Kisah Sedih di Hari Sabtu

54 comments
Gue pernah cerita kalau nggak suka sama malam Minggu ataupun malam Mingguan keluar rumah. Namun, bukan karena gue nggak punya pacar. Bukan. Gak perlu dipamerin kalau gue punya pacar, kan? Gue males keluar pada malam Minggu itu tentu saja karena Jakarta macet banget. Jangankan malam Minggu, malam-malam lainnya juga bakalan macet.

Selain itu, alasan lainnya adalah karena ada jadwal pertandingan liga Inggris pada malam Minggu. Yoi, gue lebih suka nonton bola daripada pacaran. Apalagi kalau pas Manchester United maen. Hmm... iya, sih, MU sering kalah. Cuma, yang namanya udah terlanjur sayang mah tetep aja dukung. Ya, walaupun sesekali suka khilaf teriak, “MU GOBLOK!”

Lucunya, pada tanggal 17 Desember 2016, tepatnya malam Minggu kemarin. Gue akhirnya malam Mingguan secara tidak sengaja. Iya. Jadi, gini....

***

Jumat, 16 Desember 2016

“Kamu Sabtu free gak?” tanya gue kepada pacar di WhatsApp.

“Hm... baru bisa siang kayaknya. Kenapa?” balas si pacar.

“Temenin aku makan tomyam, yuk!” ajak gue.

“Loh, katanya waktu itu mau ke sana sama temen-temen? Gak jadi?”

Gue menghela napas ketika membaca pesan itu. Mencoba mengingat kopdar bloger Jabodetabek yang nggak jadi kulineran Tomyam Kelapa karena pada ngeluh kejauhan, dan akhirnya memilih ngobrol-ngobrol lucu di Taman Ismail Marzuki (TIM). Akhirnya, gue pun menjelaskan ke pacar mengenai hal itu. Setelah kami chatting-an agak lama dan si pacar bilang kalo besok ada urusan mau ke Pasar Tanah Abang, kami berdua pun memilih janjian bertemu di Stasiun Tanah Abang besok siang sekitar pukul 14.00.

Malamnya, gue berusaha untuk tidur cepat dan tidak begadang seperti biasanya. Namun, yang namanya Yoga tetap saja susah tidur di bawah pukul 12. Gue mencoba untuk memejamkan mata sambil dengerin lagu-lagu sendu mengenakan earphone, tapi tetap nggak berhasil. Gue mulai matikan lagu dan hape itu, tapi masih aja susah merem. Barulah gue ketiduran sekitar pukul dua ketika iseng membaca buku-buku sejarah yang bikin ngantuk.

***

Sabtu, 17 Desember 2016

Seperti biasa, sehabis Subuhan pasti gue tidur lagi. Kemudian gue bangun-bangun sekitar pukul 10.20, itu pun karena ditelepon sama si pacar. Pacar mengabarkan gue kalau dia nggak jadi ke Tanah Abang. Terus mengusulkan kalau perginya jadi lebih awal. Dia juga malah bilang, kalau sehabis makan tomyam meminta gue untuk menemaninya evaluasi bersama Rani—temannya di salah satu komunitas mengajar. Si pacar dan Rani janjian di daerah Tebet pada pukul 17.00.

Karena percis di depan rumah gue ada orang hajatan dan suasananya ramai sekali, sehingga motor pasti repot untuk melintasinya, maka gue pun memberi tahu pacar kalau baru bisa jalan dari rumah saat jeda salat Zuhur.

“Terus beneran kamu nggak bisa ke stasiun? Aku harus jemput kamu gitu?” tanya gue di WA.

“Iya. Jemput ya, Sayang,” ujarnya sambil merayu pakai kata ‘sayang’.

Taik. Padahal makan tomyamnya di daerah Villa Bintaro Indah, di mana lebih dekat dari Stasiun Palmerah kalau naik kereta. Eh, gue harus jemput ke rumahnya di daerah Kemayoran yang kira-kira menghabiskan waktu 30-45 menit. Tapi, karena gue yang memang minta temenin dia, mau nggak mau gue pun menjemputnya.

Sekitar pukul 13.30 kami berdua sudah boncengan di motor. Kami bingung mau naik kereta dari stasiun mana. Kalau dari Stasiun Manggarai, rasanya males transit-transit. Kalau ke Stasiun Palmerah kurang kerjaan banget bolak-balik. Tapi, ya udahlah. Daripada nanti kejauhan, mending kami memilih naik kereta dari Stasiun Palmerah. Kadang, kesel juga sama si pacar kalo lagi manja gini. Coba aja kalau dia mau ke Stasiun Tanah Abang. Kan ke Stasiun Palmerah jaraknya cuma satu stasiun. Pffft.

Ketika sebentar lagi sampai ke tujuan—Stasiun Palmerah—,kami berdua malah kehujanan karena langit mendadak menumpahkan air matanya. Sebelum kami semakin basah dan lepek, gue mencoba meneduh dan segera memakai jas hujan.

Sesampainya di Stasiun Palmerah, kami segera membeli tiket dan menunggu kereta yang menuju Serpong (satu jalur dengan Sudimara, yang memang tujuan kami untuk makan tomyam). Lima menit menunggu, kereta itu pun akhirnya tiba. Kami berdua langsung menaiki kereta tersebut. Tapi sayang, kami berdua harus berdiri karena gerbong pada hari Sabtu itu memang penuh banget.

***

“Oiya, aku lupa nanya itu Saung Tomyam Kelapa buka apa nggak,” ledek gue ke pacar ketika menunggu angkot yang menuju lokasi saung. 

“Kamu mah nyebelin!” ucap pacar dengan muka cemberut.

Gue hanya bisa tertawa dan bilang, “Kalau tutup tinggal balik lagi.”

Dia pun semakin bete. Gue hanya bisa cengengesan melihatnya. Ya, sebab sebetulnya gue sudah mengabarkan Kang Baha, pemilik Kuliner Tomyam Kelapa, dan dia mengatakan kalau warungnya itu buka.

Begitu sampai, kami berdua langsung disambut Kang Baha. Kemudian Kang Baha menanyakan kabar kami berdua dan ngobrol-ngobrol. Melihat si pacar yang dari tadi hanya menyimak obrolan dan cuma memperhatikan jam tangannya, gue pun inisiatif bertanya, “Kamu udah laper banget?”

Dia mengangguk.

Keasyikan berbincang-bincang sama Kang Baha, gue malah sampai lupa memesan tomyam itu. Setelah melihat-lihat daftar menu, gue memilih Tomyam Mangkuk Campur, sedangkan si pacar memesan Tomyam Mangkuk Seafood. Dan tentunya kami juga memesan dua piring nasi dan dua teh botol. Entah kenapa gue tumben banget nggak memesan tomyam yang kelapa dan malahan yang mangkuk.

Sambil menunggu tomyam itu, gue membuka tas untuk mengeluarkan novel yang memang gue bawa dari rumah untuk membacanya. Namun, gue terkejut bukan main ketika melihat isi tas gue yang basah kuyup itu. Gue baru sadar kalau tas gue tadi sempat kehujanan. Gue mengecek kondisi barang-barang yang gue bawa. Bloknot yang biasa gue gunakan untuk corat-coret ide basah; novel “Jika Aku Millikmu” karya Bernard Batubara, yang mana gue beli baru sebulan yang lalu juga basah; MiFi Bolt gue korsleting dan pokoknya nggak mau menyala; earphone gue suaranya jadi sember.

Aselik, gue kesel banget! Ide gue yang banyak tertulis di bloknot itu luntur. Buku yang baru gue beli juga rusak. Gue saat ini nggak bisa internetan. Dan telinga gue nggak nyaman lagi ketika mendengarkan musik memakai earphone.

Suram betul hari Sabtu ini. Kutu kupretlah. Bisa-bisanya gue apes kayak gini. Menyedihkan sekali pokoknya. Kalau dulu pernah ada sinetron Kisah Sedih di Hari Minggu, gue rasanya jadi pengin bikin Kisah Sedih di Hari Sabtu. 

“Udah-udah, sabar. Yang penting sekarang makan dulu. Paling nggak keinginan kamu makan tomyam sekarang bisa kesampaian,” kata pacar mencoba menghibur gue.

“Ya, kamu enak ngomong gitu karena nggak kenapa-kenapa. Tas kamu nggak kebasahan. Laptop kamu juga aman. Ini buku aku rusak! Bolt aku apalagi nih korslet. Asu!” ucap gue benar-benar kesal.

“Nanti pas pulang kan bisa dikeringin. Aku yakin bisa nyala lagi kok nanti Bolt-nya.”

“Halah!”

Setelah berdebat, tomyam itu pun tersaji di meja kami berdua. Emosi gue mendadak menghilang. Ya, nggak enak juga berantem di tempat makan begini. Kemudian gue mengambil garpu dan sendok, dan menaruhnya di piring. Si pacar langsung menyantap tomyam itu, sedangkan gue masih menggeser-geser makanan itu. Gue yang memang memiliki kebiasaan untuk memotret makanan sebelum dimakan, langsung mengeluarkan hape dan mencari angle yang pas.

“Dih, bukannya udah sering foto tomyam, ya?” tanya si pacar.

“Bawel dah! Buat koleksi tau,” jawab gue sewot karena masih kesal akan isi tas yang kacau.

Dia hanya geleng-geleng kepala. Gue mulai memotret. Cekrek.




Barulah gue mulai memakan tomyam itu dengan begitu lahapnya. Ketika makanan gue sudah habis tak bersisa sebutir nasi pun, dan bahkan terasa kurang. Eh, si pacar yang dari tadi bilang laper banget itu justru nggak kelar-kelar makannya.

“Lama amat makannya,” ledek gue.

“Nasinya banyak tau. Bantuin dong habisin.”

“Ogah, ah.” Ya, padahal mah masih laper, tapi tetep aja males. Gue yakin dia sanggup menghabiskannya. Lagian, perjalanan kami berdua masih berlanjut setelah ini.

***

Gue melihat jam di tangan kanan, jarum panjangnya menunjuk ke angka 12 dan jarum pendeknya ke angka 6. Cepet amat udah magrib, batin gue. Saat ini, kami berdua sudah berada di kereta lagi menuju Stasiun Tanah Abang untuk transit. Syukurnya kali ini dapet tempat duduk.

“Duh, ngaret udah satu jam nih. Gimana, ya?” tanya pacar mengeluh ke gue.

“Ya udah, kamu bilang aja ke Rani kalo udah otw,” jawab gue.

Begitu sampai di Stasiun Tanah Abang, kereta tujuan Bogor (yang juga melintasi Stasiun Tebet) tumben rasanya lama bener. Kami berdua sudah letih menunggu. Gue pun memperhatikan pacar yang mulai gelisah. Mungkin dia merasa nggak enak sama Rani yang sudah menunggu sejak pukul lima sore di Stasiun Tebet.

Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya dateng juga kereta itu. Kami berdua langsung bergegas naik. Dan kali ini, kami harus berdiri lagi. Entah kenapa, kaki gue semakin terasa pegal. Padahal belum lama-lama banget berdiri di kereta. Mungkin karena kelamaan nunggu di Stasiun Tanah Abang tadi. Atau rasa-rasanya gue harus mulai mengurangi kegiatan merancap biar gak lemah gini.

“Ya, Allah,” ucap pacar.

“Kenapa?” tanya gue bingung.

“Rani bete kelamaan nunggu, dia bilang mau pulang aja,” jawabnya.

“Bilang, tiga stasiun lagi sampe!” kata gue kesal.

Bangke emang. Padahal kami berdua sudah di perjalanan menuju Stasiun Sudirman. Palingan 15 menit lagi sampai di Stasiun Tebet. Eh, si Rani malah mendadak bilang mau pulang. Kurang ajar! Sempak bener! Telek pitik!

“Gimana, dibales nggak?” tanya gue.

“Belum juga nih.”

Begitu kami sampai di Stasiun Manggarai, yang mana artinya sudah tinggal satu stasiun lagi menuju Stasiun Tebet, Rani mengabarkan kalau dirinya sudah di jalan pulang dan mengusulkan kalau evaluasinya nanti lewat email aja. Si pacar tertunduk lesu. Gue pun merangkul bahunya dan mengusap-usapnya sambil bilang, “Udah gak apa-apa.”

Gue tau, dia pasti kenapa-kenapa. Dia pasti kesel banget. Udah dateng jauh-jauh, udah berat-berat bawa laptop (ya, walaupun tas laptop itu gue yang bawa), intinya dia udah bela-belain habis makan tanpa menunggu makanan itu tercerna, eh langsung bergegas ke Stasiun Tebet. Namun, temennya itu dengan gampangnya pulang.

Emang, sih, salah kami berdua yang ngaret. Kami yang bikin dia menunggu lama. Cuma, apa iya nggak bisa menunggu lebih sabar? Sebenarnya dia mau ke mana, sih, buru-buru? Mau malam Mingguan sama pacarnya? Pacarnya udah gak sabar minta jatah? Ehhh. Hahaha.

Ah, pokoknya tokay bangetlah hari ini!

Melihat wajah pacar yang mendadak tidak bersemangat, gue jadi ikutan sedih. Duh, gue jadi kasihan sama si pacar. Apalagi hari ini dia haid hari pertama, yang mana pasti merasa kesakitan dan emosinya nggak terkontrol. Anehnya, dia masih berusaha sabar dan tersenyum walaupun itu dipaksakan. Bahkan, dia masih mau mendengar ocehan gue yang tadi kesal ketika di tempat makan. Gue yang masih menyimpan rasa kesal karena novel, bloknot, dan MiFi yang basah terkena air itu pun mulai berusaha tersenyum dan melupakannya. Gue jadi nggak enak sama pacar kenapa tadi segala ngomel-ngomelin dia. Gue pun meminta maaf ke pacar.

Sebelum kembali lagi ke Stasiun Palmerah, gue memilih untuk salat Magrib di musala Stasiun Tebet. Setelah itu, kami berdua mampir ke 711 untuk beristirahat sejenak dan membeli minum. Ketika si pacar masih chatting dengan temannya yang ada di grup itu untuk menanyakan pembahasan evaluasi, gue pun meminjam laptopnya dan menuliskan beberapa paragraf tulisan yang sedang kalian baca ini. Setelah merasa buntu dan nggak tahu harus menulis apa pun lagi, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

***

Pulangnya, kami memilih untuk menutup hari Sabtu itu dengan senyuman. Kami mencoba melupakan suramnya hari ini. Sebelum mengantarkan pacar pulang, kami berdua mampir makan kebab di pinggiran jalan. Ternyata, secapek-capeknya berdiri di kereta, sekampret-kampretnya nyamperin temen yang akhirnya malah ditinggalin, dan betapa semenyedihkannya hari Sabtu ini, kami berdua masih bisa mencoba menikmati malam Minggu dengan manis.

Sesampainya di rumah, gue langsung mengipasi novel, bloknot, dan MiFi yang tadi kebasahan itu dengan kipas angin. Kampretnya, MiFi itu tetap nggak mau nyala padahal sudah satu jam lebih gue taruh di depan kipas angin. Karena frustrasi, gue coba curhat dan bertanya kepada grup WIRDY di WA. Hanya Robby yang merespons curhatan tersebut, ya mungkin yang lainnya sudah pada tidur. Dia menyarankan gue untuk menaruh MiFi itu di beras. Gue awalnya nggak ngerti, kenapa harus beras? Namun, dia bilang dapet informasinya itu dari internet. Baiklah. Nggak ada salahnya gue mencoba saran itu.

Sambil menunggu MiFi yang gue taruh di tumpukan beras, gue kepikiran untuk menyetrika novel itu karena nggak kunjung kering kalau hanya dengan kipas angin. Kurang kerjaan emang, sih. Kaos dan baju jarang disetrika, sampai-sampai Nyokap yang akhirnya setrikain. Eh, giliran novel begini aja disetrika. Habisnya gimana ya, sejak mulai mengoleksi dan merawat buku. Gue tuh jadi sayang banget gitu sama koleksi novel gue. Gue bahkan nggak sudi minjem-minjemin novel kesayangan ke siapa pun. Dan ini adalah pertama kalinya gue merusakkan novel yang disebabkan oleh kecerobohan gue sendiri.

novel disetrika, bukannya baju

Setelah kelar menyetrika bloknot dan novel, gue langsung mengambil MiFi itu dan bersiap-siap mencoba menyalakannya. Sumpah, gue deg-degan bukan main. Rasa khawatir kalau MiFi itu rusak pun semakin parah. Gue udah berpikiran yang bukan-bukan. Berapa nih harga memperbaikinya? Apa gue harus beli baru? Ah, daripada takut-takutan gini, mending gue langsung nyalain.

Bismillah semoga bisa....

Dan....

Yeay! Bisa! Alhamdulillah

Gue segera mengabari dan bilang terima kasih ke Robby. Gue juga ngasih tau pacar akan hal itu. Dia turut senang mendengar MiFi bisa lagi. Ah, ternyata hari Sabtu ini nggak buruk-buruk amat. Gue malahan jadi bisa menceritakan kejadian ini. Gue jadi bisa curhat lagi di blog. Gue jadi belajar banyak. Gue jadi paham akan sesuatu. Seburuk, sesial, dan sekampret apa pun hari yang telah gue lalui ini, gue masih bisa menikmati dan mensyukurinya. Sedih atau bahagia itu memang soal perasaan. Namun, gue memilih tetap bahagia dalam menjalani hari. Apa pun yang terjadi.

Oiya, tadinya gue sempat berpikir untuk mengganti judul tulisan ini. Namun, entah kenapa gue udah bingung dan nggak tau lagi harus ngasih judul apa. Menurut kalian, judul yang bagus apa? Hehe. 


PS: Gue nggak dibayar untuk promosiin Tomyam. Ini murni keinginan gue karena pengin merekomendasikannya ke kalian. Siapa tau ada yang ingin mencobanya.

Harga tomyam itu:
Tomyam mangkuk spesial: Rp25.000,00
Tomyam mangkuk seafood: Rp21.000,00
Dua buah nasi: Rp10.000,00
Dua botol S-Tea: Rp10.000,00

Jadi, totalnya: Rp66.000,00

Alamat: Jalan Sulawesi Raya No. 19 (Area parkir lapangan Tenis Villa Bintaro Indah). Jombang, Ciputat. Tangerang Selatan, Banten.

Sekian dan terima kasih sudah baca curhatan nggak penting ini. Selamat menjalani hari-harimu, Kawan!
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

54 comments

  1. Jadi pengen nyobain tomyam. Makannya sambil baca buku Bernard Batubara. Oh ya kamu nanti PO novel Leona-nya Zarry Hendrik gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seleranya Yoga ternyata sama kayak Haris. Iya kan, Ris?

      Delete
    2. Haris: Muahaha. Gak jadi baca, kan itu basah. Enggak, Ris. Gak ngikutin ceritanya. :)
      Rido: Hm... bisa jadi.

      Delete
  2. Ini gimana ya abis baca ini malah pengen punya pacar. Whahaha

    ReplyDelete
  3. Pengen cobak tapi jauh amat ya. Huahahah. Teto gak mau keknya, secara dia cumak sukak tempe, tahu, telor en mie. Hih!

    Si pacal kalok lagi dapet sukak laporan ya, Yog? Wkwkwk. Aku jugak gitu sik. Ya maksudnya biar tau jangan bikin aku kzl selama seminggu! 😂😂😂

    Next cobak deh belik tas yg bahannya tahan aer. Aku kalok buku uda basah, moodnya jadi gak karuan :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huwahaha. Ya, di sana kan ada mi ayam rasa tomyam juga, Kak. Itu masuk ke jenis mi. :D
      Hm... gak, sih. Cuma pas aku ajak salat jamaah gitu, dia bilang kalau lagi dapet.

      Sama. Itu aja aku ngedumel. :(

      Delete
  4. kalo tomyam bikinan om gue dikasih banyak keju, jadi rasanya ya gitulah kebanyakan keju :|

    ReplyDelete
  5. Sebagai anak tangsel gue merasa gagal belum sempet nyobain tomyam.
    Kapan ke tomyam lagi ? kuy lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Embuh deh, Rin. Ehehe. Ajak Kak Lia coba. Jadi, anak-anak TangSel aja. :D

      Delete
  6. ini Rani yang di postingan ini apakah sama dengan Rani yang di postingan es krim spesial?

    Masya Allah, ngamuk2 ke pacar, kalo gue jadi pacar lo pasti udah gue siram tinggal pulang.

    kalo soal barang yang basah lalu ditaruh diberas itu gue pernah nyoba juga, hape sih waktu itu basah gara2 kehujanan dan bisa nyala juga huahaha :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woy, cuma nama samaran!
      Duh, nggak sejahat itu kelihatannya, kok. Ngedumel biasa. Gak sampai ngamuk. :(
      Wahaha. Gue baru tahu malah. Norak, ya. XD

      Delete
  7. Kasihan ih jadi pacarnya Yoga, diamukin mulu. :(

    #SaveFeminism

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak sampai segitunya, Kang Rido. Aduh. :(

      Delete
  8. Musim hujan gini kemana mana bawa plastik atau kompek jadi kalo hujan barang barang atau tas dimasukan kompek.

    Pernah juga tuh diajakin temen makan waktu nunggu pesenan datang malah mau baca buku. Aku taruh aja bukunya di meja sebelah hahahaa

    Aku juga males minjamin buku, tapi mereka ngambil sendiri waktu aku gada dirumah. Sialan emang.

    Alhamdulillah bisa nyala lagi MiFinyaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, namanya juga lupa, Rum. Terlanjur basah. :')
      Woahaha. Terus jadinya nggak dibaca?

      Sialan banget! Masa gak izin. Iya, alhamdulillah masih rezeki.

      Delete
    2. Iya, lain kali siap sedia dah..

      Ya gak lah, kalo nekat baca lain kali gak bakalan mau diajakin. ehehee

      Ya makanya tuh, mungkin ijinnya sama orang dirumah kali.

      Alhamdulillah :)

      Delete
  9. Pacarnya sabar banget ya.
    Aduh... jadi pengen punya pacar juga, biar makan tomyam bareng. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakakak. Tujuan hidup yang simpel sekali. Punya pacar biar bisa makan tomyam bareng.

      Delete
  10. Yog, itu sebenarnya kamu lagi curhat ya sama Kang Baha makanya jadi keasikan? Dasar blogger curhat! Huahahaha.

    Bagus deh kalau yang basah itu bisa diperbaiki. Berkat adik kecil kita, Robby. Maaf waktu itu nggak ngerespon, eh tau-tau udah baik aja itu Bolt. Telek pitiq emang Icha :(

    Oh iya satu lagi.... Vk memang yang terbaigh! Vk panutanku! Aku mau belajar sabar dari Vk!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ng... iya kayaknya curhat. Ehehe. Gak apa-apa, kok. Paling gak ada yang jawab. Lagian itu nanyanya pas udah malem. :)

      Waahaha. Anjis inisial disebut!

      Delete
  11. Ini tomyam kelapa yang waktu itu udah kamu pernah post itu ya ? asiiik akhirnya ngajak pacar ke tempat makan favorit.

    Gue ngakak waktu baca baris paragraf yoga yang ini -> Gue pun merangkul bahunya dan mengusap-usapnya sambil bilang, “Udah gak apa-apa.”
    Bayangin muka lu modus gitu lah. Bahahahha.

    Hmm iya nih waktu lo marah marahin cewek lu, seketika hati gue gak terima. Apalagi tau kalau doi lagi mens hari pertama, sabar banget dah cewe lu yog wkwk. Yaaa hujan memang kadang keliatan romantis di ig, di puisi puisi, di syair2, tapi kalau hujan menyebabkan Mifi rusak, buku basah, gaasik juga sih ya. Hahhaa.
    Yang penting mifi nya bisa nyala lagi seh. Untung punya beras.

    anak kosan kayak gue mah.. ga punya beras.

    lho kok jadi curhat ya gue.

    btw komen ini udah gue baca ulang. Gue pastikan. Nggak ada yang typo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, udah pernah. Asyik banget, Da. Ahaha. :D

      Gak modus woy! Itu gue berusaha menenangkan dia tau. Iya, hujan juga menyebabkan banjir, kan. Nggak baik juga. Intinya, yang berlebihan itu emang gak baik.

      Sedih amat gak punya beras. Buahahanjirrr segala dikoreksi supaya gak ada yang typo. Leh uga.

      Delete
  12. Halo bro gua pengujung baru di blog lu nih gua terhibur nih sama cerita lu tadi keren keren, yang penting malam minggu itu jadi beda ya ngga kayak biasanya diem dirumah nonton MU yang kadang kadang bikin ngeselin pas kalah mulu, tapi malam minggu kali ini bisa bareng pacar, ujan ujanan bareng, makan bareng, naek kereta bareng , mandi bareng kwakka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya sudah khilaf main dan baca blog ini. Semoga betah! :D

      Mandi bareng apaan dah? :/

      Delete
  13. OOOOOOh..
    Mengaoa diri mu apes banget siih?
    Gua bisa nangis kalo tau novel yang baru dibeli malah basah..
    Dan gua yakin lo juga belom baca kan novelnya?
    Sakit..
    #apus aer mata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin disuruh belajar bersyukur atas apes itu. Baca, sih, udah lumayan. Kayaknya udah baca setengah, tapi ya tetep belum kelar. Terus males baca lagi karena rusak gitu. :(

      Delete
  14. Malam minggu mah buat istirahat aja bang di rumah :D
    Itu kenapa aku fokusnya ke makanannya.. Yah lavar deh :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, biasanya gitu. Ini karena nemenin dia evaluasi. Sengaja biar pada lapar. :p

      Delete
  15. Om telolet om (2)

    Beras itu ada punya semacam daya magis yang bisa menyerap air. Dulu pernah hp nggak sengaja nyemplung terus direndem beras semalaman dan akhirnya nyala tapi layarnya jadi gelap. Ujungnya sama aja mesti diservis.

    Pacarnya setrong ya, haid hari pertama dikasih hujan-hujan, dikasih omelan gara-gara hujan, gak jadi evaluasi. Kalo cewe normal rasanya bakal mencak-mencak kali.

    Sudah lama nggak kesini dah punya pacar aja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahaha. Magis? Bahasamu. Wahaha. Syukurnya punyaku berfungsi lagi. :D

      Entah. Mungkin dia memang penyabar. Ehehe. Iya, dong~ :))

      Delete
  16. Gila ! Mau makan di Bintaro musti jemput pacar dulu di Kemayoran? Muahahaha.....

    ReplyDelete
  17. Ohmaygad ternyata tomyam nya deket dari uin. Ayook lah kapan meetup blogger makan tomyamnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ajakin yang lain coba. Gue mah hayuk aja. :)

      Delete
  18. Serem amat yoga ngamuk-ngamuk. Kalo gue jadi pacarnya udah gue tubruk pake kereta. :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan dong, Di. Nanti blog ini kehilangan penulis kerennya. Apaan!

      Delete
  19. Jadi dengan beras bisa idup lagi MiFi nya ya? Memang luar biasa. Pacar kamu penyabar banget ya, jadi inget pengalaman sendiri digituin sama temen. Kalo kalian mending, mbuat temennya pacar nunggu. Aku dulu,udahlah teman tuh ngajak janjian, trus aku yang nunggu trus tiba tiba dia yang batalin. Alasannya simple aja, tiba tiba nggak mood. Handeeeh..#jadicurhat
    Jadi pengin nyoba tomyamnya nih. Tapi jauh ya, mesti ke Jakarta #tambahsedih
    Salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bisa. Baru tau akan kehebatan beras selain untuk membuat perut kenyang. :D
      Laaaah? Jahat amat itu. Dia yang telat, dia yang batalin juga. Anjir!

      Salam kenal juga. :)

      Delete
  20. Aku rada geli sih baca tulisan yang detail begini dan ada bagian perihal pacar2nya hahaha. Karena jadi ngebayangin gitu wkwk. Tapi untung ada si tomyam nya jadi aku terusin baca perihal kebetean mu dan sang pacar di hari itu.

    Nanti kalau aku ke Jakarta, mau coba ya Yooog! Tar temenin!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kali ini lagi pengin nulis tentang itu, Teh. Aku juga sebenarnya mah jarang nulis cinta-cintaan gini. Sesekali deh. :p
      Wooo, gak bisa lihat makanan enak, ya? XD

      Siap! Kabar-kabarin aja kalau ke Jakarta lagi. ^__^

      Delete
  21. Ngamuk-ngamuk ke pacar itu bawaan zodiak atau golongan darah? Kalau itu bawaan goldar, wah gue juga begitu dong. Gue O.

    Wahaha, padahal gue juga nggak yakin kalau beras bisa nolong. Hidup nasi, makanan pokok orang Indonesia barat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha. Gak tau. Kayaknya itu karena merasa apes banget aja, sih. Dan satu-satunya tempat sampah untuk ngedumel, si pacar. :(

      Gak apa. Pokoknya makaseh!

      Delete
  22. sepanjang baca ini aku ngalir banget ikutin ceritanya. kangen banget tulisan blog bang yoga.

    jalan-jalannya nano-nano ya, tapi senang dan tidak senang dirimu tergantung kerja kerasmu~~~ eh malah nyanyi .-. saking sayangnya sama novel sampai disetrika. aduh ada lecet-lecetnya nggak?

    aku jadi ikut gereget pas Rani pergi pas kalian berdua mau nyampe. ya emang sih nunggu ada batas kesabaran, tapi kan... udah dikabari bentar lagi mau nyampe. apa Rani juga lagi PMS juga jadi gitu? .-.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha. Makasih udah kangen tulisanku. :D
      Sebenarnya, sih, sedih karena belinya baru sebulan dan belum kelar baca. :(

      Entahlah itu, Ris. Udah mau sampai dia malah pulang. Ibarat sebentar lag sukses, dia menyerah. Halah.

      Delete
  23. itu tomyam kelapa udh lama bgt mau aku dtgin tp ga jadi2 -__-. jauh juga sih dr rumahku soalnya :D...

    aku jg koleksi buku yog, tapi ga terlalu peduli urusan penampilannya sih, yg penting halamannya msh utuh huahahahha ;p. makanya kalo buku2ku mah kbnyakan emg udh butek krn berkali2 dibaca.. kalo ada bukuku yg msh rapi, itu tandanya 1, isinya biasa, dan ga bikin aku pgn baca berulang2 ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehe. Sesekali coba, Mbak. Bilang aja temennya Yoga. Halah. Emang saya siapa? XD
      Iya, beberapa buku di rumah juga udah butek. Cuma, masih rapi atau terawat gitu. Nah, beberapa buku emang ada yang cuma dibaca sekali terus males baca ulang, ya. Aku ada buku yang penuh sama post it gitu. Nandain bagian menariknya. :)

      Delete
  24. Tomyam, Kereta, Basah dan Pacar di Hari Sabtu :D

    ReplyDelete
  25. Duch ngak punya pacar aja banyak alasan hehehe atau ngak punya duit ??? hua hua

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.