Cara Menghabiskan Waktu yang Efektif

47 comments
Awalnya kukira cinta kita ini semu.
Sampai akhirnya aku mulai menyadarinya setelah kepergianmu.
Meluapnya hasrat untuk kembali bertemu.
Andai menahan rindu itu tak sepahit minum jamu.

Malam ini, aku benar-benar sedang merindu.
Sampai aku teringat kenangan masa kecil bersamamu ketika asyik bermain gundu.
Pertama kali kulumat bibirmu di bawah pohon randu.
Saat kurenggut keperawananmu itu, kau pun menangis tersedu-sedu.
Dan sejak saat itu, menyetubuhimu adalah candu.


***

Ada seorang pemuda yang tidak pandai atau malah tidak bisa merangkai diksi. Namun, ia masih saja rutin membuat puisi. Banyak teman-temannya yang bilang, kalau cita-citanya yang ingin menjadi penyair itu adalah sebuah ilusi. Bodohnya, ia tetap percaya dengan dirinya sendiri dan terus mewujudkan visi dan misi. Mungkin hal itu disebabkan karena ia terlalu sering membaca karya fiksi.

Sebenarnya pemuda ini mah sama saja dengan pemuda-pemuda yang lain. Yang membedakannya adalah, ia hampir tidak pernah serius dan sering sekali bermain-main. Bermain permainan virtual di laptopnya, bermain dengan kata-kata, atau bahkan bermain dengan pikirannya sendiri.

Dirinya sendiri pun terkadang sulit memahami apa yang sebenarnya ia pikirkan tentang hidup ini. Terkadang ia tidak begitu memedulikan orang-orang di sekitar karena sibuk sendiri. Misal ketika ia datang ke tempat makan cepat saji hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri. Membeli sebuah minuman lychee float kemudian duduk di kursi yang dekat dengan colokan. Pemuda ini memang suka dikenal dengan sebutan "pencari colokan".

Sambil menghabiskan minumannya, pemuda itu sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang berada di sekelilingnya dan memilih asyik sendiri. Entah itu mendengarkan musik di handphone-nya menggunakan earphone, entah membaca buku, atau entah gabungan keduanya. Tapi terkadang pula, ia meletakkan buku yang sedang dibacanya itu. Kemudian mematikan lagu yang terputar di ponsel miliknya dan melepas earphone dari telinganya. Setelah itu, ia mulai memperhatikan orang-orang di sekitarnya: ada om-om botak yang berumur sekitar 40 tahunan sedang makan ayam kentucky dengan lahapnya; ada gerombolan mahasiswa yang sepertinya sibuk mengerjakan tugas di laptopnya, tapi kemudian malah asyik ngobrol dan tertawa ramai-ramaitanpa memikirkan tugasnya sudah selesai atau belum; ada pula sepasang remaja yang masih mengenakan seragam SMA sedang bermesra-mesraan, apalagi si cowok mulai menciumi pipi kanan dan kiri si cewek secara bergantian seolah-olah mereka sedang berada di tempat mesum.

Pemuda ini hanya dapat tersenyum melihat aktivitas mereka. Pemuda ini kemudian berpikir, orang-orang ini sibuk sekali dengan dunianya sendiri dan tidak mengacuhkan orang di sekelilingnya. Ya, semua orang akan selalu seperti itu. Untuk apa memikirkan atau memperhatikan orang lain? Belum tentu juga mereka memikirkan atau memperhatikan dirinya. Percis seperti saat pemuda ini menghabiskan waktunya untuk mendengarkan musik sambil membaca tanpa peduli apa yang sedang terjadi di dekatnya. Bahkan gadis cantik yang jarak tempat duduknya tidak lebih dari 5 meter di depannya itu pun juga diabaikan oleh pemuda ini karena terlalu fokus membaca. Hal yang langka sekali bagi seorang pemuda normal pada umumnya. Kenapa ia bisa lebih memilih buku ketimbang memandangi ciptaan Tuhan yang aduhai itu? Hanya pemuda itu yang tahu jawabannya.

Pemuda ini kelihatannya sedang malas sekali untuk menulis. Sudah hampir seminggu ia tidak menuliskan apa-apa. Rasanya tumben sekali, karena biasanya pemuda itu akan merasa sakit kepala kalau sudah tidak menulis lebih dari tiga hari. Maka dari itu, ia memilih untuk membaca novel saja. Karena lazimya pemuda ini akan termotivasi untuk menulis dengan sendirinya sehabis membaca buku yang bagus. Ia merasa tertantang dan ingin juga menciptakan tulisan-tulisan yang keren. Ia punya mimpi kalau suatu hari nanti, karyanya itu bisa dipajang di sebuah rak best seller toko buku Gramedia.

Ya, buktinya pemuda itu mulai meraih handphone-nya yang tergeletak di atas meja dan segera mengetikkan beberapa kalimat. Kata demi kata ia coba susun, berharap menjadi cerita yang asyik dan menarik untuk dibaca. Ah, tapi sayangnya pemuda ini memang tidak terlahir sebagai seorang penulis yang hebat. Pemuda ini baru mulai belajar menulis ketika lulus SMA, tepatnya pada tahun 2012. Meskipun sudah mencintai bahasa Indonesia sejak SMP, tapi karena mengenal cinta kepada lawan jenis, dunia baca dan tulis itu pun justru ia tinggalkan. Barulah ketika pacarnya itu selingkuh, ia mulai membuat blog dan menceritakan segala kisah (terutama kesedihannya) lewat tulisan.

Ia memang hobi bercerita, tapi sayangnya ia tidak begitu mahir menceritakannya. Baik bercerita dalam bentuk lisan ataupun tulisan. Karena setiap kali pemuda ini curhat kepada temannya, biasanya temannya itu tidak benar-benar menyimak. Temannya itu pasti mendengarkan ceritanya sambil bermain hape. Entah untuk membalas chat pacarnya, entah bermain Clash of Clans, atau entah malah membaca cerita dewasa.

Begitu juga ketika pemuda ini bercerita lewat tulisan. Masih jarang orang yang mau membacanya sampai habis karena tulisannya itu seringkali panjang-panjang dan kurang penting. Bahkan di blognya itu, mungkin saja ada orang yang tidak membaca tulisannya sama sekali dan langsung komen ala kadarnya hasil membaca kilat dari komentar-komentar pembaca sebelumnya dan hanya mengharapkan kunjungan balik. Lagipula, tulisan pemuda ini memang masih jelek. Benar-benar tidak menarik untuk dibaca. Membaca tulisannya itu sepertinya hanya akan menghabiskan waktu dengan sia-sia. Kalau kalian tidak percaya, coba tengok kalimat pembukanya. Itu kalimat pembuka yang buruk sekali. Masa pemuda itu membuka ceritanya dengan sebuah puisi menye-menye yang berbunyi, "Awalnya kukira cinta kita ini semu. Sampai akhirnya aku mulai menyadarinya setelah kepergianmu...."
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

47 comments

  1. Hoaaaah sajaknya ntaps yog!

    Pemuda itu adalah kamu. Eh iya ga sih? Kayak ngegambarin elu yog haahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Wulan. :D

      Gak tau itu pemuda siapa. Hahaha. :p

      Delete
  2. pemuda itu butuh teman untuk berbagi cerita, tapi teman-temannya cuek?
    pemuda itu tidak perduli yang penting dia meluapkan perasaannya saja itu sdh cukup
    eh siapa nih?
    hehe
    aku asal komen ya maaf

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, jahat ya temennya itu. :( Gak tau dah itu siapa. Gak apa-apa. Setidaknya kamu baca tulisanku. :D

      Delete
  3. Biasa seseorang yang menulis pengalaman begini berdasarkan apa yang dia lakukan selama ini terhadap blog yg dikunjunginya kwkwwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan mudah menilai seperti itu. Apa yang tertulis kan tidak semuanya berdasarkan pengalaman sendiri, bisa saja pengalaman orang lain atau riset. Wqwq. :)

      Delete
  4. Hmmm siapa kah pemuda itu? Apakah pemuda itu bukan pemudi?
    Lalu siapakah orangtua pemuda tersebut?
    Bagaimanakah dy bisa lahir di dunia ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemuda ya pemuda. Pemudi ya pemudi. Orangtua pemuda tersebut tidak diketahui karena tidak diceritakan. Dia lahir dari rahim ibunya, lah. Masa lahir dari perut lu, Nik? Lu kan cowok!

      Delete
  5. Gak penting pemudanya siapa, yang penting tulisan lu makin lama terasa makin asoy. Mungkin masih curhat, tapi formatnya beda-beda. Ntap!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya, Mas Tata. Komentarnya juga mantap!

      Delete
  6. Menyetubuhi mu adalah candu, memang yaaa yg haram itu nikmat hua hua

    ReplyDelete
  7. Kalau gue tipe pemuda yang kalau sudah baca artikel sampai habis suka bingung mau komen apaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok gue ngakak ya baca komen ini

      Delete
    2. Ya, kadang emang suka begitu. Gue juga bingung mau komen apa. Ini aja bingung mau bales komen kayak gimana. :(

      Delete
  8. ada seoang perempuan yang sedang blogwalking kemudian ia menemukan tulisan "cara menghabiskan waktu yang efekif", dia kira tulisan itu semacam tutorial, setelah dibaca sampai habis, ternyata bukan. Yeaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena sebuah judul tidak selalu menggambarkan isi. :)

      Delete
  9. Mantep nih postingan. Setengah fiksi setengah refleksi diri. Hihi. Kalau dalam bahasa anime mah: kakkoi, Yoga senpai. Kalau dalam bahasa sunda: pikaeduneun lah Akang Yoga.

    Satu pertanyaan. Jadi, kalau disuruh milih, mending pacar atau buku nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anjir segala bahasa anime. XD Nuhun, Akang Agia. :D
      Milih buku nikah bareng pacar yang kelak jadi istri. :))

      Delete
  10. Pertama kali kulumat bibirmu di bawah pohon randu.
    Saat kurenggut keperawananmu itu, kau pun menangis tersedu-sedu.
    Dan sejak saat itu, menyetubuhimu adalah candu.


    *gue mikir kera ini sebenernya yoga mau posting apaan*
    Apakah tutorial?
    Eh ternyata yoga lagi bikin posting tentang "About me" ya?
    hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sori itu typo. harusnya KERAS.
      Bukan kera *malu*

      ini nih akbiat komen kilat. Sampe typo typo.

      Delete
    2. Tutorial kelihatan dari judul, ya? XD Hm... gak tau deh. Itu fiksi aja, sih. :p

      Da, kurang-kurangin typo kamu.

      Delete
    3. Iya dari judul kayak tutorial.

      Ternyata dari isi kayak curhatan sang yoga. Tapi pura pura bilang 'ini fiksi' hahaha
      *eh maap gue sotoy*

      Delete
  11. tbh, gue udah enjoy banget baca tulisan lu. lagian gue juga sering banget ke toko kopi sekedar buat numpang colokan, pasang headset, terus baca buku, setidaknya waktu luang jadi produktif hahaha.

    btw gue baru bikin artikel kenapa bikin catetan itu ternyata penting banget. if u dont mind, do check it out :) http://www.debunking-universe.com/a-mine-of-brilliant-mind/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah menikmati tulisanku. Iya, hal seperti itu adalah cara menghabiskan waktu yang efektif. :D
      Udah dibaca, ya. :)

      Delete
  12. Gua pikir gua bakalan ketemu tips-tips atau apa gituh..
    ternyata....

    Gua sampe kaga tau mau komen apa..
    Speechless..

    ReplyDelete
  13. Seperti pernah baca penggalan paragraf awal itu. (Padahal udah ngomong di grup WhatsApp).

    Observasi lingkungan sekitar ini ya? Mantap jiwa si pemuda itu!

    ReplyDelete
  14. Baca kata 'candu' di sajak atas jadi inget candunya awkarin, maapin ya yog :((

    Gua juga kalau lagi di tempat rame kaya gitu sering merhatiin orang, seru aja liatin orang-orang yg bahagia sama dunianya. Tapi ga pernah baca novel di tempat rame sih, jadinya ga fokus. Si pemuda ini multitasking juga ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak apa, Nad. Gue menulis itu jauh lebih dulu daripada Awkarin bikin itu lagu. :)
      Multitasking apaan? Gak juga. Wahaha. Cuma berusaha menghabiskan waktu yang efektif.

      Delete
  15. aku bale sdikit yah...

    "dan jika itu menjadi candu
    jangan pernah kau bermain madu"

    puitis bener nih, lagi ada angin apaan Yog? :')

    nongki di kafe dan halan-halan ke blog teman adalah momen menyenangkan untuk mengisi weekend. sayang hampir sebulan nggak bisa melakukan hal demikian... *maap curhat*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Puitis dari mananya? Ahaha. Cuma iseng aja.

      Kalau ada prioritas lain, ya gak apa. Aku pernah 3 bulan nggak menulis atau blogwalking. :(

      Delete
  16. banyak kalimat nggak efektif. hhh.

    *bena komen singkat*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehe. Gak apa-apa. Bisa diperbaiki. Yang penting menghabiskan waktunya dengan efektif.

      Delete
  17. Kalo emang tokoh si pemuda tidak bisa merangkai diksi, setidaknya penulis artikel ini mampu kok merangkai diksi hehe. Keren Yog :D

    Siapapun jati diri si pemuda, toh dia masih mau "percaya dengan dirinya sendiri dan terus mewujudkan visi dan misi", entah seserius apa itu jadinya. Kalau ditekunin secara mendalam, siapa tahu malah impiannya terkabul, bukan? Who knows.

    Observasi lingkungan sekitar emang terbukti efektif nimbulin banyak ide di kepala, apalagi sambil ditemenin buku bacaan. Boleh aja si pemuda ini nganggep tulisannya kurang baik, tapi yang pasti: sesuatu yang belum baik, kalau terus dipupuk, toh akan menjadi semakin baik. Ah, semoga pemuda ini mau tetep terus menulis.

    Semua orang punya versi masing-masing terkait cara menghabiskan waktu yang efektif. Sore ini, gua menemukannya saat baca tulisan lo. Apapun pendapat pembaca lain, i find myself enjoy reading this. Keep writing, Yog :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya, Bay! :D

      Iya, nggak ada yang tahu. Paling nggak dia sampai saat ini masih terus berusaha mewujudkannya. :))

      Hooh, Bay. Bahkan sampah juga bisa didaur ulang, kan? Woahaha. Bisa aja. Sekali lagi, makasih ya!

      Delete
  18. hahah benar sekali, padahal didalam nya sudah dijelaskan juga dibawah komentar masih nanya juga, ini pasti gak baca postingan diatas, yah kepengen buat viewersnya banyak aja dan kepengen buat dikunjungin .. wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakaka. Ya udahlah, gak apa-apa. Itu hak setiap pembaca, kok. :))

      Delete
  19. merendah kamuuu :D.. tulisan bgs gini dibilang ga bagus -__-.. kalo buatku sih simple Yog, kalo aku bisa tahan baca suatu tulisan panjang/sedang, sampe selesai, berarti tulisannya bgs dan enak dibaca :D ..termasuk yg ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, tulisan ala kadarnya ini diapresiasi sama Mbak Fanny. Terima kasih, ya. :D
      Iya. Aku juga ngerasa kalau aku nggak ngerasa tulisan itu panjang dan berhasil baca sampai habis. Itu berarti tulisan yang bagus. Setuju sama, Mbak!

      Delete
  20. Ini adalah versi bagus dari cerita pendek yang kamu bagikan di grup Whatsapp. Itu, yang soal KFC-nya. Bener nggak? Btw aku ngebayangin pasangan muda mudi yang asik bermesraan itu. Bajingak. Nggak tau tempat banget. :(

    Kalau begitu, jangan tinggalkan dunia menulis lagi. Cintamu pada dunia tulis menulis itu besar, Yog. Kalau pada lawan jenis, nafsunya yang besar.O iya maap. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehe. Karena emang merasa pengin bercerita aja. Dan kejadian itu malah menambah paragraf untuk cerita gue. Iya, kampret emang! Bikin pengin. :(

      Enggak dong. Yakali dunia yang telah menjadikan Yoga seperti ini malah ditinggali. Harus tetap menulis sampai titik darah penghabisan. Halah!

      Delete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan.
Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.