Belajar Menulis, EYD dan Komedi

91 comments
Mulailah menulis dengan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. – J.K. Rowling



Membaca quote di atas, gue merasa semakin asik untuk menulis. Karena setiap menulis, memang kebanyakan berdasarkan pengalaman-pengalaman gue. Kadang juga curhatan-curhatan gue. Makanya menulis tuh rasanya seru.

Kalian yang baca tulisan ini, ngerasa gitu nggak, sih?

Kalo menulis itu rasanya asik, seru, menyenangkan, bikin bahagia. Pokoknya nikmat deh.
Tapi, menulis bukan sembarang menulis. Saat ini, untuk menjadi seorang penulis juga harus belajar menulis dengan sungguh-sungguh. Bukan seperti zaman SD yang hanya belajar menulis, “Ini Ibu Budi.” Ngomong-ngomong, Budi itu siapa, sih?
Siapanya Pak Bambang?
Bambang itu siapa? Nggak tau.
Dih, bego. Nanya sendiri jawab sendiri.

Nah, kali ini gue mau ngomongin soal belajar menulis. Yoi. Sesekali berbagi pengetahuan yakan... meski pengetahuan gue sangat sedikit.

Gue riset, para blogger kalo menulis di blog. Itu sembarangan banget, ya. Ada yang pernah nulis gini, “Halo teman-teman semua, maaf ya gue baru bisa update postingan. Kemarin gue lagi banyak banget tugas, nih. Kacau tuh gurunya. Terus kuota gue juga abis. Jadi, baru bisa update sekarang deh.” Klise banget, ya? Nggak mau banyak tugas? Nggak usah sekolah! ALASAN saja.

Sebelumnya pernah gue bahas di tulisan yang INI ( Kalimat Pembuka )

Sebagai seorang blogger, tentunya gue pernah menulis kayak gitu. Ya itu udah dulu kok. Maafkan saya. Itu menjijikan. Dan lebih menjijikannya lagi, tulisan gue curhatan semua, cengeng-cengeng kalo dibacain. Sedih kalo dibaca-baca lagi. Tapi gapapa, karena itu untuk pembelajaran. Kalo gue juga pernah menulis sembarangan. Asal tulis. Yang penting kan tetap menulis.

Ternyata nggak gitu, Gaes. Menulis juga butuh kualitas. Bukan sembarang kuantitas. Memang sih, kuantitas itu penting. Semakin banyak tulisan, semakin banyak yang baca. Tapi tetep, kualitas itu utama banget. Ya ibarat beli sepatu harga 50 ribu. Kalo 200 ribu kan dapet empat. Tapi kualitasnya nggak bagus. Dipake sebulan langsung jebol. Mending sekalian beli  yang satunya 200 ribu. Bisa dipake bertahun-tahun. Dapet empat sepatu, itu juga kalo jebol semua berarti bertahan hanya empat bulan. Analoginya jelek, ya? Sorry..

Nah, pastinya kalian males dong, kalo baca tulisan yang kurang berkualitas. Pertama soal EYD dulu, deh. Kira-kira, masih ada nggak, sih? Blogger yang nulisnya alay?

Misal judulnya, “5 T1Ps b3RkEnC4N”. Yak, dari judul aja udah bikin enek. Semoga nggak ada, ya. Terus yang nulis masih disingkat-singkat. Gini misalnya, “Agus adalah anak SMU Tunas Kelapa. Ia anak yg rajin belajar dan tidak suka mencuri. Tp semenjak kenal Rani. Lama2 Agus berubah jd malas n sering nyolongin jambu milik Pak RT .” Bedain gitu kek, chatting-an sama nulis di blog. Yang baca juga bakalan pusing sendiri, kan. Bisa-bisa langsung di-close tab dan di-blacklist dari daftar blogwalking. KEJAM!

Terus juga soal di, ke, dari. Kalo nggak salah, ini pelajaran Bahasa Indonesia zaman SD kan, ya? Menulis di, ke, dari yang menunjukan keterangan waktu atau tempat seharusnya dipisah. Contoh, “Agus sedang berbelanja ikan asin di supermarket.”
Sedangkan untuk kata kerja, ‘di’ nya harus disambung. Contoh lagi, “Novel Rani dipinjam Budi.” Bentar-bentar, ini Budi yang tadi? Budi ternyata temennya Rani? Yah, ternyata friendzone. Rani terlalu baper mungkin, si Budi hanya menganggap Rani teman dekat. Eh, ini ngapa jadi ngaco?

Oke, lanjut.

Begitulah teman-teman. Mungkin info tentang EYD ini sedikit membantu. Sehingga, kalian nggak lagi menulis kalimat yang salah seperti ini, “Aku di marahi guru BK diruangannya.” Seharusnya yang benar, “Aku dimarahi guru BK di ruangannya.” Nah, ini baru benar. Jangan sampai terbalik. Oke, gue makin sotoy. Lalu, setelah titik harus huruf kapital. Setelah tanda kutip ketika memulai percakapan juga huruf besar. Kalo nama orang juga harus huruf besar. Kalo teteknya JUPE juga BESAR.

Gue bisa menulis sesuai EYD ini karena teman blogger gue, Tiwi. Ini blog-nya, mampir aja di SINI. Komentarnya pedes banget. Salah dikit diomelin. Kacau tuh anak. Makannya cabe mulu pasti. Apa malah dia itu cabe-cabean? Ahaha. Bercanda! Peace ya, Wi. PEACE, LOVE, AND GAUL!

Beginilah awal mulanya,
“Yoga, kalo abis titik itu huruf besar. ( ceritanya jadi editor ),” kata Tiwi di kolom komentar.
“Oke, makasih infonya, Gan. Gue kasih cendol atas kritiknya.” Dikira Kaskus.

Gue mulai perbaiki pelan-pelan tulisan gue. Melihat 100 posting-an yang ternyata salah semua. Gue pingsan. Yakali 100 diedit semua? Bisa-bisa Mak Ijah keburu ke Mekkah. Dan gue ketinggalan episodenya. Gue biarkan saja tulisan-tulisan lama. Ya, suatu saat biar kelihatan kalau gue pernah salah. Manusia kan nggak pernah luput dari kesalahan. Gue perbaiki tulisan-tulisan yang baru aja. Semoga semakin baik untuk ke depannya. YAMAHA SEMAKIN DI DEPAN!

“Gue nggak ikut kopdar ya wi.” Gue kirim pesan ke dia via WA.
“Yog, yang benar itu, 'Gue nggak ikut kopdar ya, Wi',” balas Tiwi.
“Taiklah, salah mulu gue. Ribet chat sama editor. Njir!”
“Ini demi kebaikan tulisan lu juga.”
“Ini kan chatting, beda sama blog.”
“Nulis itu dari kebiasaan. Biar lu terbiasa menulis yang sesuai EYD. Kalo mau jadi penulis harus belajar EYD juga.”
Gue langsung kejang-kejang.

NJIR! CHATTING AJA RIBET BANGET. BANGSAT.

Tapi makasih, kalau nggak diajarin dia, mungkin tulisan-tulisan gue nggak akan sebaik ini. Semoga semakin membaik. Aamiinn.

Kalo sekarang, tentang komedi.

Gue nggak jago, masih belajar juga. Tapi sekali lagi, gue hanya ingin berbagi menurut pengetahuan gue. Meski sedikit... banget.

Menurut kalian, komedi itu apa, sih?

Setelah survei, 8 dari 10 orang bilang dalam komedi yang utama itu bisa bikin ketawa. Minimal nyengir. Kalo 2 dari yang lain hanya diam saja. Ternyata 2 orang itu siluman komodo. Taunya soal komodo bukan komedi. Taik, salah survei.

Gue masih belum bisa menulis komedi. Tapi gue ingin belajar. Komedi itu yang penting bisa bikin orang tertawa. Tapi, komedi itu bukan soal sok melucu. Jangan pernah berusaha sok melucu ketika menulis komedi. Seperti membuat adegan terpeleset kulit pisang. Udahlah, nggak perlu sok asik dilucu-lucuin. Takutnya malah garing. Mending natural aja dari pengalaman sendiri. Kalau nggak punya pengalaman lucu, lihatlah dari sudut pandang yang berbeda. Biasanya bakalan ketemu lucunya. Atau boleh juga nulis tentang kegelisahan. Seperti bikin tulisan yang kesal terhadap film hantu, film yang selalu bikin tegang. Tegangnya bukan karena takut. Tapi tegang ‘anunya’. YAK, TEGANG BANGET! Biasanya, ada beberapa orang yang juga merasakan kekesalan oleh kegelisahan tersebut. Kata para komik sih gitu. Maksudnya, bukan komik Naruto, One Piece, apalagi Hentai. Bukan itu. Apalagi komik obat batuk. Bukan banget. Komik yang dimaksud itu komika yang Stand Up Comedy.

Menurut gue, temen-temen blogger juga pada bagus menulis komedinya. Ada Bang Adi yang tidak keribo, Tata Tirs, Bang Rizky Shamposachet, Febri juga, dll. Maaf untuk yang lainnya nggak disebut. Soalnya hanya mereka yang bayar ke gue untuk namanya ditulis di sini. Hehe. Kalian mau juga ditulis? Bayar 20 ribu per orang. Oke? #OtakBisnis
Eh, bercanda. Nggak usah serius-serius. Kan lagi ngomongin komedi.

Untuk komedi, itu bisa dipelajari.
Bang Adi pernah membahas di blog-nya. Kalian bisa baca di SINI.

Udah baca?
Belum?
Males, ya?

Yaudah. Lanjutin aja baca tulisan ini dulu. ( kemudian disambit termos sama Bang Adi )

Dia membahas beberapa jenis komedi. Tapi di sini, gue hanya ngomongin set up dan punchline

Pertama-tama, biarkan gue menjelaskan. Set up adalah... ( cari di Google sendiri ) Sedangkan Punchline ialah... ( tonton aja Youtube gue males jelasin )
Set up ialah bagian yang tidak lucu atau bukan untuk ditertawai dan mengarahkan kita kepada punchline. Sedangkan punchline itu sendiri bagian yang lucu. Nah, maka dari itu pembaca akan merasa kaget, atau biasa dibilang mendapatkan twist. Pembaca akan tertawa atau nyengir secara spontan. Raditya Dika juga pernah membahas ini sebelumnya.

Contoh, “Gue kesel banget sama Agus. Setiap hari di sekolah, kerjaannya ngatain gue homo mulu. Padahal, gue tuh nggak homo... cowok gue yang homo.”
Mengerti?

Tambah lagi deh.

Ini twit iseng gue berbentuk dialog.

“Kemarin malem, Bro. Gue berhasil nidurin cewek,” kata dia bangga.
“Serius?” tanya gue penasaran.
“Yoi.”
“Kok, bisa? Caranya gimana?” Gue semakin penasaran.
“Gampang, gue hanya bilang, ‘setiap lihat api kamu akan tertidur’ gitu doang.”
TAEEEE. Ternyata Uya Kuya.

Ada lagi, Rule of Three. Jadi, 3 kata atau 3 kalimat yang disusun. Bagian pertama dan kedua biasa aja, baru deh bagian ketiganya yang lucu.
Contoh, “Pertama kali bertemu dengan Rani. Gue benar-benar terpesona. Wajahnya yang cantik, kulitnya yang putih mulus, dan bulu keteknya juga lebat.”

Lihat dibagian ketiga? Nah, di situ letak komedinya.


Meski contoh-contoh dari gue nggak ada yang lucu. Setidaknya kalian mengerti maksud gue. Gue juga masih belajar soalnya. Mari kita belajar bersama-sama. Semoga bermanfaat. Sekian sampai di sini. Kalau ada yang ingin menambahkan atau memberi masukan tentang belajar menulis. Boleh tulis di kolom komentar. Terima kasih. Salam kece.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

91 comments

  1. Hahaha.. kalo gue chat sama tiwi, mungkin gue udah delete.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Dia nggak sejahat itu. Baik dia. :)

      Delete
  2. Ada lagi teknik nulis komedi selain rules of three, namanya 'Call back' kalo di stand up.

    ReplyDelete
  3. Haha untung gue ngepost pertama kali di tahun ini gak pake kata ini “Halo teman-teman semua, maaf ya gue baru bisa update postingan. Kemarin gue lagi banyak banget tugas, nih. Kacau tuh gurunya. Terus kuota gue juga abis. Jadi, baru bisa update sekarang deh.” untungkan haha

    Tapi gue pengen punya temen kayak Tiwi biar gue terbiasa menulis dengan benar :))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baguslah!
      Ajak kenalan aja, terus berteman. :))

      Delete
  4. emang bener, sebagai pemuda kita harus sadar akan tata bahasa kita,,. tapi jadi garing sih kalo tulisan2 mu jadi baku semua,, misalnya gue diganti jadi saya atau aku,, elo diganti jadi kau atau kamu (yg lebih halus)... bener jadi benar..dll.. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue di blog pake kata gue dan lu. Itu gapapa, kok. :D
      Hehehe. :)

      Delete
  5. Yoi banget, gue sih nulis curhatan banget. Hahaha.

    Eh, itu, si Tiwi persis dosen pembimbing kayaknya. Salah dikit, revisi. haha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gapapa. Curhat itu seru.
      Hahaha. Editor emang begitu, Put. :D

      Delete
  6. Leh uga u. Hahaha alay ya gue? bodo. Cuma mau bilang, tulisan ini berhasil ngegampar gue secara halus, iya, tulisan gue isinya cuma curhatan sama galau alay gitu. Gue juga banyak belajar nih dari tulisan lo, Yog. #eaaa #benerkantulisannya👻👻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah soal curhatan emang gapapa. Gue kan juga blog-nya curhatan. Gue ngebahas EYD kan.
      Benar kok, Dey. :)

      Delete
  7. Sepertinya kak Senja lagi naik daun..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naik daun maksudnya berdiri di atas daun?

      Delete
  8. GUE UDAH DI REVISI DI TEMPAT KAN YOG YANG SOAL PENGGUNAAN 'DI' ITU? UDAH KAN YOG?
    Hiks.
    Hahaha. Ini postingannya banyak manfaatnya deh. Gue juga jadi sering ngeliet nama Adi di atas. Uw.
    *salah fokus*
    Pokoknya keren deh, berasa lagi diajarin bahasa indonesia private nih sama elo. -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya-iya. Belajar lagi, Dev. Semangka! :D
      Hahahaha. Bang Adi guru di tulisan komedi, Dev.
      Sesama blogger saling berbagi aja. :)

      Delete
  9. Nambah ilmu bhs Indonesia gue yog.
    Tp dari sekian banyak kata ilmu EYD yg dibahas, yg pling mudah diingat adl setelah titik huruf besar, tete-nya Jupe jg besar. Sumpah yg gini2 mudah diinget.

    ReplyDelete
  10. Hahahaa itu cara nidurin cewek yang paling ngehek hahaa pake api, ternyata uya kuya XD

    ReplyDelete
  11. 200 ribu kan dapet empat.

    Kalimat ini hukumnya HARAM, Yog. Angka gak boleh mengawali kalimat. Mesti diubah pakai huruf, atau kalau memang mau tetap pakai angka ya pola kalimatnya yang diubah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Emang nih mbak-mbak yang satu kejam kalo ngritik. Gue salah satu korbannya. Bukan korban, sih. Apa, ya? 👆(Tanda bacanya udah bener belom?

      Delete
    2. Tanya Tiwi langsung aja, Bro. :))

      Delete
  12. Tulisan u perfect Tanda bacanya dsb
    beda ma tulisan gue
    ancuuur

    ReplyDelete
  13. Salam kece, Yog! Tulisan ini keren banget :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, keren? Makasih ya, Dar. Masih belajar juga gue.

      Delete
  14. Yog, lo emang guru gue banget, gue kayaknya harus berterimakasih banyak nih sama lo hahaha

    ReplyDelete
  15. Buset! Lebay sekali itu sampai chat diedit segala -_-

    ReplyDelete
  16. Pengen deh kenalan sama Tiwi, kali aja hidup gue jadi lurus. *Eh*

    Satu lagi, Ga.
    'nulis komedi pake hati' kata Shitlicious.

    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, kenalan aja, Bang. :)
      Yak. Itu harus banget. 'Pake hati'.

      Delete
  17. Replies
    1. Belum jago-jago banget. Lagi belajar aja. :)

      Delete
  18. Masih banyak sih, cara-cara komedi, itu bukan cuman yang dua itu aja, masih banyak observasi dll, tapi untuk nulis sih, kebanyakan itu yang dipake :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, banyak kalo di stand up. Baca punyanya Bang Adi dulu coba. :)

      Delete
  19. Materinya banyak banget, nggak dijadiin 2/3 post aja nih? Heheh.
    Masalah EYD, buat blog personal yang isinya curhat/kejadian sehari-hari kayaknya kurang pas, deh. Misalnya kata "gue" diganti "saya", "nggak" diganti "tidak", jadinya agak kaku. Mungkin yang perlu diperhatikan soal penggunaan "di" dan "ke" kayak yg lo bahas. Serta penggunaan tanda baca.

    Lucu itu bukan kejadiannya yang lucu, tapi melihat sesuatu dari sudut pandang yang nyeleneh. - Shitlicious

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tadinya mau gitu. Tapi gapapa. Sekalian aja. Bahaha. Kalo soal gue, nggak, atau apa. Itu nggak masalah, Bro.
      Iyaa. Bener kata Alitt. Makasih tambahannya Renggo.

      Delete
  20. Gue termasuk blogger yang menulis tidak termasuk EYD, dong? Buat yang huruf kapital setelah tanda titik blogger nggak nyediain fitur auto-kapital, sih. Jadi agak males kalo harus mencet spasi dulu hahaha *ngeles~~

    Tapi makasih infonya, Yog. Ntar gue terapin di postingan blog gue selanjutnya. Ini komentar gue sesuai EYD, kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue juga tadinya gitu, Bro. :(
      Sekarang nulisnya di Ms. Word dulu.
      Sudaahh. Yuk, sama-sama belajar. :))

      Delete
  21. Haha! Bener semua tuh. Tapi, gue sendiri kalo ngeblog tulisannya ngasal aja. Nulis bukan untuk dibaca orang lain. Tapi, sebagai pengingat aja. Kalo ada orang lain yang baca, syukur banget!. Apalagi kalo sampe ketawa! Kadang gue suka senyum-senyum sendiri.

    Eniwei, gue liat-liat tulisan lo rapih!. Paling cuma penggunaan komanya aja kali, ya?. Kadang penempatannya salah :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha. Gue abis observasi setiap blogwalking. :))
      Makasih, Bro. Atas masukannya. Masih belajar soalnya, kan. Hehe.

      Delete
  22. Aduh kesindir nih aku soalnya tulisan pertamaku di tahun ini, mirip-mirip yang kamu bilang :( mamakkkkkk perlu belajar banyak lagi memang.

    ReplyDelete
  23. aku kesindir juga aaa, tapi gpp itu bikin membangun untuk menulis lebih baik lagi wkwkwk..

    kamu harusnya beruntung ketemu Tiwi, Yog wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sengaja bikin tulisan yang bener. :D
      Ketemu editor. Inilah jalan gue untuk menjadi penulis. :)

      Delete
  24. Parah. Mengulang kata "taik". Tulisannya ini nggak bisa diajukan ke babak final.

    Santai aja, Yog. Orang yang ikhlas dikritik Tiwi, tulisannya jadi makin bagus. Liat tuh blog si Agung. xD *Eh, iya nggak sih?*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah. Terus sampai semifinal aja ya, Haw? :/
      Ikhlas, kok. Buktinya tulisan gue semakin baik. :)
      Wakakakak. Agung dibawa-bawa.

      Delete
  25. JK Rowling salah satu penulis yang menjadi inspirasi saya :)

    ReplyDelete
  26. Iya Om, besok deh saya introspeksi tulisan saya. :3

    ReplyDelete
  27. Mmhhh terimakasih suhuu, tulisanmu ini membuatku mengerti jalan lurus dunia ini..
    Smoga amal ibadahmu diterima di sisiNYA (penulisan "di" & "NYA" bener ga broo.haha)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berlebihan. Sampe dipanggil suhu. Celcius, apa Reamur? :D
      Anjirrrrrr. Dikira mati.
      Mungkin sisi-Nya.

      Delete
  28. Postingan yang memotivasi, supaya bisa menulis lebih baik dan memperhatikan EYD. Timi editor yang baik ya hehe
    salah nulis dei chatt aja di benerin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe iya. Gue bagikan lagi ilmunya. Supaya bermanfaat. :))

      Delete
  29. nah kan. ternyata banyak korbannya. makanya kalau chat sama tiwi gua selalu make grammar yang bener. haha. ini kok jadi ngomongin tiwi ya?.
    komentar ini gak perlu direvisi kan? banyak sih eyd yang salah. tapi males gua benerin. haha

    ReplyDelete
  30. keren juga bisa nulis eyd gara-gara mbak tiwi,
    gue sering liat komen-komennya di beberapa blog. emang pedes banget..
    hmm, rule of three ini kayaknya ada di beberapa part bukunya alit yak..

    ReplyDelete
  31. Pengen banget jadi penulis, bagi aku menjadi seorang penulis itu asik, bisa curahin isi hati atau yang lain-lainnya. Dan speak2 ada benernya juga itu kata tiwi mas yog hehehe

    ReplyDelete
  32. Yoi, makasih banget artikel blajar menulis EYD nya, Bang. :)))

    Untuk penulisan setelah titik huruf kapital, biar nggak capslock mulu, mending nulisnya di word dulu. Terus tes konten unik, baru publish post. #ceritanyainitips :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama. :D
      Nah! Tulis di Ms. Word dulu lebih asik. :)

      Delete
  33. Kereeen. Kayaknya ini kunjungan pertama yang langsung terasa kayak nonjok otak.

    Setuju buat penggunaan kata 'di' yang sering salah. Kualitas juga seharusnya diperhatikan, bukan kuantitas doang. Kalo soal komedi, aku sering bingung ngasi punchlinenya. Makanya aku lebih sering pake rule of three doang. Tapi, sekarang udah mulai belajar buat ngatur punchline.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe. Makasih udah bilang keren. :)
      Semangat belajarnya! Gue juga masih belajar.

      Delete
  34. tiwi emang kejam. biasa, editor kan kayak gitu.

    gue lagi berusaha nulis EYD juga nih. tapi, yah masih banyak salahnya sih.
    jujur, gue baru tau kalo penulisan tentang komedi itu ada rumusnya gitu. sebelum''nya, gue nulis ya asal aja. ternyata ada rumusnya. manfaat nih, yog tulisan lo. tumben.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya lu kan udah kenal duluan, Zi. Gitu, deh.
      Wakakak, iya sesekali nulis yang bermanfaat.
      (( TUMBEN ))

      Delete
  35. Mantep gan. ane sampai terharu melihat postingan agan. Oke mulai saat ini ane mau memperbaiki tulisan ane, gan. Syukron !

    ReplyDelete
  36. Pas banget, EYD gue masih banyak yang kacao XD hahaha

    ReplyDelete
  37. Mau dong, dikejamin Kak Tiwi :)))

    ReplyDelete
  38. Mbak Tiwi :' ngeri banget editor satu itu :D

    Tapi disisi baiknya, dia bisa ngajarin lu dan lu bisa ngoreksi kesalahan dalam tulisan gue Mas Yog. Kece deh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi capek juga ngoreksi tulisan di blog. Mending hal yang lain aja yang dikomentarin. Gue khilaf waktu itu. :)

      Delete
  39. Nidurin ce tapi di hipnotis dulu yaaaa !!! Hmmm kayak nya boleh di coba #BelajarHipnotis

    ReplyDelete
  40. Hahah.. Aku sukak senyum kalok nemu typo. Dulu sih sukak negur, tapi sekarang uda ngga pernah lagi. Mungkin karena kadar kepedulian ku uda berkurang. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya enggak terlalu mempermasalahkan. Cuma berbagi pengetahuan aja. :D

      Delete
  41. Oke, sip, harus hati-hati kalo nulis sekarang :D..

    Aku juga masih banyak banget salah kalo nulis Mas. Apalagi kalo nulis komen, biasanya aku ga terlalu merhatiin EYD. Cuma kalo di blog, sebisa mungkin aku cek dulu sebelum posting... Kayak di, ke, dari, ato singkatan2. Masih banyak kelewat, pasti ;p Namanya belum pro... Makanya masih butuh banyaaaaak banget kritikan :)

    Baca blogmu, (dan bakal baca punya Tiwi juga ntr), aku jadi belajar banyak. Kalo selama ini nulis suka ngasal, jadi hati-hati abis baca ini.. Bener kok kata Tiwi, semua demi kebaikan tulisan kita sendiri :) Mending tulisan cuma sedikit tapi berkualitas, daripada banyak tapi ga menarik ;p..

    Kalo tentang komedi, sama tuh.. Aku belum bisa dan ga mau maksa masuk ke genre itu. Blog komedi fav ku ampe sekarang masih travelerkere(dot)com. Itu sumpah lucu dan sukses bikin aku ngakak kalo lagi bosen di kantor ;p . Susah ih nulis komedi... Jauh lebih mudah nulis hal-hal biasa daripada cerita yang niatnya ngelucu, tapi hasilnya buat orang lain malah garing ;p Jadi intinya, nulis sesuai kebiasaan dan hobi kita aja deh... Cerita jadi lebih ngalir, dan enak dibaca.. ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komentarmu, Mbak. Ya Allah. Panjang bangeeeetttt..
      Iyaaaaa, gue juga masih bertahap dan bakalan terus belajar ini. Supaya lebih baik lagi dalam menulis. :)
      Kalo aku lagi belajar menulis komedi. Gapapa awalnya garing. Yang penting niatnya untuk menghibur. Bukan untuk melucu. Dan kebanyakan tulisan gue juga natural, sih. Paling dibikin ngaconya dikit.

      Delete
  42. Komentarnya mbak Fanny itu bisa jadi satu post di blog. Hehehe

    Kece mas Yog. Nulis selain harus konsisten, juga harus ditingkatkan. Ben greget, jare mas Kaesang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Iya, bisa-bisa satu post itu. :D
      Harus selalu ditingkatkan. ( BEN GREGET )

      Delete
  43. Sebulan curhat sama tiwi udah bisa jadi penulis kali yak, tiap chatting harus pake EYD gitu. Sulit sulit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Jadi penulis nggak segampang itu juga. :)
      Kalo udah terbiasa asik. :D

      Delete

Terima kasih sudah membaca.

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan....

Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.