Dilupakan

71 comments
Dilupakan.
Seperti apa, sih, rasanya dilupakan?

Mungkin itu adalah sebuah kalimat pembuka aja. Gue sendiri masih belum begitu mengerti rasanya dilupakan. Gue pernah menulis tentang tiga kata yang dilupakan. Kalian boleh baca di SINI. Kasian, kan, sebuah 'kata' aja, kalo dilupain pasti nggak enak banget. Gimana kalo kamu yang dilupain? Pasti rasanya udah asdfghjkl banget. Yang jelas pasti kecewa, sedih, sakit, de el el. Misal, dilupain sama temen SMP ketika kita sudah SMA, dilupain sama mantan, dilupain ketika meninggal.

Dilupain sama temen SMP ketika kita udah SMA itu kayaknya agak gimana gitu. Padahal, baru beberapa tahun yang lalu. Tapi banyak juga teman yang melupakan teman SMP-nya ketika sudah SMA. Nggak usah jauh-jauh, gue sendiri contohnya.


Ketika SMP, gue temenan akrab sama Agus. Seperti biasa, tokoh Agus hanyalah nama samaran. Yap, gue dan Agus sering banget bersama ketika SMP. Sering ke kantin bareng, pulang sekolah ke warnet bareng, mandi pun bareng. Bareng waktunya aja maksudnya, kalo tempat mah kagak. Yakaleeee. Amit-amit.

Namun, setelah SMA semuanya berubah. Agus yang dulu, bukanlah yang sekarang. Dulu ditendang sekarang disayang. Eh, ini mah Tegar bukan Agus. Sorry-sorry.

Jadi, ketika lulus SMP kita berpisah. Agus memilih SMA, sedangkan gue memilih SMK. Setahun nggak berjumpa, pasti ada rasa kangen dan ingin bersua sama temen SMP yang dulu sering bareng-bareng. Gue pun berniat untuk menghubunginya lewat SMS, tetapi tidak ada respons. Gue chat di Facebook, malah nggak dibales. Gue dateng ke rumahnya, dia pindah rumah. Parah.

Suatu ketika, gue tidak sengaja bertemu Agus di tempat makan. Gue berdua sama temen SMK. Agus rame-rame, mungkin sama temen-temen SMA-nya. Karena gue ingat betul bagaimana wajah Agus, gue langsung memanggilnya, “Oi, Gus.”
Agus menengok ke arah gue. Gue pun tersenyum, tetapi Agus hanya membisu. Entah, Agus pura-pura tidak mendengar, Agus tuli, atau Agus sudah melupakan gue.

Ketika gue ingin menghampirinya, temen SMK gue langsung mencegah dan bilang, “Udahlah, Yog. Dia udah beda gitu. Dia udah lupa sama lu yang cupu. Liat sekarang, dia udah jadi anak gaul.”
Yap, Agus langsung mengobrol lagi dengan teman-temannya. Dia nggak menyapa balik, “Oi juga, Yog.” Gue masih nggak percaya.
Mungkin saja Agus memang lupa sama gue. Kemudian di hari yang lain, gue iseng membuka Twitter. Melihat dia nge-twit, gue langsung mention dia, “Gus, ini gue Yoga temen SMP lu.”
Karena tidak ada jawaban, gue mention lagi, “Ini Agus yang pas SMP suka nyontek pas pelajaran IPS, kan?”  
Namun, itu semua tetap tidak ada respons. Tidak puas karena hal itu, gue tetap mention dia.
“Sombong banget lu! Lupa sama gue?”
 Selang beberapa menit, gue malah di-block.

Njir.
Gue kecewa. Asli, itu nyesek.

Melupakan dan dilupakan mantan itu adalah dua hal yang berbeda.

Menurut gue, sejelek apa pun mantan, dia adalah seseorang yang pernah kita sayang. Yoi. Jadi, kayaknya agak aneh aja gitu kalo mantan harus dilupain. Apa kalian lupa sama Ir. Sukarno? Mantan presiden Indonesia yang pertama, lalu Suharto mantan presiden yang kedua. Nggak, kan? Begitu juga dengan mantan, seburuk apa pun dia. Dia pasti memberikan sebuah kenangan dan pelajaran ke kalian. 
Asyik banget ini kata-kata gue.

Mungkin lebih tepatnya bukan melupakan atau dilupakan, tetapi mengikhlaskan. Karena sulit bagi seseorang untuk bisa lupa sama orang yang pernah singgah di relung hatinya. Kenangan itu nggak akan bisa hilang sampai kapan pun. Kenangan kalian pas masih kecil aja, biasanya masih kalian ingat jelas, kan?

Buktinya, gue masih ingat jelas hal-hal konyol yang gue lakukan ketika SD; gue suka mengintip rok anak cewek dengan rautan yang ada kacanya, maen pelorot-pelorotan celana, dan kencing di got.
Apalagi melupakan seseorang mantan, nggak mungkin. Satu-satunya kemungkinan ialah kepala kalian terbentur dengan sangat keras hingga hilang ingatan. Contohnya: kepala kalian tau-tau kejedot tembok. Tembok Berlin. Berlinang air mata.

Tapi pasti ada orang yang pernah dilupakan sama mantannya, lebih tepatnya sengaja dilupain. Mungkin khilaf pacaran sama orang culun yang dimanfaatkan untuk membuat gebetan cemburu. Bisa juga untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah atau kuliah.

Misalnya begini :
Agus dan gue sedang keliling-keliling di mal setelah mampir ke Gramedia untuk membaca—seperti orang kebanyakan mencari buku yang sampulnya sudah terbuka.
Bentar-bentar, bukannya lu musuhan sama Agus, Yog?
Oiya, ya udah biarin aja. Namanya juga contoh.

“Yog, lihat dua cewek yang lagi duduk itu, deh,” kata Agus, sambil menunjuk ke arah dua orang wanita yang sedang duduk di area mal.
“Iya, gue lihat. Cakep. Lu mau kenalan?” tanya gue.
“Itu mantan gue,” jawab Agus mantap.
“Serius?” tanya gue nggak percaya.
“Iya, yang make dress biru itu. Gue mau samperin.” Agus langsung menuju ke arah kedua wanita tersebut. Gue pun mengikutinya.
“Hey, Ran. Udah lama kita nggak ketemu. Apa kabar lu? Setelah putus dari gue, lu tambah cantik aja,” kata Agus menyapa Rani.
“Maaf, lu siapa, ya? Emang kita pernah jadian? Kenal juga nggak.” Kedua wanita itu langsung beranjak dari duduknya, dan pergi menjauh.

Tragis.

Untuk yang terakhir, gue nggak tau bagaimana rasanya dilupain ketika meninggal. Karena gue belum meninggal. Lagian, apa orang yang sudah meninggal apa bisa merasakan sesuatu? Entahlah.
Yang jelas, kalau kalian tidak ingin dilupakan ketika sudah meninggal. Menulislah.

Karena ada sebuah kutipan,

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." -Pramoedya Ananta Toer.

Setelah membaca kutipan itu, gue mulai rajin menulis. Gue menulis apa saja yang ingin gue tulis. Dari mulai menulis cerita tentang pacar gue di notes hape. Iya, waktu itu gue menulis cerita dari awal jadian sampe putus, semuanya gue tulis. Gimana awal gue nembak dia, pertama kali berantem, terus sama-sama merasa bersalah dan akhirnya baikan. Cemburu, kesel, sedih, tawa, tangis, bahagia. Segala hal gue tulis. Tapi sayang, hape itu udah hilang.

Gue bingung mau lanjut menulis apa enggak. Tapi kalo nggak nulis seminggu aja, seperti ada yang kurang. Gue pun berusaha untuk menulis. Di mana aja, kapan aja, dan bagaimana saja.

Beberapa tahun kemudian, gue pun khilaf membuat blog. Dan jadilah blog yang saat ini kalian sering baca. Tulisan-tulisan gue zaman dulu memang nggak layak baca. Namun, hal itulah yang memotivasi gue untuk terus menulis, dan berusaha bercerita semakin baik seperti sekarang.

Gue sadar, mungkin tulisan-tulisan gue ini hanyalah curhatan sampah. Tulisan ini bukanlah cerita yang baik, tulisan gue masih buruk, dan butuh kritik atau saran dari para pembaca. Tapi, terima kasih bagi kalian yang masih sudi dan terus membaca tulisan ini.

Niat gue hanya ingin berbagi cerita. Entah itu cerita nggak jelas, cerita komedi yang malah garing, cerita yang lucu dan menghibur, ataupun cerita hidup menyedihkan yang gue tertawakan. Sehingga membuat kalian yang membaca tulisan ini sadar kalau hidup kalian tidak melulu harus sedih.

Kamu boleh sedih, cemberut, kecewa, marah, menangis. Tapi lakukan itu sebentar saja, jangan sampai kamu lupa caranya untuk bahagia. Apa pun yang terjadi, tersenyumlah. Karena ini hidupmu. Kamu berhak bahagia.

Duh, tulisan gue barusan dibajak siapa, ya?

Entah.

Yang jelas, gue hanya ingin berbagi cerita. Gue hanya ingin terus menulis apa pun yang terjadi. Tulisan gue ini jelek, buruk, sotoy, atau apa pun itu. Gue hanya nggak mau ketika mati lalu dilupakan begitu saja. Makanya, gue akan terus menulis di blog ini. Suatu waktu, jika datang saatnya nanti. Di mana setiap orang pasti akan mati. Gue akan mati dengan bahagia karena bisa menulis di blog ini. Meski gue nggak dapet gaji, nggak dibayar dari tulisan-tulisan ini. Setidaknya, gue bahagia karena ada yang membaca, apalagi memberikan komentar, serta memberi kritik dan saran atas tulisan ini. Terima kasih. 


Segitu aja tulisan hari ini. Ada yang mau nambahin dan sharing tentang dilupakan? Ramaikan saja di kolom komentar.
Terima kasih sudah membaca!
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

71 comments

  1. Aku sih emang pelupa, Yog. Sama Febri aja sering lupa ngga ngabarin. Trus dia langsung nelepon sambil meraung-raung, "KAMU TAU NGGA SIH SEDIHNYA AKU? KAMU LUPAIN AKU!" -_-

    Dulu pernah ada kejadian pas SMA ketemu sama temen SMP di mall. Pas nyapa, dia cuma bilang siapa ya-siapa ya doank.. Akuh kzl! :' Mungkin karena secara fisik aku uda berubah.. Nambah 20 kilo. :'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sumpah, lu parah banget, Kak Beb. :( Kasihan si Febri.

      Buseeeehhh, bagi-bagi beratnya. Nambah 10 kg enak banget. Gue nambah 2 kg, habis begadang turun lagi. Sedih. :(

      Delete
    2. Iya.. Si Febri memang kasihan banget.. Entah setan apa yang merasuki dia, sehingga mau pacalan dengan ku.. :(

      Mungkin karena kamu suka begadang, Yog.. Apalagi kan sekarang uda punya pacal. Wihiiiii~ :P

      Delete
    3. Begitulah cinta, Kak Beb. :p

      Apa hubungannya sama pacar? :(

      Delete
    4. Kalok punya pacal bukannya jadi susah tidur yah? Apalagi kalok berantem.. Apalagi kalok LDR.. :(

      Delete
  2. Gue SMP, hampir semua temen SD ngelupain gue. Ntah salah apa gue ini.aku kotor.
    Emang, dilupain itu nyesek banget. Apalagi kalo nyapa duluan tapi nggak ada respon dari dia. Rasanya pengen dateng ke dia, Lompat, Tikam, jambak trus cakar-cakaran.-_-

    Di mall juga gitu, Temen SD lewat, gue panggil dia sok nggak kenal, padahal dulu SD main warnet bareng dan kayak lu yog, gue mandi bareng. Mandi hujan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngenes banget, Ric. :(
      Ngggg.... cakar-cakaran? Kok, kayak anak cewek?

      Hmm, sabar, yaaaa. Gue nggak tau perasaan lu.

      Delete
  3. Itu parah banget yang Agus . . kalo punya temen kayak dia, udah gue begal kalo ketemu . .

    Ngomong2 soal dilupakan, gue jadi inget quotes ini yog . .

    "Kapan seseorang akan mati??.. Saat dia terkena tembakan ?? TIDAK!!.. Saat dia terkena penyakit mematikan?? TIDAK!!,.. Saat dia meminum sup dari jamur beracun? JUGA TIDAK.. Seseorang akan mati apabila dia telah dilupakan.."
    "

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serem amat dibegal, Ka. Hahaha.

      Waduh, itu quote-nya keren. :)

      Delete
  4. Nggak enak ya yog? Hahah temen smp gue juga gitu, hampir semua malah. Mentang mentang cuma gue yang anak atm, sedangkan mereka masuk sma kaporit semua...

    Nggak enaklah, contohnya liat mereka mention mentionan dan gue masuk, tapi no respons dan mereka tetep lanjutin mention mereka sendri tanpa liat ada mention gue. Pas itu juga pernah ada acara buka bersama, cuma gue yang nggak diundang dan nggak dikasih tahu. Kan tahik...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, gue ada temennya juga. Hahahaha.

      TAHIKS BANGET ITU, YU! BAKAR AJA BAKARRRRR!

      Delete
  5. Serius yog di lupain sama Agus ? Nyesek banget dilupain sama temen yang dulunya sering banget. Aku juga pernah dilupain temen sih, tapi nggak terlalu deket, kita cuma temenan pas mau ujian smp, dia pernah dateng ke rumahku buat belajar bareng, eh pas SMA aku lihat dia dijalan naik motor mau ke sekolah, pas aku sapa malah di cuekin, nyesek emang :'D

    Tulisan lu keren kok yog, aku aja sampe ketawa-ketawa sendiri, iya sendiri nggak ada yang nemenin maklum nggak punya.... stop udah stop nggak boleh baper.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar, yaaakkk. Emang, nyesek dicuekin. :(

      Ah, bisa aja. Makasih udah bilang keren. \o/

      Santai aja, nanti ditemenin, kok. Sama bayangan. :p

      Delete
  6. Gemes sama si Agus jadinya grrrrrrrrr.
    Aku juga punya teman jaman SMP, dulu akrab banget kayak kembar siam. Pas udah SMK beda kelas beda dunia, dia gaul, temannya makin banyak sedangkan aku masih menggauli headset. Udah gak akrab lagi sekarang, kalau papasan cuman tukar senyum singkat bukannya tukar kabar.
    Yang nulis di note hape itu, aku juga doyan, Yog. Awalnya karena gak pengen bikin orang enek karena dengerin curhatanku yang ngedrama dan itu-itu aja, makanya aku jadi suka curhat sama notes hape sampe sekarang. Walaupun gak dapat solusi tapi dapat kepuasan tersendiri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waparah. Gue kalo ketemu temen yang bener-bener temen misalnya habis nggak ketemu lama. Ngobrol dari pagi-malem juga nggak habis-habis, Cha. Huwahaha.

      Gue juga masih sering nulis di notes hape. Hehehe. :)

      Delete
  7. Kalo udah punya temen baru pasti lupa ama temen lama. Padahal dulunya kayak amplop en perangko. Tragisnya pas ketemu malah pura-pura ga kenal, kalo pun sama2 liat malah senyum doang. huhh. Dalem ati kadang ngomong "nyesel punya temen kayak kitu" . :D

    ReplyDelete
  8. Suka tuh aku sama kata-katanya Pramoedya Ananta Toer :D

    Ngomongin dilupakan sih, aku lebih ke yang mudah melupakan. terutama materi kuliah, dosenku pernah bilang, orang yang mudah lupa itu karena mereka nggak mengasah ulang apa yang udah pernah dia dapatkan. yah, gitu deh pokoknya.

    tetep, dilupain itu rasanya nggak enak -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang keren beliau, Feb. :)

      Huwahaha, berarti harus dijadiin kebiasaan ya itu materi kuliah?

      Iya, nggak enak. :(

      Delete
  9. Jadi mikir, ntar abis kita hengkang dari dunia apakh ada yang bakal ngedoain n inget ama kita...
    kudu siapkan amal yang banyak nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm, begitulah, Mbak. :(

      Teruslah berbuat dan berbagi kebaikan. :)

      Delete
  10. kalo temen gue yg paling gue inget malah temen sd gue sih, yog. dari smp sampe sma gue di pondok, cowo semuanya sih, hahaha. tapi yah sama aja sih, mereka anak'' gaul yg mungkin ngerasa risih ketika bertemen dengan yg bukan anak gaul.

    gue juga jadi semangat nulis lagi nih, setelah hampir tiga minggu terbaring diatas kasur. akhirnya mulai ngeblog lagi daah~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ohehehe. Gue bertemen nggak pandang gaul enggaknya. Kalo dia respect sama gue, ya oke. Kalo songong gue juga males. :D

      Sip, semangat, Bro!

      Delete
  11. Gila. Parah banget tuh si Agus. Kalo gue jadi lo udah gue colok matanya pake garpu kfc. Kacang lupa kulitnya. :((

    Weyy, pramoedya emang keren. Gue juga setuju sama notesnya itu. :D

    Daaan, "Kamu boleh sedih, cemberut, kecewa, marah, menangis. Tapi lakukan itu sebentar saja, jangan sampai kamu lupa caranya untuk bahagia." Sumpah ini kereeeen. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Garpu KFC mah kurang tajem. Garpu somay lebih mantep!

      Auk, itu terketik begitu saja, Dev. Makasih. :D

      Delete
    2. Itu.. ngeri ya bukan mantep.

      Sama-sama Rima's. \:p/

      Delete
  12. terkadang teman yang udah jarang ketemu suka lupa gitu sama kita walaupun dulunya itu teman dekat.tapi ya sudahlah mungkin dia lupa :(

    ReplyDelete
  13. Yog. Dari Agus ke mantan jauh kali yog. Jauh. :))
    Oiya gue juga baru baca postingan lo yang sebelum ini, ternyata gue keduluan ya. Hahaha maaf nih, udah jarang main-main lagi. Udah makin rame blog lo, kalah gue. \:D/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, iyeee, Di. :)

      Yailah, santai aja. :D
      Nggak ada menang, nggak ada kalah, Di. Lu juga rame dan lebih keren, ah :))

      Delete
  14. temen deket aku sekarang udah pada menjauh semua :'( mungkin mereka udah ngelupain aku iya hmm :(

    ReplyDelete
  15. Terkadang kita gak tahu, apa kamsudnya si Agus bisa ngelupain begitu. Hfff... Mungkin masih banyak Agus-Agus yang lainnya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi nggak ada Agus yang seperti diaaaaa.

      Delete
  16. Lw ngak sempet jadian ama agus kan ???????? #PertanyaanSerius #laludikeplak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah saya masih normal, Bang. :(

      Delete
  17. Gue orangnya pikun banget, sering lupa sama temen-temen lama. hahaha~
    Tapi emang sedih juga sih kalau kita nggak bisa jadi siapa-siapa dan akan dilupakan ketika meninggal nanti.
    Ya, mumpung masih muda, kita sama-sama berjuang aja deh untuk jadi orang yang lebih berguna. Paling tidak untuk orang terdekat kita yang nggak akan lupa dan terus mendoakan. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. WAPARAH!

      Iya, Ri. Makanya nulis begitu. :)

      Hmm, iyaaa. Berusaha menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat selama hidupnya. :D

      Delete
  18. Kalo tentang dilupain, kayaknya aku juga mulai dilupakan ama temen deh. Buktinya, pas mereka nikah ajha gak ada yang ngundang. :( Perasaan, sebelumnya kita baik-baik aja deh. gak pernah bertengkar. gak pernah musuhan. gak pernah ketemu. gak pernah temenan juga.

    ReplyDelete
  19. Dilupakan memang nggak enak. Tapi, punya sifat pelupa lebih nggak enak. Aku pelupanya parah banget, sama temen sekelas sendiri aja lupa, sama nama temen aja lupa. Parah. Dan karma itu memang berlaku, Yog. Aku juga udah sering dilupakan sama orang, sama temen sendiri. Hahaha. Pedih memang. Lebih pedih lagi punya sifat pelupa, Padahal kan nggak bermaksud begitu. :((

    Kalo untuk kasus kamu sama si Agus, itu sih emang dianya sombong. Nggak mau ngenalin lagi. Ck! Selupa-lupanya aku, aku nggak mau sombong sama orang. Tetap bersikap ramah sama semua orang. Tapi, ya itu, paling lupa namanya. Tapi kalo wajahnya inget kok. Apalagi kalo cakep. Pasti inget. Pffft. :(((

    Suka banget sama kutipan Pramoedya. \o/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Panjang banget komennya. -_____-

      Nggg, iya. Aku juga biasanya lupa nama tapi inget wajah. :D
      Wahaha, semua kembali ke tampang, harus cakep. :)))

      Sama Yoga enggak?

      Delete
    2. Yoga ngarep banget dipuji sama Rima! Kwaaaakwaaaaa :D

      Delete
    3. Deva : Gue diledek terus. :/

      Beby : Huwahaha. Udah sering, ah. :p

      Delete
    4. Memang cowok ini butuh banget pengakuan yak :P

      Delete
  20. Di lupain itu emang nyesek juga rasanya, tapi kalau terus-terusan di lupain jadi kepengen cincang otaknya deh :D

    ReplyDelete
  21. Kalo ketemu temen lama di mana gitu gua pasti inget. Tapi masalahnya cuma satu, 'namanya siapa ya?'
    Gua gak pernah mempermasalahkan dilupain atau diinget terus, Yog. Itu hak mereka. Toh kalo kita baik, bakal banyak juga orang yang mau temenan sama kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Ta. Mau manggil takut salah, tapi kalo lupa nama bisa panggil "Oi, Woi, Bro" gitu deh.

      Delete
  22. Yog.. itu si Agus waktu di mall beneran Agus. Apa jangan" itu lu kali yang disamarkan jadi Agus. #eh..

    Hmm.. akhirnya lu sadar juga tulisan lu jelek, sudahlah berhenti aj..
    heheheh.. bercanda keep the spirit of writing and reading

    Btw quote itu lu baca dari buku apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Si kampreeettt.. Gue nggak pernah digituin mantan. -___-

      Nggg,,, Sip, gue selalu menulis supaya semakin baik. :D

      Huwahaha, lupa gue. Kayaknya itu sekadar baca kutipannya aja. :)

      Delete
  23. Ooh itu namanya temen? Sombong banget ya, padahal lo cuman nyapa aja, nggak minta uang jajan ke dia. Nanti kalo kapan-kapan dia butuh, kacangin. Lama-lama kalo gitu terus dia gak bakal punya temen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngggg... begitulah, Bi. :/

      Gue nggak biasa ngacangin orang. :(

      Delete
  24. duh nyesek banget tuh mas yog. dilupain gitu. kalo menrtku positif thinking aja mas yog, jgn jgn dia amnesia gara kejedot apa gitu, atau mungkinn dia emang bukan agus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, gapapa. Udah berlalu juga. :D

      Dia Agus, kok. :)

      Delete
  25. Oh iya yang dilupakan itu aku, setelah beberapa kali komen di blogmu tapi ngga pernah komen balik *eh* kabuurr

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, Bang. Lagi krisis kuota. Huwahaha. :D

      Delete
  26. Atas gue komenya ngarep dikomen balik Yog.haha
    Eh Yog lo postinganya kaya lagi mintoni gitu buahaha. Gw gak tau mintoni bhs indoneaianya ap?
    Santai Yog itu si Agus emg kurang ajar namnya. Tp gue jg ada ko tmn yg kaya gitu, kita emg gk bsa bikin semua org ska sm kita, nabi Muhamad aj yg seorang nabi banyak yg gk ska apalagi kita manusia biasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, iya. Gue baca, kok.
      Mintoni itu bahasa apaaaaaaa?

      Hehehe. Iya, Zis. Sip! Thanks sudah mengingatkan. :)

      Delete
  27. Kalo aku sih seringnya ketemu temen lama , pengen nyapa tapi pas udah mo nyamperin aku lupa namanya tapi aku inget banget kalo dia itu temen lama aku, alhasil ga jadi nyapa krna gatau nama itu takutnya ntar kaya kamu ga direspon gitu kan jadi malu, penyakit sih emang hapal muka jarang banget inget namanya apalagi sama yg bener-bener jarang komunikasi ini sih biasa kejadian sama temen SD, jarang ketemu banget soalnya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang gue juga hafal muka, tetapi lupa nama. :)

      Wah, kalo temen SD udah pada nggak ada kabarnya. Hehehe,

      Delete
  28. Habis cerita dilupain Agus, trus baca kalimat "Melupakan dan dilupakan mantan itu adalah dua hal yang berbeda." berasa Agus mantan lo. Serius.

    Btw, ini Agus Septian yang lahir di bulan Maret itu kan? Eh, nama samaran ya.. Maap2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm, nggak gitu juga, sih. -____-

      Wakakak, terseraaaahhh!

      Delete
  29. Tragis amat sih yang dilupakan temen SMP, sampe di block segala. Mungkin dia malu mengakui lo ._.
    Ajib bener tuh kutipan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, parah. Malu-maluin berarti gue. :(

      Thank you!

      Delete
  30. Itu temenmu super songong ya... Ato emang ingatannya parah banget??? Kena amnesia kali -_- ..

    Kalo aku seringnya lupa nama doang Yog, tapi mukanya inget.. Kecuali kalo fisiknya berubah banyak ya, jadi wajar dunk kalo pikun ;p..

    Ga pengen banget dilupain pas udah mati -__- serem ih..ngenes banget.. Tapi kalo yg pake blog berbayar gini, udah mati kan ga bisa bayar fee annualnya lagi, ditutup dong blogku -_- Jiaaahhh ..Udah ah, jangan bayangin mati2 dulu ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi!

      Hmm, gue nggak berubah fisik, tapi ada aja temen yang lupa. :')

      Hehehehe, kan hanya membayangkan saja. :p

      Delete
  31. aduh agus agus, balas senyum aje juga cukup kok gak perlu sampe pura - pura gak kenal juga dong.. tenang bro yang ngalamin kaya gini bukan lo doang.. kita sama bro... sama sama jomblo. wah setop setop..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm, senasib soal dilupain temen. :)

      Gue nggak jomlo, Mas. :p

      Delete

Terima kasih sudah membaca.

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan....

Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.