Mengantar Mantan Pulang

55 comments
"Gus, nanti malem ketemuan, yuk!" Sebuah pesan dari Rani di BBM.
Gue nggak ngerti. Tumben banget Rani ngajak ketemuan. Sebagai mantan yang baik, gue masih menjalin silaturahmi terhadap mantan-mantan gue. Tetapi, Rani adalah tipikal orang yang sulit berteman dengan mantannya. Apalagi waktu itu, gue lah yang memutuskan Rani, dengan keputusan sepihak.


Gue masih bingung harus merespons pesan ini atau tidak. Tetapi, gue tetaplah gue, yang tidak pernah memusuhi mantan.

“Mau ketemuan di mana?” balas gue.


***


Kami sepakat bertemu di kedai roti bakar daerah Blok M, pada jam 7.
Gue sudah hadir di tempat sekitar 15 menit yang lalu, masih menunggu kedatangan Rani. Padahal, sudah jam 7 lewat 10. Tetapi, ia belum terlihat batang hidungnya.
Sekitar 5 menit kemudian, datanglah seorang wanita dengan rambut lurus terurai. Ia mengenakan sweater warna hitam yang resletingnya dibiarkan terbuka, sehingga kaos warna merah bergambar mickey mouse terlihat jelas.

“Maaf ya, Gus, angkotnya kebanyakan ngetem,” ujarnya.

Gue hanya tersenyum. “Yaudah, ayo pesen,” ajak gue.


Gue memesan roti bakar selai nanas, dan minumnya milk shake vanilla. Sedangkan Rani, ia memesan roti bakar rasa cokelat dan keju, lalu minumnya es teh manis. Ia memang masih tetap sama. Manis seperti minuman favoritnya.

Gue memang bodoh waktu itu telah memutuskan cewek semanis Rani. Tapi, gue juga nggak akan kuat menghadapi sikap egois dan keinginan yang harus diturutinya itu. 


Dia sebenernya memang baik, sayangnya ia terbiasa dimanja oleh orangtuanya. Hanya masalah tidak dijemput Papanya ketika pulang sekolah saja, ia langsung mengurung diri seharian di kamar. Apalagi setelah kedua orangtuanya meninggal dua tahun silam karena kecelakaan, ia pun semakin tak terkontrol. Kini, ia selalu dimanja pembantunya. Ya, Rani ialah anak semata wayang. Jadi, sekarang ia hanya tinggal dengan pembantu yang memang sudah bersamanya sejak kecil. Pernah juga gue disuruh menemani dan menyuapinya ketika ia sedang sakit. Padahal, sakitnya hanya batuk pilek biasa. Ia tidak mau makan jika bukan gue yang menyuapi. Entahlah, mungkin orang yang ia sayangi waktu itu ialah gue satu-satunya.

Gue memang berteman dekat dengan Rani sejak SMP. Sampai akhirnya naksir dan jadian sewaktu SMA. Mungkin waktu itu gue masih memaklumi sifat kekanakannya. Namun, setelah kuliah ia tetap tidak ada perubahan. Hal itu yang membuat gue menyudahi hubungan dengan Rani yang sudah berjalan 3 tahun.


***

“Gus, kenapa bengong?” kata Rani, suara itu membuyarkan lamunan gue.


“Gapapa, Ran.” Gue tersenyum. “Oiya, ada apa ngajak ketemu? Kangen, ya?” lanjut gue.
Rani terdiam. Ia hanya menunduk dan mengaduk-aduk es teh manisnya.
Setelah beberapa saat, barulah Rani membuka mulutnya, “Iya, gue kangen,” katanya, dengan suara agak parau.


Parah, saat ini malah gue yang membungkam. Gue yang cuma meledek, malah direspons serius.
“Balikan sama gue ya, Gus?” kata Rani.
Gue semakin nggak percaya. Kenapa dia malah mengucapkan kalimat itu.

Kacau.


Gue nggak mau menyakitinya. Tapi gue sudah tidak menyayangi Rani seperti dulu. Kalau tau begini jadinya, lebih baik gue abaikan saja BBM itu.
“Maaf, Ran. Kita udah berakhir. Sekarang kita temenan aja. Gue nggak bisa kayak dulu lagi,” kata gue, tegas.

Rani menyuguhkan gue senyuman paling manis, embun pun membasahi pipinya.


Dia membisu, gue juga.
Setelah suasana hening sekitar 10 menit. Rani memecah sunyi.
“Gue mau pulang.” Ia beranjak dari kursinya dan meninggalkan gue.


Gue langsung bergegas ke meja kasir untuk membayar, dan menyusul Rani.


“Ran, jangan naik angkot malem-malem. Bahaya!”
“Biarin. Nggak usah peduli sama gue lagi!”
“Udah, nggak usah marah-marah. Gue anter, ya. Udah jam 9 ini,” kata gue, merayu Rani.
Rani tetap ngotot akan pendiriannya.
Setelah 20 menit, angkot tak ada yang melintas. Rani pun mau gue ajak pulang bareng. Meskipun, itu seperti terpaksa.


***


Di sepanjang jalan menuju rumah Rani sudah jarang kendaraan yang berlalu-lalang. Suasananya pun agak gelap. Gue takut ada pembegalan. Karena kasus ini memang sedang ramai dibicarakan, dan hangat di media.

"Ran, gue takut ada begal, nih."
“Santai aja, aman, Gus,” kata Rani, meyakinkan.


Untuk menghilangkan rasa takut, gue mulai mengajak Rani mengobrol. Sedang asyik membahas berbagai macam topik, tiba-tiba terdengar suara motor 2 tak yang begitu nyaring. Kemudian motor itu menabrak kami dari belakang. Alhasil, kami terjatuh. Gue perhatikan mereka ada 2 orang. Yang satu berbadan kurus, ia mengendarai motor. Yang satu lagi bertubuh tegap, berkumis tebal, dan memegang samurai.

Apa ini pembegalan? Batin gue.

Keringat dingin mulai membasahi tubuh gue. Gue yang baru saja terjatuh, masih kaget, dan tidak akan sanggup melawan mereka dengan tangan kosong.
Kemudian, Rani langsung bangkit dan terlihat santai sekali. Ia malah berdiri di samping pria yang memegang samurai itu. Pria yang kurus langsung menghajar gue habis-habisan. Gue hanya bisa pasrah. Setelah itu, pria yang berkumis tebal nampaknya ingin mengayunkan samurai ke arah kepala gue.


"Maaf, Gus, kalo gue nggak bisa memiliki elu. Nggak ada yang boleh memiliki elu selain gue. Ini semua rencana gue. Gue sayang lu."
Itu adalah kalimat terakhir Rani, tepat sebelum samurai itu menebas leher gue.
Lalu, mereka bertiga pergi membawa motor gue. Mereka benar-benar meninggalkan gue. Kepala gue masih menempel dengan leher, hanya saja pandangan gue mulai redup dan tubuh ini ingin ambruk ke jalan. Gue yang mulai kehabisan darah hanya duduk senderan pada pohon di pinggir jalan. Kemudian memejamkan mata.


***

“Gus, kenapa bengong?” kata Rani, suara itu membuyarkan lamunan gue.


Lah? Gue masih di kedai roti bakar? Begal tadi itu gimana? Ternyata semua itu hanya halusinasi. Alhamdulillah, gue masih hidup.
“Oiya, kenapa ngajak ketemuan? Tumben.”
“Gapapa, bertemen sama mantan nggak ada salahnya,kan?” kata Rani santai.
“Hehe, iya,” jawab gue, pelan.

Rani terlihat berbeda. Entah, dia sepertinya telah dewasa. Beberapa bulan terakhir nggak ada kabar, ia malah memberi kejutan.


Setelah itu makan malam berjalan lancar. Kalimat ngajak balikan yang keluar dari mulut Rani ketika gue melamun tidak terjadi. Itu semua hanyalah ilusi. Adegan begal itu juga hanya terjadi di dalam pikiran gue. Nggak ada adegan yang nyata.

***

"Mau gue anter pulang, Ran?" kata gue.
“Nggak usah repot-repot, Gus. Gue nanti dijemput pacar,”


APA? PACAAARRRRR?


Nggak disangka-sangka.  Ada satu kejutan lagi buat gue. Hal ini berhasil membuat gue tersenyum. Akhirnya, dia berhasil move on dari gue. Semoga dia bahagia bersama pacar barunya.
"Selamat ya, Ran. Gue turut seneng dengernya," kata gue, sambil tersenyum.
“Iya, Gus. Gue harap kita masih bisa bertemen baik, ini makanya gue ngajak lu ketemuan. Hehe.”

Selang beberapa menit, seorang pria bertubuh tinggi dan berwajah tampan turun dari mobil BMW.
“Yuk, sayang,” kata pria itu.
“Duluan ya, Gus,” kata Rani sambil menepuk bahu gue.
“Duluan, Bro,” teriak pacarnya Rani.
“Yooo, hati-hati.”


Gue pun sampai rumah dengan selamat. Kejadian begal itu tidak nyata.

Mungkin inilah sebuah kisah mengantar mantan pulang ke rumah yang baru ( hati pacarnya )


Tulisan ini tadinya gue buat saat #memfiksikan setiap hari Jumat. Yang bertema begal. Tetapi sudah direvisi dari ide sebelumnya. Maaf jelek, udah lama banget nggak bikin cerpen. Mohon kritik dan sarannya, ya.

Terima kasih.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

55 comments

  1. Bwehehehe. Gue bingung mau komen apa nih, biar rame gue rusuhin aja deh kotak komen lo Yog.

    ReplyDelete
  2. Bang adii ikutan banggg.... *langsung headbang*

    ReplyDelete
  3. Yahhhh . . udah bagus-bagus dibegal ternyata cuma halusinasi . . *penonton kecewa*
    Keren kok. . gue aja masih belajar bikin cerpen . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakaka. Penonton maunya apa?
      Sama, gue juga masih belajar. :)

      Delete
  4. haduuuuh di kirain beneran kena begal mas yoga :) ternyata hanya halusinasi ajah hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih, Mbak. :))
      Tadinya mau beneran.

      Delete
    2. Tadinya mau beneran? Oke gue sebagai temen cuma bisa bantu meng-amin-i saja ... *ditebas*

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
  5. Emang nama tokoh favoritmu itu Agus sama Rani ya, Yog?
    Cerpennya bagus, Dibikin cerbung alias cerita bersambung kayaknya keren. Begalnya diterusin juga, Yog. Tapi lain di cerita selanjutnya harus beneran bukan halusiniasi ya haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Cha. Biar pada paham kalo tokoh yang biasa gue pake namanya Agus dan Rani.
      Gue nggak bisa sadis. :(
      Ide cerita tadinya begal beneran. Wakakakak. Tapi serem.

      Delete
    2. Oh, iya buat ciri khas gitu ya. Tapi ntar bisa kali ya sesekali tokoh utama cerpennya Yoga sama Yuni. Cieeeee. Hahahahaa
      Iya sih, serem. Kalaupun di cerpen ini begalnya beneran, judulnya bukan mengantar mantan pulang tapi jadi diantar mantan pulang ya, Yog :D

      Delete
    3. Waparaaahhhhh. Jangan, Cha. udah Agus dan Rani aja. -____-
      Ngggg.... kira-kira begitulah. :D

      Delete
  6. Wah baru mau nanya kok kena samurai kepalamu nggak putus Yog hahaha..
    keren...

    ReplyDelete
  7. Dih Yoga pinter banget bikin fiksi, gue udah nebak sih pasti kalau gak menghayal, mimpi, yang gak ketebak mantan lo mau pamer pacar baru, ahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe. Itu imajinasi lagi ngaco padahal. XD
      Thanks, Zis. :)

      Delete
  8. kampret... kirain beneran di habisi kamu... keren2.. ak sampe kebawa cerita mu

    ReplyDelete
  9. yaelah mas, gue kira kena begal beneran. ternyataaa...
    tapi ceritanya kereeen siip ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cerita sebelumnya emang kenal begal. Tapi sadis. Nggak jadi. :(
      Makasih, yaa.

      Delete
  10. Kok, beda ama yang cerita #memfiksikan kemraen? *lalu ngecek di gemaelegi* eh, kok samaaa...??? Apa gue yang sedang berhalusinasi ya? xD Kemaren belom sempet komentar, sekarang aja deh. Keren Yog, gue suka saat leher lo ditebas. *enggg.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Abis direvisi, Haw. Hehehe. :)
      Leher lu ditebas duluan mau?

      Delete
  11. Ceritanya agak campur-campur gitu ya. halusinasinya masuk tuh :D

    cerpen doang kan? kalau kejadian nyata sih, kayaknya keren :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Udah lama nggak bikin begitulah. Campur aduk. :(
      Kalo kejadian nyata begalnya? :/

      Delete
    2. Udah lama ngga bikin, sekalinya bikin lagi, keren tuh :D

      Kejadian kalau pas nawarin biar dianterin pulang, ternyata si mantan udah punya pacar :'

      Delete
    3. Ah, bisa aja Febri ini. Makasih. :)
      Bahaha. Itu kejadian nyata sebenernya. Yang sengaja dijadiin fiksi. :')

      Delete
  12. Cerpennya bagus, Gus. Jadi sebenarnya nama lo Bagus, Agus, atau Ingus?

    ReplyDelete
  13. hahaha kirain begak beneran,terus dikira rani mau minta balikan sama si agus eh taunya pamer pacar baru ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, Mbak. Karena balikan sama mantan itu nggak enak. :D

      Delete
  14. Ahaha, imajinasinya tinggi juga kak. Sampe kebayang si Rani jd ketua komplotan begal.

    ReplyDelete
  15. Ahaha, imajinasinya tinggi juga kak. Sampe kebayang si Rani jd ketua komplotan begal.

    ReplyDelete
  16. setelah tau rani udah punya cowok baru, kayaknya si agus yg bakal jadi kang begal.. frustasi, dapet ilmu baru dari halusinasinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa juga, nih. Nanti kapan-kapan gue bikin bersambung kalo gitu. :D

      Delete
  17. Hhahahaha...sial, udah serius-serius baca, taunya fiksi yaaa ;p Sempet shock kirain beneran kamu kena begal :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan serius-serius kalo baca blog gue, Mbak. Blog gue jarang bahas yang serius. :p
      Iya, lagi pengin nulis fiksi, lagi belum pengin curhat-curhat lagi. :D

      Delete
  18. Gila mantan diantar pulang, kalau gue udah gue tinggalin di rumahnya jadi ngga usah anter *ehhh*

    ReplyDelete
  19. Asem, Yog. Udah kebawa pas dibegal. Ternyata khayalan. Nguk banget, dah!

    ReplyDelete
  20. makin bagus tulisan lu yog
    dibegal beneran dong yog biar greget ceritanya hahaha :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa aja Karin ini. :)
      Thanks, ya. Kapan-kapan lu gue begal kalo lewat Pamulang. :p

      Delete
  21. Keren bro.. lanjutkan.. gag ngira begalnya cuma lamunan belaka..
    kayanya ini bukan cerpen tapi cerita nyata lu ya.. ditinggal mantan yg udah move on.
    wkwkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sipm makasih. :)
      Hahaha, iya bener. Ada cerita yang diambil dari kisah nyata. :D

      Delete
  22. Rada bingung karena tetiba itu cumak halusinasi, Yog. Hahah.. :D Tapi si gue malah terkesan ngarep mau balikan gitu ya? Mungkin karena Rani uda berubah? ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Maafkan penulisnya lagi ngaco. XD
      Hmm, tokoh gue atau si Agus itu bukan ngarep. Tapi si Agus justru takjub karena mantan yang susah move on atau egois itu bisa berubah. Gitu, deh.

      Delete
    2. Yaelah ngga papa. Emang harus ada yang twist-twist gitu biar greget.

      Eh, dari takjub bisa CLBK loh. Cieeeee :P

      Delete

Terima kasih sudah membaca.

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan....

Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.