Sepotong Hati di Segelas Milkshake Cokelat (Bagian Empat)

80 comments
Nggak terasa, cerita bersambung proyek menulis WIDY sudah sampai bagian keempat. Nah, bagi kalian yang ketinggalan, alangkah lebih baiknya membaca cerita sebelumnya supaya nyambung.

Bagian pertama di blog Wulan: Potongan Pertama
Bagian kedua di blog Icha: Potongan Kedua
Bagian ketiga di blog Darma: Potongan Ketiga

Udah baca?

Belum, ya? Duh... baca dong teman-teman. Kalo baca nanti dapet pahala, loh. Muahaha. Maaf ngaco.
Sudah baca atau belum, itu hak kalian.  Jadi, langsung aja mari baca cerita bersambung bagian keempat.

***


Agus dan Mei telah tiba di dalam cafe. Agus pun langsung menuju posisi duduk favoritnya, sedikit mojok yang tidak terlalu pojok. Agus memilih posisi duduknya ini agar ia bisa dengan leluasa melihat jalanan yang macet sembari menunggu waktunya untuk pulang. Di mana pemandangan sebuah jalanan macet ini selalu menarik di mata Agus. Sudut pandang Agus memang aneh.

“Oh iya, kenapa lu milih jurusan PLB, Mei?” tanya Agus tanpa berani menolehkan wajah pada lawan bicaranya. Iya, Agus masih sedikit grogi di dekat perempuan.

“Gue juga nggak ngerti awalnya gimana bisa milih jurusan itu,” jawab Mei menolehkan kepalanya dengan mantap, sambil menatap mata Agus. Kini Agus tidak bisa berbuat apa-apa. Mata sipit dan senyuman Mei yang manis itu seolah menahannya untuk membuang muka lagi.

Agus mendadak terpukau. Mei pun tidak melanjutkan kalimatnya. Mei seperti sedang mengingat-ingat akan sebuah memori tentang jurusannya.

Kemudian suasana di meja mereka berdua menjadi hening. Tidak ada lagi obrolan. Hanya suara di dalam kafe yang terdengar; bunyi langkah kaki para waiter yang mondar-mandir dan pengunjung yang baru pada datang, suara obrolan para pengunjung yang terdengar samar-samar, dan sebuah lagu romantis dari Mocca yang berjudul Secret Admirer.

“Memang kenapa, Gus? Jurusan gue aneh banget, ya?” tanya Mei memecah keheningan, dengan senyum jenakanya. Senyum yang membuat setiap orang ingin sekali disenyumi olehnya.

“Ng... nggak apa-apa. Gue malah baru tahu tentang PLB.”
“Hah?” tanya Mei kaget.
“Iya, serius. Hmm... PLB itu jurusan kayak gimana sih, Mei?” jawab Agus begitu polos.


Mei tertawa akan kepolosan Agus. Pandangan Mei beralih dari Agus ke sepatu sneakersnya. Ia kembali mengukir senyum di bibirnya, menatap Agus kembali, lalu menjawab, “PLB itu ya... jurusan Pendidikan Luar Biasa. Lu tahu SLB, kan?”

Agus memang tidak tahu apa-apa mengenai beberapa jurusan di kampusnya. Agus masih semester satu. Ia baru beberapa bulan yang lalu resmi menjadi mahasiswa, berbeda dengan Mei yang memang kakak tingkatnya. Mei sudah semester tiga.

“Sekolah Luar Biasa, kan?” tanya Agus memastikan.

“Betul,” jawab Mei. “Nah, nanti kalo lulus gue akan jadi guru di sekolah itu. Di perkuliahan itu kita diajarkan cara membimbing, berteman, dan bersahabat dengan mereka—anak-anak berkebutuhan khusus—tanpa diskriminasi. Bahkan, kita bisa mendapatkan inspirasi dari mereka. Buat gue, kita tidak pantas terlalu banyak mengeluh. Mereka yang berkebutuhan khusus yang kondisinya berbeda dengan kebanyakan orang pun bisa memberikan kisah inspirasinya yang sangat mengagumkan...”

Agus menyimak setiap kalimat yang terlontar dari mulut Mei. Suaranya yang begitu menawan, membuat Agus mendengarkannya dengan fokus.

“...Seperti Beethoven yang tuli dan tunarungu, dia pun bisa menjadi musisi ternama. Stevie Wonder yang tunanetra, ia berhasil membawa 22 Grammy Awards karena prestasinya di dunia musik. Lalu, Helen Keller dengan kondisinya yang buta dan tuli, dia berhasil lulus dari perguruan tinggi. Setidaknya setiap gue mendapat tugas kuliah dan terjun ke lapangan (SLB), gue selalu menaruh hormat dan kagum kepada mereka teman teman berkebutuhan khusus. Mereka selalu bisa tersenyum meski kondisinya berbeda.”

Spontan Agus mengangguk-anggukan kepala. Spontan juga Agus ikut mengukir senyum.

Gadis ini selain cantik, ternyata hatinya juga mulia. Mei cantik luar dan dalam, batin Agus.

“Wah, hebat sekali, ya, Mei, jurusan kuliah lu,” puji Agus. “Btw, lu mau pesan apa nih? Keasyikan ngobrol kita sampe lupa mesen. Ehehe,” lanjutnya.
“Iya, nih. Sampe lupa. Hahaha.”
“Oiya, nanti biar gue yang traktir, ya. Hahahaha.”


"Eh, gak usah repot-repot, Gus. Mending gue aja yang traktir. Kan, gue yang ngajak lu ke sini,” usul Mei.

“Gue ajalah, Mei” kata Agus, ia tak ingin kehilangan harga dirinya. Mana mungkin kencan pertama ini malah cewek yang bayar. Ya, kencan. Bagi Agus itu merupakan sebuah kencan. Karena Agus memang menantikan momen berduaan seperti ini lagi setelah Mei menghilang beberapa minggu.

“Udah, gue aja, Gus. Itung-itung itu permintaan maaf gue ketika numpahin milkshake cokelat lu.”

“Ahaha. Lu masih inget aja. Itu kesalahan gue, kok. Ya udah lupain aja soal itu, pokoknya sekarang gue yang traktir,” ujar Agus.

“Ya udah kalo lu maksa. Tar gue pesen yang banyak kalo gitu, ah,” ledek Mei.

Agus pun tertawa.

Bagusnya si Mei mengalah dalam perdebatan siapa yang akan traktir mereka. Karena akan menjadi sangat krusial bila percakapannya menjadi:

“Udah gue aja yang bayar, Gus,” kata Mei.
“Gue aja, Mei,” balas Agus tak mau kalah.
“Gue.”
“Pokoknya gue!”

“Dibilang gue, ya gue!” Mei mendadak emosi.
“GUE AJA TAEK!" Agus ikutan terpancing.
“GAK MAU TAU, HARUS GUE YANG TRAKTIR!”
“GUEEE AJA SIALAN!”

Dan begitu terus selanjutnya sampai Widy Cafe bangkrut dan tutup, sehingga kafe itu menjadi panti pijat plus-plus.



BERSAMBUNG.


PS: Mohon maaf bila penutup ceritanya ngawur begitu. Soalnya kesepakatan bersama cerita per bagian hanya 500-700 kata. Ehehe. Maaf, yaaa. Oiya, kan sudah sampe bagian keempat nih. Bisa kali kakak kritik dan sarannya.

Terima kasih.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

80 comments

  1. Bwahahaha .. Agus kepedean banget, Obrolan biasa dianggap kencan .. ya semoga aja nggak berakhir bertepuk sebelah tangan gus .. Itu yang perumpaan nggak ada yg mo ngalah itu cok banget deh ... Ngakak lah .. :D

    Owh jadi emang diset buat 500-700 kata ya ..?? Hmmm
    Kalo emang boleh kritik sih .. ya masih sama problemnya ..
    sayang banget, udah satu putaran tapi masih intro, belum muncul konflik ..
    Terus waktu ending atau bersambung gitu, berasa ngambang aja .. Kalo di sinetron kan biasanya waktu tegang terus di bikin bersambung biar audience penasaran dgan kisah selanjutnya .. gitu .. hehe .. hehehee ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kan pernah dijelasin di postingan tentang WIDY waktu itu. :)
      Ehehe, maaf banget ya kalo masih intro. Ini emang awalnya mainan sambung kalimat aja di grup Line. Dan akhirnya kepikiran buat posting di blog. Kami juga sepakat untuk gak langsung konflik sampe masing-masing di antara kami nongolin potongannya di blog. Kayaknya bagian kelima mulai konflik, kok.

      Sekali lagi maaf jika ceritanya mengecewakan. Eniwei, kritik dan sarannya gue catat. Makasih, yoo! :D

      Delete
  2. Ini bikinnya pakai outline, nggak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muahahaha. Ya jelaslaahhh... enggak. Wong niat awalnya main sambung kalimat dan seru-seruan aja. :D

      Delete
  3. aku mah cuma menikmati aja yog.

    ReplyDelete
  4. Mau baca ini tapi belum baca yang sebelumnya... Balik lagi deh

    ReplyDelete
  5. Eh gw baru tau lho kalo Beethoven itu tuli dan tunarungu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue juga baru tahu dari temen gue, Darma. Dia yang nulis di bagian itu. :))

      Delete
  6. Panti pijat plus-plus! :))

    Saus tartar lah!

    Eh, pas bahas jurusannya si Mei, saya jadi terhenyak gini ya.

    ReplyDelete
  7. Hoooiiiii itu siapa yang bikin bagian ending. Ngacooooo.

    Ditungguin lagi yang di blog Wulan! :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gueeee. Iya, gue memang ngaco. Hahaha.
      Maaf ya kalo kurang menarik, makasih sudah bersedia menunggu. :))

      Delete
  8. Heh, itu kesel banget gua baca ending nya, kerjaan siapa si? minta dipenggal rame-rame emang.
    Mengganggu suasana romantis antara Agus dan Mei aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kerjaan gue. :)) Duh, serius aku mau dipenggal? Takut, ihhh. :(

      Delete
    2. Dasar, benar-benar minta diadili.

      Delete
  9. Kalau dalam dunia nyata si mei itu ada gak cuy... jadi pengen juga disenyumin sama si mei, jangankan si Agus, aku juga baru tahu kalau ternyata ada jurusan PLB,, asing banget rasanya,, dan aneh juga kalau ada yang mau ngambil jurusan kayak itu.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin ada. Biasanya, kan, cerita fiksi terinspirasi dari kisah nyata. :D
      Waduh... berarti jurusan PLB itu masih belum hitz, ya.

      Gak aneh menurutku, Bang. Justru dia mulia. Mengorbankan waktunya untuk peduli terhadap orang berkebutuhan khusus. :))

      Delete
  10. Yah, kegantung nih, Yog. Nunggu lanjutannya deh~

    ReplyDelete
  11. Heemm.. Ada kata yang sedikit meleset di berkebutuhan tuh..

    Diam diam ikutan kagum sama orang berkebutuhan khusus yang memiliki memiliki prestasi luar biasa.. keren banget deh.. :-)

    Ngebayangin ekspresi Agus waktu ngobrol sama Mei lucu kayaknya hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih koreksinya. Udah dibenerin tuh typo-nya. :D
      Hehehe. Iya, mereka keren. Kita yang normal jangan mau kalah. :)

      Hahaha. Bayangin sesuatu itu emang enak, apalagi bayangin... uh, kayaknya gak usah diperjelas. XD

      Delete
  12. Duh, si Agus ini seperti gue, yak...
    Gak mau natap kalau lagi ngobrol sama si Anu... *ehhh

    ReplyDelete
  13. Jurusan PLB hemmm gue tau nih.. kerjaan siapa wkwk

    Walapun kata Azka masih ada konflik atau terkesan bertele2 tp cukup informatip

    ReplyDelete
  14. Panti pijat plus plus merubah segala jalan ceritanya. Mungkin Agus dan Mei setelah kuliah, part time kah di situ? Hahaha.

    Sejauh ini, Sepotong Hati di Gelas Milkshake masih sangat menarik dibaca bang.
    Cuma rasa-rasanya perlu dipercepat nih konfliknya biar makin tegang, jalan ceritanya. Loh, ini yang nulis siapa emang ya haha.
    Hampir aja kelewatan episode tiganya, duh.
    Ditunggu part lima nya, Bang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi. Hahaha.

      Makasih yaaa udah baca. Okee, sarannya ditampung. Sip, ini emang merasa kebanyakan basa-basi kami berempat saat nulisnya.
      Gapapa, santai aja. Namanya juga kritik dan saran dari pembaca. Itu perlu, sih. :D

      Lagi proses ini. :))

      Delete
  15. Sarannya... semua cerita disimpen di satu blog baru. Soalnya agak pusing jugak mesti kesana kemari untuk baca potongan cerita nya. Apalagi kalau udah makin panjang. Yang ketinggalan jauh, mesti nyari-nyari. Ya walaupun di awal tulisan di bahas potongan cerita ada di blog si A, si B, dan si C. Tapi jadi gak efektif aja termuterrr~

    Sekian dan terimakasih. Aus bang, neng butuh minum~ Aus kasih sayang jugak. *lah ini apa*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo untuk satu blog baru, kayaknya kurang pas deh, Sya. Agak bikin kerjaan juga, kan. Bikin blog baru. Mungkin di halaman baru, terus nanti gue bikin kayak arsipnya gitu. Hehe.

      *sodorin cairan cinta* (btw, cairan cinta itu apa, ya? kok gue rada mikir jorok)

      Delete
  16. .Sepertinya cerita ini menjadi #Gantung,brotha. Tapi gapapalah, tetap asik buat dibaca, hehe.

    .Ternyata si Mei punya hati yang mulia juga ya, seandainya saat ini (sekarang juga) Mei muncul dihadapan ku, kan ku pinang dia dengan Milkshake,- terus ku tumpahin kebajunya, lalu ku bersihkan dengan lembutnya, lalu.... (Bersambung) -_- :v

    .Ditunggu sambungannya sob. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Dandy. :)
      Lalu apa? Kok absurd? Hahaha.

      Selamat menunggu. :)

      Delete
  17. HAHAHAAAA PANTI PIJAT PLUS PLUS. YAOLOOH BARU SADAR. HAHAA

    Ditunggu lanjutannya kaka..

    Semangat gaes :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, yak. Itu gue edit semaunya. Hahaha. :(
      Yosh!

      Delete
  18. Sialan Yogaaaaaaaaa. Baru nyadar juga. Lebih parah kalau yang diketik itu sampe rumah bordil. Untung kamu kuat ya, Yog :'D *ini apa dah*
    Nikmati permainan sambung kalimat jadi cerita ini, para kolega. Sama kayak Wulan, semangaaaaaat! :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tadinya pengin itu, tapi kayaknya kurang asoy. Pijat plus lebih enak dibayangin. Ehhh.
      Iya, catet tuh kritik dan saran dari para pembaca, yaak. :))

      Delete
  19. Kalo punya temen yang mau bayarin, sih, gua nggak bakal nolak kayak cerita di atas wkwkwk

    ReplyDelete
  20. gw bukan pro sie, tapi gw udah baca ke 4 nya, kayaknya openingnya enggak begitu nge-Hook deh,

    agak ngasal sie, tapi bisa jadi contoh

    "gw gak pernah bisa tenang duduk di cafe, kalo gak bisa liat pintu keluar" agus bergumam

    kalimat diatas tujuannya biar bikin pembaca bertanya2,

    "kenapa si agus begitu ya???"

    untuk menarik perhatian pembaca agar stay di cerita..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalimat pembuka maksudnya? Ohehe. Iya, emang itu diketik secara spontan oleh kami berempat. Jadi bener-bener nggak kepikiran ke situ. Eniwei, makasih udah kasih contoh dan masukan buat kami. *noted* :D

      Sip!

      Delete
  21. Beuh, masih bersambung toh?

    Menidng cerbungnya jadi buku aja mas, nanti saya bantu buat pemasaran di google play.

    ReplyDelete
  22. BHAHAHAHAHANGSAAATT MALAH JADI BERANTEM. Buodoamaaat lu Yog bodoamaatt. Yang awalnya jaim sama perempuan kekagumannya, malah jadi tae banget di terakhir. Suka suka lu dah :')
    Lah masih bersambung lagi ya. Kirain tamatnya di elu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu kan cuma "what if". Ehehe.

      Kami berempat belum tahu akhirnya sampe berapa bagian. Wuahaha.

      Delete
  23. *menyimak diam-diam*
    Ini kira-kira mau tamat sampe episode berapa yog?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih dirahasiakan. Kami berempat masih pengin bermain lebih lama. :))

      Delete
  24. Ternyata Mei suka'a sma berondong
    Lah sok pura-pura traktir si Agus, padahal duit bulanan udah mau abis Huahaha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sotoy, ah. :p
      Agus bukan anak kos, weeyy. :D

      Delete
  25. Baru tadi pagi baca tip menulis. Hmmm... kayaknya di cerita ini kurang banyak narasinya, bang. Lebih didominasi dialog. Aduh, kan jadi sotoy gini gue. Takut salah ngasih komen :(

    Andai bisa tau wajahnya, gue mau dong fotonya Mei. Sumpah, cewek yang begini jarang ditemuin. Eh tapi,umurnya beda jauh sama gue. Kali aja gue bisa diperlakukan khusus seperti mereka.

    ((((diperlakukan khusus)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gapapa. Bener, kok. Di sini lebih mendalami dialognya. Karena kalau dijelasin lewat narasi rada kurang. Ehehe. Makasih, yaa. :))

      Lu merasa didiskriminasi minta perlakuan khusus? XD

      Delete
  26. Waah Mei-nya orangnya penuh kasih sayang banget, sampai masuk jurusan PLB. Jadi baper :')
    ENDING-NYA KOK NGAJAK RIBUT SIH? JADI PENGEN IKUT DEBAT. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buahaha. Jangan pada emosi gitu dong. Maafkan gue. Itu ide gue ngawur. :(

      Delete
  27. *abis baca-bacain yang sebelumnya*

    Kenapa ending yang ini nyebelin :( btw ini mau ditamatin ampe bagian ke berapa deh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena blog ini memang nyebelin. :D
      Lihat saja nanti. Kami berempat juga belum tahu. Bisa jadi belasan. :p

      Delete
  28. agus belagu amat kagak mau ditraktir
    set kalo gw jadi agus, gw bakalan minta ditraktir tuh
    kan mayan g kuarin duit huahuahua

    ReplyDelete
  29. KENTANG BANGKEEEEE -_-

    UDAH DIUJUNG NIH MAU KELUAR!!!
    (ini komen apa gue yaa?)

    Menurut gue sih nanggung banget yog, ngentangin para pembaca..
    Masih intro, besok (mungkin) di part selanjutnya isinya klimaks mulu.... yaa jadi aneh sih bacanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buahaha. Pemuja kasur kalo ngasih komentar kayak gini, ya? Astagfirullah.

      Hm... lihat nanti deh. Ehehe.

      Delete
  30. Akhirnya bagian si yoga udah di post. Paling di tunggu tunggu nih.

    Gue sih ngikut aja sama yang lain kurang nendaaaang yog. Eh, ini buatnya dadakan gitu yah? Berarti gak pake premis?

    Oh iya yog, gue punya sedikit tips, untuk ngidupin karakter. Gue gak tau sih lo pake cara ini atau enggak. Ini tips dari si Radit. Tipsnya, Setiap karakter harus di buatin bidoata lengkap. Mulai dari nama, strength, weakness, sampai ke makanan favorit. Satu lagi, di bagian tengah si karakter harus mendapat mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan disinilah konflik terjadi, karena sebtulnya yang dia inginkan bukan apa yang dia butuhkan. Tapi di endng dia bakalan dapat yang dia butuhkan.

    Tapi kan ini dadakan gitu yah. Gak tau juga sih ini bisa di aplikasikan di project kalian atau enggak.


    Sekian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Ben. Maaf banget kalo mengecewakan, ya. :(
      Kami niatnya cuma iseng-iseng main. Nanti misal udah kelar, mungkin bisa jadi masukan untuk cerpen kedua (kalo emang ada). Eniwei, makasih yaaa. Gue juga sebelumnya udah pernah baca tip itu. :D

      Sip. Kalo cerpen ini sulit, deh. Empat kepala dijadikan satu, yaaa... gitu deh :)

      Delete
  31. Gue uda baca dari kmaren tp baru sempet mampir di kolom komen, pendapat gua uda diwakilin oleh saran azka

    ReplyDelete
  32. yg jadi pertanyaan, kira kira si agus pesen apa ya ? Kalo pesen daging manusia ntar dikira sumanto, kalo pesannya "daun muda" ntar dikira om-om, mau pesan gebetan takutnya gak dibaca, mau pesan ayam kampus ntar dikira mesum, enaknya pesan apa ya? Lha kok jadi saya yang repot? -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pesen Agus, "Jadilah orang yang baik, Fan." :D

      Delete
  33. "UDAH GUE AJA YANG BAYARIN, GUS, MEI!" Sambung erdi yang tiba-tiba muncul dari kolong meja :(

    iya yog, setuju sama si aska, belum ada klimaksnya.
    tapi buat sambung kata dari beda kepala mah udah mantep nih menurut gue :D

    ReplyDelete
  34. oh ini yang kelanjutanya yang di blognya wulan dan lain lain itu ya,,, ini bersambung lagi, lanmjutanya di blog siapa?

    ReplyDelete
  35. Seru, seru, cerita berantai dari banyak blog gini. Baru nemu. :)

    ReplyDelete
  36. Kalo cerita bersambung gini nanti enaknya dibikin daftar urutan cerita sebelum atau lanjutan. Atau dibikin ebook juga bukan ide yang buruk. :))

    ReplyDelete
  37. Belom baca bagian sebelumnya. Sibuk banget, nih. Duh..

    Harus banget ya endingnya jadi panti pijat plus-plus? Istighfar, nak.

    ReplyDelete
  38. busrakkk dah endingnya hhahaha. beloh tuh panti pijat plus2 :))

    ReplyDelete
  39. Duh, telat nih baru baca yang bagian keempat sekarang. Tapi ngga apa-apa lah, at least gua bacanya beruntun biar ngga ketinggalan cerita. Jujur, gua penasaran gimana kira-kira pas bagian di blog lo Yog, dan astaghfirullah, ternyata endingnya diselipin itu haha. Untungnya cuma pengandaian, kalo beneran bisa sangat krusial untuk hubungan mereka ke depannya :D (inget Yog, Agus ini introvert).

    Si Mei ternyata seniornya Agus. Jurusan yang dia pilih mulia juga ya, bisa ngebantu anak berkebutuhan khusus. Itu pas banget cafe-nya muterin lagu Mocca yang secret admirer.

    Gua setuju sama Azka. IMHO, di bagian ketiga dan keempat, endingnya kurang greget :( Mungkin kalo ngga ada tulisan "bersambung" di terakhirnya, bisa jadi pembaca akan ngira ceritanya kelar, padahal masih bersambung. Nextnya bisa dipertimbangin kalimat yang bisa mancing rasa penasaran pembaca (maaf, ini cuma saran dari seorang pembaca yang sampe sekarang masih takjub sama model cerpen keroyokan begini :p, alhamdulillah kalo bisa diterapin).

    ReplyDelete
  40. Conversations yang terakhir kampret sekali, sih. Ngakak tengah malam ini...

    ReplyDelete
  41. Akhirnya selese juga baca part 1, 2, 3, dan 4. Ditunggu lanjutannyaaa. Seruuuu!

    Ahahahaha yg terakhir emang bikin ngakak ituuu.

    ReplyDelete
  42. nggak nyangka gue, yang punya blog guanteng juga, tak kirain cantik....kalau cantik mau tak kenalin ama temen..jkd mas

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca.

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan....

Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.