Kehilangan Sesuatu

61 comments
Kehilangan sesuatu yang berharga rasanya seperti apa, sih?

Sedih yang pasti.
Pengin nangis.
Galau.
Hmm... gitu, ya?
Iya.

Taik banget si Yoga. Nanya sendiri jawab sendiri.

Ini cerita bukan tentang kehilangan pacar, kehilangan harga diri, ataupun kehilangan keperjakaan. 

sumber gambar : hujanpelangi(dot)com


Ngaco abis.

Mau tau tentang kehilangan sesuatu?


Beginilah ceritanya. Bacalah baik-baik.

Hari ini, tepatnya Minggu pagi, sekitar pukul 7 gue masih ngulet di kasur. Biasanya udah ikutan CFD di Bunderan HI. Tapi ya, sejak bulan Januari kemarin. Setiap hari Minggu dijadwalkan kuliah. Gue yang tadinya kuliah hanya hari Sabtu, kini hari Minggu pun mau nggak mau harus masuk. Daripada udah bayaran mahal-mahal terus nggak masuk kuliah, kan rugi. Padahal, gue belum bayaran. Kacau gue.

Entah, tingkat kemalesan gue pagi tadi benar-benar di level tertinggi. Ngapain kuliah di hari Minggu? Enakan tidur. Begitulah rasa malesnya. Alhamdulillah gue terlepas dari jeratan kasur itu. Begitu bangkit, gue melilitkan handuk di leher. Masuk kamar mandinya nanti dulu. Ini semua karena nonton Spongebob Squarepants. KAMPRET LU, SPONG! Membatalkan niat mandi gue saja.

Singkat cerita gue udah mandi dan berpakaian rapi. Rambut gue sisir klimis belah pinggir ke arah Barat Daya. Atasan kemeja kotak-kotak, dengan bawahan celana warna hitam, dan high heels. Yakali.

Setelah sarapan, gue pamit ke Nyokap.

Tepat pukul 8 gue berangkat dari rumah. Perkuliahan juga masuk jam 8. Kira-kira perjalanan dari rumah ke kampus memakan waktu satu jam. Bisa dipastikan gue adalah mahasiswa teladan yang terlambat hanya 60 menit. Terlambat mah 5-10 menit, Yog! Ini satu jam. GILA! UDAH NGGAK NIAT KULIAH?
Bodo. Namanya juga lagi males banget.
Namun, terlambat yang gue perkirakan hanya satu jam itu  salah perkiraan.
Bentar-bentar, satu jam disebut hanya? Emang mahasiswa kurang ajar si Yoga.

Oke, lanjut.

Iya, jadi gue telatnya lebih dari satu jam. Ini semua karena dompet gue jatuh di jalan. TAAAAIIIIIKKKKKKK KOTOOOOKKKKKKK.
Astaghfirullah. Ngomong jorok deh gue.
***
Selesai isi bensin, gue langsung mengendarai motor dengan cepat. Lagi buru-buru malah lampu merah. Parah.  Nah, di sini gue sadar kalau dompet gue nggak ada di kantong belakang. Ekspresi wajah gue seperti melihat kuntilanak pake hot pants. Lucu. Iya, soalnya gue kalo lagi panik emang menggemaskan. Halah.

Gue langsung mengambil arah putar balik. Soal telat kuliah? Bodo amat. Nanti aja bisa ngasih alesan. Ini lebih darurat. Gue telusuri jalan yang telah gue lalui tadi. Gue perhatikan baik-baik setiap jalan. FYI, dompet gue warna hitam. Pokoknya gue fokus sama warna hitam. Lumayan lama juga gue mencari, ya sekitar 5 menitlah. Kok, nggak ketemu-ketemu. Ya Tuhan... Pengin nangis rasanya.

Bukan apa-apa, ini bukan soal duit di dalam dompet itu. Duitnya mah nggak seberapa, kira-kira cuma beberapa ratus ribu. ANJIRRRRR... BERAPA RATUS RIBU ITU BANYAK, BEGO! Aduh. Gapapalah soal duit. Yang terpenting itu KTP, KTM, SIM, STNK, NPWP, kartu ATM BRI 2 biji. Pokoknya kartu-kartu dan identitasnya itu yang paling penting. Ini kok malah riya, ya? Isi dompet disebutin semua. Nggak ada maksud tapi deh. Sumpah.

“Kalem aja, Yog. Santai-santai, jangan panik.  Berdoa semoga nanti ketemu,” batin gue.

Gue melihat dari kejauhan ada warna hitam. Gue langsung semangat untuk samperin. Begitu dilihat,
SOBEKAN KANTONG PLASTIK HITAM.
ARGGGHHHHHHHH!!!

Gue udah nggak tau lagi harus gimana. Gue hanya bisa berdoa,
“Ya Allah, maafin Yoga kalo banyak dosa. Tolong Ya Allah, semoga dompet hamba-Mu ini ketemu. Aamiin.”

“Oiya, coba ke pom bensin. Mungkin aja di sana,” pikir gue. Gue pun bergegas menuju pom bensin yang tidak begitu jauh dari rumah gue.
Gue keliling-keliling area pom bensin sebanyak 7 kali. Dikira tawaf kali.
Nggak ketemu juga. Oalah.
Daripada muter nggak jelas. Mending tanya ke pegawai SPBU-nya aja.
“Pak, liat dompet warna item nggak?” tanya gue.
“Wah, mana saya tau, Dek,” jawab Bapak itu.
“Kalo nomor henpon tapi ada, kan?”
“...”

OKE-OKE, SERIUS. Masih aja lu, Yog. Kena musibah bukannya sedih malah bercanda mulu. I-iya, maaf. :(
Daripada semakin pusing, lebih baik gue pulang.

***

“Kenapa pulang lagi, Yog?” tanya Nyokap.
“...” Gue belum pengin ngomong. Gue haus. Gue mau minum dulu.
Segelas air putih pun habis. Nambah lagi segelas.
“YOG! DITANYAAAAINNNN JUGA!” bentak Nyokap.
“UHUK.” Gue keselek. Sial.
“Dompet Yoga jatuh, Bu,” kata gue lemas.
“KOK, BISA? JATUH DI MANA? NGGAK KETINGGALAN, KAN?” tanya Nyokap yang mendadak raut wajahnya menjadi tegang.
Gue langsung mencari-cari dompet di kamar gue. Eh, bego. Kan tadi pas isi bensin ada. Kenapa gue malah cari di rumah? Nggak mungkin ketinggalan. Aduh, kacau-kacau. Begitulah kebodohan gue pagi tadi.
“Nggak, Bu. Tadi pas isi bensin masih ada.”

“KENAPA, SIH? KENAPA?” tanya Bokap  dengan suara berat, rambutnya yang masih acak-acakan, dan mata kriyep-kriyep. Karena ada suara ribut-ribut. Bokap terbangun dari tidur nyenyaknya.
“Si Yoga, dompetnya jatuh,” kata Nyokap menjelaskan.
“Emang ditaro di mana?” tanya Bokap. Mata yang tadinya sayu kemudian melotot.
“Kantong belakang,” jawab gue.
“DIBILANGIN JANGAN TARO DI KANTONG BELAKANG! RAWAN COPET.”
“Yah, ini jatuh. Bukan dicopet,” jawab gue pelan.
“SAMA AJA! MAKANYA, TARO KANTONG YANG DEPAN, ATAU TARO TAS!” Bokap ikut-ikutan ngomel.

Gue pengin nangis. Udah sedih kehilangan dompet, malah diomel-omelin. Ya tau, yang salah gue. Tapi kan, namanya lagi apes.
“Yaudah, bantuin cari, yuk!” Gue mengajak Bokap untuk mencari dompet itu di jalan yang tadi.
“Cari di mana? Udah jatuh pasti ilang. Apalagi kalo diambil orang.”
Rasa optimis akan dompet itu ketemu pun sirna. Kata-kata Bokap malah menjatuhkan gue.

Gue putuskan untuk mencarinya sekali lagi. Nggak begitu peduli soal terlambat kuliah. Yang penting dompet kudu ketemu dulu. Namanya juga usaha. Tak lupa juga berdoa. Bokap nggak taunya ngikutin dari belakang.
Sampai di jalanan dekat lampu merah yang tadi hilangnya dompet. Gue langsung pasrah.
“Udah, berangkat kuliah sana. Kalau yang nemu orang baik pasti dikembaliin. Rezeki nggak kemana,” kata Bokap menyemangati.
“Aamiin.” Gue berdoa dalam hati.

Setelah itu, Bokap gue pulang. Sedangkan gue berangkat menuju ke kampus. Meskipun hari Minggu, tetap saja jalanan tidak bersahabat.  Yap, macet. Di tengah kemacetan, gue informasiin ke temen-temen sekelas kalau dompet gue hilang, dan bertanya apa sudah hadir dosennya.

***

“Dompet lu ilang, Yog? Serius?” Salah seorang teman BBM gue. Gue jawab sejujurnya. Tidak lama setelah itu, teman yang lain BBM juga, “Tes kontak.”
TAIK.

Gue melihat jam tangan gue. Jarum pendek menunjukkan angka 9, dan jarum panjangnya menunjukan angka 8. “Fiuh.” Gue mengela nafas. Gue menaiki tangga menuju ke kelas.
Sesampainya di kelas, gue langsung duduk di bangku deretan belakang. Gue nggak menghiraukan dosen yang sedang menulis di papan tulis.  Teman-teman melihat gue dengan tatapan iba. Kasihan sekali gue.

“Ketemu, Yog?” tanya Rizky.
Gue menggelengkan kepala. Dia ikut geleng-geleng.
“Emang jatuhnya di mana, sih?” tanya Kosim.
Pertanyaan ini kampret banget sumpah. Kalo gue tau letak percisnya, gue langsung ke tempat itu. Yailah, gue mana tau jatuh di mana. Namanya juga jatuh. Duh. Kesel sendiri.
“LAGIAN SELEBOR. JADI ORANG NGGAK HATI-HATI,” omel Kosim.
Gue menunduk lesu.
Teman-teman yang lain pun bertanya-tanya. Gue jawab jujur seadanya.
Tapi, masih ada satu teman gue yang ngajak bercanda.
“Yaudah ikhlasin, daripada aipon lu yang ilang, ye kan?” kata Arif.
Ya Tuhan malah diledek. Sama-sama berharga tau.

Pikiran gue melayang ke mana-mana. Gue nggak menyimak dengan baik perkuliahan jam pertama.
Jam kedua pun begitu.
“Udah, Yog. Pasti diganti sama rezeki yang lebih banyak,” kata beberapa teman menyemangati.
Gue hanya bisa mengamini.

Gue mencoba untuk ikhlas. Gue pasrahkan semuanya kepada Tuhan.
Namun, hati belum benar-benar ikhlas. Gue berharap semua ini hanya mimpi. Gue hanya males ngurusin surat-surat dan identitasnya itu. Asli, itu ribet. KTP ke RT, RW, dan kelurahan dulu. Blokir kartu ATM, ngurus SIM dan STNK ke SAMSAT. Halah, galau berat.
Tapi, dengan bodohnya gue tampar pipi sendiri. Gue coba aja, siapa tau mimpi. Apakah gue terbangun dari tidur nyenyak?

*PLAAAAKKKK*

SAKIT. Ini realita. AHHHHHH TIDAAAKKKKK.

Setidaknya, gue masih bisa menjalani hidup. Dan mungkin setelah kejadian ini, gue mencoba memperbaiki kesalahan dan keteledoran gue. Namanya musibah. Nggak ada yang tau, kan. Rezeki nggak kemana. Gue tersenyum.

Tulisan ini ditulis dengan tangan yang gemetaran dan perasaan gundah gulana.
Doain gue ya temen-temen blogger, semoga ada yang balikin dompetnya. :’)


Sekian curhatan hari ini. Terima kasih.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

61 comments

  1. Kehilangan dompet itu jadi salah satu dari sekian banyaknya the kampreto kehilangan moment Yog.
    Sabar ya. Semoga yang nemu cewek cantik dan kali aja bisa ngembalin. Untung-untung diajak kenalan trus jadian. Oke Yog jangan kebanyakan ngayal sih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebanyakan nonton FTV lu, Dev. :(
      Ketemu aja udah syukur. Nggak berharap wanita cantik. Tapi, boleh juga sih. Halah!

      Delete
  2. Coba merenung sejenak. Anggaplah dompet itu masih rejekimu, Yog. InsyaAllah kembali. Dan kalo gak kembali. Pikir kebelakang, mungkin ada rejeki orang lain, tapi gak lo keluarin. Ambil hikmahnya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Gung. Setiap kejadian pasti ada hikmahnnya. :)

      Delete
  3. Yaoloh, Yog. :'( Turut berduka cita. Gue tau gimana rasanya kehilangan barang yang isinya begitu penting. Semoga ada yang balikin ya. Seenggaknya kartu-kartu penting itu.

    *padahal diawal niatnya gue mau ngeledekin, malah isinya cerita begini. kan jadi ikutan sedih*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Haw. Iya, kehilangan itu gitu deh. :(
      Ah, jadi terharu. :') *ngasih tisu*

      Delete
  4. Kehilangan dompet itu repotnya tuh disini *rempong ngurus sana sini*

    ReplyDelete
  5. Rasanya sakit emang kalo kehilangan dompet, apalagi isinya yang menyangkut kebutuhan kita sehari-hari. Yaaa barangkali keajaiban terjadi, dompet lu tiba-tiba ada di kantong.

    ReplyDelete
  6. Mending kehilangan pacar daripada kehilangan dompet yang isinya surat-surat penting :p ikhlas adalah perbuatan yang harus lu lakuin di situasi begini yog. Kalo dapatnya ditangan orang yang bertanggung jawab, mungkin saja dia bakalan balikin lewat alamat yang ada di KTP. Sabar yog!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh... malah bahas pacar. Dua hal yang berbeda kayaknya. Iya, ikhlas. :))
      Aaaamiiinnn. :) Makasih, Ric.

      Delete
  7. tetap sabar ya, kehilangan apa pun walau harganya gak seberapa tetap disayangkan apalagi dompet.. pernah saya kehilangan dompet, alhamdulilah ada yg ngembaliin karena di dalamnya ada ktp :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sabar banget. :) Alhamdulillah itu. Semoga saya juga. :D

      Delete
  8. Waduh dompet yog ?! -_- yah mau diapain lagi, ntar juga balik kalo masih rejeki. Sabar aja jangan lupa berdoa. Nanti kalo masih rejeki. Bagi bagiin ke gue. Biar barokah :))
    Ups becanda yog. Gue turut berduka aja deh :'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Lam. :(
      Thankyou, Bro. :D Sempet aja bercanda. Wakakakak.

      Delete
  9. Innalillahi... Turut berduka, Yog..
    Banyak-banyak berdoa, deh.. Keajaiban nggak ada yang tau.. Semoga aja bener-bener ada orang baik yang mau balikin..
    Serius. Soalnya aku sih udah sering kehilangan kayak begitu. Lebih parah malah. Yang paling parah itu ijazah SMA, baru diambil pas pagi, eh siangnya ilang di jalan. Tapi untungnya ada yg balikin.. Meskipun dalam keadaan basah kena air hujan. Setidaknya keajaiban orang baik masih ada.
    Soooo, terus berdoa. Okeeee! Mangatse!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa aku ini orang baik, Rim? Semoga keajaiban itu ada. :(
      Selalu berdoa. :D

      Delete
  10. Ngelongo bacanya, Yog. Sabar yek, rezeki gak akan kemana, sama kayak jodoh. Sementara sih hIkmah yang bisa dipetik dari kejadian ini kamu punya bahan buat diposting di blog Tetap senyum, Yog, tangannya jangan gemetaran mulu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe. Iya, bisa jadi cerita, Cha. :D
      Ini senyum. Makasih ya. Yoi, rezeki sama jodoh udah diatur. Semoga kembali. :))

      Delete
  11. kasihan amat dompetnya ilang. untung gue selalu sigap kalau masalah dompet medompet, jadi nggak pernah ilang.
    semoga yang nemu baik ya, mau balikin. semoga gue yang nemu...

    ReplyDelete
  12. dulu dompet gw juga pernah ilang, untungnya yang nemu baik hati. Dompet gw dianter ke rumah dengan sehat walafiat tanpa ada bekas luka atau tanda-tanda penganiayaan.
    kenapa ada kehilangan, supaya kita tau arti dari ketemuan. ketemuan, ko ga nyambung ya? bodo amat ah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baik banget itu orang. :)
      Hahaha bebas, Bang. Nggak nyambung gapapa.

      Delete
  13. gue juga pernah kehilangan Hp di jalan, ga tau di copet atau jatoh th hape,
    nayri-nyari pake motor sampai 5 x ga ketemu
    dan pasrah saja lah
    kalau barang berharga udh jatuh di jalan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo hape gue juga pernah beberapa kali jatuh. Gue ikhlasin akhirnya. :)

      Delete
    2. kayaknya u mas sengaja buang ni
      sampe beberapa kali

      Delete
  14. Gue tau gimana ribetnya ngurusin surat surat atau kartu identitas yang hilang, soalnya gue juga pernah ilang dompet. Begonya waktu itu gue taro di kantong jaket, ya jadinya gamppang jatoh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ribeeettt kayak mau nikah. Wakakak.
      Hmm. Kebodohan manusia itu sendiri, Don. Teledor. :(

      Delete
  15. Itu ilang beneran? Sadis, dicopet kali lo yog?
    Bener deh itu yang paling males ngurus surat-suratnya, entah kenapa. -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak tau juga Bang Adi. Tau-tau nggak ada di kantong. :(
      Seriusaaannn ilang.
      Hmm. Begitulah.

      Delete
  16. Yog, sabar ya... Allah gak akan mengambil sesuatu dari kamu kecuali Dia menggantinya dengan yang lebih baik kok :')

    ReplyDelete
  17. Semoga dompetnya balik. kalau gak balik semoga ngurus surat2nya gak ribet dan diberi kelancaran *emangnya apa coba*

    Sabar ya Yoga, SEMANGKA!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, kayak ujian aja lancar. Makasih ya Nurul. :))
      JERUK!

      Delete
  18. turut berduka cita bro, walau duka suka sekali ngebaca ceritanya :) salam kenal ya bro :)

    ReplyDelete
  19. Kehilangan dompet tak sesakit kehilangan pacar atau gebetan yang ditikung temen sendiri.. :P Btw, kamu uda kehilangan keperjakaan ya, Yog? Kok disebut-sebut? Menyesal? Buahahahah.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan dihubung-hubungin ke hubungan asmara apa. :(
      Hmmm... Biarkan Tuhan yang tahu. Yakaliiiiiii. Emang sejahat itukah seorang Yoga? :')

      Delete
    2. Maaf ya. Aku khilaf. :(

      Lha. Aku kan cumak nanyaaaa.. :P

      Delete
    3. Hahahaha, khilaf masa tiap blogwalking? -___-
      Ya, gue tanya balik. :p

      Delete
  20. Duh endingnya sedih begini. Padahal gue berharap endingnya bakal bahagia: ada orang yang nemuin, terus balikin ke elo. :') Sabar yaaa.

    Tapi, btw, soal sobekan kantong kresek hitam itu lucu banget. Haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar banget, Us. :)
      Wakakak. Gue merasa dikerjain kantong kresek. :(

      Delete
  21. kemaren gue kecopetan di bis, sekarang lo, yog. yah, ikhlasin aja si. rejeki mah nggak kemana.
    emang berat sih, tapi yah mau gimana lagi. dari pada lo pusing mikirin ngelapor tentang sim, stnk, dan laennya, mendingan lo kerjain aje, yog. klo dipikirin terus sih, kga bakalan jadi'', yog.

    yg tabah wahai anak muda. sapa tau, lo ke ilangan dompet, hari berikutnya ketemu jodoh. sapa tau kan?
    tapi susah juga sih, yog. jgan ngarep kbnyakan juga *pukpuk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, Zi. Turut berduka juga. Iya, rezeki nggak ke mana-mana. :D
      Siaallll. Ngarep dikit gapapa, kan?

      Delete
  22. Sabar, udah banyak yang nasehati lo yog. klo jodoh gk kemana,Semoga ketemu jodohnya Yog. Eh . *Dompetnya*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Iya, Zis. Jodoh dan dompet sekalian, ya. :D

      Delete
  23. yang sabar ya,semoga dompetnya ketemu.amin
    kehilangan sesuatu itu emang sangat meyakitkan :D

    ReplyDelete
  24. Sumpah deh, itu bkalan ribet banget, harus ngurus sana-sini, bkalan ngabisin waktu n biaya,,,
    Gue juga pernah ngrasain betapa menyedihkanya kehilangan dompet, tapi untungnya gue balik nyariin masih bisa ketemu dompetnya,,,

    Semoga aza yang menemukan baik hati n mau ngembaliin dompetnya,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ribet banget-banget.
      Alhamdulillah banget itu, Mas. :)
      Hehehe. Iya, gue percaya masih banyak orang baik. :D

      Delete
  25. bro, kok bikin sedih kaya gini sih bro...
    sabar bro!!!
    cemungudh!!!

    ReplyDelete
  26. Aamiin, Yog, aamiin. Mangat, ye! Gue juga pernah kehilangan, henpon sik. Tapi untung gak dimarahin. :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo henpon gue juga pernah. Udah gue ikhlasin. :)

      Delete
  27. sabar yog, semoga ALLAH ngasih gantinya dengan rezeki yang berlipat-lipat ganda aamiin :)
    btw surat kehilangan dari polisi cepet diurus tuh, penting buat ngurus yang lain-lain :D

    ReplyDelete
  28. sabar ya mas.... Keilangan dompet ato uang itu emg nyakitin...tau kok rasanya gmn :).. Tp kdg, spy ga terlalu nyesek, apalagi kalo di dompet lg bnyk brg berharga, cara mikirku gini aja.... Kyknya kurang beramal nih...kurang zakat, kurang sedekah, makanya ditegur ama yg di Atas :) ... InsyaAllah sih krn mikirnya gitu, jd lega abis itu..bisa ikhlasin.. memang ribet krn ngurus kartu2nya..tp anggab aja pembelajaran utk lbh hati2..

    semangat yaaaa ^o^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Kadang langsung merasa, apa yang salah sama diri sendiri. Kurang amal apa gimana. Begitu deh. :(

      Thanks.. ^.^

      Delete
  29. Selamat malam Sob... Karena ini kunjungan Perdana saya, saya minta izin dulu untuk follow blognya Sob agar Silaturahmi nantinya dapat terus berjalan. Semoga saja Dompetnya yang hilang bisa kembali,jika memang yang menemukan orang Jujur, Insya Allah Domopetnya Pasti akan dikembalikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke, salam kenal. :D
      Aaaamiiinnnn. :)
      Semoga masih banyak orang yang jujur, ya.

      Delete

Terima kasih sudah membaca.

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan....

Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.