Hatiku Disate

64 comments
Halo! Selamat Iduladha teman-teman. Yaelah, hari gini baru ngucapin. TELAT WOY! Ke mana aja lu, Yog?

Oke, abaikan.

Gimana rasanya lebaran kemarin? Seru? Pada nyate gak nih? Anak kos langsung perbaikan gizi dong, ya?

Kalo buat gue sendiri, entah kenapa Hari Raya Kurban ini semakin biasa aja dari tahun ke tahun. Pokoknya menurut gue jadi gak menarik lagi seiring bertambahnya umur.

Pertama, karena gue gak begitu doyan daging sapi (sukanya kalo udah jadi bakso dan rendang), apalagi daging kambing. Bisa muntah gue yang ada kalo makan kambing, kecuali daging kambingnya disate. Nah, gue masih bisa makan deh. Itu pun palingan cuma sekitar enam tusuk. Lebih dari itu kepala gue pusing. Huhu. Yoga memang lemah. Selera makanannya mah tempe dan tahu. Tahu-tahu dia jadian sama yang lain. Apaan!


Kedua, gak begitu suka nontonin penyembelihan hewan kurban. Selain udah gak seru lagi, gue juga males sama baunya. Bau kambing itu terkadang bisa bikin gue muntah. Apalagi kalo bau kambing itu sudah tercampur dengan bau sapi dan bau badan gue sendiri yang belum mandi dari hari Sabtu. Ya, Tuhan, bau hari Sabtu kayak gimana coba?

Ketiga, saat malam takbiran gak ramai petasan. Beda banget sama Hari Raya Idulfitri. Lebaran Kurban begini langit tidak akan dihiasi oleh petasan. Ya kecuali, lebaran Iduladha ini bertepatan pada tanggal 1 Januari. Muahaha.

Keempat, patuh dan suka bermusyawarah.

Kelima, rela menolong dan tabah.

Btw, kok malah jadi Dasa Darma Pramuka?
Mana yang paling nyambung hanya nomor 1 dan 2 pula. Nomor tiga udah kayak buat manjang-manjangin tulisan aja. Kalo mau panjang mah padahal tinggal ke Mak Erot, ya? Etapi Mak Erot udah meninggal. Gimana dong? Dan ini gue dari ngetik apaan, sih? :(

Astagfirullah. Oke-oke, serius.

Asli, momen lebaran ini beda banget sama 5-10 tahun yang lalu.

Dulu, walaupun gue gak begitu suka daging kambing, gue akan tetep ikutan nyate. Asyik aja rasanya bisa kumpul bareng temen-temen untuk nyate. Ya, walaupun gue harus ikut patungan beli arang, gue juga yang ngipasin, dan yang makanin satenya malah mereka. Temen-temen gue memang bajingan! Anyway, gue bahagia sama momen itu.

Kemudian, menonton pertarungan hewan melawan tukang jagal ini rasanya juga menyenangkan sekali. Gimana proses si Bapak Tukang Jagal menjatuhkan si sapi. Gimana si sapi mencoba untuk bertahan hidup. Si Sapi akan berusaha melawan karena masih pengin hidup lebih lama lagi demi mewujudkan cita-citanya (walaupun kita semua tahu kalau sapi ini kerjaannya palingan cuma makan rumput dan boker). Apa coba cita-cita mereka? Jadi astronaut? Jadi pengusaha? Atau jadi Youtuber? Yo wasap ma fren. Gue ngasal beatbox. Brrrcikepeeeeeh.

Setelah itu, akhirnya si sapi pasrah karena berhasil dirobohkan. Gue masih ingat betul ketika melihat wajah sapi yang akan disembelih. Matanya berkaca-kaca, tanda ia ingin menangis. Namun, air matanya itu pasti ia tahan-tahan, ia tidak membiarkannya menetes setetes pun.

Yoi, karena akan sangat memalukan jika menangis ketika dilihat banyak orang. Si sapi ini nggak mau terlihat lemah. Sampai ke proses terakhir, ketika tukang jagal mulai berdoa dan menggorok leher si sapi. Darah segar mulai mengalir. Leher sapi yang putih ini pun mulai berubah merah. Dan kalau kalian memperhatikan ke area pantat, kala itulah isi perut sapi ini keluar. Sapi boker di saat-saat terakhirnya. Warnanya kuning rada kecokelat-cokelatan bagai daun yang mengering.

Sayangnya, semua momen itu gak bisa gue nikmati lagi sekarang ini. Alhasil, kemarin sepulang salat Id gue cuma bisa tidur-tiduran aja sampai sore. Sumpah, gue nggak males kok. Gue hanya capek menangis dan ketiduran. Kalau boleh jujur, gue nggak sok menangisi para hewan kurban yang akan mati ini. Nggak. Gue nggak sebaik dan sepeduli itu terhadap mereka. Gue menangis karena....

***

Masjid di dekat rumah gue penuh sekali. Sampai-sampai gue dan Kiki (sahabat gue) tidak kebagian tempat. Alhasil, kami pun mencari masjid lain. Kami salat di Masjid Nurul Iman yang berada lumayan jauh dari rumah. Gobloknya, udah jauh kami malah tetap memilih untuk berjalan kaki. Yha, biar pahalanya banyak kalo kata orang. Kan dihitung dari langkah kaki. Caileh.

Karena sebelum salat Id mesti berpuasa, tidak boleh makan dan minum, kami pun merasakan dehidrasi setelah salat. Maka, sepulang salat Id kami mampir terlebih dahulu untuk beli minuman. Kami membeli es teh manis dalam plastik di sebuah warung pinggir jalan. Btw, perjalanan pulang ini melewati tempat pemakaman umum. Karena tidak biasanya melihat orang yang berziarah ketika Iduladha, gue langsung bertanya ke Kiki, “Emang Iduladha juga rame yang ziarah, ya?”

“Gak tau juga. Biasanya pas Idulfitri, sih,” jawab Kiki. “Sekalian ziarah kalo gitu, yuk!”

“Boleh. Kebetulan lebaran Idulfitri kemaren gue gak sempet.”

Pertama, gue menemani Kiki berziarah ke makam kakeknya. Baru setelah itu, gantian Kiki yang menemani gue ke kuburan Kakek dan Nenek. Selesai mendoakan kakek-nenek gue, kami berpindah ke pusara Aulia Barbara, adik perempuan gue.

Dan entah kenapa, gue masih aja cengeng ketika berkunjung ke rumahnya. Karena malu ada Kiki, gue pun hanya bisa menunduk sambil meneteskan air mata. Dan begitu doa selesai, gue segera mengelap air mata itu. Gue tidak ingin terlihat lemah di depan dia. 

Sesampainya di rumah, gue sarapan lontong sayur dan opor ayam. Barulah setelah itu masuk ke kamar dan mendengarkan musik. Lagi asyik mendengarkan lagu dari The Trees and The Wild, tiba-tiba Kiki mengirimkan gue sebuah foto. Momen barusan ketika gue merapalkan doa di kuburan Aulia.


Foto kiriman Yoga Akbar Sholihin (@ketikyoga) pada



Gue memandangi foto itu baik-baik. LAH, ANJIR! NAMA BOKAP GUE KOK BERUBAH? WAH, TYPO! Aturan Subar malah jadi Sabar. Ya, Allah. SABAR. SABAR. SABAR.

Kemudian gue melihat tanggal kelahiran dan kematiannya yang sama. Gue jadi flashback kejadian pada tahun 2013. Di mana adik yang gue tunggu-tunggu kelahirannya itu malah pergi untuk selama-lamanya. Gue mendadak bersedih. Suasana hati gue kacau-balau. Apalagi saat lagu TTATW berganti menjadi lagu “Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti” dari Banda Neira. Gerimis pun turun di sudut mata gue. Kemudian gue langsung tiduran, menekan earphone agar lebih menempel ke lubang telinga. Gue memejamkan mata dan menikmati kegundahan ini.

Dan entah kenapa, gue tiba-tiba ingin upload foto itu di Instagram. Inilah caption-nya yang sedikit gue perbaiki:


"Hai, adik kesayangan. Maaf ya, kakakmu ini baru datang berkunjung pas Iduladha. Soalnya waktu lebaran Iduliftri kakakmu ini lagi bener-bener depresi. Jadinya, ya Kakak gak sempet nengokin kamu. Oiya, sekarang kakakmu ini udah bangkit lagi dong. Masalah kelam kemarin udah saya ketawain. Lucu juga ya ngetawain masalah kemarin itu. Kok saya bisa-bisanya terpuruk lama banget kayak gitu. Gak nyangka banget Yoga lemah. HAHAHA.

Anyway, menurutku masih lucuan muka kamu, sih. Walaupun waktu itu Kakak hanya sempat melihatmu untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Maaf ya kalo sekarang lupa wajah kamu seperti apa. Kakak gak sempet mengabadikan kamu ke sebuah foto. Yang pasti kamu itu tetap yang tercantik bagi saya. Iya, kamu kan bidadari surga. Maaf juga ya, kalo saya ini cengeng. Masih aja nangis setiap kali berkunjung ke rumahmu. Udah ah, gitu aja. Love you, Aulia. :*"


Sehabis lagu Banda Neira, kini “Melankolia” dari Efek Rumah Kaca yang menemani kesedihan gue dan membuat hujan turun semakin deras. Duh, hatiku rasanya seperti disate. Ditusuk-tusuk begitu menyakitkan. Rongga dada gue pun sesaknya bukan main. Gue gak ngerti gimana caranya menyudahi tangisan ini. Oleh karena itu, gue cuma bisa menyelami sampai lelah hati.

Nikmatilah saja kegundahan ini
Segala denyutnya yang merobek sepi
Kelesuan ini jangan lekas pergi
Aku menyelami sampai lelah hati

Melankolia~

Terima kasih sudah baca.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

64 comments

  1. Iya sih bang, semakin kesini semakin kurang seru terlihatnya. Mungkin kalau di kampung gue juga seperti itu. Tapi selama gue di kost2an (tempat rantau) serasa tetap seru karena gue tinggal menunggu pembagian daging kemudian diolah jadi sate..

    Tapi kasihan juga bagi yg gk suka daging kambing/sapi apalagi baunya..

    Gue lebih setuju untuk pergi ke masjidnya dg jalan, karena akan lebih juga pahalanya.. :)

    Coba saja berangkatnya lebih awal bang, pasti kebagian tempat tuh di masjid dekat rumah..

    Btw, selamat idul adha juga bang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, karena sebagai anak kos butuh asupan gizi. Dan Iduladha itulah yang ditunggu-tunggu anak kos. :))

      Yoih. Berarti setuju ya, gue sama Kiki jalan kaki. Ahaha. Iya, nungguin Kiki telat bangun tuh jadinya gak kebagian tempat deh. :(

      Yoeh, selamat Iduladha!

      Delete
  2. Ini tidak konsisten ya bilang gak doyan daging tapi ada tapinya. Hhhh. Nge eskrim aja sana, Yog!

    Jadi sedih euy baca soal alm.adek lo. Yang tabah, Yog. Perlu dihestekin #YogaStrong2016 gak nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. #YogaStrong2016 !! Tapi tapi tapi tapi tapiii... Semangat pak! \(w)/

      Delete
    2. Kayaknya prlu bnget nih jog. Gmana? Mari kita dukung #YogaStrong2016. Untuk masa depan yoga yg lebih baik!!!!!
      Semangkaa!!!

      Delete
    3. Joga: Yha, gimana. Habisnya kalo diolah jadi bakso atau sate kan rasanya beda. :p
      Plis, lupakan es krim biadab itu. :(

      Gak perlu. Gue tetep kuat tanpa hestek. :)

      Adi: Makasih, Di! \m/
      Reyhan: Ahaha. Gak perlu kok. :p

      Delete
  3. Gue bingung baca tulisan ini.
    Pertama gue dibuat bingung sama tulisan ini karena diawal nggak jelas juntrungannya kemana. Kayak kisah cinta kamu yg ngga jelas tujuannya kemana :(
    Terus di tengah2 kamu ngelucu, tapi tanggung. Aku mau ketawa etapinya cuma bisa senyum :( sama halnya kayak aku liat kamu sama wanita lain. Yha cuma senyum.
    Ketiga kamu buat aku sedih dengan kisah adikmu itu. Karena tiba2 aku jadi teringat kisah yg sama yg terjadi pada adik laki2 ku. Semoga Vilo dan Aulia bahagia di dunianya sekarang. Aamiin allahuma aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena lama gak nulis, gue jadi bingung membuka cerita. Huft. Kenapa jadi bawa-bawa ke percintaan sih, Ben? :))

      Aamiin, ya Rabb. Turut sedih juga akan kematian adikmu. Yaps, semoga mereka sudah bahagia di sana. o:)

      Delete
  4. Gue malah gak nyate sama sekaleee.. ahsyudahlah.

    Itu yg bikin gue bingung juga yog, anak2 knpa seneng lihat mutilasi yak? Ahbiarkan..

    Ziarah, menurut gue malahan harus sering2 berkunjung ke keluarga yg udah gak ada... gue jadi ngebayangin aja, mungkin kalo gue gak ada, apa bakalan sering diziarahin juga? Apa cuma hari raya..? Itu yg bikin selalu takut. Dilupakan. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya sudahlah. :)) Biarkanlah, Yan. Begitulah anak-anak.

      Nah, kadang gue juga sering berpikir seperti itu. Padahal kuburan deket banget sama rumah gue. Tapi gue malah jarang silaturahmi ke rumah mereka yang udah gak ada. :')

      Delete
  5. hah kita samaan Yog ! makin bertambah umur IdulAdha makin terasa biasa aja ~

    Gue turut berduka cita ya Yog :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehe. Banyak yang sama ya ternyata. Makasih ya, Dian. :)

      Delete
  6. Turut berduka cita ya Yog ke adik lo, eh lo kuat dong, jangan cengeng. Coba ganti playlistmu Yog, biar nggak keinget2 lagi, pake musik Edm kek apa kek, asal jangan yang sedih sedih.
    Ganbatte Kudashai! Kata orang jepang. Artiny gue gak tau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue ganti jadi dangdut koplo apa nih? Artinya itu semangat, kan?

      Delete
  7. Gue setuju sama Yoga capung. Lu nggak cocok nyate yog. Cocoknya ngeskrim. Apalagi eskrim Rani. HAHAHAAAAA
    Sumpah, bagian awalnya random abis. Bikin ngakak. Tapi makin ke bawah kok gue malah jadi mellow gini.

    Gue udah baca caption foto itu di ig. Seketika gue merinding bacanya :')
    Bahagia selalu di surga sana, Aulia :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHA KAMPREETT! Masih aja dah bahas es krim. :(
      Iya, karena awalnya bisa diselipin komedi. Kalo pas di ending, gak tega cerita sedih ditambahin komedi. :(

      Makasih ya, Kakak Wulan. :)

      Delete
  8. Gw trut brduka cita atas kpergian adik mu yog, smoga dtmpatkan dngan layak disisi Allah Swt.

    Gw baru tau, trnyata kt gk boleh makan ya sbelum sholat idul adha? Hrus puasa? Srius itu yog?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya, Rabb. Makasih ya, Reyhan. :D

      Serius, Yan. Bates lu makan pas sahur sebelum subuh itu. Pagi sampe salat kelar gak boleh makan dan minum. Habis salat baru boleh. :)

      Delete
  9. Apalagi kalo bau kambing itu sudah tercampur dengan bau sapi dan bau badan Andovi yang belum mandi dan bajunya nggak diganti-ganti dari hari syuting video GGS. Ya, Tuhan, bau syuting video GGS itu kayak gimana coba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. WAKAKAK HARIS BANGKHE! Gue gak kepikiran sama Andovi. Kayaknya lu udah kena virus GGS, Ris. :))

      Delete
  10. Selamat Iduladha. Hahaha, sori telat.

    Iduladha tahun ini menurut gue lebih enak. Soalnya nggak disuruh bikin rangkuman ceramah khotib. Hehehehe. Udah dua tahun terakhir suruh bikin rangkuman terus.

    Gue mah seneng-seneng aja makan kambing atau sapi. Cuma pas udah di sekolah, gampang laper. Bikin pengin ngeluarin duit jadinya. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahaha. Masih zaman apa bikin rangkuman gitu, Rob? (udah lama lulus belagu)

      Yang tabah ya, wahai anak muda.

      Delete
  11. Sate? Apa itu sateeee? *anak kos gak kebagian sate ibuk kos*

    Ah. Al Fatihah buat adek kamu ya, Yog. Semoga bisa menolong abangnya yg kadang mesum inih. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muahaha. Gak kebagian? Kasihaaan. :p
      Aamiin ya, Rabb. Kenapa mesum dibawa-bawa lagi? :(

      Delete
  12. Aku juga g doyan daging sapi, kambing, ayam, tapi kalo udah dimasak baru mau hahahaha

    Ciee.. pemerhati hewan kurban.. hahahaha

    Kirain kenapa? Ternyata jengukin Aulia. Sabar, ya.. duh jadi sedih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bodo amat, Rum! Gue udah dimasak pun gak doyan. Yoi, pemerhati banget kan gue.

      Ehehe. :))

      Delete
    2. Yogalak!

      Iya, semoga g pemerhati mantan juga ya.. eehh

      :)

      Delete
  13. Aku juga makin ngerasa biasa aja. Karena beberapa hal sih, cucu-cucu nenek ku udah pada besar dan kerja (juga nikah) jadi kita yang dulu masih krucil dan menyebalkan gak lagi kumpul di rumah nenek untuk makan sate, makan eskrim, makan rujak, ketawa ketawa sampe mabok, dan laen laen yang menuju kesesatan. *ya Allah*

    Anyway, aku juga gak suka acara pemotongan domba atau sapi, iya emang suka mual dan bau. Tapi semakin usia bertambah, aku semakin diingatkan kalau hewan2 itu adalah salah satu pengantar kita ke surga. Yang kita makan pun insya Allah berkah. Jadi walau bau, aku kadang sempetin aja sih. Soalnya setaun sekali juga, gak rugi2 amat hehehe.

    Oke wassalam!

    ReplyDelete
    Replies
    1. ((nikah))

      Kenapa gue baca es krim rasanya kesel, ya? Padahal itu cerpen gue sendiri. :(

      Masya Allah si Fasya ini. Iya, sih. Ehehe. :))

      Delete
  14. Iya ya Kak bener nih, aku juga ngerasa kalo Idul Adha makin ke sini jadi kurang rame? Etapi aku mah dari dulu juga ngerasa gitu sih -.-
    Dulu tuh abis pulang salat, mampir rumah dan pergi lagi buat liat hewan kurban. Tapi pas mau dipotong aku mah kabur. Takut ngeliatnya :(
    Aku suka sama daging sapi aja sih. Kalo kambing nggak. Kenapa ya kambing baunya begitu? ._.
    Mengingat nyate bareng-bareng, aku jadi inget anak-anak kelas. Setahun sekali ada lomba nyate. Pas satenya baru diangkat langsung dilahap, nggak peduli buat jurinya gimana :')
    Btw, Al-Fatihah untuk dedek Aulia aja ya aku mah, Kak. Semoga baik-baik aja. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena kambing gak pernah mandi kali. :(
      Wakakak anjir, itu serius? Lidah melepuh woy!

      Makasih, yaaa. Aamiin ya, Rabb.

      Delete
  15. Selamat hari raya Idhul Adha, Yoga.
    Semoga Aulia tenang disana dan snyum senyum krn punya kakak kocak kyk kamu :)
    *gw mulai ngeblog lg Yog, hahaha*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat juga, May! Telat banget anjir gue balesnya. Asyik. Mari ramaikan dunia blog!

      Delete
  16. ah, jd inget aku udh lamaa ga ziarah ke makam adiknya suami :(.. tp aku memang ga begitu suka ama tempat2 pemakaman Yog.. yg ada bawaan sedih kalo udh liat makam..

    itu bagian sapi yg berkca2 matanya bikin jd ngebayangin ih ... jadi ga tega juga.. tp memang aku duh sjk smp ga pernah mau lg liat kurban yog.. ga tahan liat darahnya yg ngucur gitu :(..lgs mual2.. penglaman trakhir SD liat kurban udh cukup bikin trauma..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhuhu. Tempat yang selalu mengingatkan akan kematian. :')
      Iya, makanya bikin makin males melihat penyembelihan.

      Delete
  17. Gegara terlalu fokus sama sapi. Pas baca lirik melankolia-nya jadi gini

    Segala denyutnya yang merobek sapi...

    *paraparaparapara...

    ReplyDelete
  18. Jujur sih, gue kaget banget pas liat update-an IG, lu. Ternyata seorang Yoga bisa kek gini? Wkwkw....
    Tapi iyalah! Yoga hanya manusia biasa, yaaa....


    Btw, mungkin Lebaran haji akan menjadi momen spesial ketika lu udah "dipanggil" yang maha kuasa buat ke tanah suci alias pergi haji.. Mungkin, yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua manusia ada sisi mellow-nya, Nur. Termasuk Yoga yang kalian nilai begitu. :))

      Mungkin. Ehehe.

      Delete
  19. Bangke Yoga. Ngasal beatbox dibawa-bawa. Bercikecroooot. Bahahahahaha.

    Ini sedih, Yog. Ziarah dadakan itu bikin kamu jadi bermelankolia. Btw aku jadi suka sama lagunya Banda Neira yang itu gara-gara kamu rekomendasiin di grup kalau nggak salah. Pas lagi kepikiran sesuatu, you know kan apa, aku dengerin lagu itu. Rasanya lega aja. :')

    Tabah ya, Yog. Aulia bidadari surganya keluarga kamu. Kuatkan hatimu. Dan tabah ya, sama nama Bapak kamu yang di batu nisan. Sialan itu pake typo segala. Huhuhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan waktu itu emang lagi rame di grup WWF. Jadi keinget. Ahaha

      Emang lagunya enak banget. Hohoho. Saya pasti selalu share apa yang menurut saya bagus. Selalu ingat untuk berbagi. Yoeh.

      Wakakakaka. Iyee, kocak dah segala typo.

      Delete
  20. Semua ada hikmahnya

    Solat di masjid yang jauh, membuat yoga ziarah lalu melow.
    btw, gue baru tau kalau lo punya adik yang sudah tiada.
    turut berduka ya yog.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue emang jarang atau hampir gak pernah bahas almarhumah adik gue. Nanti kusedih. Makasih ya, Kar! :)

      Delete
  21. Aulia barbara, nama yang indah yog bust adek yg dah di surga...
    Tp nama bintinya typo yak huhu

    Hmmm tp fotonya bagus yog, ikut yg mandang jadi berasa trenyuh gini..
    Berarti dia uda maen2 ama beby mbul junior gue ya yg dah dipanggil duluan

    Btw hari raya kurban apa hari apa gitu misal yg sda tgl merahnya makin ke sini msng makin kurang euforianya ya, beda pas kita kecil dulu huhu..mungkin karena dah tambah umur dah ngalamin banyak hal, jadi kurang seimajinatif pas masi bocah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhuhu. Parah emang tukangnya, kok bisa-bisanya typo. :(
      Iya, Mbak. Mereka lagi lari-larian di taman surga. :D

      Bisa jadi kayak gitu. Kadang libur digunakan untuk tidur dan istirahat aja, ya? Haha.

      Delete
  22. Emang usia kita memudarkan segala euforia acara2 penting macam idul adha, fitri atau tujuhbelasan sih. Kalo kata mad dog udah gada gregetnya yak.

    Ini gue kira tadi hati di sate mau ngomongin mantan, ternyata......
    Semangat, pokokua #YogaStrong2016

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaps. Kurang greget lagi. :(
      Ah, pikiran lu mah mantan terus, San!

      Asyek #YogaStrong2016

      Delete
  23. Kok sedih :(( berasa jadi baby doll diajak melayang tinggi terus dijatuhi ke bumi dari ketawa ngakak kemudian~~~

    ReplyDelete
  24. Selamat hari raya idul adha, yog *ini telat banget xD

    Bener, Hari Raya Kurban tahun ini rasanya biasa aja. Hahah. Suka sedih pas liat sapi disembelih tapi ending-endingnya di santap juga. :')

    Turut berduka, Yog. Semoga Adiknya ditempatkan di tempat terbaik disisi-Nya. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Nov! :D
      Dasar kamu bukan vegetarian!

      Aamiin. Makasih yaa. :)

      Delete
  25. Berarti nggak aku doang yang merasakan bahwa yang namanya lebaran tiap tahun pasti berubah, jadi lebih sepi seiring pertambahan usia. Tapi aku terakhir lihat penyembelihan sapi tahun kemarin gara-gara disuruh nemenin adik tetangga yang kecil-kecil.

    Nama adiknya cantik, semoga diterima di tempat terbaik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nemenin anak kecil bikin kita nostalgia sama zaman dulu, ya.

      Makasih Kak Rizki. :D

      Delete
  26. Yogg.. cape scroll nya yog. Komennya banyak banget yog.

    Terus gue komennya apa ya. Lupa soalnya scrool komennya saking panjangnya.

    Mau donat yog *maaf ga nyambung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum sebanyak zaman masih yoggaas. Hmm. :))

      Delete
  27. Idul adha... Gue suka uring-uringan sendiri di kamar nutupin muka, kuping pake bantal. Rumah gue depan masjid, jadi bisa kedengeran itu suara kambing sapi yang pengen dipotong. Sedih :(((

    "Gue memandangi foto itu baik-baik. LAH, ANJIR! NAMA BOKAP GUE KOK BERUBAH? WAH, TYPO! Aturan Subar malah jadi Sabar. Ya, Allah. SABAR. SABAR. SABAR."
    Ini yang tadinya terharu, berubah jadi ngakak. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anjir. Kalo Subuh mah gampang bangun itu. :D

      Ehehe. Kan emang dikasih komedi.

      Delete
  28. yogaaa smeoga adiklo tau ini jadi dia bisa seneng :) semoga dia tenang disana yaaa..

    btw sahabat lo kiki? gue dong yog? eaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya, Ki. Aamiin. :D
      Iya, kamu. Halo sahabatku! Apa kabar?

      Delete
  29. Kalo gw malah demen daging kambing lho, kayak gule, sate, tongseng makin merangsang kalo daging kambing hehehe

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca.

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan....

Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.