Belum lama ini, gue habis menonton Youtube Rewind Indonesia 2016.




Dibanding sama yang tahun 2015, terlihat jelas emang banyak perkembangannya. Gue (yang tentu saja gak berkontribusi karena bukan Youtuber) menilai secara subjektif kalau suka sama hasilnya yang bagus. Namun, rasa suka itu gak bertahan lama. Ternyata gue lebih suka sama versi parodinya yang dibuat oleh Hati-Hati di Internet (silakan cari sendiri di Youtube wqwq).

Bangke. Pokoknya gue ngakak nonton itu.

Kalau diperhatikan, kok rasanya Youtube semakin banyak acaranya, ya, beberapa tahun belakangan ini? Salah satunya yang bikin gue iri adalah Youtube Fanfest. Kenapa Blogger Fanfest gak ada? Apa karena bingung dengan acara yang mau ditampilkan? Pamerin tulisan-tulisan yang masuk pejwan gugel? Pamerin hasil job review atau adsense yang udah didapet? Gak mungkin deh! Hm... mungkin karena itu, ya? Padahal nih nggak ada salahnya mengadakan acara bloger. Bisa kita telaah kalau minat baca bangsa ini masih terlalu rendah. Kita memang terlalu menyukai yang visual dibanding tulisan. Miris.

Anggep aja gitu. #anggepajahgituh

Terus seperti pembuka tulisan ini, ada Youtube Rewind Indonesia 2016. Para Youtuber Indonesia bekerja sama menciptakan sebuah karya untuk mengenang apa saja hal-hal yang telah terjadi selama 2016. Keren euy! Setelah dipikir-pikir, kayaknya seru juga nih kalo gue bikin Blogger Rewind 2016. Oke, gue akan mencoba menuliskan apa saja yang telah terjadi dalam dunia perblogeran selama 2016 melalui sudut pandang gue.

Januari

Pada awal tahun. Seperti biasanya, semangat menulis masih tinggi-tingginya karena baru saja membuat resolusi, ya meskipun pada malam pergantian tahun 2016 kemarin gue gak menuliskan resolusi apa-apa di blog. Intinya, gue masih on fire. Ada 7 tulisan pada bulan ini.
Read More
Kau adalah rasa haus yang terus membuatku dehidrasi.
Meski aku telah minum ratusan gelas.
Bahkan, sampai aku terkencing-kencing.

Kau adalah kebaikan yang tak akan mungkin bisa kubalas.
Bahkan sampai akhir hayatku nanti.
Engkau takkan pernah terganti.




Selamat Hari Ibu!

Maaf kalau telat beberapa hari. Kemarinan pas tanggal 22 Desember, gue lagi sok sibuk banget. Oiya, entah yang barusan itu sebuah puisi atau apa, biasalah gue kan kadang suka sok-sok penyair gitu. Halah.

Anyway, gue nggak bisa melakukan hal yang spesial di Hari Ibu ini selain bikinin puisi. Gue belum gajian. Mau sekadar beliin kue bolu atau brownies gitu aja gak bisa. Iya, invoice gak cair-cair. Mana isi dompet gue udah makin tipis. Buat keperluan pribadi aja bingung. Jadi, yang bisa gue lakukan adalah mendoakan beliau.

Read More
Gue pernah cerita kalau nggak suka sama malam Minggu ataupun malam Mingguan keluar rumah. Namun, bukan karena gue nggak punya pacar. Bukan. Gak perlu dipamerin kalau gue punya pacar, kan? Gue males keluar pada malam Minggu itu tentu saja karena Jakarta macet banget. Jangankan malam Minggu, malam-malam lainnya juga bakalan macet.

Selain itu, alasan lainnya adalah karena ada jadwal pertandingan liga Inggris pada malam Minggu. Yoi, gue lebih suka nonton bola daripada pacaran. Apalagi kalau pas Manchester United maen. Hmm... iya, sih, MU sering kalah. Cuma, yang namanya udah terlanjur sayang mah tetep aja dukung. Ya, walaupun sesekali suka khilaf teriak, “MU GOBLOK!”

Lucunya, pada tanggal 17 Desember 2016, tepatnya malam Minggu kemarin. Gue akhirnya malam Mingguan secara tidak sengaja. Iya. Jadi, gini....

***

Jumat, 16 Desember 2016

“Kamu Sabtu free gak?” tanya gue kepada pacar di WhatsApp.

“Hm... baru bisa siang kayaknya. Kenapa?” balas si pacar.

“Temenin aku makan tomyam, yuk!” ajak gue.

“Loh, katanya waktu itu mau ke sana sama temen-temen? Gak jadi?”
Read More
Dia tak pernah bertanya siapa namaku, dari mana saja baru pulang, kenapa sering mendengarkan lagu sendu setiap dini hari, dan kenapa sering merenung seraya menatap langit-langit.

Dia tak pernah menolak saat kusentuh.
Dia juga selalu menenangkanku di saat rapuh.
Bahkan, dia tak pernah sekalipun mengeluh.
Padahal aku hanya mencarinya di saat butuh. 

Namun, dia selalu memberiku tempat yang paling nyaman tanpa syarat.
Agar aku dapat mengistirahatkan jiwa.


Dibuat pada 22 Oktober 2016, pukul 01. 19.
Read More
Bulan Desember baru saja memasuki babak barunya. Uang gajian pun terasa masih hangat-hangatnya, kecuali buat orang-orang yang memang harus bayar banyak cicilan dan seorang pengangguran. Kita pasti tidak hanya bersiap untuk menyusun resolusi baru di 2017, tapi bulan Desember juga memberi kita sinyal untuk liburan panjang di akhir tahun. Tentunya setelah melalui proses perjalanan panjang selama 2016 ini, kita perlu meluangkan waktu sejenak untuk berlibur dan menikmati hari-hari santai bersama teman, pacar, atau keluarga. Sayangnya, menyusun rencana liburan tak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang harus dipersiapkan, termasuk di antaranya tujuan liburan kita, budget liburan itu sendiri, hingga akomodasi di sana.

Meski terlihat sepele, menentukan tujuan liburan sebenarnya susah-susah gampang. Pertama, karena kadang-kadang tempat yang biasa dituju untuk liburan ini juga banyak yang mengunjunginya. Hal itu justru memberikan efek stres berat di musim liburan akhir tahun. Kedua, destinasi liburan berhubungan dengan budget yang harus kita siapkan. Keinginan untuk liburan ke tempat-tempat yang bagus, tapi harganya tidak sesuai dengan kantong. Intinya, sih, jangan sampai niat berlibur justru malah membuat kita stres karena pengunjung yang overload atau bahkan overbudget karena terlalu mahal.
Read More
Awalnya kukira cinta kita ini semu.
Sampai akhirnya aku mulai menyadarinya setelah kepergianmu.
Meluapnya hasrat untuk kembali bertemu.
Andai menahan rindu itu tak sepahit minum jamu.

Malam ini, aku benar-benar sedang merindu.
Sampai aku teringat kenangan masa kecil bersamamu ketika asyik bermain gundu.
Pertama kali kulumat bibirmu di bawah pohon randu.
Saat kurenggut keperawananmu itu, kau pun menangis tersedu-sedu.
Dan sejak saat itu, menyetubuhimu adalah candu.

Read More
Orang yang sudah mengenal gue (baik di dunia maya ataupun nyata) pastinya tahu kalau gue ini seorang blogger curhatan. Namun selain curhat, gue juga suka jalan-jalan dan kulineran (walau nggak gemuk-gemuk).

Gue, sih, biasanya jalan-jalan itu untuk mencari inspirasi menulis atau menghilangkan stres. Ya, seperti kondisi sekarang ini deh. Gue mulai penat dengan suasana kota Jakarta yang entah kenapa malah semakin kacau. Apalagi menjelang pemilu begini. Hal ini pun membuat gue pengin liburan ke suatu tempat.

Kemudian dengan spontannya gue langsung menyebut nama "Bali".

Kenapa Bali? Pertanyaan bagus!

Karena gue belum pernah ke sana dan pengin mencoba menikmati keindahannya. Muahaha.

Oke, serius. Gue emang belum pernah ke sana. Lagian mah biasanya saat ada jatah cuti untuk liburan, sebagian orang akan memilih Bali sebagai tempat untuk berlibur. Betul, gak?

Betul dari mana? Ke sana juga belum woy!

Kalaupun kalian belum pernah ke sana, mungkin kalian pernah mendengar dari kerabat atau teman-temanmu yang pernah berlibur ke sana. Kalau belum pernah denger juga, ya setidaknya kalian pasti pernah berselancar di internet tentang betapa serunya cerita perjalanan dan liburan di Bali itu.

Dan kita selalu memiliki alasan untuk mengunjungi Bali, bukan?

Siapa coba yang nggak tahu soal Bali ini? Para orang asing pun kalau berlibur ke Indonesia tentunya akan memilih Bali sebagai tujuan utama.

Bali memang dikenal akan banyak hal. Mulai dari pantai yang diminati banyak wisatawan, kemudian pie susu, juga karya seni dan adat istiadat yang kental. Beberapa hal itulah yang membuat Bali memiki daya tarik tersendiri. Bali sangat unik.
Read More
Kata beberapa orang, cowok yang bilang kangen ke ceweknya itu sebenernya mah bohong. Cowok itu gak bener-bener kangen. Karena cowok punya maksud lain, di mana kangen itu artinya ialah sange.

Bangke. Gue nggak setuju sama hal itu. Hm... tapi terkadang hal itu bener juga, sih. Yah, gue malah plin-plan. Oke, serius. Harus gue akui, kalau gue pernah bilang kangen ke pacar sewaktu SMA, tapi gue punya maksud terselubung di dalam kata “kangen” itu. Kangen, sih, kangen... padahal mah ya sebenarnya juga agak nafsu gitu.

Nafsu di sini tidak seperti yang kalian kira, kok. Nggak. Gue nggak sebiadab itu. Gue cuma pengin dipeluk pacar dari belakang aja gitu. Biar buah surganya menyentuh punggung gue dan terasa lembek dan lembut. Ehehe. Terus kalo sepi dikit kan bisa ciuman. Ehehehe, eh astagfirullah.

Oke-oke fokus. Jadi, kangen itu memang rasa sange yang lebih diperhalus aja.

Ya, seperti sekarang ini. Gue lagi kangen. Tapi sumpah deh, kali ini gue beneran kangen. Nggak sange yang diperhalus itu. Sayangnya rasa kangen ini bukan buat pacar. Gue kangen sama Kangen Band.

Kangen apa sange, Yog?

KANGEN WOY KANGEN!
Read More
Mungkin pilihan orangtua itu sebenarnya bagus dan pastinya dilakukan yang terbaik untuk anaknya. Namun, dalam sudut pandang si anak, apakah itu juga bagus dan benar-benar yang terbaik?

Misalnya orangtua yang memilihkan (atau bahkan memaksakan) jurusan kuliah anak perempuannya untuk mengambil Kedokteran. Karena orangtua ini ingin anaknya dapat meneruskan profesinya, yaitu seorang dokter. Sayangnya, anak itu tidak suka dengan dunia kedokteran. Anak itu geli atau takut melihat darah. Anak itu lebih suka jurusan Hubungan Internasional karena hobinya adalah jalan-jalan (traveling). Kalau anak itu tetap dipaksakan untuk mengambil jurusan Kedokteran, takutnya ia tidak bahagia dalam menjalani perkuliahannya. Anak itu jadi sering bolos kuliah, lalu saat tugas akhir semakin kebingungan, atau bahkan berujung DO (Drop Out).

***

Hal seperti itu pun terjadi dalam hidup gue. Dari gue masih kecil, gue merasa orangtua—lebih tepatnya ayah gue—selalu mengarahkan gue ke pilihan yang beliau mau. Iya, gue harus menuruti segala pilihan Bokap. Sejak gue masih SD, Bokap sudah menyarankan atau menyuruh gue ketika lulus nanti masuk pesantren aja ketimbang masuk SMP umum. Gue yang mendengar hal itu pun dengan tegasnya langsung mengatakan, “Ogah!”

Bokap mulai menceramahi gue dengan pergaulan anak SMP yang mulai nggak bener. Beliau juga mulai menceritakan kenakalan-kenakalan yang telah gue perbuat, di antaranya: bukannya berangkat ngaji malah ke rental PlayStation—biasa disingkat PS; main bola nggak inget waktu, kalau belum azan Magrib nggak akan pulang; sering membantah nasihat orangtua dan juga sering meninggalkan salat.

Gue pun mulai berjanji untuk berubah dan nggak akan nakal lagi kalau diizinkan masuk SMP umum dan nggak jadi masuk pesantren (iya, gue tau ini bullshit banget). Syukurnya, Nyokap membela gue dengan pendapatnya.
Read More
Nggak banyak yang bisa gue lakukan ketika sakit. Hobi menulis dan membaca saja sampai harus gue tinggalkan sementara. Untuk menulis seperti biasa itu rasanya sulit. Gue juga agak kesulitan menemukan ide. Lagian, gue susah berkonsentrasi dan berpikir karena badan lemas. Membaca novel pun rasanya males banget (tanpa dot com). Gue kayaknya lagi nggak pengin baca buku—apalagi yang ceritanya panjang-panjang. Demam yang tinggi, batuk terus-menerus, serta hidung yang meler membuat gue gagal fokus setiap kali menulis ataupun membaca. 

Sebenernya, sih, ide pasti banyak sekali di dalam setiap kepala manusia. Ide nggak akan pernah ada habisnya selama orang itu masih hidup. Namun, gue merasa nggak bisa langsung mengeksekusinya ketika sudah menemukan ide itu. Gue cuma bisa mencatatnya di post it tentang poin-poin pentingnya. Sumpah deh, buat nulis itu rasanya berat banget kalo keadaan tubuh lagi gak fit. Seolah-olah ngetik satu lembar di Ms. Word (yang palingan sekitar 300-400 kata) itu seperti harus bikin novel ribuan halaman. Berlebihan banget bukan? 

Mau membaca buku juga entah kenapa males. Biasanya gue bakalan membaca novel (yang ceritanya utuh menyambung terus dari awal sampai akhir) minimal 3 lembar dalam sehari. Karena dalam sehari kalau nggak membaca buku itu rasanya ada yang kurang. Kalau diibaratkan, itu bagaikan klub Barcelona tanpa Messi. Kurang asyik aja gitu. Sekalinya lagi males baca novel dan pengin baca yang singkat-singkat, gue palingan membaca kumpulan cerita—baik fiksi maupun nonfiksi.

Read More
Di dunia ini, banyak sekali hal-hal yang bikin heboh. Dari zaman dahulu, yang namanya kehebohan atau keributan itu sudah pasti terjadi. Kalau nggak ada kehebohan, mungkin perang dunia juga nggak akan ada. Halah, sotoy lu, Yog! 

Kehebohan itu bermacam-macam bentuknya. Dari mulai sebuah karya seni hasil buah tangan Leonardo da Vinci, yaitu lukisan Mona Lisa. Kemudian kisah nyata tenggelamnya kapal Titanic yang akhirnya menjadi film paling romantis yang sering diputar berulang-ulang setiap tahun baru. Atau peristiwa hancurnya gedung kembar WTC pada 11 September 2001.

Duh, dari tadi kehebohan di luar negeri mulu. Kali ini mari bahas Indonesia. 

Di Indonesia ini juga sering terjadi kehebohan. Dari mulai tragedi kerusuhan pada Mei 1998. Batu Ponari yang katanya bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Kemudian tren cincin batu akik yang harganya sempat mencapai puluhan, bahkan ratusan juta. Atau malah hal-hal remeh seperti pesan berantai di SMS, BBM, WhatsApp, etc yang bilang, "Kalau mau lulus UN harus kirim minimal kepada 20 kontak temanmu. Jika mengabaikan pesan ini, nanti nggak akan lulus UN. SEBARKAN! JANGAN BERHENTI DI KAMU!"

Iya, hal-hal kayak gitu emang sempet bikin heboh di Indonesia. Namun dari semua kehebohan itu, ada 4 hal yang menurut gue bikin heboh Indonesia belakangan ini, di antaranya:

1. Kopi Sianida
Read More
Gue memang bukan seorang travel blogger. Namun, gue lumayan sering jalan-jalan. Jalan-jalan sama pacar ke mal, jalan sehat setiap Minggu sewaktu CFD (Car Free Day), atau jalan ke warung disuruh beli gula dan garem sama Nyokap.

Itu termasuk jalan-jalan, kan?

Oke, maaf.

Ya, intinya gue termasuk suka jalan-jalan. Meskipun belum pernah liburan ke luar negeri, tapi traveling di negara sendiri juga nggak kalah seru, kok. Gue sering ke Yogyakarta (karena ini emang kampung gue); gue suka main ke curug (air terjun) di daerah Bogor, bahkan waktu itu sempat ke kawasan Gunung Salak yang angker itu; dan bulan kemarin baru aja tur Jakarta Night Journey sama temen bloger.

Yang namanya jalan-jalan, kita pasti butuh membawa banyak barang. Entah itu pakaian ganti, bekal makanan dan obat-obatan, ataupun peralatan dokumentasi (kamera, tripod, tongsis, dll). Untuk membawa itu semua, kita membutuhkan sebuah tas. Kan, nggak lucu, kalo kita menyimpan barang-barang itu di kantong plastik hitam.

Malu-maluin banget pasti. Tentu saja kantong keresek itu nggak ada fashion-nya sama sekali!
Read More
Sejujurnya, gue itu benci sama hari Sabtu. Apalagi kalau waktunya istirahat di rumah, eh tapi masih disuruh masuk kantor karena ada lemburan. Selain itu, gue juga benci sama malam harinya, ya malam Minggu. Malam yang penuh maksiat. Lalu lintas di Jakarta ini begitu macet karena banyak banget orang pacaran saat malam Minggu.

BAKAR SAJA ITU PASANGAN YANG MAKSIAT DI MALAM MINGGU!

Bukan. Gue kesel kayak gitu bukan karena gue jomlo. Lagian, gue juga nggak pernah iri kepada para pasangan yang memadu kasih di Sabtu malam ini kalaupun seandainya gue itu jomlo. Tentu saja saat ini gue punya pacar. Ehehe. Namun, gue sama pacar sudah sepakat kalau kencan itu jangan di malam Minggu. Pergi makan atau nonton, kan bisa di hari lainnya (dibaca: berhemat karena nonton pas weekend itu mahal). Lebih baik malam Minggu itu waktunya dipakai untuk menulis atau membaca. Membaca Alquran misal. Allahu Akbar. Tumben gue ngetik gini.

Ngomong-ngomong soal hari Sabtu atau malam Minggu, rasa benci gue terhadap hari Sabtu mulai berkurang atau malahan sudah mulai menyukai hari Sabtu. Itu semua karena gue terpilih untuk mengikuti acara "Jakarta Night Journey" bersama teman-teman bloger Indonesia Corners.

Read More
Di dalam hidup ini, kadang gue suka merasa hari-hari gue tuh gitu-gitu aja. Dari mulai bangun pagi, terus mandi dan salat, lalu sarapan (itu juga kadang-kadang, soalnya habis sarapan suka boker jadi bikin males), baru deh berangkat ke kantor. Sesampainya di kantor, gue langsung kerja sampai waktunya makan siang. Begitu kelar makan, mau nggak mau ya lanjut kerja lagi hingga waktunya balik ngantor. Mirisnya, pas pulang ngantor pasti kudu macet-macetan, akhirnya gue pun telat sampe rumah. Barulah habis gitu makan malem, dan ditutup dengan tidur.

Tapi, gue bisa tidur itu cuma kalo pas capek banget. Iya, gue harus nunggu ketiduran (ini hal yang langka dalam hidup gue). Kalau lagi susah tidur, biasanya gue iseng cek Twitter (ini bisa khilaf sampe pukul 2 dini hari), terus baru deh mencoba tidur. Terus kembali lagi ke pagi hari, tentu saja dengan muka ngantuk karena kurang tidur. Ya, kemudian aktivitasnya diulang-ulang begitu lagi.

Flat abis.

Temen bilang, itu karena gue kurang hiburan. Hm... iya juga, sih. Akhir-akhir ini, gue mulai jarang baca buku ataupun main games untuk menghilangkan jenuh.

Padahal, dulunya gue termasuk anak yang hampir kecanduan main games. Dari SD gue udah suka main Playstation—yang biasa disingkat PS. Gue masih ingat betul, ketika orang tua membelikan gue PS1 karena waktu itu gue berani dan mau disunat. Demi sebuah PS, gue harus merelakan ujung titit itu. Kemudian SMP-SMK pun gue masih suka main PS. Ya, walaupun bukan PS1 lagi, melainkan PS2, PSP, dan PS3. Maaf, kalo PSK itu tidak termasuk dalam daftar permainan. Namun pas SMK, gue main games-nya lebih sering menggunakan PC di warnet (warung internet, bukan warung net... ah sudahlah).
Read More
Tak ada akhir yang tak berawal.

Iya. Betul sekali. Semua hal di dunia ini pasti ada awalnya. Tidak mungkin bumi terbentuk begitu saja tanpa ada penciptanya. Indonesia saja bisa menjadi negara yang keren (meski agak kacau) seperti sekarang ini, pasti juga ada asal mulanya.

Dulunya, Indonesia belum menjadi negara yang merdeka. Indonesia sempat dijajah oleh Belanda selama 3,5 abad, juga oleh Jepang selama 3,5 tahun. Setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh Sekutu, barulah Jepang menyerah tanpa syarat dan pergi meninggalkan Indonesia. Akhirnya, Indonesia pun merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Di hari itu, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta resmi menjadi presiden dan wakil presiden yang pertama.

Setelah itu, Ir. Soekarno digantikan oleh Suharto yang terkenal dengan kalimat, “Piye kabare? Masih enak jamanku to?” Lalu, pada masa pemerintahannya itu pernah terjadi kerusuhan besar-besaran pada tahun 1998.

Kemudian Suharto dilengserkan secara paksa dari jabatannya karena para masyarakat dan mahasiswa yang terus berdemo menuntut keadilan. Indonesia juga pernah memiliki presiden dalam waktu yang begitu singkat. Ya, siapa lagi kalau bukan B. J. Habibie?

Hingga saat ini, Indonesia telah mengalami beberapa kali pergantian presiden. Dan pemimpin Indonesia sekarang ini ialah Ir. H. Joko Widodo. 

Bentar, ini ngapa gue jadi cerita sejarah, ya?

Baiklah, mending kita skip saja.

Semua memang ada awalnya. Begitu juga dengan diri gue ini. Tidak mungkin kalau gue langsung hidup dan berusia 21 tahun secara tiba-tiba. Pasti gue pernah mengalami masa-masa puber di umur yang ke-17. Sebelum itu pula, gue pernah mengalami yang namanya disunat pada umur 10 tahun. Kemudian, mundur lagi jauh ke belakang ketika seorang perempuan melahirkan gue. Iya, tentunya gue menjadi bayi terlebih dahulu.
Read More
Kata orang-orang, hari Kiamat datangnya sebentar lagi. Itu tandanya bumi gonjang-ganjing. Kemudian Dajjal akan muncul dan menyebarkan fitnah yang paling sadis. Tapi di lain sisi, hadirlah Imam Mahdi sang pembela umat muslim. Dan Nabi Isa a.s juga diturunkan dari langit untuk membantu Imam Mahdi mengalahkan Dajjal.

Pokoknya kejadian itu bakalan kacau sekali.

Namun sebelum hal itu terjadi, saat ini akan ada sebuah kebangkitan yang menggemparkan dunia.

Kalian tau apa itu?

Tidak?

Ah, payah!

Baiklah, gue akan memberitahu kalian mengenai hal ini.
Read More
GAJI.

sumber: GAJI


Gagal Haji. Ng... kayaknya bukan itu deh. Maaf-maaf.

Oke serius, gaji itu adalah gangguan jin. Astagfirullah. Makin gak nyambung.

Di dalam KBBI, gaji adalah singkatan dari garuk biji. Bentar, KBBI yang gue baca ternyata bukan Kamus Besar Bahasa Indonesia, melainkan Kamus Bokep Bahasa Indehoi. Wakakakak.

Dalam arti sebenarnya, gaji ialah upah kerja yang dibayar dalam waktu yang tetap. Dalam arti lain, sebuah balas jasa yang diterima pekerja dalam bentuk uang berdasarkan waktu tertentu; -- bersih gaji yang diterima oleh pekerja (pegawai) setelah dikurangi potongan; gaji yang dibayar (tunai) setelah dikurangi dengan semua potongan.
Read More
Gimana, sih, dua orang bisa bertemu dan saling jatuh cinta?

Kalau di FTV atau sinetron mah udah jelas. Gak sengaja tabrakan di area kampus, lalu buku-buku si cewek terjatuh ke lantai. Di saat itulah si cowok langsung berpikir untuk membantunya. Kemudian tangan mereka tidak sengaja bersentuhan, yang dilanjutkan dengan saling tatap-tatapan, setelah itu mereka kenalan. Dan beberapa hari kemudian mereka akhirnya jadian.

Bangkhe.

Segampang itu, kah? Ini mah lebay, njir! Di kehidupan nyata, kemungkinannya nyaris gak mungkin.

Nah, tentu saja ketika gue bertemu dengan seseorang nggak akan mungkin seperti itu. Kalaupun hal itu terjadi, gue yakin si cewek bukannya berujung dengan kenalan sama gue, tapi malah bilang, “EH, GOBLOK! KALO JALAN PAKE MATA DONG!

Yang kemudian akan gue jawab, “Jalan pake kaki, Mbak.”

Saat itulah gue bakalan digampar, bukannya jadian. Huhuhu.

Entah bagaimana proses pertemuan itu terjadi, gue punya satu cerita pertemuan dengan seorang perempuan yang rasanya begitu menyenangkan sekaligus membahagiakan untuk diingat-ingat.
Read More
Akhir-akhir ini, banyak sekali video yang bermunculan di media sosial.  Dari mulai video lucu, video musik, video tutorial, hingga video kurang penting seperti daily vlog (cerita dari bangun tidur sampai tidur lagi). Yo wasap ma fren~

Tidak bisa dimungkiri lagi, kalau saat ini internet tidak hanya mengubah gaya hidup, namun juga mengubah peradaban dan generasi. Apalagi generasi yang lahir pada tahun 1990 sampai 2000-an ini (generasi milenial), sangat nyaman dalam lingkungan yang serba digital.

Bisa kita lihat contohnya, banyak blogger yang mulai beralih menjadi vlogger. Sebuah perkembangan dari tulisan menjadi visual. Agak sedih, sih, karena minat baca remaja Indonesia semakin berkurang. Kemudian, Google Indonesia pun mencatat, sejak tahun 2014 saat vlog mulai booming ada peningkatan hingga 600 persen video yang diunggah ke Youtube.

Maka, Telkomsel Loop membuat situs keren untuk anak muda yang ingin berkreasi dengan talenta-talenta mereka. Tentu saja remaja sekarang merupakan generasi milenial yang membutuhkan koneksi internet untuk mendukung gaya hidup mereka.
Read More
Di sebuah pagi pada akhir September, gue sedang duduk di warkop menikmati semangkuk indomi jumbo dengan tambahan telur dadar dan irisan cabe rawit. Dan ternyata, itu adalah makanan terakhir paling enak yang bisa gue santap sebelum menderita seperti sekarang.

Iya, sudah tiga hari ini gue sakit.

Bukan. Gue bukan kena tipus, kok. Kalo bisa mah jangan sampe deh itu tipus kambuh lagi. Melainkan, geraham bungsu gue baru saja tumbuh. Sebenarnya, gue sudah pernah mengalami kesakitan seperti ini sebelumnya. Jadi, ini adalah tumbuhnya gigi bungsu yang ketiga atau keempat kalinya.
Read More
Apa yang paling sulit dalam melakukan sesuatu? Ya, memulai.



Seperti di saat saya ingin memulai tulisan ini. Rasanya bingung harus memulai dari mana. Saya terus berpikir, “Apa kalimat pembuka yang bisa membuat orang tertarik untuk terus membacanya sampai habis?”

Dan karena pertanyaan yang bikin bingung itulah, maka saya mencoba memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan.

Ada beberapa alasan kenapa memulai itu rasanya begitu sulit. Mungkin karena kita terlalu banyak berpikir sebelum bertindak. Belum apa-apa, kita pasti sudah memikirkan risiko-risiko yang belum terjadi.

“Ntar kalo jelek gimana?”
“Nanti kalo gagal, piye?”
“Emang bakal ada yang suka?” 

Itulah yang mengakibatkan susahnya memulai. Begitu pun ketika memulai sebuah bisnis atau wirausaha. Kita pasti terus memikirkan ide mengenai bisnis itu, “Saya ingin menjalankan bisnis, tapi bisnis apa yang bagus?”

“Bisnis yang bagus adalah yang segera DIBUKA, bukan yang ditanyakan terus-menerus,” jawab Bob Sadino.
Read More
Halo! Selamat Iduladha teman-teman. Yaelah, hari gini baru ngucapin. TELAT WOY! Ke mana aja lu, Yog?

Oke, abaikan.

Gimana rasanya lebaran kemarin? Seru? Pada nyate gak nih? Anak kos langsung perbaikan gizi dong, ya?

Kalo buat gue sendiri, entah kenapa Hari Raya Kurban ini semakin biasa aja dari tahun ke tahun. Pokoknya menurut gue jadi gak menarik lagi seiring bertambahnya umur.

Pertama, karena gue gak begitu doyan daging sapi (sukanya kalo udah jadi bakso dan rendang), apalagi daging kambing. Bisa muntah gue yang ada kalo makan kambing, kecuali daging kambingnya disate. Nah, gue masih bisa makan deh. Itu pun palingan cuma sekitar enam tusuk. Lebih dari itu kepala gue pusing. Huhu. Yoga memang lemah. Selera makanannya mah tempe dan tahu. Tahu-tahu dia jadian sama yang lain. Apaan!

Read More
Orang bilang, “Es krim adalah obat terbaik ketika hati sedang sedih atau terluka.”

sumber: pixabay.com

Namun, Agus nggak pernah mengerti kenapa Selvi tak pernah mau diajak menikmati es krim ketika ia sedang bersedih. Padahal mereka telah menjalin hubungan itu hampir 6 bulan. Agus merasa Selvi tidak ada romantis-romantisnya sebagai pacar. Berbeda sekali dengan Rani yang hanya berstatus teman dekat. Setiap dua minggu sekali, biasanya Rani dan Agus akan menghabiskan waktu bersama untuk menikmati es krim.

Mungkin Selvi memang tidak suka es krim. Entahlah. Atau mungkin saja ia punya penyakit diabetes, alergi, atau takut gendut. Hal itu berbanding terbalik dengan Agus yang benar-benar pecinta es krim. Dari mulai es krim jenis batangan, cup, dan cone pun hampir semua sudah pernah ia coba. 

Read More
“LU ngerti bahasa manusia nggak, sih?!” bentak Agus kepada Coki yang terus-menerus menggodanya sejak tadi.
“Hahaha, gitu aja ngambek. Gak asyik, ah,” ledek Coki.
“SIAPA YANG NGAMBEK?!” Agus mulai naik pitam. “Lu tuh kelewatan kalo bercanda!”

“Udah-udah, jangan ribut di sini,” ujar Beni mencoba menengahkan.
“Lagian belagu amat sok-sok nggak mau merokok,” kata Coki. “Cowok nggak ngerokok tuh cemen tau.”

“Diem apa, Cok!” Beni juga mulai kesal terhadap kelakuan Coki. “Jangan godain Agus mulu.”

Maksud menggoda di sini bukanlah merayu karena suka atau naksir. Tentu saja Coki tidak homo. Coki menggoda Agus dengan menyemburkan asap rokok ke wajahnya dan meledek-ledek tentang cowok yang tidak merokok itu sangat payah.

rokok


Read More
Malam ini, gue sedang asyik mendengarkan lagu secara acak menggunakan earphone. Di awal-awal, playlist yang terputar kebanyakan ialah lagu galau yang membuat gue kurang bersemangat. Dan sampai akhirnya,

Jakarta penuh dengan benci, penuh dengan deritanya.
Jakarta takkan pernah kembali. Seperti dulu~


Sebuah lagu dari band Thirteen yang berjudul "Jakarta Story" ini membuat mood gue lebih baik. Dan karena lagu inilah, gue tiba-tiba merenungi keadaan kota yang gue tinggali dari kecil hingga saat ini.

Menurut gue, tinggal di Jakarta itu keras, Men! Biaya hidup di sini begitu tinggi. Mana sering banjir tiap musim hujan. Apalagi masalah macetnya yang nggak kunjung selesai. Bikin stres deh tinggal di Jakarta.
Read More
Nggak, kok. Gue nggak vakum lagi. Yakali baru nulis belum ada seminggu udah mau kabur lagi. Hahaha. Setelah blog ini update, beberapa temen sempet ada yang nanya, “Lu balik nge-blog lagi, Yog?”

Jawabannya adalah: Yoi! Gila aja kalo gue sampai berhenti melakukan hobi yang sangat keren ini. Halah!

Setelah vakum nge-blog kurang lebih 3 bulan, gue merasa hidup jadi semakin hampa. Makanya, gue memutuskan untuk kembali menulis lagi di sini. Sebenernya gue vakum bukan hanya di blog, tapi di semua media sosial. Gue kayaknya nggak akan bisa cerita atau memberikan alasan kenapa gue kemarin vakum (sok penting abis lu, Yog!). Yang jelas, gue hanya ingin minta maaf. Apalagi soal tulisan kemarin itu. Buahaha. Gue juga nggak habis pikir, kok bisa-bisanya setelah nggak nulis lama malah tulisannya panjang, penuh kenangan, dan se-mellow itu.
Read More
Ketika kalian membaca judulnya, percayalah kalau ini tulisan bukan tentang mabuk-mabukan. Bukan pula tentang narkoba yang bikin orang teler. Karena ini semua tentang... campur-campur.

Gue mulai merasa kalau cuaca di Jakarta lagi labil-labilnya. Misalnya kemarin habis hujan deras, tapi besoknya malah panas mentereng. Contohnya seperti beberapa hari yang lalu: gue gak mandi karena hujan dari pagi hingga sore. Lalu keesokan harinya, gue malah mandi tiga kali. Pagi, siang, dan sore.

Pembukaan macam apa ini, sih? Bukan ini padahal yang mau gue bahas. Duh, lama gak nulis rasanya kaku parah.

Oke-oke, jadi gini.
Read More
Sejujurnya, belakangan ini gue lagi sedih banget. Gue lagi punya masalah (semua orang juga punya masalah oy, dasar kelabang sumur!), tapi nggak tau harus cerita sama siapa, kecuali sama Tuhan. Mau curhat seperti biasa di blog ini aja gue bener-bener ragu, makanya kemarin-kemarin gue memilih untuk tidak menulis apa-apa di blog ini.
Read More
Aku lagi mengawasi seorang laki-laki dari balik pintu kamarnya (atau bisa dibilang mengintip). Tidak jelas apa yang sebenarnya ia lakukan dari tadi. Yang kuperhatikan ia cuma duduk di depan laptop. Entah ia sedang menulis sambil mendengarkan lagu—karena sebuah earphone terpasang di kedua telinganya—,atau sedang menonton film.

Mencoba mengira-ngira apa yang sedang dikerjakannya rasanya seru juga. Tapi sayang, aku tidak bisa mendengar suara apa-apa dari laptop itu. Satu-satunya suara yang terdengar di kamar ini ialah kipas angin yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempatku mengintip. Kipas angin itu membuat matanya merem-melek menahan kantuk. Ia membenamkan wajahnya di telapak tangan seraya mengusapnya ke atas dan ke bawah.

Ia mendengus kesal. Kemudian ia jambak-jambak rambutnya sendiri. Mungkin pikirannya sedang kacau. Ia mencopot earphone itu dari telinga maupun laptop, lalu melemparkannya ke kasur. Tak lama setelah itu, ia juga merebahkan dirinya ke kasur. Tampaknya ia sedang frustrasi.
Read More
“Tidak menulis sehari akan membuatmu sakit, tidak menulis seminggu akan membuatmu gila.”

Kalimat dari A. S. Laksana itu membuat gue merenung. Apa iya sekarang gue udah gila? Udah seminggu lebih nggak nulis apa-apa gini. Iya, betul. Udah seminggu blog ini nggak ada tulisan. Bukan cuma tulisan di blog aja, sih, tapi tulisan kayak tugas kuliah, atau tulisan di tembok WC pake tipe-x “Yoga was here” juga enggak.

Gue nggak begitu ngerti, kepala gue ini lagi kenapa. Tapi kok rasanya di dalamnya lagi kacau banget. Awalnya, semua ide ngumpul di kepala dan gue biarin gitu aja. Gak kayak biasanya yang langsung catet di notes hape atau post it.
Read More
Pernah gak kalian melihat hantu terus merinding sampai rasanya pengin teriak dan nangis, tapi akhirnya malah diem dan gak bisa berbuat apa-apa?

Boleh dijawab, boleh enggak. Tapi yang penting jangan gantungin aku selama berhari-hari dengan alasan, “Aku lagi fokus UN, nanti aja jawabnya.”

Kalo gue pernah, dulu pas masih kecil. Gue agak lupa pas umur berapa, seingat gue kayaknya pas masih kelas 1 atau 2 SD. Awalnya, gue lagi jagain Sadam (adik gue, saat itu umur dia baru sekitar 2-3 tahunan) di kamar karena gantiin tugas Nyokap yang mau mandi sore dan salat Magrib.

Saat sedang asyik mengajak dia bercanda, tiba-tiba Sadam menangis kencang. Gue nggak tau apa yang salah dengan bercandaan gue. Gue bertanya, “Kenapa, kok nangis?”

Dia tidak menjawab dan tangisannya pun semakin keras. Saat gue sekilas mengalihkan pandangan, gue melihat Nyokap lagi berdiri salat Magrib di sebelah kasur di pojokan kamar. Tapi setau gue Nyokap masih berada di kamar mandi. Setelah gue lihat lagi, rupanya itu bukan Nyokap. Itu adalah hantu bungkus—atau yang lebih dikenal pocong. Gue hanya bisa menutupi muka dengan bantal karena gak bisa teriak ataupun menangis.

Kali ini, gue merasakan hal yang sama. Namun, gue bukan melihat hantu lagi. Gue baru saja melihat video ini.
Read More
Wuih, udah bulan April aja. Udah ganti domain baru pula. Ehehe. Oke, maaf kalo pamer. Hari ini adalah Sabtu pertama di bulan April. Ng... nanti malam Mingguan ke mana nih, ya? Sejujurnya, udah lama gue nggak keluar rumah di malam Minggu. Seingat gue, terakhir malam Mingguan itu pas tanggal 19 Maret 2016. Yaelah, Yog! Belum ada sebulan aja udah ngeluh lama.

Gue masih ingat dengan jelas tentang malam itu. Di mana gue malam Mingguan untuk menghadiri acara Malam Puisi Jakarta.

***

“Parkirnya tolong agak pinggiran ya, Mas. Ini buat jalan soalnya,” kata pemilik kafe kepada gue yang sepertinya parkir tidak rapi. “Maaf nih sebelumnya.”

“Oh, iya-iya, Bang.” Gue tersenyum dan langsung menggeser motor. Setelah sudah memarkirkan motor dengan benar, gue pun masuk ke dalam Jung Coffee, tempat diselenggarakannya Malam Puisi Jakarta. Karena masih banyak meja yang kosong, gue memilih meja yang posisinya menghadap ke tempat pembacaan puisi.

Read More
Sejak Januari 2016, ada beberapa hal yang terus mengganggu pikiran gue tentang blog ini, salah satunya: nama domain. Gue tidak begitu mengerti kenapa awalnya memilih nama domain "yoggaas(dot)com". Yang gue ingat, gue hanya mengikuti username di Twitter supaya sama.

Namun, makin ke sini ada beberapa orang yang mengeluh kalau mencari nama “yoggaas” itu susah. Baik di Blog, Twitter, ataupun media sosial lainnya. Sejujurnya, gue emang udah lama pengin ganti. Tapi karena emang dasarnya males, malah gue diemin aja. Lagian, nggak penting-penting amat.

Dan ternyata gue salah. Nama itu penting banget. Nggak lucu, kan, kalo nama anak kalian, “Sturtzbluchrgowshylderch”. Baru hari pertama sekolah, itu guru dan temen-temennya pasti langsung gila saat mau memanggil atau melafalkannya.
Read More
Gue nggak tau, hari-hari Haris Firmansyah dalam setahun itu seperti apa. Entah dia setiap hari suka menyendiri di kamar (menurut “Tentang Penulis” di salah satu novelnya), nonton sinetron, atau masih sering galau mikirin mantan. Atau bisa jadi paduan ketiganya; menyendiri di kamar sambil nonton sinetron cinta-cintaan, yang akhirnya bikin dia inget sama mantan kemudian galau. Tapi yang jelas, Haris ini sudah menelurkan (melahirkan jika Haris menganggap dirinya mamalia) beberapa buku, di antaranya: 1) 3 Koplak Mengejar Cinta 2) Wrecking Eleven, dan 3) Unforgettable Baper Moments.

Read More
Gue kaget bukan main ketika nama dan kontak gue tercantum di poster sebuah acara kumpul-kumpul. Tenang, bukan acara kumpul untuk mesum, kok. Tapi ini acara kumpul blogger regional Jabodetabek. Sumpah, gue sebenernya cuma takut kalo nomor hape gue jadi tersebar ke mana-mana. Bisa aja ada yang iseng nulis nomor hape gue di tembok WC umum.

Cewek bispak cakep, 085710002000

Kan nggak lucu kalo tiba-tiba ada om-om nakal yang nelepon gue dan ngajak ke hotel.

Atau, bisa aja ditempel di tiang listrik, lalu ditulis jadi tukang sedot WC. Ini gue dari tadi ngapain bahasnya nggak jauh-jauh dari WC mulu, sih? Oke, maaf. Ngetik ide pembukaan ini emang pas lagi boker, sih. Hehe.

Ketika gue lagi santai di rumah, tiba-tiba ada panggilan dari nomor yang tidak dikenal.

“Halo,” kata gue.
“Halo, Pak. Saya mau sedot WC nih. Sudah dua hari ini mampet....”

Baguslah hal itu tidak terjadi.

Terus cerita kopdarnya mana woy?! Gue close tab juga nih!

Read More
“Loh, Agus kok bisa ada di sini?”

“Mei?” kata Agus, tak percaya akan kenyataan bahwa Mei memang pacar kakaknya. Suasana di rumah tiba-tiba menjadi tegang. Setegang batang kejantanan pria ketika bernafsu.

“Kalian udah saling kenal?” Januar menatap Mei dan Agus bergantian. Januar tampak terkejut, tapi ia hanya terkejut biasa. Tidak ada rasa cemburu sedikit pun terhadap adiknya.

Kursi di meja makan saat itu terasa seperti kursi listrik. Membuat Agus ingin mati saja. Feeling-nya selama ini benar. Kalau Mei memang sudah memiliki pacar. Agus mencoba membiasakan dirinya dalam situasi ini. Ia ingin terlihat seperti tidak terjadi apa-apa, walaupun hatinya ada apa-apa dan terasa tidak keruan. Rasa antara senang, sedih, dan jengkel campur menjadi satu. Senang karena bisa bertemu Mei; sedih karena dugaannya selama ini benar, Mei sudah memiliki pacar; dan....
Read More
"Belakangan ini Rani mendadak beda, Yog. Apa mungkin dia selingkuh?" tanya Agus kepadaku.

"Nggaklah. Percaya sama dia. Kalian pacaran udah setahunan," jawabku berusaha menenangkan.

Agus tersenyum dan merasa baikan.
Read More
Kota Bandung masih mandi sejak Jumatan tadi. Sampai saat ini gue begitu kedinginan karena hujan tak kunjung reda. Cuaca yang menurut gue dingin banget ini pun semakin parah. Bagusnya, tak ada bunyi petir marah-marah. Dari tadi gue hanya selimutan sambil mendengarkan musik. Bingung apa lagi yang harus gue lakukan ketika tidak berada di rumah sendiri.

Btw, gue lagi liburan ke Bandung dan numpang nginep di kontrakan temen. Eh, tapi nggak liburan juga, sih, soalnya budget terlalu minim. Ah, anggep aja gue lagi hijrah ke Bandung. Coba kalo di rumah sendiri, gue mah udah bebas ngapain aja; bikin Indomie rebus pake irisan cabe rawit, mandi aer anget, atau paduan keduanya (mandi pake kuah Indomie).

Read More
Beberapa minggu lalu, Twitter sempat dihebohkan dengan beberapa hal, di antaranya: kasus LGBT, Chitato rasa Indomie Goreng, dan Tim Goreng VS Tim Kuah.

(Sumber: Twitter Indomie)

Untuk kasus LGBT, gue udah mulai muak. Perhatian gue jadinya lebih ke hal lainnya, makanan. Oke, untuk urusan makanan itu selalu menjadi favorit gue. Meskipun badan gue tetap segini-segini aja.

Gue melihat beberapa gambar yang seliweran di timeline dengan hashtag #TimGoreng dan #TimKuah. Di antara gambar-gambar itu ada salah dua gambar yang bikin gue langsung teriak,  “GOKILLL!”

Yang satu sampe rela bikin tato dengan tulisan “Tim Kuah”. Satunya lagi cukur rambut terus dibuat tulisan “Goreng”.


Tim Kuah (sumber: Twitter Jenny Jusuf)
Tim Goreng (sumber: Twitter Imandita)


Seru amat ini mereka deh. Batin gue.

Sampai akhirnya...
Read More
“Sekarang, lu udah tau, kan, akibatnya?!” katanya, alis matanya hampir menyatu, matanya terus menatap gue. Sungguh tajam pandangannya. Dan gue merasa semakin takut. “JANGAN GANGGU ISTRI GUE LAGI! NGERTI LO?!”

Gue habis ditonjok tepat di wajah sekitar 4 atau 5 kali oleh seorang cowok bernama Agus yang usianya kira-kira 26 tahun. Dia melakukan itu karena menyangka gue telah menggoda Rani, istrinya. Padahal gue nggak menggodanya. Sumpah, deh. Gue sama Rani nggak ngapa-ngapain, kami berdua cuma khilaf tidur bareng tanpa busana.

Wajah gue benar-benar bonyok. Hidung gue bercucuran darah. Kegantengan gue hilang seketika. Dajjal bangkit dari dalam bumi. Imam Mahdi ikutan muncul.
Loh, mau kiamat dong?

Kemudian, Agus mendorong gue sampai terjatuh.

Ia menginjak-nginjak tubuh gue, mulutnya pun mengeluarkan kata-kata kotor, "Jamban! Ingus ijo! Berak laler!" dan kata-kata lainnya yang terdengar tidak begitu jelas.

“Sekarang, lu udah tau, kan, akibatnya?!” ujarnya, kali ini sambil menendang kepala gue yang sudah tergeletak lemas di tanah. 


***
Read More
Sekitar tahun 2012.

Ketika sedang seru membaca novel, tiba-tiba handphone gue berbunyi. Gue memilih untuk mengabaikannya dan tetap lanjut membaca. Gue memang termasuk orang yang malas diganggu saat fokus membaca. Hape itu berdering terus-menerus, tanda ada panggilan masuk. Sebuah panggilan dari Agus Purnama, salah satu teman SMK.

Gue segera mengangkatnya.

“Halo, Yog...,” kata Agus. “Gue boleh minta tolong?” Suaranya terdengar begitu panik.
“Boleh aja. Kenapa deh?” tanya gue.

“Lu lagi sibuk gak?” tanya Agus. “Kalo lagi sibuk, mending nggak usah. Ntar ngerepotin.”

Gue bisa saja menjawab, “Duh, sibuk banget nih. Lagi nyari duit buat ngeberangkatin Mak Ijah ke Mekkah. Sorry, ya.”

Namun, gue tidak bisa begitu. Gue berusaha mengatakan, “Gak, kok. Santai.” Meskipun dia sudah mengganggu waktu santai gue. Gue mencoba ada di saat teman sedang membutuhkan bantuan.

“Jadi gini....” Agus mulai bercerita mengenai masalahnya.

Read More
Kera Sakti alias Sun Go Kong perlu berkelana setiap hari demi mendapatkan kitab suci.

Tapi tidak untuk para pemenang tulisan give away Campur-Campur Berhadiah (yang gue adain sekitar semingguan yang lalu). Mereka gak perlu repot-repot berkelana. Mereka cukup baca tulisan ini sampai habis.

Namun, gue sedikit heran sama GA kali ini. Soalnya jarang banget yang ikutan. Ehehe. Dari 42 komentar, yang ikutan hanya 5 orang.

Lima orang itu ialah:


Terima kasih banget buat yang udah ikutan.
Read More
Gue termasuk tipe orang yang suka memerhatikan makanan yang namanya aneh-aneh. Namun, gue hanya sekadar memerhatikan, tapi tidak berani mencicipinya. Seperti saat syukuran ulang tahun keempat Warung Blogger (Mei 2015), ketika Uni Dzalika menawari gue makanan, “Yoga cobain Tomyam Kelapa, yaaa.”

Hah? Tomyam? Apaan coba tuh? Pake ada kelapanya lagi.

Gue menggelengkan kepala.

Gue awalnya memang tidak tau apa-apa tentang tomyam. Gue pikir, tomyam itu singkatan dari tompel ayam. Oke, ngaco. Gue pikir, gabungan antara tomat dan ayam. Jadi sebuah makanan berupa ayam yang bumbunya saos tomat. Ehehe. Tapi ternyata bukan, Gaes.

Menurut Wikipedia, tomyam adalah sup yang berasal dari Thailand. Sup ini biasanya dibuat dengan campuran udang, ayam, cumi, dan makanan laut yang dicampur.

“Beneran nggak mau?” tanya Uni memastikan.

“Enggak, Un. Hehehe. Makasih. Gue kadang suka alergi sama sea food,” jawab gue ngasal.
“Ya udah, gak usah pake sea food kalo gitu. Mau, ya?” kata Uni coba merayu gue.

“Masih kenyang, kok.” Padahal gue mah takut nyobain makanan yang namanya aneh.

“Oke deh.”

Read More
Hangout pukul 4 atau 5 sore saat weekday (hari Senin-Jumat) ialah menyia-nyiakan hidup. Begitulah pikiran gue sebagai orang Jakarta.

Ya, macet. Gak perlu ditanya lagi.

Namun, pada tanggal 2 Februari 2016 yang jatuh pada hari Selasa, gue menghiraukan kemacetan itu. Gue tetap nekat pergi karena diundang ke acara launching sebuah komik di FX Sudirman, Senayan.

Sehingga, gue pun terjebak macet di Jalan Asia Afrika, Senayan. Untuk menghindari macet, gue memilih memotong jalan lewat kawasan Gelora Bung Karno.

Begitu di pintu masuknya, petugas memberhentikan gue dan bilang, “Lima ribu, Bang.”
Buseh. Mahal amat. Terakhir ke sini perasaan cuma 2.000 deh.

Mau tidak mau gue segera menyerahkan selembar uang bergambar Tuanku Imam Bonjol.

Gapapalah bayar goceng daripada stres kejebak macet. Batin gue.

Gue langsung bergegas menuju FX Sudirman. Berasa orang tajir, ya, numpang lewat doang terus bayar goceng.

***

Sesampainya di sana, gue mengecek HP untuk bertanya ke beberapa teman yang juga mengikuti acara ini.
“Udah pada di mana, Gaes?”

“Di The Wendy’s, Yog,” respons Feby di grup chat.

Ternyata Feby sudah sampai terlebih dahulu. Ia pun memberikan informasi letak Wendy’s yang tidak begitu jauh dari pintu masuk.

Gue segera mencari tempat itu. Kampretnya, sudah muter-muter berulang kali, The Wendy’s tetap tidak ketemu juga. Emang, sih, ini pertama kalinya gue ke FX Sudirman, tapi gak gini juga kali. Memalukan.

Masa main ke mal aja nyasar gini. Noraq banget gue. Iya, sengaja pake “Q” biar tambah norak. Ahaha.

Saking keselnya, gue pun bertanya lagi ke Feby. Dan ternyata... The Wendy’s ada di F1 alias lantai satu, sedangkan gue satu lantai di bawahnya. Pantesan gak ketemu. Bodoh memang.

Gue sudah duduk berdua dengan Feby di The Wendy’s, sambil menunggu yang lain. Kami pun ngobrol-ngobrol banyak hal. Feby bahkan bercerita kalau dirinya tidak begitu menyukai komik.
Gue hanya tersenyum.
TERUS KENAPE LU IKUTAN DATENG KAMBING?! Teriak gue dalam hati.

“Sebenernya aku mah dateng cuma pengin ketemu kalian-kalian aja. Kangen sama temen-temen blogger udah lama nggak berjumpa.”

Seketika itu juga gue langsung terharu. So sweet.

Setelah itu Darma datang. Kami masih menunggu Imas dan Vira yang sedang di perjalanan. Jam sudah menunjukkan pukul 18.00, waktunya untuk hadir ke acara launching komik.

“Emang Tjap Toean itu di sebelah mana, sih?” tanya gue.
Mereka berdua menjawab tidak tahu.
Kami bertiga emang kacau. Kami pun masih duduk-duduk di The Wendy’s.

“Eh, itu bukan, sih?” tanya Feby sambil menunjuk ke salah satu restoran yang tidak jauh dari tempat kami.
“Iya, bener,” jawab gue, lalu beranjak menuju Tjap Toean.
“Lah, tempatnya dari tadi di belakang kita, ya,” ujar Darma.

Kami bertiga pun masuk ke restoran itu dan bertanya kepada waiters mengenai meja yang dipesan atas nama Fauzi. Waiters itu pun mengantarkan kami bertiga ke meja paling belakang. Kami segera bertemu dan bersalaman dengan beberapa orang (peserta lain dan penyelenggara acara).

Kami disuruh memesan makanan oleh penyelanggara acara, lalu gue pun memesan kwetiau rebus dan es teh manis.

Bentar-bentar, ini es teh manis harganya dua belas ribu segelas? Gokil! Oiya, di restoran mah namanya sweet iced tea, wajar deh mahal.

Sekitar 15 menit berselang, Imas dan Vira pun datang bersamaan dengan pesanan gue.



Sambil makan, gue mendengarkan si Abang Lingga (yang baju kotak-kotak) berbicara tentang Komik Baladeva. Karena makanannya agak hambar, gue pun menyudahinya dan segera fokus menyimak pembahasan Komik Baladeva tersebut.

Sharing mengenai Komik Baladeva
Beberapa peserta memberikan kritik dan masukan terhadap Komik Baladeva ini. Kalo gue mah, cuma diem aja. Ehehe.
Iya, gue diem aja. Itu karena belum baca komiknya.

Setelah membaca sampel yang memang telah disediakan, gue baru lumayan paham.

Komik Baladeva ini mengangkat cerita nusantara tentang sebuah legenda kuno Jawa/Bali dari abad ke-12 berlatar belakang masa kekuasaan Raja Airlangga pada abad yang ke-11.
Komik volume pertama itu menceritakan seorang pemuda bernama Kebo Parang yang sedang melatih dirinya untuk menjadi kuat dan perkasa.

Di sebuah hutan, Kebo Parang pun bertemu dengan seekor macan putih sakti. Lalu, macan putih itu menantang Kebo Parang untuk bertarung. Mereka bertarung habis-habisan selama berhari-hari sampai akhirnya berakhir imbang. Setelah itu Kebo Parang berpisah sementara dengan macan putih untuk istirahat dan berlatih. Kebo Parang berniat untuk bertarung kembali dengan macan putih. Namun, Kebo Parang malah bertemu dengan seorang perempuan cantik.

***

Komik Baladeva ini terdapat dua versi: pertama versi dewasa, tapi adegan mesumnya nggak ada kok; yang kedua versi anak-anak.

versi dewasa, sumber: Koko Giovani

versi anak-anak

Kalau berbicara tentang komik, pasti itu menyangkut soal ilustrasinya. Nah, Tantraz Comic Bali ini menurut gue memberikan ilustrasi yang sangat keren. Penggambarannya cukup detail juga. Menurut gue, tidak mudah menggambar seperti ini. Kualitasnya nggak kalah keren sama komik-komik luar negeri deh.

Namun, gue merasa lebih menyukai yang versi anak-anak. Entah kenapa, lebih lucu aja gitu ilustrasinya dibandingkan dengan komik yang dewasa. Ini selera gue aneh, ya? Tapi serius, karena yang komik untuk versi anak-anak lebih terlihat ciri khasnya yang lucu-lucu menggemaskan. Sedangkan yang dewasa terlalu elegan. Halah.

Tema yang dipilih ini nampaknya bagus. Penulisnya sangat berani. Beda dengan komik-komik yang sedang menjamur saat ini. Tapi karena berbeda, mungkin masih sangat sedikit peminatnya.

Nah, bagi yang penasaran, boleh langsung mampir ke: Tantraz Comic Bali

At least, dengan membaca komik ini, gue sedikit-sedikit jadi lebih mengenal sejarah dan kebudayaan di Indonesia. Merasa bersyukur jadinya bisa diundang ke acara ini.

Kemudian acara ini berakhir dengan foto-foto bersama. Yuhuuu. 

Yang pake kacamata jangan sampe lolos

Btw, acara ini disponsori oleh Indosat. Maka dari itu, kami diberikan voucher Indosat masing-masing senilai: 100.000. Kebetulan banget, provider gue itu Indosat. Hohohoho. Setelah lebih dari 5 tahun memakai Indosat, akhirnya gue dapet juga gratisan seperti ini. Terima kasih Indosat. Oiya, sekarang udah ganti nama jadi Indosat Ooredoo (dibaca: u-rid-u) Kalo gitu, ralat.

Terima kasih IndosatOoredoo. Ehehe.


Lumayan buat kuota 2 bulan

Karena gue, Darma, Feby, Imas, dan Vira masih pengin kangen-kangenan, kami pun keliling-keliling mal sekalian mencari tempat untuk foto-foto.


Dari kiri: Agoy, Imas, Vira, Feby, dan Darma.


Dan untuk mengakhiri tulisan ini, gue hanya ingin bilang, "Terima kasih Tim ICITY Indosat Ooredoo dan Tantraz Komik Bali sudah mengundang Yoga. Terima kasih juga untuk pembaca yang sudah membaca tulisan ini sampai habis. Kalian ketjeh abeeess!"


PS: Yang nanti mau ikutan tulisan bertema "makanan", jadinya tanggal 14 Februari, ya. Ubah cinta-cintaan jadi makanan. Buahaha. Anti-mainstream. :p
Terus yang mau ikutan GA bisa cek tulisan ini: Campur Berhadiah
Read More
Sakit.

Ya, kata itulah yang menggambarkan keadaan gue saat ini. Yeah. Setelah sebulanan tidur nggak pernah teratur, berusaha selalu kuat, selalu merasa sehat dan baik-baik saja. Gue akhirnya tumbang juga.

Berawal dari perayaan tahun baru yang memaksa gue untuk begadang hingga pagi sekitar pukul 7. Sampai pertengahan Januari pun gue masih suka kurang tidur. Setiap harinya gue pasti hanya tidur 1-4 jam. Suram banget pola tidur gue.

Apalagi saat liputan di akhir Januari itu, gue dikasih deadline hanya sekitar 15 jam. Serius. Cuma lima belas jam. Nggak sampe sehari. Gokil!
Read More
Di kepala gue saat ini banyak pikiran yang tercampur jadi satu. Saking banyaknya, gue jadi bingung mau numpahin yang mana dulu.

Namun, gue akan mencoba menuliskannya satu per satu. Entah ini urut dari yang terpenting dahulu atau bagaimana. Sepertinya, sih, bakalan random.

Gue saat ini sedang mikirin bayaran kuliah yang belum lunas, tapi UAS juga sebentar lagi. Di mana sistemnya kalau mau ikut UAS itu kudu lunasin bayaran terlebih dahulu. Lalu, gue juga mikirin belum dapet kerjaan tetap sampai sekarang, masih sibuk kerja serabutan—atau lebih dikenal freelance. Mikirin kesukaan gue terhadap Stand Up Comedy Indonesia yang semakin berkurang. Mikirin proyek menulis WIDY yang berhenti sejenak. Mikirin usia gue yang mendekati 21, tapi masih merasa gini-gini aja.

Dan gue juga mikirin hal-hal yang sepertinya terlalu pribadi untuk di tulis di sini. Padahal gue pengin banget menumpahkannya ke dalam tulisan. Tapi karena ini termasuk hal yang krusial, kayaknya lebih baik nggak usah deh.

Read More
Waktu bergulir begitu cepat. Gak terasa saat ini sudah di penghujung bulan Januari. Namun, itu tak menjadi masalah dan tak jadi beban pikiran. Kera sakti....

Lah, malah jadi lagu. Sorry-sorry... Jek, kami bukan cewek murahan. Ini apa lagi coba? Malah lagu Keong Racun.

Maaf. Gue memang sering ngaco dalam kalimat pembuka.

Oke, langsung aja.

Gue merasa waktu memang begitu cepat berlalu. Kenapa Januari ingin segera pergi?

Ah, tapi rasanya sungguh membahagiakan di akhir Januari ini.

Itu semua karena di tanggal 29 Januari 2016, gue dan beberapa temen-temen blogger diundang ke acara Anniversary Huawei Indonesia yang ke-15. Asoy.

Kue Ultah Huawei


Ngomong-ngomong, ternyata Huawei ini masih remaja, ya. Tuaan gue 6 tahun. Halah. Sok tua lu, Yog!
Read More
“Gue tunggu cerita kalian di blog masing-masing, ya!”

Parah!

Gue baru inget, kalo ada sebuah cerita di akhir bulan Desember yang belum sempat ditulis. Parah. Sumpah, ini parah. Masa sekarang udah akhir Januari. Gak terasa banget udah sebulan berlalu.
Mungkin kalau gue menuliskan cerita ini rasanya sungguh telat. Tapi, sesuai janji—dengan teman-teman yang lain—untuk menuliskan cerita kopdar di blog masing-masing, maka izinkanlah gue untuk tetap bercerita. Dan maafkanlah kalau gue baru sempat posting sekarang.


Di antara kalian masih ada yang ingat long weekend dari tanggal 23-27 Desember 2015?

Nah, di liburan itu seorang Yoga nggak ada rencana pergi ke mana-mana.

Iya, ngenes banget emang hidup gue. Udah pengangguran, gak punya duit pula (emang ada pengangguran banyak duit?). Nggak bisa liburan, kan.

Liburan gue menjadi hampa.
Read More
Sebuah kesibukan itu bisa membuat dirimu lupa akan banyak hal. Termasuk lupa kalau kamu habis putus atau patah hati. Eaakkk.

Namun, gue tidak ingin membahas tentang putus, patah hati, ataupun cinta-cintaan. Udah keseringan menuliskan tentang itu. Hidup tidak hanya soal itu melulu. Masih banyak hal-hal menarik lainnya. Asyek.

Jadi, yang akan gue tulis ialah....



Etapi mendingan kalian baca aja deh. Ehehe. Terus simpulkan sendiri, gue kali ini membahas apa.

***

“Yog, gue lihat tugas Ekonomi Makro, dong.”
Sebuah pesan WhatsApp dari Arief—temen sekelas di kampus—benar-benar mengagetkan gue.
Kemudian gue segera membalas, “Emang ada? Tugas yang mana deh?”

Read More
Nggak terasa, cerita bersambung proyek menulis WIDY sudah sampai bagian keempat. Nah, bagi kalian yang ketinggalan, alangkah lebih baiknya membaca cerita sebelumnya supaya nyambung.

Bagian pertama di blog Wulan: Potongan Pertama
Bagian kedua di blog Icha: Potongan Kedua
Bagian ketiga di blog Darma: Potongan Ketiga

Udah baca?

Belum, ya? Duh... baca dong teman-teman. Kalo baca nanti dapet pahala, loh. Muahaha. Maaf ngaco.
Sudah baca atau belum, itu hak kalian.  Jadi, langsung aja mari baca cerita bersambung bagian keempat.

***


Agus dan Mei telah tiba di dalam cafe. Agus pun langsung menuju posisi duduk favoritnya, sedikit mojok yang tidak terlalu pojok. Agus memilih posisi duduknya ini agar ia bisa dengan leluasa melihat jalanan yang macet sembari menunggu waktunya untuk pulang. Di mana pemandangan sebuah jalanan macet ini selalu menarik di mata Agus. Sudut pandang Agus memang aneh.

“Oh iya, kenapa lu milih jurusan PLB, Mei?” tanya Agus tanpa berani menolehkan wajah pada lawan bicaranya. Iya, Agus masih sedikit grogi di dekat perempuan.

“Gue juga nggak ngerti awalnya gimana bisa milih jurusan itu,” jawab Mei menolehkan kepalanya dengan mantap, sambil menatap mata Agus. Kini Agus tidak bisa berbuat apa-apa. Mata sipit dan senyuman Mei yang manis itu seolah menahannya untuk membuang muka lagi.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home