Sepotong Hati di Segelas Milkshake Cokelat (Potongan Kedelapan)

60 comments
“Loh, Agus kok bisa ada di sini?”

“Mei?” kata Agus, tak percaya akan kenyataan bahwa Mei memang pacar kakaknya. Suasana di rumah tiba-tiba menjadi tegang. Setegang batang kejantanan pria ketika bernafsu.

“Kalian udah saling kenal?” Januar menatap Mei dan Agus bergantian. Januar tampak terkejut, tapi ia hanya terkejut biasa. Tidak ada rasa cemburu sedikit pun terhadap adiknya.

Kursi di meja makan saat itu terasa seperti kursi listrik. Membuat Agus ingin mati saja. Feeling-nya selama ini benar. Kalau Mei memang sudah memiliki pacar. Agus mencoba membiasakan dirinya dalam situasi ini. Ia ingin terlihat seperti tidak terjadi apa-apa, walaupun hatinya ada apa-apa dan terasa tidak keruan. Rasa antara senang, sedih, dan jengkel campur menjadi satu. Senang karena bisa bertemu Mei; sedih karena dugaannya selama ini benar, Mei sudah memiliki pacar; dan....

Kenapa harus Januar yang menjadi pacar Mei? KENAPAAAAAHHH?


Pertanyaan itulah yang membuat Agus protes terhadap semesta.

Agus tidak menjawab pertanyaan kakaknya. Agus memilih diam. Karena Agus tidak merespons pertanyaan kakaknya, Mei pun angkat suara, “Iya, udah. Kebetulan kami satu kampus. Waktu itu sempet kenalan pas lagi nunggu macet, King. Panjang deh ceritanya.”

“Oiya, aku baru inget kalo Agus juga kuliah di sana. Kalo gitu, berarti aku nggak perlu ngenalin adikku lagi ke kamu, ya,” kata Januar kepada Mei.

Mei pun tersenyum, sedangkan Agus masih terdiam menatap piringnya yang masih kosong sambil meremas garpu dan sendok dengan erat. Ingin rasanya menusuk mata Januar lalu mencongkelnya keluar.


King? Panggilan macam apa itu? Batin Agus bertanya-tanya. Januar dipanggil King? Dia menjadi seorang raja? Lalu, Mei menjadi ratunya? Terus gue jadi apaan? Budak?


Situasi ini menjadi canggung. Di kepala mereka masing-masing menyimpan pertanyaan, namun enggan untuk diucapkan.

“Ya udah, jangan pada diem-dieman dong. Ayo, pada dimakan,” ujar Bu Siska—ibunya Agus dan Januar—memecah hening.

“Tante udah masak banyak nih. Dikenyangin ya, Mei.” 

Mei pun mengangguk malu-malu sambil menyendok nasi dan lauk ke piringnya. Pengalaman pertama makan malam bersama keluarga pacar memang terasa horor. Apalagi harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan Bu Siska.

“Kuliahnya udah semester berapa?”
“Tinggalnya di daerah mana?”
“Udah berapa lama kenal sama Januar?”

Bagusnya, tidak ada pertanyaan “Kamu bisa masak?”, karena akan sangat tidak lucu jika Mei menjawab, “Bisa kok, Tante. Tapi baru bisa masak soto, rendang, dan kari aja... dalam bentuk mi instan.”

Mereka makan malam dengan suasana hangat. Dengan penuh antusias Januar memperkenalkan dan menceritakan sosok Mei lebih detail kepada ibunya. Seolah menyatakan bahwa pencarian cintanya berakhir pada diri Mei.

“Syukurlah anak Tante dapet pacar yang cantik dan sebaik kamu,” ucap Bu Siska kepada Mei.

“Duh, Tante bisa aja. Januar kadang lebay nih. Hehehe,” balas Mei.

Agus yang mendengar percakapan itu seakan panas dingin tubuhnya menjalar. Kupingnya langsung panas, hatinya pun ikut panas. Porsi makan malam Agus kali ini juga hanya sedikit. Ia telah kekenyangan makan rasa cemburu.

Setelah acara makan malam selesai, Januar mengantar Mei pulang, sedangkan Agus sendiri langsung masuk ke kamarnya. Ia tutup pintu kamarnya rapat-rapat, lalu menguncinya. Dan berharap juga dapat mengunci ingatan akan kejadian barusan.

***

Dua minggu telah berlalu, tapi Agus menjalani kehidupannya seperti dua bulan. Saat sakit hati, waktu benar-benar terasa sangat lambat. Banyak hal yang ia renungkan selama dua minggu itu. Agus mengingat-ingat sebuah memori di masa lalunya. Memori yang membuat kesedihannya semakin larut.


Sedari dulu, Januar memang lebih akrab dengan ibunya. Selalu mendapatkan perhatian lebih. Berbeda dengan Agus, yang jarang sekali diperhatikan. Januar selalu menjadi juara kelas dari SD sampai SMA, sedangkan Agus bisa naik kelas saja sudah syukur. Hal itulah yang membuat Agus sering dibandingkan dengan kakaknya sejak kecil.

“Kamu yang rajin dong belajarnya biar dapet ranking. Contoh tuh kakakmu”; “Kamu mulai belajar mandiri dong. Mau sampai kapan berangkat sekolah dibangunin terus? Tiru kebiasaan kakakmu”; dan beberapa perbandingan lainnya yang cukup membuat Agus semakin tidak berarti.

Namun, ayahnya tidak pernah bilang demikian. Hanya ibunya yang memang suka memuji Januar berlebihan. Ayahnya bersikap lebih adil. Beliau selalu sabar dalam membimbing Agus. Ayahnya selalu percaya kalau Agus juga punya kelebihan, tapi mungkin belum terlihat. Mungkin saja Agus memang pas-pasan di bidang akademis, tapi siapa tau nanti Agus punya potensi di bidang lainnya. Kalau Januar lebih dekat dengan ibunya, Agus pun sebaliknya, ia lebih dekat dengan ayahnya.

Tapi sayang, sekarang Pak Rudi (ayah Agus dan Januar) telah tiada karena penyakit diabetes yang menyerangnya. Mereka menjadi anak yatim sejak masih SD, Agus kelas 3 dan Januar kelas 6. Sejak itu, keadaan mereka bertiga benar-benar terpuruk. Bu Siska tidak menyangka kalau harus kehilangan suaminya secepat ini. Januar-lah yang selama ini menghibur ibunya di kala sedih. Januar bersikap lebih dewasa dalam menghadapi kematian ayahnya. Oleh karena itu, ia semakin dekat dan disayang oleh ibunya.

Akrabnya Januar dengan ibunya, membuat Agus semakin tersisihkan. Agus pun merasa semakin kehilangan kasih sayang. Tidak ada yang bisa menjadi tempat bercerita saat sedih. Tidak ada lagi yang membelanya di saat ibunya membandingkan dirinya dengan kakaknya. Apalagi di saat ini, saat perempuan yang ia suka malah bersama Januar. Terlebih lagi ibunya juga sangat mendukung kebersamaan mereka.

Tanpa ada yang tahu, Agus diam-diam menangisi kepedihannya dari dulu hingga sekarang. Ia juga menangis karena rindu akan sosok ayahnya. Agus ingin sekali bertemu dan bertanya sesuatu kepada ayahnya,

“Bagaimana caranya mengikhlaskan seseorang yang sangat kita sayangi?”

***

PS: Maaf baru sempet update proyek WIDY lagi. Sebenernya bagian yang ini udah kelar dari semingguan yang lalu, tapi karena gue lagi liburan di Bandung dan lupa pindahin ke draft, alhasil ketunda deh. Well, selamat menikmati ceritanya.

Bagian sebelumnya: Potongan Ketujuh.

Yang baru tahu cerita bersambung ini dan ingin mengikuti dari awal, bisa lihat di: Halaman Proyek WIDY

Terima kasih.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

60 comments

  1. "King? Panggilan macam apa itu? Dia menjadi seorang raja? Lalu, Mei menjadi ratunya? Terus gue jadi apaan? Budak!!"

    Kalo jadi pembuka cerita.. mantap itu yog, #FeelingGwSie :p

    ReplyDelete
  2. Ternyata pacarnya mei, kakaknya sendiri si januar. Kasihan sekali itu nasib si agus :')

    ReplyDelete
  3. Agus ngenes amat, Yog :(
    Ini abang namanya Januar. Lengkapin dah nama bulan-bulan lain buat dijadiin nama tokoh :)

    Masih penasaran sama cintanya Agus ke Mei yang bakal dibawa kemana.
    Semangat WIDY, keep it up!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dara: Iya, ini lagi mikir nama lainnya lagi. :p
      Makasih. :D

      Mbak Nita: Ahaha. Bisa jadi.

      Delete
    2. Februari jadi Febri
      Maret jadi Mars
      April mah tetep
      Juni tetep
      Juli jadi Juliani
      September jadi Septi
      Oktober jadi Okta
      November jadi Nova
      Desember tetep. Coba deh pake nama tokoh "Desember", Yog~

      Delete
    3. Bukannya Desember jadi Desi, ya? :|

      Delete
  4. Cantik... memang aku akui usia muda pun dia miliki...
    Lain dengan diriku ini..lupa lagi liriknya

    Baca yang Agus tersisihkan jadi inget lagunya Rita Sugiarto

    ReplyDelete
  5. Ngeremas garpu? Kok gue ngakak ya bagian ini...trus yg king , ratu, sedang si agus jadi budak??? Kampret, bikin ngakak...
    Palagi ada batang kejantanan segala, icha pati ntar fokus ke sini nih hahahaaaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang aturan apaan, Mbak? Salah ya diksinya? Meremas, kan, nggak melulu untuk... ah sudahlah.
      Mbak Nita ngakak mulu nih. Awas rahangya lepas. :(

      Delete
  6. Yah... tebakan gue salah. kirain pacaranya king itu bapaknya Mei... :'(

    ReplyDelete
  7. Bentar. Ini ceritanya lo lagi ada proyek nulis fiksi gitu ya? Wih, keren banget, Yog. Semoga makin tegang seperti kejantanan pria.

    Tae banget dah pembuka seperti itu. -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, lagi belajar nulis fiksi. Kami berempat bikin cerbung via Line, terus iseng publikasi di blog. Thanks, Man. :D

      Delete
  8. Seharusnya ibunya agus dinamain juli, terus almarhum bapaknya dinamain juni
    Jadikan keren
    Makanya gus bilang sama penulisnya, ganti posisi, agus jadi kakanya terus januar jadi adiknya
    Siapa tw si mei udah jadian ma agus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm... boleh juga, sih. Tapi, tokoh utamanya aja mending deh, Nik. Kan ayah dan ibunya figuran. :(

      Delete
  9. Itu, jadi Agus kok nggak enak banget ya -_- dibanding-bandingin sama Ibunya, Ditinggal Ayahnya, Eh... Mei-nya jadian sama Kakaknya sendiri -_- kampret

    ReplyDelete
  10. Yog, gua suka deh sama konflik yang ditampilin disini, mulai dari fakta bahwa pacarnya si Januar itu adalah Mei (hal yang paling ngga disangka-sangka si Agus pastinya, dari banyaknya cowok di dunia ini, kenapa mesti kakaknya sendiri? :p) dan konflik batin si Agus yang ngerinduin sosok Ayahnya.

    "Ingin rasanya menusuk mata Januar lalu mencongkelnya keluar" --> waduh, jangan-jangan si Agus suka nonton film thriller nih? Haha.

    Bener dugaan gua, si Januar lebih diunggulkan segalanya ketimbang Agus. Kalo dulu si Agus masih suka dibelain sama Ayahnya pas kegiatan "banding-membandingkan" dimulai, berarti kali ini Agus harus membela dirinya sendiri ya... semangat, Gus! You are on your own now :)

    Ditunggu kelanjutannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahaha. Iya nih, tiba-tiba Agus jadi jahat gitu pas cemburu. Kebawa emosi kali, ya. Bagus gak beneran dicongkel. :(

      Thanks ya, Bay. :D

      Delete
  11. Bila mana ada perih yang lebih perih ketimbang ditikung kakak sediri. :')
    Kalo nggak bisa setikar sama Mei, paling enggak si Agus masih bisa jadi ipar.
    #PrayForAgus

    ReplyDelete
  12. Makin rame aja cerita di projek widy-nya yog. hehe semoga aja bisa ada cerita-cerita selanjutnya yang lebih seru :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cie yang lagi liburan di bandung bisa bilang nuhun sekarang hahah

      Delete
  13. ''King? Panggilan macam apa itu? Batin Agus bertanya-tanya. Januar dipanggil King? Dia menjadi seorang raja? Lalu, Mei menjadi ratunya? Terus gue jadi apaan? Budak?''

    Bhahahaaa kok gue ngakak baca di bagian ini, Yog :D

    Bagian flashback bagus, Yog. Gue jadi ikut serius bacanya. Sering dibanding-bandingkan juga soalnya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu kayaknya emang curhatan para anak yang suka dibanding-bandingin. Huhuhu. :(

      Delete
  14. Batang kejantanan paling bangke, Yog. Hahaha. Eh tapi yang tentang Ayahnya Agus, jadi sedih. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapa, sih, yang ngetik tuh? (pura-pura gak tau)

      Delete
  15. Kesian bener jadi Agus, merasa tersisihkan.. sudah orang yang deket sama dia meninggal sekarang orang yang disukainya sama kakaknya sendiri.. Duh.. beneran meratapi nasib nih.. -_#

    ReplyDelete
  16. Gak kabayang gue kalo sampe ditikung sama sodara kandung sendiri -__-
    Udahlah mending gue kabuur jd TKW sukur-sukur dinikahin sama majikan gue

    ReplyDelete
  17. Replies
    1. Kalo kasian seharusnya pake ":)" apa ":("?

      Delete
  18. Entah kenapa dalam kehidupan gue namanya Agus selalu sial -___-"

    Bagus Yog, gue tunggu potongan selanjutnya.

    Gue baca ini berasa denger lagu Ebid G ade "Aaayyyaahhhhh~ Dalam hening sepi ku rindu~" *tisu mana tisu*

    ReplyDelete
  19. Waduuuh. Lama gak bw jadi gak sempet ngikutin perkembangan project WIDY. Tau-tau si Agus udah sakit hati aja. Hmmm. :((
    Etapi ini, "Januar dipanggil King? Dia menjadi seorang raja? Lalu, Mei menjadi ratunya? Terus gue jadi apaan? Budak?" aseli kocaaak. Hahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gapapa. Bidadari, kan, sibuk. :(
      Makasih ya udah baca. :D

      Delete
  20. Waduh, ada lagi namanya Januar. Kayaknya bentar lagi ada yang namanya Okto deh.

    Baru baca lagi nih WIDY project. Ternyata Januar (pacarnya Mei) punya hubungan saudara sama Agus. Ih, kampret banget. Gak ketebak bakal begini jadinya :(

    Btw, nambah lagi tuh panggilan sayang buat orang yang pacaran. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue juga lupa ini ide siapa. Absurd cerita kami. XD
      Hahaha. Cari pacar gih, Rob. Terus minta dipanggil King. RX King :p

      Delete
  21. Sebelum ada bendera kuning di depan jalan, maka mei masih boleh d perebutkan hahaha

    ReplyDelete
  22. “Bagaimana caranya mengikhlaskan seseorang yang sangat kita sayangi?”


    Aduh makjleb.

    ReplyDelete
  23. Si agus nista banget si....
    Gue jadi dia mau bunuh diri aja. Eh bunuh januar aja deh. Biar dapet mei

    ReplyDelete
  24. Senang karena bisa bertemu Mei; sedih karena dugaannya selama ini benar
    Trus Jengkel'a Yog? Jengkel karena harus kaya gini jalan cerita'a? :v

    Sungguh mengenaskan nasib Agus, Udah kurang kasih sayang dari ibu'a cewe yang dia sayang juga pacar kakak'a

    sungguh malang nasib mu Yog, Yog
    *ekh Gus, Gus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jengkelnya pas dia teriak-teriak dalam hati gitu, Ki. :D

      Huhu. :((

      Delete
  25. poor agus... kayaknya nggak bis alepas dari bayang2 januar.
    udah lah, ada indikasi calon-calon lgbt nggak tuh?
    tumben yang ini nggak ada unsur mesumnya.. atau, unsur thriller dengan congkel-congkeln mata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga nggak ada. :(

      Ahahaha. Tergantung bacaan, film, dll yang dinikmati sebelum nulis. Kadang jadi pengaruh. :D

      Delete
  26. kyknya harus ngikutin dr awal nih :)... tapi cerita yg ini aja udh bikin aku baca ampe abis, yg berarti ceritanya menarik ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebelumnya makasih udah baca sampe habis. Ehehe. :D
      Nggak juga kayaknya, Mbak. Saya malah kurang pede. :(

      Delete

Terima kasih sudah membaca.

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan....

Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.