Out of The Box

80 comments
Ada yang tahu out of the box?



Hm... kayaknya kalian semua udah pada tau. Tapi biar bagaimanapun, gue akan mencoba membahasnya dari sudut pandang gue.

Mari kita mulai.

Berpikir out of the box artinya ialah berpikir yang keluar dari kotak. Maksudnya bukan berdiam diri sambil berpikir berjam-jam di dalam sebuah kotak—biasanya kardus atau lemari juga boleh—,terus setelah beberapa jam kemudian akhirnya keluar dari kardus itu karena telah menghasilkan ide-ide kreatif.

Bukaaaan weyyyy. Bukan.

Oke, maaf.

Jadi, maksudnya adalah bagaimana kita berpikir yang keluar dari sebuah kotak. Menjadi tidak seperti biasanya. Memiliki pemikiran yang berbeda seperti kebanyakan orang—in the box.
Orang yang berpikiran in the box tidak suka dengan hal yang aneh-aneh. Mereka lebih suka menjadi pengikut. Males menciptakan sesuatu yang baru. Pokoknya biasa melakukan hal-hal monoton deh.

Nah, out of the box ini sebaliknya dari itu. Bahkan orang-orang out of the box terkadang suka dikatain orang gila.


Inget kasus Wright bersaudara yang punya ide bagaimana manusia bisa terbang? Sekarang ide gila itu malah menjadi transportasi para manusia. Ya, sekarang kita menyebutnya pesawat atau kapal terbang.

Gimana? Udah mulai ngerti, kan? (dari sebelum lu jelasin gue juga udah ngerti, Yog!)

 Btw, gue punya sebuah pengalaman mengenai pemikiran out of the box. Mari lanjutkan membaca. Namun, jika kalian sudah mulai kelelahan, di pojok kiri sana ada kamera. Lambaikan tangan kalian dan artinya kalian menyerah. Juga di pojok  kanan ada foto gue. lihatlah dengan saksama selama 10 detik, niscaya kalian akan semangat kembali muntah.

***

Waktu itu, di saat mata perkuliahan Manajemen Pemasaran, Pak Teguh—dosen matkul tersebut—bertanya kepada para mahasiswanya, “Bagaimana cara menjual tempe di sebuah wilayah yang orang-orangnya nggak suka atau alergi dengan kedelai?”

Suasana mendadak hening.

Tidak ada satu pun yang menjawabnya.

Tak lama setelah itu, akhirnya ada yang menjawab, “Lah, belagu amat itu orang, Pak. Masa nggak suka sama kedelai. Saya aja doyan banget sama tahu-tempe.”

Yak, si Agus (nama disamarkan) memang tidak pernah benar kalau menjawab.
Seisi kelas pun banyak yang tertawa. Sang dosen hanya tersenyum, lalu berkata, “Nggak ada yang bisa jawab, nih?”

Arif—yang duduk sebelah gue—dengan santainya langsung mengangkat tangan kanan gue.
“Ya, kamu yang angkat tangan di belakang sana,” kata Dosen sambil menunjuk gue.
Teman-teman yang lain langsung memandangi gue. Gue grogi mampus.
Aduh, jawab apaan nih gue. Kacau.
Saking bingungnya, mulut gue pun terbuka, “Saya mau ke toilet, Pak. Hehehe.”
“Jangan bercanda kamu!” omelnya. “Sudah cukup si Agus yang menjawab ngawur. Kamu jangan ikut-ikutan.”

Astagfirullah. Kenapa giliran gue malah apes banget? Batin gue.

“Iya, maaf, Pak,” kata gue, sambil mencoba berpikir beberapa hal yang terkait dengan tempe atau kedelai.
Dosen dan teman-teman mulai melihat gue dengan tatapan yang tidak biasa. Mereka sepertinya masih menunggu jawaban dari gue.
“Hm...,” kata gue sok mau jawab sambil memikirkan jawabannya. “Kenapa nggak jual susu kedelai aja, Pak?” lanjut gue sotoy.

“Yak! Tepat sekali. Dengan menjadikannya sebuah susu, orang-orang yang tadinya berpikir kalo kedelai itu tidak enak malah akan menyukainya.”

Nggak nyangka, gue yang hanya inget akan sebuah momen pas SD sering banget jajan susu kedelai bisa jawab bener.

“Itu adalah salah satu contoh berpikir out of the box, bagaimana kita berpikir di luar kebiasaan kita. Berpikir hal-hal yang tidak biasa dipikirkan orang lain. Jika kalian ingin menjadi seorang manajer pemasaran, maka kalian haruslah memiliki pemikiran yang seperti ini. Mempunyai ide-ide kreatif dan berpikir out of the box,” jelasnya.

Kemudian dosen itu memberikan contoh-contoh yang lain.
Beliau pun bercerita.

***

Jadi, ada sebuah perusahaan sisir yang berniat membuka outlet baru di wilayah shaolin (mayoritas botak-botak). Owner perusahaan tersebut pun menugaskan 3 orang manajer pemasaran untuk survey. Di mana mereka harus menjual 100 sisir dalam sebulan. Apakah ada peluang di sana?
Setelah seminggu kemudian.
Si A langsung protes, “Maaf, Pak. Saya nggak bisa menjualnya lebih dari satu. Di perguruan shaolin itu.  Murid-muridnya botak semua, Pak. Saya nyerah. Tidak akan laku jika membuka outlet di sana.”

Ternyata si A hanya laku sebuah sisir. Itu pun sang Master (guru) yang membelinya. Karena cuma dia yang rambutnya gondrong.
“Lalu, kamu menyerah untuk tugas ini?” tanya Direktur. “Bukannya ada juga penduduk yang tinggal di sekitar perguruan shaolin?”
“Iya, ada. Saya juga sudah berusaha untuk menawarkannya, tetapi tetap saja tidak ada yang mau beli. Saya mundur dari tugas ini.”

A telah gagal.

***

Setelah itu si B mencoba menawarkan ke Master, tapi ia sudah membelinya dari A. Ia mencoba menjualnya ke beberapa penduduk. Alhamdulillah laku, meskipun sedikit. Ia hanya dapat menjualnya 5 biji. Itu pun karena telah memberikan diskon dan promosi “Beli 3 gratis 1”.

B sangat putus asa dan segera kembali.
B juga gagal.

***

Si C pun kembali seperti A dan B. Namun, si C kembali dengan kabar gembira. Dalam seminggu saja, C dapat menjual 100 sisir.

Direktur kemudian bertanya, “Bagaimana kamu bisa menjualnya? Si A hanya laku sebuah, si B pun hanya 5. Kok, kamu bisa sebanyak itu? Ini belum ada sebulan malah.”

C pun menjelaskan kalau ia mencoba berpikir kreatif. Si C tidak menjual sisir untuk menyisir rambut. Melainkan sebagai cendera mata. Di mana si C membuat kerja sama kepada Master, yaitu meminta tanda tangannya. Lalu, ia menjualnya kepada beberapa murid di perguruan itu, penduduk setempat, dan tentunya para wisatawan.

“Sebuah cendera mata yang berupa sisir. Sisir ini telah ditandatangai seorang Master dari perguruan shaolin.”
Dalam sekejap, sisir itu pun laku keras.

Orang-orang biasa pasti selalu berpikir kalau sisir itu gunanya hanya untuk menyisir. Padahal bisa saja untuk menggaruk, atau ya seperti cerita barusan, untuk cendera mata.

Itulah beberapa contoh berpikir out of the box. Kreativitas itu sangat penting. Tanpa pikiran kreatif, dunia ini tidak akan berwarna. Hidup juga akan menjadi biasa saja.

Menurut gue, Indonesia masih banyak membutuhkan orang-orang yang berpikiran out of the box. Zaman sudah semakin canggih, apalagi sekarang media sosial sudah banyak.
Sebuah media sosial pun bisa dijadikan peluang.

Buktinya, Bena dan teman-teman berhasil menjadikan Instagram menjadi sangat booming dengan video-video kreatifnya; baik itu video komedi, stop motion, musik, dan lain-lain.

Di mana sekarang banyak yang ikut-ikutan berkarya lewat video yang hanya berdurasi 15 detik itu. Dalam waktu yang terbatas, kita juga bisa menyampaikan sebuah gagasan atau ide lewat video singkat.
Twitter pun begitu, membuat orang-orang menyampaikan gagasannya dengan batasan 140 karakter.

Kalian juga bisa perhatikan beberapa online shop. Sekarang tidak hanya barang baru saja yang dijual, barang-barang bekas pun masih bisa laku. Ya, sekarang online shop memudahkan kita dalam berbelaja. Di mana para pembeli tidak lagi harus bertemu penjualnya seperti zaman dahulu. Tidak perlu berebutan dan desak-desakan lagi. Sekarang tinggal buka daftar barangnya, pilih sesuai keinginan kalian, setelah itu pesan, pilih pembayaran (baik itu transfer atau COD), dan terakhir tunggu barang itu sampai ke tangan kalian.

Oleh karena itu, yuk, mari berpikir kreatif. Sudahkah kalian menjadi orang yang berpikiran out of the box? Kalau belum, tunggu apalagi? Menjadi biasa-biasa saja itu membosankan. Jadilah orang yang menarik. Hazeg.

Kayaknya tulisan ini sudah cukup panjang. Gue sudahi saja sampai di sini. Ada yang mau menambahkan?

*Catatan: ini tulisan gue di bulan September yang masih nyangkut di draft. Yang juga pernah dipublikasikan di blog Arief: Out of The Box saat gue menjadi guest post.


Terima kasih.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

80 comments

  1. Kayaknya gue juga harus berpikir kek gini, biar bisa maju. Tapi, kok ceritanya sama dengan blognya arief ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan itu gue juga yang nulis, Bro. Di blog dia gue sebagai penulis tamu gitu. :))

      Delete
  2. berfikir kreatif dan melihat dari sudut pandang lain seperti si C yaaaaaaa

    ReplyDelete
  3. kalo aku masih biasa aja ini, emang rada membosankan.
    harus of the box ini biar maju, berfikir kreatif.
    nice artikel yog.

    ReplyDelete
  4. Iya, tapi banyak yang gak bisa keluar dari kotak sih. Kadang bingung gimana cara keluarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buka kotaknya, kocok perlahan-lahan... dan keluar.

      Delete
  5. Kayaknya para blogger secara kebetulan pada nunjukin dirinya dengan materi perkuliahan. Adi nunjukin dia yang anak kehutanan dengan bawa-bawa Dian Sastro, Febri nunjukin dia yang anak teknik dengan nulis tutorial bikin tetek di kalkulator, Yoga nunjukkin dia anak pemasaran dengan nulis postingan ini. Kece bet.

    Jadi ingat sama Spongebob dan Patrick, mereka suka berimajinasi di dalam kotak TV. Tapi out of the box berpikir di luar orang-orang pikirkan ya. Menjadi beda.

    Cara Delevingne termasuk orang yang out of the box kayaknya. Di saat para model Victoria's Secret lain kalau pose pada pasang muka beku atau senyum menggoda, dia malah lebih suka pose mata juling. Tapi tetep cantik sih. Nunjukin apa adanya dan beda itu juga bisa bikin kita terlihat cantik. Dia juga nggak cuma menjajal dunia modelling, tapi juga akting sama beatboxing. Bukan cuma bisanya lenggak-lenggok di catwalk aja. Itu bisa out of the box nggak, Yog? Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dibilang out of the box nggak, Yog? Gitu maksudnya. Duh, ketinggalan kata lagi :'D

      Delete
    2. Ah, Icha bisa aja. Makanya kuliah, Cha. Biar bisa bikin ide tulisan tentang mata perkuliahan. :p

      Yoeeeehhh.

      Widih, itu konyol banget, sih. Kayak lu juga ya, Cha. Sok-sok jadi wanita binal dan terlihat mesum di mata pembaca. Out of the box juga tuh? :))

      Delete
  6. kalo udah banyak yang berpikir out of the box, out of the box juga engga out of the box lagi nih ya wkkww

    Kalo tentang menejemen pemasaran, lu harus nonton film The Wolf of the Wall Street deh. Filmnya Leonardo Di Caprio yang nyeritain gimana dia jualan saham

    ReplyDelete
    Replies
    1. Atau catch me if you can, yang main babang Leonardo juga. Itu kece pemikirannya!

      Delete
    2. Ya, tapi untuk sekarang ini masih sedikit, Jeh. Hahaha. Makasih atas rekomendasi filmnya. :D

      Uni: sip tambahannya. :D

      Delete
  7. Yuppp, pemikiran atau ide-ide kreatif itu sangat penting sekali dan bisa menjadi peluang untuk sukses, contohnya saja si penjual C yang di tugaskan untuk menjual 100 sisir dan akhirnya si penjual C pun sukses dalam waktu seminggu. Good job (y)

    ReplyDelete
  8. memikirkan apa yang orang lain tidak pikirkan.

    ReplyDelete
  9. ...atau beli sisir untuk koleksi. Haha. Wait, pernah juga ikut seminar manaaa gitu, katanya kita mesti mikir without the box which is mean menghilangkan kotak2 tersebut..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi berpikir seluas-luasnya, kan? Gue juga pernah denger soal ini. Makasih tambahannya, Un. :D

      Delete
  10. Yog, sehat? Tumben nggak ada mesumnya. HAHAAAA

    Gue kayaknya masih termasuk orang dgn tipe pemikiran in the box. Monoton. Pasif. Cuma jadi pengikut. :(
    Salut banget ngelihat orang yang berani beda.

    Lu salah satunya, Yog.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat disayangkan tidak ada bagian favorit gue *penonton kecewa* :(

      Delete
    2. KENAPA KALIAN MALAH NUNGGU MESUMNYA WEEEYYY?!

      Ah, Wulan bisa aja. Hehe. Thankyou.

      Delete
    3. Huahaha bener gak ada mesum'a sedikitpun :v
      Gak ada mesum'a bukan Ciri Khas elu Yog :D

      Delete
  11. Bener banget! Walaupun orang pemasaran jangan ngikutin pasar ntar jadi pasaran.. eeh apa siiih..

    Iya jaman sekarang butuh orang orang yang punya pemikiran out of the box, punya ide yang berbeda, biar unik dan menarik..

    Banyak olahan kedelai, susu, aneka jajanan, duh.. semangat banget kalo bahas makanan.. Hahahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi. Ciptakan pasar sendiri, ya kan?

      Laper? Makan nasi padang!

      Delete
  12. Tumben nih gak pake mesum. Lagi out of the box ya? :p

    Oiya, setau gua yang punya ide awal soal manusia bisa terbang itu Abbas bin Firnas, ilmuan muslim. Hehe

    Gua sendiri gak ngerti nih selama ini pemikiran gua di dalam atau di luar kotak. -_-

    Ayo mas yoga ditunggu lagi pemikiran2an di luar kotaknya! Semamat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tata bangkhaaaaayyy. Iya, lagi out of the box nih. Tanpa embel-embel blue materials. :))

      Makasih koreksinya ya, Ta. Iya, sebenernya dia yang punya ide awal. Sayang aja orang-orang tahunya Wright itu. Huhu.

      Yoeeh.

      Delete
  13. Satu lagi cerita tentang salesman yang saya dapat dari perkuliahan selain jualan sisir itu:

    Ketika dua salesman sepatu datang ke sebuah daerah dimana penduduknya gak ada yang pake alas kaki. Satu bilang, "Duh! Di sini gak ada yang pake sepatu. Mereka bukan konsumen kita!" Satunya bilang, 'Bagus! Kita gak ada kompetitor. Saya bakal tawarin sendal sekalian ke mereka."

    ReplyDelete
  14. Selama gue jadi pembaca blog ini, baru kali ini perasaan gue dicabik-cabik. Gue lebih sering jadi orang in of the box di kelas daripada out of the box. Dengan kata lain gue kurang kreatif.

    Jadi intinya jangan takut beda dan jangan takut salah. Buang pemikiran "beda itu salah. Salah itu bodoh".

    Gue semangat buat kreatif jadinya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, jangan jadi orang kebanyakan, Rob. Iya, jangan takut jadi beda. Percuma dong punya semboyan berbeda-beda tetap satu jua. Eaak.
      Alhamdulillah tulisan ini berguna. Yoeh, semangat!

      Delete
  15. Ini kayaknya lagi out of the box juga nih, gak ada mesum-mesumnya.

    Kalau misal orang yang alergi kedelai tapi beli susu kedelai apa reaksinya gak kambuh tuh. Aku pernah ngerjain tugas pake cara out of the box, emang unik sih hasilnya.

    Btw cerita sisir tadi aku pernah denger pas magang, jadi atasan sempet cerita-cerita gitu dan diceritain sisir dan saolinnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Allah, kenapa pada fokus ke 'nggak ada mesumnya'? :(
      Waduhhh, ternyata cerita sisir tadi itu udah menyebar ke mana-mana, ya? Ckck.

      Delete
  16. Woww gilak lu yog....masih inget ae penemu kapal terbang, gue saja udah lupaaah

    Hmm pas ngeliat pojok kanan bawah, gue jadi semangat kok (semangat buat keluarin isi perut gue hahahaaa...candaaa dink)

    Susu kedelai gue suka, tp lebih suka lg susu kacang ijo
    Berpikir menjadi beda ditengah lautan menstrim sih klo kata gue keren...biasanya yg dicari yg beda gitu,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Faktor umur, Mbak. :p
      Susu kacang ijo kurang enak. Enakan dibikin es kacang ijo. :D

      Delete
  17. Keren Yog postingannya, two thumbs up :D

    Di dunia yang udah sumpek sama banyak pemikiran orang ini, sangat dibutuhkan yang namanya berpikir "out of the box". Uniknya, apa yang selama ini terlihat biasa saja, kalau di otak pemikir "out of the box", jadinya bisa luar biasa. Orang-orang semacam inilah yang sangat dibutuhin untuk membuat dunia lebih berwarna. Bisakah semua orang berpikir semacam itu? Menurut gua bisa aja, tergantung kemauan kita. Kalo kita mau membuka pikiran untuk nerima sesuatu yang baru, berbeda, tidak monoton, menerima pembaruan, tidak kaku... wah, bisa jadi kita akan punya konsep pemikiran out of the box. Itu contoh kasus ngejual sisirnya bisa jadi pelajaran berharga.

    "Menjadi biasa-biasa saja itu membosankan. Jadilah orang yang menarik" --> really great quote. Hidup kita akan terlihat oke kalo berwarna, jangan biarkan cuma jadi hitam putih hehe :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thankyou, Bay. :)

      Meskipun contohnya nggak keren-keren amat, tapi lumayanlah untuk direnungkan. Haha. Berpikir kalau sisir nggak harus untuk menyisir rambut.

      Iya, orang-orang out of the box selalu punya sudut pandang tersendiri gitu. :D
      Yoaaaayyy. Terlalu flat kalo cuma hitam-putih.

      Delete
  18. hmmmm.... jadi gitu yah out of the box, berfikir beda dari yang lain,, punya ide dan punya gagasan yang beda dari orang lain itu sah - sah saja yah kang ? tapi tetep idenya harus rada waras dan enggak keluar dari rule (yang positif) ,,... hmmm sekarang juga malah saya jadi kepikiran buat susu kedelai,,,,, :D...

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya follow dulu yah blognya kang ??

      Delete
    2. Iya, Bang. Intinya masih dalam hal yang positif.
      Nanti kalo udah jadi susu kedelainya bagi-bagi, ya! \:D/

      Delete
  19. Wah Keren.
    Jaman sekarang ini semua orang emang harus think out of the box, soalnya kan kreativitas dan inovasi udah punya peranan yang penting banget, jadi itu bener-bener mengharuskan seseorang untuk berani melakukan/menciptakan sesuatu yang beda dibandingkan orang lain.

    Dengan think out of box, kita ga akan jadi orang yang statis atau hanya ikut-ikutan aja.

    Ah, tapi gue sendiri masih susah buat think out of box. Duh :3

    Kunjungan pertama kesini. Hueheue

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, meskipun ide dasarnya sama, tapi harus ada inovasi. Jangan takut melakukan perubahan. :D

      Halo, terima kasih sudah nyasar ke sini. Semoga betah! :D

      Delete
  20. Yap kreatif penting banget.
    Orang bisa kaya modal kreatif. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena sesungguhnya ide itu sangat mahal. Apalagi sampai direalisasikan. :D

      Delete
  21. Out of The Box sama kaya Anti Mainstream yah Yog

    Kasian Yog warga'a dikasih susu kedekai. Kan warga'a alergi sama kedelai
    Emang mau tanggung jawab lu??

    Bikin usaha juga akh daging sapi rasa daging ayam Huahaha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mirip-miriplah. Tapi out of the box lebih keren aja. :p

      Emang sampe hamil? Kok gue harus tanggung jawab? INI APAAAAHHH?!

      Kan udah ada, daging sapi pake daging babi? :p

      Delete
  22. yup nasib prang yang berpikiran out of the box ya awal awalnya pasti diremehkan. tapi kalo udah berhasil pasti deh banyak yg muji muji, kalo orang indonesia kreatif idola gue itu yoris sebastian, pemikirannya out of the box banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe. Biasanya gitu. Pas bilang mengenai idenya aja udah dibilang, "Yakin lu? Gila. Itu nggak mungkin!"

      Giliran berhasil, "Keren lu, Bro!" Muahaha.

      Delete
  23. Orang yang berpikir out of the box kadang diremehkan gitu Yog. Makanya populasinya masih sedikit. takut dicemooh edan lah. Pdahal. orang sukses justru yang dari berpikir out of the box ini :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang out of the box bisa jadi orang kebanyakan lagi karena dicemooh, ya?
      Iya bener banget Mas Feb. Orang sukses tentu harus berpikir out of the box ini. :D

      Delete
  24. yoi kreatif, tapi yg menjadi misterius adalah... bagaimana sampai si C kepikiran seperti itu... pengalaman.. pengamatan atau kebetulan.. prosesnya sampai si c nemu ide kayak gitu

    ReplyDelete
  25. Pantesan kayak pernah baca tulisan ini eeehhh terjawab diakhir tulisan. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe. Intinya sama-sama gue yang nulis. :p

      Delete
  26. Brpikir out of the box? Memikirkan hal yg blm prnah dipikirin org lain yah? Hmm.. Aku gak tau deh skrg udh brpikiran kyak gtu apa blm. Kdang aku brusaha sih, untuk brpikir kreatif gtu. Tp ya bgtulah, pikiran kreatif itu dtgnya suka gak nentu.

    Postingan kali ini semi-serius ya. Agak serius tp gak serius2 amat, msh ada candaanya. Jurusan manajemen enak gak sih? Ah, ntar aku mau nanya2 yak kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba biasakan berpikir kreatif supaya datang terus-terusan. :)) (kayak lu udah berpikir kreatif aja, Yog!)

      Jurusan Manajemen ada enak dan enggaknya, Lu. Boleh-boleh, chat aja. :p

      Delete
  27. Bentar. Gua juga ada mata kuliah Komunikasi Pemasaran. Guess what?
    Contoh dari dosen kita sama. WTF. Ternyata mereka gak out the box banget. hahaha
    Selain itu ada juga contoh yang jualan kulkas di kutub.

    Kalau gitu, seharusnya orang gila adalah orang out the box sejati. Kita saja yang kurang bisa memahami cara berpikir mereka. haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHA. Ternyata mereka juga ngambil contoh yang sama. Payah banget lah gak out of the box mereka! Muahaha.
      Yang kayak gimana tuh?

      Bisa jadi, Man.

      Delete
  28. Kalo emang mau maju harus kek gini Yog. Befikir kritis itu, kadang jadi kendala karena seringnya Logika gak bisa dipake sebelum adanya bukti. Beda jika sudah ada bukti, akan gampang menjadi Out Of Box.

    Tapi gak orang gila dalam artian gak waras juga yog... -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo udah ada bukti itu berarti melakukan inovasi dari yang udah ada gitu, ya?

      Ya, pokoknya gila yang itulah~

      Delete
  29. Berpikir kreatif emang butuh sih. Tapi kadang gak bisa dipaksain. Muncul sendiri gitu biasanya.

    Arief Poconggg maksudnya? Guest post itu apa Yog?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan, Rih. Arif temen gue. Hehe. Guest post itu yang nulis postingan-nya tamu. Bukan yang punya blog. Misal gue nulis artikel di blog lu gitu. :D

      Delete
  30. Jadi inget waktu ditanyain dosen kenapa punya pulpen. Ada yang jawab karena punya duit, karena ada yang jual, tapi semua salah. Yang bener karena ada yang bikin. Iya, gak ada hubungannya sama out of the box, haha.

    Jaman sekarang, karena berpikir out of the box bisa menghasilkan uang. Menjual kreativitas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lalu, kenapa dia bikin? Coba tanya dosennya lagi, Mas. :(
      Yoih. Kreativitas gituloh~

      Delete
  31. Bisa dibilang, untuk sekarang gue masih bertahan untuk tetap 'beda'.

    Emang sih, kadang suka ngerasa kayak nggak ada yang bisa memahami gue. Tapi gue suka saat gue jadi seperti itu. Meskipun kadang suka dapet tatapan 'aneh' hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciyeee berani beda. Jadi cowok yang suka nulis baper. Hehe. :D

      Intinya lu bahagia dengan pilihan lu. Nggak harus mereka memahami lu. Lu cukup memahami diri lu sendiri. :))

      Delete
  32. enath, sebagai pengikut blog yaga, gue baru baca postingan yoga kali ini yang paling bener...
    efek kebanyakan susu kedelaikah?

    wks...
    out of the box berarti kreatif. jadi yaa dizaman sekarang, kreatif lebih sering dinilai sih daripada yang standar standar... hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Allah. Apakah iya? :(
      Mungkin lu telah melewatkan beberapa tulisan bermanfaat, Yu.

      Yoih.

      Delete
  33. Harus nyobak sesuatu yang baru dengan optimis kali ya, Yog.. Kalok ditanyak HRD sukak gitu sih. Tapi aku uda males jadi marketing lagi. :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue malah nggak ada pengalaman marketing. :(

      Delete
  34. Ngomongin soal out of the box, jadi inget kartun spongebob, Pas adegan patrick dan spongebob bermain dalam kardus TV, yg epic-nya mereka beli TV bagus, layar lebar hanya untuk mendapatkan kardusnya saja, tv nya dibuang hahaha

    Dan didalam kotaknya si spongebob berimajinasi menjadi seorang penjaga hutan dan tim sar, yg menyelamatkan patrick (yg juga dalam imajinasinya) menjadi seorang pendaki gunung hahahaha

    Berpikir dgn gaya out of box emang kadang harus memakai imajinasi tingkat tinggi yog haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iyaa tuh! Keren banget ya. Beli tipi mahal-mahal, cuma mau make kardusnya. :D

      Iya. Imajinasinya harus gila. :p

      Delete
  35. Baru2 ini kantor ngasih semua staff nya utk training yg berkaitan dgn thinking out of the box ini :).. malah di tempatku dijadiin training wajib utk semua... Biar staff2 nya selalu bisa berpikir secara kreatif dlm menjalankan kerjaan tp ga lepas dari aturan2 yang Bank udah bikin.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wih keren banget tuh kantormu, Mbak. Keceeeh.
      Emang kudu diterapin di setiap tempat, sih. Hahaha.

      Delete
  36. Pantes gua kayak pernah baca postingan ini tapi lupa dimana, gua kira lo ngepost ulangan, Yog.

    ReplyDelete
  37. Tapi pada nyantanya, ini bakalan lebih susah diwujudkan dalam dunia nyata yang fanah ini.. Fiuuuh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya gue baru ingat ini quote dari kurt cobain. "Mereka tertawa melihat aku berbeda, dan aku tertawa melihat mereka semua sama."

      Delete
  38. Lebih realistis aja gan, dunia luar lebih menantang.. :D hehe

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca.

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan....

Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.