Maaf banget kalau judul tulisan kali ini nggak jelas. Iya, pemikiran gue emang selalu random. Jadi, sering ngaco begini deh.

Nanti malam kita akan merayakan tahun baru 2016. Jujur, ini rasanya kecepetan buat gue. Karena eh karena, resolusi gue di tahun ini masih banyak yang belum tercapai. Tapi, ada beberapa juga yang berhasil. Oleh karena itu, gue pengin coba menuliskan apa saja yang sudah tercapai:


Cekidot.

Satu. Segala tentang blog.
Read More
Ada yang tahu Widy?


Kalau pertama kali baca judul yang terlintas di pikiran, atau kalian menebak tulisan ini tentang Widy mantan vokalis Vierra....

Itu salah!

Karena memang bukan.

Jika kalian juga berpikir kalau Widy itu salah satu dari anggota Cagur....

Nah, ini lebih salah. Emang ada ya Widy Cagur?
Wendy woy!

Oke, daripada bermain teka-teki begini, lebih baik gue akan memberi tahu atau bercerita ke kalian.


***
Read More
Dari malam Minggu sepulang kuliah, gue mulai merencanakan untuk CFD (Car Free Day) ke Bunderan HI pada hari Minggunya. Iya, sudah berbulan-bulan gue tidak melakukan aktivitas olahraga seperti yang pernah gue ceritakan di Catatan Hari Minggu.

Meskipun nggak ada temen yang bisa diajak CFD, bagi gue tidak jadi masalah. Karena niat gue ialah berolahraga supaya badan sehat. Siapa tahu kalo olahraga sendirian nanti malah ketemu jodoh. Ihiyyy. Ini mulai berharap dan berkhayal yang bukan-bukan.

***

Minggu pagi sekitar pukul 5 gue terbangun dan segera Subuhan. Setelah itu, langsung berganti pakaian. Iya, gue nggak mandi (maaf terlalu jujur). Gue mengenakan kaos hitam polos, celana pendek hitam, dan jaket Manchester United warna hitam pula. Sumpah, gue tidak berniat untuk menghadiri pemakaman. Namun, itu karena salah satu mantan gue pernah ada yang bilang, “Yog, kamu kalo pake baju item ganteng, deh.”
Read More
Hari ini udah Senin lagi.
Gilaaaa. Cepet banget.

Monday! Sumber: INI


Banyak orang yang bilang, “Senin ke Minggu itu rasanya lama banget. Giliran Minggu ke Senin itu cepetnya pake banget-banget. Double banget. Ah, pokoknya pengin buru-buru Sabtu.”

Mereka seperti komplain akan hari Senin.
Nggak adil, sih, menurut gue. Mentang-mentang habis Minggu itu Senin. Dan Senin itu hari di mana orang-orang mengawali hari.

Anehnya, kenapa cuma hari Senin yang dikeluhkesahkan?

Read More
Ada yang tahu istilah out of the box?



Hm... kayaknya kalian semua udah pada tau. Tapi biar bagaimanapun, gue akan mencoba membahasnya dari sudut pandang gue.

Mari kita mulai.

Berpikir out of the box artinya ialah berpikir yang keluar dari kotak. Maksudnya bukan berdiam diri sambil berpikir berjam-jam di dalam sebuah kotak—biasanya kardus atau lemari juga boleh—,terus setelah beberapa jam kemudian akhirnya keluar dari kardus itu karena telah menghasilkan ide-ide kreatif.

Bukaaaan weyyyy. Bukan.

Oke, maaf.

Jadi, maksudnya adalah bagaimana kita berpikir yang keluar dari sebuah kotak. Menjadi tidak seperti biasanya. Memiliki pemikiran yang berbeda seperti kebanyakan orang—in the box.
Orang yang berpikiran in the box tidak suka dengan hal yang aneh-aneh. Mereka lebih suka menjadi pengikut. Males menciptakan sesuatu yang baru. Pokoknya biasa melakukan hal-hal monoton deh.

Nah, out of the box ini sebaliknya dari itu. Bahkan orang-orang out of the box terkadang suka dikatain orang gila.

Read More
Akhirnya Minggu juga. Wuhuuu.

Bagi sebagian orang, semalam itu (malam Minggu) katanya ialah malam yang terindah di antara malam yang lainnya. Sedangkan bagi sebagian yang lain, adalah malam paling buruk dan terpanjang dari malam-malam di hari lain. Tapi tetap, malam yang paling baik adalah malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. ALLAHU AKBAR YOGA ISLAMI BANGET!

Biar bagaimanapun itu, hari ini sudah Minggu. Selamat atas keberhasilan kalian wahai jomlo karena telah melewati malam Minggu dengan tabah. Selamat juga kepada kalian yang wahai pacaran, gimana tuh rasanya semalam? Nikmat? (ini maksudnya apaan wey?!)

Makan gitu ceritanya. Makanannya terasa nikmat, nggak? Gitu. Ah, kalian pasti mikir mesum nih!

Oke, skip.

Tulisan gue kali ini hanyalah sebuah catatan kecil mengenai hari Minggu. Entah kenapa gue pengin banget menuliskannya. Well, gue memang resah sama hari Minggu ini.

Read More
Mulanya berawal dari obrolan sepulang kuliah. Gue, Aldi, Arief, Saddam, Ria, dan beberapa teman lain (takut kebanyakan orang kalo disebut semua) sedang malas pulang dan masih duduk-duduk di sekitaran kampus. Namun, beberapa teman yang cewek memutusan untuk pulang. Ya, mungkin udah dijemput cowoknya dan lanjut malam Mingguan, kecuali Ria (makanya disebutin).

Kami memang sudah hafal atas kemacetan Pamulang setiap jam pulang kampus: pukul 5 atau setengah 6 sore. Maka dari itu, kami akan menunggu hingga selesai salat Magrib atau bahkan sehabis azan Isya. Biasanya menghindari macet dengan nongkrong atau makan-makan.

Iya, kami tipe mahasiswa kunang-kunang. Kuliah-nangkring-kuliah-nangkring.

“Kayak biasa, ya. Nongkrong dulu kita,” ujar Aldi ke teman-teman.
“Oke,” jawab anak-anak.
“Ng... gue gak bisa kayaknya deh,” kata Ria.
“Kenapa? Mau jalan sama cowok lu?” tanya Arief sewot.
“Ciyee malem Mingguan,” ledek gue.

“No. I don’t have money,” kata Ria sok berbahasa Inggris.
“I don’t have enough money kali,” kata gue sotoy dan bermaksud membenarkan.
“Oh, iya maksudnya itulah!”
Read More
Kemarin itu katanya Hari Guru. Bener emang, ya?

Anjir. Udah lama nggak sekolah, gue jadi nggak inget tanggal gini. Biasanya kalo di sekolah, kan, ada upacara gitu. Kemudian setelah upacara nggak perlu belajar. Nah, ini favorit banget buat para siswa-siswi. Biasanya sekolah juga mengadakan perlombaan atau olahraga: guru melawan murid-murid.

Pokoknya di Hari Guru ini, sekolah membebaskan para siswanya untuk melakukan apa saja: murid boleh mainan hape di kelas; murid boleh ngobrol dan ketawa kenceng-kenceng; murid boleh jadi guru.
Oke, yang terakhir kayaknya nggak mungkin.

Karena sudah lama lulus sekolah, gue cuma bisa memeriahkan Hari Guru ini di Twitter dan blog. Namun, kemarin gue nggak sempet nulis apa-apa di blog. Di Twitter juga twit gue nggak jelas. Huft. Barangkali ada yang mau follow, @ketikyoga

***
Read More
“Terus kenapa kalo jomblo?”



Bentar, sebenernya yang bener itu jomblo apa jomlo, ya?

Kita dari dulu terbiasa dengan kata jomblo dengan huruf “B”. Namun, beberapa penerbit mulai menggunakan ‘jomlo’ tanpa “B” agar sesuai KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).  Ah, apa pun itu... yang penting minumnya es teh manis warkop (karena lebih murah dan kalo teh botol sosro takut disangka iklan).

Iya, emang nggak nyambung. Bodo amat lah. Huwahaha. Btw, sekarang gue tulisnya ‘jomlo’ aja, yak.

Lanjut.

Itu adalah pertanyaan temen gue, Agus, beberapa tahun yang lalu saat gue menanyakan “Nggak pengin punya pacar? Kenapa jomlo terus?” Dan dia malah menjawab seperti itu dengan pertanyaan lagi.

Gue langsung flashback ke masa tersebut.

Read More
Ada yang pernah nemenin ceweknya belanja? (buat cowok-cowok). Kalo bagi yang jomlo, pernah nemenin saudara perempuan atau ibunya belanja? Sedangkan yang cewek, ada yang hobi belanja? Nah, kalo yang cewek nggak suka belanja, pernah nemenin temennya belanja?

Bentar-bentar, emang ada cewek nggak suka belanja?

Oh, ini tidak mungkin. Belanja itu biasanya membuat mood seorang cewek seketika membaik. Bener, nggak? Ngomong-ngomong soal nemenin cewek belanja, gue sendiri pernah melakukan itu. Baik itu bersama nyokap, pacar, ataupun nyokapnya pacar (oke, yang terakhir boong).

***

Gue masih ingat betul, kala itu habis makan di restoran ayam cepat saji sama Pacar karena kelaparan setelah menonton film Captain America. Selanjutnya, ia minta ditemani ke toko jam untuk mengganti baterai jam tangannya. Setelah urusan jam tangan kelar, ia tidak sengaja melihat kerumunan orang-orang dan tulisan diskon 70% pada sebuah toko sepatu.
Read More
UDAH MEPET DEADLINE BELOM KELAR JUGA. ASTAGFIRULLAH. Jerit gue dalam hati.

Seandainya itu deadline untuk novel, pastinya gue akan bahagia dan semangat sekali. Tawarin aku nulis novel dong, kakak penerbit (maaf ngarep).

Namun sayangnya, itu hanyalah deadline tugas kuliah. Iya, gue lagi ngerjain makalah nih. Eh, gue malah mencuri-curi waktu untuk ngetik tulisan ini. Mana besok pagi wajib dikumpul. Nggak wajib, sih, sebenernya. Nggak ngumpulin juga gapapa. Bebas! Asalkan pas dikasih nilai E sama dosen jangan protes.

Tugas aja dikerjain terus, tapi ibadah ditinggalin. Nggak ngerjain tugas hukumannya paling nilai jelek atau dosen ngomel-ngomel. Coba kalo ibadah nggak dikerjain, hukumannya apa tuh?

Asoy.
Read More
Di tulisan Yang Kedua kemarin, saat baru membaca judulnya, mungkin di antara kalian ada yang mencoba menebak-nebak apa isi tulisannya. Entah itu menganggap tulisan tentang gue jadi orang yang kedua (selingkuhan). Atau tentang bunyi Pancasila yang kedua: “kemanusiaan yang adil dan beradab” (ini nggak mungkin, Yog!)  Namun, bukan itu. Maksudnya adalah ulang tahun yang kedua sekaligus kepergian adik gue dua tahun lalu.

Barangkali ada yang belum membacanya. Boleh baca dulu (tetep promosi).

Selain menuliskan cerita, bagian yang paling seru dari ngeblog ialah membaca dan merespons komentar-komentarnya. Lihat tanggapan pembaca yang berbeda-beda itu seru aja. Gue salut kalo ada yang tiba-tiba ikutan curhat di kolom komentar. Mungkin sebagian tulisan gue ada yang mewakili perasaannya. Seneng saat diberikan pujian atau apresiasi, tapi lebih seneng lagi kalo ada yang berani kritik. Sehingga gue tau di mana letak kekurangan tulisan itu. Apalagi kalo ada komentar yang nggak nyambung, itu malah jadi kelucuan tersendiri buat gue.

Namun, saat baca-baca komentar kemarin, gue sendiri bingung mau respons apa. Tumben banget. Jadi misalkan ada yang kecewa sama balesan komentar gue yang singkat-singkat itu, gue minta maaf.  Eniwei, makasih banyak ya, Gaes.

Jujur aja, gue awalnya ragu untuk mem-publish tulisan itu. Penginnya cuma gue simpan di draft untuk dibaca-baca sendiri. Tadinya tulisan itu juga tidak ingin gue tambahkan komedi. Gue biarkan saja mellow. Namun, emang dasarnya gue yang kebiasaan memberi bumbu komedi, maka begitulah tulisan gue.
Read More
Sudah 2 tahun berlalu, semenjak gue kehilangan seorang adik. Enggak. Adik gue nggak nyasar, kok.  Dia juga nggak diculik. Apalagi menghilang saat memakai cincin seperti di film The Lord of The Rings.

Halah.

Baiklah, gue akan memulai cerita ini.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 21 Oktober 2015, Agus (nama seorang temen yang disamarkan) berulang tahun. Setahun sebelumnya di tanggal yang sama, (21 Oktober 2014) Agus mengajak gue dan teman-teman lainnya untuk makan-makan di sebuah restoran—yang gue lupa namanya.

Tanggal segitu seharusnya lagi hemat-hematnya, tetapi di hari itu gue bisa makan enak. Alhamdulillah. Gue sangat gembira karena bisa makan gratis di saat uang tiris. Mantap!
Sampai akhirnya, di jalan mau pulang, memori di tahun sebelumnya (21 Oktober 2013) mengubah mood gue seketika. Rasa gembira itu kemudian sirna.

Read More
Udah lama banget gue nggak pernah ketiduran. Namun, Senin kemarin, begitu pulang kerja freelance, gue mengalaminya. Nggak inget mimpi apa, dan tiba-tiba kebangun sudah di hari berikutnya. Sungguh pencapaian yang sangat luar biasa! Biasanya, gue beranjak tidur, lalu terbangun masih pada hari yang sama. Begitulah manusia nokturnal yang tidur selalu di atas jam 12 malam.

Ketiduran. Oh. Nikmatnya.

Bagi sebagian orang yang sulit tidur, ketiduran itu memang jauh lebih nikmat daripada menidurkan seseorang (ini gue belum pernah ngelakuin, tapi sotoy!).

Kembali ke soal ketiduran. Begitu pulang dari kantor, sampe rumah gue nggak sempet buka blog, nggak sempet nulis buat posting-an baru, dan nggak sempet baca doa tidur juga. Sumpah yang terakhir itu penting banget.

Masya Allah. Allahu Akbar!
Read More
Wih, nggak terasa udah hari Jumat. Berubah ganteng nih gue habis salat Jumat. Iya, gantengnya pas Jumat doang, selain itu kembali ancur. Sesuai janji gue di tulisan YANG INI, berarti sudah tiba saatnya untuk mengumumkan pemenang kuis. Sebelumnya, gue berterima kasih banget sama para pembaca yang udah berpartisipasi. GILAAAAA. GUE NGGAK NYANGKA BAKALAN RAME YANG IKUTAN.

Eh, maaf capslock kepencet.

Kalo kata Alam, ini kolom komentar gue udah kayak konser Bring Me The Horizon. RAME BANGET! Mungkin aja mereka pada headbang, terus moshing, ada juga mungkin yang keinjek-injek dan mati.

Astagfirullah.
Read More
Sebelum memulai tulisan kali ini, ada baiknya gue mengucapkan basmalah. Bismillahirrahmanirrahim.

Sebagai blogger, gue kayaknya harus bikin tulisan di Hari Blogger Nasional deh. Biar nggak dicap sebagai blogger murtad. Tentunya, gue juga ingin mengucapkan selamat Hari Blogger Nasional kepada temen-temen blogger semua. Selamat Hari Blogger Nasional kawan-kawan. Ayo update blog setiap minggunya. Jangan kecewakan pembaca setiamu.

Asoy banget.

Di postingan sebelumnya, gue membuka tulisan dengan mesum, sekarang pake basmalah dan selamat Hari Blogger. Yoga memang pencitraan. Bangs*t!

Mari mulai masuk ke tema.

Mumpung lagi Hari Blogger Nasional, kayaknya seru aja gitu bahas hal-hal yang berkaitan dengan blog. Oke, langsung aja.

Awalnya, gue mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di postingan Farih yang ini: Pertanyaan Untuk Blogger.

Nah, jawaban gue itu ternyata panjang banget di kolom komentar. Panjangnya mirip-miriplah sama Tembok Raksasa di Cina (padahal gue belum pernah ke sana). Jadi, mendingan gue bikin tulisan blog aja. Oke kalo gitu, mari simak pertanyaan dan jawaban berikut ini. Kali ini gue jawabnya bakal serius. Kalian nggak akan nyengir ataupun ketawa pas baca tulisan gue. Hehe. Mohon maaf sebelumnya.

Satu. Di dunia blogging, kelihatannya kalian itu udah akrab banget di antara satu blogger dengan blogger yang lain. Emangnya udah saling kenal secara real?

Jawab: Di zaman yang udah semakin canggih ini mendapatkan teman itu gampang banget. Nggak perlu kenalan langsung dan tatap muka lagi. Sekarang tinggal klik add atau follow udah bisa temenan.

Termasuk dalam dunia blogging. Nyasar ke blog orang, terus malah akrab. Kalo gue sendiri, sih, awalnya kenal secara dunia maya. Cuma iseng mampir ke blog orang, terus lama-lama malah saling mengunjungi blog (dibaca: blogwalking). Ada juga yang sok akrab maupun sok kenal. Gapapalah itung-itung silaturahmi.  Akhirnya, entah ada bisikan gaib dari mana, gue pun gabung ke sebuah komunitas.

Kebetulan banget di komunitas itu ada kopdar tiap regionalnya. Gue sendiri tinggal di Jakarta. Jadi, ada beberapa blogger Jakarta yang udah pernah ketemu gue secara langsung. Makanya bisa akrab di dunia blogging. Sejauh ini, sih, baru Jabodetabek aja. Semoga ke depannya bisa kopdar juga sama regional lain. Aamiin.

Ditanya apaan, jawabnya malah panjang. Dasar si Yoga geblek!

Dua.  Apa, sih, tujuan kalian bikin blog?

Jawab: Awalnya tuh gini. Hmm... ceritain kagak, ya? Gue takut terdengar seperti cerita cengeng. Hahaha. Dulu banget, gue ngeblog itu cuma iseng aja. Tepatnya buat pengalihan agar bisa move on karena pacar gue selingkuh. Gue bingung, dengan cara apa melampiaskan kekecewaaan sebuah patah hati. Kalo mabuk-mabukan, itu bukan gue banget. Boro-boro mabuk, minum Tebs 2 botol aja gue langsung pusing. Gue maunya menumpahkan rasa kesal gue ke hal yang positif. Bukan malah bales dendam nyakitin cewek gitu. Eaakkk.

Sampai waktu itu khilaf baca blog Raditya Dika, terus beli salah satu bukunya dia. Pas gue baca-baca, kayaknya seru banget curhat dalam bentuk tulisan. Hal-hal yang sedih dan miris, terus bisa diketawain bareng-bareng. Jadi kalo ditanya tujuan awal gue bikin blog, gue cuma iseng-iseng doang. Eh, sampai saat ini keterusan dan keasyikan nulis deh. Jadi, tujuan gue mulai berubah untuk belajar menulis dan berbagi cerita.

Lama-lama juga mulai punya tujuan mencari duit lewat blog. Di antaranya:  Adsense. Tapi sayang, udah dua kali diblokir gegara ada jingling. Bisa kalian baca di tulisan yang INI. Terus sempet dapet job review. Lumayan banget, satu tulisan di blog bisa dibayar 100-300 ribu. Untuk blogger yang lebih terkenal satu artikel bisa jutaan. Hehe. Sayangnya, sekarang udah jarang dapet job review (tawarin aku dong, Kakak).

Gue pikir-pikir, rezeki bisa dari mana aja. Nggak harus dari blog. Mungkin aja emang belum rezeki. Tapi kalo kalian ada yang mau ngasih donasi untuk mendukung blog ini boleh banget, kok (taaee ini ngarep).  Ya udahlah, kembali ke tujuan awal: belajar nulis dan berbagi. :))

Tiga. Apa sih yang bikin kalian semangat nulis?

Jawab: Lihat coba deskripsi blog gue. :))

Empat. Kalian ngapain biar dapet ide posting tulisan?

Jawab: Awalnya mah gue curhat aja kejadian selama seminggu ini. Masa dalam seminggu nggak ada kegiatan apa-apa, sih? (meskipun seminggu kerjaannya cuma tidur-tiduran doang). Paling sering dapet ide biasanya blogwalking. Bisa juga dengerin musik, baca buku, nonton film, atau hangout sama temen-temen. Topik obrolan temen ini bisa dijadiin tulisan. Jongkok di toilet sambil fokus (baca: boker), bersepeda, atau jogging juga bisa. Kata orang olahraga itu bikin bahagia. Dan biasanya sering dapet inspirasi dan ide tulisan. Ah, pokoknya banyak banget.

Lima. Kalo postingan kalian yang baca sedikit, kesel nggak?

Jawab: Sejujurnya, kesel. Ah, tapi itu dulu. Dari 2014 gue udah mulai konsisten nulis, tapi tetep nggak ada yang baca. Sedih rasanya dan hampir frustrasi. Cuma akhirnya balik lagi ke tujuan utama gue nulis: berbagi cerita. Ada yang baca syukur, nggak ya udah. Gapapa. No comment, no cry. Keep blogging! Hehe. Intinya kalo ngeblog dengan tulus aja. Konsistensi dan persistensi juga jangan lupa. Insya Allah kalo tulisannya menarik pasti ada pembacanya sendiri. Caileh, gaya amat bahasa gue.

Enam. Gimana perasaan kalian kalo komen di satu blog dan nggak direspons?

Jawab: Setiap hal yang nggak mendapatkan respons itu pahit, ya. Apalagi nggak direspons sama orang yang disuka.

Loh, kok malah gini?

Rasanya kesel. Itu pasti. Apa salahnya coba merespons seorang pembaca? Bukankah tanpa pembaca blog itu jadi nggak berarti? Interaksi sesama blogger justru yang penting. Gue komen juga nggak sembarang kayak: "Nice post!"; "Tulisannya bermanfaat, makasih, ya”; “Baru mampir langsung suka sama tulisannya."

Gue enggak begitu. Gue pasti usahain baca sampe habis dan memberikan komentar yang pas. Tapi... ya udahlah. Hak yang punya blog mau bales atau nyuekin komentar gue. At least, gue nggak mau berbuat demikian. Tetep berusaha menghargai pembaca yang udah komen. Nggak mau ngecewain mereka, meskipun sering dikecewakan. Halaaaahhhh.

Tujuh. Blog gimana sih yang kalian suka kunjungi?

Jawab: Blog gue sendiri dong. Eh, enggak-enggak. Anjir. Pede amat gue.

Gue lebih suka blog yang personal. Bahasanya santai gitu. Pokoknya personal itu yang utama. Tapi sekarang mah apa aja gue coba baca. Blog yang tulisan fiksi mulai suka. Puisi juga boleh. Intinya yang tulisannya menarik dan empunya blog peduli sama kualitas tulisannya. Apalagi kalo ada komedinya. Lumayan, bisa sambil belajar. Hehehe. :D

Delapan. Yang cowok senengnya sama blog cewek dan cewek senengnya sama blog cowok. Gitu?

Jawab: Nggak juga, ah. Siapa aja kalo gue. Blogwalking nggak pernah milih-milih ke yang cewek-cewek doang. Tapi anehnya, kebanyakan cewek-cewek malah yang sering ngunjungin blog gue. 

Bangkaaayyy gue pede banget ini.

Kebanyakan emang ada yang begitu, sih. Soalnya pas maen ke blog cewek (lawan jenis) lumayanlah bisa godain dikit. Siapa tahu jodoh. Oke, ini kayaknya udah nggak bener.

Sembilan. Gimana sih pendapat kalian sama blog yang kanan kiri atas bawah isinya iklan semua?

Jawab: Selama itu tidak mengganggu gue saat membaca tulisannya, ya santai aja. Kadang klik iklannya sekali dua kali. Bantu-bantu rezeki orang. Mereka, kan, dapet pemasukan dari situ. Kecuali yang bener-bener nutupin konten, nah gue langsung close tab deh tuh. Ganggu banget. Bodo amat deh.

Sepuluh. Kalo ada onlineshop yang komen di tulisan kalian, gimana?

Jawab: Kalo cuma satu-dua doang masih wajar. Kampretnya, banyak yang nyebar link dan asal komen doang. Nah, yang kayak gitu paling gue hapus. Biasanya tukang obat nih (maaf yak, gue terlalu jujur). Kesel aja si tukang obat komen berkali-kali, bisa 3-7 komentar. Mana orangnya itu-itu aja, kan? Mereka pasti satu admin. Rasakanlah. Komentar kalian masuk ke spam. Oke, Yoga jahatttttt. XD

Dan yang terakhir. Kalian baca blog orang karena emang suka tulisannya apa cuma gara-gara orang itu udah baca dan komen di blog kalian? Jadi kalian nggak enak kalo nggak berkunjung balik.

Jawab: Tergantung, sih. Biasanya gue ngunjungin blog yang udah gue follow. Kan, setiap ada tulisan baru masuk ke beranda. Terus cek ke daftar blogwalking, satu-satu gue kunjungin blog-nya. Cek ada tulisan barunya nggak. Kalo nggak ada, baca tulisan yang lama juga gapapa. Tapi lebih sering gue berkunjung ke blog yang emang tulisannya bagus. Apalagi kalo dia orangnya asyik, ah... pasti betah main ke blog-nya.

Namun, belakangan ini gue yang sering dikunjungin duluan. Terus baru deh gantian kunjungin balik. Nggak ada hubungannya sama nggak enakan. Gue lebih ke saling menghargai sesama blogger. Tanpa pembaca, blog gue mah bukan apa-apa. Lagian, menjalin tali silaturahmi :D

Nggak terasa udah kelar. Uh, padahal cuma tanya-jawab aja. Tapi malah panjang banget kayaknya. Huwahaha.

Lupakan soal pertanyaan dan jawaban barusan. Balik lagi ke Hari Blogger Nasional. Nggak nyangka banget, gue yang dulunya dari SD, SMP, dan SMK paling bingung soal bikin cerita atau karangan setiap habis liburan sekolah. Sekarang malah hobi menulis. Bahkan berbagi cerita itu udah menjadi passion. Hidup penuh misteri juga, ya.

Terima kasih Tuhan, saya blogger. :D

***

Btw, di tulisan Kacau waktu itu gue punya jadwal tidur yang nggak keruan. Alhamdulillah, sekarang udah bisa bangun pagi dan ada beberapa kegiatan. Well, akhirnya gue sempet kerja part time di Kempes (sengaja disensor).  Alhamdulillah banget. Ya, meskipun hanya seminggu. Dan untuk kerjaan selanjutnya mesti nunggu panggilan dan project baru. Tapi kerjaan itulah yang menyelamatkan gue dari pengangguran selama setahun. Horeee nggak jadi anniversary setahunan jadi pengangguran dong nih? Ini gue harus seneng apa sedih, yak? Woahaha.

Gue juga lagi belajar ngedit Photoshop nih. Makasih Rizqi Alam udah bikin tutorial yang kece dan bersedia ngajarin gue tentang desain. Oleh karena itu, daripada gue nggak ada kegiatan malem-malem (seandainya insomnia kambuh), gue iseng bikin sebuah karya yang biasa saja.

Ini contoh karya gue:

Raisa sayang
Bebeb Isyana

Yang pertama namanya Double Exposure. Yang kedua namanya Efek Polaroid. Berhubung ini hari blogger nasional, gue pengin bikin kuis kecil-kecilan nih. Hmm, hadiahnya bukan pulsa atau uang kali ini. Tapi sebuah editan foto seperti gambar barusan. Ada yang mau ikutan nggak?

Caranya gampang banget. Kalian tinggal jawab 2 pertanyaan berikut ini. Jawaban paling menarik bakal jadi pemenang.

Pertama, apa tujuan kalian ngeblog? Lalu, kalau udah ngeblog dan pembacanya masih sedikit. Gimana kalian menyikapinya?

Kedua, apa alasan kalian mau main ke blog gue, bersedia baca tulisan gue sampe habis, dan meluangkan waktu berharga kalian untuk komentar di tulisan-tulisan gue?

Berhubung gue belum jago edit-mengedit dan ada beberapa kesibukan, maka hadiahnya hanya untuk 2 orang pemenang.

So, gue tunggu jawaban dan komentar kalian sampai hari Jumat pagi. Terima kasih sudah mampir ke blog ini.
Read More
"Kamu kenapa bisa telat?" tanya dosen.
"Hm... habis waktu itu lagi enak, Pak. Bapak juga nggak mau ngeluarin di luar. Telat deh."

Astagfirullah. Pembukaan tulisan gue kenapa bejat gini? Itu mah kasus dosen yang nganu sama mahasiswi. Buahahaha. Entah kenapa, kalo telat biasanya orang-orang selalu sangkut-pautin ke hal itu. Dasar mesum!

Jangan ikutan mesum dong. Nanti lahan gue apa?
Astagfirullah. Mesum dijadiin lahan. Mau jadi apa gue coba?
Read More
KACAU!

Hari ini gue bangun sekitar pukul 3 sore. Iya, sih, ini emang hari Minggu. Tapi nggak gini juga kelelawar! (karena bosen make kata kampret)
Keseringan ngomong atau nulis kampret, hidup gue malah jadi kayak kampret beneran. Gue kemarin nggak bisa tidur, baru tidur tadi jam 9 pagi. Ini mulai nggak bener. Dua minggu belakangan ini, hidup makin nggak karuan.

Pulang dari Bandung, awalnya gue semangat banget untuk memulai petualangan baru di Jakarta. Namun, setelah gagal dapet kerja lagi, sekarang gue pun sedikit down (sebenernya waktu itu udah sempet keterima, tapi... tar deh gue ceritain di blog).
Nggak terasa banget, udah hampir setahun gue jadi pengangguran. Nanti gue dapet penghargaan apa, ya, kira-kira? Biasanya, kan, kalo anniversary orang-orang dapet hadiah gitu. Halah! (mana ada setahunan jadi pengangguran)

Read More
Di tengah proses mengetik Tulisan Jelek memang beneran terjadi pemadaman listrik. Sumpah, itu bukan alesan gue mengulur-ngulur waktu untuk nggak update blog. Lagi asyik-asyiknya ngetik dan fokus menatap layar, tiba-tiba suasana gelap dan laptop ikutan mati.

“ARGGHHH MATI LAMPU!” kata gue, reflek berteriak.

Gue tahu yang bener itu mati listrik, tapi... ya, gue termasuk orang-orang yang biasanya menyebut mati lampu. Kalian juga kayak gitu, kan?

Begonya, laptop gue pas nggak pake baterai. Jadi, gue memang terbiasa kalo main laptop yang sekiranya lebih dari 2 jam-an pasti copot baterai. Mengingat tulisan yang udah lumayan banyak, gue panik karena belum di-save. Rasanya males kalo harus nulis dari awal lagi. Gue segera memasang baterainya. Saat itu gue memang lupa kalo Ms. Word ada penyimpanan otomatisnya. Norak banget gue kalo lagi panik.
Read More
“Tulisan lu jelek amat,” kata pikiran gue kepada diri gue sendiri.

Belakangan ini, gue semacam terkena gejala di mana tulisan yang gue tulis seperti nggak layak baca. Setiap nulis, biasanya selalu apa yang terlintas di kepala dan bisa ngalir dengan sendirinya. Bahkan, saking asyiknya menulis, gue sering komentar sendiri,

“Panjang amat tulisan gue.”

“Waduh, nggak berasa udah sejam aja.”

“Anjir, nasgor gue sampe dingin kayak di Kutub Utara.” (kayak pernah ke sono aje lu, Yog!)

Iya, terkadang gue ngetik sambil makan. Kalo udah fokus menatap layar jadi lupa kalo niat awalnya pengin makan (pantes lu kurus, Yog!).
Read More
Kalo ditanya “Siapa pahlawan kamu? Dan jasa apa yang telah dilakukannya?”, tanpa ragu gue bakalan jawab: Nyokap.

Iya. Soalnya gue bukan band Wali yang bisa menjawab “Nenekku Pahlawanku”. Terus gue juga bingung misalnya jawab seorang guru. Guru gue, kan, banyak. Kalo cuma satu yang ditulis, nanti takut yang lain iri. Lagian, kata orang-orang guru itu pahlawan tanpa tanda jasa. Oleh karena itu, ya gue milih ibu. Seseorang yang memang berjasa dalam hidup gue.

Jasa yang telah diberikan seorang ibu kepada anaknya itu banyak sekali. Gue nggak akan bisa menghitungnya. Kalaupun mau ngitung, sama aja kayak menghitung jumlah pori-pori di tubuh kita (siapa juga mau ngitungin?).
Read More
Tanggal 26-27 September 2015 diselenggarakan sebuah acara Hari Komunitas Nasional, tepatnya hari Sabtu dan Minggu kemarin. Lokasinya berada di lantai 3 (rooftop) Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan.

Sebagai anak yang pengin gaul nggak sibuk, gue memutuskan untuk hadir di hari Minggu. Tidak ingin datang sendirian, gue menanyakan ke beberapa temen di komunitas Jabodetabek. Hasilnya, hanya segelintir orang yang menjawab.

Gue janjian sama Darma, Karin, dan Nurul untuk naik kereta (commuter line). Kami janjian bertemu di Stasiun Manggarai jam 10.
Mengetahui kebiasaan mereka (sebenernya gue juga) yang suka ngaret, akhirnya kami baru mulai jalan dari rumah sekitar setengah 11.  Dan janjian untuk bertemu di Manggarai pun nggak jadi. Kami malah bertemu di Stasiun Tebet sekitar pukul 11 kurang lebih.

Setelah itu, kami berlima: gue, Darma, Karin, dan Nurul menaiki mikrolet 44. Itu orangnya baru empat woy! Oiya, satu lagi pacarnya Nurul: Paber (atau biasa dikenal dengan nama Andreas).

Saat sudah di angkot, terjadilah perbincangan,
“Jam 10 di Manggarai, ya,” kata gue sambil melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 11.20.
Mereka berempat juga ikutan melihat jam tangan sambil tertawa, “HAHAHAHA.”

“Eh, ini nanti turun di mananya?” tanya Darma.
“Wah, gue udah lama banget nggak pernah ke daerah sini,” kata gue.
“Apalagi gue,” tambah Karin.
“Kira-kira udah kelewatan belum, ya?” tanya Nurul.

Kami semua belum pernah ke Kota Kasablanka.

***

Keren juga ya mal ini pintunya bisa muter-muter. Batin gue saat pertama kali masuk mal.

Seumur-umur, gue baru tahu Mal Taman Anggrek yang pintunya bisa muter-muter. Ternyata, ada juga mal lain yang begitu. Apa nggak pusing itu pintu muter-muter terus?

Makluminlah, biasa main di warteg terus kakinya yang satu diangkat. Jadi, agak-agak norak kalo ngunjungin mal-mal baru.

Lupakan soal mal. Yang lebih penting, kami lupa acaranya di mana. Tidak ingin terjadi kesotoyan, kami bertanya kepada security. Setelah diberi tahu tempat percisnya, kami langsung menuju ke lantai 3.

Melihat banyak orang yang ikutan masuk ke tempat itu, kami menduga itulah tempatnya. Tanpa babibu, gue dan yang lainnya segera masuk untuk diperiksa oleh petugas keamanan yang berdiri di depan pintu.
Saat gue dan Karin sudah mulai melangkah masuk, tiba-tiba petugas satunya malah memberhentikan kami.
“Kalian pada mau ke mana?” tanya si petugas itu.
“Ke acara komunitas, Pak,” jawab kami kompak.
“Maaf... tapi ini gereja,” katanya. “Kalau mau ke acara yang komunitas di sebelah sana.”

MALU MAMPUS.

Tidak ingin menambah kemaluan (dibaca: rasa malu), kami langsung pergi dari tempat tersebut.

***

Akhirnya, sampe juga di depan pintu masuk acara HKN2015. Baru di depan aja udah lumayan rame. Baru juga dateng, eh udah ada beberapa orang yang bertanya-tanya dan menyuruh kami untuk mendaftarkan komunitas kami. Karena nggak tau apa-apa, gue cuma bisa bilang, “Oh, iya-iya. Nanti dulu, soalnya lagi nunggu ketuanya.”

Setelah itu, kami foto-foto di depan.



Sudah terlalu penasaran dengan acara itu, kami langsung masuk ke dalam (di mana-mana masuk pasti ke dalam. Ini bener-bener nggak menambah informasi).
Ketika sudah di dalam, kami segera melihat-lihat beberapa komunitas; komunitas batik, komunitas sosial donor darah, komunitas fotografi, dan lain-lain.
Komunitas dedek-dedek gemes kenapa nggak ada, ya? Kata gue dalam hati.

Ternyata acara Hari Komunitas Nasional 2015 ini membaginya menjadi 8 bagian:
1. Kesehatan (Health)
2. Pendidikan (Education)
3. Lingkungan (Environment)
4. Hak Asasi Manusia (Human Rights)
5. Gerakan Kepemudaan (Youth Movement)
6. Teknologi dan Media (Technology and Media)
7. Seni, Budaya dan Sejarah (Art,Culture and History)
8. Gaya Hidup (Lifestyle)

Pantesan kagak ada dedek gemesnya. Kecewa gue.

Namun, gue sebenernya tidak kecewa oleh hal itu, melainkan karena tempatnya yang kurang luas.
“Ekspektasi gue ketinggian nih,” kata gue ke Karin.
“Sama, Yog!” ujar Karin. “Ya udah, yang penting selfie dulu aja,” lanjutnya sambil mengeluarkan HP.

cissss
Jarak antar booth yang satu dengan yang lain memang terlalu dekat. Sehingga para pengunjung menjadi sesak saat menikmati acaranya.

Kami mampir ke booth Warung Blogger dan foto-foto untuk mengikuti kuisnya.

Dari kiri: Karin, Nurul, Andreas, Yoga, Darma

Cuma WB satu-satunya komunitas yang kami tahu. Oleh karena itu, kami memilih keluar dari tempat ini. Sebelum keluar, kami malah nyobain membuat batik karena penasaran.

Serius banget. Yang foto si Darma
Dan ini hasil karya gue:

batik ala yoggaas


Jelek banget. Wuahahaha.

*** 
Selesai membatik, kami pun memutuskan untuk salat. Tiba-tiba Dicky datang menyusul dan bertemu saat turun menuju masjid. Kami pun break salat Zuhur dan makan di kaepci sembari menunggu kedatangan Uni, Ucup, dan Adi.

Mereka datang satu per satu. Awalnya Uni, lalu kami masuk lagi ke tempat acaranya, lihat-lihat sedikit, dan keluar lagi.
Kemudian datang Ucup, lalu kami masuk lagi ke tempat acaranya, lihat-lihat sedikit, dan... ketahuan banget copas-nya. Saat ingin keluar lagi, datanglah Adi. Salaman, dan segera menuju ke masjid untuk salat Asar.

Kami juga sempat foto-foto sama admin WB.

Yoga, Darma, Karin, Dicky, Nurul, Uni, dan Nuri


Acaranya di lantai 3, sedangkan masjid di lantai LG. Yak, benar-benar bikin kaki copot. Karena bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja, kami memutuskan untuk menunggu sampai Magrib.

Melihat beberapa foto keseruan kami, Reza pun bilang berniat untuk datang di grup WA. Kebetulan rumahnya memang dekat dengan KoKas.

Setelah bertemu Reza, kami langsung naik lagi ke atas. Saat lagi menuju ke lantai 3, kami malah bertemu Uni, Nuri, Adi, dan Ucup yang membawa beberapa tentengan.
“Kok turun?” tanya salah satu dari kami.
“Iya, udahan,” jawab Uni. “Tapi yang lain masih pada buka, kok.”

Reza yang baru datang dan ingin mampir kestand WB, eh stand-nya malah sudah tutup. Sedih.
Mungkin dalam hatinya Reza berkata, “Ah, tak apalah, yang penting bisa kumpul-kumpul dan menjalin silaturahmi.”

Seandainya dia seperti itu, mulia sekali.

Kami semua pun mencari tempat makan di area UKM dekat Carrefour. UKM di sini maksudnya Usaha Kecil Menengah bukan Unit Kegiatan Mahasiswa. Apalagi Unit Komunitas Mesum.

Kami ngobrol-ngobrol sampe jam 8 dan setelah itu pulang.

***

Pulangnya, gue naik kereta lagi bersama mereka—teman-teman yang tadi kumpul di Stasiun Tebet. Di Stasiun Tanah Abang, gue dan Karin berpisah dengan yang lain.

Di sinilah hal kampret itu terjadi. Untuk menuju ke Palmerah (tujuan gue), dan Serpong (tujuan Karin) kami harus naik-turun tangga untuk mengejar kereta yang ada di seberang. Keretanya penuh banget. Hampir aja kami berdua ketinggalan kereta.

Karin naik ke gerbong khusus wanita. Dan gue berusaha berlari untuk naik ke gerbong yang biasa.
“Udah naik ke gerbong ini aja dulu, Yog. Udah mau jalan, nih,” kata Karin.
Mau nggak mau, sudi nggak sudi, gue pun segera naik ke gerbong khusus wanita. Setelah berada di dalam, ternyata banyak juga cowok-cowok yang naik di gerbong ini.

Lah? Aneh.

Dengan cueknya, gue langsung pegangan ke bulet-bulet (sumpah ini bukan dada wanita, maksud gue pegangannya untuk penumpang yang berdiri. Gue nggak tahu apa namanya).

Nggak berapa lama datang petugas keretanya. Dengan kejamnya ia bilang, “Tolong, bagi yang merasa cowok segera pindah ke gerbong sebelah.”
Sebagai cowok sejati, gue tidak terima dengan kalimat kampret itu dan langsung melangkahkan kaki untuk pindah ke gerbong biasa. Beberapa penumpang cowok juga segera pindah. Namun, gerbong sebelah penuh banget.

Gue malah berada di tengah-tengah. Antara gerbong khusus wanita dan gerbong biasa. Sumpah, ini ngeri banget. Gimana kalo sambungan gerbong ini putus? Astagfirullah. Amit-amit.
Lebih parah lagi, takut disangkain cowok yang setengah-setengah. Nah, itu jauh lebih mengerikan!

Hari Minggu gue gini amat ya Allah. HAHAHA. Ah, gapapalah. Yang penting bisa nulis pengalaman seru ini!

Tadinya tulisan ini mau diketik pada hari Minggu sepulang dari acara itu. Namun, saking capeknya gue malah ketiduran dan hari sudah berganti menjadi Senin.


Btw, gimana hari Minggu kalian? Oiya, selamat beraktivitas kembali. Semangat!
Read More
Gue jarang banget me-review sesuatu. Alesannya jelas banget... karena males. Eh, bukan-bukan. Karena gue emang belum jago untuk me-review. Namun, kali ini gue bakalan mencoba me-review sebuah blog: tirsme(dot)com. Ya..., tepatnya demi sebuah pulsa 100 ribu. Lumayan juga buat paket dua bulan. Eh, maaf-maaf, maksudnya demi meramaikan give away temen blogger.

Anjir. Baru pembukaan aja udah nyolot banget tulisannya. Nggak bakalan menang ini deh gue. Huwahaha. Bodo amat deh.

Pertama-tama mari kita mulai membaca basmalah.

Bismillahirrahmanirrahhim
Read More
Ke Jakarta aku akan kembali. Walaupun apa yang akan terjadi.

Kalimat pembuka barusan ialah sebuah potongan lirik lagu Koes Ploes, yang lagunya baru gue denger barusan. Ada yang tau lagunya, nggak? Nggak, ya? Payah. Hahaha.... Sama aja kayak gue. Baru tau sekarang. Tadinya gue iseng ngetik “Kembali ke Jakarta” di Google buat nyari gambar. Eh, malah keluar lagu itu. Bagus nggak keluar gambar cabe-cabean.

Maaf pembukaannya terlalu ngaco.

Yuhuuuu. Gue udah sampe Jakarta lagi nih. Cerita-cerita keseruan di Bandung-nya nanti aja kali, ya?
Selama 4 hari gue menikmati suasana kota Bandung, kini gue pun pulang ke Jakarta dengan pikiran yang segar. Sesegar udara Bandung di pagi hari. Caileh. (ceritanya masih kangen suasana Bandung)
Gue berangkat dari Bandung pada Kamis sekitar jam 9-an malem, dan tiba di Jakarta—rumah gue—pada hari Jumat, pukul 04.40.

Bukannya Bandung nggak begitu jauh, ya?
Read More
Habis baca tulisan Adi, seru juga ya nyeritain beberapa masalah ke dalam bentuk tulisan random dan nggak jelas. Gue juga sebenernya bingung mau bikin tulisan apa. Gue ngerasa semuanya saling tumpuk gitu. Terlalu banyak hal yang mengganggu pikiran dan bikin nggak fokus.

Makasih, Di. Tulisanmu menginspirasi gue.

Gue juga bakalan nulis yang nggak jelas (kayaknya semua tulisan gue nggak jelas, ya?).

Bodo amatlah.

Langsung aja!
Read More
Lebaran sudah berlalu dari beberapa bulan yang lalu, begitu pun juga bulan Ramadan. Namun, ada sebuah cerita yang belum sempat gue tuliskan. Karena udah kelamaan nggak ditulis, gue hanya bisa menuliskan beberapa hal yang gue ingat saja.

Semua berawal dari gue yang banyak waktu santainya (dibaca: nganggur) sedang membaca artikel dari website Nyunyu. Dari sekian banyak artikel, mata gue langsung tertuju pada judul ‘Quiz Ramadan Part 1’. Sebagai pecinta gratisan, gue pun langsung membaca isi artikelnya.

Ternyata kuisnya hanya menjawab pertanyaan dari menonton video Nyunyu tentang Orang Kaya Baru.

Setelah gue tonton videonya, gue segera memberi komentar. Lalu gue perhatikan, sudah banyak yang ikutan. Gue jadi pesimis untuk menang. Tapi gapapa deh, gue tetep usaha supaya dapet hadiah itu. Kalo ikutan kuis mah yang penting berpartisipasi dulu, kalo menang anggep aja itu bonus. Oiya, hadiahnya berupa kaos dan buku catatan.
Read More
Habis baca pos sebelum tulisan ini, gue langsung mengeluh dalam hati. Anjir, gue nulis apaan itu, sih? Astagfirullah.  Astagfirullah aladzim.
Anehnya, masih ada yang komentar pula. Hahaha. Makasih banget, ya!

Itu tulisan bukan karena gue nggak ada ide. Bukan. Kalo nggak ada kuota, baru bener. Namun, bukan itu masalahnya. Gue sengaja publikasi agar tercipta tulisan ini (bisa aja emang nyari alesan).
Ngomong-ngomong soal ide, kadang gue bingung sama orang yang suka ngeluh nggak punya ide untuk tulisan di blog.

Kalo nggak punya ide. Ya gali dong ide itu! Jangan cuma ditunggu aja.
Read More
Udah lama banget blog ini nggak terisi sama hal-hal fiksi. Ya, emang gue milih niche yang keseharian dan cerita pribadi, sih. Jadi, gue lebih fokus ke curhatan aja. Gue jadi lupa rasanya nulis fiksi, apalagi puisi. Kemudian gue pun iseng bikin kata-kata absurd ini.
Entahlah, ini namanya puisi apa bukan.

Artikan sendiri, ya!

Perutku terasa melilit
Kadang seperti dijepit
Read More
Semalem kalian mimpi apa, Gaes? Ada yang inget?

Kalo gue semalem mimpi... bentar-bentar, semalem gue mimpi apa, ya? Anjir, kok gue malah lupa.

Ya udah, gue mau nginget dulu. Sambil mengingat mimpi gue semalem, gue bakalan nulis beberapa hal tentang mimpi. Tenang aja, bukan mimpi basah, kok. Walaupun tadi pas ngecek ada yang basah-basah gitu.  Oke, itu maksudnya iler ya, bukan “itu yang aneh-aneh”. Kalian ini jangan mikir mesum dulu dong!

Biasanya, banyak cowok jomlo yang berkata, “Mimpi apa gue semalem, bisa duduk sebangku sama cewek cantik kayak gini di metromini?” ketika lagi naik angkot dan bertemu seorang cewek yang mirip artis FTV.
Read More
Sebentar lagi bulan Agustus akan berakhir, tapi sampai saat ini gue masih jadi pengangguran. Lah, malah curhat.

Lupakan kalimat pembuka kampret itu.

Dua jam sebelum tulisan ini gue ketik, gue sedang menonton pertandingan sepak bola antar RT. Pertandingan ini merupakan bagian dari perlombaan memeriahkan acara 17 Agustus-an. Walaupun tanggal 17 sudah lewat, kita tentu saja masih berada dalam euforianya. Masih ada beberapa wilayah yang menyelenggarakan perlombaan.

Ngomong-ngomong, yang barusan gue tonton adalah finalnya. Gue juga kaget, baru pertama kali nonton masa udah langsung final. Ya, selama ini pertandingan dilaksanakan pada hari Sabtu. Di mana hari itu gue kuliah dan nggak sempet nonton. Akhirnya, sekarang gue bisa nonton perlombaan sepak bola itu. Kebetulan RT 003—wilayah gue tinggal—adalah salah satu finalisnya.


Menurut gue, perlombaan sepak bola di daerah gue ini sangat tidak menarik. Iya, karena umurnya dibatasi. Maksimal umurnya adalah 14 tahun. Parah banget. Masa lombanya hanya untuk anak-anak aja. Terus remaja-remaja umur 15 sampai 20-an gimana? Diskriminasi umur nih. Ya habisnya, kan, gue juga pengin ikutan. Lalu kasihan juga kalo ada kakek-kakek bangka yang juga pengin ikutan lomba. Seharusnya kasih kesempatan kepada mereka agar bisa bahagia di akhir hidupnya.

Eh, maaf.

Sayangnya, gue datang terlambat saat menonton. Jadinya, sekitar lapangan sudah dipenuhi oleh para penonton dan gue pun nggak kebagian tempat duduk (padahal emang kagak ada tempat duduknya).
Gue berusaha mencari-cari celah yang kosong agar bisa ikut melihat pertandingannya. Akhirnya, gue menemukan satu tempat—yang belum terlalu ramai—di pojokan dekat tempat corner.

Gue menepuk pundak salah seorang laki-laki, “Udah berapa-berapa?” tanya gue.
“Baru mulai, kok. Masih kosong-kosong,” jawab orang itu.
Thanks.”

FYI, untuk mengatakan angka seharusnya bukan dengan kata “kosong”, tetapi yang benar adalah “nol”. Namun, karena kita sudah terbiasa dengan kata-kata itu dalam keseharian kita. Ya udahlah, anggep aja bener.

Ah, sok editor banget dah gue.

Pada babak pertama, pertandingan terlihat begitu membosankan. Sampai tim lawan berhasil mencetak gol, barulah tim RT 003 menjadi lebih semangat untuk menyamakan kedudukan. Para suporter mulai ricuh. Mulai menghina tim lawan dengan kata-kata kasar. Mereka begitu antusias dan bersemangat untuk mendukung tim RT 003.  Namun, gue sendiri malah tidak bersemangat. Karena ya... gue males aja jadi penonton. Pengin main juga. Pengin jadi pusat perhatian para penonton saat gue berhasil mencetak angka.

Halah. Sadar, Yog... sadar. Inget umur. Efek udah lama nggak pernah main bola gini, nih.

Tim RT 003 sudah berusaha melancarkan serangan, tapi tak ada satu pun gol. Babak pertama pun berakhir. RT 006 berhasil memimpin satu angka.

Sumber gambar: Kaskus

Read More
Pertama-tama, mungkin kalian udah pada tahu apa itu aplikasi bernama Instagram. Sudah banyak juga blog yang membahas ini. Bisa dibilang, kalo gue bahas tentang Instagram sepertinya ketinggalan zaman. Namun, gue akan tetap menuliskannya dengan sudut pandang dan gaya menulis gue.

Asyek. Sok iya banget ini.

Sumber: KLIK


Gue pertama kali bikin akun Instagram—atau yang biasa kita singkat IG—pada tahun 2013. Iya, soalnya baru punya HP Android di tahun itu. Eh, ternyata IG rilis perdana saat 6 Oktober 2010 (gue baru tau tadi pas lihat Wikipedia).

Read More
Tanggal 15, 16, dan 17 Agustus kemarin bisa dibilang sebuah long weekend. Cocok banget buat jalan-jalan.

Sehari sebelum 17-an, gue biasanya seru-seruan atau touring sama temen kantor. Lebih sering, sih, ke Puncak. Namun, tanggal 16 Agustus 2015 kemarin, gue sudah tidak bekerja. Jadi, gue nggak sempet liburan ke mana-mana.

Yelah, pamer amat jadi pengangguran, Yog!

Mungkin di antara kalian sudah baca cerita Sehari Sebelum Merdeka. Nah, gue akan melanjutkan kejadian setelah teleponan sama penipu yang cupu.

*Beberapa jam kemudian*

Sehabis salat Isya, para masyarakat RT 003—tetangga gue—mengadakan sebuah acara di malam 17 Agustus-an.
Gue yang baru banget mandi. Iya, di hari Minggu itu gue mandinya sekitar jam 8 malem. Gue emang males mandi di hari Minggu. Nggak ke mana-mana ini, toh. Lagian kalo gue wangi juga nggak ada yang nyium.
Read More
Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Ya, kalian semua sudah pada tau. Itu memang cuma kalimat pembuka aja. Berarti, sehari sebelum merdeka adalah 16 Agustus (anak SD juga tau kampret).

Di saat orang-orang banyak yang sedang lomba untuk memperingati hari kemerdekaan, gue malah masih ngulet-ngulet di kasur. Mandi? Boro-boro. Karena mandi di hari Minggu itu bisa dikucilkan dari peradaban.

Lagi asyik-asyiknya baca timeline Twitter, tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Ini nomor temen gue kali, ya? Mungkin mau ngajak hangout.

“Selamat sore.” Terdengar suara laki-laki.
“Hmm.” Gue mencoba untuk berbicara, tetapi tenggorokan gatel.
“Selamat sore, Pak,” kata orang itu dengan suara agak gugup.
Read More
Saat beranjak tidur dan memejamkan mata, sering kali ada pertanyaan-pertanyaan yang bikin kepala gue kacau. Iya, sebelum nyenyak,  pasti ada berbagai pertanyaan yang sangat mengganggu.
Baiklah. Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu akan gue tuliskan di sini.


sumber gambar : INI

Kenapa kamu akhir-akhir ini menjadi orang yang malas? Kegiatanmu lebih sering diisi dengan tidur dan tidur-tiduran sambil main hape. Saat di pagi hari, kamu hanya melaksanakan kewajibanmu: Subuhan. Setelah itu, malah langsung tidur lagi. Apakah status penggangguran itu membuatmu tambah malas? Jadilah pengangguran yang rajin. Rajin membantu orangtua misalnya. Pagi hari, orangtuamu berdagang, kamu malah tidur. Bukankah di awal-awal menganggur kamu sering membantu. Kenapa sekarang malah malas?

Hey, jawab itu!
Read More
Judul yang menarik biasanya membuat orang penasaran. Dalam buku, musik, film, dan karya-karya lainnya pun begitu.

Gue ambil contoh dari sebuah buku.

Coba lihat buku pertamanya Raditya Dika: Kambing Jantan. Judulnya kambing, tapi isinya malah cerita sehari-harinya yang kocak. Buku keduanya pun begitu, Cinta Brontosaurus tidak sama sekali menceritakan seekor hewan purbakala menjalani fase-fase percintaan. Dinosaurus yang satu PDKT sama dinosaurus yang lainnya. Salah satunya ada yang beneran suka, satunya lagi biasa aja dan cuma nganggep temen. Terus akhirnya dinosaurus itu nggak jadian. Dinosaurus yang baper itu ternyata terkena friendzone.

Ini gue ngetik apa, sih?

Oke-oke serius.
Read More
Nanti malam, kan ia jerat rembulan. Disimpan dalam sepi, hingga esok hari.
Lelah berpura-pura, lelah bersandiwara. Esok pagi kan seperti hari ini.

Potongan lirik dari lagu Efek Rumah Kaca atau Pandai Besi barusan bikin gue inget akan suatu hal.



Jadi, gue dulunya adalah laki-laki yang pemalu. Kalo sekarang, tentu sudah terlihat dengan jelas... malu-maluin banget.

Oke-oke, serius.

Sejak SD-SMP, gue paling nggak bisa deket sama cewek. Sama cowok aja, harus yang bener-bener kenal deket. Beneran, gue emang anaknya pemalu banget. Tumbuhan Putri Malu aja kalo nggak sengaja gue sentuh, malah gue yang langsung kabur.

Emaap.

Read More
Seminggu setelah kecelakaan, gue tidak pernah keluar rumah menggunakan motor. Gue jadi lebih sering berjalan kaki. Hingga suatu hari, temen-temen kuliah mengadakan kumpul-kumpul. Karena jenuh di rumah mulu, gue pun memutuskan untuk ikut ke rumah Aldi—salah satu temen kampus. 

Kampretnya, nggak ada satu pun temen yang mau jemput gue.

Gue pun mencoba mengendarai motor. Di gang, gue seperti orang yang baru banget belajar motor. Masih goyang-goyang, kurang seimbang. Begitu di jalan raya, gue lebih berhati-hati. Gue yang biasanya selalu males berada di belakang mobil, tapi di  malam itu, gue malah ragu-ragu untuk menyalip kendaraan yang berada di depan. Pokoknya sangat santai mengendarai motor. Setiap kali ingin mengebut, gue melihat bekas luka yang ada di tangan gue. Seolah-olah luka itu bisa menceritakan setiap tragedi yang pernah gue lalui sebelumnya.

Sesampainya di rumah Aldi, gue menunggu Arif dan Sadam yang entah lagi di mana (mereka berdua juga temen kampus).

Setelah 15 menit menanti, datanglah mereka berdua.

“Lah, lu udah sampe duluan aja.” kata Arif. “Emang udah bisa ngendarain motor?”
Gue tersenyum. “Bisa, mau nggak mau ya gue paksain. Lu habisnya nggak mau jemput gue.”
“Emang lu beneran jatoh, Yog? Jatoh di mana, sih?” tanya Sadam.

Ini kenapa nggak ada yang percaya kalo gue jatuh deh? Ya, Allah.
Read More
Sebelumnya, gue mau minta maaf banget. Ini gue tujukan ke semua orang, baik yang baca maupun yang tidak. (terus yang nggak baca tau dari mana lu minta maaf kampret?)

Ya, intinya gue hanya ingin minta maaf.

Gue sudah terlalu banyak menulis panjang-panjang di blog ini. Terkadang, banyak yang protes sama tulisan gue.

“Ya Allah, berasa kuliah 4 SKS baca blog lu, Yog.”

Segitu panjangnya, kah?

Lalu gue mikir, "Udah panjang-panjang, tapi belum tentu tulisan gue bermanfaat."
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home