Mengaduk Rasa Yang Kamu Berikan

No Comments
Tring ting, suara sendok yang beradu gelas berisikan teh celup hangat. Sendok berputar berlawanan dengan arah jarum jam, mengitari diameternya berulang kali. Ingin menyicip tetapi panas, hanya menghirup harum aromanya.
Mendiamkan nya sebentar lalu digenggam, terasa hangat lalu melepasnya, menaruh kembali di atas meja di samping televisi. Melanjutkan renungan dan berpikir, kenapa seperti ini? Bukankah kamu yang tidak memberi kabar dan menghilang sejenak? Ah tidak sejenak, hampir 1 jam jika di hitung, berusaha tenang tetapi tetap gelisah, hanya menunggu balasan pesan tetapi rasa khawatir terus menghampiri. Terombang ambing kecemasan, kemanakah kamu? Apakah sudah terlelap dalam mimpi indahmu, atau pergi keluar untuk sesuatu hal, apakah yang aku tahu? Aku bukan Edward Cullen yang bisa membaca pikiran mu, aku juga bukan Minato Hokage ke 4 yang bisa teleportasi langsung ke rumah kamu. Aku hanya manusia bernama Yoga yang khawatir akan diri dan keadaan mu.

Aku hanya duduk, menunggu, mendengarkan alunan musik dari mellownya sebuah lagu, melirik handphone tetapi sunyi yang ku dapat, tak ada cahaya berkilau merah dari lampu led. Menelponmu hanya untuk sekedar ingin tahu sebuah kabar,  suara itu terdengar, namun operator yang berkata.

Sedikit membanting karena kesal, kemudian sembahyang menenangkan kegelisahan hati, setelah merasa damai namun kembali mengecek blackberry warna hitam, melihat pesan terbaca kata ‘maaf’ , begitu singkat seperti 1 detik berlalu, tapi sungguh menenangkan jiwa, jari mengetik lalu membalas dengan kata tanya ‘sibuk?’ mungkin aku agak kecewa namun hanya ingin di mengerti.

Menyeruput teh yang hangat, seperti kekurangan gula tetapi enggan beranjak dari kasur, melihat layar handphone dan terdapat balasan. Seperti di salahkan tetapi berusaha sabar, kenapa aku? Siapa yang salah sebenarnya? Aku yang terdiam menunggu atau kamu kah yang telat membalas? Ingin ku maki diri sendiri kenapa aku benci menunggu? Atau kamu kah yang mengabaikan komunikasi? Bukan kah kamu yang bilang komunikasi itu penting, memberi kabar untuk sebuah kelancaran dan keharmonisan hubungan.

Ingin marah tetapi sayang, rasa sabar yang selalu memeluk hati ini terus membuat tenang, membuang egois untuk menggenggam kasih sayang, namun rasa kesal yang mendidih berakibat perselisihan yang memperkeruh suasana.


Hanya ingin kamu mengerti tanpa harus berkata, bukan kah wanita yang biasanya ingin di perlakukan seperti itu? Ya, aku memang bukan wanita, aku lah seorang pria yang ingin wanitanya berinisiatif meminta maaf karena kekhilafan nya, bukan sebuah luapan emosi yang kukira sebuah penghakiman, menuduh aku ini tersangka atas kesalahpahaman yang kamu buat sendiri, menenangkan diri mengambil segelas teh, melangkah ke dapur, memperhatikan rak yang sedikit kotor, berusaha mencari dan akhirnya ketemu, membuka toples berisi gula, menuangkan sesendok butiran-butiran nya, lalu mengaduk rasa yang kamu berikan di malam ini.
Meneguk, meminumnya sampai habis, sampai gejolak amarah ini padam, beranjak tidur lalu memaafkanmu, mendoakanmu dalam nyenyak ku, dan semoga bertemu di mimpi saat kita sedang menari bersama melepas segala beban.

Untuk kamu yang sedang datang bulan dan susah mengontrol emosi.
Selamat malam, semoga mimpi indah.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca.

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu dilarang, mumpung gratis kan....

Karena sebuah komentar itu memotivasi seorang blogger untuk lebih giat lagi menulis. Jadi, jangan ragu meninggalkan komentar saat membaca tulisan ini.