Beberapa minggu lalu, Twitter sempat dihebohkan dengan beberapa hal, di antaranya: kasus LGBT, Chitato rasa Indomie Goreng, dan Tim Goreng VS Tim Kuah.

(Sumber: Twitter Indomie)

Untuk kasus LGBT, gue udah mulai muak. Perhatian gue jadinya lebih ke hal lainnya, makanan. Oke, untuk urusan makanan itu selalu menjadi favorit gue. Meskipun badan gue tetap segini-segini aja.

Gue melihat beberapa gambar yang seliweran di timeline dengan hashtag #TimGoreng dan #TimKuah. Di antara gambar-gambar itu ada salah dua gambar yang bikin gue langsung teriak,  “GOKILLL!”

Yang satu sampe rela bikin tato dengan tulisan “Tim Kuah”. Satunya lagi cukur rambut terus dibuat tulisan “Goreng”.


Tim Kuah (sumber: Twitter Jenny Jusuf)
Tim Goreng (sumber: Twitter Imandita)


Seru amat ini mereka deh. Batin gue.

Sampai akhirnya...
Read More
“Sekarang, lu udah tau, kan, akibatnya?!” katanya, alis matanya hampir menyatu, matanya terus menatap gue. Sungguh tajam pandangannya. Dan gue merasa semakin takut. “JANGAN GANGGU ISTRI GUE LAGI! NGERTI LO?!”

Gue habis ditonjok tepat di wajah sekitar 4 atau 5 kali oleh seorang cowok bernama Agus yang usianya kira-kira 26 tahun. Dia melakukan itu karena menyangka gue telah menggoda Rani, istrinya. Padahal gue nggak menggodanya. Sumpah, deh. Gue sama Rani nggak ngapa-ngapain, kami berdua cuma khilaf tidur bareng tanpa busana.

Wajah gue benar-benar bonyok. Hidung gue bercucuran darah. Kegantengan gue hilang seketika. Dajjal bangkit dari dalam bumi. Imam Mahdi ikutan muncul.
Loh, mau kiamat dong?

Kemudian, Agus mendorong gue sampai terjatuh.

Ia menginjak-nginjak tubuh gue, mulutnya pun mengeluarkan kata-kata kotor, "Jamban! Ingus ijo! Berak laler!" dan kata-kata lainnya yang terdengar tidak begitu jelas.

“Sekarang, lu udah tau, kan, akibatnya?!” ujarnya, kali ini sambil menendang kepala gue yang sudah tergeletak lemas di tanah. 


***
Read More
Sekitar tahun 2012.

Ketika sedang seru membaca novel, tiba-tiba handphone gue berbunyi. Gue memilih untuk mengabaikannya dan tetap lanjut membaca. Gue memang termasuk orang yang malas diganggu saat fokus membaca. Hape itu berdering terus-menerus, tanda ada panggilan masuk. Sebuah panggilan dari Agus Purnama, salah satu teman SMK.

Gue segera mengangkatnya.

“Halo, Yog...,” kata Agus. “Gue boleh minta tolong?” Suaranya terdengar begitu panik.
“Boleh aja. Kenapa deh?” tanya gue.

“Lu lagi sibuk gak?” tanya Agus. “Kalo lagi sibuk, mending nggak usah. Ntar ngerepotin.”

Gue bisa saja menjawab, “Duh, sibuk banget nih. Lagi nyari duit buat ngeberangkatin Mak Ijah ke Mekkah. Sorry, ya.”

Namun, gue tidak bisa begitu. Gue berusaha mengatakan, “Gak, kok. Santai.” Meskipun dia sudah mengganggu waktu santai gue. Gue mencoba ada di saat teman sedang membutuhkan bantuan.

“Jadi gini....” Agus mulai bercerita mengenai masalahnya.

Read More
Kera Sakti alias Sun Go Kong perlu berkelana setiap hari demi mendapatkan kitab suci.

Tapi tidak untuk para pemenang tulisan give away Campur-Campur Berhadiah (yang gue adain sekitar semingguan yang lalu). Mereka gak perlu repot-repot berkelana. Mereka cukup baca tulisan ini sampai habis.

Namun, gue sedikit heran sama GA kali ini. Soalnya jarang banget yang ikutan. Ehehe. Dari 42 komentar, yang ikutan hanya 5 orang.

Lima orang itu ialah:


Terima kasih banget buat yang udah ikutan.
Read More
Gue termasuk tipe orang yang suka memerhatikan makanan yang namanya aneh-aneh. Namun, gue hanya sekadar memerhatikan, tapi tidak berani mencicipinya.

Seperti saat syukuran ulang tahun keempat Warung Blogger (Mei 2015), ketika Uni Dzalika menawari gue makanan, “Yoga cobain Tomyam Kelapa, yaaa.”

Hah? Tomyam? Apaan coba tuh? Pake ada kelapanya lagi.

Gue menggelengkan kepala.

Gue awalnya memang tidak tau apa-apa tentang tomyam. Gue pikir, tomyam itu singkatan dari tompel ayam. Oke, ngaco. Gue pikir, gabungan antara tomat dan ayam. Jadi sebuah makanan berupa ayam yang bumbunya saos tomat. Ehehe.

Tapi ternyata bukan, Gaes.

Menurut Wikipedia, tomyam adalah sup yang berasal dari Thailand. Sup ini biasanya dibuat dengan campuran udang, ayam, cumi, dan makanan laut yang dicampur.

“Beneran nggak mau?” tanya Uni memastikan.

“Enggak, Un. Hehehe. Makasih. Gue kadang suka alergi sama sea food,” jawab gue ngasal.
“Ya udah, gak usah pake sea food kalo gitu. Mau, ya?” kata Uni coba merayu gue.

“Masih kenyang, kok.” Padahal gue mah takut nyobain makanan yang namanya aneh.

“Oke deh.”

Read More
Hangout pukul 4 atau 5 sore saat weekday (hari Senin-Jumat) ialah menyia-nyiakan hidup. Begitulah pikiran gue sebagai orang Jakarta.

Ya, macet. Gak perlu ditanya lagi.

Namun, pada tanggal 2 Februari 2016 yang jatuh pada hari Selasa, gue menghiraukan kemacetan itu. Gue tetap nekat pergi karena diundang ke acara launching sebuah komik di FX Sudirman, Senayan.

Sehingga, gue pun terjebak macet di Jalan Asia Afrika, Senayan. Untuk menghindari macet, gue memilih memotong jalan lewat kawasan Gelora Bung Karno.

Begitu di pintu masuknya, petugas memberhentikan gue dan bilang, “Lima ribu, Bang.”
Buseh. Mahal amat. Terakhir ke sini perasaan cuma 2.000 deh.

Mau tidak mau gue segera menyerahkan selembar uang bergambar Tuanku Imam Bonjol.

Gapapalah bayar goceng daripada stres kejebak macet. Batin gue.

Gue langsung bergegas menuju FX Sudirman. Berasa orang tajir, ya, numpang lewat doang terus bayar goceng.

***

Sesampainya di sana, gue mengecek HP untuk bertanya ke beberapa teman yang juga mengikuti acara ini.
“Udah pada di mana, Gaes?”

“Di The Wendy’s, Yog,” respons Feby di grup chat.

Ternyata Feby sudah sampai terlebih dahulu. Ia pun memberikan informasi letak Wendy’s yang tidak begitu jauh dari pintu masuk.

Gue segera mencari tempat itu. Kampretnya, sudah muter-muter berulang kali, The Wendy’s tetap tidak ketemu juga. Emang, sih, ini pertama kalinya gue ke FX Sudirman, tapi gak gini juga kali. Memalukan.

Masa main ke mal aja nyasar gini. Noraq banget gue. Iya, sengaja pake “Q” biar tambah norak. Ahaha.

Saking keselnya, gue pun bertanya lagi ke Feby. Dan ternyata... The Wendy’s ada di F1 alias lantai satu, sedangkan gue satu lantai di bawahnya. Pantesan gak ketemu. Bodoh memang.

Gue sudah duduk berdua dengan Feby di The Wendy’s, sambil menunggu yang lain. Kami pun ngobrol-ngobrol banyak hal. Feby bahkan bercerita kalau dirinya tidak begitu menyukai komik.
Gue hanya tersenyum.
TERUS KENAPE LU IKUTAN DATENG KAMBING?! Teriak gue dalam hati.

“Sebenernya aku mah dateng cuma pengin ketemu kalian-kalian aja. Kangen sama temen-temen blogger udah lama nggak berjumpa.”

Seketika itu juga gue langsung terharu. So sweet.

Setelah itu Darma datang. Kami masih menunggu Imas dan Vira yang sedang di perjalanan. Jam sudah menunjukkan pukul 18.00, waktunya untuk hadir ke acara launching komik.

“Emang Tjap Toean itu di sebelah mana, sih?” tanya gue.
Mereka berdua menjawab tidak tahu.
Kami bertiga emang kacau. Kami pun masih duduk-duduk di The Wendy’s.

“Eh, itu bukan, sih?” tanya Feby sambil menunjuk ke salah satu restoran yang tidak jauh dari tempat kami.
“Iya, bener,” jawab gue, lalu beranjak menuju Tjap Toean.
“Lah, tempatnya dari tadi di belakang kita, ya,” ujar Darma.

Kami bertiga pun masuk ke restoran itu dan bertanya kepada waiters mengenai meja yang dipesan atas nama Fauzi. Waiters itu pun mengantarkan kami bertiga ke meja paling belakang. Kami segera bertemu dan bersalaman dengan beberapa orang (peserta lain dan penyelenggara acara).

Kami disuruh memesan makanan oleh penyelanggara acara, lalu gue pun memesan kwetiau rebus dan es teh manis.

Bentar-bentar, ini es teh manis harganya dua belas ribu segelas? Gokil! Oiya, di restoran mah namanya sweet iced tea, wajar deh mahal.

Sekitar 15 menit berselang, Imas dan Vira pun datang bersamaan dengan pesanan gue.



Sambil makan, gue mendengarkan si Abang Lingga (yang baju kotak-kotak) berbicara tentang Komik Baladeva. Karena makanannya agak hambar, gue pun menyudahinya dan segera fokus menyimak pembahasan Komik Baladeva tersebut.

Sharing mengenai Komik Baladeva
Beberapa peserta memberikan kritik dan masukan terhadap Komik Baladeva ini. Kalo gue mah, cuma diem aja. Ehehe.
Iya, gue diem aja. Itu karena belum baca komiknya.

Setelah membaca sampel yang memang telah disediakan, gue baru lumayan paham.

Komik Baladeva ini mengangkat cerita nusantara tentang sebuah legenda kuno Jawa/Bali dari abad ke-12 berlatar belakang masa kekuasaan Raja Airlangga pada abad yang ke-11.
Komik volume pertama itu menceritakan seorang pemuda bernama Kebo Parang yang sedang melatih dirinya untuk menjadi kuat dan perkasa.

Di sebuah hutan, Kebo Parang pun bertemu dengan seekor macan putih sakti. Lalu, macan putih itu menantang Kebo Parang untuk bertarung. Mereka bertarung habis-habisan selama berhari-hari sampai akhirnya berakhir imbang. Setelah itu Kebo Parang berpisah sementara dengan macan putih untuk istirahat dan berlatih. Kebo Parang berniat untuk bertarung kembali dengan macan putih. Namun, Kebo Parang malah bertemu dengan seorang perempuan cantik.

***

Komik Baladeva ini terdapat dua versi: pertama versi dewasa, tapi adegan mesumnya nggak ada kok; yang kedua versi anak-anak.

versi dewasa, sumber: Koko Giovani

versi anak-anak

Kalau berbicara tentang komik, pasti itu menyangkut soal ilustrasinya. Nah, Tantraz Comic Bali ini menurut gue memberikan ilustrasi yang sangat keren. Penggambarannya cukup detail juga. Menurut gue, tidak mudah menggambar seperti ini. Kualitasnya nggak kalah keren sama komik-komik luar negeri deh.

Namun, gue merasa lebih menyukai yang versi anak-anak. Entah kenapa, lebih lucu aja gitu ilustrasinya dibandingkan dengan komik yang dewasa. Ini selera gue aneh, ya? Tapi serius, karena yang komik untuk versi anak-anak lebih terlihat ciri khasnya yang lucu-lucu menggemaskan. Sedangkan yang dewasa terlalu elegan. Halah.

Tema yang dipilih ini nampaknya bagus. Penulisnya sangat berani. Beda dengan komik-komik yang sedang menjamur saat ini. Tapi karena berbeda, mungkin masih sangat sedikit peminatnya.

Nah, bagi yang penasaran, boleh langsung mampir ke: Tantraz Comic Bali

At least, dengan membaca komik ini, gue sedikit-sedikit jadi lebih mengenal sejarah dan kebudayaan di Indonesia. Merasa bersyukur jadinya bisa diundang ke acara ini.

Kemudian acara ini berakhir dengan foto-foto bersama. Yuhuuu. 

Yang pake kacamata jangan sampe lolos

Btw, acara ini disponsori oleh Indosat. Maka dari itu, kami diberikan voucher Indosat masing-masing senilai: 100.000. Kebetulan banget, provider gue itu Indosat. Hohohoho. Setelah lebih dari 5 tahun memakai Indosat, akhirnya gue dapet juga gratisan seperti ini. Terima kasih Indosat. Oiya, sekarang udah ganti nama jadi Indosat Ooredoo (dibaca: u-rid-u) Kalo gitu, ralat.

Terima kasih IndosatOoredoo. Ehehe.


Lumayan buat kuota 2 bulan

Karena gue, Darma, Feby, Imas, dan Vira masih pengin kangen-kangenan, kami pun keliling-keliling mal sekalian mencari tempat untuk foto-foto.


Dari kiri: Agoy, Imas, Vira, Feby, dan Darma.


Dan untuk mengakhiri tulisan ini, gue hanya ingin bilang, "Terima kasih Tim ICITY Indosat Ooredoo dan Tantraz Komik Bali sudah mengundang Yoga. Terima kasih juga untuk pembaca yang sudah membaca tulisan ini sampai habis. Kalian ketjeh abeeess!"


PS: Yang nanti mau ikutan tulisan bertema "makanan", jadinya tanggal 14 Februari, ya. Ubah cinta-cintaan jadi makanan. Buahaha. Anti-mainstream. :p
Terus yang mau ikutan GA bisa cek tulisan ini: Campur Berhadiah
Read More
Sakit.

Ya, kata itulah yang menggambarkan keadaan gue saat ini. Yeah. Setelah sebulanan tidur nggak pernah teratur, berusaha selalu kuat, selalu merasa sehat dan baik-baik saja. Gue akhirnya tumbang juga.

Berawal dari perayaan tahun baru yang memaksa gue untuk begadang hingga pagi sekitar pukul 7. Sampai pertengahan Januari pun gue masih suka kurang tidur. Setiap harinya gue pasti hanya tidur 1-4 jam. Suram banget pola tidur gue.

Apalagi saat liputan di akhir Januari itu, gue dikasih deadline hanya sekitar 15 jam. Serius. Cuma lima belas jam. Nggak sampe sehari. Gokil!
Read More
Di kepala gue saat ini banyak pikiran yang tercampur jadi satu. Saking banyaknya, gue jadi bingung mau numpahin yang mana dulu.

Namun, gue akan mencoba menuliskannya satu per satu. Entah ini urut dari yang terpenting dahulu atau bagaimana. Sepertinya, sih, bakalan random.

Gue saat ini sedang mikirin bayaran kuliah yang belum lunas, tapi UAS juga sebentar lagi. Di mana sistemnya kalau mau ikut UAS itu kudu lunasin bayaran terlebih dahulu. Lalu, gue juga mikirin belum dapet kerjaan tetap sampai sekarang, masih sibuk kerja serabutan—atau lebih dikenal freelance. Mikirin kesukaan gue terhadap Stand Up Comedy Indonesia yang semakin berkurang. Mikirin proyek menulis WIDY yang berhenti sejenak. Mikirin usia gue yang mendekati 21, tapi masih merasa gini-gini aja.

Dan gue juga mikirin hal-hal yang sepertinya terlalu pribadi untuk di tulis di sini. Padahal gue pengin banget menumpahkannya ke dalam tulisan. Tapi karena ini termasuk hal yang krusial, kayaknya lebih baik nggak usah deh.

Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home