Curhatan Pengangguran dan Ijazah Palsu

103 comments
Bagi kalian yang udah baca tulisan gue yang Menjadi Pengangguran dan Proses Mencari Kerja, tentunya tidak asing lagi dengan status gue sekarang: Pengangguran.

Gue cuma mau curhat lagi aja, karena blog gue ini memang 70% curhatan semua. Temen gue ada yang pernah bilang, “Yog, nggak tau kenapa, gue kalo baca tulisan lu yang curhatan itu selalu keren. Padahal itu hanya curhat biasa, tapi lu bisa keren gitu nulisnya.”


Terus ada yang bilang gini juga, “Eh, tulisan lu random abis, ya? Kadang lucu, kadang garing, kadang ada pesan yang bikin gue semangat dan termotivasi, kadang juga mesum. Bajingan emang lu! Anehnya, gue suka aja sama ciri khas tulisan lu. Malah gue kadang nunggu tulisan lu yang baru.”
Gue malah baru tau, kalo curhatan ada yang bilang keren. Hehehe. Gue juga nggak ngerti ada yang suka sama gaya nulis gue yang masih jelek ( menurut gue ).

Btw, makasih atas penilaiannya itu, terus kritik dan saran, serta udah nungguin tulisannya. Makasih juga sama temen-temen yang sering meramaikan kolom komentar di blog gue. Tanpa kalian, gue bukanlah apa-apa. Sekali lagi, terima kasih. :)

Oke, langsung aja.

Hidup di Jakarta itu keras, ya. Nggak di Jakarta doang, sih, mungkin hidup di Indonesia kayaknya emang keras.

Kenapa gue bisa bilang begitu?

Karena sampai saat ini, gue masih menganggur. Di Jakarta, banyak banget jumlah pengangguran yang berserakan. Gue udah berusaha menaruh lamaran ke sana dan ke situ, tapi tetep aja sekarang masih nyantai di rumah (dibaca: GAGAL DAPET KERJA ). Kerjaan gue di rumah cuma makan, tidur, dan boker. Ya, begitu terus berulang-ulang setiap harinya, kecuali Sabtu dan terkadang Minggu ada jadwal kuliah. Kalau gue nggak salat juga, mungkin gue udah kayak kebo. Baguslah gue masih inget ibadah, jadi gue masih ada kegiatan yang bermanfaat. Halah.

Beberapa psikotes dan interview sudah gue hadapi, tapi ujung-ujungnya gagal. Kebanyakan perusahaan sekarang menerima karyawan atau karyawati yang minimal sudah memiliki gelar S1, udah gitu harus pake pengalaman minimal 1,5 - 2 tahun.

Ini kan taik banget.

Sekarang gini deh. Hmm, misalnya ada orang yang berbakat di suatu bidang, tapi karena orang itu hanyalah lulusan SMK/SMA, dia pun ditolak di sebuah perusahaan yang ia lamar. Parah kan, ya?
Bisa aja dia sebenernya mau kuliah, tapi nggak ada dana. Makanya mau cari kerja dulu, biar dia bisa nabung buat biaya kuliah. Tapi nggak dikasih kesempatan. TAE.

Kalau di luar negeri sana, orang-orang kreatif bakalan dibiayain. Malah ada yang bilang, kalo segala jenis pendidikan itu gratis, loh. Asyik, ya?
YA UDEH, KE LUAR NEGERI SANA!

Gue,  sih, masih cinta Indonesia, meskipun banyak sekali kekurangannya. Halah.
Terus gue juga bingung, masa kerja sekarang apa-apa butuh pengalaman. Lantas, bagaimana nasib para fresh graduate? Mereka nggak punya pengalaman apa-apa. Ya, selama 4 tahun mereka cuma belajar dan belajar di ruangan. Apa-apa belajar teori, jarang banget ada praktek. Iya, jarang ada pelajaran yang langsung turun ke lapangan gitu.

Entah, ini sistemnya kenapa begini.

Oiya, harusnya kasihlah kesempatan para fresh graduate itu untuk belajar dan mendapatkan pengalaman. Semua orang pada awalnya nggak bisa apa-apa gue yakin. Nah, setelah diajarin baru deh mereka bisa. Maka dari itu, cobalah menghargai orang-orang yang minim pengalaman. Yang penting dia mempunyai rasa semangat di dalam dirinya. Siapa tau dia juga punya potensi di bidang itu.

Tapi ya udahlah. Tetep aja sekarang gelar mulu. Huft.
Menurut gue, masalah kuliah dan gelar itu nggak begitu penting. Pertama, ilmu itu didapat nggak hanya dari bangku sekolah dan perkuliahan aja. Guru Matematika gue pas SMK pernah bilang sesuatu kepada gue dan temen-temen. Kalo nggak salah pas kami ingin UN.

Beginilah kata-katanya.

Kalau pelajaran yang kalian dapatkan di sekolah itu belum ada apa-apanya. Setelah kalian lulus nanti, kalian akan bekerja dan langsung turun ke lapangan. Itu lebih sulit dari sekadar belajar rumus-rumus Matematika yang sekarang kalian anggap sulit ini.
Pelajaran hidup itu termasuk ilmu, kan? Justru belajar dari pengalaman itu keren. Mengutip dari buku tulis SIDU, “Pengalaman adalah guru terbaik.” Sebuah pengalaman itu termasuk sebuah ilmu juga.
Dan satu lagi, orang yang punya gelar tinggi belum tentu karena dia cerdas. Udah denger berita tentang ijazah palsu, kan? Gelar tinggi ternyata palsu. HUWAHAHAHA, LO MAKAN TUH GELAR SARJANA!

Eh, maaf.

Gue emosi.

Lanjut.

Sebenernya gue waktu itu udah sempet keterima di sebuah perusahaan. Sayangnya, hari Sabtu harus masuk. Ya, mau nggak mau gue harus ikhlasin. Gue lebih milih kuliah gue.
Tadi kata lu gelar dan kuliah itu nggak begitu penting?

Tunggu dulu, biar gue jelasin.

Meskipun kuliah dan gelar itu nggak begitu penting buat gue, tapi proses perkuliahan dan mencari gelarnya itu yang penting. Karena kuliah itu juga menambah relasi. Sejak kuliah, gue jadi punya temen-temen yang asyik dan seru, pernah gue tulis di SINI. Gue sering jalan-jalan juga sama mereka, baca aja cerita-cerita nggak serunya di label Perjalanan.

Dan gue belajar banyak dari kuliah karena jarak yang lumayan jauh dari rumah. Gara-gara kuliah di tempat jauh, gue rela-relain bangun Subuh terus mandi. Biasanya, gue habis Subuhan pasti tidur lagi. Oiya, jangan dicontoh yang ini.

Gue jadi lebih menghargai waktu. Gue rela mengorbankan waktu santai gue. Di mana orang-orang menikmati weekend dengan jalan-jalan dan tidur-tiduran. Namun, gue di setiap hari Sabtu dan terkadang Minggu, malah harus menuntut ilmu. Gue bolak-balik Jakarta—Tangerang hanya demi gelar.

Itulah yang dinamakan sebuah proses.

Kebanyakan, manusia sekarang apa-apa ingin yang serba instan. Mau makan, tinggal masak mi instan. Seharusnya kalian sadar, mi instan itu nggak bisa dibilang instan. Sebab, ada prosesnya juga. Pertama, kalian pasti berjalan kaki dulu membeli mi itu ke warung di dekat rumah. Setelah itu, menyalakan kompor dan memasak air. Lalu, mengambil piring dan membuka bungkus serta bumbu mi instan itu. Terus, memasukan mi ke air yang mendidih, menunggu mi hingga matang, barulah mi siap disajikan. Begitulah proses yang terbilang instannya. Tapi biar bagaimanapun itu juga termasuk proses.

Maka dari itu, sekarang-sekarang ini, dibuatlah ijazah palsu yang serba instan oleh manusia-manusia yang tidak menghargai proses. Kalian nggak perlu capek-capek kuliah selama 4 tahun, itu pun kalau kuliah lancar. Gimana dengan orang-orang yang pusing dengan skripsi yang tidak selesai-selesai? Pasti 4 tahun lebih kuliahnya.

Jadi, kalian tinggal membeli ijazah yang seharga 10-20 juta. Terus kalian puas? Puas bisa melamar di perusahaan yang syaratnya minimal S1?

Kalian itu nggak mikirin para mahasiswa yang bersusah payah melawan waktu hanya untuk kuliah, susah payah mencari uang demi biaya kuliah, ya? Apalagi para mahasiswa tingkat akhir yang bersusah payah mengerjakan skripsi dengan tangannya sendiri. Coba pikir ke situ.

Hidup itu bukan seperti sinetron atau FTV, Gaes. Yang menceritakan sisi bahagianya doang.

Misal, awal cerita ada seorang mahasiswa yang baru daftar kuliah di sebuah kampus. Namun, mahasiswa itu males-malesan kuliah karena seorang anak orang kaya yang kurang menghargai sulitnya mencari uang. Kemudian, gara-gara ketemu cewek cantik di kampus yang baik dan cantik. Mahasiswa itu pun jadi semangat kuliah. Tapi niat utamanya bukan untuk belajar, malah pacaran. Ujung-ujungnya di akhir cerita, mahasiswa itu udah lulus kuliah dan menikah sama si cewek. Bagian proses belajarnya mana? Bagian ngerjain skripsinya juga nggak diceritain?

KAN BANGSAT.

Apa begitu jalan pikiran kalian? Mau enaknya doang? Ya, nggak masalah sih kalo kalian puas dengan cara itu.
Mungkin kalian berpikir, Ah, duit 10-20 juta doang gapapalah modal di awal. Nanti kerja 2-4 bulan juga dapet 10-20 juta dari gaji gue. Udah balik modal, deh. Ya, misal gajinya sebulan 5 juta.

Apa merasa puas dengan hal itu? Tapi kalian tidak mendapat apa-apa. Kalian nggak punya cerita seru di kampus, kalian nggak akan mendengar cerita-cerita motivasi dari pengalaman dosen, kalian nggak tau gimana nikmatnya seru-seruan bareng temen kuliah, kalian nggak punya kisah menjadi anak rantau atau kos-kosan. Intinya, kalian nggak memiliki itu semua.

Percayalah, jika tolak ukur kebahagiaan kalian itu bisa dinilai dengan uang, kalian nggak akan pernah bahagia. Sebab, uang adalah sebuah nilai yang nggak akan ada habisnya.

Jadi, di akhir tulisan ini, gue hanya ingin mengingatkan, “Sebuah hasil tidak akan pernah mengkhianati prosesnya.”
Mari kita menikmati proses!


Ramaikan kolom komentar gue lagi yaaaa. Terima kasih sudah membaca.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

103 comments

  1. Uang emang ga ngebahagiain, tapi bisa bikin seneng.

    Kalo gagal mulu gimana, bhang? Misal belom berhasil tapi udah keburu meninggal? RT Sebuah hasil tidak akan pernah mengkhianati prosesnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Seneng-seneng mulu pikiranmu, Mas.

      Semoga saja sukses di akhirat. :)

      Delete
    2. kalo meninggalnya pas lagi menuntut ilmu dgn benar, mudah-mudahan itu jihad bang.

      Delete
  2. Pengalaman juga ilmu, itu bener banget bang. Pelajaran yang kita dapet bukan hanya dari sekolah ataupun ruangan lainnya!

    Misalnya gini, kita jatuh dari sepeda motor, lalu kita akan berusaha supaya gak jatuh lagi. Itu kan pengalaman juga

    ReplyDelete
  3. Asik banyak pesan moralnya gni tulisannya

    Kalo mau nyari pengalaman nih, mending wirausaha aja deh. Bisnis kecil kecilan gitu, lagian kerja diperusahaan mah sama aja kayak ngewujudin mimpi si bos perusahaan itu bukan mimpi lu. Aih sedap. padahal gue nanti juga kerja jadi karyawan haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya gue lagi bener ini.

      Yeh si Dijeh nyuruh jadi pengusaha, malah mau jadi pegawai. XD

      Delete
  4. engga puas kalau punya sesuatu dengan cara yang bukan hasil kerja kita sendiri

    ReplyDelete
  5. PROSES betul banget, dari proses itu kita di tempa, mental kita, otak kita, duit kita, waktu kita. *Hah KITA?

    Memang bansat orang-orang yang tidak menghargai itu, apa-apa tinggal beli, gak semua hal hal bisa di beli.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita-kita. Taee!

      Yoi, pengalaman dan kebahagiaan. :))

      Delete
    2. Ciee kita ciee...
      Azizi + Yoga = KITA

      cocuit =D

      Delete
  6. Tumben ngga konyol nih ceritanya, tapi masih ada sih terselip sedikit kata-kata absurdnya :D
    Kadang suka sebel emang kalau mau ngelamar kerja minimal itu harus S1 atau mempunyai pengalaman dulu, lah orang yang ingin ngelamar ko di tolak terus gimana mau punya pengalaman yaa kalau ngelamar kesana kemari di tolak terus, emang indonesia agak aneh -___-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kata-kata absurd kayak gimana, ya?

      Ah, begitulah, Wid. Harus ada perubahan!

      Delete
    2. Itu lho nyeleneh kamu di setiap kata-katanya :D

      Delete
  7. suka banget dehh sama kata - kata yang terkahirnya :) postingannya keren.. ditunggu post selanjutny kak :D

    ReplyDelete
  8. eh buset, kalo bagian skripsinya di tongolin kayaknya kelamaan hehehe. Cuma kasih tau aja yog, di Negri ini hanya beberapa persen yang bisa masuk kerja karena skillnya, selebihnya Menggunakan KERTAS

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakak. Itu FTV ngalahin Tersanjung. XD

      Begitulah, Za. :))

      Delete
  9. Gimana mau dapat pengalaman kerja, coba. Kalau semua lowongan kerja yang ada mensyaratkan "memiliki pengalamn kerja minimal 1 tahun". Lah yang gak punya pengalaman kerja ini mau dapat pengalaman dari mana? :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. *bantuin jawab ala perusahaan*

      "Magang dulu. Dari kampus biasanya ada kuliah magang beberapa bulan. Trus setelah lulus juga bisa menjadi karyawan/staff magang telebih dulu. Begitu cara dapet pengalaman." :|

      Biasanya kalo udah terikat magang, dan baik, akan langsung diangkat jadi karyawan tetap. #KantorGakMauRugi #BayarHargaSetengahStaffMagang #KaloBagus #LangsungAngkat

      Delete
    2. Dara: huwahaha. Makanya, kan tokhay. Sudahlah, namanya juga hidup di Indonesia.
      Haw: pinter banget, ya. :)) begitulah cara kerja perusahaan.

      Delete
    3. Oh gitu... Aku baru tahu. Lah tapi kan magang juga udah di akhir-akhir semester kuliah kan ya? Sama aja dong kalo gitu :v

      Eh iya, Yog. Kamu gak mau nyoba wirausaha gitu?

      Delete
    4. Sudah nyoba waktu itu. Ada mimpi jadi pengusaha, kan. :D Lagi nyari modal dulu ini, Dar. :)

      Delete
    5. Sippp. Semangat semangat semangat buat calon penulis sekaligus calon pengusaha :D

      Delete
  10. dengan uang kita bisa beli segalanya, tapi uang tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan yog -_-

    ReplyDelete
  11. Wah posisinya sama kaya gw sebulan yang lalu, tapi alhamdulillah gw udah dapet gawean di tokopedia, jadi content developer. Gw saranin daftar di tokopedia aja gan, cek websitenya https://www.tokopedia.com/careers

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue masih kuliah. :)

      Makasih infonya, Mas. :D

      Delete
  12. Memang bener yog, sebuah hasil tidak akan pernah mengkhianati prosesnya, karena semua juga berawal dari tekad .. hehe *gak nyambung yaa*

    ReplyDelete
  13. Uang emang bukan segalanya tapi uang bisa menjaga pasangan ga kabur :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget. Kitanya yang bebas. ._. RT@Melitus: Uang emang bukan segalanya tapi uang bisa menjaga pasangan ga kabur :D

      Delete
    2. Bebas dari apaan Haw? RT@Bener banget. Kitanya yang bebas. ._.

      Delete
    3. Anjir. Ini ngapa bawa-bawa pasangan? :/ pake RT segala. Lu kira Twitter!

      Delete
  14. populasi mahasiswa yang lu ceritain tadi emang banyak berkeliaran. kuliah cuma buat cewek...
    dan, mungkin harus lebih keras lagi yog cari kerjanya. kenapa nggak coba jadi sales dulu? gue banyak denger cerita bagus tentang sales asuransi... :")

    atau enggak, nulis naskah terus diselesaikan. seenggaknya... lebih keren profesi penulis daripada pengangguran kalau orang nanya lo kerja apa kan :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue kurang suka bagian asuransi. Hahahaha.

      Ini lagi mencoba menulis, Jev. :)

      Delete
  15. Aku juga sebel yog sama tipe-tipe KKN begitu, mulai dari hal kecil kaya nyontek, sampai ijazah palsulah, nyogok sana-sinilah, dll. Itu ga mikir hala-haram lagi / berkah- ga berkah. ga ngerasa dosa gitu ya?

    Ikhtiar/usaha + doa dengan semaksimal mungkin itu dua kombinasi yang mantap.
    Hasilnya serahkan sama Allah aja.
    Semangat yog, kita kan punya Tuhan. *kita??? hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, kalo nyontek itu alternatif kan, Kak Icha. :p

      Hehehe, ah kita? XD
      Iya. Makasih sudah mengingatkan. Semangat juga! :)

      Delete
  16. betul banget mas yoga ngelamar kerja itu sangat sulit kalo harus ada pengalaman kerja atau harus dengan lulusan S1 indonesia memang aneh lah hikhikhik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi. Ketawanya serem, Mbak. :p

      Delete
    2. hehehehe yaaaah ko serem sih mas :D

      Delete
  17. wah apalagi nanti pasar global dibuka. Makin sulit aja nih cari kerjanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, santai aja. Rezeki udah diatur, kok. :)

      Delete
  18. Sebenarnya banyak juga kok perusahaan yg menerima Fresh Graduate, Yog. Cuman ya itu, harus mau usaha juga nyari nya. Namanya juga proses gak ada enaknya. Keep cemangat aja dah ! :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip, Lam. Mungkin gue kurang maksimal nyarinya. Hehehe. Thankyou! :D

      Delete
  19. ini yg aku jg ga ngerti dr perusahaan2 di indonesia... nth kenapa mrk sangat mengagung2akn ijazah dan gelar -__-..

    Yog, kalo emg udh tamat, coba kirim ke HSBC gih.. Trima fresh grad kok, tp memang hrs S1 :).. Makanya kalo udh tamat kirim aja.. not badlah benefitnya.. buktinya aku tahan 9 thn kerja di sana ;) hihihii...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ketinggalan, kalo emg mau krm CV nya, DM aku aja... ntr aku ksh tau email HRD nya :) .. kalo di bank mah, jurusan ga ptg... yg ptg itu S1, dan bhs inggris :D.. Krn nasabahnya kbnyakan bule.. tp itu jg trgantung cabang penempatan... kalo di cabang kyk manggadua ato kelapa gading mah, nasabahnya cina2 semua ;p

      Delete
    2. Kertas aja segitunya ya, Mbak?

      Wih, betah amat si Mbak Fanny. :)
      Oke, kayaknya gue harus belajar bahasa Inggris ini. :D
      Eniwei, makasih ya. :)

      Delete
  20. Saya setuju memandang tingkat penting pada sebuah prosesnya, untuk gelar hanya sbg bentuk mati dan bukti bahwa yg bersangkutan telah melewati prosesnya tsb.
    Sy masih nganggur jg nih, ijazah dah buluk mungkin dilemari hi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, kenapa ijazah buluk, Mas? Nggak di-laminating?

      Delete
  21. kalau gue massuk kuliah w dah kerja jadi kuliah w kelas karyawan
    tpi proses menjadi sarjana sangat sulit dan sakit banget
    beda dengan orang yang suka nyogok dan lulus dengan cepat :(

    setidaknya kalau udh lulus dan ada yang tawarin/dapat kerjaan lebih baik ambil aja dulu
    enak ga enak urusan nanti
    karena cari kerja sekarang susah bgt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe. Gue dulu juga gitu, Bro. :)

      Kalo nggak enak ya jangan dipaksain. Sesuatu yang terpaksa nggak akan baik. :)

      Delete
  22. Emang bener yog, pengalaman adalah guru terbaik :) tanpa pengalaman kita tidak akan pernah tau kehidupan yang sesungguhnya :)

    ReplyDelete
  23. Yog, baca postinganmu yang ini bikin baper. Padahal gak tentang cinta-cintaan atau galau-galauan gitu. Kampret.

    Aku jadi nyesel kenapa kemaren gak ngurus beasiswa trus kuliah sambil kerja. Aku udah nyerah duluan. Dan sekarang jatohnya tiap hari nyesal mulu. Keinginan buat jadi ayam kampus eeeh buat jadi mahasiswi ketunda terus. Apalagi ngeliat si Nanda yang sekarang jadi mahasiswi karena mau capek-capek ngurus beasiswa, tambah nyesel lah aku.

    Tapi aku gak mau nyesel terus sih, Yog, Aku mau berusaha buat nikmatin ini semua. Mungkin kerja adalah proses menuju keinginaku itu, bukan akhir dari keinginanku. Dan bener, hasil itu bukan kayak buaya darat yang mengkhianati pacarnya. Hasil itu selalu setia pada prosesnya.

    Huaaa Yog, aku udah habis berapa tissue deh gara-gara ngetik komentar ini :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, gue bikin baper gimana? Gue kalo nulis emang pake perasaan, sih. :)

      Nggak usah disesali, Cha. Buat pelajaran aja. :)
      Ngape bawa-bawa buaya darat WOI?!

      Ya Allah, gara-gara nulis ini. Gue bikin nangis orang. Bajingan emang lu, Yog!

      Delete
    2. Salam buat Nanda, Cha~ RT@kicha: Apalagi ngeliat si Nanda yang sekarang jadi mahasiswi karena mau capek-capek ngurus beasiswa...

      Delete
    3. Yoga: Pokoknya bikin baper aja, Yog. Eh, itu bukan pujian yak. Huahaha.

      Kenape, Yog? Emosi banget kaumnya dibawa-bawa.

      Memang bajingan kamu, Yog, Tapi kenapa gak bisa jadi playboy? Bisanya disakitin cewek mulu. *Emma Stone sotoy* *ngikutin Renggo yang suka sotoy*


      Haw: #HawJomloAkut #HawUsahaCariJodoh #HawNyepikinAdekOrang #HawKirimKirimSalamKayakDiRadio

      Delete
    4. Nggak tau. Yang jelas lu cengeng! Wakakak.
      Ya Allah, siapa yang disakitin cewek, sih? :(

      Delete
    5. Aku gak cengeng. Cuma suka baper sama lemper! Sialan Yoga :(

      Delete
    6. Pantesan mules, ada yang nyebut2.

      Delete
    7. Wakakaka. Lemper isi apaan, Cha? Ayam?

      Delete
  24. Uang memang bukan tolok ukur kebahagiaan, melainkan penyokong kehidupan, Yog.. :3 *sok iyes banget*

    Semakin kamu berharap, kadang semakin jauh rejeki itu datang. Tetep ikhtiar en doa, pasti ada kerjaan yang dateng. Syemangat yaaa! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.

      Okeee, makasih Kak Beby. :)
      Semangat juga!

      Delete
  25. Gue juga gak ngerti sama dunia kerja di Indonesia. Yg menomorsatukan gelar daripada skill. Padahal belum tentu yg bergelar tinggi itu punya kemampuan yg layak untuk diterima didunia kerja. Malahan skrg, banyak kok anak2 yg tamatan SMA/SMK yg mash fresh graduate dan punya kemampuan/skill yg bener-bener luar biasa hebat.
    Yang penting terus berusaha aja Yog.

    MERDEKA ! -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tapi negara ini kurang mendukung para anak yang berbakat itu. :')

      Berusaha dan berdoa itu pasti, kok. :D

      MERDEKA!

      Delete
    2. Itulah Indonesia Mba, Gelar lebih penting dari pada Skill

      MERDEKA !

      Delete
  26. setidaknya gak nganggur nganggur amat mas yog. kan masih kuliah.
    aku nyaranin sih, nyambil buka usaha mas yog, siapa tau bisa berkembang. lumayan dari pada jadi penonton alay. hehe. maap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, iya. Tapi tetep aja kuliah gue weekend. Berasa nganggur tetep. Senin-Jumat kerjaannya nyantai. :(

      Hmm, modalnya belum ada, Rim.

      WEY JANGAN BAHAS ITU LAGI!

      Delete
  27. Kalo di SMK gitu biasanya pihak sekolah biasanya udah bekerja sama sama perusahaan gitu . . dan alumninya bisa ditampung di perusahaan2 itu sih . . itu konsep SMK gue dulu, jadi walaupun nggak ketrima di perusahaan yang udah "Kerja sama" itu, kalo emang muridnya niat.. . bakal dicariin kerja yang cocok sama si wali kelas . . gitu!!
    Yang penting niat yang lurus duluuu . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya sekolahan gue juga begitu, Ka. Cuma gue udah resign dari yang kerja sama dengan sekolah.
      Kurang cocok dan nggak nyaman buat gue kerjaannya. :)

      Niat udah, kok. Sekarang lagi berusaha sendiri nih. Doain, yak!

      Delete
  28. Sabar Yog, mungkin bukan rezekinya kerja disana

    ReplyDelete
  29. rezeki kaga bakal ketuker :)
    semangat yog

    ReplyDelete
  30. jadi katanya kuliah dan serjana itu ngga penting? Ya elah bro, satu hari aja ngga masuk ngga apa2 kan? titip absen bentar. sayang kan kcalon kerjaannya ilang gitu aja... hhaaaaASEM, gue sotoy lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe. Masalahnya setiap Sabtu harus wajib masuk, Mas. Kuliah gue di waktu weekend. :))

      Delete
  31. kebahagian memang ga ternilai dengan uang,
    kan pernah aku denger sabda nabi anak yang soleh itu yang bisa memanfaatkan ilmunya, kalo mikir soal ijasah palsu. toh yang rugi dirinya sendiri ga punya ilmu yang bisa di amalkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, bener sekali, Mbak. Nggak ada ilmu yang bisa diamalkan. :)

      Delete
  32. Santay aja, semua indah pada waktunya.
    Kemampuan yg akan menjawab :-D

    ReplyDelete
  33. *nangis dan berjanji gak mau jadi pelajar brengsek lagi*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Subhanallah.. Tulisan Yoga sampe bikin orang bertaubat. *bantu mengaamiinkan*

      Delete
    2. Rima waktu abis putus nangis ga? *eh

      Delete
  34. Seseorang pernah bilang sama gua kalo perusahan2an sekarang itu lebih terbuka. Khususnya perusahaan yang bergerak di bidang internet. Mereka menomorsatukan skill dibanding gelar. Jadi, mereka butuh orang yg bisa kerja dan membantu membangun perusahaannya, bukan orang yg cuma modal gelar tapi gak bisa apa2.
    Saran gua, lu coba aja lamar di perusahaan2 startup di bidang internet. Lu udah pernah kerja, lu punya pengalaman, dan ditambah skrg lu juga kuliah, gua rasa itu udah modal banget. Dan mungkin doa sama usahanya perlu ditingkatin lagi.
    SMK? BISA!
    CABE-CABEAN? BISA KALI!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Satu lagi, sekarang blog lu udah rame banget! Gua mau komen aja capek nyekrol ke bawahnya. Selamat! :))

      Delete
    2. Ini bener. Blognya udah rame banget. Sukses teruslah, ya. :))

      Delete
    3. Tata : Hehehe, gue belum nemu perusahaan yang kayak gitu. Duh, mungkin lu bener, gue perlu ningkatin doa dan usaha. *kemudian nanti tengah malem niat salat Tahajud*
      Gue juga kaget, nih. Blog gue bisa rame gini. Hehehe.

      Rima : Hey, makasih ya mantan. :D
      Semoga blog lu juga bisa serame ini. Semangat! Aamiin, sukses juga. :))

      Delete
    4. Yoga : Sama-sama ya tan, mantan. :D
      Iya, nih, blog makin sepi. Semoga aja bisa serame ini. Oke semangat! Aamiin. :))

      Delete
    5. Yailah, ini masih sepi, kok. :)
      Yang bikin rame ada tukang obat.

      Delete
  35. Tulisannya bikin speechless, bingung mau komentar apa.

    Ijazah palsu itu udah keterlaluan banget. Banyak orang yang bener-bener dari awal, ngikutin prosesnya, dan pengorbanannya, semuanya. Kan pedih lihat orang yang langsung mau terima jadi gitu aja tanpa mau menikmati prosesnya.

    Ya udah. Selamat menikmati proses. Semoga hasilnya berbuah manis.
    Semangat!
    SMK BISA! \o/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, lebay si Mbak. :p

      Hehehehe.

      Aamiin. Pasti, sebuah hasil tidak akan mengkhianati proses. :D

      Delete
  36. Yog kalo masih susah cari kerja, tinggal pasang ADSense aja, blog lo pasti keterima. kan lumayan bisa gajihan tiap bulan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pembaca baru, ya? Hehehe.
      Udah pernah masang, terus diblokir, Bro. :)

      Delete
  37. bedanya ijasah palsu sama ijasah asli biasanya dari tingkat kemampuan sama ilmunya saja udah beda, kalo ijasah asli dapet keringet sendiri dan dapet pengalaman baru, kalo ijasah palsu ya ga dapet ilmu apa2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, iya. :))

      Nggak punya pengalaman apa-apa.

      Delete
  38. Ka Yoga sebelum bkin postingan ini makannya apa? kok tumben.... ahsudahlah ._.

    Suka kesel juga sama yang beli belian ijazah segala macem. Emang enak ya yang instan gitu? Yang ada ntar malah keteteran kalo udah ketemu yang diluar kemampuan dia -_-

    Karena tanpa proses, hasilnya gak akan sememuaskan yang pake proses :3

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca.

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan....

Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.