja. Padahal kenyataannya tidak demikian. Gue sudah berusaha. Sayangnya, gue belum berusaha dan berdoa secara maksimal.
Sumpah, ini sedih.

Tapi biar bagaimanapun itu, 2015 sudah terlewat. Mari sambut tahun yang baru. Well, semoga tahun 2016 gue benar-benar bisa me-manage waktu dengan baik. Aamiin.

Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home